Kumpulan Cerita Silat

21/07/2008

Kisah Membunuh Naga (11)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:52 am

Kisah Membunuh Naga (11)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sesudah Coei San, si nonapun berdoa perlahan, “Aku mohon supaya Langit melindungi kami berdua, supaya dari satu ke lain penitisan kami bisa terus menerus menjadi suami-isteri.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Andaikata di belakang hari kami bisa kembali di Tionggoan, tee coe akan mencuci hati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dulu. Tee coe akan bertobat dan bersama-sama suamiku, tee coe akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan balk. Tee coe tak akan membunuh manusia lagi secara sembarangan. Jika tee coe melanggar sumpah ini, biarlah Langit dan manusia menghukum tee coe.”

Coei San girang tak kepalang. Ia tak pernah menduga, bahwa tanpa diminta, sang isteri telah bertobat dan bersumpah untuk menjadi manusia balk. Sesudah selesai dengan upacara pernikahan itu, sambil saling mencekal tangan dan duduk berendeng di atas es. Pakaian mereka basah dan hawa dingin menyerang dengan hebat. Akan tetapi, hati mereka hangat bagaikan hangatnya musim semi yang penuh kebahagiaan dan keindahan.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 21

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 12:32 am

Memanah Burung Rajawali – 21
Bab 21. Semua Berkumpul
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya, ia putar tangan kirinya ke belakang, untuk menangkis seraya mencekal, maka ujung tombak lantas kena terpegang. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus “Hui ma chio” atau “Membaliki kuda”, ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. Sebenarnya habis itu, tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya, tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang, akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu, tidak dapat ia menyerang. Maka seraya memutar tubuh, ia membentak: “Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki, tidak kepada anak perempuan, dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!”

Memang benar, walaupun Khu Cie Kee lihay, tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu, jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna, maka ditegur begitu, pangeran itu menjadi tercengang. Dengan begitu, mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri, yang gagangnya sudah tua. Tempo keduanya saling membetot, gagang tombak itu patah sendirinya.
(more…)

Blog at WordPress.com.