Kumpulan Cerita Silat

20/07/2008

Kisah Membunuh Naga (10)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:57 am

Kisah Membunuh Naga (10)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Memikir begitu, sambil menahan amarah ia segera berkata, “Cia Cianpwee, aku adalah seorang yang selamanya memegang teguh kepercayaan. Aku pasti tidak akan membocorkan rahasia Cianpwee. Aku bersumpah, bahwa aku takkan bicara dengan siapapun jua tentang kejadian dihari ini.”

“Aku percaya segala perkataanmu,” kata Cia Soen “Thio Ngohiap adalah seorang pendekar yang kenamaan dan setiap perkataanmu berharga ribuan tail emas. Hanya sayang, pada waktu berusia dua puluh lima tahun, aku pernah bersumpah berat. Lihatlah jeriji tanganku.”

Ia mengangkat tangan kirinya dan mementang jari-jarinya. Ternyata, di tangan itu hanya ketinggalan tiga jeriji.

Dengan paras muka dingin, Coei San berkata pula, “Pada tahun itu, seorang yang paling dipercaya dan paling dihormati olehku, telah menipu dan mencelakakan aku, sehingga namaku rusak, rumah tangga berantakan, anggota-anggota keluargaku binasa dalam sekejap mata. Waktu itu, aku membacok jari tangan dan bersumpah, bahwa selama hidup, tak nanti aku percaya manusia lagi. Sekarang aku berusia empatpuluh lima tahun. Selama duapuluh tahun, aku ingin bergaul dengan kawanan binatang. Aku percaya binatang, tidak percaya manusia. Selama duapuluh tahun, aku membunuh manusia, tidak membunuh binatang.”

Coei San bergidik. Sekarang ia mengerti, mengapa lagu Ko leng san begitu menyayat hati dan mengapa, biarpun berkepandaian sangat tinggi, nama orang itu tidak dikenal dalam dunia Kangouw. Sekarang ia mengerti, bahwa kejadian hebat yang terjadi pada dua puluh tahun berselang, telah mengubah sifat-sifatnya Cia Soen sehingga dia membenci dunia dan segenap penghuninya. Dengan munculnya pengertian itu, rasa gusarnya agak mereda dan di dalam hatinya malah timbul rasa kasihan. Sesudah bengong sejenak, ia berkata dengan suara halus, “Cia Cianpwee, bukankah sakit hatimu sudah terbalas ?”

“Belum” jawabnya. “Ilmu silat orang yang mencelakakan aku, luar biasa tinggi dan aku tak dapat melawannya.”

Tanpa merasa, hampir berbareng, Coei San dan So So mengeluarkan suara tertahan, “Masih ada manusia yarg lebih lihai dari padamu?” tanya si nona. “Siapa dia?”

“Perlu apa aku memberitahukan namanya kepadamu?” Cia Soen balas menanya. “Jika bukan karena gara-gara sakit hati ini, apa perlunya aku merebut To liong to? Guna apa aku berusaha untuk memecahkan teka teki sekitar golok itu? Thio Ngohiap, begitu bertemu denganmu, aku lantas saja merasa suka. Jika menuruti kebiasaanku, siang-siang jiwamu sudah melayang. Bahwa aku membiarkan kalian hidup beberapa tahun lebih lama sebenarnya sudah melanggar kebiasaanku, sehingga mungkin sekali, pelanggaran itu akan mengakibatkan kejadian yang tidak baik bagi diriku.”

“Apa artinya perkataanmu?” menegas So So “Mengapa kau mengatakan, hidup beberapa tahun lebih lama?”

“Sesudah aku berhasil memecahkan rahasia To liong to, pada waktu mau meninggalkan pulau itu aku akan mengambil jiwamu,” jawabnya dengan tawar. “Satu hari belum berhasil, satu hari kalian masih boleh hidup.”

Si nona mengeluarkan suara di hidung. “Hmm! menurut pendapatku, golok itu hanyalah golok yang berat luar biasa dan tajam tuar biasa,” katanya. “Kata-kata tentang siapa yang memilikinya akan menguasai orang-orang gagah di kolong langit rasanya hanya omong kosong belaka.”

“Kalau benar begitu, biarlah kita bertiga berdiam di pulau itu seumur hidup,” kata Coei San. Tiba-tiba menghela napas dan paras mukanya diliputi dengan awan kedukaan.

Perkataan si nona kena tepat pada hatinya. Memang mungkin sekali To liong to hanya sebuah golok yang tajam dan jika benar sedemikian, sakit hatinya yang sangat besar tidak akan dapat dibalas lagi.

Melihat paras Cia Soen yang penuh dengan kesedihan, Coei San ingin coba menghibur. Tapi sebelum ia keburu membuka mulut, Cia Soen sudah meniup lilin seraya berkata, “Tidurlah !” ia kembali menghela napas dan suara helaan napas itu kedengarannya bukan seperti suara manusia, tapi bunyi binatang yang sudah menghembuskan napasnya yang penghabiskan. Dan suara yang menyeramkan itu jadi lebih menyeramkan lagi karena bercampur dengan arus ombak di tengah lautan. Mendengar itu jantung Coei San dan So So memukul keras.

Angin laut yang dingin menderu deru. Sesudah lewat beberapa lama, si nona yang hanya mengenakan selembar pakaian tipis, tak dipat mempertahankan diri dan ia mulai menggigil.

“In kauwnio, apa kau dingin?” bisik Coei San

“Tak apa.” jawabnya.

Coei San segera membaka jubah panjangnya dan berkata, “Kau pakailah.”

si nona merasa sangat berterima kasih. “Tak usah, kau sendiri juga kedingnan,” Ia menolak sambil memaksakan diri untuk bersenyum. Tapi biarpun mulutnya menolak, tangannya menyambuti juga jubahnya itu yang lalu digunakan untuk menyelimuti pundaknya. Begitu merasakan hawa hangat dari jubah itu, ia bersenyum dengan rasa beruntung.

Sementara itu, Coei San sendiri mengasah otak untuk mencari jalan guna meloloskan diri. Sesudah memikir bolak-balik, ia berpendapat, bahwa jalan satu-satunya adalah membunuh Cia Soen.

Ia memasang kuping dan di antara suara gelombang, ia mendengar suara mengerosnya Cia Soen yang sudah pulas nyenyak, ia heran dan berkata dalam hatinya, “Orang itu telah bersumpah untuk tidak percaya manusia. Tapi bagaimana ia bisa tidur pulas dalam sebuah perahu bersama sama aku dan In Kauwaio? Apa dia tidak takut aku turunkan taugan jahat? Atau, apakah, karena menganggap kepandaiannya sudah sangat tin6gi, ia tidak memandang sebelah mata kepadaku? Sudahlah ! Biar bagaimanapun jua, aku harus berani menempuh bahaya. Orang ini sudah pasti akan melakukan apa yang dikatakannya. Kalau terlambat, bisa-bisa aku harus menemani dia di pulau kecil sampai masuk di lubang kubur,” Memikir begitu, perlahan-lahan ia mendekati In So So untuk membisiki niatannya.

Tapi di luar dugaan, sebelum ia keburu membuka mulut, di dalam kegelapan apa mau si nona memutar kepala sehingga tanpa tercegah lagi, bibir pemuda itu menyentuh pipinya.

Tak kepalang kagetnya Coei San! Ia sangat ingin menyatakan kepada si nona, bahwa kejadian itu adalah kejadian kebetutan dan ia sama sekali tidak berniat untuk berlaku kurang ajar tapi mulutnya terkancing dan ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Di lain pihak si nona girang bukan main dan lalu merebahkan kepalanya di pundak pemuda itu. Sesaat itu, So So melupakan segala bahaya yang tengah mengancam dan pada detik itu, ia merasa dirinya, sebagai manusia yang paling beruntung dalam dunia. Tiba-tiba ia dengar bisikan Coei San, “In Kouwnio, aku harap kau tidak jadi gusar.”

Dengan paras muka bersemu merah dan dengan suara terputus-putus, ia berkata, “Kau…menyintai aku…Aku…sangat…girang.”

In So So adalah siluman perempuan yang dapat membunuh manusia tanpa berkedip. Tapi dalam keadaan begitu, ia tiada bedanya seperti wanita lain. Jantungnya memukul keras, mukanya panas, rasa malu, kaget dan girang tercampur menjadi satu.

Kalau bukan berada dalam kegelapan, mungkin sekali ia tak berani mengucapkan kata-kata itu yang menumplek isi hatinya kepada pemuda yang dicintainya.

Mendengar jawaban si nona, sekali lagi Coei San terkesiap, ia tidak duga, bahwa permintaan maafnya sudah memancing pengakuan cinta. Biar bagaimana jua, ia adalah manusia biasa, manusia yang masih berusia muda. Maka itu, jantungnyapun memukul keras dan ia jadi bingung bukan main.

Tiba-tiba, jiwa kesatrianya memberontak. “Coei San!” Ia mengeluh. “Mengapa kau begitu lemah? Apa kau sudah lupa pesanan In soe?. Biarpun ia mencintai aku dan ia pernah melepas budi kepada Samko, tapi ia seorang dari agama yang menyeleweng dengan sepak terjangnya yang tidak dapat dibenarkan. Andaikata aku ingin menikah dengannya, terlebih dahulu aku harus memberitahukan In soe untuk minta permisi. Mana boleh aku bercinta-cintaan di tempat gelap?”

Memikir begitu, dengan perlahan ia mendorong tubuh si nona dan berbisik, “Kita harus berusaha untuk menakluki orang itu guna meloloskan diri.”

Mendengar bisikan itu, So So terkejut. “Apa?” Ia menegas.

“Biarpun berada dalam bahaya, kita barus bertindak secara tenang,” Menerangkan pemuda itu.

“Kalau kita menyerang selagi dia pulas, perbuatan kita bukan perbuatan kesatria. Aku akan membangunkannya dan akan menantangnya untuk mengadu kekuatan. Selagi aku bertanding, kau harus melepaskan jarum emas ke jalan darahnya. Meskipun kita mengerubuti dan kemenangan kita bukan kemenangan yang gemilang, tapi apa boleh buat, karena ilmu silatnya banyak lebih tinggi daripada kita.”

Coei San membisikkan dengan suara yang sangat halus dan bibirnya hampir menempel dengan kuping si nona. Tapi di luar dugaan, baru saja ia selesai, Cia Soen yang tidur di gubuk belakang sudah tertawa terbahak-bahak “Kalau kau membokong, mungkin sekali kau masih mempunyai harapan.” katanya dengan suara nyaring. “Tapi dengan ingin mengambil jalanan yang terang, untuk mempertahankan nama baik partaimu, kau cari celaka sendiri.”

Di lain saat berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia ia sudah berada di hadapan Coei San dan lalu menghantam dada pemuda itu dengan telapak tangannya.

Selagi Cia Soen bicara, Coei San sudah mengempos semangat dan mengerahkan Lweekang. Begitu lekas lawan menyerang, ia segera menyambut dengan tangan kanannya dan balas mengirim serangan deagan tenaga Bin ciang (Pukulan kapas). Begitu lekas tangannya kebentrok dengan tangan lawan, ia merasa dadanya tergetar dan tenaga lawan menindih hebat bagaikan gelombang.

Sebelum tangan lawan menyambar, Coei San, yang tahu keunggulan orang itu, sudah mengerahkan seluruh Lweekang untuk membela diri. Maka itu, waktu angin pukulan menyambar, ia menarik pulang lengannya kira-kira delapan dim dan dengan garis pembelaan yang lebih pendek itu, ia mendapat banyak keuntungan, sehingga, walau pun Cia Soen terus menambah tenaganya, ia masih dapat mempertahankan diri.

Sesudah mendorong tiga kali, Cia Soen merasa heran, sebab meskipun Lweekang lawannya banyak lebih rendah, tapi ia tidak berhasil untuk menghancurkannya. Ia terus menambah tenaga, tapi Coei San masih tetap dapat mempertahankan diri. Selagi mereka mengadu kekuatan secara mati-matian, papan perahu mengeluarkan suara “krekekkrekek”, karena tidak kuat menahan tindihan tenaga kedua orang yang tengah bertanding itu.

Tiba-tiba Cia Soen mengangkat tangan kirinya dan menghantam kepala Coei San, yang buru-buru menangkis dengan tangan kirinya dengan pukulan Hoeu kee kim liang (Memasang penglari emas).

Sesudah kedua-dua tangannya beradu dengan kedua tangan lawan, Coei San merasa dadanya di tindih dengan tenaga Im jioe (tenaga lembek), sedang tenaga yang menindih dari atas kepala adalah tenaga Yang kong (tenaga keras). Bahwa seseorang dapat menyerang dengan dua macam tenaga dengan berbareng adalah kepandaian yang sungguh jarang terdapat dalam rimba persilatan. Untung juga ilmu silat Boe tong pay sangat mengutamakan Lweekang, sehingga biarpun kalau dalam pertempuran biasa kepandaian Coei San masih jauh, tapi dalam pertandingan Lweekang sedikitnya untuk sementara waktu, dengan menggunakan “ilmu meminjam tenaga, memidahkan tenaga” dan Sie nio po cia kin, ia masih dapat mempertahankan diri.

Dalam sekejap, keringat membasahi pakaian pemuda itu. “Mengapa In Kauwnio masih belum turun tenaga?” tanyanya di dalam hati. “Jika In Kouw nio menyerang, dia pasti akan berkelit dan waktu dia berkelit, aku bisa menggunakan kesempatan untuk menyerang.”

Kemungkinan itu juga rupanya sudah diingat oleh Cia Soen sendiri. Waktu baru menyerang, ia menduga, bahwa dengan sekali pukul, ia akan dapat merubuhkan pemuda itu. Tapi di luar dugaan, sesudah seminuman teh, Coei San masih dapat mempertahankan diri. Ia mengerti, bahwa jika si nona turun tangan, ia bisa celaka. Maka itu, sambil bertanding, kedua lawan tersebut terus memperhatikan gerak-gerik In So So.

Karena sedang mengerahkan seluruh Lweekang nya, Coei San tidak berani bicara. Tapi Cia Soen yang Lweekangnya sudah mencapai puncak tertinggi masih dapat bicara. “Nona kecil, aku menasehati kau jangan coba-coba turun tangan,” katanya. “Begitu kau melepaskan jarum emas, aku akan segera menghantam dengan sekuat tenaga kecintaanmu tidak dapat hidup lebih lama lagi ”

“Cia Cianpwee, tarik pulang seranganmu,” kata si nona.

“Kamu akan menghatur maaf?” tanya Cia Soen.

Coei San tidak berani menjawab, karena begitu membuka suara, tenaganya akan habis. Ia mendongkol bukan main karena So So tidak melepaskan jarumnya.

“Cia Cianpwee, lekas tarik pulang tenagamu!” teriak nona In dengan suara bingung “Apa kau mau aku turun tangan?”

Sebenarnya di dalam hati Cia Soen pun sangat berkuatir. Di dalam kegelapan dan di tempat yang sangat sempit, ia sukar menolong diri, jika si nona menyerang dengan jarum emas yang berjumlah besar dan halus itu, ia juga tidak bisa menangkis jarum-jarum itu dengan kedua tangannya yang tengah beradu deagan kedua tangan Coei San. Maka itu, jika So So menyerang, mungkin sekali mereka bertiga akan binasa atau terluka berat bersama-sama.

Karena adanya kekuatiran itu, ia segera berkata, “Nona kecil, aku sebenarnya tidak mempunyai niatan kurang baik, aku bersedia untuk mengampuni jiwanya, jika kau bersumpah atas namanya.”

Sesudah memikir sejenak, So So berkata, “Thio Ngoko, kita bukan tandingan Cia Cianpwee. Tiada lain jalan daripada menurut perintahnya dan menemani dia satu dua tahun. Kurasa, sebagai seorang yang sangat cerdas otaknya, tak sukar untuk Cia Cianpwee memecahkan rahasia To liong to. Ngoko boleh aku bersumpah atas namamu?”

Coei San tetap tidak berani menyahut. Di dalam hati ia mendongkol bukan main karena si nona masih juga tidak mau melepaskan senjata rahasianya.

Melihat kecintaannya terus membungkam, si nona segera berkata, “Aku In So So bersama Thio Coei San berjanji akan mengawani Cia Cianpwee di sebuah pulau sampai Cia Cianpwee dapat memecahkan rahasia To liong to. Jika kami mempunyai hati bercabang, biarlah kami mati di bawah pedang atau golok ”

Cia Soen tertawa, “Bagi orang-orang rimba persilatan, mati di bawah senjata bukan soal penting,” katanya.

Si nona menggertak gigi. “Baiklah,” katanya dengan suara gusar. “Kalau aku melanggar janji, biarlah aku tidak bisa hidup sampai dua puluh tahun. Apa kau puas?”

Cia Soen tertawa terbahak-bahak dan lalu menarik pulang tenaganya. Begitu lekas tindihan tenaga lawan disingkirkan, Coei San yang sudah habis tenaganya lantas saja rubuh di atas papan perahu.

Melihat muka pemuda itu pucat bagaikan kertas dan napasnya tersengai-sengal, bukan main bingungnya si nona yang lantas saja menubruk sambil mengucurkan air mata.

“Murid Boe tong sungguh-sungguh bukan mempunyai nama kosong,” memuji Cia Soen. “Tak malu mereka menjagoi dalam rimba persilatan di wilayah Tionggoan.”

Sementara itu, So So sudah mengeluarkan sapu tangan dan menyusuti keringat yang membasahi Coei San. Melihat si nona menangis sedu-sedan, kemendongkolan pemuda itu lantas saja hilang dan di dalam hatinya timbul perasaan sangat berterima kasih. Baru saja ia ingin menghaturkan terima kasih, tiba-tiba matanya gelap. Sayup-sayup ia mendengar teriakan So So, “Orang she Cia jika kakakku mati, aku akan mengadu jiwa denganmu!”

Di lain saat dalam keadaan lupa ingat, ia mendengar suara menderunya angin dan badannya terayun-ayun. Mendadak ia merasa badannya basah dan air asin masuk ke dalam mulutnya. Sesaat itu juga ia tersadar dan hatinya bingung, karena ia duga perahu itu sedang karam. Cepat-oepat ia bangun berdiri, tapi ia tak dapat berdiri tegak, sebab perahu kembali miring ke kiri dan gelombang menghantam perahu. Angin menderu-deru dan gelombang sebesar bukit menerjang dengan saling susul.

Dalam keadaan ribut dan kacau, mendadak ia dengar teriakan Cia Soen, “Thio Coei San, lekas pergi ke belakang perahu dan pegang kemudinya.”

Tanpa memikir lagi, ia berlari-lari ke belakang perahu. Ombak lagi-lagi menghantam perahu miring ke kiri kanan dan sebuah perahu kecil, yang semula ditaruh di atas perahu layar itu, terbang ke atas beberapa tombak tingginya, akan kemudian tenggelam ke dasar laut.

Sebelum Coei San tiba di tempat kemudi, gelombang-gelombang besar mengamuk, sehingga perahu terputar-putar dan terpental kian kemari. Buru-buru ia mengempos semangat dan menancap kedua kakinya di papan perahu, sehingga meskipun perahu terombang-ambing, badannya tidak bergerak. Beberapa saat kemudian, sesudah serangan gelombang agak mereda, ia merangkak dan dengan kedua tangannya ia memegang kemudi erat-erat.

Sekonyong-konyong terdengar beberapa kali suara gedubrakan yang keras bukan main dan badan perahu bergoyang-goyang. Ternyata, dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen telah merubuhkan tiang layar tengah dan depan dan kedua tiang itu bersama-sama kain layarnya yang berwarna putih, jatuh kedalam laut

Topan yang menyerang benar-benar hebat. Meskipun hanya ketinggalan sebuab layar belakang, perahu itu masih tetap miring kian kemari seperti orang mabok arak. Menghadapi serangan alam yang hebat, Cia Soen yang gagah tak berdaya. Ia mengawasi langit dengan paras muka mendongkol dan beberapa kali hampir-hampir ia tergelincir di sapu angin. Akhirnya, dengan apa boleh buat, ia mengangkat pula Long gee pang dan menghantam tiang yang terakhir.

Sesudah semua tiang layar rubuh, perahu itu lantas saja terombang-ambing tanpa tujuan. Tiba-tiba Coei San ingat So So. “In Kouwnio!” teriaknya. “Di mana kau? Di mana kau? In Kouwnio !”

Berulang-ulang ia berteriak, tapi sedikitpun ia tidak mendapat jawaban, sehingga dalam teriakan-teriakan yang belakangan, dalam suaranya terdapat nada seperti orang menangis.

Mendadak ia merasa lututnya seperti dipeluk orang dan berbareng, sebuah gelombang yang besar telah menyambar badannya.

Sambil mengempos semangat, ia mencekal kemudi erat-erat, tapi tak urung tubuhnya bergoyang goyang karena dahsyatnya ombak itu. Pada detik itu, orang yang barusan memeluk lututnya sudah merangkul pinggangnya. “Thio Ngoko, terima kasih,” demikian terdengar suara So So yang lemah lembut, “Kau sangat memperhatikan keselamatanku.”

Coei San girang bukan, main. “Oh, Tuhan ! Terima kasih untuk perlindunganMu!” bisiknya sambil memeluk pinggang si nona.

Angin terus mengamuk dan amarah lautan masih tetap belum mereda.

Di antara pukulan-pukulan gelombang, mendadak Coei San melihat sebuab kenyataan. Ia sekarang mengakui, bahwa di dalam bahaya, ia lebih memikiri keselamatan So So daripada keselamatan diri nya sandiri.

“Thio Ngoko, biarlah kita mati bersama-sama,” bisik pula si nona.

Dalam keadaan biasa, biarpun kedua orang muda itu menyintai satu sama lain mereka pasti tak akan menumplek isi hati mereka secara begitu cepat dan terang-terangan. Tapi pada saat itu pada detik mereka bersama-sama menghadapi kebinasaan, segala perasaan main dan jengah telah dikesampingkan.

Di dalam kegelapan dan di antara badai, badan perahu tak hentinya mengeluarkan suara “krekek” dan bisa hancur luluh di setiap saat, tapi di dalam hati kedua orang muda itu terdapat rasa beruntung yang tiada batas.

Sesudah mengadu tenaga dengan Cia Soen, Coei San sebenarnya merasa lelah bukan main. Tapi rasa cinta yang kini tengah memenuhi dadanya telah memberi tenaga baru kepadanya. Dengan tangan kanan, mencekal kemudi tangan kiri memeluk pinggang si nona, ia mengempos semangat dan mengerahkan seluruh Lweekang untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan topan dan gelombang.

Semua anak buah perahu sudah habis disapu air. Jika Cia Soen, Coei San dan So So tidak memiliki ilmu tinggi, siang-siang merekapun sudah ditelan laut.

Untung juga, perahu itu sangat kuat buatannya, sehingga, walaupun diserang begitu hebat, tidak sampai jadi berantakan.

Dilain saat, untuk penambahan penderitaan, hujan turun seperti dituangkan.

Sementara itu, sesudah merubuhkan semua tiang layar, sambil merangkak Cia Soen pergi ke belakang perahu. “Thio Heng tee, terima kasih untuk bantuanmu,” katanya. “Serahkan kemudi kepadaku dan pergilah kalian mengaso di gubuk perahu.”

Coei San lalu menyerahkan kemudi kepadanya dan sambil menuntun tangan si nona, ia menuju ke gubuk perahu. Tapi baru berjalan beberapa tindak, sekonyong-konyong sebuah gelombang, sebesar bukit menghantam dengan dahsyatnya. Karena serangan itu datang secara sangat mendadak,
sekali ini Coei San tidak dapat mempertahankan dirinya lagi. Badan mereka tersapu dan terpental keluar perahu .

Dilain detik tubuh Coei San sudah berada di tengah udara dan melayang turun ke atas gelombang!

Dalam bingungnya, ia berhasil menjambret pergelangan tangan So So. Pada saat itu, ia hanya ingat untuk binasa bersama dengan si nona

Tapi baru saja tangan kirinya mencekal pergelangan tangan nona In, sekonyong-konyong sehelai tambang menyambar dan melibat lengan tangan kanannya. Hampir berbareng, ia merasa badannya ditarik ke belakang, akan kemudian, bersama-sama So So, jatuh di atas papan perahu.

Yang menolong mereka adalah Cia Soen sendiri. Pada saat yang sangat genting, Cia Soen menjemput seutas tambang layar yang kebetulan menggetetak di dekat kakinya, sehingga pada detik terakhir, jiwa kedua orang muda itu ketolongan.

Itulah kejadian yang sangat di luar dugaan, “Sungguh berbahaya !” mengeluh Cia Soen. Kalau tambang itu tidak kebetulan berada di dekatnya, biarpun mempunyai kepandaian yang sepuluh kali lipat lebih tinggi, ia tentu tidak berdaya.

Dengan merangkak, Coei San dan So So lalu masuk ke dalam gubuk perahu. Perahu terus terombang-ambing, sebentar seperti berada di puncak gunung dan sebentar seperti masuk ke dalam lembah. Tapi bagi mereka yang seolah-olah baru saja bangun dari kuburan, semua bahaya itu tidak ada artinya lagi.

“Ngoko,” bisik nona In. “Jika kita bisa hidup terus, aku tak mau berpisahan dengan kau untuk selama-lamanya.”

“Akupun justeru pengin mengatakan begitu,” kata Coei San. “Langit di atas, bumi di bawah, di antara manusia dan di dasar lautan, kita akan tetap bersama-sama.”

Si nona menghela napas. “Benar,” bisiknya pula. “Langit di atas, bumi di bawah, di antara manusia dan di dasar lautan, kita akan tetap bersama-sama.”

Sementara itu, Cia Soen mengemudikan perahu sambil mengomel panjang pendek. Dalam menghadapi badai dan gelombang, kepandaiannya yang sangat tinggi tidak banyak menolong.

Sesudah mengamuk tujuh jam lamanya, barulah topan mereda. Awan hitam perlahan-lahan buyar dan bintang-bintang mulai muncul lagi di atas langit. Coei San dan So So keluar dari gubuk perahu.

“Cia Cianpwee, terima kasih banyak untuk pertolonganmu,” kata pemuda itu.

“Tak usah rewel,” jawabnya. “Kita bertiga hampir-hampir mampus.”

Coei San menghela napas dan mulai menggantikan memegang kemudi. Sesudah bertahan mati matian hampir semalam Cia Soen pun sudah lelah sekali dan ia segera pergi ke gubuk perahu untuk mengaso.

So So duduk di samping kecintaannya dan mendongak mengawasi bintang Paktauw yang tengah memancarkan sinaraya. “Ngoko, perahu ini tengah menuju kejurusan utara,” katanya.

“Benar,” jawabnya. “Aku ingin sekali dia menuju ke barat supaya kita bisa pulang”

“Kalau dia berbalik ke timur, entah ke mana kita akan pergi,” kata pula nona In.

“Ke timur masuk bilangan samudera,” kata Coei San. “Kalau kita berada di tengah lautan tujuh delapan hari saja, tanpa air, kita akan…”

“Kudengar di lautan Tanghay tardapat sebuah pulau dewata,” memutus si nona. “Orang kata, di pulau itu terdapat dewa-dewi yang hidup abadi. Siapa tahu, kalau kita mendarat di pulau itu, kita akan tertemu dengan para dewa dan dewi…”

Sambil mengawasi bima sakti yang membentang dilangit, ia berkata pula, “Mungkin sekali perahu ini akan berlayar terus, sehingga tiba di bima sakti dan kita dapat menyaksikan pertemuan di atas jembatan burung antara Goe Long dan Cit Lie.” ( Bima-sakti adalah sehelai sinar terang diwaktu malam yang membentang dilangit, terdiri daripada rangkaian bintang-bintang).

“Ya,” kata Coei San. “Kita boleh menyerahkan perahu ini kepada Goe Long, supaya ia dapat menemui Cit Lie di sembarang waktu dan tidak usah menunggu Cit gwee Cit sek (tanggal tujuh Cit lie).”

Si nona bersenyum. “Ngoko, jika perahu dihadiahkan kepada Goe long, alat pengangkutan apakah yang dapat digunakan kita jika kita ingin bertemu ?” tanyanya.

“Langit di atas, bumi di bawah, sekali bersama-sama kita telah bersama-sama,” jawabnya. “Perlu apa kita menyeberangi bima sakti ?”

In So So tertawa, paras mukanya seakan-akan sekuntum bunga yang baru mekar Dengan sikap malu-malu, ia mencekal erat-erat tangan Coei San.

Kedua orang mula itu saling mencekal tangan dengan rasa bahagia. Banyak sekali yang ingin dikatakan mereka, akan tetapi, mereka tak tahu apa yang harus dikatakan terlebih dahulu. Memang juga, manakala dua manusia sedang mencintai satu sama lain, kata-kata tidak perlu sama sekali.

Dengan lirikan mata saja, mereka sudah bicara banyak, karena dalam keadaan sedemikian, yang satu tahu apa yang mau dikatakan oleh yang lain.

Entah sudah selang berapa lama barulah Coei San menunduk dan melirik kecintaannya. Ia terkejut, karena kedua mata si nona kelihatan basah dan paras mukanya penuh kedukaan. “Mengapa kau menangis?” bisiknya.

“Di antara manusia atau di bawah lautan mungkin sekali aku dapat berkumpul dengan kau.” jawabnya perlahan. “Tapi di hari kemudian, sesudah kita meninggal dunia, kau masuk di surga, aku…aku…akan masuk keneraka !”

“Omong kosong!” bentak Coei San dengan suara menyinta.

So So menghela napas dan berkata dengan suara menyesal, “Aku sendiri mengerti…aku mengakui, bahwa aku telah melakukan banyak sekali perbuatan jahat dan banyak membunuh manusia secara sembarangan.”

Coei San terkejut. Diam diam dia merasa, bahwa memang benar dia tidak pantas menikah dengan seorang wanita yang sepak terjangnya menyeleweng seperti So So. Akan tetapi karena rasa cintanya sudah mendalam dan juga sebab dalam menghadapi bahaya besar, orang tidak menghitung hitung kejadian di hari kemudian, maka ia lantas saja membujuk dengan suara lemah lembut:
“Jika kau ingin memperbaiki kesalahanmu, sekarang masih belum terlambat. Mulai dari sekarang, kau harus berbuat kebaikan guna menebus segala dosamu.”

So So tidak menyahut. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia menyanyi dengan perlahan.

Yang dinyanyikannya adalah lagu Sam poyang, sebuah lagu rakyat yang sangat terkenal pada jaman kerajaan Goan. Lagu itu biasa dinyanyikan rakyat dari selatan sampai di utara, hanya kata katanya banyak berbeda satu sama lain.

Sambil menahan napas Coei San mendengar nyanyian itu yang seperti berikut:

“Dia dan aku,
Aku dan dia.
Di antara kita, terdapat binyak rintangan.
Bagaimana dapat mencapai sebuah pernikahan?
Akhirnya mati di depan keraton Giam ong.

Ai ya ! Biarkanlah !
Mengambil alu untuk menumbuknya.
Mengambil gergaji untuk menggargajinya.
Mengambil penggilingan untuk menggilingnya,
Mengambil kuali untuk menggorengnya.

Ai ya ! Biarkanlah !
Apa yang terlihat, manusia, hidup mendapat hukuman,
Belum pernah terlihat, setan jadi perantaian.

Ai ya ! Biarkanlah !
Alis terbakar, perhatikan saja mata,
Alis terbakar, perhatikan saja mata.”

Nyanyian itu disambut dengan sorak sorai Cia Soen dari dalam gubuk perahu. “Bagus ! Bagus sungguh nyanyian itu!” teriaknya “In Kouwnio, kau lebih menyocoki aku daripada Thio Siang kongmu yang berlagak mulia !”

“Ya, aku dan kau adalah manusia-manusia jahat dan kita pasti akan mati secara tidak baik,” kata si nona.

“Kalau kau mati secara tidak baik, akupun begitu,” bisik Coei San.

So So kaget tercampur girang. Ia mengawasi pemuda itu dan hanya dapat mengeluarkan sepatah kata, “Ngoko…”

Pada esokan paginya, dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen membinasakan seekor ikan Yang beratnya belasan kati dan yang dapat menangsal perut selama dua hari. Karena lapar, biar pun ikan mentah, mereka makan dengan bernapsu. Untung toya itu yang dipasangi paku-paku seperti gaetan merupakan alat yang sangat cocok untuk memukul ikan. Biarpun di atas perahu sudah tidak ketinggalan setetes air tawar, tapi dengan menelan minyak dan cairan yang keluar dari badan ikan mereka masih dapat mempertahankan diri.

Arus air terus mengalir ke utara dan siang-malam, mereka dapat melihat bintang kutub Utara yang memancarkan sinarnya berhadapan dengan kepala perahu. Di waktu siang, matahari muncul dari sebelah kiri perahu dan di waktu sore, menyelam dari sebelah kanan. Selama belasan hari, keadaan berlangsung seperti itu tanpa perubahan.

Semakin lama hawa udara jadi semakin dingin. Dengan memiliki Lweelang yang tinggi, Cia Soen dan Coei San masih dapat mepertahankan diri. Tapi tidak begitu dengan In So So. Ia kedinginan, sehingga mukanya berubah pucat. Cia Soen dan Coei San membuka jubah panjang mereka dan memberikannya kepada si nona, tapi pakaian yang tidak seberapa tebal itu, tidak banyak menolong.

Dengan sekuat tenaga si nona coba menguatkan diri bertahan dan sebisa-bisanya harus memperlihatkan paras gembira. Tapi Coei San yang tahu, bahwa kegembiraan itu adalah kegembiraan yang dibuat-buat, jadi makin bingung. Ia mengerti, kalau perahu terus menuju ke utara beberapa hari lagi, kecintannnya bakal mati kedinginan.

Tapi benar juga orang kata, Langit tidak memutuskan jalanan manusia.

Secara tidak diduga-duga, perahu berpapasan dengan sekelompok biruang dan dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen telah membinasakan beberapa antaranya.

Kulit biruang merupakan selimut hangat, sedang dagingnya dapat dimakan. Tak usah dikatakan, mereka tertiga jadi girang bukan main.

Malam itu, mereka berkumpul di kepala perahu sambil mengawasi langit.

“Bintang apa yang paling berfaedah dalam dunia ini?” tanya So So sambit tertawa.

Cia Soen dan Coei San tertawa geli. “Biruang” jawab mereka hampir berbareng.

Sesaat itu tiba-tiba terdengar suara “ting tung ting tung !”

Serentak meraka memasang kuping, mendadak paras muka Cia Soen berubah pucat. “Es Es yang mangambang!” katanya deagan suara parau. Ia memukul mukul air dengan senjatanya dan terdengar suara terpukulnya kepingan-kepingan es.

Hati mencelos, dingin bagaikan es. Mereka tahu, bahwa jika perahu terus menuju ke utara, pada akhirnya dia akan terjepit di antara balokan balokan es dan tidak dapat bergerak lagi. Itu akan berarti, bahwa merekapun tak akan bisa hidup lebih lama lagi. Malam itu mereka tak dapat pulas, kuping mereka terus mendengari “ting tung ting tung” yang tak henti hentinya.

Pada esokan paginya, kepingan-kepingan es sudah jadi lebih besar, sudah sebesar mangkok, sedang suaranya pun makin nyaring, Cia Soen tertawa getir seraya berkata, “Hai! Aku bermimpi ingin membuka rahasia To liong to. Tapi siapa nyana, sebelum berhasil, aku sudah jadi manusia es.”

Jantung si nona berdebar debar. Ia mencekal tangan Coei San erat-erat.

Tiba-tiba Cia Soem mengangkat To liong to dan membentak dengan suara gusar. “Paling benar lebih dulu aku mengantarkan kamu ke keraton Raja Naga!” Tapi sudah mengangkat golok, ia tak tega dan sambil menghela napas, ia pergi ke gubuk perahu untuk menaruh golok mustika.

Empat hari lewat lagi dan selama empat hari itu, perahu terus menuju ke utara. Balokan es jadi semakin besar, sekarang sebesar meja atau rumah kecil. Mereka merasa, bahwa kebinasaan sudah berada di depan mata dan dalam menghadapi kebinasaan, mereka jadi nekad dan tak mau memikir panjang-panjang lagi. Malam itu kira-kira tengah malam, sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan dan perahu bergoncang hebat.

“Bagus! Bagus sungguh !” teriak Cia Soen, “Gunung es !”

Coei San dan So So saling mengawasi sambil bersenyum getir. “Inilah saat terakhir!” pikir mereka. Tiba-tiba mereka saling memeluk erat-erat. Mereka ingin mati dalam keadaan begitu, di lain saat, mereka merasa air es sampai di lutut.

“Tamatlah! perahu sudah pecah!”

Sekonyong-konyong terdengar teriakan Cia Soen, “Naik ke atas gunung es! Bisa hidup sehari, biar kita hidup sehari! Langit mau membinasakan aku, aku melawan!”

Kedua orang muda itu tersadar. Buru-buru mereka melompat ke kepala perahu. Di samping perahu, berdiri sebuah gunung es yang di bawah sinar rembulan, memancarkan sinar hijau yang dingin luar biasa. Itulah pemandangan yang indah tapi menakuti.

Cia Soen berdiri di sebuah undakan, di bagian bawah gunung es itu, dan ia menyodorkan senjatanya untuk menyambut kedua orang muda itu. Dengan tangan kiri So So menekan Long gee pang bersama-sama Coei San, ia melompat naik ke gunung es itu.

Perahu itu ternyata terlubang besar dan selang kira-kira seminuman teh, sudah tenggelam ke dalam laut.

Cia Soen segera menggelar selembar kulit biruang di atas es dan mereka bertiga lantas saja duduk dengan berendeng pundak. Jika berada di atas bumi, besar gunung es itu kira-kira bersamaan dengan sebuah bukit kecil, dengan garis tengah kurang lebih delapan belas tombak dan tingginya kira-kira lima tombak.

Cia Soen mendongak sambil mengeluarkan teriak nyaring, seolah-olah sedang menantang musuh, “Berdiam di perahu yang sempit, dadaku menyesak,” katanya. “Tempat ini lebih cocok untuk aku melemaskan urat,” berkata begitu, ia berjalan mondar-mandir dan sungguh heran, kakinya tidak terpeleset meskipun permukaan es licin luar biasa.

Coei San mengerti, dia sedang menantang Langit yang dianggapnya sangat tidak adil terhadapnya. Dalam menghadapi kebinasaan, rasa penasarannya semakin menjadi.

Dengan menuruti tiupan angin dan arus air, gunung es itu terus bergerak ke jurusan utara.

Pada suatu hari, selagi mereka bertiga duduk terpekur, tiba-tiba Cia Soen tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan suara mengejek, “Langit telah mengirim sebuah perahu untuk menyambut kita guna bertemu dengan Pak kek Siang ong (Dewa Kutub Utara).”

Mendengar itu So So hanya bersenyum. Ia tidak menghiraukan andaikata langit bakal rubuh asal saja kecintaannya berada didampingnya. Tapi Coei San mengerutkan alis dan pada paras mukanya terlukis sinar kedukaan.

Selang tujuh delapan hari, sinar es yang disoroti matahari adalah demikian hebat berkilauannya sehingga mata mereka dirasakan sakit sekali. Oleh karena begitu, di waktu siang mereka menyelimuti kepala dengan kulit biruang sambil merebahkan diri di atas es dan di waktu malam, barulah mereka bangun untuk menangkap atau memburu biruang.

Sungguh heran, semakin ke utara siang hari jadi semakin panjang, sehingga belakangan, jangka waktu di malam hari hanya beberapa jam saja.

Makin lama Coei San dan So So jadi makin lelah dan paras muka mereka makin pucat. Cia Soen sendiri kelihatan seperti seorang lupa ingatan dan pada kedua matanya terlihat sinar luar biasa. Kadang-kadang, kalau datang kalapnya, ia menuding-nuding tangan dan mencaci-caci, seolah-olah manusia edan.

Pada suatu malam, karena tak dapat pulas di waktu siang, Coei San tidur sambil menyender di es, tiba-tiba dalam pulasnya, ia mendengar jeritan So So, “Lepas Lepas!” Ia tersadar dan melompat bangun dan melihat Cia Soen sedang memeluk kecintaannya dengan mulut mengeluarkan suara “ho ho ho,” seolah olah bunyi binatang buas.

Sesudah menyaksikan lagak Cia Soen yang luas biasa selama beberapa hari Coei San merasa sangat berkuatir. Hanya ia tak nyana bahwa orang itu dapat berbuat begitu rupa terhadap So So.

“Lepas !” bentaknya dengan gusar, sambil melompat maju.

Cia Soan tertawa terbahak-bahak. “Dalam menghadapi kebinasaan, aku tak mengenal segala peraturan bau,” katanya. “Waktu masih berada di atas bumi, aku sudah tidak mengenal Lie gie liam tie. Apa lagi sekarang?”

Lie gie liam tie berarti adat istiadat, pribudi putih bersih tak korup dan mmgenal malu, yaitu empat prinsip dari Kwan Tong.

“Lepas!” teriak pula Coei San dengan gusar. “Jika tidak, aku akan mengadu jiwa denganmu.”

“Apamu dia? Jangan campur-campur urusanku!” jawabnya dengan suara dingin. Ia mengeraskan pelukannya, sehingga So So mengeluarkan jeritan kesakitan.

“Dia isteriku,” kata Coei San dengan bingung. “Cia Cianpwee, seorang laki-laki lurus berjalan lurus. Biarpun kita sekarang berada di atas gunung es, tapi janganlah kau melakukan perbuatan yang hanya akan memalukan diri sendiri.”

Cia Soen tertawa terbahak-bahak. “Aku si orang she Cia belum pernah menghiraukan jahat atau baik,” katanya. “Andai kata benar kau suaminya, kau tetap tidak boleh campur-campur dan harus turut segala perintahku. Jika berani membandel, aku akan hajar kau.”

Coei San tak dapat menahan sabar lagi. Baiklah, biar kita bertiga mampus bersama sama!”
bentaknya seraya menghantam punggung Cia Soen yang menangkis dengan tangan kirinya.

Tubuh Coei San bergoyang-goyang dan karena licinnya es, ia tak dapat berdiri tetap dan lantas saja terguling. Cia Soon mengangkat kaki kanannya dan menendang pinggang pemuda itu. Tapi Coei San pun bukan anak kemarin dulu. Ia menekan es dengan satu tangannya dan melompat bangun, sedang tangan yang lain menotok jalan darah d ilutut Cia Soen. Pada detik yang berbahaya, cepat bagaikan tandangannya, tangan kanannya memukul kepala Coei San, sedang tangan kirinya memeluk pinggang si nona.

Sesaat itu tangan kiri So So mendapat kemerdekaan, maka buru-buru ia menggunakan dua jerijinya untuk menotok jalan darah Soei touw hiat ditenggorokan orang. Tapi, di luar dugaan, tanpa menghiraukan serangan itu, Cia Soen terus mengerahkan Lweekang dan memukul kepala Coei San. Dengan kedua tangan, pemuda itu menangkis dan ia terkesiap, karena pukulan itu berat luar biasa, sehingga dadanya menyesak.

Dilain pihak, nona In pun tidak kurang kagetnya. Kedua jerijinya yang menotok Soei touw hiat seperti membentur benda yang licin dan serta didorong balik dengan serupa tenaga yang tidak kelihatan. Si nona mencelos hatinya, sebab, walaupun seorang yang mempunyai ilmu weduk Kim ciong to atau Tiat po san tak akan dapat menahan totokannya itu. Dari sini dapat dibayang kan, betapa tinggi kepandaian Cia Soen.

Waktu itu, badan So So dan tangan kanannya dipeluk keras-keras dan hanya tangan kirinya yang merdeka. Sesudah totokannya gagal, dengan pertolongan sinar es, ia lihat muka Coei San yang kedua matanya berwarna merah seperti darah dan seolah-olah mengeluarkan api. Pada detik itu. mendadak ia ingat pengalamannya waktu mengikuti ayahnya memburu harimau di hutan. Ia ingat bahwa kedua mata seekor harimau yang terluka juga berwarna merah darah. Sepulangnya dari perburuan, sering-sering ia merasa kasihan terhadap binatang itu.

Sekarang, melihat Cia Soen yang menyerupai macan edan rasa kasihannya timbul dan ia berkata pada dirinya sendiri, “Dia biasanya ramah tamah dan sopan santun. Ia beradat aneh, tapi keanehan itu adalah akibat pengalaman getir dalam penghidupannya. Tapi biar bagaimanapun juga, ia seorang luar biasa mahir ilmu surat dan ilmi silat. Bahwa sekarang ia kalap adalah karena otaknya yang kurang beres.”

Selagi memikir begitu, tiba-tiba di sebelah utara muncul sinar berkredepan yang beraneka warna dan indah luar biasa. “Cia Cian pwee,” katanya dengan suara lemah lembut. “Kau mengasolah. Lihatlah! di tepian langit muncul sinar yang sangat luar biasa!”

Cia Soen menengok ke arah yang ditunjuk si nona. Ternyata, di antara kegelapan di sebelah utara itu muncul ribuan, bahkan laksaan, sinar terang yang sangat aneh, sebentar besar, sebentar kecil, sedang warnanya yang kuning campur ungu dan dalam sinar ungu itu berkredepan sinar keemas emasan.

Cia Soen terkesiap, ia melepaskan pelukannya dan menarik pulang tangannya yang menindih ke dua tangan Coei San. Di lain saat, sambil menggendong tangan, ia berjalan ke pinggir gunung es dan memandang ke arah utara dengan mata membelalak. Ternyata, mereka sudah mendekati Kutub Utara.

Sinar yang luar biasa itu adalah pemandangan yang hanya terdapat d idaerah kutub. Pada jaman itu belum pernah ada orang Tionghoa yang pernah melihat pemandangan tersebut.

Sambil mencekal tangan kecintaannya, Coei San mengawasi orang anah itu dengan hati berdebaran.

Malam itu, Cia Soen tidak mengganggu lagi. Lama sekali ia berdiri terpaku di situ sambil menikmati sinar-sinar menakjubkan itu.

Pada keesokan paginya, sinar-sinar itu menghilang dari pemandangan. Cia Soen rupanya merasa jengah karena kejadian semalam, sehingga seharian suntuk ia tak pernah berani melirik si nona, sedang gerak-geriknya pun kelihatan kikuk sekali.

Beberapa hari kembali lewat dan mereka terus berlayar ke jurusan utara. Sementara itu, gilanya Cia Soen mulai kumat lagi. Semakin hari caciannya terhadap langit jadi semakin hebat. Sedang dari matanya keluar pula sinar mata binatang buas.

Coei San dan So So memperhatikan perubahan perubahan itu dengan hati berkuatir dan mereka selalu berwaspada untuk menghadapi segala kemungkinan.

Hari itu sudah lewat jam tujuh malam, tapi matahari yang menyerupai sebuah bola merah masih tergantung di tepian laut sebelah barat dan tak juga mau menyelam. Mendadak Cia Soen melompat bangun dan sambil menuding matahari, ia membentak, “Kau juga mau menghina aku? Oh, matahari jika aku memiliki busur dan anak panah, dengan sekali memanah, aku dapat menembuskan badan mu!” Tiba-tiba, dengan tinjunya ia menghantam es yang jadi somplak dan kemudian, dengan sekuat tenaga, ia menimpuk matahari dengan potongan es itu, yang terbang puluhan tombak dan kemudian jatuh di laut. Ia mengutangi lagi perbuatan itu, sehingga dalam tempo tidak terlalu lama, ia sudah melontarkan tujuh puluh lapis potongan es. Sesudah itu, sambil berteriak-teriak, ia menginjak injak gunung es itu, sehingga kepingan-kepingan es pada muncrat ke atas.

“Cia Cianpwee, kau mengasolah dulu,” membujuk So So dengan suara lemah lembut. “Jangan kau meladeni matahari itu.”

Cia Soen menengok dan dengan mata merah, ia menatap wajah si nona. So So ketakutan, tapi ia memaksakan diri untuk bersenyum.

Sekonyong-konyong sambil berteriak keras Cia Soen melompat dan memeluki nona. “Mampus kau! Mampus!” jeritnya.

So So memberontak, tapi sedikitpun tidak bergeming. Coei San kaget bukan main dan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia menghantam jalan darah Sin tohiat di punggung Cia Soen. Tapi tinju yang hebat itu seolah-olah memukul besi. Sementara itu, sambil mengeluarkan suara “ho ho ho” seperti bunyi binatang buas, Cia Soen mengeraskan pelukannya.

“Lepas! Jika kau tak lepas, aku akan menggunakan senjata !” teriak Coei San.

Tapi orang kalap itu tetap tidak meladeni.

Cepat bagaikan kilat Coei San mencabut Poan koan pit dari pinggangnya dan lalu menotok jalan darah Kian kin hiat dipundak kanan serta Siauw hay hiat pada lengan kiri Cia Soen. Tapi dia sungguh-sungguh lihai. Jika seorang ahli silat biasa kena totokan itu, sudah pasti kedua tangannya tidak akan dapat digunakan lagi. Tapi ia hanya merasa kesemutan dan dengan sekali menjambret, ia berhasil merampas Poan koan pit yang lalu dilontarkan kelaut.

Tapi serangan Coei San bukan tidak ada hasilnya. Totokan itu melonggarkan pelukan Cia Soen. Nona in memberontak dan berhasil memerdekakan dirinya. Tapi hampir berbareng, sambil mengbantam leher Coei San dengan telapak tangan kirinya, Cia Soen coba menyengkeram badan si nona dengan tangan kanan. Dengan satu suara “bret!” kulit biruang yang menyelimuti badan So So, menjadi robek. Coei Saa tahu, bahwa jika ia melompat mundur, kecintaannya pasti akan tertangkap lagi. Maka itu sambil mengerahkan seantero Lwee kangnya, ia menyambut tangan lawan dengan pukulan Bian ciang.

Begitu lekas kedua tangan kebentrok, ia merasa tangannya diisap dengan semacam tenaga yang
dahsyat luar biasa, sehingga tidak dapat dilepaskan lagi. Ia tidak dapat berbuat lain dari pada mengempos semangat untuk coba melawan. Tiba-tiba ia merasakan menyerangnya semacam hawa yang sangat panas dari tangan lawan sehingga pikirannya kalang-kabut dan kepalanya pusing.

Inilah untuk ketiga kalinya Coei San mengadu tenaga dengan Cia Soen. Dalam dua pertandingan yang lebih dulu, ia belum pernah mengalami serangan yang seaneh itu.

Di lain detik, dengan satu tangannya terus menempel pada tangan pemuda itu, Cia Soen miringkan badannya dan coba menjambret si nona. Dengan cepat nona In melompat ke belakang. Selagi tubuhnya masih berada di tengah udara, tiba-tiba Cia Soen menendang es, sehingga beberapa keping terbang dan mengenakan lutut kanan si nona, yang sambil mengeluarkan teriakan kesakitan, rubuh terguling. Hampir berbareng, Cia Soen mengebas tangannya yang menempel dengan tangan Coei San, sehingga pemuda itu terlempar beberapa tombak jauhnya dan jatuh d ipinggir gunung es, ia terpeleset dan tergelincir kedalam air.

“Celaka !” Coei San mengeluarkan seruan tertahan. Tapi berkat kepandaiannya yang sudah mencapai taraf sangat tinggi dalam keadaan yang sangat berbahaya, ia masih keburu mencabut Gin kauw dari pinggangnya yang lalu digunakan untuk menotok es, dan dengan meminjam tenaga , badannya kembali melesat ke atas.

Selagi kedua kakinya hinggap di atas es, hatinya berdebar-debar, karena ia merasa pasti, bahwa So So akan jatuh lagi kedalam tangannya orang edan itu.

Tapi di luar dugaan dibawah sinar rembulan, ia lihat Cia Soen sedang menekap kedua matanya dengan tangan sambil mengeluarkan suara kesakitan, sedang So So sendiri menggeletak di atas es. buru-buru Coei San membangunkannya. Sambil memeluk leher pemuda itu, si nona berbisik , “Aku…aku telah lukakan matanya.”

Mendadak, sambil mengaum bagaikan harimau, Cia Soen menubruk, tapi untung juga, sambil memeluk kecintaanaya dan dengan bergulingan Coei San dapat menyelamatkan diri. Tiba-tiba terdengar beberapa kali suara keras dan kedua tangan Cia Soen kelihatan amblas di dalam es yang beratnya seratus kati lebih. Ia berdiri diam sambil memasang kuping untuk mendengar di mana adanya kedua orang muda itu, Coei San dan So So mengerti apa artinya itu, perlahan-lahan menyembunyikan diri di dalam sebuah lubang yang terdapat di gunung es itu dan mengawasi si orang edan sambil menghela napas. Melihat darah mengalir dari kedua mata Cia Soen, Coei San mengerti, bahwa pada saat berbahaya, So So sudah menimpuk dengan jarum emasnya dan sekarang orang itu sudah menjadi buta.

Tapi, biarpun sudah tak dapat melihat, kuping orang kalap itu tajam luar biasa. Lama ia berdiri bagaikan patung. Jika kedua orang muda itu mengeluarkaw suara sedikit saja, ia pasti akan menyerang sehebat-hebatnya.

Untung juga suara gelombang, angin dan suara terbenturnya balokan balokan es pada gunung es itu telah menutupi suara napas mereka. Andaikata mereka berada dalam sebuah kamar tertutup di atas daratan sudah boleh dipastikan mereka tak akan terlolos dari tangan Cia Soen.

Sesudah memasang kuping beberapa lama tanpa berhasil, dalam kegusaran, kesakitan dan ketakutan, Cia Soen kalap lagi. Sambil berteriak-teriak, ia memukul-mukul dan menendang-nendang, sambil menimpuk kian kemari dengan potongan-potongan es. Dengan paras muka pucat, Coei San dan So So saling peluk dalam lubang itu. Mereka yakin, sepotong es saja sudah cukup untuk mengambil jiwa mereka.

Cia Soen mengamuk kurang lebih setengah jam, tapi kedua orang muda itu merasakan seperti juga setengah tahun. Beberapa saat kemudian, ia berhenti dan mendadak berkata dengan suara lemah-lembut, “Thio Siangkong, In Kauw Nio, barusan aku kalap dan telah melakukan gila-gila. Kuharap kalian sudi memaafkan”

Sudah berkata begitu. ia duduk untuk menunggu jawaban.

Thio Coei San adalah seorang yang mulia dan murah hati, tapi iapun seorang pintar yang sangat hati-hati, sehingga tidak gampang diakali orang. Nona In yang licin dan banyak akalnya, lebih-lebih sukar diabui. Mereka tidak meladeni perkataan Cia Soen dan tetap berwaspada sambil bernapas pelan-pelan.

Sesudah mengulangi perkataannya beberapa kali, Cia Soen menghela napas panjang seraya berkata, “Jika kalian tak sudi memberi maaf, akupun tidak bisa memaksa lagi,” Sehabis berkata begitu, ia menarik nafas dalam-dalam.

Tiba-tiba dalam otak Coei San berkelebat satu peringatan. Ia ingat, bahwa sebelum mengeluarkan jaritannya yang dahsyat di pulau Ong poan San, Cia Soen telah menarik napas seperti itu. Hatinya mencelos, menyumbat kuping sudah tidak keburu lagi. Dengan cepat ia membetot tangan si nona dan melompat ke dalam air.

Sebelum si nona mengerti maksudnya, Cia Soen sudah mengeluarkan teriakannya yang dahsyat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, pemuda itu membetot pula tangan kecintaannya dan mereka menyelam kedalam air.

Dengan Gin kauw yang dicekel di tangan kiri, Coei San menggaet pinggiran gunung es, sedang tangan kanannya memegang tangan nona In.

Tapi, biarpun kepala berada dibawah permukaan air, kuping mereka masih mendengar juga teriakan-teriakan yang hebat luar biasa.

Gunung es terus maju ke utara. Diam-diam Coei San bersyukur, bahwa yang dilemparkan Cia Soen adalab Poan koan pit, sehingga ia masih dapat menggunakan Gin Kauw untuk menggaet gunung es itu. Andaikata ia kehilangan Gin Kauw, maka meskipun dapat menyelamatkan diri dari teriakan Cia Soen, mereka pasti akan mati di dalam air, sebab ditinggalkan gunung es itu yang terus bergerak maju.

Sesudah lewat beberapa lama, mereka menyembul di permukaan air untuk menyedot hawa udara yang segar. Cia Soen pun sudah berhenti berteriak.

Teriakan-teriakan itu rupanya telah meminta banyak tenaga dan dengan letih, ia bersila di atas es sambil menjalankan pernapasannya. Coei San lantas saja menarik tangan So So dan pelan-pelan mereka merayap naik ke atas.

Sesudah duduk di tempat agak jauh dari Cia Soen, mereka mencabut bulu beruang untuk menyumbat kuping.

Mereka mengerti, bahwa setiap detik mereka menghadapi bahaya besar.

Matahari belum juga menyelam karena mereka sudah berada di daerah kutub, di mana siang dan malam berbeda jauh dengan lain bagian bumi.

Beberapa saat kemudian, So So yang basah kuyup tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Badannya bergemetaran dan giginya bercakrukan.

Tentu saja suara itu segera terdengar Cia Soen, yang sambil membentak keras, lalu menghantam dengan Long gee pang. Buru-buru mereka menyingkirkan diri. Dengan satu suara nyaring luar biasa, gunung es itu somplak dan tujuh delapan balokan es jatuh ke dalam laut.

Sesudah gagal dengan pukulannya yang pertama, Cia Soen segera memutar senjatanya bagaikan titiran. Begitu diputar, senjata itu yang panjangnya setombak lebih segera mengeluarkan tenaga mendorong yang sangat hebat dalam jarak tujuh delapan tombak.

Coei San dan So So terpaksa mundur terus dan dalam sekejap mereka sudah berdiri di pinggir gunung es.

Cia Soen terus mendesak…

“Bagaimana baiknya?” bisik si nona dengan suara parau.

Sekali lagi Coei San membetot tangan si nona dan mereka segera melompat pula ke dalam air.

Selagi badan mereka masih berada di tengah udara, terdengar suara nyaring dan beberapa kepingan es menghantam punggung mereka yang dirasakan sakit sekali. Hampir berbareng dengan jatuhnya mereka ke dalam air, sebalok es, sebesar meja, jatuh di dekat mereka. Dengan cepat Coei San menjambretnya dan d ilain saat, mereka sudah duduk di atas balokan es itu.

Bagaikan seorang gila, Cia Soen menimpuk kalang kabut dengan potonngan-potongan es, tapi sebab matanya buta dan balokan es yang diduduki kedua orang muda itu terus bergerak maju, maka timpukannya meleset semua.

Karena balokan es itu banyak lebih kecil dari gunung es, maka jalannyapun banyak lebih cepat, sehingga tak lama kemudian, Coei San dan So So sudah meninggalkan Cia Soen jauh sekali. Tapi karena kecilnya, balokan es itu tak dapat menahan berat badan dari dua orang dan sebagian tubuh mereka masuk ke dalam air.

Untung juga, tak lama kemudian mereka bertemu dengan sebuah gunung es. Cepat-cepat mereka menggayu dengan menggunakan tangan untuk mendekati gunung es itu dan kemudian merapat naik ke atasnya.

“Langit tidak memutuskan jalanan orang, tapi langit telah memberikan sangat banyak penderitaan kepada kita,” kata Coei San sambil tertawa getir. “So So bagaimana keadaanmu?”

“Sayang sungguh kita tidak membekal daging beruang,” kata si nona. “Apa Gin Kauwmu hilang?”

Di lain saat, mereka tertawa geli, karena mereka baru merasa, bahwa bulu biruang yang digunakan untuk menyumbat kuping, belum dicabut, sehingga masing-masing tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh pihak lain.

“So So,” kata Coei San sesudah mereka mencabut bulu biruang dari kuping mereka. “Andaikata kita mesti mati, kitapun tak akan berpisahan lagi.”

“Ngoko,” kata si nona dengan suara aleman. “Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Kuharap kau akan menjawab dengan sejujurnya. Apakah kau akan tetap mencintai aku, andaikata kita berada di daratan, tanpa mengalami penderitaan yang hebat ini ?”

Coei San tertegun. Beberapa saat kemudian, barulah ia dapat menjawab, “Aku rasa, kita tidak akan bisa bersahabat begitu cepat. Juga…juga…kita pasti akan mendapat banyak rintangan. kita berasal dari lain partai…”

So So manghela napas, “Akupun berpendapat begitu,” katanya. “Itulah sebabnya, mengapa pada waktu kau bertanding pertama kali dengan Cia Soen, aku sudah tidak mau melepaskan jarum emas, biarpun didesak berulang-ulang olehmu.”

“Ya, tapi mengapa begitu?” tanya Coei San dengan rasa heran, “Aku semula menduga, bahwa kau menolak untuk melepaskan jarum, karena kuatir melukakan aku yang waktu itu sedang bertanding di tempat gelap.”

“Bukan, bukan begitu,” bisik si nona. “Kalau waktu itu aku melukakan dia dan kita dapat kembali ke daratan, kau tentu akan meninggalkan aku!”

Coei San kaget mendengar pengakuan. itu. “So So!” serunya.

“Mungkin kau akan gusar,” kata si nona. “Tapi tujuanku yang satu-satunya adalah supaya tidak berpisahan dengan kau. Keinginan Cia Soen supaya kita mengawaninya di pulau yang terpencil, cocok sekali dengan keinginanku,”

Bukan main rasa terima kasihnya Coei San. Ia tak pernah menduga, bahwa rasa cinta si nona adalah demikian besar. “So So, sedikitpun aku tidak gusar,” bisiknya.

Nona In dongak mengawasi pemuda itu dan berkata pula dengan suara lemah-lembut, “Langit telah mengirim aku ke neraka dingin ini, tapi sebaliknya daripada penasaran aku merasa beruntung sekali. Aku mengharap kita jangan kembali ke selatan untuk selama-lamanya. Hm…Jika kita pulang ke Tionggoan, gurumu tentu akan membenci aku, sedang ayah mungkin sekali akan membunuh kau…”

“Ayahmu ?” menegas Coei San.

“Ya, ayah adalah Peh bie Eng ong In Thian Ceng,” jawabnya. “Ia adalah pendiri dan pemimpin Peh bie kauw.”

“Oh, begitu ?” kata Coei San. “So So, kau tak usah takut. Aku pasti akan tetap berada bersama sama kau. Aku yakin, biarpun ayahmu ganas, ia tentu tidak akan membunuh puteri dan mantunya sendiri.”

Mendengar perkataan itu, paras si nona bersinar terang, sedang mukanya bersemu dadu. “Apa kau bicara setulus hati?” tanyanya.

“So So, biarkan sekarang saja kita terangkap menjadi suami-isteri,” kata Coei San.

Mereka lantas saja berlutut dengan berendeng di atas es dan Coei San berkata dengan suara nyaring, “Raja Langit menjadi aksinya, bahwa hari ini tee coe Thio Coei San terangkap jodoh menjadi suami-isteri dengan In So So. Biarlah senang dan susah bersama-sama dan cinta mencinta selama-lamanya!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: