Kumpulan Cerita Silat

16/07/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 26

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 3:10 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 26
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

“Banyak terima kasih atas uraian Ti-kong Taysu sehingga kita semua dapat mengikuti duduknya perkara dari awal,” kata Ci-tianglo. Lalu ia unjuk surat yang dipegangnya tadi, “Dan surat ini adalah kiriman pendekar Toako Pemimpin itu kepada Ong-pangcu, isinya berusaha mencegah Ong-pangcu agar jangan mengangkat engkau sebagai gantinya. Nah, silakan baca sendiri, Kiau-pangcu.”

“Coba kulihat dulu, apakah surat itu asli atau bukan,” kata Ti-kong tiba-tiba sambil menerima surat itu dari tangan Ci-tianglo. Setelah membaca, katanya pula, “Ya, memang betul adalah tulisan tangan Toako Pemimpin.”
(more…)

Hina Kelana: Bab 122. Lim Peng-ci Kebiri Diri Sendiri untuk Meyakinkan Ilmu

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 3:02 am

Hina Kelana
Bab 122. Lim Peng-ci Kebiri Diri Sendiri untuk Meyakinkan Ilmu
Oleh Jin Yong

Leng-sian menghela napas, katanya, “Adik Peng, engkau mengatakan Ayah mengincar kiam-bohmu, kenyataan memang demikian, aku pun takkan membela Ayah, tapi engkau menuduh dia hendak membunuhmu lantaran engkau mahir Pi-sia-kiam-hoat, kurasa hal ini tidak masuk di akal. Pi-sia-kiam-boh memangnya adalah milik keluarga Lim kalian, jika engkau mempelajari ilmu pedangmu adalah layak sekali, betapa pun Ayah tidak dapat membunuhmu hanya karena alasan itu.”

“Kau bicara demikian lantaran belum kenal pribadi ayahmu dan juga tidak tahu macam apakah Pi-sia-kiam-boh itu,” kata Peng-ci.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 16

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:37 am

Memanah Burung Rajawali – 16
Bab 16. Gara-Gara Sepatu Sulam dan Jubah Salut Emas
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. Ia merasakan ada tangan yang lemas yang memegang tangannya. Ketika ia menoleh, dengan lantas ia lihat Oey Yong, yang setahu kapan telah turun dari lauwteng.

“Jangan pedulikan dengan mereka, mari kita naik pula ke lauwteng!” berkata ini sahabat baru.
(more…)

Blog at WordPress.com.