Kumpulan Cerita Silat

15/07/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 25

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 3:11 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 25
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

Tan Cing menggeleng-geleng kepala menyaksikan itu, katanya dengan suara lantang, “Meski aku she Tan (tunggal), tapi istriku satu dan gundikku empat, anak-cucuku penuh serumah. Sebaliknya saudara Siang Wai ini, she Siang (genap, banyak) justru hidup sebatang kara tanpa teman hidup. Peristiwa ini seharusnya engkau sesalkan di masa dahulu, kalau sekarang baru dibicarakan, rasanya juga sudah terlambat. Nah, Siang-heng, kita diundang kemari oleh Be-hujin apakah tujuannya ialah untuk merundingkan urusan perjodohanmu?”

“Bukan,” sahut Tio-ci-sun sambil menggeleng.
(more…)

Hina Kelana: Bab 121. Rahasia Leluhur Lim Peng-ci yang Aneh

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 3:04 am

Hina Kelana
Bab 121. Rahasia Leluhur Lim Peng-ci yang Aneh
Oleh Jin Yong

Segera Ing-ing berkata pula, “Akan kubangunkan Gi-ho dan Gi-jing berdua Suci, hendaknya kau suruh mereka pulang dulu ke Hing-san, kita diam-diam mengawal perjalanan siausumoaymu habis itu baru pulang ke Hing-san.”

Sesudah bangun, semula Gi-ho dan Gi-jing rada khawatir melihat keadaan Lenghou Tiong masih belum sehat, namun melihat tekadnya sudah bulat buat menolong orang terpaksa mereka tidak berani banyak omong lagi, mereka menyediakan sebungkus obat luka, lalu mengantar keberangkatan mereka berdua.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 15

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:33 am

Memanah Burung Rajawali – 15
Bab 15. Oey Yong
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Anak akan pergi bersama keenam guruku, tak usah anak membawa pengiring,” sahut Kwee Ceng. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya, ia tentu bakal berhasil, sedang membawa pengiring-pengiring, yang tidak mengerti ilmu enteng tubuh, melainkan menambah berabe saja. Ia senang sekali dengan easn Khan ini, untuk membinasakan Wanyen Lieh. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya, yang sangat membenci bangsa Kimn itu.

Jenhiz Khan menerima baik, ia pesan pula: “Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna, kita belum dapat menandingi negara Kim, maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan bekas-bekas!”
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.