Kumpulan Cerita Silat

14/07/2008

Memanah Burung Rajawali – 14

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:32 am

Memanah Burung Rajawali – 14
Bab 14. Ujian yang Pertama
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Sangum murka berbareng bingung. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi putra itu berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukannya itu mundur seratus tombak. Mereka Cuma mundur, tapi pengurungan tidak dibubarkan, malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu, dalam tujuh dan delapan lapis!

Temuchin puji Kwee Ceng, yang diperintah gunai dadung, untuk ringkus Tusaga.

Tiga kali Sangum mengirim utusan, meminta putranya dimerdekaan, supaya Temuchin menyerah, nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun, katanya. tapi tiga-tiga kalinya, Temuchin usir utusan itu.

Tanpa terasa, langit telah menjadi gelap. Temuchin khawatir Sangum menyerbu, ia kasih perintah orang-orangnya terus memasang mata.

Kira-kira tengah malam, seorang denagn pakaian putih muncul di kaki bukit. ia lantas berteriak: “Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!”

“Kau naiklah kemari!” Temuchin menjawab

Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. Ia tampak Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. Ia maju mendekati, ingin ia memeluk. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya.

Temuchin hunus goloknya. “Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?” ia menegur.

Jamukha menghela napas. Ia lantas duduk bersila. “Kakak kau telah menjadi Khan yang agung, kenapa kau masih berambekan besar sekali?” ia tanya. “Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?”

“Kau sebenarnya menghendaki apa?” Temuchin tanya.

“Pelbagai kepala suku pada membilangnya bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini, maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu,” katanya Jamukha lagi.

“Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?” Temuchin tanya. “Lima putra mereka tidak hidup rukun, ia masaki daging kambing kepada mereka, mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah, ia suruh mereka masing-masing mematahkannya. Dengan gampang mereka itu melakukannya. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu, kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu, mereka gagal. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?”

Dengan perlahan Jamukha mengatakan: “Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai, kamu menjadi seperti anak panah ini, yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya; jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga, kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini, yang tak dapat dipatahkan siapa juga!”

“Kau masih ingat itu, bagus!” seru Temuchin. “Kemudian bagaimana?”

“Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama, mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!” sahut Jamukha.

“Benar begitu!” kata Temuchin. “Kita juga adalah orang-orang gagah, kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk, kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim itu!”

Jamukha terkejut. Kata ia: “Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya, emasnya tersebar di seluruh negaranya, rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung, cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?”

“Hm!” Temuchin perdengarkan ejekannya. “Jadinya kau suka yang kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?”

“Mereka pun tidak menghina dan menindih kita,” kata Jamukha. “Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu.”

Temuchin menjadi mendongkol. “Mulanya akun juga menyangka raja Kim itu baik hati,” katanya. “Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing, dia minta kuda, dan sekarang dia menghendaki orang-orang peperangan kita membantu ia berperang!”

“Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu,!” kata Jamukha pula.

“Berontak? Hm! Berontak!” seru Temuchin menghina. “Dan bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku datang untuk meminta kau jangan gusar, kakak. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!”

“Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!”

“Sangum bilang, kalau satu putranya terbinasa, dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa, untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga, kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!”

Temuchin membacok ke udara. “Aku lebih suka terbinasa dalam perang, tak nanti aku menyerah!” serunya.

Jamukha bangkit berdiri. “Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara, kau mengatakannya itu milik mereka pribadi, bukannya milik suku beramai. Mengenai itu, semua pelbagai kepala suku mengatakannya kau berlaku buruk, tak tepat itu dengan pengajaran leluhur kita!”

Temuchin berseru: “Akan tetapi semau orang peperangan yang muda-muda senang dengan caraku itu!”

“Baiklah saudara Temuchin,” kata Jamukha. “Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!”

Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya, ia lemparkan ke depan Jamukha. Ia bilang: “Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya, sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!” Sembari berkata begitu, ia geraki tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. Ia tambahkan. “Yang dibunuh itu adalah musuh, bukannya kakak angkatmu!”

Jamukha jemput bungkusan kecil itu. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya, tanpa membilang apa-apa, ia letaki itu di samping kakinya Temuchin, lalu ia memutar tubuhnya untuk turun dari bukit itu.

Temuchin mengawasi belakang orang, sekian lama ia diam asaj. Ia ada sangat berduka. Sungguh tidak ia sangka, saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah demikian rupa, hingga membaliki belakang kepadanya. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu, akan tuang keluar isinya, ialah kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. Segera terbayang di hadapan matanya saat dahulu hari ketika mereka sama-sama bermain-main di es. Ia menghela napas. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah, di situ ia pendam itu barang tanda mata dari adik angkatnya itu.

Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. Ia mengerti, apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan….

Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya, Temuchin bangun berdiri. Ia memandag ke depan. Ia nampak api yang dinyalakan tentaranya Sangum dan Jamukha, yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. Ia berdiam sekian lama, kemudaian berpaling, hingga ia dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya.

“Apakah kau takut?” ia tanya.

“Aku tengah memikirkan ibuku,” Kwee Ceng menyahuti.

“Kau ada seorang gagah, orang gagah yang baik sekali,” Temuchin memuji. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu, ia melanjutkan: “Mereka itu juga orang-orang gagah! Kami bangsa Mongolia ada punya begini banyak orang gagah, sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…” Ia memandang ke ujung langit, lalu menambahkan pula; “….kita pasti dapat membuat seluruh dunia, membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!”

Kagum Kwee Ceng akan dengar itu cita-cita dari Khan yang agung ini. Ia lantas kata: “Khan yang agung, kita bisa menang perang, tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!”

Temuchin pun menjadi bersemangat. “Benar!” sambutnya. “Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya akan aku pandang kau sebagai anak kandungku!” Dan ia rangkul si anak muda!

Sementara itu, cuaca sudah mulai terang. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet.

“Bala bantuan tidak datang. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!” kata Temuchin.

Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak, rupanya mereka hendak memulai penyerbuan mereka.

Temuchin bersama ketiga putranya dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah, anak panah mereka diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu, jalanan yang bisa diambil musuh untuk menerjang naik.

Tidak antara lama, sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukannya Sangum. Di bawah bendera itu ada tiga orang, yang menuju ke sisi gunung. Mereka itu adalah, di kiri Sangum, di kanan Jamukha, dan di tengah-tengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, putra keenam dari raja Kim. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas, tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah.

“Temuchin, adakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!” tanya itu pangeran.

Juji, putra sulung Temuchin, tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang, yang menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Dia sangat gesit dan gapa.

Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: “Tolongi Tusaga! Bekuk Temuchin!”

Atas titah itu, empat orang berlompat maju, untuk lari mendaki ke atas gunung.

Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. Mereka itu menggunai ilmu enteng tubuh. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan, bukannya orang peperangan yang biasa.

Setibanya empat orang itu di tengah jalan, mereka dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai, tetapi dengan tamengnya, mereka halau setiap anak panah itu.

Kwee Ceng jadi berkhawatir, “Kita di sini adalah orang-orang peperangan semua, kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…” pikirnya. “Bagaimana sekarang?”

Satu di antara empat orang itu, satu pemuda dengan pakaian hitam sudah lantas sampai di atas gunung. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. Dia ayun tangannya, lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu, disusul sama bacokan goloknya. Berbareng dengan itu, berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap, menikam dari samping kepada lengan penyerang itu. Dia terkejut, sambil kelit lengannya, ia lompat mundur. Maka ia lihat di depannya ada satu anak muda dengan alis gompiak dan mata besar, yang mencekal pedang. Ia ini menghalang di depannya Ogotai. Dia heran dalam rombongannya Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang.

“Kau siapa?” dia menegur. “Beritahukanlah she dan namamu!” Dia bicara dalam bahasa Tionghoa.

“Aku Kwee Ceng!” sahut anak muda itu.

“Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!” kata orang itu sombong.

Kwee Ceng sementara itu telah melihat, tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur sama Chilaun, Boroul dan lainnya. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula.

Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di lehernya Tusaga. “Siapa berani maju!” ia berteriak. “Akan aku lantas memenggal!”

Sangum menjadi khawatir dan bingung. “Tuan pangeran, titahkanlah mereka itu turun!” ia mohon kepada Wanyen Lieh. “Mari kita memikir daya lainnya, supaya anakku jangan terbinasa…!”

“Tetapkan hatimu, anakmu tak bakal terbinasa!” kata Wanyen Lieh sambil tertawa.

Orang-orangnya Sangum tidak berani naik, sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjuti pertempurannya.

Kwee Ceng telah gunai ilmu pedang Wat Lie Kiam pengajaran Han Siauw Eng, ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. Segera ia dapat kenyataan, berat tangannya lawan itu, yang goloknya tebal. benar-benar musuh ini bukan sembarang orang. Ia pun tidak mengerti cara bersilatnya orang, sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. Orang ini mengancam ke kanan, tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan, menjadi bacokan ke kiri………

Mau tidak mau, Kwee Ceng main mundur. Segera juga ia ingat pengajaran gurunya yang kesatu: “Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. Sekarang aku main menangkis aja, apakah itu ukan berarti aku kena didesak?” karena ini, waktu datang pula bacokan, ia tidak mundur lagi, sebaliknya ia menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. Keras sekali, tangan kanannya, ialah pedangnya, membalas menikam lempang.

terkejut juga musuh menyaksikan orang seperti nekat, bersedia akan celaka bersama, ia lantas tarik pulang goloknya. Kwee Ceng lihat ini ia gunai ketikanya, ialah ia menikam pula, kapan musuh berkelit, ia ulangi serangannya dengan beruntun. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. Kali ini, ialah yang membuat lawannya repot.

Dipihak lain, tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya, kapan satu di antaranya melihat ia terdesak, dengan bawa tombaknya, dia lompat menghampirkan. “Toasuko, mari aku bantu kau!” dia berteriak.

“Kau lihat saja dari samping, kau lihat kepandaiannya toasukomu!” berseru orang yang bergenggaman golok itu, yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan, sebab ia adalah orang undangannya Wanyen Lieh, yang untuk itu telah mengeluarkan banyak uang, sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu, ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap, masing-masing tidak sudi mengalah.

Kwee ceng gunai ketika orang bicara, ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. Itulah gerakan “Kie hong teng kauw” atau “Burung hong bangkit dan ular naga mencelat”. Musuh kaget dan berlompat berkelit, tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek.

“Lihat kepandaiannya toasuko!” berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa.

Itu waktu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka, sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan dan sepasang kampak pendek, tidak berani sembarang merangsak. Mereka ini pun telah dengar suaranya jiesuko mereka, saudara yang kedua, maka mereka anggap baiklah mereka menonton kakak mereka yang kesatu. Mereka mau percaya musuh tidak bakal lolos lagi. Mereka hampirkan jiesuko itu, untuk berdiri berendeng bertiga, akan menonton pertempuran sang kakak tertua.

Sebelum berkelahi terus, si pemegang golok itu lompat keluar kalangan. “Kau muridnya siapa?!” ia tegur Kwee Ceng. “Kenapa kau datang kemari untuk antarkan jiwamu?!”

Kwee Ceng lintangi pedangnya, ia bersikap tenang. “Teecu adalah muridnya Kanglam Cit Koay,” ia menjawab dengan terus terang. “Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?” ia terus berbalik menanya empat orang itu. “Suwie” ialah “keempat tuan”.

Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. Lalu ia berpaling pula, katanya: “Tentang nama kami berempat, taruh kami mengatakannya, kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. Lihat golokku!” Ia lantas menyerang.

Kwee Ceng sudah tempur orang, ia merasa orang ada terlebih terlatih daripadanya, akan tetapi ia adalah muridnya tujuh guru, telah banyak pengetahuannya, dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini, maka itu ia melawan dengan berani, bukan ia mundur, ia mencoba mendesak terus.

Sebentar saja, tigapuluh jurus telah dikasih lewat.

Puluhan ribu serdadu musuh, juga Temuchin semua, berdiam menyaksikan pertempuran itu. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. Ia ini cemas juga setelah banyak jurus, ia masih belum bisaberbuat suatu apa. Diakhirnya, ia menjadi seperti nekat. Demikian satu kali, dengan bengis ia membacok melintang.

Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan, ia mendahulukan menikam ke arah lengannya musuhnya. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. Di dalam hatinya ia berkata: “Belum lagi pedangmu tiba, golokku sudah mengenai tubuhmu.” ia menebas terus tanpa membuat perubahan.

Tenang adanya sikap Kwee Ceng, jeli matanya, sebat tangannya. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya, mendadak ia mengegos sedikit, sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya itu!

Bukan main kagetnya si toasuko. Sambil berteriak, ia lepas dan lemparkan pedangnya, sebagai gantinya, dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. Keras sampokan ini, pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya, maka tangan itu bercucuran darahnya!

“Sayang!” kata Kwee Ceng di dalam hati. Cuma karena kurang pengalaman, ia gagal, sedang sebenarnya, dengan sedikit lebih sebat saja, ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. Selagi musuh lompat undur, ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya.

Hampir pada itu waktu ada angin menyambar di belakangnya.

“Awas!” Jebe teriaki muridnya.

Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu, tanpa membalik tubuh lagi, sambil mendak sedikit, ia mendupak ke belakang. Tepat dupakannya ini, ia membuatnya tombaknya musuh terpental, habis mana, sambil memutar tubuh, ia membacok ke arah lengannya musuh. Kali ini ia gunai bacokan ajarannya Lam Hie Jin, yaitu jurus “Burung walet masuk ke sarangnya” dari tipu silat “Lam Sam Too-hoat” – ilmu pedang Lam San.

“Bagus!” seru lawan yang bersenjatakan tombak itu, yang membokong. Setelah berkelit dari bacokan, ia menikam ke dada pula.

Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan “Dalam mabuk meloloskan sepatu”, untuk membarengi membalas menyerang, ialah sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh.

Penyerang bertombak ini menggunai ketikanya yang baik. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya, setelah pedang orang terlepas, ia membokong. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit, tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang, terpaksa ia menarik pulang serangannya. Tapi ia penasaran, terus ia maju pula, hingga ia melayani musuh muda ini. Ia penasaran sebab ia tahu, dengan tombaknya itu ia sudah punyakan pengalaman dua puluh tahun…………

Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya, bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya.

Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. Ia tetap berlaku cepta dan keras, seperti tadi melawan si toasuko, ia mencoba mendesak, guna mempengaruhi musuh. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay, sehingga ia membuatnya si toasuko heran. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya, tak tahunya, goloknya sama aja.

Lagi beberapa lama, Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. ia lantas menantikan satu tikaman. Turut kebiasaan, ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang, maka itu, ia batal membacok, ia terus memapas ke sepanjang batang tombak, ke arah jari tangan musuh itu. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya.

Musuh itu terkejut, ia lantas mendahului lompat mundur.

Menghadapi lawan yang menggunai tombak ini, Kwee Ceng ada punya satu keuntungan. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim, karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal untuk ilmu tombaknya keluarga Yo, yaitu Yo Kee Chio-hoat, maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. Kebetulan sekali, sekarang ini Kwee Ceng ada kesempatan akan pakai ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. Apa yang tidak disangka, ilmu ini bukan digunai di Kee-hi hanya di sini.

Setelah dapat merampas tombak musuh, Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu.

Musuh yang keempat, yang paling muda, tidak tahan sabaran, dengan putar kampaknya, ia maju menyerang, mulutnya pun perdengarkan seruan. ia agaknya penasaran yang mereka kalah dari satu bocah. Siapa menggunai senjata pendek, ia mesti berkelahi rapat, baru ia bisa mengenai musuh, demikian ia ini, dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. Tapi pemuda kita, dengan tombaknya, membuatnya orang kewalahan, sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang.

Sesudah lewat beberapa jurus, Kwee Ceng menggunai tipu. Dengan cara biasa, tidak dapat ia rubuhkan atau lukai musuhnya ini. Ia berhasil. Musuh tidak menduga jelek, ia mendesak, sambil membentak, ia lompat menubruk, sepasang kampaknya turun dengan berbareng.

Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. Hebat kampaknya itu, gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. Disaat kemenangannya itu, musuh hendak mengulangi kampakannya. Diluar dugaannya, baru ia kerahkan tenaganya, tiba-tiba perutnya dirasainya sakit. Tanpa ia ketahui, sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya, malah ia terdumpak mental. Berbareng ia mental, tangan kirinya terbalik, mengampak ke arah kepalanya sendiri.

Melihat bahaya itu, si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya, akan hajar kampak di tangan kiri itu, maka di antara satu suara nyaring, kampak itu terlepas dan terpental, si pemiliknya sendiri jatuh numprah. Syukur untuknya, ia tertolong dari bahaya maut. Tapi ia bertabiat keras, ia gusar dan penasaran, ia lompat bangun untuk merangsak pula, mulutnya berteriakan tak henti-hentinya.

Kwee Ceng tidak punya senjata, ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga, yang bersenjatakan ruyung besi itu.

Melihat orang main keroyok, tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang, mereka membaut ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuju orang gagah, maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh, apapula satu musuh itu bertangan kosong.

Sampai disitu, Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. Karena majunya mereka berdua, dua musuh lainnya turut maju juga. Berat untuk Jebe berdua, mereka adalah orang-orang peperangan biasa, mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan, repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh.

Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya, ia lompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang, untuk menghajar punggungnya, ketika si orang Hwee menebas tangannya, ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng, hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe.

Orang itu rupanya bersatu pikiran, mereka lantas meluruk kepada anak muda she Kwee ini, mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua.

Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya, karena tidak mempunya senjata, terpaksa ia melawan dengan menunjuki kelincahannya, ialah main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan.

“Ini golok!” teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya.

Disaat Kwee Ceng hendak sambuti golok itu, ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga goloknya Borchu kena disampok mental, sedang musuh yang memegang sepasang kampak memberangi mengampak juga. Dia ini bersakit hati bekas kena didupak tadi.

Kwee Ceng berkelit dengan berlompat, atau sebatang golok melayang ke arahnya. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. Hanya ketika itu, ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besri tadi, maka tidak ampun lagi, paha kanannya kena dihajar. ia merasakan sangat sakit, matanya pun kabur, hampir ia rubuh pingsan. Syukur untuknya, tulang pahanya itu tidak patah, tetapi gerakannya menjadi lambat, ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak, yang telah melepaskan kampaknya itu. Karena ini, ia roboh bersama-sama musuh itu, yang tak sudi melepaskan pelukannya.

Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya, sekejab itu ia ingat ibunya, tujuh gurunya, Tuli dan Gochin, lalu semangatnya bangun, maka ia jambak dada musuh, denagn kerahkan semua tenaganya, ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya snediri, denagn begitu ia pakai musuh sebagai tameng.

Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir nanti mencelakai kawan sendiri.

Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian, hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. denagn sebelah tangan ia memencat nadi musuh, untuk membikin dia itu tak dapat bergerak, denagn tangan yang lainnya, ia mencekik tenggorokan. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. ia telah pikir: “Biar aku mati, asal aku pun telah membunuh seorang musuh!”

Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur, maju pula untuk membantu kawannya.

“Kamu pegat mereka ,nanti aku bunuh ini bocah haram!” kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya, habis mana ia terus bekerja.

Kwee Ceng kaget, ia merasakan sakit pada pundaknya, terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak, habis mana ia lompat bangun, untuk berdiri. Musuhnya yang ia cekik, telah rebah diam karena pingsan. Baharu ia berdiri dengan berniat melawan musuh, atau kaki kanannya dirasakan sangat sakit, sekali lagi ia roboh.

Musuh sudah lantas tiba. Dlam keadaan sangat berbahaya itu, Kwee Ceng ingat ia ada punya joan-pian atau cambuk lemas pembela dirinya, lekas-lekas ia lepaskan itu dari pinggangnya, lalu dengan menggulingkan tubuh, ia menangkis, kemudian selanjutnya, ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya “Kim Liong Pian-hoat” atau “Ilmu cambuk lemas naga emas”

Musuh yang pingsan telah lantas sadar, ia ingin membalas sakit hatinya, ia lompat bangun, untuk membantu saudaranya. Tak lama, mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain, yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. denagn begini Kwee Ceng kembali kena dikepung berempat.

Selagi Kwee Ceng terancam bahaya, di bawah bukit, pasukan tentara kacau sendirinya, lalu tertampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu, terus mereka berenam lari naik ke atas gunung.

Matanya Jebe sangat tajam, ia lantas kenali enam orang itu. “Kwee Ceng, gurumu datang!”, ia berseru.

Kwee Ceng sudah letih betul, kedua matanya pun sudah mulai kabur, kapan ia dengar itu teriakan, semangatnya terbangun, terus ia melawan dengan hebat.

Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari di paling depan, mereka segera tampak murid mereka dalam bahaya. Kim Hoat lompat maju, dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. “Tidak tahu malu!” ia membentak.

Empat musuh itu sudah lantas lompat mundur, tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam, mereka kalah jauh.

Cu Cong lompat maju, akan kasih muridnya bangun. Itu waktu, Tin Ok bersama yang lain pun telah tiba.

“Bandit-bandit tidak tahu malu, pergi kamu!” Kim Hoat mengusir.

Si toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang menebali muka. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung, mereka malu bertemu sama pangeran yang keenam.

“Liok-wie, adakah kamu Kanglam Liok Koay?” ia tanya enam orang itu.

“Tidak salah!” sahut Cu Cong tertawa. “Siapakah tuan berempat?”

“Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong,” sahut si toasuheng.

Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama, sebab mereka itu main keroyok, maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-,muridnya Kwie-bun Liong Ong.

“Pasti kamu berdusta!” bentak Tin Ok. “Kwie-bun Liong Ong bernama besar, mana bisa murid-muridnya ada bangsa tak berguna seperti kamu!”

“Siapa berdusta!” berseru orang ynag dicekik Kwee Ceng tadi, yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya, “Inilah toasuheng kami, Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri, aku Song-bun-hu Cian Ceng Kian!”

“Kedengarannya kamu tidak berdusta,” berkata Tin Ok pula, “Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama, kenapa kamu merendahkan diri begini rupa, emapt orang bersaudara mengepung satu musuh, seorang bocah! Dialah muridku!”

Gouw Ceng Liat membelar. “Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!” katanya, “Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantu padanya?”

Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: “Samsuheng, ini buta dan pengkor sangat berlagak, siapakah dia?”

Ceng Kong menanya perlahan sekali, tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya, ia menjadi mendongkol. Tiba-tiba ia menekan denagn tongkatnya, tubuhnya terus mencelat, sebelah tangannya menyambar, maka tidak ampun lagi, punggung Ceng Kong kena dijambak, terus dilemparkan ke bawah gunung!

Tiga pengepung lainnya menjadi kaget, mereka maju untuk menolongi, tetapi mereka tidak berdaya, malah sebaliknya, cepat luar biasa, satu demi satu, mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit!

Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu, yaitu Hong Ho Su Koay, merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya.

Itu waktu terlihat debu mengulah naik, tanda dari datangnya beberapa ribu serdadu, maka itu, menampak demikian, tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya.

Temuchin menampak datangnya bala bantuan, mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya, ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: “Mari menerjang ke sini!”

Jebe berempat dengan Borchu, Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah, darimana pun terdengar seruannya bala bantuan.

Mukhali kaburkan kudanya denan ia peluki Tusaga, batang leher siapa ia tandalkan goloknya, sembari turut menerjang, ia berteriak-teriak: “Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!”

Sangum menyaksikan musuh menerobos turun, hendak ia memegat, atau ia lantas tampak putranya berada di bawah ancama maut, putra itu tak dapat berkutik, ia menjadi tergugu, hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa.

Sementara itu rombongannya Temuchin sudah sampai di bawah bukit, malah Jebe sudah lantas saja turun tangan, dengan mengincar Sangum, ia memanah.

Sangum terperanjat, ia berkelit ke kiri, tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah, maka tak ampun lagi, ia rubuh terjungkal dari kudanya. Tentu saja, karenanya, tentaranya menjadi kaget dan kalut sendirinya.

Temuchin ajak rombongannya kabur terus. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar, akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu beramai, yang sembari menyingkir telah menoleh ke belekang dan saban-saban menyerang denagn panah mereka.

Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng.

Sesudah melalui beberapa lie, rombongan ini bertemu sama bala bantuan, ialah barisannya Tuli, putra keempat Temuchin, maka itu mereka lantas menggabungkan diri.

Tuli masih muda, walaupun ia adalah satu pangeran, kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka dengar titahnya, dari itu, ia datang dengan cuma bersama itu beberapa ribu serdadu anak-anak muda, hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. Tapi ia cerdik, ia tahu jumlah musuh terlebih besar, ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka, dari itu debu menjadi mengulak besar dan musuh menyangkanya bala bantuan lawan ada berjumlah besar sekali.

Di tengah jalan pulang, Temuchin bertemu bersama Gochin, yang pun datang bersama sejumlah serdadu. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang satu apa pun.

Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. Hanya untuk herannya semua orang, yang hatinya mendongkol, mereka itu lihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta, dan diperlakukan sebagai tamu agung.

Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu.

“Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum,” ia berkata kepada putranya Sangum itu, “Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu, yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati.”

Tusaga girang bukan main. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu.

Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan, tetapi terpaksa mereka berdiam saja.

Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadunya mengiringi Tusaga pulang, berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw.

Tiga hari sepulangnya Tusaga itu, Temuchin kumpulkan orang-orang peperangannya. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka.

“Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!” demikian titahnya.

Heran semua panglima itu, mereka melongo.

“Wang Khan banyak tentaranya, serdadu kita sedikit, tak dapat kita melawan dia dengan terang.terangan,” menjelaskan Temuchin. “Kita mesti membokong padanya! Aku merdekana Tusaga dan mengirim bingkisan, itulah untuk membuatnya tidak bersiaga.”

Baharu semua panglima itu sadar, mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan.

Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan, mereka menyangka Temuchin jeri, mereka tidak bercuriga, maka di dalam tendanya, mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha, yang mereka layani dengan hormat. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangannya Temuchin. Mereka menjadi kaxau, tanpa berdaya mereka pada melarikan diri.

Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara.

Hong Ho Su Koay, Empat Siluman dari sungai Hong Ho, yang bisa menerobos kepunganm telah lindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia).

Jamukha kehilangan tentaranya, dia lari ke gunung Tannu, di sana selagi ia dahar daging kambing, dia ditawan oleh tentara pengiringnya, terus ia dibawa kepad Temuchin.

Temuchin terima orang tawanan itu, tetapi ia gusar, ia berseru: “Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?” Di depan Jamukha sendiri, ia perintahkan hukum mati pada kelima pengiring itu. Kepada Jamukha, yang ia awasi, ia kata: “Apakah tetap kita menjadi sahabt-sahabat kekal?”

Jemukha mengucurkan air mata. “Meskipun saudara suka memberi ampun padaku, aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini,” ia menyahuti. “Saudara, aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku, supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku….”

Temuchin berdiam sekian lama. “Baiklah,” berkata ia kemudian. “Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah, nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari, semasa kecil, kita bermain bersama…”

emukha memberi hormat sambil berlutut, habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah.

Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali, maka rakyat dan orang peperangan dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya, semuanya menyunjungnya. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan, atau Khan terbesar dari Mongolia, dengan gelaran Jenghiz Khan, artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar.

Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. Empat pahlawannya yakni Mukhali, Borchu, Boroul dan Chiluan serta Jebe, Jelmi dan Subotai, diangkat menjadi cian-hu-thio, semacam kapten dari seribu serdadu. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa, dijadikan cian-hu-thio juga. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun, pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa.

Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya, dalam keadaan seperti itu, ia kata kepada Kwee Ceng: “Anak yang baik, aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!”

Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasihnya.

“Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!” berkata Jenghiz Khan. “Mulai besaok kau adalah Kim-to Hu-ma!”.

Semua panglima bersorak, lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. Mereka juga berseru-seru: “Kim-to Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!”

“Kim-to Hu-ma” itu berarti menantu raja golok emas.

Tuli sangat kegirangan sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat, tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. Si anak muda sebaliknya berdiam diam, tubuhnya terpaku, mulutnya bungkam. Ia menyukai Gochin, tetapi sebagai adik, bukan sebagai kekasih. Ia lagi mengutamakan ilmu silat, tak ia pikirkan lainnya soal apa pula soal jodoh, soal asmara. Maka keget iamendengar hadiah Khan yang maha besar itu. Selagi ia tercengang, semua orang tertawa padanya, menggodainya.

Setelah pesta bubar, Kwee Ceng lantas cari ibunya, akan tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu.

Liep Peng terdiam, ia pun bingung. “Coba undung gurumu semua!” titahnya kemudian.

Kanglam Liok Koay lantas datang. Apabila mereka mendengar hal pertunangan itu, mereka girang, mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali?

Lie Peng berdiam sebentar, lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu, sehingga mereka itu menjadi heran.

“Ada apa, enso?” mereka tanya. “Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!”

“Aku ada sangat bersyukur yang suhu beramai sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga,” berkata nyonya ini. “Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu beramai.”

Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim, yang tunangkan anak-anak mereka sebelum anak-anak itu lahir.

“Maka itu, kendati kedudukan anakku mulia sekali, mana dapat ia menjadi hu-ma?” kata si nyonya kemudian. “Kalau aku menyangkal janji ini, aku malu sekali. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya itu di dunia baka?”

Mengdengar keterangan, Kanglam Liok Koay tertawa.

Lie Peng heran, ia mengawasi mereka itu.

“Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan, melainkan pria,” Cu Cong kasih keterangan.

“Bagaimana suhu ketahui itu?” menanya Lie Peng kaget.

“Seoarng sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat,” menerangkan Cu Cong lebih jauh. “Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu, untuk mereka menguji kepandaian silat mereka.”

Mendengar itu, Lie Peng sangat girang. Ia setuju anaknya itu diajak pergi. Ia harap, sekalian anaknya itu mencari Toan Thian Thek, guna menuntut balas. Sepulangnya dari perjalanan itu, baharu Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin.

Setelah mendapat keputusan, Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan, untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu.

“Bagus, kau pergilah!” Khan itu setuju. “Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh, putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu, berepa banyak pengiring yang kau butuhkan?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: