Kumpulan Cerita Silat

13/07/2008

Memanah Burung Rajawali – 13

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:27 am

Memanah Burung Rajawali – 13
Bab 13. Tipu Lawan Tipu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Berselang sesaat, tubuhnya Bwee Tiauw Hong kasih dengar suara meretek, mulanya perlahan, lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. Cuma suara yang terdengar, tubuhnya sendiri tidak bergerak, Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu.

Tak lama, dari keras dan nyaring, suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor, lalu berhenti. Habis itu, dia bangkit berdiri, tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggangnya. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. Ia terkejut pula. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian, cambuk lemas putih yang mengkilap. Kim-liong-pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki, cambuk ini berlipat sepuluh kali. Mungkin enam tombak. Cambuk ini terus dicekal di tengahnya kedua tangan, sambil tertawa, Tiauw Hong lantas bersilat. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu, cepatnya luar biasa. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan, ujungnya yang lain menghajar batu besar!

Habis itu Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang emnyambar ke arahnya. Ia lihat tegas, ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. Ia tidak takut, untuk bela diri, ia cabut pisaunya yang tajam, untuk dipakai menangkis. Belum lagi kedua senjatanya beradu, ia rasakan lengannya sakit sekali, lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. Ia bergerak tanpa ia merasa.

Sekejap saja, ujung cambuk lewat di atasan kepalanya!

Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. “Kalau totiang tidak tolong aku, habis hancur kepalaku…” pikirnya.

Setelah matanya buta, Bwee Tiauw Hong sengaja menyakinkan cambuk lemas. Kupingnya menjadi terang sekali, sedikit saja suara berkelisik, ia dapat dengar. Dalam jarak enam tombak, sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu, yang ia telah latih dengan sempurna..

Dengan ketakutan, Kwee Ceng mendekam, napasnya ia tahan.

Habis berlatih, Tiauw Hong simpan cambuknya itu. Sekarang ia keluarkan suatu apa dari sakunya, ia letaki itu ditanah, lalu tangannya meraba-raba. Ia berdiam, seperti lagi memikirkan sesuatu. Ketika ia berbangkit, ia bikin gerakan seperti berlatih silat. Ia kembali meraba barangnya itu , lagi ia berpikir. Beberapa kali ia berbuat begitu, baru ia simpan pula barangnya itu. Diakhirnya ia ankat kaki, berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi.

Kwee Ceng menghela napas lega. Ia berbangkit.

“Mari kita ikuti dia, entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi,” berkata si imam, yang pun lantas bangun. Malah ia sambar pinggang bocah itu, untzk bawa ia turun dari belakang jurang itu. Kwee Ceng dapat kenyataan, dibagian belakang ini, orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. Cara ini telah digunai oleh si Mayat Besi.

Setibanya mereka di bawah, terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. Si imam kempit Kwee Ceng, ia lari menyeusul. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. Lama mereka berlari-lari, di waktu langit mulai terang, Tiauw Hong tiba di satu tempat di mana ada banyak kemah, di sana ia menghilang. Si imam mengcoba mengikuti terus, untuk ini, mereka mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga.

Di tengah-tengah ada sebuah kemah terbesar, tendanya berwarna kuning. Di belakang ini si imam mendekam, lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda, untuk melihat ke dalam.

Justru itu terlihat satu orang, dengan goloknya membacok satu orang lain, yang rubuh dengan segera dan terbinasa, rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai.

Kwee Ceng kenali, si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin, ia menjadi heran. Ia singkap lebih tinggi tenda, untuk melihat tegas si pembunuh, yang ekbetulan menoleh, maka ia lantas kenali sebagai Sangum, putranya Wang Khan. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu.

“Sekarang kau tidak akan sangsi pula, bukan?” berkata Sangum itu.

Di situ ada satu orang lain, ia ini kata,” Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah, belum tentu kau akan berhasil.”

Sangum tertawa dingin, dia kata: “Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu, nah, pergilah kau melaporkannya!”

Orang itu menyahuti: “Kau adalah adik angkatku, ayahmu juga perlakukan aku baik sekali, sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan padamu!”

Kwee Ceng kenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin, yaitu Jamukha, ia menjadi heran sekali. Pikirnya: “Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?”

Lalu terdengar seorang lain: “Setelah kita berhasil, maka semua ternak, orang perempuan dan hartanya Temuchin terjatuh kepada Sangum, semua sebawahannya untuk Jamukha, dan dari pihak kami negara Kim yang besar, Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su.”

Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak.

Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu, karena orang itu berdiri membelakangi dia, maka ia menggeser, ketika ia melihat dari samping, ia seperti mengenalinya. Orang ada memakai jubah bulu ynag mahal, dandannya mewah. Ia tak usah mengingat-ingat lama, akan kata dalam hatinya: “Ah, ialah pangeran keenam dari negara Kim!”

Jamukha tertarik dengan janji itu, ia berkata: “Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya, aku tentu menurut.”

Sangum menjadi girang sekali, ia bilang: “Berapa susahnya untuk ayahku memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu, tidak nanti ia tidak memberikannya!”

Wanyen Lieh, si putra Raja Kim yang keenam itu, berkata: “Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song, itu waktu kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu, setelah usahanya berhasil, kamu bakal dapat hadiah lainnya lagi!”

Sangum girang sekali, ia berkata: “Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai, di seluruh tanahnya penuh denagn emas dan orang-orang perempuannya ada bagaikan bunga-bunga, jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana, sungguh bagus sekali!”

Wanyen Lieh tersenyum. “Sekarang tolong kedua tuan bilangi aku, cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?” dia tanya.

Selagi Kwee Ceng memasang kuping, ia rasai si imam menarik ujung bajunya, kapan ia menoleh, ia dapatkan imam itu menunjuk ke belakang. Ia lantas berbalik. Maka ia lihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang, rupanya ditanyakan sesuatu.

“Biar apa dia lakukan, buat sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya,” Kwee Ceng berpikir. “Biar aku dengari persekutuannya mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung.” Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kupingnya.

Terdengar Sangum berkata: “Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku, baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan.” Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. Dan melanjuti kemudian: “Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan, aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring, maka itu baiklah kita sembunyikan orang disepanjang jalan. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan, tidak nanti ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!”

Kwee Ceng kaget dengan berang gusar. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat, yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri. ia masih hendak mendengari lebih jauh etika ia rasakan si imam sambar ia untuk ditekan, menyusul mana Tiauw Hong berkelebat lewat, di tangannya ada orang yang dikempitnya. Sekejap saja, si Mayat Besi sudah lewat jauh.

Si imam tarik tangan si bocah, akan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak, lalu ia berbisik: “Tiauw Hong lagi cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. Mari lekas, kalau terlambat bisa gagal!”

Kwee Ceng terpaksa menurut, maka bersama-sama mereka lari pesat, menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. Ketika itu hari telah siang. Di sini si imam berkata: “Sebenarnya tidak hendak aku perlihatkan diriku, akan tetapi urusan ada begini penting, bahaya tengah mengancam, tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. Pergilah kau masuk ke dalam, bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay.”

Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini, baru sekarang ia ketahui nama orang. Cuma ia tetap belum tahu, siapa imam ini yang semestinya lihay. Ia mengangguk, tanpa ayal, ia lari ke dalam kemah. “Suhu!” ia berseru begitu ia menyingkap tenda. Baharu saja ia memanggil itu, mendadak ia merasakan dua tangannya sakit, tangannya itu kena orang sambar, disusul mana sakit di kakinya yang kena ditendang, maka terus ia rubuh, akan setelah itu, sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya ia, apapula kapan ia kenali, penyerangnya itu adalah Kwa Tin Ok, gurunya yang nomor satu. Ia lantas meramkan mata, untuk menantikan kebinasaannya.

Segera itu menyusul terdengar suara senjata bentrok, habis mana satu orang lompat kepada anak tanggung itu.

Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh, ialah Han Siauw Eng, siapa terus berseru: “Toako, tahan!”. Pedang guru itu telah terpental.

Tin Ok menghela napas, ia tancap tongkapnya. “Citmoay, hatimu lemah sekali!” katanya perlahan.

Sekarang Kwee Ceng melihat, orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat. Ia menjadi sangat bingung.

“Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!” tanya Tin Ok kemudian dengan dingin.

“Dia ada di luar, dia mohon bertemu sama suhu semua,” sahut Kwee Ceng.

Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. Tapi di bawah terangnya sinar matahari, di sana mereka tampak seorang imam tua, Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun.

“Mana itu siluman perempuan” Cu Cong bentak muridnya.

“Teecu telah lihat dia tadi, mungkin sebentar dia bakal datang kemari,” sahut itu murid.

Kanglam Liok Koay berdiam, lalu mereka mengawasi Ma Giok, mereka berenam menjadi ragu-ragu.

Imam itu bertindak mau, ia menjura. “Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan, sekarang kita dapat bertemu, sungguh pinto merasa sangat beruntung,” dia berkata.

Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng, yang ia masih pegangi. Ia membalas hormat. Ia pun lantas berkata: “Tidak berani memohon tanya gelaran totiang.”

Sekarang Kwee Ceng ingat, belum lagi ia menolongi si imam menyampaikan berita, ia lantas berkata: “Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang.”

Liok Koay heran, mereka terperanjat. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang, yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang, dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya, jarang sekali ia membuat perjalanan, dari itu, dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee, sedang tentang ilmu silatnya, tidak ada orang yang mengetahuinya.

“Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!” berkata Tin Ok. “Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?”

“Suteeku itu adalah seorang pertapa, tetapi ia masih gemar seklai dalam urusan pertaruhan,” berkata Ma Giok, “Mengenai tabiatnya itu, yang bertentangan dengan agama kami, sudah beberapa kali pinto menegurnya. Mengenai pertaruhan itu sendiri, pinto tidak ingin memcampurinya. Kedatanganku ini adalah untuk lain urusana. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu, pinto lihat dia polos dan jujur, denagn lancang pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. Tentang itu pinto belum dapat perkenanan tuan-tuan, maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati.”

Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu.

Siauw Eng menjadi girang sekali. “Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?” ia tanya muridnya. “Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang, hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?” Ia mengusap-usap rambut muridnya itu, nampaknya ia sangat menyayanginya.

“Totiang larang aku bicara,” Kwee Ceng jawab gurunya ini.

“Pinto biasa berkelana, tidak suka pinto orang ketahui tentang diriku,” Ma Giok berkata. “Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan tetapi pinto tidak membuat kunjungan. Tentang ini pinto pun memohon maaf.” Ia lantas menjura pula.

Kanglam Liok Koay membalas hormat. Mereka lihat orang alim sekali, beda daripada saudara-saudaranya, kesan mereka lantas berubah.

Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong, justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda, lalu tertampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. tahulah ia, itu adalah orang-orangnya Sangum, yang hendak memancing Temuchin.

“Toasuhu, hendak aku pergi sebentar, sebentar aku akan kembali!” kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya.

“Jangan, jangan pergi!” mencegah Tin Ok. “Kau berdiam bersama kami.” Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang semberono tadi. ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini, karena mana, ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari pihaknya Bwee Tiauw Hong. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba?

Kwee Ceng jadi semakin bingung. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat. Terpaksa ia berdiam, hatinya berdenyutan.

Segera setelah itu, terdengar pula congklangnya kuda, kapan Kwee Ceng menoleh, ia tampak datangnya Gochin. Putri itu menghentikan kudanya sejarak belasan tindak, lantas ia mengapai berulang-ulang.

Kwee Ceng takut pada gurunya, ia tidak berani pergi menghampirkan, ia hanya menggapai, minta si tuan putri datang lebih dekat.

Gochin menghampiri. kelihatan kedua matanya merah dan bendul, ruapanya ia baru habis menangis. Setelah datang dekat, ia berkata dengan suara seperti mendumal: “Ayahku….ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…” Lalu air matanya turun pula.

Kwee Ceng tidak sahuti putri itu, ia hanya kata: “Lekas kau pergi kepada Khan yang agung, bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan kepada Khan!”

Gochin terkejut. “Benarkah itu?” tanyanya.

“Tentu saja benar!” sahut Kwee Ceng. “Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!”

Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. “Baik!” katanya. Ia putar kudanya, untuk segera dikasih lari.

Kwee Ceng heran. “Ayahnya hendak dibikin celaka orang, kenapa dia girang?” ia tanya dirinya sendiri. Lalu ia ingat suatu apa. “Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?” Maka ia pun bergirang. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya!

Itu wkatu terdengar suaranya Ma Giok. “Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri, dengan sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To, Tanghay. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurnya, sedang cambuknya ada luar biasa. Kalau kita bekerjasama berdelapan, kita tidak bakal kalah, tetapi untuk singkirkan dia, jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…”

“Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?” kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng.

“Sejak dahulu kala ada dibilang, permusuhan harus dilenyapkan, tetapi jangan diperhebat,” Ma Giok bilang. “Tuan-tuan telah binasakan suaminya, bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara, dia pun buta matanya, dia harus dikasihani.”

Liok Koay berdiam. “Dia melatih diri secara demikian hebat, setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak bersalah dosa,” kata Po Kie kemudian, “Maka itu totiang, dapatkah kau membiarkannya saja?”

“Laginya sekarang ini dia yang mencari kami, bukan kami yang emncari dia,” CU Cong berkata pula.

“Taruh sekarang kita menyingkir dari dia,” Coan Kim Hoat menyambungi, “Kalau benar dia hendak menuntut balas, untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga. Inilah sulit!”

“Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya,” berkata Ma Giok. “Jalan ini ada sempurna, asal tuan-.tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya.”

Cu Cong semua berdiam, mereka awasi kakak mereka, untuk dengar putusan si kakak.

“Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono, kami Cuma gemar berkelahi,” kata Tin Ok emudian. “Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang, kami pasti akan bersyukur. Silahkan totiang bicara.”

Tin Ok mengerti, imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong, hanya orang lagi melindungi juga mereka sendiri. Selama sepuluh tahun ini, entah bagaimana kemajuannya si Mayat Besi. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain.

“Kwa tayhiap berhati mulia, Thian tentu akan memberkahi,” kata Ma Giok seraya mengangguk. “Satu hal hendak pinto memberitahukannya. Turut pikiranku, selama sepuluh tahun ini, mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su….

Cu Cong semua terkejut. “Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu, cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?” ia tanya.

“Itulah memang benar,” berkata Ma Giok, “Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu, pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai, tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay, dengan belajar sendiri, tidak nanti ia dapat peroleh itu. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong, kemudian Oey Yok Su mendapat tahu, bagaimana nanti…?”

Tin Ok semua berdiam. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu, mereka masih kurang percaya sepenuhnya. Mereka mau menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu?

“Totiang benar,” Cu Cong berkata kemudian. “Silakan totiang beri petunjuk kepada kami.”

“Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya,” Ma Giok minta.

“Harap totiang tidak terlalu merendah,” kata Cu Cong. “Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?”

Dengan “Cit Cu” dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu.

“Bersyukur kepada guru kami, memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw,” kata Ma Giok. “Pinto percaya, terhadap kami dari Coan Cin Kauw, mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. Karena ini juga, pinto hendak menggunai suatu akal untuk membikin ia kabur…” Lantas imam itu tuturkan tipunya.

Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah, tetapi untuk membari muka kepada Ma Giok, terpaksa mereka menurut. Maka itu, habis bersantap, mereka sama-sama mandaki jurang. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka, Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng, murid mereka itu. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. Mereka percaya, imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee, Cuma tabiatnya itu dua saudara seperguruan saja yang berbeda.

Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas, mereka lantas kasih turun dadung mereka, guna bnatu menggerek naik kepada Kanglam Liok Koay.

Sesempai di atas, enam saudara itu segera dapat lihat tumpukan tengokraknya Bwee Tiauw Hong. Sekarang ini baharu mereka percaya habis imam itu.

Lantas semua orang duduk bersamedhi, sambil beristirahat, mereka menantikan sang sore. Dengan lewatnya sang waktu, cuaca mulai menjadi guram, lalu perlahan-lahan menjadi gelap. Masih mereka menantikan, hingga tibanya tengah malam.

“Eh, mengapa dia masih belum datang?” tanya Po Kie, mulai habis sabarnya.

“St! Dia datang…!” kata Tin Ok.

Semua orang berdiam, hati mereka berdenyut. Kesunyian telah memerintah di atas jurang itu.

Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya.

Sungguh gesit si Mayat Besi ini. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan. Setibanya di kaki jurang, ia lantas mulai mendaki. Ia seperti tidak menggunai kakinya, Cuma kedua tangannya. Dia seperti naik di tangga saja.

Cu Cong semua yang mengawasi, mejadi kagum. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng, dia tampak wajah orang tegang. Ia percaya, wajahnya sendiri tentu begitu juga.

Segera juga Tiauw Hong tiba di atas. Di bebokongnya ia menggendol satu orang, yang lemas, entah mayat atau orang hidup.

Kwee Ceng terkejut kapan ia sudah lihat pakaian orang itu, yang adalah dari kulit burung tiauw yang putih. Itulah Gochin Baki, putrinya Temuchin, kawan kesayangannya. Tak dapat dicegah lagi, mulutnya bergerak, suaranya terdengar. tapi disaat itu juga, Cu Cong bekap mulutnya, seraya guru yang kedua ini berkata terus: “Kalau Bwee Tiauw Hong, si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku, – aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!”

Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suaranya Kwee Ceng itu, ia heran, sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga, ia menjadi terlebih kaget. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga.

Ma Giok semua telah dapat lihat tingkah laku si Mayat Besi ini, di dalam hati mereka tertawa. Cuma Kwee Ceng yang hatinya goncang, karena ia pikirkan keselamatannya Gochin.

“Bwee Tiauw Hong atur tulang-tulangnya di sini, sebentar dia bakal datang,” berkata Han Po Kie. “Kita baik tunggui saja padanya.”

Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ.

“Dia memang banyak kejahatannya,” ia dengar suaranya Han Siauw Eng, “Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih, baiklah ia diberi jalan baru….”

Cu Cong tertawa. “Ceng Ceng San-jin sangat murah hati, pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!” katanya. Siauw Eng bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin.

Kauwcu Ong Tiong Yang ada punya tujuh murid yang mendapat nama baik, tentang mereka itu, tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. Murid kepala, si toa-suheng, ialah Tan-yang-cu Ma Giok. Yang kedua adalah Tiang-cin-cu Tam Cie Toan, yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee, yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie, istrinya Ma Giok pada sebelum Ma Giok sucikan diri.

“Tam Suko, bagaimana pikiranmu?” tanya Siauw Eng. Ia tanya Hie Jin, yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan.

“Dia berdosa tak terampunkan!” sahut Hie Jin sebagai Cie Toan.

“Tam Suko,” berkata Cu Cong, “Selama ini telah maju pesat sekali kau punya ilmu Cie-pit-kang, kalau sebentar si siluman perempuan datang, silahkan kau yang turun tangan, supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. Kau akur?”

Hie in sengaja menyahut: “Lebih baik minta Ong Sutee yang gunai kaki besinya untuk dupak dia, untuk antarkan dia pergi ke sorga di Barat…”

Dalam Coan Cin Cit Cu, Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor, yang kedua adalah Ong Cie It, yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi, karena lihaynya tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menakluki beberapa puluh orang gagah di Utara. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua, untuk menyakinkan kekuatan kakinya itu. Cie Kee sendiri puji padanya.

Demikian mereka ini berbicara, seperti sandiwara. Cuma Tin Ok yang bungkam, karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. Pembicaraan itu membikin gentar hatinya si Mayat Besi, hingga ia berpikir: “Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua, kepandaian mereka juga maju pesat, kalau aku terlihat mereka, mana bisa aku hidup lebih lama?”

Cu Cong berkata pula: “Malam ini gelap sekali sampai lima jeriji tangan sukar terlihat, kalau sebentar kita turun tangan, baik semua berlaku hati-hati. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu dapat meloloskan diri!”

Girang Tiauw Hong mendengar itu. “Syukur langit gelap,” katanya dalam hati. “Kalau tidak, dengan mata mereka yang lihay, mereka tentulah telah dapat lihat aku. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi yang sang rembulan tidak muncul!”

Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin, perlahan-lahan si nona membuka matanya. Ia menjadi lega hatinya. itu tandanya si nona tidak dalam bahaya jiwa. ia lantas menggoyangi tangan, untuk mencegah si nona itu berbicara. Si nona tapinya tidak mengerti. “Engko Ceng lekas tolongi aku!” ia berteriak.

Kwee Ceng menjadi sangat bingung. “Jangan bicara!” katanya. Tapi dia toh bicara dengan suara keras!

Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. Ia lalu menjadi heran dan curiga.

“Cie Peng, apakah kau yang barusan berbicara?” tanya Coan Kim kepada muridnya, yang disamarkan sebagai In Cie Peng.

Kwee Ceng tahu peranannya. “Barusan teecu seperti dengar suara wanita,” ia menyahut.

Tiba-tiba Tiauw Hong ingat apa-apa. “Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah ada begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena aku buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?” ia mulai geraki tubuhnya.

Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu, mengertilah ia bahwa orang mungkin mulai curiga. Ia menjadi berkhawatir. Kalau terjadi pertempuran, pihaknya tak usah takut, Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang bercelaka.

Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong, ia lihat bahaya mengancam, segera ia berkata dengan nyaring: “Toa suko, bagaimana dengan penyakinan pelajaran yang suhu ajarakan beberapa tahun ini, yaitu Kim-kwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah peroleh kemajuan. Coba kau pertunjuki untuk kami lihat.”

Ma Giok tahu Cu Cong ingin dia perlihatkan kepandaiannya guna menakluki Bwe Tiauw Hong, ia lantas menjawab: “Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua, lantaran aku bebal, tak dapat aku lawan kau, saudara-saudaraku. Apa yang aku dapati dari guru kita, dalam sepuluh tahun tidak ada dua….

Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia telah gunai tenaga dalamnya, maka itu suaranya nyaring luar biasa, terdengar tedas sampai jauh, berkumandang di dalam lembah.

Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya.

Ma Giok llihat kelakuan orang, ia berkata pula: “Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya, kalau benar, ia harus dikasihani juga, umpama kata ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah dosa serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay, baiklah kita beri ampun kepadanya. Khu Sutee, kau bersahabat serat dengan Kanglam Liok Koay, pergi kau menemui mereka itu, untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. Aku pikir, kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka.”

“Itulah perkara gampang,” sahut Cu Cong. “Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri, asal dia suka mengubah perbuatannya….”

Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: “Terima kasih untuk kebaikannya Coan Cin Cit Cu! Aku, Bwee Tiauw Hong ada di sini!”

Semua orang terperanjat sangking herannya. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam, tidak tahunya dia benar bernyali besar, dia malah menghampiri mereka.

Tiauw Hong berkata pula: “Aku adalah seorang wanita, tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang beramai, tetapi telah lama aku dengar ilmu silatnya Ceng Ceng San-jin, ingin aku memohon pengajaran daripadanya…” Habis berkata, ia berdiri, siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu.

Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah, tubuhnya diam saja, ia berkhawatir. Memang persahabatannya erat sekali dengan itu putri serta Tuli. Maka sekarang, tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong, ia lompat kepada kawannya itu, untuk mengasih bangun padanya. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. Tentu sekali, tidak dapat ia berdiam saja. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng, dilain pihak ia geraki tangan kirinya itu, untuk berkelit. Ia dapat lolos. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay, ia menyambar pula, kali ini ia memegang nadi orang, maka anak muda itu menjadi mati daya. “Siapa kau?” tanya si buta.

Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu, atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: “Teecu adalah In Cie Peng, murid dari Tiang Cun Cin-jin.”

Tiauw Hong segera berpikir: “Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali, ia dapat meloloskan diri dari tanganku. Baiklah aku menyingkir dari mereka…” Dengan perdengarkan suara, “Hm!” ia lepaskan cekalannya.

Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri, apabila ia lihat tangannya, di situ ada petahan lima jari tangan, dagingnya melesak ke dalam. Coba si Mayat Besi tidak jeri, mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi….

Oleh karena ini, Tiauw Hong pun tidak berani mengulangi tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. Tapi ia ingat suatu apa, maka ia tanya Ma Giok: “Ma totiang, timah dan air perak disimpan denagn hati-hati, apakah artinya itu?”

Ma Giok menyahuti: “Timah itu sifatnya berat, diumpamakan dengan rasa hati. Itu artinya, rasa hati harus dikendali, dengan berdiam, peryakinan berhasil.”

Tiauw Hong tanya pula: “Nona muda dan anak muda, apakah artinya itu?”

Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. Itu bukanlah pertanyaan biasa. Kata-kata itu ialah istilah dalam kalangan agama To Kauw. Maka ia lantas membentak: “Silumanm, kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!”

Tiauw Hong tertawa lebar. “Terima kasih atas petunjukmu, totiang!” katanya. Terus ia berlompat, cambuknya digeraki melilit batu, apabila ia menarik dan tubuhnya mencelat, ia lompat ke arah jurang, gerakannya sangat enteng dan pesat, hingga orang semua kagum.

Di lain pihak, orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. Ma Giok segera totok sadar kepada Gochin yang diletaki di atas batu untuk beristirahat.

“Sepuluh tahun ia tak tertampak, tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay,” berkata Cu Cong. “Coba tidak totiang membantu kami, sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka.”

“Jangan mengucap begitu,” berkata Ma Giok, yang keningnya berkerut, suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa.

“Totiang, apabila kau memerlukan sesuatu, walupun kami tidak punya guna, kami bersedia untuk menerima titah-titahmu,” Cu Cong tawarkan diri. Ia lihat imam itu berduka. “Harap totiang jangan segan-segan menitah kami.”

“Oleh karena kurang pikir, sejenak barusan pinto telah kena tertipu wanita yang sangat licin itu,” berkata imam itu setelah menghela napas panjang.

Cu Cong semua terkejut. “Adakah totiang dilukai senjata rahasia?” mereka tanya.

“Itulah bukan,” sahut imam itu. “Hanya tadi ketika ia menanya padaku, tanpa berpikir lagi, pinto telah jawab dia. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…”

Cu Cong semua mengawasi, mereka tidak mengerti.

“Ilmunya si Mayat Besi ini, yaitu yang disebut Gwa-mui atau ilmu luar, telah berada di atasan pinto dan saudara-saudara,” sahut si imam kemudian, “Umpama kata Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini, masih belum tentu kita dapat menangkan dia. Hanya dalam Iweekang, atau ilmu dalam, dia belum menemui jalannya yang benar. Setahu darimana, dia rupanya telah dapat cari jalan itu, hanya karena tidak ada orang yang tunjuki, dia belum berhasil menyakinkannya. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. Benar pinto telah baharu menjawab sekali, akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…”

“Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan,” kata Siauw Eng separuh menghibur.

“Harap saja begitu. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat, dia jadi terlebih sukar untuk ditakluki. Ah, dasar aku yang semberono, aku tidak bercuriga….!”

Selagi Ma Giok mengatakan demikian, Gochin perdengarkan suara, lalu ia sadar. Terus ia angkat tubuhnya, untuk berduduk di atas batu. Ia rupanya sadar seluruhnya, karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: “Engko Ceng, ayahku tidak percaya keteranganku, ayah sudah ajak orang pergi kepada Wang Khan…”

Kwee Ceng kaget. “Kenapa Khan tidak percaya kepada kau?” ia tanya.

“Tempo aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka, ayah tertawa terbahak-bahak. Ayah bilang, lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga, aku jadi hendak memperdayainya. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri, ayah malah jadi semakin tidak percaya. Ayah bilang, sepulangnya nanti, ia hendak hukum padamu. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. Karena itu aku segera berangkat untuk cari kau, tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. Adakah dia yang membawa aku menemui kamu?”

Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam padanya tadinya, maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: “Coba tidak ada kita disini, tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tanga…”

“Sudah berapa lama Khan pergi?” tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas.

“Sudah sekian lama,” sahut Gochin. “Mereka menunggang kuda pilihan. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sudah sampai di tempatnya Wang Khan. Engko Ceng, Sangum dan Jamukha bakal celakai ayahku itu, bagaimana sekarang?” Lantas saja ia menangis.

Kwee Ceng menjadi bingung. Inilah yang pertama kali ia menghadapi soal sulit itu.

“Anak Ceng lekas kau pergi!” berkata Cu Cong. “Kau pakai kuda merahmu itu untuk susul Khan yang agung! Umpama kata ia tidak mempercayaimu, dia harus mengirim orang untuk mencari keterangan terlebih dahulu. Dan kau, tuan putri, lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli, untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!”

Kwee Ceng menginsyafi keadaan, tanpa ayal lagi, ia mendahului turun dari atas jurang, sedang Ma Giok denagn mengikat tubuh Gochin, telah turunkan tuan putri itu.

Setibanya di lembah. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya, untuk menaikinya, guna dikasih lari sekeras-kerasnya. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. Di lain pihak ia menjadi girang sekali, ia puas benar dengan kudanya yang larinya sangat pesat, apapula di tanah rata. Pernah ia mencoba menahan, untuk berjalan perlahan-lahan, ia khawatir hewan itu terlalu letih, tetapi si kuda tidak mau berhenti, terus ia lari, nampaknya ia tidak takut capek.

Selang dua jam, baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar, habis mana, ia kabur pula. Sesudah lari lagi satu jam, tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. Dari benderanya ketahuan, itulah pasukan Wang Khan, yang siap sedia denagn panah dan golok terhunus.

Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. Terang Temuchin telah lewat di situ, dan itu berarti, jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. Karena ini, ia keprak kudanya untuk dikasih lari lewat di sini tentara itu. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru, untuk mencegah, ia sudah lewat jauh!

Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat, malah tiga jagaan telah ia lewatkan terus. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. Setelah ia mendatangi lebih dekat, ia tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus, ia keprak kudanya, untuk tiba di samping khan itu.

“Kha Khan, lekas kembali!” ia berteriak. “Jangan pergi lebih jauh!”

Temuchin heran, ia tahan kudanya, “Ada apa?” ia menanya.

“Ada bahaya,” sahut Kwee Ceng, yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka.

Dengan roman bersangsi, Temuchin awasi bocah tanggung ini. Ia pun berpikir: “Memang Sangum tidak akur dengan aku, tetapi ayah angkatku, Wang Khan, tengah mengandali tenagaku. Saudaraku Jamukha ada sangat baik denganku, kita sehidup semati, apa mungkin nia hendak mencelaki aku?”

Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi, ia kata pula: “Kha Khan, cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!”

Biar bagaimana, Temuchin adalah seorang yang teliti. Ia pun berpendirian, “Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!” Maka ia terus berpaling pada Ogotai, putranya yang kedua itu dan Chilaun, panglimanya, untuk mengatakan: “Lekas kamu pergi menyelediki!”

Dua orang itu sudah lantas lari balik.

Temuchin memandang ke sekelilingnya. “Naik ke bukit itu!” Ia kasih perintah. “Siap sedia!”

Dalam keadaan seperti itu, khan ini tidak jeri. Ia pun ada bersama orang-orangnya ynag gagah, malah mereka ini tahu tugasnya, begitu naik ke atas bukit, mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu, buat berjaga-jaga diiri dari serangan anak panah.

Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik, disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. Dipaling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi.

Jebe ada sangat awas, ia tampak tentara itu tengah mengejar. “Benar-benar pasukannya Wang Khan!” ia berseru.

Segera terlihat pula, pasukan pengejar itu memecah diri dalam diri dalam jumlah ratusan jiwa, mereka ambil sikap mengurung, guna memegat Ogotai dan Chilaun, siapa sudah lari terus, tubuhnya mendekam di punggung kuda, cambuknya dipecut berulang-ulang.

“Anak Ceng, mari kita sambut mereka!” Jebe berteriak. Dan ia keprak kudanya, diturut oleh muridnya.

Hebat lari kudanya kwee Ceng, mendahulukan gurunya, ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun, terus ia gunai panahnya, kapan tiga anak panahnya melesat, tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. Cepat luar biasa, ia menyusuli dengan anak panahnya yang keempat.

Jebe lebih lihay daripada muridnya ini, ia turut memanah, dengan berulang-ulang, maka denagn berulang-ulang sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. Akan tetapi musuh berjumlah besar, mereka maju bagaikan gelombang!

Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik, mereka sekarang turut menyerang denagn panah mereka, sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. Di sini khan itu bersama Borchu, Juji dan lainnya, sudah lantas memanah juga. Panah mereka tidak pernah gagal, denagn begitu pihak pengejar dapat tertahan majunya.

Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi, akan memandang jauh ke empat penjuru. Ia telah menyaksikan tentaranya Wang Khan tengah mendatangi di empat jurusan itu. Kemudian pada sebuah pasukan ia tampak seorang yang menunggang seekor kuda yang besar, yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. Orang itu ialah Sangum, putranya Wang Khan. Ia lantas saja berpikir. Ia anggap ia mesti menang tempo, dengan memperlambat segala apa. Sendirian saja, sukar buat ia menoblos kurungan, Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya, karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu.

“Adik Sangum, aku minta sukalah kau datang ke mari untuk bicara!” ia lanats teriaki itu saudara angkat.

Dengan diiringi pasukan pengawalnya, Sangum mendekati bukit. Beberapa puluh tentara lain pun melindungi dia dengan mereka, siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. Ia berlaku jumawa. Ketika ia buka mulutnya, ia pun nyata sekali kepuasannya. “Temuchin, lekas menyerah!” demikian ia berteriak.

Temuchin tidak menyahuti, ia hanya menanya: “Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan, maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?”

Sangum pun menjawab dengan pertanyaannya: “Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya, ternaknya kambing dan kerbau adalah kepunyaan beramai satu suku, tetapi kau kenapa, kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?”

“Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim, negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau, kambing dan kuda, adakah itu selayaknya?” Temuchin balik tanya. “Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang, kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?”

Kata-kata ini tajam, kapan orang-orangnya Sangum mendengarnya, hati mereka goncang. Mereka setujui perkataan itu.

Temuchin lanjtui perkataannya: “Bangsa Mongolia bangsa orang-orang peperangan yang pandai, kenapakah kita tidak hendak pergi mengambil emas dan perak dan permatanya bangsa Kim itu? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia ada diantaranya yang rajin memelihara kerbau dan kambing, ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas itu? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?”

Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku, ternaknya adalah kepunyaan suku bersama, kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi, perlahan-lahan sifat itu berubah, ialah kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara memiliki sendiri-sendiri. Temuchin sengaja singgung sifat itu, ia membuatnya tentaranya Sangum menyetujuinya, diam-diam mereka itu pada mengangguk.

Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. “Jikalau kau tidak mau menyerah!” ia membentak, “Asal aku menuding dengan cambukku ini, berlaksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi, jangan kau memikir untuk hidup lebih lama pula!”

Kwee Ceng menjadi cemas sekali. Keadaan ada sangat mendesak dan sulit. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir, ia lihat satu penunggang kuda di kaki bukit itu. Penunggang kuda itu dandan sebagai satu panglima perang, di sebelahnya baju lapis, ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. Di tangannya panglima itu ada sebatang golok besar. Dengan aksi ia larikan kudanya mondar-mandir. Kwee Ceng kenali panglima yang masih muda itu, Tusaga adanya, putra Sangum, dengan siapa ia pernah berkelahi waktu kecil. Ia lantas ingat suatu apa, maka ia jepit kudanya, ia kasih lari turun gunung, untuk menghampiri pemuda itu.

Celaka untuk Tusaga, begitu kena di cekal, ia mati kutu, tidak dapat ia berontak, maka tempo Kwee Ceng menarik, tubuhnya kena diangkat dari kudanya.

Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu, ia dengar suara anginnya senjata mengaung di arah belakangnya. ia berpaling lekas, sambil berpaling, tangan kirinya menangkis. Tepat tangkisan itu, sepasang tombak kena dibikin terpental ke udara. Segera ia bentur perut kudanya denagn dengkulnya yang kanan. Kuda itu pun lantas mengerti, ia lantas lari ke arah bukit untuk mendaki. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi.

“Lepas panah!” orang-orangnya Sangum berteriak.

Kwee Ceng tidak takut, ia pegang tubuhnya Tusaga, untuk dipakai menjadi tameng. Menampak itu, tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah, mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu.

Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah, ke dekatnya khan yang agung itu.

Bukan main girangnya Temuchin. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya sembari berbuat begitu, ia teriaki Sangum: “Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: