Kumpulan Cerita Silat

10/07/2008

Memanah Burung Rajawali – 10

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:24 am

Memanah Burung Rajawali – 10
Bab 10. Malam yang Hebat
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie, dari itu, ia terpaksa menggunai akal ini.

Itu waktu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Ia tanmpak sekarang, di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu, ada satu bayangan lain, yang kecil dan kate. Karena tubuhnya kecil, bayangan ini tadi tidak kelihatan. Ia lantas lari turun ke arah orang orang bertubuh kecil dan kate itu, sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. Ia berkhawatir berbareng girang. Ia khawatirkan keselamatannya bocah itu, ia girang yang orang telah menepati janji. Dan ia kemudia berlari, untuk memapaki, guna menyambut bocah itu.

Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain, Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa.

“Inilah hebat…” pikir Siauw Eng. “Aku bukan tandingannya Tong Sie….tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?” Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya, terpaksa ia berteriak: “Bocah, lekas lari, lekas lari!”

Kwee Ceng dengar suara itu, ia lihat si nona, ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. ia tidak tahu, di belakangnya dia tangan maut lagi menghampiri.

Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun, sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu, sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya, ia kaget dan berkhawatir, dengan melupakan bahaya, ia lari turun, niatnya mendahului nona itu, untuk memberi tahu supaya, habis menolongi orang, si nona terus menyingkir.

Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit, mereka bersedia dengan senjata rahasia masing-masing, untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng.

Segera juga Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng, tanpa bilang suatu apa, ia sambar bocah itu, terus ia memutar tubuh, guna lari balik, mendaki bukit. Tiba-tiba ia rasai tangannya enteng, berbareng dengan itu, Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong, demikian bayangan yang mengejar itu.

Dengan kegesitannya, Siauw Eng lompat ke samping, dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu, tetapi ia gagal, maka ia susuli dengan tikaman ke arah mata. Dengan beruntun ia mainkan jurus “Hong Hong tiam tauw” – Burung Hong menggoyang kepala, dan “Wat Lie Kiam-hoat”- ilmu pedangnya gadis Wat.

Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng di dengan lengan kirinya, ia kasih lewat ujung pedang, lalu dengan sikut kanannya, ia menyampok, setelah pedang itu berpindah arah, ia meneruskan menyambar si nona dengan jurusnya “Sun swi twi couw” – Menolak Perahu Mengikuti Air. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya, untuk diteruskan dipakai membabat, tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya, hingga seketika ia roboh ke tanah.

Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu, ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-ubunnya nona Han. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay yang untuk meremukkan batok kepala orang.

Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi, ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi, ia lompat kepada si nona itu, untuk mengahalangi serangan, tetapi justru karena ini, bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret, hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dadanya lawan! Hanya, kapan Hian Hong mengempos semangatnya, pedang itu meleset di dadanya itu. Berbareng dengan itu, si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya.

Cu Cong bersama Coan Kim Hoat, Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu.

“Hai, perempuan bangsat, bagaimana kau?!” terdengar teriakannya Hian Hong.

Tiauw Hong tengah memegangi pohon besar, ia menyahut dengan keras: “Lelaki bangsat,sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! ikalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu, sebentar akan aku adu jiwa denganmu!”

“Bangsat perempuan, legakan hatimu!” sahut Tan Hian Hong. “Satu juga tidak bakal lolos!” sambil mengucap begitu, ia serang Han Siauw Eng dengan dua-dua tangannya.

Dengan gerakannya “Lay louw ta Kun” atau “Keledai malas bergulingan”, Siauw Eng buang diri dengan bergulingan, dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak, hingga ia bebas dari bahaya.

“Kau masih memikir untuk menyingkir?” tanya Hian Hong.

Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah, menampak nona Han dalam bahaya, ia menahan sakit, ia kerahkan semua tenaganya, ia menerjang kepada musuh itu.

Hian Hong lihay sekali, batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng, ia papaki kakinya Thio A Seng itu, lima jarinya masuk ke dalam daging betis, maka itu, tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi, setelah satu jeritan keras, ia jatuh pingsan.

Justru itu, Siauw Eng lepas dari marabahaya, sambil lompat bangun, ia menyerang musuhnya. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh, ia tak mau berkelahi secara rapat, saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak, ia jauhkan diri, ia berputaran.

Di waktu itu, Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba, malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahulukan menyerang denagn senjata rahasia mereka.

Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay, ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. Akhirnya ia berteriak: “Eh, perempuan bangsat, makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!”

Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: “Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!”

“Oh!” berseru Hian Hong. Lantas ia mendamprat: “Bagus betul, bangsat anjing, kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!”

Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya, ia lalu menanya: “Eh, perempuan bangsat, bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!”

Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: “Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!”

Hian Hong tahu luka istrinya itu berat, kalau tidak, tidak nanti ia pegang pohon saja dan tiak datang membantu. Istri itu sengaja pentang mulut besar. Ia berkhawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. Cu Cong berlima telah kurung padanya, sedang yang satunya lagi, yaitu Kwa Tin Ok, berdiri diam sambil menanti ketikanya. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng, yang ia lempar ke tanah, meneruskan gerakan tangan kirinya itu, ia serang Coan Kim Hoat.

Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. Bocah itu dalam bahaya. Karena itu, sambil berkelit, ai terus lompat kepada Kwee Ceng, tubuh siapa ia sambar, dengan lompat berjumpalit, ia menyingkir setombak lebih. Gerakannya itu ialah yang dinamakan “Leng miauw pok cie” atau “Kucing gesit menerkam tikus”, untuk menolongi diri berbareng menolongi orang.

Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. tapi ia telengas, makin lihay musuh, makin keras niatnya untuk membinasakan mereka, apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru, Kiu Im Pek-kut Jiauw, sudah selesai delapan atau sembilan bagian. Tiba-tiba ia berpekik, kedua tangannya bekerja, meninju dan menyambar.

Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya, karenanya mereka berkelahi dengan waspada, tak sudi mereka merapatkan diri. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar.

Setelah berselang begitu lama, Han Po Kie tunujk keberaniannya. Ia menyerang dengan Teetong Pian-hoat, yaitu ilmu bergulingan di tanah, guna menggempur kaki lawan.

Dengan caranya ini, ia membikin perhatiannya tan Hian Hong menjadi terbagi. Karena ini, satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin, hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. Walaupun merasakan sakit, tapinya ia tidak terluka, dia hanya terteriak menjerit-jerit, berbareng dengan itu, tangannya menyambar penyerangnya itu.

Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya, sambaran itu sudah sampai kepadanya, terpaksa ia melenggakkan tubuhnya.

Lihay tangannya Hian Hong itu. Diwaktu dipakai menyambar, buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan, lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. berbareng dengan itu juga da tercium bau bacin.

Hie Jin kaget sekali. Selagi ia dapat mencium bau itu, tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya, atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-ubunnya! Dalam keadaan sangat berbahya itu, ia gunai Kim-na-hoat, ilmu menangkap tangan, guna membnagkol lengan musuh itu, untuk diputar ke kiri.

Berbareng dengan itu, Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie, si Mayat Perunggu itu, tangan kanannya yang keras seperti besi, diulur, guna mencekik leher musuh itu. Karena tangan kanannya itu terangkat, dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolongi.

Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring, lalu dengan tiba-tiba juga, mega hitam menutup sang putri malam, hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan matanya!

Di dalam gelap gulita itu, orang dengar suara merekek dua kali dan suara “Duk!” satu kali, tanda tenaga diadu. Itulah Tan Hian Hong, yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya, sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong.

Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya, sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu.

Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya, sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas, setelah bebas, ia lompat ke samping, untuk lekas-lekas menjalankan napasnya.

“Semua renggang!” teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu.

“Citmoay, kau bagaimana…”

“Jangan bersuara!” menjawab Siauw Eng, si adik yang ketujuh itu. Dan ia lari ke samping beberapa tindak.

Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik, ia menjadi heran sekali. “Jitee, kau bagaimana?” ia terpaksa bertanya.

“Sekarang ini langit gelap sekali, siapa pun tidak dapat melihat siapa,” Coan Kim Hoat memberitahu.

Mendengar itu, Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. “Thian membantu aku!” ia memuji dalam hatinya.

Diantara tujuh Manusia Aneh, tiga sudah terluka parah, itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar, maka syukur untuknya, sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita, habis mana, sang hujan pun turun menyusul. Semua orang berhenti bertempur karenanya, tidak ada satu pun yang berani mendahului bergerak pula.

Kwa Tin Ok berdiam, dengan lihaynya pendengarannya itu, walaupun ada suara hujan, samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. Ia dengar suara napas di sebelah kiri ia, terpisahnya delapan atau sembilan tindak daripadanya. Ia merasa pasti, itu bukan napas saudara angkatnya, dengan lantas ia ayunkan kedua tangannya, akan terbangkan enam batang tok-leng, diarahkan ke tiga penjuru.

Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. Si Mayat Perunggu lihay sekali. Ia dengar sambaran angin, ia segera menunduk. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya, tetapi ia kebal seperti istrinya, ia tidak terluka, ia melainkan merasa sangat sakit. Karena serangan tok-leng ini, ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang, musuhnya itu. Ia lompat ke arah musuh itu, kedua tangannya dipakai untuk menyambar. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa.

Tin ok dengar suara angin, ia lantas berkelit, sambil berkelit, ia menghajar dengan tongkatnya.

Dengan begitu, di tempat gelap gulita itu, dua orang ini bertempur. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat, mereka dari itu Cuma andalkan kuping mereka, mereka melainkan mendengari suara sambarannya angin.

Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat, yang ketahui kakaknya tengah bertenpur, sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang, untuk menganjurkan kakak itu, guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. Disamping itu dengan meraba-raba, mereka pun menolongi tiga saudara mereka yang tealh terluka.

Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. Untuk Han Po Kie beramai, rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama, disebabkan ketegangan dan kecemasan hati mereka. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat.

Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. Dua kali ia terhajar tongkat, suara terhajarnya terdengar nyata. Mendengar itu, Po Kie semua bergirang. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil.

Selagi orang kegirangan, mendadak kilat menyambar, memperlihatkan sinar terang.

Coan Kim Hoat terkejut, ia berseru: “Toako, awas!”

Hian Hong sangat lihay dan gesit, selagi Kim Hoat bersuara, tubuhnya sudah mencelat maju, untuk mendesak Kwa Tin Ok. Ia tidak hiraukan tongkat lawan, yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. Tongkat itu ia papaki denagn pundaknya yang kiri, tangannya sendiri diputar ke atas, guna menangkap tongkat musuh itu. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini, tangan kanannya menjambak ke depan. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya.

Tin Ok kaget tidak kepalang, ia melompat mundur. Gerakannya itu terhalang, karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. Karena ini, Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun, dengan mengepal lima jari tangannya, ia lanjuti serangannya, lengannya itu terulur panjang.

Telak serangan itu, tubuh Tin Ok terhuyung. tapi ia belum bebas bahaya. Tongkatnya yang terampas Hian Hong, oleh Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan!

Bukan main girangnya si Mayat Perunggu, ia tertawa sambil berlenggak, ia berpekik secara aneh.

Justru itu, kilat berkelebat pula, maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu, yang digunai Hian Hong, tengah menyambar ke kakaknya itu, yang tubuhnya terhuyung. Syukur dalam kagetnya itu, ia masih ingat untuk segera menyerang denagn cambuknya, guna mencegah dan melibat tongkat itu.

“Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu, manusia cebol terokmok!” berseru Hian Hong, yang lihat aksinya si orang she Han, yang menolongi kakanya itu. Ia lantas berlompat, guna hampirkan si cebol. Tapi kakiknya terserimpat, seperti ada tangan yang menyambar merangkul. Orang itu bertubuh kecil.

Ia menduga tak keliru, orang itu ialah Kwee Ceng! Segera ia menunduk, untuk sambar bocah itu.

“Lepaskan aku!” menjerit Kwee Ceng.

“Hm!” Hian Hong ksaih dengar suaranya yang seram.

Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali, tubuhnya terus roboh terjengkang. Ia terkena justru bagian tubuhnya yang terpenting, ialah kelemahannya. Ia melatih diri dengan sempurnya, ia menjadi tidak mempan barang tajam, kecuali pusarnya itu. Lebih celaka lagi, ia terkena pisaunya Khu Cie Kee, yang tajamnya bahkan sanggup mengutungi emas dan batu kemala. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya, tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah, ia lupa. Ini dia yang dibilang “Orang yang pandai berenang mati kelelap, di tanah rata kereta rubuh ringsak”. Sebagai jago is terbinasa di tangannya satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat.

Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dapat dengar jeritan suaminya itu, dari atas bukit ia lari untuk menghampirkan. Satu kali ia kena injak tempat kosong, ia terjeblos dan roboh terguling-guling. Tetapi ia bertubuh kuat, berurat tembaga bertulang besi, ia tidak terluka. Segera ia tiba di samping suaminya.

“Lelaki bangsat, kau kenapa?” ia tanya. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa “bangsat”, sebagaimana juga kebiasaan suaminya.

“Celaka, perempuan bangsat….” sahut Hian Hong lemah. “Lekas kau lari…!”

Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan, ia bersembunyi di pinggiran. Ia takut bukan main.

Sang istri kertak giginya. “Akan aku balaskan sakit hatimu!” ia berseru.

“Kitab itu telah aku bakar…” kata Hian Hong, suaranya terputus-putus. “Rahasianya…di dadaku…” Ia tak dapat bernapas terus, tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang.

Tiauw Hong tahu, disaat hendak menghembuskan napas terakhir, suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. Itulah siksaan hebat. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. Maka juga, ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba, ia hajar batok kepala suaminya. Maka sejenak itu, habislah nyawa jago itu.

Istri ini lantas meraba ke dada orang, untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu, ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya.

Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan, mereka adalah murid-muridnya Tocu Oey Yok Su, pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay, Laut Timur.

Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri, kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya, tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. Karena ini, untuk di daratan Tionggoan, sedikit orang yang ketahui kelihayannya, maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam).

Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. Mereka insyaf, kalau rahasia mereka ketahuan, mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. Maka itu pada suatu malam gelap buta, mereka naik sebuah perahu kecil, kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan, dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang.

Tan Hian Hong tahu, ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi, sekalian buron, maka ia tak berbuat kepalang tanggung, ia curi sekalian kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya, untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu.

Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu, ia murka bukan main. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To, terpaksa ia membiarkan saja, hanya saking murkanya, lain-lain muridnya menjadi korbannya. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya, hingga mereka menjadi manusia-manusia bercacad seumur hidupnya, lalu ia usir mereka dari pulaunya.

Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk menyakinkan Kiu Im Cin Keng itu. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. Sebaliknya, mereka telah minta bnayak korban, apapula makin lama mereka jadi makin telangas.

Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. Dua kali mereka mendapat kemenangan, baru ketiga kalinya, mereka kena dilukakan, hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun, tidak ada kabar ceritanya, hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya. Tidak tahunya, mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian “Kiu Im Pek Kut Jiauw” atau “Cengkeraman Tulang Putih” dan “Cui Sim Ciang” atau ” Tangan Peremuk Hati”.

Aneh tabiat Hian Hong, walaupun pada istrinya, ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu, biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya, ia tidak ambil peduli, adalah setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya, baru ia turunkan kepandaian itu kepadanya istrinya. Ketika istrinya desak, Hian Hong menjawab: “Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. Saking tergesa-gesa, aku dapat curi cuma sebagian, sebagian bawah. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. Adalah berbahaya menyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. dari itu, biar aku yakinkan sendiri dulu. Kalau tidak, atau kalau kau termaha, kau bisa celaka. Kau tahu, kepandaian yang kita sudah dapati dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. Maka itu, aku mesti memilih dengan teliti.”

Tiauw Hong percaya pada suaminya, ia tidak memaksa lebih jauh. Adalah sekarangm, disaat dia hendak menutup mata, Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar, hanya singkatannya atau rahasia pokoknya.

Tiauw Hong lantas raba dada suaminya, ia tidak dapatkan apa-apa. Ia heran hingga ia diam menjublak. Tentu saja, ia menjadi penasaran, maka ia hendak memeriksa, untuk mencari terlebih jauh. Sayang untuknya, ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat, membarengi berkelebatnya kilat, hingga mereka bisa melihat musuh, sudah lantas maju menyerang.

Repot juga Tiauw Hong, yang kedua matanya sudah buta. Ia sekarang hanya mengandal pada kejelian kupingnya, kepada gerak-gerik angin. Ia tahu ada orang serang padanya, ai melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat, ilmu Menyambar dan Menangkap. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat.

Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas, bukan saja mereka tidak dapat mendesak, mereka sendiri saban-saban menghadapi ancaman. Di dalam hatinya, Po Kie berkata: “Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta, kita tidak berhasil, runtuhlah nama nama Kanglam Cit Koay…” Maka itu, ia berpikir keras. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu.

Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. Hebat pengepungan ini.

Sekonyong-konyong datang angin besar, membawa mega hitam dan tebal, membuat langit menjadi gelap-gulita pula. Saking hebatnya, pasir dan batu pada beterbangan.

Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur, untuk terus mendekam. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. Syukur, angin tidak mengganas terlalu lama. Hujan pun turut berhenti perlahan-lahan. Malah dilain saat, dengan terbangnya sang mega, si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi.

Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun, tetapi segera ia menjerit heran.

Bwee Tiauw Hong lenyap, lenyap juga mayatnya Tan Hian Hong. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok, Cu Cong, lam Hie Jin dan Thio A Seng, empat saudaranya itu. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi.

Semua orang basah kuyup pakaiannya.

Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie, Coan Kim Hoat lantas tolongi saudara-saudaranya yang terluka itu. Lam Hie Jin patah lengannya, syukur ia tidak terluka dalam. Syukur Tin Ok dan Cu Cong telah lihay ilmu dalamnya, walaupun mereka terhajar Tong Sie, si Mayat Perunggu, luka mereka tidak parah. Adalah Thio A Seng, yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw, lukanya berbahaya, jiwanya terancam. Ia membikin enam saudaranya sangat berduka, karena sangat eratnya pergaulan mereka, lebih-lebih Han Siauw Eng, yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini ada menaruh cinta kepadanya, sedang ia pun ada menaruh hati. Ia lantas peluki A Seng dengan ia menangis tersedu sedan.

Thio A Seng adalah Siauw Mie To, si Buddha Tertawa, walaupun lagi menghadapi bahaya maut, ia masih dapat tersenyum. Ia ulur tangannya, untuk mengusap-usap rambut adik angkatnya itu. “Jangan menangis, jangan menangis, aku baik-baik aja…” ia menghibur.

“Ngoko, akan aku menikah denganmu, untuk menjadi istrimu! Kau setuju, bukan?” kata nona Han itu tanpa malu-malu.

A Seng tertawa, tapi lukanya sangat mendatangkan rasa sakit, terus ia berjengit, hampir ia tak sadarkan diri.

“Ngoko, legakan hatimu,” kata pula si nona. “Aku telah jadi orangnya keluarga Thio, seumurku, aku tidak nanti menikah dengan lain orang….kalau nanti aku mati, aku akan selalu bersama kamu…”

A Seng masih dengar suara tu, ia tersenyum pula, hingga dua kali. “Citmoay, biasanya aku perlakukan kau tidak manis…” katanya. Masih dapat ia mengatakan demikian.

Siauw Eng menangis. “Kau justru perlakukan aku baik, baik sekali, inilah aku ketahui,” katanya.

Tin Ok terharu sekali, begitupun dengan yang lainnya. Merek aitu pada melinangkan air mata.

“Kau datang kemari, kau tentu hendak berguru pada kami?” Cu Cong tanya Kwee Ceng, ynag telah hampirkan mereka.

Bocah itu menyahuti, “Ya!”

“Kalau begitu, selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami,” kata Cu Cong pula.

Kwee Ceng mengangguk.

“Kami tujuh saudara adalah gurumu semua,” kata Cu Cong. “Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit, mari kau hunjuk hormatmu padanya.”

Meski masih kecil, Kwee Ceng sudah mengerti banyak, maka itu, ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng, untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali.

Thio A Seng tersenyum meringis. “Cukup…” katanya. Ia menahan sakit. “Anak yang baik, sayang aku tidak dapat memberi pelajaran kepadmu…. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. Aku sangat bodoh, aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. Coba dulu aku rajin belajar, tidak nanti aku antarkan jiwa disini…..” Tiba-tiba kedua matanya berbalik, ia menarik napas, tapi masih meneruskan kata-katanya: “Bakatmu tidak bagus, perlu kau belajar rajin dan ulet, jikalau kau alpa dan malas, kau lihat contohnya gurumu ini….”

Masih A Seng hendak berkata pula, tenaganya sudah habis, maka Siauw Eng pasang kupingnya, di mulutnya kakak angkatnya itu. Si nona masih dengar: “Ajarilah ini anak dengan baik-baik, jaga supaya ia jangan kalah dengan itu…imam…”

“Jangan khawatir,” Siauw Eng menjawab. “Legakan hatimu, kau pergilah dengan tenang…Kita Kanglam Cit Koay, tidak nanti kita kalah…!”

A Seng tertawa, perlahan sekali, habis itu berhentilah ia bernapas…..

Enam saudara itu memangis menggerung-gerung, kesedihan mereka bukan main. Walaupun semuanya bertabiat aneh, mereka tetap manusia biasa, mereka juga saling menyinta. Dengan masih menangis, mereka menggali liang, untuk mengubur jenazah saudaranya itu ditempat itu. Sebagai nisan, mereka mendirikan satu batu besar.

Itu waktu, cuaca sudah menjadi terang, maka Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si MayatPerunggu serta Bwee Tiauw Hong, si Mayat Besi. Mereka mencari denagn sia-sia. Habis hujan lebat, di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu.

“Di tempat begini, tidak nanti wanita itu kabur jauh,” kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. “Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri, kemudian kau, shatee, lioktee dan citmoay, coba kau pergi mencari pula.”

Pikiran ini disetujui, maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng, mereka pun turun dari gunung. Mereka jalan belum jauh tempo mereka dengar menderunya binatang liar, yang terus terdengar berulang-ulang.

Po Kie keprak kudanya, maka itu kuda berlompat ke depan. Lari serintasan, binatang itu berhenti dengan tiba-tiba, tak mau ia maju walaupun dipaksa majikannya. Po Kie menjadi heran, ia memasang mata ke depan.

Di sana tertampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. Tidak ayal lagi, Po Kie lompat turun dari kudanya, dengan cekal Kim-kiong-pian, ia maju ke arah mereka. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul.

Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat, malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong, yang terluka dari leher sampai di perutnya, seluruhnya berlumuran darah, seperti ada dagingnya yang orang telah potong.

Heran Po Kie. Ia berpikir: “Dia mati di atas gunung, kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?”

Itu waktu Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul, maka mereka pun saksikan myatnya Hian Hong itu. Mereka menjadi heran sekali. Diam-diam mereka bergedik menyaksikan itu musuh tangguh. Coba tidak ada Kwee Ceng, setahu bagaimana jadinya dengan mereka.

Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong.

“Tarik macan itu!” kata satu anak kecil yang menunggang kuda, yang berada di antara rombongan orang tadi. Ia menitahkan orangnya, yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. Tempo ia lihat Kwee Ceng, dia membentak: “Hai, kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantui Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!”

Bocah itu ialah Tusaga, putranya Sangum.

“Eh, kamu mengepung pula Tuli?” tanya Kwee Ceng, yang agaknya kaget. “Di mana dia?”

Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. “Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya geharesi dia!” sahutnya. “Kau lekas menyerah! Kalau tidak, kau pun bakal digegaren macanku!” ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya, jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. Kalau tidak, tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya.

Kwee ceng terkejut, “Mana Tuli?!” ia tanya.

“Macan tutulku telah gegares Tuli!” sahut Tusaga berteriak. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu untuk berlalu.

“Tuan muda, dialah putranya Khan besar Temuchin!” berkata itu tukang rawat macan tutul, maksudnya memberitahu.

Tusaga ayun cambuknya, menhajar kepalanya orang itu. “Takut apa!” teriaknya. “Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!”

Dengan terpaksa, tukang rawat macan tutul itu turut perintah. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan, ia berkata, “Akan aku laporkan kepada Khan besar!”

Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. Dengan mendongkol ia berkata: “Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat, apa nanti paman Temuchin bisa bikin!”

Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatannya Tuli. “Suhu, dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku, hendak aku menyuruh kakak angkatku lari,” ia kata kepada Siauw Eng.

“Jikalau kau pergi, kau sendiri bakalan digegares macan itu,” kata itu guru. “Tak takutkah kau?”

“Aku takut…” sahut murid ini.

“Jadi kau batal pergi?” tanya gurunya lagi.

Kwee Ceng bersangsi sebentar, ia menyahuti: “Aku mau pergi!” Benar-benar ia lantas lari.

Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya, ia kagumi bocah itu. Ia berkata kepada saudara-saudaranya: “Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!”

“Matamutajam, jieko,” kata Siauw Eng. “Mari kita bantu dia!”

Coan Kim Hoat lantas memesan: “Bocah galak itu memelihara macan tutul, ia mungkin putranya satu pangeran atau raja muda, kita harus berhati-hati. Kita tak boleh terbitkan onar, ingat, tiga dari kita terluka…”

Po Kie manggut, ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng, setelah menyandak, ia ulur tangannya, akan cekuk bocah itu, untuk terus dipanggul!

Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang, ia seperti lagi menunggang kuda, yang larinya sangat pesat, sebentar kemudian tibalah di satu tempat, dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. Dia orang ini turut perintahnya Tusaga, dari ini putranya Temuchin Cuma dikurung, tidak lantas dikeroyok.

Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong, ia pun sangat berani, ketika besoknya pagi ia tidak dapat cari Kwee Ceng, tanpa minta bantuan Ogotai, kakaknya, seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur.

Tusaga datang dalam jumlah belasan, heran dia melihat Tuli sendirian. Tapi ia tidak peduli suatu apa, pertempuran sudah lantas dimulai. Hebat Tuli itu, ia gunai jurus ajarannya Cu Cong, ia bikin musuh-musuhnya rubuh satu demi satu. Ia tentu tidak tahu, jurusnya itu adalah jurus pojok dari “Khong Khong Kun”, ilmu silat tangan kosong.

Tusaga penasaran, sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga, saking murkanya, ia lantas lari pulang untuk menagmbil macan tutul ayahnya. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar.

“Tuli! Tuli! Lekas lari, lekas!” Kwee Ceng berteriak-teriak sebelum ia datang mendekat. “Tusaga bawa-bawa macan tutul!”

Tuli kaget, hendak ia lari, tapi ia lagi dikurung. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melombainya.

Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu, tetapi mereka tidak mau menerbitkan onar, sekalian mereka ingin saksikan sepak terjangnya Tuli dan Kwee Ceng.

Itu waktu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka, salah satu penunggangnya berteriak-teriak. “Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!”

Segera terlihat ternyata mereka itu adalah Mukhali berempat, yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul, tanpa perkenanan dari Temuchin lagi, mereka lantas datang menyusul.

Itu wkatu Temuchin bersama Wang Khan, Jamukha, dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka, mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan, semua lantas lari keluar tenda untuk naiki kuda mereka. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: “Lekas sampaikan titahku, cegah cucuku main gila!”

Pengiring itu segera kabur dengan kudanya.

Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang, ia masgul, sekarang ia dengar berita ini, kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba, “Mari kita lihat!” katanya.

Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. Ia pikir: “Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin, kedua mereka bakal jadi bentrok, dan inilah untungnya negaraku, negara Kim yang besar!” Ia terus kisiki pengiringnya, yang pun lantas berlalu dengan cepat.

Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. Mereka jalan baharu satu lie lebih, di depan mereka tertampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. Sebabnya adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas, sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya.

Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. Mereka ini bilang: “Kami tengah berdiam disini, orang ini tidak ada matanya, dia terjang kami!”

Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. Ia pun tidak karu-karuan dipegat dan dikeroyok. Ia kata dengan sengit: “Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!”

Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. “Berangkat!” mereka menitah.

Jamukha lihat itu semua, ia menduga peristiwa itu terjadi karena bisanya dua Wanyen ini, karena ia jadi waspada.

Tidak lama tibalah mereka di depan rombongannya Tusaga beramai. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya, keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. Di depan mereka berdiri dua bocah ialah Tuli dan Kwee Ceng.

Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka, diarahkan kepada dua binatang liar itu. Temuchin ketahui baik, binatang adalah binatang kesayangan Sangum, yang ditangkap sedari masih kecil dan dipelihara dan dididik dengan banyak sukar hingga jadi b esar dan dapat mengerti, dari itu asal putranya tidakterancam tidak mau ia memanah macan itu.

Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama, ia jadi semakin temberang, berulang-ulang ia anjuri macannya lekas menyerang.

Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu, disaat ia hendak mencegah, lalu terdengar suara kuda berlari-lari mendatangi di arah belakang mereka. Sebentar saja kuda itu, seekor kuda merah, tiba diantara mereka. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan mengempo satu anak perempuan yang elok romannya, adalah istrinya Temuchin atau ibunya Tuli. Ia lantas lomat turun dari kudanya.

Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka, tempo ia dengar perkara putranya, ia khawatirkan keselamatan putranya itu, maka ia lantas menyusul. Anak perempuan yang ia bawa-bawa itu adalah putrinya, Gochin Baki.

“Lepas panah!” Yulun Eke segera memerintah. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. Gochin sebaliknya segera hampirkan kakaknya. Ia baharu berusia empat tahun, romannya cantik dan manis, ia belum tahu bahaya. ia tertawa haha-hihi. Kemudian ia ulurkan tangannya, berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul.

Macan itu lagi bersiap-siap, melihat orang datang dekat, segera ia berlompat menubruk.

Semua orang kaget, sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya, khawatir kena putrinya. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang.

Dalam saat mengancam itu, Kwee Ceng berlompat, ia tubruk Gochin, yang ia peluk, untuk menjatuhkan diri, meski demikian, kuku macan telah mampir dipundaknya.

Di antara empat pahlawan, Boroul yang bertubuh kate dan kecil adalah yang paling gesit, ialah yang maju di muka sekali, tetapi justru ia maju, kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar, menyusul mana kedua macan itu rubuh berbareng, rubuh celentang lalu tidak berkutik lagi. Ia menjadi heran, apapula ia dapatkan, kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya, yang darimana darah mengucur keluar. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar, tampak enam orang Han, pria dan wanita, lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. Ia lantas menduga kepada mereka itu.

Yulun Eke lantas saja peluki putrinya, yang ia ambil dari rangkulannya Kwee ceng. Anak itu menangis karena kagetnya, maka ia dihiburi ibunya, yang pun terus tarik Tuli, untuk dirangkul dengan tangannya yang lain.

Sangum sangat murka. “Siapa yang membunuh macanku?!” ia tanya dengan bengis.

Semua orang berdiam. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka, tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. Boroul sendiri tutup mulut.

“Sudahlah saudara Sangum!” berkata Temuchin sambil tertawa. “Nanti aku gantikan kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang.”

Sangum masih mendongkol, ia membungkam.

Wang Khan gusar, ia mendamprat Tusaga. Cucu ini didamprat di depan orang banyak, ia penasaran, keluarlah alemannya, ia terus menangis sambil bergulingan di tanah, ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis.

Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim.

Panas hatinya Temuchin. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu. Di dalam hatinya, ia kata: “Kamu hendak bikin kita bercedera, kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!” Maka ia hampiri Tusaga, untuk dikasih bangun dengan dipeluk. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil.

Sambil tertawa, Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: “Ayah inilah permainan anak-anak, tak usah ditarik panjang. Aku lihat anak ini berbakat baik, aku berniat menjodohkan dia dengan anakku, bagaimana pikirmu?”

Wang Khan girang, ia lihat, meskipun masih kecil, Gochin sudah cantik, setelah dewasa, mesti dia jadi elok sekali. Ia tertawa dan menyahuti: “Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji, putramu yang sulung, Kau akurkah?”

Dengan girang, Temuchin kata sama Sangum. “Saudara, sekarang kita menjadi besan!”

Sangum itu angkuh, ia sangat bangga untuk keturunannya, terhadap Temuchin ia berdengki dan memandang enteng, tak senang ia berbesan dengannya, tak senang ia berbesan, akan tetapi disitu ada putusannya ayahnya, terpaksa ia menyambut dengan sambil tertawa.

Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. Gagallah tipu dayanya. Selagi ia berpaling, ia lihat rombongannya Kwa Tin Ok, dan Cu Cong rebah di atas unta. Ia terperanjat dan heran sekali. “Eh, kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?” katanya dalam hatinya.

Tin Ok beramai tidak mau menarik perhatian orang, mereka berdiri jauh-jauh. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh, itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan.

Temuchin lantas dapat tahu enam itu ialah yang tolongi putranya, ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas, sedang Kwee Ceng, yang ia usap-usap kepalanya, ia puji untuk keberaniannya.

Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu, ia tutur kepada ayahnya sebabnya ia berkelahi sama Tusaga, ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu).

Temuchin berpikir sebentar, terus ia kata pada Coan Kim Hoat, “Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. Berapa kamu menghendaki gaji kamu?”

Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. Ia lantas menyahuti: “Khan yang besar sudi terima kami, itu pun sudah bagus, mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayarnya.”

Temuchin girang, ia suruh Boroul layani enam orang itu, untuk diberi tempat, habis itu ia larikan kudanya, untuk susul kedua saudara Wanyen, guna mengadakan perjamuan perpisahan untuk mereka itu.

Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan, untuk merundingkan urusan mereka.

“Mayatnya Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya, entah itu perbuatan kawan atau lawan…” kata Han Po Kie.

“Itulah aneh, aku tak dapat menerkanya,” bilan Tin Ok. “Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie.”

“Memang selama ia belum disingkirkan, kita selalu terancam bahaya,” menyatakan Cu Cong.

“Sakit hatinya ngoko memang mesti dibalas!” kata Siauw Eng.

Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu, malah diteruskan hingga beberapa hari, mereka tidak peroleh hasil.

“Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako, mestinya racunnya senjata itu bekerja, maka mungkin ia mampus di dalam selat!” kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka.

Dugaan ini masuk di akal. tapi Tin Ok tetap berkhawatir. ia baharu merasa hatinya tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri ia bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan, ia khawatir saudara-saudaranya bersusah hati.

Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir, akan ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunujk juga. Hanya kalau malam, Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang, senjata rahasia dan entengi tubuh. Sebab diwaktu siang mereka diajari menunggang kuda, main panah dan ilmu tombak.

Kwee Ceng bebal, di sebelah itu ada sifatnya yang baik. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya, untuk itu ilmu silat penting, dari itu, ia belajar dengan rajin sekali. Untuk itu ia dapatlah disebut, pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam.

Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan, kemajuannya sedikit, tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat, ia mengerti dengan cepat, malah ia segera dapatkan maknanya itu.

Sang tempo berjalan dengan pesat, sepuluh tahun sudah lewat. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi satu anak tanggung berumur enam belas tahun. Lagi dua tahun akan tiba saatnya janji pibu itu, adu kepandaian. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya, hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah, dan siang dan malam terus ia belajar silat tangan kosong dan pedang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: