Kumpulan Cerita Silat

09/07/2008

Kisah Membunuh Naga (09)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:49 am

Kisah Membunuh Naga (09)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sebelum Cia Soen keburu menjawab, tiba-tiba Goan Kong Po mengeluarkan jeritan kesakitan dan ia rubuh sambil memegang perutnya. Sesudah bergulingan beberapa kali di tanah, badannya tidak bergerak lagi dan rohnya berpulang kealam baka.

“Cia Sianseng, lekas minum obat!” teriak Coei San dengan bingung.

“Obat apa?” bentaknya. “Ambil arak!”

Seorang pelayan dari Peh bie kauw lantas saja mengambil cawan dan poci arak.

“Mengapa Peh bie kauw begitu kikir?” teriak Cia Soen. “Ambil poci yang paling besar!”

Dengan tergesa-gesa pelayan itu segera mengambil poci yang paling besar dan lalu menaruhnya di hadapan Cia Soen. “Manusia ini rupanya kepingin mampus terlebih cepat,” katanya di dalam hati.

Sambil tertawa Cia Soen lalu mengangkat tempat arak itu dan menuang isinya kedalam mulutnya. Dalam sekejap, arak itu yang beratnya kira-kira tigapuluh kati, sudah dituang kering. Ia mengusut-ngusut perutnya yang melembung besar den tertawa berkakakan.

Mendadak ia mendongak dan membuka mulutnya. Hampir berbareng, di luar dugaan semua orang ia menyemburkan arak yang menyambar dada Pek Kwie Sioe bagaikan sehelai sutera putih. Karena tidak berjaga-jaga, Pek tan coe terhuyung dan kemudian rubuh karena dadanya seperti dipukul martil. Sesudah itu, Cia Soen lalu menyemburkan ke atas arak itu yang kemudian jatuh seperti hujan gerimis, sehingga membasahi muka semua orang.

Sejumlah orang yang Lweekangnya masih cetek,yang tidak tahan dengan bau dan racun arak, lantas saja roboh dalam keadaan pingsan.

Ternyata, dengan menggunakan Lweekang yang sangat tinggi, terlebih dulu Cia Soen mencuci racun garam dalam perutnya dengan arak itu yang kemudian disembur keluar sebagai arak beracun. Sedikit racun yang masih ketinggalan di dalam perut ditindih olehnya dengan menggunakan Lwee kang.

Bek Keng Pangcoe dari Kie keng pang, jadi gusar bukan main dan mendadak ia melompat bangun. Tapi di lain detik, ia ingat, bahwa kepandaiannya masih jauh dari kepandaian orang itu, sehingga perlahan-lahan ia duduk kembali sambil menahan amarah.

“Bek Pangcoe,” kata Cia Soen seraya tertawa dingin. “Bukankah pada Go gwee tahun ini di muara Sungai Bin kiang kau telah membajak sebuah perahu dari Liaow tong ?”

Paras muka Bek keng lantas saja berubah pucat . “Benar,” jawabnya.

“Sebagai bajak, memang juga, kalau tidak membajak, kau tentu tak bisa hidup,” kata pula Cia Soen. “Bahwa kau membajak, sangat dapat dimengerti olehku. Sedikitpun aku tidak menyalahkan kau. Tapi mengapa kau sudah melemparkan beberapa puluh pedagang yang tidak berdosa ke dalam laut dan telah memperkosa tujuh wanita sehingga mereka jadi binasa? Apakah seorang gagah dalam dunia Kang ouw boleh melakukan perbuatan yang terkutuk itu ?”

Bek Keng bergemetar sekujur badannya. “Itu…itu…perbuatan …perbuatan orang-orangku,” jawabnya terputus-putus. “Aku aku sama sekali tidak mengambil bagian.”

Cia Soen mengeluarkan suara dari hidung. “Huh! Enak benar kau menyangkal!” bentaknya. “Andai kata benar kau tidak mengambil bagian, karena kau sama sekali tidak mencegah orang-orangmu melakukan perbuatan yang sangat memalukan Rimba persilatan, maka semua kedosaan harus ditanggung olehmu sendiri. Perbuatan itu seperti juga dilakukan olehmu sendiri. Sekarang aku mau tanya: Siapa siapa pada hari itu telah melakukan perbuatan terkutuk itu ?”

Untuk menyelamatkan jiwanya sendiri, Bek Keng segera menghunus golok. “Coa Sie, Hoa Cong San Ouw Liok! Kamu bertiga mengambil bagian di hari itu!” Hampir berbareng, bagaikan kilat ia membacok tiga kali dan ketiga bajak itu lantas saja rubuh tanpa bernyawa lagi.

“Bagus! Hanya sayang terlalu terlambat,” kata Cia Soen. “Kalau hari itu kau menghukum mereka, hari ini aku tentu tidak turun tangan. Bek Pangcoe, ilmu apa yang paling diandalkan olehmu?”
Melihat ia tidak dapat meloloskan diri lagi, Bek Keng berkata dalam hatinya , “Kalau bertanding didaratan, mungkin aku tidak dapat melawannya dalam tiga jurus. Tapi di air adalah duniaku. Andai kata kalah, aku masih dapat melarikan diri. Tak mungkin ilmu berenangnya lebih lihai daripada aku.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Aku ingin meminta pelajaran Cia Cianpwee dalam ilmu berkelahi di bawah air.”

“Baiklah, mari kita pergi ke tengah laut untuk menjajal kepandaian” jawab Cia Soen sambil meagangguk. Tapi baru berjalan beberapa tindak, ia berhenti seraya berkata, “Tahan! Aku kuatir begitu lekas aku pergi, orang-orang itu lantas saja kabur!”

Mendengar perkataan itu, semua orang terkejut. Apa dia mau membinasakan semua orang ?

Bek Keng sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik dan ia segera berkata dengan tergesa-gesa “Biarpun di dalam air, aku pasti bukan tandingan Cianpwee. Aku mohon pertandingan dibatalkan saja dan aku mengaku kalah.”

“Hm…kalau begitu, aku boleh tak usah banyak berabe,” kata Cia Soen. “Jika kau mengaku kalah, kau harus membunuh diri.”

Bek Keng terkesiap. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata dengan suara tak lampas, “Dalam…dalam pertempuran, kalah menang adalah kejadian biasa. Mengapa mesti membunuh diri?”

“Jangan rewel!” bentak Cia Soen. “Manusia seperti kau ingin bertanding denganku? Kedatanganku hari ini adalah untuk menagih jiwa. Siapa saja yang pernah melakukan perbuatan jahat dan membunuh manusia yang tidak berdosa tak akan bisa terlolos dari tanganku. Hanya karena aku kuatir kamu binasa dengan penasaran, maka aku membolehkan kamu mengeluarkan kepandaian yang paling lihai untuk membela diri. Siapa yang dengan kepandaiannya dapat menangkan aku, aku akan mengampuni jiwamu.”

Sehabis berkata begitu, ia membungkuk dan mengambil dua gempal tanah liat yang lalu dibasahi dengan arak. Sesudah memulung gempalan tanah itu menjadi dua bola bundar, ia segera berkata, “Tinggi rendahnya kepandaian berenang dari seseorang dapat diukur dengan berapa lama ia dapat bertahan dibawah permukaan air. Sekarang begini saja. Dengan menggunakan tanah ini, aku dan kau menutup hidung dan mulut. Siapa yang lebih dulu tak tahan, boleh mengorek tanah ini, tapi ia harus membunuh diri sendiri.”

Tanpa menanya lagi apa Bek Keng setuju atau tidak, ia segera menutup hidung dan mulutnya dengan tanah liat itu dan kemudian, dengan sekali menimpuk, bola tanah yang lain menutup hidung dan mulut Bak Keng.

Melihat pertunjukan itu, semua orang merasa geli, tapi tak satupun berani tertawa. Sebelum jalanan napasnya ditutup, Bek Keng sudah menarik napas dalam-dalam. Sesudah itu, ia lantas saja bersila dan menahan napas.

Dalam ilmu menahan napas Bek Keng banyak lebih unggul daripada manusia kebanyakan. Semenjak berusia tujuh delapan tahun, ia sering selulup di air untuk menangkap ikan dan kepiting. Dengan latihan yang terus menerus, semakin lama in semakin mengenal sifatnya air dan dapat bertahan di bawah permukaan air sampai kira-kira sepasangan hio. Maka itu, dalam pertandingan ia percaya bahwa ia bakal mendapat kemenangan.

Di lain pihak, Cia Soen tidak menyontoh perbuatan lawannya. Sebaiknya dari bersila atau duduk, dengan tindakan lebar ia menghampiri meja Sin koen dan menatap wajah Kwee Sam Koen, Ciangbunjin in boen, dengan mata melotot.

Diawasi secara begitu, si orang she Kwee bangun bulu romanya. Buru-buru ia berdiri dan berkata sambil merangkap kedua tangannya. “Cia Cianpwee, aku yang rendah adalah Kwee Sam Koen dari Sin koen boen.”

Karena hidung dan mulutnya tertutup, Cia Soen tidak dapat bicara. Ia menyelup telunjuknya ke dalam cawan arak dan menulis tiga huruf di atas meja. Begitu melihat tiga hurup itu, paras muka Kwee Sam Koen lantas saja berubah pucat seperti kertas. Beberapa muridnya melirik huruf-huruf itu yang ternyata berbunyi “Coei Hoei Yan” adalah nama seorang wanita, tapi tak tahu mengapa guru mereka jadi begitu ketakutan

Coei Hoei Yan adalah puteri gurunya Kwee Sam Koen. Sesudah sang guru meninggal dunia, dia telah main gila dengan nona itu. Tapi, sesudah nona itu hamil, ia meninggalkannya dengan begitu saja dan masuk menjadi murid partai Sin Koen boen. Karena malu dan gusar, Hoei Yan menggantung diri sehingga binasa. Karena keluarga Hoei hanya tinggal Hoei Yan seorang, maka urusan itu tidak menjadi panjang dan kecuali Kwee Sam Koen sendiri, rahasia tersebut tidak diketahui oleh orang luar. Tapi di luar semua dugaan, sesudah lewat kurang lebih dua puluh tahun, Cia Soen telah menulis nama nona itu di atas meja.

Begitu melihat tiga huruf itu, Kwee Sam Koen segera berkata dalam hatinya, “Sesudah menang kan Bek Keng dan mencopot tanah liat yang menutup jalan napasnya, dia tentu akan mengumumkan perbuatan itu. Paling baik aku menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan lebih dulu. Jika dia mengerahkan tenaga untuk melawan aku, dia tentu akan kalah dalam pertandingan melawan Bek Keng”. Memikir begitu, ia lantas saja berkata deagan suara nyaring, “Aku yang rendah adalah Ciang boen dari Sin koen boen. Kepandaianku yang paling diandalkan adalah silat tangan kosong. Sekarang aku ingin meminta pelajaran darimu dalam ilmu silat itu”

Berbareng deagan perkataannya, ia mengirim tinju kempungan Cia Soen dan tinju pertama lalu disusul tinju kedua. Nama “Sam Koen” atau “Tiga tinju” yang digunakan nya adalah karena ia mempunyai tinju yang luar biasa keras, sehingga dengan sekali meninju saja, ia dapat membinasakan seekor kerbau. Dalam kalangan Kangouw, ahli-ahli kelas pertengahan jarang ada yang dapat malayani tiga tinjunya, sehingga oleh karenanya, ia kenal dengan nama “Kwee Sam Koen” dan namanya yang aseli tidak diketahui orang.

Dua tinju yang dikirim dengan beruntun itu segera ditangkis oleh Cia Soen, Sam Koen merasa bahwa dalam menangkis pukulannya, Lweekang lawan tidak seberapa kuat dan berbeda banyak dengan Lweekang yang digunakan untuk membunuh Siang Kim Pang. Maka itu, sambil mengayun tinju ketiga, ia membentak keras, “Jagalah pukulan ketiga!”

Tinju yang sangat hebat itu diberi nama Hoen sauw cian koen (Menyapu laksaan serdadu) dan pukulan tersebut sudah pernah menjatuhkan banyak sekali jago-jago Kangouw.

Sementara itu, Bek Keng yang bersila sambil menahan nafas rupanya sudah merasa tak tahan lagi muka dan kupingnya merah, sedang matanya berkunang-kunang. Melihat keadaan ayahnya, Bek Siauw pangcu berkuatir bukan main. Maka itu selagi Kwee Sam Koen menyerang dengan dua pukulan, dengan cepat ia mencabut sebatang tusuk konde seorang Tocoe wanita dari Kie keng pang. Dengan mengerahkan Lweekang di jari tangannya, ia memutus tangkai tusuk konde yang kemudian ditimpukkan ke mulut ayahnya. Biarpun tangkai tusuk konde itu dapat melukakan mulut atau tenggorokan sang ayah, tapi tanah liat yang menutup jalanan napas akan berlobang sehingga sedikit banyak ayahnya bisa mendapat hawa udara segar.

Pada saat tangkai tusuk konde itu terpisah kira-kira setombak dari mulut Bek Keng, mata Cia Soen yang sangat tajam telah melihatnya. Tanpa menggerakkan tubuh,ia menendang tanah dan sebutir batu kecil melesat ke atas, menyambar tangkai tusuk konde, yang begitu terpukul dengan batu kecil itu, lantas saja terbang balik. Tiba-tiba Bek Siauwpangcoe mengeluarkan teriakan kesakitan sambil menutup mata kanannya, yang mengeluarkan darah. Ternyata, tangkai tusuk konde itu menjambret tepat ke mata kanannya yang lantas saja menjadi buta.

Pada saat itulah, tinju Kwee Sam Koen yang ke tiga menyambar kempungan Cia Soen. Sebelum tiba pada sasarannya, pukulan yang sangat dahsyat itu sudah mengeluarkan sambaran angin yang sangat tajam. Sam koen menduga lawannya akan coba menangkis atau berkelit. Tapi tak dinyana, Cia Soen tidak bergerak “Bak!”, tinju itu mengenakan tepat pada sasarannya. Kempungan adalah salah satu bagian tubuh manusia yang paling lemah dan tinju itu amblas di kempungan.

Tapi, sesaat itu juga, Kwee Sam Koen mencelos hatinya, karena tinjunya tersedot dengan semacam tenaga yang seperti besi berani. Cepat-cepat ia mengerahkan Lweekang untuk menarik pulang kepalannya, tapi sedikitpun tidak bergeming dan tinju itu terus melekat di kempungan musuh.

Dengan tenang Cia Soen mengangsurkan tangan kirinya ke pinggang lawan. Melihat guru mereka dalam keadaan bahaya, dua orang murid Sin koen segera melompat untuk memberi pertolongan. Tapi begitu diawasi Cia Soen dengan sorot mata yang setajam pisau, hati mereka keder dan tidak berani bergerak lagi. Di lain saat, Cia Soen sudah meloloskan ikat pinggang Kwee Sam Koen yang lalu digunakan untuk melibat leher pecundang itu. Sesudah itu ia mengikat ujung ikatatan pinggang k edahan pohon, sehingga badan Kwee Sam Koen jadi tergantung.

Kwee Sam Koen meronta-ronta, tapi semakin ia meronta, ikatan pada lehernya menjirat semakin erat. Beberapa saat kemudian, di depan matanya terlibat bayangan Coei Hoei Yang. Rasa takut dan menyesal bercampur aduk dalam hatinya. Dalam keadaan separuh lupa, kupingnya mendengar kata-kata, “Jalan langit tidak pernah gagal. Perbuatan jahat akan mendapat pembalasan Jahat!”

Cia Soen menengok dan melihat warna putih pada kedua matanya Bek Keng. Ia lalu menghampiri, dan lalu mencopot tanah liat yang menutupi jalanan napas lawan itu dan kemudian meraba-raba dadanya. Sesudah mendapat kepastian, bahwa Pangcoe Kek keng pang itu sudah tidak bernyawa lagi, barulah ia mencopot tanah yang menutupi hidung dan mulutnya sendiri. Ia mendongak dan tertawa nyaring “Kedua orang itu adalah manusia-manusia yang sangat jahat,” katanya “bahwa mereka baru binasa sekarang sebenarnya sudah terlalu terlambat.” Sehabis berkata begitu, ia mengawasi kedua Kiam kek muda dari Koen loan pay. Paras muka Ko Cek Seng dan Chio Tauw pucat seperti kertas, tapi merekapun balas mengawasi, tanpa mengunjuk rasa keder.

Melihat cara bagaimana Coei San telah membinasakan dua pemimpin dari dua partai persilatan yang ternama, Coei San kaget bukan main dan sugguh-sungguh ia tak dapat mengukuri betapa tinggi kepandaian orang itu. Sekarang melihat Cia Soen mengawasi kedua Kiam kek Koenloen ia merasa sangat berkuatir akan keselamatan kedua orang muda itu.

Buru-buru ia bangun berdiri dan berkata, “Cia Cianpwee, menurut katamu sendiri, orang-orang yang telah dibinasakan olehmu adalah manusia-manusia jahat yang pantas dibunuh. Tapi, jika kau sendiri membunuh manusia secara sembarangan maka kaupun tiada banyak bedanya dengan orang-orang yang dikatakan jahat olehmu.”

“Tidak banyak bedanya?” menegas Cia Soen sambil tertawa-tawa. “Kepandaianku tinggi kepandain mereka rendah. Yang kuat menjatuhkan yang lemah. Itulah perbedaannya.”

“Manusia bukan binatang dan manusia yang wajar harus dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah,” kata pula Coei San. “Jika seorang menindih yang lemah dengan hanya mengandalkan kekuatannya, tanpa memperdulikan benar atau salah, maka orang itu tiada bedanya dengan binatang”

Cia Soen tertawa berkakakan. “Apa benar dalam dunia ini terdapat apa yang dinamakan salah atau benar?” tanyanya dengan nada mengejek. “Orang yang berkuasa pada jaman ini adalah bangsa Mongol. Mereka sering berbuat sewenang wenang. Apakah dalam melakukan perbuatan-perbuatan itu, mereka bersedia untuk bicarakan soal benar atau salah denganmu?”

“Memang benar, mereka tak memperdulikan benar atau salah,” jawab Coei San. “Tapi juga benar, bahwa segenap pencinta negeri Siang-malam mengharap-harapkan datangnya kesempatan untuk mengusir kawanan penjajah itu.”

Cia Soen menyeringai, “Huh! Sekarang kita bicara saja mengenai orang Han sendiri,” katanya. “Dulu, pada waktu orang Han duduk di atas tahta, apa dia menggubris soal benar atau salah dalam sepak terjangnya? Gak Hoei adalah seorang menteri setia. Tapi mengapa ia dibunuh oleh Song ko cong? Cin Kwee dan Kee Soe To adalah menteri-menteri dorna, Tapi mengapa mereka dapat memanjat kedudukan tinggi dan hidup dalam kemuliaan dan kemewahan?”

“Kaisar-kaisar Lam song (kerajaan Song Selatan) telah menggunakan manusia-manusia pengkhianat dan membinasakan menteri menteri setia, antaranya Gak Hoei, sehingga kerajaan rubuh dan negeri jatuh ke dalam tangan bangsa lain,” kata Coei San. “Dalam hal ini dapat kita katakan, bahwa kaisar-kaisar itu telah mendapat buah yang jahat karena menyebut bibit kejahatan. Inilah kejadian yang membuktikan adanya perbedaan antara salah dan benar.”

Cia Soen bersenyum dan berkata dengan suara duka, “Thio Ngohiap, kau mengatakan, bahwa kaisar-kaisar itu telah mencicipi buah sebab perbuatannya yang jahat dan kejam. Sekarang aku ingin menanya: Apakah dosanya rakyat jelata sehingga mesti menderita terus-menerus, mesti mengalami tindasan?”

Coei San tak dapat menjawab ia hanya menghela napas dengan paras muka suram.

“Rakyat sudah terpaksa membiarkan dirinya dipersakiti karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melawan,” menyeletuk In So So. “Hal ini adalah hal yang lumrah dalam dunia.”

“Itulah sebabnya mengapa kita, orang-orang Rimba Persilatan, telah belajar silat,” menyambungi Coei San. “Tujuan kita yang terutama adalah membela keadilan dan menolong manusia yang perlu ditolong, Cia cianpwee adalah seorang enghiong yang jarang ada tandingannya dan dengan memiliki ilmu yang sangat tinggi itu, Cianpwee dapat berbuat banyak sekali untuk umat manusia ?”

“Apa bagusnya membela keadilan” tanya Cia Soen sambil menyahut. “Apa perlunya membela keadilan?”

Coei San kaget tak kepalang. Semenjak kecil ia telah menerima didikan batin dari gurunya dan pada sebelum belajar silat, ia sudah tahu pentingnya tugas membela keadilan. Dalam alam pikirannya, seorang yang belajar silat secara wajar mempunyai tugas suci itu. Selama hidup, pertanyaan perlu apa membela keadilan belum pernah masuk kedalam otaknya. Maka itu, mendengar perkataan Cia Soen, ia tercengang dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata, “Membela keadilan…itulah jalan untuk menegakkan keadilan, sehingga perbuatan baik mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat.”

Cia Soen jadi tertawa terbahak-bahak. “Omong kosong!” katanya dengan suara nyaring. “Perbuatan baik mendapat pembalasan baik, perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat! Itu semua omong kosong belaka! Orang-orang Boe tong pay paling suka membaca kitab Cong coe dan sebagai murid Boe tong, kau tentu paham dengan isinya kitab itu.”

“Dalam kitab tersebut terdapat kata-kata yang seperti berikut: Dalam dunia ini, Kaisar Oey Tee dianggap sebagai manusia yang berkedudukan paling tinggi. Tapi Oey Tee masih belum dapat menyempurnakan kemuliaannya. Dalam peperangan di lembah To Ok, ia telah mengalirkan darah sampai ratusan li jauhnya. Kaisar Gouw tidak welas asih, Kaisar Soen tidak berbakti. Kaisar Ie sempit pemandangannya. KaiSar Tong mengusir majikannya, Boe ong menyerang Tioe, sedang Boe ong menangkap Kiang Lie. Sepanjang sejarah, keenam kaisar itu dianggap sebagai manusia-manusia yang paling mulia. Untuk kepentingan pribadi ahli-ahli sejarah telah memutar balikkan kenyataan-kenyataan secara tidak mengenal malu.”

“Sekarang aku mau menanya, Apa artinya perkataan perkataan itu? Oey Tee yang selalu dianggap sebagai seorang nabi, masih dapat membunuh begitu banyak manusia dan mengalirkan darah sampai ratusan li. Jika dibandingkan dengan itu, apa artinya perbuatanku yang hanya membinasakan beberapa manusia saja dan mengalirkan darah yang jauhnya hanya beberapa tindak?”

Coei San tak pernah menduga, bahwa manusia yang macamnya begitu menyeramkan dan sepak terjangnya begitu kejam ganas, dapat menghapal kitab-kitab kuno. Rasa kagumnya jadi semakin besar dan ia berkata dengan sikap menghormat: “Cia Cianpwee, apa yang barusan dihapal olehmu adalah bagian To tit pian dari kitab Cong coe dan bagian itu dipalsukan orang, bukan ditulis oleh Cong coe sendiri.”

“Andai kata benar bagian tersebut ditulis oleh seorang lain tapi yang penting bukan penulisnya.” kata Cia Soen “Yang menjadi soal ialah apakah tulisan itu beralasan atau tidak?”

“Beralasan terang beralasan juga.” jawab Coei San. “Tapi tulisan itu yang menyerang kaisar kaisar jaman dulu, terlalu mencari-cari kesalahan orang dan menurut kesempurnaan dalam dirinya manusia, sedang pada hakekatnya, dalam dunia yang fana ini, tidak ada manusia yang pernah berbuat kesalahan.”

Cia Soen mengeluarkan suara di hidung, “Kau selalu mencari-cari alasan untuk membela orang-orang itu,” katanya. “Dalam kitab Kit bong soe terdapat tulisan seperti ini: Soan mengusir Giauw di Pang yang. Ek dibunuh oleh Kit. Dalam kitab Siang sie Tong cek terdapat kata kata: Tong mengusir Kiat di Lam co dan perbuatan itu sangat mengurangkan kemuliaannya Nah, lihatlah! Bukankah kedua kitab terang-terang mengunjuk, bahwa kaisar-kaisar jaman dulu yang begitu dimulaikan sebenarnya tidak begitu mulia ?”

Coei San kembali bengong untuk beberapa saat.” Aku seorang yang berpengetahuan dangkal dan belum pernah membaca kitab-kitab” katanva “Tapi halnya kaisar-kaisar itu terjadi di jaman purba, sehingga benar tidaknya tak dapat diketahui dengan pasti.”

“Baiklah, Jika begitu, sekarang bicarakan saja kejadian-kejadian yang belakangan,” kata Cia Soen “Tadi, kau mengatakan, bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat. Tapi kenyataannya tidak selamanya begitu Cong-coe berkata seperti berikut: Benda di luar selamanya belum dapat dipastikan. Maka itulah, Liong Hong dibinasakan. Pie Kan binasa, Kie Coe jadi gila. Ok Lay meninggal dunia. Kiat dan Coe juga habis nyawanya. Orang yang menjadi raja selalu mengharapkan kesetiaan menteri-menterinya, akan tetapi menteri setia belum tentu dipercaya. Maka itulah, Ngo Yan menceburkan dirinya di sungai. Sedang Tiang Sie binasa di negeri Siok.”

“Itulah kata-kata yang ditulis Cong coe. Di samping itu, kau tentu tahu, bahwa Souw Cin telah berhasil mempersatukan enam negara, tapi ia sendiri celaka. Koet Goan seorang menteri setia, tapi belakangan ia sampai membuang diri di sungai Bie lo, Han Sin berjasa besar untuk negaranya, tapi tak urung ia binasa di dalam penjara. Sekarang marilah tengok orang-orang peperangan, Tang Ngay berhasil merebut Siok han, tapi akhirnya ia masuk ke kerangkeng. Atas bantuan Ngo Coe Sie, negeri Gouw menjagoi, tapi Ngo Coe Sie sendiri didesak oleh rajanya, sehingga ia mesti membunuh diri.

“Han ko couw telah merebut dunia (Tiongkok) atas bantuan Han Sin, tapi ia masih tega untuk membunuh Han Sin. Sesudah mengalahkan Tio Coei di Liang peng. Raja Cin berbalik membunuh Pek Kie. Dilihat dari contoh-contoh itu, siapa kata perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik?”

Coei San menghela napas panjang. Ia berduka karena mengingat, bahwa di antara jenderal-jenderal ternama, seperti Teng Ngai, Ngo Coe Sie, Han Sin, Pek Kie, Lie Kong, Man Wan dan lain-lain, banyak sekali yang menjadi korban kaisar-kaisar kejam.

Sementara itu Cia Soen berkata pula, “Dengan segenap jiwa dan raga. Tay hoe Boen Ciong telah mengabdi kepada Gouw ong Kouw Cian, sehingga Kouw Cian dapat merebut pulang negerinya. Tapi bagaimana akhirnya? Akhirnya Boen Ciong dibunuh mati oleh Kouw Cian.”

“Kay Coe Twie mengikuii Ciong Nyie dalam mengunjungi berbagai negeri, sehingga Ciong Nyie belakangan dapat pulang ke negeri Cin dan menjadi Raja Cin boen kong. Akan tetapi, Cin boon kong bukan saja sudah melupakan jasa-jasa Kay Coe Twie bahkan belakangan ia membakar gunung sehingga Kay Coe Twie mati kebakar.”

“Hok Kong bersetia kepada kerajaan Han, tapi sesudah ia mati, kaisar Han membunuh serumah tangganya.”

“Pada jaman Sam Kok, Liok Soen telah mengalahkan Lauw Pie dan membakar tenda-tenda tentara yang panjangnya tujuh ratus sehingga menyelamatkan Tong gouw dari kemusnahan. Tapi tak urung Soen Koan bercuriga dan menulis surat berulang-ulang sehingga karena jengkel ia meninggal dunia.”

“Pada jaman Tong, Pang Hiang Lang berhamba kepada Tong thay cong. Ia mengunjuk kesetiaannya, sehingga namanya dipuji tinggi dalam kitab sejarah. Tapi pada akhirnya, seluruh keluarganya tak urung disapu bersih juga oleh sang kaisar …”

Dengan bersemangat, terus-menerus Cia Soen memberi contoh-contoh dari sejarah, cara bagaimana menteri setia menjadi korban dalam tangannya kaisar-kaisar kejam. Sebagian contoh itu dikenal, sebagian pula tidak dikenal oleh Coei San.

Dari sini dapatlah dilihat betapa dalam pengetahuan Cia Soen mengenai ilmu surat dan pengetahuannya itu bahkan melebihi sasterawan biasa.

Sambil mengawasi ketempat jauh, Coei San merenungkan perundingan itu.
“Hm…sekarang kau lihatlah!” kata pula Cia Soen. “Kau lihatlah…baik dibalas baik, jahat dibalas jahat, tidak selamanya begitu. Banyak manusia jahat hidup mewah dan berkedudukan tinggi. Kita ambil contoh yang paling terkenal. Han ko couw Lauw Pang adalah manusia kejam. Waktu ia akan perang, untuk menyelamatkan jiwa sendiri, dia melontarkan putera-puteri kandungnya ke bawah kereta.”

“Satu waktu Hang Ie telah menangkap ayahnya dan ia diberitahukan, bahwa daging sang ayah bakal dimasak, Tapi Lauw Pang cukup tega untuk berkata begini: Sesudah dimasak, bagilah sedikit kepadaku untuk dicoba. Tapi manusia kejam, manusia tidak berbakti itu, bukan saja sudah menjadi kaisar, tapi juga berumur panjang dan mati baik-baik di atas pembaringan. Huh! Tong thay tiong membunuh kakak dan adiknya sendiri dan kemudian mendesak ayah andanya sambai begitu rupa, sehingga, mau tidak mau sang ayah terpaksa menyerahkan kedudukan kepada anak durhaka itu.”

“Song thay cong pun tidak kalah kejamnya. Ia juga manusia yang telah membunuh saudara sendiri. Dalam kalangan Kang ouw, manusia-manusia begitu dipandang luar biasa jahat. Tapi pembalasan apa yang didapat mereka ?”

“Mengenai kekejaman kaisar-kaisar jaman dulu, apa yang dikatakan Cia Cianpwee memang benar sekali,” kata Coei San. “di antara sepuluh, ada sembilan kaisar yang sangat kejam dan buas. Dengan kekuasaannya yang tidak terbatas, mereka membunuh manusia dan berbuat sewenang-wenang, sesuka hati. Mungkin sekali, di hari kemudian akan tiba temponya, kapan dunia tidak melihat lagi kaisar yang memiliki kekuasaan tidak terbatasi. Tapi biar bagaimanapun jua, aku tetap berpendapat, bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat.”

“Menurut pendapatku, tujuan terutama dari hidupnya manusia dalam dunia ini adalah mencari keberuntungan dalam rupa ketenangan jiwa dan kepuasan batin. Dan seseorang barulah bisa merasa beruntung, jika ia tahu, bahwa selama hidupnya, ia telah berbuat banyak kebaikan terhadap sesama manusia.”

“Mengenai kaisar-kaisar itu atau menteri-menteri dorna yang banyak mencelakakan manusia, sedikit pun aku tidak percaya, jika dikatakan mereka tidak mendapat pembalasan. Manusia yang bermusuhan dengan ayah atau saudara sendiri bahkan mencelakakannya adalah manusia yang paling tidak beruntung di dalam dunia. Bayangkanlah penderitaan batin dari manusia-manusia itu! Mana boleh mereka tidak terhukum? Mereka mungkin terlolos dari hukuman lahir, tapi mereka pasti tidak terlolos dari hukuman batin dan hukuman batin adalah hukuman yang terhebat, karena orang terhukum tidak sedikitpun dapat mencicipi kesenangan dan kepuasan di dalam hatinya. Maka itulah, aku tetap berpendapat bahwa siapa yang menyebar angin pasti akan mendapat taufan.”

Sesudah mendengar perundingan yang panjang itu, paras muka Cia Soen agak berubah. Dalam hati kecilnya, ia mengakui kebenaran perkataan pemuda itu. Tapi ia tentu saja sungkan mengaku terang terangan. Sesaat kemudian, sambil mengawasi Coei San dengan sorot mata tajam, ia berkata dengan suara mengejek, “Kudengar gurumu yaitu Thio Sam Hong, berilmu tinggi. Hanya sayang aku belum pernah bertemu dengannya. Kau adalah salah seorang murid terutama dari Thio Sam Hong dan aku merasa menyesal karena mendapat kenyataan bahwa pemandanganmu begitu tolol. Kurasa Thio Sam Hong tiada banyak bedanya denganmu dan aku boleh tak usah pergi menemuinya.”

Melihat Cia Soen mempunyai pengetahuan tinggi dalam ilmu surat dan ilmu silat, Coei San merasa sangat kagum. Tapi, karena mendadak orang itu memandang rendah kepada gurunya, yang dipuja olehnya bagaikan malaikat, darahnya lantas saja meluap. “In soe (guruku) memiliki kepandaian sedemikian tinggi, sehingga tak akan dapat diukur oleh manusia biasa,” katanya dengan suara keras.

“Ilmu Cianpwee sangat tinggi dan tak dapat dilawan oleh orang-orang muda. Tapi di mata Insoe, Cia Cianpwee hanyalah seorang kasar yang tidak kenal budi.”

Mendengar kata-kata itu, In So So kaget bukan main dan buru-buru menarik ujung baju Coei San. Tapi pemuda itu yang sedang panas perutnya, lantas saja berkata, “Seorang laik-laki, jika mesti mati, biarlah mati, tapi tak dapat ia membiarkan gurunya dihina orang”

Di luar dugaan, Cia Soen tidak menjadi gusar. “Thio Sam Hong adalah seorang guru besar dan pendiri sebuah partai yang besar pula,” katanya dengan suara tawar. “Mungkin sekali, ia memiliki kepandaian tinggi. Ilmu silat tiada taranya. Bukan tak bisa jadi bahwa jika dibandingkan, kepandaianku tak sesuai dangan kepandaiannya. Nanti, di satu hari, aku pasti akan mendaki Boe tong san untuk meminta pelajaran. Thio Ngohiap, ilmu apa yang kau paling mahir? Hari ini aku siorang she Cia ingin menambah pengalaman.”

In So So terkejut. Sesudah menyaksikan kepandaian Cia Soen, ia mengerti, bahwa Coei San bukan tandingan orang itu. Maka itu ia lantas saja berkata , “Cia Cianpwee, To liong to sudah jatuh ke dalam tanganmu dan semua orang merasa kagum melihat kepandaianmu. Apa lagi yang kau mau ?”

“Mengenai To liong to, semenjak dulu telah tersiar beberapa kata-kata yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan orang.” kata Cia Soen. “Apakah kau tahu bunyi kata-kata itu ?”

“Ya,” jawabnya.

“Golok ini katanya sebuah senjata yang paling dihormati dalam Rimba Persilatan dan siapapun juga yang memilikinya, akan dapat memerintah di kolong langit dan tiada manusia yang akan menentangnya,” kata pula Cia Soen. “Tapi sampai sekarang, belum ada juga yang tahu, rahasia apa bersembunyi dalam golok ini. Apakah benar orang yang memilikinya dapat memerintah orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan ?”

“Cia Cianpwee adalah seorang yang berpengetahuan tinggi dan boan pwee justru ingin menanyakan Cianpwee tentang hal itu,” kata si nona.

“Akupun tak tahu,” jawabnya. “Sesudah mendapatkan golok ini, aku akan berdiam di tempat yang sepi dan akan menggunakan tempo beberapa tahun untuk mencoba memecahkan teka-teki itu ”

“Bagus” kata So So. “Cia Cianpwee mempunyai kecerdasan otak yang melebihi manusia biasa. Jika Cianpwee tidak berhasil, lain orangpun pasti tak akan bisa berhasil.”

“Huh huh! Aku si orang she Cia bukan sebangsa manusia sombong,” katanya. “Mengenai ilmu surat dan ilmu silat, Kong boen Tay soe Ciang boen jin Siauw lim pay, Thio Sam Hong Too tiang dari Boe tong pay, Tiang loo dari Go bie pay dan Koen loen pay semuanya adalah orang-orang yang berkepandaian sangat tinggi. Mengenai kecerdasan otak, Peh bie Eng ong In Kauwcoe dari Peh bie kauw memiliki kecerdasan otak yang jarang terdapat dalam ratusan abad.”

In So So segera bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk, “Terima kasih banyak atas pujian Cianpwee.”

“Aku ingin memiliki golok ini, lain orang juga kepingin,” kata Cia Soen. “Hari ini di pulau Ong poan san, aku tidak bertemu dengan tandingan. Dalam hal ini, In Kauwcoe sudah salah menghitung. Ia menganggap bahwa Pek Tan coe dan yang lain-lain sudah cukup untuk menghadapi Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen. Ia sedikit pun tidak menduga, bahwa si orang she Cia bisa datang kemari.”

“Bukan, bukan Kauwcoe salah menghitung,” memutus si nona. “Ia tak dapat datang kemari karena mempunyai lain urusan yang terlebih penting.”

“Tapi biarpun begitu, bahwa hari ini To liong to sampai jatuh ke tanganku, sedikit banyak menurutnkan nama besar In Kauwcoe sebagai seorang yang bisa menghitung bagaikan malaikat,” kata Cia Soen seraya bersenyum.

Si nona bersenyum dan berkata pula, “Dalam dunia ini, banyak kejadian tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu. Enam kali Coekat Boehouw ke luar dari gunung Kie San, tapi ia gagal dalam usahanya untuk mempersatukan seluruh Tiongkok. Tapi, meskipun ia mengalami kegagalan, nama besarnya tidak jadi merosot. Inilah apa yarg dikatakan: Manusia berusaha, Allah yang berkuasa. Cia cianpwee adalah seorang yang luar biasa dan mempunyai rejeki besar. Lain orang bergulat mati-matian untuk merebut golok itu, tapi Cianpwee sendiri sudah dapat memilikinya secara mudah sekali.” Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Cia Soen sambil bersenyum manis. Ia sudah sengaja mengulur-ulur pembicaraan itu supaya Cia Soen melupakan tantangannya terhadap Thio Coei San.

“Semenjak muncul dalam dunia, entah sudah berapa kali golok ini berpindah tangan dan entah sudah berapa orang binasa karena memilikinya,” kata Cia Soen. “Sekarang aku berhasil merebut golok ini. Siapa tahu kalau di kemudian hari tidak muncul seorang yang berkepandaian lebih tinggi dari pada aku”

So So dan Coei San saling melirik. Mereka menganggap, perkataan orang itu mengandung maksud yang dalam. Coei San ingat, bahwa kakak seperguruannya mendapat luka berat karena mempunyai sangkut paut dengan To liong to, dan sampai sekarang mati hidupnya belum dapat dipastikan. Ia sendiri berada dalam bahaya besar dan sebab-sebabnya hanya karena turut melihat golok mustika itu.

Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen menghela napas panjang. “Kalian berdua adalah orang-orang yang boen boe coan cay (mahir ilmu surat dan ilmu silat) dan setimpal benar satu sama lainnya, yang satu cantik, yang lain tampan,” katanya.

“Jika aku membunuh kalian, aku seolah-olah menghancurkan sepasang Giak kee (alat dari batu giok) yang jarang terdapat dalam dunia. Tapi, didesak oleh keadaan dan kenyataan, tak dapat aku tidak membinasakan kalian.”

“Mengapa begitu?” tanya si nona dengan suara kaget.

“Kalau aku pergi dengan membawa golok ini dan meninggalkan kalian di pulau ini, dalam berapa hari saja, orang sedunia sudah tahu, bahwa To liong to berada dalam tanganku,” Ia menerangkan.

“Yang ini akan cari aku, yang itu akan cari aku, semua orang akan cari aku. Aku bukan manusia yang tiada tandingan di dalam dunia. Yang lain tak usah dibicarakan. Peh bie Eng ong saja belum tentu dapat dirubuhkan olehku.”

“Ah! Kalau begitu kau membunuh orang menutup mulutnya!” kata Coei San dengan suara tawar.

“Benar.” jawabnya.

“Jika demikian, perlu apa kau mengunjuk kedosaan orang-orang Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen?” tanya Coei San.

Cia Soen tertawa berkakakan. “Aku ingin mereka mati tanpa penasaran,” jawabnya.

“Hmm…kau kelihatannya masih mempunyai hati yang baik,” kata puji pemuda itu.

“Di dalam dunia ini, siapakah yang bisa hidup abadi ?” tanya Cia Soen. “Mati lebih cepat atau mati lebih lama beberapa tahun, tidak banyak bedanya. Kau, Thio Ngohiap, dan In Kouwnio masih berusia sangat muda. Jika hari ini kalian binasa di pulau Ong poan san, memang juga kelihatannya sangat mesti disayangkan. Tapi, ditinjau seratus tahun kemudian, bukankah kebinasaan di hari ini atau meninggal dunia dihari nanti bersamaan saja? Andai kata dahulu Cin Kwee tidak mencelakakan Gak Hoei sehingga panglima besar itu binasa, apakah Gak Hoei bisa hidup sampai sekarang? Yang penting ialah seseorang harus mati dengan hati terang dan tidak merasakan penderitaan. Mika itu, aku sekarang mengajak kalian bertanding secara adil. Siapa yang kalah, dialah yang mati. Kalian berusia lebih muda dan aku suka mengalah. Pilihlah dalam ilmu silat dergan senjata, tanpa senjata, Lweekang, senjata rahasia, atau mengentengkan badan, ilmu berenang, kalian boleh pilih dan aku akan mengiringkan.”

“Kau sombong sekali,” kata si nona. “Apakah kau artikan, bahwa kau bersedia untuk melayani kami dalam ilmu apapun juga?” Suara si nona agak gemetar karena ia tahu, bahwa ia dan Coei San tidak dapat meloloskan diri lagi.

Mendengarkan pertanyaan So So, Cia Soen agak terkejut. Ia adalah seorang yang amat cerdas dan sesaat itu juga, ia lantas saja ingat, bahwa untuk si nona dapat menantangnya dalam ilmu menjahit atau lain-lain ilmu kaum wanita yang tidak dimilikinya. Mengingat begitu, ia lantas saja menjawab dengan suara nyaring, “Tantanganku itu terbatas pada ilmu silat. Aku pasti tidak bermaksud untuk bertanding makan nasi, minum arak dan sebagainya yang tidak bersangkut paut dengan ilmu silat.” Di lain saat, melihat Coei San mencekal kipas, ia menyambung perkataannya, “Akupun bersedia untuk melayani kalian dalam ilmu boen (ilmu surat). Menulis huruf indah, melukis, memetik khim, main tio kie, menulis syair atau sajak semua boleh. Hanya kita harus berjanji, bahwa pihak yang kalah harus membunuh diri sendiri, Hai! Melihat kalian, sepasang orang muda yang setimpal sungguh untuk menjadi suami-isteri, aku merasa sangat tak tega untuk untuk turun tangan.”

Mendengar perkataan yang paling belakang itu, paras muka kedua orang muda itu lantas saja berubah merah.

Si nona mengerutkan alis. “Kalau kau yang kalah, apakah kau juga akan membunuh diri?” tanyanya.

“Bagaimana aku bisa kalah?” kata Cia Soen sambil tertawa.

“Dalam pertandingan mesti ada yang kalah dan ada yang menang,” kata si nona. “Thio Ngohiap adalah murid dari seorang berilmu tinggi, maka selalu terdapat kemungkinan, bahwa dia akan mengalahkan kau ”

Cia Soen tertawa, “Orang yang masih berusia begitu muda, biarpun berkepandaian tinggi tak akan memiliki Lweekang yang cukup dalam untuk dapat menghadapi aku,” katanya.

Selagi kedua orang itu bicara, diam-diam Coei San mengasah otak untuk menetapkan ilmu apa yang akan diajukan olehnya. Dalam ilmu surat, dalam mana tercakup seni melukis huruf indah, seni lukis, memetik khim, main tio kie, menulis syair, pengetahuannya masih dangkal. Ilmu apa yang harus diajukannya? Ilmu silat? Ilmu mengentengkan badan? Ilmu silat gubahan gurunya yang berdasarkan Soehoat? Tiba-tiba serupa ingatan berkelebat dalam otaknya dan ia lantas saja berkata, “Cia Cianpwee, karena kau mendesak, maka aku tak dapat tidak mempersembahkan kebodohanku. Jika kalah, aku tentu akan menggorok leher sendiri. Tapi bagaimana, andaikata aku beruntung bisa keluar dengan seri ?”

Cia Soen menggelengkan kepala, “Tak mungkin seri,” jawabnya. “Seri dalam pertandingan pertama, kita bertanding pula sampai ada yang menang, dan ada yang kalah.”

“Baiklah,” kata Coei San. “Andaikata dalam pertandingan ini boanpwee memperlihatkan keunggulan, boanpwee tak berani menuntut apapun jua. Boanpwee hanya ingin memohon supaya Cianpwee sudi meluluskan satu permintaan.”

“Aku berjanji untuk meluluskan permintaanmu itu,” kata Cia Soen. “Hayolah, katakan saja, dalam ilmu apa kau ingin bertanding.”

Melihat begitu, bukan main leganya hati si nona. “Kau mau bertanding dalam ilmu apa ? Apa kau punya pegangan untuk mendapat kemenangan?” bisiknya.

“Belum tentu,” jawabnya.

“Kalau kau kalah, kita coba lari,” bisik pula si nona.

Coei San tidak menjawab, ia hanya bersenyum getir. Dengan perahu sudah tenggelam semua dan mereka berada di sebuah pulau kecil, ke mana mereka mau lari? Ia segera mengikat tali pinggang erat-erat dan mencabut Poan koan pit dari pinggangnya.

“Dalam dunia Kangouw, Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San sangat cemerlang dan hari ini aku akan menjajal-jajal dengan Long gee pang.” kata Cia Soen,

“Mengapa kau tidak mengeluarkan Lan gin Houw tauw Gin kauw ?”

“Boanpwee bukan ingin bertempur melawan Cianpwee dengan menggunakan senjata,” jawabnya dengan sikap hormat.

“Boanpwee hanya ingin sekedar menulis beberapa huruf.” Sehabis berkata begitu, ia berjalan kelereng bukit di sebelah di mana ia berdiri satu tembok batu yang tinggi dan besar. Ia menarik napas dalam-dalam, menotol tanah dengan kakinya dan badannya lantas saja melesat ke atas.

Ilmu ringan badan dari Boe tong pay adalah yang terbaik dalam seluruh Rimba Persilataa. Pada detik mati atau hidup, Coei San telah mengeluarkan seanteto kepandaiannya. Dengan sekali melompat, tubuhnya melesat setombak lebih dan lompatan itu disusul dengan lompatan Tee in ciong kaki kanannya menendang tembok dan badannya kembali terbang ke atas kurang lebih dua tombak. Dengan berbareng, Poan koan pit bergerak. “Sret sret sret …” bagaikan kilat ia sudah menulis huruo , “boe”. Baru selesai satu hurup badannya mulai melayang turun ke bawah.

Dengan cepat ia mencabut Gin Kauw yang lalu ditancapkan ke sebuah lobang kecil di tembok batu itu. Demikianlah, dengan menggunakan gaetan itu untuk menahan badannya, ia lalu menulis huruf “lim”. Ia menulis dengan menggunakan gerakan yang digubah Thio Sam Hong pada malam itu, gerakan-gerakan yang mengandung tenaga Im dan Yang, Kong dan Jioe (negatip dan positip, keras dan lembek) dan semua itu merupakan limn silat tertinggi dari Boe tong pay. Meskipun Lweekang Thio Coei San belum sempurna, sehingga goresan goresan Poan koan pit tidak masuk terlalu dalam ditembok batu itu, tapi kedua huruf itu indah luar biasa, seolah-olah terbangnya naga atau menarinya burung Hong. Sesudah huruf “cie” dan “coen”, ia menulis semakin cepat dan dalam sekejap mata, dua puluh empat hurup itu sudah selesai.

Sesudah menulis hurup “hong” yang terakhir, ia menotol tembok dengan Gin kauw dan Poan koan pit dengan berbareng dan dalam suatu gerakan yang indah, badannya melayang turun ke bawah dan hinggap didampingi si nona.

Dengan mulut ternganga Cia Soen mengawasi tiga baris huruf huruf itu yang setiap hurufnya sebesar gantang. Sesudah lewat sekian lama, ia menghela napas saraya berkata, “Aku tak dapat menulis seperti itu. Aku kalah.”

Ia tentu saja tak tahu, bahwa Thio Sam Hong berhasil menggubah lima silat yang sangat luar biasa itu sesudah mengasah otak seluruh malam dan pada waktu bersilat, ia telah menumplek seluruh semangat dan pikirannya. Andai kata Thio Sam Hong sendiri yang harus menulis huruf-huruf itu di atas tembok itu, belum tentu ia bisa menulis begitu indah dan bertenaga, jika tidak di sertai dengan semangat dan pemusatan pikirannya yang sesuai. Cia Soen tentu saja tak tabu, bahwa dua puluh empat huruf itu serupa ilmu silat. Ia hanya menduga, bahwa karena melihat To liong to, Coei San sudah ingat perkataan yang tersiar mengenai golok itu dan lalu menulisnya. Ia tak pernah mimpi, bahwa apa yang mampu ditulis oleh Coei San hanyalah dua puluh empat huruf itu.

In So So girang bukan kepalang. “Kau kalah, kau tak boleh mungkir dari janjimu!” teriaknya.

“Thio Ngohiap, ilmu yang mempersatukan Boe hak dengan Soe hoat (ilmu silat dengan ilmu huruf-huruf bagus) baru sekarang dilihat olehku,” kata Cia Soen. “Aku sungguh merasa kagum. “Perintah apa yang kau mau memberikan ke padaku?”

“Boanpwee adalah seorang muda yang berkepandaian cetek, mana berani boanpwee memberi perintah kepada Cianpwee?” jawabnya sambil membungkuk. “Boanpwee hanya ingin memberanikan hati untuk mengajukan satu permohonan.”

“Permohonan apa?” tanya Cia Soen.

“Aku mohon supaya Cianpwee suka mengampuni jiwa semua orang yang berada di pulau ini,” jawabnya. “Cianpwee dapat memerintahkan supaya mereka bersumpah untuk tidak membuka rahasia, bahwa To liong to berada dalam tanganmu.”

“Aku belum begitu edan untuk percaya sumpahnya manusia.” kata Cia Soen dengan mata melotot.

“Apa kau mau menarik pulang janjimu sendiri?” tanya si nona. “Bukankah kau sudah herjanji, bahwa jika kalah, kau akan meluluskan permintaan Thio Ngoko?”

“Kalau aku tidak pegang janji, mau apa kau?” bentak Cia Soen. Sesaat itu ia rupanya menginsyafi kekeliruannya, karena ia segera menyambung perkataannya, “Jiwa kalian berdua sudah kuampuni. Yang lain tidak bisa.”

“Kedua Kiam kek Koen loen pay adalah murid murid dari partai yang ternama dan mereka belum pernah melakukan perbuatan jahat,” kata Coei San.

“Jangan rewel!” bentak Cia Soen. “Di mataku, baik dan jahat tiada bedanya. Lekas robek ujung baju kalian dan sumbatlah kuping kalian. Tutup kuping keras-keras dengan kedua tangan. Jika kalian menyayang jiwa, turut perintahku.” Ia bicara separuh berbisik, seperti takut didengar orang.

Coei San dan So So saling mengawasi dengan perasaan heran. Tapi karena melihat Cia Soen bicara sungguh-sungguh mereka merobek ujung tangan baju yang lalu digunakan untuk menyumbat kuping dan kemudian mereka menutup kuping dengan kedua tangan.

tiba-tiba Cia Soen membuka mulut lebar-lebar seperti orang berteriak dan mendadak mereka merasa bumi goyang-goyang. Hampir berbareng orang-orang Peh bie kauw, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boen berubah paras mukanya seolah olah merasakan kesakitan luar biasa, dan di lain saat, mereka rubuh bergulingan di atas tanah.

Ko Cek Sang dan Cio Tauw kelihatan kaget dan ketakutan, buru-buru mereka bersila dan mengerahkan Lwee kang untuk melawan teriakan itu. Dilihat dari paras muka kedua Kiamkek dan keringat yang turun berketel-ketel dari muka mereka, Coei San dan So So tahu, bahwa Ko Cek Seng dan Cio Tauw sedang mengeluarkan seantero tenaganya. Beberapa kali, mereka mengangkat tangan untuk menutup kuping, tapi selalu gagal dan tangan mereka sudah diturunkan lagi sebelum menyentuh kuping.

Sesaat kamudian, Coei San merasa tubuhnya bergoyang keras dan hampir berbareng, tubuh Ko Cek Seng dan Cio Tauw melesat ke atas kira-kira setombak akan kemudian rubuh di tanah tanpa bergerak lagi.

Cia Soen segera menutup mulutnya dan memberi isyarat supaya Coei San dan So So membuka sumbat kuping.

“Sebagai akibat dari teriakanku, mereka pingsan untuk sementara waktu,” katanya. “Sebentar, sesudah tersadar, urat syaraf mereka yang rusak tidak dapat pulih lagi seperti biasa dan mereka menjadi gila. Mereka tak ingat apa yang sudah terjadi di sini. Thio Ngohiap, kau minta aku mengampuni jiwa semua orang yang berada di pulau ini dan permintaan itu telah dipenuhi olehku.”

Coei San bengong dan tidak dapat mengeluarkan sepatah kata. Ia bergusar dan berduka, tapi tidak berdaya. Biar bagaimanapun jua, kepandaian Cia Soen yang sangat luar biasa itu harus dikagumi. Ia juga akan mengalami nasib seperti yang lainnya. Dengan perasaan tidak keruan rasanya ia mengawasi Ko Cek Sang, Cio Tauw, Pek kwie Sian dan lain-lain, yang rebah d itanah dengan paras muka pucat bagaikan mayat.

“Mari kita berangkat,” kata Cia Soen dengan suara tawar.

“Ke mana?” tanya Coei San.

“Pulang!” jawabnya. “Urusan di Ong poan san sudah beres. Perlu apa berdiam lama-lama di sini”

Sehabis berkata begitu, ia mengajak kedua orang muda itu pergi ke sebelah barat pulau, ke belakang sebuah bukit kecil, darimana mereka lihat sebuah perahu dengan tiga tiang layar yang berlabuh di sebuah muara kecil. Perahu itu adalah perahu Cia Soen.

Begita tiba di pinggir perahu, Cia Soen berkata sambil membungkuk, “Aku mengundang Jiewie naik ke perahu.”

“Hm! Sekarang kau berlaku mulia sekali.” kata So So seraya ketawa dingin.

“Dalam perahuku, kalian adalah tamu-tamu yang terhormat, sehingga aku harus memperlakukan kalian dengan segala kehormatan,” jawabnya.

Ia memberi isyarat kepada anak buahnya yang segera mengangkat jangkar dan perahu lantas saja berangkat.

Di perahu itu terdapat enambelas atau tujuhbelas anak buah, tapi waktu memberi perintah perintah kepada mereka juru mudi hanya menggerak gerakkan kaki tangannya, seokah-olah semua anak buah gagu dan tuli.

Si nona merasa heran dan berkata , “Kau pintar sungguh, bisa mendarat anak buah yang tuli gagu”

Cia Soen tertawa. “Apa sukarnya?” jawabnya. “Aku hanya perlu cari orang-orang yang buta huruf, menusuk telinganya, memberi obat kepadanya dan segala apa sudah beres.”

Mendengar keterangan itu, bulu roma Coei San bangun semua dan ia mengawasi Cia Soen dengan sorot mata gusar.

Tapi So So menepuk-nepuk dan tertawa nyaring, “Bagus! Bagus!” katanya. “Tuli dan gagu juga buta huruf. Hmm! Rahasiamu yang bagaimana besarpun pasti tak akan dibocorkan mereka, Hanya sayang, kau masih memerlukan mereka untuk menjalankan perahu. Kalau bukan begitu, bukankah kau akan membutakan juga mata mereka?”

Coei San melirik si nona dan menegur dengan suara mendongkol, “In Kauwnio, kau adalah seorang gadis baik-baik, tapi mengapa kau begitu kejam? Kejadian itu adalah kejadian yang sangat mendukakan dan aku sungguh tak mengerti, bagaimana kau sampai hati untuk mengatakan begitu.”

So So sudah membuka mulutnya untuk bertengkar, tapi ia mengurungkan niatnya, karena Coei San kelihatannya sudah gusar sungguan

“Di kemudian hari, sesudah kembali di daratan Tiongkok, aku akan menusuk mata mereka,” kata Cia Soen dengan suara dingin.

Sementara itu, layar sudah naik dan perahu melaju semakin cepat.

“Cia Cianpwee, bagaimana orang-orang yang berada di pulau Ong poan san.” tanya Coei San. “Kau sudah menenggelamkan semua perahu. Cara bagaimana mereka bisa pulang? ”

“Thio Ngohiap,” jawabnya, “kau adalah seoraug yang berhati mulia, hanya kau bawel sekali, seperti nenek bangkotan. Biarlah mereka mampus sendiri, bagaikan impian di musim semi yang tiada bekasnya, Apakah itu bukan kejadian yang bagus sekali?”

Coei San segera menutup mulutnya, karena ia tahu, bahwa terhadap manusia yang kejam itu, ia tak dapat berunding lagi. Ia menunduk dan menghela napas perlahan. Ia ingat, bahwa selama beberapa tahun, Boe tong Cit hiap malang melintang di dunia Kangouw dan selalu berada di atas angin. Tapi sekarang, di luar dugaan, ia mesti menunduk di bawah pengaruh orang, tanpa dapat melawan, Hatinya jengkel, pikirannya kusut dan ia memandang ketempat jauh tanpa meladeni Cia Soen dan So So.

Tak lama kemudian, tampak seorang pelayan membawa makanan dan menuang arak di tiga cawan. “Sebelum bersantap aku ingin memetik khim guna menghibur tetamuku yang terhormat,” kata Cita Soen. “Di samping itu aku ingin minta petunjuk-petunjuk Thio Siangkong dan In Kauwnio,”

Sehabis berkata begitu, ia mengambil sebuah khim dari dinding gubuk perahu dan lalu memetiknya. Dalam seni musik, Coei San tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam dan ia tidak mengenal lagu yang dimainkan. Ia hanya merasa bahwa lagu itu sangat sedih, semakin lama semakin menyayat hati, sehingga pada akhirnya, tak dapat mempertahankan diri lagi dan lalu mengucurkan air mata.

Tiba-tiba, dengan sekali menggaruk dengan lima jarinya, suara tetabuhan itu berhenti. “Aku sebenarnya ingin menghibur kalian, tapi tak dinyana Thio Siangkong berbalik sedih,” katanya sambil tertawa getir.” Untuk kesalahanku itu aku harus didenda dengan secawan arak,”

Ia mengangkat cawan dan meneguk isinya.

“Lagu apa yang barusan diperdengarkan Cia Cianpwee?” tanya Coei San.

Cia Soen mengawasi So So, seperti juga ingin meminta supaya nona itu yang menjawabnya. Tapi si nona menggelengkan kepala.

“Apakah kau pernah mendengar riwayat Kie Kong dari jaman Cin?” tanya Cia Soen. “Inilah lagu yang diperdengarkannya waktu ia mau dihukum mati.”

“Lagu Kong leng san?” tanya Coei San dengan suara terkejut.

“Benar,” jawabnya.

“Sepanjang sejarah, semenjak Kie Kong meninggal dunia, lagu ini sudah tidak terdapat dalam dunia,” kata pula pemuda itu. “Bagaimana Cianpwee bisa mendapatkannya ?”

Cia Soen tertawa dan paras mukanya yang berseri-seri mengunjuk, bahwa hatinya senang sekali. “Kie Kong manusia keras kepala, adatnya mirip-mirip dengan adatmu.” katanya. “Pada jaman itu, Ciong Hwee berpangkat tinggi dan mendengar nama besarnya Kie Kong, ia telah mengunjunginya. Tapi Kie Kong tidak meladeninya dan terus memukul besi yang sedang dikerjakannva. Ciong Hwee mendongkol dan lantas saja berlalu. Ia adalah seorang yang sangat pintar dan berkepandaian tinggi, hanya sayang, pemandangannya terlalu sempit. Sikap Kie Kong dianggapnya suatu hinaan yang tidak dapat diampuni dan secara licik, ia lain menggosok-gosok Soema Ciauw dengan mengatakan, bahwa Kie Kong telah bicara jelek tentang Soema Ciauw itu. Dengan gusar, Soema Ciauw menjatuhkan hukuman mati atas diri Kie Kong. Sebelum dibunuh, ia memetik khim dan memperdengarkan lagu Kong leng san. Sesudah selesai, ia berkata: Mulai hari ini Kong leng san tak akan dapat didengar lagi dalam dunia. menurut pendapatku, kata-kata itu sangat memandang rendah kepada orang-orang yang hidup di jaman belakangan. Ia hidup di jaman Samkok. Menurut perhitunganku, mungkin sekali lagu itu tidak tersiar pula sesudah jaman itu. Tapi aku tak percaya Kong leng san tidak dikenal orang pada sebelum jaman Samkok.”

Thio Coei San tidak mengerti apa maksudnya keterangan itu dan ia lalu minta penjelasan.

“Perkataan Kie Kong menimbulkan rasa penasaran dalam hatiku,” menerangkan pula Cia Soen. “Aku segera membongkar kuburan-kuburan menteri-menteri besar dari kerajaan Tong han dan sesudah membongkar duapuluh sembilan kuburan akhirnya aku berhasil menemukan lagu Kong leng san dalam kuburan, Coa Yong” Sehabis menerangkan begitu, ia tertawa terbahak-bahak dengan kegirangan besar.

Coei San terkejut. “Orang ini benar-benar tak mengenal Tuhan,” katanya di dalam hati. “Hanya karena sepatah kata yang diucapkan oleh seorang di jaman dulu, dia rela menjadi pembongkar kuburan. Andai kata ada orang yang berdosa terhadapnya, ia pasti membalas sakit hati sehebat-hebatnya”

Sewaktu mendongak, ia lihat sebuah lukisan yang tergantung di dinding gubuk perahu. Dilihat dari warnanya yang sudah agak suram, lukisan San Coei (gunung dan air) itu sudah tua sekali, tapi lukisannya sendiri hidup, indah dan angker luar biasa.

Melihat pemuda itu mengawasi tanpa berkesip Cia Soen segera berkata, “Lukisan itu adalah buah tangan Thio Ceng Yoe dari jaman kerajaan Liang. Aku telah mencurinya dari istana kaisar. Menurut orang, kalau melukis naga, ia tak pernah melukis mata naga itu, sebab, jika dilukis, gambar naga lantas saja hidup dan terbang ke langit sesudah mendobrak tembok. Tentu saja cerita itu omong kosong belaka dan hanya digunakan untuk memberi pujian kepada lukisan naga Thio Ceng Yoe yang indah luar biasa. Menurut pendapatku, duapuluh empat huruf yarg ditulis olehmu di tembok batu tidak kalah indahnya dari lukisan San soei itu.”

“Boanpwee hanya mencorat-coret secara serampangan, mana bisa dibandingkan dengan pelukis kenamaan di jaman dulu” Coei San merendahkan diri.

Demikianlah, mereka beromong omong tentang sastra dan lain-lain ilmu jaman dulu dan jaman sekarang dengan tuan rumah bicara sebagai seorang sasterawan besar. Coei San merasa sangat kagum akan pengetahuan Cia Soen, tapi hatinya tetap diliputi kegusaraaan karena mengingat kekejaman orang itu. Beberapa lama kemudian, ia mulai merasa sebal dan lalu memandang keluar jendela, dengan membiarkan si nona bicara terus dengan tuan rumah.

Tiba-tiba ia lihat matahari sore yang tengah menyelam di tepian laut dan yang memancarkan sinar emas yang gilang gemilang. Selagi mengawasi dengan pikiran melayang layang, mendadak ia terkejut. “Mengapa matahari menyelam di sebelah belakang perahu ?” tanyanya di dalam hati. Ia menengok seraya berkata, “Cia cianpwee, juru mudimu telah mengambil jalanan yang salah. Kita menuju ke arah timur.”

“Tidak salah, kita memang sedang menuju ke timur,” jawabnya.

In So So juga kaget. “Di sebelah timur adalah lautan besar. Ke mana kita mau pergi?” tanyanya.

Cia Soen tidak segera memberi jawaban, tapi pelan-pelan menuang secawan arak dan lain mengendus endusnya dengan paras muka berseri-seri. “Arak ini adalah Lie tin, Tin cioe dari Siauwhin,” katanya sambil bersenyum. “Usianya paling sedikit sudah dua puluh tahun dan Jie wie tak boleh memandang rendah.”

“Aku bukan bicarakan soal arak,” kata si nona dengan suara tidak sabaran. “Perahu salah jalan dan kau harus memerintahkan jurumudi memutar kemudi.”

“Bukankah waktu masih berada di pulau Ong poan san aku sudah memberitahukan kalian seterang-terangnya?” kata Cia Soen, “Sesudah mendapatkan To liong to, aku ingin mencari sebuah tempat yang terpencil, di mana aku bisa menggunakan tempo beberapa tahun untuk coba memecah kan teka teki sekitar golok mustika itu. Aku ingin mencari tahu, mengapa To liong to dikatakan sebagai senjata yang paling dihormati dalam Rimba persilatan dan apa benar pemiliknya dapat menguasai segenap orang gagah dikolong langit, Daratan Tiong-goan adalah tempat yang sangat ramai. Begitu lekas orang tahu bahwa aku memiliki golok itu, mereka ramai-ramai tentu akan menyateroni untuk coba merebutnya dari tanganku. Dengan adanya gangguan itu, mana bisa aku memusatkan pikiran? Kalau yang datang pentolan-pentolan seperti Thio Sam Hong Sianseng atau Peh bie kauwcoe atau yang lain-lain, belum tentu aku dapat menandinginya. Itulah sebabnya, mnengapa aku ingin cari sebuah pulau yang kecil dan terasing di tengah-tengah lautan, guna dijadikan tempat tinggalku selama beberapa tahun.”

“Kalau begitu, kau antarkan kami pulang lebih dulu,” kata So So.

Cia Soen tertawa. “Begitu lekas kalian kembali di Tiong goan, apakah rahasiaku tidak menjadi bocor?” tanyanya.

Mendadak Coei San melompat dan berseru dengan suara keras, “Habis apa yang kau mau?”

“Aku tak dapat berbuat lain daripada meminta kalian berdiam bersama-sama aku dan melewati hari-hari secara riang gembira selama beberapa tahun,” jawabnya. “Begitu lekas aku dapat menembus rahasia To liong to, kita bertiga segera kembali ke daratan Tiong goan bersama-sama.”

“Bagaimana kalau sampai sepuluh tahun kau masih juga belum berhasil?” tanya pula Coei

“Kalian harus mengawani sehingga sepuluh tahun,” jawabnya dengan tenang. “Andaikata seumur hidup, aku tidak berhasil, kalianpun harus menemani aku seumur hidup.”

“Kau adalah sepasang orang muda yang setimpal dan aku mengerti, bahwa kalian mencintai satu sama lain. Nah! Kalian boleh menikah dan berumah tangga di pulau itu. Apa itu tidak cukup menyenangkan?”

Coei San gusar bukan main. “Jangan ngaco kau!” bentaknya.

Ia melirik So So dan ternyata si nona sedang menunduk dengan paras muka kemalu-maluan. Ia bingung bukan main. Ia merasa, bahwa ia tengah menghadapi beberapa lawan yang tangguh dengan berbareng. Cia Soen lawan pertama, si nona lawan kedua, sedang dirinya sendiri merupakan lawan ketiga. Dengan berdampingan dengan wanita cantik itu, belum tentu ia dapat menguasai diri terus-menerus. Terdapat kemungkinan besar sekali, bahwa pada akhirnya, ia akan rubuh di bawah kaki In SoSo.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: