Kumpulan Cerita Silat

08/07/2008

Kisah Membunuh Naga [08]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:48 am

Kisah Membunuh Naga [08]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Mendengar pemuda itu adalah salah seorang dari Boe tong Cit hiap, Pek Kwie Sioe terkejut. “Sudah lama aku mendengar nama besar dari Boe tong Cit hiap,” “katanya. “Aku merasa sangat beruntung, bahwa di hari ini aku dapat bertemu muka dengan Thio Ngohiap.”

Thio Coei San segera menjawab dengan perkataan-perkataan merendahkan diri.

“Hai! Kalian berdua pandai sekali bicara manis-manis,” kata In So So. “Di hati lain, di mulut lain. Di dalam hati, yang satu berkata, “Celaka. Orang Boe tong pay turut datang ke sini dan tambah lagi satu lawan lihai yang mau merebut To liong to. Yang lain berpikir Huh! Manusia apa kau Anggauta dari agama yang menyeleweng. Tak sudi aku bersahabat denganmu.’ Menurut pendapatku, lebih baik kalian bicara saja terang-terang. Jangan main berpura pura.”

Pek Kwie Sioe tertawa terbahak-bahak.

“Tidak, aku tidak memikir begitu,” kata Coei San. “Aku yakin, bahwa Pek Tan coe memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Ilmu mengirim suara sangat mengagumkan. Kedatanganku di sini hanyalah menemani In Kouwnio untuk menonton keramaian dan sedikitpun aku tidak mempunyai niatan untuk turut dalam perebutan golok mustika.”

Mendengar perkataan pemuda itu, In So So me rasa girang sekali.

Pek Kwie Sioe mengenal nona In sebagai wanita yang berhati kejam dan tak pernah berlaku manis-manis terhadap siapapun jua. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, ia menyaksikan sikap yang luar biasa halus dari si nona terhadap Thio Coei San, sehingga ia segera mengetahui bahwa Son So sudah jatuh hati kepada pemuda yang tampan itu. Selain begitu, ia juga merasa senang mendengar pujian yang diberikan Coei San dan rasa permusuhannya terhadap pemuda itu lantas saja hilang.

“In Kouw nio,” katanya sambil tersenyum, “orang-orang Hay See Hay dan Sin koen boen sudah datang semua. Di samping mereka, terdapat juga dua pemuda dari Koen loan pay. Lagak mereka agak sombong dan berbeda jauh dengan Thio gohiap yang ternama besar…hm…,Memang orang yang benar-benar berkepandaian tinggi tidak banyak tingkah”

Baru ia berkata sampai di situ, dibelakang bukit mendadak terdengar bentakan, “Hai! Perlu apa kau membusuki nama orang di belakangnya? Apa itu perbuatan seorang laki-laki ?”

Berbareng dengan bentakan itu, dari belakang bukit dua pemuda usia dua puluh tahun lebih yang bertubuh kurus dan mengenakan jubah panjang wama kuning, sedang di punggung mereka terselip sebatang pedang. Mereka menghampiri dengan paras muka menyeramkan.

Pek Kwie Sioe tertawa nyaring, dan berkata dengan suara tenang, “Aha! Baru menyebut nama Co Coh, Co Coh lantas saja datang. Mari, mari aku memperkenalkan kalian.”

Kedua Kiamtek (ahli pedang) Koen loan pay itu sebenarnya sudah mau mengunjuk kegusaran mereka, tapi begitu melihat kecantikan So So mereka tertegun. Yang satu mengawasi si nona dengan mulut ternganga, yang lain melengos, tapi diam-diam melirik berulang-ulang.

Sambil menunjuk pemuda yang tengah mengawasi So So, Pek Kwie Sioe berkata, “Yang ini adalah Ko Cek Sang Tay kiamkek.” Ia menengok ke arah yang lain dan menyambung perkataannya , “Yang itu Chio Tauw Taykiamkek. Mereka berdua adalah pentolan-pentolan Koen loen pay. Nama Koen loan pay telah menggetarkan wilayah Barat dan dalam Rimba Persilatan, semua orang merasa kagum akan tingginya ilmu silat Koen loan. Maka itu, Ko dan Cio Taykimkek juga pasti memiliki kepandaian yang lain dari pada yang lain. Kali ini, dari tempat jauh mereka datang di Tionggoan dan mereka pasti akan memperlihatkan kepandaian istimewa supaya kita semua bisa menambah pengalaman.”

Mendengar perkataan itu yang dikeluarkan nada mengejek, Coei San menduga, bahwa kedua pemuda itu akan segera menghunus senjata, atau sedikitnya, akan membalas dengan kata-kata tajam. Tapi di luar dugaan, mereka hanya manggut-manggut, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Setelah mengawasi muka merah, baru Coei San tahu sebab musababnya. Mereka teryata seperti orang linglung karena dipengaruhi dengan kecantikan In So So.

Coei San merasa geli. “Nama Koen loan pay tersohor di kolong langit dan dikenal sebagai malaikat dalam ilmu silat pedang,” pikirnya “Sungguh sayang murid-muridnya yang datang kemari adalah manusia-manusia rendah.”

Tapi sebenarnya, meskipun Ko Cok Sang dan Chio Tauw beradat sombong, mereka bukan manusia rendah yang gemar dengan paras cantik. Yang menjadi soal ialah karena memang So So terlalu cantik dan memiliki sifat-sifat seperti besi berani, yang dapat membetot semangat orang. Dengan mengingat, bahwa mereka adalah manusia manusia biasa, apapula usia mereka masih begitu muda, maka sikap yang menggelikan itu dapat dikatakan jamak.

Sementara itu, Pek Kwie Sioe berkata pula, “Yang itu adalah Thio Coei San Siangkong dari Boe tong pay, yang ini nona In So So, sedang yang itu Siang Kim Pang Tan coe dari agama kami.”

Mendengar perkataan Pek Kwie Sioe, So So merasa sangat girang. Bahwa si kakek hanya menggunakan istilah “Siangkong” (tuan) dan tidak menggunakan lagi perkataan “Thio Ngohiap”, merupakan petunjuk, bahwa ia menganggap Coei San seperti orang sendiri. Sambil bersenyum, si nona melirik pemuda itu dengan sorot mata menyinta.

Melihat sikap So So terhadap Coei San, Ko Cek Song yang beradat kasar saja meluap darahnya dan tidak dapat menyembunyikan lagi rasa jelusnya. “Chio Soetee,” katanya dengan suara tawar, “di See hek, kita seperti pemah mendengar, bahwa Boe tong pay adalah sebuah partai yang tulen dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan.”

“Benar. aku pun seperti pemah mendengar begitu” jawab adik seperguruannya.

“Tapi kita mendengar tidak sama dengan melihat sendiri,” kata pula Ko Cek Sang “Pendengaran itu tidak dapat dipercaya.”

“Dalam kalangan Kangouw memang banyak sekali tersiar desas-desus yang tidak boleh dipercaya,” menyambung Cio Tauw. “Ko Soeheng, apa artinya perkataanmu itu?”

“Murid dari partai persilatan yang tulen bagaimana bisa bercampur gaul dengan orang-orang dari Sia kauw (agama yang menyeleweng)?” jawabnya, “Bukankah kejadian itu sangat menurutnkan namanya partai yang sangat cemerlang itu?”

Dalam menyindir Thio Coei San, mereka tak pernah mimpi, bahwa In So So pun seorang dari Peh bie kauw. Mereka hanya mengetahui, bahwa yang menjadi anggauta agama itu hanya Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang.

Coei San meluap darahnya, tapi segera juga ia mendapat pikiran lain. Ia ingat, bahwa kedatangannya d ipulau Ong poan san adalah untuk menyelidiki musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Gam, sehingga ia tak boleh merusak tujuannya sendiri dengan mengumbar napsu amarah. Ia juga ingat, bahwa biarpun berusia lebih tinggi dari padanya, kedua Kiamkek Koen loen pay itu adalah orang-orang tidak ternama yang baru menceburkan diri kedalam dunia Kangouw. Maka itu, tak pantas ia meladeninya. Di samping itu, iapun mengakui, bahwa Peh bie kauw memang suatu agama yang menyeleweng dan In So So serta Siang Kim Pang adalah manusia-manusia kejam yang dapat membunuh sesama manusia seperti orang menyuap nasi. Ia memang sudah mengambil putusan untuk tidak bergaul terus dengan orang itu.

Memikir begitu, ia lantas saja tersenyum seraya berkata, “Dengan orang-orang Peh kie kauw, aku pun baru berkenalan, tidak berbeda dengan kedua Jin heng.”

Keterangan itu mengherankan hatinya semua orang, kecuali si nona sendiri, Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang pun semula menduga, bahwa persahabatan antara nona In dan Coei San sudah berjalan lama. In So So sendiri merasa sangat mendongkol. Ia mengerti, bahwa dengan berkata begitu, Coei San memandang rendah kepada Peh bie kauw. Ko Cek Sang dan Chio Tauw saling mengawasi dengan senyuman mengejek. Mereka menganggap, bahwa Coei San sudah jadi ketakutan karena mendengar nama Koen loan pay.

“Kecuali Bek Siauw pangcoe, semua tetamu sudah tiba,” kata Pek Kwie Sioe. “Kita tak usah menunggu ia. Sekarang kalian boleh jalan-jalan di pulau ini secara bebas dan sebentar tengah hari, harap kalian suka datang dilembah untuk minum arak dan melihat golok mustikaku.”

Siang Kim Pang tertawa. “Perahu Bek Siauw pangcoe mendapat kerusakan dan atas permintaan Thio Siangkong, mereka telah ditolong,” ia menerangkan. “Sekarang Siauw pangcoe itu berada dalam perahuku. Sebentar kita boleh mengundangnya untuk menghadiri pertemuan”

Biarpua kedua Tan coe itu bersikap sangat hormat dan walaupun In So So memperlihatkan kecintaannya, Coei San sudah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri. Maka itu, ia segera berkata, “Siauwtee ingin jalan-jalan sendiri,” tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan ke arah sebuah hutan di sebelah timur.

Kecuali bukit-bukit dan hutan-hutan kecil, di pulau itu tidak ada pemandangan yang berharga. di sebelah tenggara terdapat sebuah pelabuhan di mana berlabuh belasan perahu, yaitu perahu-perahu para tetamu. Sambil menunduk Coei San berjalan di sepanjang pantai dan sembari berjalan ia mengasah otak. Ia merasa sangat tidak puas dengan kekejaman dan sepak terjang In So So, tapi sungguh heran, hatinya seperti juga dibetot-betot dan tak dapat melupakan nona yaag cantik itu.
“Tak dapat disangkal lagi, In kauwnio mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Peh bie kauw,” pikirnya. “Pek Tancoe dan Siang Tancoe menghormatinya seperti juga ia seorang puteri. Tapi sudah terang ia bukan Kauw coe. Siapa dia?”

Di lain saat, ia berkata pula di dalam hatinya, “Dalam pertemuan ini yang dihimpunkan oleh Peh bie kauw, partai-partai lain telah mengirim wakil-wakilnya yang paling jempolan. Tapi Peh bie kauw sendiri hanya mengutus seorang Tan coe, seolan-olah mereka tidak memandang sebelah mata kepada pihak lawan. Dari gerakan-gerakannya, kepandaian Pek Tancoe berada di sebelah atas Siang Tancoe. Di lihat begini, Peh bie kauw sungguh-sungguh tidak boleh dipandang enteng. Biarlah hari ini aku menyelidiki asal usul mereka, mungkin sekali di kemudian hari Boe tong Cit hiap akan bertempur mati-matian dengan mereka.” Selagi memikir begitu, tiba-tiba ia dengar suara beradunya senjata di luar hutan.

Ia heran dan lalu menuju ke arah suara itu.

Jauh-jauh ia lihat Ko Cek Seng dan Chio Tauw sedang berlatih pedang dengan ditonton oleh In So So. “Soehoe sering mengatakan, bahwa kiam sut (ilmu pedang) Koen loen pay lihai bukan main dan di waktu masih muda, beliau pernah bertempur dengan seorang pentolan Koen loan pay yang ber gelar Kiam Seng (Nabi pedang),” pikirnya, “Kesempatan untuk menyaksikan ilmu pedang itu sebenar-benarnya tidak boleh disia-siakan. Akan tetapi, menurut peraturan Rimba persilatan, jika orang sedang berlatih silat, orang tidak boleh mencuri lihat.” Sebagai murid dari sebuah rumah perguruan yang terhormat, Coei San sungkan melanggar peraturan itu, sehingga oleh karenanya, biarpun di dalam hati ia sangat kepingin menonton, tetapi sesudah melihat beberapa kali, ia segera memutar badan dan berjalan pergi.

Di luar dugaan, baru satu dua tindak, ia telah dilihat In So So yang sambil menggapai-gapai, lantas saja berteriak , “Thio Ngoko, kemari!”

Coei San tahu, bahwa jika tidak menghampiri, ia bisa dicurigai sebagai orang yang benar sudah mencuri lihat latihan pedang itu. Maka itu, ia lantas saja mendekati seraya berkata , “Kedua Heng tay tengah berlatih dan tak pantas kita berdiam di sini lama-lama. Mari kita pergi ke tempat lain.”

Sebelum si nona keburu menjawab,mendadak berkelebat sinar pedang dan “brett !” pedang Chio tauw telah menggores lengan kiri Ko Cek Sang yang lantas saja mengucurkan darah.

Coei San terkejut, ia duga Chio Tauw kesalahan tangan. Tapi ia lebih kaget lagi, karena tanpa mengeluarkan sepatah kata dan dengan paras muka merah padam, Ko Cek Seng mengirim tiga serangan beruntun yang sangat hebat dan ditujukan ke arah bagian-bagian tubuh yang membinasakan. Sekarang baru ia tabu, bahwa kedua orang itu bukan berlatih, tapi sedang bertempur sungguan.

In So So tertawa dan berkata , “Dilihat begini, sang Soeko belum dapat menandingi si adik. menurut pendapatku ilmu Chio heng lebih unggul sedikit.”

Mendengar perkataan itu, sambil bergertak gigi, Ko Cek Seng memutar tubuh dan menyabet dengan pedangnya dalam pukulan Pek tiang hoe po (Air tumpah beratus tombak panjangnya). Pedang itu menyambar dari atas ke bawah, seolah-olah turunnya air tumpah. Dengan menggunakan seantero kelincahannya, Chio Tauw coba mundur ke belakang, tapi pedang Ko Cek Seng tiba-tiba berubah arah dan dengan satu suara “brett !,” ujung pedang mengenakan jitu di betis kirinya.

Si nona tertawa geli dan menepuk nepuk tangan.

“Aha ! Kalau begitu sang Soeheng mempunyai ilmu simpanan!” teriaknya “Kali ini Chio heng yang kalah.”

“Belum tentu !” bentak Chio Tauw dengan gusar sambil menyerang dengan pukulan Ie tehhoei hoa (Hujan menghantam bunga yang beterbangan). Pedangnya menyambar-nyambar dalam gerakan miring kadang-kadang diselingi dengan tikaman lurus. Sebagai murid Koen loen pay, Ko Cek Seng tentu saja paham dalam ilmu pedang itu dan tanpa sungkan-sungkan lagi iapun segera membuat serangan serangan membalas. Mereka berdua sudah sama-sama terluka dan biarpun tidak berbahaya, dalam pertempuran, darah mereka beterbangan kian kemari, sehingga muka, tangan dan pakaian mereka penuh dengan noda darah. Semakin lama mereka terus bertempur semakin sengit dan ahirnya mereka saling tikam mati-matian, seolah olah sedang berhadapan deagan musuh besar,

Di lain pihak, In So So saban-saban tertawa dan menepuk-nepuk tangan, sebentar ia memuji yang satu, sebentar memuji yang lain.

Sekarang Coei San mengerti, bahwa bertempurnya kedua saudara seperguruan itu adalah karena gara-gara si cantik, yang rupanva sudah menjalankan siasat adu domba, karena mendongkol atas ejekan mereka terhadap Pak bie kauw. Sesudah mengawasi beberapa lama, ia berpendapat, bahwa meskipun mereka cukup paham dalam ilmu pedang, perubahan-perubahan pedang masih kurang cepat den Lweekang merekapun masih belum cukup tinggi.

“Thio Ngoko,” kata si nona dengan suara gembira. “Bagaimana pendapatanmu dengan Kiang hoat Koen loan pay ?”

Coei San tidak menjawab. Ia mengerutkan alis seperti orang sebal. Melihat begitu, So So lantas saja berkata, “Sudahlah! Begitu-begitu juga. Aku pun sudah merasa sebal. Mari kita pergi ke situ untuk menikmati pemandangan langit.” Sehabis berkata begitu ia menarik tangan kiri Coei San dan berjalan pergi.

Jantung Coei San berdebar keras. Ia merasa tangan nya dicekal dengan tangan yang empuk halus, sedang hidungnya mengendus bebauan yang sangat wangi. Ia mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, So So sengaja ingin membangkitkan rasa cemburu dan geramnya kedua murid murid Koen loen pay itu. Karena merasa tak enak untuk melepaskan tangannya, tanpa menneluarkan sepatah kata, ia segera mengikuti.

Mereka berdiri di tepi laut sambil memandang air yang seakan-akan tiada batasnya. Beberapa saat kemudian, So So mendadak berkata, “Dalam kitab Congcoe di bagian Chioe soei pian terdapat kata-kata begini: ‘Air di kolong langit tak ada yang lebih besar dari pada lautan. Laksana sungai mengalir ke dalam laut. Entah kapan sungai-sungai itu berhenti mengalir dan tidak memenuhkan lautan. Tapi Sang laut sedikitpun tidak jadi sombong dan hanya berkata: Aku berada di antara langit dan bumi seperti juga sebutir batu atau satu pohon kecil yang tumbuh di sebelah gunung yang besar’. Setiap kali membaca kitab itu, aku mengagumi Cong coe (Chuang tze) tidak habisnya, karena dari tulisan-tulisan tersebut, ia sungguh-sungguh seorang berjiwa besar”

Mendengar perkataan si nona Coei San kaget. Ia merasa tak puas melihat cara-cara nona In yang sudah mencari kesenangan dengan mengadudombakan orang. Sedikitpun ia tidak nyana, bahwa memedi perempuan yang dapat membunuh manusia tanpa berkesip, dapat mengutip kata-kata dari kitab Cong coe.

Kitab Cong coe adalah sebuah kitab yang mesti dibaca dan dipelajari oleh murid-murid agama Too kauw. Waktu masih berguru di Boe tong sn, ia dan saudara-saudara seperguruannya sering sekali mendengar penjelasan-penjelasan Thio Sam Hong mengenai isi kitab itu.

Demikianlah dalam rasa kaget dan herannya, tanpa merasa ia segara berkata, “Benar. Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam.”

Mendengar Coei San mengutip kitab Congcoe untuk melukisan besarnya dan dalamnya lautan, sedang pada muka pemuda itu terlihat paras penuh penghormatan, si nona segera berkata , “Apakah kau ingat Soehoemu ?”

Coei San terkesiap, tanpa merasa ia mengangsurkan tangan kanannya dan mencekal tangan si nona yang satunya lagi. “Bagaimana kau tahu apa yang dipikir olahku?” tanyanya dengan suara heran.

Hal ini mempunyai latar belakang seperti berikut: Dulu waktu berada digunung Boe tong san, pada suatu hari ia bersama-sama Song Wan Kiauw dan Jie Thay Giam membaca kitab Congcoe. Sesudah membaca “Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam”, Jie Thay Giam berkata, “Dalam berguru dengan Soe hoe, semakin lama belajar, aku merasa semakin berbeda jauh dengan kepandaian beliau, seperti juga, sebaiknya daripada maju, kita mundur setiap hari menurut pendapatku, kata-kata Cong coe itu adalah yang paling tepat untuk melukiskan kepandaian Soehoe yang tak dapat diukur berapa dalamnya.”

Mendengar perkataan saudara itu, Wan Kiauw dan Coei San memanggut manggutkan kepalanya.

Itulah sebab musabab mengapa begitu mengutip kata-kata itu, ia lantas saja ingat gurunya yang tercinta.

“Dengan melihat paras mukamu, aku segera mengetahui, bahwa jika bukan ingat kedua orang tuamu, kau tentu ingat gurumu,” jawab si nona. “Oleh karena dalam dunia ini hanyalah Thio Sam Hong seorang yang surup untuk dilukiskan dengan perkataan itu, maka aku segera menduga pasti, bahwa yang diingat olehmu adalah Soehoemu.”

“Kau sungguh pintar,” kata Coai San dengan suara kagum. Sesaat itu, tiba-tiba ia sadar, bahwa kedua tangannya sedang mencekal kedua tangan si nona. Paras mukanya lantas saja berubah merah dan buru-buru ia melepaskannya.

“Apakah kau boleh memberitahukan kepadaku, berapa tingginya ilmu silat gurumu?” tanya So So.

Pemuda itu tidak lantas menjawab. Sesudah memikir sejenak baru ia berkata. “Ilmu silat adalah ilmu yang tidak begitu penting. Apa yang diajar dari beliau bukan terbatas pada ilmu silat saja. Hai! Luas dan dalam…entah bagaimana aku harus menceriterakannya.”

Si nona tersenyum seraya berkata, “Hoecoe bertindak, aku turut bertindak. Hoecoe berjalan, aku turut berjalan. Hoecoe lari aku turut lari. Tapi begitu lekas Hoecoe lari cepat, biarpun mengikuti sebisa-bisanya, aku tetap ketinggalan jauh” (Hoe coe berarti guru, tapi di sini dimaksudkan Khong coe atau Khongfusius).

Mendengar si nona mengutip kata-kata pujian Gan Hwee (murid Khongcoe) terhadap Khongcoe, Coei San lantas saja berkata, “Tapi guruku tak usah lari keras. Sekali ia berjalan atau lari pelan pelan, kami sudah tidak dapat mengikutinya.” Dari perkataan itu dapatlah diketahui, bahwa pemuda itu sangat memuja gurunya

Demikianlah, dengan duduk berendeng di atas sebuah batu besar, kedua orang muda itu merundingkan ilmu surat dan iimu silat secara panjang lebar dan mendalam.

Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi dan sangat cerdas, In So So selalu dapat menimpali Coei San dalam omong-omong itu.

Tiba-tiba terdengar suara tindakan dan batuk-batuk, disusul dengan suara orang, “Thio Siangkong, In Kouwnio, Ngo sie (tengah hari) sudah tiba. Harap kalian suka pergi ketempat perjamuan.”

Coei San menengok dan melihat Siang Kim Peng berdiri dalam jarak belasan tombak dan mengawasi mereka dengan bersenyum. Dari paras mukanya, ia kelihatan merasa kagum dan girang melihat dua sejoli yang setimpal itu. Menurut kebiasaan, In So So sombong dan kurang ajar jika berhadapan dengan orang-orang sebawahannya. Tapi kali ini, dengan muka kemerah-merahan ia menundukkan kepala.

Siang Kim Peng lantas saja memutar badan dan berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar.

“Aku jalan lebih dulu,” bisik si nona.

Coei San tak mengerti, tapi ia lantas saia mengangguk.

In So So lantas saja berlari-lari dan berjalan berandeng dengan Siang Kim Peng. “Bagaimana dengan kedua bocah tolol dari Koen loen itu ?” demikian terdengar pertanyaan si nona.

Coei San mengawasi mereka dengan perasaan sukar dilukiskan dan kemudian, sesudah mereka terpisah jauh, barulah ia mengikuti dengan tindakan perlahan.

Begitu tiba d imulut lembah, ia lihat tujuh delapan meja persegi di sebidang tanah lapang rumput. Kecuali meja utama di sebelah timur, semua meja sudah penuh orang.

Melihat kedatangan Coei San, Siang Kim Peng segera bangun berdiri dan berteriak dengan suara nyaring, “Thio Ngohiap dari Boe tong pay”. Hampir berbareng, Pek Kwie Sioe juga bangun dari tempat duduknya dan kemudian dengan masing-masing diikuti oleh lima orang Hio Coe kedua Tan coe itu meninggalkan meja perjamuan untuk menyambut tamu yang baru datang itu. Dua belas orang itu berdiri berjejer dikedua pinggir dan menyambut sambil membungkuk.

“Hian boe tan Pek Kwie Sioe dan Ciak tan Siang Kim Peng yang berada di bawab perintah In Kauw coe dan Peh bie kauw, menyambut kedatangan Thio Ngohiap!” seru Pek Kwie Sioe dengan suara nyaring, In So So sendiri tidak meninggalkan meja, tapi ia turut bangun sendiri.

Mendengar kata-kata “In Kauw coe.” hati Coei San berdebaran. “Kalau begitu, kepala agama Peh bie kauw benar seorang she In,” katanya di dalam hati. Segera ia menangkap kedua tangannya dan berkata, “Tak berani aku menerima kehormatan yang begitu besar.” Begitu datang dekat meja-meja perjamuan ia mendapat kenyataan, bahwa semua orang mengawasinya dengan paras mendongkol. Ia merasa heran, tapi tidak memperdulikan.

Yang menjadi sebab dari perasaan mendongkol itu adalah karena kedatangan pemimpin-pemimpin Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen hanya disambut oleh seorang Hio coe dan tidak mendapat kehormatan seperti yang didapat oleh jago Boe tong pay itu. Keruan saja mereka merasa dihina, tapi kejadian itu tidak diketahui Coei San.

Dengan sikap hormat Pek Kwie Sioe mengantarkan pemuda itu kemeja utama di sebelah timur dan mengundang supaya dia duduk di situ. Di meja itu, yang mempunyai kedudukan paling mulia, hanya terdapat sebuah kursi. Coei San menyapu seluruh gelanggang perjamuan dengan matanya dan ia mendapat kenyataan, bahwa di lain-lain meja berduduk tujuh delapan orang, hanya di meja keenam berduduk dua orang, yaitu Ko Cek Seng dan Chio Tauw.

“Aku yang rendah adalah seorang muda yang berkepandaian cetek,” katanya dengan suara nyaring. “Tidak berani aku duduk di meja utama itu.”

“Dalam Rimba Persilatan, Boe tong pay merupakan gunung Thay san atau bintang Pak tauw,” kata Pek Kwie Sioe. “Kalau Thio Ngohiap yang namanya menggetarkan seluruh negara tidak berani duduk, siapa lagi yang berani duduk di situ ?”

Tapi Coei San yang selalu diajar oleh gurunya untuk merendahkan diri, tetap menolak.

Sementara itu, Ko Cek Seng dan Chio Tauw saling memberi isyarat dengan lirikan mata. Tiba-tiba Chio Tauw mengangkat kursinya dan melontarkannya ke arah meja utama. Antara meja yang didudukinya dan meja utama itu terdapat lima belas meja lain. Dengan menggunakan Lweekarg yang tepat. kursi itu terbang di atas kepala para tamu dan hinggap di samping kursi utama.

Begitu lekas Chio Tauw memperlihatkan kepandaiannya, Ko Cek Seng segera berseru, “Huh huh ! Thaysan …Pak tauw ! Siapa yang mengangkat Boe tong pay menjadi Thaysan Pak tauw? Jika si orang se Thio tidak berani duduk di situ, biarlah kami berdua yang menggantikannya.” Bersama Soetee nya, ia segera melompat kemeja utama itu.

Bagaimana kedua saudara seperguruan jadi bertempur dan sesudah bertempur mati-matian, mereka akur kembali ?

Tadi, sesudah barkenalan, dalam kedongkolannya karena kedua pemuda itu sudah mengejek Peh bie kauw, In So So segera menanya siapa di antara mereka berdua yang ilmu pedangnya terlebih tinggi dan mengatakan, bahwa ia ingin sekali mempelajari beberapa pukulan dari Koenloen Kiamhoat. Kedua pemuda itu yang sudah dirubuhkan oleh kecantikan si nona, lantas saja menghunus pedang.

Semula mereka hanya ingin memperlihatkan keunggulan dalam sebuah latihan, tapi semakin lama mereka jadi semakin sengit dan ditambah dengan ejekan-ejekan So So, akhirnya mereka jadi bergempur mati-matian dan kedua-duanya terluka.

Belakangan, sesudah si nona dan Coei San meninggalkan mereka sambil bergandengan tangan, barulah mereka tersadar dan menghentikan pertempuran itu. Dengan rasa malu dan gusar, mereka membalut luka, tapi mereka tak berani mengunjuk kegusaran terang-terangan kepada nona In.

Demikianlah, mereka sekarang ingin merebut kursi yang ditawarkan kepada Coei San untuk menghina pemuda itu di hadapan orang banyak.

“Tahan!” bentak Siang Kim Peng sambil merentang tangannya.

Ko Cek Seng segera mengangkat tangannya untuk menotok jalan darah di lengan Kim Peng.

Tapi sebelum ia turun tangan, Coei San sudah mendahului berkata, “Jie wie berdua memang paling cocok duduk di sini,” kata Coei San. “Biarlah aku duduk di situ.” Sambil berkata begitu, ia berjalan kemeja keenam.

“Thio Ngoko, kemari! ” seru In So So sambil menggapai.

Coei San segera mendekati, karena menduga si nona ingin berbicara dengannya. Tapi diluar dugaan, So So menarik sebuah kursi dan menaruhnya di samping kursinya. “Kau duduk di sini saja.” katanya sambil tersenyum.

Coei San jengah bukan main dan untuk sejenak ia tak tahu harus berbuat bagaimana. Kalau duduk di situ, ia merasa malu. Kalau menolak, penolakan itu merupakan hinaan besar untuk si nona.

“Aku ingin bicara denganmu,” bisik SoSo.

Melihat sorot mata memohon dari si nona, Coei San merasa tak tega untuk menolak dan lantas saja duduk dikursi itu. Nona In jadi sangat girang dan sambil bersenyum-senyum, ia menuang secawan arak.

Di lain pihak melihat duduknya Coei San di samping nona In, walaupun sudah berhasil merebut kedudukan utama, Kok Cek Seng dan Chio Tauw jadi semakin medongkol. Pada sebelum mereka duduk di kedua kursi itu, Pek Kwie Sioe menyelak dan mengebut-ngebut kursi itu dengan menggunakan tangan bajunya. “Memang pantas Taykiamkek dari Koen loen pay duduk di kursi utama,” katanya sambil tertawa. “Duduklah.” Sehabis berkata begitu, dengan bersama Siang Kim Peng dan sepuluh Hio coe, ia segera kembali ke tempat duduknya.

Dengan anggapan bahwa mereka sudah berhasil menindih lawannya, Ko Cek Seng dan Chio Tauw segera duduk di kedua kursi itu. Tapi berbareng dengan suara “krekek”, kaki kursi patah dan mereka rubuh terjengkang. Untung juga, sebagai ahli-ahli silat, begitu rubuh, begitu mereka melompat bangun. Tak usah dikatakan lagi, mereka malu bukan main, lebih-lebih karena para hadirin tertawa terbahak-bahak. Ko Cek Seng mengerti, bahwa patahnya kaki kursi adalah karena perbuatan Pek Kwie Sioe yang mengerahkan Lwee-kang pada waktu mengebut-ngebut dengan tangan bajunya. Ia yakin, siorang she Pek telah menggunakan tenaga Im kin (tenaga dingin) yang tidak dipunyakan olehnya sendiri.

Ia adalah seorang yang sombong dan sama sekali tidak memandang mata kepada Peh bie kauw yang dianggapnya sebagai agama menyeleweng. Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa dalam Peh bie kauw terdapat orang yang berkepandaian sedemikian tinggi.

Sementara itu, dengan suara tawar Pek Kwie Sioe berkata pula, “Semua orang tahu, bahwa ilmu silat Koen loen pay lihai luar biasa. Akan tetapi, janganlah Jie wie menumplek hawa marah kepada kursi itu. Ilmu yang barusan diperlihatkan Jie wie, aku yakin dimiliki oleh semua orang yang hadir di sini.” Ia menuding kepada sepuluh orang Hiocoe yang duduk di meja paling ujung, Hampir ber bareng, diiringi dengan suara “krekek-krekek”, sepuluh kursi patah kakinya dan sepuluh Hio coe itu bangun berdiri dengan sikap tenang.

Sekali lagi para hadirin bersorak-sorai, sedang paras muka kedua jago Koen loen pay jadi pucat bagaikan mayat.

Di antara sorakan tiba-tiba dua orang Hio coe menghampiri meja utama dengan masing-masing mendukung sebuah batu besar. “Kursi kayu tidak cukup kuat untuk diduduki oleh kalian,” kata satu antaranya “Jie wie duduklah dibatu ini”

Kedua Hio coe itu adalah orang kuat dalam Peh bie kauw. Ilmu silat mereka biasa saja, tapi mereka memiliki tenaga yang luar biasa.

Ko Cek Seng dan Chio Tauw kaget bukan main. Meskipun mereka berkepandaian tinggi ilmu ilmu pedang, mereka merasa tak sanggup menyambuti batu yang beratnya kira-kira tujuh ratus kati itu, “Taruhlah.” kata Ko Cek Seng.

“Huh!’ kedua orang kuat itu mengerahkan tenaganya dan mengangkat tinggi-tinggi kedua batu itu. “Sambutlah !” kata mereka.

Kedua jago Koenloen itu terkesiap. Dengan serentak mereka melompat ke belakang.

“Jika Jie wie Koenloen Kiam kek tak mau duduk di meja utama, biarlah Thio Siang ong saja yang duduk di situ,” kata Pek Kwie Sioe.

Mendengar perkataan itu, Coei San yang sedang kelelap dalam lautan asmara mendadak tersadar. “Celaka!” ia mengeluh. “Tak boleh aku membiarkan diriku dijatuhkan oleh memedi perempuan ini,” Ia lantas saja bangun berdiri dan menghampiri meja utama.

Dalam mengundang Coei San untuk duduk di meja utama, Pek Kwie Sioa beminat menjajal kepandaian pemuda itu, yang dipuji tinggi oleh Siang Kim Pang, tapi belum disaksikan olehnya sendiri. Maka itu, begitu lekas Coei San menghampiri, ia segera memberi isyarat kepada kedua Hio coe itu dengan lirikan mata.

“Thio Siangkoan, hati-hati!” teriak kedua Hio coe itu waktu Coei San sudah datang cukup dekat dan sambil membentak keras, dengan berbareng mereka melontarkan kedua batu itu yang lantas saja terbang ke kepala Coei San.

Semua hadirin terkesiap dan serentak mereka bangun berdiri. Di lain pihak, melihat terbangnya kedua batu besar itu, Pek Kwie Sioe yang hanya ingin mencoba kepandaian pemuda itu dan pada hakekatnya tidak mempunyai maksud kurang baik, lantas saja merasa menyesal, tercampur takut. Ia yakin, bahwa sebagai seorang ahli silat, pemuda itu masih dapat menyelamatkan diri dengan melompat mundur. Akan tetapi, kejadian itu adalah kejadian yang sangat memalukan, sehingga bukan saja Coei San, tapi In So So pun bisa menjadi gusar.

Sebagai seorang kejam, sesaat itu juga ia sudah mengambil keputusan, bahwa ia akan menumplek semua kesalahan di atas pundak kedua Hio coe itu dan jika perlu, ia akan membinasakan mereka supaya bisa meloloskan diri dari kegusaran nona In.

Melihat menyambarnya batu, Coei San pun terkejut. Jika ia melompat mundur, seperti Ko Cek Sang dan Chia Tauw, ia merasa sangat malu karena hal ini sangat menurutnkan pamornya Boe tong pay. Pada detik yang sangat genting, ia tak sempat memikir panjang-panjang lagi. Pada saat berbahaya, semua tenaga dan ilmu dari seorang yang pandai silat bisa keluar secara wajar.

Demikianlah, tanpa dipikir lagi, tangan kirinya mengebas ke kanan batu yang menyambar dari sebelah kiri dengan pukulan huruf “boe” (persilatan) sedang tangan kanannya mengebas ke kiri batu yang menyambar dari sebelah kanan. Seperti telah dikatakan, berat setiap batu tak kurang dari tujuh ratus kati, sehingga, ditambah dengan tenaga jatuhnya dari atas ke bawah, maka tenaga menindih dari setiap batu tidak kurang dari seribu kati.

Dalam mempelajari ilmu silat, Coei San belum pernah mengutamakan latihan untuk memperbesar tenaga, sehingga jika diukur dengan tenaga yang dimilikinya, ia pasti tak akan dapat menyambuti kedua batu itu. Akan tetapi, ilmu silat Tnio Sam Hong yang berdasarkan Soe hoat adalah ilmu silat yang sangat luar biasa.

Pada hakekatnya, ilmu silat dari Boe tong pay tidak mengutamakan tenaga atau kecepatan memukul. Yang dipelajari ialah ilmu mengeluarkan tenaga pada saat yang tepat dengan gerakan dan kekuatan tenaga yang tepat pula. Pada jaman belakangan, dalam kitab Thay kek Koen keng, Ong Cong Gak, seorang ahli Boe tong pay telah menyebutkan pukulan Sie nio Po cian kin (tenaga empat tahil melontarkan barang yang beratnya ribuan kati). Dengan lain perkataan, jika tenaga yang dikirim sesuai dengan “peraturan”, maka tenaga empat tahil akan dapat melontarkan barang yang beratnya ribuan kati.

Demikianlah dengan menggunakan ilmu silat yang paling tinggi dari gurunya, Coei San berhasil melontarkan kedua batu besar itu yang menyambar kepalanya

Apa yang telab mengejutkan para hadirin ialah ia seolah-olah melemparkan kedua batu itu dengan tangan bajunya, karena kedua tangannya bersembunyi di dalam tangan baju yang besar. Kejadian itu adalah sedemikian mengejutkan, sehingga semua orang hanya mengawasi dengan mulut terngaga dan lupa untuk bersorak sorai lagi.

Di lain saat, kedua batu itu melayang turun ke muka bumi, yang satu lebih tinggi, yang lain lebih rendah. Dengan sekali menotol kakinya di tanah, badan Coei San meleset ke atas dan ia lalu bersila di atas batu yang lebih tinggi. Dengan suara gedubrakan hebat, sehingga bumi tergetar, batu pertama ambruk dibumi dan separuhnya amblas di dalam tanah dan di lain detik, batu kedua jatuh tepat di atas batu pertama dan waktu kedua batu itu beradu, lelatu api muncrat ke atas.

Dengan paras tenang, Coei San tetap duduk di batu yang sebelah atas. “Tenaga kedua Hio coe sungguh besar.” katanya sambil bersenyum. “Aku merasa kagum dan takluk.” Tapi kedua Hio coe itu masih tetap mengawasi dengan mata membelalak, tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata.

Beberapa saat kemudian, di lembah yang sunyi itu barulah bergema sorak sorai gegap gempita.

In So So mengawasi Pek Kwie Sie dengan mata melotot, tapi paras mukanya berseri-seri. Sekarang Pek Kwie Sie kegirangan. Ia mengerti, bahwa ke cerobohannya yang hampir-hampir menerbitkan onar, berbalik merupakan keuntungan bagi dirinya.

Sesudah menuang secawan arak, ia segera menghampiri Thio Coei Sin dan berkata dengan suara nyaring, “Sudah lama kami mendengar nama besar Boe tong Cit hiap, tapi baru sekarang kami melihat kepandaian Thio Ngohiap. Betapa besar rasa kagum kami tak dapat dilukislan lagi. Izinkan siauwjin memberi selamat kepada Thio Siang kong dengan secawan arak ini.” Sehabis berkata begitu, ia minum kering arak itu.

Coei San lantas saja turut minum dan menjawab dengan kata-kata merendahkan diri.

Tiba-tiba dari meja Kie keng pang bangun berdiri seorang lelaki yang mengenakan baju kuning. “Menurut pendapatku, ilmu silat Thio Ngohiap yang sangat tinggi adalah soal kedua.” teriaknya. “Yang paling mengagumi adalah hatinya yang mulia, berbeda jauh dengan manusia manusia rendah yang barhati jahat dan biasa menggunakan siasat busuk. Aku juga ingin memberi selamat kepada Thio Ngohiap dengan secawan arak.” Sehabis berkata begitu, ia minum kering secawan arak yang dipegangnya.

Orang itu bukan lain daripada Bek Siauw pangcoe yang kemarin telah ditolong dengan perahu Siang Kim Pang atas permintaan Coei San. Sambil membungkuk pemuda itu mengangkat cawan araknya seraya berkata, “Tak berani aku menerima pujian yang begitu tinggi. Aku pun ingin balas memberi hormat kepada Bek Siauw pangcoe dengan secawan arak ini.” ia hirup araknya sampai kering.

Sesudah suasana berubah tenang kembali, perlahan-lahan Pek Kwie Sioe bangun berdiri dan berkata dengan suara nyaring , “Belum lama berselang, agama kami telah mendapatkan golok mustika yang dikenal sebagai To liong to…Mengenai golok itu, dalam Rimba Persilatan tersiar kata kata yang, seperti berikut : Boelim cie-coen, poto To Liong, hauw leng thian hee, boh kam poet-ciong!” Berkata sampai di situ, ia berhenti sejenak dan kedua matanya yang bersinar terang menyapu para hadirin.

“Sesudah memperoleh golok mustika itu, In Kauw coe dari agama kami sebenarnya ingin mengundang orang-orang di kolong langit untuk mengadakan sebuah pertemuan besar di gunung Heng San guna memperlibatkan golok itu kepada dunia,” katanya pula. “Akan tetapi menghimpun pertemuan besar itu meminta banyak tenaga dan tempo sehingga oleh karenanya pemimpin kami telah mengambil keputusan untuk mengundang saja kalian yang berada di tempat-tempat yang berdekatan supaya kalian dapat turut melihat macamnya golok mustika itu.” Sehabis berkata begitu, ia mengebas tangannya dan delapan orang murid Peh bie kauw lantas saja bangun berdiri dan berjalan menuju ke sebuah gua yang terletak di sebelah barat.

Semua mata mengawasi delapan orang itu yang mendapat tugas untuk mengambil To liongto. Tapi waktu mereka keluar lagi, yang dibawa mereka, bukan golok, tapi satu hanglo (tempat perapian) besi yang sangat besar dengan api yang berkobarkobar. Mereka memikulnya dengan menggunakan pikulan kayu yang sangat panjang dan dengan napas tersengal-sengal, meraka menaruh hanglo itu di tengah-tengah lapangan. Di belakang mereka mengikuti empat orang, dua menggotong sebuah bantalan besi dan dua orang lagi masing-masing membawa sebuah martil raksasa

“Siang Tan coe,” kata Pek Kwie Sioe, “harap kau suka memperhatikan golok mustika itu untuk menetapkan keangkeran!”

“Baiklah.” kata Siang Kim Peng sambil berpaling dan berkata kepada Hio coe yang tadi melontarkan batu kepada Coei San, “Ambil golok mustika itu !”

Mereka lantas saja masuk ke dalam gua dan keluar lagi dengan seorang menyangga sebuah bungkusan sutera kuning dengan kedua tangannya, sedang seorang lain melindungi di sampingnya. Hio coe itu lalu menyerahkan bungkusan tersebut kepada Siang Kim Peng dan kemudian berdiri di kiri kanannya. Dengan sikap hormat, Siang Kim Peng lalu membuka bungkusan yang di dalamnya berisi sebatang golok. Dengan kedua tangan ia mengangkat tinggi-tinggi golok itu yang kemudian dihunusnya. “Golok ini adalah To liong to yang sangat dihormati dalam Rimba Persilatan!” teriaknya. “Kalian boleh melihatnya dengan teliti.”

Nama besar To liong to sudah lama dikenal dalam dunia Kang ouw. Akan tetapi, melihat macamnya golok itu yang biasa saja dan warnanya kehitam-hitaman, semua orang menjadi sangsi. Apa benar golok itu To liong to yang dikagumi dalam Rimba Persilatan ?

Perlahan-lahan Siang Kim Peng turunkan golok itu dan menyerahkannya kepada Hio coe yang berdiri di sebelah dirinya. “Gunakanlah martil!” ia merintah.

Hio coe itu lalu menyambuti golok tersebut yang lalu ditaruh di atas bantalan besi dengan mata golok menghadap ke atas Hio coe yang di sebelah kanan segera mengangkat martil dan menghantam nya ke mata golok.

“Trang!” dan.., “loh!” Kepala martil terpapas putus jadi dua potong. Separuh jatuh ditanah dan separuh lagi masih menempel digagang martil

Itulah kejadian yang sungguh luar biasa. Semua orang terkesiap dan dengan serentak mereka bangun berdiri. Bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat senjata mustika yang dapat memapas baja atau emas, bukan kejadian langka.

Tapi senjata yang dapat memapas besi yang begitu besar seperti memapas tahu, benar-benar belum pernah didengar mereka. Seorang dari Sin koen boen dan seorang dari Kie keng pang segera menghampiri bantalan besi itu dan menjemput potongan martil yang jatuh di tanah. Ternyata, bagian yang terpapas berkilat-kilat, sebagai tanda baru saja dipapasnya.

Sementara itu, dua orang Hio coe yang lain sudah mengangkat martil yang satunya lagi yang lalu dihantamkan ke mata golok. Seperti juga tadi, dengan mengeluarkan suara “tring”, kepala martil terpapas pula.

Kali ini semplaknya martil itu disambut dengan tampik sorak riuh.

Perlahan-lahan Siang Kim Peng mendekati bantalan besi itu dan mengangkat To liong to. Kemudian, dengan gerakan To pek Hwa san (Menghantam gunung Hwa san), ia membabat bantalan besi itu yang lantas saja kutung dua. Sesudah itu, sambil menenteng golok, ia berjalan ke sebelah barat dan dengan kecepatan kilat, menjambret dahan satu pohon siong tua dengan golok itu. Dengan beruntun-runtun, ia membabat delapan belas pohon siong.

Para hadirn merasa sangat heran, karena meskipun terang-terangan sudah dibabat putus, pohon-pohon itu masih tetap berdiri tegak.

Pek Kwie Sioe tertawa nyaring dan dengan tangan bajunya, ia mengebas pohon yang pertama. Dengan suara gedubrakan, pohon itu sebatas yang telah terbacok, rubuh di atas tanah. Teryata, memang dengan sekali membabat saja, dahan pohon itu sudah menjadi putus. Tapi karena To liong to tajam luar biasa, maka biarpun dahannya putus pohon itu masih tetap berdiri dan barulah tumbang sesudah didorong oleh Pek Kwie Sioe. Sesudah merubuhkan pohon pertama, Pek Tan coe lalu mengebas pohon-pohon lainnya yang juga lantas saja rubuh dengan mengeluarkan suara keras.

Sesudah itu, sambil tertawa terbahak-bahak Pek Kwie Sioe mengambil To liong to dari tangan Siang Kim Peng dan lalu memasukkannya ke dalam hanglo yang apinya sedang berkobar-kobar.

Pada waktu pohon-pohon sedang rubuh dikebas Pek Kwie Sioe, tiba-tiba di sebelah kejauhan terdengar suara “peletak peletok” dan gedubrakan yang beruntun-runtun, seperti juga seorang lain sedang merubuhkan lain-lain pohon. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng terkejut dan mereka segera mengawasi ke arah suara itu. Mereka jadi lebih kaget lagi, karena teryata, bahwa tiang-tiang dari perahu perahu yang berlabuh dipantai, rubuh satu demi satu. Pada tiang-tiang itu tergantung bendera bendera Peh bie kauw, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boen. Semua orang lantas saja turut memandang ke arah itu. Keruaan saja mereka jadi gusar bukan main dan beberapa pemimpin, dengan mengajak sejumlah orang sebawahannya, lantas saja berlari-lari kepantai untuk me nyelidiki.

Mendadak, jago-jago yang berkumpul di lapangan itu melihat lain perubaban yang lebih mengagetkan. Satu demi satu, perahu mereka mulai tenggelam. Rombongan kedua, yang terdiri dari beberapa partai, lantas saja menyusul kepantai. Jarak antara pelabuhan dan lapangan rumput itu tidak terlalu jaub, tapi rombongan penyelidik pertama, yang terdiri dari belasan orang, tidak kelihatan balik kembali.

Semua orang saling mengawasi dengan perasaan sangsi. Sambil menengok kepada seorang Hio coe Pek Kwie Sioe berkata, “Coba kau pergi lihat.” Sesudah orang itu pergi, dengan sikap tenang yang di buat-buat, ia berkata pula, “Mungkin sekali dilautan terjadi perubahan luar biasa, Tuan-tuan tak usah terlalu berkuatir. Andaikata semua perahu rusak, kita masih bisa pulang dengan getek-getek kayu. Mari! Keringkan cawan !”

Walaupun hati mereka bergoncang keras, tapi supaya tidak dikatakan bernyali kecil, jago-jago itu terpaksa mengangkat juga cawan mereka. Tetapi baru saja cawan menempel di bibir, tiba-tiba terdengar teriakan menyayatkan hati, seperti juga jeritan orang yang melompat bangun dengan paras muka pucat. Mereka itu rata-rata manusia-manusia, yang sudah biasa membunuh sesama manusia. Tapi sekarang mereka jadi ketakutan karena terjadinya perkembangan luar biasa dan suara jeritan itu yang sangat menyeramkan. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng segera mengenali, bahwa itulah teriakan Hio coe yang barusan diperintah pergi menyelidiki. Di lain saat, sekonyong-konyong terdengar bunyi tindakkan kaki dan seorang yang bagaikan mandi darah mendatangi de gan berlari lari. Orang itu bukan lain dari pada Hio coe tadi.

Dengan kedua tangsnnya, ia menekap mukanya yang bercucuran darah, kulit kepalanya terbeset, pakaiannya robek-robek dan berlepotan darah. Begitu berhadapan dengan suara bergemetar ia berkata, “Kim mo Say ong!Kim mo Say ong…” (Kim mo Say ong ‘Raja singa bulu emas).

“Singa?” menegas Pek Kwie Sioe dengan hati lebih lega karena menduga, bahwa yang menyerang adalah seekor binatang buas.

“Bukan…bukan…” jawab Hio coe itu, “Manusia, bukan, bukan singa. Semua orang dicakar sampai mati…semua perahu tenggelam !”

Sehabis berkata begitu, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan rubuh binasa di atas tanah “Coba aku yang menyelidiki,” kata Pek Kwie Sie.

“Aku ikut,” kata Siang Kim Peng.

“Tidak, kau harus melindungi In Kouwnio,” cegah Pek Kwie Sioe, yang mengerti bahwa sekarang ia sedang menghadapi lawan yang sangat tangguh. Hio coe yang tadi diperintah pergi menyelidiki, adalah salah seorang yang ilmu silatnya paling tinggi dalam kalangan Pek bie kauw. Bahwa dia telah dibinasakan secara begitu mudah, merupakan suatu tanda, bahwa pihak lawan adalah seorang yang lihai bukan main.

Siang Kim Peng tidak membantah lagi dan sambil mengangguk, ia menjawab “Ya.”

Mendadak terdengar suara batuk-batuk, diikuti dengan suara bicaranya seorang , “Kim mo Say ong sudah berada di sini!”

Semua orang terkejut dan menengok ke sana tapi mereka tak melihat bayangan manusia lain. Di mana orang itu bersembunyi ?

Mendadak terdengar pula suara itu, “Tolol! Sungguh tolol!” Cacian itu disusul dengan terbayangnya sebuah batu besar dan satu manusia melompat keluar dari lubang di bawah batu. Ternyata, siang-siang ia sudah bersembunyi di belakang pohon dan kemudian, dengan menggali tanah, ia masuk ke dalam lubang yang dibuatnya di bawah sebuah batu besar.

Bukan main kagetnya semua orang, tidak terkecuali In So So, yang sambil mengeluarkan seruan “ah!” lari mendekati Thio Coei San.

Badan orang itu tinggi besar luar biasa, kira-kira lebih tinggi satu kaki dari manusia biasa. Rambutnya yang berwama kuning terurai di pundaknya sedang kedua matanya yang bersinar hijau bersorot tajam seperti pisau.

Dalam tangannya, is mencekal sebatang toya Long gee pang yang panjangnya satu tombak tujuh kaki. Dengan tubuhnya yang seperti raksasa. Ia berdiri di antara meja-meja perjamuan bagaikan satu malaikat.

“Kim mo Say ong?” Coei San tanya dirinya sendiri. “Siapa dia ? Aku belum pemah mendengar nama begitu, baik dari Soehoe, maupun dari lautan.”

Ia mendapat kenyataan, bahwa orang itu mengenakan jubab panjang yang terbuat dari macam-macam kulit binatang, seperti kulit harimau, kulit macan tutul, kulit kerbau, manjangan, biruang. anjing ajak, rase dan sebagainya. Sepotong demi sepotong kulit-kulit itu dijahit satu pada lainnya dan dilihat dari buatannya yang sangat halus, tukang yang membuatnya bukan sembarang tukang. Antara begitu banyak binatang, hanya kulit singa saja yang tidak terdapat pada pakaiannya itu.

Coei San menduga, bahwa orang itu sangat menghormati binatang singa, sehingga ia menggunakan nama binatang itu sebagai gelarnya. Long gee pang atau toya gigi anjing ajak, yang dicekal oleh orang itupun lain daripada yang lain. Menurut kebiasaan, paku-paku yang merupakan gigi anjing (ajak), hanya dipasang pada satu ujung dari Long gee pang. Tapi toya yang dicekal orang bukan saja panjang dan besar luar biasa, tapi juga dipasang paku-paku pada kedua ujungnya, sedang warna toya keemas-emasan, tapi bukan terbuat daripada emas.

Sesudah dapat menenteramkan hatinya yang berdebaran, Pek Kwie Sioe maju setindak seraya bertanya , “Apakah aku boleh mengetahui she dan nama tuan yang mulia ?”

“Aku she Cia, bernama Soen, alias Twie Soe,” jawabnya. “di samping itu aku juga mempunyai satu gelaran, yaitu Kim mo Say ong.”

Coei San dan So So saling melirik. Mereka sependapat, bahwa walaupun ganas, orang itu mempunyai nama dan gelar seperti seorang sasterawan.

Mendengar jawaban yang pantas, hati Pek Kwie Sioe jadi lebih lega. “Oh, kalau begitu, aku sedang berhadapan dengan Cia Sianseng,” katanya sambil membungkuk.

“Sebegitu jauh yarg diketahui olehku, Sianseng dan kami sama sekali belum pemah berurusan, malah belum pernah mengenal satu sama lain. Tapi mengapa, begitu tiba Sianseng segera merusak perahu dan membunuh orang !”

Cia Soen tersenyum dan memperlihatkan dua baris giginya yang putih dan berkilat. “Perlu apa tuan-tuan berkumpul di tempat ini?” ia balas menanya.

Pak Kwie Sioe merasa, bahwa ia tidak dapat berdusta terhadap orang yang lihai itu. Dalam perhitungannya, biarpun ia tahu orang itu bekepandaian tinggi, tapi karena dia hanya seorang diri, ia tidak begitu keder. Ia menganggap bahwa dengan Siang Kim Peng, Thio Coei San dan In So So, biar bagaimanapun juga, pihaknya akan dapat menjatuhkan lawan tunggal itu. Memikir begitu, ia lantas saja menjawab dengan suara nyaring, “Belum lama berselang Peh bie kauw telah mendapat sebilah golok mustika dan sekarang kami mengumpulkan sahabat-sahabat dalam dunia Kang ouw untuk menyaksikan golok tersebut.”

Cia Soon menengok kehanglo yang apinya sedang berkobar-kobar dan membakar sebilah golok berwama hitam. Melihat api yang begitu hebat, tapi golok itu sedikitpun tidak bergeming, ia tabu, bahwa golok itu benar-benar senjata mustika. Dengan tindakan lebar ia mendekat dan mengangsurkan tangan untuk mencekal gagang golok.

“Tahan!” bentak Siang Kim Peng.

Cia Soen menengok. “Mengapa?” tanyanya sambil tersenyum tawar.

“Golok itu adalah milik agama kami,” jawabnya. “Sababat, kau hanya boleh melihat dari jauh tidak boleh mendekatinya ”

“Milikmu?” menegas Cia Soen. “Apa golok itu dibuat olehmu atau dibeli olehmu?”

Siang Kim Peng tergagap, tak dapat ia menjawab pertanyaan itu.

“Pihakmu mengambilnya dari tangan orang lain dan sekarang aku mengambilnya dari tangan kamu,” kata pula Cia Soen “Hal itu cukup adil, mengapa tidak boleh?” Sehabis berkata begitu, ia kembali memutar badan dan mengangsurkan tangannya untuk mencekal gagang To liong to.

Berbareng dengan suara berkerincing rantai Siang Kim Peng mengeluarkan senjata semangka dari pinggangnya.

“Sahabat!” bentaknya. “Jika kau tidak meladeni, aku terpaksa berlaku kurang sopan terhadapmu.” Dalam kata-katanya ia baru memberi peringatan, tapi sebenarnya berbareng dengan perkataannya itu “semangka” yang di tangan kirinya sudah menyambar punggung Cia Soen.

Tanpa memutar badan atau menengok, Cia Soen menyodok ke belakang dengan toyanya. Benturan antara Long gee pang dan ‘semangka’ itu menerbitkan suara yang sangat hebat dan semangka besi itu hancur jadi tujuh delapan potong yang melesat ke sana-sini. Hampir berbareng badan Siang Kim Peng bergoyang-goyang dan sudah muntahkan darah, ia rubuh berguling tanpa beryawa lagi.

Ternyata Siang Kim Peng telah dibinasakan dengan tenaga Lweekang yang menyerang dari Long gee pang lewat semangka besi itu ke tubuhnya. Jika orang tahu betapa tinggi kepandaian Siangg Kim Peng, dapatlah ia membayangkan hebatnya Lweekang orang she Cia itu.

Lima Hio coe Coe ciak tan menecelos hatinya. Dengan serentak mereka melompat maju, dua menubruk pemimpin mereka, sedang tiga yang lain, tanpa memperdulikan segala apa, segera menghunus golok dan menerjang musuh.

Sesudah mengambil To liong to, dengan menggunakan Long gee pang Cia Soen menyontek hanglo besi itu yang lantas saja terbang ke atas dan jatuh menghantam tubuh ketiga Hio coe itu. Karena tenaganya belum habis, hanglo itu menggelinding terus dan menghantam pula kedua Hio coe yang sedang coba membangunkan Siang Kim peng. Dalam sekejap, pakaian lima Hio coe dan mayat Siang Kim Peng, berkobar-kobar. Empat Hio coe mati di situ juga, sedang yang satu menjerit-jerit kesakitan.

Siapakah yang tidak menjadi gentar sesudah melihat kejadian yang sangat hebat itu?

Meskipun masih berusia muda, Coei San sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw dan sudah pernah bertemu dengan banyak sekali orang pandai. Tapi manusia yang kepandaiannya setinggi Cia Soen, belum pemah ditemuinya. Diam-diam ia mengakui, bahwa kepandaiannya masih kalah jauh. Ia mengakui, bahwa di antara saudara-saudara seperguruannya, tak satupun yang dapat menandingi orang itu, bahkan Boe tong Cit hiap, tujuh pendekar Boetong, bersama-sama belum tentu bisa memperoleh kemenangan. Menurut taksirannya, adalah gurunya seorang yang dapat meladeni Cia Soen.

Sementara itu, dengan jarinya Cia Soen menyentil To liong to yang mengeluarkan suara aneh, seperti suara tersentuhnya emas, tapi bukan emas, seperti kayu tapi bukan kayu. Ia manggut-manggutkan kepalanya seraya berkata dengan suara perlahan , “Tak ada suara, tak ada warna, Benar-benar golok mustika.”

Sesudah itu, ia mengawasi sebuah sarung golok yang terletak dimeja, di dekat tempat berdirinya Pek Kwie Sioe. “Apa itu sarung To long to?” tanyanya, “Bawa kemari.”

Pek Kwie Sioe mengerti, bahwa sepuluh sembilan jiwanya bakal melayang. Jika ia menurut dan menyerahkan sarung golok itu, habislah nama baiknya yang sudah dipertahankan selama puluhan tahun. Di samping itu, jika di kemudian hari Kauw coe menyelidiki peristiwa tersebut, ia pasti akan binasa dalam tangannya pemimpin tersebut. Tapi di lain pihak, jika membangkang, ia juga bakalan mati. Maka itu, sesudab memikir sejenak, ia lantas saja berkata, “Jika kau ingin membunuh aka, bunuhlah! Aku siorang she Pek, bukan manusia yang takut mati.”

Cia Soen bersenyum, “Keras kepala! Manusia keras kepala!” katanya. “Dalam Peh bie kauw teryata terdapat orang-orang yang mempunyai nyali.” Tiba-tiba ia mengayun tangan kirinya dan To liong to menyambar ke arah Pek Kwie Sioe, Begitu golok menyambar, Pek Kwie Sioe, yang tidak berani menyambuti, lantas saja berkelit ke samping. Tapi di luar dugaan, waktu mendekati
meja mendadak golok itu terbang rendah dan “srok!”, masuk tepat kedalam sarungnya!

Yang lebih aneh lagi, golok yang sudah bersarung itu terbang balik dan dengan sekali menyontek dengan Long gee pang, Cia Soen sudah mencekel lagi golok itu yang bersama-sama sarungnya lantas saja diselipkan dipinggangnya !

Pertunjukan aneh itu, yang hanya dapat diperlihatkan oleh seseorang yang Lweekangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, benar-benar menakjubkan.

Sesudah itu, sambil menyapu para hadirin dengan matanya yang sangat tajam, ia berkata, “Apakah tuan-tuan mempunyai pendapat lain mengenai keinginanku untuk memiliki golok mustika ini?”

Sesudah ia mengulagi pertanyaannya dua kali, tiba-tiba seorang yang duduk di meja Hay see pay duduk berdiri dan berkata “Cia Cianpwe adalah seorang yang mulia dan tersohor di empat lautan. Golok mustika itu memang pantasnya dimiliki oeh Cia Cianpee dan kami semua merasa sangat setuju.”

“Apakah tuan Cong to ceo?, (pemimpin besar) dari Hay see pay yang bernama Goan Kong Po?” tanya Cia Soen.

“Benar,” jawabnya. Ia merasa girang dan heran mendengar pertanyaan itu. Bagaimana Cia Soen bisa mengenal she dan namanya ?

“Apa kau tahu siapa guruku ?” tanya pula Cia Soen “Apa kau tahu dari partai mana ? Perbuatan mulia apakah yang pernah dilakukan olehku ?”

Goan Kong Po tergugu. “Aku…aku …” jawabnya terputus putus. Ia sebenarnya tidak pernah mangenal Cia Soen dan kata katanya yang barusan hanyalah untuk mengumpak-umpak.

“Sedang kau tidak mengenal aku, bagaimanakau tahu aku sangat mulia dan tersohor di empat lautan?” tanya Cia Soan dengan suara memandang rendah. “Golok ini dulu dimiliki oleh Hay see pay, kemudian direbut oleh Tiang pek Sam-kim dan lalu jatuh ke dalam tangan Jie Thay Giam dari Boo tong pay …”

Mendengar perkataan “Jatuh ke dalam tangan Jie Thay Giam dari Bo tong pay” membuat jantung Coei Sin memukul keras. Baru sekarang ia tahu, bahwa golok itu mempunyai sangkut usut dengan Samkonya.

Sementara itu Cia Soen bicara terus, “Dengan diam-diam turunkan tangan beracun, Peh bie kauw merampas golok ini dari tangan Jie Thay Giam. Huh huh! Sesudah merasa, bahwa Hay see pay tidak mempunyai kesempatan lagi untuk merebut pulang To liong to, kau segera mengeluarkan kata-kata merdu untuk mengumpak umpak aku. Kau adalah penjilat yang tak mengenal malu dan selama hidup, aku paling benci bangsa penjilat. Kemari!” Waktu mengucapkan kata-kata paling belakang, suaranya nyaring bagaikan geledek dan menusuk kuping.

Goan Kong Po yang sudah hancur nyalinya tidak berani membangkang. Dengan tindakan limbung, ia menghampiri dan waktu sudah berhadapan dengan Cia Soen, kedua kakinya bergemetaran.

Sementara itu, hati Coei San berdebaran dan darahnya bergolak-golak. Waktu melirik In So So, ia mendapat kenyataan paras muka si nona pucat bagaikan kertas.

“Kamu, kawanan Hay see pay, sungguh kawanan si muka tebal,” Cia Soen mencaci pula. “Ilmu silat kamu ilmu silat pasaran dan modalmu yang terutama untuk mencelakakan manusia adalah garam beracun. Tahun yang lalu, di Gin yauw, kamu telah membinasakan Thio Teng In serumah tangga, tak kurang dari sebelas orang melayang jiwanya. Bulan ini, tanggal satu, kamu juga telah membunuh Auwyang Ceng di Hay boen.”

Goan Kong Po kaget tak kepalang. Ia sungguh tak mengerti, bagaimana Cia Soen bisa tahu seluk beluk kedua pembunuhan itu yang dilakukan secara rahasia.

“Mengapa kau diam saja ?” bentak Cia Soen “Suruh orangmu bawa dua mangkok garam beracun kemari! Aku mau lihat bagaimana macamnya racunmu itu?”

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Hay see pay bahwa ke manapun mereka pergi, mereka pasti membekal garam beracun. Maka itu, dengan apa boleh buat, Goan Kong Po segera memerintahkan sebawahannya membawa dua mangkok racun.

Cia Soen menyambuti dua mangkok itu yang lalu diendut-endus dengan hidungnya, “Mari kita masing-masing makan semangkok!” katanya.

Goan Kong Po terkesiap, garam itu mengandung racun yang sangat hebat, sehingga, jangankan dimakan sedangkan menempel di badan manusia saja sudah cukup untuk mengambil jiwa orang.

Dilain saat, Cia Soen menancapkan toyanya di tanah dan satu tangannya menyambar ke dagu Goan Kong Po yang begitu tersentuh, mulutnya lantas saja menganga dan tidak dapat ditutup lagi.

Hampir berbareng ia mengangkat mangkok garam dan menuang semua isinya ke mulut orang!

Binasanya Thio Tang In dan semua keluarganya di Gie yauw dan terbunuh matinya Auwyang Ceng dalam sebuah hotel di Hay boen merupakan suaru teka-teki yang mengherankan dalam Rimba Persilatan.

Sekarang baru ketahuan, bahwa kedua pembunuhan gelap itu telah dilakukan oleh orang-orarg Hay See pay. Maka itu melihat nasib yang dijalani Goan Kong Po, jago-jago yang berada di situ diam-diam merasa girang,

Sesudah itu, sambil mengangkat mangkok garam yang satunya lagi. Cia Soen berkata dengan suara nyaring, “Aku si orang she Cia selalu berlaku adil dan jujur. Kau sudah makan semangkok, aku pun akan makan semangkok.” Ia menuang garam itu ke dalam mulutnya dan lalu menelannya.

Itulah perbuatan yang tak pernah diduga orang-orang yang paling kaget adalah Coei San. Sesudah memperhatikan paras muka Cia Soen, ia mendapat kenyataan, bahwa meskipun sepak terjangnya sangat ganas, pada paras mukanya terdapat sinar kesedihan, Dengan mengingat, bahwa jago-jago yaag telah dibinasakan olehnya adalah manusia manusia jahat. maka dalam hati pemuda itu muncul rasa simpati. Demikianlah, begitu lihat Cia Soen menelan garam itu, tanpa terasa ia berteriak , “Cia Cianawee, manusia itu memang pantas mendapat hukuman mati. Perlu apa Cianpwee berbuat begitu ?”

Cia Soen menengok dan mengawasi, Coei can bersenyum, sedang paras mukanya sedikitpun tidak terlihat sinar ketakutan.

“Siapa tuan ?” tanya Cia Soen.

“Boanpwee adalah Thio Coei San dari Boe tong,” jawabnya.

“Hmmn …Boe tong Thio Ngohiap…apakah kau datang untuk merebut To liong to ?” tanyanya pula.

Pemuda itu menggelengkan kepala seraya berkata, “Bukan. Kedatangan boanpwee adalah untuk menyelidiki sebab-musabab terlukanya Jie Samko. Kurasa Cianpwee mengetahui banyak mengenai peristiwa itu dan aku memohon keterangan Cianpwee.”

Advertisements

1 Comment »

  1. bagus sekali ceritanya

    Comment by kusuma — 05/04/2010 @ 1:18 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: