Kumpulan Cerita Silat

07/07/2008

Kisah Membunuh Naga (07)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:44 am

Kisah Membunuh Naga (07)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sesudah berjalan beberapa lama, tanpa merasa Coei San dongak mengawasi rembulan yang sedang dipandang sinona. Tiba-tiba di sebelah timur laut muncul segumpal awan hitam. Benar juga orang kata, angin dan awan tak dapat ditaksir kedatangannya. Dengan cepat, awan itu bergerak dan meluas. Tak lama kemudian, rembulan sudah tertutup awan hitam dan berbareng dengan turunnya angin, hujan gerimis mulai turun.

Ketika itu, Coei San sedang berjalan digili-gili yang berdampingan dengan sebidang tanah lapang dan disekitar itu tak ada tempat meneduh. Tapi pemuda yang sedang was-was itu pun tidak ingin cari tempat meneduh. Walaupun yang turun hanya gerimis, lama-lama pakaian Coei San basah juga. Ia melirik si nona yang juga masih tetap duduk di kepala perahu, dengan tak menghiraukan serangan hujan. Tiba-tiba ia tersadar.

“Nona, masuklah! Apa kau tak takut basah?” teriaknya.

“Ah!” nona itu mengeluarkan seruan tertahan sambil bangun berdiri. “Eh, apa kau juga tak takut basah?”

Sehabis berkata begitu, ia masuk ke gubuk perahu dan keluar pula dengan tangan mencekal payung, yang lalu dilontarkan ke arah pemuda itu. Coei San menyambuti dan lalu membukanya. di atas payung terdapat lukisan pemandangan alam yang sangat indah: gunung, air dan beberapa pohon yanglioe, sedang di atas gambar terdapat huruf-huruf seperti berikut, “Sia hong see ie poet hie kwi.”

Payung Hangcioe memang biasa ada lukisannya. Tapi tulisan seperti itu, yang banyak terdapat pada barang pecah belah keluaran Kangsay, adalah sedikit luar biasa. Dengan rasa kagum, Coei San membaca huruf-huruf itu, yang walaupun masih kurang bertenaga sangat indah ayu dan mengunjuk jelas sebagai buah kalam seorang wanita. Dengan mata mengawasi tulisan itu, ia berjalan terus sehingga ia tak lihat sebuah solokan kecil yang melintang di tengah jalan. Tiba-tiba saja kakinya menginjak tempat kosong dan jika ia seorang biasa, ia pasti terjungkal kedalam solokan itu. Tapi Thio Coei San bukan orang biasa. Sedang kaki kanannya kejeblos, kaki kirinya sudah menotol pinggir solokan dan badannya meleset ke depan, sehingga ia hinggap di seberang dengan selamat.

“Bagus!” memuji sinona.

Coei San menengok dan melihat nona itu berdiri di kepala perahu dengun memakai tudung. Pakaiannya berkibar-kibar ditiup angin dan disambar hujan gerimis, sehingga dipandang dari kejauhan, ia seolah-olah seorang dewi.

“Apakah tulisan dan lukisan di atas payung itu cukup berharga untuk dilihat oleh Thio Sianseng?” tanya si nona.

“Huruf-huruf ini ditulis menurut Soe hoat (sari menulis) dari Wie Hoejin,” jawabnya. “Biarpun coretannya agak pendek, artinya panjang. Huruf-huruf ini sudah cukup indah”.

Mendengar pengertian pemuda itu akan seni menulis dan pujian yang diberikan kepadanya, si nona jadi girang. “Dalam tujuh huruf itu, huruf ‘poet’ yang paling jelek.” katanya.

Coei San mengawasi pula tulisan itu seraya berkata, “Tulisan cukup wajar, hanya kurang memperlihatkan arti yang tergenggam dalam huruf itu. Berbeda dengan enam huruf lainnya yang sangat indah dan tidak membosankan.”

“Benar,” kata sinona “Sudah lama aku merasa bahwa dalam huruf itu terdapat kekurangan itu. Sesudah Sianseng menjelaskan, barulah aku mendusin.”

Perahu terus laju kealiran sebelah bawah, sedang Thio Coei San terus mengikuti sambil omong-omong tentang seni menulis. Tanpa merasa mereka sudah melalui belasan li dan siang sudah terganti dengan malam. Tiba-tiba si nona berkata, “Benar juga dikatakan orang, bahwa bicara semalaman dengan seorang pandai, banyak lebih berfaedah daripada membaca buku sepuluh tahun. Terima kasih banyak untuk keteranganmu, dan di sini saja kita berpisahan,” Sehabis berkata begitu, ia memberi isyarat dengan tangannya dan layar perahu lantas saja naik dengan perlahan. Sesudah layar terpentang perahu itu lantas saja laju dengan pesatnya.

Dengan mata mendelong, Coei San mengawasi perahu si nona yang semakin lama jadi semakin jauh. Sekonyong-konyong, sayup-sayup ia dengar teriakan si jelita, “Aku she In. Di lain hari, aku akan meminta pelajaran lagi.”

Mendengar kata kata “aku she In”, pemuda itu terkesiap. Ia ingat keterangan Touw Tay Kim, bahwa orang yang menyuruhnya untuk mengantar kan Jie Thay Giam ke Boe tong san adalah seorang sasterawan tampan yang mengaku she In. Apakah sasterawan she In itu si nona adanya?

Memikir begitu, tanpa memperdulikan lagi soal pembatasan pergaulan antara pria dan wanita, ia segera mengempos semangat dan mengubar dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Ia sudah menyandak. “In Kouwnio!” teriaknya. “Apakah kau kenal Jie Samko Jie Thay Giam?”

Nona itu menengok tanpa menjawab. Lapat-lapat Coei San seperti mendengar suara hela napas panjang. “Nona ada beberapa soal yang kuingin tanya,” teriaknya pula.

“Soal apa?” si nona balas tanya.

“Apakah kau yang sudah minta Liong boen Piauw kiok mengantar Jie Samko ke Boe tong san?”, tanya Coei San. “Tapi apa Kouwnio tahu, bahwa sesudah tiba di Boe tong san, Jie Samko telah dianiaya orang ?”

“Untuk kejadian itu, aku sungguh merasa sangat menyesal,” jawabnya.

Sedang mereka tanya jawab, angin turun semakin besar dan perahu laju semakin cepat. Tapi dengan memiliki Gin kang yang sangat tinggi, Coei San tetap bisa lagi berendeng.

Di lain pihak, setiap perkataan si nona yang di ucapkan secara biasa di antara hujan dan angin, dapat didengar tegas oleh Thio Coei San dan hal itu membuktikan bahwa iapun mempunyai Lwekang yang tinggi.

Semakin jauh, permukaan Sungai Cian tongkang kang jadi semakin luas dan hujan angin pun turun semakin hebat. “In Kouwnio, puluhan jiwa dalam Liong boen Piauw kiok telah dibinasakan orang.” teriak Coei San. “Apa kau tahu siapa pembunuhnya?”

“Aku telah memberitahukan Touw Tay Kim bahwa dia harus hati-hati mengantar Jie Samhiap pulang ke Boe tong.” sahutnya. “Kalau dia gagal…”

“Kau akan membasmi seluruh keluarge piauw kiok, sekalipun ayam dan anjing tidak diberi ampun.” menyambung pemuda itu.

“Benar.” katanya. “Dia tak bisa melindungi Jie Samhiap dan segala kejadian berikutnya adalah salahnya sendiri.”

Coei San mencelos hatinya. Ia menggigil seperti disiram air es. Dengan mata membelalak, ia berteriak, “Kalau begitu, semua orang digedung itu telah…telah…”

“Dibunuh olehku,” menyambungi si nona.

Mata pemuda itu berkunang-kunang. Mimpi pun ia tak pernah mimpi, bahwa wanita yang begitu cantik ayu adalah si pembunuh kejam. Lewat beberapa saat, sesudah menenteramkan hatinya, barulah ia dapat membuka suara lagi, “Siapa yang bunuh dua hweeshio Siauw lim sie itu?”

“Aku,” jawabnya dengan tenang. “Sebenarnya aku tidak berniat menanam bibit permusuhan dengan Siauw lim sie, akan tetapi karena mereka berlaku kurang ajar, aku tak dapat mengampuninya..”

“Tapi…tapi kenapa semua kesalahan ditumpuk di atas pundakku?” tanya pula pemuda itu.

Si nona tersenyum. “Akulah yang sengaja mengatur begitu!” jawabnya.

Darah Thio Coei San bergolak-golak, ia merasa dadanya seperti mau meledak “Kau yang sengaja mengatur begitu? Supaya mereka sakit hati kepadaku?” teriaknya dengan suara kalap.

“Tak salah,” jawabnya sambil tertawa.

“Mengapa kau berbuat begitu, sedang kau dan aku sama sekali tidak bermusuhan?” Coei San berteriak pula.

Si nona tidak menjawab. Tiba-tiba sambil mengebas tangan bajunya, ia melompat masuk dalam gubuk parahu.

Coei San tentu saja tak mau mengerti. Ketika itu perahu terpisah belasan tombak dari tepi sungai dan ia tak dapat mencapainya dengan satu lompatan. Dengan kegusaran meluap-luap, ia menghantam satu pohon dan mematahkan dua cabang yang agak besar. Sambil melontarkan satu antaranya ketengah sungai ke arah perahu itu, kakinya menotol tanah dan badannya melesat bagaikan anak panah. Begitu hinggap, kaki kirinya menotol cabang itu dan tubuhnya kembali melesat beberapa tombak jauhnya, sembari melontarkan cabang yang satunya lagi. Seperti tadi, kaki kanannya menotol cabang itu dan bagaikan seekor burung, ia hinggap di atas kepala perahu. “Hei!” bentaknya. “Bagaimana kau melakukan perbuatanmu itu?”

Tapi dari dalam gubuk itu tidak terdengar jawaban. Ia sangat ingin menerjang masuk, tapi sebisa-bisa ia menahan sabar, karena merasa, bahwa perbuatan itu adalah tidak sopan.

Sekonyong-konyong lilin dalam gubuk menyala terang. “Masuklah!” undang si nona.

Sesudah merapikan pakaiannya, Coei San bertindak masuk. Mendadak ia kaget, karena dalam gubuk itu kelihatan berduduk seorang pemuda yang mengenakan thungsha hijau dan topi empat persegi, sedang tangan kanannya menggoyang-goyang kipas. Ternyata, dalam sekejap si nona sudah menukar pakaian lelaki dan dalam pakaian begitu, ia kelihatannya mirip sekali dengan Thio Ngohiap.

Tadi Coei San menanya, bagaimana ia telah berlaku sehingga, pendeta-pendata Siauw lim sie menduga, bahwa pembunuhan itu dilakukan olehnya. Tanpa menjawab, nona In telah memberi jawaban. Dengan mengenakan pakaian sasterawan, di tempat yang agak gelap, sukar sekali akan orang membedakan yang mana si wanita. Maka itu tidaklah heran jika Hoei hong dan Touw Tay Kim menuduh padanya.

“Thio Ngohiap, duduklah,” mengundang si nona sambil menuang teh di sebuah cangkir. Ia mengangsurkan cangkir itu seraya berkata, “Sungguh menyesal aku tak punya arak untuk disuguhkan kepada Ngohiap.”

Penyambutan yang sangat ramah tamah itu memaksa Coei San menahan hawa amarahnya. “Terima kasih,” katanya sambil membungkuk.

Melihat pakaian pemuda itu basah kuyup si nona berkata pula, “Dalam perahu ini aku masih mempunyai seperangkat pakaian laki-laki. Ngohiap boleh pergi ke belakang untuk menukar pakaian yang basah itu.”

“Tak usah,” sahutnya sambil menggelengkan kepala. Ia lantas saja mengerahkan Lweekang dan hawa panas segera mengalir di seluruh badannya, sehingga tak lama kemudian pakaian yang basah itu menjadi kering.

“Aku tak ingat, bahwa Lweekang Boe tong pay luar biasa tinggi,” kata si nona sembari bersenyum. “Dengan menyuruh menukar pakaian, siauw moay benar-benar berpandangan sempit.”

“Bolehkah aku mendapat tahu partai nona?” tanya Coei San.

Mendengar pertanyaan itu, si nona memandang keluar jendela, alisnya berkerut dan pada paras mukanya tertampak sinar kedukaan.

Melihat perubahan itu, Coei San tidak berani mendesak lagi. Lewat beberapa saat, barulah ia berkata pula, “Nona, siapakah yang menganiaya Jie Samko? Bolehkah kau memberitahukan aku?”

“Bukan saja Tauw Tay Kim, tapi akupun sudah kena diakali,” jawabnya, “Sebetulnya aku mengingat bahwa Boe tong Cit hiap adalah pendekar-pendekar yang gagah tampan dan tidak bisa jadi beroman begitu kasar.”

Mendengar jawaban yang menyimpang, yang menyebut-nyebut “gagah tampan”, Coei San mengerti bahwa sinona tengah memuji dirinya dan hatinya lantas saja berdebar-debar, sedang mukanya berubah merah.

Sesaat kemudian, nona In menghela napas sambil menggulung tangan baju kirinya. Coei San buru-buru menunduk, ia tak berani mengawasi lengan yang putih itu.

“Apa kau kenal senjata rahasia ini?” tanya si nona.

Mendengar perkataan “senjata rahasia”, Coei San mengangkat kepala dan melihat tiga batang piauw baja kecil yang menancap di lengan kiri dan di seputar senjata rahasia itu terlihat warna hitam seperti air bak.

Panjangnya piauw itu hanya satu setengah dim dan kira-kira satu dim masuk kedalam daging sedang buntut piauw yang menonjol keluar berbentuk bunga bwe. Coei San terkejut dan berseru sambil bangun berdiri, “Ah ! Bweehoa piauw dari Siauw limsie. Mengapa berwarna hitam?”

“Tak salah,” kata sinona. “Bwee hoa piauw dari Siauw lim sie. Piauw itu mengadung racun.”

“Siauw lim sie adalah partai persilatan yang ternama, sehingga menurut pantas tak mungkin orang Siauw lim sie menggunakan senjata rahasia beracun.” kata Coei San. “Tapi piauw itu adalah senjata yang hanya dapat digunakan oleh orang Siauw lim sie.”

“Aku juga merasa sangat heran,” kata nona itu. “Sebagaimana dikatakan oleh gurumu, hancurnya tulang tulang Soehengmu juga adalah akibat cengkeraman Kim kongcie, yaitu ilmu istimewa dari Siauw limsie.”

Coei San terkejut. Keterangan gurunya hanya didengar oleh saudara-saudara seperguruannya. Bagaimana nona itu dapat mengetahuinya? “Nona, apakah kau pernah bertemu dengan Jie Soeko Jie Lian Cioe dan Cit tee Boh Seng Kok?” tanyanya dengan tergesa-gesa.

Si nona menggelengkan kepala. “Aku hanya bertemu satu kali dengan mereka di Boe tong,” jawabnya.

Bukan main rasa herannya Coei San, “Apa nona pernah datang di Boe tong?” tanyanya. “Mengapa aku tak tahu?…Nona, sudah berapa lama kau kena piauw itu? Kau harus cepat cepat mencari obat.” Waktu berkata begitu, paras mukanya mengunjuk rasa kuatir

“Sudah duapuluh hari lebih,” jawabnya dengan suara berterimakasih, “Aku sudah menggunakan obat untuk menahan mengamuknya racun itu, sehingga untuk sementara waktu, aku masih dapat mempertahankan diri. Tapi aku tidak berani mencabutnya, sebab kuatir, begitu tercabut, racun akan menjalar ke lain bagian tubuh dengan mengikuti aliran darah.”

Pemuda itu mengerti, bahwa dalam usaha menahan menjalarnya racun, seseorang bukan saja harus menelan obat mustajab, tapi juga harus memiliki Lweekang yang sangat tinggi. Dilihat romannya, nona itu baru berusia kira-kira delapan belas tahun dan bahwa ia sudah mempunyai Lweekang yang sedemikian tinggi, adalah kenyataan yang sangat mengagumkan. Tanpa merasa ia berkata dengan suara terputus-putus “Nona…sesudah dua puluh hari lebih…kukuatir. .di belakang hari, pada kulitmu akan terdapat…terdapat bekas-bekas yang tak akan hilang…” Sebenarnya apa yang dikuatirinya ialah: jika, racun itu mengeram terlalu lama, si nona mungkin tak akan dapat menggunakan tangan kirinya lagi.

Mendengar perkataan Coei San, air mata sinona berlinang-linang di kedua matanya. “Aku sudah berusaha sedapat mungkin…” katanya dengan suara peralahan “Semalam aku sudah menggeledah badannya pendeta pendeta Siauw lim itu, tapi tak bisa mendapatkan obat pemunah…Lengan ini tak akan dapat digunakan lagi.” Sambil berkata begitu perlahan-lahan ia menurunkan tangan jubahnya.

Rasa kesatrian Thio Coei San lantas saja tampil kemuka. “In Kouwnio,” katanya dengan suara tetap. “Apakah kau percaya aku? Biarpun Lwee kangku masih sangat cetek. kupercaya masih dapat membantu kau dalam usaha mengeluarkan racun itu diri dalam lenganmu.”

Nona In tertawa dan pada pipinya terlihat sujen yang sangat manis. Ia kelihatan girang dan paras mukanya berseri-seri. “Thio Ngo hiap,” katanya, “Dalam hatimu terdapat banyak sekali pertanyaan dan kesangsian. Biarlah lebih dulu aku memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya, supaya sesudah menolong aku, kau tidak akan merasa menyesal.”

“Mengobati sakit dan menolong manusia adalah tugas orang-orang Rimba Persilatan,” kata Coei San dengan suara nyaring. “Bagaimana aku bisa menyesal?”

“Sudah duapuluh hari lebih racun itu mengeram dalam badanku, sehingga sekarang kita tak perlu terlalu tergesa-gesa,” kata sinona sambil tersenyum. “Biarlah kau dengar dulu penuturanku. Hari ini sesudah menyerahkan Jie Sam hiap kepada Liong boen piauw kiok, aku sendiri diam-diam menguntit dari belakang. Benar saja, di sepanjang jalan beberapa orang ingin turunkan tangan jahat terhadap Jie Sam hiap, tapi semuanya sudah dipukul mundur olehku. Kejadian itu sama sekali tidak diketahui oleh Tauw Tay Kim.”

Thio Coei San lantas saja mengangkat kedua tangannya, “Budi nona yang sangat besar tak akan dilupakan oleh segenap murid Boe tong pay,” katanya sambil menyoja.

“Jangan terburu napsu menghaturkan terimakasih kepadaku,” kata nona In sambil bersenyum. “Sebentar kau bisa membenci aku.”

Coei San terkejut, Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan si nona.

“Sepanjang jalan,” ia melanjutkan penuturannya “Hari ini aku menyamar sebagai petani, lain hari sebagai saudagar dan terus membuntuti dari belakang. Tak dinyana, sesudah tiba di Boe tong baru terjadi peristiwa yang menyedihkan”

“Apakah nona lihat enam penjahat itu?” tanya Coei San sambil mengertak gigi. “Touw Tay Kim benar-benar tolol. Dia tak dapat memberikan keterangan apapun jua tentang asal usul enam penjahat itu.”

“Bukan saja lihat, aku malah sudah bertempur dergan mereka,” jawabnya. “Tapi akupun tolol. Aku juga tak tahu asal usul mereka.” Sesudah mengirup teh, ia berkata pula, “Pada waktu enam orang itu turun dari atas gunung dan bicara dengan Touw Tay Kim, aku mengawasi dari sebelah kejauhan. Kudengar Cong piauw tauw itu menggunakan istilah Boe tong Liok hiap dan merekapun menerima baik panggilan itu. Sesudah mereka menerima kereta Jie Sam hiap, dari tangan rombongan piauw kiok, aku anggap, urusan sudah selesai dan aku menahan kuda dipinggir jalan, membiarkan lewatnya rombongan Touw Tay Kim. Tapi di lain saat, aku terkesiap karena melihat sesuatu ang tidak masuk di akal. Siauw moay menganggap Boe tong Cit hiap saling menyintai seperti saudara saudara kandung sendiri. Menurut pantas, mereka ramai-ramai harus menengok Jie Sam hiap yang rebah di kereta dengan terluka berat. Tetapi kenyataannya, hanya seorang yang melongok ke dalam kereta, sedang yang lainnya tidak mau mengambil perduli. Bukan saja begitu, paras muka mereka malahan menggunjuk perasaan girang dan sambil berteriak-teriak, mereka mengikuti di belakang kereta. Itulah kejadian yang sangat mencurigakan sebab sangat tidak masuk akal.

“Tidak salah pendapat nona” kata Coei San sambil mengangguk beberapa kali.

“Semakin lama, hatiku jadi semakin tak enak,” si nona berkata pula. “Aku segera mengubar dan menanyakan nama mereka. Mereka ternyata mempunyai mata yang cukup tajam. Sekelebatan, mereka sudah tahu, bahwa aku adalah seorang wanita yang menyamar sebagat pria. Aku mencaci mereka sebagai manusia rendah yang sudah menggunakan nama Boe tong Cit hiap dan merampas Jie Sam hiap dengan tipu busuk. Aku segera menerjang dan dilayani oleh seorang pemuda kurus yang berusia kurang lebih dua puluh tahun dengan dikawani oleh seorang too soe yang berdiri dipinggiran sedang empat kawannya yang lain berjalan sambil menggiring kereta.

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi

“Di luar dugaan, pemuda kurus itu sangat lihai dan dalam tigapuluh jurus, aku belum dapat menjatuhkannya. Mendadak imam yang berdiri di pinggiran mengayun tangan kirinya dan tiga batang piauw menancap di tanganku.

“Begitu kena, lenganku sakit sakit gatal. Aku gusar dan kegusaranku di tambah dengan perkataan si kurus yang sangat kurang ajar, yang sesumbar ingin menangkap aku. Aku segera membalas dengan tiga batang jarum dan ahirnya berhasil meloloskan diri” Berkata sampai di situ, muka si nona bersemu merah. Mungkin sekali si kurus yang dikatakan kurang ajar telah mengeluarkan kata-kata yang tak sopan.

“Melepaskan Bwee hoa piauw dengan tangan kiri banyak lebih sukar daripada dengan tangan kanan,” kata Coei San, “Tapi mengapa murid Siauw lim pay mengenakan pakaian toosoe? Apa dia menyamar?”

Nona In tersenyum. “Kalau toosoe mau menyamar sebagai hweeshio, dia harus menyukur rambut,” katanya. “Banyak lebih mudah kalau hwee shio menyamar sebagai toosoe. Sudah cukup jika dia memakai topi toojin”

Pemuda itu mengangguk sambil bersenyum.

“Aku mengerti, bahwa pada waktu itu aku tak bisa berbuat banyak,” kata pula nona In. “melawan pemuda kurus itu saja, aku belum bisa menang, apalagi jika ditambah dengan si imam, yang kelihatannya lebih lihai lagi. Aku yakin, biar bagaimanapun aku tak akan dapat melawan enam orang itu.”

Coei San membuka mulutnya, tapi ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

“Aku tahu apa yang dipikir olehmu,” kata si nona. “Kau tentu ingin mengatakan mengapa kau tak mau naik ke Boe tong dan memberitahukan hal itu pada kami ? Bukankan kau ingin menanya begitu? Hai! Sebabnya adalah karena aku tak boleh naik ke Boe tong! Kalau dapat maju sendiri, perlu apa aku minta bantuan Touw Tay Kim untuk mengantar Jie Samhiap ? Aku merasa sangat bingung dan tak tahu harus berbuat bagaimana. Selagi berjalan dengan rasa sangsi, mendadak aku lihat kau yang sedang bicara dengan Touw Tay Kim. Belakangan, dengan mengikuti rombongan piauwkiok itu aku turut naik ke Boe tong. Dalam kekalutan dan kedukaan, orang tidak memperhatikan diriku. Kalian menganggap aku sebagai anggauta piauw hang, sedang rombongan Liong boen Piauw kiok menganggap aku sebagai orang Boe tong pay.”

Tiba-tiba si pemuda ingat sesuatu “Aha!” serunya. “Hari itu kau menyamar sebagai tukang kereta, bukan? Tudungmu ditekan ke bawah sampai hampir menutupi muka.”

“Sungguh lihai mata Thio Ngo hiap,” jawab si nona sambil tertawa. “Jika waktu itu kau tidak dilipati kegusaran dan kesedihan, mungkin sekali rahasiaku sudah diketahui olehmu. Tapi aku tak dapat mengabui mata Song Toa hiap?”

“Toa soeko kenali kau?” menegas Coei San dengan rasa heran. “Tapi ia tak mengatakan apapun jua kepada kami,”

“Song Toahiap sangat sopan dan luhur pribudinya.” memuji sinona In. “Kepadakupun ia tidak megatakan sesuatu apa. Hanya pada waktu memberikan kamar-kamar kepada rombongan piauw kiok, ia sengaja menunjuk sebuah kamar terpisah untukku sendiri.”

“Ya, Toa soeko memang begitu”, kata Coei San dengan rasa hormat terhadap kakak seperguruannya itu.

“Belakangan, bersama rombongan Touw Tay Kim aku turun gunung” kata sinona, “Aku telah menyaksikan, cara bagaimana kau sudah paksa mereka muntahkan lagi duaribu tahil emas itu, untuk menolong rakyat yang tertimpa bencana alam. Thio ngohiap, kau royal sekali dengan orang lain. Uang itu adalah uangku,”

Coei San tertawa geli. “Biarkan atas nama rakyat yang menderita, aku menghaturkan banyak banyak terima kasih kepadamu,” katanya.

“Hm ! Kalau uang sudah berada dalam tangan orang-orang temaha, mana mereka sudi muntahkan seanteronya?” kata pula nona In. “Hanya karena nama Thio Ngohiap terlalu besar, maka mereka tidak berani tidak muntahkan. Aku tahu diam-diam mereka menyimpan tigaratus tahil. Sesudah kembali ke sini aku segera minta pertolongan orang untuk memeriksa luka ini. Ada yang kata, bahwa Bwee hoa Piauw adalah senjata rahasia istimewa dari Siauw lim sie sehingga jika tidak mendapat obat dari mereka, racun itu sukar dipunahkan. Dalam kota Lim an, kecuali di Liong boen Piauw kiok, tak ada orang lain yang berasal dari Siauw lim sie. Maka itu aku telah menyatroni untuk memaksa supaya mereka mengeluarkan obat pemunah itu. Tapi di luar dugaan, bukan saja mereka tidak memberikan, tapi juga sudah mempersiapkan kawan-kawannya dan begitu aku tiba, mereka lantas menyerang.”

“Tapi nona bukankah tadi kau mengatakan, bahwa kaulah yang sudah sengaja mengatur, sehingga mereka menuduh aku?” kata Coei San.

Nona In kelihatan kemalu-maluan dan sambil menundukkan kepala, ia berkata dengan suara perlahan, “Melihat kau ke toko dan membeli pakaian, aku…aku merasa pakaian itu bagus sekali. Maka itu, aku juga turut membelinya,”

“Hal itu tidak mengapa.” kata Coei San “Tapi dengan membunuh beberapa puluh orang kurasa kau terlalu kejam. Dengan orang-orang Liong boen Piauw kiok kau sebenarnya tidak mempunyai permusuhan suatu apa.”

Mendengar teguran itu, paras muka si nona lantas saja berubah. Ia tertawa dingin seraya berkata “Kau ingin memberi pelajaran kepadaku? Hm! Aku sudah hidup sembilan belas tahun, tapi belum pernah ada yang mengajar aku. Thio Ngo hiap adalah seorang yang sangat mulia dan aku mempersilahkan kau berlalu saja. Manusia kejam tidak perlu berhubungan dengan seorang mulia.”

Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah. Ia segera bangun berdiri. Baru saja mau bertindak keluar, tiba-tiba ingat janjinya untuk bantu mengobati luka-luka si nona.

“Gulung tangan bajumu,” katanya.

Alis nona In berdiri dan kedua matanya melotot. “Aku tak perlu diobati olehmu!” katanya.

“Lenganmu sudah terluka lama sekali dan jika tidak segera diobati, aku kuatir…aku kuatir akan keselamatan jiwamu,” kata Coei San.

“Memang paling baik jika aku mampus,” kata nona In dengan suara ketus “Kalau jiwaku melayang, kaulah yang sudah mencelakakan aku”

Mendengar kata-kata yang tidak beralasan itu, Coei San jadi heran. “Eeh!” katanya “Kau telah dilukakan oleh orang Siauw lim sie, mengapa kau menyalahkan aku?”

“Kalau aku tidak melakoni perjalanan ribuan lie untuk mengantar Jie Samkomu ke Boe tong san, aku tentu tak akan bertemu dengan enam penjahat itu,” kata si nona. “Sesudah enam bangsat itu merampas Jie Samkomu, kalau aku berpeluk tangan, lenganku tentu takkan terluka. Dan jika kau datang terlebih siang dan memberi bantuan, aku pasti tidak akan sampai terluka.”

Coei San lantas saja mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Benar. Aku yang rendah menawarkan bantuan kepada nona, untuk membalas sebagian kecil saja dari budimu yang sangat besar.”

Nona In melengos, “Apa kau mengaku bersalah ?” tanyanya.

“Bersalah apa ?” menegas Coei San.

“Kau mengatakan aku kejam, pernyataan itu salah sama sekali,” katanya dengan suara mendongkol. “Hweeshio-hweeshio Siauw lim sie, Touw Tay Kim dan kawan kawannya semua pantas dibunuh.”

Coei San menggelengkan kepala. “Biarpun lengan nona terkena piauw tapi kau masih dapat ditolong,” katanya. “Samsoeko terluka berat, tapi is masih hidup. Andaikan ia tak dapat diobati, paling banyak kita cari biang keladinya. Biar bagaimana pun juga, tidak pantas nona membunuh puluhan orang.”

Si nona mendelik dan parasnya berubah gusar. “Kau tetap menyalahkan aku ?” bentaknya. “Apakah yang menimpuk lenganku dengan Bweehoa piauw bukan orang Siauw lim sie? Apakah Liong boen Piauw kiok bukan dibuka oleh orang-orang Siauw lim sie?”

“Murid-murid Siauw lim sie tersebar di kolong langit, jumlahnya ribuan, malah mungkin laksaan orang,” kata Coei San dengan suara sabar. “Nona hanya diserang dengan tiga batang piauw. Apakah untuk membalas sakit hati itu kau ingin menbunuh semua murid Siauw lim sie?”

Karena kalah bicara, si nona jadi semakin gusar. Mendadak ia mengangkat tangan kanannya dan menghantam tiga piauw yang tertancap di lengan kirinya. Keruan saja ketiga senjata rahasia itu amblas kedalam daging dan luka jadi bertambah hebat.

Coei San terperanjat. Ia tak pernah menduga bahwa si nona mempunyai adat yang seaneh itu. Sedikit saja tak senang, ia lantas mempersakiti dirinya sendiri. Dipandang dari sudut itu, tidaklah heran jika dia bisa membunuh orang secara membuta tuli.

“Mengapa kau berbuat begitu?” tanyanya dengan mata membelalak. Dengan hati berdebar-debar ia lihat tangan baju si nona yang mulai basah dengan darah hitam. Ia mengerti bahwa luka itu sudah terlalu berat dan Lweekang si nora tidak akan dapat menahan lagi naiknya racun sehingga jika tidak lantas ditolong, jiwanya bisa melayang. Maka itu tanpa mengeluarkan sepatah kata, tangan kirinya menyambar dan menyekal lengan kiri nona In, sedang tangan kanannya merobek tangan baju orang

Mendadak, Coei San dengar bentakan di belakangnya, “Bangsat! Jangan kurang ajar kau!” Hampir berbareng, sebilah golok menyambar ke punggungnya. Ia tahu, bahwa yang menyerang adalah si tukang perahu. Dalam keadaan genting, tanpa menengoknya ia menendang dan orang itu terpental keluar dari gubuk perahu.

“Tak usah kau tolong, aku lebih baik mati!” teriak si nona. “Plok”, muka pemuda itu digaplok keras-keras.

Rasa kaget dan sakit tercampur jadi satu. Tanpa merasa, Coei San melepaskan cekelannya.

“Pergi kau! Aku tak sudi lihat lagi mukamu,” kata nona In.

Coei San malu dan gusar. “Baiklah,” katanya. “Hmm! Betul-betul aku belum pernah lihat wanita yang begitu tak mengenal aturan.” Sehabis mengomel, dengan tindakan lebar ia berjalan keluar.

Nona In tertawa dingin dan berkata, “Kau belum pernah lihat? Hari ini kau boleh lihat!”

Coei San mengambil sepotong papan untuk digunakan sebagat papan loncatan untuk mendarat. Tapi baru saja ia mau melemparkan papan itu ke air, hatinya merasa tidak tega karena ia yakin, bahwa perginya berarti binasanya nona kepala batu itu. Maka itu sambil menahan amarah, ia kembali ke gubuk perahu. “Biar pun kau menggaplokku, aku tak jadi marah,” katanya. “Gulung tangan bajumu. Apa kau mau mati ?”

“Aku mau mampus atau mau hidup, ada sangkut paut apa denganmu?” tanya nona In dengan suara aseran.

“Dengan melalui perjalanan ribuan kau sudah mengantar Samko,” kata Coei San. “Budi yang sangat besar itu tak bisa tidak dibalas.”

Sinona tertawa dingin, “Bagus! Aku baru tahu, bahwa tujuanmu hanya untuk membayar hutang,” katanya. “Kalau aku tidak mengantar Samko-mu, biarpun aku terluka lebih berat lagi, biarpun kau lihat aku sudah hampir menghembuskan napas penghabisan, kau tentu tak sudi menolong.”

Mendengar perkataan itu, Coei Sin ternganga. “Ah!…itu sih belum tentu …” katanya tergugu. Tiba-tiba ia lihat sinona menggigil, sebagai tanda, bahwa racun sudah mulai naik ke atas “Kau sungguh gila!” katanya dengan suara berkuatir. “Janganlah kau main-main lagi dengan jiwamu sendiri.”

Nona In menggigit gigi. “Kalau kau tidak mengaku bersalah, biar bagaimanapun juga, aku tak sudi ditolong olehmu,” katanya. Kulit mukanya yang putih sekarang berubah pucat dan tubuhnya agak bergemetaran, sehingga pemuda itu jadi lebih tak tega lagi. Ia menghela napas seraya berkata, “Baiklah. Hitung-hitung aku yang salah dan kau tidak bersalah.”

“Tak bisa!” kata sinona. “Kalau salah, ya salah. Mengapa kau menggunakan perkataan hitung-hitung? Mengapa sesudah menghela napas, baru kau mengaku salah? Hm! Pengakuanmu tidak keluar dari hati yang jujur.”

Sebab perlu menolong jiwa, Coei San sungkan bertengkar lagi. “Kaisar Langit di atas, Malaikat Sungai di bawah, dengan hati yang setulus-tulusnya aku ingin menyatakan kepada nona In …In …” Ia tak dapat meneruskan perkataannya sebab belum tahu nama si nona.

“In So So,” menyambungi nona itu.

“Hmm!…kepada nona In So So, bahwa dalam segala hal, akulah yang bersalah, atau tegasnya, aku mengaku bersalah.”

In So So bungah hatinya, ia tertawa dengan paras berseri-seri. Tapi hampir berbareng, kedua lututnya lemas dan ia jatuh duduk di kursi. Buru-buru Coei San mengeluarkan sebutir Pek co Hoei sim tan, yaitu pel untuk melindungi jantung dari segala rupa serangan racun, yang lalu diberikan kepada So So. Sesudah ia menggulung tangan baju si nona dan mendapat kenyataan, bahwa separuh lengan itu sudah berwarna hitam ungu dan hawa racun terus naik ke atas dengan cepatnya.

Sambil mencekel bahu si nona dengang tangan kirinya, la menanya, “Apa yang dirasakan olehmu?”

“Dadaku menyesak,” jawabnya. “Mengapa kau tidak cepat-cepat mengaku salah? Kalau aku mati, kaulah yang berdosa.”

Tentu saja Coei San tidak meladeni perkataan seperti anak kecil itu. “Tak apa-apa, legakanlah hatimu.” katanya dengan suara lemah-lebut. “Longgarkan semua otot-ototmu, jangan menggunakan tenaga sedikitpun, berbuatlah seperti kau sedang tidur pulas.”

“Aku merasa seperti juga sudah mati,” kata si nona.

“Hmm! Sesudah terluka begitu, dia masih begitu gila-gilaan,” kata Coei San dalam hatinya. “Celaka sungguh orang yang jadi suaminya.” Memikir begitu, jantungnya memukul keras, karena kuatir si nona dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia melirik muka si nona yang kelihatan bersemu dadu, seperti orang kemalu-maluan. tiba-tiba kedua mata kebentrok dan mereka saling melengos.

“Thio Ngo ko,” tiba-tiba So So berkata dengan suara perlahan. “Aku bicara sembarangan saja. Kuharap kau tidak gusar”

Mendengar perubahan panggilan dari Thio Ngo hiap jadi Thio Ngo ko, hati Coei San berdebar-debar semakin keras. Tapi lain saat, ia segera menjernihkan pikiran dan mengempos semangat untuk mengarahkan Lweekang. Perlahan-lahan semacam hawa hangat naik dari perutnya ke atas dan lalu berkumpul dikedua lengan tangannya.

Selang beberapa saat, dari kepala pemuda itu keluar uap putih, sedang keringatnya turun berketel-ketel, sebagai tanda, bawwa ia tengah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Bukan main rasa terima kasihnya So So, ia mengerti, pada saat Coei San tak boleh diganggu maka ia pun segera meramkan kedua matanya dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata.

Mendadak terdengar suara “plok”. Sebatang piauw melompat keluar kira-kira setombak jauhnya dan menghantam dinding gubuk perahu, disusul dengan mancurnya darah hitam dari lubang luka. Lengan yang hitam itu perlahan-lahan berubah merah. Sesaat kemudian, piauw kedua melompat keluar.

Selagi Coei San mengempos semangat untuk mengeluarkan piauw yang terakhir sekonyong-konyong terdengar seruan orang, “Hei! Apa In Kouw nio ada di situ?”

Coei San heran, tapi karena sedang mengerahkan tenaga, ia tidak menggubris.

“Siang Tay coe lekas kemari!” demikian terdengar teriakan si tukang perahu. “Ada orang jahat mau menganiaya In Kouwnio.”

“Bangsat! Jangan kurang ajar!” demikian terdengar teriakan menggeledek dari sebuah perahu yang sedang mendatangi dengan cepatnya.

In So So membuka matanya dan bersenyum, dengan paras seperti orang ingin meminta maaf untuk salah mengerti itu.

Piauw yang ketiga ternyata masuk dalam sekali didaging si nona, sehingga sesudah tigakali menggunakan seantero tenaga dalamnya, senjata rahasia itu belum juga bisa didesak keluar.

Sementara itu sesudah terdengar suara penggayu memukul air sebuah perahu sudah datang dekat sekali. Sesaat kemudian, perahu si nona bergoyang sedikit, karena hinggapnya kaki manusia di papan perahu. Tanpa menengok, Coei San terus mengempos semangat.

Dengan tindakan lebar, orang itu masuk ke dalam gubuk perahu. Melihat kedua tangan Thio Ngo hiap mencekal lengan kiri si nona, ia tentu saja tidak menduga, bahwa pemuda itu tengah mengobati luka In So So. Dengan kegurasan meluap, ia mengangkat tangannya dan menghantam punggung Coei San, “Bangsat! Lepaskan !” bentaknya.

Coei San tidak menangkis. Sambil menarik nafas, ia pasang punggungnya. “Bak!”, pukulan itu kena tepat pada sasarannya.

Sebagai salah seorang murid terutama dari Boe tong pay, Lweekang Thio Coei San sudah mencapai tingkat tertinggi dan ia memiliki juga kepandaian luar biasa.

Demikianlah, tanpa bergerak, dengan ilmu “meminjam tenaga memindahkan tenaga”, ia memindah kan tenaga pukulan itu ketelapak tangannya sendiri. “Plok !”, Bwee hoa piauw yang ketiga melompat keluar dari lengan In So So dan menancap di papan gubuk perahu!

Sesaat itu, orang yang nenyerang sudah mengirim pukulan kedua. Ia terkesiap melihat akibat pukulannya yang pertama, sehingga tangannya yang tengah menyambar berhenti di tengah udara. “In Kouwnio! .. kau…apa kau terluka?” teriaknya.

Si nona tidak menyahut.

Sebagai seorang jago yang berpengalaman, begitu melihat darah hitam yang mancur dari lengan si nona, orang itu sudah mengerti, bahwa ia telah berbuat suatu kehilafan. Ia merasa sangat menyesal dan menduga Thio Coei San telah mendapat luka berat karena pukulannya itu hebat luar biasa. Buru-buru ia merogo saku dan mengeluarkan obat untuk diberikan kepada pemuda itu.

Coei San menggelengkan kepala dan setelah melihat darah hitam sudah berubah merah, perlahan-lahan ia melepaskan lengan si nona. Ia menengok dan berkata sambil tertawa, “Tenaga pukulanmu sungguh tidak kecil.”

Orang itu kaget bukan main. Dengan pukulan serupa itu, entah sudah berapa banyak jago-jago binasa dalam tangannya. Sungguh heran, pemuda itu seperti juga tidak merasakan apapun jua. Ia mengawasi dengan mulut ternganga dan berkata dengan suara terputus-putus “Kau…kau…” Ia mengangsurkan tiga jari yang lalu ditempelkan kepada Coei San.

“Biar aku main-main sedikit dengannya,” pikir pemuda itu yang segera mengerahkan Lweekang dan jantungnya lantas saja berhenti berdenyut serupa kepandaian yang hanya dimiliki oleh seorang yang Lweekangnya sudah mencapai puncak tertinggi.

Begitu menyentuh nadi Coei San, paras maka orang itu berobah pucat karena nadi itu tidak mengetuk lagi. Dalam kagetnya, ia meraba dada pemuda itu dan hatinya mencelos, sehingga ia melompat ke belakang sambil mengeluarkan seruan tertahan.

“In Kouwnio, apakah tuan ini sahabatmu?” tanya Coei San sambil tersenyum. “Mengapa kau tidak memperkenalkannya kepadaku?” Sambil berkata begitu, ia menyambuti saputangan yang di sodorkan oleh In So So dan lalu membalut luka di lengan nona itu.

Mendengar suara Coei San yang tidak berubah sedikitpun jua, keheranan orang itu tak mungkin dilukiskan lagi.

“Siang Tan coe, kau tak boleh kurang ajar!” membentak si nona. “Inilah Thio Ngo hiap dari Boe tong pay.”

Orang itu buru-buru memberi hormat dan berkata dengan suara kagum “Aha. Kalau begitu Thio Ngo hiap dari Boe tong Cit hiap! Tak heran jika Lweekangnya sedemikian tinggi. Aku yang rendah Siang Kim Peng dan aku memohon maaf untuk kekurang ajaranku.”

Coei San mengawasi orang itu yang berusia kurang lebih limapuluh tahun. Mukanya bopeng dengan otot-otot yang menonjol keluar dari telapak tangannya lebar seperti kipas sehingga selintas saja mengetahui, bahwa orang she Siang itu adalah seorang ahli silat Gwa kee. Ia mengerti bahwa jika lweekangnya belum sempurna betul, pukulan yang tadi sudah pasti akan mengambil jiwanya sendiri.

Sesudah memberi hormat kepada pemuda itu, Siang Kim Peng lalu menjalankan peradatan di hadapan In So So yang menerimanya dengan sikap acuh tak acuh.

Coei San jadi sangat beran. Dari pukulan Siang Kim Peng, ia tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang. Tapi mengapa In So So berani bersikap begitu kurang ajar terhadapnya dan dia juga kelihatannya menerima baik sikap dari si nona.

Di lain saat, Siang Kim Peng berkata dengan suara perlahan, “Hian boe tan Pek Tan coe telah menjanjikan orang-orang Hay see pay, Kie keng pang dan Hok kian Sin koen boen untuk mengadakan partemuan besok pagi di pulau Ong poan san dimulut sangai Can tong kang, guna mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Jika, kesehatan nona agak terganggu, biarlah Siauw jin lebih dulu mengantarkan nona pulang ke Lim an. Menurut pendapatku, Pek Tan coe sudah lebih dari pada cukup untuk membereskan segala urusan di Ong poan san.”

So So mengeluarkan suara di hidung. “Hay-see-pay, Kie keng -pang, Sin koen boen…Hmmm…Apakah Ciang boen Jin Hoa koen boen Kwee Sam Koen, turut datang juga?” tanyanya.

“Ya. Kudengar ia akan datang sendiri dengan mengajak dua belas muridnya yang terutama,” jawabnya.

Si nona tertawa dingin. “Meskipun nama Kwee San Koen sangat cemerlang, tapi dia bukan tandingan Pek Tan coe,” katanya. “Siapa lagi yang bakal turut serta?”

Sesudah berdiam sejenak, barulah Siang Kim Peng menjawab, “menurut warta, dua orang Kiamkek (ahli silat pedang) muda dari Koen loen pay juga akan menghadiri pertemuan itu, untuk .. melihat To…To…To…” Ia melirik Thio Coei San dan tidak meneruskan perkataannya.

“Mereka mengatakan mau lihat-lihat To liong to?” tanya So so. “Hm…mungkin .. sesudah melihat dalam hati mereka timbul rasa serakah…”

Mendengar perkataan “To liong to”, Coei San terkejut, tapi sebelum ia keburu membuka mulut untuk menanyakan terlebih jauh, si nona sudah berkata pula, “Hmmm…selama beberapa tahun ini, dalam Rimba Persilatan, gelombang Tiangkang yang di sebelah belakang mendorong gelombang yang di sebelah depan. Orang-orang Koen loen pay tak dapat dipandang enteng. Luka di lenganku tidak berarti. Begini saja. Aku akan turut pergi ke situ untuk menonton keramaian. Mungkin sekali aku akan perlu memberi bantuan kepada Pek Tancoe.” Ia berpaling kepada Thio Coei San dan menyambung perkataannya, “Thio Ngohiap, di sini saja kita berpisahan. Aku menumpang di perahu Siang Tan coe dan kau sendiri boleh menggunakan perahuku untuk kembali ke Lim an. Boe tong-pay jangan kerembet dalam urusan ini.”

“Terlukanya Samko agaknya bersangkut-paut dengan To liong to,” kata Coei San. “Apakah nona dapat memberi keterangan lebih jelas mengenai hal itu?”

“Seluk beluk kejadian itu tidak diketahui jelas olehku.” Jawabnya. “Kau harus tanya Samkomu sendiri.”

Coei San mengerti, So So sungkan meberi keterangan dan iapun tak mau mendesak lagi.

“Orang yang melukakan Samko sangat ingin memiliki To liong to,” katanya di dalam hati.

“Menurut Siang Tan coe, pertemuan di Ong poan san adalah untuk mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Apakah bisa jadi To Liong to berada dalam tangan mereka? Jika benar begitu, orang-orang yang mencelakakan Samko tentu juga turut datang ke pulau itu.” Memikir begitu, ia lantas saja menanya, “Apakah Toosoe yang menyerang kau dengan Bweehoa piauw akan turut datang di pulau itu?”

So So tertawa sebaliknya dari menjawab pertanyaan orang, ia balas menanya, “Kaupun ingin menonton keramaian, bukan? Baiklah! Kita pergi bersama-sama.” Ia menengok kepada Siang Kim Peng dan berkata pula “Siang Pangcoe, perahumu jalan duluan.”

“Baik,” jawabnya sambil membungkuk dan lalu berjalan pergi, seperti caranya seorang pegawai terhadap majikannya. Si nona hanya mengangguk sedikit, tapi Coei San, yang menghargai ilmu silatnya orang itu, sudah mengantarkannya sampai di pintu gubuk perabu.

Sesudah itu, So So menggapai jurumudi seraya membentak, “Kemari kau!” paras muka si tukang perahu lantas saja berubah pucat dan tubuhnya menggigil. Ia mengerti, bahwa tadi ia sudah berbuat kesalahan dengan teriak-teriakannya dan sekarang ia akan mendapat hukuman. Dengan bibir bergemetaran, ia berkata, “Siauw…siauwjin tidak sengaja…Mohon…mohon Kouw nio sudi mengampuni…”

Si nona tidak menjawab, sehingga dia jadi lebih ketakutan dan dengan sorot mata memohon pertolongan, ia mengawasi Coei San, yang merasa sangat tidak mengerti akan sikapnya itu. Bahwa jurumudi tersebut sudah berteriak-teriak meminta pertolongan Siang Kim Peng, adalah karena salah mengerti, karena ia menduga Coei San mau mencelakakan So So. Tapi, teriakannya itu adalah sebab kesetiaannya terhadap si nona. Mengapa ia sudah begitu ketakutan?

Di lain saat, si nona berkata dengan suara kaku, “Matamu tak ada bijinya, kupingmu tuli. Perlu apa kau mempunyai mata dan kuping?”

Mendengar comelan itu, paras muka sijurumudi lantas berubah girang, sebab ia tahu si nona sudah mengampuni Jiwanya. Baru-baru ia menekuk lutut seraya berkata, “Banyak terima kasih untuk kemurahan hati nona!” Hampir berbareng, ia meraba pinggannya dan menghunus sebilah pisau yang lalu digunakan untuk memotong kedua kupingnya. Sesudah itu, ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi ditujukan ke arah matanya!

Bukan main kagetnya Coei San. Bagaikan kilat tangannya menyambar dan dua jirinya menjepit pisau itu yang sedang meluncur turun ke mata si jurumudi. “In Kauwnio,” katanya. “Dengan memberanikan hati, aku memohon belas kasihanmu,”

So So mengawasi ke arah pemuda itu dan kemudian berkata dengan suara perlahan, “Baiklah.” Ia menengok pada si tukang perahu dan menyambung perkataannya, “Lekas haturkan terimakasih pada Thio Ngohiap !”

Dengan tersipu-sipu, ia segera menekuk lutut dan manggut-manggutkan kepalanya berulang-ulang kali di hadapan Coei San dan kemudian berlutut lagi di hadapan So So. Sesudah itu, ia mundur ke belakang dan dengan suara nyaring memerintahkan ke anak buah perahu menaikkan layar.

Sementara itu, Coei San berdiri membelakang So So dan mengawasi air yang luas tanpa mengeluarkan sepatah kata. Di dalam hati, ia merasa heran, bagaimana seorang wanita yang berparas begitu cantik mempunyai tangan begitu kejam.

So So melirik pemuda itu dan melihat pakaiannya yang pecah di bagian punggung karena pukulan Siang Kim Peng, ia segera berkata, “Buka pakaianmu. Aku mau tambal.”

“Tak usah!” kata Coei San.

“Kau kira aku tidak bisa menjahit?” tanya Si nona.

“Bukan begitu,” kata pula pemuda itu dengan suara pendek dan matanya tetap memandang ke tempat jauh. Di dalam hati, ingat kebinasaan yarg sangat menyedihkan dari orang orarg Liong boen Piauw kiok. Tapi, sebaliknya daripada membunuh manusia yang begitu kejam, ia malahan sudah menolongnya dengan mengeluarkan piauw beracun. Biarpun pertolongan itu adalah untuk membalas budi orang yang sudah membantu Soehengnya, akan tetapi, sepak terjangnya tetap tidak dapat dibenarkan dan ia merasa bahwa dalam tindakannya itu, ia tidak bisa membedakan yang jahat dan yang baik.

Diam diam ia mengambil keputusan, bahwa begitu lekas pertemuan di pulau Ong poan san sudah selesai, ia akan berpisahan dengan nona itu untuk selama-lamanya.

Melihat paras muka Coei San yang suram, So So lantas saja dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia tertawa dingin dan berkata, “Bukan saja Touw Tay Kim, Ciok dan Soe Piauw tauw, bukan saja semua orang dari Liong boen Piauw kiok dan dua pendeta Siauwlim itu, tapi Hoei hong pun dibunuh olehku.”

“Aku memang sudah mencurigai kau, hanya aku tidak tahu cara bagaimana kau membunuhnya?” kata Coei San.

“Tak usah heran” kata si nona. “Waktu itu aku merendam di dalam air dan mendengari pembicaraan kamu. Sesudah didesak olehmu, tiba-tiba Hoei hong merasa, bahwa muka kita memang berbeda, tapi sebelum ia keburu mengaku, aku mendahului melepaskan sebatang jarum kedalam mulutnya. Kau coba mencari aku di gerombolan pohon dan rumput-rumput tinggi, tapi aku sendiri enak-enak merendam diair”

“Sebagai akibat dari perbuatanmu itu, pihak Siauw lim menuduh aku,” kata Coei San dengan mendongkol. “In Kouwnio, kau sungguh pintar dan tanganmu benar-benar lihai.”

So So berlagak pilon. Ia bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk , “Terima kasih Thio Ngohiap memuji aku terlalu tinggi.”

Coei San jadi semakin gusar. “In Kouwnio!” bentaknya. “Aku seorang she Thio belum pernah berbuat kesalahan apapun jua terhadapmu. Tapi mengapa kau sudah begitu tega mencelakakan aku ?”

So So bersenyum. “Aku bukan ingin mencelakakan kau,” katanya dengan suara tenang “Mengapa aku sudah berbuat begitu ? Siauwlim dan Boe tong adalah dua partai persilatan yang sangat besar dan ternama. Aku hanya ingin mereka bertempur nntuk menyaksikan siapa sebenarnya yang lebih kuat.”

Mendengar pengakuan sinona, Coei San terkejut. Sedikitpun ia tak nyana wanita cantik itu mempunyai tujuan yang begitu hebat “Kalau Siauw Lim dan Boe tong sampai bertempur entah berapa banyak korban yang akan rubuh dan kejadian itu bakal merupakan suatu peristiwa hebat dalam Rimba Persilatan,” pikirnya.

Paras sinona sendiri tetap berseri-seri dan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya, ia berkata, “Thio Ngohiap, bolehkah kulihat tulisan dan lukisan dikipasmu?”

Sebelum Coei San keburu menjawab, di perahu Siang Kim Peng sekonyong-konyong terdengar suara teriakan, “Apa perahu Kie keng pang? Siapa yang berada di perahu?”

“Siauw pang coe dari Kie keng pang ingin menghadiri pertemuan di pulau Ong poan san.”

“In Kouw nio dan Coe ciak tan Siang Tan coe berada di sini” teriak seorang dari perahu Siang Kim peng. “Kalian diharap mengikuti saja dari belakang.”

“Jika Peh bie kauw In Kauw coe sendiri yang berada di situ, kami bersedia untuk mengalah,” jawab seorang dengan suara keras. “Kalau orang lain, maaf saja.”

Mandeagar perkataan “Peh bie kauw In Kauw coe,” Coei San kaget, karena ia belum pernah mendengar nama agama (kauw) itu, baik dari gurunya, maupun dari luaran. Ia melongok keluar jendela dan dilihatnya di sebelah kanan terdapat sebuah perahu yang bentuknya menyerupai seekor ikan paus. Di kepala perahu terlihat sinar putih yang ber kilau kilauan karena dipasangnya puluhan pisau sebagai gigi ikan, sedang badan perahu yang melengkung dan buntutnya yang mengacung ke atas berbentuk seperti buntut ikan paus. Layar perahu sangat lebar dan jalannya perahu itu lebih cerat daripada perahu Siang Kim Peng.

Kie keng pang (partai Ikan Paus Raksasa) adalah sebuah perkumpulan bajak laut yang berkeliaran di sepanjang pantai propinsi, Kangsouw, Ciatkang dan Hokkian. Mereka membajak, membunuh dan melakukan lain-lain perbuatan terkutuk, tapi sebegitu jauh, karena licinnya, mereka belum dapat ditumpas oleh angkatan laut negeri dan selama puluhan tahun mereka malang melintang di perairan lautan Tong hay.

Siang Kim Peng segera maju dan berdiri di kepala perahu. “Bek Siauw pangcoe,” teriaknya.

“In Kouwnio berada di sini. Apakah kau sungkan memberi sedikit muka kepada kami ?”

Dari gubuk perahu Kie keng pang muncul seorang pemuda yang mengenakan pakaian warna kuning. Ia tertawa dingin seraya berkata, “Di daratan, Peh bie kauw boleh menjagoi, di air Kie keng pang yang memegang kekuasaan. Mengapa kami mesti mengalah dan membuntuti kamu dari belakang ?”

Medengar pembicaraan mereka, Coei San juga merasa, bahwa cara-cara Peh bie kauw terlalu sombong.

Sementara itu, anak buah Kie keng pang sudah menaikkan lagi sebuah layar, sehingga jalannya perahu jadi semakin laju, dengan begitu jadi sukar dapat diubar lagi.

Siang Kim Pang mengeluarkan suara di hidung.

“Kie kong pang…hm…To Liong to…juga…To liong to …” demikian terdengar perkataannya.

Karena suara angin yang menderu deru dan jarak antara kedua perabu sudah agak jauh, maka Bek Siauw pang coe hanya dapat menangkap perkataan “To liong to.” Ia kelihatan kaget dan buru-buru memerintahkan anak buahnya memperlambat jalan perahu. Beberapa saat kemudian, perahu Siang Kim Peng sudah mendekati.

“Siang Tan coe, apa kau kata ?” tanya pemuda itu.

“Bek Siauw pang coe…Hian boentan Pek Tan coe kami…golok To liong to itu…” jawab Siang Kim Peng.

Coei San merasa heran karena terputus-putusnya jawaban Siang Kim Peng.

Sementara itu, kedua perahu sudah jadi semakin makin dekat. Tiba-tiba terdengar suara gedubrakan disusul dengan teriakan orang. Ternyata diluar dugaan semua orang, dengan mendadak Siang Kim Peng mengangkat jangkar dan melontarkannya ke perahu Kie keng pang.

Suara rantai dan mencangkolnya jangkar di perahu Kie keng pang dibarengi dengan jeritan kesakitan dan ada orang anak buah perahu.

“Hai! Apa kau gila?” bentak Bek Siauw pang coe.

Anak buah Siang Kim Peng buru-buru mengangkat sebuah jangkar lain yang lalu dilemparkan lagi ke perahu Kie keng pang dan dua buab jangkar itu telah mengambil jiwanya tiga orang anak buah. Di

lain saat, kedua perahu hampir berdekatan, Bek Siauw pang coe melompat ke pinggir perahu dan coba mengangkat salah sebuah jangkar. Tapi sebelum ia berhasil, Siang Kim Peng sudah mengayun tangan kanannya dan serupa benda warna biru yang menyerupai buah semangka menghantam tiang layar tengah.

Benda itu, yang terbuat daripada baja, adalah salah sebuah dari sepasang senjata Siang Kim Peng yang berantai emas dan digunakan sebagai bandringan. “Semangka” itu adalah senjata berat yang dipegang di tangan kiri sembilanpuluh lima kati beratnyas sedang yang di tangan kanan seratus lima kati. Dari situ dapatlah dibayangkan, betapa hebat tenaga orang she Siang. Jika tak mempunyal tenaga ribuan kati, ia pasti tidak akan dapat menggunakan senjata seberat itu.

Begitu dihatam dengan “semangka” kanan, tiang layar itu bergoyangagoyang. “Semangka” kiri menyusul dan disusul pula dengan “Semangka” kanan. “Krek…krek…krek…brak!” Tiang yang kasar itu tak tahan dan patah. Keadaan jadi terlebih kalut dengan anak buah Kie keng pang ber teriak-teriak, sambil menghunus senjata.

Tanpa mempedulikan segala kekacauan itu Siang Kim Peng melompat ke belakang parahu itu dan menghantam tiang layar belakang. Tiang itu banyak lebih kecil dan sekali dihajar, lantas saja ambruk.

Pek Siauw pang coe sebenarnya mempunyai kepandaian tinggi. Senjatanya dinamakan Hoensoen Go bie cek, sepasang pusut yang panjangnya kirakira satu kaki dan sangat cocok untuk digunakan dalam pertempuran di dalam air. Tapi dalam kaget dan bingungnya, sebelum ia keburu berbuat suatu apa, Siang Kim Peng yang bergerak luar biasa cepat, sudah mematahkan dua tiang layarnya.

“Dengan adanya Peh bie kauw, di atas air pun Kie keng pang tak mempunyai kekuasaan,” teriak orang she Siang itu sambil melontarkan sebuah “semangka” ke lambung perahu musuh yang lantas saja ber lubang besar dan air mengalir masuk. Anak buah Kie keng pang jadi semakin bingung.

Dengan mata merah Bek Siauw pang coe mencabut pusutnya dan dengan sekali menotol kaki di depan perahu, badannya melesat ke perahu musuh.

Selagi tubuh pemuda itu berada di tengah udara tiba-tiba Siang Kim Peng melontarkan senjatanya ke muka pemuda itu. Serangan itu yang dikirim secara mendadak dan kejam mengejutkan sangat sekali.

Hati Bek Siauwpangcoe. “Celaka” teriaknya sambil menotok “semangka” itu dengan kedua pusutnya dalam usaha melompat balik dengan meminjam tenaga tersebut. Jika ilmu mengentengkan badannya bersamaan dengan ilmu Thio Coei San, bukan saja ia akan dapat mengelakkan serangan itu, tapi ia juga bisa balas menyerang. Tapi dalam segala hal, dia masih kalah jauh dari jago Boe tong pay itu.

“Semangka” yang beratnya seratus kati, ditambah dengan tenaga Siang Kim Peng sendiri, terlalu hebat untuk dilawannya. Tiba-tiba ia merasa dadanya menyesak, matanya berkunang-kunaug dan tanpa ampun ia rubuh terguling di atas perahunya.

Begitu lawannya rubuh, Siang Kim Peng segera menghantam pula dengan kedua “semangka” dan badan perahu Kie keng pang lantas saja berlubang di beberapa tempat. Sesudah itu, sambil mengerahkan Lweekang, is menarik pulang kedua jangkar yang mencantol di perahu musuh. Tanpa diperintah lagi oleh Tan Coe mereka anak buah perahu Peh bie kauw lantas saja menaikkan layar dan perahu itu perlahan-lahan mulai bergerak, tapi sebentar kemudian melaju kedepan dengan amat cepatnya.

Melihat cara Siang Kim Peng merubuhkan musuh, jantung Thio Coei San bardebar keras, “Jika tak mempunyai kepandaian meminjam tenaga memindahkan tenaga, tadi aku tentu sudah binasa dalam tangannya. ” pikirnya. Ia melirik In So So yang bersikap tenang-tenang saja, seolah-olah tidak terjadi kejadian luar biasa.

Tiba-tiba di sebelah kejauhan terdengar suara guruh. Itulah tanda, bahwa air pasang sedang mendatangi. Walaupun anak buah Kie keng pang pandai berenang, mereka tak nanti dapat melawan gelombang pasang yang seperti gunung. Bahaya yang dihadapi mereka lebih besar lagi, karena pada waktu itu, mereka berada di muara tempat bertemunya sungai dan lautan, sehingga lebarnya permukaan sungai sampai puluhan li. Maka itulah, begitu mendengar guruh, anak-anak Kie keng pang ketakutan setengah mati dan berteriak-teriak minta pertolongan, tapi perahu Siang Kim Peng dan In So So tidak meladeni dan terus berlayar kejurusan timur

Coei San melongok keluar jendela dan melihat Perahu ikan paus itu sudah tenggelam separuh. Mendengar teriakan-teriakan anak buah perahu ia sebenarnya merasa sangat tidak tega tapi karena mengetahui bahwa Siang Kim Peng dan In So So adalah manusia-manusia kejam, ia merasa tak guna membuka mulut.

Melihat paras pemuda itu, si nona bersenyum. Mendadak ia berseru “Siang Tan coe, hati Thio Ngohiap sangat mulia. Tolonglah anak buah perahu kie keng pang !”

Coei San terkejut, sebab hal itu benar-benar di luar dugaannya.

“Baik!” teriak Siang Kim Peng. Di lain saat perahunya membelok dan menuju ke perahu Kie keng pang.

“Anggauta-anggauta Kie keng pang dengarlah!” teriak Siang Kim Peng,” Atas permintaan Thio Ngohiap dari Boe tong pay, kami bersedia untuk menolong jiwamu. Siapa yang mau hidup, berenanglah kemari!”

Anak buah Kie keng pang jadi girang dan berburu berenang ke arah perahu Siang Kim Peng yang memapaki mereka. Dalam tempo tidak berapa lama, hampir semua orang, terhitung juga Bek Siauw pangcoe, sudah dapat ditolong. Tapi biarpun begitu, ada enam tujuh orang yang mati dipukul ombak.

“Terima kasih untuk pertolonganmu!” kata Coei San.

Si nona mengeluarkan suara di hidung dan berkata dengan suara tawar, “Orang-orang itu adalah bajak-bajak yang biasa merampok dan membunuh, perlu apa kau menolong mereka ?”

Coei San tergugu, tak dapat ia menjawab pertanyaan si nona. Ia memang sudah dengar, bahwa Kie keng pang adalah salah satu dari empat “pang” yang jahat dan ia pun tak pernah menduga, bahwa hari ini ia berbalik menolong kawanan bajak yang kejam itu.

“Kalau mereka tidak ditolong, di dalam hati Thio Ngohiap pasti akan mencaci-maki aku,” kata pula si nona. “Kau tentu akan mencaci aku sebagai perempuan kejam yang tidak pantas ditolong.”

Perkataan itu mengenakan jitu di hati Coei San, sehingga paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah, “Kau memang pandai bicara dan aku tidak dapat menandingi,” katanya sambil tertawa. “Dengan menolong orang-orang itu, kau telah melakukan perbuatan baik dan kau sendirilah mendapat pembalasan baik. Dengan aku sedikitpun, tiada sangkut pautnya.”

Baru saja ia berkata begitu, tibalah gelombang pasang. Perahu In So So seperti juga dilontarkan ke atas dan mereka tak dapat bicara lagi. Coei San melongok keluar jendela dan melihat gelombang gelombang besar dalam bentuk seperti tembok tembok tinggi mendatangi dengan saling susul. Ia bergidik karena mengingat, bahwa jika tidak ditolong semua anak buah perahu Kie keng pang pasti binasa di dalam air.

Mendadak si nona bangun berdiri, masuk ke gubuk perahu yang di sebelah bekakang dan lalu menutup pintu. Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi dengan mengenakan pakaian wanita dan memberi isyarat dengan gerakan tangannya, supaya Coei San membuka jubah luarnya. Karena merasa kurang enak untuk menolak lagi, ia lalu membuka jubahnya. Ia menduga si nona ingin menambal bagian yang berlubang dari jubah itu. Tapi tak dinyana, So So lalu mengangsurkan jubahnya sendiri yang tadi dipakai olehnya, sedang jubah Coei San lalu dibawanya ke gubuk belakang.

Mau tak mau, Coei San terpaksa memakai juga. Karena jubah luar biasanya dibuat dalam ukuran besar, maka meskipun tubuh pemuda itu lebih besar daripada badan si nona, ia masih dapat menggunakannya. Di lain saat, jantungnya memukul keras, sebab hidungnya mengendus bebauan yang sedap dan wangi. Ia merasa jengah dan tidak berani memandang lagi si nona. Karenanya matanya ditujukan kepada lukisan-lukisan yang dipasang di dinding gubuk, tapi hatinya tetap berdebar-debar. In So So pun tidak mengajak bicara lagi dan duduk diam sambil mendengar suara gelombang. Dalam gubuk ini dipasang sebatang lilin. Mendadak sebagai akibat hantaman gelombang, perahu miring dan lilin padam. “Celaka!” Coei San mengeluh dalam hatinya.

“Biarpun aku sopan, tapi dengan berdiam berdua-dua di tempat gelap, name baik In Kauwnio bisa ternoda.” Buru-buru in bangun berdiri dan membuka pintu belakang, akan kemudian pergi ke tempat jurumudi yang dengan tenang mengemudikan parahu itu ke aliran bawah.

Kurang lebih satu jam kemudian air pasang mulai surut dan air keluar lagi ke lautan, sehingga dengan menurut aliran air, perahu itu laju semakin cepat. Pada waktu fajar menyingsing pulau Ong poan san sudah berada di depan mata.

Pulau itu, yang terletak di mulut sungai Ciantong kang, dalam perairan lautan Tonghay adalah sebuah pulau kecil yang tandus dan tiada penduduknya. Waktu kedua perahu itu berada dalam jarak beberapa kali, dari atas pulau tiba-tiba terdengar suara terompet dan dua orang kelihatan menggoyang-goyangkan dua bendera hitam. Waktu perahu datang lebih dekat, Coei San mendapat kenyataan bahwa bendera hitam itu berpinggir putih dengan sulaman kura-kura terbang.

Dibawah kedua bendera itu berduduk seorang tua, begitu lekas perahu menepi, lantas saja berseru, “Hian boen tan Pek Kwie Sioe menyambut In Kauw nio dengan segala kehormatan.” Suaranya keras, tapi kedengarannya sangat menusuk kuping. Sehabis berseru begitu si kakek sendiri memasang papan untuk pendaratan. In So So mempersilahkan Coei San jalan lebih dulu dan sesudah mereka mendarat, ia segera memperkenalkan, pemuda itu kepada Pek Kwie Sioe.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: