Kumpulan Cerita Silat

06/07/2008

Memanah Burung Rajawali – 06

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:48 am

Memanah Burung Rajawali – 06
Bab 06. Pengejaran
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tidak ada jalan lain, Cie Kee terjang musuhnya, si buta itu, ujung pedangnya menikam ke arah muka. Tin Ok dengar anginnya senjata, ia menangkis. Keras kedua senjata beradu, lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. Dia hampir membikin terlepas pedangnya.

“Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?” pikirnya. Ia penasaran, maka lagi sekali, ia menikam. Kali ini, ia insyaf kenapa ia kalah kuat. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. Oleh karena ini, ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. Dengan tangan kiri ini, ia bersilat dengan ilmu silatnya “Kie Siang Kim-hoat” atau “Melukai Semua”. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. Dengan ini, di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. dengan “melukai semua” hendak diartikan “mati bersama”.

Segera juga Kwa Tin Ok, Cu Cong dan Ciauw Bok terarah semua bagian tubuhnya yang berbahaya. Maka repotlah mereka membuat perlawanan. Sejak turun gunung, Cie Kee belum pernah menemui lawan setimpal, inilah pertama kalinya. Tidak peduli tenaganya kurang, dengan berlaku nekat ia tetap berbahaya..

Baharu belasan jurus paha Tin Ok telah tertikam pedang.

“Kwa Toako, Cu Jieko, biarkan si imam berlalu!” berseru Ciauw Bok Taysu.

Paderi ini lihat ancaman bahaya, ia memikir untuk mengalah tetapi justru ia serukan kawannya, ujung pedang Cie Kee mengenai iga kanannya hingga ia kaget dan menjerit, tubuhnya rubuh seketika!

“Imam anjing!” Cu Cong mencaci. “Imam bangsat! Racun ditubuhmu telah menyerang hatimu! Kau tikamlah pula tiga kali!”

Bangkit kumisnya si imam, mendelik sepasang matanya, tanpa bilang suatu apa, ia melompat kepada Manusia Aneh yang kedua itu. Cu Cong tidak melayani, ia hanya berlari-lari berputaran di pendopo kuil.

Sembari berlari, Cie Kee insyaf bahwa tak dapat ia menyandak lawan itu. Ia pun mulai terhuyung. Maka sambil menghela napas, ia berhenti mengejar. Tiba-tiba ia rasai matanya kabur, lekas-lekas ia pusatkan semangatnya. Sekarang ia baru ingat untuk angkat kaki saja. tetapi terlambat. Mendadak bebokongnya mengasi dengar suara keras! Ia merasa sakit sekali, tubuhnya pun terhuyung!

Cu Cong yang cerdik itu telah timpuk imam itu dengan sepatunya, cukup keras timpukannya itu. Cie Kee merasai pikirannya kacau tetapi kembali ia memusatkannya. Justru itu, batok kepalanya telah terpukul keras. Kali ini Cu Cong menimpuk dengan bok-hie, itu tambur teroktok peranti mambaca doa.

“Sudah, sudah, hari ini Tiang Cun Cu mesti terbinasa di tangannya bangsat-bangsat licik…” ia mengeluh. Ia menahan sakit, ia melompat ke depan, akan tetapi ketika kakinya menyentuh tanah, kedua kakinya itu lemas, tubuhnya terus terguling!

“Bekuk dia dulu, baru kita bicara!” berseru Cu Cong. Ia dekati imam itu, yang rebah diam saja. Ia geraki kipasnya untuk menotok jalan darah di dada si imam. Tiba-tiba ia lihat tangan kiri Cie Kee bergerak, ia kaget. Ia menginsyafi bahaya, dengan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya. Tidak urung, ia merasakan dorongan suatu tenaga keras sekali, tubuhnya terpental ke belakang, belum lagi tubuh itu tiba di tanah, ia sudah muntahkan darah hidup!

Cie Kee telah gunai tenaganya yang terakhir untuk serang lawannya itu.

Paderi-paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak mengerti ilmu silat, mereka juga tidak tahu bahwa guru mereka mengerti ilmu itu, dari itu selama pertempuran mengambil tempat, mereka semua pada sembunyikan diri. Sampai keadaan sunyi, baru mereka keluar dari tempat persembunyian mereka, akan saksikan segala apa kacau dan orang rebah di sana sini, darah pun berhamburan. Mereka jadi ketakutan, mereka lantas pergi mencari Toan Thian Tek.

Orang she Toan itu terus sembunyi di dalam ruang dalam tanah, takutnya bukan main. Tempo ia diberitahu orang telah pada rubuh semua, ia masih khawatirkan tidak ada Khu Cie Kee di antara korban-korban itu. Ia suruh dulu sat kacung paderi untuk melihatnya, kemudian barulah ia keluar, hatinya lega. Ia telah diberitahu si imam lagi rebah diam dengan kedua mata tertutup.

Dengan tarik tangan Lie Peng, Thian Tek pergi cepat-cepat ke pendopo. Ia lantas hampirkan Cie Kee, tubuh siapa dia dupak.

Imam itu masih belum putus jiwanya, ia bernapas berlahan sekali.

Thian Tek cabut goloknya. “Imam bangsat, kau kejar aku hingga aku bersengsara, sekarang hendak aku kirim kau pulang ke Langit Barat!” ia kata, lalu ia ayunkan goloknya.

“Jangan….jangan bunuh dia…!” berseru Ciauw Bok Taysu, tapi suaranya sangat lemah. Ia rebah dengan terluka parah tapi ia dapat lihat perbuatan si keponakan murid.

“Kenapa?” Thian Tek tanya.

“Dia adalah satu imam yang baik…” sahut Ciauw Bok. “Dia Cuma berhati keras… Di sini telah terbit salah mengerti…”

“Orang baik apa!” kata Thian Tek. “Dia perlu dibunuh dulu…!”

Ciauw Bok menjadi gusar. “Kau tidak mau dengar perkataanku?!” dia membentak. “Letaki golokmu…!”

Thian Tek tertawa tergelak. “Kau ingin aku meletaki golokku? Hahaha!” ia tertawa mengejek. Ia ayunkan pula goloknya, ia arahkan ke kepalanya si imam.

Dengan mendadak Lie Peng berteriak. “Kau…kau hendak lagi membunuh orang!” tanyanya.

Ciauw Bok Taysu juga gusar bukan main, dengan sisa tenaganya ia timpuk Thian Tek dengan sepotong kayu di tangannya.

Thian Tek berkelit tetapi ia terlambat, mukanya kena terhajar hingga rontok ziga buah giginya. Ia merasakan sangat sakit, ia jadi kalap, tanpa ingat budinya Ciauw Bok, ia lantas menyerang.

Di situ ada beberapa kacung paderi, mereka ini kaget. Satu kacung langsung tubruk Thian Tek untuk tarik lengannya, yang lainnya mengigit. Thian Tek gusar bukan kepalang, dengan kejam, dengan dua bacokan ia bikin kedua kacung itu rubuh.

Tiang Cun Cun, Ciauw Bok dan Kanglam Cit Koay adalah orang-orang yang lihay, akan tetapi di saat seperti ini, justru jiwa mereka sendiri terancam bahaya, mereka Cuma bisa membuka mata menyaksikan kejadian hebat itu.

Lie Peng berteriak-teriak pula: “Hai, manusia jahat, tahan!”

Tidak ada orang yang kenali Lie Peng, walaupun suaranya nyaring. Ini nyonya tetap mengenakan seragam, orang sangka ia adalah serdadu sebawahannya Thian Tek. Cuma Tin Ok, walaupun ia buta, mendengar suara orang, dia tahu pasti orang adalah seorang wanita. Maka itu sembari menghela napas, dia berkata: ” Ciauw Bok Hweshio, kami semua telah kau aniaya! Benar saja di dalam kuilmu ini kau ada sembunyikan orang perempuan….!”

Ciauw Bok terkejut, hatinya mencekat. Ia bukannya seorang tolol, segera ia pun sadar. Maka itu bukan main menyesalnya ia untuk kealpaannya itu.

“Binatang ini telah jual aku, dia membikin aku mencelakai sahabat-sahabatku,” katanya dalam hati. Hampir ia pingsan saking kerasnya ia melawan kemendongkolannya. Ia kerahkan tenaganya dengan kedua tangannya menekan lantai, ia lompat kepada Thian Tek.

Orang she Toan itu tidak menangkis, dia hanya menyingkir sambil egos tubuhnya.

Tubuh paderi itu lewat terus, dengan cepat, tepat mengenai tiang pendopo, maka tubuhnya rubuh dengan kepala pecah, tubuh itu tidak berkutik lagi.

Toan Thian Tek kaget, hatinya menjadi ciut, dari itu dengan sambar tangannya Lie Peng, ia lari keluar kuil.

“Tolong! Tolong!” Lie Peng berteriak-teriak. “Tidak, aku tidak mau pergi….!”

Tapi ia ditarik terus, hingga suaranya tidak terdengar lagi.

Kuil itu menjadi berisik, semua paderi menangis karena kebinasaan guru mereka. Mereka pun menjadi repot, akan tolongi orang-orang yang terluka, guna pindahkan mayat. Selagi mereka bekerja, tiba-tiba mereka dengar suara apa-apa dari arah genta, hingga mereka kaget. Kemudian belasan paderi itu menggunai dadung, akan tarik genta itu untuk dibikin terbalik, setelah mana mereka dapatkan satu tubuh tergelumuk menggelinding keluar. Mereka kaget, mereka lari serabutan.

Tubuh bergelumbuk itu sudah lantas lompat bangun, ia mengeluarkan napas lega. Ia bukan lain daripada Ma Ong Sin Han Po Kie yang tadi kena ditungkrap Khu Cie Kee, hingga ia tak mampu keluar dari jambangan dan genta itu. Ia heran dan kaget saksikan pendopo itu, hingga ia berkoak-koak.

Kwa Tin Ok masih sadar walaupun ia terluka, ia panggil Po Kie, untuk sabarkan padanya. Ia pun keluarkan obatnya untuk suruh satu paderi pergi obat Khu Cie Kee dan Han Siauw Eng, ia sendiri memberi keterangan pada Po Kie perihal jalannya pertempuran, tentang Toan Thian Tek dan si wanita yang menyamar sebagai serdadu.

“Nanti aku susul dia!” teriak Po Kie sangkin gusarnya.

“Jangan!” Tin Ok mencegah. “Nanti ada ketikanya untuk menghukum dia, sekarang kau perlu rawat dulu saudara-saudaramu yang terluka.”

Po Kie dapat dibikin sadar.

Cu Cong dan Lam Hie Jin adalah yang terluka paling parah. Thio A Seng patah lengannya, setelah pingsan, ia sadar, ia tidak terancam bahaya.

Po Kie lantaa rawat semua saudaranya itu.

Paderi pengurus dari Hoat Hoa Sian Sie telah bekerja, disatu pihak ia ajukan pengaduan kepada pembesar negeri, di lain pihak ia kirim kabar pada Kouw Bok Taysu di Kong Hauw Sie, Hangciu. Jenazahnya Ciauw Bok Taysu pun lantas diurus.

Selang beberapa hari, Cie Kee dan Siauw Eng telah dapat ditolong dari racun. Cie Kee mengerti ilmu obat-obatan, ia lantas obati Tin Ok semua, ia pun uruti mereka, hingga selang beberapa hari, semuanya telah dapat bangun dari pembaringan.

Pada suatu hari, semua orang duduk berkumpul dengan dirundung kemasgulan hingga mereka pada berdiam saja. Mereka menyesal sekali sudah jadi korbannya Toan Thian Tek, hingga Ciauw Bok Taysu menjadi korban.

“Totiang, bagaimana sekarang?” Siauw Eng tanya Khu Cie Kee. Ia memangnya polos. “Totiang berkenamaan dan kami pun bukannya orang-orang yang masih hijau, kita sekarang rubuh di tangannya satu kurcaci, apa kata kaum kang-ouw bila peristiwa disini sampai tersiar? Tidakkah itu sangat memalukan? Tolong Totiang tunjuki kami bagaimana kami harus berbuat.”

“Kwa Toako, kau saja yang bicara,” kata Cie Kee menyahuti si nona. Ia sendiri pun bukan main masgul, menyesal dan mendongkolnya. Ia merasakan kesembronoannya. Coba ia tidak turuti hawa amarahnya dan berbicara dengan tenang sama Ciauw Bok, peristiwa celaka itu pasti dapat dicegah.

Tin Ok tertawa dingin. Ia memang aneh tabiatnya. Ia malu sekali yang ia bertujuh saudara kena dikalahi Cie Kee, terutama dirinya sendiri, yang kena ditikam kakinya hingga tak dapat dia berjalan dengan leluasa.

“Totiang biasa malang melintang, mana kau melihat mata kepada kami!” katanya tawar, ” Tentang ini untuk apa kau menanya pula kami…”

Cie Kee tahu orang masih mendongkol, ia lantas bangkit berbnagkit untuk menjura kepada tujuh saudara itu. “Pinto sangat menyesal, aku mohon maaf,” dia bilang.

Cu Cong semua membalas hormat, Cuma Tin Ok yang diam saja, ia berpura-pura tidak tahu.

“Segala urusan kaum kang-ouw, kami tidak ada muka untuk mencampuri tahu lagi,” kata ini ketua Kanglam Cit Koay. “Selanjutnya kami akan berdiam di sini, untuk menangkap ikan atau mencari kayu. Asal Totiang tidak mengganggu kami, kami akan melewati sisa hidup kami…”

Mukanya Cie Kee menjadi merah, ia jengah hingga tak dapat ia membuka mulutnya. Selang sesaat baru ia dapat bicara.

“Aku telah menerbitkan malapetaka, lain kali tak nanti aku datang kemari untuk membuat onar pula,” katanya seraya berbangkit. “Tentang sakit hatinya Ciauw Bok Taysu serahkan itu padaku, dengan tanganku sendiri, akan aku bunuh jahanaman itu! Sekarang aku mohon diri…”

Ia menjura pula, lantas ia ngeloyor keluar.

“Tahan!” Tin Ok berseru.

Imam itu memutar tubuhnya. “Kwa Toako hendak menitah apa?” ia tanya. Tetap ia sadar.

“Kau telah lukakan parah saudara-saudaraku ini, apakah itu cukup dengan hanya kata-katamu barusan?” tanya Tin Ok.

“Habis Kwa Toako memikir bagaimana?” menegaskan Cie Kee. “Apa saja yang tenagaku dapat kerjakan, suka aku menuruti titahmu.”

“Tak sanggup aku menelan peristiwa ini,” Tin Ok bilang. “Aku masih ingin menerima pengajaran dari Totiang!”

Kanglam Cit Koay gemar melakukan amal akan tetapi mereka berkepala besar, sepak terjang mereka biasanya luar biasa, kalau tidak, tidak nanti mereka disebut “Cit Koay” – tujuh Manusia Aneh. Mereka semua lihay, jumlah mereka pun banyak – bertujuh – dari itu, orang malui mereka. Mereka sendiri belum pernah nampak kegagalan, malah dengan pernah mengalahkan seratus lebih jago Hoay Yang Pang, nama mereka jadi menggemparkan dunia Kang-ouw. Sekarang mereka kalah di tangan Khu Cie Kee satu orang, bagaimana mereka tidak menjadi penasaran?

Cie Kee terkejut. “Pinto telah terkena senjata rahasiamu, Kwa Toako,” kata ia, tetap tenang. “Tanpa pertolonganmu, pasti sekarang aku telah berada di Negara Setan. Di dalam urusan kita ini, walaupun benar pinto telah lukai kamu, kenyataannya adalah pinto telah rubuh, maka itu pinto menyerah kalah…”

“Kalau begitu, letaki pedang di bebokongmu itu!” bentak Tin Ok. “Dengan meninggalkan pedangmu, suka aku melepas kau pergi!”

Bukan main mendongkolnya Cie Kee, di dalam hati ia berkata: “Aku telah beri muka kepada kamu, aku telah menghanturkan maaf dan mengaku kalah, kenapa kamu masih merasa belum cukup?” Ia lantas menjawab: “Pedang ini adalah alat pembela diriku, sama saja dengan tongkat Kwa Toako…”

Tin Ok tapi tetap murka. “Kau pandang entang kakiku pengkor?!” ia membentak.

“Pinto tidak berani,” sahut si imam itu.

Dalam murkanya, Tin Ok bilang: “sekarang kita sama-sama terluka, sulit untuk kita bertempur lagi, maka itu baiklah lain tahun pada hari ini, aku minta totiang membuat pertemuan pula di Cui Siang Lauw!”

Cie Kee mengerutkan keningnya. Ia sangat masgul. Ia tahu Cit Koay bukan orang busuk, tak dapat ia layani mereka. Bagaimana ia bisa loloskan diri dari mereka itu? Pula ada sulit untuk melayani mereka bertempur pada lain tahun. Ia bersendirian dan mereka bertujuh. Mungkin sekali, selama tempo satu tahun, mereka itu akan tambah kepandaiannya. Ia pun bisa berlatih diri tapi barangkali sukar untuk beroleh kemajuan. Ia terus berpikir, sampai ia dapat satu pikiran.

“Tuan-tuan, kamu hendak adu kepandaian yang memutuskan denganku, tidak ada halangannya,” ia berkata. “Hanya untuk itu, syaratnya haruslah pinto yang menetapkannya. Kalau tidak, pinto suka menyerah kalah saja.”

Han Po Kie bersama Siauw Aeng dan A Seng bnagkit berdiri, dan CU Cong dan lainnya yang terluka mengangkat kepalanya dari pembaringan. Hampir berbareng mereka itu kata: “Kalau Kanglam Cit Koay bertaruh selamanya adalah pihak sana yang memilih tempat dan waktunya!”

Cie Kee tersenyum dapatkan orang demikian gemar menang sendiri.

“Apakah kamu suka terima syarat apapun?” dia tanya.

Cu Cong dan Coan Kim Hoat adalah yang tercerdik di antara saudara-saudaranya, mereka tidak jeri.

“Kau sebutkan saja syaratmu!” kata mereka. Di dalam hatinya mereka berkata: “Tidak peduli kau pakai akal licin apa juga, mustahil kami nanti kalah…”

“Kata-katanya satu kuncu?” berkata imam itu.

“Sama cepatnya dengan satu cambukan kuda!” sahut Siauw Eng lantas.

Kwa Tin Ok masih sedang memikir ketika Khu Cie Kee berkata pula: “Mengenai syaratku ini, masih tetap berlaku kata-kataku tadi. Ialah umpama kata tuan-tuan anggap tidak sempurna, pinto tetap suka menyerah kalah!”

Dengan ini, imam itu memancing hawa amarah ke tujuh Manusia Aneh itu. Ia tahu benar Cit Koay adalah sangat besar kepala.

“Jangan kau coba pancing hawa amarah kami!” Tin Ok memotong. “Lekas kau bicara!”

Cie Kee lantas berduduk.

“Syaratku ini ada meminta tempo yang lama,” ia menyahut dengan sabar. “Tapi apa yang kita akan adu adalah kepandaian sejati. Aku sendiri tidak menghendaki cara mengandali kekosenan saja, dengan menggunai alat senjata atau kepalan dan tendangan. Kepandaian semacam itu, siapa menyakinkan ilmu silat tentunya semua mengerti. Bukankah kita, kaum Rimba Persilatan yang kenamaan tak dapat berlaku demikian cupat sebagai anak-anak muda yang terlahir belakangan?”

Kanglam Cit Koay saling mengawasi, hati mereka masing-masing menduga: “Kau tidak hendak menggunai senjata, tangan dan kaki, habis apakah syaratmu itu?” Maka mereka menanti penjelasan.

Cie Kee berkata pula, dengan sikapnya yang agung. “Biar bagaimana, kita mesti melakukan suatu pertempuran yang memutuskan. Aku akan menghadapi kalian bertujuh, tuan-tuan! Kita bukan Cuma mengadu kepandaian, juga mengadu kesabaran, kita memakai akal budi. Marilah kita lihat, siapakah yang paling gagah – satu enghiong sajati!”

Kata-kata ini membuat darahnya Kanglam Cit Koay mengalir deras.

“Lekas bilang, lekas!” Han Siauw Eng. “Semakin sulit adanya syarat, semakin baik!”

Cu Cong tapinya tertawa. Ia berkata: “Kalau syaratmu itu adalah untuk mengadu bertapa atau membikin obat mujarab atau membikin surat jimat guna menangkap roh-roh jahat, maka kami bukanlah tandingan kamu bangsa imam!”

Khu Cie Kee pun tertawa.

“Pinto juga tidak berpikir untuk adu kepandaian sama Cu Jieko dalam hal mencuri ayam atau meraba-raba anjing atau mengulur tangan menuntun kambing!” Ia maksudkan ilmu mencopet.

Mendengar itu Siauw Eng pun tertawa. “Lekas bicara, lekas!” ia mendesak pula.

“Jikalau kita mencari pokok sebabnya,” kata Tiang Cun Cu dengan tenang, “Biangnya gara-gara hingga kita bertempur dan saling melukai adalah urusan menolongi turunannya orang-orang gagah, oleh karena itu, baiklah kita kembali kepada sebab musabab itu.”

Dengan “orang gagah” imam itu maksudkan “ho-kiat” atau “enghiong”. Lalu ia menjelaskan tentang persahabatannya sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim – yang ia maksudkan si orang-orang gagah itu – yang mengalami nasib celaka, karena itu ia telah ubar-ubar Toan Thian Tek. Ia juga tuturkan bagaimana caranya ia kejar Thian Tek itu, tetapi sangkin licinnya, Thian Tek saban-saban dapat meloloskan diri.

Selagi memasang kuping, beberapa kali Kanglam Cit Koay mengutuk bangsa Kim serta pemerintah Song yang sewenang-wenang dan kejam.

Habis menutur, Cie Kee tambahkan: “Orang yang Toan Thian Tek bawa lari itu adalah Lie-sie, istrinya Kwee Siauw Thian. Kecuali Kwa Toako bersama saudara Han, empat saudara lainnya telah pernah lihat mereka itu”

“Aku ingat suaranya Lie-sie itu,” kata Kwa Tin Ok. “Umpama berselang lagi tiga puluh tahun, tidak nanti aku dapat melupakannya.”

“Tentang istri Yo Tiat Sim, yaitu Pauw-sie,” Cie Kee menambahkan, “Aku masih belum tahu dia ada dimana. Pernah pinto melihat romanya Pauw-sie, tidak dengan demikian tuan-tuan. Inilah yang pinto hendak gunai sebagai syarat pertaruhan kita…”

Siauw Eng segera menyela: “Kami pergi tolongi Lie-sie, kau pergi tolong Pauw-sie! Siapa yang lebih dulu berhasil, dia yang menang, bukankah?”

Khu Cie Kee tersenyum.

“Cuma menolongi saja?” ia ulangi. “Untuk pergi mencari dan menolongi, itu memang benar bukannya kerjaan terlalu gampang, akan tetapi selain itu, masih ada hal yang terlebih sukar lagi, yang meminta banyak waktu, tenaga dan pikiran..”

“Apakah adanya itu?” Kwa Tin Ok bertanya.

“Akan aku jelaskan,” jawab si imam. “Dua-duanya Pauw-sie dan Lie-sie itu sama-sama lagi mengandung. Pinto ingin setelah dapat cari dan tolong mereka, kita mesti pernahkan mereka itu. Kita tunggu sampai mereka telah melahirkan anak, lalu anak-anak mereka itu kita rawat dan didik dalam ilmu silat. Pinto akan didik anak Yo Tiat Sim dan tuan-tuan bertujuh merawat anaknya Kwee Siauw Thian…”

Tujuh bersaudara itu membuka mulut mereka. Heran untuk kata-kata si imam.

“Bagaimana sebenarnya?” Han Po Kie tanya

“Kita menanti sampai lagi delapan belas tahun,” menerangkan Tiang Cun Cu. “Itu waktu, anak-naka itu telah berumur delapan belas tahun, lalu kita ajak mereka ke Kee-hin, untuk membuat pertemuan di Cui Sian Lauw. Berbareng dengan itu, kita undang sejumlah orang gagah lainnya untuk menjadi saksi. Kita membuatnya pesta, sesudah puas makan minum, baru kita suruh kedua anak itu adu kepandaian. Di situ nanti kita lihat, murid pinto yang berhasil atau muridnya tuan-tuan bertujuh!”

Tjuh bersaudara itu saling memandang, tidak ada satu jua yang segara menjawab imam itu. Bukankah syarat itu ada sangat luar biasa?

“Jikalau tuan-tuan bertujuh yang bertempur sama aku, umpama kata kamu yang menang, itu tidak ada artinya,” Cie Kee berkata pula. “Bukankah tuan-tuan menang karena jumlah yang banyak lawan jumlah yang sedikit? Kemenangan itu bukan kemenangan yang mentereng! Dengan syarat kita ini aku nanti turunkan kepandaianku kepada satu orang, tuan-tuan pun mewariskan kepandaian kamu kepada satu orang juga, setelah itu mereka bertanding satu lawan satu, sampai itu waktu, andaikata muridku yang menang, bukankah tuan-tuan akan merasa puas?”

Akhirnya Tin Ok ketruki tongkat besinya ke lantai. “Baiklah, secara demikian kita bertaruh! katanya.

Tapi Coan Kim Hoat campur bicara. Ia tanya: “Bagaimana kalau pertolongan kami terlambat, dan Lie-sie keburu dibikin binasa oleh Toan Thian Tek?”

“Biarlah kita sekalian adu keberuntungan juga!” sahut Cie Kee. “Jikalau Thian menghendaki aku yang menang, apa hendak dibilang?”

“Baik!” Han Po Kie juga turut bicara. “Memang menolong anak piatu dan janda juga adalah perbuatan yang mulia, umpama kami tak dapat lawan kamu, kami toh telah lakukan juga satu perbuatan yang baik.”

Cie Kee tonjolkan jempolnya. “Han Samya benar!” pujinya. “Tuan-tuan berkenan menolongi abak yatim piatu dari keluarga Kwee itu, untuk ini sekarang pinto wakilkan saudara Kwee menghanturkan terima kasih terlebih dahulu!” Dan ia lantas menjura dalam.

“Cara pertaruhan ini adalah terlalu licin,” berkata Cu Cong kemudian. “Cuma dengan beberapa kata-katamu ini, kau hendak membikin kamu bercapek lelah selama delapan belas tahun!”

Wajahnya Khu Cie Kee berubah, akan tetapi ia berdongak dan tertawa besar.

“Apakah yang lucu?” tanya Han Siauw Eng.

“Selama dalam dunia kang-ouw telah aku dengar nama besar dari Kanglam Cit Koay,” sahut si imam yang ditanya, “Orang umumnya bilang mereka itu gemar sekali menolong sesamanya, mereka gagah perkasa dan mulia, tetapi hari ini bertemu dengan kamu – hahaha!”

Kanglam Cit Koay menjadi panas hatinya. Han Po Kie segera menghajar bangku dengan tangannya. Ia hendak bicara tetapi si imam dului dia.

“Sejak zaman dahulu hingga sekarang ini,” kata Cie Kee. “Kalau satu orang gagah sejati bersahabt, dia bersahabat untuk menjual jiwanya, ialah denagn segala urusan ia bersedia untuk mengorbankan dirinya. Pengorbanan itu tidak ada artinya! Bukankah kita belum pernah dengar bahwa di jaman dahulu ada Keng Ko dan Liap Ceng berhitungan?”

Wajahnya Cu Cong menjadi pucat, tak ada sinarnya. “Tidak salah apa yang totiang bilang!” katanya sambil goyang kipasnya. “Aku mengaku keliru! Baiklah, kita bertujuh akan terima tanggung jawab kita ini!”

Khu Cie Kee lantas berbangkit.

“Hari ini adalah tanggal dua puluh empat bulan tiga,” ia berkata pula, “Maka itu lagi delapan belas tahun, kita akan bertemun pula di rumah makan Cui Siang Lauw, untuk orang-orang gagah di kolong langit ini menyaksikan siapa sebenarnya laki-laki sejati!”

Habis berkata, seraya kibaskan tangannya, ia bertindak pergi.

“Nanti aku susul Toan Thian Tek!” kata Han Po Kie. “Dia tak dapat dibiarkan menghilang, hingga pastilah sulit kita mencari padanya!”

Di antara Cit Koay, dialah yang tidak terluka. Setelah berkata begitu, ia lantas lari keluar, untuk terus menaiki kudanya, guna susul Thian Tek.

“Sha-tee! Sha-tee! Cu Cong memanggil-manggil. “Kau tidak kenal mereka itu!”.

Dengan mereka, orang she Cu ini menyebutkannya Thian Tek dan Lie Peng.

Tetapi Po Kie si tak sabaran telah pergi jauh.

Thian Tek telah angkat kaki dengan naik perahu. Ketika ia tarik Lie Peng keluar dari tempat berbahaya itu, lega hatinya apabila ia menoleh ke belakang, ia tak tampak ada orang yang kejar atau susul padanya. Ia cerdik, maka itu segera ia menuju ke sungai, malah tanpa memilih kenderaan air lagi, ia lompat naik ke sebuah perahu, ia ajak Lie Peng bersama.

“Lekas berangkat!” ia membentak tukang perahu sambil ia cabut goloknya.

Kanglam adalah daerah air, disana ada banyak sungai atau kali, dari itu, kendaraan air adalah alat penghubung atau pengangkut yang paling umum, sama saja dengan kuda atau keledai di Utara. begitu muncul kata-kata: “Orang Utara naik kuda, orang Selatan naik perahu.”

Tukang perahu itu ketakutan lihat orang demikian galak., ia buka tambatan perahunya, ia lantas mengayuh. Dengan lekas ia keluar dari daerah kota.

Thian Tek lantas asah otaknya: “Aku telah terbitkan onar besar, tak dapat aku pulang untuk pangku pula jabatanku. Baiklah aku pergi ke Utara untuk menyingkir dulu dari ancaman bahaya. Semoga itu imam bangsat dan tujuh siluman dari Kanglam itu bertempur hingga mampus semuanya, supaya aku dapat kembali ke Lim-an.”

Kudanya Po Kie lari pesat, tetapi ia hanya mondar-mandir di darat, tentu sekali ia tak dapat cari Thian Tek, apapula ia kenali roman orang itu. Ia tanya-tanya orang akan tetapi pertanyaannya tidak jelas.

Thian Tek tunjuki terus kelicinannya. ia menukar perahu beberapa kali. Berselang belasan hari, tibalah ia di Yangciu. Paling dulu ia mencari rumah penginapan. Ia telah memikir untuk cari suatu tempat untuk bertinggal buat sementara waktu. Sebab bukanlah soal yang sempurna untuk terus-terusan berkelana dengan hati tidak tentram.

Itu hari selagi berada di dalam kamar, ia dengar suara Han Po Kie tengah berbicara sama pemilik penginapan, menanyakan tentang dia dan Lie Peng. Ia kaget tetapi ia berlaku tenang. Dari dalam kamarnya ia mengintai, memasang mata. Ia lihat tegas seorang kate dampak yang romannya jelek sekali yang berbicara dengan lidah Kee-hin. Setelah merasa pasti bahwa orang adalah salah satu Cit Koay, ia tarik tangannya Lie Peng untuk diajak segera menyingkir dari pintu belakang. Kembali ia menyewa sebuah perahu. tak sudi ia berjalan sedikit juga. Ia berlayar terus ke Utara, hingga mereka sampai di perhentian Lie-kok-ek, di tepi telaga Bie San Ouw di wilayah propinsi Shoatang. Belum sampai setengah bulan ia berdiam di tepi telaga itu, Han Po Kie dapat susul ia. Malah Po Kie ada bersama denagn satu nona.

Adalah pikirannya Thian Tek, untuk keram diri di dalam kamarnya , akan tetapi Lie Peng, yang merasa ada bintang penolongnya, sudah lantas menjerit-jerit. Akan tetapi ia adalah satu wanita lemah, ia diringkus Thian Tek, dibekap mulutnya dengan selimut. Ia pun telah dipukuli. Setiap kali ia berlepas tangan atau mulutnya, ia terus berontak dan berteriak-teriak. Syukur untuk Thian Tek, Po Kie bersama kawannya yaitu Siuaw Eng, adiknya, tidak mendengar apa-apa.

Dalam sengitnya, saking khawatirnya, Thian Tek berniat membunuh Nyonya Kwee itu. Ia telah hunus pedangnya, ia dekati Lie-sie.

Nyonya Kwee telah tawar hatinya sejak kebinasaan suaminya, ia sebenarnya sudah memikir untuk bunuh diri, lebih baik bia ia bisa binasa bersama musuhnya itu, maka itu, menampak sikapnya Thian Tek itu, ia tidak takut, ia justru diam-diam memuji kepada roh suaminya: “Engko Siauw, engko Siauw, aku mohon kepadamu, ingin aku supaya sebelum datang saatnya, aku bertemu pula denganmu, kau lindungi kepadaku, agar dapat aku membinasakan manusia jahat ini!” Lalu dengan diam-diam, ia siapkan pisau belati atau badik yang Cie Kee hadiahkan kepadanya.

Thian Tek tersenyum aneh, ia angkat tangannya untuk dikasih turun denagn bacokannya.

Lie Peng tidak mengerti silat, tetapi telah bulat tekadnya, maka itu sebaliknya dari ketakutan, ia justru mendahului sambil menubruk, ia menikam!

Thian Tek kaget dan heran. Inilah ia tidak sangka. Maka terpaksa ia gunai goloknya untuk menangkis.

“Trang!” demikian satu suara nyaring.

Untuk kagetnya manusia busuk ini, ujung goloknya putus dan jatuh ke tanah dan ujung pisau belati menyambar terus ke dadanya. Dalam kagetnya ia buang diri ke belakang, tetapi tak urung, bajunya kena terobek, dadanya kena tergurat, hingga darahnya lantas mengucur keluar. Coba Lie-sie bertenaga cukup, dadanya itu pasti telah tertancap pisau belati itu.

Untuk bela diri terlebih jauh, Thian Tek sambar sebuah kursi. “Simpan senjatamu!” ia membentak. “Aku tak akan membunuh padamu!”

Lie Peng sendiri telah lemas kaki dan tangan dan tubuhnya, ia telah keluarkan tenaga terlalu besar, ia sudah umbar hebat hawa amarahnya tanpa merasa ia membuat kandungannya tergerak, hingga bayi di dalam perutnya itu meronta-ronta. Dengan letih ia jatuhkan diri ke kursi, napasnya memburu. Tapi ia masih ingat akan pisau belatinya yang ia pegangi keras-keras.

Thian Tek tetap jerih untuk Han Po Kie beramai, ia juga tak dapat lari seorang diri, sudah kepalang tanggung, ia terus membawa Lie Peng. Kali ini ia kembali naik perahu, tetap ia menuju ke Utara. Ia melalui Lim-ceng dan Tek-ciu dan tiba di propinsi Hoopak. Selama itu rasa takutnya tak jadi berkurang. Setiap ia mendarat, selama tinggal di penginapan, saban-saban ada orang mencari dia. Syukur ia waspada dan cerdik, selalu dapat ia menjauhkan diri dari mereka itu. Ia peroleh kenyataan, kecuali si kate terokmok dan si nona, ada lagi seorang lain yang cari padanya, ialah seorang pincang dan bermata buta yang membawa-bawa sebatang tongkat besi. Syukur untuknya, tiga orang itu tidak kenali dia, walaupun kedua pihak bertemu muka, mereka itu tidak kenali padanya. Ini yang menyebabkan ia selamanya dapat lolos.

Tidak lama kemudian, Thian Tek dapat godaan lain. Dengan tiba-tiba otaknya Lie Peng terganggu, baik selama di penginapan, maupun di tengah perjalanan, nyonya Kwee suka ngoceh tidak karuan, ada kalanya ia robek bajunya atau bikin kusut rambutnya, hingga mereka jadi menarik perhatian orang. Ia menjadi masgul dan bingung sekali. Kelakuan si nyonya itu gampang menimbulkan kecurigaan orang. Kemudian ia menjadi mendongkol. Ia dapat kenyataan si nyonya si nyonya bukan gila benar-benar, ia hanya berpura-pura edan, untuk sengaja menarik perhatian orang, supaya tentang perjalanan mereka – ke mana saja mereka menuju – ada menimbulkan bekas. Ia marah tetapi ia tidak bisa berlaku keras kepada nyonya itu kecuali ia mengancam agar si nyonya terus ikut padanya. Ia jadi semkin hati-hati.

Ketika itu hawa udara telah mulai berubah. Hawa panas mulai lenyap, sang angin sejuk telah mulai menghembus. Udara begini tidak terlalu mengganggu orang-orang yang membuat perjalanan, malah menyenangkan.

Thian Tek telah menyingkir jauh ke utara, akan tetapi ia tetap dibayangi pengejar-pengejarnya. Celaka untuknya, setelah berjalan jauh dan melewatkan banyak hari, bekalan uangnya mulai habis. Pada suatu, saking uring-uringan, ia ngoceh seorang diri: “Selama aku pangku pangku di Hangciu, bagaimana senangnya aku. Setiap hari aku bisa dahar dan minum enak, dapat ku bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik, tetapi dasar pangeran Kim yang keenam itu yang kemaruk sama istri orang, dia telah celakai aku hingga begini…”

Justru ia ngoceh ini, mendadak ia dapat ingat suatu apa. “Bukankah aku telah tidak jauh dari Yan-khia?” demikian ia ingat. “Kenapa aku tidak pergi kepada Liok-taycu?”

Liok-taycu itu adalah putra keenam dari raja Kim, itu pangeran Kim yang ia maksudkan. Tanpa ragu-ragu lagi, ia bernagkat menuju ke Yan-khia, ibukota kerjaan Kim itu.

Ibukota Yan-khia itu disebut juga Tiong-touw atau Chungtu, artinya “Kota Tengah”. Sekarang ini ialah kota Pakkhia (Peking). Di sana Thian Tek langsung mencari istananya pangeran itu, ialah Tio Ong atau Chao Wang (Pangeran Tio atau Chao)

Kapan Wanyen Lieh dengar tentang kedatangannya satu perwira dari selatan, ia lantas ijinkan orang menemui dia. Ia terkejut akan ketahui, tetamunya adalah Toan Thian Tek dan orang ingin numpangi diri kepadanya. Ia lantas mengerutkan kening, mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak nyata. Didalam hatinya, ia berpikir: “Tentang Pauw-sie, aku masih belum dapat mempernahkannya, bagaimana aku bisa menerima Thian Tek? Ia tahu rahasiaku, kalau ia membocorkannya, urusan bisa menjadi rewel. Kenapa aku mesti meninggalkan satu , mulut hidup? Bukankah ada peribahasa kuno yang mengatakannya, “Yang cupat pikirannya kuncu, yang tak kejam bukannya satu laki-laki?” Karena ini ia lantas tersenyum.

“Kau baru sampai dari satu perjalanan jauh, kau tentunya letih, pergilah beristirahat dulu,” katanya dengan manis.

Thian Tek mengucap terima kasih. Ia sebenarnya hendak beritahu juga bahwa ia datang bersama Lie Peng, tetapi satu hambanya pangeran itu muncul dengan tiba-tiba mengabarkan ‘kunjungannya Sam-ongya’ – pangeran yang ketiga.

Wanyen Lieh bangkit dari kursinya. “Pergilah kau beristirahat!” katanya sambil ia mengibaskan tangannya, setelah mana ia bertindak untuk sambut tetamunya.

Sam-ongya itu adalah Wanyen Yung Chi, putra yang ketiga dari Wanyen Ching, raja Kim. Ia bergelar Wei Wang atau Wee Ong, pangeran Wei atau Wee. Di antara saudara-saudaranya, ia bergaul paling erat dengan Wanyen Lieh, sang adik. Ia ada lemah, maka itu, dalam segala hal, ia suka dengari adiknya yang cerdik dan tangkas.

Pada masa itu pemimpin bangsa Mongolia, Temuchin sudah mulai kuat kedudukannya, tetapi ia takluk kepada bangsa Kim, ia malah membantui negara Kim memusnahkan bnagsa Tartar, oleh karena mana, guna menghargai jasanya itu, raja Kim utus Wanyen Yung Chi, sang putra pergi menganugerahkan Temuchin sebagai Pak Kiang Ciauw-touw-su, semacam kommissaris tinggi. Di samping itu, kepergian putra ini sebenarnya guna melihat sendiri keadaan bangsa Monglia itu. Karena tugasnya ini, Wee Ong telah datang menemui Tio Ong, untuk memohon pikiran.

“Bangsa Monglia itu tak tetap tempat tinggalnya,” berkata Wanyen Lieh. “Mereka juga bertabiat kasar, gemar mereka menghina yang lemah tetapi jerih terhadap yang kuat, untuk pergi ke sana, kakak harus membawa satu pasukan tentera yang terpilih, supaya melihat keangkeran kita, hatinya menjadi ciut. Denagn begitu, selanjutnya mereka tidak akan berani berontak.”

Wanyen Yung Chi terima baik nasehat itu, ia mengucapkan terima kasih, setelah omong-omong lagi sebentar ia pamitan. Ketika ia hendak berbnagkit, adik itu berkata kepadanya: “Hari ini ada datang padaku satu mata-mata dari kerajaan Selatan.”

“Begitu?” tanya sang kakak, heran, “Habis?”

“Dia datang untuk tumpangkan diri padaku,” sahut adik itu. “Itulah alasannya belaka, sebenarnya ia hendak mencari tahu keadaan kita bangsa Kim.”

“Kalau begitu, bunuh saja padanya!” kata sang kakak.

“Tindakan itu tidak sempurna,” Wanyen Lieh bilang. “Kakak tahu sendiri kecerdikan bangsa Selatan itu. Mungkin mata-mata yang datang bukan dia satu orang, kalau dia ini dibunuh, yang lainnya pasti bakal jadi waspada. Aku pikir hendak mohon kakak bawa ia pergi ke utara.”

“Bawa ia ke Utara?” Yung Chi tanya.

“Ya” sahut Wanyen Lieh. “Di sana, di padang gurun, di mana tidak ada lain orang, dengan cari satu alasan kakak boleh hukum mati padanya. Di sini aku nanti layani lain-lainnya mata-mata.”

“Bagus!” Yung Chi bertepuk tangan, dia tertawa riang. “Sebentar kau kirim dia padaku, bilang saja dia hendak dijadikan pengiringku.”

Sang adik menjadi girang. “Baik!” katanya.

Sore itu Wanyen Lieh tidak panggil Toan Thian Tek menghadap lagi padanya, hanya sambil dibekali uang perak dua potong, dia suruh Thian Tek pergi ke istana Wei Wang untuk bantu pangeran itu, katanya.

Thian Tek tidak tahu rencana orang, ia menurut saja. Ia khawatir Lie Peng nanti buka rahasianya, ia tetap ajak nyonya itu. Ia mempengaruhinya hingga si nyonya diam saja. Sedang si nyonya ini masih mengharapkan datangnya pertolongan padanya……..

Berselang beberapa hari, Wanyen Yung Chi berangkat ke Monglia, dia ajak Thian Tek bersama.

Sementara itu perutnya Lie Peng makin menjadi besar, perjalanan jauh denagn menunggang kuda, sangat meletihkan dia. Tapi ia telah bertekad untuk membalas sakit hatinya, dia kuatkan hati dan tubuhnya untuk lawan penderitaan ini. Di lain pihak ia jaga diri baik-baik agar tentara Kim tidak tahu siapa dia. Demikian untuk beberapa puluh hari, dia terus menderita.

Wanyen Yung chi berangkat bersama seribu serdadu pilihan yang semua kelihatan gagah dan mentereng. Dia sengaja menunjuki pengaruh menurut nasihat Wanyen Lieh.

Pada suatu hari tibalah barisan ini di satu tempat dekat dengan perkemahan Temuchin. Wanyen Yung Chi lantas kirim belasan serdadunya untuk memberi warta terlebih dahulu tentang tibanya itu sekalian menitahkan Temuchin datang menyambut utusan Kim.

Tatkala itu bulan kedelapan untuk di Utara, hawa ada dingin luar biasa. kapan sang malam tiba, salju beterbangan turun bagaikan lembaran-lembaran unga. Diwaktu begini, barisan dari seribu serdadu pilihan dari bangsa Kim berjalan berlerot bagaikan seekor ular panjang, berjalan di padang pasir yang seperti tak ada ujung pangkalnya.

Selagi pasukan ini berjalan terus, sekonyong-konyong orang mendapat dengar suara berisik yang datangnya dari arah utara, suara seperti satu pertempuran. Selagi Wanyen Yung Chi terheran-heran, ia lantas tampak lari mendatangi satu pasukan kecil serdadu.

“Sam-ongya, lekas kasih perintah untuk bersiap untuk berperang!” demikian kata perwiranya yang pimpin pasukan kecil itu setibanya dia di depan pangeran Kim itu. Dialah Ouw See Houw.

Yung Chi menjadi kaget. “Pasukan musuh manakah itu?” dia bertanya.

“Mana aku tahu?!” sahut si perwira yang lantas saja mengatur barisannya. Ia keprak kudanya untuk maju ke depan.

Hampir itu waktu, apa yang disebutkan tentara musuh itu, sudah datang dekat sekali. Mereka itu terpencar si segala penjuru, memenuhi bukit dan tegalan di hadapan angaktan perang Kim itu.

Ouw See Houw ada satu panglima yang berpengalaman yang diandalkan negeranya, sebaliknya Wanyen Yung Chi lemah, dia tak dapat berpikir, maka itu kepala perang ini telah melancangi pangeran itu untuk mengatur persiapan.

Segera juga terlihat suatu keanehan. Tentara ‘musuh’ itu bukan terus menerjang pasukan Kim, hanya mereka kabur keempat penjuru. Kapan Ouw See Houw sudah mengawasi sekian lama, ia dapat kenyataan, itulah pasukan sisa yang habis kalah perang, yang telah membuang panah dan tombak mereka, semua tidak menunggang kuda, roman mereka ketakutan. Disamping itu di belakang mereka menerjang sejumlah pasukan berkuda, hingga banyak serdadu yang kena terinjak-injak.

Ouw See Houw berlaku tabah. ia beri perintah akan tenteranya mengurung pangerang mereka, untuk melindungi. Mereka bersiap tanpa bersuara.

Tentera musuh yang kabur itu melihat pasukan Kim, mereka lari tanpa berani datang mendekati, mereka kabur jauh-jauh.

Tiba-tiba dari arah kiri terdengar ramai suara terompet tanduk, di situ muncvul satu pasukan serdadu, yang terus menerjang tentera sisa. Tentera sisa ini berjumlah lebih besar tapi mereka tidak berdaya terhadap pasukan berkuda ynag jauh lebih kecil itu. Terpaksa untuk menyingkir, tentara sisa ini meluruk ke arah pasukan Kim.

“Lepaskan panah” Ouw See Houw memberi titah.

Tentara sisa itu segera diserang, sejumlah diantaranya lantas rubuh, akan tetapi jumlah mereka banyak, mereka pun lagi ketakutan, mereka menerobos terus. Dengan sendirinya mereka jadi bertempur sama tentara Kim. Hebat akibatnya untuk tentara Kim itu, yang berjumlah lebih sedikit. Kekalutan sudah lantas terjadi, musuh dan kawan bercampur menjadi satu, bergumul.

Ouw See Houw kewalahan, maka bersama sejumlah serdadu ia lindungi Wanyen Yung Chi mundur ke arah selatan.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: