Kumpulan Cerita Silat

06/07/2008

Kisah Membunuh Naga (06)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:39 am

Kisah Membunuh Naga (06)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Thio Coei San mendapat gelaran Gin kauw Tiat hoa (Gaetan perak Coretan besi) karena tangan kirinya menggunakan Houw tauw kauw (Gaetan kepala harimau ) yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya bersenjatakan Poan koan pit (senjata yang menyerupai pena Tionghoa) yang terbuat daripada besi. Sebab kuatir ditertawai oleh kaum sasterawan, maka sesudah mahir dalam ilmu silat, ia lalu mempelajari juga ilmu surat di bawah pimpinan gurunya yang Boen boe coan cay (pandai ilmu surat dan ilmu silat). Song loan tiap itu pernah dipelajari olehnya pada dua tahun yang lain.

Sambil bersembunyi di belakang tiang, ia memperhatikan gerakan tangan gurunya yang menulis seperti berikut, “Hie Cie toen sioe, song loan cie kek, sian bok cay lie to tok, toei wie kouw seng. (Hie Cie memberi hormat. Kesedihan dan kekalutan melampaui batas, kuburan-kuburan leluhur diubrak abrik, kalau diingat sungguh hebat perasaan duka).

Lewat beberapa saat, Coei San dapat merasakan bahwa setiap coretan yang dibuat oleh gurunya mengandung kedukaan dan secara mendadak, ia berhasil menyelami perasaan Ong Hie Cie sendiri pada waktu ia menulis Song loan tiap itu.

Ong Hie Cie adalah seorang sasterawan besar pada jaman kerajaan Cin Timur. Di waktu itu, Tiongkok kacau balau dan bangsa asing menentang kekuasaannya. Dalam kesedihan dan kekalutan hebat (song loan), murid-murid Ong Hie Cie teleh melarikan diri ke Tiongkok Selatan. Bukan saja manusia, tapi kuburan-kuburan pun turut diobrak abrik, sehingga dapatlah dibayangkan, kedukaan dan kegusaran rakyat yang sangat menghormati kuburan leluhur mereka. Penderitaan yang hebat itu semua dilukiskan dalam Song loan tiap.

Di waktu yang lampau, dalam keadaan yang selalu riang dan gembira, Thio Coei San tidak bisa memahami maksud yang sebenarnya arti ‘tiap’ itu. Tapi sekarang, karena ia sendiri tengah diliputi dengan kedukaan berhubung dengan terlukanya Jie Thay Giam maka secara mendadak ia dapat menyelami arti “Song loan° dan “To tok”.

Sesudah menulis beberapa kali, Thio Sam Hong menghela napas panjang dan lalu masuk keruangan tengah, di mana ia termenung-menung beberapa lama. Tiba-tiba ia mengangkat pula tangan kanannya dan menulis huruf-huruf di tengah udara. Kali ini, huruf-huruf itu berbeda dengan huruf-huruf Song loan tiap. Huruf-huruf pertama adalah “Boe” (Persilatan), sedang yang kedua “Lim” Rimba. Ia menulis terus sampai dua puluh empat huruf.

Dengan mengawasi gerakan tangan sang guru, Thio Coei San tahu, bahwa yang ditulisnya ialah, “Boe lim cie coen, po to To liong hauw leng thian hee, boh kam poet ciong, Ie thian poet coet swee ie ceng hong.”

“Apakah Soehoe sedang coba memecahkan teka teki dalam kata itu”, tanyanya di dalam hati. Thio Sam Hong menulis huruf-huruf itu berulang-ulang, semakin lama gerakan tangannya jadi semakin perlahan, setiap gerakan menyerupai gerakan silat. Mendadak saja, Thio Coei San tersadar. Ia sekarang mengerti, bahwa dengan menulis duapuluh empat huruf itu, sang guru sebenarnya tengah menjalankan serupa ilmu silat yang sangat tinggi, dalam mana setiap huruf berarti setiap pukulan.

Dalam dua puluh empat huruf itu, hurup “liong” (naga) dan huruf “hong” (tajam) yang paling banyak coretannya, sedang huruf “to” (golok) dan huruf “hee” (bawah) yang paling sedikit coretannya. Tapi, walaupun coretannya banyak, gerakannya tidak kelihatan berlebihan, sedang biarpun coretannya sedikit, gerakannya tidak kelihatan kekurangan. Setiap gerakan pukulan tepat dan mantap, indah dan lincah, angker bagaikan badai, bertenaga seperti tubrukan harimau, kokoh kuat seakan-akan tindakan gajah, cepat seolah-olah berkredepan kilat di angkasa. Dalam dua puluh empat huruf itu terdapat dua “poet” dan dua “thian” tapi, sesuai dengan artinya yang berbeda beda, jiwa dari pukulan pukulannya berbeda-beda.

Dalam tahun-tahun yang belakangan ini, jarang sekali Thio Sam Hong berlatih silat. Ilmu silat In Lie Heng dan Boh Seng Kok didapat dari Song Wan Kiauw dan Jie Lian Coe yang mewakili gurunya. Maka itu, biarpun Thio Coei San murid kelima, tapi sebenar-benarnya ia, adalah murid penutup, atau murid terakhir yang mendapat pelajaran dari Thio Sam Hong sendiri.

Malam itu guru dan murid mempunyai perasaan yang sama, berhubung dengan terjadinya peristiwa mendukakan itu. Mereka berduka sebab memikiri keselamatan Jie Thay Giam dan mendongkol karena adanya ancaman dari pihak yang belum di ketahui siapa adanya. Dalam jengkelnya, Thio Sam Hong sudah menulis huruf-huruf itu dan secara kebetulan, ia telah menciptakan semacam ilmu silat baru. Secara kebetulan, oleh karena, pada waktu baru menulis huruf-huruf itu, ia sedikit pun tak punya niatan untuk menggubah ilmu pukulan. Sementara itu, Thio Coei San yang kebetulan bersembunyi di belakang tiang, telah melihat di pertunjukkannya ilmu silat tersebut, yang lantas saja dapat dipahami olehnya lantaran iapun sedang diliputi dengan perasaan duka.

Demikianlah, secara sangat luar biasa, satu ilmu silat baru yang berdasarkan seni menulis huruf, telah tercipta dalam Rimba Persilatan.

Dua jam lamanya, sehingga rembulan naik tinggi, Thio Sam Hong bergerak terus-menerus. Beberapa lama kemudian, sambil bersiul nyaring, telapak tangan kanannya menyabet dari atas ke bawah, bagaikan menyambernya sehelai sinar pedang. Sabetan yang dahsyatitu merupakan coretan terakhir dari huruf “hong”.

Sehabis menyabet, ia dongak seraya berkata, “Coei San, bagaimana pendapatmu dengan Soe hoat (seni menulis huruf indah) ini?”

Thio Coei San terkesiap. Ia tak nyana bahwa bersembunyinya telah diketahui oleh sang guru. buru-buru ia manghampiri seraya menjawab, “Hari ini teecoe mujur luar biasa, karena dapat melihat ilmu silat Soehoe yang begitu tinggi. Apa boleh teecoe panggil Toasoeko dan yang lain-lain, supaya mereka pun bisa turut menyaksikan?”

Sang guru meoggelengkan kepalanya. “Kegembiraanku sudah habis, sehingga mungkin sekali aku tak bisa menulis lagi begitu bagus,” katanya “Wan Kiauw, Siong Kee dan yang lain-lain tidak mengerti Soehoat, sehingga meskipun melihat, belum tentu mereka bisa menarik banyak kefaedahan.” Sehabis berkata begitu seraya mengebas tangan jubahnya, is berjalan masuk keruangan dalam.

Thio Coei San tidak berani tidur, sebab kuatir sesudah pulas, ia akan lupakan ilmu silat itu. Dengan lantas ia bersilat dan menjernihkan pikiran, sambil mengingat-ingat setiap coretan yang barusan dilihatnya, dengan tempo-tempo bangun berdiri dan menjalankan beberapa pukulan sulit. Entah berapa jam ia bersila di situ, tapi pada akhirnya dapatlah ia menghapal seluruh ilmu silat tersebut yang terdiri dari dua puluh empat huruf dengan seluruh lima belas perubahan-perubahannya.

Beberapa saat kemudian, ia melompat bangun dan lalu menjalankan semua pukulan itu. Sesudah beberapa jurus, pukulan-pukulannya keluar dengan deras dan lancar bagaikan air tumpah, sedang tubuhnya enteng melompat kian kemari seperti seekor kera. Akhirnya, ia membuat coretan paling penghabisan dari huruf ‘Hong’ (tajam) dengan telapak tangan kanannya yang menyambar dari atas ke bawah dan “bret!”, ujung bajunya robek karena pukulan itu. Ia kaget tercampur girang. tiba-tiba saja, ia mendapat kenyataan, bahwa matahari sudah naik tinggi.

Sesudah menyusut keringat yang membasahi mukanya, ia segera berlari lari kekamar Jie Thay Giam, di mana sang guru sedang menempelkan kedua telapak tangannya pada dada saudara seperguruan itu sambil mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya.

Perlahan-lahan supaya tidak mengganggu, ia berjalan keluar dari kamar itu. Ternyata Song Wan Kiauw, Thio Siong Kee dan In Lie Heng sudah berangkat. Sedang rombongan Liang boen Piauw kiok pun sudan turun gunung. Karena sungkan mengganggu latihannya, maka ketiga saudara seperguruan itu sudah pergi tanpa pamitan lagi.

Ia pun segera berkemas, membekal senjata dan beberapa puluh tahil perak, akan kemudian, pergi lagi ke kamar Jie Thay Giam. “Soehoe, teecoe mau berangkat sekarang” katanya. Sambil bersenyum, sang guru manggut-manggutkan kepalanya.

Sehabis berkata begitu, Coei San mendekati pembaringan dan lihat muka Thay Giam yang berwarna kehitam hitaman karena pengaruh racun, sedang tanda tandanya bahwa kakak seperguruan itu masih bidup, hanya napasnya yang berjalan perlahan sekali. Bukan main rasa dukanya.

“Samko,” katanya dengan suara serak, “Biarpun badanku hancur luluh, aku pasti akan, membalas sakit hatimu”. Ia menekuk lutut d ihadapan gurunya dan kemudian sambil menekap muka dengan kedua tangannya, ia meninggalkan kamar itu.

Dengan menuggang Cengcong ma (kuda bulu hijau putih), ia turun dari Boe tong san. Sesudah melalui lima puluh li lebih, siang terganti dengan malam dan awan mendung meliputi langit. Baru saja ia masuk kedalam sebuah rumah penginapan. Hujan mulai turun. Semakin lama, hujan itu jadi semakin besar dan semalam suntuk turun tak henti hentinya. Pada keesokan paginya, awan gelap belum buyar dan hujan masih terus turun dengan tidak kurang hebatnya.

Karena ingin membalas sakit hati Soekonva secepat mungkin, ia tak mau membuang buang tempo. Ia segera membeli baju hujau dan tudung dari pemilik penginapan dan lalu meneruskan perjalanan. Untung juga Cengcong ma bukan sembarang kuda, sehingga dia dapat berlari terus di jalanan berlumpur sangat jelek.

Sesudah melewati Lao ho kouw, ia menyebrang sungai Han soei yang airnya banjir dan menerjang kealiran bawah dengan dahsyatnya. Cengcong ma dibedal terus melalui kota Siang yang dan Hoan soie. Ia dengar berita orang bahwa di aliran sebelah bawah Han soei, gili-gili bobol rakyat diserang air bah. Setibanya di Gie shia, ia mulai bertemu dengan rakyat yang melarikan diri dari serangani banjir dengan berbondong-bondong. Hujan masih turun terus dan penderitaan rakyat hebat bukan main.

Selagi mengaburkan tunggangannya, di sebelah depan terlihat sejumlah penunggang kuda yang mengibarkan bendera piauw hang. Segera juga ia mengenali, bahwa mereka mereka itu adalah orang-orang Liong boen piauw kiok. Ia lantas saja mencambuk Cengcong ma yang segera lari bagaikan terbang dan sesudah melewati rombongan itu, ia menahan les, memutar tunggangannva dan menghadang di tengah jalan.

Melihat Thio Coei San, Touw Tay Kim menanya dengan suara dingin, “Thio Ngo hiap, ada urusan apa kau mengubar kami?”

“Apakah Touw Cong piauw tauw lihat penderitaan rakyat yang kelanggar bencana banjir itu ?” ia balas menanya.

Touw Tay Kim tak duga ia bakal ditanya begitu.

“Apa?” menegasnya dengan terkejut.

Pemuda itu tertawa-dingin. “Aku ingin minta para dermawan mengeluarkan emas mereka untuk menolong rakyat yang bersengsara” jawabnya.

Paras Cong piauw tauw itu lantas saja berubah pucat. “Kami orang-orang piauw hang setiap hari hidup di ujung senjata dan mencari makan dengan mempertaruhkan jiwa,” katanya dengan suara gusar. “Mana kami mempunyai kekuatan untuk menolong begitu banyak orang ?”

“Serahkan itu dua ribu tahil emas yang berada dalam sakumu!” bentak Thio Coei San.

“ThioNgo hiap, apa kau mau mencari-cari urusan dengan aku?” tanya Touw Tay Kim seraya meraba gagang golok.

Ciok dan Soe Piauw tauw lantas saja menghunus senjata mereka dan berdiri di dekat pemimpinnya.

Dengan tetap bertangan kosong, Thio Coei San berkata sambil tertawa dingin, “Touw Cong piauw tauw, tanyalah dirimu sendiri. Sesudah makan upah, apakah kau sudah menjalankan tugasmu? Hmn! Kau, masih ada muka untuk mengantongi duaribu tahil emas itu ?”

Muka Touw Tay Kim merah padam, karena malu dan gusar. “Bukankah kami sudah mengantar Jie Sam hiap sampai di Boe tong san ?” Ia membela diri. “Sebelum kami menerima tugas itu, ia memang sudah terluka berat. Sekarang pun ia masih belum mati.”

“Jangan ngaco!” bentak Coei-San “Apa kaki tangan Jie Sam ko sudah patah-waktu ia berangkat dan Lim an?”

Touw Tay Kim tak dapat menjawab.

“Thio Ngo hiap.” menyelak Soe Piauw Tauw, “Apakah sebenarnya maksudmu. Katakan saja terang-terangan.”

“Aku balas hancurkan tulang tulang tanganmu!” bentaknya sambil melompat dan menerjang. Soe piauw tauw mengangkat toyanya untuk menangkis, tapi ia kalah cepat. Bagaikan kilat, Thio Coei San mengebas dan membabat dengan tangan kirinya dan toya itu terbang sedang Soe Piauw tauw jatuh terpelanting dari tungganannya. Dalam serangan itu, Thio Coei San menggunakan huruf “thian” (langit) dari ilmu silat yang baru didapatinya.

Piauw tauw yang bisa lihat selatan, coba menyingkirkan diri, tapi sudah tidak keburu lagi. Karena tangan Coei San sudah menyapu pinggangnya dalam gerakan garis melintang dari huruf “thian” sehingga tanpa ampan lagi, tubuhnya bersama-sama sela kuda terpental setombak lebih dan jatuh terjengkang di atas tanah. Waktu diserang, kedua kaki piauw tauw, itu menginjak sanggurdi keras-keras, tapi sebab lawannya menghantam dengan Lwekang yang sangat hebat, maka tali ikatan perut kuda menjadi putus dan sela kuda turut terlempar.

Melihat hebatnva serangan musuh, Touw Tay Kim mengeprak kudanya dan menerjang. Dengan sekali memutar badan. Coei San menghantam dengan pukulan huruf “hee” (bawah).

“Buk!” pukulan itu mengenakan tepat di punggung Touw Tay Kim yang tubuhnya lantas saja bergoyang-goyang. Karena ilmunya banyak lebih tinggi daripada kawannya, maka ia tidak sampai roboh dari tungganannya. Baru saja ia melompat turun dari punggung kuda untuk mengadu jiwa, tiba-tiba ia merasa tenggorokannya penuh dan “ugh!” ia muntahkan datah. Ia terhuyung beberapa tindak. Kakinya lemas roboh duduk di atas tanah. Tiga piauw soe lainnya dan para pegawai piauw hang tentu saja tidak berani bergerak lagi.

Waktu baru bertemu dengan rombongan piauw hang itu, dengan kegusaran yang meluap luap Thio Ngo hiap betekad untuk mematahkan kaki tangan para piauw soe itu. Tetapi sesudah melukakan tiga orang secara begitu mudah, malah seorang di antaranya mendapat luka berat, ia sedikitpun tidak menduga, bahwa ilmu silat yang baru dipelajarinya itu sedemikian hebat. Hatinya jadi lemas dan ia tak tega untuk turun tangan lebih jauh.

“Orang she Touw!” bentaknya, “Hari ini aku berlaku murah terhadapmu. Keluarkan dua ribu tahil emas itu untuk menolong rakyat yang kena bencana alam. Aku akan menilik sepak terjangmu dari kejauhan dan jika setahil saja kau sembunyikan dalam kantongmu, aku akan basmi seluruh Liong boen Piauw kiok, aku akan binasakan kecil besar tujuh puluh dua jiwa, malah ayam dan anjing pun tak akan diberi ampun!”

Ia mengancam dengan menggunakan kata-kata dari orang yang memberikan dua ribu tahil emas sebagai upah untuk mengantar Jie Thay Giam ke Boe tong san.

Perlahan-lahan Tauw Tay Kim bangun berdiri, tapi ia merasa punggungnya sakit sangat dan begitu bergerak, ia kembali muntahkan darah. Soe Piauw tauw yang hanya mendapat luka enteng, segera berkata dengan suara lemas “Thio Ngo hiap, emas itu berada di Lim an, sehingga tak dapat kami menolong orang-orang yang berada di sini”

Thio Coei San tertawa dingin. “Kau kira aku anak kecil?” tanyanya dengan nada mengejek, “Semua jago Liong boen Piauw kiok keluar dari sarangnya dan Lim an hanya ketinggalan keluarga kamu yang tak bisa melindungi harta itu. Emas itu sudah pasti berada di sini!” Sambil berkata begitu, ia menyapu rombongan piauw hang dengan matanya. Mendadak ia menghampiri sebuah kereta dan menghantam dengan telapak tangannya, “Brak!” kereta hancur dan belasan potongan emas jatuh berhamburan di tanah.

Semua orang pucat mukanya. Mereka tidak mengerti, bagaimana pemuda itu tahu tempat menyimpan emas. Ternyata, biarpun masih berusia muda, Thio Ngo hiap berotak cerdas, bermata awas dan berpengalaman luas. Melihat tanda lumpur diroda kereta yang mengunjuk bahwa roda-roda tersebut amblas lebih dalam dari pada kereta-kereta lainnya dan melihat bagaimana sesudah ia menghajar Touw Tay Kim, sebaliknya dari pada menolong pemimpin itu, tiga piauw soe buru-buru mendekati kereta tersebut, maka ia segera menarik kesimpulan, bahwa kereta itu, yang muatnya diisi dengan muatan sangat berharga. Ia mengawasi potongan-potongan emas itu sambil tertawa dingin dan kemudian tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi ia melompat kepunggung Kuda yang terus di kaburkan.

Sembari jalan hatinya senang sekali. Ia menduga pasti, bahwa demi keselamatan keluaga mereka, piauwsoe-piauwsoe itu tak akan berani membantah perintahnya. Perasaan senang itu sebagian besar disebabkan oleh kenyataan, bahwa ilmu silat yang berdasarkan dua puluh empat huruf yang baru di dapatnya, bukan main lihainya.

Dengan melawan hujan, beberapa hari ia membedal kudanya terus-menerus. Meskipun binatang itu binatang luar bias, tenaganya ada batasnya.

Demikianlah, waktu tiba di daerah propinsi Kang say, mulut kudanya mengeluarkan busa putih dan badannya panas, Coei San menyesal bukan main, karena ia sangat sayang tunggangannya itu. Ia segera berhenti disebuah rumah penginapan, memberi obat kepada kudanya dan selang beberapa hari, barulah panasnya turun. Sesudah binatang itu sembuh, ia meneruskan perjalanan dengan perlahan-lahan dan pada tanggal Sie gwee Sha cap (Bulan Empat tanggal 30) barulah ia masuk ke dalam kota Lim an.

Sesudah dapat kamar disebuah hotel, ia segera menimbang-nimbang tindakan apa yang akan diambilnya. “Karena kudaku sakit, aku sangat terlambat,” pikirnya. “Apa rombongan Liongboen Piauw kiok sudah pulang? di mana adanya Jieoko dan Citee? Biarlah malam ini aku menyelidiki di gedung piauw kiok itu.”

Sesudah makan malam, ia segera mencari tahu letaknya gedung Liong boen Piauw kiok dari pelayan-pelayan hotel yang memberitahu bahwa gedung itu berdiri di pinggir telaga See Ouw. Kemudian ia pergi kepusat toko-toko dan membeli seperangkat pakaian baru dengan kopiah sasterawan serta sebuah kipas Hang cioe yang tersohor. Ia kembali ke hotel, mandi, menyisir rambut dan lalu menukar pakaian. Waktu berdiri di depan kaca dan memandang bayangannya sendiri, ia tertawa gali. Bayangan itu adalah bayangan seorang Kongcoe sasterawan dan bukan seorang Hiapsoe (pendekar) yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan.

Dengan bersenyum senyum, ia meminjam alat tulis dari pengurus hotel untuk menulis syair dikipasnya. Secara wajar, apa yang ditulisnya adalah itu dua puluh empat huruf “Ie thian to liong”. Ia merasa heran sebab setiap coretan yang turun di atas kipas banyak lebih bertenaga dan indah daripada biasanya. “Sesudah mempelajari silat itu, Soe hoatku juga dapat banyak kemajuan,” pikirnya.

Pada waktu itu kerajaan Song sudah roboh dan seluruh Tiongkok berada di bawah kekuasaan dinasti Goan. Karena Lim an adalah bekas ibukota Lam song (Song Selatan), bangsa Mongol telah membuat penjagaan lebih kuat di kota itu daripada di lain-lain kota. Mereka memerintah dengan tangan besi, sehingga dalam kekuatannya, banyak penduduk berpindah ke lain tempat.

Maka itulah, di sepanjang jalan Thio Coei San bertemu dengan banyak rumah yang rusak karena akibat perang dan yang kosong sebab ditinggalkan penghuninya. Kota yang sepi itu memperlihatkan pemandangan menyedihkan, tidak tertampak pula keramaian serta kemakmuran dari Lim an yang dulu, yang merupakan salah sebuah kota tersohor dari Kanglam yang indah permai.

Cuaca masih belum gelap, tapi banyak rumah sudah pada menutup pintu dan di jalanan jarang sekali terlihat rakyat jelata. Apa yang ditemukan Coei San hanialah serdadu-serdadu Mongol yang meronda dengan menunggang kuda. Sebab tak ingin banyak urusan, sedapat mungkin ia menyingkirkan diri dari peronda-peronda itu.

Dulu, di waktu malam, apapula pada malam malam terang bulan, telaga See ouw bukan main ramainya dan seluruh telaga seolah-olah ditabur dangan lampu-lampu perahu pelesir. Tapi sekarang, ketika ia tiba di Pak tee dan memandang k etempat jauh, telaga itu diliputi dengan kegelapan yang menyeramkan dan di atas air tak terdapat sebuah perahu pun. Ia menghela napas berulang-ulang dan sesuai dengan petunjuk pelayan hotel, ia lalu berjalan menuju ke gedung Liong boen Piauw kiok.

Gedung itu sangat besar dan berhadapan dengan telaga See ouw sedang dua singa-singaan batu di depan pintu sangat menambah keangkerannya. Perlahan-lahan Thio Coei San mendekati.

Tiba-tiba, ia melihat sebuah perahu pelesir di tepi telaga depan gedung itu. Dalam perahu dipasang dua tengloleng sutera dan dibawah penerangan itu kelihatan duduk seorang lelaki yang sedang minum arak seorang diri. “Enak betul minum arak di atas air,” katanya dalam hati sambil menghampiri pintu.

Tengloleng besar yang tergantung di depan gedung tidak dipasangi lilin, sedang pintunya yang dicat merah tua tertutup rapat. Penghuni gedung itu rupanya sudah pada tidur. “Sebulan yang lalu Samko masuk ke pintu ini,” pikirnya dengan rada duka. Mendadak ia terkejut, karena di belakang nya terdengar hela napas yang panjang.

Di tengah malam yang sunyi, hela napas itu kedengarannya menyeramkan dan menyayat hati. Dengan cepat ia memutar badan, tapi ia tidak lihat bayangan satu manusiapun. Kecuali orang yang sedang minum arak di atas perahu, di sekitar itu tidak terdapat lain manusia.

Dengan perasaan heran, ia mengawasi orang itu, yang mengenakan tiungsha (jubah panjang) warna hijau dan memakai topi empat persegi, yaitu dandanan seorang sasterawan seperti ia sendiri. Ia tak dapat melihat tegas muka orang itu, tapi dipandang dari samping dengan bantuan sinar tengloleng, kelihatannya pucat pasi. Orang itu duduk termenung-menung dengan tidak bergerak dan gerakan satu-satunya hanyalah berkibarnya jubah tangannya karena tiupan angin.

Sesudah mengawasi beberapa lama, ia memutar badan lagi dan mencekal cincin tembaga yang menempel dipintu dan lalu mengetuk-ngetuknya beberapa kali. Sebenarnya ia ingin masuk dengan melompat tembok, tapi sesudah melihat orang di perahu itu, ia merasa jengah sendiri. Suara ketukan itu terdengar nyaring sekali dan sehabis mengetuk, ia menempelkan kupingnya didaun pintu, tapi di dalam sunyi-sunyi saja tidak terdengar suara manusia yang menghampiri pintu.

Dengan heran, ia mendorong sedikit dan pintu itu terbuka. Lantas saja ia bertindak masuk seraya berseru, “Apa Touw Cong piauw tauw ada dirumah ?”

Ia berjalan terus keruangan tengah yang gelap gelita. Mendadak terdengar suara “truk!” pintu tertutup keras seperti di tiup angin.

Ia kaget, lalu melompat keluar dari ruangan itu dan menghampiri pintu. Ia terperanjat karena pintu itu sudah dikunci orang. Tapi sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, nyalinya sangat besar. Sambil tertawa dingin, ia masuk pula ke ruangan tengah.

Baru saja masuk beberapa tindak, tiba-tiba ia merasakan sambaran angin tajam dari depan belakang, kiri dan kanan. Dengan sekali melompat, ia hindari serangan ke empat pembokong itu.

Dalam kegelapan ia lihat berkelebatnya sinar-sinar putih, sebagai tanda, bahwa penyerang-penyerang menggunakan senjata golok. Cepat seperti kilat, ia meloncat kesebelah barat dan telapak tangan kanannya membabat salah seorang dari kanan kiri. “Ptak!” tangannya mengenakan jitu jalanan darah Tay yang hiat orang itu yang lantas saja roboh terguling. Hampir berbareng, telapak tangan kirinya menyabet dari kanan atas kiri bawah dan mampir tepat dipinggang seorang musuh lainnya yang juga ambruk dilantani. Dua pukulan itu merupakan satu garis melintang dan satu coretan miring dari huruf “poet” (tidak). Sesudah berhasil merobohkan dua musuh, ia mengirim pukulan lurus dari atas ke bawah dan satu totokan yaitu coretan lurus dan sebuah titik dari hurup “poet” dan dua penyerang lainnya terjungkal di lantai.

Demikianlah, dengan empat pukulan yang merupakan tiga coretan dan sebuah titik huruf “poet”, ia berhasil menjatuhkan empat pembokong itu.

Karena tak tahu siapa empat penyerang itu, Thio Coei San sunkan berlaku kejam, dan hanya menggunakan tiga bagian tenaganya. Orang keempat yang “ditotok” olehnya, terhuyung beberapa tindak dan badannya menubruk sebuah kursi yang lantas saja menjadi hancur “Binatang! Sungguh kejam kau!” cacinya, “Kalau kau benar-benar laki-laki, beritahukan namamu,”

“Jika aku berlaku kejam, jiwamu sudah melayang” katanya sambil tertawa. “Aku adalah Thio Coei San dari Boe tong san.”

Orang itu mengeluarkan seruan kaget. “Apa…benar kau Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San?” tanyanya dengan suara tidak percaya.

Sambil bersenyum, Thio Ngo hiap meraba pinggangnya dan di lain saat, tangan kirinya sudah mencekal gaetan Houw tauw kauw yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya memegang Poan koan pit besi. Dengan sekali membenturkan kedua senjata, lelatu api muncrat disertai dengan suara yang sangat nyaring.

Dengan bantuan sinar lelatu api, Thio Coei San mendapat lihat, bahwa keempat penyerang itu mengenakan jubah pertapaan hweshio yang warnanya kuning. Dua di antaranya, yang mukanya kebetulan berhadapan dengannya, mengawasi dengan sorot mata gusar dan membenci.

Bukan main herannya Ngo hiap. “Siapa Tay-soe?” tanyanya.

“Sakit hati yang dalam seperti lautan, tak bisa dibalas hari ini!” teriak satu di antaranya.

“Ayo berangkat!” Hampir bareng dengan teriakan itu, mereka melompat bangun dan lalu berjalan keluar. Salah seorang yang rupanya terluka berat, sempoyongan dan roboh di lantai. Dua kawannya lantas memberi pertolongan dan mereka berlalu tanpa menengok lagi.

“Soe wie tahan dulu!” teriak Coei San. “Sakit hati apa ?” Tapi keempat pendeta itu tidak meladeni dan jalan terus.

Thio Coei San bingung campur heran. Untuk beberapa saat ia berdiri bengong sambil mengasah otak, tapi tak berhasil memecahkan teka-teki itu.

Mengapa dalam gedung Liong boen Piauw kiok bersembunyi empat orang Hweeshio? Mengapa mereka lantas menyerang secara membabi-buta? Mengapa mereka mengatakan sakit hati yang dalam seperti lautan? “Untuk menjawab pertahyaan-pertanyaan itu, jalan satu-satunya adalah menanyakan orang-orang Liong boen Piauw kiok,” pikirnya.

Memikir begitu, ia lantas saja berteriak, “Apa Touw Cong piauw tauw berada di rumah? Apa Cong piauw tauw ada?” Tapi sesudah berteriak berulang-ulang, ia tetap tak dapati jawaban.

“Tak bisa jadi manusia tidur seperti bangkai.” katanya dalam hati. “Apa mereka kabur ketakutan?”

Ia terus mengeluarkan bahan api yang lalu dinyalakan, sehingga ruangan yang gelap gelita itu lantas menjadi terang. Ia menghampiri sebuah ciak tay (tempat menancap lilin) yang berdiri di atas meja teh dan menyulut lilinnya. Sesudah itu, dengan berwaspada, sambil membawa ciaktay, ia berjalan ke ruangan belakang.

Barusan belasan tindak, tiba-tiba ia lihat tubuh seorang wanita yang rebah di lantai seperti sedang tidur. “Toacie, mengapa kau tidur di situ?” tegurnya. Wanita itu tidak menjawab dan tidak bergerak. Dengan tangan kiri ia mendorong pundak wanita itu, sedang tangan kanannya yang mencekel ciaktay menyuluhi muka orang. Tiba-tiba saja, ia terkesiap.

Wanita itu sedang tertawa, tapi otot-ototnya kaku! Dia sudah mati lama juga. Perlahan-lahan ia melempangkan pinggangnya dan lagi-lagi ia terperanjat, sebab di depan tiang di sebelah kiri kelihatan menggeletak sesosok tubuh lain. Ia menghampiri dan memeriksanya. Ternyata orang itu seorang kakek yang berdandan sebagai pelayan, juga sudah mati dengan muka tertawa!

Dengan jantung berdebar-debar, Thio Coei San meraba pinggang dan kemudian, dengan tangan kiri mencekel gaetan dan tangan kanan mengangkat ciaktay tinggi-tinggi, ia bertindak maju setindak demi setindak. Dengan rasa kaget dan heran yang sukar dilukiskan, apa yang ditemukannya adalah puluhan mayat-mayat, yang menggeletak di sana-sini! Di seluruh gedung Liong boen Piauw kiok yang besar dan luas itu, tak terdapat lagi manusia hidup.

Thio Coei San adalah seorang pendekar kenamaan dalam Rimba Persilatan yang sudah kenyang mengalami kejadian-kejadian hebat. Tapi kali ini, melihat kekejaman manusia yang sudah membasmi sesama manusia, ia menggigil. Bayangannya ditembok kelihatan bergoyang-goyang, karena tangannya yang mencekel ciaktay bergemetaran.

Mendadak ia ingat ancaman itu orang yang telah memberi upah kepada Liong boen Piauw kiok untuk mengantarkan kakak seperguruannya ke Boe tong san.

Sekarang benar-benar seisi-Piauwkiok telah dibasmi. Apakah kekejaman itu sudah dilakukan sebab piauwkiok tersebut sudah gagal dalam menunaikan tugasnya? “Orang itu turunkan tangan kejam karena Jie Samko sehingga menurut pantas dia mestinya sahabat Samko”, katanya di dalam hati. “Orang itu berkepandaian banyak lebih tinggi daripada Touw Tay Kim. Sesudah mengetahui, mengapa bukan ia sendiri yang mengantar Samko? Kakak adalah seorang pendekar mulia yang membenci setiap kejahatan. Apa mungkin ia bersahabat dengan manusia yang begitu kejam?”

Dangan rasa heran yang semakin lama jadi semakin besar, ia bertindak keluar dari ruangan sebelah barat. Dengan pertolongan sinar lilin, ia lihat dua orang pendeta yang mengenakan jubah warna kuning sedang bersender ditembok dan mengawasi padanya dengan paras muka tertawa.

Ia mendekati dan membentak, “Perlu apa Jie wie datang di sini?” Tapi mereka tidak menyahut dan juga tidak bergerak.

Mayat!

Pada tubuh kedua mayat itu tidak terdapat luka apapun juga, hanya dada jalanan darah Siauw yauw hiat (jalan darah yang membangkitkan tertawa) terdapat total merah. Ia manggut-manggutkan kepala dan mengerti, bahwa paras muka tertawa dari mayat-mayat itu adalah akibat totokan pada jalanan darah tersebut.

Mendadak, ia terkesiap karena ingat sesuatu. “Celaka!” Ia mengeluh, “Sakit hati yang dalam seperti lautan …”Ia teringat cacian salah seorang dari empat hweeshio yang telah menyerang dirinya. Ia merasa bahwa semua tuduhan bakal ditumpuk di atas pundaknya. Siapa keempat pendeta itu?

Dilihat dari pukulan pukulannya, mereka adalah ahli-ahli ilmu silat Siauw limpay. Touw Tay Kim seorang Siauw lim sehingga mungkin sekali mereka berada disitu atas undangan Cong piauw tauw tersebut. “Tapi di mana adanya Jie Jieko dan Boh Cit tee?” tanyanya di dalam hati. “Mereka diperintah Soehoe untuk melindungi keluarga Liong boen Piauw kiok. Apa bisa jadi, dengan memiliki kepandaian sangat tinggi mereka telah dirobohkan orang?”

Semakin dipikir, teka-teki itu jadi semakin sulit. “Dengan pulangnya keempat hweesio Siauw lim pay pasti akan menaruh kecurigaan atas diriku,” katanya di dalam hati. “Tapi, biar bagaimanapun juga urusan ini akan menjadi terang. Satu waktu, kita pasti akan tahu siapa adanya manusia kejam itu. Siauw lim dan Boetong harus bekerja sama untuk mencari manusia itu. Yang paling penting adalah cari Jie-ko dan Cit-tee.” Memikir begitu ia segera meniup lilin dan keluar dari gedung tersebut dengan melompati tembok.

Tapi pada sebelum kedua kakinya hinggap di atas bumi diluar tembok, tiba-tiba ia merasakan kesiuran angin yang menyambar pinggangnya, disusul dengan bentakan, “Thio Coei San, roboh kau!”

Pula saat itu, badannya masih berada di tengah udara, sehingga ia tak dapat berkelit lagi. Dalam bahaya, Thio Ngo hiap tak jadi bingung, secepat arus kilat, tangan kirinya menekan senjata musuh dan dengan meminjam tenaga, badannya melesat ke atas lagi dan kedua kakinya hinggap di atas tembok.

Hampir berbareng dengan hinggapnya di atas tembok, kedua tangannya sudah mencekal kedua senjatanya.

Melihat lihainya pemuda itu, si penyerangpun kaget dan kagum, karena ia mengeluarkan seruan tertahan dan berkata, “Bocah ! Kau sungguh lihai !”

Dengan tangan kiri mencekal gaetan dan tangan kanan memegang Poan koan pit, Coei San melintangkan senjata itu di depan dadanya, kepala gaetan dan ujung pit menunduk ke bawah. Itulah gerakan Kiong leng kauw hoei (Dengan hormat menerima pelajaran) yang digunakan dalam Rimba persilatan. Jika seorang yang tingkatannya lebih rendah berhadapan dengan orang yang lebih tinggi, sebagai seorang kesatria, walaupun hatinya mendongkol, Coei San tetap sungkan melanggar adat istiadat.

Ia menunduk dan melihat dua pendeta yang mengenakan jubah pertapaan warna merah dengan sulaman benang emas berdiri berendeng dibawah dengan masing-masing mencekal Sian thung (toya yang mengeluarkan sinar emas).

Melihat jubah pertapaan itu, Coei San terkejut. “Apakah mereka anggauta Siauw Lim Cap peh Lo han yang tersohor?” tanyanya di dalam hati. (Siauw lim Cap peh lohan = Delapan belas Lohan dari Siauwlim sie).

Dengan San thungnya, pendeta yang di sebelah kiri menubruk batu hijau, sehingga mengeluarkan suara yang sangat nyaring. “Thio Coei San!” bentaknya “Boe tong Cit hiap mempunyai nama yang cukup baik. Tapi mengapa begitu kejam?”

Mendengar pendeta itu tidak menggunakan panggilan “Thio Ngo hiap atau Thio ngoya, Coei San jadi mendongkol. Di antara Boetong Cit Hiap, biarpun gerak geriknya sopan dan paras mukanya halus, dialah yang berada paling tinggi. Dalam kedongkolannya, ia segera menyahut dengan suara dingin, “Tanpa menanyakan lebih dulu siapa yang salah, siapa yang benar, dengan bersembunyi di kaki tembok, Tay soe sudah membokong aku. Apakah perbuatan itu perbuatan seorang gagah? Ku dengar ilmu silat Siauw Lim menggetarkan seluruh dunia, tapi aku tak nyana di antara orang Siauwlim ada juga yang pandai membokong.”

Bukan main gusarnya hweeshio itu. Dengan sekali menggenjot tubuh, ia melesat ke atas tembok, sedangkan kedua kakinya belum hinggap di tembok, toyanya sudah menyambar. Dengan cepat Coei San mangangkat Hauw tauw kauw untuk menahan sambaran Sian thung dan dengan berbareng Poan koan pit nya menotok senjata lawan, “Trang!” ujung Poan koan pit membentur Sian thung dengan dahsyatnya. Kedua tangan pendeta itu tergetar dan tubuhnya melayang ke bawah lagi, tapi kedua lengan Coei San juga kesemutan sehingga ia jadi kaget. Ia mengerti bahwa kini ia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi dan jika mereka berdua mengrubuti, ia mungkin tak mampu membela diri.

“Siapa Jie wi?” bentaknya.

“Pinceng adalah Goan im” jawab pendeta yang berdiri di sebelah kanan “Yang ini adalah Soeteku Goan giap.”

Buru-buru Coei San menundukkan senjatanya dan sambil mengangkat kedua tangan, ia berkata, “Ah! Kalau begitu, Jie wie Taysoe adalah dari Siauw lim Cap peh Lohan. Sudah lama aku mendengar nama Taysoe yang sangat harum dan aku merasa beruntung, bahwa hari ini kita bisa bertemu muka. Pelajaran apakah yang mau diberikan oleh Taysoe ?”

“Soal ini bersangkut-paut langsung dengann Siauw Lim dan Boe tong pay,” jawab Goan Im.

“Kami berdua adalah orang-orang yang berkedudukan sangat rendah dalam Siauw lim pay dan sebenarnya kami tak dapat mengurus persoalan ini. Tapi karena sudah terlanjur bertemu, kami tanya mengapa Thio Ngo hiap membinasakan puluhan orang dari Liong boen Piauw kiok dan dua Soetit (keponakan murid) kami? Orang kata, jiwa manusia bersangkut paut dengan Langit. Kami ingin dengar, bagaimana Ngo hiap mau membereskan peristiwa ini.”

Kata-kata itu meskipun diucapkan deugan perlahan, kedengarannya sangat menusuk kuping, sehingga dapatlah diketahui, bahwa kepandaian pendeta tersebut banyak lebih tinggi dari pada adik seperguruannya.

Thio Coei San tertawa dingin. “Mengenai permbunuhan terhadap orang-orang Liong boen Piauw kiok, aku sendiripun merasa sangat heran,” jawab nya. “Di samping itu, aku juga tidak mengerti, mengapa begitu membuka mulut, Taysoe sudah menuduh aku. Apakah kejadian itu disaksikan dengan mata kepala Taysoe sendiri ?”

“Hoei hong!” teriak Goan im. “Coba kau memberi kesaksian di hadapan Thio Ngo hiap.”

Dari belakang pohon lantas saja muncul empat orang pendeta yang tadi dirobohkan Coei San dalam gedung Liong boen Piauw kiok.

Pendeta yang bergelar Hoei hong itu lantas saja membungkuk seraya berkata, “Melaporkan kepada Soepoh, bahwa beberapa puluh orang dari Liong boen Piauw kiok Hoei thong dan Hoei kong kedua Soeheng semuanya…semuanya dibinasakan oleh bangsat she Thio itu.”

“Apa kau lihat dengan mata kepala sendiri ?” tanya Goan im.

“Ya,” jawabnya. “..Kalau tak keburu lari, teecoe berempat pun sudah binasa di tangannya.”

“Murid Sang Buddha tak boleh berdusta,” kata Goan im dengan suara keren. “Soal ini mengenai Siauw lim dan Boe tong, kedua partai besar dalam Rimba persilatan, dan kau tidak boleh bicara sembarangan”

Hoei bong segera berlutut dan sambil merangkap kedua tangannya, ia berkata, “Teecoe tak akan berani mendustai Soepeh dan apa yang dikatakan teecoe adalah kejadian yang sebenar-benarnya. Untuk itu, Sang Buddha menjadi saksinya.”

“Cobalah kau ceritakan apa yang dilihat dengan matamu sendiri” memerintah Goan im. Mendengar perkataan itu, Thio Coei San lantas saja melompat turun.

Goan-giap yang menduga pemuda itu ingin menyerang Hoei hong, lantas saja menyabet dengan Sianthungnya. Coei San menunduk untuk memunahkan serangan itu dan kemudian, dengan sekali melompat ia sudah berada di belakang Hoei hong. Menurut ilmu silat toya Hok mo thung (takluki iblis), sesudah sabetannya meleset, Goan giap harus menyerang pula dengan membabat pundak lawan. Akan tetapi, karena waktu itu Coei San sudah berada di belakang Hong bong, maka jika ia menyerang lagi, toyanya akan lebih dulu mengenakan keponakan muridnya. Dalam kagetnya, ia terpaksa menarik pulang Sian thungnya. “Mau apa kau?” bentaknya.

“Aku mau mendengarkan ceritanya,” menjawab Coei San.

Hoei hong mengerti bahwa kalau mau, Thio Coei San yang berada dalam jarak dua kaki, dengan mudah bisa mengambil jiwanya dan meskipun kedua Soe pehnya berada di situ, mereka tak akan keburu menolong. Tapi dalam gusarnya, ia tak jadi gentar, dan lantas saja memberi keterangan dengan suara nyaring , “Waktu berada di Kang pak (sebelah utara Sungai Besar). Goan sim Susiok menerima surat Touw Tay Kim Suheng yang meminta pertolongan. Begitu menerima surat itu buru-buru Soesiok memerintahkan Hoei Thong dan Hoei Kong Soeheng memberi datang kemari untuk memberi bantuan. ”

“Belakangan Soesiok pun memberi perintah kepada teecoe dan ketiga Soetee untuk menyusul. Begitu tiba, Hoei kong Soeheng mengatakan bahwa malam ini, musuh mungkin datang menyatroni dan ia minta kami berempat sembunyi dikaki tembok sebelah timur. Ia pun memesan supaya kami jangan sembarangan meninggalkan tempat jagaan dan jangan sampai diselomoti dengan tipu memancing harimau keluar dari gunung. Baru siang berganti malam, tiba-tiba kami mendengar bentakan dan cacian Hoei thong Soeheng yang sudah mulai bertempur di ruang belakang. Sesaat kemudian ia mengeluarkan teriakan kesakitan, Sebagai tanda terluka berat. Teecoe segera memburu ke ruangan belakang dan lihat dia ..dia…bangsat She Thio itu” Berkata sampai disitu, mendadak ia melompat bangun dan berteriak sambil menuding hidung Thio Coei San. “Dengan mata kepalaku sendiri kulihat kau pukul Hoei kong Soeheng yang lantas mati dengan membentur tembok. Karena merasa tidak ungkulan, aku lalu bersembunyi dibawah jendela dan menyaksikan cara bagaimana kau menerjang ke pekarangan sambil membunuh orang. Tak lama kemudian, delapan orang Piauw kiok berlarian keluar dari belakang dengan diubar olehmu. Mereka semua kau binasakan dengan totokan dan sesudah membasmi semua orang yang berada dalam gedung, barulah kau mabur dengan melompati tembok.”

Thio Coei San berdiri tegak tanpa bergerak.

“Kemudian bagaimana?” tanyanya dengan suara dingin.

“Kemudian?” bentak Hoei hong dengan kegusaran meluap-luap. “Kemudian aku balik ke tembok timur dan berdamai dengan ketiga Soeteeku. Kami yakin, bahwa kepandalanmu terlalu tinggi untuk dilawan, dan jalan satu-satunya adalah menunggu, datangnya ketiga Soepeh di dalam gedung piauw kiok. Tapi sungguh tak dinyana, kau lagi-lagi menyatroni untuk mencari Touw Cong piauw tauw. Biarpun tahu bahwa kami hanya bakal mengantarkan jiwa, kami bukan bangsa pengecut, maka segara kami menyerang. Waktu ditanya olehkU, bukankah kau telah memperkenalkan diri sebagai Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San? Semula aku tak percaya. Aku berpendapat, bahwa sebagai salah seorang dari Boe tong Cit hiap, kau tentu tak akan melakukan perbuatan yang begitu kejam. Tapi kau lantas saja mengeluarkan kedua senjatamu, sehingga tak mungkin kau Thio Coei San palsu.”

“Benar, memang benar aku telah memperkenalkan diri dan mengeluarkan senjataku,” kata Coei San. “Memang benar aku yang sudah merobohkan kamu. Tapi coba ceritakan sekali lagi, coba tuturkan lagi, bagaimana dengan mata kepala sendiri, kau melihat aku membunuh puluhan orang itu.”

Pada saat itulah, tiba-tiba Goan im mengebas tangan jubahnya dan mendorong tubuh Hoei hong beberapa kaki jauhnya. “Ya! Cobalah kau cerita kan lagi, supaya Thio Ngo hiap yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan, tidak dapat menyangkal pula,” katanya dongan suara menyeramkan. Ia mendorong Hoei hong guna berjaga-jaga kalau-kalau dalam gusarnya, pemuda itu turunkan tangan jahat untuk menutup mulut saksi.

“Baiklah” kata Hoei hong. “Aku akan menegaskan satu kali lagi. Dengarlah! Dengan mataku sendiri kulihat. kau membinasakan Hoei hong dan Hoei thong Soeheng. Dengan mataku sendiri, kulihat kau membunuh delapan orang dari Liong boen Piauw kiok dengan totokan.”

“Apa kau lihat tegas mukaku?” tanya Coei San dengan suara menyeramkan. “Pakaian apa yang dipakai olehku?” Sambil berkata begitu ia menyalakan api dan menyuluhi mukanya sendiri.

Hoei hong menatapnya dan berkata dengan suara membenci, “Tak salah ! Kau mengenakan pakaian itu, jubah panjang dan topi empat segi. Waktu itu kau menyelipkan kipasmu di belakang leher baju.”

Bukan main gusarnya Thio Ngo hiap. Ia tak mengerti mengapa pendeta itu menuduhnya secara membabi-buta.

Sambil mengangkat api tinggi-tinggi, ia maju dua tindak dan membentak, “Kalau kau mempunyai nyali, katakan lagi bahwa yang membunuh orang adalah Thio Coei San!”

Mendadak kedua mata pendeta its mengeluarkan sinar luar biasa. Ia menunding seraya berteriak, “Kau…!”

Tubuhnya tiba-tiba terjengkang dan roboh di tanah. Dengan serentak sambil mengeluarkan seruan tertahan, Goan giap dan Goan im melompat untuk coba menolong. Tapi Hoan hong sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan dengan paras muka ketakutan.

“Kau! kau membunuh dia!” teriak Goan giap dan Goan im, tapi juga mengagetkan sangat Thio Coei San. Ia menengok ke belakang dan matanya yang sangat jeli melihat goyangnya beberapa cabang pohon “Jangan lari!” bentaknya sambil melompat.

Ia mengerti, bahwa perbuatannya itu sangat berbahaya sebab musuh yang bersembunyi dapat membokongnya. Tapi untuk cuci bersih segala tuduhan, ia mesti bisa menangkap pembunuh itu. Selagi badannya masih berada di tengah udara itu Goan im dar Goan giap sudah menyabet dengan senjata mereka. Bagaikan kilat, ia menekan Sian thung Goan giap dengan Houw tauw kauw dan menotok toya Goan im dan Goan giap dengan Poan koan pit dan dengan meminjam tenaga itu, badannya melesat ke atas. Begitu kedua kakinya hinggap di atas tembok, segera matanya menyapu ke arah gerobolan pohon. Benar saja beberapa cabang kecil masih bergoyang goyang, tapi orang yang bersembunyi sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.

Sambil menggeram dan mengebas Sian thungnya Goan giap bergerak untuk melompat ke atas tembok “Jie wie jangan merintangi aku. Mari kita ubar pembunuh itu!” teriak Coei San.

“Kau…dihadapanku kau berani membunuh orang !” teriak Goan im dengan napas tersengal-sengal, “Apa sekarang kau masih mau menyangkal”. Beberapa kali Goan giap coba melompat ke atas, tapi ia selalu kena dipukul mundur. “Thio Ngo Hiap, kami bukan mau mengambil jiwamu,” kata Goan im. “Kau ikut saja kami ke Siauw lim sie”

“Benar-benar gila!” teriak Coei San. “Karena gara-gara kalian berdua yang sudah menghalang halangi aku, pembunuh itu telah berhasil melarikan diri. Sekarang kamu berbalik mau mengajak aku ke Siauw Lim sie. Perlu apa aku pergi ke Siauw Lim sie?”

“Supaya Hong thio kami dapat memberi keputusan,” jawabnya. “Dengan beruntun kau sudah membinasakan tiga orang murid kuil kami, ini adalah terlalu besar untuk dibereskan oleh kami berdua.”

Coei San tertawa dingin “Hm!” ia mengeluarkan suara di hidung. “Sungguh percuma kamu berdua menjadi anggauta dari Siauw lim Cap peh Lo han. Penjahat lari di depan hidungmu, kamu masih belum tahu!”

“Sudahlah!” kata Goan im dengan suara menyesal dan duka. “Biar bagaimanapun juga, hari ini kami tak akan dapat melepaskan kau.”

Mendengar tuduhan yang sangat hebat itu, semakin lama pemuda itu jadi semakin gusar.”Tay Soe” katanya sambil tertawa dingin. “Jika kamu mempunyai kepandaian, cobalah tangkap aku!” hampir berbareng dengan tantangannya, Goan giap menumbuk tanah dengan San thungnya dan badannya segera melesat ke atas. Coei San pun melompat tinggi dan selagi tumbuhnya melayang turun, bagaikan angin puyuh ia menyerang. Goan giap coba menangkis, tapi dengan sekali balik Houw tauw kauw, ia menggeres alis pendeta itu yang lantas saja mengucurkan darah dan tumbuhnya ambruk ke bawah. Dalam serangan itu, Coei San masih berlaku murah hati. Jika gaetan tersebut diturunkan sedikit lagi ke arah tenggorkan, jiwa Goan giap tentu sudah melayang.

“Giap soeete!” teriak Goan im. “Apa kau terluka berat?”

“Tidak Jangan rewel! Hajarlah !” jawabnya dengan kalap.

Mendengar perkataan saudara seperguruannya, Goan im segera menyerang sambil melompat lompat dan sesaat kemudian, tanpa membalut luka nya, Goan giap pun segera membantu. Melihat serangan-serangan yang sangat hebat itu, Coei San mengerti, bahwa jika kedua pendeta tersebut dapat , melompat ke atas tembok, ia bakal repot sekali.

Maka itu, sambil mengempos semangat, ia segera berkelahi dengan hati-hati dan menjaga supaya kedua lawannya jangan sampai berdiri di tembok. Ketiga pendeta dari tingkatan “Hoei” tidak berani maju, biarpun mereka ingin sekali membantu.

Thio Coei San mengerti bahwa untuk membersihkan dirinya dari tuduhan yang sangat hebat itu, ia harus menyelidiki dan membekuk pembunuh yang tulen. Ia tahu bahwa dilangsungkannya pertempuran hanialah akan memperdalam sakit hati dan salah mengerti. Maka itu sambil menggerakkan kedua senjatanya untuk menutup serangan kedua pendeta itu, ia berseru keras dan mengenjot tubuh.

Tapi sebelum ia melompat tiba-tiba terdengar bentakan geledek, dan tembok yang sedang diinjaknya roboh didorong orang. Sebelum kedua kakinya hinggap di bumi seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar menerjang dan coba merampas kedua senjatanya.

Di tempat gelap Coei San tak bisa lihat tegas muka hweeshio itu, tapi melihat sepuluh jarinya yang dipentang seperti gaetan, ia tahu, bahwa pendeta itu menyerang dengan Houw jiauw kang (ilmu pukulan kuku harimau) salah satu pukulan terlihai dari Siauw lim sie.

“Sim Soeheng!” teriak Goan giap. “Jangan kasih bangsat ini lari”

Semenjak turun dari Boe tong san, Thio Coei San jarang bertemu dengan tandingan. Sesudah memiliki ilmu silat Ie thian To liong, kepandaiannya jadi lebih tinggi lagi dan nyalinya pun jadi lebih besar. Melihat serangan mati-matian dari tiga pendeta itu ia jadi mendongkol bukan main dan lantas saja timbul niatan untuk memperlihatkan kepandiannya. Ia segera menyelipkan kauw tauw kauw dan Poan koan pit di pinggang nya dan membentak “Kalau mau bertempur, ayolah!

Biarpun Siauw lim Cap peh Lo han turun semua, Thio Coei San sedikit pun tidak merasa keder” Sesaat itu, tangan kiri Goan sim menyambar. Sambil berkelit, ia menggerakkan tangannya “Bret!” tangan jubah pendeta itu robek. Dengan gusar Goan sim coba mencengkeram pundaknya, tapi sebelum kelima jarinya menyentuh pundak, lututnya sudah ditendang Coei San.

Tapi diluar dugaan, dua kaki Goan sim luar biasa kuat, sehingga biarpun kena tendangan jitu, badannya hanya bergoyang-goyang dan tidak sampai roboh di tanah. Sambil menggeram, tangan kanan nya menyambar, dan dengan berbareng, Sian thung Goan im dan Goan giap menyabet pinggang dan kepala. Coei San tak jadi bingung. Dengan lompat tinggi ia menyelamatkan dirinya.

Sambil bertempur Coei San berkata dalam hatinya, “Dalam beberapa tahun yang belakangkangan nama Boe tong dan Siauw lim dikatakan berendeng dalam Rimba Persilatan. Tapi yang mana lebih tinggi, yang mana lebih rendah, sukar sekali dapat diukur. Biarlah hari ini aku menjajal kepandaian pendeta Siauw Lim.” Ia segera mengempos semangat dan melayani ketiga lawan itu dengan hati-hati. Sesudah lewat sekian jurus, biarpun dikerubuti tiga, perlahan lahan ia berada di atas angin.

Sebenarnya, ilmu silat Siauw lim dan Boe tong mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Boe tong pay didirikan oleh Thio Sam Hong, seorang luar biasa pada jaman itu. Tapi ilmu silat Siauw lim sie, dengan sejarah seribu tahun lebih dan diperbaiki terus-menerus, bukan main hebatnya. Dalam pada itu, orang harus ingat, bahwa dalam Boe tong pay, Thio Coei San termasuk sebagai jago kelas utama, sedang Goan im, Goan sim dan Goan giap biarpun kedudukannya sebagai anggota Cap peh Lo han, dalam kalangan Siauw lim sie ilmu silatnya baru mencapai tingkatan kedua. Maka itu sesudah bertempur lama, sebaliknya dari keteter, Thio Coei San jadi semakin gagah.

Sesudah lewat sekian jurus tagi, tiba-tiba pemuda itu menyerang dengan pukulan huruf “Liong” (naga). Mendadak satu tangannya menangkap San-thung Goan giap yang dengan menggunakan ilmu meminjam tenaga, memukul tangan lalu disentaknya ke arah toya Goan im. “Trang !”Hebat sungguh bentrokan kedua toya itu. Tenaga kedua pendeta itu yang sudah cukup hebat, ditambah lagi dengan tenaga Thio Coei San. Telapak-tangan Goan im dan Goan giap terbeset dan mengeluarkan darah. Lengan mereka kesemutan, sedang kedua Sian thung itu melengkung.

Dengan kaget, Goan sim menubruk untuk memberi pertolongan. Melihat serangan nekat, Coei San mengengos sambil mengggaet dengan kakinya dan menepuk punggung pendeta itu. Tepukan itupun dikirim dergan ilmu “Meminjam tenaga, memukul tangan” yaitu memukul dengan menuruti tenaga Goan sim sendiri. Tanpa ampun, pendeta itu terjungkel.

Sambil tertawa dingin, Thio Coei San lantas saja berjalan pergi.

“Jangan lari kau!” terial Goan sim seraya melompat bangun dan terus mengudak diikuti oleh kedua saudara seperguruannya.

Melihat pengejaran nekat, Coei San jadi bingung juga. Tentu saja sama sekali bukan maksudnya untuk mencelakakan mereka. Maka itu, ia segera mengempos semangat dan lari dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Tapi ketiga pendata itu terus mengubar sambil berteriak-teriak.

Sembari lari Thio Coei San merasa geli di dalam hati, karena bagaimanapun juga, ketiga pangejar itu tak akan bisa menyandak dirinya. Selagi enak lari, tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan kesakitan dan begitu menengok, ia lihat ketiga pendeta itu menutupi mata kanan mereka dengan kedua tangan, seperti kena senjata rahasia. “Orang she Thio!” Hoan giap mencaci. “Jika kau mempunyai nyali, butakanlah lagi mata kiriku!”

Coei San kaget bukan main. “Apa mata kanannya dibutakan orang dengan senjata rahasia?”tanyanya di dalam hati.

“Siapa yang sudah membantu aku.” Mendadak ia ingat sesuatu dan lantas saja berteriak! “Cit tee !Cit tee! di mana kau?” Ia berteriak begitu karena ingat bahwa di antara saudara-saudara seperguruannya Boh Seng Kok lah yang paling pandai dalam ilmu menggunakan senjata rahasia. Boh Cit hiap mahir menggunakan piauw, panah tangan, paku, jarum, batu, Hoei hong sek dan lain-lain. Maka itu, ia menduga, bahwa orang yang telah menimpuk mata ketiga pendeta itu adalah adiknya yang paling kecil

Tapi sesudah memanggil beberapa kali, ia tak mendapat jawaban, ia melompat masuk k egerombolan pohon-pohon di pinggir telaga, tapi di situ pun ia tak lihat bayangan manusia.

Di lain pihak, sesudah seluruh matanya terluka, Goan giap jadi kalap dan sambil berteriak-teriak ia melompat untuk mengubar lagi. Tapi Goan im buru-buru menarik tangan Soeteenya. ia mengerti, bahwa meskipun belum terluka, mereka bertiga belum tentu dapat melawan musuh. Sekarang, sesudah terluka, apapula luka itu dirasakan gatal seperti kena senjata beracun keadaan mereka jadi lebih jelek lagi dan tak usah harap bisa memperoleh kemenangan. “Giap Soetee, ” katanya dengan suara menghibur. “Dalam usaha membalas sakit hati, orang tak perlu terlalu bernapsu. Dalam urusan ini, andai kata kita bertiga mau menyudahi saja, Hong thio dan kedua Soepeh sudah pasti tak akan tinggal diam.”

Sementara itu, sesudah ternyata pengubaran atas dirinya dihentikan, Coei San mulai memikiri kejadian barusan dengan rasa heran yang sangat besar. “Aku suka mengunggulkan ilmu mengentengkan badanku, tapi kepandaian orang itu kelihatannya banyak lebih tinggi dari padaku. Tapi siapa dia!”

Ia tak berani berdiam lama-lama lagi di pinggir telaga dan lantas berjalan pulang ke rumah penginapan. Tapi baru saja berjalan puluhan tombak, sekonyong-konyong ia lihat bergoyang-goyangnya rumput tinggi di tepi telaga. Ia tahu bahwa di situ bersembunyi orang dan dengan hati-hati ia mendekati. Baru saja ia ingin menegur, dari antara rumput-rumput melompat keluar seorang yang terus membacok kepalanya dengan golok sambil membentak, “Kalau bukan aku, kau yang mampus!”

Dengan cepat Coei San mengegos dan mengirim tendangan yang mengenakan jitu pergelangan tangan kanan orang itu sehingga goloknya terbang dan jatuh di atas air. Orang itu yang gundul kepalanya dan mengenakan jubah pertapaan. Lagi-lagi seorang pendeta Siauw lim sie.

“Bikin apa kau di sini?” bentak Coei San.

Tiba-tiba ia lihat 3 sosok tubub yang menggeletak tanpa bergerak, entah sesudah mati, entah terluka berat di dalam rumput-rumputan tinggi. Tanpa menghiraukan lawannya ia segera mendekati dan membungkuk. Begitu lihat, ia terkesiap karena ketiga orang itu bukan lain daripada pemimpin-pemimpin Liong boen Piauw kiok, yaitu Touw Tay Kim, Ciok dan Soe Piauw tauw.

“Touw Cong piauw tauw!” serunya. “Kau !…kau…” Perkataannya diputuskan oleh melompatnya Touw Tay Kim yang seperti orang edan lalu menyengkeram bajunya di dada dan mencaci:”Bangsat ! Aku hanya simpan tiga ratus tahil perak, tapi kau sudah lantas berlaku begitu kejam.”

“Ada apa?” tanya Coei San. Baru saja ia ingin memberontak, mendadak ia melihat darah di ujung mata dan mulut Cong Piauw tauw itu. Ia kaget bukan main. “Kau mendapat luka dalam?” tanyanya.

Touw Tay Kim menengok ke pendeta itu dan berkata dengan suara parau, “Soetee, kenalilah orang ini Gin Kauw Tiat hoa Thio Coei San. Dia…dialah pembunuhnya. Lekas kau pergi!…lekas ! jangan kena dicandak olehnya…”

Mendadak kedua tangannya membetot keras dan kepalanya dibenturkan ke dada Thio Ngo hiap dengan tujuan untuk mati bersama. Coei San mengangkat kedua tangannya dan mendorong. “Bluk!”, badan Touw Tay Kim terpental dan jatuh terjengkang tapi bajunya sendiripun menjadi robek.

Thio Coei San adalah seorang yang tidak mengenal takut. Tapi kejadian-kejadian malam itu dan paras muka Touw Tay Kim adalah sedemikian menyeramkan, sehingga bulu romanya bangun semua. Dengan hati berdebar-debar, ia membungkuk untuk coba menolong, tapi Touw Tay Kim sudah melepaskan napasnya yang penghabisan. Sesudah mendapat luka berat, dorongan Coei San dan jatuhnya di tanah telah menghabiskan jiwanya.

“Bangsat!” teriak si pendeta. “Kau!…kau binasakan Soe hengku !” Ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya.

Coei San menghela napas panjang dan menggeleng gelengkan kepalanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa Ciok dan Soe Piauw tauw, yang kakinya masuk k edalam air, sudah mati lebih dulu.

Bukan main rasa dukanya pemuda itu. Dengan Touw Tay Kim, ia tak mempunyai permusuhan apapun juga. Ia hanya merasa jengkel karena dalam mengantar Jie Thay Giam, Cong piauw tauw itu sudah dikelabui orang dan menyerahkan samkonya kepada kawanan orang jahat. Tapi sekarang melihat kebinasaan yang begitu menyedihkan, ia merasa sangat terharu dan kasihan. Untuk beberapa saat, ia berdiri bengong. Tiba-tiba ia ingat perkataan Cong piauw tauw itu yang mengatakan, “aku hanya menyimpan tigaratus tahil emas, tapi aku sudah lantas berlaku begitu kejam”.

Sebenar-benarnya, jangankan ia tak tahu hal itu, sekalipun tahu, ia pasti tak akan sembarangan membunuh orang. Ia segera membungkuk dan membuka buntalan yang diikat di punggung Cong piauw tauw itu. Benar saja, dalam buntelan itu kedapatan beberapa potongan emas.

Coei San jadi bertambah duka. Ia ingat kesukaran dan penderitaan seorang piauw tauw yarg mencari sesuap nasi dengan melakoni perjalanan li dan setiap hari hidup diujung senjata. Tujuan satu-satunya adalah mengumpul sedikit uang untuk berjaga-jaga keperluan di hari tua. Uang itu sekarang menggeletak di samping Touw Tay Kim, tapi ia sudah tak dapat menggunakannya. Mengingat begitu, ia menghela napas. Ia ingat pula, bahwa ini malam, seorang diri ia telah mengalahkan tiga pendeta Siauw lim sie sehingga namanya naik tinggi dalam Rimba Persilatan. Tapi apa artinya itu semua? Pada akhirnya ia dan Tuow Tay Kim tidak banyak bedanya, yaitu berpulang ke tempat baka.

Tanpa merasa, sekali lagi ia melamun di tengah telaga. Mendadak terdengar suara khim. Ia mengawas ke arah suara itu dan mendapat kenyataan, bahwa sastrawan yang tadi minum arak seorang diri di dalam perahu, yang sekarang yang menetik khim. Sesaat kemudian, dengan menuruti irama tabuh-tabuhan itu, ia menyanyi:

“Mendapat ilham, tenaga pit seolah-olah menggetarkan Ngo gak,
Syair rampung suara bersyair mencapai Ciang Cioe.
Kalau nama dan kemuliaan terus berdiri tegak,
Sangai Han soei seharusnya mengalir balik ke barat laut.”

Coei San terkejut. Suara itu yang merdu dan nyaring, seperti juga suara seorang wanita, sedang sajak mengenakan jitu isi hatinya. Di lain saat, ia segera mengangkat kaki uatuk meninggalkan tempat itu, karena, jika perahu itu mendekati dan si sasterawan melihat ketiga mayat yang menggeletak di situ, dia mungkin berteriak dan mengakibatkan datangnya serdadu peronda.

Tapi baru ia bertindak, sastrerawan itu sekonyong-konyong menepuk khim dan berkata dengan suara nyarirg, “Jika Heng tay (saudara) merasa senang untuk pelesir di atas telaga, mengapa Heng tay tak mau naik ke sini?”. Sambil berkata begitu, ia mengebas tangannya dan tukang perahu yang duduk di kemudi lantas saja menggayu perahu itu ke tepi telaga.

“Orang itu sedari tadi sudah berada di atas telaga sehingga mungkin sekali aku akan bisa mendapat keterangan berharga dari mulutnya,” pikir Coei San yang lalu turun di pinggir air. Begitu perahu itu datang dekat, ia segera melompat ke kepala perahu.

Dengan ilmu mengentengkan badannya yang sangat tinggi, lompatannya itu sedikitpun tidak menggoncangkan badan perahu. Si sasterawan bangun berdiri dan sambil tersenyum, ia menyoja, akan kemudian menunjuk kursi supaya tamunya duduk.

Dengan pertolongan sinar tengtoleng Coei San mendapat kenyataan bahwa sastrawan itu kulitnya putih bagaikan susu dan pantasnya cantik ayu, sedang waktu ia bersenyum pada pipi kirinya yang agak kurus tertampak sebuah sujen. Dipandang dari jauh, ia kelihatannya seperti seorang tongcoe yang tampan, tapi dilihat dari dekat, ia adalah seorang wanita muda belia yang mengenakan pakaian lelaki.

Sebagai murid Thio Sam Hong, Coei San telah diajar untuk mentaati sopan santun dan memegang keras peraturan pada jaman itu, mengenai pergaulan antara pria dan wanita.

Selama malang-melintang dalam dunia Kangouw, Butong Cit hiap belum pernah dibikin mabok oleh kecantikan wanita.

Maka itulah, setelah mengetahui, bahwa sasterawan itu adalah seorang wanita, parasnya lantas saja berubah merah dan begitu bangun berdiri, ia segera melompat balik ke daratan. Sambil menyoja ia berkata dengan sikap menghormat, “Aku yang rendah tak tahu, bahwa nona adalah seorang wanita yang menyamar sabagai pria. Untuk kelancanganku, harap nona sudi memaafkan.”

Tanpa menjawab, nona itu memetik khin seraya bernyanyi:

“Kejengkelan menghilangkan kegembiraan,
kesepian menimbulkan kedukaan.
Terbang berputaran, memandang ke tempat jauh.
Mencekal pedang, melompat ke atas perahu.”

Mendengar nyanyian itu, yang mengundangnya untuk kembali ke perahu, Coei San berkata di dalam hati, “Malam ini aku telah bertemu dengan banyak soal sulit. Nona itu rupanya dapat membantu aku dalam usaha mencuci bersih segala tuduhan yang tidak-tidak.” Memikir begitu ia lantas saja bergerak untuk melompat kembali ke perahu.

Tapi ia lantas mendapat lain ingatan. “Ah! Aku belum mengenalnya dan ia begitu cantik,” pikirnya. “Jika aku membuat pertemuan di tengah malam buta, namanya yang suci bersih bisa ternoda.”

Selagi bersangsi, tiba-tiba ia dengar suara penggayu memukul air, dan perahu itu sudah bergerak ke tengah telaga. Di lain saat terdengar bunyi khim yang diiring dengam nyanyian seperti berikut:

“Malam ini ku hilang kegembiraan,
Besok malam, belum ada ketentuan.
Di bawah Liok ho tah,
Yanglie melambai, perahu menunggu,
Pemuda kesatria,
Apa sudi datang ke situ ?”

Semakin lama perahu jadi semakin jauh, sedang nyanyian itu pun semakin sayup kedengarannnya, sinar tengloleng kelihatan seperti sebutir kacang dan kemudian menghilang dari pemandangan.

Pengalaman Thio Coei San pada malam itu sungguh-sungguh luar biasa. Disaat ini, dia menghadapi pembunuhan, mayat dan pertempuran di saat lain, ia bertemu dangan wanita cantik, khim dan nyanyian merdu. Lama juga ia berdiri di tepi telaga, seperti orang hilang ingatan. Kemudian sambil menghelan napas, dengan tindakan lesu ia ke rumah penginapan.

Pada esok harinya, pembunuhan hebat di gedung Liong boen Piauw kiok dan di tepi telaga telah menggemparkan seluruh kota Lim an. Thio Coei San yang gerak geriknya lemah-lembut seperti seorang sasterawan tentu saja tidak dicurigai. Hari itu, dari pagi sampai sore, ia berputar-putar di pasar-pasar dan dielenteng-keleteng dalam usaha mencari Jie Lim Coe dan Boh Seng Kok. Tapi jangankan orangnya, sedangkan tanda tandanyapun yang biasa ditaruh di sepanjang jalan jika Boe tong Cit hiap sedang manjalankan tugas tak kelihatan.

Sesudah mata hari mendoyong k ebarat, mau tak mau, ia ingat nyanyian nona cantik itu yang selalu terbayang di depan matanya. “Jika aku berlaku sopan, halangan apa aku menemuinya?” katanya di dalam hati, “Memang alangkah baiknya jika Jieko dan Cit tee berada di sini dan bisa turut serta. Ya, aku mesti bertemu dengan nona itu. Dia adalah orang satu-satunya yang bisa ditanyakan olehku.” Sesudah mengambil keputusan, buru-buru ia menangsal perut dan lalu berangkat ke pagoda Liok ho tah.

Liok ho tah berada di tepi Sungai Cian tongkang dan tempat itu terpisah agak jauh dari kota Lim an sehingga walaupun Thio Coei San menggunakan ilmu mengentengkan badan, waktu tiba di Liok ho tan, siang sudah terganti dengan malam.

Dari jauh ia sudah lihat, bahwa di sebelah timur pagoda itu terdapat tiga pohon yanglioe dan di bawah pohon tertambat sebuah perahu kecil. Perahu perahu di sungai itu kebanyakan menggunakan layar dan bentuknya banyak lebih besar daripada perahu pelesir di telaga See ouw. Tapi perahu yang berada di bawah pohon yanglioe, tiada bedanya dengan perahu semalam dan di kepala perahu tergantung sebuah tengloleng.

Jantung pemuda itu, memukul keras dan sesudah dapat menenteramkan hatinya, barulah ia mendekati pohon yanglioe itu. Di kepala perahu kelihatan berduduk seorang wanita yang mengunakan baju muda. Ternyata nona itu tidak menyamar lagi sebagai pria.

Waktu berangkat dari rumah penginapan, Coei San bertekad untuk menemui si nona dan menanyakan urusan semalam. Tapi sekarang, melihat nona itu memakai pakaian perempuan, hatinya bersangsi lagi.

Sekonyong-konyong si nona mendongak dan mengucapkan sebuah sajak:

“Memeluk lutut di kepala perahu,
Sambil menunggu seorang tamu.
Angin meniup, ombak bergoyang.
Duduk melamun, pikiran melayang.”

“Aku yang rendah, Thio Coei San, ingin menanyakan sesuatu kepada nona,” kata pemuda itu dengan suara nyaring.

“Naiklah ke perahu,” mengundang Sinona.

Dengan gerakan yang indah Coei San melompat ke atas

“Kemarin awan hitam menutupi langit dan bulan tak muncul,” kata nona itu. “Malam ini langit bersih, lebih menyenangkan daripada kemarin.” Suaranya merdu dan nyaring tapi ia bicara sambil mengawasi langit.

“Apakah boleh ku tahu she nona yang mulia?” tanya Coei San sambil membungkuk.

Mendadak si nona menengok dan matanya kedua yang bening menyapu muka itu. Tapi ia tak menjawab pertanyaan orang.

Pemuda itu jadi kemalu-kemaluan. Tanpa berani mengeluarkan sepatah kata lagi, ia memutar badan dan lalu melompat ke daratan dan berlari-lari. Sesudah lari beberapa puluh tombak, ia menghentikan tindakannya.

“Coei San! Coei San !'” Ia mengeluh “Kau dikenal sebagai seorang gagah yang selama sepuluh tahun di dunia Kang ouw tidak mengenal apa artinya takut. Tapi mengapa begitu berhadapan dangan seorang wanita, kau lari terbirit birit ?”

Ia menengok dan melihat perahu si nona maju perlahan-lahan di sepanjang pingiran sungai, dengan menuruti aliran air. Dengan hati ber debar-debar, ia lalu berjalan di sepanjang gili gili, berendeng dengan perahu, sedang nona itu sendiri masih tetap duduk di kepala perahu sambil memandang langit.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: