Kumpulan Cerita Silat

06/07/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 21

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 2:19 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 21
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

“Bunuhlah murid durhaka ini untuk membalaskan sakit hati ayah!” teriak Suma Lim mendadak sambil menerjang ke depan, palunya lantas mengetuk kepala Cu Po-kun.

Tapi sekali mengegos dapatlah Po-kun menghindar, menyusul ia pun balas menghantam dengan gurdinya.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 06

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:48 am

Memanah Burung Rajawali – 06
Bab 06. Pengejaran
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tidak ada jalan lain, Cie Kee terjang musuhnya, si buta itu, ujung pedangnya menikam ke arah muka. Tin Ok dengar anginnya senjata, ia menangkis. Keras kedua senjata beradu, lalu Cie Kee menjadi kaget sekali. Dia hampir membikin terlepas pedangnya.

“Lihay tenaga dalam si buta ini! Mungkinkah ia melebihi aku?” pikirnya. Ia penasaran, maka lagi sekali, ia menikam. Kali ini, ia insyaf kenapa ia kalah kuat. Nyatanya luka di pundaknya itu menyebabkan tenaganya jadi berkurang hingga separuhnya. Oleh karena ini, ia lantas pindahkan pedangnya ke tangan kiri. Dengan tangan kiri ini, ia bersilat dengan ilmu silatnya “Kie Siang Kim-hoat” atau “Melukai Semua”. Inilah ilmu silat yang sejak ia yakinkan belum pernah ia pakai untuk melawan musuh. Dengan menggunai ini ia telah menjadi nekat. Dengan ini, di sebelah musuh ia sendiri pun bisa celaka. dengan “melukai semua” hendak diartikan “mati bersama”.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (06)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:39 am

Kisah Membunuh Naga (06)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Thio Coei San mendapat gelaran Gin kauw Tiat hoa (Gaetan perak Coretan besi) karena tangan kirinya menggunakan Houw tauw kauw (Gaetan kepala harimau ) yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya bersenjatakan Poan koan pit (senjata yang menyerupai pena Tionghoa) yang terbuat daripada besi. Sebab kuatir ditertawai oleh kaum sasterawan, maka sesudah mahir dalam ilmu silat, ia lalu mempelajari juga ilmu surat di bawah pimpinan gurunya yang Boen boe coan cay (pandai ilmu surat dan ilmu silat). Song loan tiap itu pernah dipelajari olehnya pada dua tahun yang lain.

Sambil bersembunyi di belakang tiang, ia memperhatikan gerakan tangan gurunya yang menulis seperti berikut, “Hie Cie toen sioe, song loan cie kek, sian bok cay lie to tok, toei wie kouw seng. (Hie Cie memberi hormat. Kesedihan dan kekalutan melampaui batas, kuburan-kuburan leluhur diubrak abrik, kalau diingat sungguh hebat perasaan duka).
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.