Kumpulan Cerita Silat

05/07/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 20

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 2:17 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 20
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

“Aku adalah tukang kebun yang disuruh menanam bunga oleh Hujin,” sahut Toan Ki dengan berlagak tertawa. “Peng-mama, apakah sudah siap rabuknya?”

“Tunggulah sebentar, tidak lama lagi akan tersedia,” sahut Peng-mama. Lalu ia berpaling kembar dan tanya Giok-yan, “Siocia, Buyung-siauya sangat sayang kepada kedua pelayannya ini, bukan?”

Dasar Giok-yan memang tidak biasa berdusta, maka jawabnya tanpa pikir, “Ya, makanya lebih baik jangan engkau melukainya.”

“Dan saat ini Hujin sedang bersemadi bukan, Siocia?” tanya pula Peng-mama.

“Ya,” sahut Giok-yan. Tapi segera ia tutup mulut sendiri ketika sadar telah salah omong.

Diam-diam Toan Ki mengeluh, “Ai, Siocia ini benar-benar lugu luar biasa, berdusta sedikit pun tidak bisa.”

Untunglah Peng-mama ini seperti orang tua yang sudah pikun dan tidak memerhatikan kesalahan itu, terdengar ia berkata pula, “Siocia, tali pengikatnya ini sangat erat, harap engkau bantu melepaskannya.”

Sembari berkata ia terus mendekati A Cu yang diringkus di pilar itu untuk melepaskan tali pengikatnya.

Giok-yan mengiakan sambil mendekatinya. Di luar dugaan, mendadak terdengar suara “krak” sekali, dari dalam pilar besi itu tahu-tahu menjulur keluar sebatang baja melingkar bulat hingga tepat pinggang si gadis terkurung.

Keruan Giok-yan menjerit kaget. Namun gelang baja itu sangat kuat, untuk melepaskan diri terang sangat sulit.

Toan Ki terkejut juga oleh kejadian itu, cepat ia memburu masuk dan membentak, “Apa yang kau lakukan? Lekas lepaskan Siocia!”

Peng-mama terkekeh-kekeh seram, sahutnya, “Katanya Hujin sedang bersemadi, mengapa kedua budak ini bisa dipanggil ke sana? Banyak sekali pelayan Hujin, masakah perlu menyuruh Siocia sendiri memanggil ke sini? Di dalam ini tentu ada apa-apanya, silakan engkau menunggu dulu di sini, Siocia!”

Kiranya “Hoa-pui-pang” atau kamar rabuk bunga itu adalah tempat Ong-hujin menghukum atau membunuh orang. Di dalam rumah batu itu penuh terpasang pesawat rahasia untuk membikin tawanannya tidak bisa berkutik.

Peng-mama itu dahulunya adalah seorang begal wanita yang terkenal sangat kejam, entah sudah berapa banyak jiwa manusia telah menjadi korban keganasannya. Tapi ia telah ditaklukkan oleh Ong-hujin, dan karena orangnya sangat cerdik dan rajin, maka ia diberi tugas melaksanakan kekejaman di kamar rabuk ini.

Peng-mama memang sangat cerdik, ia melihat tingkah laku Giok-yan sangat mencurigakan, ia pun tahu Ong-hujin biasanya sangat benci kepada keluarga Buyung. Ia pikir ilmu silat Siocia sangat tinggi, dirinya pasti bukan tandingannya, bila tidak turut perintahnya, mungkin gadis itu akan bertindak dengan kekerasan. Karena itulah dengan muslihatnya ia kurung Giok-yan dengan gelang baja, salah satu pesawat rahasia yang terpasang pada pilar besi itu.

Maka Giok-yan menjadi gusar, bentaknya, “Kurang ajar! Kau berani padaku? Lekas lepaskan aku!”

“Siocia,” sahut Peng-mama, “aku selalu jujur menjalankan tugas, sedikit pun tidak berani berbuat salah. Maka ingin kutanya Hujin dahulu, bila memang benar beliau suruh melepaskan kedua budak ini, tentu aku akan menjura pada Siocia untuk minta maaf.”

Keruan Giok-yan bertambah gugup, serunya, “Hei, jangan kau tanya Hujin, ibuku tentu akan marah!”

Sebagai seorang yang banyak pengalamannya, Peng-mama semakin yakin si gadis itu hendak main gila di luar tahu ibunya. Ia menjadi girang telah berjasa bagi majikannya, maka katanya pula, “Baiklah! Silakan Siocia tunggu sebentar, segera aku kembali!”

“Engkau lepaskan aku dahulu!” seru Giok-yan.

Namun Peng-mama tidak gubris lagi padanya, dengan langkah cepat segera ia hendak bertindak keluar.

Melihat keadaan sudah gawat, tanpa pikir lagi Toan Ki pentang kedua tangan merintangi kepergian si nenek sambil berkata dengan tertawa, “Harap engkau bebaskan Siocia dahulu, kemudian barulah pergi melapor kepada Hujin. Betapa pun dia adalah putri majikanmu, bila engkau bikin susah padanya, tentu takkan menguntungkan dirimu sendiri.”

Di luar dugaan, mendadak Peng-mama membaliki tangannya dan tahu-tahu sebelah tangan Toan Ki kena dipegang olehnya. Karena urat nadi tergenggam, seketika tubuh Toan Ki menjadi lumpuh, meski tenaga dalam Toan Ki luar biasa kuatnya, tapi sayang ia tidak dapat menggunakannya. Maka ia kena diseret oleh Peng-mama ke depan pilar, ketika nenek itu menekan pesawat rahasia pula, “krak”, dari pilar besi yang lain mendadak terjulur keluar geleng baja hingga pinggang Toan Ki juga terjepit.

Tadi begitu tangan Peng-mama memegang pergelangan tangan Toan Ki, seketika ia merasa tenaga dalamnya tiada hentinya merembes keluar dan rasanya sangat menderita. Maka sesudah pemuda itu dikurung oleh gelang baja, segera ia lepaskan pegangannya.

Merana pegangan nenek itu sudah dikendurkan, dalam gugupnya tanpa pikir Toan Ki terus menyikap leher Peng-mama dengan kedua tangan sambil berteriak, “Jangan kau pergi!”

Keruan Peng-mama kaget oleh rangkulan itu, dengan gusar ia membentak, “Lepas, lepaskan!”

Dan karena bersuara, tenaga dalamnya yang merembes keluar itu semakin santer.

Sejak mendapat pelajaran sang paman ketika berada di Thian-liong-si, kini Toan Ki sudah paham tentang ilmu memusatkan hawa murni ke dalam perut. Maka tenaga dalam yang disedotnya itu segera dapat ditabung ke dalam pusatnya.

Berulang-ulang Peng-mama meronta, namun sedikit pun tidak sanggup melepaskan diri dari dekapan Toan Ki. Ia menjadi takut luar biasa dan berteriak-teriak, “Hai, engkau mahir…mahir ‘Hoa-kang-tay-hoat’? Lepas…lepaskan aku.”

Karena leher Peng-mama didekap, terjadi muka Toan Ki berhadapan dengan muka nenek itu, jaraknya cuma belasan senti saja, maka ia dapat melihat nenek tua itu sekuatnya berusaha melepaskan diri dengan meringis, giginya yang kuning penuh gudal dengan siungnya yang lancip, napasnya kerbau bacin pula. Toan Ki menjadi muak dan hampir-hampir tumpah.

Tapi ia pun tahu, dalam saat berbahaya itu, kalau ia lepas tangan, tentu Giok-yan akan mendapat hukuman dari sang ibu dan ia sendiri bersama A Cu dan A Pik juga tak terhindar dari kematian. Karena itulah terpaksa ia menahan napas dan pejamkan mata, ia tidak pandang Peng-mama lagi, tapi membiarkan nenek itu kelabakan sendiri.

“Kau…kau mau melepaskan aku tidak!” teriak Peng-mama pula dengan nada mengancam. Akan tetapi, napas ada tenaga sudah berkurang.

Seperti diketahui, bila tenaga dalam Toan Ki semakin bertambah, daya sedot Cu-hap-sin-kang juga semakin kuat. Dahulu waktu mula-mula ia menyedot tenaga murni tokoh-tokoh seperti Boh-tin, Boh-tam dan kawannya, waktu yang dibutuhkannya sangat lama, kemudian dapat menyedot pula antero tenaga murni tokoh kelas satu Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu, serta sebagian tenaga dalam Po-ting-te, Thian-in, Thian-koan dan lain-lain, kini daya sedot Cu-hap-sin-kang itu boleh dikatakan sudah luar biasa kerasnya, maka untuk menyedot tenaga dalam Peng-mama hanya diperlukan waktu singkat saja sudah selesai.

Begitulah, maka tiada seberapa lama keadaan Peng-mama sudah sangat payah dan lemas lunglai dengan napas kempas-kempis. Akhirnya terpaksa ia memohon, “Lepaskan aku, lepaskanlah!”

“Baik, buka dulu pesawat rahasianya!” kata Toan Ki.

Peng-mama mengiakan. Tapi Toan Ki masih khawatir, ia pegang tangan kiri nenek itu dan membiarkan tangan kanannya menekan alat rahasia di bawah meja, “krek”, segera gelang baja yang mengurung pinggang Toan Ki itu mengkeret masuk ke dalam pilar.

Segera Toan Ki perintahkan Peng-mama membebaskan pula Giok-yan, A Cu dan A Pik.

Namun meski Peng-mama sudah berusaha membuka pesawat rahasia yang mengurung Ong Giok-yan itu, ternyata sedikit pun tidak berhasil.

“Kau berani main gila? Ayo lekas!” bentak Toan Ki.

“Tapi…tapi tenagaku sudah habis!” sahut Peng-mama dengan muka muram dan lesu.

Toan Ki coba meraba ke bawah meja dan menarik sekali alat jeplakannya, perlahan gelang baja yang melingkari pinggang Giok-yan pun mengkeret masuk ke dalam pilar.

Toan Ki sangat girang, tapi ia belum mau melepaskan Peng-mama, sambil masih pegang tangan nenek itu, ia jemput golok dan memotong tali pengikat A Cu dan A Pik, kemudian kedua dayang itu mengeluarkan sendiri sumbat mulut mereka, saking girang dan terharunya sampai kedua dayang itu tidak sanggup bersuara untuk sejenak lamanya.

Giok-yan melototi Toan Ki dengan sikap terheran-heran, katanya kemudian, “Jadi kau mahir ‘Hoa-kang-tay-hoat’? Ilmu yang terkenal kotor itu juga engkau pelajari?”

“Kepandaianku ini bukan ‘Hoa-kang-tay-hoat’ segala, tapi adalah ilmu warisan keluarga Toan kami yang disebut ‘Thay-yang-yong-swat-kang’ (ilmu sang surya mencairkan salju), yaitu semacam ilmu perubahan dari campuran It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam, boleh dikatakan merupakan ilmu lawan dari Hoa-kang-tay-hoat yang jahat itu, maka tidak dapat disamaratakan,” demikian sahut Toan Ki. Ia pikir tidak mungkin menceritakan pengalamannya tentang mendapat ilmu Cu-hap-sin-kang yang panjang dan makan waktu itu, maka sengaja dikarangnya suatu nama sekenanya atas ilmu itu.

Ternyata Giok-yan percaya sepenuhnya, katanya dengan tertawa, “Maaf, jika begitu adalah aku sendiri yang kurang pengalaman. Bahkan tentang It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam dari keluarga Toan kalian di Tayli juga aku cuma tahu namanya saja, maka kelak masih diharapkan petunjukmu.”

Bagi Toan Ki, asal si cantik sudi minta petunjuk padanya, itulah jauh melebihi harapannya, maka cepat sahutnya, “Asal Siocia suka, segala pertanyaanmu pasti akan kujelaskan sampai sekecil-kecilnya.”

Sungguh mimpi pun tak diduga oleh A Cu dan A Pik bahwa pada saat yang genting itu tiba-tiba Toan Ki bisa datang menolong mereka, bahkan tampak bicara sangat akrab dengan Ong-siocia, tentu saja mereka lebih-lebih heran. Segera A Cu berkata, “Banyak terima kasih atas pertolonganmu, Kohnio! Agar rahasia kami tidak sampai bocor, kami ingin membawa pergi Peng-mama ini.”

Keruan Peng-mama menjadi khawatir, serunya dengan lemah, “Jang…jangan…”

Namun A Cu sudah lantas pencet pipi nenek itu hingga mulutnya mengap, terus saja ia masukkan sumbat yang dikeluarkannya dari mulut sendiri tadi ke dalam mulut Peng-mama.

“Haha! Bagus!” seru Toan Ki dengan tertawa. “Ini namanya ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’, sesuai dengan istilah ‘senjata makan tuan’ dari keluarga Buyung kalian!”

Tiba-tiba Giok-yan ikut berkata, “Marilah biar aku ikut pergi bersama kalian untuk melihat bagaimana…bagaimana dengan dia.”

A Cu dan A Pik menjadi girang, mereka tahu siapa yang dimaksudkan si “dia” itu, serta mereka berbareng, “Jika nona sudi pergi membantunya, itulah paling baik.”

Segera kedua dayang itu menyeret Peng-mama ke dekat pilar dan menarik alat jeplakan hingga nenek itu kena dikurung di dalam lingkaran gelang baja Habis itu mereka berempat lantas menuju ke tepi danau.

Syukurlah sepanjang jalan mereka tidak dipergoki kawanan dayang yang lain. Sesudah berada di atas perahu, segera A Cu dan A Pik mendayung dengan cepat meninggalkan Man-to-san-ceng.

Berkat petunjuk Giok-yan, maka dengan mudah dapatlah mereka keluar dari perairan yang membingungkan itu. Setiba di luar danau yang bebas, A Cu dan A Pik sendiri sudah dapat mengenali jalanan air di situ. Sementara itu hari sudah dekat magrib, cuaca sudah remang-remang.

“Nona, dari sini paling dekat kalau menuju ke pondok hamba, malam ini terpaksa mesti bikin susah nona menginap semalam di tempat hamba dan besok kita dapat berunding cara bagaimana harus pergi mencari Kongcu,” demikian kata A Cu.

“Baiklah,” sahut Giok-yan singkat.

Semakin jauh meninggalkan Man-to-san-ceng, gadis itu bertambah pendiam tampaknya.

Setelah perahu didayung sekian lama pula, cuaca sudah mulai gelap, hanya jauh di arah timur sana tampak sinar api yang berkelip-kelip. Maka berkatalah A Pik, “Tempat yang ada sinar api itulah Thing-hiang-cing-sik tempat tinggal Enci A Cu.”

Segera perahu didayung ke arah sinar pelita itu.

Tiba-tiba timbul pikiran Toan Ki, “Alangkah senangnya bila selama hidup ini dapat berada dalam perahu seperti sekarang ini dan selamanya takkan mencapai tempat sinar pelita itu!”

Dalam pada itu terdengar Giok-yan lagi menghela napas perlahan, lalu terdengar A Pik menghiburnya dengan suara halus, “Harap nona jangan khawatir. Selamanya Kongcu tidak pernah mengalami kesukaran apa-apa, sekali ini tentu juga akan pulang dengan selamat.”

“Kalau dia pergi ke tempat orang Kay-pang tentu aku tidak perlu khawatir,” kata Giok-yan. “Tapi Siau-lim-si itu tidak boleh dipandang remeh. Meski ke-72 macam ilmu Siau-lim-si telah dipahami semua olehnya, tetapi bila tiba-tiba ada orang menyerangnya dengan ilmu aneh yang jarang diketahui orang luar, kan berbahaya. Ai…”

Mendengar ucapan si nona yang penuh rasa khawatir dan bernada gegetun, seketika timbul rasa cemburu Toan Ki. Tiba-tiba terpikir olehnya, “Bilamana di dunia ini ada juga seorang gadis jelita seperti nona ini sedemikian mendalam cintanya padaku, entah betapa rasa bahagia hidupku ini? Pernah juga Wan-moay mencintaiku, sejak dia tahu aku ini kakak kandungnya, tentu perasaannya kepadaku sudah berubah sekarang. Dan selama ini entah dia berada di mana? Tentang nona Ciong? Nona cilik ini masih kekanak-kanakan dan hijau, kalau terkadang dia terkenang padaku, paling-paling juga cuma sepintas ingat saja untuk lain saat akan lupa lagi, tidak nanti ia merindukan kekasihnya setiap saat sebagaimana Ong-kohnio sekarang ini. Dan entah bagaimana nasib gadis cilik yang digondol lari In Tiong-ho itu? Ayah dan paman telah menjodohkan aku dengan putri Ko-pepek. Tapi muka nona Ko itu selamanya belum pernah kukenal, apakah dia cantik atau jelek, apakah tinggi atau pendek, bundar atau gepeng, sama sekali aku tidak tahu, dengan sendirinya aku tidak dapat mengenangkan dia dan dia tentu juga takkan merindukan aku.”

Sementara itu perahu mereka sudah makin mendekati tempat tujuan. Tiba-tiba A Cu membisiki A Pik, “Lihatlah A Pik, tampaknya agak kurang beres gelagatnya!”

“Ya, kenapa begitu banyak sinar pelitanya?” sahut A Pik sambil mengangguk. Tapi segera katanya pula dengan tertawa, “Ah, mungkin di rumahmu sedang diadakan perayaan Cap-go-meh, maka terang benderang begitu? Atau boleh jadi mereka sedang menantikan engkau untuk merayakan hari lahirmu?”

Namun A Cu diam saja sambil terus memerhatikan titik sinar api di kediamannya sana. Kini Toan Ki juga dapat melihat jelas bahwa pada suatu benua kecil sana terdapat beberapa bangunan rumah, di antaranya ada dua gedung bersusun dan dari jendela rumah itulah tampak banyak sinar pelitanya.

“Rumah tinggal A Cu ini namanya ‘Thing-hiang-cing-sik’, tentu sama indahnya seperti ‘Khim-im-siau-tiok’ tempat tinggal A Pik itu,” demikian pikir Toan Ki.

Kira-kira beberapa ratus meter sebelum tiba di rumah A Cu itu, mendadak A Cu tidak mendayung lagi, katanya, “Ong-kohnio, di rumahku kedatangan musuh!”

“Apa katamu? Kedatangan musuh? Dari mana kau tahu dan siapakah musuhmu?” tanya nona Ong terkejut.

“Musuh macam apa belum kuketahui,” sahut A Cu. “Namun cobalah engkau menciumnya, bau arak yang keras ini pastilah perbuatan kaum perusuh itu.”

Giok-yan coba mengendus beberapa kali sekeras-kerasnya, tapi tidak mencium sesuatu bau apa-apa. Begitu pula Toan Ki dan A Pik juga tidak mengendus sesuatu bau aneh.

Kiranya daya endus A Cu memang lain daripada orang lain tajamnya, dari tempat jauh ia dapat membedakan sesuatu bau yang aneh. Maka katanya, “Wah, celaka! Mereka telah mengubrak-abrik macam-macam sari bunga melati, mawar dan lain-lain yang kukumpulkan dengan susah payah itu, wah, ludeslah sudah…”

Begitulah ia mengeluh dan hampir-hampir menangis.

Toan Ki menjadi heran dari mana A Cu mengetahui hal itu? Maka ia coba tanya, “Dari mana kau tahu? Masa matamu begitu tajam hingga dapat melihat tempat jauh?”

“Bukan melihat, tapi aku dapat mengendusnya,” sahut A Cu. “Ai, dengan hati-hati aku membuat sari bunga itu, kini pasti telah habis diminum oleh orang-orang jahat itu sebagai arak.”

“Lantas bagaimana Enci A Cu?” tanya A Pik. “Kita tetap pergi ke sana melabrak mereka atau menyingkir saja?”

“Entah musuh lihai atau tidak…” sahut A Cu dengan ragu.

“Benar,” sela Toan Ki tiba-tiba, “kalau lihai, lebih baik kita menghindari saja. Bila cuma kaum keroco, ayolah kita tabrak mereka biar kapok.”

Memangnya A Cu lagi mendongkol, mendengar ucapan Toan Ki yang tidak berguna itu, segera ia mengomel, “Hm, hanya berani pada yang lemah, terhitung orang gagah macam apa? Dan dari mana kau tahu musuh lihai atau tidak?”

“Hal ini sangat mudah,” sahut Toan Ki. “Biarlah kupergi ke sana untuk menyelidiki lebih dulu dan kalian bertiga boleh menunggu saja di dalam perahu, jika gelagatnya jelek, cepatan kalian melarikan diri dan jangan urus diriku.”

Sungguh ucapan Toan Ki ini sama sekali di luar dugaan ketiga gadis itu. Mereka melihat tingkah laku pemuda ini sangat kaku, sedikit pun tiada tanda-tanda mahir ilmu silat. Akan tetapi nyatanya Peng-mama, penjaga gudang rabuk bunga yang ganas itu sekali tangannya kena dipegang olehnya terus tak bisa berkutik, bahkan tenaganya lantas hilang dalam waktu sekejap saja. Apakah sesungguhnya pemuda ini memiliki ilmu silat mahahebat dan sengaja berlagak bodoh saja?

Segera Giok-yan berkata, “Jika engkau pergi ke sana dan dipergoki musuh, lalu engkau dihajar atau dibunuh, lantas bagaimana?”

“Jika begitu, ya, apa boleh buat?” sahut Toan Ki sambil angkat pundak. “Tapi biasanya aku selalu dilindungi Yang Mahakuasa, kalau ada bahaya selalu berubah selamat.”

Di mulut ia berkata demikian, tapi dalam hati ia merasa biarpun mati bagi gadis jelita seperti dikau juga aku rela.

Mendadak Giok-yan angkat jari kiri terus menutuk Thay-yang-hiat di pelipis Toan Ki. Hiat-to itu adalah salah satu tempat mematikan di tubuh manusia, kalau kena tertutuk seketika akan terbinasa. Tak peduli betapa tinggi ilmu silat orangnya, tidak mungkin Hiat-to berbahaya itu dapat ditutup. Namun dalam kegelapan sama sekali Toan Ki tidak sadar bahwa jiwanya lagi terancam.

Melihat itu, A Pik bersuara kaget, sebaliknya A Cu diam saja, ia tahu sang Siocia sengaja lagi menjajal Toan Ki apakah benar-benar tidak mahir ilmu silat atau cuma berlagak pilon?

Ternyata ketika jari Giok-yan hampir menempel Thay-yang-hiat, tapi Toan Ki tetap tidak berasa, bahkan pemuda itu berkata, “Kalian bertiga nona muda belia, kalau mesti menghadapi musuh jahat, rasanya memang kurang baik.”

Maka perlahan Giok-yan tarik kembali jarinya dan bertanya, “Apa benar-benar engkau tidak pernah belajar silat?”

“Jika kepandaianku Thay-yang-yong-swat-kang ini tidak terhitung sebagai ilmu silat, maka aku benar-benar tidak pernah belajar,” sahut Toan Ki dengan tertawa.

“He, aku mendapat alat,” tiba-tiba A Cu berkata. “Marilah kita berganti pakaian dahulu, kita pergi menemui mereka dengan menyamar sebagai kaum nelayan.”

Segera ia menunjuk ke sebelah timur sana dan berkata pula, “Di situ terdapat beberapa keluarga kaum nelayan, semuanya kukenal, marilah kita ke sana dulu.”

“Bagus, akal bagus!” seru Toan Ki dengan tertawa.

Segera perahu mereka didayung ke sana. Rumah kaum nelayan itu berdekatan dengan Thing-hiang-cing-sik, maka A Cu cukup kenal para tetangga itu.

Lebih dulu A Cu, A Pik dan Giok-yan minta pinjam beberapa perangkat pakaian keluarga nelayan itu. Sesudah menyamar sebagai wanita tukang tangkap ikan, lalu datang giliran Toan Ki menyaru sebagai nelayan setengah umur.

Kepandaian menyamar A Cu ternyata sangat hebat dan persis sekali. Ia gunakan tepung dan tanah liat sebagai bahan pembantu untuk mengubah muka mereka. Ia sendiri menyaru sebagai nenek pula, Giok-yan dan A Pik menjadi wanita nelayan setengah umur. Hanya sekejap saja wajah mereka sudah berubah jauh daripada usia mereka yang sebenarnya.

Kemudian A Cu pinjam pula perahu nelayan, jala, pancing, dan ikan yang masih segar. Dengan perahu pinjaman itu mereka lantas menuju ke Thing-hiang-cing-sik.

Meski wajah mereka sekarang sudah sukar dikenali, tetapi suara Toan Ki, Giok-yan dan A Pik tetap tidak berubah, begitu pula tingkah laku mereka mudah diketahui. Maka berkatalah Giok-yan dengan tertawa, “A Cu, segala apa nanti terserahlah padamu, kami terpaksa menjadi orang gagu untuk sementara.”

“Memang begitulah harapanku, tanggung rahasia kita takkan diketahui musuh,” sahut A Cu dengan tertawa.

Perlahan perahu mereka meluncur sampai di depan rumah tinggal A Cu itu. Ternyata sekeliling rumah itu penuh pohon Yangliu, dari dalam rumah terus-menerus terdengar suara teriakan dan gelak tawa orang yang kasar dan kotor hingga sangat bertentangan dengan keindahan rumah dan pemandangan di sekitar rumah.

A Cu menghela napas dengan mendongkol. Segera A Pik membisikinya, “Jangan resah Enci A Cu, setelah mengenyahkan musuh akan kubantu membersihkan rumahmu.”

A Cu meremas-remas tangan A Pik dengan perlahan sebagai tanda terima kasih. Lalu ia membawa Toan Ki bertiga berputar ke arah dapur di belakang rumah. Di sana tampak koki Lau Koh yang gendut sedang sibuk hingga mandi keringat, anehnya koki itu terus-menerus meludahi santapan dalam wajan, lalu mencomot pula segenggam debu kotoran dan ditaburkan juga ke dalam wajan.

A Cu merasa heran dan dongkol, serunya segera, “Hei, Lau Koh, apa yang kau lakukan?”

Keruan Lau Koh berjingkrak kaget, sahutnya tergegap, “O, aku…aku…engkau…”

“Aku nona A Cu,” kata A Cu dengan tertawa.

“Hah, kiranya nona A Cu sudah pulang,” seru Lau Koh dengan girang. “Di depan banyak kedatangan orang jahat dan aku dipaksa menyediakan daharan, lihatlah!”

Habis berkata ia mengusap ingusnya dan dibuang ke dalam sayur, bahkan tambah diludahi sekali lagi, lalu tertawalah koki gendut itu dengan terkekeh-kekeh.

Melihat kelakuan si koki yang lucu itu, diam-diam A Cu dan A Pik juga geli menahan tawa.

Kiranya musuh yang bikin rusuh ke rumah A Cu itu telah memerintah dan memanggil Lau Koh ke sini dan ke sana hingga koki itu sibuk tak keruan, akhirnya disuruhnya pula cepat menyediakan perjamuan. Karena penasaran, terpaksa Lau Koh membalas dendam dengan menaruh kotoran di dalam masakan yang dibuatnya itu.

“Idiih, masakanmu begini kotor,” demikian kata A Cu dengan kening bekernyit.

“O, tidak, tidak! Masakan untuk nona, tentu sebelumnya kucuci tangan sebersih-bersihnya,” cepat Lau Koh menyahut. “Tapi masakan untuk orang jahat, sengaja kubikin sekotor-kotornya.”

“Kelak kalau kulihat sayur masakanmu, bila teringat perbuatanmu sekarang pasti aku akan merasa muak,” ujar A Cu.

“Tidak, pasti tidak sama! Santapan untuk nona, tanggung seratus persen bersih,” sahut Lau Koh agak gugup.

Harus diketahui bahwa meski A Cu adalah pelayan Buyung-kongcu, tapi di Thing-hiang-cing-sik ia adalah majikan dan mempunyai pelayan dan koki sendiri serta tukang kebun dan lain-lain.

Kemudian A Cu tanya, “Ada berapa orang musuh yang datang?”

“Pertama datang satu rombongan kira-kira belasan orang jumlahnya, kemudian datang lagi serombongan lebih 20 orang,” tutur Lau Koh.

“Jadi terdiri dari dua rombongan? Orang-orang macam apa saja? Bagaimana dandanan mereka? Dari logat bicara mereka kedengarannya orang dari daerah mana?” tanya A Cu.

“Tampaknya yang satu rombongan orang utara, kelakuan mereka mirip bandit, dan rombongan yang lain terang orang Sujoan, semuanya memakai jubah putih, tapi tidak diketahui asal usulnya,” tutur Lau Koh.

“Mereka ingin mencari siapa? Apakah sudah melukai kita?” tanya A Cu.

“Kedua gerombolan itu begitu datang lantas menanyakan di mana Kongcu berada, kami menjawab tidak tahu, tapi mereka tidak percaya terus menggeledah seluruh isi rumah hingga para pelayan sama ketakutan dan bersembunyi, hanya aku merasa penasaran melihat tingkah laku mereka yang tidak kenal aturan itu, maka telah kutegur mereka, mak…”

Sebenarnya Lau Koh hendak memaki dengan kata-kata kotor, tapi teringat olehnya sedang bicara dengan A Cu, maka kata-kata yang sudah setengah diucapkannya itu ditelannya kembali mentah-mentah.

A Cu dapat melihat mata kiri Lau Koh matang biru, pipi merah bengap, terang tadi habis dihajar oleh kawanan perusuh itu, pantas ia masih dendam, maka meludah dari mengingusi masakan yang akan disajikan kepada kawanan penyatron itu.

Setelah berpikir sejenak, segera A Cu membawa Giok-yan bertiga keluar dari pintu samping dapur dan menuju ke ruangan depan. Kira-kira beberapa meter sebelum sampai di samping ruangan tengah yang dituju, tiba-tiba terdengar suara ribut orang.

Giok-yan adalah gadis yang tidak pernah keluar rumah, sedang Toan Ki tinggal di daerah selatan yang jauh terpencil, maka mereka kurang pengalaman dan tidak mendengar sesuatu yang mencurigakan dari suara orang-orang itu.

Akan tetapi A Cu yang pandai menyamar dan pintar menirukan macam-macam suara dan nada orang itu, begitu mendengar suara ramai orang-orang itu segera merasa heran, sebab suara ribut itu kedengarannya sangat kasar, banyak kata-kata di antaranya sukar dimengerti, biarpun A Cu mahir berbagai bahasa daerah. Malahan logat orang Sujoan sama sekali tidak terdengar, padahal menurut cerita Lau Koh tadi, katanya salah satu rombongan orang itu terdiri dari orang Sujoan.

Dengan perlahan A Cu mendekati jendela panjang ruangan itu, ia robek sedikit kertas jendela dengan kukunya dan mengintip ke dalam. Ia lihat sinar lilin terang benderang, tapi hanya sebelah timur saja yang tersorot jelas dan kelihatan balasan laki-laki kasar dan kekar sedang makan-minum dengan senang dan bebas, mangkuk piring di atas meja tampak tumpang-siur tak keruan, di sekitar meja pun morat-marit, beberapa orang di antaranya tampak duduk di atas meja, sumpit yang tersedia juga tak diperlukan lagi, dengan tangan mereka menyambar paha ayam dan daging terus digerogoti dengan lahap. Bahkan ada di antaranya terus menggunakan golok mereka untuk memotong daging dan ikan serta menyunduk dengan ujung golok, lalu dicaplok begitu saja dengan lahapnya.

Sungguh A Cu sangat gemas melihat tempatnya yang rajin bersih itu dipakai pesta pora hingga morat-marit tak keruan macamnya. Ia lihat tingkah laku orang-orang itu sangat kasar, terang adalah orang dari daerah perbatasan yang kurang beradab.

Sesudah mengintip rombongan orang kasar itu, kemudian ia memandang pula ke arah lain, semula ia tidak menaruh perhatian, tapi sesudah dipandang pula, tanpa terasa ia bergidik sendiri.

Kiranya rombongan lebih 20 orang di sebelah lain semuanya mengenakan jubah putih dan duduk dengan rajin dan prihatin. Di atas meja mereka cuma tersulut sebatang lilin kecil hingga tempat yang dicapai cahaya lilin itu cuma satu-dua meter jauhnya, hanya beberapa orang di antaranya yang berdekatan dengan api lilin itu dapat terlihat jelas, wajah mereka tampak kurus kering, perawakan juga tinggi kurus, muka kaku tanpa perasaan hingga lebih mirip mayat hidup belaka.

Makin dipandang A Cu makin mengirik. Orang-orang itu tetap duduk saja tanpa bergerak dan tidak bersuara, kalau bukan beberapa orang di antaranya terkadang mengedip mata, mungkin mereka akan disangka sebagai mayat hidup sungguh-sungguh.

Melihat A Cu terpaku di tempatnya, segera A Pik mendekatinya, ketika ia memegang tangan kawan itu, ia merasa tangan A Cu sedingin es, bahkan rada gemetar. Ia menjadi heran, ia pun mencukit setitik lubang kertas jendela dan ikut mengintip ke dalam. Kebetulan sorot matanya kebentrok dengan seorang laki-laki yang berwajah kaku dan kurus, orang itu melototi A Pik sekali serupa setan iblis. Keruan A Pik terkejut dan menjerit tertahan.

Sedikit suara berisik itu lantas didengar oleh orang-orang di dalam ruangan, terdengarlah suara gedubrakan, daun jendela menjadi jebol dan berbareng empat orang melompat keluar. Persis yang dua orang adalah jago perbatasan dan dua orang yang lain adalah manusia aneh dari Sujoan.

“Siapa kalian?” bentak kedua laki-laki kekar itu segera.

“Kami nelayan di sekitar sini, kami dapat menangkap beberapa ekor ikan segar dan ingin dijual kepada tuan rumah di sini. Wah, ikan dan udang yang benar-benar masih sangat segar!” demikian sahut A Cu dengan bahasa daerah Sujoan sambil menunjukkan ikan dan udang besar yang sengaja dibawanya itu.

Sebenarnya laki-laki itu tidak paham bahasa yang diucapkan A Cu itu, tapi demi melihat dandanan A Cu sebagai wanita nelayan serta ikan dan udang yang dibawanya itu, dengan sendirinya mereka dapat menangkap maksud perkataannya. Segera salah seorang di antaranya merampas ikan yang dibawa A Cu sambil berseru, “Ah, kebetulan sekali. Hai, koki, mana koki! Ini, bawalah ke dapur untuk dimasak sebagai pengiring arak!”

Begitu pula laki-laki yang lain segera menerima ikan yang dipegang Toan Ki terus dibawa ke dapur.

Kedua tokoh aneh dari Sujoan yang kurus kering itu melihat A Cu berempat hanya kaum nelayan saja, mereka tidak urus lebih jauh dan hendak masuk kembali ke dalam.

Ketika kedua orang Sujoan itu berjalan lewat di samping A Pik, tiba-tiba A Pik mengendus semacam bau bacin seperti ikan busuk yang memualkan. Saking tak tahan, A Pik angkat sebelah tangan hendak mendekap hidung.

Karena itu sekilas salah seorang jago Sujoan itu dapat melihat lengan A Pik yang putih bersih laksana salju, ia menjadi curiga seketika. Pikirnya, “Masakah seorang wanita tukang tangkap ikan setengah umur bisa mempunyai lengan sedemikian putih dan halusnya?”

Langsung ia pegang lengan A Pik sambil membentak, “Aha, berapakah umurmu, hah?”

Keruan A Pik terkejut, tanpa pikir ia kipratkan tangannya sambil menjawab, “Apa yang hendak kau lakukan? Mengapa main pegang-pegang segala?”

Suara A Pik kedengaran nyaring dan lembut, tenaga kipratannya itu sangat cekatan pula hingga tangan Sujoan-koay-khek atau orang aneh dari Sujoan itu kesemutan, ia terentak hingga terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.

Karena kejadian ini, pecahlah guci wasiat A Cu, terbongkarlah rahasia penyaruannya. Begitu keempat orang di luar itu berteriak, lantas saja dari dalam membanjir keluar pula belasan orang hingga Toan Ki berempat dikepung rapat di tengah.

Segera seorang laki-laki kekar menarik sekuatnya jenggotnya Toan Ki, untuk menghindar terang Toan Ki tidak mampu, maka terlepaslah jenggot palsunya itu. Seorang lagi hendak memegang A Pik, tapi sekali mengegos sambil mendorong, kontan orang itu disengkelit roboh oleh si gadis. Menyusul seorang lain tiba-tiba membabat dengan pedangnya dari belakang, cepat A Pik mendakkan tubuh untuk menghindar, tapi ia lupa telah memakai rambut palsu hingga sanggulnya lebih tinggi beberapa senti daripada biasanya. “Sreet”, tahu-tahu rambut palsunya yang ubanan itu jatuh tersapu pedang hingga kelihatanlah rambut asli A Pik yang hitam mengilap.

Keruan suasana menjadi geger seketika, beramai-ramai kawanan penyatron itu berteriak-teriak, “Hai, mata-mata musuh, tangkap mereka!” – “Ya, malah sengaja menyamar hendak menipu kita!” – “Lekas tangkap mereka dan beri hajaran yang setimpal!”

Namun A Cu lantas balas membentak dengan gusar, “Tutup mulut kalian! Rumah siapa ini? Siapa yang menjadi mata-mata?”

Tapi orang-orang itu lantas menggiring A Cu berempat ke dalam ruangan dan memberi laporan kepada seorang tua yang berduduk di pojok timur sana, “Yau-cecu, kita telah dapat menangkap mata-mata yang menyamar sebagai nelayan!”

Di tengah kepungan orang sebanyak itu, Giok-yan, A Cu, dan A Pik menjadi ragu-ragu. Meski mereka bertiga mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi, tapi mereka kurang pengalaman dan masih muda, mereka menjadi bingung apakah mesti melabrak perusuh-perusuh ini atau menunggu sampai nanti bila keadaan sudah terpaksa. Lebih-lebih Toan Ki, ia tidak mahir ilmu silat, sama sekali ia tidak tahu siapa di antara perusuh-perusuh itu paling kuat dan siapa lebih lemah. Karena itu mereka berempat hanya saling pandang saja dengan bingung, terpaksa mereka berdiri di depan orang tua itu untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan olehnya.

Perawakan orang itu sangat kekar dan tegap, jenggotnya yang putih itu memanjang sampai di dada, sebelah tangannya sedang memainkan tiga butir bola besi hingga menerbitkan suara gemerantang yang nyaring.

Terdengarlah ia bersuara, “Mata-mata musuh dari manakah kalian ini? Kalian menyamar dengan tingkah laku yang mencurigakan, kalian pasti bukan manusia baik-baik.”

“Menyamar sebagai nenek tidak menarik, aku tidak mau lagi A Cu,” tiba-tiba Giok-yan berkata sambil membuang rambut palsunya serta mengucap muka sendiri hingga rontok semua tepung dan tamah yang lengket di mukanya itu.

Ketika mendadak seorang nenek berubah menjadi seorang gadis cantik tak terhingga, seketika laki-laki yang berada di situ terlongong-longong kesima, untuk sesaat di tengah ruangan itu menjadi sunyi senyap. Bahkan jago-jago Sujoan mengarahkan sinar mata mereka kepada Giok-yan.

“Kalian pun buang saja penyamaranmu,” kata Giok-yan kepada A Cu dan lain-lain. Lalu dengan tertawa katanya pula kepada A Pik, “Gara-garamu hingga rahasia kita terbongkar.”

Meski sekelilingnya dikepung rapat oleh laki-laki buas sebanyak itu, namun Giok-yan tetap bicara dengan sewajarnya saja seperti pandang sebelah mata kepada kawanan perusuh itu.

Segera Toan Ki, A Cu dan A Pik menurut dan membersihkan samaran mereka. Untuk sejenak semua laki-laki yang berada di situ sama ternganga, mereka pandang Giok-yan, lalu memandang pula A Cu dan A Pik, sungguh tak terpikir oleh mereka bahwa di dunia ini ada nona-nona cantik bagaikan bidadari seperti ini?

Selang agak lama orang tua yang tegap kekar itu baru membuka suara lagi, “Siapakah kalian? Untuk apa kalian datang ke sini?”

“Haha, sungguh lucu!” sahut A Cu dengan tertawa. “Aku inilah pemilik Thing-hiang-cing-sik, bukannya aku menegur kalian, sebaliknya kalian malah tanya padaku. Bukankah sangat janggal? Nah, siapakah kalian, untuk apa kalian datang ke sini?”

“O, jadi kau tuan rumah di sini, itulah bagus sekali,” kata orang tua itu. “Apakah engkau ini Buyung-siocia? Tentunya Buyung Bok itu ayahmu, bukan?”

“Aku cuma seorang budak rendahan, masakah punya rezeki sebesar itu untuk menjadi putri Loya?” sahut A Cu dengan tersenyum. “Siapakah tuan? Ada keperluan apa datang ke sini?”

Mendengar A Cu mengaku sebagai seorang budak saja, kakek itu separuh tidak percaya, ia pikir sejenak, kemudian baru berkata, “Jika demikian, silakan panggil keluar majikanmu, nanti akan kuberi tahukan maksud kedatanganku.”

“Majikanku sedang bepergian,” sahut A Cu. “Tuan ada keperluan apa, katakan padaku juga sama saja. Siapakah nama tuan yang terhormat, apakah tidak dapat memberi tahu?”

“Ehm, aku Yau-cecu dari Cin-keh-ce di Hunciu, namaku Yau Pek-tong adanya,” sahut si kakek.

“O, kiranya Yau-loyacu, kagum, sudah lama kagum!” ujar A Cu.

“Haha, seorang nona cilik seperti dirimu bisa tahu apa?” kata Yau Pek-tong dengan tertawa.

Di luar dugaan Ong Giok-yan lantas menyambung, “Cin-keh-ce di Hunciu terkenal karena ‘Ngo-hou-toan-bun-to’. Dahulu Yau Kong-bang menciptakan 64 jurus Toan-bun-to itu, namun keturunannya telah melupakan lima jurus di antaranya dan kabarnya tinggal 59 jurus saja yang masih turun-temurun diajarkan anak muridnya. Yau-cecu, engkau sendiri sudah mahir sampai jurus keberapa?”

Sungguh kejut Yau Pek-tong tak terkatakan, tanpa terasa tercetus jawabannya, “Ngo-hou-toan-bun-to dari Cin-keh-ce kami memang aslinya ada 64 jurus, dari mana engkau dapat tahu!”

“Begitulah apa yang tertulis dalam buku, tentunya tidak salah bukan?” sahut Giok-yan dengan tawar. “Dan kelima jurus yang kurang itu masing-masing adalah Pek-hou-tiau-kang (harimau putih melompat parit), ‘It-siu-hong-sing’ (sekali bersuit keluarlah angin), ‘Cian-bok-cu-ju’ (memotong dan menubruk dengan bebas), ‘Hiong-pa-kun-san’ (merajai di antara gunung-gunung) dan jurus terakhir adalah ‘Hong-siang-seng-say’ (taklukkan gajah dan kalahkan singa), betul tidak?”

Yau Pek-tong mengelus jenggotnya dengan heran. Tentang kekurangan lima jurus paling bagus dari ilmu golok perguruan sendiri itu diketahuinya memang sejak dulu tidak diajarkan lagi, dan tentang kelima jurus apa yang hilang itu pun tiada seorang yang tahu. Tapi kini nona ini dapat menguraikan secara lancar dan tepat, keruan Yau Pek-tong terkejut dan curiga, pertanyaan Giok-yan itu pun tak bisa dijawabnya.

Segera seorang laki-laki setengah umur di antara rombongan jago-jago Sujoan yang aneh itu berkata dengan suara yang banci, “Ngo-hou-toan-bun-to dari Cin-keh-ce sangat disegani di daerah Hosiok, baik lebih lima jurus ataupun kurang lima jurus juga tidak menjadi soal. Numpang tanya ada hubungan apakah nona ini dengan Buyung Hok Buyung-siansing?”

“Buyung-loyacu adalah aku punya Kuku, dan siapa nama tuan yang terhormat?” sahut Giok-yan.

“Nona berasal dari keluarga terpelajar, sekali melihat lantas dapat mengatakan asal usul ilmu silat Yau-cecu,” kata laki-laki itu dengan dingin. “Maka tentang asal-usul kami, ingin kuminta nona juga coba-coba menerkanya.”

“Untuk itu coba mengunjuk sejurus-dua lebih dulu,” sahut Giok-yan. “Kalau cuma berdasarkan beberapa patah kata saja aku tidak sanggup menerkanya.”

“Benar,” ujar laki-laki itu sambil mengangguk. Habis itu ia lantas masukkan tangan kanan ke dalam lengan baju kiri dan tangan kiri menyusup ke dalam lengan baju kanan hingga mirip orang yang kedinginan. Tapi ketika kemudian kedua tangan dilolos keluar, tahu-tahu setiap tangan sudah bertambah dengan semacam senjata yang aneh bentuknya.

Senjata yang dipegang tangan kiri adalah sebatang Thi-cui (gurdi) sepanjang belasan senti, bagian ujungnya yang runcing itu melengkung-lengkung seperti keris. Sedangkan tangan kanan memegang senjata sebatang palu kecil, palu itu berbentuk astakona atau segi delapan, panjangnya kurang lebih 30 senti. Senjata-senjata yang kecil mungil itu lebih mirip mainan kanak-kanak, tampaknya kurang berguna dipakai sebagai alat bertempur.

Karena itu segera beberapa laki-laki kekar dari rombongan sebelah timur sana lantas bergelak tertawa. Kata mereka di antaranya, “Hahaha, mainan anak kecil juga dikeluarkan di sini!”

Tapi Giok-yan lantas berkata, “Ehm, senjatamu ini adalah ‘Lui-kong-hong’ (beledek menyambar), agaknya tuan ini mahir menggunakan Am-gi dan Ginkang. Menurut catatan di dalam buku, ‘Lui-kong-hong’ adalah senjata tunggal dari Jing-sia-pay dari Sujoan. ‘Jing’ meliputi 18 macam senjata dan ‘Sia’ mencakup 36 tipu serangan. Caranya sangat aneh dan hebat. Besar kemungkinan tuan she Suma, bukan?”

Wajah laki-laki itu sebenarnya selalu membeku tanpa perasaan, tapi demi mendengar uraian Giok-yan itu, seketika wajahnya berubah, ia saling pandang dengan kedua pembantu di kanan-kirinya. Selang sejenak baru ia berkata pula, “Betapa luas pengetahuan ilmu silat dari Buyung-si di Koh-soh, nyata memang bukan omong kosong belaka. Cayhe memang she Suma dan bernama Lim. Numpang tanya sekalian pada nona, apa benar-benar istilah ‘Jing’ meliputi 18 macam senjata dan ‘Sia’ mencakup 36 tipu serangan?”

“Pertanyaanmu ini sangat kebetulan,” sahut Giok-yan. “Aku justru merasa ‘Jing’ itu meliputi 19 jenis senjata, sebab di antaranya Po-te-ci (biji tasbih) dan Thi-lian-ci (biji teratai) tidak dapat dipersamakan, bentuknya memang hampir mirip, tapi cara menggunakannya berbeda. Sedang mengenai ‘Sia’ yang mencakup 36 tipu serangan itu, kukira tiga serangan ‘Boh-kah’ (memecahkan perisai), ‘Boh-tun’ (memecahkan tameng), dan ‘Boh-pay’ (memecahkan utar-utar) satu-sama-lain tidak banyak bedanya, maka lebih baik dihapuskan, hingga tinggal 33 jurus saja, supaya lebih sempurna.”

Suma Lim terlongong-longong mendengarkan cerita Ong Giok-yan itu. Padahal dalam ilmu silat perguruannya itu, sebagian belum pernah lengkap dipelajarinya, dan bagian lain justru sangat diandalkan olehnya. Tapi kini gadis semuda ini berani memberi komentar tentang ilmu silat perguruannya itu, keruan ia menjadi gusar dan menyangka orang keluarga Buyung sengaja hendak menghina padanya.

Namun watak Suma Lim sangat sabar, ia dapat menahan perasaannya, maka katanya, “Banyak terima kasih atas petunjuk nona, sungguh aku seperti orang bodoh yang menjadi pintar sekarang.”

Dan sesudah berpikir sejenak, timbul suatu akalnya, segera ia berkata kepada pembantu di sisi kiri, “Cu-sute, boleh coba kau minta sedikit pengajaran kepada nona ini.”

Sutenya yang she Cu itu adalah seorang laki-laki setengah umur bermuka jelek karena seantero mukanya burik, kecuali jubahnya yang putih mulus itu, kepalanya juga memakai ubel-ubel putih hingga mirip orang sedang berkabung. Di bawah sinar lilin yang remang-remang itu tampaknya menjadi tambah seram.

Kiranya nama lengkap laki-laki ini Cu Po-kun, sebelum masuk perguruan Jing-sia-pay ia sudah pernah belajar silat. Usianya sebenarnya balasan tahun lebih tua daripada Suma Lim, tapi karena masuk perguruan lebih belakang, maka urut-urutannya menjadi lebih muda daripada Suheng yang kini menjabat ketua perguruan itu.

Tentang asal usul ilmu silat yang dipelajari Cu Po-kun sebelum masuk Jing-sia-pay, karena selama ini dia bungkam saja dan tidak pernah dipamerkan, maka Suma Lim sendiri pun tidak jelas, beberapa kali ia pernah tanya, tapi Cu Po-kun selalu menjawab dengan samar-samar. Yang terang bagi Sama Lim adalah ilmu silat Cu Po-kun itu sangat tinggi dan pasti tidak di bawah dirinya.

Sekarang ia sengaja suruh Cu Po-kun bergebrak dengan Ong Giok-yan, taktiknya memang sangat bagus. Pertama, kalau si nona dapat membongkar rahasia Cu Po-kun, itu berarti akan terjawablah teka-teki sang Sute yang belum terpecahkan selama ini.

Maka Cu Po-kun lantas berdiri, ia pun memberi hormat sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan baju, ketika tangan terlolos keluar, tahu-tahu sudah memegang sepasang senjata gurdi dan palu atau Lui-kong-hong serupa apa yang dikeluarkan Suma Lim tadi.

“Silakan nona memberi petunjuk,” demikian katanya segera.

Semua orang menjadi heran, kalau dengan mudah senjata Suma Lim dapat ditebak dengan jitu oleh si nona, kini senjata Cu Po-kun juga serupa dengan Suma Lim, masakah suruh orang menebak lagi?

Maka Giok-yan lantas berkata, “Jika tuan juga memakai senjata ‘Lui-kong-hong’, dengan sendirinya juga berasal dari Jing-sia-pay.”

Namun Suma Lim lantas memberi penjelasan, “Cu-sute sebelum masuk perguruan kami sudah belajar ilmu silat aliran lain. Dan dari aliran manakah asal usulnya itulah kami ingin menguji ketajaman pandangan nona.”

Ini benar-benar persoalan sulit pikir Giok-yan. Dan belum lagi ia membuka suara, tiba-tiba Yau Pek-tong mendahului buka suara, “Suma-ciangbun, apa artinya caramu minta si nona mengenali Kungfu asli Sutemu itu? Bukankah hal ini terlalu janggal?”

“Terlalu janggal bagaimana?” tanya Suma Lim dengan tercengang.

“Habis, muka Sutemu penuh lubang-lubang, ukirannya sangat bagus dan rata, muka aslinya dengan sendirinya sukar diterka,” kata Yau Pek-tong dengan tertawa.

Mendengar Cecu mereka mengolok-olok muka Cu Po-kun yang bopeng itu, seketika bergelak tawalah orang-orang dari Cin-keh-ce hingga riuh rendah.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara mendenging, secepat kilat sebuah senjata rahasia kecil lembut menyambar ke arah dada Yau Pek-tong.

Kiranya watak Cu Po-kun itu sangat keji dan culas, biasanya paling benci kalau ada orang menertawakan mukanya yang burik itu. Apalagi kini Yau Pek-tong mengolok-oloknya di muka wanita cantik, keruan bencinya sampai tujuh turunan, tanpa pikir lagi segera ia arahkan gurdinya ke dada Yau Pek-tong, sekali jarinya memijat ujung gurdi, terus saja sebatang Am-gi atau senjata gelap menyambar ke depan.

Meski Yau Pek-tong juga sudah menduga bahwa olok-oloknya itu pasti akan menimbulkan serangan lawan, tapi tak tersangka olehnya serangan Cu Po-kun bisa begitu cepat datangnya. Dalam gugupnya ia tidak sempat mencabut golok buat menangkis, terpaksa tangan kirinya menyambar tatakan lilin di atas meja untuk menyampuk Am-gi itu.

“Creng”, Am-gi itu mencelat ke atas dan menancap di belandar, kiranya Am-gi itu adalah sebatang jarum yang panjangnya cuma beberapa senti saja. Dan ternyata jarum sekecil itu membawa tenaga yang sangat besar, tangan Yau Pek-tong sampai pegal dan kesemutan hingga tatakan lilin itu terbentur jatuh ke lantai dan menerbitkan suara gemerantang nyaring.

Seketika gempar gerombolan Cin-keh-ce itu. Mereka berkaok-kaok dan mencaci-maki kalang kabut dari yang halus sampai yang paling kasar. Tapi kawanan orang Jing-sia-pay tetap bersikap dingin dan bungkam saja terhadap teriakan dan makian pihak Cin-keh-ce dianggap seperti tidak mendengar dari tidak melihat saja.

Sungguh tak terduga oleh Yau Pek-tong bahwa tatakan lilin seantap itu dapat terlepas dari cekalannya hanya terbentur oleh sebatang jarum selembut itu. Kalau menurut peraturan Bu-lim itu berarti dirinya telah kalah satu jurus lebih dulu. Pikirnya dalam hati, “Ilmu silat lawan tampaknya agak aneh, seumpama mesti bertempur dengan mereka juga harus berhadapan secara terang-terangan. Tapi menurut uraian nona cilik itu tadi katanya Jing-sia-pay mempunyai 18 macam jenis serangan, mungkin maksudnya 18 jenis Am-gi, untuk ini aku harus berlaku hati-hati supaya tidak kecundang lagi.”

Segera ia hentikan teriakan begundalnya, lalu katanya dengan tertawa, “Kepandaian saudara Cu barusan sungguh sangat bagus dan teramat keji pula! Apa namanya kepandaianmu ini?”

Tapi Cu Po-kun cuma tertawa dingin saja tanpa menjawab. Sebaliknya orang-orang Cin-keh-ce lantas berteriak-teriak lagi. Satu di antaranya berbadan segendut babi menggembor, “Namanya tidak punya muka!”

“Hahaha! Sungguh tepat, sungguh jitu! Memang orangnya tidak punya muka, nama ini benar-benar sesuai sekali!” demikian seorang lagi yang bermuka mirip monyet menanggapi.

Teranglah ucapan orang Cin-keh-ce itu sengaja digunakan untuk menyindir muka Cu Po-kun yang burik bagai sarang tawon itu.

Giok-yan menggeleng kepala, katanya kemudian dengan suara lembut, “Yau-cecu, ini terang engkau yang salah!”

“Salah apa?” tanya Pek-tong melengak.

“Setiap manusia jarang yang tidak punya cacat badan, baik besar maupun kecil cacat itu,” sahut Giok-yan. “Umpama waktu kecil terjatuh mungkin akan mengakibatkan kakinya patah dan menjadi pincang. Dalam pertempuran, siapa berapi menjamin takkan kehilangan sebelah kaki atau sebelah matanya. Maka kalau di antara kawan Bu-lim ada yang badan terdapat sesuatu cacat sebenarnya adalah soal jamak bukan?”

Terpaksa Yau Pek-tong membenarkan.

“Dan tentang Cu-ya ini, karena waktu kecilnya menderita sesuatu penyakit sehingga mengakibatkan mukanya cacat, apanya yang perlu ditertawakan?” kata Giok-yan lebih lanjut. “Seorang laki-laki sejati yang harus diutamakan pertama adalah kepribadiannya, jiwa yang bersih. Kedua adalah perbuatannya, amal bakti bagi sesamanya, dan ketiga mengenai ilmu silatnya atau ilmu sastranya. Orang laki-laki tidak bersolek seperti wanita, tentang bagus atau tidak mukanya, apa alangannya?”

Uraian Giok-yan yang terus terang dan wajar ini membikin Yau Pek-tong tak bisa menjawab. Akhirnya ia terbahak-bahak dan berkata, “Hahaha, ada benarnya juga kata-kata nona cilik ini. Haha, jika demikian, jadi aku yang salah menertawakan Cu-heng!”

Giok-yan tersenyum, katanya, “Loyacu berani mengaku salah secara terus terang, suara tanda jiwa kesatria Loyacu pantas dipuji.”

Sampai di sini, tiba-tiba ia berpaling kepada Cu Po-kun dan berkata dengan menggeleng kepala, “Tidak, cukup, percumalah itu!”

Nada ucapannya sangat ramah dan penuh simpati mirip seorang kakak sedang memberi nasihat kepada adiknya.

Sudah tentu ucapan terakhir si nona bukan saja membingungkan orang lain, bahkan Cu Po-kun juga melongo tidak paham apa maksud perkataan Giok-yan itu.

Tadi ia merasa sangat senang dan berterima kasih kepada si nona oleh karena selama hidupnya yang paling disesalkan adalah mukanya yang burik itu, kini gadis itu membela orang yang cacat dan katanya yang penting bagi seorang pria adalah jiwa pribadi dan tingkah lakunya.

Tapi sekarang didengarnya pula gadis itu berkata “tidak cukup dan percumalah”, entah apa yang dimaksudkannya? Apa mungkin maksudnya aku punya ‘Thian-ong-po-sim-ciam’ belum sempurna dan percuma kalau digunakan? Demikian pikir Cu Po-kun.

Padahal ia yakin ‘Thian-ong-po-sim-ciam’ atau Jarum Raja Langit yang jumlah seluruhnya ada 12 batang itu kalau sekali dibidikkan pasti jiwa si tua bangka Yau Pek-tong sudah melayang sejak tadi. Ia pikir setiap saat aku toh dapat menghabiskan nyawanya, sementara ini biarlah aku tidak gubris padanya, supaya tidak sampai rahasiaku terbongkar di hadapan Suheng Suma Lim.

Karena pikiran itu, ia pura-pura bodoh dan tanya Giok-yan, “Apa artinya yang nona katakan itu?”

“Kumaksudkan kau punya ‘Thian-ong-po-sim-ciam’ benar-benar semacam Am-gi yang sangat ganas, tetapi…”

Belum selesai Giok-yan bicara, serentak Suma Lim dan ketiga tokoh Jing-sia-pay yang lain berseru kaget, “Hah, apa? Thian-ong-po-sim-ciam?”

Cu Po-kun sendiri juga tergetar dan air muka berubah tapi cepat ia tenangkan diri dan menjawab, “Salah pandangan nona ini, bukan Thian-ong-po-sim-ciam, tapi Am-gi andalan Jing-sia-pay kami yang disebut ‘Jing-hong-ciam’ (jarum tawon hijau).”

“Bentuk Jing-hong-ciam memang demikian adanya,” sahut Giok-yan dengan tertawa. “Caramu membidik Thian-ong-po-sim-ciam juga serupa dengan cara menggunakan Jing-hong-ciam. Tapi dasar dari Am-gi masing-masing terletak pada tenaga yang digunakannya dan daya menyambarnya. Seperti melempar pisau Siau-lim-pay mempunyai tenaga lemparan Siau-lim-pay sendiri, Hoa-san-pay juga mempunyai gaya sendiri yang tidak sama. Tentang caramu…”

“Nona cilik tahu apa? Hendaknya jangan banyak omong hingga mencari kematian sendiri, tiba-tiba Cu Po-kun menyela dengan bengis. Sekilas sinar matanya penuh nafsu membunuh, gurdi baja terangkat di depan dada, asal palu mengetok sekali pada ujung gurdi, seketika jarum bajanya akan menyambar ke arah Giok-yan.

Namun demikian, biarpun ia sangat keji, demi melihat si gadis yang cantik molek, pula tadi orang telah membela cacat mukanya, seketika ia tidak tega turun tangan jahat untuk membunuh Giok-yan.

Namun Giok-yan menghadapinya dengan tersenyum saja, katanya, “Engkau tidak tega membunuhku, terima kasih atas kebaikanmu. Tapi andaikan kau berani turun tangan, rasanya juga percuma. Jing-sia-pay dan Hong-lay-pay bermusuhan turun-temurun, usahamu sekarang sudah pernah dicoba oleh Ciangbunjin angkatan ketujuh golongan kalian, yaitu Hay-hong-cu Totiang. Kepintarannya dan ilmu silatnya kurasa tidak berada di bawahmu.”

Toan Ki, A Cu, A Pik, Yau Pek-tong, Suma Lim dari lain-lain menyaksikan gurdi Cu Po-kun sudah diarahkan pada Giok-yan, akan tetapi tampaknya agak takut-takut. Padahal tadi waktu ia menyerang Yau Pek-tong, betapa cepat dan kuat sambaran senjata rahasianya sungguh jarang ada bandingannya, terang di dalam gurdi itu terpasang pegas yang daya jepretnya sangat keras. Untung Yau Pek-tong cukup gesit hingga terhindar dari maut. Tapi kini kalau Cu Po-kun juga membidikkan Am-gi seperti tadi, apakah gadis jelita seperti Giok-yan ini sanggup menghindar?

Namun menghadapi ancaman elmaut Giok-yan ternyata anggap sepi saja, bahkan seenaknya ia menceritakan pula rahasia besar Bu-lim tentang permusuhan Jing-sia-pay dan Hong-lay-pay, keruan seketika tokoh-tokoh Jing-sia-pay menjadi curiga dan sama melototi Cu Po-kun, pikir mereka, “Jangan-jangan Cu-sute ini orang Hong-lay-pay yang menjadi musuh bebuyutan kita dan sengaja menyusup ke dalam Jing-sia-pay kita? Akan tetapi mengapa logat suaranya orang Sujoan dan tiada tanda logat orang Soatang?”

Kiranya Hong-lay-pay itu berada di daerah Soatang-poan-to (semenanjung Santung), dan sudah ratusan tahun lamanya bermusuhan dengan Jing-sia-pay di Sujoan, awal mula permusuhan itu adalah karena berdebat tentang ilmu silat hingga akhirnya jadi bunuh-membunuh. Tapi karena ilmu silat kedua pihak sama kuatnya, masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri, maka kedua pihak sama-sama belum terkalahkan, sebaliknya telah banyak memakan korban.

Hay-hong-cu yang disebut Giok-yan tadi adalah seorang tokoh kenamaan Hong-lay-pay, ia merasa ilmu silat kedua pihak sama kuatnya, untuk mengalahkan lawan terang tidak mungkin. Jalan satu-satunya adalah mempelajari juga ilmu silat pihak lawan, dengan demikian lawan dapat dikalahkan.

Karena itulah ia kirim salah seorang murid pilihannya untuk menyelundup ke dalam Jing-sia-pay. Akan tetapi sebelum murid itu cukup sempurna mempelajari ilmu silat Jing-sia-pay, ia keburu diketahui dan dihukum mati oleh ketua Jing-sia-pay.

Karena kejadian itu, permusuhan kedua pihak semakin mendalam dan kewaspadaan masing-masing pihak pun tambah tinggi, khawatir kalau pihak lawan menyelundupkan mata-mata ke dalam perguruan sendiri.

Maka selama berpuluh tahun ini Jing-sia-pay menetapkan peraturan tidak mau menerima orang dari daerah utara sebagai murid, bahkan sampai akhirnya penerimaan anak murid hanya terbatas pada orang Sujoan sendiri saja.

“Jing-hong-ciam” yang dikatakan itu adalah Am-gi khas golongan Jing-sia-pay, sebaliknya “Thian-ong-po-sim-ciam” yang disebut Giok-yan itu adalah senjata andalan Hong-lay-pay.

Sebagai murid Jing-sia-pay, senjata yang dibidikkan Cu Po-kun itu dengan sendirinya adalah Jing-hong-ciam, tapi Giok-yan justru bilang itu adalah Thian-ong-po-sim-ciam, keruan hal itu membikin jago-jago Jing-sia-pay terkejut dan curiga. Sebab sama halnya dengan Jing-sia-pay, dalam Hong-lay-pay juga ada peraturan yang melarang menerima anak murid dari daerah lain, kecuali orang Soatang sendiri. Sedang Cu Po-kun adalah keturunan keluarga Cu yang terkenal di kabupaten Khekoan di Sujoan Barat, mana bisa dia menjadi murid Hong-lay-pay?

Maksud Suma Lim menyuruh Cu Po-kun maju menghadapi Giok-yan juga cuma timbul dari rasa ingin tahu asal usul Cu-sute itu dan bukan timbul dari niat jahat. Maka ia benar-benar tidak mengerti mengapa senjata rahasia Cu-sute itu adalah senjata andalan Hong-lay-pay yang merupakan musuh besar itu?

Kalau ada orang yang paling kaget, maka orang itu adalah Cu Po-kun sendiri, yaitu karena rahasia pribadinya kena dibongkar oleh Giok-yan.

Kirinya guru Cu Po-kun yang pertama bernama To-leng-cu, seorang tokoh terkemuka dari Hong-lay-pay. Pada waktu mudanya To-leng-cu pernah juga dihajar orang Jing-sia-pay, maka dengan mati-matian ia mencari jalan untuk membalas dendam. Akhirnya ia mendapat satu akal.

Ia suruh seorang kawannya menyaru sebagai begal besar dan menggerayangi keluarga Cu di Khekoan, tuan rumahnya diringkus serta akan memerkosa anak istrinya. Sementara itu To-leng-cu sudah menunggu di luar rumah, pada saat yang paling genting itulah baru ia muncul dan pura-pura menolong keluarga Cu serta mengenyahkan penjahat itu.

Sudah tentu tuan rumah sangat berterima kasih dan menganggapnya sebagai dewa penolong. To-leng-cu sengaja berlagak sebagai imam bisu, ia memberi isyarat bahwa bukan mustahil kawanan begal itu akan datang kembali, keruan tuan rumahnya ketakutan setengah mati dan minta tolong supaya To-leng-cu suka tinggal sementara waktu di rumah keluarga Cu.

Padahal sebelumnya To-leng-cu sudah menyelidiki dan mendapat tahu putra keluarga Cu, yaitu Cu Po-kun mempunyai bangun tubuh dan bakat yang bagus, semula ia pura-pura keberatan, tapi kemudian setelah dimohon pula akhirnya ia terima undangan tuan rumah dan tinggal di situ.

Maju setindak, pada suatu kesempatan lain ia lantas memancing agar Cu Po-kun mengangkatnya sebagai guru. Dan nyata, Cu Po-kun memang sangat pintar, bakatnya sangat menonjol, belajarnya juga giat maka kemajuannya sangat pesat. Tiada seberapa tahun, jadilah Cu Po-kun seorang tokoh pilihan Hong-lay-pay.

To-leng-cu itu kecuali bermaksud membalas dendam kepada Jing-sia-pay, sebenarnya tiada niat jahat lain. Ia pun sangat sabar dan telaten, sedari mulai sampai akhir ia tetap pura-pura bisu dan tidak pernah bicara sepatah kata pun.

Pada waktu memberi pelajaran pada Cu Po-kun juga dilakukan dengan isyarat-isyarat tangan dan bila perlu dengan tulisan, sebab itulah meski ia tinggal bersama Cu Po-kun selama sepuluh tahun, si murid tetap tidak pernah mendengar sepatah kata sang guru yang berlogat Soatang.

Ketika Cu Po-kun sudah tamat belajar, To-leng-cu lantas menuliskan sebab musabab tentang dirinya memondok di rumah keluarga Cu serta minta keputusan si murid. Sudah tentu mengenai muslihat kawannya disuruh menyamar sebagai begal dan dirinya pura-pura menolong itu sama sekali tidak disinggungnya.

Oleh karena selama sepuluh tahun itu To-leng-cu sangat berbudi padanya, boleh dikatakan segenap ilmu silat Hong-lay-pay telah diturunkan padanya, karena terima kasihnya, setelah mengetahui maksud tujuan sang guru, segera Cu Po-kun terima tugas dengan baik dan masuk Jing-sia-pay sebagai murid Suma Wi.

Suma Wi adalah ayah Suma Lim yang menjadi ketua Jing-sia-pay sekarang. Tatkala itu usia Cu Po-kun sudah tidak muda lagi, sebenarnya Suma Wi tidak mau menerimanya. Tapi keluarga Cu adalah hartawan berpengaruh di Sujoan Barat, betapa pun Jing-sia-pay juga ingin menambah nama baik dengan dukungan golongan berpengaruh, maka akhirnya ia pun menerimanya.

Di dalam memberi pelajaran, Suma Wi dapat mengetahui juga bahwa Cu Po-kun sudah menguasai dasar ilmu silat yang lumayan, beberapa kali ia coba tanya, tapi Po-kun memberi jawaban bahwa kepandaiannya itu diperoleh dari guru silat pasaran yang diundang ke rumah oleh orang tua. Suma Wi pikir hartawan besar seperti keluarga Cu memang bukan mustahil ada beberapa penjaga rumah yang berilmu silat, maka ia pun tidak tanya lebih jauh.

Cu Po-kun sendiri sebelum masuk Jing-sia-pay lebih dulu sudah diberi petunjuk oleh To-leng-cu tentang ilmu silat Jing-sia-pay mana yang harus diperhatikan dan diselami secara mendalam. Apalagi setiap tahun baru atau hari raya ia suka memberi sumbangan-sumbangan kepada sang guru dan para saudara seperguruan, bila Suhu ada kesukaran apa-apa, berkat keluarganya yang berharta dan berpengaruh, segala apa dapat dibereskannya dengan baik olehnya.

Karena itulah Suma Wi merasa tidak enak sendiri, dalam hal pelajaran ia berikan apa semestinya, maka apa yang dipahami Cu Po-kun boleh dikatakan tiada berbeda daripada Suma Lim yang merupakan putra tunggal Suma Wi itu.

Sebenarnya tiga-empat tahun yang lalu To-leng-cu telah minta pada Po-kun agar pura-pura ingin berkelana untuk menambah pengalaman, lalu datang ke Hong-lay-pay untuk mempertunjukkan ilmu silat Jing-sia-pay yang telah dipelajarinya itu. Dengan begitu supaya Hong-lay-pay bisa menyelami kepandaian musuh untuk kemudian dapat membasminya habis-habisan.

Namun sejak Cu Po-kun menjadi murid Jing-sia-pay, ia merasa Suma Wi memandangnya tidak berbeda serupa putra sendiri, kalau dia disuruh membasmi Jing-sia-pay dengan tangan sendiri dan membunuh keluarga Suma, betapa pun ia tidak tega.

Maka diam-diam ia ambil keputusan kalau nanti Suma Wi sudah wafat barulah ia tega melaksanakan niat To-leng-cu itu. Mengenai Suma Lim karena Suheng ini lumrah saja terhadapnya dan tiada sesuatu yang luar biasa, kalau membunuhnya terasa tidak menjadi soal. Sebab itulah rencana To-leng-cu menjadi tertunda lagi beberapa tahun.

Beberapa kali To-leng-cu pernah mendesaknya, tapi selalu Po-kun memberi alasan belum sempurna mempelajari kepandaian Jing-sia-pay, belum lengkap apa yang dipahaminya, kalau buru-buru turun tangan, mungkin akan gagal setengah jalan. Karena itu, dengan sendirinya To-leng-cu tidak berani memaksa dan terpaksa bersabar terus.

Sampai pertengahan tahun yang lalu, tiba-tiba terjadilah sesuatu di luar dugaan. Suma Wi telah dibinasakan orang di dekat Pek-te-sia dengan “Boh-goat-cui”, salah satu di antara ke-36 macam Kungfu Jing-sia-pay sendiri. Telinganya pecah dan otaknya terluka hingga tewas.

Apa yang disebut “Boh-goat-cui” itu tidak berwujud gurdi sungguh-sungguh, tapi kelima jari tangan disatukan hingga lancip tampaknya terus dijujukan untuk menyerang telinga musuh dengan tenaga dalam yang dahsyat.

Ketika Suma Lim dan Cu Po-kun mendapat kabar kematian Suma Wi itu, siang malam mereka memburu ke tempat kejadian, yaitu Pek-te-sia. Ketika memeriksa luka sang guru, ternyata bekas ditewaskan dengan ilmu “Boh-goat-cui” atap Gurdi Perusak Bulan, padahal ilmu itu adalah Kungfu andalan Jing-sia-pay sendiri.

Keruan kejut dan berduka kedua orang itu. Setelah mereka berunding, mereka berpendapat kecuali Suma Wi sendiri yang mahir menggunakan “Boh-goat-cui” cuma Suma Lim dan Cu Po-kun sendiri, ditambah lagi dua tokoh tua Jing-sia-pay yang lain. Tapi pada waktu peristiwa terbunuhnya Sama Wi itu keempat orang yang mahir “Boh-goat-cui” itu sedang berada di rumah dan berkumpul menjadi satu hingga tiada seorang pun yang mungkin dicurigai. Dan jika begitu pembunuh Suma Wi itu selain Buyung-si dari Koh-soh yang terkenal “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin”, terang tiada orang lain lagi.

Sebab itulah segenap anggota Jing-sia-pay telah dikerahkan serentak untuk mengaduk ke Koh-soh dan hendak bikin perhitungan dengan Buyung-si.

Sebelum berangkat, diam-diam Cu Po-kun tanya kepada To-leng-cu apakah matinya Suma Wi itu adalah perbuatan orang Hong-lay-pay? Tapi To-leng-cu memberi jawaban tertulis, “Ilmu silat Suma Wi setingkat dengan aku. Kalau aku harus menyergap dia tentu kugunakan Thian-ong-po-sim-ciam baru dapat membinasakan dia. Kalau main keroyok, kita harus pakai Tiat-koay-tin (barisan tongkat besi)”.

Po-kun pikir keterangan To-leng-cu itu memang benar. Tatkala itu diketahuinya ilmu silat kedua guru itu memang setingkat, siapa pun tak bisa mengalahkan pihak yang lain. Kalau hendak membunuh Suma Wi dengan “Boh-goat-cui”, jangankan To-leng-cu memang tidak mahir ilmu itu, sekalipun mahir juga takkan mampu melawan kekuatan Suma Wi. Karena itu, tanpa sangsi lagi Cu Po-kun lantas ikut ke Koh-soh untuk menuntut balas.

Setiba di Koh-soh, setelah tanya ke sini-sana, akhirnya dapatlah mereka sampai di Thing-hiang-cing-sik. Tak tersangka lebih dulu kawanan bandit dari Cin-keh-ce itu sudah berada di situ. Orang-orang Jing-sia-pay mempunyai disiplin yang sangat keras, kalau tidak diperintah pemimpin tiada serang pun yang berani sembarangan bicara atau bertindak. Maka demi melihat kelakuan orang-orang Cin-keh-ce yang kasar itu, mereka sangat memandang hina tingkah laku yang tidak patut itu.

Tujuan kedatangan Jing-sia-pay adalah membalas sakit hati, maka terhadap setiap benda di dalam Thing-hiang-cing-sik sama sekali tidak diusik sedikit pun, santapan yang mereka makan juga ialah ransum yang mereka bawa sendiri. Dengan demikian mereka menjadi selamat malah, sebab mereka tidak ikut merasakan kelezatan ingus dan ludah serta kotoran yang ditaburkan oleh si koki gendut alias Lau Koh, yang kenyang makan kotoran adalah orang-orang Cin-keh-ce.

Siapa duga kemudian datanglah Giok-yan berempat hingga rahasia Cu Po-kun sekaligus terbongkar. Segera timbul maksudnya membunuh si nona untuk menutup mulutnya, tapi sedikit ayal lantas terlambat, kata-kata “Thian-ong-po-sim-ciam” sudah keburu didengar oleh Suma Lim, sekalipun umpamanya Giok-yan dapat dibunuh olehnya juga tiada faedah baginya, paling-paling malahan akan menandakan rasa takutnya karena rahasianya terbongkar.

Kemudian didengarnya pula Giok-yan mengatakan, “Usahamu ini dahulu sudah pernah dilakukan oleh ketua angkatan ketujuh kalian, Hay-hong-cu, kepintarannya pasti tidak di bawahmu, tapi dia toh juga gagal.”

Pula gadis itu mengatakan, “Tidak cukup, percumalah!”

Apakah maksudnya ilmu silat Jing-sia-pay yang kupelajari dari Suma Wi ini masih kurang cukup dan belum meliputi seluruh ilmu silat Jing-sia-pay? Atau masuknya ke Jing-sia-pay sudah dicurigai, cuma Suhu tidak mau membongkar rahasiaku ini? Dan sekarang sesudah orang-orang Jing-sia-pay mengetahui aku adalah mata-mata musuh, lalu apa yang mereka akan perbuat atas diriku? Sejak kini pastilah namaku akan runtuh di dunia persilatan dan sukar menancapkan kaki lagi di kalangan Kangouw!

Begitulah makin dipikir makin risau hati Cu Po-kun. Ketika berpaling, ia lihat Suma Lim dan lain-lain sedang melotot padanya dengan tangan sedekap di dalam lengan baju masing-masing.

“Hm, jadi Cu-ya sebenarnya adalah orang Hong-lay-pay! Hm, bagus, bagus sekali!” demikian terdengar Suma Lim bersuara mengejek dengan dingin.

Ia tidak menyebut Po-kun sebagai Cu-sute lagi, tapi memanggilnya Cu-ya atau tuan Cu, ini berarti ia tidak anggap Po-kun sebagai saudara seperguruan lagi.

Tentu saja Cu Po-kun menjadi serbasusah, kalau mengaku, terang, salah, bila tidak mengaku, lebih-lebih salah, jadi serbasalah.

Maka Suma Lim berkata pula, “Jadi maksud tujuanmu menyelundup ke Jing-sia-pay adalah ingin mempelajari ilmu ‘Bok-goat-cui’, sesudah pintar akan dipakai untuk membunuh ayahku. Hm, manusia berhati binatang seperti dirimu ini sungguh teramat kejam!”

Habis berkata, ketika kedua tangannya terpentang, masing-masing tangan tahu-tahu sudah bertambah semacam senjata.

Menurut pikiran Suma Lim, jika ilmu silat perguruan sendiri sudah berhasil dicolong oleh Po-kun, dengan sendirinya pasti telah diajarkan pula kepada jago-jago Hong-lay-pay. Walaupun waktu ayahnya terbunuh, Cu Po-kun berada Sengtoh, yaitu di tempat tinggal Jing-sia-pay, bukan mustahil semua itu adalah tipu muslihat Po-kun untuk mengelabui mata orang Jing-sia-pay.

Begitulah muka Cu Po-kun tampak merah padam. Sebabnya dia menyelundup ke dalam Jing-sia-pay sebenarnya memang bertujuan jahat, selama ini sesungguhnya sedikit pun ia tidak pernah membocorkan ilmu silat Jing-sia-pay. Namun urusan sudah telanjur begini, cara bagaimana ia bisa membela diri? Tampaknya segera bakal terjadi suatu pertarungan mati-matian, mungkin sukar menghindarkan malapetaka yang akan menimpa dirinya. Ia pikir andaikan jiwanya mesti melayang dibunuh Suma Lim dan kawan-kawannya, dasar dirinya memang bermaksud jahat, rasanya juga pantas mendapat ganjaran seperti itu.

Karena itulah ia coba keraskan hati dan menjawab, “Suma-suhu bukan aku yang mencelakainya…”

“Sudah tentu bukan tanganmu berdiri yang menewaskannya,” bentak Suma Lim. “Tapi secara tidak langsung, apa bedanya dengan kau sendiri yang turun tangan?”

Lalu ia berkata kepada kedua kakek tinggi kurus di sampingnya, “Kiang-susiok dan Beng-susiok, terhadap murid murtad seperti ini, tidak perlu kita bicara tentang peraturan Bu-lim lagi, marilah kita maju bersama.”

Kedua kakek itu mengangguk, kedua tangan mereka lantas dilolos keluar dari lengan baju, semuanya tangan kiri memegang gurdi dan tangan kanan memegang palu, dari kanan-kiri mereka terus mendesak maju.

Cepat Po-kun mundur beberapa langkah dan mepetkan punggung di suatu pilar dalam ruangan itu untuk menghindarkan serangan dari belakang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: