Kumpulan Cerita Silat

05/07/2008

Memanah Burung Rajawali – 05

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:13 am

Memanah Burung Rajawali – 05
Bab 05. Pertarungan Mati Hidup
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Segera terlihat orang banyak yang naik ke loteng itu adalah serdadu-serdadu bangsa Kim, sebagaimana mereka gampang dikenali dengan seragam mereka. Melihat mereka itu, naik darahnya Khu Cie Kee. Ia hargakan Kanglam Cit Koay, ia menyangka mereka itu diperdayakan oleh Ciauw Bok Hweshio, maka itu sampai sebegitu jauh, ia layani mereka separuh main-main, akan tetapi sekarang tak dapat ia atasi diri lagi. Sangking murkanya,ia tertawa terbahak-bahak.

“Ciauw Bok Hweshio! Kanglam Cit Koay!” ia berseru, “Walaupun kasih datang tambahan tigaribu lagi serdadu berandal Kim, toya kamu masih tidak jerih!”

Han Po Kie gusar mendengar ejekan itu. “Siapakah yang kasih datang tentara Kim?!” ia menegur.

Tentera Kim itu adalah tentera pengiringnya Wanyen Lieh. Mereka menanti sekian lama putra raja mereka masih belum kembali, timbuk kekhawatiran mereka itu, mereka lantas pergi mencari, kebetulan mereka dengar di Cui Sian Lauw ada orang berkelahi, mereka datangi rumah makan itu. Lega hati mereka akan saksikan putra raja mereka tidak kurang suatu apa pun, putra itu lagi duduk tenang di mejanya. Mereka lantas menghampiri untuk memberi hormat.

Ketika itu pihak rumah makan baru siap dengan hidangan mereka yang terdiri dari daging macam tutul, tidak peduli orang baru saja berhenti bertempur dan di situ ada banyak serdadu bangsa Kim, mereka bawa naik barang hidangan itu untuk disajikan di sembilan meja dikecualikan mejanya Ciauw Bok Taysu, si hweshio, pendeta yang pantang makan daging.

Hidangan untuk Wanyen Lieh pun disiapkan sekalian. Atas itu putra raja Kim itu lantas berbangkit dari kursinya, guna menghampiriKwa Tin Ok, di depan siapa ia memberi hormat, walaupun orang tak dapat melihat kepadanya.

“Terima kasih Kwa Toako!” ia mengucap. Dengan berani ia lantas memanggil “toako” atau kakak.

“Hm!” Khu Cie Kee perdengarkan suara di hidung selagi Hui Thian Pian-hok belum sahuti orang asing itu. “Bagus! Bagus!” ia menambahkan. “Cukup sudah, maaf, pinto tak dapat menemani lebih lama pula!”

Lantas ia angkat jambangan araknya, sambil membawa itu, iabertindak ke tangga.

Kwa Tin Ok lantas sudah bangkit berdiri. “Khu Totiang, jangan kau keliru mengerti!” kata tertua darikanglam Cit Koay ini.

“Adakah aku keliru mengerti?” jawab si imam sambil jalan terus. “Kamu adalah bangsa Enghiong, bangsa hohan, habis perlu apa kamu undang tentera bangsa Kim untuk bantu kamu?”

Dengan sengit si imam menjengeki orang adalahEnghiong dan hohan – orang-orang gagah.

“Kami tidak undang atau janjikan mereka itu,” Kwa Tin Ok menyangkal.

“Aku juga bukanya si picak!” sahutKhu Cie Kee mengejek.

Tin Ok buta,ia paling benci orang mengatakan ia picak, maka itu sambil gerakin tongkat besinya, ia lompat maju. “Kalau picak bagimana?!” tanyanya.

Tiang Cun Cu tidak ladeni si buta itu, sebaliknya ia layangkan tangannya yang kiri, tepat mengenai batok kepalanya satu serdadu Kim, hingga tanpa suara apapun, suara itu rubuh dengan kepalanya remuk, jiwanya terbang pergi.

“Inilah contohnya!” kata si imam kemudian. Lalu tanpa tunggu jawaban lagi, ia ngeloyor ke tangga.

Serdadu-serdadu Kim lainnya menjadi gaduh karena kebinasaan tidak karuan dari rekannya mereka itu, mereka kaget dan gusar, beberapa diantaranya segera menikam bebokongnya si imam dengan tombak mereka yang panjang.

Seperti bebokongnya ada matanya, Khu Cie Kee tangkis serang itu tanpa membalik tubuhnya. Sambil manangkis tangannya menyambar, maka itu beberapa batang tombak kena tercekal dan terampas.

Beberapa serdadu lagi hendak maju untuk mengulangi penyerangan.

“Jangan!” Wanyen Lieh segera mencegah. Dengan lantas ia berpaling kepada Kwa Tin Ok beramai, untuk mengatakan: “Imam jahat itu tidak kenal undang-undang, tidak kenal Tuhan, dia tidak usah dilayani! Tuan-tuan mari kita minum dulu, sembari minum kita bicarakan daya untuk menghadapi dia!”

Kwa Tin Ok tidak tahu orang adalah orang bangsa Kim, maka tadi ia berlaku manis budi dengan suruh jongos membagi daging macamnya, sekarang setelah mengetahui orang bangsa apa, ia tak sudi melayani bicara. “Minggir!” ia membentak.

WanyenLieh heran. “Apa!” tanyanya.

“Toako kami menitah kau pergi!” Han Po Kie wakilkan kakaknya menyahuti, sembari berkata ia gerakan pundak kanannya, mengenai kempolansi putra raja Kim itu, hingga Wanyen Lieh lantas saja mundur beberapa tindak.

Kwa Tin OK semua lantas berlalu, turun di tangga loteng. Ciauw Bok Hweshio turut mereka, Biauw Ciu Sie-seng jalan paling belakang, selagi lewat di samping Wanyen Lieh, ia tepuk pundaknya putra raja Kim itu dengan kipasnya seraya bilang: “Apakah kau telah jual itu orang perempuan yang kau tipu? Bagaimana kalau kau jual dia padaku? Hahaha!” Dan terus ia ngeloyor turun.

Wanyen Lieh terkejut. Ia ingat pada pengalamannya yang pertama. Maka sebelum layani godaan orang itu, paling dulu ia ragoh sakunya. Untuk kagetnya ia dapatkan beberapa potong emas dalam sakunya terbang pula! Ia mendongkol, akan tetapi ia jerih pula.

“Beberapa orang ini lihay sekali, aku serta semua serdaduku bukan tandingan mereka,” ia berpikir. “Pauw-sie ada padaku, jikalau mereka dapat tahu, inlah berbahaya……….”

Oleh karena kekhawatirannya ini, ia tidak lagi berpikir untuk beli pakaian buat si nyonya, dengan tinggalkan restoran itu, ia lekas-lekas balik ke hotel, terus ia ajak si nyonya untuk berangkat ke Utara, pulang ke Yankhia, ibukotanya kerajaan Kim. Bersama dia turut juga semua pengiringnya. (Yankhia = Peking sekarang).

Sementara itu Kwa Tin Ok beramai telah ikuti Ciauw Bok Hweshio pergi ke kuil Hoat Hoa Sian Sie yang letaknya di bagian barat dari luar kota Kee-hin, di dalam kuil itu mereka berkumpul di kamar bersemedhi. Kacung hweshio lantas menyuguhkan air the, habis mana ia lantas mengundurkan diri.

“Keliru mengerti ini jadi makin hebat…” Ciauw Bok Taysu mulai berkata smabil ia menghela napas.

“Taysu,” tanya Han Siauw Eng. “Dia menyebutkan dua orang wanita, siapakah mereka itu? Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?”

“Nanti aku beri keterangan,” sahut hweshio itu. “Aku ada punya Suheng yang menjadi pendeta di kepala di kuil Kong Hauw Sie di Hangciu…”

“Itulah Kouw Bok Siansu, bukan?” Tin Ok memotong.

“Benar,” sahut Ciauw Bok. “Kemarin dulu ia menulis surat padaku, ia menitahkan dua orang yang menyampaikan surat itu, dalam mana ia bilang ada orang jahat hendak mengganggu mereka itu dan karenanya dia minta supaya aku beri tempat berlindung kepada merek itu. Kami orang beribadat mesti berlaku murah hati, apapula ia adalah kakak seperguruanku, tentu saja aku mesti terima permintaannya itu. Diluar dugaanku, baru satu dua har I orang itu tiba, lantas Tiang Cun Cu datang menyatroni sambil dia menuduh ada dua orang wanita dari Hangciu, dari kuil Kong Hauw Sie, datang menyembunyikan diri di kuilku. Tentu saja aku menjadi tidak mengerti.”

“Melihat dari sikapnya tadi, mesti dia bakal datang lagi menerbitkan onar,” menyatakan Coan Kim Hoat. “Maka aku pikir, kita tak dapat tidak bersiaga.”

“Itu benar,” Tin Ok juga menyatakan.

Sampai disitu mereka berunding, merundingkan daya penjagaan. Mereka tidak dapat mengerti sikapnya Khu Cie Kee. Ciauw Bok Taysu bingung, lebih bingung pula Kanglam Cit Koay.

Itu hari sehabisnya membinasakan Ong Tian Kian si pengkhianat, Khu CieKee pergi ke Gu-kee-cun kepada Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian, untuk membuat perkenalan dengan caranya yang luar biasa itu, hingga kesudahannya ia labrak rombongan serdadu bangsa Kim serta orang-orang polisi yang mencari padanya. Kejadian itu membuat ia sangat gembira. Dari Gu-kee-cun, ia lantas pergi ke Hangciu, untuk pesiar ke telaga See Ouw dan tempat sekitarnya yang indah, akan menghirup permainannya sang salju. Tempo ia lewat di muka Ceng ho-hong, ia tampak lewatnya beberapa puluh serdadu dalam keadaan rudin, seragamnya tidak karuan, tombak dan gendewanya pada patah, seperti bekas kalah perang. Ia heran. ia tahu tidak ada peperangan dengan bangsa Kim, tidak ada huru-hara penjahat di dekat-dekat Hangciu. Habis kenapakah barisan serdadu itu? Ia tanyakan keterangan beberapa penduduk, juga mereka itu tidak tahu suatu apa. Saking penasaran, ia ikuti rombongan serdadu sampai di tangsinya tentera itu. Ia tunggu sampai malam, lalu dengan diam-diam ia menyatroni. Ia bekuk satu serdadu yang sedang tidur pulas, yang ia bawa ke ujung jalan besar, untuk korek keterangan dari mulutnya. Kapan ia sudah dengar jawabannya, ia menjadi mengeluh. Nyatalah barisan itu adalah barisan yang telah pergi ke Gu-kee-cun untuk menawan Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian. Ia berduka berbareng murka akan dengar Siauw Thian terbinasa dalam pertempuran itu dan Tiat Sim terluka parah, entah kemana lolosnya tetapi ada kemungkinan dia pun tak kan hidup lama.

Imam ini sangat menyesal. Ia tahu, itulah akibatnya ia sudah mengikat persahabatan sama dua orang she Yo dan Kwee itu. Pasti tak dapat ia umbar hawa amarahnya terhadap serdadu itu.

“Siapakah itu perwira atasanmu?” ia tanya.

“Ciehui tayjin kami,” sahut serdadu itu yang menyebutkan komandonnya, “Dia she Toan, namanya Thian Tek.”

Cukup segitu, Cie Kee bebaskan serdadu itu, terus ia pergi cari Thian Tek di tangsi, tetapi ia tidak peroleh hasil, tidak tahu dimana tidurnya ciehui itu malam itu.

Besok paginya, Tiang Cun Cu menampak hal yang membuat darahnya mendidih. Di muka tangsi, di atas tiang bendera yang tinggi, ada di gantung kepalanya Kwee Siauw Thian untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. Hampir dadanya meledak.

“Khu Cie Kee, oh, Khu Cie Kee!” katanya seorang diri. “Dengar baik-baik, kedua sahabat itu jamu padamu, kau sebaliknya rembet-rembet mereka hingga mereka bercelaka, rumah tangga mereka tercerai berai dan musnah! Jikalau kau tidak menuntut balas untuk mereka, masih dapatkah kau disebut satu laki-laki?!”

Saking mendongkol, ia hajar dengan tangannya tembok dimana tiang itu dipasang, hingga batu dan pasir kapurnya hancur. Kemudian malamnya, dia panjat tiang itu untuk turunkan kepalanya Siauw Thian, yang ia bawa ke tepinya telaga See ouw, untuk dikubur. Dia paykui di depan kuburan, airmatanya turun mengucur, diam-diam ia memuji dan berjanji: “Itu hari pinto sudah berjanji akan ajarkan ilmu silat kepada anak-anakmu, supaya kelak mereka menjadi orang-orang kosen, kalau tidak, tidak ada muka pinto menemui kalian di dunia baka.”

Segera Khu Cie Kee atur rencananya. Pertama-tama Toan Thian Tek mesti dicari, ciehui itu mesti dibinasakan guna membalaskan sakit hatinya Tiat Sim dan Siauw Thian. Habis itu dia hendak mencari istrinya dua sahabat itu guna menempatkan mereka ke tenpat yang aman. Kemudian ia akan mohon belas kasihannya Thian, supaya mereka dapat turunan, agar supaya anak-anak mereka dapat ia didik menjadi orang-orang sempurna seperti yang ia janjikan.

Beruntun dua malam Cie Kee telah satroni tangsi Wielok nomor enam, tidak berhasil ia mencari Toan Thian Tek, hingga ia mau menduga, mungkin Thian Tek adalah satu komandan yang tak berdisiplin dan doyan pelesiran, mungkin Thian tek tidur di luar tangsi, untuk mencari kesenangan. Oleh karena sudah habis sabar di hari yang ketiga setelah dua malam itu, dia ambil cara singkat saja. Dia pergi ke muka tangsi, untuk menegur: “Mana dia Toan Thian Tek?! Suruh dia keluar!”

Justru itu hari, Thian Tek ada di dalam tangsinya, ia lagi periksa Lie Peng, istrinya Siauw Thian. Pemeriksaan dilakukan sebab lenyapnya kepala Siauw Thian itu. Ia ingin Lie Peng sebutkan sahabat atau sahabat-sahabatnya Siauw Thian yang dirasa bernyali besar berani mencuri kepalanya Siauw Thien itu. Ia kaget akan dengar laporan ada orang cari padanya, lalu laporan itu disusul dengan laporan lainnya, tentung sudah terjadi pertempuran dengan orang yang mencari dia. Segera ia melongok di jendela.

Satu imam, yang nampaknya gagah sekali, lagi bertarung dengan robongan serdadu. Atau lebih benar, rombongan serdadu lagi dilabrak oleh imam itu yang bersenjatakan dua serdadu yang ia cekal kakinya dengan masing-masing mereka mengeluh. Sejumlah serdadu lain menyerang dengan anak panah tetapi serangan itu tak ada hasilnya, si imam membela diri dengan dua serdadu korbannya itu.

Thian Tek gusur menyaksikan perkelahian semacam itu, dengan membawa goloknya, ia lompat keluar dari tangsi. “Kau hendak memberontak?!” ia menegur sambil ia lantas menerjang.

Imam itu, ialah khu Cie Kee, telah sambut serangan sesudah ia lemparkan satu serdadu. Ia gunai tangannya yang kiri. Lengannya Thian tek lantas saja kena dicekal.

“Mana itu bajingan jahanam Toan Thian Tek?!” Cie menegur. Dia belum kenal perwira ini.

Thian Tek kesakitan, tubuhnya hampir tak dapat bergerak. tapi ia licik sekali. Ia dapat terka maksudnya si imam.

“Toya mencari Toan Tayjin?” dia balik menanya. “Dia…..dia sekarang ada di telaga See Ouw, lagi pelesiran minum arak di atas perahu. Sebentar lohor ia baru pulang.”

Cie Kee kena diakali, ia lepas cekalannya.

Thian Tek segera berkata kepada dua serdadu yang ia kedipi mata: “Pergi kamu antar toya ini ke telaga untuk cari Toan Tayjin!”

Dua serdadu itu belum mengerti, mereka bingung.

“Lekas! lekas pergi!” Thian Tek membentak. “Jangan kamu bikin toya gusar!”

Baharu sekarang dua serdadu itu mendusin, mereka lantas ngeloyor pergi.

Cie Kee ikuti kedua serdadu itu.

Thian Tek tidak berani berayal pula. Seberlalunya si imam, dia ajak barisannya meninggalkan tangsi Wie-ko itu. Dia bawa Lie Peng bersama dia. Dia pergi ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan yang komandannya adalah sahabat eratnya, yang sama martabatnya. Kepada sahabat itu ia tuturkan halnya si imam jahat.

“Mari kita bekuk dia!” berkata si si komandan, yang terus hendak kumpulkan tenteranya. tapi mendadak terdengar suara ribut-ribut di luar tangsi, disusul sama masuknya laporan halnya satu imam datang mengacau.

Terang Khu Cie Kee balik kembali setelah ia tidak berhasil mencari Thian Tek, rupanya ia telah kompes kedua serdadu pengantarnya, sehingga mereka terpaksa mesti mebuka rahasia, hingga ia lantas menyusul ke tangsi Hiong-ciat nomor delapan itu.

Thian Tek takut bukan main, tanpa pamitan dari rekannya, dia ajak Lie Peng dan barisannya kabur dari belakang tangsi. Kali ini ia lari keluar kota, ke tangsi Coan-ciat nomor dua. Tangsi ini terpernah di tempat sepi. Di sini ia selamat, si imam tidak berhasil menavri dia terlebih jauh. Baharu sekarang ia bisa bernapas sedikit lega. Tapi ia mesti menderita pada tangannya, yang bekas di cekal si imam. Lengan itu bengkak, rasanya sakit sekali. Dia cari tabib tentera untuk obati tangannya itu. Nyata tulang lengannya patah, hingga tulang itu mesti disambung. Malam itu dia bermalam di tangsi itu, dia takut pulang.

Tepat tengah malam, Thian Tek mendusin dengan kaget. Di luar tangsi, serdadu-serdadu membikin banyak berisik. Sebabnya ialah satu serdadu jaga ketahuan lenyap tidak keruan paran. Tentu saja ia menjadi sangat ketakutan. Kemana ia mesti menyingkir, supaya selamat? Akhirnya dia ingat pendeta dari Kong Hauw Sie, yang adalah pamannya.

“Baik aku pergi ke paman,” dia ambil keputusan. Malah segera ia bekerja. Untuk memastikan keselamatannya terus ia bawa-bawa Lie-sie. Kalau perlu nyonya Kwee itu dapat di pakai sebagai tanggungan untuk jiwanya. Dan untuk mencegah kecurigaan orang luar, dia paksa Lie Peng dandan sebagai serdadu. Mereka keluar secara diam-diam dari belakang tangsi, tanpa pedulikan malam buta rata, mereka terbirit-birit menuju ke Kong Hauw Sie.

Pamannya Thian Tek ini sudah lama sucikan diri, nama sucinya ialah Kouw Bok. Ia menjadi kepala di kuil Kong Hauw Sie itu. Sebenarnya sudah lama dia tidak berhubungan dengan keponakannya itu, sebab ialah dia tidak setujui kelakukan sang keponakan, tak suka ia bergaul dengannya. Maka kaget ia akan dapatkan tengah malam itu sang keponakan muncul dengan tiba-tiba.

Dalam ilmu silat, Thian Tek berkepandaian tidak seberapa, dalam hal kecerdikan, dia melebihi kebanyakan orang. Dia tahu sebabnya kenapa pamannya itu masuk menjadi paderi, ialah si paman sangat benci bangsa Kim dan sangat sesali pemerintah Song. Bukan saja pemerintah tidak membuat perlawanan, sebaliknya menteri dan panglima setia dibikin celaka. Umpama kata dia bercerita terus terang bahwa ia telah bekerja sama dengan bangsa Kim untuk menawan Kwee Siau Thian dan Yo Tiat Sim, dia pasti dapat susah di tangan pamannya itu. Dari itu, siang-siang dia telah karang sebuah alasan.

Kouw Bok Hwehio pandai ilmu silat. Dia malah menjadi ciang-bun-jin, ahli waris dari partai Hoat Hoa Cong golongan Selatan. Ia pernah memangku pangkat dalam ketenteraan. Sejak sucikan, ia tidak abaikan ilmu silatnya itu, dengan rajin ia berlatih terus. Karena ini, jeri Thian Tek terhadap pamannya.

“Mau apa kau datang kemari?” sang paman tegur keponakannya. Sikapnya dingin.

Thian Tek segera tekuk lutut di depan pamannya itu, ia manggut-manggut. “Keponakanmu telah orang perhina,” katanya dengan suara susah dan mesgul. “Peehu, aku mohon pertolonganmu…”

“Kau tinggal di tangsi tentera, kau memangku pankat, siapa berani perhina padamu?” paman itu tanya pula.

Terus Thian Tek kasih lihat roman sangat berduka. “Aku diperhina satu imam,” dia menyahut dengan cerita karangannya, “Imam itu kepung-kepung aku hingga tak tahu kemana aku mesti singkirkan diri. Peehu, dengan memandang kepada muka ayah, aku minta kau suka tolongi keponakanmu ini….”

Melihat roman orang, Kouw Bok merasa berkasihan juga.

“Kenapa itu imam kepung-kepung padamu?” ia tanya.

Thian Tek sudah bangun berdiri, lekas-lekas dia berlutut pula.

“Celaka, keponakanmu celaka,” dia menjawab. “Kemarin dulu aku pergi ke barat jembatan Ceng Leng Kio. Aku turur beberapa kawan. Disana kami bermain-main di Lam-wa-cu di bawah rangon Hie Cun Lauw….”

“Hm…!” sang paman perdengarkan suara di hidung.

Lam-wa-cu itu diambil dari kata-kata wa-sia, dan wa-sia berarti “rumah genting”. Lebih jauh, wa-sie itu diambil sebagai arti ringkas dari sebutan, “Diwaktu datang, genting utuh; diwajtu pergi genting pecah”. Lebih tegas lagi bermaksud, “gampang berkumpul, gampang bubar”. Tapi maksudnya nag paling jelas ialah: Di jaman Song itu, setelah pemerintahan dipindah ke selatang, untuk mengikat hati tentera, pemerintah mengadakan apa yang dinamakan wa-sia itu di dalam dan di luar kota Hangciu. Itulah tempat pelesiran serdadu. Penghuni wan-sia adalah wanita-wanita melarat yang tidak punya sanak kandung. Mulanya itu mereka jadi barang permainan tentera, belakangan orang berpangkat atau sembarang hartawan pun dapat permainkan mereka.

Thian Tek pura-pura tuli untuk ejekan pamannya itu. Ia omong terus: “Aku ada punya satu nona kenalan, hari itu aku minum arak bersamanya. Tiba-tiba muncul imam itu, dia memaksa si nona melayani padanya…”

“Mustahil seorang suci pergi ke tempat semacam itu!” Kouw Bok menyela.

“Tapi kejadiannya benar demikian. Maka itu aku telah singkirkan dia, aku suruh dia pergi. Nyata dia sangat galak. Dia damprat aku, dia katakan aku bakal terpisah kepala dari badanku, hingga tak perlu aku main gila.”

“Apa maksudnya dengan kata-katanya kepala terpisah dari badan?” tanya Kouw Bok lagi.

“Dia menjelaskan, tak lama lagi tentera bangsa Kim akan datang menyeberang ke sini, tentera itu bakal membunuh habis semua pembesar dan tentera kita…”

Kouw Bok lantas saja menjadi gusar. “Dia berani mengatakan demikian?!”

“Benar, dasar tabiatku jelek, aku tegur dia dan jadi berkelahi karenanya. Sayang aku bukan tandingan dia itu. Aku lari, dia mengejar, mengejar terus-terusan, karena habis jalan, terpaksa aku lari ke mari. Aku minta peehu suka tolongi aku….” Thian Tek pura-pura merengek.

“Aku adalah seorang suci, tak dapat aku urus perkara main perempuan kamu ini,” berkata paderi itu.

“Tolong, peehu,” Thian Tek merintih. “Tolong untuk kali ini saja. Aku tak berani main gila lagi….”

Dasar orang suci dan mengingat juga kepada almarhum saudaranya, hati Kouw Bok tergerak.

“baik,” kata dia akhirnya, “Untuk beberapa hari kau boleh berdiam di sini. Aku larang kau main gila pula!”

Thian Tek menghanturkan terima kasih berulang-ulang.

“Satu pembesar tentera begini tidak punya guna, ah….” Kouw Bok mengeluh. Ia menghela napas panjang.

Lie Peng sudah diancam oleh Thian Tek, walaupun ia tahu orang sudah mendusta, ia tutup mulut.

Lewat lhor itu hari, tie-kek-cung, yaitu paderi tukang layani tetamu, lari masuk dengan tegesa-gesa, ia menemui Kouw Bok dan melaporkannya dengan gugup: “Di luar ada satu imam, galak dia, dan dia minta Toan Tiang-khoa keluar menemui padanya….”

Thian Tek adalah satu perwira, maka itu dia dipanggil tiang-khoa.

“Panggil Thian Tek,” Kouw Bok menitah.

“Dia, benar dia…” kata Thian Tek, semunculnya dia.

“Imam itu sangat galak, dia adalah paderi dari partai mana?” tanya sang paman.

“Entahlah dia imam dari desa mana,” Thian Tek mendusta tak kepalang tanggung. “Sebenarnya tak seberapa ilmu silatnya, dia Cuma bertenaga besar, dasar aku yang tidak punya guna, aku tak sangggup lawan dia…”

“Baiklah, nanti aku temui dia.”

Kouw Bok pakai jubahnya, terus ia pergi keluar. Ia lantas bertemu sama si imam, ialah Khu Cie Kee, selagi imam itu hendak memaksa memasuki pendopo walaupun paderi penjaga pendopo mencegah padanya. Ia maju mendekati, ia terus tolak bahu si imam itu. Ia nampaknya menggeraki tangan dengan perlahan tetapi ia menggunai tenaga dalam. Ia ingin mendorong imam itu keluar pendopo. tapi begitu ia kena langgar bahu si imam, ia kaget sekali. Ia kena langgar daging yang empuk bagaikan kapas. Celakanya, waktu ia hendak tarik pulang tangannya, ia telah terlambat, diluar kendalinya, tubuhnya tertolak mundur keras sekali, tidak ampun lagi ia terlempar membentur patung Wie Hok di pendopo itu, sudah tentu benturan itu menimbulkan suara yang keras, separuh patung pun gempur!

Dalam kagetnya yang tak terkira, Kouw Bok berpikir, “Dia lihay sekali, ia bukan Cuma besar tenaganya…” Lekas-lekas ia rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menanya: “Ada pengajaran apakah maka totiang datang berkunjung ke kuil kami ini?”

“Aku datang mencari satu bangsat busuk she Toan!” Cie Kee menjawab ringkas.

Kouw Bok insyaf bahwa ia bukan tandingan ini imam, ia berlaku sabar.

“Seorang pertapa perpokok kepada belas kasihan dan murah hati, kenapa totiang berpandangan sama dengan seorang biasa saja?” ia tanya.

Cie Kee tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya bertimdak masuk. Lebar tindakannya itu.

Ketika itu, dengan seret Lie Peng, Thian Tek sudah umpatkan diri ke dalam sebuah kamar, karenanya tentu saja ia tak dapat dicari. Cie Kee juga tidak berani menggeledah, sebab ia dapatkan kenyataan, di hari-hari dari musim semi itu Kong Hauw Sie kedatangan banyak penduduk yang bersujud, penduduk pria dan wanita. Sebagai seorang yang beribadat, ia tak mau mengganggu kesujudan banyak orang itu. Dengan tertawa dingin, terpaksa ia berlalu.

Kouw Bok lirik tie-kek-ceng untuk suruh muridnya itu antar tetamu tak diundang itu.

Setelah mengetahui orang sudah pergi, Thian Tek keluar dari persembunyiannya.

“Mana dia hanya satu imam dusun!” kata Kouw Bok dengan mendongkol. “coba kalau dia tidak berlaku murah, jiwaku pasti sudah melayang!”

Thian Tek membungkam, ia tak berani membuka mulut.

“Dia sudah pergi jauh,” kata tie-kek-ceng, yang muncul di depan gurunya.

“Apakah dia mengucapkan sesuatu?” tanya Kouw Bok setelah berdiam sesaat.

“Dia tak bilang suatu apa,” jawab muridnya itu.

“Inilah aneh,” mengatakan Kouw Bok. “Apakah ada sikapnya yang aneh selagi dia hendak berlalu?” tanya lagi.

“Tidak, kecuali setibanya ia di mulut pintu pekarangan, dia sendarkan diri di dua singa-singaan batu, agaknya ia sangat letih,” sahut tie-kek-ceng. “Dia membuang napas, habis itu dia angkat kaki sambil tertawa haha-hihi.” lanjut muridnya lagi.

“Ah, celaka, celaka….” Kouw Bok lantas mengeluh. “Celakalah singa-singaan kita itu, yang usianya tetelah beberapa ratus tahun…” Dan tangannya melayang ke muka Thian Tek. “Singa-singaan itu musnah di tanganmu!” katanya, habis mana ia lari keluar.

Thian Tek dan tie-kek-ceng menjadi heran, lebih-lebih Thian Tek yang mukanya menjadi bengap dan merah, hingga ia mesti bekapi mukanya itu. Keduanya turut lari keluar, akan susul Kouw Bok.

Di pintu pekarangan, Kouw Bok Hweshio berdiri bengong mengawasi sepasang cio-say, singa-singaan batu, yang disebutkan tadi. Nampak romannya yang sangat berduka dan menyayangi singa-singaan itu.

“Kenapa peehu?” sang keponakan tanya.

“Inilah takdir…” sahut si paderi dengan masgul. “Aku keliru sudah menyalahkan kau…. Kau tahu, sepasang cio-say ini adalah barang peninggalan jaman Lam Pak Tiauw, ketika itu Kaisar Liang Bu Tee telah memanggil tukang yang pandai untuk membuatnya. Sampai sebegitu jauh, aku pandang Cio-sang itu sebagai mustikanya Kong Hauw Sie. Sekarang….ah!” Ia menghela napas panjang.

Thian Tek masih tidak mengerti. Ia awasi cio-say itu, yang tidak kurang suatu apa. Oleh karena penasaran, ia dekati singa-singaan batu itu, ia raba kepalanya. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Seperti tanpa merasa, begitu kena diraba, kuping dan hidungnya cio-say itu runtuh jatuh. Ia segera tarik pulang tangannya itu, matanya mengawasi pamannya.

Kouw Bok menghela napas pula. “Cio-say ini telah dirusak si imam dengan menggunai tenaga dalamnya…” katanya.

Tie-kek-ceng heran, ia pergi tolak tubuh cio-say yang satunya lagi. Tiba-tiba saja, singa batu itu gempur dan rubuh, bertumpuk bagaikan puing. Tentu saja ia kaget hingga mukanya pucat. “Eh…kenapa jadi beini…? katanya.

“Luar biasa sempurnya tenaga dalam dari imam itu,” kata Kouw Bok, suaranya perlahan dan penuh rasa sangat menyesal. “Cio-say, cio-say, untuk beberapa ratus tahun kamu bercape lelah menjaga pintu kuil ini, maka sekarang, pergilah kamu dengan baik-baik…” Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek. Ia berkata pula: “Dia demikian lihay, apa mungkin ia sudi layani kau yang begini hina memperebuti segala bunga berjiwa?”

Thian Tek kaget, tidak berani dia membuka mulutnya.

“Adikku seperguruan, Ciauw Bok Taysu, lebih pandai sepuluh lipat daripada aku, mungkin dia sanggup melayani imam itu,” kata Kouw Bok kemudian. “Pergilah kau kesana, kepada suteeku itu.”

Meyaksikan lihaynya Khu Cie Kee, Thian Tek tahu tidak selamat ia berdiam terus di Kong Hauw Sie ini, dari itu ia tidak bantah pamannya itu, ia cuma minta surat perantara, lalu dengan menyewa perahu, malam itu ia ajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin, untuk pergi menumpang pada Ciauw Bok Taysu.

Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie tidak menduga apa-apa, ia tidak sangka yang kawannya Thian Tek adalah satu wanita dalam penyamaran, ia terima mereka itu menumpang.

Keras adalah hatinya Khu Cie Kee, ia berhasil menyusul Thian Tek. Kebetulan ia lihat Lie Peng di dalam tamannya kuil. Ia mengawasi, kecurigaannya timbul. Sayang ia terlambat. Ketika kemudian ia lompat masuk ke dalam pekarangan, Lie Peng sudah disembunyikan Thian Tek dalam ruang bawah tanah.
Ingat Lie Peng, Khu Cie Kee ingat Pauw-sie. Ia mau percaya, Pauw-sie pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie itu. Maka itu ia ketemukan Ciauw Bok Taysu, ia minta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. Karena ia telah lihat Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. Karena ia telah lihat Lie-sie dengan matanya sendiri, ia tidak mau percaya sangkalannya paderi itu, ia berkeras.

Ciauw Bok Taysu merasa tidak ungkulan melawan imam itu, begitu ia ingat pada Kanglam Cit Koay, ia pergi minta bantuannya tujuh Manusia Aneh dari kanglam itu. Demikianlah mereka berkumpul di restoran Cui Sian Lauw, sampai setiba Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu.

Habis menutur Ciauw Bok Taysu menambahkan: “Telah lama aku dengar Tiang Cun Cu lihay, sekarang kita dapat buktikan itu. Turut penglihatanku, dia seperzi bukan hendak mengacau, maka aku mau percaya, pada ini mesti terselip salah mengerti.”

“Aku pikir baiklah minta datang dua orang yang kakakmu itu perkenalkan,” Kim Hoat menyarankan. “Coba kita tanyakan keterangannya.”

“Benar,” Ciauw Bok Taysu menyatakan akur. “Aku memang bekum pernah tanyakan sesuatu kepada mereka.”

Paderi ini hendak suruh panggil Thian Tek tempo Tin Ok peringatkan: “Ciauw Bok Suheng, mungkin imam itu menyusul kita, maka kalau kita bertempur pula, mestinya jalannya tak sama dengan yang di rumah makan, dia tidak bakal berlaku murah hati lagi. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim.”

“Kwa Toako betul, maka itu mesti kita cari jalan untuk mengerti satu pada lain,” berkata si pederi.

“Yang dikhawatirkan justru salah mengerti ini sukar dijelaskan…” kata Tin Ok pula.

“Kalau terpaksa kita maju berdelapan…” Cu Cong turut berbicara.

“Delapan orang lawan satu orang, itulah tidak benar…” menyangsikan Han Po Kie.

“Aku pikir tak apa,” kata Coan Kim Hoat. “Kita tidak berniat binasakan dia, melainkan kita menghendaki dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu.”

“Apakah nama kita tidak bercacat seumpama tersiar diluaran Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?” Han Siauw Eng pun bersangsi.

Belum putus pembicaraan mereka, mereka telah dikagetkan suara keras yang datangnya dari toan-thian, pendopo besar. Suara itu seperti suaranya dua genta beradu keras, suara itu lalu mengaung, mengalun.

“Nah, si imam datang!” seru Kwa Tin Ok, sambil ia melompat.

Berdelapan mereka memburu ke depan. Lagi sekali mereka dengar suara nyaring seperti tadi, hanya kali ini disusul sama campuran suara rengatnya barang logam.

Seperti terlihat Khu Cie Kee, dengan jambangan arak di tangannya, sedang menggempur genta di toa-thian itu. Dia menyerang beberapa kali, sampai jambangan perunggu itu retak.

“Citmoay, mari kita maju lebih dahulu!” Ho Po Kie teiaki adiknya. Ia dan adiknya itu memang yang paling aseran diantara Cit Koay. Ia pun lantas tarik Kim-liong-pian- cambuk Naga Emas, dari pinggangnya, dengan sabetan “Naga hitam menggoyang ekor”, dia mencoba melilit lengan si imam yang memegang jambangan.

Di pihak lain Han Siauw Eng sudah hunus pedangnya, yang tajam mengkilap, dengan itu ia lompat menikam bebokong imam itu.

Diserang dari depan dan belakang, Khu Cie Kee tidak menjadi gugup. dengan satu gerakan tangan kanannya, ia membuat terbitnya suatu suara nyaring. Cambuk Naga Emas bukannya melilit tangan, hanya menghajar jambangan perunggu itu. Berbareng dengan itu, dengan satu egosan tubuh, si imam juga bebaskan diri dari ujung pedangnya si nona. Lincah sekali caranya ia berkelit.

Siauw Eng menjadi penasaran, ia ulangi serangannya, beruntun beberapa kali. Ia kembali gagal.

Cepat sekali Khu Cie Kee ketahui ilmu silat pedang si nona.

Di jaman dahulu, negeri Gouw bermusuh dengan negeri Wat. Untuk dapat menelan negeri Gouw itu, Raja Wat, yang bernama Kouw Cian, melatih keuletan diri dengan tidur sambil mencicipi nyali yang pahit. Sayang untuknya, ia mesti menghadapi Ngow Cu Sih, panglima sangat tangguh dari negeri Gouw itu, yang pandai sekali mengatur tentera. Ia menjadi sangat tidak puas dan berduka. Pada suatu hari ia kedatangan satu gadis yang cantik, yang pandai ilmu silat pedang. Ia menjadi sangat girang, ia minta si gadis ajari ia ilmu silat itu. Kali ini ia berhasil, negeri Gouw dapat dimusnahkan. Kota Kee-hin adalah tapal batas kedua negeri Gouw dan Wat itu, di situ kedua negara biasa berperang. Oleh karena disitulah tersiar luas perihal ilmu pedangnya si gadis Wat itu, yang sekarang dipunyai Han Siauw Eng. Ilmu silat itu asalnya tigapuluh enam jurus, di tangan nona Han, ia perbaiki, ditambah hingga menjadi empatpuluh sembilan jurus. Penambahan ini penting untuk si nona, karena ia berkecimpung di dunia kang-ouw -Sungai Telaga – sedang raja Wat pakai ilmu itu dalam peperangan, untuk membinasakan panglima dan merubuhkan kuda perang. Oleh karenanya, orang kang-ouw juluki si nona Wat Lie Kiam – Akhli pednag Gadis Wat –

Begitu lekas mengenali ilmu silatnya si nona, sambil di lain pihak melayani Han Po Kie, Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng, hendak ia merampas pedang si nona. Karena ini ia membuat si nona Han menjadi repot, beberapa kali Han Siauw Eng menghindari nacaman bahaya, sampai ia terdsak mundur ke tepinya patung Buddha.

Mendapatkan adik angkatnya terancam bahaya, Lam Han Jin dan Thio A Seng maju dengan berbareng, yang satu geraki pikulannya yang istimewa, yang lain mainkan “golok jagalnya” yang ujungnya lancip. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda satu sama lain. Kalau Lam San Ciauw-cu si Tukang Kayu dari Gunung Selatan bungkam mulutnya, Siauw Mie To si Buddha tertawa terus-terusan mengoceh tidak karuan juntrungannya, hingga Khu Cie Kee tak ketahui apa yang diucapkannya.

Segera si imam serang tukang pentang bacot itu. tangan kirinya yang menyambar. A Seng berkelit seraya melengak, ia tidak menyangka orang akali padanya. Justru ia melengak itu, kakinya Cie Kee melayang, tepat mengenai lengannya. Tidak ampun lagi, goloknya terlepas dan melayang. Tendangan itu mendatangkan rasa sakit dan akget. Walaupun begitu, sebagai jago ia tidak menghiraukan pedangnya yang terbang malah membarengi itu, ia membalas menyerang dengan tangan kirinya, setelah ia menganca, dengan tangan kanan! Sebab sebat sekali, ia sudah lantas pernahkan diri.

“Bagus!” Tiang Cun Cu puji lawannya ini. Ia berkelit untuk serangan membalas sambil berkelit, ia mengatakannya: “Sayang! Sayang!”

“Eh, sayang! Sayang apanya?!” tegaskan Siauw Mie To

“Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!” sahut Cie Kee sambil ia layani terus musuh-musuhnya. “Kau begini lihay tetapi kau rendahkan dirimu dengan jalan menakluk kepada musuh negara!”

“Hai, imam bangsat, kau ngaco belo!” mendamprat A Seng sangking murkanya. Mana ia mau mengerti dikatakan menakluk pada musuh, dalam hal ini, musuh bangsa Kim. Beruntun tiga kali, ia menyerang lawannya.

Cie Kee melawan sambil berkelit, akan tetapi untuk dua serangan yang belakangan, ia menangkis dengan jambangannya. Atau lebih benar, ia pasang jambangan itu sebagai sasaran, maka dua kali kepalannya A seng membuatanya jambangan itu bersuara nyaring.

Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena berempat mereka mengepung, nyatanya mereka berada di bawah angin. Menampak demikian Coan Kim Hoat tapinya menjadi penasaran, dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua, ia lompat menerjang, diturut oleh kakak angkatnya itu. Keduanya maju dari samping.

Genggamannya Lauw-sie In Hiap adalah sebatang bacin, yaitu alat peranti menimbangan barang, maka itu senjata bisa dipakai berbareng sebagai toya, gaetan dan gembolan, sedang Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay, yang pandai ilmu menotok, dengan kipasnya senantiasa mencari jalan darah lawannya.

Khu Cie Kee tidak peduli ia dikepung berenam, ia tetap mainkan jambangannya sebagai senjata, sebagai tameng, karena dengan itu ia lebih banyak membela dirinya. Untuk membalas menyerang, ia pakai tangan kirinya yang bebas yang tidak bersenjatakan apa juga.

Ciauw Bok Taysu menjadi bergelisah menyaksikan jalannya pertempuran itu yang makin lama jadi makin hebat. Dia akhirnya tidak dapat bersabar lagi.

“Tahan! Tahan!” ia berseru-seru. “Tuan-tuan tahan! Dengar, hendak aku bicara!”

Dalam waktu pertempuran yang hebat itu, tidak ada orang yang sudi dengar cegahannya itu. Malah Khu Cie Kee perdengarkan seruannya: “Kawanan pengkhianat tidak tahu malu, lihat!” Dan lantas ia mendesak dengan serangan tangan kirinya, dengan jari-jari tangan terbuka, juga dengan kepalan. Satu serangannya yang mengancam Thio A Seng hebat sekali, sebab Siauw Mie To tengan terdesak.

“Totiang, jangan turunkan tangan kejam!” Ciauw Bok Taysu berseru dalam kegelisahannya yang hebat. Ia merasa A Seng tidak akan luput dari bahaya.

Cie Kee memang menyerang dengan hebat sekali. Ia lihat ia dikepung berenam, ia merasa bahwa ia telah mesti menggunai tenaga banyak. Disana masih ada dua musuh segar Kwa Tin OK dan Ciauw Bok Taysu – inilah berbahaya untuknya. Jikalau mereka ini meluruk juga? Dari itu, ingin ia lekas-lekas menyudahi pertempuran itu. Ia khwatir juga, lama-lama nanti ia kalah ulet.

Thio A Seng ada punya ilmu kedot, ialah tubuhnya tidak mempan senjata tajam. Kekebalannya itu ditambah sama tenaganya yang besar, karena ia biasa berlatih mengadu tenaga dengan kerbau – sudah dagingnya keras dan kulitnya pun tebal. Maka itu, menampak ancaman bahaya, ia manjadi nekat.

“Biarlah!” dia berseru, dan ia sambuti serangannya si imam untuk keras lawan keras. Tapi ia salah menaksir ketangguhannya sendiri. Di antara satu suara keras, lengannya itu terhajar patah tangannya Khu Cie Kee.

Cu Cong kaget bukan kepalang, ia berlompat menotok jalan darah soan-kie-hiat dari Tiang Cu Cu. Totokan ini bukan untuk menolongi Thio A Seng, yang telah menjadi korban, hanya guna mencegah si imam ulangi serangannya yang lihay itu.

Khu Cie Kee memang tidak berhenti sampai disitu. Rupanya ia anggap belum cukup dengan korban Thio A Seng itu. Dengan tidak kurang bengisnya, ia ulangi serangan-serangannya yang dikhawatirkan Biauw Ciu Sie-seng.

Segera juga terdengar jeritannya Coan Kim Hoat. Batu dacinnya Lauw-sie In Hiap telah kena disambar oleh si imam, dacin itu terus ditarik dengan keras. Tidak dapat Kim Hoat pertahankan diri, kuda-kudanya gempur, tubuhnya terbetot. Menyusul tarikannya itu, Khu Cie Kee ayun terus tangan kirinya, guna menhajar batok kepala lawannya itu. Untuk cegah Lam Hie Jin dan Cu Cong, yang berada paling dekat, ia tolak jambangannya ke arah mereka itu.

Han Po Kie dan Han Siauw Eng kaget tidak terkira. Kim Hoat itu adalah saudara angkat mereka. Yang mereka sayangi sebagai saudara betul. Keduanya apungi tubuh mereka, untuk hampiri si imam, yang mereka terjang dengan berbareng. Cuma ini jalan untuk tolongi saudara angkat mereka itu.

Mau tidak mau, Khu Cie Kee mesti berkelit. Atas itu, Coan Kim Hoat lompat melejit. Ia lolos dari gempuran kepada batok kepalanya, ia mandi keringat. Mesti begitu, ia tidak lolos seluruhnya. Selagi melejit, kakinya si imam kena sambar pinggangnya, hingga ia lantas saja rubuh terguling, tidak dapat lantas bangun.

Ciauw Bok Taysu lihat keadaan hebat, ia tidak dapat tinggal peluk tanagn terlebih lama pula, meskipun sebenarnya ia tidak menghendaki pertempuran, ia sungkan turun tangan. Begitulah ia maju denagn sepotong kayunya yang mirip ruyung, yang ujungnya hitam hangus. Ia menotok ke bawah ketiak.

“Dia ahli menotok, dia lihay,” pikir Khu Cie Kee, yang berkelit, setelah mana, ia juga layani paderi itu.

Setelah turun tangannya paderi itu, Kwa Tin Ok tidak dapat berdiam terlebih lama lagi. Ia buta tetapi ia tahu dua saudaranya telah rubuh, adiknya yang kelima dan yang keenam. Ia perhatikan suara anginnya, suara beradunya setiap senjata. Di saat ia hendak gerakkan tongkat besinya, Coan Kim Hoat teriaki dia: “Toako, kau gunai thie-leng! Hajar dulu kedudukan cin, lalu kedudukan siauw-ko!”

Menyusul anjuran itu, dua rupa senjata rahasia menyambar sar! ser! kearah si imam. Yang satu menuju ke alis dan yang lain ke paha kanan sebelah dalam.

Cie Kee terkejut. “Dia hebat sekali!” pikirnya. “Dia buta tetapi dia bisa mengincar dengan tepat. Sebenarnya ada sulit walaupun ada orang luar yang memberi petunjuk menurut garis-garus patkwa…”

Ia lihat datangnya dua serangan itu, ia menangkis dengan jambangannya, maka setelah suara ting-tong, kedua senjata rahasia itu – thie-leng, atau lengkak besi – jatuh ke lantai.

Thie-leng adalah senkata rahasianya Hui Thian Pian-hok, mirip lengkak tetapi ujung tajamnya ada empat.

Coan Kim Hoat sudah berseru-seru pula: “Hajar tionghu, hajar lie! Bagus, bagus! Sekarang serang beng-ie!” Setiap kali ia berseru, setiap kali juga lengkak besi dari Kwa Tin Ok menyambar. Maka sebentar saja belasan lengkak telah membuatnya Cie Kee terpaksa main mundur saja. Imam ini lihay, biar ia tidak terluka, dia toh tidak kalah, ia melainkan tidak sempat membalas menyerang. Sebagai seorang yang cerdik dan gesit, ia dapat bersedia setiap kali Kom Hoat perdengarkan petunjuknya.

Lauw-sie In Hiap sendiri terancam lukanya, ia dapat menunjuki sasaran kepada toakonya, tetapi semakin lama, suaranya makin lemah, makin perlahan, pada itu tercampur rintihan juga, dan beda dengan dia adalah Thio A Seng, tidak terdengar suaranya sama sekali, hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati…

“Serang! Serang!” Coan Kim Hoat masih bersuara lagi. “Hajar tongjin…!”

Yang terakhir ini Kwa Tin Ok tidak turuti tetap sasarannya Kim Hoat itu. Ia juga tidak gunai satu-satu biji lengkak sebagaimana bermula tadi. Sekarang ia menimpuk berbareng dengan empat buah senjata rahasianya itu. Bukan anggota tongjin yang ia incar, hanya kedua bagian kiri dan kanan dari tongjin itu. Di kanan ialah bagian ciat dan sun, dan di kiri, bagian hong dan lie.

Berbareng dengan itu, Ciauw Bok Taysu dan Han Siauw Eng menyerang dari kanan. Kalut kedudukan mereka, semua sebab hampir berbareng, Cie Kee pun berkelit dari anggota tongjin sebagaimana diteriaki Kim Hoat. Karena itu dengan berbareng dua orang perdengaran jeritan kaget. Jeritan itu menandakan adanya dua korban!

Jitu serangan Tin Ok kali ini, Cie Kee terlalu perhatikan tongjin, ia kena tertipu si buta, yang menyerang ke lain jurusan. Ia tidak lolos dari semua empat lengkak, yang satu mengenai pundak kanannya, hingga ia menjadi kaget dan menjerit karenanya.

Jeritan yang lain dikeluarkan oleh Han Siauw Eng. Selagi nona ini maju menyerang, lengkak yang mengarah bagian sun tepat mengenai pundaknya tanpa ia ketahui atau dapat berdaya mengelakkannya.

Kwa Tin Ok kaget berbareng girang. “Citmoay, lekas kemari!” ia memanggil. Ia tahu, lengkaknya sudah nyasar di tubuh adik bungsunya itu. Inilah yang membikin ia kaget. Ia girang sebab ia dengar suaranya si imam.

Han Siauw Eng tahu senjata rahasia kakaknya ada racunnya, benar sementara itu ia cuma merasai sakit sedikit, lama-lama sang racun akan bekerja mencelakai ia, justru ia lagi ketakutan, ia dengar teriakannya kakak itu, tanpa sangsi lagi, ia lari kepada itu kakak.

“Toako!” ia memanggil.

Tin Ok lantas rogoh sakunya, ia keluarkan sebutir pil kuning, dengan lantas ia jejalkan itu ke mulut adiknya. “Lekas kau rebahkan diri di taman belakang, di tanah!” kakak ini beri petunjuk. “Kau tidak boleh bergerak sedikit juga. Kau mesti tunggu sampai aku datang untuk mengobati!”

Sebenarnya Siauw Eng keras kepala, tetapi ia dengar kata, ia terus lari ke belakang.

“Jangan lari, jangan lari!” Tin Ok teriaki, “Tenangi hati, jalan perlahan-lahan saja!”

Siauw Eng mendusin, ia lantas damprat dirinya sendiri. Siapa terkena senjata rahasia yang beracun itu, dia tidak boleh keluarkan tenaga, racun bisa mengikuti jalan darah segera menyerang ke ulu hati, kalau sampai itu terjadi, maka tidak ada obat lagi untuk menolong. Maka ia lantas berjalan dengan berpalahn tetapi tetap.

Cie Kee terkena senjata rahasia, ia tidak perhatikan itu, ia baru sadar kapan ia dengar teriakannya Tin Ok kepada Siauw Eng, yang dilarang lari. Justru itu, ia merasakan pundaknya sedikit kebas. Lantas ia menduga bahwa senajata rahasia itu ada racunnya. Niscaya sekali ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya. Karena ini ia lantas tak berani melanjuti pertempuran itu. Dengan tiba-tiba ia rangsak Lam Hie Jin, muka siapa ia hajar.

Lam San Ciauw-cu lihat bahaya datang, ia tidak mau singkirkan diri, sambil pasang kuda-kudanya, ia lintangi pikulannya di depan mukanya. Itulah gerak “Tiat so heng kang” atau ” Rantai besi dilintagi di sungai”. Dengan senjatanya itu hendak ia sambut pukulan musuh.

Khu Cie Kee tahu maksudnya lawan itu, ia tidak batalkan serangannya, ia melangsungkannya. Maka pikulannya Hie Jin kena terhajar, begitu jeras, hingga tubuhnya si Tukang Kayu dari Gunung Selatan menjadi tergetar dan kedua tangannya dirasakan sangat sakit. Sebab telapakan tangannya pecah dan mengeluarkan darah, hingga genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Tidak begitu saja, akibat lainnya menyusul. Hie Jin lantas merasa tubuhnya enteng, kedua matanya kabur, mulutnya manis, terus ia muntahkan darah hidup!

Cie Kee telah dapat melukakan lawan yang menghalangi ia, ia sendiri pun rasai pundaknya semakin kebas dan kaku. Sekarang ia merasakan bahwa jambangan di tangannya itu menjadi berat. Ia jadi berkhawatir. Maka sambil membentak keras, ia menyapu kepada Han Po Kie yang maju untuk serang padanya.

Si cebol lari berkelit.

“Ke mana kau hendak lari?!” bentak Tiang Cun Cu yang terus tolak tangan kanannya, sekalian diputar, dikasih turun. Dengan begitu, jambangannya jadi menungkrap dari atas, menyambar si cebol itu, selagi dia ini belum tiba di lantai, sehingga ia tidak bisa berkelit. Untuk tolong diri, ia pengkeratkan tubuhnya. Ketika mulut jambangan tiba di lantai, si cebol kena ketutup!

Setelah itu Cie Kee lepaskan tangannya dari jambangan itu, sebaliknya, ia hunus pedangnya. Ia lantas lompat mencelat ke arah genta, untuk membabat rantai gantungannya, berbareng tangan kirinya menolak tubuh genta itu yang beratnya mungkin ratusan seribu kati. begitu rantai putus, genta jatuh menimpa jambangan, kerena mana meski ia bertenaga besar, Han Po Kie tidak sempat berdaya untuk membalikkan jambangan itu, untuk keluar dari kurungan.

Sementara itu pucat mukanya Khu Cie Kee, peluhnya lantas turun menetes.

“Lekas lemparkan pedangmu, menyerah!” Kwa Tin Ok teriaki lawan itu. Berayal sedikit saja, jiwamu bakal tidak tertolong!”

Si buta ini merasa pasti mengenai lawannya itu.

Cie Kee tidak mau serahkan diri. Ia percaya, menyerah berarti celaka. Maka ia putar pedangnya, ia mau membuka jalan. Tapi Tin Ok dan Cu Cong merintangi padanya.

Advertisements

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: