Kumpulan Cerita Silat

05/07/2008

Kisah Membunuh Naga (05)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:35 am

Kisah Membunuh Naga (05)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sementara itu, karena leher dan badannya tak bisa bergerak, Jie Thai Giam hanya bisa melihat bendera piauw yang tertancap di pot bunga. Untuk sejenak seluruh ruangan sunyi senyap dan yang terdengar hanyalah bunyi lalat yang beterbangan kian kemari. Lain suara yang didengarnya ialah suara nafas Touw Tay Kim yang tersengal-sengal. Walaupun tak melihat mukanya, ia bisa menebak, bahwa Cong piauw tauw itu tengah mengawasi emas yang berkeredepan dengan mata membelalak.

Beberapa saat kemudian, barulah terdengar suara Touw Tay Kim, “In Toa ya, piauw apa yang mau diantar?”

“Lebih dulu jawablah pertanyaanku,” sahutnya. “Apakah kau bisa memenuhi tiga syarat yang diajukan olehku…”

Touw Tay Kim menepuk lututnya seraya berkata, “In Toa ya, sesudah kau memberi hadiah yang begitu besar, biarlah aku mempertaruhkan jiwa untuk memenuhi segala permintaanmu. Kapan aku bisa menerima piauw itu?”

“Piauw yang harus dilindungi dan diantar olehmu adalah orang rebah di balai-balai itu,” jawabnya dengan suara dingin.

Tanpa merasa, Touw Tay Kim mengeluarkan seruan tertahan bahkan herannya.

Jie Thay Giam terkesiap. Ia membuka mulut tapi suara yang mau dikeluarkan tak bisa keluar.

Dengan menggunakan seantero tenaganya, ia coba melompat turun, tapi tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun. Sekarang baru ia tahu, racun Cit seng teng benar-benar lihai.

“Apa…apa…benar tuan ini?” menegas Touw Tay Kim dengan suara terputus-putus.

“Tak salah,” jawabnya. “Kau sendiri yang harus mengantarkannya. Kau bolah menukar orang. Dalam sepuluh hari, kau sudah mesti tiba di Bu Tong san, Siang yang hoe, propinsi Ouw pak, dan menyerahkan orang itu kepada Thio Sam Hong, Ciang coen Couw soe Bu Tong Pay.”

“Bu Tong Pay?” menegas Touw Tay Kim. “Biarpun tak mempunyai ganjalan apa-apa dengan Bu Tong Pay, tapi kami, murid-murid Siauw Lim Sie jarang…jarang sekali berhubungan dengan mereka …Ia…”

“Jika gagal, kau tak akan dapat mengganti kerugian dengan laksaan tail emas,” kata si orang she In dengan suara tawar.

“Katakan saja. Terima atau tidak. Mengapa sebagai seorang laki-laki kau begitu sukar mengambil keputusan?”

“Baiklah, dengan memandang muka In Toanya, Liong-boan Piauw-kiok menerima baik piauw ini,” jawabnya.

Orang ini tersenyum. “Hari ini Sha gwe Jie kauw (bulan tiga tanggal 22),” katanya. “Kalau pada Sie gwee Cee kauw Ngosie (bulan empat tanggli 9), tengah hari, kau belum menyerahkan tuan ini kepada Ciong boen Couwsoe Bu Tong Pay, aku akan membasmi besar-kecil tujuh puluh satu orang di Liong baen Piauw kiok. Malah ayam dan anjingpun tak akan diampuni olehku!”

Ancaman itu disusul dengan suara “trik trik” dan belasan jarum perak yang halus menancap di pot bunga itu yang lantas saja hancur jadi puluhan keping yang jatuh berhamburan di lantai.

Timpukan senjata rahasia itu yang disertai dengan lwekang dahsyat benar-benar mengejutkan. Touw Tay Kim mengeluarkan seruan kaget sedang Jie Thay Giam pun terkesiap.

“Ayoh pulang!” bentak si orang she In. Dua tukang gotong lalu saja menaruh balai-balai di atas lantai dan segera meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru.

Selang beberapa saat, sesudah dapat menentramkan hati Touw Tay Kim menghampiri Jie Thay Giam seraya menanya, “Bolehkah kutahu she dan nama tuan yang mulia? Apa benar tuan dari Bu Tong Pay ?”

Thay Giam tak dapat berbicara. Ia hanya mengawasi Cong piauw tauw itu yang berusia kira-kira lima puluh tahun. Badannya tinggi besar dengan otot-otot lengan yang menonjol keluar dan parasnya angker sekali. Melihat potongan badan dan gerakan orang itu, Thay Giam tahu bahwa ia adalah seorang ahli ilmu silat Gwa kang(ilmu silat luar).

“In Toaya adalah seorang tampan yang lemah-lembut gerakannya,” kata Touw Tay Kim. “Tak dinyana mereka memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Orang dari partai manakah dia?” Ia mengulangi pertanyaannya beberara kali tapi Thai Giam tetap tidak menjawab dan terus memeramkan kedua matanya.

Hati Cong-piauw tauw itu merasa sangat tidak enak. Ia sendiri adalah seorang ahli melepaskan senjata rahasia sehingga di dalam dunia Kangouw, ia mendapat julukan Ie-pie-him, tapi kepandaian si orang she In betul-betul luar biasa.

Dengan sekali mengebas tangan bajunya belasan batang jarum yang halus bagaikan bulu kerbau telah menghancurkan sebuah pot kristal. Jika tak melihatnya dengan mata kepala sendiri ia tentu tak akan percaya. Ia membungkuk dan menjemput kepingan kristal yang jatuh di lantai ternyata setiap jarum seperti juga terpantek masuk dengan martil ke dalam kristal itu. lwekang yang sedemikian hebat, ia sungguh belum pernah mendengarnya.

Sudah dua puluh tahun lebih Touw Tay Kim mengepalai Liong boen Piauw kiok dan selama itu ia telah mengalami tidak sedikit gelombang dari dunia Kang ouw. Tapi piauw manusia hidup dengan ongkos dua ribu tahil emas bukan saja belum pernah dialami olehnya, tapi juga belum pernah terdengar dalam seluruh sejarah perusahaan piauw.

Sesudah menyimpan emas itu ia segera memerintahkan orang untuk membawa Jie Thai Giam ke sebuah kamar yang sepi supaya si sakit bisa mengaso. Kemudian dengan cepat ia mengumpulkan para piauw tauw, menyiapkan kuda kereta untuk berangkat pada hari itu juga.

Sebelum berangkat, karena merasi tidak enak mendengar ancaman si orang she In, Touw Tay kam lebih dulu berembuk dengan dua orang piaum tauw yang berusia tinggi. Sesudah menghitung-hitung, mereka mendapat kenyataan bahwa dari ibu Touw Tay Kiam sampai bayi Ciok Piauw tauw yang berusia belum cukup sebulan, keluarga Liong boen Piauw kiok tepat berjumlah tujuh puluh satu orang yaitu sesuai dengan jumlah yang disebutkan oleh si orang she In. Mereka bertiga lantas saja saling mengawasi dengan hati berdebar.

“Cong pauw touw,” kata Piauw tauw she Ciok itu. “menurut pendapatku meskipun hadiahnya besar tugas ini terlalu berbahaya, sehingga lebih baik kita menolak saja.”

Piauw tauw yang satunya lagi seorang she Soe, lantas saja berkata, “Ciok Sam ko sayang sungguh pendapatmu diutarakan sesudah kasep. Piauw ini sudah diterima dan apakah Liong boen Piauw kiok yang sudah mendapat nama besar selama dua puluh tahun lebih harus mengembalikannya lagi?”

“Soe Ngo tee,” kata Ciok Piauw tauw dengan suara mendongkol. “Kau menyayang nama besar Liong boen Piauw kiok tapi apa kau tidak menyayangi jiwanya begitu banyak orang? menurut penglihatanku urusan ini sangat mencurigakan dan mungkin sekali orang sedang memasang jebakan untuk menjebak kita.”

Soe Pauw tauw tertawa dingin seraya berkata “Sesudah makan dari perusahaan piauw, memang Siang-malam kita hidup di ujung senjata. Kalau Ciok Sam ko mau hidup tenteram, kau harus berdiam saja di rumah sambil mendukung bayimu dan jangan berkelana di luar.”

Kedua Piauw tauw itu lantas saja mulai bertengkar keras, sehingga Touw Tay Kim harus menengahi, “Jie wie jangan tarik urat,” katanya sambil tersenyum. “Piauw sudah diterima dan kita memang tidak boleh mundur lagi. Orang kata, ‘musuh datang jenderal menyambut, air datang tanah menguruk’. Bahwa Ciok Sam ko memikirkan So So istri kakek lelaki dan anaknya adalah kejadian yang sangat bisa dimengerti. Sekarang begini saja, kita mengirim semua orang tua, perempuan dan anak-anak dari keluarga piauw hang ke sebuah kampung di luar kota Lim an. Tindakan ini bukan sebab kita bernyali kecil, tapi hanya untuk menjaga akan terjadinya segala kemungkinan.”

Sehabis berkata begitu, ia segera memerintahkan sejumlah pegawai piauw hang untuk segera mengantar keluarga para piauw tauw ke sebuah dusun guna menyingkirkan diri sementara waktu.

Semua orang yang bakal mengiring piauw istimewa itu,lantas saja makan kenyang dan mempersiapkan bekalan untuk di sepanjang jalan. Sesudah beres, seorang pegawai segera membawa bendera piauw dengan kedua tangannya dan berjalan ke pintu tengah dari gedung Liong boen Piauw tok. Sambil membuka bendera itu, ia membentak, “Liong boen sam yauw lee, Hie jie hoa wia long!” (Tiga ekor gabus yang sedang melompat dari Liong boen, akan berubah menjadi naga).

Sementara itu, macam-macam pikiran masuk ke dalam otak Jie Thai Giam yang rebah dalam sebuah kereta. “Selama berkelana dalam dunia Kangouw aku selalu memandang rendah orang-orang Phiauw hang, katanya di dalam hati. “Tak dinyana, selagi menghadapi bencana besar, aku harus diangkut ke Bu Tong san oleh mereka.”

Di lain saat, ia bertanya pada dirinya sendiri “Siapakah sahabat she In itu yang sudah menolong jiwaku? Didengar dari suaranya, ia mestinya seorang perempuan dan menurut katanya Cong piauw tauw, parasnya tampan dan ilmu silatnya tinggi. Tapi cara-caranya sungguh luar biasa. Hanya sayang, aku tak dapat melihat wajahnya dan juga tak bisa menghaturkan terima kasih. Jika bisa terlolos dari kebinasaan, aku pasti akan membalas budinya yang sangat besar itu.”

Kereta berjalan terus dan waktu hampir tiba di pintu kota, sekonyong-konyong terdengar teriakkan Touw Tay Kim, “Mengapa kamu kembali? Aku sudah memesan, kamu tak boleh balik ke Lim-an.”

“Cong…cong-piauw-tauw,” demikian terdengar jawaban terputus-putus. “Kuping…kuping kami!”

“Siapa yang potong kupingmu?” teriak pula Touw Tay Kim dengan suara gusar tercampur kaget.

“Selagi…mengantar…Loa tay tay (nyonya tua ibu Touw Tay Kim) keluar kota, baru kira-kira dua li, kami…dicegat orang,” menerangkan orang itu dengan suara gemetar, “Pencegat-pencegat itu bengis dan ganas sekali. Keluarga Liong boen Piauw kiok tidak boleh meninggalkan kota Lim an, kata satu di antaranya. Aku coba melawan dengan mulut, tapi orang itu lantas saja menghunus golok dan memotong kupingku! Kuping meraka…mereka berduapun telah dipotong olehnya. Orang itu menyuruh aku beritahukan Cong piauw tiauw, bahwa jika piauw yang harus diantar tidak tiba pada temponya yang betul, maka…maka…ayam dan anjing akan dibasmi semua.

Touw Tay Kim menghela napas. Ia mengerti bahwa setiap gerak-gerik Liong boen Piauw kiauw sekarang diawasi orang. Sambil mengebas tangan kanannya ia lantas saja berkata. “Baiklah kamu pulang saja. Jaga baik-baik semua keluarga dan gedung Piauw kiok. Jangan keluar kalau tidak terlalu perlu.” Sehabis berkata begitu ia mencambuk kuda dan rombongan itu lantas berangkat.

Dengan secepat-cepatnya mereka menuju ke jurusan barat. Yang mengantar Jie Thai Giam, selain Touw Couw piauw tauw Ciok dan Soe Piauw tauw, masih ada empat orang piauw soe muda yang bertubuh kuat dan kekar. Mereka semua menunggang kuda pilihan dan seperti yang dikatakan si orang she In mereka menukar kereta, menukar kuda-kuda, tapi tidak diperbolehkan menukar orang-orang. Dengan hati berdebar mereka meneruskan perjalanan siang hari dan malam karena mereka tahu bahwa jika terlambat bukan saja jiwa mereka sendiri tapi jiwa semua keluarga Liong boen Piauw kiok pun tak akan bisa ditolong lagi.

Waktu baru keluar dari kota Lim an, Touw Tay Kim menduga, bahwa di sepanjang jalan, ia akan harus mengadu jiwa. Ia harus mengadu jiwa dalam pertempuran-pertempuran mati-matian. Tapi di luar dugaan, sesudah meninggalkan Ciat kang, melewati An hoei dan kemudian masuk dalam propinsi Ouw pak, dalam beberapa hari, mereka tak pernah menemui rintangan apapun juga. Hari itu, telah mereka lewati kota Hoan shia, Thay pang tiam, Sian jin touw, Kong hwa koan. Dia kemudian sesudah menyeberang sungai Han soei, tibalah mereka di Laoho kouw dari mana mereka bisa mencapai Bu Tong san dalam tempo sehari.

Sebelum Ngo sie, mereka sudah tiba di Song kengcoe dan tak lama lagi akan tiba di gunung Bu Tong san. Biarpun di sepanjang jalan cepat lelah tapi mereka tiba pada waktu yang tepat sehingga para piauw tauw jadi sangat girang.

Waktu itu adalah buntut musim semi dan permulaan musim panas. Langit cerah, hawa hangat, pohon-pohon hijau, dan bunga-bunga beraneka warna. Sambil memandang puncak Thian coe hong yang menjulang ke langit dengan cambuknya. Touw Tay Kim berkata, “Ciok Sam tee selama beberapa tahun ini nama Bu Tong Pay jadi semakin tersohor dan meskipun masih belum bisa menandingi Siauw Lim Pay, sepak terjang Bu Tong Cit hiap telah menggetarkan dunia Kang ouw. Dengan melihat Thian coe hong yang begitu angker, aku jadi ingat perkataan orang bahwa jika manusianya jempol tanahnya pun keramat.”

“Biarpun Bu Tong Pay telah mendapat nama besar tapi dasarnya masih sangat cetek dan tak bisa dibandengkan dengan Siauw Lim Pay yang mempunyai sejarah seribu tahun lebih,” kata Ciok Piauw tauw.

“Ambil saja contoh, Cong piauw-tauw sendiri, yang memiliki Jie sie chioe Hang-mo-ciang (Pukulan takluki iblis yang mempunyai duapuluh empat jalan) dan Liam coe Kong-piauw yang bisa dilepaskan beruntun. Siapakah di antara orang-orang Bu Tong yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi itu.”

“Benar”, seru Soe Piauw tauw. “Omongan-omongan dalam kalangan Kangouw kebanyakan tidak boleh dipercaya. Nama Boe tong cit hiap memang cukup tersohor, tapi bagaimana tinggi kepandaian mereka, kami belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mungkin sekali puji-pujian itu diberikan oleb orang-orang kampung yang belum pernah melihat luasnya dunia.”

Touw Tay Kim hanya bersenyum. Sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan banyak lebih tinggi daripada kedua Piauw-tauw itu, ia yakin, bahwa nama besarnya Bu Tong Pay bukan nama kosong dan Bu Tong Cit hiap pasti memiliki kepandaian luar biasa. Akan tetapi karena selama duapuluh tahun lebih ia memang jarang bertemu dengan tandingan maka ia sangat percaya akan kepandaiannya sendiri. Sudah berulang-ulang ia mendengar umpakan kedua piauw tauw itu dan sebagai manusia biasa, ia tetap merasa girang setiap kali bila mendengar pujian yang muluk.

Sembari beromong-omong, ketiga piauw tauw itu berjalan dengan rendengkan kuda mereka. Semakin lama jalanan gunung semakin sempit sehingga orang tidak bisa jalan berendeng dan Soe Piauw tauw lalu menahan tali kuda untuk berjalan di sebelah belakang.

“Cong piauw tauw kalau sebentar kita bertemu dengan Thio Sam Hong, peradatan apa yang dijalankan kita”, tanya Ciok piauw tauw.

“Kita bukan dari partai dan tak punya ikatan apapun juga” jawabnya. “Akan tetapi Thio Sam Hong sudah berusia sembilan puluh tahun dan dalam rimba persilatan dapat dikatakan ialah yang merasa paling tua. Untuk menghormati seorang Ciau pwee dari rimba persilatan tidak halangannya jika kira berlutut di hadapannya.”

“Menurut pendapatku, begitu bertemu kita berteriak, “Thio Cinjin, Boanpwee memberi hormat dengan berlutut!” ia tentu akan berlaku sungkan dan coba mencegah,” kata Ciok Piau tauw, “dengan demikian kita boleh tidak usah menjalankan peradatan yang besar itu..”

Touw Tay Kim tidak memberi jawaban. Ia hanya bersenyum karena ia sedang coba menebak asal usul Jie Thai Giam.

Selama sepuluh hari Thai Giam tidak pernah bergerak dan juga tidak pernah mengeluarkan sepatah kata. Makan-minumnya dan segalanya harus ditolong oleh pegawai piauw kiok. Sudah beberapa hari Tauw Tay Kim dan lain piauw tauw coba menduga-duga tapi mereka tetap tak bisa menebak siapa adanya pemuda itu. Apa dia murid Bu Tong Pay? Sahabat atau musuh Bu Tong? Semakin mendekat Bu Tong San semakin besar rasa heran mereka. Tapi mereka ingat bahwa begitu lekas bertemu dengan Thio Sam Hong, teka teki itu akan terpecah sendirinya. Hanya mereka tak tahu, apa pertemuan itu akan berbuntut dengan kecelakaan atau keberuntungan.

Selagi Touw Tay Kim mengasah otak di sebelah barat tiba-tiba terdengar suara kaki kuda. Untuk menyelidiki Ciok piauw tauw lantas saja mengebrak tunggangannya yang segera kabur terlebih dulu. Beberapa saat kemudian ia melihat enam penunggang kuda yang setelah berada dalam jarak belasan tombak dari rombongan piauw mendadak menahan les dan menghadang di tengah jalan. Tiga orang terbaris di depan dan tiga orang di sebelah belakang.

“Apakah bakal muncul rintangan di kaki Bu Tong San?” Touw Tay Kim bertanya di dalam hati. Ia mendekati Soe Piauw tauw dan ber bisik. “Hati-hati jaga kereta.”

Sementara itu seorang pegawai piauw kiok sudah menggoyang-goyangkan bendera ikan gabus sebagai satu pemberian harmat, sedang Touw Tay Kim sendiri segera majukan kudanya untuk menyambut keenam orang itu. “Liongboen Piauw kiok numpang lewat di tempat sahabat dan jika kami berlaku kurang hormat mohon sahabat sudi memaafkan” katanya seraya membungkuk.

Di antara enam pencegat itu terdapa dua orang toosoe (imam) yang memakai topi kuning sedang yang lainnya adalah orang-orang biasa. Mereka semua menyoren golok atau pedang dan sikapnya angker sekali. Mendadak Touw Tay Kim mendapat satu ingatan, “Apakah mereka bukan enam pendekar dari Boe tong Cit hiap?” tanyanya di dalam hati ia segera menggebrak tunggangannya dan berkata sambil merangkap kedua tangannya “Aku adalah Touw Tay Kim dari Liong boen Piauw kiok, bolehkah aku mendapat tahu she dan nama saudara yang mulia?”

“Perlu apa Touw heng datang di Bu Tong San”, tanya salah seorang yang berdiri di sebelah kanan. Orang itu bertubuh jangkung sedang pada pipi kirinya terdapat sebuah tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut yang panjang. “Piauw kiok kami telah diminta membawa seorang yang terluka berat ke Bu Tong San untuk diserahkan kepada Ciang boen dari partai saudara-saudara, Thio Cinjin,” jawabnya.

“Kami telah diminta oleh seorang she In untuk membawa tuan itu ke gunung ini,” sahutnya. “Siapa adanya tuan itu, bagaimana ia mendapat luka dan duduknya persoalan semua tak diketahui oleh kami. Liong Boen Piauw kiok hanya menerima permintaan orang dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Mengenai soal pribadi, kami selamanya belum pernah mencari tuan.”

Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun bekerja dalam perusahaan piauw, Touw Tay Kim punya pengalaman luas. Dengan berkata begitu, ia mencuci bersih segala kemungkinan yang bisa merembet kepada Liong boen Piauw kiok. Baik Jie Thai Giam seorang sahabat maupun musuh Bu Tong Pay, keenam orang itu tak bisa menjadi gusar terhadapnya.

Orang yang bertahi lalat menengok kepada dua kawannya seraya berkata. “Orang she In? Siapa orang itu?”

“Ia adalah seorang pemuda yang berparas tampan dan mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu melepaskan senjata rahasia,” menerangkan Touw Tay Kim.

“Apa kau pernah bertempur dengannya ?” tanya pula si penyegat.

Touw Tay Kim jadi bingung dan menjawab dengan gugup, “Tidak…tidak…dia yang…”

Belum habis perkataannya salah seorang lain sudah membentak, “Mana To Liong To? Dalam tangan siapa golok itu berada ?”

“Apa itu To Liong To?” menegas Touw Tay Kim dengan kaget. “Apakah Boe lim cie coen, Po to to liong yang tersohor?”

Orang yang membentak ternyata beradat berangasan. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera melompat turun dari tunggangannya menghampiri kereta, membuka tirai lain melongok ke dalamnya.

Melihat gerakan orang itu yang gesit luar biasa, Tauw Tay Kim jadi semakin bercuriga. “Apakah kalian bukan Bu Tong Cit hiap yang namanya tersohor dalam dunia Kangouw?” tanyanya. “Yang mana Song Tay hiap? Sudah lama kudengar nama besarnya dan aku ingin sekali bertemu muka.”

“Nama itu hanya nama kosong belaka dan tidak-cukup berharga untuk disebut-sebut,” kata orang yang bertahi lalat. “Touw heng terlalu merendahkan diri.”

Sesaat itu, si berangasan sudah melompat pula ke atas punggung kudanya. “Lukanya sangat berat dan harus segera ditolong ” katanya. “Biarlah kita saja yang membawanya.”

Orang yang bertahi lalat lalu merangkap kedua tangannya seraya berkata dengan suara manis, “Untuk capai lelah Touw heng yang dari jauh sudah mengantar sampai di sini, Siauwte menghaturkan banyak terima kasih.”

Tauw Tay Kim segera membalas hormat dan mengucapkan perkataan merendahkan diri.

“Saudara itu mendapat luka yang sangat berat, maka biarlah kami saja yang membawanya ke atas gunung untuk segera ditolong.” kata pula orang itu.

Toaw Tay Kim yang memang ingin melepaskan diri dari tanggung jawab selekas mungkin lantas saja berkata, “Biarlah. Kalau begitu di sini saja kami menyerahkan tuan itu kepada Bu Tong Pay.”

“Touw heng jangan kuatir,” kata orang itu. “Sekarang Siauwte yang bertanggung jawab. Apakah ongkos piauw sudah dibayar?”

“Sudah dibayar cukup,” jawabnya.

Orang itu lalu mengeluarkan sepotong emas yang beratnya kira-kira seratus tahil dan berkata sambil mengangsurkan kepada Touw tay Kim, “Ini untuk beli teh, harap Touw heng suka membagi-bagikan kepada saudara-saudara yang lain.”

Cong piaw tauw itu menolak dengan keras. “Dua ribu tahil emas sudah lebih daripada cukup.” katanya. “Aku bukan seorang tamak.”

“Hm. Dua ribu tahil emas…” kata orang yang bertahi lalat itu. Dua kawannya lantas saja majukan tunggangan mereka, yang satu melompat ke atas kereta, mengambil tali dari tangan kusir dan lalu menjalankan kereta itu sedang yang satunya lagi mengikuti dari belakang.

Orang yang bertahi lalat mengayun tangan dan melemparkan potongan emas itu ke arah Touw Tay Kim. “Touw heng jangan berlaku sungkan,” katanya seraya tertawa. “Kalian kembali saja ke kota Lim an.”

Melihat potongan emas melayang kehadapannya, Touw Tay Kim terpaksa menyambutnya. Sebenarnya ia masih ingin memulangkannya tapi orang itu sudah berlaku dengan kaburkan tunggangannya.

Di sebelah kejauhan ia lihat lima orang mengiring kereta yang muat Jie Thai Giam dan sesudah membelok di suatu tikungan mereka menghilang dari pemandangan. Di lain saat melihat potongan emas yang dicekal dalam tangannya, ia terkesiap karena terdapatnya sepuluh tapak jari yang dalamnya kira-kira setengah dim.

Apa yang lebih luar biasa, ialah, tapak jari-jari itu sampai urat-uratnya, terpeta nyata di atas potongan emas itu. Walaupun emas lebih lembek dari pada besi atau tembaga, tapi tenaga jari tangan itu yang disertai dengan lwekang yang sangat dahsyat benar-benar mengejutkan.

Sambil mengawasi emas itu dengan mulut ternganga, ia berkata dalam hatinya “Bu Tong Cip hiap sungguh-sungguh lihai. Di dalam Siau Lim Pay, mungkin hanya satu dua susiok yang mempelajari Kim kong cie yang mempunyai kepandaian seperti itu.”

Melihat pemimpin mengawasi potongan emas itu dengan bengong, Ciok Piauw tauw berkata, “Cong piauw-tauw, murid-murid Bu Tong agak tak tahu adat. Sesudah bertemu muka, mereka sama sekali tidak memperkenalkan diri dan juga tidak menanyakan she dan nama kita. Dari tempat yang jauhnya ribuan li, kita datang ke sini. Tapi, mereka merasa tak perlu untuk mengundang kita bersantap atau menginap semalaman datam kuil mereka. Sebagai sesama orang rimba persilatan, sikap mereka sangat tidak manis.”

Di dalam hati, memang Touw Tay Kim merasa sangat tak puas akan sikap orang-orang itu, hanya ia tak mengatakan terang-terangan. Maka itu mendengar perkataan rekannya, ia segera berkata dengan suara tawar, “Dengan adanya mereka, kita bisa menghemat tenaga. Bukankah ada baiknya juga?”

“Di samping itu, aku sebenarnya agak tak enak jika orang-orang Siauw Lim Pay mesti masuk ke dalam kuil Bu Tong Pay. Jie-wie Hiantee marilah kita berangkat pulang!”

Dalam perjalanan itu, meskipun tidak menemui halangan, Liong boen Piauw-kiok telah dihina orang. Bahwa Bu Tong Liok-hiap sudah tidak mamperkenalkan diri, merupakan tanda bahwa mereka tak memandang sebelah mata kepada Piauw kiok itu. Semakin memikir Touw Tay Kim jadi semakin mendongkol dan diam-diam ia menghitung cara bagaimana sakit hati itu bisa dibalasnya.

Dalam perjalanan pulang itu sedang si pemimpin diliputi dengan kemasgulan, para Piauw tiauw dan pegawai bergirang-girang. Sesudah capek sepuluh hari dan sepuluh malam, Liong boen Piauw-kiok bisa mengantongi duaribu tail emas dan Cong piauw tiauw mereka yang terbuka tangannya, sudah pasti akan memberi hadiah besar.

Di waktu magrib, mereka sudah melewati Song kengcoe. Melihat Touw Tay Kim masih berduka Ciok piauw-touw berkata, “Cong-piauw, jangan kau terlalu jengkel. Gunung tinggi dan air panjang di lain hari dalam dunia Kangouw, kita pasti akan bisa berpapasan lagi dengan mereka. Hm! Berapa lama Bu Tong Cit-hiap bisa bertahan?”

Touw Tay kim menghela napas. Ciok Hiante katanya. “Ada suatu hal yang sangat dibuat menyesal olehku.”

“Hal apa?” tanyanya.

Baru saja ia berkata begitu, di sebelah belakang tiba-tiba terdengar suara kaki kuda. Tindak kuda itu tidak begitu gencar malah boleh dikatakan perlahan. Tapi sungguh heran, semakin lama kedengarannya semakin dekat. Semua orang lantas saja menengok ke belakang. Ternyata kuda itu mempunyai kaki yang amat panjang sedang bendinya pun kira-kira dua kaki lebih tinggi daripada kuda biasa. Dengan kaki yang panjang langkahnya sangat lebar sehingga biarpun larinya tak terlalu cepat, jarak yang dicapai lebih jauh daripada kuda biasa. Bukan saja istimewa tubuh dan kakinya, gerakannya angker sekali sedang bulunya mengkilap seperti dipoles minyak.

“Bagus benar kuda itu!” memuji Ciok piauw tauw. Ia terdiam sejenak dan kemudian berkata, “…Cong pit tauw, apakah kami berbuat sesuatu kesalahan?”

“Bukan, bukan kalian berbuat kesalahan,” jawabnya dengan suara duka. “Apa yang aku ingat adalah kejadian pada duapuluh lima tahun berselang. Waktu itu, sudah dua belas tahun aku belajar dalam Siauw Lim Sie dan sudah memenuhi syarat-syarat sebagai murid yang lulus. Guruku Goan-hiap Sian soe coba membujuk supaya aku berdiam lagi lima tahun guna belajar lima Tay kim kong ciang. Tapi sebagai seorang pemuda yang pendek pikiran, aku menganggap bahwa kepandaianku, sudah cukup untuk aku malang-melintang dalam dunia Kangouw. Maka itu, ditambah lagi dengan rasa tak tahan untuk hidup menderita terlebih lama di dalam kuil, aku sudah menolak bujukan In soe. Hai! Jika pada waktu itu aku belajar lagi lima tahun, hari ini aku tentu tak akan dihina oleh murid-murid Bu Tong…”

Baru berkata sampai di situ, orang yang menunggang kuda jempolan itu, yang bulunya berwarna hijau putih, sudah menyandak dan kemudian melewati rombongan piauw hang. Selagi lewat, si penunggang kuda melirik Touw Tay Kim dan Ciok Ptauw tauw dengan paras muka heran.

Touw Tay Kim pun mengawasi orang itu yang ternyata adalah seorang pemuda tampan yang berusia kira-kira dua puluh dua tahun dengan paras muka yang angker.

Dilihat sekelebatan, ia seorang yang bertubuh kecil lemah tapi sesudah diawasi dalam tubuh yang kecil itu terdapat gerakan-gerakan yang gesit, lincah dan mantap. Sambil merangkap kedua tangannya, pemuda itu berseru, “Numpang lewat! Numpang lewat!” Dalam sekejap, kuda itu sudah kabur di depan rombongan piauw hang.

Sembari mengawasi byangan pemuda itu, Touw Tay Kim bertanya, “Ciok Hian tee, bagaimana pendapatmu mengenai orang muda itu ?”

“Dia turun dari atas gunung mungkin sekali salah seorang murid Boe tong.” jawabnya. Tapi ia tidak membekal senjata dan badannyapun kelihatan lemah. Bisa jadi juga ia seorang biasa saja dan bukan murid Boe tong.”

Mendadak, pemuda itu memutar tunggangan nya dan balik kembali. Jauh-jauh ia sudah memberi hormat seraya berkata, “Maaf ! Siauwtee ingin ajukan satu pertanyaan, harap kalian tidak jadi gusar.”

Mendengar kata-kata yang manis itu, Touw Tay Kim segera menahan les dan balas menanya, “Pertanyaan apa ?”

Seraya melirik bendera ikan gabus yang dicekal oleh seorang pegawai piauw hang, pemuda itu berkata. “Apakah kalian dari Liong-boen Piauwkiok dikota Lim-an ?”

“Benar,” jawab Ciok Piauw tauw.

°Boleh aku mendapat tahu she dan nama sahabat-sahabat yang mulia?” tanya lagi pemuda itu “Apakah Touw Cong-piauw-tauw baik?”

Ciok-piauw-tauw merasa senang sekali melihat cara-cara pemuda itu yang ramah tamah, tapi karena orang-orang Kang-ouw sangat sukar ditebak isi hatinya, maka ia belum berani bicara terus terang. “Aku she Cok, siapakah sahabat?” katanya. “Apakah sahabat men genal Cong-piauw tauw dari piauw-kiok kami?”

Pemuda itu lantas saja melompat turun dari tunggangannya dan maju beberapa tindak dengan satu tangan menuntun kuda. “Aku she Thio, namaku Coei San,” ia memperkenalkan diri. “Sudah lama kudengar nama besar dari Cong piauw tauw hanya sayang aku belum bisa berkenalan dengannya.”

Begitu mendengar nama “Thio Coei San” Touw Tay Kim dan yang lain-lain terkejut bukan main. Nama Thio Coei San “Touw tong Cit hiap” dan dalam beberapa tahun yang terakhir namanya sangat terkenal dalam Rimba Persilatan. menurut katanya orang ia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan tidak dinyana, ia bukan saja masih berusia begitu muda, tapi gerak geriknya juga menyerupai anak sekolah yang lembut.

Dengan rasa sangsi Touw Tay Kim majukan kudanya seraya berkata, “Aku yang rendah ialah Touw Tay Kim. Apakah tuan bukan Gin kauw Tiat hoa Thio Ngo hiap?”

Muka pemuda itu lantas saja bersemu dadu “Pendekar apa?” tanya dengan suara jengah. “Pujian Touw Cong piauw-touw terlalu tinggi untuk diterima olehku. Sesudah datang di Boe tong-san, mengapa kalian tidak mampir di tempat kami? Hari ini adalah hari ulang tahun kesembilanpuluh dari guru kami dan jika sekiranya tidak menjadi halangan aku mengundang saudara-saudara naik kegunung untuk minum arak panjang umur.”

Senang sekali hati Touw Tay Kim dan yang lain, “mengapa di antara Boe tong Cit hiap terdapat perbedaan watak yang begitu besar?” Kata Ciong piauw tauw itu di dalam “Enam orang yang jadi begitu tak mengenal adat tapi Thio Ngo hiap sedemikian tambah ramah. Ia lantas saja melompat turun dari tunggangannya dan herkata, “Dari Lim-an kami datang di Siangyang dan tujuan kami sebenarnya adalah untuk menemui Thio Cinjin. Hanya…hanya tidak membawa barang antaran, kami merasa malu untuk mendaki gunung.”

Thio Coei San tersenyum. “Kita semua sama dari kalangan Rimba Persilatan,” katanya dengan suara halus, “Toaw Cong piauw tauw janganlah menganggap kami sebagai orang luar. Guruku sering mengatakan bahwa ilmu silat Boe tong pay bersumber dari Siauw lim dan ia memesan bahwa jika bertemu dengan Cian pwee Siauw lim pay kami harus menghormatnya sebagaimana mustinya kalau guruku tahu rombongan Toaw Cong piauw tauw lewat di kaki gunung siang-siang ia tentu sudah memerintahkan kami menyambut dari tempat yang jauh.”

Mendengar perkataan itu Touw Tay Kim jadi salah mengerti, ia menduga Thio Coei San hanya berpura-pura dan dalam perkataan yang tajam. Ia tertawa dan berkat dengan suara tawar. “Walaupun ilmu silat Boe tong dikatakan tersumber dari Siau lim sie akan tetapi bagaikan warna-warna hijau sebenarnya berasal dari warna biru tapi pada akhirnya hijau mengalahkan biru. Thio Sian hiap yang masih berusia muda memang sangat dikagumi orang. Tapi manusia yang seperti aku dalam usia yang sudah lanjut ini kepalaku seperti juga menempel di badan anjing.”

“Ah, mengapa Cong piauw tauw”, kata begitu Thio Coei San. “Dalam kalangan Kang ouw, siapakah yang tidak mengenal nama besar Lioag boen Piauw kiok? Dalam Rimba Persilatan semua orang tabu liehaynya Jie cap sie chioe Hong mo ciang dan Lian coe Kong piauw. Touw Cong piauw tauw apakah kau boleh memperkenalkan beberapa Toako ini kepadaku?”

Mendengar permintaan orang yang diajukan secara pantas, Touw Tay Kim lantas saja memperkenalkan Ciok dan Soe Piauw tauw kepada pemuda itu.

“Aku sungguh merasa beruntung bahwa dini hari bisa berkenalan dengan saudara-saudara yang mempunyai nama besar dalam Rimba Persilatan” kata pula pemuda itu. “Dulu Kim to golok emas dari Ciok Piauw tauw telah merohohkan Ie yang Ngo hiang (Lima Jago Ie yang) dijalankan Sin an sedang ilmu silat toya Sam gie koen dari Soe Piau tauw juga tidak kurang tersohornya.”

Sebagai seorang murid yang sangat disayang oleh Thio Sam Hong pemuda itu mempunyai pengetahuan yang sangat luas mengenai didunia Kang ouw karena dia sering mendengari cerita gurunya.

Dengan otak yang cerdas dan peringatan yang kuat apa yang sudah didengarnya tidak terlupa lagi sebagai Couw soe Boe tong pay yang sudah mencapai usia sembilan puluh tahun dan mempunyai pergaulan luar, Thio Sam Hong dapat dikatakan mengenal semua partai semua cabang persilatan dan semua tokoh dan segala pengalamannya serta pengetahuannya sering diceritahan kepada murid-muridnya. Maka itu, begitu mendengar nama Ciok dan Soe Piaaw tauw, Thio Coei San lantas saja bisa menyebutkan kepandaian yang sering diandalkan dari kedua orang.

Bahwa pemuda itu mengenal kepandaian Touw Tay Kim yang namanya sudah terkenal selama puluhan tahun, bukan kejadian yang meng herankan. Tapi pengetahuannya mengenai Ciok dan Soe Piauw tauw, yaitu ahli-ahli silat kelas empat atau kelas lima, ada sedikit luar biasa. Tak usah dikatakan lagi, pujian yang diucapkan dengan nada sungguh-sungguh itu, menggirangkan sangat hatinya ketiga pemimpin piauw hang itu.

“Cong piauw tauw” kata Ciok piauw tauw. “Hari itu secara kebetulan adalah hari ulang tahun orang tua itu. menurut pendapatku, memang pantas jika kita naik ke atas untuk menberi selamat panjang umur.”

“Benar,” kata Thio Coei San. “Sesudah kalian datang ke sini, kami harus memenuhi tugas sebagai tuan rumah. Beberapa saudara seperguruanku adalah orang-orang yang sangat suka bergaul. Marilah, aku mengundang kalian menginap semalam dua malam.”

Sesudah mendengar pembicaraan itu, Touw Tay Kim mendapat lain pikiran. “Bagaimana dia bisa tahu begitu tegas mengenal Ciok dan Soe Piauw tauw?” tanya di dalam hati. Dalam hal ini mungkin terdapat lain latar belakang. Apakah karena perbuatannya yang tak mengenal adat keenam orang yang tadi sudah ditegur oleh gurunya yang memerintahkan pemuda ini menghaturkan maaf dan mengundang kita?” Memikir begitu, hatinya jadi lebih lega. Ia tertawa seraya berkata, “Kalau saudara seperguruanmu sama ramah tamahnya seperti Thio Ngo hiap, sedari tadi kami sudah naik ke atas gunung.”

“Apa?” menegasi Coei San dengan suara heran. “Apakah Cong piauw tauw sudah bertemu dengan saudara seperguruanku? Yang mana?”

Touw Tay Kim kembali menduga pemuda itu ber-pura-pura. “Hari ini, rejekimu sangat besar,” jawabnya. “Dalam seharian saja, aku sudah bertemu dengan hampir semua anggauta dari Boe tong Cit hiap.”

Pemuda itu jadi semakin heran dan mengawasi pemimpin piauw hang itu dengan mata terbuka lebar. “Apakah kau juga bertemu dengan Jie Sam ko?” tanyanya.

“Apa Jie Thay Giam Jie Sam hiap?” menegas Touw Tay Kim. “Mereka merasa segan untuk memperkenalkan diri, sehingga aku tak tahu, yang mana itu Jie Sam hiap. Aku hanya bertemu dengan enam orang dan mungkin sekali Jie Sam hiap terdapat di antara mereka.,”

“Enam orang?” seru pemuda itu dengan suara kaget. “Sungguh mengherankan ! Siapa mereka ?”

“Mana aku tahu? Saudara-saudara seperguruanmu sendiri yang sungkan memperkenalkan diri,” jawabnya. “Karena kau adalah Thio Ngo hiap maka keenam orang iru mestinya Song Tayhiap dan yang lain-lain”. Waktu berkata begitu, ia menekankan setiap perkataan “Hiap” dengan nada mengejek tapi pemuda itu yang sedang kebingungan tidak memperhatikan ejekan orang.

“Apa benar-benar Cong piauw tauw telah betemu dengan mereka?” menegas pula Thio Coei San.

“Bukan saja aku, tapi semua orang yang mengikut dalam rombongan ini, juga telah lihat mereka,” jawabnya.

Pemuda itu meng geleng-gelengkan kepalanya. “Tak bisa jadi,” katanya dengan suara pasti. “Hari ini, Song Soeko dan yang lain-lain sehari suntuk menemani Soehoe di Giok hie kiong dan setindak pun mereka tak pernah berlalu dari samping Soehoe. Melihat sampai tengah hari Jie Samko belum juga datang, Soehoe telah memerintahkan siauw tee turun gunung untuk menyambutnya. Cara bagaimana Cong piauw tauw bisa bertemu dengan Song Soeko dan yang lain-lain ?”

“Apakah orang yang pada pipinya terdapat sebuah tahi lalat dan pada tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut bukan Song Tay hiap?” tanya Touw Tay Kim dengan hati berdebar-debar.

Coei San terkesiap. “Di antara Soehengteeku tak seorangpun yang bertahi lalat di pipinya,” katanya.

Perkataan itu seperti air dingin yang menggusur kepala Tauw tay Kim. “Keenam orang itu mengatakan mereka adalah Boe tong Liokhiap,” katanya dengan jantung memukul keras. “Di antara mereka terdapat dua toojin yang memakai topi kuning. Tentu saja kami…”

“Biarpun guruku seorang toojin, akan tetapi semua muridnya adalah orang-orang biasa yang tidak memeluk agama,” kata pemuda itu. “Apa kah mereka benar-benar memperkenalkan diri sebagai Boe tong Liok hiap ?”

Touw Tay Kim mengeluarkan keringat dingin. Memang juga orang-orang itu tidak pernah memperkenalkan diri sebagai Boe tong Liok hiap. Adalah ia sendiri yang menganggap mereka sebagai enam pendekar Boe tong, kenyataan yang sebenarnya ialah mereka tidak membantah pada waktu ia mengutarakan anggapan begitu untuk beberapa saat ia dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya mengawasi kedua kawannya dengan paras muka pucat. “Kalau begitu keenam orang itu mengandung maksud jahat”, katanya dengan mendadak, mari kita ubar!” Ia melompat ke atas punggung kudanya yang lalu dikaburkan ke atas gunung.

Thio Coen San pun lantas saja menyusul dan kemudian merendengkan kudanya dengan tunggangan Touw Tay Kim. “Touw heng!” serunya “Perlu apa kita menguber mereka? Tak apa-apa jika mereka menggunakan nama kami.”

“Dalam ini terselip lain hal”, kata Touw Tay Kim. “Bagaimana dengan orang itu? Kami sebetulnya ingin menyerahkan orang ini kepada Thio Cinjin tapi enam orang itu sudah mengambilnya dari tangan kami. Orang itu mendapat luka berat. Celaka sungguh!”

Sambil membedel kudanya dengan suara terputus-putus, ia menceritakan apa yang sudah terjadi.

“Siapa namanya orang itu? Bagaimana macamnya”, tanya Coei San dengan heran.

“Entahlah,” jawabnya “ia terluka berat, tak bisa bicara dan tak bisa bergerak sedang napasnya tinggal sekali-sekali. Ia berusia kurang lebih tigapuluh tahun.” Sesudah berkata begitu ia segera melukiskan roman dan potongan badan Jie Thay Giam.

“Celaka”, teriak Coei San dengan hati mencelus, “itulah Jie Samko!” Beberapa saat kemudian sesudah dapat menentramkan hatinya dengan tangan kiri ia manyentak les kuda Touw Tay Kim.

Binatang itu yang sedang lari keras berhenti dengan mendadak sambil berbengar keras dan berjingkrak sedang mulutnya mengeluarkan darah akibat sentakan itu.

Dengan kaget seraya menghunus golok, Touw Tay Kim melompat turun dari tungganganaya. Ia heran, cara bagaimana pemuda yang badannya begitu kurus lemah bisa mempunyai tenaga yang begitu besar.

“Touw Toako jangan salah mengerti” kata pemuda itu, “dari tempat jauhnya ribuan li Toako telah mengantar Jie Sam ko sampai di sini dan untuk itu semua siauwtee merasa sangat berterima kasih. Maka itu sedikitpun siauwtee tidak mempunyai maksud yang kurang baik.”

Touw Tay Kim segera masukkan goloknya ke dalam sarung tapi tangan kanannya mesih tetap mencekal gagang senjata itu.

“Bagaiman Jie Samko mendapat luka? Siapa musuhnya? Siapa yang minta Touw Toako mengantarkannya sampai di sini?” tanya Coei San.

Tapi antara tiga pertanyaan itu, satupun tak dapat dijawab oleh Touw Tay Kim.

“Bagaimana macamnya keenam orang itu yang mengambil Jie Samko?” tanya pemuda itu. Sebelum Toauw Tay Kim keburu menjawab, Soe Piauw-tauw sudah mendahului dan lalu melukiskan macamnya orang-orang itu.

“Kalau begitu, biarlah Siauwtee coba mengubar mereka”, kata Thio Coei San seraya memberi hormat dan lalu kaburkan tunggangannya sekeras-kerasnya.

Sebagai saudara seperguruan dan dengan bersama-sama melakukan pekerjaan mulia, Boetong Cit hiap mencintai satu sama lain seperti saudara kandung. Mendengar kakaknya luka berat dan jatuh ke tangan orang-orang yang belum di ketahui siapa adanya, bukan main bingung Coei San. Ia membedal mencambuk kuda mustika itu, seolah-olah tidak menghiraukan jika tidak tunggangannya yang disayang mesti lantaran kecapaian. Dalam sekejap ia sudah tiba di Co tiam, satu tempat di mana terdapat tiga cagak jalanan: yang satu naik ke atas gunung, sedang yang lain membelok kejurusan timur laut sampai di kota In-yang.

“Kalau enam orang itu benar-benar mengantar Jie Samko ke atas gunung, waktu turun gunung, aku pasti sudah bertemu dengan mereka,” katanya di dalam hati. Memikir begitu, ia lantas saja mengambil jalanan yang menjurus ke timur laut.

Sesudah lari kurang lebih satu jam, meskipun bertenaga kuat, perlahan-lahan kuda itu menjadi lelah dan semakin lambat. Siang sudah tergantikan dengan malam dan di jalanan gunung yang memangnya sepi, sudah tidak terdapat lagi manusiapun yang bisa diminta keterangannya. Sambil mengubar, pemuda itu, mengajukan macam-macam pertanyaan pada dirinya sendiri “Jie Samko memiliki kepandaian yang sangat tinggi.” Pikirnya. “Bagaimana ia bisa dilukakan orang dengan begitu mudah? Tapi dilihat dari sikap dan perkataan Touw Tay Kim tak bisa jadi ia mendusta.”

Selagi mengasah otak, tiba-tiba kuda itu berbanger dan lari ke sebidang tanah lapang di mana terdapat beberapa kuburan. Thio Coei San mengerti bahwa penyelewengannya binatang itu pasti disebabkan oleh sesuatu yang luar biasa. Dengan waspada ia mengawasi tanah lapang itu. Sesaat kemudian ia mendapat kenyataan, bahwa sebuah kereta roboh terguling di antara rumput yang tinggi.

Setelah lihat seekor keledai rebah di depan kereta itu dengan kepala hancur. Buru-buru ia melompat turun dan menyingkap tirai kereta, tapi di dalamnya tidak terdapat manusia. Ia menengok keseputarnya dan mendadak matanya yang sangat jeli melihat seso sok tubuh manusia rebah di dalam gompolan rumput. Dengan jantung memukul keras, ia menubruk dan mengangkat orang itu. Dengan sekelebatan saja, ia sudah mengenal bahwa orang itu bukan lain dari pada Soekonya yang sedang dicari.

Dalam kegelapan, samar-samar ia lihat kedua mata kakak seperguruan itu tertutup rapat, sedang mukanya pucat bagaikan kertas. Bukan main kaget dan sakit hatinya. Dengan tangan gemetar, ia mendukung sang Soeko dan menempelkan mukanya sendiri di muka yang pucat itu. Tiba-tiba, dalam hatinya yang duka timbul harapan, karena ia merasakan sedikit hawa hangat di pipi Jie Thay Giam. Buru-buru ia meraba dada Soekonya dan ternyata jantung sang kakak masih mengetuk dengan perlahan.

“Samko” teriaknya sambil mengucurkan air mata. “Samko…mengapa kau? Aku Ngotee…Ngoteemu…” Dan perlahan dan hati-hati ia bangun berdiri.

Sekali lagi, jantungnya memukul keras, ke dua tangan dan kedua kaki Jie Thay Giam kontal-kantul ke bawah. Ternyata tulang-tulangnya telah dipukul patah, sedang darah mengalir dari jeriji pergelangan tangan lengan dan betis nya. Melihat kekejaman musuh, Thio Coei San merasa dadanya mau meledak, melihat luka itu ia tahu bahwa musuh belum pergi jauh dan jika diubar ia masih bisa menyandaknya. Dalam kalanya ia lantas saja melompat ke atas punggung kuda untuk mengejar, tapi di lain saat ia mendapat lain pikiran yang lebih jernih. “Luka Jie Samko berat luar biasa dan perlu segera ditolong,” pikirnya. “Jika seorang koencu mau membalas sakit hati, sepuluh tahun masih belum terlambat,”

Karena kuatir goncangan-goncangan di atas kuda memperhebat luka sang Soeko, maka, sesudah berpikir sejenak, ia segera mendukung tubuh Jie Thay Giam dengan hedua tangannya dan lain berjalan pulang dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Kuda jempolan itu, yang mungkin merasa heran mengapa sang majikan tidak menunggunya, mengikuti dari belakang.

—–

Hari itu adalah hari ulang tahun kesembilan puluh dari Couw-soe Boe-tong-pay Thio Sam Hong.

Sedari pagi sekali, Giak-hie-kiong sudah diliputi dengan suasana bersuka ria. Dengan bergiliran, ke-6 muridnya memberi selamat panjang umur dan berlutut. Hanya sayang di antara 7 murid itu masih kurang seorang. Menurut perhitungan, sesudah menjalankan tugas membunuh seorang penjahat besar di Tiongkok Selatan, siang-siang Jie Thay Giam sudah harus kembali. Tapi ditunggu sampai tengah hari, ia belum juga kelihatan mata hidungnya.

“Semua orang di bawah gunung,” kata Thio Coei San. Tapi begitu pergi, Thio Coei San pun tak ada kabar ceritanya. Dengan menunggang kuda istimewa, andaikata ia pergi sampai di Lao ho kouw, iapun sudah mesti pulang lebih siang, tapi ditunggu hingga Yoe sie dari jam 5 sore sampai tujuh malam, ia belum juga kelihatan bayangan-bayangannya.

Di ruang tengah, meja perjamuan sudah di atur rapi, sedang lilin merah sudah habis separuhnya. Semua orang mulai bingung. Murid keenam In Lie Heng dan murid ketujuh Boh Seng Kok sudah keluar masuk puluhan kali, sedang saudaranya yang lainpun tak kurang bingungnya.

Sebagai seorang yang ilmu kebatinannya sudah sangat tinggi, Thio Sam Hong tetap tenang. Tapi ia yakin, bahwa belum pulangnya kedua murid itu mesti disebabkan oleh kejadian sangat luar biasa. Ia kenal baik watak mereka. Jie Thay Giam sangat berhati-hati dan boleh diandalkan untuk memegang pekerjaan penting sedang Thio Coei San seorang pemuda yang cerdas dan selalu bisa bertindak dengan mengimbangi jelatatan.

Serasa mengawasi lilin yang semakin pendek Song Wan Kiauw berkata sambil tertawa “Soe hoe, Jie Samtee dan Thio Ngotee tentulah juga bertemu dengan urusan ganjil dan mereka lalu menggulung tangan baju untuk mencampurinya, Soehoe selamanya menganjurkan kami untuk melakukan perbuatan mulia dan hari ini, hari ulang tahun Soehoe, kedua soetee menolong sesama manusia sebagai hadiah ulang tahun.”

Thio Sam Hong mengurut jenggotnya. “Hm pada hari ulang tahunku yang kedelapanpuluh kau telah menolong seorang janda yang membuang diri ke dalam sumur” katanya seraya tertawa, “perbuatanmu itu memang harus dipuji akan tetapi jika dalam sepuluh tahun baru menolong orang satu kali mereka yang perlu ditolong sungguh harus menunggu dengan sangat tidak sabaran”.

Mendengar perkataan guru mereka lima murid itu lantas saja tertawa geli, tapi adatnya sangat terbuka dan sering sekali ia berguyon dengan murid-muridnya.

“Paling sedikit Soehoe akan bisa hidup dua ratus tahun kata”, Thio Siong Kee murid keempat sambil bersenyum, “jika setiap sepuluh tahun kami melakukan sesuatu perbuatan baik ditambah jumlahnya tidak sedikit.”

Boh Seng Kek murid ketujuh tertawa nyaring, “hanya mungkin sekali kita tak bisa makan umur begitu panjang” katanya.

Baru saja perkataan itu habis diucapkan, Song Wan Kiauw dan Jie Liam Cioe, murid ke dua sekonyong-konyong melompat keluar seraya berteriak:” Apa Samtee!”

“Benar” jawab Thio Coei San dengan suara parau di lain saat dengan kedua tangan pakaian berlepotan darah dan penuh keringat ia bertindak masuk dengan tindakan limbung dan lalu berlutut di hadapan Thio Sam Hong. “Soe hoe…” katanya “Jie Samko.,..telah dibokong orang!”

Semua orang terkesip. Sehabis berkata begitu, badan Thio Coei San bergoyang, dan ia roboh terjengkang karena terlalu lelah dan duka.

Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe adalah orang-orang yang mempunyai pengalaman luas dan mereka tahu sebab musabab dari pingsannya Thio Coei San. Mereka mengerti bahwa apa yang penting adalah Jie Tay Giam. Maka itu dengan berbareng mereka menubruk dan mengangkat tubuh Jie Sam. Begitu meraba dada si adik, hati mereka mencelos sebab napas Jie Thay Giam tinggal sekali.

Melihat muridnya yang disayang terluka begitu berat tanpa mengeluarkan sepatah kata, Thio Sam Hong buru-buru masuk ke kamarnya dan keluar lagi dengan membawa peles Pek houw Tok bang tan (pemulihkan jiwa yang mulutnya ditutup dengan lilin putih). Untuk tidak membuang tempo dengan dua jarinya ia mememijit peles itu yang lantas saja menjadi hancur. Ia mengambil tiga butir pel yang lalu dimasukkan ke dalam mulut Jie Thay Giam. Tapi gigi Jie Sam hiap terkancing dan mulutnya tertutup rapat.

Thian Sam Hong segera mengangkat kedua tangannya dan dengan menggunakan jempol dan telunjuk, ia menotok Liong yauw kiauw di ujung kuping Jie Thay Giam dengan tenaga Ho cweekin. Pada waktu itu kepandaian Thio Sam Hong sudah sedemikian tinggi sehingga dengan Ho cweekin Tiam Liong yauw kiauw, tenaga Ho cwee kin menotol Liong yauw kiauw ia malahan dapat menyadarkan untuk sementara waktu orang. Sesudah menotol dua puluh kali, si murid masih juga tidak bergerak.

Sambil menghela napas, ia segera menengkurupkan kedua telapak tangannya dan menotol jalanan darah Kian kie hiat di dagu muridnya, dengan menggunakan In cioe atau telaga dingin. Sesudah itu, ia membalik kedua telapak tangannya dan menotok pula dengan Yang cioe atau tenaga panas, perlahan-lahan mulut Jie Thay Giam terbuka dan ia lalu menelan tiga butir pil itu.

Tapi otot2 leher Jie Sam hiap sudah menjadi kaku, sehingga biarpun masuk ke dalam tenggorokan pel itu tak bisa turun terus sampai di perut. Guru besar itu segera memerintahkan Thio Siong Kee mengurut leher Jie Thay Giam sedang ia sendiri lalu menotok jalanan darah Kwat poen dan Jie hoe di bagian pundak serta Yang koan dan Beng Boen diujung tulang punggung, supaya sesudah tersadar si murid jangan merasakan kesakitan yang terlalu hebat.

Semenjak Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe berguru biarpun menghadapi urusan yang bagai mana besar, sang guru selalu bersikap tenang. Tapi sekarang tangan guru itu bergemetar sedang paras mukanya mengunjuk rasa bingung sehingga mereka mengerti, bahwa luka adik mereka luar biasa berat.

Selang beberapa saat, Jie Thay Giam mulai tersadar.

“Soehoe,” kata Thio Coei San dengan suara pilu. “Apakah Jie San ko masih bisa ditolong jiwanya ?”

Thio Sam Hong tidak menjawab secara langsung. Ia hanya berkata, “Dalam dunia ini siapa kah yang bisa hidup untuk selama-lamanya ?”

Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang. Seorang toojin kecil masuk ke dalam ruangan itu dan memberitahu, bahwa Touw Tay Kim dan lain-lain piauw tauw Liong boen Piouw kiok datang berkunjung.

Paras muka Thio Coei San lantas saja berubah gusar. “Ini semua gara-gara kawanan manusia itu!” teriaknya seraya melompat keluar.

Di lain saat di luar kelenteng terdengar suara jatuhnya senjata-senjata di atas tanah. Baru saja In Lie Heng dan Boh Seng Kok ingin melompat keluar untuk membantu Soehengnya, Thio Coei San sudah kelihatan berjalan masuk dengan satu tangan menenteng seorang lelaki yang badannya tinggi besar. Sambil melontarkannya keras-keras di atas lantai ia berseru, “Manusia inilah yang sudah merusak urusan besar!”

Di antara Boe tong Cit hiap, In Lie Heng-lah yang beradat paling berangasan. Mendengar orang itu yang menyebabkan terlukanya sang Soeko, ia segera melompat dan mengangkat kaki untuk menendang Touw Tay Kim.

“Lioktee! Tahan!” bentak Song Wan Kiauw.

“Hei! orang-orang Boetong memakai aturan atau tidak?” demikian terdengar teriakan diluar kelenteng. “Kami adalah tamu-tamu yang datang berkunjung. Mengapa kau menghina kami?”

Song Wan Kiauw mengerutkan alisnya. Ia menghampiri Touw Tay Kim dan menepuk belakang kepala dan punggung Cong-piauw-tauw itu, untuk membuka jalanan darahnya. “Yang di luar harap jangan ribut,” teriaknya, “Tunggu sebentar”. Suara itu angker dan nyaring luar biasa dan orang-orang Liong-boen Piauw-kiok yang menduga bahwa teriakan itu adalah teriakan Thio Sam Hong, tak berani banyak ribut lagi.

“Ngo-tee,” kata Song Wan Kiauw. “Bagaimana Samtee bisa mendapat luka begitu berat? Ceritakanlah dengan tenang.”

Sesudah mengawasi Tauw Tay Kim dengan sorot mata gusar, barulah Thio Coei San menerangkan, bagaimana Liong boen Piauw-kiok telah diminta oleh seorang untuk mengantarkan Jie Thay Giam ke Boetong-san dan bagai mana saudara itu akhirnya diambil enam penjahat yang menyamar sebagai murid-murid Boetong. Sedari tadi, sesudah lihat kepandaian Tay Kim, Song Wan Kiauw sudah tahu, bahwa Cong piauw tauw itu bukan orang yang bisa mencelakakan Soe-teenya. Begitu mendengar keterangan Thia Coei San, paras mukanya lantas saja berubah sabar dan dengan kata-kata manis, ia segera bertanya kepada Tauw Tay Kim hal ihwal peristiwa itu.

Touw Tay Kim lantas saja menceritakan segala kejadian seterang-terangnya. Pada akhirnya ia berkata dengan suara duka, “Song Tayhiap, aku benar-benar tolol dan karena kebodohanku, Jie Samhiap mesti menderita begitu lebat. Kutahu bahwa aku berdoa besar sekali dan pantas mendapat hukuman mati. Nasib keluarga kami di Lim an juga belum tahu bagaimana jadinya.”

Selagi muridnya bicara dengan tamu itu, Thia Sam Hong tidak mencampuri dan sambil mengempos semangat terus menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Sincong dan Lengtay untuk memberi bawa panas kepada Jie Thay Giam, Tapi begitu lekas mendengar perkataan Tauw Tay Kim yang berakhir ia segera berkata, “Lian Coe, bersama Seng Kok sekarang juga kau harus berangkat ke Lim an untuk melindungi keluaga Long boen Piauw kiok”

“Soehoe.” kata Thio Coei San dengan suara penasaran. “Orang she Touw itu terlalu gila dan karena gara-garanya, biarpun tidak disengaja Sam soeko mesti menderita begitu hebat. Bahwa kita tidak membuat perhitungan dengannya, dia sudah untung besar. Perlu apa melindungi anak isteri dan keluarganya ?”

Sang guru tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala, sebagai tanda tidak setuju dengan pendapat si murid.

“Ngo tee,” kata Song Wan Kiauw. “Mengapa pemandanganmu begitu sempit? Untuk siapa Tauw Cong piauw tauw datang kemari dengan melalui perjalanan ribuan li ?”

“Untuk mengantongi dua ribu tahil emas,” jawabnya sambil tertawa dingin.

Mendengar perkataan itu, muka Touw Tay Kim lantas saja berubah merah. Dalam hati kecilnya ia juga mengakui, bahwa kesudiannya untuk mengantar Jie Thay Giam memang sebab hadiah yang besar itu.

“Ngo tee!” bentak Song Wan Kiauw. “Jangan kau kurang ajar terhadap tamu kita! Kau sudah terlalu capai pergilah mengaso.”

Dalam kalangan Boe tong pay kedudukan seorang Soeheng sangat diindahkan dan disegani. Baik dalam ilmu silat dan usia maupun dalam pribadi dan kemuliaan Song Wan Kiauw lebih menang setingkat daripada semua saudara seperguruannya.

Maka itu dari Jie Lian Cioe sampai Boh Seng Kok, tak seorangpun yang tidak menghormatinya. Begitu dibentak Thio Coei San tidak berani mengeluarkan suara lagi, tapi ia terus berdiri disitu sebab sangat memikiri keadaan Jie Thay Giam.

“Jie tee,” kata pula Song Wan Kiauw. “Menolong jiwa orang seperti menolong bahaya kebakaran. Sesudah Soehoe mengeluarkan perintah, kurasa lebih baik kau berangkat malam ini juga bersama-sama Cittee,” Jie Lian Cioe dan Boh Seng Kok lantas saja meninggalkan ruangan itu untuk bebenah.

Melihat kedua pendekar itu bersiap-siap untuk pergi ke Lim-an guna melindungi keluarga Liong boen Piauw kiok bukan main rasa berterima kasihnya Touw Tay Kim. Tapi rasa terima kasih itu bercampur dengan rasa malu yang besar.

“Thio Cinjin,” katanya sambil memberi hormat kepada Thio Sam Hong dengan merangkapkan kedua tangannya. “Dalam urusan kami Boanpwee tidak berani merepotkan Jie hiap dan Boan hiap. Sekarang saja kami berpamit.”

“Malam ini kalian menginap saja di tempat kami,” kata Song Wan Kiauw, “Kami masih ingin menanyakan beberapa hal”. Perkataan itu diucapkan dengan manis budi mengandung pengaruh besar yang sukar ditolak, sehingga tanpa membantah lagi Touw Tay Kim segera duduk di pinggiran.

Beberapa saat kemudian Jie Liam Cioe dan Boh Seng Kok mengambil selamat berpisah dari gurunya dan sesudah mengawasi Jie Thay Giam beberapa kali, dengan perasaan tertindih mereka turun gunung untuk menjalankan perintah sang guru. Bahwa mereka merasa berat untuk meninggalkan saudara seperguruannya yang terluka berat, sangat bisa dimengerti, karena masih merupakan pertanyaan, apakah mereka akan bisa bertemu muka lagi.

Seluruh ruangan sunyi senyap dan apa yang terdengar, hanyalah suara nafas Thio Sam Hong yang tersengal-sengal. Di atas kepala guru besar itu kelihatan keluar semacan uap panas, sebagai tanda bahwa Thio Sam Hong tengah mengerahkan Lweekang yang sangat dahsyat. Berselang kira-kira setengah jam, sekonyong-konyong Jie Thay Giam mengeluarkan teriakan menggeledek, sehingga ruangan itu seolah-olah tergetar.

Touw Tay Kim terkesiap dan tanpa merasa, ia melompat bangun dari kursinya. Ia melirik Thio Sam Hong dan dapat kenyataan, paras muka orang itu mengunjuk rasa jengkel atau rasa girang, sehingga sukar sekali ditebak apa artinya teriakan Jie Thay Giam itu.

“Siong Kee, Lie Heng, bawalah Samkomu ke dalam kamar supaya ia bisa mengaso.”

Sesudah menjalankan titah gurunya, mereka masuk lagi ke dalam ruangan itu, “Soehoe, apa ilmu silat Samko bisa pulih lagi seperti biasa?” tanya In Lie Heng.

Thio Sam Hong menghela napas panjang. Selang beberapa saat, barulah ia menjawab dengan suara perlahan, “Apakah jiwanya bisa tertolong, masih harus menunggu tempo sebulan. Urat-uratnya yang sudah rusak dan tulang-tulang-nya yang patah, tak bisa disambung lagi. Selama hidupnya…” ia tak dapat meneruskan perkataannya dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan paras berduka.

Mendengar jawaban itu, In Lie Heng tak bisa menahan lagi rasa sedihnya, ia lantas saja menangis tersedu-sedu. Di antara saudara seperguruannya, biarpun sudah memiliki kepandaian sebagai ahli silat kelas utama, hatinya paling lembek dan mudah sekali menangis.

Melihat saudaranya menangis, Thio Coei San lantas meluap darahnya. Dengan sekali melompat, tangannya melayang menggaplok muka Touw Tay Kim. Congpiauw tauw ini coba menangkis, tapi tangan Thio Coei San menyambar bagaikan kilat cepatnya dan pipinya sudah kena digampar. Kena belum puas, Coei San lalu mengirim tinju ke pinggang Touw Tay Kim tapi untung sebelum mengenakan sasarannya, Thio Siong Kee keburu me dorong pundak saudaranya sehingga tinju itu jatuh di tempat kosong. Saat itu, Touw Tay Kim pun coba menolong diri dengan melompat ke belakang dan selagi ia melompat tiba-tiba terdengar suara “trang” sepotong emas jatuh dilantai dari sakunya.

Thio Coei San menjemput emas itu dan berkata dengan suara dingin “manusia serakah begitu lihat berkredepnya emas kau segera menyerahkan Jie Samko kepada orang…” tiba-tiba perkataannya putus di tengah jalan disusul dengan seruan “ih”.

“Toako” katanya sambil mengawasi potongan emas itu, “lihatlah tapak jari-jari ini adalah akibat ilmu Kim kong cie dari Siauw lim pay”

Song Wan Kiauw meneliti potongan emas itu beberapa lama dan kemudian menyerah kan kepada sang guru yang lalu mengawasi dengan penuh perhatian dan membolak-balik nya beberapa kali tapi tidak berkata apa-apa.

“Soehoa” teriak Thio Coei San “tak bisa salah lagi itulah ilmu Kim kong cie dari Siauw lim pay. Dalam dunia ini tiada lain partai yang memiliki ilmu begitu, Soeboe bukankah begitu?”

Pada saat itu di depan mata Thio Sam Hong kembali terbayang kejadian di masa lampau. Ia ingat bagaimana di waktu masih kecil ia melayani gurunya, Kak wan Tay Soe yang bertugas dalam Cong keng kok, bagaimana mereka telah merobohkan Koen loen Sam sang, bagaimana mereka kabur dengan diuber oleh pendeta Siauw Him sie, dan bagaimanaia akhirnya menetap digunung Boe tong san.

Melihat tapak jarak pada potongan emas itu memang tak bisa dipungkir lagi itu semua adalah akibat perbuatan seorang Siauw lim sie. Ilmu silat Boe tong pay mengutamakan Lweekang dan tidak memperhatikan ilmu keras untuk bisa menghancurkan batu dan sebagainya. Dalam lain-lain partai persilatan mempelajari ilmu Gwa kang (ilmu silat luar) terdapat tenaga telapak tangan, tenaga tinju, tenaga kaki dan sebagai nya yang hebat tapi tak satu partaipun yang memiliki tenaga jari tangan yang begitu dahsyat.

Maka itulah sesudah Thio Coei San menanya dua tiga kali ia masih juga belum memberi jawaban. Jika ia bicara terus muridnya tentu tak mau mengerti dan sebagai akibatnya dua partai besar dalam Rimba Persilatan akan saling bertempur.

Thio Coei San yang sangat cerdas lantas saja bisa menebak jalan pikiran gurunya. “See-hoe”, katanya pula. “Apakah dalam Rimba Persilatan bisa muncul seorang luar biasa, yang tanpa didikan guru, dapat memiliki ilmu Kim kong cie?”

Thio Sam Hong menggelengkan kepalanya. “Tak mungkin”, jawabnya. “Kim-kongcie adalah hasil pengalaman, bukan ilmu yang bisa digubah dalam tempo pendek. Menurut pendapatku, seorang yang paling cerdas otaknya tak akan bisa memiliki Kim kong cie, tanpa pimpinan guru”. Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Dulu, pada waktu berdiam dalam kuil Siauw lim sie, aku pun tak tahu, bagaimana jari tangan manusia bisa mempunyai kekuatan yang begitu luar biasa.”

Sesaat itu pada kedua mata Song Wan Kiauw terlihat sorot yang luar biasa. “Soehoe,” katanya. “Dilihat begini, urat dan tulang sam tee juga dihancurkan dengan ilmu Kim kong cie.

Mendengara perkataan sang Toako. InLie Hang menangis pula.

Di lain pihak, Touw Tay Kim mendengar pembicaraan antara guru dan murid itu dengan hati berdebar-debar. Beberapa kali ia sudah membuka mulut, tapi mulutnya tak dapat mengeluarkan suara. Akhirnya, sesudah menenteramkan hati, ia dapat juga berkata, “Tidak! Tak mungkin orang Siauw Lim-sie. Belasan tahun aku berdiam dalam kuil Siauw lim sie tapi belum pernah aku bertemu dengan orang itu.”

Song Wan Kiauw mengawasi Cong piauwtauw itu dengan sorot mata bersangsi. “Liok tee, antarlah tamu-tamu kita ke ruangan belakang, supaya mereka bisa mengaso,” katanya. “Beritahukan Loo-ong supaya ia merawat baik-baik semua tamu kita.”

In Lie Heng mengiakan dan lain mengajak Touw Tay Kim dan yang lain-lain pergi ke bagian belakang kelenteng itu.

Sesudah mengantarkan Piauw tauw dan pegawai Liong boen Piauw kiak kekamar tamu, In Lie Heng pergi kekamar Jie Thay Giam. Ia lihat kakak itu rebah dengan paras muka seperti mayat, sedang napasnya pun terdengar lemah sekali, “Samko!” serunya dengan suara menyayat hati dan kemudian sambil menekap muka dengan kedua tangan, Song Wan Kiauw dan lain-lain saudara seperguruannya sedang duduk di seputar guru mereka, maka iapun segera mengambil tempat duduk di samping Thio Coei San.

Untuk beberapa lama dengan mata mendelong Thio Sam Hong mengawasi pohon kwie yang. Ia meng gelengkan kepala dan berkata dengan suara duka, “Urusan ini sulit sekali. Siong Kee, bagaimana pendapatmu?”

Di antara tujuh murid Boe tong. Thio Siong Keelah yang paling berakal budi. Jika Boe tong pay menghadapi soal-soal sulit, dialah yang jadi juru pemikir dan biasanya ia selalu dapat memecahkan cengkeraman sukar. Tak usah dikatakan lagi, sedari pulangnya Thio Coei San dengan mendukung Jie Thay Giam yang luka berat, ia sudah mengasah otak untuk menembus kabut yang meliputi peristiwa itu. Mendengar pertanyaan gurunya, ia lantas saja menjawab, “menurut pendapat teecu, bencana ini bukan bersumber pada Siauw lim-pay, tapi pada To liong to.”

“Sie tee.” kata Song Wan Kiauw. “Coba ceritakan pendapatmu seterang-terangnya, supaya bisa dipertimbangkan Soehoe.”

“Jie Sam ko adalah seorang yang sangat berhati-hati dan juga pandai bergaul, sehingga tak mungkin ia menanam bibit permusuhan secara semberono.” kata Siong Kee. “Di samping itu, penjahat besar yang telah dibinasakan Sam ko hanya memiliki ilmu silat kelas tiga dan sangat dibenci oleh orang Rimba Persilatan. Maka itu, tak mungkin orang Siauw lim-pay turunkan tangan jahat untuk membela penjahat itu.”

Thio Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya.

“Putusnya urat-urat dan tulang-tulang Sam ko sudah terjadi di tengah jalan.” katanya pula. “sebelum berangkat dari Lim an, Sam ko memang sudah kena racun yang sangat hebat, sehingga menurut teecoe, jalan satu-satunya bagi kita ialah pergi ke Lim an untuk menyelidiki, bagaimana Sam ko kena senjata beracun dan siapa yang melepaskan senjata itu.”

“Benar,” kata sang guru. “Racun yang masuk ke dalam badan Thay Giam sangat luar biasa. Sampai sakarang, aku belum tahu, racun apa adanya itu. Pada telapak tangannya terdapat tujuh lubang kecil, seperti ditusuk jarum. Dalam dunia Kangouw, belum pernah kudengar senjata rahasia yang begitu aneh.”

“Peristiwa ini memang aneh bukan main.” kata Song Wan Kiauw. “menurut pantas, seorang yang bisa melukakan Sam tee dengan senjata rahasia, mestinya seorang ahli silat dari kelas satu. Tapi, seorang ahli silat kelas satu biasanya sungkan menggunakan senjata rahasia keracun.”

Semua bungkam. Seluruh ruangan sunyi senyap, sehingga suara nafas guru dan murid-murid itu bisa terdengar nyata. Selang beberapa saat, kesunyian itu, dipecahkan oleh Thio Siong Kee “mengapa orang yang bertahi lalat itu menghancurkan tulang Sam ko?” tanyanya “jika ia sakit hati dengan sekali pukul saja ia bisa mengambil jiwa Sam ko. Kalau mau menyiksa mengapa ia tidak menghantam tulang punggung. Kurasa dipersakitinya Samko bertujuan untuk mengorek keterangan dari mulut Samko. Keterangan apa tentang To liong to? Bukankah Tauw Tay Kim memberi tahukan bahwa salah seorang di antara mereka telah menyebut To Liong to?”

“Perkataan Boe lim cie coat po to to liong, Ie thian poet coat sweeie ceng hong sudah tersiar beberapa ratus tahun” kata Song Wan Kiauw “apakah bisa jadi baru sekarang benar muncul sebilah To liong to?”

“Bukan beberapa ratus tahun”, membantah sang guru, “perkataan itu baru tersiar pada kira-kira tujuh puluh tahun berselang. Waktu aku masih muda dalam kalangan Kang ouw tidak pernah terdengar perkataan begitu.”

Sekonyong-konyong Thio Coei San bangun seraya berkata “apa yang dikatan Sie ko sedikitpun tak salah. Orang yang mencelakakan Sam ko mestinya berada di daerah Kanglam, marilah kita sama-sama cari manusia itu. Akan tetapi orang Siauw lin pay yang sudah turunkan tangan begitu kejam juga tidak boleh dibiarkan begitu saja.”

“Wan Kiauw bagaimana kita harus menghadapi urusan ini?” tanya Thio Sam Hong sambil menengok kepada muridnya. Selama berapa tahun yang paling akhir segala urusan besar dan kecil dalam Boe tong pay memang sudah di serahkan kepada murid itu oleh sang guru. Sebagai seorang yang pandai bekerja dan selalu bertindak dengan hati-hati, sebegitu jauh Wan Kiauw belum pernah mengecewakan pengharapan gurunya.

Mendengar pertanyaan itu ia lantas saja bangun berdiri dan segera menjawab dengan sikap hormat, “Soehoe urusan ini bukan hanya urusan membalas sakit hati Sam tee, tapi juga bersangkut-paut dengan keselamatan nama dan Boe tong pay. Kalau kita bertindak salah sedikit saja akibatnya bisa hebat sekali dan mungkin merupakan bencana besar bagi seluruh rimba Persilatan. Maka itu dalam urusan yang sangat besar ini tee coe memohon petunjuk dan keputusan Soehoe sendiri.”

“Baiklah”, kata Thio Sam Hong “bersama Siauw Kee dan Lie Heng kau pergi ke kuil Siauw lim sie dan menyerahkan suratku kepada Hong thio Hong hoat Sian soe serta ceritakan juga seterang-terangnya. Kau boleh tambah dengan permintaan supaya Hong-hoat Siansoe suka memberi petunjuk-petunjuk. Dalam urusan Siawlim pay menurut hematku, kita boleh tak usah mencampuri. Siauwlim pay adalah sebuah partai persilatan yang memegang keras segala peraturannya, sedang Hong hoat Siansoe pun seorang yang sangat dihormati dalam Rimba persilatan. Maka itu, aku merasa pasti, bahwa soal yang mengenakan Siauw lim pay dapat di bereskan oleh mereka sendiri.”

Ketiga murid itu lantas jaja mengiakan dengan sikap menghormat.

“Kalau hanya untuk mengirim sepacuk surat Liok Sietee sendiri sudah lebih daripada cukup,” pikir Thio Siong Kee. “Mengapa Soehoe memerintahkan juga Toasoeko dan aku sendiri untuk pergi bersama? Perintah ini pasti mempunyai maksud yang lebih dalam. Mungkin sekali Soenoe kuatir Siauw limpay akan rewel dan ingin supaya kita bertiga bisa bertindak dengan mengimbangi.”

Sesaat kemudian benar saja sang guru berkata pula, “Perhubungan antara partai kita dan Siauw lira pay tidak begitu erat. Aku adalah seorang murid Siauw lim sie yang telah kabur dari tersebut. Mungkin sekali karena memandang usiaku yang sudah lanjut, mereka tidak menyatroni Boetong san dan menyeretku kembali ke Siauw lim-sie. Tapi biar bagaimanapun jua, antara kedua partai masih mempunyai sangkut paut.” Ia tertawa dan kemudian berkata pula. “Kalau sudah tiba di Siauw lim sie kau bertiga harus bersikap hormat terhadap Hong boat Hong thio. Tapi kau pun tak boleh bikin merosot derajatnya partai kita.”

Ketiga murid itu manggut-manggutkan kepala sebagai janji, bahwa mereka akan memperhatikan segala pesanan sang guru. Thio Sam Hong menengok kepada Thio Coei Sam dan berkata pula, “Coei San, besok kau berangkat ke Kanglam untuk menyelidiki urusan ini dan dalam segala hal kau harus mendengar perkataan Jie soeko.” Murid ia lantas saja membungkuk dan mengiakan

“Malam ini perjamuan dibatalkan saja,” kata lagi Thio Sam Hoag. “Satu bulan kemudian kita berkumpul lagi di sini. Andaikata Thay Giam tak bisa disembuhkan, kamu masih bisa bertemu lagi dengannya.” Perkataan yang paling akhir diucapkan dengan suara gemetar. Di dalam hati orang itu sangat berduka. dan ia tak nyana bahwa sesudah mempunyai nama besar selama puluhan tahun, dalam usia sembilan puluh, salah seoreng muridnya yang tercinta mengalami bencana. In Lie Hong yang cetek air matanya lantas saja menangis dengan perlahan.

“Pergi tidurlah,” kata sang guru seraya mengebas tangan jubahnya.

“Soehoe,” kata Song Wan Kiauw dengan suara menghibur. “Samsoetee adalah seorang mulia yang selalu menolong sesama manusia. Orang kata manusia yang baik selalu dipayungi Tuhan Yang Maha Kuasa. Teecoe percaya, Langit mempunyai Mata dan Samsoetee pasti akan tertolong jiwanya…” berkata sampai di situ suaranya parau dan air matanya mengalir turun.

Demikian pendekar-pendekar itu yang biasa menghadapi bahaya tanpa berkedip sekarang menangis tersedu-sedu karena rasa duka dan penasaran yang sangat hebat.

Di antara saudara-saudara seperguruannya Jie Tay Giam dan In Lie Henglah yang bergaul paling erat dengan Thio Coei San. Maka itu Thio Coei Sanlah yang paling bergusar dan kegusaran itu menyesak dalam dadanya sebab tak bisa dilampiaskan.

Sesudah kurang lebih satu jam rebah di atas pembaringan dengan gelisah perlahan-lahan ia bangun dan berjalan keluar dari kamarnya dengan niatan mencari Touw Tay Kim dan menghajar Cong piauw tauw itu untuk melampiaskan kemendongkolannya. Karena kuatir, ia berlaku dengan hati-hati supaya tindakannya tidak didengar orang.

Waktu tiba di ruangan itu sambil menggendong kedua tangannya, ia melihat orang yang bertubuh jangkung yang bukan lain adalah gurunya sendiri. Ia berdiri terpaku di belakang satu tiang tanpa berani ber gerak. Ia tahu, bahwa jika sekarang ia kembali kekamarnya, gerak geriknya pasti diketahui sang guru. Kalau ia mengaku sejujurnya yaitu hendak menghajar Tauw Tay Kim, ia pasti bakal dapat teguran keras.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Thio Sam Hong mengangkat tangan kanannya dan menulis huruf-huruf di tengah udara. Dengan memperhatikan gerakan-gerakan tangan itu, Coei San mendapat kenyataan, bahwa yang ditulis gurunya adalah dua huruf “Song loan” atau kesedihan kekalutan.

Sesudah mengulangi beberapa kali sang guru menulis dua huruf lain yaitu “To-tok” atau Penganiayaan hebat, diubrak abrik. Melihat begitu, Thio Coei San lantas saja tahu, bahwa gurunya sedang menulis “Song loan siap” dari Ong Hie Cie.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: