Kumpulan Cerita Silat

02/07/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 17

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 2:52 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 17
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

Meski tangannya menjinjing seorang, namun tindakan Ciumoti tidak menjadi lambat. Makin lama makin jauh dan makin cepat jalannya. Dalam waktu beberapa jam lamanya ia selalu berkeliaran di antara lereng gunung yang sunyi.

Toan Ki melihat sang surya sudah mendoyong ke ufuk barat dan menyorot dari sebelah kiri, maka tahulah dia bahwa Ciumoti membawanya menuju ke utara.

Petangnya, Ciumoti angkat tubuh Toan Ki untuk diletakkan di atas dahan pohon, ia ikat sabuk kulit itu pada ranting pohon, sama sekali ia tidak ajak bicara pemuda itu, bahkan memandang pun tidak, hanya sambil berdiri mungkur ia sodorkan beberapa potong roti kering padanya, ia pun membuka Hiat-to lengan kiri Toan Ki agar pemuda itu dapat bergerak untuk makan.

Dengan tangan kiri yang sudah dapat bergerak itu, Toan Ki pikir hendak menyerangnya dengan Siau-tik-kiam, siapa duga sekali Hiat-to besar tertutuk, hawa murni seluruhnya ikut macet, maka jari tangannya cuma dapat bergerak saja dan tak bertenaga sedikit pun.

Begitulah, selama beberapa hari Ciumoti terus menjinjingnya ke utara. Beberapa kali Toan Ki memancing pembicaraan orang dan tanya mengapa dirinya ditawan serta untuk apa menuju ke utara? Namun tetap Ciumoti tidak menjawab.

Setelah belasan hari, mereka berada di luar wilayah Tayli, Toan Ki merasa arah yang ditempuh Ciumoti berganti menuju ke timur-laut, tapi tetap tidak mengambil jalan raya, sebaliknya selalu menjelajahi lereng gunung dan hutan belukar, cuma tanahnya kian lama kian datar, sungai pun semakin banyak, setiap hari hampir beberapa kali menyeberang sungai.

Cara perjalanan Ciumoti dengan menjinjing Toan Ki seakan-akan orang mencangking hewan saja, sudah tentu sangat mengherankan orang yang berlalu-lalang di sampingnya. Sampai akhirnya Toan Ki sendiri merasa bosan juga setiap kali berjumpa dengan orang di tengah jalan.

Sungguh dongkol Toan Ki tak terkatakan. Dahulu ketika ia ditawan oleh adik perempuannya, yaitu Bok Wan-jing, walaupun setiap hari ia dihajar dan disiksa, banyak penderitaan yang dirasakannya, tapi rasanya tidak kesal seperti ditawan Ciumoti sekarang.

Setelah belasan hari lagi, Toan Ki mendengar logat bicara orang yang berlalu-lalang mulai ramah tamah dan enak didengar, diam-diam ia membatin, “Ah, tentu tempat ini adalah daerah Kanglam (selatan sungai Yangce). Ia membawa diriku ke kuburan Buyung-siansing, rasanya tidak lama lagi sudah akan tiba di tempat tujuannya. Ilmu silat padri asing ini sedemikian lihai, sampai Pekhu berenam juga tak mampu merobohkan dia. Sekarang aku berada dalam cengkeramannya, terpaksa aku menyerah pada nasib, masakah ada harapan buat lolos?”

Berpikir begitu, hatinya menjadi lapang malah, tanpa pikir lagi ia mendongak untuk memandang keadaan sekitarnya. Tatkala itu adalah pergantian antara musim semi dan musim panas, hawa sejuk pemandangan indah, angin meniup silir-semilir memabukkan orang.

Sudah lebih sebulan Toan Ki menjadi “barang cangkingan” Ciumoti, hal itu sudah terbiasa baginya. Kini melihat pemandangan alam yang indah permai itu, hatinya menjadi gembira, tanpa merasa ia pun bernyanyi-nyanyi kecil sambil menikmati pemandangan danau yang indah di pinggir jalan.

“Huh, ajal sudah dekat, masih begini iseng?” jengek Ciumoti.

“Manusia mana di dunia ini yang takkan mati?” sahut Toan Ki dengan tertawa. “Paling banyak engkau cuma hidup lebih lama buat beberapa tahun, apa bedanya kelak?”

Ciumoti tidak gubris padanya lagi. Ia coba tanya orang di mana letaknya “Som-hap-ceng.” Tapi meski sudah beberapa orang ditanya, tetap tiada seorang pun yang tahu di mana kampung itu.

“Tidak pernah kudengar dusun yang bernama Som-hap-ceng, barangkali engkau salah dengar, Hwesio,” demikian sahut seorang tua.

“Jika begitu, apakah tahu seorang hartawan she Buyung, di mana rumahnya?” tanya Ciumoti.

“Di kota Sohciu sini banyak orang she Tan, she Li dan she lain, semua hartawan besar, tapi tidak pernah terdengar ada hartawan she Buyung,” sahut orang tua itu.

Sedang Ciumoti bingung, tiba-tiba didengarnya suara seorang sedang berkata di jalan kecil di tepi danau sana, “Kabarnya orang she Buyung itu tinggal di Yan-cu-oh kira-kira tiga puluh li di barat kota, mari kita menuju ke sana!”

“Ya, sudah sampai di tempatnya, kita harus berhati-hati!” demikian sahut seorang lain.

Suara percakapan kedua orang itu sangat perlahan, maka Toan Ki tidak mendengar, sebaliknya Lwekang Ciumoti sangat tinggi, ia dapat mendengar dengan jelas. Diam-diam ia heran apakah orang sengaja bicara padanya?

Ketika Ciumoti berpaling, ia lihat seorang berperawakan gagah berpakaian berkabung, seorang lagi kurus kecil mirip pencoleng. Tapi sekilas pandang saja dapatlah diketahui Ciumoti bahwa kedua orang itu memiliki ilmu silat tinggi. Belum lagi ia ambil keputusan apa mesti tanya kedua orang itu atau tidak, mendadak Toan Ki berseru, “Hai, Ho-siansing, Ho-siansing!”

Kiranya laki-laki kurus kecil bermuka jelek itu tak-lain tak-bukan adalah Kim-sui-poa Cui Pek-khe, si Mesin Hitung Emas. Dan laki-laki yang lain adalah murid keponakannya, Tui-hun-jiu Ko Gan-ci.

Sesudah kedua tokoh itu meninggalkan Tayli, dengan semangat yang berkobar-kobar mereka hendak membalaskan dendam Kwa Pek-hwe. Walaupun mereka juga tahu sukar untuk melawan orang she Buyung, tapi sakit hati itu harus dibalas betapa pun akibatnya, maka akhirnya mereka tiba juga di Koh-soh.

Sebelumnya mereka telah menyelidiki dan mendapat tahu tempat tinggal keluarga Buyung, yaitu Yan-cu-oh, dan secara kebetulan tiba pada waktu yang sama dengan Ciumoti dan Toan Ki.

Ketika mendadak mendengar seruan Toan Ki tadi, Cui Pek-khe tercengang sejenak, tapi segera ia melompat ke depan Ciumoti dan berkata dengan heran, “He, Siauongcu (putra pangeran kecil), kiranya engkau? Eh, Toahwesio, lekas melepaskan Kongcuya ini, apa kau tahu siapa dia?”

Sudah tentu Ciumoti tidak pandang sebelah mata kepada kedua orang itu, tapi karena dia lagi bingung mengenai tempat tinggal Buyung-siansing, kini kebetulan orang ini mengetahui tempatnya, maka ia pun tidak marah terhadap ucapan Cui Pek-khe. Ia taruh Toan Ki ke tanah membiarkan pemuda itu berdiri sendiri, lalu melepaskan Hiat-to kakinya, kemudian berkata, “Aku hendak pergi ke rumah keluarga Buyung, harap kalian berdua suka menunjukkan jalannya.”

Pengetahuan dan pengalaman Cui Pek-khe sangat luas, tapi meski dipikir toh tak teringat olehnya siapa gerangan Hwesio ini. Maka tanyanya, “Numpang tanya, siapakah gelaran suci Taysu? Mengapa membikin susah Siauongcu ini dan untuk keperluan apa hendak pergi ke rumah keluarga Buyung?”

“Banyak omong tiada gunanya, nanti tentu akan tahu sendiri,” sahut Ciumoti.

“Apakah Taysu sobat baik Buyung-siansing?” tanya Cui Pek-khe pula.

“Benar, makanya kalau Ho-siansing mengetahui di mana letak Som-hap-ceng tempat tinggal Buyung-siansing itu, harap memberitahukan jalannya,” sahut Ciumoti.

Tadi ia dengar Toan Ki menyerukan “Ho-siansing” kepada Cui Pek-khe, maka ia menyangka tokoh Ko-san-pay itu benar-benar she Ho.

Geli-geli dongkol Cui Pek-khe, sambil menggaruk kepala ia coba tanya Toan Ki, “Bagaimana baiknya, Siauongcu?”

Toan Ki menjadi sulit juga oleh pertanyaan itu. Ia pikir ilmu silat Ciumoti itu teramat tinggi, di dunia ini mungkin tiada seorang pun yang mampu melawannya, apalagi cuma kedua tokoh Ko-san-pay ini, terang bukan tandingannya, kalau berani berusaha buat menolongnya, paling-paling cuma mengantarkan nyawa saja, lebih baik memperingatkan mereka saja agar lekas melarikan diri. Maka cepat katanya, “Taysu ini seorang diri telah mengalahkan pamanku dan kelima tokoh tertinggi dari Tayli, akhirnya aku pun tertawan olehnya. Katanya dia sobat kental Buyung-siansing, maka aku hendak dibakarnya hidup-hidup di depan kuburan Buyung-siansing untuk memenuhi sesuatu janjinya. Kalian berdua selamanya tiada sangkut paut apa-apa dengan keluarga Buyung, maka silakan menunjukkan jalannya saja, lalu bolehlah kalian pergi.”

Mendengar Hwesio itu telah mengalahkan Po-ting-te dan jago-jago lain di Tayli, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci menjadi kaget. Lebih-lebih ketika mendengar pula bahwa padri ini sobat baik orang she Buyung.

Namun meskipun lahiriah Cui Pek-khe itu jelek, tapi ia kesatria. Ia pikir sudah belasan tahun dirinya bersembunyi di Tin-lam-onghu, untuk itu belum pernah ia membalas sesuatu kebaikan apa-apa. Kini Siauongcu berada dalam kesulitan, mana boleh dirinya tinggal diam? Betapa pun sekarang sudah berada di Koh-soh, keselamatan jiwa sendiri sudah tak terpikir, biarpun akan mati di tangan musuh atau orang lain kan sama saja.

Berpikir begitu, sekali tangan bergerak, segera ia menarik keluar sebuah Swipoa bersinar emas kemilau, ia angkat tinggi-tinggi senjatanya itu dan dikocak hingga mengeluarkan suara gemerencing yang ramai. Katanya, “Toahwesio, kau bilang Buyung-siansing adalah sobat baikmu, sebaliknya Siauongcu ini adalah kawan karibku. Maka lebih baik kau lepaskan dia saja!”

Melihat sang Susiok sudah siap, Ko Gan-ci cepat melolos juga ruyung lemas yang melilit di pinggangnya.

“Hehe, apakah kalian mengajak berkelahi?” jengek Ciumoti.

“Sekalipun tahu takkan mampu menandingimu, namun apa boleh buat, betapa pun aku ingin mencoba, mati atau hidup…auuuh!” mendadak Cui Pek-khe mengaduh sebelum selesai ucapannya.

Kiranya mendadak Ciumoti telah sambar ruyung yang dipegang Ko Gan-ci itu, sekali sabet, tahu-tahu Swipoa emas Cui Pek-khe itu kena terlilit, ketika ruyung bergerak pula, kedua macam senjata itu mencelat berbareng ke tengah danau sebelah kanan.

Tampaknya kedua senjata itu sekejap lagi akan kecemplung ke dalam danau, tak tersangka tenaga yang dikeluarkan Ciumoti itu ternyata sangat aneh dan tepat, ujung ruyung itu mendadak menjungkat ke atas dan tepat melilit pada suatu ranting pohon Liu di tepi danau itu. Ranting pohon Liu itu sangat lemas, digantungi lagi dengan sebuah Swipoa emas, maka tiada hentinya ranting berguncang naik turun, air danau pun beriak karena Swipoa emas itu menyentuh air.

Ko Gan-ci itu berjuluk “Tui-hun-jiu” atau si Penguber Nyawa, suatu tanda betapa cepat gerak-geriknya, apalagi ruyung itu adalah senjata andalan perguruan yang terkenal, siapa sangka hanya sekali gebrak saja sudah dirampas musuh, bahkan cara bagaimana Ciumoti mendekat dan merebut senjata, cara bagaimana melilit Swipoa emas lalu melompat kembali ke tempat semula, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci sama sekali tidak jelas melihatnya.

Sambil merangkap kedua tangan kemudian Ciumoti berkata dengan suara lemah lembut, “Harap kedua tuan ini sudi menunjukkan jalannya.”

Cui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-ci dan bingung apa yang harus mereka lakukan. Maka Ciumoti berkata pula, “Jika kalian tidak suka mengajak kami ke sana, silakan menunjukkan arahnya saja, biar aku mencarinya sendiri ke sana.”

Melihat ilmu silat si Hwesio begitu tinggi, tapi sikapnya ramah tamah, Cui Pek-khe berdua menjadi ragu dan serbasalah, hendak main kasar toh orang bersikap sopan, hendak mengajaknya bicara secara baik-baik, terang putra pangeran Tayli ditawan olehnya.

Untunglah pada saat itu terdengar suara debur air, dari ujung danau sana tampak tiba sebuah sampan didayung oleh seorang gadis kecil berbaju hijau, sambil mendayung sembari bernyanyi dengan gembiranya, lagunya indah, suaranya merdu, hingga makin menambah permainya suasana danau.

Sudah lama Toan Ki mengagumi keindahan alam Kanglam dari syair gubahan pujangga yang pernah dibacanya. Kini dihadapi pemandangan permai dengan nyanyian merdu, semangatnya seakan-akan terbang ke awang-awang dan lupa daratan bahwa dirinya waktu itu sedang terancam bahaya, serentak ia memandang ke arah si gadis. Ia lihat kedua tangan si gadis putih bersih bagai batu kemala yang bening tembus.

Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci ikut tertarik juga dan memandang si gadis. Hanya Ciumoti saja tetap membuta dan membudek, katanya, “Jika kalian tidak sudi memberi tahu letak Som-hap-ceng, biarlah kumohon diri saja.”

Saat itu sampan si gadis sudah dekat menepi. Maka ucapan Ciumoti itu dapat didengarnya, tiba-tiba ia menyela, “Taysu ini hendak pergi ke Som-hap-ceng, entah ada keperluan apa?”

Suara gadis itu ternyata sangat nyaring dan manis hingga bagi yang dengar akan timbul rasa nikmat tak terkatakan. Usia gadis ini ternyata baru belasan tahun, wajah lemah lembut, dandanan serasi. Diam-diam Toan Ki memuji, “Wanita daerah Kanglam sungguh tak tersangka secantik ini.”

Maka menjawablah Ciumoti, “Siauceng (padri kecil) hendak pergi ke Som-hap-ceng, apakah nona sudi menunjukkan jalannya?”

“Nama Som-hap-ceng jarang diketahui orang luar, dari mana Thaysuhu mengetahuinya?” tanya gadis itu dengan tersenyum.

“Siauceng adalah sobat lama Buyung-siansing, kini sengaja datang berziarah ke kuburannya sekadar memenuhi janji masa dulu,” sahut Ciumoti.

Gadis itu termenung sejenak, katanya, “Wah, agak tidak kebetulan. Kemarin dulu Buyung-kongcu baru bepergian, kalau Thaysuhu datang lebih dulu tiga hari, tentu dapat berjumpa dengan Kongcu.”

“Sungguh menyesal tidak sempat berkenalan dengan Kongcu, namun jauh-jauh Siauceng datang dari negeri Turfan, biarlah aku berkunjung ke makam Buyung-siansing sekadar memberi penghormatan terakhir.”

“Jika Thaysuhu adalah sobat baik Buyung-loya, marilah silakan minum dulu ke tempat kami, kemudian akan kusampaikan maksudmu, mau?”

“Apa hubungan nona dengan Buyung-siansing dan cara bagaimana harus kusebut secara hormat?” tanya Ciumoti.

“Ah, aku cuma dayang yang melayani Kongcu memetik Khim dan meniup seruling,” sahut si gadis dengan tersenyum manis. “Namaku A Pik, maka janganlah Thaysuhu sungkan-sungkan, panggil saja aku A Pik.”

“O, baiklah,” kata Ciumoti dengan hormat.

Lalu si A Pik berkata, “Jalan dari sini ke Yan-cu-oh harus melalui lintas air danau, marilah kuantar dengan sampan ini.”

Setiap kata yang ditanyakan oleh A Pik kedengarannya begitu luwes dan simpati hingga membuat orang tidak enak untuk menolak.

Maka berkatalah Ciumoti, “Jika begitu, terpaksa membikin repot nona.”

Berbareng ia terus gandeng tangan Toan Ki dan melompat ke atas sampan dengan enteng. Sampan itu hanya ambles ke bawah sedikit dan sama sekali tidak terguncang.

A Pik tersenyum kepada Ciumoti dan Toan Ki, maksudnya seakan-akan memuji kehebatan kepandaian orang.

Lalu Ko Gan-ci membisiki Cui Pek-khe, “Bagaimana, Susiok?”

Sebenarnya kedatangannya ingin menuntut balas pada orang she Buyung, tapi kedudukan mereka kini menjadi serbasalah dan sangat lucu kelihatannya.

“Jika tuan-tuan sudah datang di Sohciu, bila tiada urusan penting lain, marilah silakan mampir juga ke tempat kami untuk minum-minum,” demikian kata A Pik lagi dengan tertawa. “Jangan tuan-tuan ragu terhadap sampan kecil ini, biarpun bertambah lagi beberapa orang juga tidak nanti tenggelam.”

Perlahan A Pik mendayung sampannya, ketika lewat di bawah pohon Liu tadi, tiba-tiba ia ambil Kim-sui-poa dan ruyung yang tergantung di ranting pohon itu. Sekenanya ia ketik-ketik biji Swipoa hingga menerbitkan suara “crang-creng” yang nyaring.

Mendengar beberapa suara nyaring itu, dengan girang Toan Ki berkata, “He, apakah nona sedang memetik lagu ‘Jay-song-cu’ (memetik biji arbei)?”

Kiranya biji Swipoa yang dipetik si A Pik telah mengeluarkan suara yang berbeda-beda hingga berwujud irama musik lagu ‘Jay-song-cu’ yang merdu.

Dengan tersenyum A Pik menjawab, “Ah, kiranya Kongcu juga pandai seni suara, maukah memetik barang satu lagu juga?”

Melihat gadis itu lincah kekanak-kanakan, ramah tamah menarik, sahut Toan Ki dengan tertawa, “Ya, tapi aku tidak dapat memetik Swipoa.”

Lalu ia menoleh kepada Cui Pek-khe, katanya, “Ho-siansing, Swipoamu telah digunakan orang sebagai alat musik yang bagus.”

“Ya, benar!” sahut Cui Pek-khe dengan senyum ewa, “nona sungguh seorang seniwati, alat hitungku yang kasar itu sekali berada di tangan nona, jadilah segera sebuah alat musik yang bagus.”

“Ai, ai, maafkan, jadi ini milik tuan?” seru A Pik gugup. “Wah, alangkah bagusnya Swipoamu ini. Ehm, tentu tuan ini seorang hartawan, sampai Swipoa juga terbuat dari emas. Ho-siansing, ini kukembalikan.”

Sambil berkata, terus saja A Pik angsurkan Swipoa yang dipegangnya itu. Tapi Cui Pek-khe berdiri di tepi danau, dengan sendirinya tidak sampai menerimanya.

Ia merasa berat bila kehilangan kawan setianya yang selalu dibawanya itu. Maka dengan ringan ia lompat ke haluan sampan untuk menerima Swipoa itu. Kemudian ia berpaling dan melotot sekali ke arah Ciumoti. Namun wajah padri itu tetap tersenyum simpul dengan welas asih, sedikit pun tidak marah.

Setelah Swipoa dikembalikan ke pemiliknya, kini tinggal ruyung itu yang masih dipegang si A Pik. Ketika tangan kanannya memegang batang ruyung dan sekali diusap dari atas ke bawah, karena gesekan kuku jarinya dengan ruas ruyung itu, maka terbitlah macam-macam suara nyaring yang menarik hingga mirip orang memetik harpa.

Ternyata senjata yang pernah melayani berbagai jago Bu-lim itu setelah berada di tangan A Pik telah berubah menjadi semacam alat musik lagi.

“Bagus, bagus!” saking senangnya Toan Ki berteriak-teriak. “Sungguh pintar sekali nona, ayolah silakan memetiknya satu lagu.”

Tapi A Pik lantas berkata kepada Ko Gan-ci, “Mungkin ruyung ini milik tuan ini bukan? Aku sembarangan mengambilnya, sungguh terlalu tidak tahu aturan, mohon dimaafkan. Marilah tuan, silakan naik juga ke atas sampan, sebentar akan kusuguh dengan santapan enak.”

Sebenarnya Ko Gan-ci merasa dendam karena gurunya dibunuh orang she Buyung, tapi menghadapi seorang nona cilik yang selalu tersenyum manis dan kekanak-kanakan, betapa pun rasa dendam dalam hatinya juga tidak mungkin dilampiaskan atas diri gadis itu. Pikirnya, “Dia bersedia membawa kami ke tempat tinggal orang she Buyung, inilah yang sangat kami inginkan, bagaimanapun juga aku harus membunuh beberapa orang mereka untuk membalas sakit hati Suhu.”

Karena itu, ia mengangguk menerima tawaran A Pik, lalu melompat ke atas perahu.

Dengan hati-hati dan menghormat A Pik menggulung ruyung itu dan dikembalikan kepada Gan-ci. Sekali dayung bekerja, segera sampan meluncur ke arah barat.

Cui Pek-khe saling menukar isyarat mata beberapa kali dengan Ko Gan-ci. Diam-diam mereka pikir, “Hari ini kita telah masuk gua harimau, entah bakal mati atau hidup. Menghadapi keluarga Buyung yang kejam dan si nona yang kelihatan lemah lembut ini, betapa pun kita harus waspada, jangan sampai masuk perangkap musuh.”

Begitulah sampan si A Pik terus meluncur ke depan, setelah membelok kian kemari, akhirnya masuklah sampan itu ke tengah danau yang luas. Sepanjang mata memandang, danau itu seakan-akan tanpa ujung dan merapat dengan langit. Keruan Ko Gan-ci bertambah waswas, pikirnya, “Danau besar ini tentulah Thay-oh adanya. Aku dan Cui-susiok tidak dapat berenang, bila nona cilik ini membalik sampannya, pasti kami berdua akan kelelap ke dasar danau sebagai umpan ikan, jangankan lagi bicara hendak menuntut balas bagi Suhu.”

Rupanya Cui Pek-khe juga mempunyai firasat yang sama. Ia pikir kalau dayung sampan dapat dipegang sendiri, bila nona itu hendak tenggelamkan sampannya tentu akan lebih sulit. Maka segera katanya, “Nona, marilah kubantu mendayung, engkau cukup menunjukkan arah saja.”

“Ai, mana boleh jadi begitu,” sahut A Pik tertawa. “Kalau diketahui Kongcuya, wah, tentu aku akan didamprat tidak menghormati tuan tamu.”

Melihat orang tidak mau, rasa curiga Cui Pek-khe semakin bertambah, katanya pula dengan tertawa, “Haha, bicara terus terang, sebenarnya kami ingin nona memperdengarkan ilmu kepandaian memetik sesuatu lagu dengan ruyung lemas kawanku itu.”

“Ilmu kepandaian apa?” ujar A Pik tertawa. “Kalau diketahui A Cu, pasti dia akan mencemoohkan aku suka pamer di depan tetamu.”

Tapi Cui Pek-khe terus mengambil ruyung Gan-ci dan diserahkan kepada A Pik, katanya, “Ini, petiklah lekas!”

Sembari berkata, terus saja ia ambil dayung sampan dari tangan si gadis.

“Baiklah, dan sekalian Kim-sui-poamu juga pinjamkan aku sebentar,” kata A Pik.

Diam-diam Pek-khe menjadi khawatir, “Dia telah ambil senjata kami, jangan-jangan ada tipu muslihat apa-apa?”

Namun karena sudah telanjur, terpaksa ia pun menyerahkan Swipoa emasnya itu.

Tapi Swipoa itu lantas ditaruh di atas geladak sampan oleh A Pik, sambil duduk ia tarik batang ruyung dengan tangan kiri, ujung ruyung itu diinjak dengan kaki kanan hingga ruyung lemas itu tertarik lempeng, lalu menarilah kelima jari kanannya menggesek-gesek di atas ruyung hingga menerbitkan macam-macam nada suara yang nyaring merdu melebihi Pi-pe (alat musik Tionghoa mirip gitar).

Sambil menggesek ruyung, terkadang jari A Pik juga sempat memainkan biji Swipoa yang terletak di depannya itu, suara “crang-cring” dari biji Swipoa itu berselang-seling dengan suara “trang-tring” gesekan ruyung hingga kedengarannya sangat menarik. Sampai di puncaknya, saking gembiranya A Pik bernyanyi pula mengiringi irama musik yang dimainkannya dengan merdu itu.

Mendengar suara si gadis yang mengalun empuk itu, sungguh sukma Toan Ki seakan-akan terombang-ambing di angkasa dan seperti orang linglung. Ia gegetun mengapa baru sekarang dirinya sempat pesiar ke Kanglam, ia kagum pula Buyung-kongcu mempunyai seorang dayang sepandai itu, maka dapatlah dibayangkan tokoh macam apa majikan dayang ini.

Selesai A Pik membawakan satu lagu, kemudian ia pun kembalikan Swipoa dan ruyung itu kepada Pek-khe berdua. Katanya dengan tertawa, “Memalukan, tidak enak didengar, harap jangan ditertawai tuan tamu. Nah, dayunglah ke sana, ya benar sana!”

Pek-khe menurut dan mendayung sampan itu ke suatu muara sungai kecil, di permukaan air situ tampak banyak tumbuh daun teratai yang lebat. Coba kalau tiada petunjuk si A Pik, tentu tiada yang tahu bahwa di situ ada jalannya.

Setelah mendayung pula sebentar, kemudian A Pik berkata, “Beloklah ke sana!”

Pada permukaan air tempat baru ini ternyata penuh tumbuh daun lengkak dengan buahnya yang kemerah-merahan. A Pik memetik beberapa buah lengkak yang merah itu, ia berikan Ko Gan-ci tiga buah, kemudian memetik pula bagi yang lain.

Meski kedua tangan Toan Ki dapat bergerak, tapi setelah Hiat-to ditutuk orang, sedikit pun ia tak bertenaga, untuk mengupas kulit lengkak terasa tidak kuat.

Maka berkatalah A Pik dengan tertawa, “Rupanya Kongcuya bukan orang Kanglam, maka tidak biasa mengupas lengkak. Biarlah aku mengupasnya untukmu.”

Segera ia mengupas beberapa biji dan diserahkan kepada Toan Ki. Melihat daging lengkak itu putih bersih, ketika dimakan rasanya manis gurih, dengan tertawa Toan Ki berkata, “Rasa lengkak ini enak dan tidak membosankan, mirip sekali dengan nyanyian nona tadi.”

Muka A Pik sedikit bersemu merah, sahutnya dengan tersenyum, “Membandingkan nyanyianku dengan lengkak, baru pertama kali ini kudengar. Terima kasih, Kongcu!”

Dan belum selesai sampan itu menyusuri rawa lengkak itu, A Pik telah menunjuk arah lain lagi yang penuh tumbuh rumput lalang yang lebat.

Mau tak mau akhirnya Ciumoti jadi waswas juga, diam-diam ia mengingat baik-baik jalan yang dilalui perahu itu, agar nanti kembalinya tidak kesasar.

Tapi rawa-rawa daun teratai, lengkak dan rumput lalang itu pada hakikatnya serupa saja tak ada perbedaannya, apalagi tumbuh-tumbuhan air itu setiap waktu bisa berubah bila tertiup angin hingga dalam sekejap saja keadaan sudah berlainan daripada semula.

Ciumoti, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci telah berusaha juga mengikuti kerling mata si A Pik untuk mengetahui cara bagaimana gadis itu mengenali jalannya, namun tampaknya gadis itu acuh tak acuh saja, sambil memetik lengkak sembari bermain air dan memberi petunjuk tanpa pikir, seakan-akan jalanan air yang bersimpang-siur itu sudah sangat hafal baginya.

Begitulah setelah sampan itu didayung berliku-liku kian kemari selama dua jam, lewat tengah hari, dari jauh tertampaklah pohon Liu melambai-lambai dengan rindangnya dan di balik pohon tertampak ujung emper rumah.

“Itulah dia, sudah sampai,” seru A Pik segera. “Ho-siansing, telah setengah hari membikin capek padamu, terima kasih.”

Ia dengar Toan Ki memanggil Pek-khe sebagai Ho-siansing, maka ia pun menirukannya.

Dengan tertawa getir Pek-khe menjawab, “Asal bisa makan lengkak sambil mendengarkan nyanyianmu, biarpun aku disuruh mendayung selama setahun-dua tahun juga mau.”

“Hah, apa susahnya jika engkau benar-benar senang makan lengkak dan suka mendengarkan nyanyianku,” seru A Pik sambil bertepuk tangan dan tertawa. “Untuk mana asal engkau tinggal saja di lembah danau ini dan selama hidup ini jangan meninggalkan sini.”

Pek-khe kaget oleh ucapan, “selama hidup tinggal di lembah danau ini”, ia coba melirik gadis itu, ia lihat A Pik tetap tersenyum simpul saja seperti tidak punya maksud apa-apa di balik kata-katanya itu. Namun begitu hati Pek-khe menjadi kebat-kebit juga.

Segera A Pik mengambil pengayuh dari tangan Pek-khe dan mendayung sampannya ke tepian yang penuh pohon Liu itu. Sesudah dekat, tertampaklah sebuah tangga kayu menjulur dari tepian ke dalam air. A Pik menambat perahunya pada ranting pohon serta mendahului mendarat.

Ketika semua orang ikut mendarat, terlihatlah di sana-sini ada beberapa buah gubuk yang dibangun di tengah sebuah pulau kecil atau semenanjung. Gubuk-gubuk itu kecil mungil dan cukup indah.

“Apakah di sini ini Som-hap-ceng dari Yan-cu-oh?” tanya Ciumoti.

“Bukan,” sahut A Pik menggeleng kepala. “Tempat ini adalah kediamanku yang dibangun oleh Kongcu, jelek dan sederhana, sebenarnya tidak pantas untuk menerima tamu. Cuma Toasuhu ini menyatakan ingin berziarah ke makam Buyung-loya, untuk itu aku sendiri tidak berani mengambil keputusan, maka terpaksa silakan tuan-tuan tunggu sementara di sini, biarlah kubicarakan dulu dengan Enci A Cu.”

Mendengar itu Ciumoti mendongkol dan menarik muka. Betapa tinggi dan diagungkan kedudukannya sebagai Hou-kok-hoat-ong atau imam negara di negeri Turfan. Jangankan di negerinya sendiri dia sangat dihormati oleh kepala negara Turfan, sekalipun pemerintah Song, Tayli dan negara tetangga lain juga pasti menyambut kedatangannya dengan penuh penghormatan.

Apalagi dia adalah sobat lama Buyung-siansing, kini ia datang sendiri buat ziarah, kalau Buyung-kongcu bepergian karena memang sebelumnya tidak tahu, itulah tak dapat disalahkan, tetapi seorang dayang seperti A Pik ini, tamu agung tidak dibawa ke ruang tamu untuk dihormati sebagaimana mestinya, sebaliknya malah dibawa ke suatu gubuk tempat tinggal kaum pelayan, keruan Ciumoti merasa terhina.

Tapi demi terlihat sikap A Pik tetap kekanak-kanakan dan lugas, sedikit pun tidak mengunjuk maksud merendahkan dia, maka ia pikir mengapa mesti merecoki urusan begini dengan seorang pelayan kecil.

Kemudian Cui Pek-khe bertanya, “Siapakah Enci A Cu yang kau katakan itu?”

“A Cu ialah A Cu, dia cuma lebih tua sebulan daripadaku, ia sok berlagak sebagai Enci (kakak) orang,” demikian sahut A Pik dengan tertawa. “Ya, apa boleh buat, terpaksa aku harus memanggil dia Enci. Habis, siapa suruh dia lahir sebulan lebih dulu? Namun engkau tidak perlu memanggilnya sebagai Enci, kalau tidak, tentu lagaknya akan semakin garang.”

Sembari bicara, dengan lincahnya A Pik terus menyilakan keempat tamunya itu masuk ke pondoknya.

Toan Ki melihat di dalam gubuk itu tergantung sebuah papan kecil yang bertuliskan “Khim-im-siau-tiok” atau pondok mungil suara harpa. Gaya tulisannya sangat bagus.

Setelah masuk, A Pik silakan semua orang berduduk, kemudian disuguhkannya air teh dan beberapa macam makanan kecil. Tehnya wangi, makanannya sedap, keruan tiada hentinya Toan Ki memuji.

“Silakan Kongcu menghabiskannya, persediaan masih cukup,” demikian kata A Pik.

Sambil melangsir penganan ke dalam perut, terus-menerus Toan Ki memberi pujian tiada habis-habisnya. Sebaliknya Ciumoti, Pek-khe dan Gan-ci bertiga tidak berani menyentuh minuman dan makanan itu, sebab khawatir di dalam makanan itu ditaruh racun.

Diam-diam Toan Ki menjadi curiga juga, pikirnya, “Ciumoti ini mengaku sebagai sobat lama Buyung-siansing, tapi kenapa berlaku sehati-hati ini? Pula cara orang keluarga Buyung menyambut kedatangannya juga rada tidak beres.”

Ciumoti ternyata sangat sabar, ia menunggu hingga Toan Ki sudah habis minum dan selesai mencicipi semua penganan yang disuguhkan itu dengan pujian setinggi langit, kemudian barulah dia berkata, “Dan sekarang harap nona suka memberitahukan kepada Enci A Cu seperti kau katakan tadi.”

“Tempat pondok A Cu itu dari sini masih berpuluh li jauhnya, hari ini terang tidak keburu ke sana lagi, biarlah tuan-tuan berempat tinggal semalam di sini, esok pagi akan kubawa kalian ke “Thing-hiang-siau-tiok” (pondok kecil yang wangi).”

“Tahu begitu, mengapa nona tidak sejak tadi membawa kami langsung ke sana?” tanya Ciumoti dengan mendongkol.

“Kenapa mesti terburu-buru?” sahut A Pik. “Selama ini aku tiada teman mengobrol, rasanya terlalu sunyi. Kini kedatangan tamu sebanyak ini, sudah tentu aku ingin kalian suka tinggal barang sehari untuk meramaikan suasana pondokku ini.”

Sejak tadi Ko Gan-ci hanya diam saja. Kini mendadak ia berbangkit dan membentak, “Di mana tempat tinggal anggota keluarga Buyung? Kedatanganku ke sini bukan untuk minta makan dan minum serta mengobrol denganmu, tapi kami datang buat membunuh musuh. Sekali orang she Ko sudah berani datang kemari, memangnya aku pun tidak pikir akan keluar dari sini dengan hidup. Maka lekas kau laporkan sana, nona, katakan aku anak murid Kwa Pek-hwe dari Ko-san-pay, hari ini sengaja datang untuk menuntut balas sakit hati Suhuku.”

Habis berkata, sekali ruyung menyabet, terdengarlah suara gedubrakan yang keras disertai hancurnya sebuah meja dan kursi.

Namun sedikit pun A Pik tidak kaget, juga tidak marah, katanya dengan tenang, “Sudah banyak orang Kangouw yang gagah perkasa datang hendak mencari Kongcu, setiap bulannya paling sedikit ada beberapa rombongan. Di antaranya banyak juga berlagak garang dan kasar seperti Ko-toaya ini…”

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba dari ruangan belakang muncul seorang kakek pendek kecil berjenggot dan berambut putih bagai perak, kakek itu membawa tongkat, sambil melangkah ia berkata, “A Pik, siapa yang lagi ribut-ribut di sini?”

Cepat Cui Pek-khe melompat bangun dan berdiri sejajar dengan Ko Gan-ci sambil membentak, “Suhengku Kwa Pek-hwe sebenarnya ditewaskan oleh siapa?”

Toan Ki melihat kakek itu rada bungkuk, mukanya penuh keriput, usianya kalau tiada seabad, paling sedikit juga lebih 80 tahun.

Maka terdengarlah kakek itu berkata dengan suara yang serak, “Kwa Pek-hwe? Ehm, manusia dapat hidup sampai Pek-hwe (seratus tahun), sudah tiba waktunya juga untuk mati!”

Memangnya Ko Gan-ci tidak sabar lagi dan ingin membalas sakit hati sang Suhu, kini mendengar kata-kata si kakek yang kasar itu, ia menjadi murka, sekali ruyung bekerja, terus saja ia sabet punggung kakek itu. Ia khawatir Ciumoti merintangi tindakannya, maka serangannya sengaja dilontarkan dari jurusan yang tak bisa dialangi padri itu.

Siapa duga Ciumoti cuma ulur sebelah tangan saja, seketika tangannya seperti timbul daya sedot, ruyung Ko Gan-ci itu kena ditariknya dari jauh. Lalu katanya, “Ko-tayhiap, kedatangan kita ini adalah tamu, ada urusan apa hendaknya dibicarakan secara baik-baik, jangan pakai kekerasan.”

Habis berkata ia remas-remas ruyung rampasannya itu hingga tergulung menjadi satu, lalu dikembalikan kepada Gan-ci.

Muka Ko Gan-ci menjadi merah jengah, ia kikuk apakah mesti menerima kembali senjatanya itu atau tidak. Tapi demi dipikir tujuan pokok adalah untuk menuntut balas, hinaan sementara waktu harus berani ditanggungnya. Maka dengan agak malu ia terima kembali ruyung itu.

Lalu Ciumoti berkata kepada si kakek, “Siapakah nama Sicu yang terhormat ini? Apakah masih famili dengan Buyung-siansing atau sahabatnya?”

Kakek itu tertawa, sahutnya, “Aku cuma seorang budak tua Kongcu saja, masakah punya nama terhormat segala? Kabarnya Thaysuhu adalah sobat baik mendiang Loya kami, entah ada keperluan apa?”

“Urusanku harus kukatakan langsung dengan Buyung-kongcu,” sahut Ciumoti.

“Tapi sayang, kemarin dulu Kongcu baru bepergian, entah kapan baru dapat pulang,” kata si kakek.

“Jika begitu, ke manakah Kongcu pergi?” tanya Ciumoti.

“Wah, aku lupa,” sahut kakek itu sambil ketok-ketok jidat sendiri. “Beliau seperti mengatakan hendak pergi ke negeri He atau Tayli, entah Turfan atau negeri mana lagi.”

Ciumoti kurang senang oleh jawaban itu, terang tidak mungkin seorang sekaligus mengunjungi negeri sebanyak itu, ia tahu budak tua ini sengaja berlagak pikun, maka katanya, “Jika demikian, aku pun tidak menunggu lagi pulangnya Kongcu, harap Koankeh (kepala pengurus rumah tangga) suka membawaku bersembahyang ke makam Buyung-siansing sekadar memenuhi kewajiban sebagai seorang sobat lama.”

“Ah, permintaan ini tidak berani kuterima, aku pun bukan Koankeh apa segala,” sahut si kakek sambil goyang-goyang tangan.

“Jika begitu, siapakah gerangan Koankeh kalian? Dapatkah kutemui dia?” tanya Ciumoti.

“Ehm, baiklah, akan kupanggilkan Koankeh,” kata si kakek sambil mengangguk. Ia putar masuk ke belakang dengan langkah sempoyongan sebagaimana lazimnya orang tua sambil menggerundel panjang-pendek, “Ai, zaman ini memang terlalu banyak orang jahat, banyak yang menyamar Hwesio dan Tosu untuk menipu orang. Huh, orang tua seperti aku, pengalaman apa yang tak pernah kulihat, mana dapat aku ditipu!”

Mendengar itu, saking gelinya Toan Ki tertawa.

Sebaliknya lekas-lekas A Pik berkata kepada Ciumoti, “Thaysuhu, harap engkau jangan marah, Ui-pepek itu benar-benar seorang pikun. Ia mengira dirinya sendiri sangat pintar, kata-katanya memang menyakiti orang.”

Dalam pada itu Cui Pek-khe lantas menarik Ko Gan-ci ke samping serta membisikinya, “Keledai gundul ini mengaku sebagai sobat orang she Buyung, tapi orang di sini jelas tidak pandang dia sebagai tamu terhormat. Ko-sutit, kita jangan sembarangan bertindak, biarlah kita lihat dulu apa yang akan terjadi.”

Ko Gan-ci mengiakan dan kembali ke tempatnya tadi. Tapi karena kursinya sendiri telah dihancurkan oleh sabetan ruyung, ia menjadi tidak punya tempat duduk lagi.

Maka dengan tersenyum ramah A Pik memberikan kursinya, katanya dengan tersenyum, “Harap Ko-toaya duduk di kursi ini!”

Gan-ci mengangguk puas, pikirnya, “Andaikan dapat kubunuh bersih antero anggota keluarga Buyung, paling sedikit dayang cilik ini akan kuampuni.”

Sementara itu hati Toan Ki sedang diliputi suatu tanda tanya yang aneh. Ketika si budak tua she Ui tadi masuk, diam-diam ia merasa ada sesuatu yang kurang beres. Tapi soal apa, ia sendiri pun tak bisa menjawab. Ia coba memerhatikan alat perabot ruangan itu, kemudian memandang A Pik, Ciumoti, Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci, namun tiada sesuatu tanda mencurigakan yang dilihatnya. Anehnya nalurinya justru semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Tidak lama kemudian, terdengarlah suara tindakan orang, dari belakang muncul seorang laki-laki kurus setengah umur. Orang ini memiara jenggot macam jenggot kambing, gerak-geriknya menunjukkan seorang yang cekatan dan pandai mengatur rumah tangga, pakaiannya juga rajin, jari tengah kiri memakai sebuah cincin berbatu kemala yang besar. Agaknya inilah dia Koankeh keluarga Buyung.

Orang ini memberi hormat kepada tamu-tamunya dan berkata, “Hamba Sun Sam menyampaikan salam hormat kepada tuan-tuan sekalian. Thaysuhu, engkau bermaksud ziarah ke makam Loya kami, untuk mana kami menyatakan sangat berterima kasih. Tapi Kongcuya sedang bepergian, tiada orang yang dapat membalas kehormatan Thaysuhu nanti, hal ini kan kurang pantas. Biarlah kelak kalau Kongcuya pulang, pasti kusampaikan maksud baik Thaysuhu ini…”

Sampai di sini, tiba-tiba Toan Ki mengendus semacam bau harum yang lembut. Seketika pikirannya tergerak, ia curiga, “Apakah mungkin demikian halnya?”

Kiranya tadi waktu si budak tua masuk ke situ, Toan Ki lantas mencium semacam bau wangi yang halus sedap. Bau harum ini lamat-lamat seperti bau harum yang teruar dari badan Bok Wan-jing, walaupun masih banyak perbedaannya, namun satu hal adalah pasti, yaitu bau wangi badan anak perawan.

Semula Toan Ki menyangka bau harum itu timbul dari badan A Pik, maka tidak menaruh perhatian. Tetapi sesudah budak tua itu pergi, bau wangi itu pun lenyap. Karena itulah maka timbul perasaan Toan Ki bahwa ada sesuatu yang kurang beres. Sebab mustahil badan seorang kakek tua bangka begitu bisa mengeluarkan bau harum anak perawan?”

Kemudian ketika Koankeh kurus yang mengaku bernama Sun Sam itu muncul, kembali Toan Ki mengendus bau harum yang sama, maka timbul pula pikirannya, “Barangkali di belakang rumah ini tertanam bunga apa-apa yang aneh, siapa saja yang keluar dari ruangan belakang tentu membawa bau harum yang mengguncangkan sukma itu. Kalau tidak, maka budak tua itu dan si kurus ini pastilah samaran kaum wanita.”

Meski bau wangi itu menimbulkan rasa curiga Toan Ki, tapi karena terlalu halus baunya, maka Ciumoti bertiga sedikit pun tidak tahu.

Sebabnya Toan Ki dapat membedakan bau harum yang halus itu adalah karena dahulu ia pernah disekap bersama Bok Wan-jing di dalam kamar batu oleh Jing-bau-khek alias Yan-king Taycu itu. Maka bau harum khas yang timbul dari badan anak perawan itu susah dirasakan orang lain, tapi bagi Toan Ki pengalaman dahulu itu sangat berkesan dan jauh lebih keras daripada bau harum segala macam wangi-wangian lainnya.

Meski ia mencurigai Sun Sam itu samaran wanita, tapi sesudah dipandang dan diamat-amati, toh tiada sesuatu tanda yang meyakinkan. Bukan saja gerak-gerik Sun Sam itu memang laku kaum laki-laki, bahkan mukanya dan suaranya juga persis seperti kaum laki-laki umumnya.

Tiba-tiba teringat oleh Toan Ki, “Kalau wanita menyamar sebagai lelaki, biji lehernya sekali-kali tak mungkin dipalsukan.”

Karena itu, ia coba memerhatikan leher Sun Sam, namun jenggot kambingnya itu tepat menjulur ke bawah dan menutupi leher hingga tidak kelihatan apakah ada biji leher atau tidak.

Toan Ki masih penasaran, ia berbangkit dan pura-pura menikmati lukisan yang tergantung di dinding sana, dari samping ia lalu melirik untuk mengincar leher Sun Sam.

Sekali ini dapat dilihatnya dengan jelas bahwa leher Sun Sam halus lurus tiada sesuatu yang menonjol. Ketika mengawasi dadanya pula, tampak dada Sun Sam itu montok. Walaupun tanda ini tidak dapat dipastikan sebagai tanda wanita, tapi seorang laki-laki kurus tidaklah lazim memiliki dada yang montok.

Dapat membongkar rahasia itu, Toan Ki merasa sangat senang, pikirnya, “Ini dia, sandiwaranya belum tamat, biarlah kuikuti terus permainannya.”

Dalam pada itu terdengar Ciumoti sedang berkata dengan gegetun, “Dahulu aku berkenalan dengan Loya kalian di negeri Thian-tiok dan saling mengagumi ilmu silat masing-masing, di sanalah kami mengikat persahabatan yang kekal. Sungguh tidak nyana segala apa di dunia fana ini memang mudah berubah, orang bodoh seperti aku ini justru masih diberi hidup, sebaliknya Loya kalian malah sudah mendahului ke nirwana. Jauh-jauh aku sengaja datang dari Turfan untuk sekadar memberi hormat di hadapan makam sobat lama, soal ada orang membalas hormat atau tidak, mengapa mesti dipikirkan? Maka, haraplah Koankeh suka membawaku ke sana.”

Kening Sun Sam tampak bekernyit, agaknya merasa serbasalah, katanya, “Aku…aku…”

“Entah Koankeh merasakan ada kesulitan apa, silakan memberi penjelasan,” tanya Ciumoti.

“Watak Loya kami, sebagai sobatnya tentu Thaysuhu cukup tahu,” sahut Sun Sam. “Loya kami paling tidak suka ada orang berkunjung kepadanya, ia bilang orang yang datang mencarinya kalau bukan hendak menuntut balas dan membikin rusuh, tentu ingin mohon belajar dan menjadi muridnya. Yang lebih rendah lagi bisa juga datang untuk pinjam uang atau bila yang empunya rumah lengah, terus mencuri. Beliau mengatakan kaum Hwesio dan Nikoh lebih-lebih tak dapat dipercaya. Oo…maaf…”

Tiba-tiba ia seperti sadar telah menyinggung perasaan Ciumoti, maka cepat ia tutup mulut.

Tingkah laku menutup mulut dengan tangan itu terang lazimnya dilakukan oleh kaum anak gadis, biji matanya yang hitam pekat mendelik itu pun mengerling sekejap. Meski hanya sekilas saja tingkah laku demikian, namun Toan Ki yang selalu menaruh perhatian itu dapat melihatnya, ia bertambah senang lagi, “Ha, Sun Sam ini bukan saja memang samaran orang perempuan, bahkan adalah seorang nona yang masih sangat muda.”

Ketika ia melirik A Pik, ia lihat ujung mulut gadis itu tersembul senyuman yang licik. Maka Toan Ki jadi lebih yakin lagi, pikirnya, “Sun Sam ini terang sama orangnya dengan si budak tua tadi. Bisa jadi dia ini Enci A Cu yang dikatakan itu.”

Dalam pada itu Ciumoti sedang berkata, “Memang manusia baik-baik di dunia ini lebih sedikit daripada orang jahat. Maka kalau Buyung-siansing tidak suka banyak bergaul dengan khalayak ramai, itu pun jamak.”

“Ya, sebab itulah Loya kami meninggalkan pesan agar siapa pun yang datang hendak berziarah ke makamnya, semuanya harus ditolak,” tutur Sun Sam. “Beliau bilang para keledai gundul itu tidak nanti berniat baik, tentu bermaksud membongkar kuburannya. Ai, maaf Thaysuhu, keledai gundul yang dimaksudkan Loya kami itu sangat mungkin bukan ditujukan kepadamu.”

Diam-diam Toan Ki geli oleh pertunjukan itu, ada pepatah “di hadapan Hwesio memaki keledai gundul”, sungguh sangat tepat. Pikirnya, “Keledai gundul ini tetap tidak marah sama sekali, semakin jahat dan semakin licik orangnya, semakin pandai dia berlaku sabar. Keledai gundul ini benar-benar bukan sembarangan orang.”

Malahan Ciumoti berkata lagi, “Apa yang dipesan Loya kalian itu memang ada benarnya juga. Pada masa hidupnya dahulu terlalu banyak mengikat permusuhan, waktu hidupnya musuh tidak berani padanya, sesudah beliau wafat, bukan mustahil ada yang berusaha membongkar jenazahnya untuk membalas dendam.”

“Berani mengincar jenazah Loya kami? Hahaha, jangan mimpi!” ujar Sun Sam dengan tertawa.

“Tapi aku adalah sobat baik Buyung-siansing, aku hanya ingin memberi hormat di depan makamnya dan tiada maksud lain, hendaklah Koankeh jangan berprasangka jelek,” kata Ciumoti.

“Sungguh hamba tidak berani mengambil keputusan, sebab bila pesan Loya dilanggar, nanti kalau Kongcu pulang dan mengetahui, bukan mustahil hamba akan mendapat ganjaran yang setimpal,” kata Sun Sam. “Begini sajalah, biarlah kumintakan keputusan Lothaythay, nanti kuberi tahukan lagi ke sini.”

“Lothaythay (nyonya besar)? Lothaythay yang mana?” tanya Ciumoti heran.

“Buyung-lothaythay adalah Enci daripada Loya kami,” sahut Sun Sam. “Setiap tamu yang berkunjung kemari kebanyakan menghadap untuk menjura dan menghormatinya. Kini Kongcu tidak di rumah, segala apa harus minta keputusan kepada Lothaythay.”

“Baiklah jika begitu,” kata Ciumoti. “Harap kau sampaikan kepada Lothaythay bahwa Ciumoti dari Turfan menyampaikan salam hormat kepada beliau.”

“Ah, engkau sangat baik, terima kasih, tentu akan kusampaikan,” sahut Sun Sam. Lalu masuklah dia ke belakang.

Diam-diam Toan Ki membatin, “Nona ini sangat licin dan kocak, entah apa maksud tujuannya mempermainkan keledai gundul Ciumoti ini?”

Selang tidak lama, terdengarlah suara keriang-keriut orang berjalan, dari dalam muncul seorang nenek. Belum tiba orangnya bau harum yang sedap halus tadi sudah tercium oleh Toan Ki, diam-diam ia geli, “Hah, sekali ini dia menyamar sebagai nyonya tua.”

Tertampak nyonya tua itu memakai Kun (gaun) sutra warna cokelat, tangan memakai gelang kemala, gelung rambutnya berhias aneka mutiara permata, dandanannya agung terhormat, mukanya sudah keriput, matanya lamat-lamat seperti sudah kurang penglihatannya. Mau tak mau Toan Ki harus memuji dalam hati akan kepandaian menyamar orang, bukan saja samarannya sangat persis, bahkan dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Begitulah sambil beringsut-ingsut dengan tongkatnya nyonya tua itu berjalan ke tengah ruangan, lalu berkata, “A Pik, apakah sobat baik mendiang datang? Kenapa dia tidak menjura padaku?”

Sembari berkata, kepalanya tampak menoleh ke sana-sini seperti lazimnya orang tua yang sudah pikun dan kurang penglihatannya.

A Pik memberi tanda kepada Ciumoti dan membisikinya, “Lekas menjura! Sekali engkau sudah menjura, Lothaythay tentu akan senang dan segala permintaanmu mungkin akan diluluskan.”

Nyonya tua itu lantas miringkan kepalanya, tangannya terangkat di tepi telinga seperti orang sedang mendengarkan sesuatu, lalu tanya keras-keras, “A Pik, kau bicara dengan siapa? Orang sudah menjura belum?”

Maka berkatalah Ciumoti, “Lothaythay, baik-baikkah engkau? Siauceng memberikan salam hormat.”

Lalu ia membungkuk memberi hormat, berbareng kedua tangan mengerahkan tenaga hingga terdengar suara “dak-duk” seperti kepala orang membentur lantai bila bersujud.

Cui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-ci, diam-diam mereka terkesiap oleh tenaga dalam si Hwesio yang hebat itu, kalau bertanding, sudah pasti mereka berdua tidak mampu menangkis satu jurus serangannya.

Sementara itu si nyonya tua lagi manggut-manggut dan berkata, “Baik, baik, sangat baik! Orang jahat di zaman ini memang terlalu banyak, jarang sekali ada orang jujur. Umpama orang menyembah sengaja membikin lantai bersuara dak-duk untuk mengelabui pandanganku yang sudah berkurang ini. Ehm, kau ini sangat baik, sangat penurut, keras sekali caramu menyembah ya.”

Saking gelinya tak tertahan lagi Toan Ki tertawa mengakak.

Perlahan nyonya tua itu menoleh dan mendengarkan dengan pandangan yang riyap-riyip, tanyanya, “A Pik, suara apa tadi? Apa ada orang kentut?”

Sambil berkata, ia terus mengipas-ngipas di depan hidungnya.

“Bukan orang kentut, Lothaythay,” sahut A Pik dengan menahan tawa. “Tapi Toan-kongcu ini lagi tertawa.”

“Toan? Apanya yang putus?” tanya si nenek.

“Bukan Toan arti putus, Lothaythay, tapi orang she Toan, Kongcu keluarga Toan,” sahut A Pik menerangkan.

“Ehm, Kongcu terus-menerus, yang selalu kau ingat hanya Kongcu saja,” ujar si nenek sambil manggut-manggut.

“Lothaythay sendiri masakah tidak selalu terkenang pada Kongcuya?” sahut A Pik dengan muka agak merah.

“Apa katamu? Kongcuya ingin makan jenang?” tanya si nenek.

“Ya, Kongcuya ingin makan jenang, bahkan lebih suka engkau punya kue mangkuk,” sahut si A Pik.

Sudah tentu Toan Ki mengerti percakapan bercabang kedua orang itu, maka ia jadi lebih yakin lagi si nenek itu pasti samaran si A Cu.

Kemudian nenek itu memandang ke arah Toan Ki dan berkata, “Berhadapan dengan orang tua, mengapa kau tidak menjura?”

“Lothaythay,” sahut Toan Ki. “Ada sesuatu ingin kubicarakan denganmu, tapi tidak enak bila didengar orang lain.”

“Kau bilang apa?” tanya si nenek sambil menjulurkan kepalanya ke depan.

“Begini,” kata Toan Ki. “Di rumahku ada seorang keponakan perempuan kecil, namanya A Cu, ia pesan padaku agar menyampaikan beberapa patah kata kepada Lothaythay keluarga Buyung.”

“Ah, sembrono, sungguh sembrono!” berulang si nenek menggeleng kepala.

Namun Toan Ki melanjutkan pula dengan tertawa, “Keponakanku si A Cu itu memang sembrono dan nakal. Dia suka menyaru seperti monyet, hari ini menyaru monyet jantan, besok menyamar monyet betina, malahan pintar main sulap segala. Tapi sering kutangkap dia dan kuhajar bokongnya.”

Kiranya si nenek ini memang benar samaran si A Cu, teman A Pik. Kepandaiannya menyamar memang pintar luar biasa, bukan saja wujudnya mirip, bahkan tutur kata dan gerak-geriknya dapat menirukan dengan tepat dan bagus tanpa cacat sedikit pun. Sebab itulah maka orang sepintar Ciumoti dan sepengalaman Cui Pek-khe juga kena dikelabui. Siapa duga dari bau harum yang teruar dari badannya itulah rahasianya dapat dibongkar oleh Toan Ki.

Keruan saja A Cu sangat terkejut, namun lahirnya ia tetap tenang saja, katanya kemudian, “Anak baik, sungguh pintar sekali kau, belum pernah kulihat anak secerdik engkau ini. Anak baik jangan usil, nanti nenek tentu memberikan kebaikan padamu.”

Toan Ki pikir di balik kata-kata orang terang meminta agar dia jangan membuka rahasianya, karena tujuannya adalah untuk melayani si keledai gundul Ciumoti.

Karena pikiran demikian, Toan Ki lantas menjawab, “Lothaythay jangan khawatir, sekali Cayhe sudah datang di sini, segala apa aku tentu menurut perintah Lothaythay.”

Dasar A Cu itu memang sangat nakal, segera katanya pula, “Bagus, anak baik, kau benar-benar anak penurut sekali. Nah, sekarang lekas menjura tiga kali kepada nenek, pasti nenek nanti takkan bikin rugi padamu.”

Toan Ki melengak. Kurang ajar, pikirnya, masakah seorang putra pangeran yang diagungkan dari negeri Tayli disuruh menjura kepada budak kecil?

Melihat sikap Toan Ki ragu-ragu dan serbasusah, A Cu tertawa dingin, katanya, “Ada manusia yang sudah dekat ajalnya, tapi masih sombong dan angkuh. Anak baik, ingin kukatakan padamu, pasti takkan merugikanmu jika menjura beberapa kali kepada nenekmu ini.”

Ketika Toan Ki berpaling, ia lihat A Pik dengan bersenyum simpul sedang melirik padanya, kulit badannya yang putih bersih itu bagai buah manggis segar yang baru dibuka, ujung mulutnya terdapat setitik andeng-andeng kecil menambah kecantikannya yang menggiurkan. Hati Toan Ki tergerak, segera ia tanya A Pik, “Katamu masih mempunyai seorang teman Enci A Cu. Apakah dia…dia secantik molek engkau?”

“Ai, rupaku yang jelek melebihi siluman ini mana berani kubandingkan Enci A Cu,” sahut A Pik dengan tersenyum. “Rupaku ini masih belum masuk hitungan, kalau Enci A Cu mendengar pertanyaanmu ini, pasti dia akan marah. Ketahuilah bahwa Enci A Cu itu berpuluh kali lebih ayu daripadaku.”

“Apa betul?” Toan Ki menegas.

“Guna apa aku mendustai kau?” sahut A Pik tertawa.

“Berpuluh kali lebih cantik daripadamu, di dunia ini kukira tidak ada lagi,” ujar Toan Ki. “Ya, kecuali…kecuali si dewi di dalam gua, secantik dirimu saja sukar dicari orangnya.”

Wajah A Pik menjadi kemerah-merahan, katanya dengan malu-malu kucing, “Kau disuruh menjura kepada Lothaythay, tidak perlu memuji-muji diriku.”

“Wah, pada masa mudanya Lothaythay pasti juga seorang wanita mahacantik,” kata Toan Ki pula. “Bicara terus terang, soal rugi atau tidak kepadaku sama sekali tidak kupikirkan, tapi disuruh menjura kepada wanita mahacantik, aku benar-benar suka dan rela.”

Habis berkata, benar saja ia terus berlutut sambil membatin, “Sekali sudah mau menjura, maka harus yang keras. Memangnya aku sudah pernah menjura beratus kali kepada patung dewi di dalam gua itu, apa alangannya kalau kini cuma menjura tiga kali kepada wanita cantik di Kanglam?”

Lalu ia pun menjura tiga kali hingga kepalanya membentur lantai.

Dalam hati A Cu sangat girang, pikirnya, “Kongcuya ini terang sudah tahu kalau aku cuma seorang pelayan, tapi sudi menjura padaku, sungguh susah dicari orangnya.”

Maka katanya kemudian, “Ehm, anak baik, pintar sekali kau. Cuma sayang aku tidak membawa uang receh untuk jajanmu…”

“Sudahlah, asal Lothaythay jangan lupa, berilah lain kali bila ketemu lagi,” sela A Pik tiba-tiba.

A Cu melotot sekali pada kawan itu, lalu ia berpaling dan berkata kepada Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci, “Dan kedua tamu ini mengapa tidak menjura juga kepada nenek?”

Gan-ci mendengus dengan gusar, serunya keras-keras, “Kau bisa ilmu silat atau tidak?”

“Eh, kau bilang apa?” A Cu menegas.

“Kutanya kau bisa ilmu silat atau tidak?” Gan-ci mengulangi. “Jika berilmu silat tinggi, biarlah orang she Ko ini terima kematian di bawah tangan Lohujin (nyonya tua). Tapi kalau bukan orang persilatan, aku pun tidak perlu banyak omong denganmu.”

A Cu menggeleng kepala, katanya berlagak pilon, “Kau berkata tentang ulat atau lalat apa segala. Ulat tidak ada di sini, kalau lalat sih banyak. Idiiiih kotor ah!”

Lalu ia pun berpaling kepada Ciumoti, “Toahwesio, katanya engkau hendak membongkar kuburan Buyung-siansing, memangnya engkau ingin mencuri benda mestika apa di kuburannya?”

Ciumoti sudah dapat melihat juga bahwa nenek itu berlagak sangat pikun dan pura-pura tuli, cuma ia belum tahu A Cu sebenarnya adalah seorang gadis cilik yang menyaru sebagai seorang tua. Maka diam-diam ia bertambah waspada, ia pikir, “Buyung-siansing saja sudah begitu lihai, angkatan tua di rumahnya tentu lebih-lebih hebat lagi.”

Maka ia sengaja pura-pura tidak dengar tentang pertanyaan tadi, tapi menjawab, “Siauceng adalah sobat baik Buyung-siansing, karena mendengar berita wafatnya, jauh-jauh dari negeri Turfan datang kemari memberi hormat padanya. Waktu almarhum masih hidup, Siauceng pernah berjanji akan mengambilkan gambar Lak-meh-sin-kiam-boh dari keluarga Toan di Tayli untuk dipersembahkan kepada Buyung-siansing. Selama janji itu belum terpenuhi, sungguh Siauceng merasa sangat malu.”

Mendengar kata-kata “Lak-meh-sin-kiam-boh”, seketika A Cu terkesiap. Ia tahu ilmu silat itu bukan sembarangan, dirinya juga belum lama dapat mendengar dari Kongcuya. Ia saling pandang sekejap dengan A Pik dan sama-sama berpikir si Hwesio itu sudah mulai bicara acara pokoknya.

Maka sahut A Cu, “Ada apa tentang Lak-meh-sin-kiam-boh segala?”

“Begini,” tutur Ciumoti. “Dahulu Buyung-siansing berjanji padaku asal dapat mengambilkan Lak-meh-sin-kiam-boh untuk dibacanya barang beberapa hari, sebagai timbal baliknya beliau membolehkan kubaca kitab-kitabnya beberapa hari di pondok ‘Lang-goan-cui-kok’ di kediaman kalian ini.”

A Cu terkejut, ternyata padri asing itu kenal nama “Lang-goan-cui-kok” atau pondok air indah, mungkin apa yang dikatakan itu memang benar-benar adanya. Tetapi ia tetap berlagak pilon dan tanya pula, “Kau bilang ‘Lang-goan-cui-kok’ apa? O, kau kepingin makan kue mangkuk? Itulah mudah, di rumah kami selalu sedia kue mangkuk.”

Ciumoti benar-benar kewalahan, ia berpaling dan berkata kepada A Pik, “Lothaythay ini entah benar-benar sudah pikun atau cuma berlagak pilon. Yang terang sekarang berbagai tokoh dari aliran persilatan di Tionggoan sedang berkumpul di Siau-lim-si untuk berunding cara bagaimana menghadapi Buyung-si dari Koh-soh sini. Mengingat Siauceng pernah bersahabat dengan Buyung-siansing maka sebenarnya bermaksud mencurahkan sedikit tenagaku yang tak berarti itu untuk membantunya. Tapi Lothaythay sedemikian sikapnya, sungguh membikin hati orang menjadi dingin.”

A Cu sama sekali tidak gubris ucapannya itu, ia malah berseru kepada A Pik, “He, A Pik, kau dengar tidak, hati Toahwesio ini kedinginan, lekaslah kau membuatkan kue mangkuk yang hangat-hangat untuknya.”

“Gulanya belum beli, Lothaythay,” sahut A Pik dengan menahan geli.

“Pakailah gula batu,” kata A Cu.

“Tepungnya habis, Lothaythay!” sahut A Pik pula.

“Wah, aku benar-benar sudah pikun, lantas bagaimana baiknya?” ujar A Cu akhirnya.

Dasar anak gadis Sohciu memang terkenal lincah dan pintar bicara, pula kedua dayang cilik ini sehari-hari sudah biasa bergurau dan saling berolok-olok, keruan tingkah laku mereka ini membuat Ciumoti benar-benar mati kutu.

Maksud kedatangannya ke Sohciu ini memangnya berharap dapat berjumpa dengan Buyung-kongcu untuk berunding sesuatu urusan penting. Siapa duga orang yang dicari tidak ada, sebaliknya masih bertemu dengan orang-orang yang mengoceh tak keruan hingga membuatnya bingung.

Namun Tay-lun-beng-ong ini memang tokoh yang hebat, sedikit berpikir, segera ia yakin Buyung-lothaythay, Sun Sam, si budak tua dan A Pik itu telah sengaja merintanginya agar tidak dapat masuk perpustakaan “Lang-goan-cui-kok” untuk membaca.

Kini tidak peduli lagi mereka berlagak apa pun juga, asalkan sudah ketemukan kata-kata tepat, kelak apakah mesti pakai kekerasan atau secara halusan, dirinya sendiri sudah lebih dulu di pihak yang benar.

Maka dengan sabar dan ramah ia pun berkata, “Lukisan Lak-meh-sin-kiam-boh itu sekarang juga sudah kubawa. Sebab itulah kumohon dapat diperkenankan pergi membaca ke ‘Lang-goan-cui-kok’.”

“Buyung-siansing sudah wafat kini,” kata A Pik. “Pertama janji lisan itu tak ada bukti. Kedua, meski Kiam-boh itu sudah dibawa kemari, tapi tiada seorang pun di antara kami yang paham. Maka sekalipun dahulu ada perjanjian apa-apa, dengan sendirinya batal.”

Namun A Cu lantas berkata, “Kiam-boh apakah itu? Di mana? Coba kulihat dulu apakah tulen atau palsu!”

“Toan-kongcu ini telah hafal seluruh lukisan Lak-meh-sin-kiam-boh itu,” sahut Ciumoti sambil menunjuk Toan Ki. “Kini kubawanya kemari, sama saja seperti kubawa gambar-gambar aslinya.”

“Huh, kukira Kiam-boh apa segala, rupanya Thaysuhu cuma bergurau saja,” jengek A Pik.

“Siauceng mana berani bergurau?” sahut Ciumoti sungguh-sungguh. “Lak-meh-sin-kiam-boh yang asli itu telah dibakar Koh-eng Taysu di Thian-liong-si, syukur Toan-kongcu ini dapat menghafalkan seluruh isinya dengan baik.”

“Sekalipun Toan-kongcu benar-benar hafal, itu pun adalah urusan Toan-kongcu sendiri,” ujar A Pik. “Dan andaikan perlu pergi ke Lang-goan-cui-kok, yang benar juga Toan-kongcu yang pantas ke sana. Apa sangkut pautnya dengan Taysu?”

“Untuk memenuhi janjiku dahulu itu, ingin kubakar Toan-kongcu ini di hadapan makam Buyung-siansing,” kata Ciumoti.

Keruan Semua orang terperanjat. Tapi melihat sikap padri itu sungguh-sungguh dan sekali-kali bukan berkelakar, kejut mereka menjadi lebih hebat.

Maka berkatalah A Cu, “Hah, bukankah Taysu ini sedang bergurau? Masakah orang baik-baik akan kau bakar hidup-hidup?”

“Ya, Siauceng hendak membakarnya, rasanya ia pun takkan mampu membangkang,” sahut Ciumoti dengan tawar.

Segera A Pik berkata pula, “Taysu bilang Toan-kongcu telah hafal isi Lak-meh-sin-kiam-boh, jelas alasanmu ini sengaja dicari-cari saja. Pikirlah betapa lihai ilmu Lak-meh-sin-kiam itu, kalau benar-benar Toan-kongcu mahir ilmu pedang sakti itu, masakah dia bisa dikalahkan olehmu?”

“Ya, benar juga ucapanmu ini,” sahut Ciumoti. “Tapi nona cuma tahu kepalanya tidak tahu ekornya. Toan-kongcu ini telah kututuk Hiat-to kelumpuhannya, antero tenaga dalamnya tak dapat dikeluarkannya.”

Namun A Cu masih menggeleng kepala, katanya, “Lebih-lebih aku tidak percaya pada alasanmu ini. Untuk membuktikan kebenarannya, coba kau buka Hiat-to Toan-kongcu dan suruhlah dia memainkan Lak-meh-kiam-hoat itu. Tapi kuyakin 99% engkau pasti bohong.”

Ciumoti manggut-manggut, sahutnya, “Baiklah, boleh juga dicoba!”

Kiranya waktu datang tadi, karena kesengsem oleh kecantikan A Pik, pula sangat tertarik oleh nyanyiannya yang merdu, maka Toan Ki telah memberi pujian kepada dayang itu. Kemudian Toan Ki sudi pula menjura tiga kali kepada A Cu, hal ini pun memperoleh simpatik dayang ini. Maka demi mendengar Toan Ki tertutuk oleh Ciumoti, segera kedua dayang cilik itu sengaja menipu padri itu supaya melepaskan Hiat-to Toan Ki.

Tak tersangka permintaan mereka itu telah diterima begitu saja oleh Ciumoti. Segera padri itu menepuk beberapa kali dada, paha dan pundak lalu Toan Ki hingga jalan darahnya lancar kembali, sedikit Toan Ki mengerahkan hawa murninya, terasalah bergerak dengan sempurna.

Ia coba menjalankan tenaga menurut Tiong-ciong-kiam-hoat dari Lak-meh-sin-kiam itu, ia tarik tenaga dalamnya ke Tiong-ciong-hiat di jari tengah kanan, maka terasalah jari itu sangat panas, ia tahu asal sekali jarinya menuding ke depan, jadilah sejurus tusukan pedang yang lihai.

“Toan-kongcu,” demikian Ciumoti lantas berkata, “Buyung-lothaythay tidak percaya engkau sudah mahir Lak-meh-sin-kiam, maka silakan engkau mempertunjukkannya. Begini, seperti aku menebas sebatang ranting pohon ini.”

Habis berkata, dengan telapak tangan kiri ia terus memotong miring ke depan dengan penuh tenaga dalam yang hebat. Itulah satu jurus yang lihai dari “Hwe-yam-to”.

Maka terdengarlah suara “krak” sekali, sebatang ranting pohon yang cukup besar dan berada di pelataran sana tahu-tahu telah patah sendiri.

Saking kagetnya sampai Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci menjerit. Meski sebelumnya mereka tahu Kungfu padri asing itu sangat lihai lagi aneh, tapi mereka percaya paling-paling juga cuma sebangsa ilmu sihir dari kalangan hitam. Tapi kini demi menyaksikan betapa tinggi Lwekangnya yang digunakan untuk menebas ranting pohon dari jauh itu, barulah mereka sadar telah salah sangka.

Maka Toan Ki berkata sambil menggoyang kepala, “Tidak, aku tidak bisa ilmu silat apa-apa, lebih-lebih tidak tahu tentang Lak-meh atau Cit-meh-kiam-hoat segala. Batang pohon yang indah itu kenapa kau rusak tanpa sebab?”

“Kenapa Toan-kongcu mesti merendah diri,” sahut Ciumoti. “Di antara jago-jago Toan-si di Tayli, engkaulah tokoh nomor satu. Di dunia ini kecuali Buyung-kongcu dan aku si Hwesio mungkin tiada seberapa orang lagi yang mampu menandingimu. Tapi keluarga Buyung di Koh-soh ini adalah gudangnya ilmu silat di dunia ini, bila kau mau pertunjukkan beberapa jurus, bila ada kesalahan, boleh jadi Lothaythay nanti akan memberi petunjuk seperlunya, bukankah hal ini akan menguntungkanmu?”

“Toahwesio, sepanjang jalan kau perlakukan aku dengan kasar, kau banting dan menyeret aku ke sini, untuk itu aku terima saja diperlakukan sesukamu karena aku bukan tandinganmu. Sebenarnya aku tidak sudi bicara denganmu, namun setiba di sini, aku telah dapat menikmati pemandangan indah dengan gadis-gadisnya yang cantik, maka rasa dendamku padamu menjadi terhapus juga. Maka untuk selanjutnya hubungan kita kuputuskan sampai di sini, masing-masing tidak perlu saling urus.”

Diam-diam A Pik dan A Cu merasa geli oleh ketolol-tololan Toan Ki itu. Tapi demi mendengar mereka dipuji cantik, betapa pun mereka sangat senang.

Lalu Ciumoti berkata, “Kongcu tidak sudi mengunjukkan Lak-meh-sin-kiam, bukankah itu berarti omonganku tadi cuma bualan belaka?”

“Memangnya mulutmu tidak bisa dipercaya,” sahut Toan Ki. “Jikalau benar engkau ada janji dengan Buyung-siansing, mengapa tidak dulu-dulu mengambil Kiam-boh ke Tayli, tapi menunggu setelah Buyung-siansing meninggal, sesudah tiada saksi, baru kau bikin rusuh ke sini.

“Hm, kulihat engkau sebenarnya mempunyai maksud tertentu, kau kagum pada ilmu silat keluarga Buyung yang hebat, maka sengaja mengarang dongeng yang susah dipercaya untuk menipu Lothaythay, tujuanmu sebenarnya ingin mengintip kitab pusaka ajaran silat di kamar perpustakaan keluarga Buyung ini, dengan begitu engkau akan merajai dunia persilatan.

“Tapi, hah, Ciumoti, kenapa tidak kau pikir, bahwa nama orang sedemikian gemilangnya di dunia persilatan, masakah tidak tahu akalmu yang licik ini? Bila cuma mengandalkan sedikit ocehanmu ini lantas kau kira rahasia ilmu silat keluarga Buyung dapat kau tipu, wah, mungkin setiap orang di dunia ini bisa menjadi penipu ulung.”

Namun Ciumoti ternyata menggeleng-geleng kepala, katanya, “Tafsiran Toan-kongcu salah besar. Meski sudah lama ada janjiku dengan Buyung-siansing, soalnya karena selama ini Siauceng sedang menyepi untuk meyakinkan ‘Hwe-yam-to’, sudah sembilan tahun Siauceng tidak pernah keluar rumah, maka tidak sempat pula mengunjungi Tayli. Bila ‘Hwe-yam-to’ itu tidak berhasil kuyakinkan, mungkin Siauceng tak dapat keluar lagi dari Thian-liong-si dengan selamat.”

“Toahwesio,” kata Toan Ki pula, “bicara tentang nama, engkau memang sudah terkenal. Tentang kedudukan, engkau adalah Hou-kok-hoat-ong negeri Turfan, ilmu silatmu pun sudah sekian tingginya. Tapi mengapa engkau tidak mau hidup tenteram di rumah dengan kedudukanmu yang agung itu, sebaliknya malah datang ke sini untuk menipu orang? Kupikir lebih baik engkau lekas pulang saja.”

“Sudahlah, tak perlu banyak omong, bila Kongcu tidak sudi unjuk Lak-meh-sin-kiam, janganlah menyalahkan bila Siauceng berlaku kasar,” kata Ciumoti dongkol.

“Kasar? Engkau memangnya sudah kasar padaku, masakah masih ada pula yang lebih kasar?” sahut Toan Ki dengan gusar. “Ya, paling-paling sekali bacok kau matikan aku, kenapa aku takut?”

“Kongcu mau menurut kata-kata Siauceng atau tidak?” Ciumoti menegas pula.

“Ya, boleh,” sahut Toan Ki.

Ciumoti menjadi girang, katanya, “Jika begitu, silakan unjukkan ilmu pedangmu yang sakti itu.”

“Ilmu pedang sakti? Apa kau bawa pedang? Boleh dipinjamkan padaku,” sahut Toan Ki.

Sungguh dongkol Ciumoti tidak kepalang. Serunya tidak sabar lagi, “Rupanya Kongcuya sengaja hendak menghinaku, ya? Awas serangan!”

Berbareng telapak tangan kirinya terangkat miring terus memotong ke muka Toan Ki dengan tenaga yang kuat.

Namun Toan Ki sudah ambil keputusan bandel. Ia tahu ilmu silat orang teramat tinggi, bertempur atau tidak tetap dirinya tak bisa menang. Maksud padri itu ingin dirinya memainkan Lak-meh-sin-kiam untuk membuktikan ucapannya bukan bualan belaka, maka ia justru tidak sudi memenuhi keinginan orang. Ketika serangan Ciumoti itu tiba, dengan nekat Toan Ki sama sekali tidak menghindar, juga tidak menangkis.

Keruan Ciumoti menjadi kaget malah. Sudah pasti ia akan membakar Toan Ki di depan kuburan Buyung-siansing, maka ia tidak ingin membunuhnya sekarang dengan tenaga dalam serangannya itu. Cepat ia angkat tangan sedikit ke atas, “sret”, serangkum angin tajam menyambar lewat di atas kepala Toan Ki hingga secomot rambutnya terkupas.

Cui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-ci dengan terperanjat. Begitu pula A Pik dan A Cu tidak kurang kejutnya menyaksikan ilmu sakti padri itu.

“Apakah Toan-kongcu lebih suka korbankan jiwa daripada memenuhi permintaan Siauceng?” tanya Ciumoti.

Toan Ki memang sudah tidak pikirkan mati atau hidup lagi, maka sahutnya dengan tertawa, “Haha, Toahwesio sama sekali belum hilang dari segala macam pikiran duniawi, mana ada harganya disebut sebagai padri saleh. Huh, hanya nama kosong belaka.”

Ciumoti tidak meladeni ocehan Toan Ki lagi, tapi mendadak serangannya ditujukan kepada A Pik sambil berkata, “Maaf, terpaksa kukorbankan dulu seorang budak keluarga Buyung ini!”

Sungguh kaget A Pik tak terkatakan oleh serangan mendadak itu, cepat ia berkelit, “brak”, kursi di belakangnya seketika hancur berkeping-keping oleh tenaga pukulan Ciumoti. Bahkan golok tangan kanan Ciumoti menyusul memotong pula.

Syukurlah A Pik sempat jatuhkan diri ke lantai dan menggelundung ke samping dengan cepat, namun begitu keadaannya pun sangat mengenaskan.

Pada saat lain, mendadak Ciumoti menggertak sekali, golok tangan untuk ketiga kalinya membacok lagi.

Saking takutnya sampai muka A Pik menjadi pucat, meski gerak-geriknya sangat cepat, tapi ia bingung juga menghadapi bacokan tenaga dalam yang tak kelihatan itu.

Hubungan A Cu dengan A Pik bagai saudara sekandung, melihat kawannya terancam bahaya, tanpa pikir lagi A Cu terus angkat tongkatnya dan menghantam punggung Ciumoti.

Dalam samarannya baik jalannya maupun bicaranya, lagak-lagu A Cu memang mirip benar seorang nenek reyot. Tapi kini dalam keadaan gugup dan buru-buru, gerak tubuhnya menjadi sangat gesit dan cepat sekali.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: