Kumpulan Cerita Silat

29/06/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 15

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 2:25 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 15
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

Mula-mula Po-ting-te dan lain-lain merasa heran ketika mendengar ucapan Ciok-jing-cu tadi, mereka mengira imam yang biasanya jenaka itu sedang membadut. Tapi kini demi tampak sikap Ui-bi-ceng yang sungguh-sungguh itu, barulah mereka tahu urusan benar-benar sangat gawat.

Segera Po-ting-te pegang tangan Toan Ki dan hendak menyeretnya bangun. Ketika tangan menempel tangan, tiba-tiba hati tergetar juga, tenaga dalam terus merembes keluar. Cepat ia tahan sekuatnya berbareng lengan jubah mengebas hingga Toan Ki terentak ke samping beberapa tindak. Lalu bentaknya dengan suara bengis, “Sejak kapan kau belajar ilmu sesat begini?”

Sejak kecil sampai dewasa, jarang sekali Toan Ki melihat pamannya bicara dengan suara bengis padanya. Saking gugupnya cepat ia berlutut dan menjawab, “Kecuali ‘Leng-po-wi-poh’ itu selamanya anak tidak pernah belajar ilmu apa-apa lagi. Apa barangkali ilmu gerak langkah itu sejahat ini? Jika…jika demikian, biarlah anak takkan menggunakannya lagi mulai sekarang, bahkan akan kulupakan saja seluruhnya.”

Po-ting-te cukup kenal watak keponakannya, selamanya tidak pernah berdusta, terhadap orang tua juga sangat hormat, maka apa yang dikatakan pasti salah. Tentu di dalamnya ada sesuatu yang ganjil, maka katanya pula, “Kau gunakan ilmu melenyapkan tenagaku, hal ini sengaja kau lakukan atau karena terpaksa lantaran mendapat tekanan orang lain?”

Toan Ki bertambah heran dan bingung, “Titji ben…benar tidak tahu sama sekali, dari mana Titji berani melenyapkan tenaga paman? Hakikatnya Titji tidak bisa sesuatu ilmu apa-apa!”

Tadi waktu Hui-cin dan Hui-sian menemui Po-ting-te, sebagai Onghui yang diagungkan, Si Pek-hong tidak bebas bertemu dengan orang luar, maka dia menyingkir ke dalam. Kemudian waktu mendapat laporan bahwa putra kesayangannya di depan terjungkal oleh tindakan Ui-bi-ceng dan sedang dimarahi Po-ting-te, saking gugupnya cepat ia keluar lagi.

Dan ketika melihat Toan Ki berlutut di hadapan sang paman dengan sikap bingung dan takut, sebagai ibu yang mahakasih, segera ia menarik bangun sang putra sambil berkata, “Ki-ji, jangan khawatir, segala urusan boleh katakan terus terang pada Pekhu dan aduuuuh…”

Sekonyong-konyong ia merasa tangan sendiri seakan-akan tersedot dan tenaga dalam terus merembes keluar tak terhentikan.

Untunglah sebelum itu Po-ting-te sudah bersiap-siap, cuma di antara ipar tidak boleh bersentuhan badan, maka tidak enak baginya menarik tangan Si Pek-hong, tapi cepat ia kebas lengan bajunya hingga berjangkit serangkum angin keras ke tengah-tengah kedua orang itu, dengan paksa ia pisahkan daya lengket tangan ibu dan anak itu.

“Kenapa kau…kau…” seru Si Pek-hong kaget setelah dapat menarik kembali tangannya.

Melihat kelakuan sang ibu yang kaget dan gugup itu, Toan Ki belum sadar kalau dirinya yang menjadi gara-gara, cepat ia berbangkit hendak memegang sang ibu.

“Jangan Ki-ji!” lekas Cing-sun mencegahnya sambil mengadang di antara istri dan anaknya.

Maka sekarang tahulah semua orang bahwa pada badan Toan Ki ada sesuatu yang tidak beres, tapi mereka pun tidak mencurigai lagi bahwa arak muda itu mahir “Hoa-kang-tay-hoat” dan sengaja hendak mencelakai orang. Hal ini dapat mereka ketahui dari sikap Toan Ki yang polos dan lugu itu, sedikit pun tidak berpura-pura atau palsu. Pula, seumpama pemuda itu benar-benar jahat dari keji, rasanya tidak mungkin membunuh ibu kandung sendiri.

“Ui-bi Taysu, Ciok-jing-cu,” tiba-tiba Sing-thay berkata, “apakah sebabnya Toan-kongcu bisa begitu? Ayolah, coba siapa yang lebih dulu dapat menerangkannya!”

Mendengar itu, Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu saling melotot sekali, lalu sama-sama memeras otak untuk menemukan jawabannya.

Kiranya Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu sebenarnya adalah dua kawan karib pada masa lalu. Suatu kali, karena berdebat tentang agama yang dianut masing-masing itu, keduanya sama-sama tidak mau mengalah hingga akhirnya saling gebrak.

Tapi karena kepandaian masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri, muka kekuatan kedua pihak boleh dikatakan setali-tiga-uang alias sama kuat.

Beberapa kali mereka pernah bertanding, pada penghabisan kalinya, hampir-hampir keduanya menggeletak dan gugur bersama. Untunglah datang Po-ting-te memisahkan mereka dengan Lwekang yang tinggi, tapi ketiga orang sama menderita kerugian tenaga dalam yang besar hingga perlu merawat diri dalam waktu cukup lama. Sejak itu Hwesio dan Tosu itu sama bersumpah tidak sudi bertemu muka lagi. Siapa duga hari ini justru saling berjumpa pula di istana pangeran Tin-lam-ong ini.

Ko Sing-thay bermaksud melenyapkan persengketaan di antara kedua tokoh itu, maka sengaja ia kemukakan persoalan tadi dengan maksud agar kedua orang itu bertanding kecerdasan otak dan tidak bertanding ilmu silat, jika pertanyaannya tadi dapat dimenangkan oleh salah satu pihak, ia harap dapatlah mengakhiri percekcokan di antara kedua orang itu.

Pertanyaan Ko Sing-thay itu sebenarnya lebih menguntungkan Ciok-jing-cu, sebab imam itu telah menjelajah ke mana saja, dengan pengalamannya yang luas terang lebih menguntungkan daripada Ui-bi-ceng yang sudah sekian lama terasing di pegunungan sunyi.

Namun biarpun Ui-bi-ceng tidak tahu apa sebabnya Toan Ki menjadi begitu, bagi Ciok-jing-cu, kecuali menduga kepandaian pemuda itu adalah Hoa-kang-tay-hoat ajaran iblis tua Sing-siok-hay, lebih dari itu ia pun tidak bisa mengemukakan pendapat lain.

Maka dengan gusar Cing-sun berkata, “Ketika Ki-ji disekap di rumah batu itu, tentu dia telah dicekoki sesuatu obat racun apa-apa oleh Jing-bau-khek itu hingga ada ilmu sihir masuk tubuhnya tanpa disadarinya.”

“Ya, masuk akal juga pendapatmu ini,” ujar Po-ting-te mengangguk. “Tentu Ki-ji terkena apa-apanya, makanya bisa begini. Ki-ji, coba katakan, waktu dikurung di rumah batu itu, apa kau pernah pingsan?”

“Pernah,” sahut Toan Ki, “bahkan beberapa kali Titji tak sadarkan diri.”

“Itulah dia!” seru Cing-sun. “Pasti kesempatan pada waktu Ki-ji tak sadar itu telah digunakan oleh Jing-bau-khek untuk memasukkan ilmu sihir yang bisa menghilangkan kepandaian orang ke dalam badannya. Maksud tujuannya tentu secara tak langsung Ki-ji hendak dipakai untuk mencelakai sanak familinya, yaitu, supaya kepandaian kita lenyap semua di tangan Ki-ji. Sungguh tipu muslihat yang keji dan terkutuk. Toako, urusan tak boleh terlambat, marilah kita segera mencari akal untuk melenyapkan ilmu sihir dalam tubuh Ki-ji itu.”

Dan di antara semua orang itu, dengan sendirinya Si Pek-hong yang paling khawatir, tanyanya cepat, “Ki-ji, apakah kau rasakan badanmu menderita sesuatu?”

Toan Ki berkerut kening, sahutnya, “Antero tubuhku terasa penuh terisi tenaga belaka, di mana-mana seakan-akan melembung, tepi justru susah untuk ditumpah keluar. Hawa itu terasa meresap ke sana-sini di dalam badan, mungkin seluruh isi perutku kacau-balau diterjang olehnya.”

“O, kasihan!” seru Si Pek-hong terus hendak merangkul sang putra.

Syukur Cing-sun keburu mencegahnya sambil berkata, “Jangan menyentuh Ki-ji! Badannya keracunan.”

“Badan keracunan”, memang demikianlah pendapat semua orang yang hadir di situ. Mereka menjadi kasihan dan gegetun pemuda yang tampan itu mesti menderita penyakit yang aneh itu.

“Toapek, kita harus lekas berdaya untuk menyembuhkan Ki-ji,” pinta Si Pek-hong kepada Po-ting-te.

“Harap adik ipar jangan khawatir,” sahut Po-ting-te. “Di depan kita sekarang sudah siap seorang Hwesio dan seorang Tosu, keduanya tokoh nomor wahid dalam Bu-lim, satu tadi telah memaki Ki-ji habis-habisan, yang lain bahkan telah menendangnya hingga terjungkal, dengan sendirinya penyakit Ki-ji wajib mereka sembuhkan.”

Saat itu Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu justru sedang peras otak memikirkan penyakit apa yang diderita Toan Ki. Maka apa yang dikatakan Po-ting-te itu sama sekali tak masuk dalam telinga mereka.

Sekonyong-konyong Ui-bi-ceng berteriak, “He, ya!

Semua orang ikut girang dan mengarahkan pandang kepadanya. Siapa duga padri itu lantas goyang-goyang tangan dan menyatakan dengan menyesal, “Ah, salah, salah! Obat racun itu melulu dapat merusak kepandaian sendiri dan tak bisa melenyapkan kepandaian pihak lain.”

Penjelasan itu membikin semua orang merasa kecewa.

Tiba-tiba Ciok-jing-cu juga berseru, “Ya, tentu begitu!”

“Bagus!” teriak Sing-thay ikut bergirang. “Nah, apa sebabnya, lekas katakan?”

Dengan berseri-seri segera Ciok-jing-cu bercerita, “Di luar lautan sana, di pantai semenanjung Liautang terdapat sebuah pulau ular…” tiba-tiba wajah yang berseri-seri tadi membuyar hingga akhirnya berubah menjadi lesu, ia geleng-geleng kepala dan menyambung, “Wah, salah rekaanku, tak mungkin terjadi begini.”

Begitulah, suasana di dalam ruangan itu menjadi sunyi senyap, tiada seorang pun membuka suara lagi.

Dalam keadaan hening itulah, terdengar di luar ada tindakan orang datang dan segera ada suara seorang berseru, “Lapor Sri Baginda, ada dua orang mata-mata musuh berpura-pura tuli dan bisu telah tertawan di luar, pada mereka terdapat tulisan-tulisan yang tak bisa diampuni.”

Mendengar kata-kata “tuli dan bisu”, pikiran Po-ting-te tergerak, cepat tanyanya, “Apakah benar-benar orang bisu, atau bisu disebabkan lidah mereka terpotong?”

“Baginda memang mahasakti, lidah kedua mata-mata itu memang bekas terpotong,” sahut pelapor di luar.

Po-ting-te memandang sekejap kepada Ui-bi-ceng, Ciok-jing-cu dan Toan Cing-sun, diam-diam ia membatin, “Nyata Liong-ah Lojin juga sudah muncul, kesulitan-kesulitan selanjutnya tentu semakin banyak lagi.”

Segera ia pun berkata, “Thian-sik, coba keluar membawa masak kedua tamu itu!”

Thian-sik memberi hormat dan bertindak keluar.

Tidak lama, masuklah Thian-sik dengan membawa dua pemuda berusia antara 18 atau 19 tahun dan memberi lapor, “Cong-pian Siansing mengirim utusan untuk menghadap Sri Baginda.”

Kiranya apa yang disebut Liong-ah Lojin atau si Kakek Bisu Tuli itu justru sengaja memakai gelaran “Cong-pian Siansing” atau si Tajam Telinga dan Tangkas Mulut. Maksudnya mengatakan meski kuping budek, tapi dapat mendengar lebih jelas daripada orang lain, dan meski bisu, namun kalau bicara sebenarnya jauh lebih tangkas daripada siapa pun.

Nama tokoh bisu tuli itu sangat tenar di dunia persilatan, tindak tanduknya agak aneh, tidak suci, tidak jahat. Kalau ada orang bermusuhan dengan dia, maka celakalah orang itu, selama hidupnya pasti akan selalu terlibat dalam pertempuran dengan si kakek tuli-bisu itu, kalau sakit hatinya belum terbalas, tentu takkan selesai urusannya. Sebab itulah, siapa pun juga, baik ilmu silatnya sama kuat atau lebih tinggi daripada kakek itu, tentu mengindahkan dan menghormatinya untuk menghindari kesukaran-kesukaran yang mungkin terjadi.

Sikap kedua pemuda tadi ternyata cukup gagah, wajah putih bagus, semuanya memakai baju putih, tapi di bagian dada tertulis dua baris huruf, “Utusan Cong-pian Siansing, ada sesuatu urusan hendak disampaikan kepada Toan Cing-beng Siansing dari Tayli.”

Sebagai raja, nama “Cing-beng” di negeri Tayli tidak boleh sembarangan disebut oleh siapa pun. Tapi tulisan di dada baju pemuda itu terang-terangan menyebut “Cing-beng Siansing” tanpa sebutan kebesaran lain, dengan sendirinya oleh pelapor tadi dianggap perbuatan berdosa.

Namun Po-ting-te hanya tersenyum saja, katanya, “Cong-pian Siansing ternyata sudi menyebut Siansing padaku, hal itu sudah boleh dikatakan mengindahkan diriku.”

Kemudian kedua pemuda tadi mendekati Po-ting-te, mereka hanya menghormat dengan membungkuk badan, tidak berlutut dan menyembah.

Segera Thian-sik mengambil pensil dan menulis di atas secarik kertas, “Cong-pian Siansing ada urusan apa, boleh segera lapor kepada Hongsiang.”

Hendaklah diketahui bahwa watak Liong-ah Lojin itu sangat aneh. Setiap anak murid atau pengikutnya, semuanya dipotong lidah dan dirusak anak telinganya hingga berwujud orang bisu tuli seperti dia sendiri, supaya tidak bisa mendengarkan pembicaraan orang, tapi ia sendiri juga tak dapat bicara. Peraturan yang aneh dan istimewa itu sudah diketahui oleh orang Kangouw umumnya.

Maka untuk menjawab pertanyaan Thian-sik itu, dengan sendirinya kedua pemuda itu tak bisa bicara, tapi pemuda sebelah kanan lantas menanggalkan buntelan yang dibawanya, ia mengeluarkan sepotong baju wanita warna jambon dan dikenakan di badan sendiri, lalu mengeluarkan bedak dan gincu untuk bersolek sekadarnya.

Pemuda yang lain lantas membantu kawan itu melepaskan rambutnya untuk dikepang menjadi dua kucir serta diberi pita merah pula hingga serupa dandanan gadis remaja.

Melihat kelakuan mereka, semua orang merasa heran dan geli pula. Tapi tiada seorang pun yang dapat menerka apa maksud tujuan Liong-ah Lojin dengan mengirim kedua utusannya ini.

Selesai pemuda itu berdandan sebagai seorang gadis, lalu ia berjalan beberapa tindak dengan berlenggak-lenggok, kemudian melompat dan berjingkrak sebagaimana lazimnya gadis remaja yang lincah dan riang.

Meski geli melihat kelakuan pemuda yang menyamar sebagai gadis itu, namun semua orang menduga tindakan Liong-ah Lojin ini tentu mempunyai maksud dalam, maka tiada seorang pun berani tertawa.

Hanya Toan Ki saja yang tidak kenal siapakah gerangan Liong-ah Lojin itu, dengan bertepuk tangan ia tanya dengan tertawa, “Haha, kau berperan sebagai nona cilik, dan dia menjadi siapa lagi?”

Pemuda yang lain ternyata tidak menyamar apa-apa, ia sengaja mendongak dan berjalan dengan membusungkan dada seakan-akan dunia ini aku punya. Dengan lagak tuan besar ia berjalan satu putaran di ruangan itu, ketika sampai di depan “gadis remaja” tadi, tiba-tiba ia mengamati-matinya dengan tersenyum-senyum, bahkan terus mencubit perlahan pipi gadis gadungan itu.

Gadis palsu itu tampak tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak menandakan telah bicara apa-apa. Mendadak pemuda itu tempelkan muka dan mencium sekali pipi si gadis palsu. “Plak”, tiba-tiba si gadis palsu memberi persen sekali tamparan kepada pemuda bangor itu. Namun dengan cepat pemuda itu menjulurkan jari telunjuknya dan menutuk iga si gadis palsu.

Melihat gerak tutukan jari itu, seketika Po-ting-te, Toan Cing-sun, Ko Sing-thay, Ui-bi-ceng, Ciok-jing-cu, Hoa Hek-kin dan kawan-kawannya sama terkejut hingga bersuara heran. Bahkan saking heran Cing-sun dan Ciok-jing-cu berbangkit dari tempat duduknya.

Kiranya tutukan jari yang digunakan pemuda itu, baik gayanya maupun tempat yang diarah persis adalah kepandaian khas keluarga Toan, yaitu “It-yang-ci” yang hebat itu.

Gerak tutukan “It-yang-ci” itu tampaknya tidak sulit, tapi sebenarnya membawa gerak perubahan yang hebat, sekali tutuk, baik tempat yang diarah atau jaraknya, sedikit pun tidak boleh salah, kalau tidak, daya tekanannya tak bisa dilontarkan seluruhnya.

Meski Ui-bi-ceng, Ciok-jing-cu, Ko Sing-thay dan lain-lain tidak pernah belajar ilmu itu, tetapi hubungan mereka dengan keluarga Toan sangat erat, maka benar atau salah It-yang-ci yang digunakan itu cukup diketahui mereka.

Mereka pun tahu ilmu silat Liong-ah Lojin itu adalah suatu aliran tersendiri dan tergolong lunak, sama sekali berbeda seperti It-yang-ci yang mengutamakan kekerasan. Tapi mengapa anak muridnya juga dapat mempelajari ilmu tutuk itu?

Hanya sekejap itu saja rasa heran orang, sebab di tengah kalangan itu keadaan telah berubah lagi. Ketika melihat lawan menutuk iganya, tiba-tiba si gadis palsu mengulur tangan dan dengan cepat menangkap jari lawan. “Krek”, tahu-tahu tulang jari si pemuda dipatahkannya.

Serangan balasan si gadis palsu ini meski dilakukan dengan sangat aneh dan cepat, namun dapat diikuti semua orang dengan jelas. Tapi tiada seorang pun menduga sebelumnya bahwa gadis palsu itu bisa melontarkan tipu serangan itu.

Maka menyusul pemuda tadi melangkah maju, kembali jari tangan kiri menutuk ke dada si gadis palsu, tipu serangan yang dipakai tetap bergaya It-yang-ci. Tapi ketika kedua tangan si gadis palsu menyambar, “krek”, lagi-lagi jari pemuda itu dipatahkan.

Meski dua jarinya sudah patah, namun, pemuda itu seperti tidak kenal apa artinya sakit, ia masih tetap menyerang terus, hanya sekejap saja kembali ia keluarkan enam gerak It-yang-ci. Tapi gadis palsu itu pun dapat menangkis dengan cepat dan menggunakan enam gerakan yang berbeda-beda untuk mematahkan serangan jari si pemuda.

Karena delapan jarinya telah dipatahkan dan tinggal dua buah jari jempol saja, pemuda itu tidak berani menyerang pula, ia putar tubuh dan terus melarikan diri ke samping. Si gadis palsu bertepuk tangan dengan tertawa sebagai tanda sangat senang. Menyusul ia lantas ambil pensil dan menulis di atas kertas, “Keluarga Toan dari Tayli, tak bisa menangkan Buyung di Koh-soh.”

Habis menulis, segera si pemuda yang patah jarinya itu digandengnya pergi.

“Nanti dulu!” segera Thian-sik bermaksud mencegat.

Namun Po-ting-te goyang-goyang kepala dan berkata, “Biarlah mereka pergi!”

Sesudah kedua pemuda itu pergi, pikiran semua orang merasa tertekan, mereka paham bahwa maksud Liong-ah Lojin mengirim kedua utusannya itu adalah untuk menunjukkan kepada Po-ting-te dan Toan Cing-sun bahwa orang she Buyung di Koh-soh itu sudah mempunyai ilmu khusus untuk mematahkan It-yang-ci.

Walaupun It-yang-ci itu kalau dimainkan Po-ting-te atau Toan Cing-sun, daya tekannya tentu jauh lebih lihai daripada permainan pemuda tadi. Akan tetapi sama halnya pihak lawan juga cuma seorang gadis remaja saja, kalau orang dewasa yang memainkan, dengan sendirinya kekuatannya juga jauh lebih hebat.

Yang harus dipuji adalah si pemuda bisu-tuli tadi ternyata bisa menirukan gerakan kedelapan jurus It-yang-ci dengan sangat tepat, meski cara mengerahkan tenaganya masih banyak kesalahannya, tapi gayanya yang indah itu sedikit pun tidak keliru. Sebaliknya cara si gadis palsu itu mematahkan jari-jarinya itu terlebih hebat dan aneh pula, perubahan-perubahan ternyata sukar diduga.

Namun Po-ting-te ternyata tidak mau mempersoalkan hal itu, dengan tersenyum ia tanya Ciok-jing-cu, “Ciok-heng, jauh-jauh kau datang kemari, apakah ada hubungannya dengan persoalan orang Buyung di Koh-soh itu?”

“Tidak, tiada sangkut pautnya dengan orang Buyung di Koh-soh,” sahut Ciok-jing-cu menggeleng kepala. “Tapi besar sangkut pautnya dengan keluarga Toan kalian. Anak murid Toan kalian telah keterlaluan menggemparkan kota Yangciu. Kaisar kerajaan Song mungkin tidak enak mengusut perkara itu mengingat nama baikmu, tapi orang-orang Bu-lim dari Tionggoan merasa penasaran padamu.”

Keruan Po-ting-te terkejut, cepat tanyanya, “Mana bisa jadi begitu? Keturunan keluarga Toan kami melulu Ki-ji seorang, tapi selamanya ia tidak pernah meninggalkan wilayah Tayli, dari mana bisa mengacaukan kota Yangciu?”

“Yangciu-sam-hiong, yaitu He Hou-siu, Kim Tiong dan Ong Siok-kian, dan anggota keluarga laki-laki mereka yang berjumlah 28 jiwa dalam semalam saja telah tewas semua di bawah tutukan It-yang-ci,” demikian tutur Ciok-jing-cu, “Toan-hongya, katakanlah, dosa apakah Yangciu-sam-hiong itu terhadap Toan-keh kalian?”

“Dua puluh delapan jiwa mati semua di bawah tutukan It-yang-ci, apa betul dan tidak salah lihat, Ciok-toheng?” sahut Po-ting-te.

“Cara It-yang-ci membunuh orang sangat halus, pihak yang terkena seluruh badan terasa nikmat, anggota badan juga hangat tanpa derita sedikit pun, makanya korban tetap bersenyum tanpa luka, betul tidak begitu tanda terkena It-yang-ci?” tanya Ciok-jing-cu.

“Sedikit pun tidak salah cara hidung kerbau melukiskan itu, seakan-akan dia sendiri pernah mencicipi rasanya It-yang-ci,” ujar Cing-sun dengan tertawa.

Namun Ciok-jing-cu tidak bisa tertawa lagi, katanya dengan sungguh-sungguh, “Anggota keluarga Yangciu-sam-hiong yang terbunuh itu semuanya mati dengan wajah tersenyum, pada badan mereka pun tiada tanda luka apa-apa.”

“Tapi mayat mereka lemas seperti orang hidup, sedikit pun tidak kaku bukan?” sela Cing-sun.

“Ya,” sahut Ciok-jing-cu. “Kita tahu ada beberapa macam racun bila membinasakan orang, wajah sang korban juga tampak tersenyum-senyum, namun tiada sesuatu ilmu lain lagi di dunia ini yang bisa menjadikan mayat sang korban tetap lemas tanpa kaku sedikit pun seperti halnya korban yang terkena It-yang-ci.”

“Tapi di antara anak murid dan keturunan keluarga Toan kami, sampai kini melulu Ki-ji seorang saja, sedangkan dia sampai saat ini belum pernah belajar It-yang-ci,” ujar Cing-sun.

“Ciok-toheng,” kata Po-ting-te. “Kau bilang anggota keluarga Yangciu-sam-hiong yang terbunuh itu adalah kaum laki-laki semua, jika begitu kaum wanitanya tentu masih hidup dan telah melihat wajah si pembunuh itu?”

“Menurut cerita He-hujin dan Ong-hujin, katanya pembunuh itu memakai kedok kain hijau, mukanya tidak jelas kelihatan, cuma menurut taksiran usianya masih muda,” sahut Ciok-jing-cu.

Po-ting-te menghela napas dan memandang sekejap kepada Toan Cing-sun.

Maka berkatalah Cing-sun, “Ciok-toheng, putraku ini kesurupan ilmu sihir, orang yang mencelakainya itu justru adalah anggota keluarga Toan kami sendiri, orang itu terkenal sebagai ‘Thian-he-te-it-ok-jin’ (orang jahat nomor satu di jagat ini).”

Lalu ia bercerita cara bagaimana Toan Ki diculik dan dikurung oleh Yan-king Taycu di dalam rumah batu itu, kemudian Ui-bi-ceng berusaha menolongnya.

Pertandingan antara Yan-king Taycu dan Ui-bi-ceng sebenarnya dimenangkan Yan-king, tetapi Cing-sun sengaja bilang Yan-king Taycu salah menjalankan caturnya hingga mengaku kalah.

Karena itu Ui-bi-ceng lantas berkata, “Toan-ongya tidak perlu menutupi maluku, pertandingan itu terang aku yang kalah. Seumpama Gu-pit-cu yang melawan Yan-king Taycu, dia juga pasti akan kalah.”

“Ah, belum tentu,” sahut Ciok-jing-cu.

“Jika begitu, marilah kita boleh coba-coba satu babak,” kata Ui-bi-ceng.

“Bagus, aku justru ingin minta petunjuk padamu,” kontan Ciok-jing-cu terima tantangan itu.

“Hahaha, sungguh menertawakan orang,” tiba-tiba Ui-bi-ceng terbahak-babak.

“Apa yang menggelikanmu?” tanya Ciok-jing-cu mendongkol.

“Aku tertawa karena ada orang begitu tolol,” sahut Ui-bi-ceng. “Sudah terang kejahatan itu dilakukan anak murid Toan Yan-king, tapi Toan-hongya yang dimintai tanggung jawabnya.”

Muka Ciok-jing-cu menjadi merah, sahutnya, “Memangnya kalau anak murid Toan Yan-king itu bukan anak murid keluarga Toan? Toan Yan-king itu she Toan atau bukan?”

“Ah, pokrol bambu!” sahut Ui-bi-ceng.

“Ah, ngaco-belo!” jengek Ciok-jing-cu tak mau kalah.

Po-ting-te sudah biasa menyaksikan pertengkaran kedua tokoh itu, maka ia hanya tersenyum saja, katanya kemudian, “Cong-pian Siansing telah menyaksikan gadis keluarga Buyung mematahkan ilmu It-yang-ci, boleh jadi pemuda yang coba menggoda si gadis yang dimaksudkan itulah si pembunuh Yangciu-sam-hiong.”

Bicara sampai di sini, tiba-tiba sikapnya berubah kereng, katanya pula, “Sun-te, menurut pesan leluhur, soal permusuhan dan bunuh-membunuh dalam Bu-lim, jelas kita tak boleh ikut campur. Tapi sekarang ternyata ada orang menggunakan It-yang-ci untuk melakukan kejahatan di luaran, hal mana rasanya keluarga Toan kita tidak boleh tinggal diam lagi.”

“Benar,” sahut Cing-sun.

Dalam hati kedua saudara itu sebenarnya mempunyai pikiran yang sama, cuma tidak mereka katakan. Kalau ternyata orang she Buyung di Koh-soh itu mampu menggunakan ilmu lihai untuk mematahkan jari anak murid keluarga Toan dan hal ini didiamkan saja, tentu nama baik keluarga Toan di Tayli akan sangat dirugikan.

Maka Po-ting-te lantas berkata, “Sun-te, hendaknya segera membawa serta Sam-kong Su-un (tiga tokoh dan empat jago, maksudnya Pah Thian-sik bertiga dan Leng Jian-li berempat) berangkat ke Siau-lim-si untuk menemui Hian-cu Taysu, sekalian boleh juga belajar kenal dengan ilmu silat keluarga Buyung di Koh-soh yang lihai itu. Yan-king Taycu adalah keturunan lurus dari mendiang raja yang dulu, kalau ketemu dia hendaklah berlaku sopan dan menghormatinya. Kalau anak muridnya ada berbuat sesuatu yang tidak senonoh, paling baik selidiki dulu hingga terang, lalu tangkap dan serahkan pada Yan-king Taycu untuk dihajar sendiri, kita jangan sembarangan mencelakai mereka.”

Cing-sun dan ketiga tokoh serta empat jago sama mengiakan menerima titah baginda itu.

Melihat Ko Sing-thay ada maksud ingin ikut serta, dengan tersenyum Po-ting-te berkata, “Jago-jago kita seakan-akan dikerahkan semua, biarlah Sian-tan-hou tinggal di rumah untuk membantu aku saja.”

Ko Sing-thay mengiakan atas titah itu.

“Pekhu,” tiba-tiba Toan Ki berkata, “bolehkah Titji ikut pergi bersama ayah untuk menambah pengalaman?”

Po-ting-te menggeleng kepala, sahutnya, “Badanmu kesurupan ilmu sesat, aku masih harus menyembuhkan kau, apalagi kau tak bisa ilmu silat, kalau ikut pergi mungkin malah bikin malu keluarga Toan kita saja.”

Wajah Toan Ki menjadi merah, baru sekarang ia menyesal mengapa dahulu tidak belajar silat hingga kini tak boleh ikut pesiar ke Tionggoan yang indah permai itu.

Dalam pada itu perjamuan untuk menyambut kedatangan Ciok-jing-cu lantas dilangsungkan dengan meriah. Toan Ki duduk menyendiri, orang lain tiada yang berani mendekatinya, sebab khawatir tersentuh racun jahat di tubuh pemuda itu.

Tentu saja yang paling kesal adalah Toan Ki karena seakan-akan terasing dari pergaulan, sedangkan hawa murni dalam badannya masih terus bergolak karena tak bisa dipusatkan.

Semakin lama duduk di situ, semakin tak tahan Toan Ki, hanya minum dua cawan arak ia lantas mohon diri untuk kembali ke kamarnya. Teringat olehnya pengalaman yang aneh selama beberapa hari ini, ia terkenang pada Bok Wan-jing dan Ciong Ling, kedua nona jelita yang baru dikenalnya itu entah ke mana perginya sekarang.

Terpikir juga olehnya putri Ko Sing-thay, Ko Bi, yang telah dilamarkan oleh kedua orang tuanya itu, nona itu selama ini tidak pernah dilihatnya, entah bagaimana perangainya dan cocok tidak dengan dirinya, pula entah cantik atau jelek makanya.

Begitulah Toan Ki rebah di ranjang dengan macam-macam pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, hawa murni dalam badannya masih terus bergolak tak keruan rasanya, walaupun deritanya tidak sehebat seperti berkobarnya nafsu waktu minum Im-yang-ho-hap-san, tapi rasanya juga sukar ditahan, syukurlah akhirnya ia dapat tidur pula.

Sampai tengah malam, mendadak ia terjaga dari tidurnya ketika merasa kedua tangannya digenggam kencang oleh orang, dan baru saja mulutnya terpentang hendak menjerit, tahu-tahu sepotong kain dijejalkan ke dalam mulutnya.

Waktu ia berpaling sedikit, di bawah sinar lilin remang-remang ia lihat seraut wajah yang putih cakap sedang tersenyum padanya. Itulah Ciok-jing-cu adanya.

Cepat ia berpaling pula ke sisi lain, yang pertama-tama tertampak olehnya adalah dua jalur alis kuning yang panjang melambai, itulah dia Ui-bi-ceng. Muka padri yang kurus itu pun mengunjuk senyum penuh welas asih dan sedang mengangguk perlahan sebagai tanda agar pemuda itu jangan khawatir. Menyusul ia lantas keluarkan kain penyumbat mulut Toan Ki tadi.

Toan. Ki merasa lega melihat tokoh itu, segera ia merangkak bangun untuk memberi hormat. Namun Ciok-jing-cu lantas berkata padanya, “Hiantit tak perlu banyak adat, hendaklah rebah saja dengan tenang, biar kami berdua menyembuhkan racun jahat dalam tubuhmu.”

“Sungguh Wanpwe merasa terima kasih harus membikin susah kedua Cianpwe,” kata Toan Ki.

“Kami berdua adalah kawan karib pamanmu, hanya sedikit urusan ini, kenapa mesti dipikirkan?” sahut Ui-bi-ceng.

“Sedikit urusan? Huh, jangan membual dahulu, Hwesio,” jengek Ciok-jing-cu tiba-tiba. “Dapat tidak kita sembuhkan dia masih harus melihat hasilnya dulu.”

Selagi Toan Ki hendak berkata pula, sekonyong-konyong terasa kedua telapak tangannya tergetar, dua arus hawa sekaligus merembes masuk dari kanan-kiri, badan Toan Ki terguncang sedikit, mukanya menjadi merah membara seakan-akan orang mabuk arak.

Kedua arus hawa murni itu mula-mula berkeliaran kian kemari di antara urat-urat nadinya, tapi kemudian semakin lemah dan semakin lambat, akhirnya lantas lenyap. Menyusul dari telapak tangan yang dipegang Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu itu terasa merembes masuk lagi hawa murni yang lain.

Begitulah kira-kira sepertanak nasi lamanya, Toan Ki merasa separuh tubuh bagian kanan semakin lama semakin panas, sebaliknya separuh tubuh sisi kiri makin lama makin dingin, yang kanan seperti dibakar, yang kiri seperti direndam es. Tapi aneh bin ajaib, biarpun panas dingin rasanya, namun nikmatnya tak terkatakan. Ia tahu kedua tokoh terkemuka itu sedang menggunakan Lwekang mereka yang tinggi untuk mengusir racun dalam tubuhnya.

Sudah tentu apa yang diduga Toan Ki itu tidak benar seluruhnya.

Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu entah sudah berapa kali bertanding, baik mengadu kecerdasan maupun mengadu ketangkasan, dari pertandingan kasar sampai perlombaan secara halus, namun selalu sama kuat hingga sukar ditentukan siapa lebih unggul.

Ketika mereka bertengkar dan saling sindir pula siang tadi, keduanya sama-sama masih mendongkol. Sampai tengah malam, diam-diam kedua orang itu mengeluyur ke taman untuk berunding cara bagaimana harus bertanding lagi. Akhirnya acara jatuh pada diri Toan Ki, mereka sepakat untuk menyembuhkan pemuda itu sebagai batu ujian mereka.

Dahulu sudah dua kali mereka bertanding Lwekang dan banyak membuang tenaga, untung ditolong oleh Po-ting-te hingga jiwa mereka dapat diselamatkan. Karena itu, sekarang mereka ingin memberi jasa-jasa baik bagi Po-ting-te untuk mengusir racun dalam tubuh Toan Ki. Sebab, kalau bicara tentang menyembuhkan penyakit dengan Lwekang di dunia ini rasanya tiada yang lebih kuat daripada It-yang-ci, cuma tenaga dalam yang harus dikorbankan si pemakai It-yang-ci itu terlalu besar.

Dari itu Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu telah bersepakat untuk menyembuhkan Toan Ki masing-masing separuh badan, kanan dan kiri, siapa yang lebih dulu berhasil, dia yang menang.

Hwesio dan Tosu itu sudah pernah merasakan kelihaian racun dalam tubuh Toan Ki itu. Mereka tahu begitu menyenggol badan pemuda itu, tenaga dalam mereka segera akan buyar. Sebab itulah, begitu mulai, terus saja mereka mengerahkan sepenuh tenaga, sedikit pun tidak berani ayal, pikir mereka dengan tenaga kedua jago pilihan seperti mereka, paling-paling cuma racunnya tidak bersih dilenyapkan, tapi pasti tiada halangan bagi kesehatan Toan Ki.

Tak mereka duga bahwa apa yang mengeram di dalam tubuh Toan Ki itu hakikatnya bukan racun apa segala, tapi adalah semacam ilmu sakti yang bisa menyedot hawa murni orang yaitu tenaga sakti yang berasal dari sepasang katak Bong-koh-cu-hap yang merupakan makhluk mestika di alam ini. Karena katak-katak itu telah dimakan oleh Toan Ki, maka khasiat yang berada pada katak-katak itu sudah terlebur di dalam tubuh pemuda itu hingga tiada mungkin dilenyapkan lagi. Apalagi daya isap tenaga Cu-hap itu memang sangat kuat, ditambah lagi hawa-hawa murni dari Lwekang yang dilatih Boh-tam berenam, maka tenaga dalam yang dimiliki Toan Ki tatkala itu sesungguhnya sudah tidak di bawahnya Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu. Cuma saja Toan Ki tak bisa menjalankan dan menggunakan tenaganya itu. Namun begitu, setiap kali Hwesio dan Tosu itu mengerahkan tenaga mereka, keruan seperti air mengalir ke laut saja, seketika kena disedot oleh Cu-hap-sin-kang dalam tubuhnya Toan Ki.

Sebenarnya urusan memang juga sangat kebetulan, rupanya sudah takdir ilahi dalam hidup Toan Ki harus mengalami kejadian itu. Coba kalau bukan Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu dengan sukarela mau menyalurkan tenaga murni mereka ke dalam tubuh Toan Ki, betapa pun kuat daya isap Cu-hap-sin-kangnya Toan Ki juga susah untuk menyedot Lwekang kedua tokoh kelas wahid itu, paling tidak mereka pasti mampu melepaskan diri dari daya isap itu.

Dan sebabnya badan Toan Ki bisa terasa panas-dingin pada kedua sisi tubuhnya itu adalah karena apa yang diyakinkan Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu itu memang berbeda-beda si Hwesio meyakinkan ilmu keras dari unsur Yang, sebaliknya si Tosu meyakinkan ilmu bersumber pada unsur Im yang lunak. Dasar agama mereka pun berbeda, ilmu yang diyakinkan pun berlainan, maka kedua arus tenaga mereka tidak mungkin dipersatukan.

Dalam pada itu dirasakan tenaga yang mereka kerahkan ke badan Toan Ki selalu lenyap seperti air mengalir ke laut, sedikit pun tak bisa ditarik kembali lagi. Hal ini tidak pernah mereka alami. Semakin kuat mereka mengerahkan tenaga semakin cepat pula lenyapnya Lwekang mereka.

Semula mereka terus bertahan oleh karena rasa ingin menang, tapi setelah setengah jam kemudian, jantung Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu mulai berdebar dan tenaga mulai macet.

Ui-bi-ceng sadar ketidakberesan hal itu, kalau diteruskan pasti antero Lwekangnya akan ludes sama sekali. Segera ia berkata, “Ciok-toheng, urusan ini agak ganjil, marilah kita berhenti sementara untuk mempelajari apa sebab musababnya?”

Sebenarnya Ciok-jing-cu juga mempunyai maksud begitu, tapi karena rasa ingin menangnya, ia pikir orang telah lebih dulu minta padanya, maka ia sengaja menjawab, “Jika tenaga Taysu kurang cukup, silakan mundur dulu, tidak mungkin kupaksa orang yang tidak tahan lagi.”

Ui-bi-ceng menjadi gusar, “Hidung kerbau, betapa tinggi kepandaianmu memangnya aku tidak tahu? Him, kau berlagak gagah apa?”

Ciok-jing-cu juga tahu tenaga mereka sebenarnya setali-tiga-uang alias sama kuat. Tapi tempo hari si Hwesio sudah menempur Yan-king Taysu, Lwekang yang dikorbankan tentu sangat besar, inilah kesempatan yang sukar dicari, dirinya pasti dapat mengalahkan dia, bila kesempatan bagus ini dilewatkan, mungkin sampai mati kelak kedua orang tetap susah menentukan kalah dan menang.

Karena pikiran itulah, maka Ciok-jing-cu tetap bertahan sekuatnya dengan harapan lawan terpaksa akan undurkan diri lebih dulu.

Tak terduga Ui-bi-ceng juga mempunyai wataknya sendiri. Dalam segala hal ia bisa berlaku tenang dan sabar, suka mengalah. Tapi terhadap Ciok-jing-cu sungguh aneh sifatnya, asal bertemu tentu marah, betapa pun tidak mau mengalah.

Setelah bertahan lagi sebentar, tenaga murni dalam tubuh Toan Ki semakin penuh, daya sedotnya semakin kuat. Kedua orang itu merasa sisa tenaga mereka masih terus merembes keluar, segera mereka hendak menarik tangan, akan tetapi sudah tidak dapat lagi, dalam gugup mereka terpaksa soal pertandingan mereka itu harus dikesampingkan dan berbareng lepas tangan hendak meninggalkan badan Toan Ki.

Namun sudah telat, daya sedot Toan Ki teramat kuat, tenaga mereka bertambah lemah, tenaga murni mereka yang terlatih selama puluhan tahun itu sebagian besar sudah mengalir ke badan Toan Ki, sisa tenaga mereka tinggal sedikit saja, dengan sendirinya tangan mereka seperti lengket di badan pemuda itu dan tak bisa ditarik kembali, jadi mirip seperti Boh-tam berenam tempo hari.

Ui-bi-ceng saling pandang sekejap dengan Ciok-jing-cu, pikir mereka, “Sebabnya bisa terjadi begini, semua gara-gara karena rasa ingin menang. Bila sejak tadi lepas tangan ketika mengetahui gelagat tidak enak, tentu tidak sampai demikian jadinya.”

Dan tidak lama Hwesio dan Tosu itu mulai lesu dan lemas, napas mereka sudah kempas-kempis. Celakanya dalam peristiwa ini Toan Ki sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, kalau tahu bakal begitu, sejak mula tentu dia tidak sudi terima hawa murni dari kedua tokoh itu, perbuatan yang menguntungkan diri sendiri tapi merugikan orang lain, betapa pun tidak mungkin dilakukannya.

Tapi ia justru mengira kedua Locianpwe itu sedang mengusir racun guna menyembuhkannya, hawa murni dalam tubuhnya terasa bergolak bagai air bah membanjir, makin lama makin keras, sampai akhirnya saking panasnya ia menjadi mabuk dan seperti orang tertidur pulas, maka terhadap bahaya yang sedang mengancam Ui-bi-ceng berdua itu sama sekali tak disadarinya.

Dalam keadaan begitu, asal lewat setengah jam lagi, Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu pasti akan menjadi cacat selama hidupnya. Untunglah pada detik berbahaya itu, tiba-tiba pintu kamar didobrak orang dan masuklah seorang yang bukan lain adalah Po-ting-te.

“Celaka!” serunya kaget melihat keadaan ketiga orang itu. Cepat ia tarik lengan baju Ui-bi-ceng dan dibetot hingga terlepas dari lengketan Toan Ki. Menyusul ia pun menarik Ciok-jing-cu dan berkata, “Kalian berdua asal ketemu tentu terjadi gara-gara, sudah kucari kalian, siapa tahu kalian justru bersembunyi dan sedang main gila di sini.”

Dan ketika melihat keadaan kedua tokoh itu sangat payah, dengan gegetun katanya pula, “Ai, usia kalian sudah sekian tua, urusan apa lagi yang mesti kalian ributkan terus? Dengan pertarungan ini, tidak sedikit pula tenaga yang telah kalian korbankan.”

Ia coba memegang nadi Ui-bi-ceng dan terasa denyutnya sangat lemah, waktu memeriksa Ciok-jing-cu, keadaannya serupa. Berulang Po-ting-te menggeleng kepala, disangkanya kedua orang itu mengulangi lagi apa yang terjadi dahulu, yaitu keduanya sama-sama mengalami cedera. Sudah tentu tak terduga olehnya bahwa tenaga murni kedua orang itu justru kena disedot oleh sang keponakan.

Dan ketika melihat Toan Ki tak sadarkan diri, ia malah menyangka keponakan itu menjadi korban pertandingan kedua tokoh itu. Cepat ia pun memeriksa nadinya, namun jalannya baik-baik saja, bahkan terasa ada sesuatu tenaga sedot yang sangat kuat hendak mengisap tenaga dalamnya.

Keruan Po-ting-te terkejut dan ragu, sebab kalau melihat keadaan begitu, agaknya tenaga dalam kedua tokoh Hwesio dan Tosu itu yang telah terisap ke dalam tubuh sang keponakan malah.

Ia pikir sejenak, lalu memanggil dayang istana pangeran agar membawa Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu ke kamar yang terpisah untuk istirahat.

Esok paginya, Toan Cing-sun beserta Sam-kong Su-un memohon diri kepada kakak baginda dan sang istri untuk berangkat ke Siau-lim-si bersama Hui-cin dan Hui-sian.

Meski hatinya masih khawatir karena keadaan sang putra yang keracunan itu, tapi mengingat kakak bagindanya sudah turun tangan sendiri, tentu takkan terjadi apa-apa. Sebelum berangkat, Cing-sun coba tengok Toan Ki, ia merasa lega ketika melihat pemuda itu masih tidur nyenyak dengan wajah merah bercahaya.

Setelah mengantarkan keberangkatan adik pangeran dan para kesatria, Po-ting-te lantas pergi memeriksa keadaan Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu. Ia lihat kedua tokoh itu sedang bersemadi di kamar masing-masing. Wajah Ui-bi-ceng tampak pucat, badan gemetar. Sebaliknya muka Ciok-jing-cu merah membara bagai terbakar, terang kedua orang itu sama-sama terluka parah, tenaga murni mereka banyak terbuang.

Segera Po-ting-te menutuk dengan It-yang-ci pada Hiat-to penting masing-masing dan kemudian baru pergi menjenguk keadaan Toan Ki.

Tapi baru saja sampai di luar kamar pemuda itu, tiba-tiba terdengar suara gedubrakan dan gemerencang keras. Dayang yang jaga di luar kamar tampak sangat khawatir, mereka berlutut menyambut kedatangan raja dan melapor, “Secu (putra pangeran) kesurupan dan sedang…sedang kumat, dua Thayih (tabib istana) sedang mengobatinya di dalam.”

Po-ting-te mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Ia lihat Toan Ki sedang berjingkrak-jingkrak di dalam kamar sambil mengubrak-abrik isi kamar seperti meja-kursi, mangkuk-piring dan lain-lain. Kedua Thayih tampak bersembunyi kian kemari untuk menghindari “piring terbang” yang mungkin menyambar kepala mereka.

“Ki-ji, kenapa kau?” tanya Po-ting-te segera. Meski tangannya mengamuk, tapi pikiran Toan Ki masih jernih sekali, hanya hawa murni dalam tubuh itu terlalu penuh hingga rasanya seakan-akan meletuskan kulit badannya, saking tak tahan, maka ia menggeraki anggota badan sekenanya hingga perabot di dalam kamar dirusaknya, tapi aneh, asal kaki-tangannya bergerak, rasa hawa dalam badan itu menjadi longgar.

Ketika melihat pamannya masuk, segera Toan Ki berseru, “Pekhu, wah, celakalah aku!”

Berbareng kedua tangannya masih terus bergerak serabutan.

“Bagaimana rasanya?” tanya Po-ting-te.

“Seluruh badanku rasanya seperti melembung,” sahut Toan Ki. “Pekhu, harap buangkan sedikit darahku.”

Po-ting-te pikir mungkin ada faedahnya juga cara itu, segera katanya kepada salah seorang Thayih, “Coba ambil sedikit darahnya.”

Tabib itu mengiakan dan segera membuka peti obatnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak porselen dan mengambil seekor lintah yang besar dan gemuk, ia taruh lintah itu di urat darah lengan Toan Ki agar darahnya diisap lintah itu.

Oleh karena tabib itu tidak bisa ilmu silat, dalam badan tidak terdapat tenaga murni latihan Lwekang, maka ia tidak terpengaruh oleh daya sedot dalam tubuh Toan Ki yang lihai itu. Akan tetapi begitu lintah itu menempel lengan Toan Ki, terus saja binatang itu berkelojotan dan tidak berani menggigit lengan yang disediakan itu.

Tentu saja tabib itu heran, sekuatnya ia tekan lintah itu di atas lengan Toan Ki agar darahnya terisap, tapi hanya sebentar saja, bukannya mengisap darah, sebaliknya tahu-tahu lintah itu mati.

Karena kepandaiannya tidak becus di hadapan raja, tabib itu menjadi gugup hingga mandi keringat, cepat ia keluarkan lagi lintah kedua. Tapi serupa yang tadi, hanya sebentar binatang itu juga mati kaku di atas lengan Toan Ki.

Melihat itu, si tabib menjadi putus asa, cepat ia berkata, “Lapor Hongsiang, badan Secu keracunan mahajahat, sampai lintah juga mati keracunan.”

Ia tidak tahu bahwa Cu-hap-sin-kang yang terdapat di badan Toan Ki itu, jangankan cuma lintah, sekalipun ular yang paling berbisa bila mencium baunya juga akan menyingkir jauh-jauh dengan takut.

Po-ting-te menjadi khawatir juga, cepat tanyanya, “Keracunan apakah sebenarnya, kenapa begitu lihai?”

“Menurut pendapat hamba,” demikian kata tabib yang lain, “denyut nadinya sangat keras dan panas, tentu terkena semacam racun ganas yang jarang terdapat, adapun namanya…”

“Bukan,” tiba-tiba tabib yang satu lagi menyela, “denyut nadi lemah dan dingin, racunnya tentu tergolong dingin, harus disembuhkan dengan obat yang bersifat panas.”

Kiranya dalam tubuh Toan Ki terdapat tenaga murni Ui-bi-ceng dari unsur Yang (panas), dan terdapat pula tenaga murni Ciok-jing-cu dari unsur Im mahadingin, makanya kedua tabib itu mempunyai pendapat berbeda.

Melihat kedua tabib itu tiada persesuaian paham, padahal kedua orang ini adalah tabib istana terpandai, tapi tak berdaya terhadap penyakit Toan Ki, maka dapat dibayangkan racun dalam tubuh pemuda itu sesungguhnya sangat aneh.

Dalam pada itu Toan Ki masih terus berjingkrak-jingkrak sambil menarik dan menyobek baju sendiri hingga tak keruan macamnya, Po-ting-te menjadi tak tega, pikirnya, “Rasanya soal ini harus dimintakan pemecahannya ke Thian-liong-si.”

Maka katanya segera, “Ki-ji, biarlah kubawa dirimu menemui beberapa orang tua, kukira mereka dapat menyembuhkanmu.”

Toan Ki mengiakan. Karena rasanya semakin menderita, yang dia harap asal lekas sembuh, maka cepat ia ganti pakaian dan ikut sang paman keluar istana, masing-masing menunggang seekor kuda terus dilarikan ke arah barat-laut.

Thian-liong-si yang dikatakan itu terletak di puncak Thian-liong di arah barat laut kota Tayli.

Puncak itu merupakan puncak utara pegunungan Thian-liong yang lerengnya memanjang dari barat-laut dan berakhir di wilayah Tayli. Leluhur keluarga Toan yang wafat semuanya dikubur di pegunungan itu.

Pegunungan Thian-liong yang panjang itu mirip seekor naga raksasa, maka puncak utama itu menjadi seperti kepala naga, dan di situlah leluhur keluarga Toan dikubur. Dan oleh karena leluhur keluarga Toan yang menjadi raja akhirnya cukur rambut menjadi Hwesio, maka semuanya tinggal di Thian-liong-si.

Sebab itulah Thian-liong-si merupakan kuil kerajaan yang terpuja. Karena itu juga maka kuil itu sangat megah dan terawat baik, biarpun kuil ternama di daerah Tionggoan seperti Ngo-tay, Boh-to, Kiu-hoa, Go-bi dan lain-lain yang merupakan pegunungan terkenal dengan kuilnya yang indah, kalau dibandingkan Thian-liong-si mungkin juga kalah. Cuma lelah Thian-liong-si itu terpencil di daerah perbatasan, maka namanya tidak terkenal.

Setelah ikut sang paman sampai di biara itu, Toan Ki melihat kemegahan Thian-liong-si boleh dikatakan tidak kalah daripada istana di Tayli.

Thian-liong-si adalah tempat yang sering didatangi Po-ting-te. Meski dia diagungkan sebagai raja, tapi Hwesio dalam kuil itu banyak yang terhitung angkatan lebih tua, maka Ti-kek-ceng atau Hwesio penyambut tamu dengan hormat menyambut kedatangan dan tidak terlalu gugup seperti umumnya orang biasa bila mendadak bertemu dengan seorang raja.

Po-ting-te dan Toan Ki lebih dulu menemui ketua Thian-liong-si, Thian-in Taysu.

Menurut silsilah, bila Thian-in Taysu itu tidak jadi Hwesio, beliau terhitung paman Po-ting-te. Sebagai orang beragama, padri itu tidak kukuh lagi pada urutan umur dan perbedaan pangkat, kedua orang saling menghormat dengan derajat sama. Lalu secara ringkas Po-ting-te ceritakan kejadian Toan Ki kesurupan racun jahat itu.

Setelah berpikir sejenak, kemudian Thian-in berkata, “Marilah ikut padaku ke Bo-ni-tong untuk menemui ketiga Suheng dan Sute di sana.”

“Terpaksa mesti mengganggu ketenteraman para Taysu, sungguh dosa Cing-beng tidak kecil,” ujar Po-ting-te.

“Tin-lam-secu adalah calon putra mahkota kerajaan kita, urusan keselamatannya besar sangkut pautnya dengan kesejahteraan negara. Padahal kepandaianmu jauh di atasku, namun sudi datang bertanya padaku, maka dapatlah dipastikan soal ini pasti tidak sederhana,” demikian kata Thian-in.

Begitulah setelah menyusuri serambi samping dan belasan ruangan lain, akhirnya Thian-in membawa Po-ting-te dan Toan Ki sampai di depan beberapa buah rumah. Rumah-rumah itu dibangun dengan kayu cemara, dindingnya dari papan kayu yang tak terkupas kulitnya, berbeda sekali dengan rumah lain yang dibangun secara megah itu. Malahan di antara dinding dan pilar kayu sudah banyak yang lapuk hingga lebih mirip perumahan kaum pemburu di pegunungan.

Dengan wajah serius Thian-in merangkap tangan dan berkata ke dalam rumah itu, “Omitohud, Thian-in mempunyai sesuatu kesulitan, terpaksa mesti mengganggu ketenteraman ketiga Suheng dan Sute.”

“Hongtiang silakan masuk!” demikian sahut seorang dari dalam.

Perlahan Thian-in mendorong pintu kayu dan melangkah masuk diikuti Po-ting-te dan Toan Ki. Pintu itu mengeluarkan suara berkeriut ketika didorong, suatu tanda jarang sekali digunakan orang untuk masuk-keluar.

Toan Ki menjadi heran ketika melihat di dalam rumah itu terdapat empat Hwesio yang duduk terpisah di empat bangku batu, padahal tadi ia dengar Thian-in mengatakan ketiga Suheng dan Sute.

Ketiga Hwesio yang duduk menghadap keluar itu, dua di antaranya bermuka kurus kering, sebaliknya yang seorang lagi sehat kuat. Hwesio keempat yang duduknya di pojok timur sana menghadap dinding dan tidak bergerak sedikit pun, sejak mula juga tidak berpaling.

Po-ting-te kenal kedua padri yang kurus itu masing-masing bergelar Thian-koan dan Thian-siang, keduanya Suheng Thian-in. Sedang padri yang kekar itu bernama Thian-som adalah Sutenya.

Po-ting-te cuma tahu Bo-ni-tong itu dihuni tiga padri saleh dan tidak tahu masih ada seorang lain, yaitu Hwesio keempat yang duduk menghadap dinding itu.

Dengan membungkuk tubuh Po-ting-te memberi hormat. Thian-koan bertiga membalas hormat dengan tersenyum. Sedang padri yang menghadap dinding itu entah sedang semadi atau latihannya lagi mencapai titik genting hingga sedikit pun tidak boleh terganggu, maka ia tetap tidak peduli kedatangan Po-ting-te.

Po-ting-te cukup paham ajaran Buddha, ia tahu arti “Bo-ni” adalah tenang, sunyi. Karena ruangan itu bernama Bo-ni-tong, lebih sedikit bicara lebih baik. Maka secara ringkas ia menguraikan pula bagaimana Toan Ki keracunan dan kesurupan itu. Katanya paling akhir, “Mohon dengan sangat sudilah keempat Taysu suka memberi petunjuk jalan yang sempurna.”

Thian-koan termenung sejenak, palu mengamat-amati pula keadaan Toan Ki, kemudian berkata, “Bagaimana pendapat kedua Sute?”

“Ya, walaupun harus membuang sedikit tenaga dalam, rasanya juga takkan mengganggu hasil peyakinan Lak-meh-sin-kiam kita,” sahut Thian-som.

Mendengar “Lak-meh-sin-kiam” itu, hati Po-ting-te terguncang, pikirnya, “Waktu kecil pernah kudengar cerita ayah bahwa leluhur keluarga Toan ada mewariskan semacam ilmu yang sangat lihai dengan nama ‘Lak-meh-sin-kiam’. Namun ayah mengatakan cuma mendengar namanya saja dan selamanya tidak pernah mengetahui siapakah gerangan tokoh keluarga Toan yang mahir ilmu itu, maka betapa hebat sebenarnya ilmu itu tiada seorang pun yang tahu. Kini Thian-som Taysu mengatakan sedang meyakinkan ilmu itu, jadi memang benar ada ilmu yang aneh dan sakti itu.”

Kemudian ia pikir pula, “Tampaknya ketiga Taysu ini hendak menggunakan Lwekang mereka untuk menyembuhkan Ki-ji, jika demikian, tentu akan mengakibatkan latihan ‘Lak-meh-sin-kiam’ mereka terganggu. Tapi melihat betapa hebatnya penyakit Ki-ji, sampai Ui-bi-ceng dan Ciok-jing-cu juga tidak mampu menolongnya, kalau tidak memakai tenaga gabungan kami berlima, mana dapat menyembuhkan Ki-ji?”

Begitulah meski menyesal mesti mengganggu kemajuan latihan ketiga Taysu itu, namun demi keselamatan Toan Ki yang dianggapnya seperti anak kandung sendiri, terpaksa ia pun tidak menolak.

Begitulah, tanpa bicara lagi Thian-siang Hwesio lantas berbangkit, dengan kepala tertunduk ia siap berdiri di sudut yang lain.

“Siancay, Siancay,” demikian Thian-in mengucapkan sabda Buddha, lalu ia pun ambil tempat di arah barat daya.

“Ki-ji,” kata Po-ting-te, “keempat kakek Tianglo dengan tidak sayang tenaga dalam sendiri hendak menyembuhkanmu, lekas kau mengaturkan terima kasih!”

Melihat sikap dan kelakuan keempat padri itu sangat khidmat, Toan Ki tahu apa yang bakal dilakukan mereka tentu bukan urusan kecil, maka cepat ia menjura dan mengucapkan terima kasih kepada para padri tua itu.

“Ki-ji, duduk bersila di tengah itu, longgarkan badanmu, sedikit pun jangan bertenaga, kalau terasa sakit atau gatal, jangan kaget dari khawatir,” pesan Po-ting-te kemudian.

Toan Ki mengiakan dan menurut perintah sang paman.

Segera Thian-koan Hwesio angkat jari jempolnya dan menekan Hong-hu-hiat di kuduk Toan Ki, satu arus hawa hangat dari It-yang-ci terus merembes masuk.

Hong-hu-hiat itu kira-kira tiga senti di bawah rambut bagian tengkuk, termasuk urat nadi “Tok-meh”. Menyusul Thian-siang Hwesio juga menutuk Ci-kiong-hiat dan Thian-som menutuk Tay-hiang-hiat, Thian-in ikut menutuk juga kedua nadi yang lain dan Po-ting-te, menutuk Jing-bing-hiat.

Begitulah tujuan mereka hendak menggunakan tenaga It-yang-ci yang berunsurkan hawa Yang yang keras itu untuk mengusir racun dari tubuh Toan Ki.

It-yang-ci kelima tokoh keluarga Toan ini boleh dikatakan sama hebatnya, maka terdengarlah suara mendesis perlahan, lima arus hawa panas berbareng menyusup ke dalam badan Toan Ki. Seketika tubuh pemuda itu terguncang dan merasa seperti jemur badan di bawah sang surya di musim dingin, nyaman dan segar sekali rasanya.

Berulang jari kelima tokoh itu bekerja, maka semakin bertambah juga tenaga dalam yang masuk di badan Toan Ki. Po-ting-te, Thian-in dan padri-padri lainnya sama merasakan tenaga mereka yang masuk ke badan Toan Ki itu perlahan lantas buyar dan tak bisa ditarik kembali, bahkan terasa daya sedot pada badan pemuda itu luar biasa kuatnya. Keruan mereka terkejut dan terheran-heran dengan saling pandang.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara gerungan yang sangat keras hingga memekak telinga. Po-ting-te tahu itulah ilmu semacam Lwekang yang mahatinggi dalam ilmu Buddha, namanya “Say-cu-ho” atau auman singa.

Menyusul terdengar padri yang duduk menghadap dinding tadi sedang berkata, “Musuh tangguh dalam waktu singkat segera datang, nama kebesaran Thian-liong-si selama ratusan tahun ini akan terguncang, apakah bocah ingusan ini keracunan atau kesurupan, kenapa mesti banyak membuang tenaga percuma baginya?”

Kata-kata itu diucapkan dengan penuh wibawa hingga sukar dibantah, maka Thian-in lantas menyahut, “Ya, ajaran Susiok memang tepat!”

Terus saja ia memberi tanda dan kelima orang lantas melangkah mundur. Meski daya sedot Cu-hap-sin-kang dalam badan Toan Ki itu sangat hebat, tapi untuk mengisap tenaga kelima tokoh itu sekaligus, ternyata tidak kuat juga.

Mendengar Thian-in membahasakan Hwesio itu dengan sebutan “Susiok” atau paman guru, cepat Po-ting-te memberi hormat dan berkata, “Kiranya Koh-eng Tianglo hadir di sini, maafkan Wanpwe tidak memberi hormat sebelumnya.”

Kiranya Koh-eng itu paling tinggi tingkatannya di dalam Thian-liong-si, para padri dalam kuil itu tiada satu pun yang pernah melihat wajah aslinya. Po-ting-te juga cuma mendengar namanya dan selamanya tidak pernah bertemu. Ia dengar padri tua itu selamanya bersemadi di ruang Siang-su-ih dan jarang orang membicarakannya, maka disangkanya padri tua itu sudah lama wafat. Siapa tahu sekarang justru dijumpainya di sini.

“Urusan harus dibedakan mana yang penting dari mana yang tidak,” demikian kata Koh-eng Tianglo pula. “Perjanjian dengan Tay-lun-beng-ong dari Tay-swat-san sekejap lagi akan tiba. Cing-beng, ada baiknya juga kalau kau pun ikut berunding memberi pendapatmu.”

“Aneh, Tay-lun-beng-ong dari Tay-swat-san terkenal sangat saleh dan tinggi ibadatnya, kenapa ada perselisihan dengan kita?” tanya Po-ting-te dengan heran.

Segera Thian-in mengeluarkan sepucuk surat yang berwarna kuning menyilaukan dan diangsurkan kepada Po-ting-te. Ternyata sampul surat itu sangat aneh, rasanya juga antap, kiranya terbuat dari lapisan emas murni yang sangat tipis, di atas sampul surat terbingkai pula beberapa huruf dari emas putih yang ditulis dalam bahasa Hindu kuno.

Po-ting-te paham ilmu Buddha, maka dapat membaca tulisan itu yang berarti, “Diaturkan kepada ketua Thian-liong-si.”

Dari sampul emas itu Po-ting-te mengeluarkan secarik kertas surat yang terbuat dari emas juga, surat itu pun tertulis dalam bahasa Sanskerta dan terjemahannya kira-kira adalah, “Dahulu aku kebetulan bertemu dengan Buyung-siansing dari Koh-soh di negeri Thian-tiok hingga terikat persahabatan yang akrab. Dalam membicarakan ilmu silat di dunia ini, Buyung-siansing sangat memuji kitab ‘Lak-meh-sin-kiam’ kuil kalian dan menyatakan menyesal sebegitu jauh belum dapat membacanya. Belum lama berselang kabarnya Buyung-siansing telah wafat, rasa dukaku sungguh tak terkatakan, sebagai tanda persahabatanku ingin kumohon kitab yang dimaksudkannya itu kepada kalian untuk kubawa ke hadapan makam Buyung-siansing. Untuk itu dalam waktu singkat aku akan berkunjung kemari, hendaklah kalian jangan menolak permintaanku ini. Sudah tentu akan kuberi imbalan yang setimpal dengan hadiah yang bernilai tinggi, masa kuberani mengambilnya dengan begitu saja.”

Tulisan Sanskerta dalam surat itu pun dicetak dengan emas putih dengan sangat indah, terang dibuat oleh pandai emas yang sangat mahir. Melulu sampul dan kertas surat itu saja sudah merupakan dua benda mestika, maka dapatlah dibayangkan betapa royalnya Tay-lun-beng-ong.

Po-ting-te tahu Tay-lun-beng-ong itu adalah Hou-kok-hoat-ong atau raja agama pelindung negara negeri Turfan, kabarnya seorang yang cerdik pandai dan mahir ilmu Buddha, setiap lima tahun sekali tentu mengadakan khotbah umum, banyak padri saleh dari Thian-tiok dan negeri barat lainnya sama berkunjung ke Tay-lun-si di Tay-swat-san untuk mengikuti ceramah keagamaan itu.

Tapi dalam surat yang ditujukan kepada Thian-liong-si ini dia mengatakan pernah tukar pikiran dalam hal ilmu silat dengan Buyung-siansing dari Koh-soh serta bersahabat sangat karib, maka dapat dipastikan Tay-lun-beng-ong pun seorang tokoh silat yang tinggi. Orang cerdik pandai demikian kalau sudah belajar silat, maka dapat dipastikan akan lain daripada yang lain.

Lalu terdengar Thian-in berkata, “Itu ‘Lak-meh-sin-kiam-keng’ adalah kitab pusaka kuil kita dan merupakan ilmu tertinggi daripada ilmu silat keluarga Toan kita di Tayli ini. Cing-beng, ilmu saat keluarga Toan yang tertinggi terdapat di Thian-liong-si sini, engkau adalah orang biasa meski terhitung sanak keluarga sendiri, namun terpaksa banyak rahasia ilmu silat kita tak boleh kukatakan padamu.”

“Ya, hal itu kupaham,” sahut Po-ting-te.

“Anehnya,” demikian Thian-koan ikut bicara, “tentang kuil kita mempunyai ‘Lak-meh-sin-kiam-keng’, bahkan Cing-beng dan Cing-sun juga tidak tahu, mengapa orang she Buyung itu malah mengetahuinya?”

“Dan Tay-lun-beng-ong itu juga seorang padri saleh yang terkemuka di zaman ini, mengapa tidak kenal aturan dan berani minta kitab secara kekerasan pada kita?” ujar Thian-som dengan gusar. “Cing-beng, oleh karena Hongtiang-suheng tahu musuh yang bakal datang itu tidak bermaksud baik, akibat dari urusan ini tidaklah kecil, maka Koh-eng Susiok diundang untuk mengatasi urusan ini.”

“Sungguh memalukan juga,” Thian-in ikut berkata, “meski kuil kita mempunyai kitab pusaka itu, tapi tiada seorang pun di antara kita yang mahir ilmu sakti itu, bahkan mempelajari juga tidak pernah. Sedangkan ilmu yang diyakinkan Koh-eng Susiok adalah semacam ilmu sakti lain, untuk itu juga diperlukan sedikit waktu lagi baru terlatih sempurna. Sebaliknya bila teringat akan kedatangan Tay-lun-beng-ong itu, kalau dia tidak mempunyai sesuatu andalan, masakah dia berani terang-terangan minta kitab pusaka kita secara kekerasan?”

“Sudah tentu ia tidak berani memandang enteng Lak-meh-sin-kiam,” ujar Koh-eng Tianglo tiba-tiba. “Melihat isi surat itu, agaknya dia begitu mengagumi Buyung-siansing dan orang she Buyung itu pun sangat tertarik pada kitab pusaka kita, dengan sendirinya Tay-lun-beng-ong bisa mengukur dirinya sendiri. Namun dia menduga dalam kuil kita tiada sesuatu tokoh yang luar biasa, biarpun terdapat kitab pusaka juga tiada orang mampu meyakinkannya, maka sama sekali dia tidak jeri pada kita.”

“Jika ia sendiri mengagumi kitab pusaka kita, asal dia mau pinjam secara baik-baik mengingat dia adalah padri saleh dalam Buddha, paling-paling kita akan menolaknya dengan hormat dan urusan akan selesai begitu saja. Tapi ia justru minta kitab itu untuk dibakar di hadapan orang sudah mati, bukankah tindakan demikian terlalu menghina Thian-liong-si kita?” demikian Thian-som berseru dengan gusar.

“Ai, Sute juga tidak perlu marah,” ujar Thian-siang. “Kulihat Tay-lun-beng-ong itu bukan seorang yang bodoh, dia hendak meniru perbuatan orang zaman dulu dengan membakar kitab di depan kuburan sahabat, agaknya dia benar-benar sangat kagum kepada Buyung-siansing itu.”

“Apakah Thian-siang Taysu kenal pribadi Buyung-siansing itu?” tanya Po-ting-te.

“Aku tidak tahu,” sahut Thian-siang. “Tapi mengingat betapa seorang tokoh macam Tay-lun-beng-ong begitu kesengsem padanya, maka dapat dipastikan Buyung-siansing itu tentu seorang yang lain daripada yang lain.”

Berkata sampai di sini, sikapnya ikut sangat kagum pada orang yang dibicarakan itu.

“Menurut penilaian Susiok pada kekuatan musuh,” demikian kata Thian-in, “kalau kita tidak lekas-lekas meyakinkan Lak-meh-sin-kiam, mungkin kitab pusaka kita akan direbut orang dan Thian-liong-si akan runtuh untuk selama-lamanya. Cuma ilmu pedang sakti itu mengutamakan tenaga dalam dan tidak mungkin berhasil dilatih dalam waktu singkat. Cing-beng, bukan kami tidak mau membantu menyembuhkan Ki-ji, tapi kita khawatir terlalu banyak membuang tenaga, bila musuh tangguh mendadak datang, tentu kita akan susah melawannya. Tampaknya keselamatan Ki-ji takkan terancam dalam waktu beberapa hari, maka selama beberapa hari ini biarlah dia merawat dirinya di sini, bila kesehatannya bertambah buruk, kita akan dapat menolongnya setiap saat, sebaliknya kalau tidak apa-apa, nanti kalau musuh tangguh sudah dienyahkan baru kita akan berusaha menolongnya sepenuh tenaga.”

Walaupun Po-ting-te sangat khawatir akan kesehatan Toan Ki, namun demikian dia adalah seorang yang bijaksana, ia tahu Thian-liong-si adalah modal dasar keluarga Toan dari Tayli, setiap kali kerajaan ada bahaya, selalu Thian-liong-si memberi bantuan sekuatnya. Selama keturunan kerajaan Tayli banyak mengalami kesukaran dan dapat berdiri sampai sekarang, jasa Thian-liong-si itu sesungguhnya tidak kecil. Sebaliknya Thian-liong-si terancam bahaya, mana bisa dirinya tinggal diam.

Maka berkatalah Po-ting-te, “Atas kebaikan Hongtiang, Cing-beng merasa terima kasih sekali. Entah urusan menghadapi Tay-lun-beng-ong itu apakah Cing-beng dapat sekadar memberi bantuan?”

Thian-in pikir sejenak, lalu menyahut, “Engkau adalah jago nomor satu keluarga Toan kita di kalangan orang biasa, bila engkau dapat menggabungkan tenagamu untuk menghadapi musuh, sudah tentu akan banyak menambah kekuatan kita. Cuma engkau adalah orang biasa, kalau ikut campur pertengkaran dalam kalangan agama, tentu akan ditertawai Thian-liong-si kita sudah kehabisan jago.”

“Kalau kita latih Lak-meh-sin-kiam itu sendiri-sendiri, biar siapa pun tiada seorang akan berhasil,” tiba-tiba Koh-eng berkata. “Kita pun sudah pikirkan suatu akal, yaitu masing-masing orang berlatih satu ‘Meh’ (nadi, Lak-meh = enam nadi) di antara Lak-meh-sin-kiam itu. Tatkala menghadapi musuh nanti cukup salah seorang tampil ke muka, sedang lima orang lainnya hanya membantunya dengan menyalurkan tenaga dalam padanya. Asal lawan tidak tahu akal kita ini, tentu kita akan menang. Cara ini meski kurang jujur, namun apa daya, keadaan terpaksa. Hanya untuk mencari orang keenam yang memiliki tenaga jari mahahebat, di Thian-liong-si ini memang sukar diketemukan lagi. Kebetulan engkau datang kemari, Cing-beng, marilah ikut mengisi kekurangan itu. Cuma engkau harus dicukur dulu dan pakai jubah Hwesio.”

“Kembali pada Buddha memang sudah lama menjadi cita-cita Cing-beng, cuma ilmu sakti yang hebat itu selama ini Cing-beng belum pernah mendengarnya…”

“Jika pakai akal itu, sudah lama engkau paham, kini cukup kau pelajari tipu ilmu pedangnya saja,” sela Thian-som cepat.

Po-ting-te merasa bingung, tanyanya, “Silakan Taysu memberi petunjuk.”

“Coba duduklah untuk bicara lebih jelas,” kata Thian-in.

Sesudah Po-ting-te duduk bersila di atas tikar, lalu Thian-in berkata pula, “Apa yang disebut Lak-meh-sin-kiam itu sebenarnya tidak ada wujud pedang sesungguhnya, kita hanya menggunakan tenaga jari It-yang-ci yang hebat dan menjadikannya hawa pedang, ada kekuatan tapi tiada wujudnya, maka boleh juga dikatakan semacam Bu-heng-ki-kiam (pedang hawa yang tak berwujud). Tentang Lak-meh (enam nadi) di atas lengan itu adalah Thayim, Koatin…”

Sambil berkata ia terus mengeluarkan satu berkas kertas gulungan. Mungkin sudah terlalu tua, maka gulungan kertas itu bersemu kuning.

Setelah Thian-som menerima gulungan kertas itu, lalu digantung di dinding, waktu gulungan kertas itu dibuka, kiranya adalah sebuah lukisan badan seorang laki-laki, di atas badan tercatat jelas tempat-tempat Hiat-to mengenai keenam urat nadi yang bersangkutan.

Po-ting-te adalah ahli It-yang-ci, pula “Lak-meh-sin-kiam-keng” itu berdasarkan tenaga It-yang-ci, jadi sejalan dengan ilmu silat keluarga Toan mereka, dengan sendirinya ia paham begitu melihat gambar itu tanpa penjelasan lagi.

“Cing-beng,” kata Thian-in kemudian, “engkau adalah seorang raja suatu negeri, untuk sementara meski dapat menyamar, tapi kalau sampai diketahui musuh, tentu akan sangat merugikan nama baik kita. Sebab itulah sebelumnya hendaklah kau pertimbangkan lebih masak.”

“Maju terus, pantang mundur,” sahut Po-ting-te tegas.

“Bagus,” kata Thian-in. “Lak-meh-sin-kiam-keng ini tidak diajarkan kepada anak murid orang biasa, maka engkau harus cukur rambut menjadi Hwesio baru boleh kuajarkan padamu.”

Tanpa pikir Po-ting-te berlutut ke hadapan Thian-in dan berkata, “Silakan Taysu!”

“Kemarilah, biar kucukur engkau,” kata Koh-eng Taysu tiba-tiba.

Po-ting-te menurut, ia melangkah maju dan berlutut, oleh karena Koh-eng duduk menghadap dinding, jadi Po-ting-te berlutut di belakangnya.

Dengan tenang sejak tadi Toan Ki meringkuk di tempatnya dengan perasaan sadar, maka ia dapat mengikuti semua percakapan orang, pikirnya, “Bicara ke sana ke sini ternyata selalu ada sangkutnya dengan orang she Buyung itu.”

Dan ketika melihat sang paman hendak dicukur untuk menjadi Hwesio, diam-diam ia terkesiap juga. Ia lihat Koh-eng Taysu telah membaliki tangannya hingga benar-benar tinggal kulit membungkus tulang belaka.

Tetap Koh-eng Tianglo itu tidak putar tubuh sedikit pun, hanya mulutnya mengucapkan sabda Buddha, ketika tangannya kemudian diangkat, tahu-tahu seluruh rambut Po-ting-te bertebaran jatuh ke tanah, kepalanya sudah gundul kelimis, biarpun dicukur dengan pisau cukur mungkin juga tidak sehalus itu.

Sungguh kejut Toan Ki tak terkatakan, Po-ting-te, Thian-koan dan lain-lain juga kagum tak terhingga atas ilmu sakti paman guru mereka itu. Maka terdengar Koh-eng Taysu berkata, “Sesudah masuk ke dalam Buddha, nama agamamu adalah Thian-tim.”

“Terima kasih atas pemberian nama ini,” sahut Po-ting-te dengan merangkap tangan. Dan oleh karena Po-ting-te telah dicukur oleh Koh-eng, menurut agama ia menjadi Sute Thian-in, walaupun dalam urut-urutan keluarga Thian-in sebenarnya adalah pamannya.

Lalu Koh-eng berkata pula, “Boleh jadi malam ini juga Tay-lun-beng-ong itu akan tiba, Thian-in, boleh kau ajarkan intisari Lak-meh-sin-kiam padanya.”

Thian-in mengiakan dan menunjuk tanda-tanda Hiat-to yang terdapat pada gambar yang tergantung di dinding itu. Segera Po-ting-te menurutkan petunjuk itu untuk menjalankan tenaga murni pada waktu jarinya menutuk dan segera mengeluarkan suara mencicit perlahan.

Koh-eng sangat girang, katanya, “Tidak cetek latihan Lwekangmu, meski Kiam-hoat ini sangat ruwet perubahannya, namun hawa pedang sudah dapat kau wujudkan, dengan sendirinya dapat kau gunakan sesuka hati.”

“Marilah sekarang juga kita mulai berlatih,” ujar Thian-in. “Susiok khusus melatih Siau-siang-kiam dengan jari jempol, aku melatih jari telunjuk, Thian-koan Suheng latih jari tengah, Thian-tim Sute latih jari manis dan Thian-siang Suheng melatih jari kecil tangan kiri. Waktu mendesak, kita harus cepat meyakinkannya.”

Cepat ia mengeluarkan pula enam lukisan dan digantung di sekeliling dinding, keenam lukisan itu masing-masing menunjukkan titik-titik Hiat-to keenam orang yang harus dilatihnya dan menggambarkan di mana jari mereka harus menutuk.

Dalam pada itu Toan Ki merasakan hawa dalam tubuhnya semakin penuh dan bergolak dengan hebat, jauh lebih menderita daripada tadi, maklum, tadi Thian-in berlima tidak sedikit mencurahkan tenaga dalam mereka ke dalam badan pemuda itu.

Karena sang paman dan padri-padri itu sedang memusatkan pikiran untuk berlatih ilmu sakti, maka Toan Ki tidak berani mengganggu, ia bertahan sekuatnya dengan termenung-menung. Dalam iseng, tanpa sengaja ia coba memandang lukisan yang menggambarkan Hiat-to di badan manusia yang tergantung di dinding itu, dan kebetulan pada saat itu tanpa terasa tangan kirinya sedang melonjak-lonjak seakan-akan ada sesuatu yang akan menerobos keluar dari bawah kulit tangannya.

Advertisements

2 Comments »

  1. Arigato

    Comment by Lin tong — 09/11/2013 @ 6:34 am

  2. bagus sekali, next lagi ah, ceritanya bikin penasaran endingnya!!

    Comment by Maxgrosir — 24/03/2014 @ 3:09 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: