Kumpulan Cerita Silat

27/06/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 17

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 1:15 am

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 17
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Selagi kepala suku Kazak memuji-muji Nyo Hun-cong, kepala suku Kedar, Bing-lok, tiba-tiba berdiri dan berkata, “Mata kita perlu lebih awas dan terang sedikit, jangan seorang pengecut dianggap orang gagah dan mata-mata musuh dianggap pahlawan!”

“Apa maksudmu im,” kata kepala suku Kazak heran dengan mata membelalak.

“Di waktu pertempuran besar im Nyo Hun-cong telah melarikan diri sendiri dan membantu putri Nilan Siu-kiat membunuh dua orang pejuang bangsa Kedar kami, sepanjang jalan ia bersatu kereta dengan putri musuh dan tinggal di Ili sekian lamanya baru kembali ke sini,” kata Bing-lok dengan tertawa menyindir, “Aku ingin bertanya pada Hamaya Beng-cu dan para ketua dari suku-suku, tindakan seperti Hun-cong ini sebenarnya mata-mata musuh atau pahlawan?”

“Betulkah demikian?” tanya Hui-ang-kin segera pada Nyo Hun-cong.

Sebelum pemuda ini menjawab, terdengar kepala suku dari Tahsan berteriak, “Siapa bilang Nyo Hun-cong adalah mata-mata musuh, sampai mati pun aku tidak percaya!”

Namun Hun-cong sudah lantas berdiri dengan tenang, mukanya menghadap pada Hui-ang-kin dan berkata, “Memang betul, putri Nilan Siu-kiat betul aku yang telah menolong!”

Air muka Hui-ang-kin berubah keras mendengar pengakuan Hun-cong, seluruh ruangan pun menjadi ribut.

“Akan tetapi, yang menolong Bing-lok pun adalah aku. Ada satu pasukan Boan telah mengejar datang, tetapi akulah dan satu tokoh terkemuka dari kalangan silat lain yang telah menghalau musuh, barulah dia bisa menyelamatkan diri!” tutur Nyo hun-cong.

Muka Bing-lok menjadi merah padam.

“Aku tak akan terima budimu,” teriaknya, “Lebih dulu kau telah menutuk aku, kemudian kau pura-pura menolongku dan bertempur dengan serdadu Boan itu.”

“Kalau begitu memang benar Nyo Hun-cong yang telah membantu kau menahan kejaran pasukan Boan!” kata Hui-ang-kin.

Bing-lok tidak bisa menjawab, ia bungkam, tetapi Mokhidi telah berteriak, “Kau tidak mau menerima budinya aku yang menerima budinya kami berdua juga dia yang telah menolong, semua berkat Nyo-taihiap yang telah menggempur mundur pasukan pengawal Nilan Siu-kiat dan melukai To Tok baru kita bisa meloloskan diri!”

“Ya akupun tidak percaya kalau Nyo Hun-cong adalah mata-mata musuh, tetapi mengapa kau telah menolong putri Nilan Siu-kiat?” tanya Hui-ang-kin tiba-tiba.

“Dan mengapa kau telah membantu dia membunuh dua orang pahlawan kami?” Bing-lok menambahkan pertanyaan Hui-ang-kin.

Segera tertampak air muka Nyo Hun-cong berubah menjadi kereng dan dengan suara keras ia balas bertanya pada Hui-ang-kin.

“Hamaya, kau adalah wanita, aku hendak bertanya padamu, jika seumpama kau dipaksa dengan kekerasan oleh orang lain, kau melawan atau tidak? Nilan Siu-kiat adalah musuh kita, tetapi putrinya belum pernah bermusuhan dengan kita, orang bawahan Bing-lok hendak melanggar dia dan telah terbunuh olehnya, mengapa kesalahan tersebut dipikulkan atas diriku.”

“Dia adalah tawanan kami, mengapa tidak boleh diperbuat menurut kesukaan kami?” jawab Bing-lok.

“Justru itulah aku tidak setuju mempermainkan tawanan tidak sebagai manusia,” sahut Nyo Hun-cong dengan lantang, “Seandainya orang kita yang tertawan musuh, lalu wanitanya diperkosa, diperbudak sesukanya, apakah kamu hendak meniru cara mereka?”

Kiranya kebiasaan menganggap tawanan adalah milik pihak yang mendapat kemenangan itu sudah turun-temurun ribuan tahun di antara suku-suku bangsa di Sinkiang, keruan perkataan Nyo Hun-cong telah membikin gempar mereka, segera keadaan menjadi riuh, di sana-sini terdengar bisikan-bisikan saling mempercakapkan soal ini.

“Lagi pula ia belum menjadi tawanan kamu, orangmu belum sempat turun tangan sudah lantas terbunuh olehnya, waktu itu dia malahan masih dalam keadaan sakit berat,” kata Nyo Hun-cong pula dengan menyindir.

Muka Hui-ang-kin kelihatan muram, tetapi tenang, tiba-tiba ia menepuk tangan meminta semua diam.

“Mengancam wanita dalam keadaan sakit, dosanya memang patut dihukum,” ujar Hui-ang-kin. “Tetapi Nyo Hun-cong, sebaliknya aku hendak bertanya kepadamu, cara bagaimana kau berkenalan dengan putri Nilan Siu-kiat dan mengapa kau melindungi dia?”

“Menyesal, Hui-ang-kin, itu adalah urusan pribadiku,” sahut Nyo Hun-cong dengan suara rendah, “Cukup apabila ia bukan musuh kita, mengapa aku tidak boleh bersahabat dengan dia.”

“Terang dalam hatimu ada kepalsuan,” bentak Bing-lok, “Nilan Siu-kiat adalah musuh besar kita, sudah tentu putrinya juga bukan orang baik-baik, mana ada orang bersahabat dengan putrinya tetapi bermusuhan dengan ayahnya. Nyo Hun-cong, biarlah aku membuka kedokmu, aku lihat kau telah tergoda oleh kecantikan putrinya dan secara diam-diam telah menjadi ‘tamu halus’nya.”

Sesaat itu hati Hui-ang-kin seperti teriris-iris, tetapi ia tidak buka suara, sedapat mungkin ia menahan kepedihan perasaannya.

Sementara itu, semua orang telah berbisik-bisik pula, pandangan mereka dalam hal membedakan orang baik atau busuk di antara pihak musuh, kebanyakan kepala-kepala suku itu masih belum mempunyai pandangan.

“Ya, aku pun mengetahui tindakanku ini bakal menimbulkan kecurigaan,” kata Hun-cong pula dengan suara nyaring, sinar matanya mengerling seluruh ruangan, “Tetapi cara bagaimana agar supaya kamu tidak curiga. Aku mempunyai satu jalan, coba kalian setuju atau tidak?”

“Silakan berbicara!” kata kepala suku dari Tahsan.

“Begini, aku dengar anak kesayangan kepala suku Kazak telah ditawan oleh Coh Ciau-lam dan sampai kini belum dilepas kembali, aku bersedia merebut kembali anaknya dan menawan hidup-hidup Coh Ciau-lam serta akan kubawa kemari!” kata Nyo Hun-cong.

Mendengar perkataan ini kepala suku Kazak matanya menjadi basah berkaca-kaca saking terharunya.

“Nyo Hun-cong, aku toh tidak mencurigai dirimu, kau adalah talang punggung kami, aku tidak ingin kau pergi menghadapi bahaya sendiri,” kata kepala suku itu dengan suara pelahan.

Tetapi Bing-lok ternyata berkata lain, “Siapa yang tidak mengetahui Coh Ciau-lam adalah Sutemu,” katanya, “Mana bisa kau pergi sendiri untuk menghadapi bahaya, sudah jelas kau bersekongkol dengan dia, menyuruh kau pergi sama saja dengan melepas harimau kembali ke gunung!”

Keruan amarah Nyo Hun-cong memuncak karena tuduhan orang yang tidak-tidak ini, kedua tangannya ditepuk dan segera akan bertindak, namun tiba-tiba Hui-ang-kin telah bersuara mencegah.

“Kalian tentunya tidak akan mencurigai aku adalah mata-mata musuh bukan?” kata Hui-ang-kin. “Nah, sekarang aku pergi bersama dia, jika tidak bisa menangkap Coh Ciau-lam, kami pun tak akan kembali, aku jamin dengan kepalaku bahwa Nyo Hun-cong bukan mata-mata musuh?”

Hui-ang-kin adalah Beng-cu atau ketua perserikatan dari suku-suku bangsa di daerah selatan, begitu perkataannya diucapkan, seluruh ruangan menjadi sunyi dan tidak seorang pun berani berdebat lagi.

Malam kedua, Hui-ang-kin dan Nyo Hun-cong telah berpakaian peranti jalan malam dan bersama-sama berangkat menyelidiki benteng musuh yang menjadi kedudukan Coh Ciau-lam yang letaknya berapa puluh li jauhnya.

Sepanjang jalan Hui-ang-kin hanya bersungut dan tidak berkata-kata, beberapa kali Nyo Hun-cong hendak menerangkan mengenai Nilan Ming-hui, tetapi Hui-ang-kin hanya menarik muka dan menyahut, “Itu kan urusan pribadimu, aku tidak boleh ikut campur, apa gunanya menceritakan padaku!” demikian ia berolok-olok.

“Hui-ang-kin,” kata Hun-cong akhirnya, “Dengan hubunganmu dan aku, maka aku berlaku begitu sungguh-sungguh, aku tidak ingin bicara di hadapan orang-orang itu bukan berarti tidak ingin membicarakan padamu, aku menganggap kau sebagai saudaraku yang paling dekat, jika kau tidak menolak aku pun bersedia menganggap kau sebagai “ji d.n i kandungku!”

“Betulkah itu? Aku tentu bersedia memanggilmi,- cna-gai kakak, cuma aku kuatir jangan-jangan setelah kau melihat taci lantas melupakan adik,” ucap Hui-ang-kin dengan tertawa.

“Hui-ang-kin, biarlah aku mengatakan terus terang padamu, antara aku dengan Nilan Ming-hui…..”

Belum habis perkataannya, tiba-tiba Hui-ang-kin telah menyambung, “Tiada hubungan yang istimewa, begitu bukan yang hendak kau katakan? Sudahlah, kau tidak usah mencoba menerangkan lebih jauh lagi, biarlah kita menawan Coh Ciau-lam lebih dulu.”

Hati Nyo Hun-cong seperti tertasuk-tusuk dan tak tahan karenanya sama sekali tidak ia duga bahwa Hui-ang-k;n bisa percaya antara dirinya dengan Nilan Ming-hui tiada sesuatu huhungan istimewa padahal dirinya malah sudah berhubungan suami istri dengan Ming-hui. Sebenarnya Hun-cong hendak menjelaskan, tetapi demi melihat Hui-ang-kin begitu percaya pada dirinya perkataan yang hendak diutarakan segera tertahan lagi.

Ia pikir, jika sekarang ia menerangkan apa yang terjadi, ia kuatir Hui-ang-kin tidak tahan pukulan itu, sehingga tugas mereka bisa menjadi kacau dan urusan menangkap Coh Ciau-lam akan gagal. Biarlah sesudah urusan beres semua baru akan dijelaskan padanya.

Kedua orang mempunyai kemahiran ilmu meringankan tubuh yang tinggi itu, belum habis percakapan mereka, benteng di mana Coh Ciau-lam berada sudah terlihat di depan, sesudah mereka berjanji dengan tanda-tanda, mereka lantas berbagi dua jurusan, satu arah selatan dan yang lain jurusan utara serta bersama-sama melayang naik ke atas benteng itu.

Mereka berdua memang berilmu meringankan tubuh yang tinggi, mereka melayang dari rumah ke rumah dengan cepat. Tak seberapa lama mereka sudah sampai di gedung yang dituju. Baru Hui-ang-kin hendak melompat naik ke atas rumah itu, tidak terduga ada sambaran angin yang keras berbareng sesosok bayangan orang telah menubruk dari atas kepala Hui-ang-kin.

Sama sekali Hui-ang-kin tidak menduga akan serangan itu, maka hampir saja terbacok, ia terkejut sekali, tidak sempat lagi melolos pedangnya, maka dengan cepat ia menggunakan gerakan ‘Se-hing-giau-hwa-hun’, ia mencelat ke belakang menghindarkan diri dari serangan itu.

Setelah mengawasi, baru ia tahu bahwa yang menerjangnya ternyata seorang Hwesio tinggi besar, tangannya menggenggam golok.

Hui-ang-kin balas merangsek, maka segera terdengar “creng-creng”, suara beradunya senjata, antara pedang pendek Hui-ang-kin dan golok besar Hwesio itu.

Hwesio itu tidak berhasil membacok, sebaliknya lawannya berputar cepat seperti kitiran, suara angin menyambar, dengan gerakan ‘Kwai-bong-hwan-sin’ atau ular besar membalik tubuh, segera ia membabat pula ke pinggang Hui-ang-kin. Hui-ang-kin menjadi gusar sekali, cambuknya bersuara, sekali diayunkan, tangan Hwesio itu sudah terbelit oleh pecutnya dan dibarengi dengan satu tarikan, tubuh Hwesio yang besar seperti kerbau telah terseret maju.

Ketika Hwesio itu hendak berteriak, bawah ketiaknya telah terkena tutukan, kiranya Nyo Hun-cong dengan cepat telah memburu datang dan telah menutuk jalan darahnya.

Hui-ang-kin masih hendak menusuk dengan pedangnya, tetapi tangannya keburu dicekal oleh Nyo Hun-cong, “Nanti dulu!” kata pemuda titi, segera pedangnya ditodongkan di belakang leher Hwesio itu.

“Apakah kau murid Thian-liong Siansu?” tanya Hun-cong pada Hwesio itu.

“Bagaimana jika betul?” sahut Hwesio itu dengan marah.

“Lima tahun yang lalu aku pernah diperintah oleh Suhu pergi menemui Thian-liong Siansu, jika dihitung kita masih sahabat,” kata Nyo Hun-cong, “Aku tidak akan mencelakai jiwamu, lekas katakan pada kami, kamar yang mana tempat tinggal Ha-ciangkun?”

Thian-liong Siansu yang dikatakan Nyo Hun-cong itu adalah seorang Hwesio atau Lama besar dari Tibet, ilmu silatnya cukup tinggi dan mempunyai corak tersendiri, ia menciptakan seratus dua puluh enam rupa pukulan yang disebut Thian-liong-cio-hoat, gerakan pedang dan goloknya pun terjelma dari pukulan itu dan mempunyai keistimewaan tersendiri.

Thian-liong Siansu menerima murid di Tibet secara luas, ia dengar ilmu silat dan ilmu pedang Hui-bing Siansu menjagoi dunia persilatan, ia lantas mengutus orang dan menantang hendak menjajal ilmu Hui-bing Siansu, waktu itu Hun-cong sedang akan menggabungkan diri dengan pasukan bangsa Kazak dan ada urusan hendak pergi ke Tibet untuk menghubungi rakyat Tibet di sana dan diajak bersama-sama melawan kekuasaan Boan-ciu. Hui-bing Siansu yang sudah sungkan turun gunung lantas memerintahkan Nyo Hun-cong sekalian mampir mengunjungi Thian-liong.

Sesudah Hun-cong dan Thian-liong Siansu saling berdebat tentang ilmu pedang, ia baru mengerti walaupun Thian-liong-kiam-hoat mempunyai keistimewaan tersendiri, tetapi masih banyak kelemahannya, karena ia masih muda dan tak bisa berpikir panjang, ia telah mengutarakan apa yang dipikirkannya im sehingga’ Thian-liong Siansu merasa kurang senang, segera dia menyuruh murid utamanya bertanding dengan Nyo Hun-cong, tetapi muridnya im hanya bertahan beberapa jurus saja sudah dikalahkan oleh Hun-cong, muridnya masih belum mau menerima begitu saja dan minta bertanding lagi dengan tangan, tetapi juga tiada beberapa gebrakan sudah terkurung pula oleh pukulan tangan Hun-cong dan tak mampu bergerak lebih jauh.

Walaupun Thian-liong Siansu angkuh dan tinggi hati, tetapi ia pun bisa melihat dengan jelas, ia tahu kemahiran Hun-cong bahkan masih di atas dirinya sendiri, tentu tak usah bertanya lagi tentang ilmu Hui-bing Siansu. Sesudah im rasa keangkuhan dan kesombongannya lantas lenyap semua, sebaliknya lantas mengusulkan berhubungan baik dan mengikat persahabatan yang kekal dengan Nyo Hun-cong.

Tentang kejadian ini, murid-murid Thian-liong Siansu banyak yang mengetahui, kala im, Hwesio besar berjubah merah ini tidak mengenali orang, tetapi setelah mendengar cerita Hun-cong tadi ia terperanjat.

“Apakah kau adalah Nyo-taihiap?” tanyanya.

“Betul, aku adalah Nyo Hun-cong,” sahut yang ditanya sambil menurunkan pedang dan memulihkan tutukan tadi.

“Aku adalah orang yang didatangkan oleh Ha-ciangkun sebagai penjaga di sini, tentu aku tidak bisa memberitahu padamu di mana ia berada, karena kau adalah sahabat Suhu, biarlah aku tidak akan berteriak, jika kau tidak suka, mau kau bunuh, boleh lekas bunuhlah aku!” kata Hwesio atau Lama itu.

Mendengar ucapan itu, diam-diam Hun-cong memuji Lama ini sebagai laki-laki tulen.

“Baiklah kalau begitu,” katanya kemudian dengan tersenyum kepada Hui-ang-kin, mereka lantas menggunakan gerakan ‘Pek-ho-jiong-thian’ atau burung bangau menjulang ke langit, mereka melayang pergi lagi.

Hui-ang-kin melihat ruangan-ruangan begitu banyak dan rumah berjajar, ia lantas bertanya kepada kawannya.

“Gedung-gedung begini banyak seperti ini, bagaimana kita bisa mencari?”

“Kau tak usah kuatir, aku ada akal,” ujar Hun-cong, lantas ia mengeluarkan belerang dari kantongnya dan membakar belerang tersebut serta dilemparkan ke kandang kuda, api lantas berkobar dengan cepat, kuda-kuda ketakutan dan menerjang keluar dari kandang, sementara im barisan pengawal musuh pun sudah datang hendak menolong memadamkan api, keadaan menjadi panik.

Hun-cong dan Hui-ang-kin yang berpakaian malam hitam, dari atas wuwungan rumah mereka bisa melihat dengan jelas sekali, mereka melihat ada satu orang tegap bangsa Boan yang mengenakan jubah kebesaran dengan lagak dan sikap yang kereng sedang memberi petunjuk dan menenteramkan mereka supaya tidak ribut, agaknya ia bisa mengatur dengan baik.

“Aku kenal dengan orang ini yang bernama Ha-haptoh, dia adalah salah satu panglima bawahan To Tok, panglima pemerintah Boan yang ada di Sinkiang kecuali Nilan Siu-kiat, dia ini terhitung yang paling pandai, agaknya tidak salah kelihatannya,” kata Hun-cong.

Setelah itu ia menarik Hui-ang-kin, berbareng mereka melayang turun ke bawah. Di bawah penerangan api obor, mereka telah dapat terlihat, segera di bawah terjadi suara teriakan yang ribut.

Beberapa pengawal segera menerjang maju, yang pertama memakai sepasang tameng berbentuk Pat-kwa, begitu berhadapan langsung menyerang dengan gerakan ‘Tok-pi-hwa-san’ atau membelah gunung Hwa-san, ia telah membelah dari atas kepala Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin ayun cambuknya hendak memberi pukulan balasan, tidak tahunya Nyo Hun-cong ternyata lebih cepat dari dia, dari samping pedangnya sudah memotong, sinar pedangnya berkelebat tubuh pengawal itu seketika terkurung menjadi dua. Di samping sana Hui-ang-kin pun dengan cepat mengayun cambuknya, dan pengawal yang kedua sudah terlempar ke gundukan api, sebelah pedangnya bergerak pula dan pengawal ketiga pun tertusuk tembus.

Ketiga pengawal itu sebenarnya adalah orang terkuat di kediaman Ciangkun itu, kini tiada satu gebrakan satu persatu sudah tewas semua, pengawal lainnya segera berlari bersebaran, walaupun bagaimana tenangnya Ha-haptoh kini pun menjadi gugup.

“Anak kepala suku Kazak ada di mana, lekas lepaskan dia!” bentak Hun-cong mengancam.

Akan tetapi, pada saat itu juga, tiba-tiba di antara sinar api yang berkobar itu berkelebat keluar satu orang.

“Nyo Hun-cong, inilah anak kepala suku Kazak itu, jika kau ada kemampuan, rebutlah ini!” seru orang itu dengan gelak tertawa.

“Kau pengkhianat Coh Ciau-lam!” damprat Hui-ang-kin pada orang itu yang ternyata bukan lain daripada Coh Ciau-lam.

Tanpa pikir lagi segera Hui-ang-kin mengayun cambuknya, tetapi Coh Ciau-lam telah mendorong maju anak kepala suku Kazak itu, keruan Hui-ang-kin lekas menarik kembali pecutnya, dalam pada itu anak tanggung yang baru berusia belasan tahun itu sudah pucat ketakutan.

“Lepaskan dia, kalau tidak aku akan habisi jiwa Ciang-kunmu ini lebih dulu!” bentak Nyo Hun-cong.

“Suheng,” kata Coh Ciau-lam dengan cengar-cengir, “Kau tak usah marah, kau lepaskan dulu Ha-ciangkun, nanti aku juga lepaskan anak ini.”

Amarah Nyo Hun-cong bukan main, tiba-tiba ia berteriak keras, “Baik, kau terima ini!” berbareng itu ia melemparkan tubuh Ha-haptoh ke arah Coh Ciau-lam seperti melempar bola, dengan tak terasa Coh Ciau-lam mengulurkan kedua tangannya hendak menerima.

Tetapi pada saat itu juga, dengan satu suitan panjang, dengan cepat Hun-cong telah menubruk ke arah Coh Ciau-lam, dengan satu gerak tipu ‘Twi-jong-bong-gwat’ atau membuka jendela memandang rembulan, dengan pukulannya ia memaksa Coh Ciau-lam mundur ke samping, sedang tangan kirinya berbareng menarik anak muda itu. Hui-ang-kin tidak tinggal diam, segera gadis ini melompat maju menyambut anak muda itu, setelah Coh Ciau-lam melepaskan Ha-haptoh, pedang ‘Yu-liong-kiam’-nya segera dikeluarkan, dengan gerak tipu ‘Kiam-ciam-in-soa’ pedangnya segera ditusukkan ke belakang punggung Hui-ang-kin.

“Hm, masih berani kau berlaku ganas?” bentak Hun-cong, berbareng telah menusukkan pedangnya ke pundak Coh Ciau-lam.

Dalam pada. itu, tiba-tiba Coh Ciau-lam berteriak, “Thian-bong Siansu, lekas bantu aku!” Lalu dengan sekuat tenaga ia menangkis rangsekan Hun-cong.

“Hui-ang-kin, kau boleh pergi dulu, tunggu aku di luar benteng, setelah kutangkap pengkhianat ini segera akan kususul!” seru Hun-cong.

Setelah Coh Ciau-lam berteriak tadi ternyata tidak ada sahutan, sebaliknya serangan Hun-cong makin gencar saja, Coh Ciau-lam sudah tak berdaya menangkis lebih lama lagi, dengan sekali lompatan ia bermaksud untuk melarikan diri. Akan tetapi gerakan Nyo Hun-cong laksana kera yang gesit sekali, tangan kirinya menutuk dan mengenai ‘Sam-li-hiat’, Coh Ciau-lam hendak menghindar, tetapi sudah tak keburu lagi, walaupun tutukan im tidak kena persis, tetapi salah satu bahunya sudah mati kaku.

Dengan sebelah tangannya, Hun-cong segera merebut pedang ‘Yu-liong-kiam’ sambil membentak, “Ikut aku!” berbareng tiga jarinya telah memijat dengan keras urat nadi tangan Coh Ciau-lam dan lantas ditarik meloncat ke atap rumah.

Para pengawal pada kaget terkesima, tiada satupun yang berani mengejar.

Tidak lama kenudian, Hun-cong sudah keluar dari benteng, tiba-tiba terdengar di lapangan luas sana ada suara pertempuran yang ramai, setelah ia perhatikan, ternyata Hui-ang-kin yang tangan kanannya menyeret anak kepala suku Kazak dan hanya dengan cambuk di tangan kirinya sedang bertempur dengan seru melawan seorang Hwesio.

Hwesio im menggunakan sebatang pedang, tindakannya menggeser menurut aturan Pat-kwa dan sedang merang-sek Hui-ang-kin hingga gadis ini terpaksa hanya bisa menangkis saja.

Demi nampak Hwesio ini, segera terdengar Coh Ciau-lam berteriak lagi, “Thian-bong Siansu, Nyo Hun-cong berada di sini!”

Advertisements

2 Comments »

  1. Aku kagum dengan penulis di blog ini….tapi kok gak ada sambungannya………

    Comment by jawaipost — 25/10/2008 @ 3:49 pm

  2. Sy bukan penulis, mas/mbak. Hanya seorang pengumpul dan repeater belaka. Tak lebih dari itu.

    Comment by ceritasilat — 27/10/2008 @ 12:39 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: