Kumpulan Cerita Silat

26/06/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 16

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 1:15 am

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 16
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Lalu Nyo Hun-cong bertanya pula bagaimana sampai mereka bisa tertawan, mendengar pertanyaan ini muka Mokhidi segera berubah menjadi gemas.

“Nyo-taihiap,” katanya kemudian, “Kau baik dalam segalanya, hanya satu hal saja yang tidak baik!”

“Apa yang tidak baik?” tanya Nyo Hun-cong dengan heran.

“Kaupunya seorang Sute yang busuk, mengapa kau tidak memberi ajaran padanya?” sahut Mokhidi sengit.

“Ya, itu memang kesalahanku!” kata Hun-cong, “Tetapi aku pun belum lama ini baru tahu ia telah berubah begitu busuk. Kenapa, ada soal apa lagi antara kamu dengan Coh Ciau-lam?”

“Justru dialah yang telah menawan kami dari padang rumput Garsin dan terus digusur ke kota Ili,” sahut Mokhidi pula.

“Apakah dia yang telah menggiring kau ke sini?” tanya Hun-cong, “Kalau begitu tentu ia kini masih berada di Ili, biarlah aku kembali ke sana untuk menangkap dia!”

“Bukan dia yang datang sendiri, kini ia sendiri malah sedang repot,” tutur Mokhidi, “Ia sedang berangkat pergi bersama satu pasukan tentara untuk menduduki satu benteng antara tiga puluh li di padang rumput Garsin dan terus mengincar gerak-gerik kami. Ia telah mengirim satu orang datang pada kami dan meminta orang Kazak harus bekerja dan memberi rangsum padanya, sudah tentu kami tidak mau dihina. Kepala suku kami telah mengusir pergi utusan itu, tetapi mendadak pada malam buta ia telah datang sendirian dan menawan pergi anak kepala suku kami sebagai jaminan. Sungguhpun demikian, kepala suku kami tetap membandel dan tak menggubris padanya, tetapi bagaimanapun juga kasih sayang ayah anak yang dahm tidak bisa diabaikan, maka diam-diam ia telah menyuruh kami pergi menyelidiki.”

“Ya, memang, kau dan Asta termasuk orang yang pating perkasa di antara bangsa Kazak, kau telah sampai di daerah selatan sini tentu saja ia menugaskan kamu, aku kira kepala suku tentu ingin kau diam-diam merebut kembali anaknya, bukan?” ujar Nyo Hun-cong.

“Ya, memang betul!” sahut Mokhidi, “Ia tidak mengetahui kepandaian silatku sebenarnya masih jauh dibandingkan Coh Ciau-lam. Akan tetapi, aku tentu tak dapat menolak perintah itu, bukan? Walaupun aku tidak dapat menandingi Coh Ciau-lam, tetapi kau tentu sudah tahu bahwa kami bangsa Kazak selamanya tidak pernah takut pada musuh yang lebih tangguh, aku toh tidak bisa membuang muka bangsaku dan mengatakan bahwa aku tidak berani pergi bukan? Lagi pula aku juga tidak takut padanya, kupikir jika bertemu dia paling banyak hanya mati, buat aku itu bukan masalah. Sementara itu supaya ia mengetahui bahwa di antara bangsa Kazak kami juga ada pahlawan yang tak gentar mati, ia telah menyerang kami waktu tengah malam, kami pun sanggup memberikan perlawanan!”

“Bagus, kau tidak malu melakukannya sebagai saudaraku!” puji Hun-cong sambil mengacungkan jempolnya atas keberanian dan jiwa pahlawan orang.

Ia memuji Mokhidi dengan sungguh-sungguh, bahkan diam-diam ia sendiri merasa malu. Mokhidi dan Malina adalah kekasih yang sudah lama baru bertemu kembali, baru berkumpul beberapa hari, Mokhidi sudah rela mempertaruhkan jiwanya untuk mempertahankan keagungan nama bangsa Kazak, perkataannya begitu tegas, sedikitpun tanpa sangsi, seperti hal itu sudah sepantasnya demi keadilan.

Ia juga percaya dirinya sendiri, jika dalam keadaan mendesak, ia pun dapat memandang kematian seperti kembali ke asalnya saja, akan tetapi kini ia ternyata tidak dapat memutuskan perasaannya terhadap anak gadis musuhnya itu.

“Terus terang saja, Toako, aku sebenarnya juga tak tega meninggalkan Malina,” kata Mokhidi pula, “Sebelum aku berangkat telah kukatakan padanya bahwa kepergianku kali ini tiada harapan hidup, karena pihak musuh jauh lebih lihai dari diriku, aku telah katakan padanya, sesudah aku mati, agar menjaga diri baik-baik dan jangan mengenangkan diriku, di antara bangsa kita masih banyak pemuda perkasa, janganlah berbuat bodoh, harus memilih satu yang baik di antaranya dan kawinlah dengan dia serta boleh berikan namaku untuk nama anaknya yang pertama, dengan begitu aku sudah cukup puas.”

“Tak tahunya nona bodoh ini malahan mengalirkan air mata,” Mokhidi menutur lebih jauh, “Tetapi lekas pula ia menyusut kering air matanya dan dengan nekat hendak pergi bersama aku, aku tidak memperkenankan, ia lantas akan bunuh diri di hadapanku, ia telah berkata pula bahwa aku memandang enteng pada wanita, katanya lelaki bisa pergi mengapa wanita tidak dapat pergi. Aku katakan pada Malina, aku tahu dia juga mengerti ilmu silat, tetapi hendak berterus terang padanya, sekalipun ditambah dirinya juga masih bukan tandingan musuh! Tetapi Malina sedikitpun tidak mau mengerti, ia berkata dengan tertawa, jika mau mati biarlah mati bersama, dengan begitu biar musuh tahu juga bahwa wanita bangsa Kazak pun mempunyai pahlawan yang tidak boleh dibuat permainan! Ia berbicara demikian serius dianggapnya mati bersamaku adalah hal yang tidak perlu dipikirkan lagi!”

Nyo Hun-cong terharu sekali mendengar cerita ini, matanya telah basah mengembeng air mata.

“Nona Malina kau hebat sekali!” katanya kemudian dengan tersenyum.

Lalu ia teringat pada Nilan Ming-hui, Ming-hui tidak bersedia meninggalkan ayahnya dan ikut dia. Menghadapi Malina, perasaannya kagum dan juga girang serta getir pula, ia kagum dan girang bagi diri Mokhidi yang bisa mendapatkan gadis yang begitu baik dan getir untuk dirinya sendiri.

“Nyo-taihiap, kau jangan percaya omongannya,” kata Malina tersenyum, “Urusan kecil ini tidak berharga dibuat cerita, ia telah menambah dan membumbui seperti perbuatan yang seharusnya dilakukan itu adalah hal-hal yang luar biasa, sungguh menjemukan!”

Hun-cong menepuk-nepuk pundak Mokhidi.

“Saudaraku yang baik,” katanya, “Ceritamu sangat menarik, ceritakanlah terus. Malina kelihatannya mengomeli-mu, tetapi sesungguhnya ia sangat menyayangi kau, apa yang ia perbuat memang hal yang luar biasa dan kau se-dikitpun tidak membesar-besarkan.”

“Wah, Nyo-taihiap, kau malahan menyokongnya, tentu akan makin membuat dia lebih besar kepala lagi!” kata Malina.

“Kemudian aku dan nona Malina malam-malam lantas mengunjungi benteng Coh Ciau-lam,” sambung Mokhidi, “Akan tetapi belum kami ketemukan anak kepala suku, kami telah kepergok lebih dulu oleh Coh Ciau-lam. Coh Ciau-lam sudah kenal padaku, maka kami berdua bertempur mati-matian. Sungguh kurang ajar sekali, jika dia membunuh kami tentu sudah beres, justru ia hanya mengurung kami dengan pedangnya, kami tidak bisa melukai dia, sedang pedangnya hanya berkelebat ke sana-sini sekitar kami sambil berseru agar kami menyerah, sudah tentu kami marah sekati, dengan tak memikirkan jiwa lagi kami telah menubruk ujung pedangnya, entah mengapa segera kami merasa lemas tak berdaya terus roboh ke tanah.

“Kamu telah kena ditutuk,” kata Nyo Hun-cong.

“Aku pun pernah mendengar kau cerita ilmu menutuk ini, tetapi tak tahu kalau begitu lihai!” kata Mokhidi pula. “Setelah ia menawan kami, ia lantas berkata, bagus sekali Mokhidi, sudah lama aku tahu kau adalah pahlawan yang gagah dari bangsa Kazak dan tangan kanan Nyo Hun-cong, baiklah, aku harus memberimu sedikit kegetiran, supaya kau tahu. Malina juga dikenal orang sebagai nona yang paling berani dari wanita Kazak, musuh selalu menyebut demikian padanya. Lantas Coh Ciau-lam merangket kami masing-masing dua puluh kali, kami sudah tak bisa bergerak lagi karena pukulan-pukulan’ itu, kemudian ia baru memerintahkan orang menggiring kami ke kota Ili sini dan diserahkan kepada orang yang disebutnya Nilan-ciangkun.”

“Setelah kami berada di Ili,” sambung Mokhidi lebih lanjut, “Lantas kami di penjara dalam istana Ciangkun, orang-orang di situ sedikit ramah kepada kami, setiap hari ada ikan dan arak, kami pikir paling banyak hanya mati, tidaklah rugi kalau makan sepuasnya. Malina yang melihat selera makanku begitu malah berkuatir atas diriku, katanya ‘Hai, Mokhidi, kau perlu hati-hati, jangan masuk perangkap musuh, mereka meladeni kita begini adalah memakai cara halus hendak membuat kita menyerah padanya kau jangan percaya pada belas kasihan harimau dan senyuman serigala’ Aku tertawa terbahak-bahak oleh ucapan Malina ini, aku telah katakan padanya kau dan aku walaupun sudah berpisah beberapa tahun, namun apakah kau tidak tahu apa artinya kesedihan, di sini ada makanan, ada minuman, buat apa sungkan-sungkan, jadi setan yang sudah kenyang lebih baik daripada setan kelaparan. Karena aku membanyol ia tertawa, belakangan ia sendiri malahan makan lebih banyak dan lebih bemapsu daripada aku,” kata Mokhidi mengakhiri ceritanya.

“Nyo taihiap jangan kau dengar dia, aku mengerti dia adalah lelaki yang baik, betul atau tidak?” sahut Malina sambil mendekat.

“Mokhidi,” kata Hun-cong dengan sungguh-sungguh, “Kau beruntung sekali, kau mempunyai nona yang begitu memperhatikan dirimu, adalah beribu kali lebih baik daripada berpeluk cium padamu!”

“Mokhidi, aku pasti membalaskan sakit hatimu ini, aku akan menawan Coh Ciau-lam dan akan kuserahkan padamu untuk balas dirangket masing-masing empat puluh kali,” katanya kemudian.

Sepanjang jalan mereka bertiga saling menceritakan keadaan masing-masing selama berpisah, setelah berjalan lima enam hari, mereka telah memasuki padang rumput yang luas dan sudah jauh sekali dari Ili.

Pada suatu hari, mereka sampai di suatu pos pemberhentian di padang rumput itu, yakni tempat untuk menambali makanan kuda dan tempat penginapan untuk orang lewat, m sekitar tempat pemberhentian itu ada warung-warung makan yang menjual daging kuda dan arak. Mereka masuk ke sana untuk minum, tiba-tiba mereka melihat ada tujuh delapan serdadu Boan sedang makan di sana.

Terdengar percakapan mereka, “Nikulo sesumbar kepandaiannya adalah ajaran guru silat ternama dari Kwan-lwe, tetapi dalam perkelahian ternyata sedikit pun tak berguna, ratusan orang kita telah dipukul morat-marit oleh tiga orang saja, kalau kita yang tak berkepandaian ini tak usah dipersoalkan, tetapi dia begitu saling gebrak sudah lantas melarikan diri?”

“Dia adalah Toh It-hang yang kita kejar, katanya adalah jagoan dari golongan Bu-tong, di samping dia masih ada seorang pemuda yang katanya lebih lihai lagi, ia adalah Nyo Hun-cong yang namanya telah menggetarkan seluruh Sinkiang utara, aku tidak pernah kenal, apakah betul dia?” kata seorang yang lain, “Aku percaya omongan Nikulo, hari itu dengan mata kepalaku sendiri aku telah melihat orang she Nyo im menangkap dan melemparkan beberapa kapten kita seperti elang mencengkeram ayam saja, aku kira kalau bukan Nyo Hun-cong, orang lain pasti tak memiliki kepandaian yang begitu tinggi!”

Bercakap sampai di sini, sekilas serdadu yang berbicara ini tiba-tiba melihat Nyo Hun-cong sedang minum di pojok-an sana, keruan ia terkejut dan gugup sekali.

“Lekas lari, lekas selamatkan jiwa!” teriaknya cepat.

Serdadu-serdadu yang lain menjadi bingung tak mengerti, di samping sana Hun-cong dengan enaknya masih minum araknya terus dan tak mempedulikan mereka.

Serdadu-serdadu lain yang melihat kawannya berteriak ketakutan, segera ada beberapa orang lain yang melihat Nyo Hun-cong, seketika suara teriakan ketakutan bergemuruh dan berebut lari keluar.

Akan tetapi, tiba-tiba di tempat pemberhentian im muncul seorang nenek tua yang mengadang di tengah jalan sambil mementangkan kedua tangannya, tanpa ampun segera beberapa serdadu itu terpental kembali ke dalam warung arak im, dua serdadu yang lain bermaksud menerobos di bawah bahu orang tetapi sekali nenek im menggerakkan tangannya, dua serdadu itu sudah kena tercengkeram olehnya dan segera terbanting mampus.

“Tidak boleh pergi!” bentak nenek im. “Lekas katakan, di mana Toh It-hang berada dan kenapa kau mengejar dia?”

Tentu saja serdadu itu ketakutan bukan main, saking takutnya sehingga tak mampu buka mulut lagi, akhirnya ada beberapa di antaranya dengan gemetar mengatakan, “Ia telah ditolong oleh Nyo Hun-cong, pergi ke mana lagi kami tidak mengetahuinya.”

Kemudian nenek im dapat melihat Nyo Hun-cong sedang minum arak.

“Hm, kau juga ada di sini, kalau begitu tidak usah tanya pada mereka!” ujarnya

Habis im satu persatu serdadu-serdadu im telah dilempar keluar dan semua terbanting mampus.

Menyaksikan kejadian luar biasa ini, pelahan-lahan Malina bertanya “Siapakah nenek tua ini? Kenapa begitu bengis? Serdadu-serdadu ini toh tidak bertempur dengan kita di medan perang, apa gunanya membunuh mereka secara begitu keji!”

“Ia adalah Pek-hoat Mo-li, kau sekali-kali jangan bikin gusar padanya” Hun-cong menerangkan dengan bisik-bisik.

Sementara itu Pek-hoat Mo-li telah mengulur tangannya hendak menjambret Nyo Hun-cong, namun dengan enteng Hun-cong telah berkelit ke samping dan terus memberi hormat.

“Pek-locianpwe, angin apakah yang telah meniup kau sampai di sini?” Hun-cong lantas menyapanya.

“Aku tiada waktu untuk bercakap banyak denganmu,” sahut Pek-hoat Mo-li, “Lekas kau beritahu padaku, Toh It-hang telah pergi ke mana bukankah ia bersama dengan seorang wanita?”

“Toh-susiok betul bersama dengan seorang nona ia bilang hendak mengantar kembali nona im ke Kwan-lwe!” jawab Hun-cong.

“Hm! Aku tidak percaya omongannya im, dulu aku telah mengusir mereka tetapi mereka tidak mau pergi, kini sebaliknya mereka mau pergi dengan sendirinya?” kata Pek-hoat Mo-li dengan tertawa dingin.

Hun-cong menjadi bingung, ia tidak mengetahui seluk-beluk apa yang dikatakannya ini.

“Nyo Hun-cong, kau bawa aku mencari mereka!” kata Pek-hoat Mo-li, berbareng tangan bergerak ia hendak menjambret Nyo Hun-cong lagi.

Namun Nyo Hun-cong dengan cepat bisa mengegos, tangan Pek-hoat Mo-li kembali menangkap angin.

“Pek-locianpwe, Tecu sesungguhnya tidak tahu ke mana perginya Toh-susiok,” kata Nyo Hun-cong pula.

Dua kali hendak mencekal tak kena agaknya Pek-hoat Mo-li tercengang juga ia agak kurang senang pula.

“Kepandaianmu ternyata maju pesat, terhadap orang muda dan tingkatan bawah, sekali aku serang tak kena pasti tidak aku ulangi lagi, baikkah, terhitung kau yang beruntung, bolehlah kau pergi, tanpa kau aku pun bisa mencari dia” kata Pek-hoat Mo-li akhirnya.

Habis berkata Pek-hoat Mo-li pergi menuju ke barat, sedang Nyo Hun-cong bersama Mokhidi dan Malina bertiga meneruskan perjalanan ke selatan, sepanjang jalan Mokhidi masih merasa penasaran oleh sikap Pek-hoat Mo-li tadi.

“Pek-hoat Mo-li suka berlaku sangat bengis, perkataannya tidak bisa dibantah orang lain, kali ini boleh dikata terhitung baik buat kita” kata Hun-cong.

Sedang untuk apa Pek-hoat Mo-li mencari Toh It-hang, itulah yang Hun-cong sendiri tidak tahu. Setelah mereka berjalan tujuh delapan hari lagi, mereka telah sampai di padang rumput Garsin, kegembiraan Hun-cong luar biasa orang-orang Kazak yang hendak ia cari akhirnya telah diketemukan. Selagi ia berpikir hendak membentuk kembali pasukan sal ^rela untuk melawan tentara Boan, tiba-tiba Mokhidi menuding ke depan dan berkata dengan gembira “Nah, sesudah lewat bukit ini, di muka sana adalah perkampungan kami.”

Segera Hun-cong melarikan kudanya ke depan, setelah melalui bukit itu, benar saja terlihat banyak perkemahan besar-kecil di sana sini, sementara itu Mokhidi dan Malina lantas berteriak, “Kawan-kawan, kami telah kembali!”

Rakyat gembala yang ada dalam perkemahan segera membanjir keluar, suara sorak sorai gemuruh berkumandang.

Dalam rombongan orang itu tiba-tiba terlihat satu selendang merah berkibar tertiup angin, Nyo Hun-cong terperanjat, mendadak seorang wanita muda telah menerobos ke luar di antara orang banyak dengan cepat dan berseru memanggil, “Nyo Hun-cong, mengapa kau juga telah datang!”

Wanita muda ini bukan lain adalah Hui-ang-kin atau si Selendang Merah.

Demi melihat gadis ini, sesaat perasaan Nyo Hun-cong tercekat, tidak keruan rasanya pahit, getir, manis, pedas dan kecut bercampur aduk, sesaat ia tak dapat mengeluarkan eepatdh katapun.

Dalam pada itu dengan tersenyum simpul Hui-ang-kin telah menyapa pula padanya tetapi yang disapa tidak buka suara.

Waktu itu memang Hun-cong seketika menjadi linglung, bayangan Nilan Ming-hui telah berkelebat dalam hatinya tiba-tiba Hun-cong merasa seperti dirinya berdosa. Dan saat ia hendak berkata sekonyong-konyong seorang tegap berewokan telah muncul dari samping.

“Nyo Hun-cong sama sekali tidak gendeng?” kata orang itu, “Sedang kita bertempur secara mati-matian, ia malah enak-enakan bersatu kereta dengan wanita ayu dan mengantar putri Nilan Siu-kiat kembali ke kota Ili!”

“Tutup bacotmu!” bentak Hun-cong dengan sengit.

Muka Hui-ang-kin seketika berubah, tetapi ia lekas tenang kembali dan menarik pergi Nyo Hun-cong dan Bing-lok, orang yang tinggi tegap dan berewokan itu.

“Kalau ada omongan sebaiknya dibicarakan nanti malam saja kini orang Kazak sedang menyambut kedatangan pahlawan mereka kau malahan ribut-ribut di sini!” kata Hui-ang-kin pada Bing-lok.

Sementara itu kepala suku Kazak di daerah selatan demi mendengar kedatangan Nyo Hun-cong, telah berjingkrak kegirangan, ia seperti ketiban rejeki, seperti kejatuhan mes-tika dari langit.

Nyo Hun-cong telah beberapa tahun ini membantu orang Kazak di daerah utara orang Kazak yang berada di selatan dengan sendirinya pun sudah mendengar.

“Nyo-taihiap, kami telah mengharap siang dan malam, akhirnya terkabul juga harapan itu atas kedatanganmu,” kata kepala suku, “Beberapa hari yang lalu, pahlawan wanita Hamaya telah datang kemari, ia juga telah menceritakan soal dirimu, kalian berdua ternyata sudah saling kenal, itu sungguh sangat baik, aku sedang berunding dengan Hamaya cara bagaimana memperkuat perserikatan kita kini kau telah datang, kau tentu dapat lebih banyak memberi saran kepada kami.”

Mendengar percakapan ini, dari samping Bing-lok tertawa menyindir. Nyo Hun-cong terpaksa menahan diri dengan penuh kedongkolan. Di samping berbincang dengan kepala suku Kazak itu, ia pun menanyakan keadaan dan pengalaman Hui-ang-kin sesudah berpisah.

Ternyata pada pertempuran besar di padang rumput im, semula suku-suku bangsa daerah selatan mendapat keunggulan, belakangan bala bantuan pasukan Boan telah datang secara besar-besaran, rakyat penggembala im tak dapat menahan lagi dan berlari berpencar.

Seperti diketahui, Hui-ang-kin terluka oleh kebakaran api pada waktu menyelidiki ‘sumber air hitam’, beruntung ia telah ditolong oleh keempat pahlawan dan terus buron hingga ratusan li lebih baru bertemu kembali dengan orang-orang Kazak di sini, sedang Bing-lok menyusul bersama kepala-kepala suku yang lain.

Ketika malam tiba kepala suku Kazak dan kepala-kepala suku di daerah selatan lainnya mengadakan perjamuan untuk Nyo Hun-cong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: