Kumpulan Cerita Silat

15/06/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 01

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 1:53 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 01
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Eve1yn)

Sinar hijau berkelebat, sebatang pedang Jing-kong-kiam menusuk cepat ke pundak kiri seorang laki-laki setengah umur.

Belum lagi serangan itu mengenai sasaran, penyerang itu sudah menggeser ke samping dan menyerang pula ke leher kanan laki-laki itu.

Waktu laki-laki setengah umur itu menegakkan pedangnya, “trang”, terbenturlah kedua pedang dan menerbitkan suara nyaring, menyusul sinar pedang gemerlapan pula, dalam sekejap kedua orang itu sudah saling gebrak beberapa jurus lagi.

Mendadak pedang laki-laki setengah umur tadi menebas sekuatnya ke atas kepala pemuda yang memakai pedang Jing-kong-kiam, namun sedikit mengegos ke samping, pemuda itu balas menusuk paha lawan.

Serang-menyerang kedua orang itu berlangsung cepat lagi tepat, setiap jurus seakan-akan mengadu jiwa.

Di sudut Lian-bu-thia atau ruang berlatih silat itu berduduk seorang tua berumur antara setengah abad lebih, sambil mengelus jenggotnya yang panjang, dia kelihatan sangat senang. Pada kedua sampingnya berdiri lebih 20 orang anak murid laki-laki dan perempuan, semuanya asyik mengikuti pertarungan sengit kedua orang tadi dengan penuh perhatian.

Di samping sana berduduk belasan tamu undangan, mereka pun memusatkan perhatian mengikuti pertandingan di tengah kalangan dengan mata tak berkedip.

Sementara itu sudah lebih 70 jurus pertandingan laki-laki setengah umur melawan si pemuda tadi. Serang-menyerang makin lama makin sengit dan berbahaya, tapi tetap belum tampak siapa akan menang atau kalah.

Sekonyong-konyong pedang lelaki setengah umur itu menebas sekuatnya, agaknya terlalu keras menggunakan tenaga sehingga tubuhnya kehilangan imbangan dan sedikit terhuyung. Tampak itu, tiba-tiba seorang pemuda berbaju putih di antara tetamu tadi mengikik geli, segera ia sadar kelakuannya yang tak pada tempatnya itu, cepat ia dekap mulut sendiri.

Dan pada saat itulah mendadak si pemuda yang menggunakan Jing-kong-kiam tadi memukul dengan telapak tangan kiri ke punggung laki-laki setengah umur.

Karena lelaki itu lagi sempoyongan, ia terus miringkan tubuh ke depan, berbareng pedang berputar dengan cepat sambil membentak, “Kena!”

Kontan kaki kiri lawan kena ditusuknya.

Pemuda itu sempoyongan, untung pedangnya sempat dipakai menahan ke tanah, ia tegakkan tubuh dan bermaksud bertempur lagi. Namun lelaki setengah umur itu sudah mengembalikan pedang ke sarungnya, katanya dengan tertawa, “Maaf, Tu-sute, lukamu tidak parah, bukan?”

Dengan muka pucat pemuda she Tu itu menjawab sambil menggigit bibir, “Terima kasih atas kemurahan hati Kiong-suheng!”

Kesudahan pertandingan itu rupanya membuat si kakek berjenggot tadi bertambah senang, dengan tersenyum ia berkata, “Sampai babak ini, Tang-cong (sekte timur) kami sudah menang tiga kali, tampaknya ‘Kiam-oh-kiong’ (istana danau pedang) ini masih boleh dihuni lima tahun lagi oleh Tang-cong. Sin-sumoay, apakah kita perlu bertanding lagi?”

Seorang To-koh atau imam perempuan, yang duduk di pojok barat sana menjawab dengan penasaran, “Ya, Co-suheng ternyata pintar mendidik murid. Tapi selama lima tahun ini entah sampai di mana peyakinan Co-suheng sendiri terhadap ‘Bu-liang-giok-bik’.”

Tiba-tiba kakek berjenggot itu memelotot, “Apakah Sumoay sudah lupa pada peraturan golongan kita?”

Teguran itu membuat si To-koh menjadi bungkam, ia mendengus sekali dan tidak bicara lagi.

Kiranya kakek berjenggot itu bernama Co Cu-bok, dalam dunia Kangouw terkenal dengan julukan “It-kiam-tin-thian-lam” atau sebatang pedang menjagoi kolong langit selatan. Ia adalah Ciangbunjin atau ketua “Bu-liang-kiam” sekte timur. Sedang imam perempuan tadi bergelar Siang-jing dengan julukan “Hun-kong-ciok-eng” atau menembus sinar menangkap bayangan, ia adalah ketua Bu-liang-kiam sekte barat.

Bu-liang-kiam sebenarnya terbagi dalam Tang-cong, Lam-cong dan Se-cong, atau sekte timur, selatan dan barat. Tapi sudah lama sekte selatan terpencil lemah, sebaliknya sekte timur dan barat banyak timbul tunas baru.

Sejak Bu-liang-kiam berdiri pada akhir dinasti Tong, lalu terbagi menjadi tiga sekte pada permulaan dinasti Song, seterusnya setiap lima tahun sekali anak murid dari ketiga sekte itu harus berkumpul di “Kiam-oh-kiong” untuk mengukur kekuatan, sekte mana yang menang, berhak untuk mendiami istana itu selama lima tahun, lalu bertanding lagi pada tahun keenam yang akan datang. Sekte mana yang akan memenangkan tiga babak dalam pertandingan lima babak, dianggap menang.

Maka selama jangka waktu lima tahun itu, yang kalah semakin giat melatih diri agar bisa merebut kemenangan dalam pertandingan yang akan datang, sebaliknya yang menang juga tidak berani lengah. Tapi selama berpuluh tahun itu, sekte selatan tidak pernah menang, sedangkan sekte timur dan barat masing-masing saling bergantian keluar sebagai juara.

Sampai pada tangan Co Cu-bok dan Sin Siang-jin, Tang-cong sudah menang dua kali dalam pertandingan lima tahunan itu, sebaliknya sekte barat baru sekali menang. Pertandingan laki-laki setengah umur she Kiong melawan pemuda she Tu tadi adalah babak keempat dalam pertandingan kali ini. Dengan kemenangan laki-laki she Kiong itu, sekte timur sudah menang tiga babak dari empat babak, maka babak kelima tidak perlu lagi dilanjutkan.

Nama Bu-liang-kiam sudah lama termasyhur di dunia Kangouw, ditambah lagi patuh pada peraturan pertandingan lima tahunan di antara golongan sendiri, maka ilmu pedang mereka makin lama semakin bagus.

Karena sibuk “perang saudara” itulah maka jarang mereka bertengkar dengan orang luar, tokoh-tokoh mereka kebanyakan hidup aman tenteram dan adem ayem sampai hari tua, jarang terbinasa karena bunuh-membunuh dalam permusuhan dengan orang luar. Pula sekte timur dan barat itu memandang pertandingan lima tahunan itu besar sangkut-pautnya dengan kehormatan sekte masing-masing, maka pada waktu mengajar murid, sang guru mencurahkan perhatian sepenuhnya, sebaliknya si murid giat berlatih siang malam tanpa kenal lelah, sehingga banyak jurus ilmu pedang baru yang diciptakan oleh setiap angkatan.

Di antara orang-orang yang duduk di sudut barat itu, kecuali Siang-jing, masih banyak pula tamu tokoh Bu-lim (dunia persilatan) terkemuka yang diundang oleh kedua sekte itu untuk hadir sebagai saksi dan juri.

Di antara kedelapan orang saksi yang hadir itu, semuanya jago-jago persilatan terkemuka di daerah Hunlam. Hanya si pemuda baju putih tadi yang sama sekali tidak terkenal dan dikenal, tapi justru ia tertawa geli ketika melihat lelaki she Kiong rada sempoyongan.

Pemuda berbaju putih itu ikut hadir bersama jago silat tua dari Hunlam selatan, Be Ngo-tek. Sebagai saudagar teh yang kaya raya, Be Ngo-tek terkenal bertangan sangat terbuka, setiap orang persilatan yang sedang dirundung nasib malang dan datang minta bantuannya, pasti dia melayani dengan segala senang hati. Sebab itulah pergaulannya dengan orang Bu-lim sangat luas, sebaliknya tentang ilmu silatnya tiada sesuatu yang luar biasa.

Ketika hadir dan mendengar Be Ngo-tek memperkenalkan pemuda baju putih itu she Toan, Co Cu-bok tidak menaruh perhatian apa-apa, sebab Toan adalah nama keluarga kerajaan Tayli di daerah Hunlam yang sangat umum, ia menduga pemuda she Toan tentu adalah murid Be Ngo-tek, padahal ilmu silat kakek she Be itu hanya biasa saja, muridnya tentu juga tidak sulit untuk diukur. Maka ia hanya menyambut mereka ke tempat duduk yang sudah disediakan. Siapa duga pemuda itu berani menertawai anak murid Co Cu-bok ketika menggunakan jurus pancingan tadi.

Dalam pada itu karena sudah menang tiga kali di antara empat babak pertandingan, kemenangan sekte timur sudah pasti, maka beberapa tokoh yang menjadi juri, seperti murid tertua dari Tiam-jong-pay, Liu Ci-hi, Leng-siau-cu, imam dari kuil Giok-cin-koan di Ay-lo-san, Kah-yap Siansu dari Tay-kak-si dan Be Ngo-tek, beramai-ramai sama mengucapkan selamat pada Co Cu-bok.

Dengan tertawa senang Co Cu-bok berkata, “Empat murid yang diajukan Sin-sumoay tahun ini, ilmu pedangnya ternyata boleh juga, lebih-lebih babak keempat ini, kemenangan kami boleh dikatakan sangat kebetulan. Sungguh Tu-sutit yang masih muda ini tidaklah terbatas hari depannya, bukan mustahil lima tahun yang akan datang sekte timur dan barat kita akan bertukar tempat, Hahaha!”

Begitulah habis terbahak-bahak, mendadak lirikan matanya mengarah pada pemuda she Toan, lalu berkata pula, “Tadi muridku yang tak becus itu menggunakan tipu pancingan untuk mengalahkan lawan, tapi saudara ini tampaknya merasa tidak sepaham. Kita adalah orang sendiri, jika Toan-heng ada minat, marilah silakan turun kalangan memberi petunjuk sejurus-dua? Nama Be-goko mengguncangkan Tin-lam (Hunlam selatan), di bawah panglima pandai tiada prajurit lemah, tentu anak muridnya tidak boleh dipandang enteng.”

Muka Be Ngo-tek menjadi merah, cepat sahutnya, “Harap Co-hiante jangan salah mengerti. Toan-heng ini bukanlah muridku. Apalagi dengan sedikit kepandaian ‘cakar-kucing’ yang kumiliki ini mana ada harganya menjadi guru orang, harap Co-hante jangan bergurau. Kedatangan Toan-heng ini ke sini hanya secara kebetulan saja ingin ikut menyaksikan keramaian, karena mendengar akan diadakan pertandingan di antara kedua sekte golonganmu, maka tanpa pikir aku telah mengajaknya kemari.”

Mendengar pemuda she Toan itu tiada hubungan apa-apa dengan Be Ngo-tek, Co Cu-bok pikir kebetulan malah, sebab kalau dia muridnya, betapa merasa sungkan.

“Orang macam apa aku Co Cu-bok ini sehingga ada orang berani terang-terangan menertawai Bu-liang-kiam di dalam Kiam-oh-kiong sini?” Karena berpikir demikian, dengan tertawa dingin Co Cu-bok berkata pula, “O, kiranya demikian. Mohon tanya siapakah nama Toan-heng yang terhormat, entah murid orang kosen dari mana?”

“Cayhe bernama Ki, satu huruf melulu, tidak pernah mengangkat guru juga tidak pernah belajar silat,” sahut pemuda she Toan itu. “Karena geli melihat orang sempoyongan akan jatuh, entah dia pura-pura atau sungguhan, aku jadi tertawa.”

Mendengar jawaban yang kurang sopan itu, sedikit pun tiada rasa hormat, Co Cu-bok bertambah mendongkol, katanya, “Apanya yang menggelikan?”

“Kalau seorang berdiri baik-baik, tentu tidak lucu. Tapi kalau seorang akan jatuh, tampaknya menjadi lucu dan menggelikan,” sahut Toan Ki dengan acuh tak acuh sambil mengebas kipas lempitnya.

Dengan kedudukan Co Cu-bok sebagai seorang ketua suatu aliran persilatan terkemuka, tentu saja hati merasa panas oleh cara bicara si pemuda yang semakin kurang ajar itu. Tapi biarpun Co Cu-bok berwatak angkuh, namun orangnya sangat hati-hati, tidak gegabah bertindak, maka ia pun tidak lantas marah-marah, katanya pada Be Ngo-tek, “Be-goko, apakah Toan-heng ini adalah sahabat baikmu?”

Be Ngo-tek adalah seorang kawakan Kangouw, sudah tentu ia paham apa maksud pertanyaan itu, terang jago Bu-liang-kiam itu sudah ambil keputusan akan memberi hajaran pada Toan Ki. Padahal ia sendiri juga baru kenal pemuda itu.

Sebagai seorang yang bertangan terbuka, ketika Toan Ki mohon ikut serta, tanpa pikir ia membawanya. Kini melihat gelagatnya, sekali turun tangan, Co Cu-bok pasti tidak sungkan-sungkan lagi. Seorang pemuda baik-baik, sayang kalau mesti mengalami aniaya demikian itu.

Maka cepat katanya, “Aku dan Toan-heng meski bukan sobat kental, tapi kami datang bersama, tampaknya tertawa Toan-heng tadi pun tidak disengaja. Baiknya begini saja, memangnya perutku sudah keroncongan, harap Co-hiante lekas keluarkan hidangan, biar kami menyuguhkan padamu tiga cawan. Hari baik yang harus gembira ini, untuk apa Co-hiante mesti urusan dengan seorang muda?”

“Jika Toan-heng bukan sobat baik Be-goko, itulah lebih baik,” ujar Co Cu-bok. “Betapa pun aku perlakukan dia, takkan dianggap membikin malu pada Be-goko. Nah, Jin-kiat, tadi kau ditertawai orang, majulah dan minta pelajaran padanya!”

Laki-laki setengah umur yang bernama Kiong Jin-kiat itu memang sangat mengharapkan perintah sang guru itu, segera saja ia lolos pedang dan maju ke tengah, ia memberi hormat pada Toan Ki sambil berkata, “Marilah, sobat Toan, silakan!”

“Hm, bagus! Bolehlah kau mulai, kau berlatih, aku melihat!” ucap Toan Ki.

“Hah, apa…apa katamu?” teriak Kiong Jin-kiat dengan gusar sehingga wajahnya merah padam.

“Kau membawa pedang, tentunya akan main pedang, bukan?” sahut Toan Ki. “Maka bolehlah mulai, biar kami sama menonton.”

“Tapi guruku suruh kau pun maju ke sini, mari kita coba-coba bertanding,” teriak Jin-kiat.

Toan Ki goyang-goyang kepala sambil tiada berhenti mengebas kipasnya, sahutnya, “Gurumu adalah gurumu, gurumu bukan guruku. Gurumu boleh menyuruhmu, gurumu tak boleh menyuruh aku. Gurumu suruh kau bertanding pedang dengan orang dan sudah kau lakukan tadi. Gurumu suruh aku coba-coba bertanding dengan kau, pertama aku tidak bisa, kedua aku takut kalah, ketiga takut sakit, keempat takut mati, maka aku tidak mau bertanding. Sekali aku bilang tidak, tetap tidak.”

Mendengar jawaban yang serba”gurumu” yang membingungkan itu, banyak di antara hadirin menjadi tertawa geli, termasuk pula beberapa murid perempuan Sin Siang-jing, maka suasana yang tadinya angker tegang seketika buyar sirna menjadi santai.

Keruan Kiong Jin-kiat tambah murka, dengan langkah lebar ia mendekati Toan Ki, ia tuding dada pemuda itu dengan ujung pedangnya dan membentak, “Apa kau benar-benar tidak bisa atau hanya pura-pura tolol dan berlagak pilon?”

Walaupun menghadapi ancaman pedang yang bila sedikit disorong ke depan pasti dadanya akan tembus, namun sedikit pun Toan Ki tidak gentar, sahutnya, “Aku pura-pura, tapi memang juga benar-benar tidak bisa.”

“Kau berani main gila ke Kiam-oh-kiong sini, apa barangkali sudah bosan hidup?” semprot Kiong Jin-kiat. “Kau sebenarnya anak murid siapa? Siapa yang menyuruhmu mengacau ke sini? Kalau tidak mengaku terus terang, jangan menyesal bila pedang tuanmu ini tidak kenal ampun.”

Toan Ki tetap acuh tak acuh, ia menguap sambil mengulet kemalasan, lalu sahutnya, “Bu-liang-kiam sangat terkenal di Kangouw, asal aku tetap diam saja, rasanya tidak nanti kau bunuh aku di depan para Locianpwe sekian banyak ini.”

Mendadak Kiong Jin-kiat simpan pedangnya, tapi tangan lain tiba-tiba menempeleng, “plok”, dengan tepat pipi Toan Ki kena digampar sekali.

Toan Ki sedikit miringkan kepalanya, namun tak dapat menghindar, seketika mukanya yang putih bersih itu merah bengap dan timbul cap lima jari.

Kejadian ini membikin hadirin sangat terkejut. Semula melihat sikap Toan Ki yang acuh tak acuh tanpa gentar itu, mereka menyangka pemuda itu pasti memiliki ilmu silat mahatinggi, maka berani meremehkan lawan. Siapa duga tempelengan Kiong Jin-kiat yang sepele itu tak bisa dihindarnya, tampaknya pemuda ini memang betul sedikit pun tak bisa ilmu silat.

Ini sungguh luar biasa!

Umumnya orang hanya mendengar cerita tentang jago silat kosen sengaja pura-pura bodoh untuk menggoda lawan, tapi tidak mungkin seorang yang tidak mahir ilmu silat berani main gila.

Bagi Kiong Jin-kiat sendiri yang secara mudah berhasil menempeleng orang, seketika ia rada terkesima juga. Tapi segera ia jambret dada baju Toan Ki serta diangkat ke atas sambil membentak, “Tadinya kukira seorang tokoh yang tak dikenal, siapa tahu tak becus begini!”

Terus saja ia banting tubuh orang ke tanah.

“Bluk”, Toan Ki terbanting keras ke lantai, kepala membentur kaki meja hingga benjut.

Be Ngo-tek merasa tidak tega, cepat ia membangunkan pemuda itu dan berkata, “Kiranya Laute (saudara) memang tak bisa ilmu silat, lantas untuk apa ikut ke sini?”

Toan Ki meraba-raba batok kepalanya yang benjut itu, sahutnya dengan tertawa, “Memangnya aku melulu datang untuk menonton keramaian. Kulihat ilmu pedang Bu-liang-kiam paling-paling juga cuma begini saja, sang guru dan si murid berjiwa kerdil pula, tampaknya juga takkan mampu lebih maju lagi daripada ini. Biarlah aku pergi saja.”

Tiba-tiba seorang murid Co Cu-bok yang lain melompat maju mengadang di depan Toan Ki, katanya, “Jika engkau tidak mahir ilmu silat, lantas mau pergi mencawat ekor begini saja memang bolehlah. Tapi kenapa kau mengolok-olok ilmu pedang kami hanya biasa saja dan paling-paling hanya sekian? Sekarang kuberi dua jalan padamu dan boleh kau pilih. Pertama boleh coba-coba ilmu pedang kami yang hanya begini saja ini, atau kau menyembah delapan kali kepada guruku dan mengaku omonganmu sendiri cuma ‘kentut’ belaka!”

“O, kau kentut? Kenapa tidak bau?” sahut Toan Ki dengan tertawa.

Murid muda itu menjadi gusar, segera bogem mentahnya menjotos ke hidung Toan Ki. Pukulan ini sangat keras, tampaknya hidung Toan Ki pasti akan bocor dan keluar kecapnya. Tak terduga baru kepalan sampai setengah jalan, tiba-tiba dari udara menyambar tiba sesuatu dan melilit di pergelangan tangan murid muda itu.

Benda itu lemas-lemas dingin dan licin, begitu melilit, terus bergerak merambat.

Keruan pemuda itu terkejut dan cepat menarik tangannya, waktu diperiksa, ternyata yang melilit di tangannya itu adalah seekor ular Jik-lian-coa atau ular rantai merah yang berwarna belang-bonteng menyeramkan, panjangnya kira-kira 30 senti.

Dalam kagetnya, pemuda itu menjerit sambil mengipas-kipaskan tangannya dengan maksud melepaskan lilitan ular kecil itu, tapi binatang itu semakin erat melilit di tangannya tak mau lepas.

Mendadak Kiong Jin-kiat juga berteriak, “Ular, ular!”

Wajahnya tampak berubah hebat sambil tangan menggagap ke dalam baju sendiri, lalu meraba leher, punggung dan ketiak, tapi tiada sesuatu yang kena dipegangnya, saking gugupnya sampai Jin-kiat berjingkrak-jingkrak, buru-buru ia lepas baju sendiri.

Datangnya perubahan ini sungguh sangat mendadak, selagi semua orang terkesiap dan heran, tiba-tiba terdengar di atas kepala mereka ada suara orang mengikik sekali.

Waktu semua orang mendongak, buset, ternyata di atas belandar rumah duduk seorang anak dara jelita, kedua tangannya penuh memegang bermacam ular.

Dara jelita itu berusia antara 16-17 tahun, berbaju hijau, wajah cantik, tersenyum menggiurkan. Pada tangannya sedikitnya memegangi belasan ekor ular yang kecil dan macam-macam warnanya, hijau, merah, hitam, belang dan warna lain, jelas semuanya adalah ular berbisa. Tapi dara cilik itu memegangi ular-ular berbisa itu bagai barang mainan belaka, sedikit pun tidak jeri. Bahkan beberapa ular di antaranya merayap ke muka dan pipinya bagai seorang anak lagi dimanjakan sang ibu yang penuh kasih sayang.

Semua orang hanya sekilas menengok saja, segera terdengar Kiong Jin-kiat dan Sutenya menjerit-jerit, maka cepat mereka berpaling memandang kedua orang itu. Sebaliknya Toan Ki lantas mendongak dan memandang si dara cilik itu dengan terkesima.

Gadis itu duduk di atas belandar sambil kedua kakinya berayun-ayun bagai anak kecil. Melihat dia, entah dari mana datangnya lantas timbul rasa suka dalam hati Toan Ki, katanya segera, “Nona, apakah engkau yang menolong aku?”

“Ya,” sahut dara cilik itu. “Orang jahat itu memukulmu, kenapa tidak kau balas hantam dia?”

“Aku tidak bisa membalas…” baru sekian Toan Ki menjawab, mendadak terdengar teriakan tertahan orang banyak.

Waktu Toan Ki berpaling, terlihat Co Cu-bok sudah menghunus pedang, mata pedang tampak bernoda darah, sedang ular Jik-lian-coa tadi sudah terkutung menjadi dua di lantai, terang kena ditebas mati oleh pedang Co Cu-bok itu.

Sementara itu baju atas Kiong Jin-kiat sudah terlepas semua, dengan setengah telanjang ia masih berjingkrak-jingkrak kelabakan, seekor ular hijau kecil tampak merayap kian kemari di punggungnya, ia ulur tangan ke belakang hendak menangkap, tapi beberapa kali dilakukannya tetap tak berhasil.

“Jangan bergerak, Jin-kiat!” bentak Co Cu-bok.

Selagi Jin-kiat merandek, tiba-tiba sinar perak berkelebat, ular hijau itu sudah tertebas menjadi dua potong. Gerakan Co Cu-bok itu secepat kilat hingga semua orang tidak tahu jelas cara bagaimana ia turun tangan, tahu-tahu ular hijau itu terkutung jatuh ke lantai, sebaliknya punggung Kiong Jin-kiat sedikit pun tidak cedera. Betapa jitu dan cepat permainan pedang Co Cu-bok itu, seketika bersoraklah orang memuji.

“Hm, hanya membunuh seekor ular kecil, kenapa mesti heran?” jengek Toan Ki.

Sedang dara cilik di atas belandar lantas berteriak-teriak, “Hai, si kakek jenggot, kenapa kau binasakan dua ekor ularku? Aku tidak mau sungkan lagi padamu sekarang!”

“He, kau anak perempuan siapa, untuk apa datang ke sini?” tegur Co Cu-bok dengan gusar.

Diam-diam ia sangat heran, bilakah gadis cilik ini berada di atas belandar? Padahal di tengah ruangan besar ini terdapat sekian banyak tokoh terkemuka, masakah tiada seorang pun yang tahu, sekalipun semua orang tadi lagi asyik mengikuti pertandingan Tang-cong dan Se-cong, tapi mustahil tidak mengetahui kalau di atas kepala mereka lagi mengintip seseorang. Kalau kejadian ini tersiar di dunia Kangouw, lantas muka “Bu-liang-kiam” akan ditaruh ke mana?

Gadis cilik itu tidak menjawab pertanyaan Co Cu-bok, kedua kakinya masih bergerak-gerak ke muka dan ke belakang, tampak sepatunya bersulam bunga kuning kecil, ujung sepatu dihias sebuah bola merah terbuat dari benang wool, itulah dandanan anak perempuan kecil yang lazim.

Maka kembali Co Cu-bok berkata, “Lekas melompat turun kemari!”

“Jangan!” tiba-tiba Toan Ki berseru. “Begitu tinggi, kalau melompat turun, apa tidak terbanting? Lekas ambilkan tangga!”

Mendengar itu, banyak orang tertawa geli lagi. Beberapa murid wanita dari Se-cong sama berpikir, “Orang ini tampak cakap dan ganteng, tapi ternyata seorang dogol. Kalau gadis cilik itu mampu naik ke atas belandar tanpa diketahui jago silat sebanyak ini, dengan sendirinya ilmu silatnya pasti sangat tinggi, masakan untuk turun diperlukan tangga, kan lelucon yang tidak lucu?”

Sementara itu terdengar si gadis kecil sedang menjawab, “Harus kau ganti dulu kedua ularku, baru aku mau turun bicara padamu.”

“Hanya dua ekor ular saja, kenapa dibuat pikiran, di mana-mana dapat kutangkap dua ular seperti ini,” ujar Co Cu-bok.

Nyata diam-diam ia sudah jeri terhadap gadis cilik itu. Gadis semuda itu telah berani bermain ular berbisa, tak pelak lagi di belakang si gadis tentu masih ada guru atau orang tua yang sangat lihai, maka nada bicaranya sedapat mungkin mengalah pada si gadis.

Dengan tertawa gadis itu mendebat, “Omong sih gampang, cobalah kau tangkap dulu ekor ular seperti itu.”

“Lekas melompat turun!” kembali Co Cu-bok mendesak.

“Tidak mau!” sahut si gadis.

“Jika tetap bandel, segera kuseret turun,” ujar Co Cu-bok.

Gadis itu terkikik-kikik, jawabnya, “Boleh kau coba menarik, kalau kena, anggap kau pintar!”

Sungguh serbarunyam Co Cu-bok menghadapi seorang gadis cilik nakal seperti itu, katanya pada Siang-jing, “Sumoay, harap kau suruh seorang murid perempuan naik ke atas untuk menyeretnya turun.”

“Anak murid Se-cong tiada yang memiliki Ginkang setinggi itu,” sahut Siang-jing.

Co Cu-bok menjadi kurang senang, selagi hendak buka suara pula, tiba-tiba terdengar si dara cilik berseru, “He, tidak mau kau ganti ularku, ya? Nih, kuperlihatkan sesuatu yang lihai, biar kalian tahu rasa!”

Segera dari bajunya ia merogoh keluar sesuatu benda yang mirip seutas rantai emas dan disambitkan ke arah Kiong Jin-kiat.

Jin Kiat menyangka tentunya semacam Am-gi atau senjata rahasia yang aneh, maka tidak berani menangkapnya dengan tangan, melainkan melompat hendak menghindar. Tak terduga rantai emas itu adalah seekor ular emas yang kecil.

Ular kecil itu sangat gesit gerak-geriknya, sekali hinggap di punggung Kiong Jin-kiat, terus saja merayap ke dada, ke muka, ke leher dan ke perut dengan cepat luar biasa.

“Bagus, bagus! Ular emas ini sungguh sangat menarik!” seru Toan Ki sambil tertawa senang.

Ular emas kecil itu merayap makin cepat, hingga antero badan Kiong Jin-kiat seakan-akan kemilauan oleh cahaya emas dan membikin pandangan semua orang menjadi silau.

Mendadak Leng-siau-cu, itu imam dari Giok-cin-koan di Ay-lo-san, teringat sesuatu, dalam kejutnya ia berseru, “Bukankah ini Kim-leng-cu dari ‘Uh-hiat-su-leng’?”

“Numpang tanya, To-heng, permainan apakah ‘Uh-hiat-su-leng’ itu?” tanya Be Ngo-tek.

Air muka Leng-siau-cu berubah, sahutnya, “Di sini bukan tempat bicara, kelak saja kita omong-omong lagi.”

Lalu ia mendongak dan berkata pada gadis cilik di atas belandar sembari memberi hormat, “Terimalah hormat Leng-siau-cu, nona!”

Meski tangannya penuh memegang macam-macam ular, namun dara cilik itu masih sempat merogoh saku dan mengambil sebiji kuaci dan dimasukkan ke mulut, ia hanya tersenyum kepada Leng-siau-cu tanpa menjawab.

Leng-siau-cu berpaling kepada Co Cu-bok, katanya, “Kionghi atas kemenangan yang dicapai pihak Co-heng dalam pertandingan tadi, karena masih ada sesuatu urusan, maafkan kumohon diri dulu!”

Dan tanpa menunggu jawaban Co Cu-bok, buru-buru ia bertindak keluar, ketika lewat di samping Kiong Jin-kiat, ia menyingkir jauh-jauh dengan rasa ketakutan.

Co Cu-bok tidak urus sikap orang itu karena lagi mencurahkan perhatian pada ular emas tadi, sebaliknya Be Ngo-tek merasa sangat heran, pikirnya, “Ilmu golok dari Giok-cin-koan terhitung salah satu kepandaian khas dalam dunia persilatan di Hunlam, biasanya Leng-siau-cu pun angkuh terhadap orang, kenapa terhadap ular emas ini ia menjadi ketakutan? Terhadap nona cilik itu pun ia sangat menghormat, entah apa sebabnya?”

Tiba-tiba terdengar gadis cilik tadi bersuit beberapa kali, mendadak ular emas merayap ke muka Kiong Jin-kiat, cepat Jin-kiat menangkap dengan kedua tangannya, tapi ular emas itu teramat cepat, badan ular saja tak bisa disentuh tangan Kiong Jin-kiat. Keruan ia tambah kelabakan dan menangkap serabutan, namun tetap menangkap angin.

Segera Co Cu-bok melangkah maju, pedang menusuk cepat, tatkala itu ular emas lagi merayap ke atas mata kiri Kiong Jin-kiat, karena diserang, sekali badan ular berkeloget, dapatlah menghindar. Sebaliknya ujung pedang Co Cu-bok pun berhenti di depan kelopak mata sang murid.

Walaupun serangan itu tidak mengenai sasaran, tapi para penonton sama merasa kagum.

Bayangkan saja, asal ujung pedang setengah senti lebih maju, pasti biji mata Kiong Jin-kiat sudah dibutakan.

Diam-diam Sin Siang-jing membatin, “Ilmu pedang Co-suheng ternyata sudah sedemikian saktinya, aku harus mengaku bukan tandingannya, terutama jurus ‘Kim-ciam-toh-kiap’ (jarum emas menolak baju) barusan, terang aku tak bisa mengungguli dia.”

Sementara itu Co Cu-bok telah menyerang pula empat kali beruntun, tapi ular emas itu seperti punya mata di punggungnya, setiap kali dapat menyelamatkan diri.

“Hai, kakek jenggot, ilmu pedangmu bagus juga!” seru si dara cilik. Tiba-tiba ia bersuit lagi, cepat ular emas itu merayap ke bawah terus menghilang.

Selagi Co Cu-bok tertegun kehilangan sasaran, tahu-tahu Kiong Jin-kiat sibuk meraba paha sambil berjingkrak-jingkrak, ternyata ular emas itu telah menerobos ke dalam celananya.

“Hahahaha!” Toan Ki tertawa geli. “Tontonan hari ini benar-benar sangat menyenangkan, hahaha!”

Dalam pada itu Kiong Jin-kiat telah melepaskan celana hingga tertampak kedua pahanya yang penuh berbulu lebat. Namun dara cilik itu memang masih kekanak-kanakan, sama sekali ia tidak kenal urusan lelaki dan perempuan, bahkan ia terus berseru, “Kau terlalu jahat, suka menganiaya orang, biarkan kau telanjang bulat. Coba malu atau tidak!”

Habis berkata, ia bersuit lagi.

Ular emas itu benar-benar sangat penurut, sekali mengegos terus menyusup pula, kali ini lebih lucu lagi, celana dalam Kiong Jin-kiat yang diterobos.

Keruan Kiong Jin-kiat semakin kelabakan. Sudah tentu, bagaimanapun ia tak dapat lepas celana dalam di hadapan orang banyak. Ia menjerit sekali terus berlari keluar.

Tapi celaka tiga belas, baru berlari sampai di ambang pintu, mendadak dari luar juga menyerobot masuk seseorang, karena tak sempat mengerem “bluk”, kedua orang itu saling tumbuk dengan keras.

Tabrakan ini benar-benar sangat keras, tapi Kiong Jin-kiat hanya terpental mundur beberapa tindak, sebaliknya orang dari luar itu terus jatuh terjengkang ke lantai.

“He, Yong-sute!” seru Co Cu-bok kaget.

Melihat siapa yang telah ditabrak olehnya, cepat Kiong Jin-kiat maju membangunkannya, rupanya ia lupa bahwa si ular emas masih mengeram di dalam celana. Maka baru saja orang itu ditarik bangun, begitu merasa si ular merayap di dalam celana, kembali ia menjerit sambil berusaha hendak menangkap ular nakal itu, dan karena pegangan terlepas, orang yang sudah dibangunkan itu terbanting roboh pula.

Tentu saja kejadian lucu itu sangat menggelikan si dara cilik di atas belandar, setelah puas mengikik tawa, akhirnya ia berkata, “Rasanya sudah cukup kau dihajar!”

Segera ia bersuit lagi sekali, ular emas kecil itu lantas merayap keluar dari celana dalam Kiong Jin-kiat terus merayap ke atas dinding tembok dengan kecepatan luar biasa, lalu kembali ke pangkuan si gadis.

Untuk kedua kalinya dapatlah Kiong Jin-kiat membangunkan orang tadi sambil berseru kaget, “Yong-susiok, ken…kenapa engkau?”

Waktu Co Cu-bok memburu maju, ia lihat kedua mata orang itu mendelik beringas, wajahnya penuh rasa gusar dan dendam, tapi napasnya sudah putus. Kejut Co Cu-bok tak terkatakan, lekas ia berusaha menolong, namun tak berdaya lagi.

Kiranya orang itu bernama Yong Goan-kui, Sute atau adik seperguruan Co Cu-bok. Meski ilmu silatnya lebih rendah daripada sang Suheng, namun jauh di atas Kiong Jin-kiat. Maka aneh sekali bahwa tabrakan tadi tak bisa dihindarkannya, bahkan sekali tabrak roboh binasa.

Co Cu-bok tahu sebelum tabrakan tentu sang Sute sudah terluka parah, maka cepat ia membuka baju Yong Goan-kui untuk diperiksa. Begitu baju terbuka, segera tertampak di dada Yong Goan-kui jelas tertulis sebaris huruf, “Tengah malam ini Sin-long-pang akan membasmi Bu-liang-kiam!”

Huruf-huruf hitam yang dekuk melekat di daging itu bukan ditulis dengan tinta, juga bukan ukiran benda tajam. Setelah ditegasi, Co Cu-bok menjadi gusar, ia angkat pedangnya hingga berbunyi mendenging, teriaknya dengan murka, “Hm, lihatlah apakah Sin-long-pang yang akan membasmi Bu-liang-kiam atau Bu-liang-kiam yang akan memusnahkan Sin-long-pang? Sakit hati ini tidak kubalas, kusumpah tak mau hidup lagi!”

Kiranya huruf-huruf yang terdapat di dada Yong Goan-kui itu ditulis dengan semacam obat racun, daging yang terkena racun lantas membusuk dan dekuk ke dalam.

Waktu Co Cu-bok periksa tubuh Yong Goan-kui pula, ternyata tiada tanda luka lain. Segera ia membentak, “Jin-ho, Jin-kiat, melihat keluar sana!”

Karena kejadian itu, seketika suasana dalam ruangan besar itu menjadi gempar, semua orang tidak urus lagi pada Toan Ki dan dara cilik di atas belandar itu, tapi beramai-ramai merubung jenazahnya Yong Goan-kui serta mempercakapkan peristiwa ini.

“Makin lama perbuatan Sin-long-pang makin tidak pantas,” kata Be Ngo-tek setelah berpikir sejenak. “Co-hiante, entah sebab apa mereka bermusuhan dengan golonganmu?”

Karena berduka atas matinya sang Sute, Co Cu-bok menjawab dengan terguguk-guguk, “Itu…itu disebabkan urusan mencari obat. Musim rontok tahun yang lalu, empat Hiangcu (hulubalang) dari Sin-long-pang datang ke Kiam-oh-kiong sini dan permisi akan mencari semacam obat di belakang gunung kami ini. Soal memetik obat sebenarnya urusan kecil, Sin-long-pang memang hidup dari memetik obat dan menjual jamu. Biasanya tiada banyak berhubungan dengan golongan kami, tapi juga tiada permusuhan apa-apa. Namun Be-goko tentu tahu, belakang gunung ini tidak sembarangan boleh didatangi orang luar, jangankan Sin-long-pang, sekalipun para sobat kental juga dilarang pesiar ke sana, ini adalah peraturan turun-temurun dari leluhur kami, dengan sendirinya kami tidak berani melanggarnya. Padahal urusan ini pun tidak jadi soal…”

Sampai di sini, tiba-tiba dari luar melangkah masuk seorang dengan tindakan perlahan dan lesu.

Aneh, Leng-siau-cu dari Giok-cin-koan yang terburu-buru pergi karena takut pada ular emas tadi kini telah kembali.

Imam itu tunduk kepala dan lesu, mukanya terdapat sejalur luka, kopiah di atas kepalanya juga sudah lenyap, rambut terurai kusut, terang baru saja dia telah dihajar orang.

“Leng-siau Toheng, ken…kenapa kau?” tanya Co Cu-bok kaget.

Dengan gemas Leng-siau-cu menjawab, “Sungguh belum pernah kulihat manusia sewenang-wenang seperti ini, katanya tidak boleh pergi dari sini dan…dan aku sendirian tak…tak mampu melawan mereka yang banyak, maka…”

“Apakah engkau bergebrak dengan orang Sin-long-pang?” tanya Co Cu-bok.

“Ya, siapa lagi kalau bukan mereka?” sahut Leng-siau-cu penasaran. “Mereka telah menduduki jalan-jalan penting di sekitar gunung, katanya sebelum esok pagi, siapa pun dilarang turun gunung.”

Dalam pada itu si dara cilik di atas belandar tadi masih asyik menyisil kuaci sambil mengayun kedua kakinya ke depan dan ke belakang. Tiba-tiba ia sambitkan kulit kuaci ke batok kepala Toan Ki dan berkata dengan tertawa, “He, kau kepingin makan kuaci tidak? Marilah naik ke sini!”

“Tidak ada tangga, aku tak sanggup naik ke situ,” sahut Toan Ki.

“Itu gampang,” ujar si gadis. Terus saja ia lepaskan seutas tali panjang warna hijau pupus dari pinggangnya, katanya pula, “Pegang erat tali ini, biar kukerek kau ke atas.”

“Badanku cukup berat, mana mampu kau kerek diriku?” ujar Toan Ki.

“Boleh coba, paling-paling kau akan mati terbanting,” sahut si gadis dengan tertawa.

Melihat tali itu tergantung di depan hidungnya, tanpa pikir Toan Ki terus memegangnya. Di luar dugaan, apa yang terpegang itu terasa basah-basah dingin, bahkan terasa kelogat-keloget bisa bergerak. Waktu ditegasi…astaga!

Benda yang tadinya disangka tali pinggang itu ternyata adalah seutas tali hidup alias ular, cuma badan ular itu sangat panjang dan kecil, atas dan bawah sama besarnya, sepintas pandang orang pasti tak menyangka kalau itu adalah ular hidup. Keruan Toan Ki kaget dan cepat lepas tangan.

Dara cilik itu mengikik geli, katanya, “Ini adalah Jing-leng-cu, lebih lihai daripada Thi-soa-coa (ular kawat besi), biarpun ditebas dengan pedang juga takkan putus. Ayo, lekas pegang yang erat!”

Toan Ki tabahkan hati dan kerahkan seluruh keberanian buat pegang badan ular tadi, ia merasa badan ular itu rada kasap dan tidak terlalu licin.

“Pegang yang erat!” seru si gadis sambil mengangkat ke atas dengan perlahan hingga tubuh Toan Ki terapung di atas tanah. Hanya beberapa kali tarikan saja, gadis itu sudah mengerek Toan Ki ke atas belandar.

Toan Ki menjadi kagum dan takut-takut pula melihat gadis cilik itu mengikat Jing-leng-cu ke pinggangnya hingga mirip benar seutas tali pinggang, tanyanya, “Apakah ularmu tidak menggigit orang?”

“Kalau kusuruh dia menggigit, tentu dia menggigit, kalau tak kusuruh, dia takkan menggigit, jangan takut,” sahut gadis itu.

“Apakah kau yang piara ular-ular ini, sudah jinak ya?” tanya Toan Ki lagi.

“Ya, coba memegangnya,” kata si gadis sambil mengangsurkan seekor ular kecil padanya.

Tentu saja Toan Ki kelabakan, serunya gugup, “He, jangan, jangan! Aku tidak mau.”

Ia menggoyang-goyang tangannya sembari menggeser tubuh ke belakang, dan karena duduknya kurang tepat, hampir saja ia terjungkal ke bawah belandar.

Untung si gadis keburu menjambret kuduknya dan menariknya ke samping lagi, katanya dengan tertawa, “Apakah engkau benar tak mahir ilmu silat? Sungguh aneh!”

“Kenapa aneh?” tanya Toan Ki.

“Engkau tak bisa ilmu silat, tapi berani datang ke sini seorang diri, tentu saja kau akan dianiaya oleh mereka yang jahat itu,” ujar si gadis. “Sebenarnya untuk apa kau datang ke sini?”

Melihat sikap ramah si gadis, meski baru kenal, tapi menganggapnya seperti sobat lama, maka selagi Toan Ki hendak menceritakan maksud kedatangannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang, dari luar berlari masuk dua orang. Kiranya adalah Kam Jin-ho dan Kiong Jin-kiat berdua.

Waktu itu Kiong Jin-kiat sudah mengenakan kembali celananya, hanya bagian atas masih telanjang.

Sikap kedua murid Bu-liang-kiam itu tampak rada takut, mereka mendekati Co Cu-bok dan melapor, “Suhu, orang Sin-long-pang telah berkumpul di atas gunung depan, jalan-jalan penting telah dijaga, kita dilarang turun gunung. Karena jumlah musuh lebih banyak, sebelum mendapat perintah Suhu, kami tidak berani sembarang turun tangan.”

“Ehm, ada berapa banyak mereka?” tanya Cu-bok.

“Kira-kira 70 sampai 80 orang,” sahut Jin-ho.

“Hm, hanya sejumlah itu lantas ingin membasmi Bu-liang-kiam? Rasanya takkan semudah itu!” jengek Co Cu-bok.

Baru selesai ucapannya, tiba-tiba terdengar suara mendengung di udara, dari luar terbidik masuk sebatang panah bersuara. Tanpa pikir Kiong Jin-kiat tangkap tangkai panah itu sebelum jatuh ke tanah. Ternyata di atas panah terikat sepucuk surat. Jelas kelihatan pada sampul surat itu tertulis, “Ditujukan untuk Co Cu-bok.”

Waktu Jin-kiat menyerahkan surat itu pada sang guru, Cu-bok menjadi gusar membaca tulisan pada sampul yang kurang hormat itu, katanya, “Coba membukanya!”

Jin-kiat mengiakan dan merobek sampul surat itu.

Saat itulah, si dara cilik membisiki Toan Ki, “Orang jahat yang menjotos engkau itu segera akan mampus!”

“Sebab apa?” tanya Toan Ki terheran-heran.

“Di atas panah dan surat itu beracun semua,” sahut si gadis.

“Masakah begitu lihai?” ujar Toan Ki.

Sementara itu terdengar Jin-kiat membaca isi surat yang telah dibukanya itu, “Sin-long-pang memberitahukan pada Co…” ia merandek karena tidak berani menyebut nama sang guru, lalu melanjutkan, “… kalian diberi tempo dalam satu jam, seluruhnya harus keluar dari Kiam-oh-kiong, masing-masing mengutungi tangan kanan sendiri. Kalau tidak, sebentar seantero isi istanamu, tua-muda, besar-kecil, ayam dan anjing pun tak terkecuali dari kematian.”

“Hm, Sin-long-pang itu macam apa, begitu besar mulutnya!” jengek Liu Cu-hi, itu jago dari Tiam-jong-pay.

Sekonyong-konyong terdengar suara gedebukan, tahu-tahu Kiong Jin-kiat roboh terjungkal.

Saat itu Kam Jin-ho masih berdiri di samping sang Sute, ia berteriak kaget, “Sute!”

Segera ia bermaksud membangunkan saudara seperguruannya itu.

Namun Co Cu-bok keburu menyela maju, ia dorong Jin-ho ke samping sambil membentak, “Jangan sentuh tubuhnya! Mungkin beracun.”

Benar juga, muka Kiong Jin-kiat tampak berkerut-kerut kejang, tangan yang memegang surat tadi dalam sekejap saja sudah berubah hitam hangus, sekali kedua kakinya berkelejet, putuslah napasnya.

Tiada satu jam lamanya, beruntun Bu-liang-kiam sekte timur sudah kematian dua jago pilihannya. Keruan para tokoh silat yang hadir di situ sama terkesiap.

“Apakah kau pun orang Sin-long-pang?” tiba-tiba Toan Ki tanya si dara cilik dengan perlahan.

“Hus, jangan kau sembarangan omong!” semprot si gadis.

“Habis, dari mana kau tahu panah dan surat itu beracun?” tanya Toan Ki.

Gadis itu tertawa, sahutnya, “Cara memberi racun itu terlalu kasar, lamat-lamat di atas panah dan surat itu kelihatan ada selapis sinar fosfor. Caranya ini hanya bisa mencelakai orang yang goblok saja.”

Ucapan terakhir si gadis itu sengaja dibikin keras sehingga dapat didengar oleh semua orang di dalam ruangan.

Segera Co Cu-bok memeriksa panah dan surat tadi, tapi tak terlihat sesuatu. Waktu diawasi dari samping, benar juga lamat-lamat kelihatan gemerdepnya sinar fosfor.

“Siapakah she dan nama nona yang mulia?” segera Cu-bok tanya si gadis.

“She dan namaku yang mulia tak bisa kukatakan padamu, itu artinya rahasia tak boleh dibongkar,” sahut si gadis.

Dalam keadaan tertimpa malang, mendengar pula ucapan si gadis yang menggoda itu, sedapatnya Co Cu-bok menahan perasaannya dan coba tanya pula, “Jika begitu, siapakah ayahmu dan siapa gurumu? Dapatkah memberi tahu.”

“Haha, jangan kira aku bisa kau tipu,” sahut si gadis dengan tertawa. “Kalau kukatakan siapa ayahku, tentu kau tahu aku she apa dan mudahlah menyelidiki namaku yang mulia. Tentang guruku ialah ibuku, nama ibuku lebih-lebih tak boleh kuberi tahukan pada orang luar.”

Diam-diam Co Cu-bok mengingat-ingat siapakah gerangan tokoh persilatan di Hunlam yang suka piara ular. Tapi seketika ia pun tak ingat, sebab daerah Hunlam yang terkenal banyak pegunungan dan hutan belukar, di mana-mana banyak terdapat ular, begitu pula orang yang piara ular.

Segera Be Ngo-tek tanya Leng-siau-cu, “Leng-toheng, tadi kau sebut ‘Uh-hiat-su-leng’ segala, apakah itu artinya?”

“Apa? Ah, kapan aku berkata demikian? Entahlah aku tidak tahu,” sahut Leng-siau-cu.

Sebagai seorang kawakan Kangouw, maka tahulah Be Ngo-tek pasti Leng-siau-cu sangat jeri terhadap ‘Uh-hiat-su-leng’ yang disebutnya itu, sudah terang tadi tercetus dari mulutnya istilah itu, tapi kini tidak mengaku, tentu ada udang dibalik batu. Maka ia pun tidak tanya lebih jauh.

Dalam pada itu Co Cu-bok berkata pula terhadap si gadis, “Jika nona tidak sudi memberi tahu, ya sudahlah. Silakan turun saja untuk berunding, Sin-long-pang melarang setiap orang turun gunung, tentu kau pun akan dibunuh mereka.”

“Hah, tidak nanti mereka berani membunuhku,” sahut si gadis tertawa, “mereka hanya membunuh orang Bu-liang-kiam. Justru ketika mendengar berita itu sengaja kudatang kemari untuk menonton pembunuhan. Hai, kakek jenggot, ilmu pedang kalian lumayan juga, tapi tidak bisa menggunakan racun, pasti bukan tandingan Sin-long-pang!”

Apa yang dikatakan si gadis itu tepat mengenai titik kelemahan golongan “Bu-liang-kiam.” Kalau saling gebrak dengan kepandaian sejati, Kungfu Tang-cong dan Se-cong dari Bu-liang-kiam, serta delapan jago terkemuka yang diundang datang sebagai juri itu, betapa pun takkan gentar terhadap Sin-long-pang, tapi kalau bicara tentang menggunakan racun dan menawarkannya, semuanya memang tidak becus.

Diam-diam Co Cu-bok mendongkol mendengar ucapan si gadis bahwa kedatangannya itu ingin menonton pembunuhan, seakan-akan makin banyak orang Bu-liang-kiam yang mati terbunuh, akan membuat hatinya semakin senang.

Maka ia menjengek sekali, lalu bertanya pula, “Berita apakah yang didengar nona di tengah jalan?”

Sebagai seorang ketua suatu aliran persilatan terkemuka, dia sudah biasa memerintah, maka ucapannya itu seakan-akan mengharuskan si gadis lekas menjawabnya.

Tak terduga, tiba-tiba dara cilik itu berkata, “Eh, kau suka makan kuaci tidak?”

Keruan Co Cu-bok semakin panas hatinya, coba kalau tidak lagi menghadapi musuh besar di luar sana, tentu sejak tadi ia sudah memberi hajaran pada anak dara itu, sedapatnya ia menahan gusar, sahutnya, “Tidak suka!”

“Kuaci apakah itu?” mendadak Toan Ki menimbrung. “Apakah digoreng dengan bawang? Atau gorengan Ngo-hiang? Atau bumbu vanili? Tampaknya enak juga.”

“Aneh, masa begitu banyak juga cara menggoreng kuaci?” sahut si gadis. “Aku tidak tahu kuaci ini digoreng dengan bumbu apa. Yang terang, ibuku menggoreng kuaci ini dengan empedu ular. Kalau sering makan akan membikin mata terang dan otak tajam. Kau mau mencicipi?”

Habis berkata, terus saja ia meraup segenggam dan ditaruh di tangan Toan Ki.

Mendengar kuaci gorengan empedu ular, rasa hati Toan Ki menjadi mual.

“Kalau tidak biasa, memang rasanya sedikit pahit,” ujar si gadis lagi. “Padahal enak dan gurih sekali.”

Merasa tidak enak untuk menolak maksud baik si gadis, Toan Ki coba-coba menyisil sebiji kuaci itu, begitu menempel bibir, rasanya memang sedikit pahit, tapi sesudah disisil dan dikunyah, eh, rasanya benar gurih dan lezat, berbau harum pula. Terus saja ia menyisil kuaci itu tanpa berhenti.

Kulit kuaci satu per satu ia taruh di atas belandar, sebaliknya dara cilik itu tidak peduli, ia semburkan kulit kuaci sekenanya, keruan kulit kuaci itu beterbangan di atas kepala para jago silat itu hingga mereka sibuk menghindar sambil berkerut kening.

Maka Co Cu-bok bertanya lagi, “Berita apakah yang didengar nona di tengah jalan? Jika sudi memberi tahu, Cayhe pasti sangat berterima kasih.”

“Kudengar orang Sin-long-pang bicara tentang ‘Bu-liang-giok-bik’ segala. Permainan macam apakah itu?” kata si gadis.

Co Cu-bok terkesiap mendengar itu, segera ia menjawab, “Bu-liang-giok-bik? Apakah maksudnya ada sesuatu Giok-bik (batu jade mestika) di Bu-liang-san sini? Hal ini tidak pernah kudengar. Apakah engkau pernah mendengarnya, Siang-jing Sumoay?”

Belum lagi Siang-jing menjawab, cepat si gadis memotong, “Sudah tentu ia pun tidak pernah mendengar! Hm, tak perlu kalian main sandiwara. Kalau tidak mau bicara, terus terang saja bilang tidak. Huh, siapa yang ingin tahu?”

Co Cu-bok serbarunyam, diam-diam ia mengakui kelihaian dara cilik itu. Segera ia berkata pula, “Ah, ingatlah aku sekarang! Apa yang dimaksudkan Sin-long-pang itu mungkin adalah Keng-bin-ciok (batu bermuka cermin) yang terdapat di puncak tertinggi dari Bu-liang-san ini. Batu itu halus dan licin bagai kaca, maka orang mengatakannya sebagai batu mestika. Padahal hanya sepotong batu biasa yang putih dan licin saja.”

“Jika begitu, kenapa tadi tidak kau katakan terus terang?” ujar si gadis. “Lalu cara bagaimana kalian ikat permusuhan dengan Sin-long-pang? Sebab apa mereka hendak membasmi Bu-liang-kiam kalian hingga ayam dan anjing pun tak terkecuali?”

Sungguh konyol, pikir Co Cu-bok. Sebagai tuan rumah, masakah dia yang ditanyai seorang gadis cilik bagai terdakwa di pengadilan saja. Tapi karena ingin tahu berita apa yang didengar orang di tengah jalan, mau tak mau ia harus menjawab lebih dulu. Maka katanya, “Harap nona turun dahulu, nanti kuterangkan dengan jelas.”

“Menerangkan dengan jelas kukira tidak perlu,” sahut si gadis sambil kedua kakinya membuai ke depan dan ke belakang, “toh apa yang kau katakan meski ada yang benar, tapi juga banyak yang dusta, paling-paling aku hanya percaya tiga bagian saja. Maka bolehlah kau bicara sesukamu.”

“Begini,” tutur Co Cu-bok kewalahan, “tahun yang lalu, Sin-long-pang kutolak cari bahan obat di belakang gunung kami ini, tapi diam-diam mereka datang mencuri dan dipergoki oleh Suteku Yong Goan-kui bersama beberapa anak muridku. Ketika ditegur, mereka menjawab, ‘Di sini toh bukan istana raja atau taman kaisar, kenapa orang luar dilarang kemari, memangnya Bu-liang-san sudah dikontrak oleh Bu-liang-kiam kalian?’ Karena percekcokan mulut itu, akhirnya saling gebrak, tanpa ampun Yong-sute telah membunuh dua orang mereka. Waktu itu tiada seorang pun yang tahu bahwa satu di antara korban itu adalah putra tunggal Sikong-pangcu dari Sin-long-pang. Maka permusuhan itu tak dapat dihindarkan lagi. Belakangan terjadi saling tempur pula di tepi sungai Lanjong dan kedua pihak jatuh korban beberapa jiwa.”

“O, kiranya begitu,” ujar si gadis. “Daun obat apakah yang mereka petik?”

“Itulah kurang terang,” sahut Cu-bok.

“Hm, apa benar kurang terang?” jengek si gadis. “Bukankah bahan obat yang hendak mereka petik itu adalah rumput Tulah. Maka mereka mengatakan akan membabat habis rumput Tulah di Bu-liang-san ini sampai akar-akarnya, sebatang pun takkan ditinggalkan.”

“Kiranya nona lebih jelas daripadaku,” kata Cu-bok.

Tiba-tiba gadis itu memegang lengan kanan Toan Ki sambil berkata, “Marilah kita turun!”

Berbareng ia melompat ke bawah.

Keruan Toan Ki menjerit kaget, namun tubuhnya sudah terapung di udara. Syukurlah gadis itu dapat membawanya ke tanah dengan enteng tanpa kurang apa pun sembari tetap memegangi lengan kanannya. Kata gadis itu pula, “Marilah kita keluar sana, coba lihat berapa banyak orang Sin-long-pang yang datang.”

“Nanti dulu,” cepat Co Cu-bok melangkah maju, “apa yang kutanya tadi, nona kan belum menjawab?”

“Buat apa kuberi tahukan padamu? Pula aku kan tidak berjanji akan menjelaskan?” sahut si gadis.

Cu-bok pikir memang benar orang tidak pernah berjanji akan menjawab pertanyaannya tadi. Tapi mana boleh orang keluar-masuk sesukanya di rumahnya ini? Walaupun saat itu Bu-liang-kiam sedang menghadapi musuh di depan rumah, namun dengan watak Co Cu-bok yang tinggi hati itu, tidak rela rasanya dipermainkan seorang nona cilik tanpa bisa berbuat apa-apa. Maka begitu mengadang di depan si gadis dan Toan Ki, katanya pula, “Kalian keluar begini saja, kalau terjadi apa-apa, Bu-liang-kiam kami tentu merasa tidak enak.”

“Kenapa kau khawatir?” sahut si gadis dengan tersenyum. “Aku toh bukan tamu undanganmu, kau pun tidak kenal she dan namaku yang mulia. Jika aku terbunuh oleh orang Sin-long-pang, ayah-bundaku juga takkan menyalahkan kalian.”

Habis berkata, ia tarik Toan Ki terus melangkah keluar.

“Berhenti dulu, nona!” cepat Cu-bok merintangi, tahu-tahu tangannya sudah menghunus pedang.

“Eh, apa kau ingin berkelahi?” tanya si gadis.

“Cayhe ingin berkenalan dengan ilmu silat nona agar kelak dapat dipertanggungjawabkan kalau berjumpa dengan ayah-ibumu,” kata Cu-bok sambil melintangkan pedang.

“Wah, kakek jenggot ini akan membunuh aku, bagaimana baiknya menurut pendapatmu?” tanya si gadis pada Toan Ki.

“Terserah padamu,” sahut Toan Ki sembari mengipas.

“Apabila aku terbunuh, lantas bagaimana baiknya?”

“Ada rezeki kita rasakan bersama, ada malang kita tanggung berbareng. Kuaci kita makan bersama, pedang kita terima serentak!”

“Bagus, ucapanmu ini sangat tegas,” ujar si gadis. “Engkau sangat baik, tidak percuma perkenalan kita ini. Marilah pergi!”

Segera ia tarik Toan Ki keluar, terhadap senjata Co Cu-bok yang kemilauan itu seakan-akan tak dihiraukannya.

Tanpa bicara lagi Cu-bok geraki pedang terus menusuk bahu kiri si gadis. Ia tidak bermaksud melukai orang, tujuannya cuma untuk merintangi kepergian kedua muda-mudi itu.

Mendadak tangan si gadis menarik pinggang, tahu-tahu seutas tali hijau menyambar ke pergelangan Co Cu-bok.

Dalam kagetnya cepat Cu-bok menarik kembali tangannya, tak terduga tali hijau itu adalah benda hidup, datangnya juga cepat luar biasa, tangan Cu-bok terasa sakit kena digigit sekali oleh Jing-leng-cu. “Trang”, pedang jatuh ke lantai.

Habis menggigit musuh, cepat Jing-leng-cu merayap ke tanah, beberapa kali mengesot, pedang yang jatuh itu telah dililitnya, terdengarlah suara “pletak” beberapa kali, pedang panjang itu patah menjadi beberapa bagian.

Ternyata Jing-leng-cu itu adalah semacam ular aneh yang sangat lihai, kulitnya keras melebihi baja, ditambah lagi dalam asuhan ayah-bunda si gadis dalam waktu panjang, maka berubahlah semacam senjata hidup yang sangat hebat.

Kalau bicara tentang ilmu silat sejati, terang si gadis yang berusia kira-kira 16-17 tahun itu bukan tandingan Co Cu-bok. Tapi “senjata hidup” si gadis terlalu aneh dan gesit, Co Cu-bok diserang dalam keadaan tidak berjaga-jaga hingga pedangnya jatuh dan terlilit patah.

Biasanya Bu-liang-kiam memandang pedang mereka sebagai jiwa sendiri, kalau senjata itu kena dipatahkan atau direbut musuh, itu berarti ludeslah seluruh modal mereka. Meski gebrakan tadi sangat di luar dugaan dan tak bisa dianggap kalah bertanding, tapi dengan kedudukan Co Cu-bok sebagai seorang ketua suatu aliran persilatan, ia tidak boleh ngotot merintangi orang lagi. Ia memegang pergelangan tangan sendiri dengan erat, khawatir racun ular menjalar ke dalam tubuh.

“Kalau ingin jiwa selamat, lekas kau menggodok tiga mangkuk besar air rumput Tulah dan diminum sekaligus, dalam waktu dua jam, harus merebah di ranjang, sedikit pun tidak boleh bergerak,” demikian kata si gadis. Dan sesudah keluar, dengan tertawa ia berkata pada Toan Ki dengan perlahan, “Jing-leng-cu ini sebenarnya tak berbisa, tapi kakek jenggot itu pasti ketakutan setengah mati. Ilmu silat si tua itu sangat tinggi, kalau dia mengejar, aku tak mampu melawannya.”

Sungguh kagum sekali Toan Ki, katanya, “Aku tidak bisa ilmu silat, makanya dianiaya orang!”

Sembari berkata, ia raba-raba pipi sendiri yang masih sakit pedas. Lalu menyambung pula, “Apabila aku pun mempunyai Jing-leng-cu seperti ini, tentu aku tidak takut lagi pada segala macam manusia jahat. Nona baik, bilakah kau mau menangkapkan seekor juga untukku?”

“Untuk menangkap seekor lagi cukup sulit,” sahut si gadis. “Sayang ular ini bukan milikku, kalau punyaku, tentu akan kuhadiahkan padamu. Ini adalah milik Encekku (paman), kubawanya buat main-main, setelah pulang nanti harus kukembalikan padanya.”

“Eh, she dan namamu yang mulia tak mau kau katakan kepada kakek jenggot, tentunya tidak keberatan diperkenalkan padaku, bukan?” tanya Toan Ki.

“She dan nama yang mulia apa segala?” sahut si gadis dengan tertawa. “Aku she Ciong, ayah-ibuku memanggil aku ‘Ling-ji’ (anak Ling). Marilah kita duduk di lereng bukit situ, katakan, untuk apa kau datang ke Bu-liang-san sini?”

Kedua muda-mudi itu lalu menuju ke lereng bukit di sebelah barat-laut sana, sembari berjalan Toan Ki sambil berkata, “Aku mengeluyur sendiri dari rumah dan terluntang-lantung ke mana-mana. Ketika tiba di kota Bohni, aku kehabisan sangu, aku datang ke rumah orang yang bernama Be Ngo-tek itu untuk makan gratis. Belakangan kudengar dia hendak ke Bu-liang-san sini, karena iseng, aku lantas minta ikut kemari.”

Ciong Ling manggut-manggut, tanyanya pula, “Sebab apa kau larikan diri dari rumah?”

“Ayah-ibu suruh aku belajar silat, aku tidak mau. Mereka mendesak terus, aku lantas minggat.”

Dengan mata terbelalak heran, Ciong Ling mengamat-amati Toan Ki, katanya kemudian, “Sebab apa engkau tidak mau belajar silat? Takut menderita?”

“Masa aku takut menderita?” sahut Toan Ki. “Telah kupikir pergi-datang dan tetap tidak paham. Kemudian bertengkar pula dengan Empekku. Aku dipersalahkan oleh ayah dan disuruh minta maaf pada Empek, tapi aku enggan karena merasa tak salah, lantaran itu ibu bertengkar juga dengan ayah…”

“Ibumu tentu simpati pada pihakmu, bukan?” tanya Ciong Ling.

“Ya,” sahut Toan Ki.

Ciong Ling menghela napas, katanya, “Ibuku juga begitu terhadapku.”

Ia termenung sejenak memandang ke arah barat, lalu tanya lagi, “Soal apa yang kau pikirkan dan merasa tidak paham?”

“Sejak kecil aku sudah ditahbiskan ke dalam agama Buddha,” tutur Toan Ki. “Ayah telah mengundang seorang guru memberi pelajaran membaca Su-si-ngo-keng (empat buku dan lima kitab) dan menggubah syair. Mengundang pula seorang paderi saleh mengajar agama padaku. Selama belasan tahun yang kupelajari melulu hal larangan membunuh, pantang gusar, harus welas asih dan macam-macam lagi. Ketika tiba-tiba ayah suruh aku belajar silat, belajar cara memukul dan membunuh orang, tentu saja aku merasa enggan. Ayah menuduh aku membangkang perintah orang tua, Empek berdebat sehari semalam denganku, dan aku tetap tidak tunduk.”

“Lantas Empekmu marah-marah dan tinggal pergi, bukan?”

“Empekku tidak marah-marah dan tinggal pergi, tapi jarinya menutuk dua kali di badanku, seketika badanku terasa seakan-akan digigit beratus ribu semut serta serupa beribu lintah lagi mengisap darahku. Kata Empek, ‘Enak tidak perasaan begini? Aku adalah pamanmu, sebentar tentu akan lepaskan Hiat-to yang kututuk, tapi kalau musuh yang menutukmu, tentu kau akan dibikin mati tidak hidup pun tidak. Dan kau boleh coba membunuh diri.’ Sudah tentu aku tak dapat bunuh diri, pula aku takkan bunuh diri, cukup hidup senang, buat apa bunuh diri?”

Semula Ciong Ling termangu-mangu mendengarkan, tiba-tiba ia berseru keras, “Hah, Empekmu mahir ilmu Tiam-hiat? Bukankah ia menggunakan sebuah jari dan menutuk sesuatu tempat di tubuhmu, dan engkau lantas tak bisa berkutik?”

“Benar, kenapa mesti heran?” ujar Toan Ki.

Kejut dan heran meliputi perasaan Ciong Ling, sahutnya, “Kau bilang kepandaian itu tidak mengherankan? Padahal setiap orang Bu-lim, asal mendapatkan ajaran sedikit ilmu Tiam-hiat, biarkan kau suruh dia menjura seribu kali juga dia mau. Tapi kau sendiri justru tidak mau belajar, ini sungguh aneh luar biasa.”

“Kulihat ilmu Tiam-hiat itu pun tiada sesuatu yang hebat,” sahut Toan Ki.

Ciong Ling menghela napas, katanya, “Kata-katamu ini jangan lagi kau ucapkan, lebih-lebih jangan sampai diketahui oleh orang lain.”

“Sebab apa?” tanya Toan Ki terheran-heran.

“Kalau kau tidak mahir ilmu silat, tentu banyak urusan Kangouw yang belum kau ketahui,” sahut si gadis. “Ilmu Tiam-hiat keluarga Toan kalian tiada bandingannya di kolong langit ini, yaitu disebut ‘It-yang-ci’. Setiap orang persilatan pasti mengiler bila mendengar nama ilmu itu, mungkin tak bisa tidur sebulan-dua bulan mengaguminya. Apabila ada yang tahu ayah dan pamanmu mahir ilmu itu, boleh jadi ada orang jahat akan menculik kau dan minta ayahmu atau pamanmu menukar dirimu dengan kitab pelajaran It-yang-ci itu. Jika terjadi demikian, lantas bagaimana?”

“Jika benar terjadi, menurut watak pamanku yang keras itu, pasti dia akan melabrak si penculik itu.”

“Makanya,” kata Ciong Ling, “berkelahi tanpa tujuan dengan keluarga Toan kalian tentu orang tidak berani. Tetapi untuk kitab pelajaran It-yang-ci, segala apa mungkin terjadi. Apalagi kalau kau jatuh di tangan orang, urusan tentu akan sulit diselesaikan. Maka begini saja baiknya, selanjutnya kau jangan mengaku she Toan.”

“Aku tidak she Toan, lalu she apa?” ujar Toan Ki. “Padahal orang she Toan beratus ribu banyaknya di daerah Hunlam ini, belum tentu setiap orangnya mahir ilmu Tiam-hiat.”

“Sementara ini boleh kau pakai she sama dengan aku,” ujar si gadis.

“Baik juga,” sahut Toan Ki tertawa. “Dan engkau harus panggil aku Toako. Berapa umurmu?”

“Enam belas,” sahut Ciong Ling. “Dan kau?”

“Aku lebih tua tiga tahun daripadamu,” sahut Toan Ki.

Ciong Ling memungut sehelai daun kering, sambil merobek daun itu sedikit demi sedikit, tiba-tiba ia goyang kepala.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya si pemuda.

“Aku tetap tak percaya bahwa engkau tidak mau belajar It-yang-ci,” sahut Ciong Ling. “Kau sengaja dusta, bukan?”

Toan Ki tertawa, katanya, “Kau pandang It-yang-ci sedemikian hebatnya, memangnya ilmu itu bisa bikin perut menjadi kenyang? Aku justru anggap Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu milikmu ini jauh lebih berguna.”

“Kuharap mudah-mudahan aku bisa menukar beberapa ular ini dengan ilmu kepandaian keluargamu itu.” ujar si gadis. “Cuma sayang, engkau tak bisa It-yang-ci, sebaliknya ular-ular ini pun bukan punyaku.”

“Gadis sekecil dirimu ini, kenapa yang kau pikir melulu urusan berkelahi dan membunuh orang saja?”

“Kau benar-benar tidak tahu atau sengaja berlagak dungu?”

“Apa maksudmu?” tanya Toan Ki bingung.

“Lihatlah itu!” kata si gadis sambil menunjuk ke arah timur.

Menurut arah yang ditunjuk, Toan Ki melihat di pinggang gunung arah timur itu mengepul belasan gumpal asap hijau, ia tidak paham apa maksud si gadis.

“Coba, meski kau tidak ingin memukul atau membunuh orang, tapi orang lain justru akan menghajar dan membunuhmu,” kata Ciong Ling pula, “lalu apa kau rela dibinasakan orang? Asap hijau itu adalah tanda orang Sin-long-pang lagi menggodok racun untuk melayani Bu-liang-kiam nanti. Kuharap semoga diam-diam kita dapat mengeluyur pergi dari sini agar tidak ikut tersangkut.”

Toan Ki kebas-kebas kipasnya dan merasa kurang tepat ucapan si gadis, katanya, “Cara perkelahian orang Kangouw seperti ini makin lama makin tidak pantas. Orang Bu-liang-kiam telah membunuh putra Sikong-pangcu dari Sin-long-pang, tapi kini itu Yong Goan-kui juga sudah dibinasakan mereka. Bahkan ditambah dengan Kiong Jin-kiat yang menempeleng aku itu. Balas-membalas, seharusnya sudah selesai. Seumpama masih ada sesuatu yang tidak adil, seharusnya melapor pada pembesar negeri dan minta diberi keputusan secara bijaksana, mana boleh bertindak dan menjadi hakim sendiri sesukanya? Memangnya negeri Tayli kita ini dianggap sudah tidak punya undang-undang lagi?”

“Ck, ck, ck!” mulut Ciong Ling berkecek-kecek, “mendengar ucapanmu ini seakan-akan kau ini tuan besar atau bangsawan yang berkuasa. Bagi rakyat jelata kita justru tidak urus segala tetek bengek itu.”

Ia menengadah, lalu tuding ke arah barat-daya dan berkata pula, “Sebentar kalau hari sudah gelap diam-diam kita mengeluyur pergi dari situ, tentu orang Sin-long-pang takkan pergoki kita.”

“Tidak!” seru Toan Ki mendadak. “Aku harus menemui Pangcu mereka untuk memberi petuah dan ceramah padanya, tidak boleh mereka sembarangan membunuh orang.”

Ciong Ling merasa kasihan pada pemuda yang polos ketolol-tololan itu, katanya, “Toan-heng, engkau ini benar-benar tidak kenal tebalnya bumi dan tingginya langit. Pangcu dari Sin-long-pang itu, Sikong Hian, orangnya kejam dan ganas, suka main racun, berbeda daripada orang Bu-liang-kiam. Maka lebih baik kita jangan cari perkara, lekas pergi dari sini saja.”

“Tidak, urusan ini aku harus ikut campur, jika kau takut, bolehlah kau tunggu aku di sini,” sembari berkata, terus saja Toan Ki melangkah ke arah timur.

Ciong Ling memandangi kepergian pemuda itu, setelah beberapa tombak jauhnya, mendadak ia memelesat maju mengejar, ia jambret pundak Toan Ki, menyusul kaki menjegal, pemuda itu disengkelit ke depan.

Waktu tiba-tiba mendengar suara tindakan orang dari belakang, selagi Toan Ki hendak menoleh, tahu-tahu pundak dicengkeram orang, bahkan kaki keserimpet dan tubuh terus terjerungup terbanting ke depan. Keruan hidungnya mencium tanah dan bocor, keluar kecapnya.

Dengan meringis Toan Ki merangkak bangun, dan demi mengetahui orang yang menghajarnya itu adalah Ciong Ling, ia menjadi gusar, katanya, “Kenapa kau begini nakal, apa tidak sakit orang kau banting?”

“Aku hanya ingin mencoba lagi apakah engkau hanya pura-pura atau sungguh-sungguh tak mahir ilmu silat,” sahut Ciong Ling. “Maksudku adalah demi kebaikanmu.”

Ketika Toan Ki mengusap hidungnya, tangannya lantas berlepotan darah, bahkan darah terus menetes hingga dadanya merah dan kuyup. Sebenarnya lukanya sangat enteng, tapi melihat sekian banyak darah mengalir, terus saja ia berkaok-kaok, “Aduh, aduuuh!”

Ciong Ling menjadi rada khawatir, cepat ia keluarkan saputangan hendak mengelap darah orang. Tapi Toan Ki kadung mendongkol, tanpa pikir ia mendorong dan berkata, “Tidak perlu kau ambil hatiku, aku tak mau gubris padamu lagi.”

Karena tak mahir ilmu silat, maka cara mendorong Toan Ki hanya sekenanya saja, siapa tahu justru menyentuh dada si gadis. Keruan Ciong Ling kaget, tanpa pikir dan dengan sendirinya ia pegang tangan si pemuda, sekali ditarik terus disengkelit dengan gaya judo, kembali Toan Ki terbanting pula, batok kepala belakang terbentur batu, seketika jatuh semaput.

Melihat pemuda itu menggeletak tak berkutik, Ciong Ling membentaknya, “Ayo lekas bangun, aku ingin bicara padamu!”

Tapi ia lantas gugup ketika melihat Toan Ki tetap tak bergerak, ia berjongkok dan memeriksa, ia lihat kedua mata anak muda itu mendelik, napasnya lemah, orangnya sudah kelengar. Lekas-lekas ia memijat Jin-tiong-hiat bagian atas bibir serta mengurut dada si pemuda.

Selang agak lama, perlahan barulah Toan Ki siuman. Ia merasa dirinya bersandar di tempat yang empuk, hidungnya mengendus bau wangi pula, ia membuka mata dan melihat sepasang mata-bola Ciong Ling yang jeli bening itu lagi memandangnya dengan rasa khawatir.

Melihat Toan Ki sudah siuman, Ciong Ling menghela napas lega, “Ah, syukurlah engkau tidak mati.”

Melihat dirinya bersandar di pangkuan si gadis, tanpa merasa hati Toan Ki terguncang, tapi segera terasa batok kepala belakang masih kesakitan, kembali ia berkaok-kaok sakit.

Ciong Ling terkejut oleh kelakuan Toan Ki itu, “Kenapa?” tanyanya.

“Aku…aku kesakitan!” sahut Toan Ki.

“Hanya sakit, kan tidak mati, kenapa berkaok-kaok?”

“Jika mati, masakah bisa berkaok-kaok?”

Ciong Ling mengikik tawa, ia merasa salah tanya. Ia coba angkat kepala Toan Ki, ternyata di bagian belakang benjol sebesar telur ayam, cuma tidak mengeluarkan darah, namun sakitnya tentu tidak kepalang. Maka katanya setengah mengomel, “Habis, siapa suruh kau berlaku rendah. Apabila orang lain, mungkin kontan sudah kubunuh, tapi kau hanya terbanting saja, masih murah bagimu.”

Toan Ki bangun duduk, tanyanya dengan heran, “Aku berbuat ren…rendah bagaimana? Kapan terjadi? Inilah fitnah belaka!”

Dasar perasaan gadis remaja seperti Ciong Ling yang baru mulai bersemi, terhadap urusan laki-perempuan baru taraf paham tak-paham, ia menjadi jengah oleh sangkalan Toan Ki itu, katanya dengan wajah merah, “Tak dapat kukatakan, pendek kata kau yang salah, siapa suruh kau mendorong…mendorong sini.”

Baru sekarang Toan Ki paham duduknya perkara, ia merasa kikuk, ingin dia jelaskan, tapi sukar mengucapkannya.

Maka Ciong Ling berkata lagi, “Syukur akhirnya kau siuman, bikin aku khawatir saja.”

“Tadi di Kiam-oh-kiong, kalau kau tidak menolong aku, pasti aku akan dipersen dua kali tempelengan lebih banyak. Kini kau membanting dua kali diriku, biarlah kuanggap kelop, siapa pun tidak utang. Agaknya memang sudah suratan nasibku, tak bisa terhindar dari malapetaka ini.”

“Demikian ucapanmu, jadi kau gusar padaku?” tanya si gadis.

“Memangnya orang sudah dipukul harus memuji dan berterima kasih pula padamu?” sahut Toan Ki.

“Ya, sudahlah, selanjutnya aku takkan pukul kau lagi,” kata Ciong Ling dengan menyesal sambil memegang tangan si pemuda. “Sekarang kau tidak marah lagi, bukan?”

“Tidak, kecuali kalau aku pun balas memukulmu dua kali,” ujar Toan Ki.

Ciong Ling tidak lantas menjawab, ia merasa enggan dipukul orang. Tapi demi tampak pemuda itu hendak tinggal pergi lagi dengan marah, cepat ia tegakkan leher dan berkata, “Baiklah, boleh kau pukul aku dua kali. Tapi…tapi jangan keras-keras, ya!”

“Tidak bisa,” kata Toan Ki. “Kalau tidak keras, mana bisa dianggap membalas dendam. Maka pukulanku sudah pasti sangat keras. Jika kau tidak tahan, lebih baik jangan.”

Ciong Ling menghela napas, ia pejamkan mata dan berkata lirih, “Baiklah! Tapi…tapi sesudah memukul, engkau jangan marah lagi!”

Namun sesudah ditunggu dan tunggu lagi, tangan Toan Ki masih belum juga terasa memukulnya. Waktu membuka mata, ia lihat pemuda itu lagi memandang kesima padanya dengan wajah tertawa bukan-tertawa padanya. Ia menjadi heran, tanyanya, “He, kenapa kau tidak memukul?”

Tiba-tiba Toan Ki menyelentik perlahan dua kali di pipi Ciong Ling, katanya, “Hanya dua kali selentikan saja dan impas.”

Ciong Ling tertawa manis, serunya, “Memang aku sudah tahu engkau orang baik”

Untuk sekian lamanya Toan Ki kesengsem menghadapi gadis jelita yang hanya belasan senti di depannya itu, makin dipandang makin cantik, bau harum gadis sayup-sayup menyusup hidungnya, berat nian untuk meninggalkannya pergi. Akhirnya ia berkata, “Sudahlah, sekarang sakit hatiku sudah terbalas, kini aku hendak pergi mencari Sikong Hian dari Sin-long-pang itu.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: