Kumpulan Cerita Silat

09/06/2008

Duke of Mount Deer (35)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:00 pm

Duke of Mount Deer (35)
Oleh Jin Yong

Liu Tay-hong yang mendengar perkataan Tan Kin lam barusan, segera bertanya, “Tan Cong tocu, jadi tadi kau menggunakan ilmu ‘Ceng-hiat sin Jiau’ untuk menghadapi pemuda itu? Menurut apa yang pernah kudengar, siapa yang terkena serangan ilmu itu, dalam waktu tiga hari darah di seluruh tubuhnya akan membeku, dan orang itu tidak bisa bergerak sama sekali serta tidak dapat disembuhkan lagi. Benarkah?”

Tan Kin-lam menarik nafas panjang. “Pada dasarnya, sifat ilmu itu memang keji sekali,” sahutnya. “Aku sebenarnya tidak berniat menggunakan ilmu itu, tapi cara kedatangannya sungguh luar biasa dan dia sudah mendengar percakapan rahasia kita. Ilmunya juga lihay sekali dan kita belum tahu maksud kedatangannya. Untuk menjaga diri kita semua terhadap hal yang tidak diinginkan, terpaksa aku menggunakan ilmu itu. Perbuatanku tadi sarna sekali tidak mirip seorang laki-laki sejati dan aku menjadi malu karenanya!”

“Tapi,” Bhok Kiam-seng ikut bicara. “Perbuatanmu ada benarnya juga. Seandainya dia adalah mata-mata musuh atau bawahannya Go Sam-kui, dia memang berbahaya bagi kita. Kalau Cong tocu tidak memberi pelajaran kepadanya lalu dia membawa berita tentang kita kepada junjungannya, celakalah kita semua. Syukurlah Cong tocu bisa menguasainya… Tan Cong tocu, kepandaianmu tinggi sekali, kau benar-benar membuat kami kagum!”

Pesta dilanjutkan kembali. Akhirnya tiba juga saatnya Bhok Kiam-seng dan rombongannya berpamitan.

“Siau ongya,” kata Siau Po pada pangeran itu. “Sebaiknya Siau ongya pindah tempat. Sebab entah siang atau malam ini juga, ada kemungkinan bangsa Tatcu nanti mengirim orangnya untuk mengepung dan melakukan penangkapan atas diri Siau ongya. Mungkin Siau ongya tidak takut, tapi kita harus sadar dengan kekuatan kita sekarang ini, kita masih belum sanggup melawan tentara yang jumlahnya laksaan jiwa….”

Mendengar ucapan bocah itu, Liu Tay-hong tertawa lebar. “Saudara cilik, apa yang kau katakan memang benar!” katanya dengan nada gembira. “Saudara kecil, sekali lagi terima kasih, terutama untuk saranmu ini. Baiklah, kami akan segera pindah tempat!”

Kiam Seng pun turut berkata. “Pembicaraan kita sudah selesai. Hari ini juga kami akan pergi dari kota ini. Tan Cong tocu, Wi hiocu, scrta semua sahabat baik yang ada di sini, selama gunung masih menghijau dan sungai masih mengalir, tentu akan ada perjumpaan lagi bagi kita kelak!”

Begitu rombongan itu berlalu, Tan Kin-lam memanggil muridnya.

“Siau Po, kemari!” katanya. “Aku ingin lihat, selama beberapa bulan ini, sudah sampai di mana kemajuanmu?”

Jantung Siau Po langsung berdebaran. Wajahnya pun bcrubah seketika. Urusan ini paling dikhawatirkan olehnya. Tapi pada dasarnya dia memang ccrdik, dia sudah memikirkan jawaban yang masuk akal.

“Suhu, selama ini kesehatanku agak terganggu, beberapa kali aku jatuh sakit dan asal aku berlatih sebentar saja, perutku langsung terasa nyeri!”

Kin Lam merasa heran sehingga dia memperhatikan muridnya dengan tajam.

“Kau sakit?” tanyanya. “Sakit apa?” Dia langsung mengajak muridnya ke kamar sebelah timur. Setelah merapatkan pintu kamar itu, dia langsung mencekal tangan kanan muridnya.

“Aih!” Tan Kin-lam sampai mengeluarkan seruan tertahan setelah ia meraba denyut nadi Siau Po. Cepat-cepat dia memeriksa nadi sebelah kirinya.

“Ini…Ini…” saking gugupnya dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa. Pikirannya langsung bekerja. “Selain terluka parah, kau juga keracunan. Usiamu masih begini muda, bagaimana kau bisa bermusuhan dengan tokoh-tokoh dunia kangouw yang memiliki kepandaian setinggi ini? Siapakah musuhmu itu?”

Di hadapan orang lain. Siau Po suka sok gagah. Tetapi di hadapan gurunya ini, dia langsung menangis terisak-isak. “Perbuatan si nenek sihir dan kura-kura tua itulah yang mencelakai muridmu ini…” katanya.

Tan Kin-lam semakin bingung. Dia menatap muridnya lekat-lekat.

“Apa yang yang kau maksud dengan kura-kura tua serta nenek sihir’!” tanya gurunya.

“Siapakah mereka?”

Siau Po segera menceritakan tentang Hay kongkong yang telah meracuninya dan Ibu suri yang telah menepuk punggungnya sehingga dia terluka dalam. Dia juga menceritakan bagaimana Ibu suri berhasil mengancamnya.

Kin Lam berpikir dengan keras. “Apakah kau membawa obat yang diberikan Ibu suri kepadamu?” tanyanya penasaran.

“Ya.” sahut Siau Po langsung mengeluarkan obat yang selalu dibawanya kemana-mana itu.

Kin Lam memeriksa obat itu, dia mengendusnya berkali-kali. Bahkan dia memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya kemudian dia gigit sampai hancur dan dengan lidah dia mencicipi, tiba-tiba dia menyemburkan obat itu dengan meludah dan kemudian mcngomel.

“Oh, dasar nenek sihir!” makinya. “Obat ini juga dicampur dengan racun. Dengan memberimu obat ini, dia ingin membuat kau mati secara perlahan-lahan!”

Mendengar gurunya juga memaki ibu suri sebagai nenek sihir, tanpa dapat dipertahankan lagi, Siau Po tertawa geli. Ternyata sang guru juga sudah terbawa atau terpengaruh dengan kata-katanya sehingga tanpa terasa dia ikut menyebut Ibu suri sebagai nenek sihir. Sebuah perkataan yang tidak selayaknya terucap dari mulut seorang ketua dari perkumpulan bcsar seperti Tian-te hwe. Siau Po sendiri sudah terbiasa dengan sebutannya yang kotor dan berbagai ragam karena dia benci sekali kepada wanita itu, meskipun dia adalah seorang ibu suri. Tapi, setelah tertawa, dia menangis lagi. Dia percaya penuh dengan ucapan gurunya itu. Artinya dia sudah terluka parah dan keracunan. Mungkinkah dia tertolong? Dia menjadi kecil hati. Tadinya dia masih dapat menguatkan hatinya, namun sekarang di depan gurunya, dia kembali lagi sebagaimana biasanya seorang bocah kecil serta tak dapat mempertahankan lagi ketabahannya yang luar biasa.

“Tahukah kau asal-usul ilmu silat Hay tayhu dan ibu suri itu?” tanya Kin Lam kepada muridnya kemudian.

Siau Po segera menceritakan pembicaraan yang berlangsung antara Hay kongkong dengan ibu suri baru-baru ini di taman bunga. Tapi dia menyampingkan urusan kaisar Sun Ti yang pergi secara diam-diam menyucikan diri di gunung Ngo Tay san. Juga persoalan ibu suri yang mencelakakan Tang Gok-hui, ibu dan anak.

Kin Lam berpikir sejenak. Kemudian dia berkata. “Kalau begitu yang satu berasal dari partai Kong Tong pai dan satunya lagi murid Coa to (pulau ular). Dengan adanya kedua orang ini yang mendekam dalam istana, kemungkinan mereka masing-masing mengandung maksud tertentu. Malam itu kau terhajar oleh dua orang dengan ilmu yang demikian dahsyat. Seharusnya kau tidak dapat hidup lebih lama lagi, malah ada kemungkinan mati seketika. Tetapi hal ini tidak terjadi padamu. Kau hanya terluka saja, apa sebabnya?”

“Pada jubah panjangku ada dua tanda bekas telapak tangan, yakni bagian dada dan punggung. Tanda itu begitu jelas dan rapi seperti digunting dengan pola,” kata Siau Po menjelaskan.

Tan Kin Lam menganggukkan kepalanya. “Itulah bukti bahwa pukulan itu lihay sekali!” katanya. “Bagaimana kau sanggup bertahan dari hajaran itu? Mungkinkah kau menggunakan baju berlapis baja?”

“Tidak,” sahut Siau Po. Tapi sebuah ingatan tiba-tiba melintas di benaknya. Ketika mengadakan pemeriksaan di rumah Go Pay, dia mendapatkan sehelai baju dalam yang tipis sekali. Mungkin So Ngo-tu tahu bahwa itulah sehelai baju mustika sehingga dia dianjurkan untuk memakainya. Malam itu, ketika dihajar oleh Hay tayhu dan ibu suri, dia juga mengenakan baju itu. Kemudian dia merasa baju itu kelonggaran sehingga dia tidak memakainya lagi. Begitu diungkit oleh gurunya barusan, dia baru teringat lagi. Karena itu cepat-cepat dia menceritakan soal baju itu.

“Itu dia!” kata Kin Lam setengah berseru. “Pasti baju itu baju mustika sehingga beberapa kali kau terhindar dari kematian. Sebaiknya kau pakai lagi baju itu siang ataupun malam. Jangan dilepaskan lagi. Soal racun Hay kongkong, untuk sementara aku masih belum tahu jenisnya. Sebaiknya kau ikuti saja petunjukku dulu untuk melatih diri dengan ilmu tenaga dalam aliranku. I1mu itu berkhasiat menyembuhkan luka dalam.”

“Baik, suhu,” sahut Siau Po. Namun dalam hatinya dia berpikir, “Ilmu tenaga dalam dari si kura-kura tua sudah aku pelajari sampai tujuh atau delapan bagian. Syukur suhu menyangka aku keracunan dan tidak memeriksanya lebih jauh….” Tapi dia rada khawatir juga. Gurunya ini lihai sekali. Ada kemungkinan rahasianya bisa terbongkar. Dia segera berkata lagi. “Suhu, Sri Baginda menitahkan aku menguntit para penyerbu yang telah dibebaskan. Karena itu, aku harus cepat-cepat pulang ke istana untuk memberikan laporan…” Dia ingin menyingkir secepatnya dari hadapan gurunya itu.

“Siapakah yang kau maksud dengan para penyerbu?” tanya Kin Lam.

Ketua pusat Tian-te hwe ini hanya tahu Siau Po telah menolong ketiga orang Bhok onghu melarikan diri dari istana. Apa masalahnya, dia masih belum tahu. Siau Po segera menjelaskan tentang penyerbuan di istana dengan tujuan membunuh kaisar Kong Hi dan para penyerbu itu menggunakan baju dalam serta senjata dengan tanda Go Sam-kui. Maksudnya untuk memfitnah pengkhianat bangsa, tapi kaisar Kong Hi yang cerdas segera menaruh kecurigaan dan menyuruhnya menguntit kawanan para penyerbu itu supaya dapat menemukan pemimpin utamanya.

“Oh, begitu?” kata Kin Lam heran. Dia sudah banyak pengalaman dan pengetahuannya juga luas sckali, tetapi urusan Bhok onghu ini belum didengarnya.

“Rombongan Bhok onghu itu sungguh berani. Tadinya aku mengira mereka menyerbu istana hanya untuk membunuh raja. Tidak disangka masih terselip maksud lainnya.”

“Rupanya mereka hendak menjatuhkan Go Sam-kui. Kau telah menolong ketiga orang itu, apakah tidak berbahaya bila kau kembali lagi ke istana?”

“Tidak,” sahut Siau Po yang tidak menjelaskan masalah pembebasan Gouw Lip-sin bertiga adalah siasatnya kaisar Kong Hi. “Untuk menutupi masalah ini, aku sudah mencari pengganti diriku. Merekalah yang akan bertanggung jawab. Aku rasa, dalam waktu yang singkat, rahasia ini tidak akan terbongkar dan aku tidak akan dicurigai. Suhu menitahkan aku mencari tahu rahasia negara, kaiau hanya karena urusan keluarga Bhok ini aku tidak kembali lagi ke istana, bukankah berarti tugasku gagal? Bukankah dengan demikian aku juga menghancurkan usaha yang sedang dibina suhu?”
Senang sekali hati Kin Lam mendengar kata-kata muridnya yang cerdas itu.

“Siau Po, kau betul!” dia membenarkan. “Kita sudah membuat perjanjian dengan pihak Bhok onghu. Andaikata mereka berhasil mendahului kita, bukankah seluruh anggota perkumpulan Tian te hwe harus menunduk di bawah perintahnya? Bukankah dengan demikian pamor kita akan jatuh? Menurut pantas, Bhok onghu yang jumlah orangnya jauh lebih sedikit dari kita tidak boleh mendahului kita! Kalau aku sampai mengikat perjanjian dengannya, hal ini semata-mata karena aku tidak ingin ada perselisihan di antara kita untuk saat ini. Lagipula, dengan bergabungnya Bhok onghu, kekuatan kita bertambah. Mereka itu berani sekali, karenanya kita tidak boleh kalah berani. Dengan demikian kita bisa berhasil terlebih dahulu!”

“Suhu benar!” sahut Siau Po. “Sebenarnya, apa sih kehebatan Bhok Siau ongya? Dia toh hanya kebetulan saja terlahir sebagai puteranya Bhok Tian-po. Sebaliknya, orang seperti suhu mana boleh menunduk kepadanya? Kalau hal itu sampai terjadi, aku benar-benar bisa mati berdiri!”

Kin Lam tertawa. Seumur hidupnya, dia sudah sering mendengar segala macam pujian. Tetapi rasa kagum seorang bocah berusia belasan tahun seperti Siau Po ini, lain sekali bagi dirinya. Dia tidak tahu di mana sang murid dilahirkan atau dibesarkan dalam lingkungan yang bagaimana. Juga tidak tahu bahwa dengan kecerdikannya, pergaulannya di istana luas sekali dan banyak mendapat kepercayaan. Dia hanya mengira karena sudah lama berada dalam istana, Siau Po sudah banyak belajar apalagi dalam menghadapi Hay kongkong dan Ibu suri yang banyak tipu muslihat. Dia tidak menyangka muridnya akan mengelabuinya.

“Dasar anak kecil, apa yang kau tahu?” katanya sambil tersenyum. “Bagaimana kau bisa tahu Bhok Siau ongya tidak mempunyai kebisaan apa-apa?”

“Sebab dia mengirim orang untuk menyerbu istana,” sahut Siau Po. “Dengan demikian dia mengorbankan beberapa lembar jiwa secara sia-sia. Bagi Go Sam-kui, sepak terjangnya itu tidak mendatangkan kerugian sarna sekali. Malah dia patut dikatakan sebagai manusia paling total di dunia ini!”

“Hush! Jangan bicara sembarangan!” tegur Tan Kin-lam. “Tapi, mengapa kau bisa mengatakan bahwa Go Sam-kui tidak mengalami kerugian apaapa?”

“Untuk menyerbu istana, Bhok Siau ongya menggunakan akal yang mentah sekali, tolol!” sahut Siau Po. “Para penyerbu mengenakan pakaian yang ada sulamannya, yakni empat huruf Peng Si onghu. Dan semua senjatanya juga ada tulisannya, Taybeng Sanhay-kwan Cong Penghu. Bangsa Tatcu bukan bangsa dogol mereka pasti curiga. Tentu mereka dapat berpikir, kalau semua penyerbu itu benar orang-orang suruhannya Go Sam-kui, mana mungkin mereka mengenakan pakaian dalam dan senjata yang bertanda Peng Si ong?”

“Ya, benar juga!” kata Tan Kin-lam.

“Masih ada satu hal lagi!” kata Siau Po menambahkan.

“Sekarang ini, puteranya Go Sam-kui yang bernama Go Eng-him sedang berada di kotaraja. Dia datang dengan membawa upeti berupa uang serta batu permata yang tidak terkirakan jumlahnya. Kalau memang ingin membunuh raja, mengapa Go Sam-kui tidak memilih waktu yang lain, namun justru di saat dia mengutus puteranya itu? Lagipula, mengapa dia harus membunuh raja? Apakah dia ingin memberontak untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi raja? Tidak mungkin! Sebab apabila dia memberontak, pihak tentara Boan akan meringkus puteranya saat itu juga kemudian dihukum mati! Masa tanpa alasan yang masuk akal, dia sudi mengorbankan jiwa anaknya sendiri?”

Kembali Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya. “Tidak salah!” katanya.

Sebenarnya Siau Po hanya berlagak pintar. Semua keterangan itu terlalu dalam bagi usianya yang masih muda. Kenyataannya memang kaisar Kong Hi yang mengemukakan berbagai alasan itu. Sekarang setelah mengetahui dia mengutarakannya kembali di hadapan gurunya, Kin Lam percaya penuh kepada muridnya ini. Dan dia merasa heran sekali. Tidak banyak anggota Tian-te hwe yang mempunyai kecerdasan seperti muridnya yang satu ini. Kalau dulu dia memilih sang murid sebagai ketua Ceng-Bok tong, hal ini dilakukannya karena sumpah yang telah mereka ucapkan.

“Anak ini bernyali besar juga cerdik sekali,” pikirnya dalam hati. “Sekarang saja dia sudah sehebat ini. Beberapa tahun lagi, dari pengalaman saja dia sudah tidak takut kalah dengan kedelapan hiocu lainnya!’

“Bagaimana dengan pihak Tatcu sendiri?” tanyanya kemudian. “Apakah raja mereka sudah tahu siasat Bhok onghu ini?”

“Sekarang masih belum yakin, tapi raja sudah menaruh kecurigaan. Tadi pagi raja mengumpulkan para siwi dan menyuruh mereka menjalankan beberapa jurus ilmu yang digunakan para penyerbu. Setelah itu, mereka merundingkan ilmu tersebut. Aku juga ikut hadir. Karena itu aku mendengar dan melihat semuanya. Karena itulah aku ingat dua jurus di antaranya adalah Heng-sau Ciang kun dan Kao-san Liu sui.”

Kin Lam menarik nafas panjang. “Benar-benar pihak Bhok onghu tidak ada orang pandai,” katanya. “Kedua jurus itu justru ilmu khas dari kelurga Bhok. Di antara para siwi, tidak sedikit jago yang kosen. Mereka pasti mengenali kedua jurus itu!”

“Pernah aku menyaksikan kedua jurus itu yang ditunjukkan oleh Hong Ci-tiong toako dan Hian Ceng tojin. Karena itu aku juga mernpunyai dugaan bahwa bangsa Tatcu pasti bisa mengenalinya juga. Itulah sebabnya tadi aku memberi saran kepada Bhok Siauongya agar mereka segera pindah dari tempat yang sekarang!”

“Benar!” Tindakanmu benar sekali!” kata Tan Kin-lam. “Nah, sekarang kau boleh kembali ke istana, besok kau datang lagi. Aku ingin memeriksa lukamu agar aku tahu jenis racun apa yang menyerang tubuhmu dan mencari jalan untuk mengobatinya.”

Siau Po senang sekali melihat sang guru tidak menanyakan pelajaran ilmu silatnya lebih jauh. Cepat-cepat dia memberi hormat kemudian mohon diri.

Ketika sampai di istana, Siau Po segera menuju kamar tulis Raja untuk menemuinya. Kaisar Kong Hi senang sekali melihat kemunculan si bocah. “Hai, kabar apa yang kau peroleh?”

“Terkaan Sri Baginda benar-benar seperti ramalan para Dewa!” sahut Siau Po setelah memberi hormat. “Memang biang keladi dari penyerbuan di istana ini ialah keluarga Bhok dari Inlam!”

Dengan perasaan senang, Kong Hi tertawa lebar. “Benar? Bagus! Lihat tampangnya To Lung! Dia tidak percaya sama sekali ketika aku mengatakan dugaanku. Lekas katakan, berita apa saja yang kau peroleh?”

“Ketiga penyerbu itu memang keras kepala,” sahut Siau Po. “Mereka tetap berkeras bahwa mereka adalah orang-orang suruhannya Go Sam-kui. Meskipun To congkoan sudah menyiksa setengah mati, ibarat mereka sudah mati hidup kembali, tetap saja mereka berkeras pada pengakuannya!”

“llmu silat To Lung cukup tinggi, tapi dia memang orang kasar,” kata kaisar Kong Hi tertawa.

“Setelah menerima perintah dari Sri Baginda,” kata Siau Po memulai keterangannya.

“Hamba segera bekerja. Hamba menggunakan Bong Hoan-yok untuk membius para siwi, Eh, tidak tahunya pada saat itu juga muncul empat orang thaykamnya Hong thayhou. Mereka mengatakan akan menghukum mati ketiga penyerbu itu sekarang juga. Hamba memberanikan diri menentang mereka dengan mengatakan bahwa hamba ingin melanjutkan tugas hamba sesuai rencana Sri Baginda. Mereka marah sekali. Karena itulah, di depan para penyerbu itu, hamba segera membunuh keempat thaykam tersebut. Setelah itu hamba membebaskan ketiga tawanan itu. Menyaksikan apa yang hamba lakukan, mereka langsung percaya penuh kepada hamba. Tidak ada sedikit pun kecurigaan!”

Kaisar Kong Hi tampaknya puas sekali dengan keterangan Siau Po. Ia mcnganggukkan kepalanya sambiI tersenyum.

“Baru saja To Lung melaporkan bahwa salah satunya thaykam Hong thayhoulah yang membebaskan para penyerbu itu, aku justru sedang keheranan. Rupanya itu perbuatanmu!”

“Tapi, Sri Baginda,” kata Siau Po selanjutnya. “Hamba mohon perbuatan hamba itu jangan diberitahukan kepada Hong thayhou!” Pinta Siau Po dengan tampang khawatir.

“Kalau tidak, selembar jiwa hamba yang tidak berarti ini pasti tidak dapat dipertahankan lagi. Hong thayhou pernah memaki hamba yang katanya terlalu setia terhadap Sri Baginda dan sebaliknya acuh saja terhadap beliau. Sebenarnya, mana hamba berani membeda-bedakan antara Sri Baginda dengan Hong thayhou? Lagipula, ada pepatah yang mengatakan, di langit tidak ada dua matahari, di atas bumi tidak ada dua raja. Biar bagaimana, akhirnya Sri Baginda yang harus didahulukan. Sedangkan thayhou sendiri, tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada Sri Baginda, sudah langsung mengirim orangnya untuk menghukum mati ketiga orang tawanan itu. Perbuatannya itu sungguh tidak layak dan tidak menghormati Sri Baginda.”

“Tak usah perdulikan Thayhou,” kata Raja. “Terhadap thayhou, aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Sekarang ceritakan saja, bagaimana dengan ketiga penjahat yang kau bebaskan itu?”

“Kemudian hamba mengajak mereka meninggalkan istana,” kata Siau Po yang mengarang ceritanya sendiri. “Ketika berpamitan, mereka menyebutkan nama masing-masing. Yang tua bernama Yau Tau Saycu Gouw Lip-sin, dua orang muda lainnya masing-masing bernama Go Piu dan Lau It-cou. Berulang kali mereka menyampaikan terima kasih kepadaku. Demikianlah mereka kena diperdaya dan mereka mengajak aku menemui pemimpinnya. Seperti dugaan Sri Baginda, pemimpin mereka adalah seorang anak muda yang dipanggil Siau ongya. Sedangkan she dan nama sebenarnya ialah Bhok Kiam-seng. Sebawahannya Siau ongya itu ada seorang tua yang kepandaiannya tinggi sekali. Julukannya Tiat Pwe-cong Liong Liu Tay-hong. Masih ada beberapa orang lainnya, di antara mereka ada Sin-jiu Kisu Sou Kong, Pek Han-hong, jago nomor dua dari Pek Si Siang hiap. Mereka bermarkas di dua tempat yang berlainan, yakni Yang-ciu hou tong dan Mo-ji hou tong.”

“Jadi kau telah bertemu dengan mereka?” tanya sang raja menegaskan.

“Ya,” sahut Siau Po. “Kata mereka, rakyat negeri ini menganggap, meskipun usia Sri Baginda masih muda sekali, tetapi kebijaksanaannya sudah kentara. Selama beberapa generasi terakhir, jarang ada raja seperti Sri Baginda. Mereka mengatakan bahwa meskipun nyali mereka sangat besar, tidak mungkin mereka berani mencelakai Sri Baginda. Seandainya apa yang mereka katakan hanya pujian belaka, hamba tetap senang mendengarnya!”

Kembali kaisar Kong Hi percaya penuh dengan keterangan thaykamnya. Sebetulnya Siau Po hanya meniru apa yang pernah didengarnya dari tukang cerita ketika masih di Yangciu dulu.

“Sri Baginda, mereka mengumpamakan Sri Baginda sebagai Niau-seng Hi-tong. Bukankah itu artinya burung hidup dan Sup ikan? Hampir saja hamba marah karenanya, kalau tidak memikirkan bahwa hamba sedang menjalankan perintah untuk mencari tahu siapa pemimpin mereka itu!”

Sri Baginda sampai tertegun mendengar Siau Po mengatakan ‘Niau Seng dan Hi tong.’ Untuk sesaat dia menjadi bingung, tetapi setelah berpikir sejenak, dia langsung tersenyum.

“Apaan Niau Seng Hi tong?” serunya. “Yang mereka maksudkan pasti Giau Sun Ie tong!”

“Sri Baginda!” Siau Po merasa puas karena raja tampak senang. “Apakah artinya Niau Seng Hi Tong itu yang sebenarnya?”

“Aih! kau masih mengatakan Niau Seng Hi Tong juga!” kata kaisar Kong Hi. “Kau benar-benar kurang pendidikan. Itulah marga keempat maharaja yang bijaksana dahulu kala dan sangat dihormati oleh rakyatnya pada jaman kejayaannya masing-masing!”

“Pantas! Pantas!” seru Siau Po. “Tampaknya beberapa orang pemberontak itu cukup terpelajar juga!”

“Meskipun demikian, mereka tidak boleh diberi kesempatan untuk meloloskan diri,” kata kaisar Kong Hi. “Lekas panggilkan To Lung untuk menghadap!”

Siau Po segera mengiakan kemudian mengundurkan diri. Dia pergi memanggil To Lung. Dalam waktu yang singkat, kepala siwi itu sudah menghadap raja di kamar tulisnya.

“Ternyata kawanan penyerbu itu memang orang-orang dari keluarga Bhok di Inlam,” kata kaisar Kong Hi kepada To Lung. “Sekarang juga kau pimpin pasukan pengawal untuk meringkus mereka. Kau, Siau Kui cu, coba kau jelaskan segala sesuatu yang kau ketahui mengenai para pernberontak itu!”

Siau Po menurut. Dia segera menjelaskan apa yang diketahuinya, seperti yang diceritakannya kepada kaisar Kong Hi tadi. Dia juga menyebu: nama Bhok Kiam seng serta para pembantunya. Ketika To Lung mendengar nama Liu Tayhong, dia memperlihatkan mimik wajah terkejut.

“Apa?” tanyanya heran. “Tiat-pwe Cong Liong juga ada di antara mereka? Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang-orang sembarangan. Nama Yau Tau Saycu Gouw Lip-sin juga pernah hamba dengar. Tidak disangka, meskipun telah ditahan satu hari satu malam, hamba masih belum berhasil mengetahui siapa nama mereka. Aih! Asal hamba teliti sedikit saja, seharusnya hamba sudah mengetahuinya begitu melihat orang tersebut sering menggelengkan kepalanya. Oh, Sri Baginda, seandainya Sri Baginda kurang bijaksana, tentu kita sudah menuduh Go Sam-kui sebagai biang keladi peristiwa ini!”

“Tapi… aku khawatir mereka sudah kabur sekarang!” kata kaisar Kong Hi. “Mungkin kita tidak akan berhasil menangkap mereka.” Sri Baginda menghentikan kata-katanya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali: “Yang penting kita sudah tahu siapa adanya orang-orang itu. Seandainya hari ini kita gagal, tidak jadi masalah kalau hari ini kita gagal. Yang ditakutkan justru apabila kita buta sama sekali dan dapat dipermainkan oleh pihak musuh seenaknya! Nah, kau pergilah!”

To Lung berlutut serta menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengundurkan diri. Saat itu juga dia mengumpulkan para bawahannya untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan.

“Sekarang, Siau Kui cu,” kata kaisar Kong Hi pada thaykamnya. “Mari kau ikut aku menjenguk Ibu suri!”

“Baik, Sri Baginda!” sahut Siau Po. Padahal dalam hati, dia justru khawatir sekali. Jantungnya berdebar-debar. Hatinya takut berhadapan dengan Hong thayhou. Wajahnya langsung tampak kelam.

“Eh, kenapa kau mengernyitkan alismu?” tanya kaisar Kong Hi. Ia merasa heran melihat tampang si bocah. “Kau tahu… Dengan mengajakmu menghadap Hong thayhou, aku justru ingin menyelamatkan batok kepalamu agar tetap menempel di batang lehermu itu!”

“Iya… iya, Sri Baginda,” sahut Siau Po yang terpaksa mengikuti raja itu.
Begitu sampai di keraton Cu-Ieng kiong, Raja langsung memberi hormat kepada ibunya. Lalu dia memberi laporan tentang siapa orangnya yang melakukan penyerbuan ke dalam istana. Dia menceritakan bagaimana Siau Po menggunakan akal yang bagus melepaskan para tawanan itu kemudian diikuti sampai ke markasnya sehingga akhirnya dia bisa mengetahui siapa adanya sang pemimpin dari pada pemberontak itu.

Thayhou tersenyum setelah kaisar Kong Hi selesai dengan ceritanya.

“Siau Kui cu , kau memang pandai sekali bekerja!” pujinya.

Si thaykam kecil segera menjatuhkan dirinya berlutut dan menganggukkan kepalanya berkali-kali. “Semua ini berkat terkaan Sri Baginda yang tepat sekali. Semuanya telah diperhitungkan dengan seksama. Sedangkan hamba hanya menjalankan perintah raja.”

Lagi-lagi thayhou tersenyum. “Biasanya kalau seorang anak kecil keluar rumah, dia senang sekali keluyuran kemana-mana,” katanya. “Apakah kau pergi ke Tiankio untuk menonton pertunjukkan sulap? Atau mungkin kau membeli kembang gula di sana?”

Hati Siau Po cemas sekali mendapat pertanyaan demikian.

“Iya, memang benar,” sahutnya cepat. Hatinya berdebar. Dia teringat akan pedagang-pedagang yang ditangkapi tentara kerajaan. Semua itu pasti atas perintah Ibu suri. Wanita ini pasti takut ada orang yang akan membawa berita ke Ngo Tay san. Karena itu, setiap orang yang mencurigakan harus dibasmi sampai tuntas. Siau Po bergidik mengingat kekejaman dan kejahatan ibu suri.

Kembali Hong thayhou tersenyum. “Aku ingin tanya, apakah kau makan kembang gula hari ini?”

“Harap thayhou maklum,” sahut Siau Po yang cerdik. Dia memberikan keterangan yang tidak merupakan jawaban atas pertanyaan ibu suri. “Selama berada di luar istana, hamba telah mendengar berita tentang wilayah Tiankio yang kurang aman. Para Kiu-bun te tok sudah menitahkan orang-orangnya untuk melakukan penangkapan sebab menurut mereka, ada orang-orang jahat yang membaur di sana. Karena itu, sekarang para pedagang kembang gula, sudah menukar usahanya. Ada yang menjual kue, ada yang menjual kacang tanah dan buah-buahan. Orang-orang seperti itu sudah sering hamba lihat. Karena itu ada beberapa wajah yang hamba kenal. Mereka mengatakan bahwa sekarang mereka tidak menjual kembang gula lagi. Malah salah satu di antaranya lucu sekali. Dia mengatakan bahwa dia ingin pergi ke gunung Ngo Tay san atau Liok Tay san untuk menjual bakso tanpa daging bagi para pendeta!”

Panas hati thayhou mendengar sindiran Siau Po.

‘Kalau menilik dari ucapan bocah ini, berarti orang yang dicurigai itu telah gagal ditangkap!’ Tapi wanita ini memang licik. Lagi-lagi dia tersenyum.

“Bagus! Bagus sekali!” katanya. “Kau sangat pandai bekerja. Sri Baginda, aku ingin dia bekerja untukku saja. Bagaimana menurut pemikiranmu?”

Siau Po terkejut setengah mati. Sedangkan raja merasa heran dan bimbang. Dia tahu Siau Po memang pandai bekerja dan telah dianggap sebagai pembantu dekatnya. Sekarang thayhou menghendaki Siau Po untuk bekerja baginya. Kaisar Kong Hi adalah seorang anak yang berbakti. Meskipun thayhou bukan ibu kandungnya, namun dia sudah dibesarkan dan dididik semenjak kecil oleh wanita ini. Mana mungkin dia bisa menentang kehendak Ibu suri? Akhirnya dia tersenyum dan berkata kepada thaykamnya.

“Siau Kui cu, Ibu suri telah memilihmu, kenapa kau tidak cepat-cepat mengucapkan terima kasih?”

“Iya… iya!” sahut Siau Po gugup. Dia memang tercekat hatinya. Bahkan kalau ada kesempatan rasanya dia ingin sekali melarikan diri dari tempat itu. Sekarang terpaksa dia menjatuhkan diri berlutut serta menyembah beberapa kali.

“Terima kasih atas budi besar Sri Baginda serta Hong thayhou!” katanya.

“Bagaimana, heh?” tanya thayhou sambil mendengus dingin. Dia dapat melihat sikap Siau Po yang mengucapkan kata-katanya dengan terpaksa sekali.

“Apakah kau hanya ingin melayani Sri Baginda dan tidak sudi melayani aku?”

“Melayani Sri Baginda maupun thayhou sama saja,” sahut Siau Po. “Hamba akan sama setianya dan hamba akan menggunakan seluruh kesanggupan hamba untuk menjalankan tugas….”

“Bagus!” kata ibu suri. “Selanjutnya, tugasmu di Gisi pong tidak usah diteruskan lagi. Selebihnya kau hanya bekerja di Cu-leng Kiang ini!”

“Iya, iya, thayhou!” sahut Siau Po cepat. Tentu saja isi hatinya hanya Thian yang tahu.

“Terima kasih atas budi kebaikan thayhou!”

Raja merasa tidak puas melihat thaykam kesayangannya diminta oleh Ibu suri. Setelah berbincang-bincang sedikit, dia pun mohon diri dari hadapan thayhou.

Siau Po segera menggerakkan kakinya untuk mcngikuti kaisar Kong Hi.

“Siau Kui cu, kau diam di sini saja!” kata thayhou.

“Biar orang lainnya yang mengantarkan Sri Baginda. Ada urusan yang akan kuperintahkan kepadamu!”

“Ya, thayhou!” sahut Siau Po. Hatinya ketakutan, namun dia berusaha untuk menenangkan diri. Sambil memperhatikan kepergian raja, otaknya bekerja. ‘Sri Baginda, dengan kepergianmu ini, celakalah aku! Entah aku masih bisa bertemu lagi atau tidak dcngan Sri Baginda…’

Thayhou minum teh perlahan-lahan. Sepasang matanya memperhatikan Siau Po dengan tajam. Hati si bocah cilik semakin terguncang karenanya. Lewat beberapa detik kemudian, ibu suri baru berkata lagi.

“Bagaimana dengan pedagang yang menjual bakso tanpa daging di Ngo Tay san?”

Siau Po berlagak pilon. “Maksud thayhou?”

“Kapan dia akan kembali lagi ke kola Peking?” tanya ibu suri.

“Hamba tidak tahu,” sahut Siau Po

“Kapan kau akan menemui dia lagi?” tanya ibu suri lagi.

“Hamba telah berjanji dengannya untuk bertemu kembali satu bulan kemudian,” sahut Siau Po. Dia sengaja menjawab seenaknya, karena otaknya sedang memikirkan jalan untuk meloloskan diri dari tangan ibu suri yang kejam sebab dia tahu dirinya tidak mungkin dibebaskan. “Tapi tempat pertemuannya bukan di Tiankio.”

“Lalu di mana kalian akan mengadakan pertemuan?” tanya Ibu suri.

“Dia akan memberitahu apabila waktunya sudah dekat,” sahut Siau Po. Dengan mengucapkan kata-kata ini, Siau Po berharap dia dapat menunda waktu kematiannya.

Thayhou menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu, baiknya kau berdiam saja di Cu ceng kiong sampai datang kabar darinya!” kata ibu suri. Kemudian dia menepuk tangannya dan muncullah seorang dayang yang usianya kurang lebih empat puluh lima tahun. Tubuhnya gemuk, tetapi langkah kakinya ringan sekali. Bentuk mukanya bundar dan manis pula. Dia tersenyum ramah. Begitu masuk, dia segera menjura kepada ibu suri.
Thayhou menunjuk kepada Siau Po sembari berkata.

“Thaykam cilik ini bernama Siau Kui cu. Dia bernyali besar dan suka main gila. Aku suka sekali kepadanya!”

“Iya,” sahut dayang itu. “Tampangnya memang cerdas sekali. Eh, saudara kecil, aku bernama Liu Yan, sebaiknya kau memanggil kakak saja kepadaku.”

‘Celaka! Kau adalah si babi gendut!’ makinya dalam hati, tapi dia segera tertawa dan berkata. “Baik, kakak Liu Yan. Nama kakak bagus sckali. Disebutnya enak dan tubuh kakak memang mirip sekali dengan batang Yang Liu, sedangkan jalanmu ringan seperti burung walet kecil!”

Yan artinya burung walet sesuai dengan nama dayang itu. Di depan ibu suri, tidak ada dayang lain yang berani bicara sedemikian rupa mengenai Liu Yan. Tidak demikian halnya dengan Siau Po, si thaykam baru di Cuceng kiong. Siau Po memang sengaja berkata demikian, sebab dia mengganggap biar bicara seperti apa pun, tidak akan merubah nasibnya dan membebaskan dirinya dari ancaman bahaya.

Liu Yan tertawa. “Ah, adik kecil, mulutmu sungguh manis sekali!” katanya.

“Selain mulutnya manis, kakinya juga gesit!” tukas Ibu suri. “Liu Yan, apakah kau mempunyai jalan agar dia tidak keluyuran kesana kemari dan mengelilingi seluruh keraton ini?”

“Thayhou, serahkan saja dia padaku,” sahut Liu Yan. “Biarlah hamba mendidiknya secara baik-baik!”

Ibu suri menggelengkan kepalanya.

“Kunyuk kecil ini licin sekali seperti belut,” katanya. “Aku telah menitahkan Sui Tong memanggilnya, tetapi dengan mulutnya yang manis dia justru membuat hantu bernyali kecil itu lari ketakutan. Ketika aku mengirimkan empat orang thaykam lagi, dia malah bersekongkol dengan para siwi untuk membinasakan mereka. Dan waktu aku mengirimkan empat orang yang lainnya lagi. Dia berhasil juga mencelakakan Tang Kim-kwe berempat!”

“Oh, oh, saudara kecil!” kata Liu Yan sambil mendecak kagum. “Kalau demikian, kau ini memang sukar diurus. Thayhou, menurut hambamu ini, tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh agar dia tidak belari kesana kemari kecuali mengutungkan sepasang kakinya Bukankah dengan demikian dia akan menjadi kalem dan tenang?”

Ibu suri menarik nafas panjang. “Tampaknya memang hanya ada satu jalan itu saja!” katanya.

Bukan main tercekat dan takutnya hati Siau Po. Dia langsung mencelat bangun dan lari ke pintu. Tapi baru kaki kirinya melewati pintu, dia merasa kepalanya nyeri sekali! Rupanya kuncirnya telah ditarik oleh seseorang sehingga kepalanya tersentak dan tubuhnya berjungkir balik ke belakang. Setelah itu dia juga merasa dadanya sakit sekali, sebab ada sebelah kaki yang menginjak dadanya itu. Dia melihat kaki itu besar dan gemuk serta mengenakan sepatu bersulam. Ternyata Liu Yan yang bergerak cepat meringkusnya.
“Perempuan bau! Lekas singkirkan kakimu yang bau itu!” damprat Siau Po saking putus asanya. Dia pun menjadi berani karenanya.

Liu Yan tidak menjawab. Dia malah menekan kakinya semakin keras sehingga Siau Po dapat mendengar suara retakan dan dia merasa nafasnya menjadi sesak.

“Ah, saudara kecil!” kata Liu Yan sambil tertawa. “Kakimu justru harum sekali sampai-sampai aku ingin mengutungkannya untuk mengendusnya sepuas hati!”

Siau Po berpikir keras. Thayhou sangat membencinya. Kemungkinan sepasang kakinya benar-benar akan dikutungkan dan dayangnya itu yang akan menggendongnya pergi mencari Sui Tong. Atau mungkin ibu suri akan mengirim orang yang kepandaiannya tinggi sekali dengan maksud membunuh Sui Tong apabila tiba di Ngo Tay san. Hal ini sekali-sekali tidak boleh terjadi. Dikolong langit ini orang bernama Sui Tong sudah tidak ada, dia sudah mati sehingga tidak mungkin bisa ditemukan lagi. Dengan demikian, rahasianya pasti akan terbongkar. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana menyelamatkan sepasang kakiku ini,’ pikirnya dalam hati. ‘Bagaimana sekarang? Aku tidak boleh menggertaknya, lebih baik menggunakan akal saja.’

Dengan membawa pikiran demikian dia segera berkata. “Thayhou, tidak ada gunanya mengutungkan sepasang kakiku ini. Taruh kata leherku yang dipatahkan sekalipun, paling-paling tubuhku terpotong menjadi dua bagian. Apa artinya? Sebaliknya, kitab Si Cap Ji cin-keng itu harus disayangkan, hm!”

Mendengar disebutnya nama kitab itu, Thayhou langsung melonjak bangun.

“Apa katamu?” tanyanya ingin menegaskan.

“Yang ku maksudkan adalah beberapa jilid kitab Si Cap ji cin-keng!” sahut Siau Po mengulangi. “Dan aku mengatakan bahwa kitab-kitab itu harus disayangkan….”

“Lepaskan dia!” Ibu suri segera memberi perintah kepada Liu Yan.

Si dayang segera mengangkat kakinya dari dada Siau Po. Dengan sigap tangan kanannya menjambret bagian belakang leher baju bocah itu kemudian menghempaskannya keras-keras ke samping.

Siau Po terpaksa berdiam diri diperlakukan demikian. Dia tidak sanggup membela diri. Dayang itu terlalu tangguh baginya. Dalam keadaan seperti ini, dia juga tidak berani memakinya dengan kata-kata ‘Perempuan bau!’ ucapan yang sudah di ujung lidah, terpaksa ditelannya kembali.

Terdengar thayhou bertanya kepadanya. “Dari siapa kau dengar tentang kitab Si Cap Ji cin-keng?”

“Karena kau akan mengutungkan kedua kakiku, aku tidak akan mengatakan apa pun!” sahut Siau Po yang mulai menjalankan siasatnya. “Biar kita sama-sama mengalami kerugian. Aku kehilangan sepasang kakiku dan kau tidak akan mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng itu!”

“Aku peringatkan kepadamu. Sebaiknya kau jawab pertanyaan thayhou dengan baik-baik!” ancam Liu Yan.

Tapi Siau Po tetap keras kepala. “Kalau aku jawab, aku akan mati, tidak kujawab, paling-paling mati juga. Karena itu, untuk apa aku menjawab pertanyaannya? Atau, kalian ingin menyiksaku sampai mengaku? Aku tidak takut!”

Liu Yan segera menyambar tangan Siau Po. Bibirnya menyunggingkan senyuman. “Saudara kecil,” katanya sembari tertawa. “Jari tanganmu indah sekali. Runcing dan panjang!”

“Walaupun demikian, paling-paling kau akan mematahkannya!” sahut Siau Po yang mengerti dirinya digertak. “Apa yang harus disayangkan?”

Belum lagi kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara gemerutuk yang membuatnya kesakitan. Tanpa dapat dipertahankan lagi Siau Po menjerit.

“Aduh!”

Ternyata Liu Yan benar-benar menjepit telunjuk Siau Po dan menekuknya keras-keras. Wajah dayang itu memang manis dan suaranya juga merdu sekali, tapi hatinya sangat keji, sedangkan jepitan tangannya tidak kalah dengan capitan besi.

Dalam keadaan demikian, Siau Po terpaksa membiarkan airmatanya mengalir. Jari telunjuknya terasa remuk oleh jepitan Liu Yan.

“Thayhou, cepat bunuhlah aku!” teriaknya dengan air mata tetap meleleh. “Masalah kitab itu, jangan harap aku mengatakannya! Kau akan kubunuh seperti kucing yang mengendus bau harum ikan, tetapi tidak dapat menikmatinya. Ya… Kau hanya bisa mencium baunya saja!”

“Kalau kau bicara yang sebenarnya tentang kitab itu, aku akan mengampuni jiwamu!” kata thayhou.

“Aku tidak membutuhkan pengampunanmu,” kata Siau Po. “Mengenai kitab itu, jangan harap aku akan bicara!” .

Ibu suri langsung mengernyitkan keningnya. Dia tahu bocah itu keras kepala dan berani. Mungkin akan sia-sia apabila dia menggunakan penyiksaan sebagai jalan keluarnya.

‘Dia menyebut Si Cap Ji cin-keng, mungkin dia tahu asal-usul kitab itu,’ pikir thayhou dalam Hatinya. ‘Cara apa yang harus kugunakan agar dia mau membuka mulut? Benar-benar sulit!’

Thayhou berdiam sekian lama. Akhirnya dia berkata dengan suara perlahan kepada Liu Yan. “Karena dia tetap tidak mau bicara, kau boleh cungkil kedua biji matanya!”

“Baik, thayhou,” sahut Liu Yan. “Pertama-tama aku akan mencungkil dulu sebuah biji matamu. Eh, adik kecil, bola matamu indah sekali. Warnanya hitam, bundar dan jernih pula. Setelah dicungkil keluar, aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan!”
Selesai berkata, jari jempol dan telunjuk kanannya segera menarik kelopak mata Siau Po. Tentu saja hal ini membuat Siau Po kesakitan. “Jangan korek mataku, nanti aku akan bicara!” teriaknya ketakutan.

Liu Yan menarik tangannya kembali. Dia tertawa. “Nah, ini baru sikap anak yang baik!” katanya. “Sekarang kau bicaralah baik-baik. Aku tahu ibu suri sangat menyayangimu!”
Siau Po tidak menjawab. Dia hanya mcngucek-ngucek matanya karena masih terasa nyeri. Kemudian dia menoleh kepada si dayang, kepalanya digeleng-gelengkan.

“Celaka! Celaka!” teriaknya berulang-ulang.

“Apanya yang celaka?” tanya Liu Yan. “Sudahlah. Jangan kau berpura-pura lagi. Thayhou ingin mengajukan pertanyaan kepadamu, mengerti? Nah, kau jawablah sccara baik-baik!”

“Kau telah melukai mataku!” kata Siau Po.

“Sekarang kalau aku melihat orang, tampangnya jadi lain. Wajahnya saja sekarang lain dari sebelumnya. Sekarang tubuhmu tetap seperti manusia, tetapi kepalamu besar seperti babi!”

Liu Yan tidak gusar, dia malah tertawa. “Bagus, kalau begitu akan kurusakkan juga matamu yang sebelah lagi,” katanya.

Siau Po mundur satu tindak. “Sudahlah, jangan!” katanya. “Lebih baik aku ucapkan terima kasih saja!”

Dasar Siau Po bandel dan ccrdas. Dalam keadaan seperti itu, dia masih berlagak konyol. Dia merapatkan mata kanannya, dengan mata kiri dia menatap ibu suri. Kemudian dia menggoyang-goyangkan kepalanya. Berbeda dengan Liu Yan, thayhou justru marah sekali. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

‘Setan cilik ini tadi melihat Liu Yan dengan sebelah matanya. Dia mengatakan tampangnya sudah berubah, bentuk kepalanya seperti seekor babi yang gemuk. Sekarang dia juga melihat padaku sedemikian rupa. Mulutnya tidak mengatakan apa-apa, tapi dalam hatinya entah apa yang diejekkannya kepadaku!’

Karena itu dengan nada dingin dia berkata. “Liu Yan, kau cungkil saja matanya, paling baik kedua-duanya. Dengan demikian dia tidak bisa melirik kesana kemari!” katanya.

“Jangan. Kalau tidak ada biji mata. Bagaimana aku bisa mencari kitab Si Cap Ji cin-keng….”

“Kau mempunyai kitab Si Cap ji cin keng?” tanya Ibu suri. “Dari mana kau mendapatkannya?”

“Sui Tong yang menyerahkannya kepadaku. Dia meminta aku menyimpannya baik-baik. Kalau bisa di tempat yang aman dan tersembunyi. Lalu dia berkata: ‘Adik kecil di dalam istana banyak orang jahat. Kau harus berhati-hati. Seandainya terjadi sesuatu pada dirimu, seandainya ada orang yang ingin mencungkil matamu. Biarkan saja. Matamu tidak bisa melihat lagi. Kau tidak bisa menemukan tempat di mana kau menyimpan kitab tersebut. Sedangkan orang yang mencelakaimu juga sama ruginya. Matanya bisa melihat tapi dia tidak akan menemukan tempat kau menyembunyikan kitab itu. Karena itu, perbuatannya yang ingin mencelakai orang lain sama saja mencelakakan diri sendiri!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: