Kumpulan Cerita Silat

08/06/2008

Duke of Mount Deer (34)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:00 pm

Duke of Mount Deer (34)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada hy_edl048 dan Pipit)

Belum lagi Kiam Seng dan Tay Hong menyahut, salah seorang di antara mereka sudah menyela.

“Aku yang rendah bersama murid dan keponakan muridku Lau It-Cou telah ditolong oleh Wi Hiocu, budinya yang luar biasa besarnya ibarat mega di langit. Aku juga pernah menyatakan pada Cian suhu, apabila perkumpulan tuan-tuan memerlukan bantuan, kami siap menjalankan tugas apa saja yang diperintahkan.”

Orang yang berbicara bukan lain dari Yau Tau Sayeu, Gouw Lip-sin yang jujur dan selalu bicara apa adanya.

Cong tocu dari Tian-te hwe tetap tidak mengerti. Karena itu dia segera menoleh kepada Cian Laopan dan bertanya.

“Saudara Cian, bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya?”

Orang she Cian segera menceritakan apa saja yang terjadi di kotaraja akhir-akhir ini. Sekeluarnya dari istana, dia langsung mengajak Gouw Lip-sin dan rekan-rekannya kembali ke tempat Bhok Kiam seng, di mana di tempat itu juga dia dijamu.

Pihak Bhok onghu telah menyatakan perasaan terima kasihnya terutama terhadap Wi hiocu. Setelah itu Liu Tay-hong dan yang lain meminta dia jadi pengantar ke tempat perkumpulan Tian-te hwe. Di luar dugaan, justru pada saat itu pula Tan Kin-lam, ketua pusat perkumpulan itu datang berkunjung. Karena itu Bhok Kiam-seng dan Liu Tayhong segera memohon bertemu dengan ketua umum itu. Dijelaskan bahwa Gouw Lip-sin bertiga ditolong oleh seorang thaykam cilik yang mengaku sebagai sahabatnya Wi hiocu dari perkumpulan tersebut. Dan si thaykam melakukan hal itu karena permintaan dari Wi hiocu tersebut.

Baru sekarang Tan Kin-lam mengerti duduk persoalannya dan dia menjadi senang sekali. Tentu saja thaykam yang dimaksudkan adalah muridnya sendiri dan hal ini tidak diketahui oleh pihak Bhok onghu.

“Bhok Siau ongya, Liu loyacu dan Gouw toako, kalian bertiga terlalu sungkan,” katanya sambil tertawa. “Pihak Bhok onghu dengan perkumpulan Tian-te hwe kami ibarat tangan dan kaki dari sesosok tubuh. Karenanya, kalau orang sendiri memerlukan bantuan, sudah seharusnya kami mengulurkan tangan. Janganlah Siau ongya menyebut-nyebut tentang budi pertolongan. Hiocu Wi Siau Po adalah muridku yang rendah, dia masih sangat muda dan belum mengerti apa-apa, tidak pantas menerima penghargaan Siau ongya yang demikian tinggi.”

Berkata sampai di sini, Tan Kin-lam berpikir. ‘Siau Po bekerja dalam istana untuk mencari tahu tentang rahasia pemerintah. Sekarang ia telah melakukan pekerjaan ini, pasti rahasianya akan diketahui oleh orang-orang dunia kangouw. Karena itu, kalau hal ini dirahasiakan pula kepada pihak Bhok onghu, tentu kelak akan timbul kesan yang buruk.’

Ketika tuan rumah masih berpikir, Gouw Lip sin berkata: “Kami ingin sekali bertemu dengan Wi hiocu agar kami dapat mengucapkan terima kasih secara langsung!”

Kin Lam tertawa. “Kita semua merupakan sahabat baik. Walaupun di balik semua ini ada terselip rahasia yang maha besar dan maha penting, tapi tidak dapat aku menyembunyikannya dari kalian. Gouw toako, thaykam dalam istana adalah muridku sendiri, Wi Siau-po…. Siau Po, lekas kau temui para Cianpwe ini!”

Tentu saja kata-katanya yang terakhir ditujukan kepada sang murid.

“Iya,” sahut Siau Po yang mendekam di balik dinding. Dia segera muncul kembali memberi hormat kepada Bhok Kiam-seng beserta rombongannya.

Kiam Seng, Liu Tay-hong dan Gouw Lip-sin langsung bangkit. Mereka merasa heran sekali. Ketika membalas hormat, mereka menatap Siau Po lekat-lekat. Hal ini benar-benar di luar dugaan mereka. Hiocu dari Tian-te hwe menyelundup ke dalam istana kerajaan Ceng dan bekerja sebagai thaykam. Malah usianya masih begitu muda. Bagaimana seorang bocah yang masih begitu kecil dapat menjalankan tugas yang demikian hebat dan dia pula yang menolong jiwa Gouw Lip-sin bertiga!

Siau Po tertawa manis ketika berhadapan dengan Gouw Lip-sin.

“Gouw loyacu, harap kau sudi memaafkan. Selama di istana, boanpwe sudah mendustai loyacu sekalian, boanpwe tidak menyebutkan nama boanpwe yang sebenarnya.”

Gouw Lip-sin mengerti.

“Hiocu berada di tempat yang berbahaya, sudah selayaknya hiocu harus bersikap hati-hati,” katanya. “Mula-mula aku juga sudah berkata kepada muridku Go Piu tentang kau yang masih begitu muda. Aku heran dengan kecerdasanmu, hatimu pun sangat mulia. Kami menganggap kau seorang yang luar biasa sekali. Kami penasaran mengapa dalam istana kerajaan Ceng ada seorang thaykam seperti dirimu. Siapa sangka kau justru hiocu dad Tian-te hwe. Namun sekarang aku tidak merasa heran lagi!”

Gouw Lip-sin mengacungkan jempolnya memuji Siau Po. Gouw Lip-sin adalah sute atau adik seperguruan Liu Tay-hong. Dalam dunia kangouw, namanya juga cukup tersohor. Karena itu pujiannya bukan pujian kosong.

Hati Tan Kin-lam senang bukan main melihat Siau Po, muridnya demikian dihargai. Tapi dia tidak menunjukkannya di luar. Di mulut dia hanya berkata: “Saudara Gouw, jangan terlalu memuji muridku yang bodoh ini, nanti dia jadi besar kepala!”

Liu Tay-hong pun tertawa. Dia mendongakkan kepalanya dan berkata. “Tan Cong tocu, kau seorang diri saja sudah sanggup merebut seluruh kedudukan dalam dunia kangouw. Ilmu silatmu lihay sekali. Namamu pun terkenal di mana-mana, rupanya itu masih belum seberapa. Setelah berhasil membangun Tian-te hwe dengan jumlah anggota yang besar, sekarang kau juga mempunyai murid yang usianya begini muda, namun keberanian dan kecerdikannya benar-benar luar biasa. Dia membawa kecemerlangan pada wajahmu!”

Kin Lam merangkapkan sepasang tangannya dan menjura kepada Liu Tay-hong. “Liu loyacu, pujianmu padaku juga terlalu tinggi,” sahutnya. “Nanti aku bisa jadi bangga tidak karuan!”

Tapi, Tan Cong tocu, aku si tua she Liu ini memang biasa berterus terang!” kata Liu Tay-hong. “Orang yang pantas dihormati seperti dirimu, aku rasa jumlahnya tidak banyak. Kau benar-benar membuatku kagum!” Cong tocu, apabila kita berhasil mengusir bangsa Tatcu dan Cu Ngo tayeu kita naik di atas tahta kerajaan, kaulah orang yang paling cocok menjadi perdana menterinya!”

Kin Lam tersenyum. “Aku yang rendah kurang bijaksana juga tidak mempunyai kepandaian apa-apa, mana berani aku menerima kedudukan yang begitu tinggi?” sahutnya.

Tepat pada saat itu Cian laopan ikut memberikan pendapatnya.

“Liu loyacu, kalau bangsa Tatcu sudah berhasil diusir dan Cu Sam taycu sudah naik tahta untuk membangun kembali kerajaan Beng kita yang maha besar. Untuk kedudukan Jenderal besar Peng Ma taygoanswe, kami pasti akan mengangkatmu!”

Liu Tay-hong membuka matanya lebar-lebar dan menatap Cian Laopan dengan tatapan tajam.

“A… pa yang kau katakan?” tanyanya. “Siapa itu Cu Sam tayeu?”

Laopan segera menjelaskan.

“Setelah Sri Baginda Liong Bu wafat dengan mengorbankan diri demi negara, yang tinggal hanya Cu Sam tayeu seorang. Beliau sekarang berada di Taiwan. Kalau kelak di kemudian hari kita berhasil merampas kembali negara ini, otomatis Cu Sam tayeulah yang bakal menjadi raja!”

Liu Tay-hong langsung berjingkrak bangun mendengar kata-katanya.

“Tian-te hwe sudah menolong adik seperguruanku beserta muridnya. Untuk ini kami mengucapkan terima kasih dan bersyukur. Tetapi, meskipun demikian, urusan raja kita nanti, tidak dapat kita biarkan begitu saja. Cian laote, orang yang akan menjadi junjungan kita nanti adalah Cu Ngo tayeu! Sri Baginda Eng Lok adalah raja yang sah, dialah turunan sejati dari kerajaan Beng yang Maha Agung! Seluruh dunia telah mengetahuinya. Karena itu janganlah kau sembarangan bicara!”

Tempo hari perselisihan yang terjadi antara kedua saudara Pek dan Ci Tian-coan juga disebabkan masalah yang sama. Memang ada dua putera mahkota keturunan kaisar dinasti Beng.
Pihak The-seng kong di Taiwan dan Tian-te hwe menjunjung Tong ong, sedangkan pihak Bhok onghu memihak pada Kui ong. Memang negara sudah dirampas oleh kerajaan Ceng. Seharusnya kedua belah pihak bersatu untuk merebut kembali tanah Tionggoan, tapi perselisihan sudah berlangsung sekian lama dan masih belum bisa diselesaikan juga.

Tan Kin-lam gagah dan pintar. Dia memaklumi keadaan yang terbentang di depannya dan dia juga dapat mengendalikan dirinya. Sekarang saatnya mereka harus bersatu, perselisihan harus dikesampingkan dahulu. Biarlah sang waktu yang akan memastikan apakah Tong ong atau Kui ong yang akan menjadi raja kelak, karena itu dia segera tertawa lebar dan berkata.

“Liu loyacu, harap jangan marah dulu. Soal siapa keturunan yang sah dari Kerajaan Beng tentu memerlukan waktu dan sekarang belum tiba saatnya untuk membicarakan. Di detik ini, marilah kita duduk bersantap! Mana pelayan? Lekas sajikan barang hidangan! Kami hendak berpesta, minum sepuasnya! Asal kita dapat bersatu hati dan bekerja sama untuk mengusir bangsa penjajah, kelak kemudian semuanya bisa dirundingkan!”

“Tan Cong tocu, aku merasa kata-kata Cong tocu itu keliru sekali.” Bhok Kiam-seng ikut bicara. “Kalau nama kurang tepat, maka kata-kata pun tidak lurus, dan kalau kata-kata tidak lurus, usaha tidak akan berhasil. Kami menunjang Cu Ngo taycu, tidak sedikit pun kami mengharapkan pangkat atau bagian. Apabila Cong tocu sudah mengetahui bahwa ini adalah kehendak Thian yang Maha kuasa dan bersedia demi Cu Ngo taycu, maka kami dari keluarga Bhok, baik atasan maupun bawahan bersedia menjadi pesuruh bagi Tan Cong tocu, tugas apa pun tidak akan kami tolak!”

Tan Kin-lam tersenyum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. “Di langit tidak ada dua matahari, di dunia pun tidak ada dua raja yang memimpin,” katanya. “Bukankah Cu Sam taycu masih sehat wal’afiat dan jumlah penduduknya terdiri dari laksaan jiwa dan siap menunjangnya apabila waktunya telah tiba nanti?”

Dalam urusan ini, Liu Tay-hong paling keras kepala. Dia tetap berkeras dengan pendiriannya.
“Tan Cong tocu menyebut-nyebut jumlah tentara yang ada laksaan jiwa, apakah dengan demikian Tan Cong tocu ingin mengatakan bahwa pihak kalian akan meraih kemenangan dengan mengandalkan orang banyak? Apakah dengan demikian Tang Cong tocu bermaksud menghina kami? Satu hal yang perlu kau ketahui, rakyat di seluruh negeri yang jumlahnya lebih dari ribuan laksa jiwa semua mengetahui perihal Sri Baginda Eng Lok yang telah mengorbankan jiwa di Birma, sedangkan beliaulah raja terakhir dinasti Beng! Karena itu, kalau kita tidak memilih anak cucunya yang memegang tampuk pemerintahan kelak, mana mungkin rakyat akan menghormatinya? Bukankah dengan demikian kalian juga seharusnya merasa iba terhadap raja kita yang wafat secara kecewa?”

Mengucapkan kata-katanya yang terakhir, suara Tay Hong jadi tidak jelas. Dia merasa terharu sekali.

Sebetulnya kedatangan Tan Kin-lam di kotaraja ini justru karena mendengar perselisihan antara Tian-te hwe dan pihak Bhok onghu yang menunjang junjungan masing-masing, Bahkan hal ini telah mengakibatkan kematian Pek Han-siong. Dia bergegas datang untuk meredakan pertikaian agar urusan ini dapat didamaikan. Dia berharap dengan kesabaran dapat membujuk pihak Bhok onghu. Dia juga merasa gembira mengetahui Siau Po telah menolong Gouw Lip-sin bertiga sehingga karenanya Bhok Kiam-seng dan yang lainnya sengaja datang untuk belajar kenal dan mengucapkan terima kasih. Dia tidak menyangka sekarang bisa timbul lagi persengketaan yang sama, bahkan seperti api yang disiram minyak.

“Tentang Sri Baginda Eng Lok yang wafat di Birma, semua orang memang sudah mengetahuinya,” kata Tan Kin-lam kemudian. Nadanya sabar sekali dan dia juga terharu melihat Liu Tay-hong sampai menangis karena teringat pengorbanan rajanya itu. “Kejadian itu membuat seluruh rakyat murka. Hal ini dapat dimengerti. Namun Bhok Siau ongya dan Liu loyacu, semasa sakit hati kita belum terbalaskan, mana boleh kita bertikai? Sekarang merupakan waktunya kita semua harus kompak dalam bekerja sama untuk membinasakan dan memusnahkan musuh kita, terutama Go Sam-kui yang telah berkhianat. Hal ini juga demi membalaskan kematian Sri Baginda Eng Lok. Demi semua ini, kita tidak boleh tercerai berai! Kita juga harus membalaskan sakit hati Bhok Lo ongya!” Yang dimaksud dengan Bhok Lo ongya adalah ayah Bhok Kiam-seng.

Mendengar ucapan terakhir Tan Kin-lam, Bhok Kiam-seng dan Liu Tay-hong langsung melonjak bangun.

“Benar! Benar!” teriak mereka serentak. “Tepat sekali!”

Malah beberapa di antara mereka ada yang mengucurkan air mata dan tubuhnya gemetar.

“Lebih baik sekarang kita jangan masalahkan siapa yang akan menjadi raja kelak,” kata Tan Kin-lam kembali. “Bhok ongya, Liu loyacu dan seluruh rakyat di negeri ini, tidak ada satu pun yang tidak merasa benci kepada Go Sam-kui. Baiklah kita mengambil keputusan, siapa saja yang berhasil membunuh Go Sam-kui, maka pihaknyalah yang akan kita angkat menjadi raja!”

“Benar!” sambut Bhok Kiam-seng. Dialah yang paling keras keinginannya untuk membunuh Go Sam-kui. Musuh besar pembunuh ayahnya. “Benar. Siapa yang dapat membinasakan Go Sam-kui, dialah yang kita junjung!”

“Bhok ongya,” kata Tan Kin-lam, kali ini khusus ditujukan kepada pangeran muda dari Inlam itu.

“Sekarang marilah kita buat perjanjian. Janji antara perkumpulan Tian-te hwe kami dengan pihak Bhok onghu kalian. Kalau pihak Bhok onghu yang berhasil membunuh Go Sam-kui, maka seluruh anggota Tian-te hwe bersedia menerima segala titah Bhok onghu!”

“Kalau pihak Tian-te hwe yang berhasil membunuh Go Sam-kui,” sahut Bhok Kiam-seng cepat. Maka seluruh anggota keluarga Bhong ongha, mulai dari Bhok kiam-seng semua akan tunduk kepada perintahnya Tan Cong tocu dari Tian-te hwe!”

Sebagai penutup dari janji itu, kedua pihak mengulurkan tangannya dan saling tepuk sebanyak tiga kali. Tapi baru saja mereka saling menepuk satu kali, tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring dari wuwungan rumah yang tinggi kemudian disusul dengan seseorang yang berkata.

“Bagaimana kalau aku yang berhasil membunuh Go Sam-kui?”

Mendengar suara tawa dan pertanyaan itu, beberapa orang langsung menegur.

“Siapa itu?”

Yang menegur adalah beberapa mata-mata Tian-te hwe yang bersembunyi di atas genteng.
Setelah itu terdengar pula suara nyaring lainnya disusul dengan melompat turunnya sesosok bayangan yang terus berkelebat dan masuk lewat jendela tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Hal ini membuktikan bahwa orang yang datang menguasai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup tinggi.

Hong Ci-tiong dan Ci Tian-coan berada di sebelah timur, sedangkan Liu Tay-hong dan Gouw Lip-sin berada di sebelah barat. Serempak mereka menghambur menyerang ke arah sosok bayangan tadi. Tetapi rupanya orang itu gesit sekali, dia melompat tinggi dan mencelat melewati keempat orang yang sedang menyerang ke arahnya dan tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan Tan Kin-lam dan Bhok Siau ongya.

Keempat penyerangnya terdiri dari jago-jago kelas satu di dunia kangouw pada saat itu. Tetapi mereka tidak sanggup berbuat apa-apa, Hal ini membuktikan betapa hebatnya tamu yang tidak diundang itu. Dalam waktu yang lain, mereka segera membalikkan tubuh dan menyerang kembali. Ci Tiong mencekal bahu kanan orang itu, Tian Coan mencekal iga kanan, Liu Tay-hong mencekal bahu kiri dan Lip Sin memeluk pinggang orang itu dengan kedua tangannya.

Diperlakukan sedemikian rupa, orang itu tidak mengadakan perlawanan sama sekali. Sembari tertawa dia bertanya. “Beginikah caranya sahabat-sahabat Tian-te hwe memperlakukan tamunya?”

Sekarang ini semua orang dapat melihat tegas tampang tamu yang tenang dan periang itu. Dia adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga atau empat tahun. dia memakai jubah hijau yang panjang, tubuhnya tinggi kurus, romannya seperti seorang sastrawan.
Tan Kin-lam segera merangkapkan sepasang tangannya untuk menjura.

“Ciok Hi (panggilan seperti tuan, tapi dengan maksud merendahkan diri) siapakah she dan namamu yang mulia?” tanyanya. “Apakah kau sahahat dari pihak kami?”

Sastrawan itu tertawa. “Kalau bukan sahabat, tentu aku tidak akan datang kemari!”

Ucapan itu disusul dengan tubuhnya yang menciut seperti segumpal daging sehingga cekalan keempat penyerangnya jadi terlepas. Hong Ci-tiong benar-benar keheranan dibuatnya. Setelah itu, tamu yang tidak diundang tersebut tertawa lagi. Tapi saat ini tubuhnya mencelat lagi ke atas dan berubah menjadi bayangan yang berkelebat seperti sebelumnya.

Sekarang Tan Kin-lam sendiri yang turun tangan. Sembari tertawa panjang, ketua pusat Tian-te hwe bergerak bangun sekaligus meluncurkan tangan kanannya. Apabila tamu tak diundang itu berhasil melepaskan diri dari serangan Ci Tiong, maka kali ini dia tidak dapat mengelakkan cekalan Tan Kin-lam pada kakinya. Dia merasa kakinya tercengkeram kuat seperti dililit oleh rantai besi. Tapi dia tidak takut, dia malah tertawa panjang sambil mengirimkan sebuah tendangan ke arah orang yang mencekal kakinya itu. Hebat sekali tendangan itu, arahnya pun ke muka orang!

Tapi Tan Kin-lam bisa menyelamatkan dirinya. Tangan kirinya dengan gerakan cepat menyambar sebuah meja kecil yang kemudian digunakan untuk menangkis. Brakkkk! Rusaklah meja kecil itu yang mana kemudian menjadi potongan-potongan kecil.

Setelah itu, tangan kanan ketua pusat Tian-te hwe itu, yang tetap memegang kaki orang, digerakkan ke kanan kemudian dihentakkan ke belakang sehingga orang itu menjadi limbung lalu terbanting di atas lantai.

Tapi, ilmu orang itu ternyata lihay sekali. Tidak menunggu sampai tubuhnya menyentuh tanah, tiba-tiba dia mencelat bangun dan terus melesat dengan kecepatan seperti terbang untuk melayang terus ke belakang dan akhirnya berdiri tegak dengan punggung menyandar pada tembok.
Untuk sesaat, Hong Ci-tiong dan tiga orang lainnya langsung tertegun. Tangan mereka masing-masing menggenggam secarik kecil dari pakaian tamu tak diundang itu!

Menyaksikan kejadian itu, para hadirin yang lain segera bersorak memuji, bahkan Liu Tay-hong pun tidak mau ketinggalan. Gouw Lip-sin berdiri dengan perasaan jengah sekaligus kagum.

Kin Lam tertawa dan berkata. “Tuan, kalau kau menganggap dirimu seorang sahabat, mengapa kau tidak duduk dan minum teh bersama?”

Pemuda itu merangkapkan sepasang tangannya dan menjura dalam-dalam.

“Kebetulan aku memang ingin sekali minum teh!” katanya sambil berjalan menghampiri. Dia memberi hormat sekali lagi kepada para hadirin kemudian duduk di kursi paling bawah.

Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu masih memperhatikannya lekat-lekat. Apabila mereka tidak menyaksikan kepandaian pemuda itu dengan mata kepala sendiri, sudah pasti mereka akan menduganya sebagai seorang pelajar yang lemah.

Kin Lam tertawa. “Harap Tuan jangan terlalu merendah.” katanya. “Jangan bersikap sungkan. Silahkan duduk di kursi utama!”

Sastrawan itu mengibaskan tangannya. “Cayhe (aku yang rendah) tidak berani.” sahutnya. “Dapat duduk bersama para orang-orang gagah dari dunia kangouw saja, sudah merupakan sebuah kebanggaan bagiku. Untuk apa aku duduk di atas? Tan Cong tocu, barusan Cong tocu menanyakan nama dan sheku dan aku belum menjawabnya, maafkan kelakuanku yang kurang sapan. aku yang rendah she Lie sedangkan namaku Si Hoa.”

Baik Tan Kin-lam ataupun Liu ‘Fay-hong belum pernah mendengar nama itu, Apalagi hadirin yang usianya lebih muda. Karena itu, mereka menyangka jangan-jangan yang dikatakannya nama palsu.

“Maaf. aku merasa malu. Pendengaranku berkurang sekali sehingga aku belum pernah mendengar she dan nama tuan yang mulia!”

Anak muda itu tertawa. “Orang bilang, ketua pusat Tian-te hwe pandai bergaul dan memperlakukan siapa pun dengan baik, ternyata berita itu bukan cerita bohong. Misalnya setelah mendengar namaku barusan, Cong tocu memberikan pujian setinggi langit, pasti aku akan memandang rendah dirimu meskipun aku tidak akan mengatakannya secara terus terang. Aku adalah orang yang baru menginjakkan kaki keluar gubuk, aku sendiri tidak menghargai diri ini, bagaimana aku dapat mengharapkannya dari orang lain?”

Selesai berkata, dia pun tertawa terbahak-bahak. Kin Lam tersenyum.

“Saudara Lie, pertemuan ini membuat hatiku senang sekali,” katanya. “Kau tahu, pertemuan ini juga bisa membuat namamu terangkat ke atas, karena itu, nanti kau bisa buktikan sendiri, setiap bertemu dengan orang, mereka akan menyatakan kekagumannya !”

Memang benar apa yang dikatakan Tan Kin lam. Sebab sudah pasti orang-orang dari Bhok onghu dan anggota Tian-te hwe akan memujinya. Orang yang tergolong jago kelas satu sebanyak empat orang saja tidak dapat menandinginya, jangan kata meringkusnya. Sedangkan Tan Kin-lam hanya sanggup mencekal kakinya.

Si Hoa mengibaskan tangannya. “Tidak, tidak mungkin,” sahutnya. “Ilmu yang kugunakan tadi hanya tipuan belaka, bahkan mengandung sedikit gerak sembarangan. Barusan Liu loyacu mencekal bahuku dengan menggunakan jurus ‘Dalam mega memperlihatkan kuku’, hampir saja lenganku patah. Sedangkan sahabat yang berewokan itu telah merangkul pinggangku dengan hebat sekali. Bukankah dia memainkan jurus tipuan ‘menerkam kelinci’? dia membuat aku tidak bisa tertawa maupun menangis. Dan kakek yang berkumis dan berjanggut putih ini meraba tulang igaku dengan ilmu ‘Kera putih memetik buah To’, tulang igaku hampir seperti buah itu. Cekalannya demikian keras seakan tidak akan dilepaskan lagi. Dan terakhir, sahabat yang satunya… aih! Bukankah jurus yang digunakannya dipetik dari ilmu ‘Setan Cilik Seng Hong’?”
Hong Ci-tiong adalah orang yang terakhir yang dimaksudkannya. Dia segera menganggukkan kepalanya. Dia tidak membantah, meskipun sebenarnya ilmu yang digunakannya bernama ‘Setan cilik menarik malaikat kota’.

“Saudara Lie, ilmu silatmu hebat sekali!” puji Liu Tay-hong. Hal ini karena orang itu dapat meloloskan diri walaupun diserang sedemikian rupa.

“Matamu juga sangat tajam!”

“Liu loyacu berlebihan memujiku!” kata Si Hoa sembari menggoyangkan tangannya berkali-kali.

“Serangan yang dilancarkan loyacu berempat tadi sebenarnya bisa mencabut nyawa orang, tetapi kalian tidak bersungguh-sungguh sehingga aku yang rendah tidak terluka sama sekali. Terima kasih atas rasa kasihan Cianpwe berempat!”

Hong Ci-tiong senang mendengar kata-kata orang itu. Memang serangan yang dilancarkan mereka berempat tadi lihay sekali, namun keterangan orang she Lie itu juga tidak salah. Mereka tidak melakukan penyerangan secara serius.

“Saudara Lie,” kata Tan Kin-lam kemudian. “Dapatkah saudara mengatakan tujuan kunjungan saudara yang sebenarnya, bagi kami hal ini benar-benar merupakan suatu kehormatan besar?”

“Dalam hal ini, sebelumnya aku mohon pengampunan,” sahut Lie Si-hoa. “Sudah lama aku yang rendah mengagumi Tan Cong tocu, karena itu, ketika aku mendapat berita tentang kedatangan Tan Cong tocu ini, aku ingin mewujudkan keinginanku untuk bertemu. Sayangnya aku tidak mempunyai teman yang dapat dijadikan perantara. Itulah sebabnya aku yang rendah berbuat lancang dengan menjadi tamu yang tak diundang. Bahkan untuk beberapa saat aku sempat bersembunyi di atas wuwungan mencuri dengar pembicaraan Cong tocu sekalian. Aku juga benci sekali terhadap Go Sam-kui, menyesal sekali aku tidak mendapat kesempatan untuk mencincang tubuhnya sampai hancur. Cong tocu sekalian, sekali lagi harap kalian maafkan kelancanganku ini!” Lie Si-hoa bangun dan menjura ke sekelilingnya.
Para hadirin juga segera berdiri dan membalas penghormatan itu.

“Tuan,” kata Bhok Kiam-seng. “Karena tuan juga sangat membenci Go Sam-kui, berarti kita bertujuan sama. Kita adalah orang-orang segolongan. Sudah selayaknya apabaila kita bekerja sama dalam hal ini. Entah tuan mempunyai niat seperti ini atau tidak?”

“Tentu saja ada!” sahut Si Hoa cepat. “Tadi ketika Tan Cong tocu sedang membuat perjanjian dengan Siau ongya, aku telah mengganggu. Dan aku merasa menyesal sekali. Bagaimana kalau perjanjian yang tertunda itu dilanjutkan kembali, setelah itu kita rundingkan kembali perjanjian denganku?”

Liu Tay-hong memperhatikan orang itu lekat-lekat.

“Apakah tuan bermaksud mengatakan, apabila tuan yang berhasil membunuh Go Sam-kui. maka kami orang-orang dari Bhok onghu dan Tian-te hwe harus menurut perintahmu?” tanyanya.

“Bukan! Aku tidak sanggup menerima hal itu,” sahut Si Hoa. “Aku masih muda, sudah cukup bagiku apabila dapat mengikuti kalian seterusnya.!”

Tay Hong menganggukkan kepalanya, tapi dia masih ingin mendapatkan kepastian.

“Baiklah,” katanya. “Sekarang aku mohon penjelasan, dalam pandangan tuan, di antara dua maharaja Liong Bu dan Eng Liok, manakah yang merupakan turunan langsung dari dinasti Beng?”

Liu Tay-hong ikut bersama kaisar Liong Bu dan Bhok Tian-po berperang ke barat daya, dari propinsi Inlam memasuki wilayah Birma, setelah menderita dan sengsara sekian lama, akhirnya kaisar Liong Bu terbunuh juga di tangan Go Sam-kui. Itulah sebabnya dia bersumpah, biar bagaimana pun juga, dia akan mengangkat keturunan junjungannya menjadi kaisar. Tan Kin-lam insyaf akan masalah yang pelik ini. Dia ingin menghindarkan perselisihan yang terjadi. Tetapi jago tua she Liu itu tetap kukuh pada cita-citanya sehingga mengajukan pertanyaan itu kepada Lie Si-hoa.

Mendengar pertanyaan orang tua itu, Lie Si hoa segera berkata.

“Aku yang rendah mungkin mengucapkan kata yang tidak enak didengar, tapi, meskipun demikian, aku minta tuan-tuan untuk memakluminya!”

Tay Hong tetap tidak sabaran, wajahnya langsung menjadi merah. “Apakah tuan ini bekas bawahannya Lau Ong?” tanyanya.

Setelah wafatnya kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, di berbagai tempat bangkit pangeran-pangeran yang ingin mengangkat diri masing-masing menjadi raja. Mereka adalah Lau ong, Kui ong, dan Tong ong.

Begitu kata-katanya terucapkan, Liu Tay-hong segera menyadari kekeliruannya. Lie Si-hoa masih terlalu muda. Tidak mungkin dia itu bekas bawahannya Lau ong. Karena itu, sebelum si anak muda menjawab, dia segera membetulkan pertanyaannya tadi.

“Apakah leluhur tuan pernah menjadi bawahannya Lau ong?”

Lie Si-hoa tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata.

“Lebih baik kita tunggu sampai bangsa Tatcu berhasil diusir dari negeri kita ini. Pada saat itu, baik anak cucu Cong Ceng, Tong ong, Kui ong, semuanya berhak menjadi raja. Pada hakekatnya, setiap orang bangsa Han, siapa yang tidak boleh menjadi raja? Umpamanya Bhok Siau ongya dan Liu loyacu dan The ongya dari Taiwan, serta Tan Cong tocu sendiri, mereka juga boleh menjadi raja. Ingatkah kalian ketika dahulu leluhur kerajaan Beng mengusir bangsa Mongolia, bukankah beliau juga tidak memilih keturunan kerajaan Song atau keluarga Tio untuk diangkat menjadi kaisar? Bukankah Sri Baginda Beng thayeou Cu Goan-ciang mengangkat dirinya sendiri menjadi raja? Dan rata-rata rakyat menyambutnya dengan gembira!”

Ucapan seperti ini belum pernah didengar oleh para hadirin. Semua orang menjadi heran serta terkejut. Meskipun demikian, tidak ada orang yang berani membuka mulut menentangnya, karena kata-kata itu mempunyai dasar yang kuat. Hanya Liu Tay-hong seorang yang masih kukuh dengan pendiriannya. Dia menggebrak meja dan berkata dengan keras.

“Ucapanmu barusan merupakan rangkaian kata-kata yang bernada memberontak, bahkan durhaka. Bukankah kita semua rakyatnya kerajaan Beng yang maha besar? Bukankah kita merupakan anak cucunya menteri-menteri dinasti itu? Bukankah sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk membangun kembali kerajaan Beng? Mengapa sekarang kita harus memikirkan hal yang justru bertentangan?”

Si Hoa tidak menjadi gusar meskipun dibentak oleh Liu Tay-hong. Malah bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Liu loyacu,” katanya dengan nada sabar. “Ada satu hal yang boanpwe tidak mengerti dan mohon penjelasan. Itulah soal yang sedang kita perbincangkan sekarang. Pada akhir kerajaan Song, bangsa Mongolia terus menerus menyerang negara bangsa Han kita, setelah banyak waktu barulah kaisar Hong Bu dari dinasti Beng kita bangkit di Hongyang dan mengusir bangsa asing itu. Setelah berhasil, seperti yang cayhe katakan tadi, mengapa Beng thayeou tidak mengangkat keturunan keluarga Tio dari kerajaan Song untuk menjadi raja, tapi malah mengangkat dirinya sendiri? Mengapa dia tidak tetap menggunakan nama kerajaan Song, tetapi menggunakan nama kerajaan Beng?”

“Hm!” seru Liu Tay-hong. “Ketika itu keturunan keluarga Tio sudah habis, karenanya Beng thayeou yang telah bersusah payah lalu mengangkat dirinya sendiri. Kalau tidak, kepada siapa dia harus menyerahkan tampuk kerajaan? Tatkala itu, tidak ada satu pun keturunan keluarga Tio yang berjasa mengusir bangsa Mongolia. Taruh kata Beng thayeou sendiri bersedia mengalah dan mundur teratur, belum tentu rakyat dan tentara yang ikut berjuang mau mengerti!”

“Nah, ini merupakan suatu persoalan pula,” kata Lie Si-hoa yang tetap tenang. “Kelak di kemudian hari, masih belum diketahui apakah keturunan keluarga Cu yang berjasa atau tidak. Seandainya dia berjasa, sudah tentu rakyat akan mendukungnya. Dapat dipastikan tidak ada orang yang berani merebut kedudukan itu. Tapi kalau dia tidak berjasa sama sekali, meskipun dia berhasil naik tahta, belum tentu kedudukannya itu bisa kuat apalagi abadi. Liu loyacu, urusan merobohkan kerajaan Ceng adalah hal yang pelik sekali. Mungkin hal itu dapat dilakukan kapan waktu saja dengan cepat, namun mungkin juga harus memakan waktu yang cukup lama. Yang paling penting bagi kita sekarang ini adalah menumpas Go Sam-kui. Masalah pengangkatan raja dapat dirundingkan kembali secara perlahan-lahan!”

Tay Hong langsung membungkam mendengar alasan pemuda itu.

“Mengapa harus perlahan-lahan?” katanya kemudian.

“Aku justru menganggapnya sebagai hal yang paling penting dan merasa menyesal tidak dapat dilakukan sekarang juga!”

“Membinasakan Go Sam-kui adalah urusan yang harus diselesaikan secepatnya,” kata Si Hoa kembali. “Sekarang saja usianya sudah cukup tua. Kalau tidak selekasnya dibunuh, tentu dia akan mati dengan tenang disebabkan usia tua. Bukankah hal itu akan menjadi penyesalan bagi kita semua? Masalah mengangkat raja yang baru harus kita tunda dulu, setidaknya sampai bangsa Tatcu terusir dari negara kita yang tercinta ini. Dan masalah ini juga akan membawa kesulitan bagi kita semua!”

Kin Lam kagum sekali terhadap anak muda itu. Bicaranya jelas dan alasannya kuat.

“Saudara Lie benar sekali,” katanya ikut memberikan pendapat. “Sekarang aku mohon tanya, jalan bagaimanakah yang harus kita tempuh untuk membinasakan Go Sam-kui?”

“Maaf, Tan Cong tocu,” sahut Lie Si-hoa. “Aku yang rendah justru ingin mendengar pendapat dari para orang-orang gagah yang berkumpul di sini!”

“Bagaimana dengan Tan Cong tocu sendiri?” tanya Bhok Kiam-seng. “Apakah Tan Cong tocu sudah mempunyai akal yang baik?”

“Pengkhianat Go Sam-kui itu terlalu jahat dan banyak antek-anteknya, terlalu enak kalau hanya dia seorang yang dihukum mati,” kata Tan Kin-lam. “Dan kematiannya sendiri tidak cukup untuk menebus dosa-dosanya terhadap rakyat bangsa Han. Seharusnya namanya dirusak dan seluruh keluarganya, baik tua maupun yang muda, jangan ada satu pun yang dibiarkan lolos! Begitu pula seluruh antek-anteknya! Dengan, cara demikian, baru puas hati seluruh rakyat bangsa Han!”

“Bagus! Bagus!” seru Liu Tay-hong sambil menepuk meja. “Apa yang Tan Cong tocu katakan memang tepat sekali! Benar-benar meresap dalam hati yang tua ini. Nah, laote….” dia menambahkan sambil menyambar tangan Kin Lam. “Apa akalmu untuk membinasakan seluruh keluarga Peng Si-ong beserta antek-anteknya? Lekas katakan!”

Tan Kin-lam tersenyum. “Sebaiknya kita pikirkan caranya bersama-sama!” katanya. “Kalau hanya aku seorang diri, mana mungkin menemukan akal yang sempurna?”

“Ah!” seru Tay Hong tertahan. Dia melepaskan cekalan tangannya. Tampaknya dia agak kecewa mendengar jawaban Tan Kin-lam.

Kin Lam mengulurkan tangannya ke arah Bhok Kiam-seng. “Siau ongya, kita masih harus bertepuk tangan dua kali lagi!” katanya mengingatkan.

“Benar!” sahut pangeran dari Inlam itu. Dia juga mengulurkan tangannya dan mereka pun melanjutkan dua kali tepukan tangan yang tertunda tadi.

Si Hoa bangkit dengan sikap menghormat.

“Tan Cong tocu ingin membasmi Go Sam-kui, aku si orang she Lie bersedia menerima segala titahmu. Tan Cong tocu, seandainya aku yang rendah beruntung hisa membunuh pengkhianat itu, tidak ada hal lain yang kuharapkan, kecuali dapat mengangkat saudara denganmu dan diijinkan saling memanggil dengan kakak dan adik!”

Kin Lam tertawa.

“Lie hiante, kau terlalu memandang tinggi kepadaku!” katanya yang langsung memanggil ‘hi ante’ atau adik. “Baiklah! Ucapan seorang laki-laki sejati, sekali dikeluarkan, empat ekor kuda pun sukar mengejarnya!”

Siau Po menyaksikan gerak-gerik kedua orang itu, hatinya tertarik sekali. Semangatnya seperti terbangun. Dia menyesalkan dirinya yang masih terlalu kecil. Coba kalau usianya sedikit lebih tua dan ilmu silatnya setinggi Lie Si-hoa, tentu dia akan membawa sikap yang sama gagahnya.
Sementara itu, Kin Lam menitahkan agar barang hidangan lekas disajikan. Dia ingin menjamu para tamunya. Ketika pesta sedang berlangsung, Lie Si-hoa selalu berbicara dengan nada gembira. Ternyata pengetahuannya luas sekali. Tetapi sejauh itu, dia masih tidak menjelaskan asal-usulnya.

Di situ juga Hoan Kong dan Hian Ceng memperkenalkan orang-orang lainnya. Ketika berhadapan dengan Siau Po yang dikatakan merupakan salah seorang hiocu dari Tian-te hwe , Lie Si-hoa menjadi heran. Namun setelah dijelaskan bahwa bocah itu adalah muridnya Tan Kin-lam, sang ketua, dia berkata dalam hati: ‘Oh, rupanya demikian!’

Setelah mengeringkan beberapa cawan arak. Si Hoa yang pertama-tama mohon diri. Dia diantar oleh Tan Kin-lam sampai di depan pintu dan ketua Tian-te hwe itu berbisik kepadanya. “Lie hiante, tadi kakakmu ini belum tahu apakah kau merupakan kawan atau lawan kami, karena itu aku telah mencekal kakimu dengan sedikit tenaga. Tanpa disengaja aku telah keliru mengenalimu. Hiante, dua jam lagi kakimu akan terasa nyeri, berbahaya sekali kalau kau tidak tahu cara mengobati lukamu itu, atau kau gunakan cara lain dengan terpaksa. Hiante, kau harus menggali sebuah lubang yang dalam dan tingginya sesuai dengan bentuk tubuhmu, kemudian kau masuk ke dalamnya, lalu kau urug kembali dengan tanah sampai sebatas leher. Kau harus berdiam di dalam lubang itu selama empat jam dan tujuh hari berturut-turut. Dengan demikian lukamu akan sembuh dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi!”

Si Hoa terkejut setengah mati mendengar keterangan itu.

“Oh, jadi aku telah terkena pukulan ‘Geng-hiat sin jiau’ (Sambaran kuku pembeku darah)?” tanyanya.

“Jangan cemas. Tidak perlu takut, hiante,” kata Tan Kin-lam. “Kalau kau ikuti cara yang kukatakan tadi, niseaya kau tidak akan mengalami kejadian apa-apa. Sekali lagi kakakmu mohon agar kau tidak berkecil hati karena kesembronoanku tadi!”

Pertama-tama Lie Si-hoa memang terkejut, tapi akhirnya dia menjadi tenang kembali.

“Salahku sendiri…” sahutnya kemudian. “Hari ini mataku baru terbuka. Di atas langit masih ada langit, di antara para jago masih ada lagi yang lebih jago!” Sekali lagi dia merangkapkan sepasang tangannya menjura kemudian ia membalikkan tubuhnya berlalu dari tempat itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: