Kumpulan Cerita Silat

25/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 15

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:14 am

Pedang Tetesan Air Mata – 15
Kilatan Cahaya Pedang
Oleh Gu Long

Kota Tiang-an.

Siau-ko masih menanti dengan sabar di ruang tunggu.

Padahal The Seng telah berkata demikian kepadanya: “Untuk sementara waktu, Cho sianseng masih belum dapat bertemu dengan kau, tapi dia bilang kau boleh berada di sini.”

“Aku dapat menunggu dengan sabar,” Siau-ko tersenyum, senyumannya ramah dan tenang, “akupun berani menjamin kepadamu, kau pasti belum pernah bertemu dengan seorang manusia yang bisa menunggu terus seperti aku.”

“Oya?”

“Sebab aku lebih penyabar dibandingkan dengan siapapun, mungkin jauh lebih sabar daripada seorang kakek yang telah berusia delapan puluh tahun,” kata Siau-ko, “sejak kecil aku sudah tinggal di gunung yang terpencil. Suatu hari untuk menunggu mekarnya sekuntum bunga liar, coba tebak berapa hari aku mesti menunggu?”

“Kau telah menunggu selama berapa hari?”

“Aku telah menunggu selama tiga hari.”

“Kemudian kau petik bunga itu dan kau sisipkan di atas bajumu?”

“Tidak! Begitu bunga tadi mekar, akupun beranjak pergi.”

“Jadi kau menunggu selama tiga hari hanya dikarenakan ingin melihat bagaimanakah keadaan di saat bunga itu akan mekar?”

The Seng sendiripun termasuk seseorang yang amat sabar, lagi pula tampaknya dia dapat memahami maksud hati Siau-ko.

“terlepas apapun yang sedang kau nantikan, biasanya tak mungkin tanpa sesuatu tujuan, bukan?” ia berkata kepada Siau-ko, “sekalipun kau tidak memetik bunga itu, tapi tujuanmu pasti telah tercapai, lagi pula tujuanmu sudah pasti bukan cuma untuk melihat mekarnya sekuntum bunga liar belaka?”

“Menurut pendapatmu, aku mempunyai tujuan apa?”

“Sekuntum bunga ibaratnya sebuah kehidupan, di saat bunga itu sedang mekar, berarti suatu kehidupan baru pun mulai lahir,” The Seng berkata, “di saat-saat lahirnya suatu kehidupan baru di alam semesta ini, seringkali dapat timbul berbagai perubahan yang luar biasa, yang tak mungkin bisa dibandingkan dengan kejadian apapun di dunia ini.”

Ia menatap Siau-ko lekat-lekat, kemudian menambahkan: “Oleh sebab itu aku berpendapat, tiga hari yang kau buang itu tidak terbuang dengan begitu saja, melalui pengamatan kali itu, ilmu pedangmu semakin bertambah pesat kemajuannya.”

Siau-ko memandang ke arahnya dengan kaget, ia tak mengira pemuda berwajah segi empat yang sederhana ini ternyata jauh lebih pintar daripada potongan wajahnya.

“Apalagi kalau menunggu seseorang, sudah jelas tak mungkin tiada tujuan, tentu saja kaupun tak akan pergi dengan begitu saja setelah kemunculan Cho sianseng.” The Seng kembali berkata dengan hambar, “apakah tujuanmu kali ini?”

Tidak sampai Siau-ko buka suara, dia telah berkata lebih jauh: “Pertanyaan inipun tak perlu kau jawab kepadaku, aku sendiri juga tidak ingin tahu.”

“Pertanyaan inipun tak perlu kau jawab kepadaku, aku sendiri juga tidak ingin tahu.”

“Pertanyaan ini toh kau sendiri yang ajukan kepadaku. Mengapa pula tak perlu kujawab? Mengapa pula kau tak ingin tahu?”

“Sebab semakin sedikit persoalan yang diketahui seseorang, hal inipun semakin baik.”

“Kalau toh kau sendiripun tak ingin tahu, mengapa pula harus bertanya?”

“Aku tak lebih hanya ingin memperingatkan dirimu, aku saja dapat berkata demikian, Cho sianseng tentu dapat berpikir demikian pula.”

Setelah berhenti sejenak, dia meneruskan: “Bila menanti sampai Cho sianseng yang mengajukan pertanyaan ini kepadamu, paling baik kaupun mempunyai sebuah alasan yang sangat baik untuk menjawab pertanyaannya, lagi pula harus dapat membuatnya merasa puas, kalau tidak, lebih baik kau tak usah menunggu lebih jauh.”

Lalu dengan wajah serius dan bersungguh hati dia menambahkan: “Tidak banyak orang yang memberi jawaban kurang memuaskan bagi Cho sianseng bisa hidup hingga kini.”

Selesai mengucapkan perkataan tersebut, diapun beranjak pergi, dia seperti tak ingin menunggu bagaimanakah reaksi dari Siau-ko sesudah mendengar perkataan itu.

Tapi setibanya di depan pintu, ia toh berpaling juga sambil berkata: “Ada satu hal, hampir lupa memberitahukan kepadamu.”

“Soal apa?”

“Cho sianseng sempat berpesan kepadaku, apapun yang kau kehendaki, aku harus memenuhinya, entah apa saja yang kau kehendaki.”

“Ia benar-benar berkata begitu?”

“Ya, sungguh!”

Siau-ko tertawa, tertawa amat riang.

“Kalau begitu bagus sekali. Sungguh bagus sekali!”

—–

Sewaktu Cho Tang-lay memanggil The Seng agar menghadap, waktu sudah mendekati tengah hari.

The Seng sama sekali tidak menemukan sesuatu yang berbeda pada dirinya dengan keadaan di hari-hari biasa, seakan-akan peristiwa menakutkan dan memedihkan yang terjadi kemarin, sama sekali tiada hubungan atau sangkut pautnya dengan dia.

Apa saja yang telah dikerjakan Cho Kim untuk membalas dendam kepadanya? Soal itupun sama sekali tidak dinyatakan olehnya.

Dia hanya bertanya begini: “Apakah Ko Cian-hui masih menunggu?”

“Ya, dia masih menunggu,” jawab The Seng, “tapi barang yang dia inginkan justru tak sanggup kucarikan semua bagi dia.”

“Apa yang dikehendaki olehnya sehingga kaupun tak sanggup untuk mencarikan baginya?”

“Dia minta aku menyiapkan dua puluh meja sayur dan arak yang terbaik di dalam satu jam, bahkan meminta aku untuk menyiapkan hidangan tersebut atas hasil karya koki Tiang-an-kit dan Beng-oh-cun, di samping itu diapun minta aku mengundang semua nona yang paling top di kota ini dalam satu jam untuk menemaninya minum arak.”

“Berapa banyak yang dapat kau carikan baginya?”

“Aku hanya bisa menemukan tujuh puluh tiga orang, malah sebagian besar diantaranya kuseret keluar dari bawah tindihan lelaki lain…..”

Cho Tang-lay tertawa tergelak setelah mendengar perkataan itu.

“Dalam keadaan seperti ini, nona yang tidak berada dalam tindihan pria lain, tentu saja tak bisa dianggap nona yang top,” ia menerangkan, “cara kerjamu kali ini memang bagus sekali, kalau begitu suasana di tempat kita pagi tadi pasti ramai dan meriah sekali…..”

“Ya, ramai sekali, bahkan saudara-saudara dalam piau-kiok yang pandai minum arak pun sempat ditarik olehnya untuk menemani minum arak,” The Seng menerangkan, “dia memaksa setiap orang untuk baik-baik memeriahkan suasana ini baginya.”

“Memeriahkan? Memeriahkan apa?” tanya Cho Tang-lay, “persoalan apakah yang patut dia meriahkan pada hari ini?”

“Tidak ia terangkan,” kata The Seng, “tapi dulu aku pernah mendengar, ada banyak orang yang melakukan hal begini bila ia tahu dirinya sudah hampir mati.”

Cho Tang-lay termenung, mendadak kelopak matanya mulai berkerut kencang, lewat lama sekali baru ia berkata: “Sayang aku tahu, untuk sementara waktu ini, dia masih belum akan mati.”

—–

Arak telah habis, tamupun telah bubar.

Dalam halaman ruang depan dan serambi tinggal kutungan tusuk konde, tali ikat pinggang serta kotak-kotak gincu yang berserakan, selain itu masih ada pula barang-barang yang tak mungkin bisa dibayangkan orang lain, seakan-akan mereka hendak membuktikan kepada si tuan rumah, mereka benar-benar sudah mabuk.

Bagaimana dengan tuan rumah?

Tuan rumah tidak mabuk, bagaimana mungkin tamunya pada bubar dengan riang gembira?

Siau-ko tidak ubahnya seperti orang mati, dia berbaring di atas selembar pembaringan.

Tapi sewaktu Cho Tang-lay muncul di hadapannya, mendadak orang yang tergeletak seperti orang mati itu segera mendusin bahkan menghela napas panjang.

“Mengapa sih engkau selalu bersedia menampakkan diri bila semuanya sudah mulai berakhir? Apakah sepanjang hidup kau tak pernah senang melihat orang lain bergembira?”

Cho Tang-lay memandangnya dengan dingin, kemudian menjawab dengan hambar: “Aku memang benar-benar tak suka melihat orang mabuk kepayang…….hmmm…sungguh suatu adegan yang sangat tidak menarik hati…..”

Ditatapnya sepasang mata Siau-ko lekat-lekat, kemudian ia melanjutkan: “Untung sekali kau belum mabuk, orang lain yang mabuk hebat, bukan kau!”

Dari balik sorot mata Siau-ko memang sama sekali tidak diketemukan wajah seorang mabuk.

“Aku dapat melihat, kau masih tetap segar, pikiranmu tetap jernih, jauh lebih jernih daripada kelinci di bulan ketiga.”

Mendengar ucapan itu Siau-ko tertawa, tentu saja tertawa terbahak-bahak.

“Haaaahhhh…. haaahhhh…. haaaahhhh….. kau memang tidak salah melihat, sedikitpun tidak salah melihat,” kembali ia tertawa tergelak, “pada hakekatnya sepasang matamu itu memang lebih tajam daripada mata rase di bulan ke sembilan.”

“Kau menghendaki orang lain mabuk, mengapa kau sendiri sama sekali tidak mabuk?”

“Sebab aku tahu, cepat atau lambat, si rase pasti akan muncul, selama si rase ada kemungkinan menampakkan diri, sang kelinci tentu saja harus mempertahankan kejernihan otaknya.”

“Bila si rase sudah datang, biar sang kelinci dalam keadaan sadarpun tak ada gunanya.”

“Oya?”

“Bila tahu rase yang mau datang seharusnya si kelinci cepat-cepat menyelamatkan diri,” Cho Tang-lay tertawa, “kecuali kalau si kelinci tersebut pada hakekatnya memang tidak takut dengan si rase.”

“Aaaah….mana mungkin kelinci berani dengan rase?”

“Karena di belakang sang kelinci sudah bersiap-siap sebuah tombak, dan tombak itu sudah di arahkan persis ke ulu hati sang rase, setiap saat dapat ditusukkan ke dalam dadanya.”

“Tombak? Darimana datangnya tombak?” Siau-ko mengerdipkan matanya berulang kali.

Kembali Cho Tang-lay tertawa.

“Tentu saja datangnya dari dalam peti, sebuah peti yang telah hilang dan kini muncul kembali.”

Siau-ko tidak tertawa lagi, sepasang matanyapun tidak berkedip lagi, bahkan ia segera menampilkan perasaan yang sangat kagum, perasaan kagum yang benar-benar muncul dari lubuk hatinya.

“Kau sudah tahu?” ia bertanya kepada Cho Tang-lay, “darimana kau bisa tahu?”

“Kau kira aku telah mengetahui soal apa?”, ucap Cho Tang-lay, “aku tak lebih hanya tahu kalau di dunia ini terdapat semacam orang, bila ia sudah pernah menderita kerugian di tangan orang lain, maka dia pasti akan berusaha keras untuk menagih kembali kerugian tersebut sepuluh kali lipat, aku tak lebih hanya tahu kalau secara kebetulan Siau Lay-hiat termasuk manusia macam begini, lagi pula secara kebetulan aku berhasil menemukan kau.”

Sesudah tertawa, ia kembali menambahkan: “Apa yang kuketahui tak lebih hanya soal ini.”

Siau-ko kembali menatap wajahnya sampai setengah harian, kemudian menghela napas.

“Apa yang kau ketahui bukan cuma itu saja, kau sudah mengetahui terlalu banyak,” setelah menghela napas, terusnya: “tak heran kalau Siau Lay-hiat pernah memberitahukan kepadaku, bisa berbincang-bincang soal transaksi dengan Cho sianseng memang merupakan suatu kejadian yang sangat menggembirakan, sebab ada sementara persoalan yang pada hakekatnya tak usah kau terangkan, karena ia sudah mengetahui dengan sendirinya.”

Senyuman yang menghiasi wajah Cho Tang-lay pun seakan-akan ikut berubah menjadi senyum getir.

“Sayang sekali aku sendiri masih belum tahu sesungguhnya sudah berapa banyakkah yang telah kuketahui.”

“Tahukah kau bahwa kedatanganku kali ini adalah atas suruhan dari Siau Lay-hiat?” Siau-ko segera menjawab sendiri pertanyaan tersebut,” tentu saja kau sudah tahu, bahkan kau pasti sudah tahu pula bahwa persoalan yang ia suruh aku bicarakan denganmu bukan suatu persoalan yang enak dibicarakan?”

“Banyak ragamnya persoalan yang tak enak dibicarakan, lalu ragam manakah yang kau pilih untuk dibicarakan sekarang?” tanya Cho Tang-lay kemudian.

“Mungkin termasuk macam yang paling tidak baik,” kembali Siau-ko menghela napas, “bila aku tidak pernah berhutang budi kepadanya, aku benar-benar tak ingin datang kemari untuk membicarakan persoalan tersebut denganmu.”

“Kau keliru!”, ternyata Cho Tang-lay tersenyum lagi, “dalam hal ini kau sudah keliru besar.”

“Dalam hal mana?”

“Dalam suatu sudut pandangan tertentu, seringkali persoalan yang paling enak dibicarakan dapat berubah menjadi masalah yang paling tak enak dibicarakan, oleh sebab itu dalam suatu sudut pandangan tertentu, persoalan yang tak sedap dibicarakan akan menjadi masalah yang tak enak dibicarakan. Seringkali masalah di dunia ini memang berlangsung kebalikan.”

Kemudian Cho Tang-lay menjelaskan lebih jauh.

“Bila Siau-sianseng tak sudi mengirim orang untuk membicarakan masalah ini denganku, melainkan di tengah malam buta yang sepi, muncul mencari aku sambil membawa petinya, kejadian seperti inilah baru merupakan kejadian yang paling tak sedap.”

“Jadi terlepas persoalan apakah yang hendak ia bicarakan denganmu, kau tak akan merasa tak senang hati?”

“Ya, begitulah!”

“Kalau begitu bagus sekali.”

Namun mimik muka Siau-ko segera berubah menjadi sangat serius, hampir mendekati nada suara Cho Tang-lay, sepatah demi sepatah kata dia berkata: “Ia suruh aku datang kemari untuk meneruskan kedudukan Suma Cau-kun, memegang pucuk pimpinan dalam Toa Piau-kiok serta menjadi pemilik Toa Piau-kiok.”

Sesudah mendengar perkataan seperti ini, siapa saja tentu akan beranggapan Cho Tang-lay bakal melompat saking marahnya.

Tapi dalam kenyataan ia tidak beranjak, malah berkedip matapun tidak, ia Cuma bertanya kepada Siau-ko dengan hambar: “Betulkah hal ini merupakan keinginan Siau sianseng?”

“Benar!” Siau-ko mengangguk, kemudian ia berbalik bertanya kepada Cho Tang-lay, “bagaimana menurut pendapatmu?”

Tanpa berpikir ataupun mempertimbangkannya sama sekali, Cho Tang-lay segera menjawab dan jawabannya singkat lagi sederhana.

“Bagus sekali!”

“Bagus sekali?” Siau-ko malah merasa terkejut bercampur keheranan, “apa maksudmu dengan perkataan bagus sekali ini?”

Cho Tang-lay tersenyum dan memberi hormat kepada Siau-ko.

“Bagus sekali berarti saat ini kau telah menjadi pentolan nomor satu dari Toa Piau-kiok sejak sekarang, kau telah menempati bangku pertama dari Toa Piau-kiok.”

Siau-ko melongo kemudian termangu-mangu.

Sikap Cho Tang-lay terhadapnya juga mulai berubah menjadi munduk-munduk serta sangat menaruh hormat.

“Sejak hari ini tiga puluh enam aliran ho-han di bawah kekuasaan Toa Piau-kiok sudah berada dalam kekuasaanmu secara mutlak, bila ada yang tak mau tunduk di bawah kekuasaanmu, Cho Tang-lay yang pertama-tama akan membabatnya di ujung golokku.”

Dengan mempergunakan sorot matanya yang kelabu, ia menatap Siau-ko serta melanjutkan.

“Tapi mulai hari ini, kaupun terhitung sebagai anggota Toa Piau-kiok, seluruh Toa Piau-kiok tunduk di bawah perintahmu, tapi kau sendiripun harus setia dan berjuang demi Toa Piau-kiok menghadapi kesulitan, itulah kesulitanmu, bila Toa Piau-kiok punya musuh besar, diapun merupakan musuh besarmu juga.”

Akhirnya Siau-ko menghembuskan napas panjang.

“Aku bisa memahami maksudmu itu.” ia berkata.

Setelah tertawa getir, terusnya: “Sebetulnya aku masih belum mengerti kenapa secepat itu kau sanggupi permintaanku ini, tapi sekarang…… akhirnya aku bisa memahami maksudmu ini.”

“Pada dasarnya persoalan tersebut memang hanya begini, seperti juga sebilah pedang dengan dua mata pedang,” nada suara Cho Tang-lay serius tapi senang, “bila seseorang menghendaki suatu hasil, maka dia wajib untuk mengorbankan diri.”

Tiba-tiba saja suaranya kedengaran agak parau.

“Aku pikir, kau tentu sudah mengetahui bukan? Pengorbanan seperti apakah yang telah dilakukan Suma Cau-kun?”

“Bagaimana dengan kau sendiri?” tiba-tiba Siau-ko bertanya, “apa yang pernah kau korbankan?”

Cho Tang-lay tertawa.

“Apa yang pernah ku korbankan? Dan apa pula yang pernah kuperoleh….?” dibalik senyuman penuh terkandung nada duka nestapa. “mungkin persoalan ini tak bisa kujawab, sebab aku sendiripun tidak tahu.”

Perkataan ini memang tidak bohong, lagi pula benar-benar diutarakan dengan nada pedih, sehingga Siau-ko mulai menaruh sedikit perasaan simpatik kepadanya.

Untung saja Cho Tang-lay segera dapat memulihkan kembali sikapnya yang dingin dan tenang seperti batu karang. Bahkan segera mengajukan pula sebuah persoalan yang jauh lebih tajam daripada mata golok.

“Aku bersedia menyanjungmu sebagai pemilik dari Toa Piau-kiok, akupun bersedia berbakti dan berjuang untukmu. Aku percaya kita masing-masing sudah cukup memahami keadaan lawan, dengan berbuat demikian kitapun sama-sama memperoleh kebaikan.”

Tiba-tiba ia bertanya kepada Siau-ko.

“Tapi bagaimana dengan orang lain?”

“Orang lain?”

“Tiga puluh enam anggota Toa Piau-kiok rata-rata adalah manusia yang hebat dan tak gampang disinggung, bila kita mengharapkan mereka mau menyanjung dan menghormati dirimu sebagai cong-piau-pacu nya, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang mudah.”

Sekali lagi ia bertanya kepada Siau-ko.

“Apa yang siap kau lakukan?”

“Menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?”

“Pertama-tama kau harus berwibawa sebelum tumbuh percaya orang lain kepadamu, bila sudah berwibawa dan dipercaya, kau baru dapat memberi komando kepada segenap jago, orang lain baru akan tunduk kepadamu. Bila kau menghendaki jabatan tersebut, tentu saja pertama-tama harus memupuk soal kewibawaan lebih dulu.”

“Memupuk kewibawaan?” tanya Siau-ko, “bagaimana caranya memupuk kewibawaan?”

“Sekarang Suma Cau-kun dan aku sedang retak, dia sudah kabur entah kemana karena marah.”

“Aku tahu tentang soal ini.”

“Bukan hanya kau saja yang tahu, aku percaya masih banyak orang lain yang tahu juga tentang persoalan ini,” kata Cho Tang-lay, “sebelum menemui ajalnya Cho Kim tentu tak akan lupa untuk mengirim orang dan menyebar luaskan berita ini kemana-mana.”

“Asal ia bisa membalas dendam kepadamu, lagi pula dia bisa mengerjakannya, aku percaya tak satupun yang dapat dilupakan olehnya……”

Kemudian setelah berhenti sejenak, Siau-ko melanjutkan: “Akupun percaya yang sanggup ia lakukan pasti tak sedikit jumlahnya.”

“Benar! Memang tak sedikit jumlahnya.”

“Maka dari itu ketika kau dengar Siau-sianseng suruh aku datang menjabat kedudukan pemimpin perusahaan, kau sama sekali tidak bermaksud untuk menolak.” Siau-ko tertawa getir, “sebab kaupun sangat berharap aku bisa datang membantumu untuk menyelesaikan sisa-sisa permainan catur ini.”

Ternyata di dalam hal ini Cho Tang-lay tidak bermaksud untuk menyangkal.

“Keadaan situasi yang kita hadapi sekarang memang kurang stabil, aku percaya Siau-sianseng tentu memahami pula situasi demikian ini, itulah sebabnya dia minta kau datang kemari.”

“Siau sianseng memang amat memahami situasi dan kondisiku, agaknya diapun telah memperhitungkan secara tepat bahwa aku tak bakal menolak tawaran itu.”

Cho Tang-lay menatap Siau-ko lekat-lekat, lalu sepatah demi sepatah kata dia berkata: “Bila kau ingin memupuk wibawa dalam situasi dan kondisi seperti ini, tentu saja harus kau gunakan cara yang langsung menghasilkan manfaatnya.”

Siau-ko menatap pula ke arah lawannya lekat-lekat, lewat lama kemudian dia baru bertanya dengan sepatah demi sepatah kata: “Apakah kau minta aku membunuh Cu Bong untuk memupuk kewibawaanku?”

“Benar!”

“Inikah syarat yang kau ajukan?”

“Bukan syarat, melainkan suatu situasi yang dibutuhkan.” Cho Tang-lay berkata dingin, “keadaan situasi sudah begini dan kau memang tidak memiliki pilihan yang lain.”

Tiba-tiba Siau-ko bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke mulut jendela.

—–

Tumpukan salju di luar jendela belum melumer, tapi langit sangat cerah.

Seluruh permukaan tanah berwarna putih keperak-perakan, sedang langit berwarna biru segar.

Dikejauhan sana tiba-tiba muncul selapis awan putih yang melayang datang, tiba-tiba berhenti, kemudian tiba-tiba terbang kembali.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Cho Tang-lay menghela napas panjang.

“Aku cukup memahami kalian, baik engkau maupun Cu Bong, sama-sama termasuk orang persilatan yang lebih mementingkan soal janji daripada keselamatan jiwa, sebab soal mati atau hidup sesungguhnya hanya masalah sesentilan jari,” ia berkata dengan nada sungguh-sungguh, “itulah sebabnya pertemuan yang tak disengaja menghasilkan hubungan yang erat melebihi saudara sendiri.”

Dibalik helaan napasnya memang kedengaran sedikit keresahan dan rasa iba.

Didalam pandangan sementara manusia yang pada hakekatnya tidak mengetahui apakah makna yang sesungguhnya dari kata ‘sahabat’, mungkin kalian tak bisa dianggap sebagai sahabat sejati, tapi aku cukup memahami keadaan kalian.”

Setelah berhenti sebentar ia meneruskan: “Oleh sebab itu akupun dapat memahami bila kau disuruh membunuh Cu Bong, jelas hal ini merupakan pekerjaan yang amat memedihkan hatimu, bukan cuma kepedihan bagimu, juga bagi dirinya, dan kita semua akan sama-sama merasakan kepedihan tersebut.”

Siau-ko tidak menjawab, dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

“Oleh sebab itu akupun berharap kau bisa memahami pula suatu persoalan,” Cho Tang-lay berbicara lebih jauh, “sekalipun kau tidak membunuh Cu Bong, toh masih ada orang lain yang akan pergi membunuhnya. Biarpun dia tidak tewas di tanganmu, sama saja akhirnya dia akan tewas di tangan orang lain.”

“Mengapa?”

“Suma Cau-kun telah kehilangan pamor dan kedudukannya, keadaan mereka persis satu sama lainnya, maka batok kepala dari Cu Bong sekarang telah menjadi sasaran dari ke tiga puluh enam orang manusia gagah dari Toa Piau-kiok untuk menaikkan pamor serta martabat mereka di mata orang.”

Kemudian ia menjelaskan lebih jauh.

“Sebab Cu Bong juga seorang jagoan yang hebat, lagi pula terhitung musuh bebuyutan Toa Piau-kiok. Barang siapa dapat memenggal batok kepalanya, maka mereka akan menggunakan kesempatan tersebut untuk meninggikan pamor dan kedudukan sendiri, bila mungkin sekalian menggantikan kedudukan Suma Cau-kun.”

Setelah berhenti sejenak, terusnya: “Di antara mereka, paling tidak masih ada tiga orang lainnya yang paling berpengharapan.”

“Kau takut dengan mereka?”

“Yang kutakuti bukan mereka.”

“Lantas mengapa kau sendiri tidak meneruskan jabatan tersebut?”

“Karena kau!” ucap Cho Tang-lay, “akupun tidak takut dirimu, tapi bila ditambah dengan Siau sianseng, maka di kolong langit menjadi tiada tandingannya lagi.”

Kali ini dia berbicara secara jujur.

“Dulu, aku tidak membunuh Cu Bong karena dia kusisihkan untuk Suma Cau-kun, dan kali ini akupun tidak membunuh Cu Bong karena sengaja kusisihkan untuk dirimu. Daripada membiarkan ia tewas terbunuh di tangan orang lain, toh lebih baik membiarkan ia tewas di tanganmu, sebab bagaimanapun juga, cepat atau lambat, akhirnya dia tentu akan tewas.”

Mendadak Siau-ko membalikkan badan dan menatap Cho Tang-lay lekat-lekat, dibalik sorot matanya penuh dengan jalur-jalur berdarah, tapi mukanya pucat pias tanpa warna darah.

“Apakah ketiga orang yang barusan kau maksudkan itu kini sudah berada di Tiang-an?”

“Kemungkinan besar.”

“Siapakah mereka?”

“Mereka adalah sebuah pedang yang tak berperasaan, sebuah tombak perenggut nyawa dan sekantung senjata rahasia mencabut nyawa.” Cho Tang-lay menerangkan, “setiap jenis cukup berhak untuk mencantumkan namanya dalam deretan tujuh puluh macam senjata yang paling menakutkan di kolong langit.”

“Yang kutanyakan adalah orangnya, bukan senjata andalan mereka…..”

“Mereka adalah orang-orang pembunuh manusia, di Tiang-an mereka mempunyai mata-mata di mana-mana, bisa jadi hanya dalam satu dua jam saja mereka telah menemukan Cu Bong, asal kau mengetahui kesemuanya ini, aku rasa hal tersebut sudah lebih dari cukup.”

“Mengapa kau tak bersedia menyebut nama-nama mereka?”

“Sebab bila kau sudah mengetahui nama-nama mereka, bisa jadi akan mempengaruhi semangat juang serta perasaan hatimu.”

“Dapatkah kita temukan Cu Bong sebelum mereka?”

“Kau tak mungkin bisa, tapi aku dapat.”

“Apakah saat ini Cu Bong berada di sini?”

“Dia berada dalam cengkeramanku,” kata Cho Tang-lay cepat, “selama ini dia memang selalu berada di dalam cengkeramanku.”

—–

Senja menyelimuti empat penjuru, di tengah remang-remangnya suasana di tanah perbukitan, tampak Cu Bong berdiri di muka sebuah gundukan tanah baru.

Gundukan tanah itu masih amat baru, belum ada rerumputan yang tumbuh, tiada pula batu nisan yang didirikan, sebab orang dalam kuburan mungkin sudah berubah menjadi kupu-kupu dan terbang pergi.

Yang terkubur dalam gundukan tanah itu mungkin cuma nama besar yang telah kedaluwarsa serta cinta kasih lelaki perempuan yang tak pernah akan punah.

Tapi Cu Bong tetap hidup, Suma Cau-kun pun tetap hidup. Oleh karena itu perselisihan dan dendam kesumat di antara merekapun tetap utuh, karena perselisihan di antara mereka berdua memang tak pernah bisa diselesaikan orang lain.

Senja semakin kelam. Cu Bong berdiri termangu-mangu di sana, entah sudah berapa lama ia berdiri, sementara belasan saudaranya mengawasi dia dengan termangu.

Siapapun tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya sekarang? Siapapun tidak tahu pula bagaimanakah perasaan saudara-saudaranya kini?

Namun dalam hati kecil mereka sendiri cukup mengerti, bila kehidupan manusia benar-benar bagaikan sandiwara, bila kehidupannya selama inipun tak lebih hanya sebuah sandiwara, maka tak ayal lagi sandiwara ini sudah mendekati akhir.

Betapapun memedihkan hatinya, sandiwara ini sekarang sudah mencapai saat-saat untuk berakhir.

Tiap-wu tak lebih hanya melangkah setindak lebih dahulu, sedangkan mereka masih harus menyelesaikan perjalanan yang terakhir.

Betapapun susah dan menderitanya, perjalanan itu harus diselesaikan, mereka cuma berharap bisa mencecerkan darah musuhnya untuk mengiringi keberangkatan.

Akhirnya Cu Bong membalikkan badan, mengawasi saudara-saudara sehidup sematinya dan memandang mereka dengan sepasang mata besar yang berwarna merah membara.

Ia memandang wajah mereka satu persatu, memandang cukup lama di wajah setiap orang, seakan-akan setelah pandangan itu lewat, mereka akan berpisah untuk selamanya.

Kemudian ia baru berbicara dengan mempergunakan suara yang parau: “Kehidupan manusia, ibaratnya suatu perjamuan yang tak mungkin berakhir, sekalipun anak mengikuti bapak, toh akhirnya akan tiba juga saat untuk berpisah. Nah, sekarang, kitapun sudah mencapai saat-saat untuk berpisah.”

Paras muka semua saudara-saudaranya berubah, namun Cu Bong berlagak seolah-olah tidak melihat.

“Oleh sebab itu sekarang kuminta kalian agar pergi, paling baik pergi dalam beberapa rombongan, tiap rombongan jangan lebih dari dua orang,” kata Cu Bong, “sebab aku minta kalian harus tetap hidup, selama masih ada di antara kalian yang tetap hidup, berarti Hiong-say-tong masih punya harapan untuk bangkit kembali.”

Tiada orang yang beranjak pergi, tiada orang yang menggerakkan tubuhnya dari posisi semula.

Cu Bong menjadi mencak-mencak kegusaran, dia berteriak dengan suara bagaikan geledek: “Kakek moyang, apakah kalian tidak mendengar apa yang locu katakan? Apakah kalian berharap segenap anggota Hiong-say-tong mampus dan ludas?”

Belum ada yang bergerak, juga belum ada yang buka suara, semuanya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dengan sekuat tenaga Cu Bong meloloskan ikat pinggang kulitnya yang tebal, kemudian menerjang ke arah mereka.

“Kalian tak mau pergi? Kalian pingin mampus semua? Baik! Locu akan lecuti kalian semua sampai mampus daripada bikin khekinya Locu saja.”

Ikat pinggang diayunkan berulang kali, satu persatu dicambuki secara kalap, bekas cambukan, lelehan darah segera menghiasi tubuh orang-orang itu.

Tapi saudara-saudaranya yang tak kenal mati hidup ini tetap tutup mulut sambil mengertak gigi, bergerak sedikitpun tidak.

Suma Cau-kun berdiri di kejauhan sana, memandang dari kejauhan, seakan-akan sama sekali tak berperasaan.

Tapi dari ujung bibirnya sudah mulai nampak cairan darah bercucuran keluar. Darah itu mengalir keluar lewat bibirnya yang digigit kelewat keras sehingga menimbulkan luka.

Angin mulai berhembus, entah sejak kapan tiba-tiba saja angin puyuh berhembus lewat, menghembusi tubuh setiap orang sehingga terasa sakit bagaikan disayat-sayat dengan pisau.

Akhirnya Cu Bong menurunkan kembali tangannya.

“Baik!” dia berkata lantang, “kalau toh kalian ingin tetap tinggal di sini menemani aku mati, aku akan membiarkan kalian tetap tinggal di sini, tapi kalianpun harus ingat baik-baik, entah siapa yang menang dalam pertarunganku melawan Suma Cau-kun nanti, hasil pertarungan itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kalian. Kalian tak boleh mengusiknya!”

Tiba-tiba Suma Cau-kun tertawa dingin.

“Percuma!” dia mengejek, “dengan cara apapun kau ingin memancing rasa haruku, hal tersebut sama sekali tak ada gunanya.”

“Apa kau bilang?” Cu Bong berteriak parau, “apa yang barusan kau katakan?”

“Aku tak lebih hanya berharap kau mengerti, meskipun rumah tanggaku telah berantakan sekarang, aku tak akan secara sengaja memenuhi keinginanmu, sengaja membiarkan aku terbunuh di tanganmu, agar kau bisa menggunakan batok kepalaku untuk menegakkan kembali pamormu dan membangun kembali Hiong-say-tong.”

Nada suara Suma Cau-kun telah berubah menjadi amat parau.

“Bila kau menghendaki batok kepalaku yang menempel di atas tengkukku ini, kau mesti keluarkan dulu semua kepandaian silat yang kau miliki.”

“Kentut anjing ibumu yang bau!” Cu Bong berteriak marah, “siapa yang sudi menerima kebaikanmu untuk melepaskan aku? Sebetulnya locu masih menganggap kau sebagai manusia, siapa tahu yang kau lepaskan semua justru hanya kentut, kentut anjing bau!”

“Bagus, umpatan yang amat bagus!” Suma Cau-kun mendongakkan kepalanya sambil tertawa tergelak, “bila kau memang bernyali, ayo majulah kemari!”

Sebetulnya Cu Bong telah bersiap-siap akan menerkam ke muka, tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya, amarah yang semula meledak-ledak, tiba-tiba saja mereda kembali, kemudian dengan suatu mimik muka yang aneh, dia mengawasi Suma Cau-kun, seakan-akan baru pertama kali ini dia melihat manusia seperti itu.

“Hei, mengapa kau tak berani kemari?” kembali Suma Cau-kun menantang, “apakah kau hanya bernyali bila sedang menghadapi saudara-saudaramu sendiri? Apakah si Singa Jantan Cu Bong tak lebih cuma manusia jadah seperti ini?”

Tiba-tiba Cu Bong ikut tertawa, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Bagus, suatu umpatan yang amat bagus, umpatan yang maknanya bagus!” gelak tertawanya makin menjadi-jadi, “hanya sayang sekali, perbuatanmu seperti itu sesungguhnya tidak berguna sama sekali.”

“Apa yang kau katakan?” Suma Cau-kun masih saja tertawa dingin, “kentut busuk macam apa yang sedang kau lepaskan sekarang?”

Kali ini bukan saja Cu Bong tidak mengumbar amarahnya, dia malahan menghela napas panjang.

“Suma Cau-kun, kau memang seorang Ho-han, seorang lelaki sejati. Dalam sejarah hidupku, aku Cu Bong belum pernah tunduk kepada orang lain, tapi sekarang aku sudah mulai agak kagum kepadamu, tapi bila kau beranggapan aku Cu Bong tak lebih cuma manusia kasar yang tak tahu diri, anggapan tersebut jelas keliru besar, maksud hatimu sudah cukup kupahami.”

“Apa yang telah kau pahami?”

“Kau tak perlu memanasi hatiku untuk membunuhmu, kaupun tak usah mempergunakan cara seperti ini untuk mengobarkan hawa amarahku,” ucap Cu Bong, “walaupun aku sudah runtuh bahkan gara-gara seorang wanita menjadi kehilangan sukma dan semangat, seperti baru kehilangan ibu……”

Mendadak ia menepuk dada keras-keras, kemudian melanjutkan.

“Tapi asal aku Cu Bong masih bisa bernapas, aku pasti akan berjuang sampai titik darah penghabisan, kau tak perlu memanasi hatiku, sebab tanpa cara tersebut pun aku tetap akan bertarung sampai titik darah penghabisan……”

“Oya?”

“Batok kepala yang menempel di atas leher, aku Cu Bong pun tak bakal kuserahkan dengan begitu saja kepada orang lain, akupun tak bakal membantu untuk memenuhi keinginanmu,” suara Cu Bong bertambah keras dan lantang, “tapi aku pun tak sudi menerima kemurahan hatimu yang berusaha memenuhi keinginanku.”

Dengan sepasang matanya yang melotot besar, dia awasi Suma Cau-kun lekat-lekat, kemudian lanjutnya.

“Dalam pertarungan yang berlangsung hari ini, soal mati hidup, menang kalah sudah bukan suatu persoalan yang berpengaruh besar bagi kita, pada hakekatnya, persoalan semacam itu tak pernah kupikirkan dalam hati, tapi bila kau bermaksud untuk memenuhi keinginanku itu….”

Tiba-tiba suara Cu Bong berubah semakin garang dan mengerikan hati.

“Asal kau mempunyai setitik keinginan seperti ini saja, maka kau Suma Cau-kun bukan manusia yang dilahirkan oleh bapak ibumu, kau adalah anak jadah yang dilahirkan seekor anjing budukan. Asal kau mengalah satu jurus saja, aku segera akan mampus di hadapanmu, biar jadi setanpun tak bakal mengampunimu.”

Suma Cau-kun memandangnya lekat-lekat, memandang sepasang matanya yang bulat besar penuh garis-garis darah, memandang manusia yang meskipun menjadi kurus tinggal kulit pembungkus tulang namun masih tetap memiliki semangat jantan bagaikan singa.

Lewat lama, lama kemudian baru dia berkata: “Baik, kukabulkan permintaanmu itu. Bagaimanapun juga, hari ini kita boleh melangsungkan duel secara jantan, secara bebas dengan sepenuh tenaga.”

Cu Bong juga sedang memandang ke arahnya, memandang seorang lambang pendekar besar yang dulu pernah dipuja-puja dan disanjung-sanjung, tapi kini terperosok dalam lumpur kenistaan.

Tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Di dalam kehidupan kita kali ini, kita sudah ditakdirkan menjadi musuh bebuyutan, moga-moga saja dalam penitisan mendatang, kita bisa ditakdirkan menjadi sahabat karib, terlepas siapa yang menang siapa yang kalah, siapa yang hidup siapa yang mati di dalam pertarungan hari ini.”

—–

Angin berhembus makin kencang, udara semakin terasa dingin.

Bukit nun jauh di sana telah dingin, pusara di atas bumi telah dingin, manusiapun berada di tengah hembusan angin dingin, tapi dalam dada mereka, justru membara darah yang panas mendidih.

Darah panas yang selalu mendidih ini, selamanya dan selalu tak pernah menjadi dingin.

Karena dalam dunia ini masih terdapat sementara orang yang di dalam dadanya justru mengalir darah panas yang selamanya tak pernah dingin, oleh sebab itu hati merekapun selalu tak pernah gentar, karena kita harus tahu, selama dalam dada manusia masih mengalir darah yang mendidih, keadilan dan kebenaran selalu dipertahankan.

Hal ini perlu ditegaskan, karena inilah semangat dari suatu kesetiaan kawan.

—–

Senja sudah semakin kelam.

Dalam remang-remangnya suasana, Suma Cau-kun dan Cu Bong berdua telah berubah menjadi dua sosok bayangan manusia yang samar-samar.

Namun dalam pandangan mata kaum lelaki perkasa yang mengalir darah panas dalam dadanya, ke dua sosok bayangan manusia yang samar itu justru jauh lebih tegas dan agung daripada bentuk badan manusia manapun di dunia ini.

Sebab yang mereka perebutkan kini bukan mati hidup, kalah menang atau kehormatan dan kenistaan.

Mereka telah mengesampingkan soal mati hidup, soal kehormatan ataupun kenistaan, mereka tak lebih hanya ingin melakukan suatu pekerjaan yang mereka anggap harus dilakukan oleh mereka.

Sebab memang demikianlah prinsip hidup mereka sebagai manusia di dunia ini.

Kepala boleh putus, darah boleh mengalir, kebahagiaan hidup, kebesaran nama boleh hancur lebur, tapi prinsip hidup harus tetap dipegang teguh.

Dengan perbuatan mereka ini, adakah manusia yang menganggap mereka itu kelewat tolol?

Kalau ada orang yang menganggap mereka kelewat tolol, lalu termasuk manusia macam apakah mereka itu?

Cu Bong masih berdiri dengan wajah serius, Suma Cau-kun juga berdiri dihadapannya dengan wajah serius, mati hidup mereka akan segera ditentukan dalam detik itu.

Anehnya, perasaan yang berkobar di dalam dada mereka berdua sekarang bukan dendam kesumat lagi, melainkan dorongan hawa darah yang membara.

Tiba-tiba Cu Bong bertanya: “Dalam dasa warsa terakhir ini, tiada pertarungan yang tidak kau menangkan, selama hidup belum pernah bertemu dengan lawan tandingan, apakah selama ini kau hanya mengandalkan sebilah pedang baja yang besar?”

“Benar!”

“Mana pedangmu sekarang?”

“Biarpun pedangnya tak ada, tapi aku, orangnya ada di sini,” jawab Suma Cau-kun, “yang kau ajak bertarung toh bukan pedangku, melainkan orangnya, oleh sebab itu asal orangnya ada di sini, hal ini sudah lebih dari cukup.”

“Bukankah kau datang kemari hendak berduel denganku serta menentukan mati hidup, menang kalah denganku? Mengapa tidak kau bawa serta pedangmu?”

“Sebab dengan tangan kosongpun aku sama saja, mampu membunuh singa jantan.”

Pelan-pelan Cu Bong mengenakkan kembali ikat pinggangnya, dan kini diapun hanya bertangan telanjang saja.

“Sekalipun sepanjang hidupku aku Cu Bong malang melintang dalam dunia persilatan, budi dan dendam kupisahkan secara tegas dan entah berapa banyak manusia yang tak bisa dipercaya, tidak setia kawan, tidak berperasaan dan tidak tahu malu yang sudah tewas di ujung golokku, biasanya aku selalu membunuh orang dengan mempergunakan sebilah golok biasa.”

“Mana golokmu?”

“Golokku ada di sini.”

Dia mengulurkan tangannya ke muka, segera muncul seseorang yang menyodorkan sebilah golok besar ke tangannya.

“Golok bagus!” Suma Cau-kun berteriak keras, “hanya golok semacam ini yang cocok untuk membunuh manusia.”

“Ya, golok ini memang sebilah golok bagus yang cocok untuk membunuh orang,” kata Cu Bong sambil membelai mata goloknya, “tapi orang yang kubunuh dengan golok ini selamanya cuma manusia-manusia rendah bangsa kurcaci, bukan enghiong atau orang gagah.”

Sekarang golok itu masih berada di tangannya.

Dengan tangan kiri menggenggam gagang golok, tangan kanan memegang mata golok, tiba-tiba saja……. ‘Kraaakkk……’ golok itu meski masih berada dalam genggamannya, namun telah patah menjadi dua bagian.

Kutungan golok berubah menjadi pelangi terbang, terbang menuju kegelapan senja yang kian lama kian bertambah gelap, terbang lenyap dari pemandangan.

Biarpun suara dari Cu Bong bertambah parau, pada hakekatnya hampir tak menjadi suara, namun semangat serta kegagahannya masih tetap utuh seperti sediakala.

Ia berkata: “Jika Suma Cau-kun sanggup bertarung melawan seekor singa jantan dengan tangan kosong, mengapa tidak dengan aku, Cu Bong?”

Ia mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, tinju itu sekeras baja, sebaliknya sepasang kepalan Suma Cau-kun jauh lebih tajam daripada golok.

“Kau datang dari jauh, kau adalah tamu,” kata Suma Cau-kun, “aku tidak bermaksud mengalah kepadamu, tapi kau sudah sepantasnya turun tangan lebih dulu.”

“Baik!”

—–

Ketika mendengar Cu Bong mengucapkan kata ‘baik’, Mang-gou tahu dirinya sudah hampir berakhir.

‘Mang-gou’ si Kerbau Baja adalah manusia, dia adalah seorang lelaki sejati.

Tapi ada kalanya dia memang mirip seekor kerbau, watak seperti kerbau, keras kepala seperti kerbau, bahkan jauh lebih liar daripada kerbau liar, lebih buas daripada kerbau buas. Tubuhnya yang kekar dan sekeras baja, pada hakekatnya menyerupai seekor kerbau baja.

Sayangnya hati atau perasaan si Kerbau Baja ini justeru terbuat dari kaca yang tipis, tak dapat disentuh barang sedikitpun jua, karena begitu disentuh, dia akan hancur dan pecah.

Oleh sebab itu, selama ini dia duduk paling jauh dari arena.

Orang lain telah berdiri semua, tapi ia masih tetap duduk, sebab ia kuatir dirinya tak tahan.

Ada banyak persoalan yang memang tak sanggup ditahan olehnya. Yang paling tak bisa ditahan olehnya adalah menjumpai manusia-manusia kurcaci yang suka menjual teman, bila bertemu dengan manusia seperti ini, setiap saat ia bersedia mempertaruhkan selembar jiwanya untuk beradu jiwa dengannya.

Diapun paling tak tahan bila bertemu dengan orang yang kelewat setia kawan, sebab bila bertemu dengan manusia seperti ini, diapun setiap saat bersedia mengorbankan selembar jiwanya untuk dijual kepadanya, dijual tanpa syarat dan tak pernah akan disesalkan.

Oleh sebab itu, begitu ia melihat Cu Bong mengatakan ‘baik’, begitu melihat tinju Cu Bong disodokkan ke muka, ia sadar dirinya sudah hampir habis.

Seperti juga ketika si Sepatu Paku melihat Cu Bong telah berdiri di samping Siau-ko, kecuali mati, dia sudah tidak memiliki jalan ke dua lagi.

Dia hanya berharap sebelum ajalnya tiba, ia dapat menyaksikan Cu Bong merobohkan Suma Cau-kun. Dia hanya berharap sebelum ajalnya tiba, ia dapat turut bersama Cu Bong pergi ke Toa Piau-kiok dan beradu jiwa dengan Cho Tang-lay.

Asal salah satu saja di antara kedua hal ini bisa jadi terpenuhi, biar Thian bersikap lebih kejam terhadapnyapun, dia akan mati dengan rela.

Dari dulu sampai sekarang, belum pernah ada yang lolos dari kematian, dan sekarang ia telah bersiap-siap untuk mati, rasanya permintaan yang diajukan olehnya tidak terhitung berlebihan.

Sayang sekali, justru Thian tidak bersedia memenuhi keinginannya itu.

Di saat ia sedang menyaksikan Cu Bong seakan-akan telah memperoleh kembali kegagahannya seperti masa lalu, di saat kepalan bajanya di ayun kian kemari melancarkan serangan, tiba-tiba meluncur datang seutas tali serta berwarna hitam yang lembut dan lunak dari belakang. Tali itu langsung menjirat lehernya kencang-kencang…..

Mang-gou ingin meronta, ingin berteriak-teriak, tapi sayang keadaan sudah terlambat.

Tali itu sudah menjeratnya lehernya kencang-kencang dan menghancurkan tulang lehernya.

Dia hanya merasakan seluruh kekuatan badannya lenyap secara tiba-tiba, kulit badannya tiba-tiba mengendor dan semua cairan yang berada dalam tubuhnya mengalir keluar.

Sementara itu, Cu Bong dan Suma Cau-kun masih melangsungkan pertarungan dengan gencar, orang-orang yang lainpun sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk menyaksikan jalannya pertarungan mereka, tak seorangpun manusia tahu kalau dia telah tewas, juga tiada orang yang berpaling untuk memandang sekejap ke arahnya.

Maka dalam keadaan begitulah seorang lelaki sejati seperti kerbau baja, meninggalkan dunia yang fana ini dengan tenang.

Kematiannya memang jauh lebih mengenaskan daripada kematian si Sepatu Paku.

Pertarungan antara dua orang jago lihay seringkali hanya merupakan urusan satu gebrakan saja, menang kalah, mati hidup pun seringkali ditentukan dalam sekejap mata.

Namun pertarungan antara Suma Cau-kun dengan Cu Bong kali ini justru sama sekali berbeda.

Pertarungan ini mereka langsungkan secara ngotot, payah dan luar biasa.

Mereka sama-sama kelelahan, bukan cuma perasaannya hancur, tenagapun telah punah.

Jurus-jurus serangan yang pada mulanya bisa merenggut jiwa orang, dalam waktu singkat kini sudah tak mampu menunjukkan kehebatannya lagi seperti semula.

Ada kalanya sebuah pukulan dari Suma Cau-kun jelas akan berhasil merobohkan Cu Bong, namun setelah serangannya dilontarkan, tenaga serta sasarannya meleset dua bagian.

Begitu pula keadaan yang dialami Cu Bong ketika itu.

Melihat dua orang jagoan tangguh yang namanya pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan ternyata bertarung seperti dua ekor binatang liar yang saling cakar mencakar, sesungguhnya peristiwa semacam ini memang patut disedihkan.

Anehnya, saudara-saudara sehidup semati dari Cu Bong sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun.

Ada kalanya Cu Bong kena ditonjok sampai roboh, tapi dia segera merangkak bangun dan bertarung kembali. Anehnya, saudara-saudaranya tetap tidak juga memberikan reaksi, seolah-olah mereka tidak terpengaruh lagi oleh keadaan tersebut.

Mereka semua pernah dirobohkan lawan, asalkan mereka sanggup berdiri kembali setelah roboh, jadi rasanya dirobohkan juga bukan terhitung sesuatu yang luar biasa.

Namun sewaktu Suma Cau-kun roboh terjungkal kali ini, tiba-tiba matanya memancarkan sinar ngeri dan ketakutan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Mendadak ia bergelinding di atas tanah lalu memeluk Cu Bong erat-erat.

Padahal jurus serangan seperti ini bukan termasuk jurus serangan yang sudi dipergunakan oleh kaum eng-hiong ho-han.

Sepanjang sejarah hidupnya malang melintang dalam dunia persilatan, belum pernah Suma Cau-kun mempergunakan jurus serangan seperti itu bahkan Cu Bong sendiripun tak pernah menyangka dia akan mempergunakannya.

Oleh sebab itu begitu diseret tubuh mereka berdua segera berguling di atas tanah.

Kontan saja api amarah Cu Bong berkobar.

“Duuuukkk……!” Ia meninju punggung Suma Cau-kun keras-keras.

Tapi Suma Cau-kun masih memeluknya kencang-kencang, hanya kali ini dia berbisik di sisi telinga Cu Bong dengan semacam suara yang sangat aneh.

“Kemungkinan besar saudara-saudaramu telah tewas semua, tapi kita harus berlagak seolah-olah tidak tahu.”

Cu Bong amat terkejut, dia ingin sekali bertanya: “Mengapa?”

Namun ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, sebab mulutnya telah ditutup oleh Suma Cau-kun.

Kemudian ia mendengar Suma Cau-kun kembali berbisik: “Kita harus melanjutkan pertarungan ini, agar orang lain mengira kita sudah hampir luka parah bersama serta mendekati ajal……..”

Cu Bong bukan termasuk seorang lelaki kasar yang berotak bebal dan bodoh.

Diapun termasuk jago kawakan di dalam dunia persilatan. Dalam waktu yang amat singkat itulah dia telah mengetahui kalau situasi telah mengalami perubahan besar.

Sekalipun saudara-saudaranya masih tetap berada di situ, namun tengkuk mereka sama-sama terkulai lemas ke bawah.

Di samping itu, dia pun dapat mengendus bau busuk yang bisa memuntahkan siapapun yang menciumnya.

Agaknya sementara mereka sedang melangsungkan pertarungan sengit, ada orang yang tanpa mengeluarkan sedikit suarapun mematahkan tulang leher dari saudara-saudaranya.

Padahal saudara-saudaranya termasuk orang-orang yang berpengalaman dalam ratusan kali pertarungan besar maupun kecil. Mengapa mereka bisa tewas dengan begitu mudah di tangan orang lain?

Cu Bong tidak percaya, tapi sayang sekali, biar dia tak percaya pun sekarang harus mempercayainya. Walaupun demikian, sekujur badannya telah menjadi dingin karena basah oleh peluh.

Mempergunakan kesempatan itu Suma Cau-kun segera membalikkan badannya dan menindih di atas tubuhnya, sementara tinjunya diayunkan berulang kali menghajar iga serta tulang badannya.

Namun pukulan tersebut tidak kelewat berat, suaranya kedengaran amat pelan.

“Terlepas kita masih terhitung musuh atau sahabat, kali ini kau harus menuruti perkataanku, kalau tidak, kita bisa mati tak meram,” demikian dia berbisik.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Kita pergi bersama-sama. Ketika aku mengatakan berangkat nanti, kita melompat bersama dan pergi bersama.”

Mendadak kedengaran ada orang tertawa tergelak.

Sesudah itu dengan suara yang kebanci-bancian, dia berseru: “Suma Cau-kun kecil memang terhitung masih agak pintar, sayang sekali hal itu tak ada gunanya bagi Cu Bong.”

Kemudian setelah tertawa seram, orang itu melanjutkan: “Di dunia saat ini hanya ada Cu Bong yang bersedia dipenggal kepalanya, tidak pernah ada Cu Bong yang melarikan diri terbirit-birit.”

Mendadak Suma Cau-kun melompat bangun, lalu membentak nyaring.

“Berangkat!”

—–

Malam itu sangat dingin lagi gelap gulita, sekalipun seseorang pernah mendapat latihan yang ketat untuk berlatih ilmu melihat dalam kegelapan pun sukar rasanya untuk memperhatikan pepohonan ataupun batu karang yang berada diseputarnya, sudah barang tentu mustahil bisa menentukan arah mata angin.

Apalagi di tempat tersebut memang sama sekali tak ada jalan.

Bila seseorang telah berjalan ke tempat yang tiada jalannya, seringkali orang itu dikatakan sudah berada di tempat yang buntu.

Suma Cau-kun masih tersengal-sengal, walaupun paru-parunya terasa hampir meledak, namun dia masih berusaha keras untuk mengendalikan suara dengusan napasnya yang terengah-engah.

Setiap tulang belakang, setiap potong daging tubuhnya, seakan-akan sudah dipaparkan di meja tukang babi, seperti sudah disayat-sayat dengan pisau kecil.

Keadaan Cu Bong waktu itu tidak lebih baik daripada dirinya. Mereka berdua berdiri bahu menempel bahu, berdiri di tengah kegelapan yang mencengkeram sambil tiada hentinya terengah-engah.

Walaupun mereka sudah tidak mendengar suara langkah kaki dan suara busur dari pemburu, namun mereka dapat merasakan kepedihan dan kesedihan seekor binatang terluka yang sedang dikejar-kejar oleh sang pemburu.

“Tahukah kau, siapakah orang tadi?”

“Aku tahu!” jawab Suma Cau-kun, “mereka yang datang bukan hanya seorang saja, di antara mereka, salah seorang saja mungkin sudah cukup untuk menghadapi kita berdua.”

Cu Bong tertawa dingin.

“Sungguh tak kusangka, Suma Cau-kun yang tiada keduanya di kolong langit bisa juga mengutarakan kata-kata yang begitu tak bersemangat.”

“Aku bukan patah semangat, apa yang kuucapkan merupakan kenyataan.”

Cu Bong termenung, lewat lama sekali dia baru berkata dengan wajah sedih: “Ya, perkataanmu tadi memang merupakan kenyataan.”

Nada suaranya penuh sedu-sedan, terusnya: “Suma Cau-kun yang sekarang sudah bukan Suma Cau-kun yang dulu lagi, Cu Bong yang sekarang pun sudah bukan Cu Bong yang dulu, kalau tidak bagaimana mungkin kita bisa dikejar-kejar orang macam anjing liar yang kehabisan jalan?”

“Aku memahami maksudmu, sebenarnya kau lebih suka mati daripada melarikan diri, sebab di kolong langit hanya ada Cu Bong yang dipenggal kepalanya, tak pernah ada Cu Bong yang melarikan diri,” kata Suma Cau-kun, “tapi mengapa kau harus menyerahkan batok kepalamu yang besar itu untuk seorang manusia rendah yang munafik hina dan tak tahu malu? Mengapa kita harus menyerahkan batok kepala kita untuk mereka tukar dengan nama besar, pahala dan kesenangan?”

“Akupun memahami maksudmu,” ucap Cu Bong keras, “sekalipun kita hendak menghadiahkan batok kepala kita ini untuk orang lain, kita harus memilih sendiri orang yang pantas kita hargai, kita tak bisa menghadiahkan kepala kita untuk Cho Tang-lay.”

Tiba-tiba dari balik kegelapan kedengaran ada orang sedang bertepuk tangan.

“Perkataanmu memang tepat, ucapan yang tepat sekali.”

Lagi-lagi si manusia bersuara kebanci-bancian tadi.

Sambil tertawa seram dia berkata lebih jauh: “Dua butir batok kepala yang begitu baik mengapa harus dihadiahkan kepada Cho Tang-lay si telur busuk itu? Aku rasa lebih baik kalian hadiahkan kepadaku saja.”

Gelak suaranya makin lama semakin mendekat, sebentar di sebelah kiri, sebentar lagi di sebelah kanan, membuat orang pada hakekatnya tidak bisa menentukan di manakah orang itu sebenarnya.

Seluruh badan Cu Bong mulai menjadi kaku.

Orang itu memang bukan Cho Tang-lay, tapi dia lebih menakutkan daripada Cho Tang-lay.

Sepanjang hidupnya belum pernah Cu Bong menjumpai orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian menakutkannya.

Pada hakekatnya dia hampir tidak percaya kalau di dunia ini ternyata masih terdapat orang yang berhasil melatih ilmu meringankan tubuhnya sedemikian hebat.

Tapi dengan cepat dia dapat memulihkan kembali ketenangannya, sebab dia telah mendengar suara Suma Cau-kun sedang berbisik di sisi telinganya.

“Yang berbicara bukan hanya seorang, mereka adalah dua saudara kembar, asal kita masih dapat menahan diri, mereka pun tak akan berani bertindak secara sembarangan, oleh sebab itu kita tak boleh membiarkan dia mengetahui keadaan kita yang sebenarnya.”

Pada saat itulah wajah mereka berdua disoroti terang benderang secara tiba-tiba, setiap kerutan dan setiap mulut luka yang berada di atas wajah mereka tersorot dengan jelas sekali.

Paling tidak terdapat tiga puluh buah lentera Khong Beng dan tiga puluh buah cahaya lentera yang amat tajam memancar datang dari empat arah delapan penjuru serta menyoroti tubuh mereka.

Dalam detik itu juga tubuh mereka telah berdiri tegak, paras muka mereka pun sama sekali tidak berperasaan.

Walaupun mereka belum sempat melihat dengan jelas dimanakah lawan berada, namun merekapun tidak membiarkan lawan melihat kelelahan, kepedihan serta luka yang mereka derita.

Mereka berdua sama-sama sudah berpengalaman dalam ratusan kali pertempuran besar maupun kecil, mereka telah terwujud sebagai manusia baja dan manusia yang tak sudi tunduk kepada nasib. Siapapun yang ingin merenggut batok kepalanya, hal ini tak akan bisa dilakukan dengan mudah.

—–

Walaupun cahaya lentera terang benderang, suasana gelap di kejauhan sana masih tetap gelap gulita.

Tiba-tiba Suma Cau-kun tertawa.

“Kongsun Kongsun, baik-baikkah kalian selama ini?” dia menyapa sambil tersenyum, “selama ini aku selalu mengerti, kalian adalah manusia yang sangat tahu tentang baik-buruknya manusia, bila aku memenuhi keinginanmu, mewujudkan ambisi kalian, kalian pasti akan mengubur pula jenasah kami yang tak berkepala ini secara baik-baik, setiap musim semi dan gugur, kau tentu akan berziarah di depan kuburan kami sambil mempersembahkan arak wangi dan bunga.”

Sekali lagi terdengar suara tepuk tangan riuh dan gelak tertawa dari kegelapan.

“Perkataanmu itu memang sangat tepat, perkataan yang tepat sekali.”

Kali ini suara tertawa itu berkumandang dari sebelah kiri dan kanan, kemudian terlihat dua orang muncul dari kiri kanan di balik kegelapan menuju ke tempat yang disoroti cahaya lampu.

Ke dua orang itu nampaknya seperti dua orang manusia yang berbeda satu dengan lainnya.

Yang seorang mengenakan kopiah mutiara, berikat pinggang kemala, menyoren pedang dan berdandan sebagai seorang kongcu kaya raya, bahkan di atas pedangnyapun ditaburi batu mulia yang mahal harganya.

Sebaliknya yang seorang lagi justru berdandan seperti pengemis, pakaiannya compang-camping, kakinya pengkor dan membawa sebuah tongkat kayu.

Tapi jika kau perhatikan dengan seksama, baik perawakan maupun potongan wajah ke dua orang ini ternyata persis satu sama lainnya.

Nama mereka Kongsun, mereka adalah saudara kembar.

Tiba-tiba Cu Bong teringat kembali akan kedua orang ini, sebetulnya dia selalu beranggapan kedua orang ini sama sekali tiada hubungan dengannya.

Orang pertama adalah Hok-kui-kongcu (Kongcu kaya raya) Kongsun Po-kiam yang menguasai tujuh puluh dua benteng di Kwang-tong dan hidup dalam kemewahan bagaikan seorang raja muda.

Orang kedua adalah Kongsun Kay-ji, seorang pengemis yang luntang-lantung di kolong langit, makan tak teratur, tidur tak nyenyak sampai ketua Kay-pang pun enggan menerimanya.

Tiada orang yang tahu bahwa mereka adalah bersaudara, apalagi mereka adalah saudara kembar.

Jikalau mereka berdua memang saudara kembar, mengapa yang satu hidup dalam kemewahan sedang yang lain justru menjadi pengemis yang melarat?

Cu Bong belum berhasil memecahkan teka-teki tersebut, tapi ia segera teringat dua orang lain.

Tiba-tiba saja dia teringat akan Suma Cau-kun serta Cho Tang-lay.

Mengapa Cho Tang-lay melambangkan Suma Cau-kun di depan masyarakat, sehingga dianggap sebagai lambang seorang pendekar sejati?

Alasan dibalik masalah itu ruwet tapi sederhana, meski sederhana justru sangat rumit, bukan saja Cu Bong tak dapat memahaminya, orang lainpun sama saja tak bakal paham.

Tapi Cu Bong toh berhasil juga memahami akan satu hal.

Andaikata Suma Cau-kun tidak tahu kalau mereka adalah saudara kembar, dia pasti akan mengira Kongsun Po-kiam sebagai orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling hebat di dunia ini. Setelah mendengar suara tertawanya yang mengerikan seperti setan, dia pasti akan dibuat ketakutan setengah mati, persis seperti keadaan yang dialami Cu Bong tadi.

Sekarang Cu Bong pun mulai paham, hal tersebut tak lebih hanya semacam tabir asap.

Padahal tabir asap tersebut hanya palsu kosong, dalam sekejap mata bisa berubah menjadi kosong dan punah, punah dan sama sekali tiada.

Persoalan ini bukan saja tak pernah akan diketahui Cu Bong, keadaan yang dihadapi sekarang tidak memberi kesempatan kepadanya untuk memikirkan persoalan-persoalan seperti itu.

Ia dengar Suma Cau-kun sedang berbincang-bincang dengan Kongsun bersaudara.

“Sesungguhnya aku sudah lama menduga kalian berdua bakal datang kemari,” kata Suma Cau-kun masih tersenyum, “semenjak banyak tahun berselang, kalian berdua sudah ingin mengusirku dari dalam Toa Piau-kiok, hanya selama itu kalian belum yakin pasti akan berhasil, tentu saja kalian berdua tak akan melakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan, itulah sebabnya kalian berdua menunggu sampai hari ini.”

Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan: “Tapi aku benar-benar tidak menyangka, secepat ini kalian berdua sudah tiba di sini.”

“Kau sudah seharusnya dapat menduga sampai ke situ,” kata Kongsun Po-kiam, “kesempatan yang begitu bagus seperti hari ini telah lama sekali kunantikan.”

“Darimana kau bisa tahu kalau kesempatan bagus telah tiba?”

“Tentu saja aku tahu.”

“Sejak kapan kau tahu akan hal ini?” ucap Suma Cau-kun, “aku tahu dalam istal kudamu memang terdapat seekor kuda jempolan yang sehari bisa menempuh perjalanan sejauh ribuan li, tapi paling cepat kau juga butuh waktu selama empat sampai lima hari untuk bisa sampai di sini.”

Kemudian dia mengangkat kepalanya memandang Kongsun Po-kiam, setelah itu tanyanya lagi: “Apakah sejak lima hari berselang kau sudah dapat memperhitungkan secara tepat bahwa kemarin bakal terjadi peristiwa? Apakah sejak lima hari berselang kau sudah menghitung dengan tepat aku bakal bentrok dengan Cho Tang-lay dan berbalik bermusuhan dengannya?”

“Pernahkah kau bayangkan, siapa tahu akupun mempunyai mata-mata di dalam Toa Piau-kiok?”

“Aku pernah membayangkan sampai ke situ, tapi itupun tak ada gunanya.”

“Mengapa tak berguna?”

“Sebab lima hari berselang, aku sendiri saja tak pernah menduga bakal menjumpai peristiwa seperti hari ini. Darimana orang lain bisa tahu?”

“Bagaimana dengan Cho Tang-lay.”

“Dia sendiripun tak menyangka,” nada suara Suma Cau-kun kedengaran agak sedih dan pedih, “sampai sesaat sebelum terjadinya perselisihan, ia masih belum percaya kalau aku benar-benar akan berselisih dengannya.”

“Oya?”

“Sekalipun ia dapat menduga waktu itu, tak mungkin akan memberitahukan kepadamu.”

“Oya?”

“Aku sudah mempunyai hubungan persahabatan selama puluhan tahun dengannya, sekalipun persahabatan itu hancur dalam sedetik, tapi aku yakin tiada orang kedua di dunia ini yang memahami dia jauh melebihi diriku,” kata Suma Cau-kun, “sekalipun dia hendak mengkhianatiku, tak mungkin dia akan menjualnya kepadamu…..”

“Kenapa?”

“Sebab kau masih belum pantas!” jawaban Suma Cau-kun sangat hambar, “dalam pandangan Cho Tang-lay, kalian dua bersaudara digabungkan menjadi satupun masih tak ada nilainya.”

Setelah menghela napas panjang, dia berkata lebih jauh: “Oleh sebab itu, aku betul-betul tidak mengerti kenapa kau bisa sampai di sini hari ini? Kecuali kau memang benar-benar memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian-kejadian di masa mendatang…….”

Tiba-tiba Kongsun Kay-ji turut menghela napas.

“Walaupun aku tidak memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang, tapi aku bisa menduga sampai ke situ.”

Kongsun Po-kiam segera bertanya kepada saudaranya: “Kau telah menduganya? Apa yang telah kau duga?”

“Tiba-tiba akupun teringat bahwa kau memang seharusnya mengikuti jejakku, lebih banyak bergerak dalam dunia persilatan.”

“Mengapa?”

“Sebab bila kaupun sama liciknya seperti aku, maka kau akan segera memahami maksud perkataannya.”

“Apa maksud perkataannya?”

“Maksud perkataannya tak lebih hanya minta kepada kita untuk lebih lama menemaninya berbincang-bincang, menemaninya bercakap-cakap…..” kata Kongsun Kay-ji, “sebab nyalinya sekarang sudah pecah, semangatnya sudah luntur dan tenaganya sudah habis, dia justru hendak mempergunakan kesempatan di saat kita menemaninya berbincang-bincang, secara diam-diam hawa murninya dipulihkan kembali, dengan begitu bila kita sudah mulai turun tangan nanti, bisa jadi ia masih mampu untuk menahan beberapa jurus serangan kita berdua……”

Kemudian setelah menggelengkan kepalanya sambil menghela napas, dia melanjutkan: “Sebelum tiba di sungai Huang-ho, api tak pernah padam, sebelum melihat peti mati, air mata tak akan mengalir, agaknya sebelum kita sungguh-sungguh membacok batok kepalanya, Suma Cau-kun kita yang kecil ini benar-benar tidak akan kapok.”

Mendadak Suma Cau-kun tertawa, Cu Bong pun juga tertawa, mereka berdua ternyata tertawa tergelak bersama-sama.

“Perkataanmu memang benar, perkataanmu benar sekali!”

Sambil tertawa tergelak, Cu Bong segera menggapai ke arah Kongsun Kay-ji sambil katanya: “Mari, mari, mari kau cepat kemari, makin cepat memang semakin baik.”

“Kau suruh aku ke sana?”

“Oleh karena Cu Toa-tayya sudah tertarik kepada kau si anak jadah cilik yang licik, dan ingin sekali menghadiahkan batok kepala locu kepadamu, maka akan kulihat apakah kau memang berkemampuan untuk mengambilnya sendiri.”

“Bagus sekali!” sambil tertawa tergelak Suma Cau-kun menepuk-nepuk bahu Cu Bong, “kalau begitu kuserahkan si anak jadah cilik ini untukmu, sedangkan si anak jadah yang agak gedean, biar buat aku saja.”

“Baik! Kita tentukan demikian saja,” gelak tertawa Cu Bong semakin keras, “bila dengan andalkan kemampuan kita berdua saja masih belum mampu menghadapi kedua orang telur busuk ini, lebih baik kita segera memberi tahu untuk ditimpukkan dengan kepala kita.”

Mereka berdua segera berdiri berjajar, gelak tertawa bergema memecahkan keheningan, apa itu yang bernama ‘hidup’, apa pula yang bernama ‘mati’, semuanya sudah terguling ke samping oleh gelak tertawa mereka itu.

Paras muka Kongsun bersaudara sama sekali tidak berubah.

Memang ada paras muka sementara orang yang selamanya tak pernah akan berubah, wajah mereka selamanya tak pernah akan memperlihatkan mimik wajah baru.

Kebetulan Kongsun bersaudara termasuk manusia jenis ini.

Hanya saja Kongsun Kay-ji kembali menghela napas, sambil menghela napas dia bertanya kepada saudaranya: “Sudahkah kau dengar perkataan dari saudara ini?”

“Ya, sudah kudengar.”

“Siapa sih saudara itu?”

“Agaknya seperti Cu Bong dari Hiong-say-tong.”

“Aaaahh, tidak mungkin, tidak mungkin Cu Bong,” seru Kongsun Kay-ji cepat, “Cu Bong dari Hiong-say-tong adalah seorang ho-han yang bisa membedakan antara budi dan dendam secara jelas, selama ini dia merupakan musuh bebuyutan dari Suma Cau-kun si bocah cilik keparat muda dari Toa Piau-kiok, tapi sekarang mengapa mereka berdua bisa berubah jadi orang yang memakai satu celana yang sama?”

Tiba-tiba Cu Bong menggenggam lengan Suma Cau-kun kuat-kuat, lalu bertanya dengan suara dalam.

“Sudah kau dengar perkataan dari pengemis busuk itu?”

“Semuanya telah kudengar dengan sangat jelas.”

“Walaupun perkataan dari si pengemis busuk itu rada berbau pengemis, tapi perkataannya justru telah memecahkan keadaan kita pada hari ini,” ucap Cu Bong, “sebetulnya kita adalah musuh bebuyutan, siapa yang bisa menyangka pada hari ini kita justru menjadi sahabat sehidup semati.”

“Kita sudah bersahabat?”

“Benar!” Cu Bong berteriak keras, “mulai hari ini, semua perselisihan dan permusuhan kita di masa lampau telah dihapuskan sama sekali.”

Suma Cau-kun tertawa terbahak-bahak.

“Haaaahh….. haaahhhh….. haaahhh….. bagus, bagus sekali.”

“Sehari kita bersahabat, selama hidup kita tetap bersahabat,” kata Cu Bong lantang, “selama hayat masih dikandung badan, bila aku Cu Bong melanggar janji ini, Thian akan menumpas aku.”

Suma Cau-kun segera merasakan darah panas mendidih dalam dadanya, kontan dia berseru: “Kau tak usah kuatir, kita semua tak bakal mati.”

Gejolak darah panas ini ibarat segumpal api yang membara, dengan cepat mengobarkan kembali semangat mereka, bahkan sisa kekuatan terakhir yang mereka miliki pun turut terbakar keluar.

Sebab mereka sudah tahu kehidupan mereka di dunia ini sesungguhnya tidak kesepian.

Sebab paling tidak mereka masih mempunyai seorang sahabat, seorang sahabat yang bersedia sehidup semati dengannya.

Bila seseorang telah mendapatkan hal seperti ini di dalam hidupnya, mengapa mereka harus takut mati?

Mereka berdua saling menggenggam tangan lawannya kuat-kuat, terasa gulungan darah panas membawa segumpal kekuatan yang maha sakti mengalir keluar dari dalam dada, sehingga wajah merekapun ikut berubah menjadi bercahaya terang.

Paras muka Kongsun bersaudara justru berubah hebat sekarang.

Kini, Cu Bong dan Suma Cau-kun telah membalikkan badan, berdiri dengan punggung menempel di atas punggung.

“Majulah kalian,” seru Suma Cau-kun lantang, “perduli berapa banyak jumlah kalian, silahkan maju bersama-sama.”

—–

Matahari senja telah tenggelam di langit barat.

Sebetulnya Kongsun bersaudara mengira mereka sudah menjadi ikan dalam jala.

Tapi sekarang, mereka berdua mundur sampai dua langkah tanpa terasa.

Kini mereka baru tahu, sekalipun sang pahlawan sudah berada di jalan buntu, namun semangat kepahlawanan mereka tetap tak boleh dipandang enteng.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: