Kumpulan Cerita Silat

24/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 14

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:11 am

Pedang Tetesan Air Mata – 14
Perselisihan
Oleh Gu Long

Cahaya lentera memancar dari lampu kristal, menyoroti sebuah peti yang amat sederhana.

Di bawah lampu pun tampak manusia, namun bukan manusia sederhana pemilik peti itu.

Orang tersebut adalah Cho Tang-lay.

Langit belum terang tanah, maka ia memasang lampu sebagai penerangan.

Cahaya lentera persis menyinari pipi sebelah kirinya yang kelihatan masih rapi.

Separuh wajahnya hari ini tampak seperti wajah seorang ayah yang penuh keramahan dan kasih sayang.

Apabila seseorang sedang merasa puas dan gembira, biasanya dia akan bersikap lebih ramah dan lembut kepada orang lain.

Sekarang Cu Bong sudah berada dalam genggamannya, Hiong-say-tong sudah tumpas dan porak peranda, Ko Cian-hui juga sudah mati, paling tidak dia menganggap Ko Cian-hui sudah mati. Hampir setiap persoalan berada di dalam pengendaliannya.

Musuh tangguh sudah dilenyapkan, kekuasaan berada di tangannya, tiada jagoan dari dunia persilatan yang bisa bersaing dengannya lagi.

Bayangkan saja siapakah yang tak akan merasa puas dengan keadaan seperti ini?

Seluruh usaha dan perjuangannya tak disangkal lagi telah mencapai pada puncak kesuksesan.

Itulah sebabnya dia tidak membunuh Siau Lay-hiat.

Keadaan Siau Lay-hiat sekarang hampir tak berbeda jauh dengan si kakek dalam gardu tersebut, segenap tenaga dalamnya telah punah, dia pun dikurung dalam halaman kecil tersebut, menunggu Cho Tang-lay datang untuk mengeruk seluruh kecerdasan dan segenap rahasia yang dimilikinya.

Untuk melaksanakan pekerjaan seperti ini, Cho Tang-lay dapat melakukannya secara pelan-pelan, sedikitpun ia tidak gelisah ataupun cemas.

Seorang pembunuh yang sama sekali kehilangan tenaga dalamnya, tak ubahnya seperti seorang pelacur tua yang tak sudi dijamah orang lagi, tiada jalan lain yang dapat ia tempuh, tiada tempat yang dapat ia singgahi.

Pekerjaan yang mereka lakukan sama-sama merupakan pekerjaan yang paling kuno dari umat manusia, tapi penderitaan yang mereka rasakan pun merupakan penderitaan yang paling tua dari manusia.

Kini peti senjata Siau Lay-hiat sudah terjatuh ke tangan Cho Tang-lay.

Diapun tahu kalau peti tersebut merupakan senjata yang paling rahasia dan paling menakutkan di dunia ini. Semenjak kematian Nyo Kian, si pengkhianat dari Hiong-say-tong, dia sudah mengetahui tentang betapa menakutkannya senjata tersebut.

Ia percaya dalam dunia persilatan saat ini pasti terdapat banyak orang yang bersedia menjual nyawa mereka guna ditukar dengan senjata tersebut.

Untung saja dia bukan orang-orang tersebut, dia sama sekali berbeda dengan orang-orang lain.

Sekarang peti itu terpapar dihadapannya, tapi dia merasa malas untuk mengusiknya.

Sebab dia merasa masih mempunyai senjata lain yang lebih menakutkan lagi, kecerdasan otaknya merupakan senjatanya yang paling ampuh.

Bila ia sedang mempergunakan kecerdasannya, maka hal ini akan jauh lebih menakutkan daripada siapapun di dunia ini yang mempergunakan senjata tajam.

Biarpun Siau Lay-hiat merupakan jagoan yang tiada duanya di dunia ini, namun selama berada dihadapannya, ia tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk turun tangan.

Biarpun Cu Bong gagah dan perkasa, biarpun pengaruh dan kekuasaan Hiong-say-tong amat besar, namun dia toh sanggup menghancurkan mereka secara mudah.

Ia dapat melakukan kesemuanya ini karena bukan saja dia dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, bahkan diapun pandai menciptakan kesempatan.

Di saat orang lain menganggap dia sudah kalah, di saat keadaannya makin kritis, bukan saja hatinya tidak menjadi gugup atau kalut, malahan ia dapat menciptakan kesempatan yang baik untuk merobohkan lawan, dari kalah meraih kemenangan.

Hanya manusia semacam inilah yang baru benar-benar merupakan seorang manusia yang tangguh.

Golok atau pedang atau senjata apapun, termasuk peti tersebut sesungguhnya tak lebih hanya senjata yang diandalkan pesilat kasaran belaka.

Tapi rasanya kemenangan hanya bisa dicicipi dengan pelan dan lambat, dengan begitu baru akan terasa nikmatnya,

—–

Cho Kim sudah lama menanti dihadapannya, maka secara diam-diam ia berniat mengundurkan diri.

Tiba-tiba Cho Tang-lay menegurnya dengan mempergunakan suara yang lembut dan halus.

“Kau sudah semalaman sengsara, mengapa tidak duduk dan minum secawan arak?”

“Aku tak bisa minum arak.”

“Kau boleh belajar minum,” Cho Tang-lay tersenyum, “minum arak sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang sukar.”

“Tapi sekarang masih belum saatnya bagiku untuk belajar minum arak.”

“Sampai kapan kau baru akan mulai belajar?” senyum Cho Tang-lay mulai bersembunyi di balik bayangan gelap, “apakah hendak menunggu sampai kau bisa…….”

Ia tidak menyelesaikan perkataan tersebut, mendadak ia mengalihkan pembicaraan ke soal lain. Tanyanya kepada Cho Kim.

“Siau-sianseng sudah kau atur secara baik-baik?”

“Sudah!”

“Sewaktu kau pergi tadi, bagaimanakah keadaannya? Apakah dia mengatakan sesuatu?”

“Tidak! Dia masih seperti tadi, seolah-olah sama sekali acuh tak acuh terhadap persoalan yang ada.”

“Bagus sekali!” Cho Tang-lay kembali tersenyum, “hanya manusia yang bisa menerima takdir dan berusaha menenteramkan diri baru merupakan orang yang cerdik, hanya manusia semacam ini yang bisa hidup panjang umur.”

“Benar!”

Kembali Cho Tang-lay berkata sambil tersenyum: “Ada kalanya aku merasa banyak hal yang dia miliki mirip dengan diriku, apa yang tak bisa dilakukan oleh sendiri, bukan saja dia tak akan melakukannya bahkan dipikirkan pun tidak.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan hambar: “Bila seseorang selalu senang melakukan pekerjaan yang tak bisa dilakukan oleh dirinya sendiri, tak urung dia akan mati juga akhirnya karena tergencet, Ko Cian-hui merupakan contoh yang terbaik.”

“Ko Cian-hui bukan contoh yang terbaik!” tiba-tiba Cho Kim berseru.

“Dia bukan? Mengapa bukan?”

“Sebab dia belum mati.”

“Kaupun tahu kalau dia belum mati?”

“Ya, aku tahu. The Seng menyaksikan dengan mata kepala sendiri dia keluar dari kota kemarin sore sambil menenteng pedang.”

“The Seng?” Cho Tang-lay seperti berusaha mencari nama itu dari balik ingatannya, “dari mana kau bisa tahu kalau dia benar-benar telah melihat Ko Cian-hui?”

“Begitu ia saksikan jejak Ko Cian-hui, The Seng segera pulang dan melaporkan kejadian tersebut kepadaku.”

“Dan kau percaya dengan perkataannya?”

“Aku percaya.”

Senyuman yang menghiasi wajah Cho Tang-lay kembali lenyap dari pandangan, katanya kemudian dengan suara lebih lembut: “Betul! Kau memang seharusnya percaya kepadanya. Bila kau ingin orang lain percaya kepadamu, kau harus membuat dia tahu bahwa kaupun sangat mempercayai dirinya.”

Mendadak dia seperti merasa kalau ucapan semacam itu tak patut diutarakan keluar, maka segera pembicaraan dialihkan ke soal lain.” Dapatkah kau pikirkan Ko Cian-hui bisa pergi kemana?”

“Aku pikir dia pasti akan pergi ke rumah pelacuran di Ang-hoa-ki untuk mencari Cu Bong, sekalipun Cu Bong tidak berada di sana, Ko Cian-hui pasti dapat menemukan jejaknya. Itulah sebabnya aku tidak menyuruh The Seng menguntitnya, asal dia masih berada di Tiang-an berarti dia masih berada dalam cengkeraman kita.”

Cho Tang-lay kembali tertawa, kali ini dia tertawa dengan penuh riang gembira.

“Sekarang kau sudah mulai belajar minum arak,” kata Cho Tang-lay kemudian, “kau sudah pantas untuk minum arak, bahkan jauh lebih pantas dari kebanyakan orang lainnya untuk minum arak.”

Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan menyodorkan cawan yang dipakainya selama iuni ke hadapan Cho Kim.

Cho Kim segera menerimanya dan sekali teguk menghabiskan isi cawannya.

Arak itu manis, namun dalam mulutnya terasa pahit dan getir. Ia telah menyadari kelewat banyak perkataan yang diucapkannya hari ini, bila dapat menarik kembali seluruh perkataan yang telah diutarakan tadi, ia rela mengorbankan sebuah lengan sendiri.

Cho Tang-lay sendiri justru seolah-olah tidak merasakan reaksinya itu, sambil menerima kembali cawan kosong, dia memenuhi dengan arak kembali dan menghirupnya setegukan.

“Siau Lay-hiat sudah tahu kalau Ko Cian-hui merupakan bencana besar di dalam kehidupannya, sedang Siau Lay-hiat belum pernah merasa menyesal, mengapa ia tidak membunuh Ko Cian-hui, walaupun sudah menerima kontrak surat perjanjiannya.”

Setelah termenung beberapa saat, Cho Tang-lay berkata lagi: “Mungkinkah di antara mereka terdapat sesuatu hubungan istimewa? Tapi hubungan apakah itu?”

Mendadak dia meneguk habis isi cawannya, kemudian sambil memancarkan sinar tajam dari balik matanya, dia berkata lebih jauh.

“Mungkin hubungan di antara mereka hanya si kakek itu yang bisa memastikan. Siau Lay-hiat ingin menanyakan sesuatu kepada si kakek itu tentulah persoalan ini yang hendak ditanyakan dan persoalan tersebut pasti amat penting artinya, itulah sebabnya kematian dari kakek tersebut menimbulkan hawa nafsu membunuh dalam hatinya karena setelah kematian dari kakek itu, tiada orang lagi di dunia ini yang bisa mengetahui sebetulnya Ko Cian-hui adalah putranya atau bukan.”

“Putranya?”

Sebenarnya Cho Kim sudah berniat tetap membungkam, tapi toh akhirnya tak tahan untuk berseru juga: “Bagaimana mungkin Ko Cian-hui adalah putra Siau Lay-hiat?”

“Jadi kau anggap hal seperti ini tak mungkin terjadi?”

Setelah tertawa dingin, Cho Tang-lay berkata lebih jauh: “Ko Cian-hui tak lebih hanya seorang pemuda yang sama sekali tak punya nama dan kedudukan, mengapa Siau Lay-hiat yang kejam dan tak berperasaan malah menolong jiwanya? Apabila di antara mereka tiada sesuatu hubungan yang khusus, biarpun ada sepuluh laksa Ko Cian-hui yang mau mampus di hadapan Siau Lay-hiat, dia tak akan menggerakkan jari tangannya untuk menolong.”

Ia memandang ke arah Cho Kim, nada suaranya juga berubah menjadi lembut kembali.

“Kau harus percaya kepadaku, persoalan apapun mungkin bisa terjadi seperti misalnya Cu Bong seorang lelaki sejati yang berjiwa jantan dan perkasa, mengapa dia justru keok di tangan seorang wanita? Tapi dia toh akhirnya kalah, kalah secara mengenaskan, demikian pula dengan Siau Lay-hiat, siapa yang menduga dia bakal menderita kejadian seperti hari ini?”

Sesudah menghela napas panjang, terusnya: “Padahal, demikian juga dengan aku, siapa yang bisa menduga aku bakal kalah di tangan seseorang di kemudian hari?”

Mungkin ucapan tersebut bukan kata yang sejujurnya, namun dibalik perkataan itu terkandung suatu falsafah hidup yang mungkin bisa diresapi maknanya.

Tiba-tiba Cho Kim mengundurkan diri.

Dia tahu sekarang sudah mencapai saatnya dia harus mundur dari situ, karena dia tahu Suma Cau-kun sudah datang.

Ia mendengar suara dari Suma Cau-kun sedang berkata: “Benar! Persoalan seperti ini pada hakekatnya memang tak pernah diduga oleh siapapun.”

—–

Pintu terbuka lebar.

Suma Cau-kun berdiri persis di depan pintu, sementara kabut tebal berwarna putih menyelimuti suasana di luar sana.

Dia sudah berusia pertengahan, pakaian dan rambutnya nampak amat kusut setelah menempuh perjalanan jauh, dia memang kelihatan lelah sekali.

Tapi sewaktu berdiri di situ, ia nampak begitu gagah, tampan dan perkasa, jauh melebihi usia yang sebenarnya.

Di antara kabut yang tebal dan cahaya lentera dalam kamar, dia nampak seperti malaikat langit dalam lukisan.

Sewaktu Cho Tang-lay memandang ke arahnya, sorot matanya memancarkan sinar kagum. Dengan cepat ia bangkit berdiri dan menuangkan secawan arak baginya.

Mengapa kau harus ke Lok-yang? Mengapa harus pura-pura sakit untuk membohongi diriku?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak sepatah katapun yang disinggung oleh Cho Tang-lay.

Di saat dia menemukan sikap dan perasaan Suma Cau-kun sedang tidak gembira, dia selalu menghindarkan diri untuk menyinggung persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan ini.

“Kau tentu sangat lelah, pasti terburu-buru untuk mengejar perjalanan, sebetulnya menurut dugaanku, besok atau lusa kau baru akan kembali ke sini,” kata Cho Tang-lay. Setelah tersenyum, terusnya: “Bagaimanakah keadaan cuaca di Lok-yang?”

Suma Cau-kun hanya membungkam, sikapnya nampak sedikit agak aneh. Lewat lama kemudian, ia baru menyahut: “Cuaca di sana sangat baik, jauh lebih baik daripada di sini. Darah yang berceceran di tanah pun dengan cepat mengering, jauh lebih cepat daripada di sini.”

Nada suaranya kedengaran sedikit rada aneh, namun Cho Tang-lay sendiripun seolah-olah tidak merasakan.

“Bila darah sudah mengalir, cepat atau lambat pasti akan mengering kembali,” kata Suma Cau-kun lagi, “cepat mengering atau terlambat mengeringnya, sesungguhnya tiada sangkut pautnya dengan diriku.”

“Ya, memang banyak kejadian di dunia ini yang demikian keadaannya.”

“Tapi banyak pula kejadian yang tidak begitu.”

“Oya?”

“Bila manusia hidup di dunia ini, cepat atau lambat pasti akan mati, tapi cepat mati atau lambat matinya mempunyai perbedaan yang sangat besar, seperti misalnya kau hendak membunuh seseorang, dapatkah kau menunggu dia sampai mati lebih dulu baru turun tangan?”

“Tidak dapat! Membunuh harus dilakukan seketika, bila waktu sudah lewat, maka keadaan pun berbeda, situasinya akan berubah pula.”

Sambil tersenyum dia angkat cawannya dan berkata lebih jauh: “Seperti misalnya minum arak, minum arak harus seketika, bila kau tidak meneguknya dengan segera, tapi meninggalkan untuk beberapa saat, arak tersebut tentu akan berubah menjadi kecut.”

“Betul! Perkataanmu memang tepat sekali,” kata Suma Cau-kun menyetujui dengan cepat, “perkataanmu itu seolah-olah tak pernah bersalah untuk selamanya.”

Kemudian setelah meneguk habis isi cawannya, dia berkata lagi: “Dengan cawan ini kuhormati dirimu, karena kau telah mewakili Toa Piau-kiok kita untuk meraih suatu kemenangan yang gilang gemilang.”

“Jadi kau sudah mengetahui semua persoalan di sini?”

“Aku tahu! Aku sudah pulang cukup lama, sudah kupikirkan cukup lama semua persoalan ini.”

“Persoalan apa?”

“Persoalanmu!”

Mimik muka Suma Cau-kun kelihatan bertambah aneh.

“Telah kupikirkan dengan seksama setiap persoalan yang telah kau lakukan bagiku selama tiga puluh tahun terakhir ini. Semakin kupikirkan, aku merasa kau benar-benar seorang manusia yang luar biasa. Aku memang benar-benar tak mampu menandingimu.”

Senyuman masih tetap menghiasi Cho Tang-lay, tapi senyuman tersebut sudah berubah menjadi kaku.

“Mengapa kau harus memikirkan persoalan-persoalan seperti itu?”

Suma Cau-kun tidak menjawab pertanyaan itu, dia malah membalikkan badan.

“Mari ikutilah aku” katanya, “akan ku ajak kau menjumpai beberapa orang, setelah kau jumpai mereka, pasti akan segera kau pahami.”

—–

Fajar baru menyingsing.

Kabut yang menyelimuti tempat itupun semakin tebal.

Dalam kebun kecil ini tiada tanaman bunga, tapi penuh dengan tanaman kol, wortel, gambas dan sayur-sayuran.

Semua sayuran itu hasil tanaman Go Wan sendiri.

Suma Cau-kun memang gemar makan sayur-sayuran yang masih segar dan baru dipetik.

Itulah sebabnya dalam kebun itu tiada bunga, melainkan aneka macam sayur-sayuran.

Setiap pekerjaan yang dilakukan Go Wan, hampir semuanya demi suaminya, suaminya dan kedua orang anak mereka.

Anak-anak mereka selalu penurut dan pintar, sebab sejak kecil Go Wan telah mendidik mereka secara baik, belum pernah membiarkan mereka mengetahui urusan orang tua, juga tak pernah membiarkan mereka berkeliaran di luar.

Yang dimaksudkan sebagai di luar adalah lingkungan Toa Piau-kiok, di daerah yang tidak seharusnya dilihat dan dikunjungi oleh kanak-kanak.

Kebun kecil dan sebuah loteng kecil di belakangnya merupakan dunianya Go Wan dan anak-anaknya.

Sampai di situ, Cho Tang-lay baru ingat sudah beberapa hari ini tidak menjumpai mereka.

Jelas hal ini merupakan suatu keteledoran baginya.

Demi hubungannya dengan Suma Cau-kun, demi masa depan Toa Piau-kiok, ia bertekad tak akan menyinggung lagi peristiwa Kwik Ceng, bahkan akan bersikap lebih baik dan lebih luwes lagi terhadap Go Wan serta anak-anaknya.

Di bawah loteng ada dua ruang tamu, sebuah ruang tamu utama dan sebuah ruangan untuk minum arak.

Walaupun di tempat tersebut jarang dikunjungi tamu, Go Wan masih tetap mengatur ke dua buah ruangannya dengan rapi dan nyaman.

Di atasnya tempat tidur anak-anak mereka, dengan seorang mak inang dan dua orang budak yang di bawa dari rumah sebelum menikah dulu, untuk tinggal bersama mereka.

Tapi suaminya tidak tinggal di sana.

Suma Cau-kun sangat baik kepadanya, terhadap anak-anak pun sangat baik, tapi setiap malam tak pernah berdiam di sana.

Fajar belum menyingsing, di atas loteng pun belum ada cahaya lentera.

Mungkinkah Go Wan dan anak-anaknya masih tertidur nyenyak?

Mengapa Suma Cau-kun membawa dirinya datang untuk menengok mereka?

Cho Tang-lay benar-benar tidak habis mengerti.

Jendela kamar ternyata dibiarkan terbuka lebar.

Kabut putih yang berhembus lewat menciptakan suasana kelabu di sekitar sana, membuat ruangan tersebut nampak menyeramkan.

Seorang ibu yang baik, ibu yang teliti, mengapa membiarkan anak-anaknya tidur dalam kedinginan?

Di situ tak ada lampu, tak ada api. Tapi angin menghembus amat kencang.

Dipandang dari balik kabut yang berwarna kelabu, dalam ruangan tersebut seolah-olah terdapat sesuatu benda yang sedang bergoyang terhembus angin.

Tergantung di tengah udara dan bergoyang tiada hentinya.

Mengapa bisa tergantung di tengah udara? Manusiakah, tapi siapakah dia?

Tiba-tiba Cho Tang-lay merasakan hatinya seolah-olah tenggelam, kelopak matanya mendadak menyusut kencang.

Dia memiliki sepasang mata yang amat tajam bagaikan mata Elang, apalagi setelah berlatih diri selama banyak tahun.

Sekarang dia sudah dapat melihat bahwa yang tergantung di udara itu adalah manusia, bahkan dapat terlihat orang itu menggantung diri dengan seutas tali.

Orang tersebut tak lain adalah Go Wan.

Sebuah tali telah dibuatkan simpul mati dan ujung tali diikatkan pada tiang rumah, sementara ujung yang lain diikatkan pada tengkuk sendiri, menjirat di atas leher sendiri.

Begitu kakinya meninggalkan tanah, simpul talipun akan menjirat lehernya yang akan berakibat kematian.

Selain Go Wan, dalam ruangan itu masih terdapat orang-orang yang lain, seorang mak inang berambut putih, dua orang dayang muda dan sepasang bocah yang menawan hati, begitu menawan sehingga menimbulkan rasa senang bagi siapapun yang melihatnya.

Tapi sekarang, si mak inang tak pernah akan berubah lebih tua lagi, si dayangpun tak akan mengeluh masa remaja mereka yang hampir lewat.

Anak-anakpun tak akan menimbulkan rasa senang bagi yang memandangnya, sebaliknya hanya akan menimbulkan perasaan sedih dan penderitaan belaka.

“Aku merasa bersalah kepadamu, maka aku mati. Aku pantas mati dan akupun harus mati.

Anak-anak tidak semestinya mati, tapi akupun terpaksa mengajak mereka menemani aku untuk mati. Aku tak ingin membiarkan mereka menjadi anak yang tak beribu, akupun tak ingin membiarkan mereka setelah dewasa menjadi manusia macam Cho Tang-lay, sahabat karibmu itu.

Ciu Ma adalah mak inangku, sejak kecil akupun menjadi dewasa karena menyusui darinya, selama ini dia selalu menganggap aku sebagai puterinya. Siau-hun dan Siau-hong ku anggap sebagai saudara angkatku sendiri. Setelah aku mati, merekapun tak ingin hidup terus, maka kami semua mati bersama-sama.

Aku tidak mengharapkan kau memaafkan aku, asal kau bisa hidup terus secara baik-baik, akupun tahu, tanpa kami pun kau pasti masih bisa hidup terus secara baik-baik.”

Udara amat dingin, dingin membekukan badan.

Belum pernah Cho Tang-lay merasa kedinginan seperti ini.

Kamar tidur itu ternyata menjadi kuburan massal, dan dia sendiripun berada dalam kuburan ini.

Seluruh tubuhnya, darahnya, seakan-akan ikut menjadi dingin membeku.

“Apa yang telah terjadi? Kapan peristiwa ini berlangsung? Mengapa Go Wan mati?”

Sederet pertanyaan diutarakan Cho Tang-lay tanpa terasa.

“Kau tidak tahu?” seru Suma Cau-kun.

“Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu!”

“Paling tidak mereka telah mati empat hari lamanya, masa kau masih tidak tahu?” nada suara Suma Cau-kun lebih dingin dari es, “kau betul-betul sangat memperhatikan mereka, aku memang sepantasnya berterima kasih kepadamu.”

Kata-kata tersebut bagaikan sebatang jarum panjang yang dingin seperti es menghunjam dari batok kepala Cho Tang-lay, dan tembus hingga ke dasar kakinya.

Sebenarnya ia mempunyai banyak alasan untuk memberi penjelasan kepadanya.

Beberapa hari belakangan ini, segenap kekuatan dan pikirannya ditujukan untuk menghadapi Hiong-say-tong, tempat inipun termasuk dunianya Go Wan dan anak-anak, jarang ada orang Toa Piau-kiok yang berkunjung ke situ.

Namun ia tidak memberi penjelasan.

Persoalan seperti ini pada hakekatnya sukar dijelaskan, betapapun ia berusaha memberi penjelasan, hal ini sama sekali tak ada gunanya.

Suma Cau-kun tidak memandang sekejappun ke arahnya, dia sendiripun tidak memperhatikan perubahan wajah dari Cho Tang-lay.

“Kau bertanya kepadaku mengapa Go Wan bisa mati? Sebenarnya aku sendiripun tidak mengerti,” kata Suma Cau-kun, “usianya belum tua, kesehatan badannya selama inipun sangat baik, dia juga suka dengan anak-anak, meskipun dia tidak terlalu setia kepadaku, namun selalu berusaha menunaikan tugas dan kewajiban sebagai istri.”

Suaranya tenang dan tanpa emosi, seakan-akan sedang mengutarakan sesuatu yang biasa.

“Sebaliknya aku tak pernah mewujudkan tugas dan kewajibanku sebagai seorang suami, maka yang salah adalah aku, bukan dia.”

“Kaupun mengetahui tentang peristiwa itu?”

“Aku tahu! Sudah lama mengetahuinya. Sebagai seorang suami belum tentu harus mengetahui paling akhir, akupun tahu peristiwa tersebut dengan cepat akan terlalui. Dia masih bisa menjadi istriku yang baik, masih bisa merawat anak-anakku secara baik.”

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lagi dengan hambar.

“Aku toh sudah bertekad hendak mengikuti cara dan maksudmu untuk menjadi seorang Enghiong yang luar biasa, maka aku wajib membayar segala pengorbanan.”

“Maka kaupun berlagak tidak tahu?” tanya Cho Tang-lay.

“Benar! Sebab bila aku tahu maka aku pasti akan membunuhnya. Dalam satu keluarga seorang Enghiong, tidak diperkenankan sampai terjadinya peristiwa semacam ini, tentu saja aku harus menghabisi nyawanya.”

Setelah berhenti sebentar, dia meneruskan: “Oleh sebab itu akupun terpaksa berlagak tidak tahu, karena di sinilah terletak rumah tanggaku, dalam keadaan yang bagaimanapun juga, aku tak bisa menghancurkan rumah tangga ini. Bukan saja aku berpura-pura tak tahu, bahkan akupun harus berbuat sehingga dia mengira aku sama sekali tak tahu, dengan begitu rumah tangga ini baru bisa dijaga keutuhannya.”

Cho Tang-lay segera menunjukkan perasaan kaget dan tercengang. Hingga kini dia baru tahu bahwa sebelum ini pada hakekatnya ia belum memahami sama sekali tentang Suma Cau-kun. Dia belum pernah tahu kalau Suma Cau-kun masih memiliki perangai seperti ini. Ternyata dia adalah seorang manusia berperasaan, menghadapi kejadian seperti inipun masih bisa memikirkan kepentingan orang lain.

“Sesungguhnya tiada lelaki di dunia ini yang sanggup menahan diri bila menghadapi kejadian seperti ini, tapi aku sudah berpikir lebih mendalam. Andaikata kejadian tersebut telah berlalu, bila anak-anak telah dewasa, kita masih dapat bersikap seakan-akan suami isteri yang berbahagia, hidup berdampingan sampai di akhir hari tua.”

Mendadak ia membalikkan tubuhnya menghadap Cho Tang-lay, lalu serunya lagi: “Andaikata bukan kau yang mendesaknya mati, kami pasti masih bisa hidup seperti ini.”

“Aku memaksanya mati?” suara Cho Tang-lay menjadi parau, “kau anggap aku yang memaksanya mati?”

“Bukan hanya dia dan Kwik Ceng yang mati karena kau desak, lambat-laun akupun bakal mati karena tekananmu, sebab selamanya kau menginginkan orang lain hidup menurut cara dan peraturanmu.”

Setelah menatap Cho Tang-lay tajam-tajam, ia berkata lebih jauh: “Oleh karena kau punya penyakit dalam hatimu, meski diluar kau bersikap angkuh dan tinggi hati, padahal dalam hati kecilmu tak pernah memandang sebelah matapun terhadap diri sendiri, maka kau menyuruh aku mewakilimu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya kau lakukan sendiri, kau hendak menciptakan aku sebagai lambang dari seorang Enghiong, karena di hati kecilmu kau telah menganggap aku sebagai penggantimu, dengan tak segan-segan kau akan memaksanya dan memojokkannya sampai mati.”

Sebagai akhir kata, Suma Cau-kun kembali menambahkan: “Inilah yang menjadi alasan dari kematian Go Wan, karena kau merasa dia sudah mulai merintangimu.”

Cho Tang-lay termenung, termenung sampai lama, lama sekali.

Beberapa waktu kemudian ia baru bertanya: “Tadi kau memberitahukan kepadaku, bahwa kau sudah berpikir sangat lama, memikirkan banyak masalah, apakah hal ini dikarenakan kau merasa bahwa sekarang sudah saatnya bagimu untuk mengambil keputusan?”

“Benar!”

“Apakah kau sudah mempunyai keputusan sekarang?”

“Benar!”

“Kau telah memutuskan untuk berbuat bagaimana di kemudian hari?”

“Bukan untuk di kemudian hari, tapi sekarang,” kata Suma Cau-kun, “sekarang aku menyuruh kau pergi, selama hidup jangan bertemu lagi dengan diriku, selama hidup tak usah mencampuri urusanku lagi.”

Mendadak Cho Tang-lay menjadi limbung, seolah-olah tak sanggup lagi untuk berdiri tegak, seperti kepalanya dihantam orang dengan toya besar secara tiba-tiba.

“Terserah apa saja yang hendak kau bawa pergi, pokoknya kau harus pergi dari sini,” Suma Cau-kun menandaskan, “sebelum matahari terbenam hari ini, kau harus sudah meninggalkan Tiang-an sejauh-jauhnya.”

Tiba-tiba Cho Tang-lay tertawa.

“Aku mengerti! Ucapan semacam ini bukan kau utarakan dengan kesungguhan hati,” katanya lembut, “kau hanya merasa batinmu tertekan, kau merasa kelelahan, asal beristirahat sebentar saja maka kau akan melupakan semua perkataan tersebut.”

“Kali ini kau keliru besar,” tukas Suma Cau-kun sambil menatapnya dingin, “kau masih ingat dengan apa yang barusan kita bicarakan? Bila ingin membunuh harus dikerjakan segera, jangan sampai kesempatan dibiarkan berlalu, dan begitu pula dengan kejadian sekarang.”

Kelopak mata Cho Tang-lay mulai berkerut kencang.

“Bagaimana kalau aku tak mau pergi?” katanya sepatah demi sepatah, “bila aku menolak untuk pergi, apakah kau akan membunuhku?”

“Benar!” dengan nada yang sama sepatah demi sepatah, Suma Cau-kun menjawab, “bila kau menolak untuk angkat kaki, maka aku akan segera menghabisi nyawamu.”

—–

Lambat laun pagi haripun menjelang tiba, namun suasana di dalam ruangan tersebut justru berubah semakin seram dan mengerikan.

Sebab dengan mencorongnya cahaya matahari, maka paras muka mayat-mayat yang mengerikan pun tampak lebih jelas.

Di masa mereka masih hidup, orang-orang itu memang nampak menawan, tapi setelah mati, mereka justru nampak seram dan menakutkan.

Cho Tang-lay berdiri berhadapan muka dengan Suma Cau-kun, mereka membiarkan angin dingin yang tajam bagaikan sayatan golok menerpa wajah mereka.

“Sebenarnya aku bersedia pergi, manusia macam aku bisa saja pergi ke mana pun,” ujar Cho Tang-lay, “tapi aku tak dapat pergi.”

Nada suaranya pun berubah menjadi dingin dan menggidikkan hati.

“Sebab aku telah mengorbankan seluruh pikiran dan keringat untuk menciptakan seorang manusia seperti kau. Aku tak dapat membiarkan kau musnah di tangan orang lain. Tentunya kau tahu bukan perangaiku? Masih banyak masalah yang aku rela kerjakan sendiri.”

“Ya, aku memang tahu!”

“Bukankah kita selalu dapat saling memahami?”

“Benar!” Suma Cau-kun mengangguk, “itulah sebabnya aku telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.”

“Sejak kapan kau telah mempersiapkan diri?”

“Sekaranglah aku sedang mempersiapkan diri. Bila ingin membunuh, maka lakukan dengan segera. Perkataan ini pasti akan kuingat selalu dalam benakku.”

“Di mana kau mempersiapkan diri?”

“Di tempat ini juga!”

Suma Cau-kun memandang sekejap mayat-mayat dalam ruangan, semasa hidupnya mayat-mayat itu merupakan orang yang paling dekat dengannya, mereka semua mempunyai hubungan perasaan yang tak akan terlupakan dengannya, dan kematian mereka pasti akan mendatangkan perasaan sedih dan menyesal yang berkepanjangan.

Bahkan termasuk juga Cho Tang-lay sendiri.

Bila Cho Tang-lay juga mati di sini, maka salah satu bagian yang terpenting dari kehidupannya akan musnah pula di sini.

“Di tempat inilah!” Suma Cau-kun berkata, “bukankah tiada tempat lain yang jauh bagus daripada tempat ini?”

“Ya, memang tidak ada. Benar-benar tidak ada!” Cho Tang-lay menghela napas panjang.

Dalam dunia ini terdapat semacam orang yang sangat istimewa, di hari-hari biasa mungkin tak akan kau temui biar dicari ke manapun, tapi di saat kau membutuhkannya, dia pasti berada di sisimu dan tidak akan membuat kau merasa kecewa.

Cho Kim adalah manusia semacam ini.

“Cho Kim, masuk kau!”

Cho Tang-lay seolah-olah tahu kalau Cho Kim pasti berada di sekitarnya, asal dia memanggil, orangnya pasti akan menampakkan diri.

Betul juga. Cho Kim memang tidak membuatnya kecewa. Cho Kim seperti tidak pernah membuat siapa saja merasa kecewa.

Semenjak Cho Kim masih kecil dulu, ia sudah tak pernah membuat orang merasa kecewa. Tapi hari ini ia nampak agak lelah, pakaiannya masih pakaian yang dikenakan kemarin, bahkan lumpur di sepatunyapun belum sempat dibersihkan.

Di hari-hari biasa, bukan begitu tampangnya.

Di hari-hari biasa, betapapun repotnya dia, pasti akan meluangkan waktu untuk membenahi dandanannya, karena dia tahu Cho Tang-lay dan Suma Cau-kun adalah orang-orang yang sangat memperhatikan tentang soal ini.

Untung saja Cho Tang-lay tidak terlalu memperhatikan soal ini sekarang, dia hanya memberi pesan secara ringkas.

“Berlututlah kau dan sembahlah Suma Toaya.”

Cho Kim segera berlutut dan menyembah, sedangkan Suma Cau-kun tidak berusaha untuk menghalanginya, sorot matanya masih mengawasi ke arah Cho Tang-lay tanpa berkedip.

“Kau tak usah menyuruh dia berlutut dan menyembah,” kata Suma Cau-kun, “aku tahu bahwa dia adalah putra angkatmu karena kau tak punya putra, aku pasti akan mempertahankan keturunan dari marga Cho ini. Bila kau mati, aku pasti akan merawat dan memperhatikannya secara baik.”

Tak tahan dia menengok ke arah putra sendiri, sorot matanya segera memancarkan sinar kepedihan dan amarah.

“Paling tidak, aku tak akan berbuat seperti kau memperhatikan putraku.”

“Aku percaya, aku percaya kepadamu sepenuhnya.” kata Cho Tang-lay cepat.

Ketika dilihatnya Cho Kim sudah selesai menyembah dan bangkit berdiri, dia berkata lebih jauh: “Kau sudah mendengar perkataan dari Suma Toaya, kaupun seharusnya tahu, Suma Toaya tak pernah ingkar janji kepada siapa saja. Bila dia yang merawatmu sudah pasti jauh lebih baik daripada aku yang memperhatikan dirimu.”

“Aku mengerti,” suara Cho Kim pun berubah menjadi parau karena rasa harunya, “tapi dalam kehidupanku kali ini, aku tak akan berganti marga lagi.”

“Kau mesti ingat, bila aku sudah mati, maka kau harus bersikap baik kepada Suma Toaya seperti sikapmu kepadaku sekarang.”

Tampaknya Cho Tang-lay dipengaruhi pula oleh emosi.

“Biarpun di antara aku dan Suma Toaya telah terjadi persoalan apapun, itu merupakan urusan pribadi kami sendiri, bukan saja kau tak boleh menaruh perasan benci, lagi pula tak boleh menceritakan apapun yang kau saksikan hari ini kepada siapapun.”

“Aku tahu!” ucap Cho Kim sedih, “aku pasti akan melakukan seperti apa yang kau inginkan, sekalipun kau menyuruh aku mati, aku tetap akan menerimanya.”

Cho Tang-lay segera menghela napas panjang.

“Kau memang selalu merupakan seorang anak baik, di kemudian hari kau tentu akan berhasil.”

Lalu sambil menatap tajam wajah Cho Kim, kembali dia berkata: “Kemarilah kau, ada semacam barang yang hendak kuberikan kepadamu, entah aku mati atau hidup, kau harus menyimpannya secara baik-baik.”

“Baik!”

Cho Kim pelan-pelan berjalan mendekat. Tiba-tiba dari balik matanya memancarkan sinar kepedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, seolah-olah dia sudah menduga kalau suatu peristiwa yang menyedihkan dan menakutkan bakal terjadi.

Dia tidak berusaha untuk menghindar, sebab diapun tahu, peristiwa seperti ini tak mungkin bisa dihindari.

Suma Cau-kun berpaling dan tidak memperhatikan kedua orang itu lagi.

Ia telah bertekad, tak akan terpengaruh oleh siapapun dan tak akan berubah pendapat dikarenakan persoalan apapun.

Kemudian ia mendengar suara yang sangat aneh, seperti kulit yang dirobek.

Menanti dia berpaling lagi, dijumpainya Cho Tang-lay telah menghunjamkan pisaunya ke ulu hati Cho Kim.

Cho Kim mundur setengah langkah, kemudian pelan-pelan roboh ke atas tanah.

Sepanjang kejadian, dia sama sekali tidak berteriak.

Paras mukanya yang pucat pias pun tidak memperlihatkan perasaan sakit, menderita, kaget dan tercengang, seakan-akan kejadian tersebut sudah berada di dalam dugaannya.

Hal itu bukan dikarenakan gerak serangan dari Cho Tang-lay yang kelewat cepat, sebaliknya dikarenakan ia sudah membuat persiapan. Sebelum maju mendekat, dia seakan-akan sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Malah sebaliknya paras muka Suma Cau-kun yang memperlihatkan perubahan dan menunjukkan rasa kaget bercampur tercengang.

“Mengapa kau membunuhnya?” Suma Cau-kun segera membentak, “apakah kau takut aku menyiksanya setelah kematianmu nanti?”

“Bukan! Kau berjiwa besar dan berwelas asih, tak mungkin akan kau lakukan perbuatan seperti itu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan suara yang sangat tenang ia berkata lebih jauh: “Aku membunuhnya karena aku tak bisa membiarkan dia hidup untukmu…..”

“Mengapa?”

“Karena dia adalah seorang manusia yang sangat berbahaya, licik dan kejam. Sekarang usianya masih begitu muda dan aku masih bisa membunuhnya, bila dibiarkan hidup beberapa tahun lagi, mungkin aku sendiripun bukan tandingannya.”

Dia melepaskan mantel kulit binatangnya dan dipakai untuk menutupi jenasah Cho Kim. Beberapa gerakan yang dilakukan olehnya ini dilakukan dengan lemah lembut seperti seorang ayah yang menutupi jenasah anaknya.

Walaupun begitu, nada suaranya justru dingin dan sama sekali tiada perasaan.

“Sekarang dia sudah memupuk kekuatan sendiri, bila aku masih hidup, aku masih dapat mengendalikan dia, tapi kalau aku sudah mati, dalam dua tiga tahun saja, dia sudah pasti dapat menduduki jabatanmu sekarang, dan kemudian dia akan membinasakan dirimu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya lagi dengan suara hambar: “Bila aku harus membiarkan seorang manusia yang begitu berbahaya hidup di sampingmu, sudah pasti aku tak bisa hidup dengan perasaan tenang.”

Semua perkataan itu diutarakan dengan nada datar dan hambar, sedemikian datar dan hambarnya seolah-olah dia baru saja membunuh seekor nyamuk belaka.

Dia seperti tak ingin membiarkan Suma Cau-kun tahu, bahwa bagaimanapun licik, kejam dan buasnya dia terhadap orang lain, namun perasaannya terhadap Suma Cau-kun tetap bersungguh-sungguh.

Dalam hal ini, memang tiada orang yang bisa menyangkal lagi atas kenyataan tersebut.

Suma Cau-kun mengepal sepasang tinjunya keras-keras, darah segar yang mengalir dalam setiap urat nadinya seolah-olah telah mendidih.

Tapi dia berusaha keras untuk mengendalikan diri, sebab dia sudah tak ingin hidup seperti dahulu lagi, hidup di dalam pengekangan.

Bagaimanapun juga, dia adalah seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, dia enggan menjadi seorang boneka.

Mayat isterinya masih tergantung di atas tiang, sedangkan ke dua orang putranya yang lincah dan pintar sudah tak akan memanggil ayah lagi kepadanya, apakah dia harus menyerah?

Mendadak Suma Cau-kun melejit ke tengah udara, bagaikan burung walet dia menerobos lewat dari bawah tiang penggantungan.

Menyusul kemudian cahaya pedang berkelebat lewat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Kilauan cahaya pedang menyelinap lewat. Inilah jurus Toa-pek-lek (Geledek dahsyat) dari Pek-lek-kiu-si, yang merupakan kepandaian andalan Suma Cau-kun dan membuatnya menjadi tenar dalam dunia persilatan selama ini. Sudah beratus-ratus orang jago lihay dari dunia persilatan yang roboh di ujung pedangnya tersebut.

Sekarang walaupun senjata yang dipergunakan olehnya bukan pedang baja andalannya, dan serangan yang dilancarkan olehnya sekarang meski selisih sedikit daripada keampuhannya di hari-hari biasa, namun ketajaman pedang tersebut boleh dibilang luar biasa, kelincahan maupun perubahannya jauh lebih dahsyat daripada dugaan semula.

Sayang sekali, Suma Cau-kun telah salah sasaran, tidak seharusnya dia pergunakan jurus serangan macam begitu di dalam keadaan dan suasana begini.

Sebab begitu serangan telah dilepaskan, maka tenagapun akan turut sirna, bila gagal mencapai serangan, dia sendiri yang bakal terluka di tangan lawan.

Menghadapi manusia seperti Cho Tang-lay, mengapa ia justru mempergunakan jurus serangan tersebut?

Apakah hal ini dikarenakan dia menilai Cho Tang-lay kelewat rendah?

Ataukah disebabkan dia sudah merasa amat yakin?

Dalam suatu pertarungan menghadapi musuh tangguh, entah dikarenakan memandang musuh kelewat rendah ataupun menilai musuhnya terlalu tinggi, kedua-duanya merupakan suatu kesalahan yang tak dapat dimaafkan.

Seharusnya Suma Cau-ku bisa memahami keadaan tersebut.

Dia tak akan memandang rendah kemampuan Cho Tang-lay, diapun tak akan memandang tinggi kemampuan sendiri, dia bukan seorang manusia yang suka membuat kesalahan.

Ia sengaja mempergunakan jurus serangan tersebut, hal ini disebabkan dia sudah amat memahami keadaan dari Cho Tang-lay.

Cho Tang-lay adalah seorang manusia yang amat teliti dan seksama, entah dalam keadaan bagaimanapun juga, bila dia tidak merasa yakin dapat mengungguli lawannya, dia tak akan turun tangan secara gegabah, jurus serangan yang digunakan juga tak akan sembarangan.

Selama pihak lawan masih mempunyai setitik kesempatan pun untuk melukainya, dia tak akan mempergunakan jurus serangan tersebut.

Suma Cau-kun merupakan jagoan tak terkalahkan yang diciptakan olehnya, dengan mata kepala sendiri dia telah menyaksikan beberapa ratus jago lihay yang dipenggal dan dilukai oleh jurus serangannya tersebut.

Suma Cau-kun serta jurus serangan Toa-pek-lek ini tak ayal lagi sudah menciptakan semacam daya tekanan yang amat besar di dalam hatinya.

Di sinilah letak titik kelemahan yang dimilikinya.

Kelemahannya adalah berani memberi kesempatan yang terbaik bagi Suma Cau-kun.

Sudah barang tentu Suma Cau-kun harus memegang kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Asal Cho Tang-lay memperlihatkan sedikit keraguan saja, di bawah tekanannya, pedang tersebut sudah pasti akan menembusi ulu hatinya.

Cahaya pedang berkelebat lewat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Cho Tang-lay sama sekali tidak ragu, diapun tidak ketakutan, bahkan sepasang matanya sama sekali tidak terpengaruh oleh kilauan cahaya pedang yang melintas lewat.

Dari antara kilauan cahaya tajam tersebut, dia telah berhasil menemukan ujung pedang tersebut.

Ujung dari pedang merupakan hati dari pedang.

Gerakan pedang berubah mengikuti gerakan ujung pedang, itu berarti perubahan tersebut merupakan jiwa dari serangan tersebut.

Sebuah ayunan golok tiba-tiba saja membelah jiwa dari pedang tersebut, menyusul kemudian cahaya pedang lenyap tak berbekas, tahu-tahu mata golok Cho Tang-lay telah menempel di leher sebelah kiri Suma Cau-kun.

Mimpipun Suma Cau-kun tidak menyangka kalau gerak serangan musuh bisa muncul secara begitu cepat dan sama sekali di luar dugaannya.

Menanti dia sadar akan bahaya, keadaan sudah tak mengijinkan lagi baginya untuk menghindar ataupun berkelit, mata golok yang tajam segera akan memenggal batok kepalanya itu.

Ia sama sekali tidak memejamkan matanya untuk menantikan datangnya ayunan golok itu. Dari balik sorot matanya juga tidak memancarkan cahaya sedih ataupun dendam dan sakit hati.

Dalam detik-detik seperti ini, Suma Cau-kun justru menunjukkan sikap yang sangat tenang, jauh lebih tenang daripada keadaan tadi.

Bila ujung pedangnya tadi berhasil membunuh Cho Tang-lay, mungkin sikapnya malah tak akan setenang sikapnya sekarang ini.

Cho Tang-lay memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, sorot matanya masih tidak memancarkan sedikit perasaanpun.

“Kau keliru, maka kau harus menderita kekalahan,” ucap Cho Tang-lay kemudian.

“Benar! Aku telah kalah.”

“Bukankah kau selalu ingin tahu, seandainya kita berdua saling bertarung, bagaimanakah akibatnya?”

“Benar!”

“Tapi aku justru tak ingin tahu, aku tak pernah ingin tahu!”

Tiba-tiba di balik suaranya terpancar perasaan sedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata, namun mata goloknya masih melanjutkan bacokannya ke atas tengkuk Suma Cau-kun.

Hanya cahaya golok berkelebat lewat, tiada pancuran darah yang memercik ke mana-mana.

Ayunan golok tersebut dilancarkan bukan dengan mata golok, sebaliknya dengan punggungnya.

Kemudian Cho Tang-lay membalikkan badan dan beranjak pergi. Dia pergi tanpa berpaling lagi, sekejap matapun tidak memandang lagi ke arah Suma Cau-kun.

“Mengapa kau tidak membunuhku?” tak tahan Suma Cau-kun berseru.

Cho Tang-lay tetap tidak berpaling, hanya ujarnya dengan hambar: “Sebab saat ini kau sudah menjadi mayat.”

—–

Kentongan ketiga berkumandang dari kejauhan sana.

Cho Tang-lay duduk seorang diri di kursi beralas kulit binatangnya sambil menikmati arak wangi.

Di tengah malam buta yang sunyi ini, seharusnya dia terhitung manusia yang paling gembira dan bahagia di seluruh kota Tiang-an ini.

Segenap musuhnya telah dirobohkan, semua tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan juga telah selesai, siapa lagi manusia di dunia ini yang dapat bertanding melawannya?

Tapi siapa pula yang mengetahui benarkah hatinya segembira dan sebahagia seperti apa yang orang lain bayangkan?

Sekarang, dia sedang bertanya pula kepada diri sendiri.

Kalau toh ia tak berniat membunuh Suma Cau-kun, mengapa harus mengalahkan dia? Mengapa dia harus mengalahkan seorang lambang enghiong yang dipupuk dan dibinanya dengan susah payah? Apakah diapun merasa kecewa seperti juga para enghiong di kolong langit?

Ia tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Kalau toh dia tak bermaksud membunuh Suma Cau-kun, mengapa tidak berusaha untuk menyempurnakan dia? Mengapa dia malah pergi dengan begitu saja?

Cho Tang-lay pun tak sanggup menjawab.

Dia hanya tahu, ayunan golok tersebut tak boleh dibacokkan dengan mempergunakan mata golok, ia tak boleh membiarkan Suma Cau-kun tewas di tangannya. Seperti juga dia tak dapat menghabisi nyawa sendiri.

Dalam suatu keadaan orang ini sudah terdapat sebagian dari dirinya yang melebur dalam tubuh Suma Cau-kun, sebagian dari tubuh sendiripun sudah digunakan oleh Suma Cau-kun.

Tapi ia percaya, biarpun tiada Suma Cau-kun pun ia masih tetap bisa hidup terus, Toa Piau-kiok juga masih tetap akan utuh di dunia persilatan.

Ketika cawan arak yang ke empat sudah dihabiskan, perasaan Cho Tang-lay benar-benar merasa sangat gembira, dia sudah bersiap-siap untuk naik ke pembaringan untuk tidur.

Tapi……mendadak saja hatinya bagaikan tenggelam, kelopak matanya berkerut kencang.

Mendadak ia menyaksikan peti yang semula diletakkan di bawah lampu, tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.

Sekeliling tempat itu selalu dijaga oleh para pengawal, baik siang atau malam, tiada orang yang tahu kalau peti yang sederhana itu sesungguhnya merupakan senjata rahasia yang sangat menakutkan.

Siapakah yang telah menyerempet bahaya dengan melarikan peti tersebut?

“Praang…..!” Cawan kristal yang berada di tangan Cho Tang-lay hancur berantakan, tiba-tiba dia merasa kalau besar kemungkinan ia telah melakukan sebuah kesalahan, tiba-tiba ia teringat kembali dengan mimik wajah Cho Kim sebelum binasa.

Kemudian ia mendengar suara orang mengetuk pintu.

“Masuk!” serunya kemudian.

Seorang pemuda kekar berwajah lebar, bermata lebar berjalan masuk dengan langkah tegap.

Toa Piau-kiok adalah sebuah organisasi yang amat besar dengan peraturan yang ketat, setiap tingkat pekerjaan selalu dilakukan oleh sekelompok manusia tertentu.

Dengan demikian tidak banyak jumlah manusia yang bisa menerima perintah secara langsung dari Cho Tang-lay, tak heran kalau orang bawahan teramat jarang bisa bertemu muka dengannya.

Dahulu Cho Tang-lay tidak begitu memperhatikan pemuda ini, tapi sekarang ia dapat segera menduga siapa gerangan orang ini.

“The Seng,” tegur Cho Tang-lay kemudian dengan wajah berkerut, “aku tahu, belakangan ini kau pernah membuat pahala untuk Cho Kim, tapi kaupun harus tahu, bukan sembarangan orang dapat memasuki tempat ini……..”

“Tecu tahu, tapi mau tak mau tecu harus kemari,” ujar The Seng dengan hormat dan serius.

“Mengapa?”

“Lima bulan berselang, Cho Kim telah menarik tecu menjadi anak buahnya dan langsung mendapat perintah darinya, oleh sebab itu apa saja yang dia suruh tecu lakukan, tecu tak pernah berani membangkang perintahnya.”

“Jadi Cho Kim yang suruh kau datang kemari?”

“Benar, aku disuruh datang untuk menyampaikan sesuatu pesan.”

“Menyampaikan sesuatu pesan?” hardik Cho Tang-lay, “mengapa harus kau yang menyampaikan pesannya?”

“Sebab dia sudah mati.”

“Jadi kalau dia belum mati, kaupun tak akan kemari?”

“Benar!” sahut The Seng tenang, “bila ia masih hidup, sekalipun tecu dilemparkan ke dalam kuali berisi minyak mendidihpun tak akan kubocorkan rahasianya itu.”

“Jadi ia suruh kau datang menghadap bila ia sudah mati?”

“Benar! Ia menitahkan kepada tecu, bila ia mati, maka dalam dua jam kemudian harus datang menjumpai Cho sianseng serta menyampaikan semua pesannya.”

Cho Tang-lay memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, mendadak ia menjumpai sikap maupun nada suara orang ini sewaktu berbicara hampir sama seperti Cho Kim sedang berbicara dengannya.

“Sekarang dia sudah mati,” kata The Seng, “maka mau tak mau tecu harus datang, tecu pun tak berani tidak datang.”

Hancuran kristal yang tersebar di lantai dan terpantul cahaya lampu seolah-olah berubah menjadi sorot mata dari Cho Kim sebelum ajalnya.

Tanpa terasa Cho Tang-lay terbayang kembali sikap Cho Kim sebelum ajal.

Lewat lama sekali baru dia bertanya kepada The Seng: “Kapan dia memberi pesannya kepadamu?”

“Mungkin di sekitar fajar!”

“Sekitar fajar?” sekali lagi kelopak mata Cho Tang-lay berkerut kencang, “ya, memang seharusnya sekitar fajar.”

Waktu itu Suma Cau-kun dan Cho Tang-lay telah berada dalam ruangan yang menyeramkan bagaikan kuburan itu.

Memang di saat itulah Cho Kim mendapat peluang untuk pergi menyisir rambut dan berganti pakaian.

Rupanya dia tidak melakukan pekerjaan sehari-hari tersebut, waktu itu yang dilakukan olehnya hanya menyampaikan pesan yang harus disampaikan kepada Cho Tang-lay setelah ajalnya tiba.

Dengan cepat Cho Tang-lay menatap tajam wajah The Seng, kemudian ujarnya lagi: “Jadi ia sudah tahu bakal mati pada waktu itu?”

“Mungkin saja sudah tahu,” jawab The Seng, “dia sendiri yang memberitahukan kepadaku, mungkin ia tak bisa hidup sampai fajar esok menyingsing.”

“Bukankah dia hidup segar bugar? Mengapa bisa mengetahui bakal mati?”

“Sebab dia sudah tahu bakal ada orang yang menyuruhnya mati.”

“Siapakah orang itu?”

“Dia bilang orang itu adalah kau!” jawab The Seng lagi sambil menatap wajah Cho Tang-lay lekat-lekat.

“Mengapa aku harus menyuruhnya mati?”

“Sebab pekerjaan yang telah dia lakukan bagimu sudah kelewat banyak, persoalan yang diketahui olehnya juga sudah terlalu banyak, kau pasti tak akan meninggalkan dirinya untuk Suma Cau-kun, dia sudah melihat bahwa saat perpecahanmu dengan Suma Cau-kun telah tiba, entah demi Suma Cau-kun ataukah demi dirimu sendiri, dia sudah pasti akan mati di tanganmu.”

“Kalau toh ia telah memperhitungkan segala sesuatunya secara demikian jitu, mengapa tidak berusaha untuk melarikan diri?”

“Karena dia sudah tak punya waktu lagi, dia tidak menyangka kalau peristiwanya akan berlangsung sedemikian cepatnya, pada hakekatnya dia tak sempat lagi untuk membuat persiapan, tapi yang pasti sebelum kau bertarung melawan Suma Cau-kun, sudah pasti dia dulu yang akan kau cari, andaikata kau menemukan dia sudah kabur, sudah pasti semua urusan lain akan kau tunda dulu, kemudian mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk mengejarnya, dengan kemampuanmu sekarang, dia tak akan berhasil lolos dari cengkeraman mautmu.”

“Paling tidak sampai saatnya juga akan mampus, mengapa dia tidak berusaha untuk mencobanya lebih dahulu?”

“Sebab sampai waktunya, kesedihan dan kemarahan Suma Cau-kun tentu sudah mereda, keputusannya bisa jadi turut goyah, padahal dia sendiri toh akan mati juga akhirnya, dengan kejadian itu bisa jadi kau malah akan rukun kembali dengan Suma Cau-kun.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan: “Kau seharusnya sudah tahu, siapakah dirinya, persoalan seperti ini tak mungkin akan dia lakukan.”

Cho Tang-lay mengepal sepasang tinjunya tanpa terasa, katanya kemudian menahan emosi: “Oleh sebab itu dia lebih suka mati saja daripada memberi kesempatan semacam ini kepadaku? Lebih rela mati daripada menyaksikan aku rukun kembali dengan Suma Cau-kun?”

“Betul! Sebab bila kalian rukun berarti kalian akan berjaya, sebaliknya bila berpisah berarti kalian akan runtuh, padahal dia ingin membalas dendam kepadamu, kesempatan semacam ini boleh dibilang merupakan satu-satunya kesempatan yang dimiliki olehnya.”

“Dia sendiri toh sudah mampus, apakah ia bisa membalas dendam bagi dirinya sendiri?” jengek Cho Tang-lay sambil tertawa dingin.

“Benar! Diapun hendak memberitahukan kepadamu, bila kau membunuhnya, maka dia pasti akan membuat kau sangat menyesal, sebab sebelum ajalnya tiba, ia telah menggali liang kubur bagimu, cepat atau lambat, kau pasti akan berbaring juga di dalam liang kubur yang digalinya itu…….”

Lalu sesudah berhenti sejenak, dia menambahkan: “Diapun suruh aku menyampaikan kepadamu, hari seperti itu pasti akan datang dengan cepat.”

Cho Tang-lay menatapnya lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah dia berkata: “Tapi yang jelas aku belum mati pada saat ini, bahkan dalam sekali ayunan tangan pun dapat menghabisi nyawamu, aku dapat membuat kau mati tanpa liang kubur.”

“Aku tahu!”

“Lantas, mengapa kau begitu berani mengutarakan kata-kata semacam ini di hadapanku?”

“Sebab semua perkataan itu bukan ucapanku sendiri, tapi pesan dari Cho Kim,” jawab The Seng tanpa berubah paras mukanya, “dia memerintahkan aku untuk menyampaikan semua ucapannya tanpa ada yang ketinggalan, bila sepatah kata saja yang berkurang, bukan saja berarti tidak setia kepadamu, juga tidak setia kawan kepadanya.”

Kemudian dengan sikap yang serius dan bersungguh-sungguh, dia menambahkan: “Sekarang aku masih belum cukup pantas untuk menjadi seorang manusia yang tidak setia dan setia kawan.”

“Belum cukup pantas?” tak tahan Cho Tang-lay bertanya, “untuk menjadi seorang manusia yang tidak setia dan setia kawanpun harus dilihat pantas atau tidak?”

“Benar!”

“Bagaimanakah baru pantas untuk menjadi seorang manusia yang tidak setia dan setia kawan?”

“Harus bisa membuat orang meski tahu kalau dia tidak setia dan setia kawan, namun hanya dapat menyimpan perasaan tersebut di hati. Setiap kali bertemu dengannya masih tetap harus bersikap hormat kepadanya dan tak berani bersikap kurang ajar. Bila tanpa memiliki kemampuan semacam ini untuk menjadi seorang manusia yang tidak setia dan setia kawan, berarti dia benar-benar menginginkan suatu kematian tanpa liang kubur.”

Sekali lagi Cho Tang-lay menatapnya lekat-lekat, lama kemudian sepatah demi sepatah dia baru berkata: “Apakah aku sudah pantas untuk disebut demikian?”

“Benar!”

Tiba-tiba Cho Tang-lay tertawa.

Padahal dia tidak seharusnya tertawa, karena apa yang diucapkan The Seng bukan lelucon, setiap kata-katanya bukan lelucon yang lucu dan siapa saja yang mendengarkan perkataan itu pasti tak bakal tertawa.

Tapi Cho Tang-lay justru tertawa.

“Perkataanmu sangat baik, ucapanmu memang baik sekali,” kata Cho Tang-lay sambil tertawa, “bila seseorang sudah pantas untuk menjadi seorang manusia yang tidak setia dan setia kawan, masih ada masalah apa lagi di dunia ini yang bisa membuatnya murung dan pusing kepala?”

“Mungkin sudah tak ada lagi,” kata The Seng dengan bersungguh-sungguh hati, “bila suatu ketika akupun bisa berbuat sampai ke taraf ini, pasti tiada lagi persoalan yang akan merisaukan diriku lagi.”

“Kalau begitu laksanakan saja dengan baik-baik, akupun berharap kau dapat mencapainya.”

Kemudian setelah tertawa, katanya lebih jauh: “Aku percaya Cho Kim tentu sudah memperhitungkan pula secara baik-baik bahwa aku tak akan membunuhmu, sekarang aku sedang amat membutuhkan bantuan dari seorang manusia seperti kau.”

The Seng memandang ke arahnya, sorot mata itu penuh dengan rasa hormat, persis seperti sorot mata Cho Kim di masa lampau.

“Masih ada seseorang lagi,” kata The Seng, “masih ada seseorang lagi yang besar kemungkinannya jauh lebih berguna daripada aku.”

“Siapa?”

“Ko Cian-hui.”

Setelah berhenti sejenak, The Seng menyambung lebih jauh: “Dia bersikeras hendak bertemu denganmu, aku menyuruhnya pergi tapi dia justru tetap tinggal di sini untuk menunggu, bahkan dikatakan biar menunggu cukup lamapun tak menjadi soal, karena tak urung dia toh tak akan pergi kemana-mana lagi.”

“Kalau begitu, biarkan saja dia menunggu terus,” ucap Cho Tang-lay, “tapi yang jelas saat-saat menantikan kedatangan seseorang merupakan saat-saat paling menderita. Oleh sebab itu kita bersikap lebih baik kepadanya, apa saja yang dia inginkan lebih baik kita turuti saja.”

“Baik!”

Pelan-pelan The Seng mengundurkan diri, seakan-akan masih menunggu sesuatu pesan dari Cho Tang-lay.

Tapi Cho Tang-lay tidak berkata apa-apa lagi bahkan dia memejamkan matanya rapat-rapat seperti tertidur.

Di bawah sorot cahaya lampu, paras mukanya memang nampak lelah sekali, pucat pias, lemah dan lelah.

Namun The Seng yang memandang ke arahnya justru memancarkan sinar hormat, hormat dan rasa segan yang benar-benar timbul dari hati sanubarinya.

Karena orang ini memang benar-benar berbeda dengan orang lain, pandangan serta reaksinya terhadap setiap masalah sama sekali berbeda dengan orang lain.

The Seng mundur keluar, menutup pintu rapat-rapat dan membalikkan badannya, sampai angin dingin berhembus di atas tubuhnya, ia baru menjumpai celananya sudah basah oleh peluh dingin.

Cho Tang-lay memang tidak sama dengan manusia manapun juga.

Di saat orang lain pasti akan sedih dan gusar karena sesuatu persoalan, ia justru malahan tertawa, di saat orang lain merasa terkejut dan gembira karena sesuatu, reaksinya justru dingin dan sangat hambar, bahkan mendekati tiada reaksi apapun.

Dia tahu Ko Cian-hui telah datang bahkan bagaikan seorang pemuda yang sedang dimabuk cinta, menantikan kedatangan kekasihnya.

Dia juga tahu akan pedang tetesan air mata milik Ko Cian-hui, tetesan air mata yang setiap saat bisa berubah menjadi tetesan darah, mungkin darahnya, mungkin juga darah musuh lainnya.

Tapi ia seolah-olah tidak memberikan reaksi sedikitpun.

Peti yang berada di meja mendadak hilang, bisa jadi pemilik peti yang berada dalam halaman kecil itupun sudah lenyap tak berbekas.

Cho Kim pun sudah bertekad akan membalas dendam.

Bila dia ingin mencarikan musuh yang paling menakutkan untuk Cho Tang-lay, tak disangkal lagi Siau Lay-hiat adalah satu-satunya yang paling cocok.

Kun-cu-hiang bukan termasuk sejenis obat pemabuk yang tak bisa dipunahkan untuk selamanya, bila tidak dipergunakan secara beruntun, dalam dua tiga hari saja tenaga dalam Siau Lay-hiat telah dapat dipulihkan kembali seperti sedia kala.

Waktu itu, besar kemungkinan saat kematian dari Cho Tang-lay akan tiba.

Selain daripada itu, Cho Kim masih bisa memberikan pekerjaan yang lebih banyak lagi baginya, membuatkan banyak masalah yang akan membuatnya menyesal.

Harta kekayaannya, surat-surat rahasianya, hampir setiap jenis persoalan bisa jadi sudah dijual Cho Kim, orang-orang yang kurang cocok dengan pendiriannya juga bisa jadi telah diperalat oleh Cho Kim.

Sesungguhnya berapa dalamkah kuburan yang telah digali oleh Cho Kim baginya menjelang kematiannya?

Andaikata persoalan seperti ini terjadi pada tubuh orang lain, dia pasti akan berusaha dengan segala cara untuk bisa menyelidikinya di dalam waktu singkat.

Tapi sekarang Cho Tang-lay tidak melakukan pekerjaan apapun. Cho Tang-lay sudah tertidur, benar-benar tertidur.

Ia tadi masuk ke dalam kamar tidurnya, menutup rapat pintu dan jendelanya, kemudian menekan sebuah tombol rahasia di sebuah sudut pembaringannya yang amat rahasia.

Kemudian dari sudut ruangan muncul sebuah almari rahasia. Dari dalam almari tadi ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi sebutir pil berwarna hijau. Pil itu segera ditelannya.

Pil hijau ini termasuk sejenis obat penenang yang bisa membuatnya tertidur walaupun berada di dalam keadaan dan situasi macam apapun. Ia memang kelewat lelah.

Setelah memperoleh suatu kemenangan yang gemilang, setiap orang memang akan merasakan ekstra lelah yang luar biasa.

Dalam keadaan begini, satu-satunya yang dapat dilakukan untuk memulihkan kembali kekuatannya adalah tidur.

Sewaktu hendak tertidur, dia hanya sempat memikirkan seseorang.

Yang terpikirkan olehnya bukan Cho Kim yang tewas secara mengerikan diujung goloknya, juga bukan Siau Lay-hiat yang setiap saat bisa datang untuk mencabut nyawanya.

Yang terpikir olehnya adalah saudara kandungnya, saudara kandung yang sudah mati semenjak dilahirkan, saudara yang selama sepuluh bulan berada bersama di dalam rahim ibunya.

Ia belum pernah bertemu dengan saudaranya itu, dalam hati kecilnya, saudara kandungnya itu selalu hanya berupa suatu bayangan yang samar.

Tapi menjelang saat tidurnya, bayangan yang semua itu tiba-tiba berubah menjadi manusia, sesosok manusia yang amat jelas.

Orang itu seperti Suma Cau-kun.

—–

Dari kejauhan sana, terdengar suara kentongan dibunyikan, kentongan ketiga.

Suma Cau-ku masih ingat, baru saja ia mendengar suara kentongan baru dibunyikan, baru kentongan kedua.

Biarpun waktu itu dia sudah minum arak, paling banter baru tujuh delapan kati yang diteguknya, rasa mabuk betul sudah menguasainya, namun dia bersumpah tak bakal salah mendengar.

Diapun masih teringat, waktu itu dia sedang minum arak di sebuah kedai arak, selain dia, di meja lain masih terdapat serombongan tamu, semuanya terdiri dari pemuda berumur delapan sembilan belas tahunan. Sambil merangkul lima enam orang perempuan yang usianya satu kali lipat lebih tua dari usia mereka, orang-orang itu sedang mengibul dengan kerasnya.

Yang mereka kibulkan adalah Suma Cau-kun. Setiap orang menyanjung Suma Cau-kun sebagai seorang jagoan yang tiada taranya di dunia ini, bahkan semuanya mengaku pernah berhubungan dengannya.

Yang sedang mengibul senang, yang mendengarpun turut senang. Tapi hanya seorang yang merasa tak senang ataupun gembira, orang itu tak lain adalah Suma Cau-kun sendiri.

Oleh sebab itu diapun minum arak dengan sekuat tenaga.

Diapun masih teringat dengan jelas, di saat orang lain sedang mengibul dengan penuh kegembiraan, mendadak dia bangkit berdiri sambil menggebrak meja, kemudian mencaci maki kalang-kabut.

“Suma Cau-kun itu manusia macam apa? Pada hakekatnya dia bukan manusia, sesenpun tak lalu, dengan kentut pun lebih bau!”

Makin mengumpat, dia makin gembira, tapi yang mendengarkan justru semakin tak senang. Kemudian ada orang yang membalikkan meja, belasan pemuda itupun menyerbu bersama.

Dia seperti teringat seorang di antara mereka kena dijotos olehnya sampai hancur tulang hidungnya.

Semua kejadian ini dapat diingat oleh Suma Cau-kun dengan jelas, lebih jelas daripada seorang bocah yang menghapalkan pelajaran.

Bahkan diapun masih ingat ada seorang perempuan bergincu yang bertampang mirip sekali dengan binatang yang bisa memanjat pohon, segera melepaskan sepatu kayunya dan diketukkan ke atas kepalanya.

Tapi kejadian selanjutnya sudah tidak teringat lagi olehnya.

Waktu itu dia jelas mendengar baru kentongan ke dua, tapi sekarang sudah kentongan ke tiga.

Kalau waktu itu dia masih duduk minum arak di kedai arak, maka sekarang dia berbaring di tepi pohon Yang-liu dengan beratapkan langit.

Kepalanya terasa pusing tujuh keliling, kerongkongannya seperti cerobong asap dan sekujur badannya semua linu, sakitnya bukan kepalang, seperti baru saja dipermak habis-habisan.

Apakah sepatu kayu si perempuan gemuk itu sudah dihantamkan ke atas kepalanya?

Bagaimana ceritanya sehingga ia sampai di sini?

Selama ia tak sadarkan diri, apa gerangan yang telah terjadi? Suma Cau-kun sama sekali tak dapat mengingatnya kembali.

Dalam saat-saat tersebut, benaknya seolah-olah berubah menjadi kosong melompong, bagikan buku yang dirobek-robek orang.

Tatkala Suma Cau-kun berusaha untuk meronta bangun, dia baru sadar bahwa disampingnya masih berdiri seseorang yang lain. Orang itu sedang memandang aneh ke arahnya, seolah-olah sedang bertanya kepadanya.

“Benarkah kau adalah Suma Cau-kun yang tiada tandingannya di kolong langit? Mengapa tampangmu berubah menjadi begini rupa?”

Suma Cau-kun segera bertekad untuk tidak menggubrisnya, bertekad untuk berlagak seolah-olah tidak melihat orang ini.

Sayangnya orang itu justru bertekad hendak memperlihatkan diri kepadanya, bukan hanya segera menghampirinya, bahkan merangkul pula lengannya.

Kalau tadinya ia sudah berusaha dengan sepenuh tenagapun belum dapat berdiri, maka sekarang ia dapat berdiri dengan segera, lagi pula berdiri tegak.

Orang itu tidak melepaskannya dengan begitu saja, dengan sorot mata kasihan dan iba kembali katanya: “Lo-cong, kau mabuk, biar aku membimbingmu.”

Kemudian ia memperkenalkan diri.

“Aku adalah A-keng. Lo-cong, masa kau sudah tidak mengenal A-keng lagi?”

“A-keng?”

Sebuah nama yang amat dikenalnya. Hanya orang yang mendampinginya semasa dia baru terjun ke dunia persilatan baru memanggilnya sebagai ‘Lo-cong’.

Mendadak Suma Cau-kun menepuk bahu orang itu keras-keras dan menggenggam lengannya kencang-kencang sambil tertawa tergelak.

“Bagus sekali! Hei anak muda, kemana kau bersembunyi selama ini? Sudah mendapat bini? Tidak kau gadaikan binimu, bukan?”

A-keng turut tertawa, dari balik matanya seolah-olah tampak air matanya jatuh bercucuran.

“Sungguh tak disangka Lo-cong masih teringat dengan aku si setan judi. Masih teringat dengan manusia yang tak becus macam diriku ini.”

“Kau adalah setan judi, aku adalah setan arak, keduanya sama-sama tak berguna,” ia menarik A-keng lalu meneruskan, “ayo jalan, kita mencari tempat untuk minum arak.”

“Lo-cong kau tak boleh minum lagi,” cegah A-keng, “seandainya kau tidak menghabiskan setengah guci arak yang terakhir tadi, kawanan cecunguk itu tak akan bisa mengusik seujung rambutmu.”

Nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi sedih dan murung, terusnya: “Lo-cong, seandainya kau tidak menjadi lemas lantaran kebanyakan minum, bagaimana mungkin kau dapat dipermak oleh kawanan cecunguk itu? Sampai-sampai kepalamu bocor oleh pukulan kayu si anjing betina gemuk itu?”

Lalu setelah berhenti sejenak, dia baru meneruskan: “Padahal kalau berada di hari-hari biasa, kawanan cecunguk itu pasti akan terkencing-kencing saking takutnya lantaran mendengar nama besar Lo-cong.”

:Jadi aku benar-benar dipermak orang?” Suma Cau-kun merasa sedikit tak percaya, tapi setelah meraba kepala dan tulang sendiri, mau tak mau dia baru percaya.

“Tampaknya aku benar-benar telah dipermak,” mendadak ia tertawa tergelak, “haha, permakan yang sangat bagus, permakan yang memuaskan, sungguh tak nyana kalau aku bakal dipermak orang sampai sepuas ini. Haaaahhh……. haaaaahhhh….. haaaaaahhh, sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah merasa sepuas ini.”

“Tapi Lo-cong juga tidak membuat mereka memperoleh keuntungan apa-apa, kaupun menghajar kawanan cecunguk itu sampai merangkak-rangkak bagaikan anjing budukan.”

“Wah, bukan main jadinya,” Suma Cau-kun menghela napas, “aku tidak seharusnya menghajar mereka.”

“Mengapa?”

“Tahukah kau apa sebabnya mereka menghajar diriku?” kata Suma Cau-kun, “sebab aku telah mengumpat habis-habisan Suma Cau-kun, jagoan mereka yang paling disanjung dan dihormati.”

Kemudian sesudah tertawa terbahak-bahak, dia melanjutkan: “Suma Cau-kun kena dipermak orang gara-gara mencaci maki diri sendiri. Bila kejadian tersebut sampai diketahui oleh setiap enghiong di kolong langit, niscaya mereka akan mentertawakan kawanan cecunguk itu hingga copot giginya.”

A-keng tidak tertawa, dia malah bergumam seorang diri.

“Andaikata Cho sianseng berada di sini, Lo-cong tak akan minum arak sampai mabuk.”

Mendadak dia merendahkan suaranya sambil bertanya: “Mana Cho sianseng? Mengapa kali ini tidak mendampingi Lo-cong?”

“Mengapa dia harus berada bersamaku?” Suma Cau-kun tertawa tergelak-gelak tiada hentinya, “dia adalah dia, sedang aku adalah aku, dialah baru seorang toa enghiong sejati, sedangkan aku tak lebih hanya seekor anjing budukan. Dia tidak memenggal batok kepalaku sebagai cawan arak sudah terhitung lumayan kepadaku.”

A-keng memandangnya dengan terkejut, lewat lama kemudian dia baru bertanya agak tergagap: “Apakah Cho sianseng telah memberontak?”

“Memberontak? Mengapa dia harus memberontak?” Suma Cau-kun tertawa tergelak, “pada hakekatnya Toa Piau-kiok adalah miliknya, aku ini terhitung manusia macam apa?”

A-keng memandang ke arahnya, air mata akhirnya jatuh bercucuran.

Mendadak dia berlutut dan menyembah tiga kali.

“A-keng memang pantas mati, A-keng memang berbuat salah terhadap Lo-cong.”

“Kau tidak bersalah kepadaku. Di kolong langit, dewasa ini hanya seorang yang berbuat kesalahan kepadaku, orang itu adalah aku sendiri……”

“Tapi ada sementara persoalan yang tidak diketahui oleh Lo-cong. A-keng lebih suka mati di bunuh oleh Lo-cong daripada mengutarakannya keluar.”

“Coba katakan!”

“Selama beberapa tahun, A-keng tidak mendampingi Lo-cong, hal ini disebabkan Cho sianseng telah mengutusku menyelinap ke Hiong-say-tong, lagi pula tugas tersebut harus kulakukan di luar pengetahuan Lo-cong. Cho sianseng tahu, Lo-cong selalu orangnya jujur dan terbuka, selamanya masalah ini tidak boleh diketahui oleh Lo-cong.”

“Kebetulan sekali, akupun tidak ingin mengetahui akan persoalan ini,” Suma Cau-kun menghela napas panjang, “Cu Bong si keparat itupun mungkin tak akan tahu berapa orang yang telah dikirim Cho Tang-lay ke situ, mungkin dia tak ubahnya seperti aku, seorang telur busuk asli.”

A-keng menatapnya sampai setengah harian, mendadak dari balik matanya, mencorong sorot mata yang sangat aneh, tiba-tiba ia bertanya kepada Suma Cau-kun: “Inginkah Lo-cong bertemu dengan telur busuk itu?”

“Telur busuk manakah yang kau maksudkan?” mencorong sinar tajam dari balik mata Suma Cau-kun, kemudian sambil memperkeras suaranya, ia bertanya lagi, “apakah Cu Bong si telur busuk itu?”

“Benar!”

“Kau tahu dia berada dimana?” kembali Suma Cau-kun bertanya, “darimana kau bisa tahu?”

Kemudian sambil menatap A-keng lekat-lekat, dia berkata lebih lanjut: “Apakah kaupun termasuk salah seorang di antara ke delapan puluh enam orang yang datang untuk menghantar kematian?”

Sekali lagi A-keng jatuhkan diri berlutut seraya berkata: “A-keng memang pantas mati. A-keng bersalah kepada Lo-cong, tapi sesungguhnya Cu Bong tidak jauh berbeda seperti Lo-cong, diapun seorang enghiong hohan yang berdarah panas, A-keng merasa tak tega untuk mengkhianatinya di dalam keadaan seperti ini, maka kali ini A-keng turut satang untuk bersiap-siap mendampinginya mati di kota Tiang-an.”

Kemudian sambil membentur-benturkan kepalanya dengan lantai sehingga berdarah, ia berkata kembali: “A-keng memang pantas mati, biarpun A-keng telah berkhianat kepada Toa Piau-kiok, namun tak pernah menaruh perasaan jahat terhadap Lo-cong, kalau tidak A-keng rela setelah mati menjadi binatang.”

Suma Cau-kun seperti tertegun oleh perkataan itu, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Bagus! Cu Bong memang hebat. Ternyata dia bisa membuat mata-mata yang dikirm Cho Tang-lay setia mati-matian kepadanya, dia memang patut disebut seorang Ho-han.”

Kemudian setelah tertawa terbahak-bahak, dia melanjutkan: “Si Sepatu Paku maupun A-keng adalah seorang Ho-han. Dibandingkan kalian, aku Suma Cau-kun benar-benar lebih busuk daripada kentut anjing.”

Suara tertawanya menjadi parau dan sedih, tapi tiada air mata lagi yang jatuh bercucuran.

Setetespun tak ada.

—–

Cu Bong juga tidak melelehkan air mata.

Menyaksikan si Sepatu Paku mati dalam pertarungan dan memeluknya dalam rangkulan, ia sama sekali tidak mengucurkan air mata.

Yang mengalir keluar pada saat itu adalah darah.

Walaupun mengalir keluar dari mata, namun yang bercucuran adalah darah.

Darah masih mengalir keluar tiada hentinya dari tubuh Tiap-wu, tiada orang yang bisa menghentikan lagi aliran darahnya di dunia saat ini.

Sebab yang mengalir keluar dari mulut lukanya bukan lagi darah, melainkan sukma dari si penari.

Dan sukma dari si penari telah berubah menjadi kupu-kupu.

Siapakah yang pernah menyaksikan kupu-kupu mengeluarkan darah?

Siapa pula yang pernah melihat darah kupu-kupu berwarna apa?

Darah bercucuran, mengapa manusia masih terus bercucuran darah?

Mengapa mereka seolah-olah tak sadar kalau perbuatan-perbuatan seperti itu merupakan perbuatan yang buruk.

Tapi Tiap-wu tahu.

Sebab nyawanya teramat indah, teramat pendek sehingga tiada orang yang bisa melihat lagi segi kejelekannya.

“Tolong selimuti badanku, tutuplah kakiku, aku tak ingin orang lain menyaksikan kakiku lagi.”

Inilah kata-kata terakhir yang diucapkan Tiap-wu ketika untuk ke empat kalinya jatuh tak sadarkan diri.

Di dalam kenyataannya, dia memang sudah tak berkaki lagi.

Justru karena ia sudah tak berkaki, maka dia tak ingin terlihat orang. Bila ada orang masih tega untuk mengatakan bahwa hal semacam ini merupakan sindiran, juga merupakan salah satu dari titik kelemahan manusia, maka hati orang ini pasti lebih keras dari baja.

Selimut yang tebal sekali menutupi badan Tiap-wu, seperti selapis awan mendung yang tebal menutupi cahaya matahari.

Di atas wajah Tiap-wu sudah tidak nampak setitik cahayapun, seperti lentera dalam kamar yang kehabisan minyak.

Cu Bong selalu berjaga di sisinya, tanpa bergerak, tanpa berbicara, tak setetes airpun yang diteguk, juga tiada setitik air matapun yang bercucuran.

Suasana dalam ruangan itu lembab dan dingin.

Tiga belas orang sisa anak buahnya masih tetap berjaga di sisi Tiap-wu seperti Cu Bong saja. Perasaan merekapun diliputi kesedihan dan putus asa, namun mereka masih tetap hidup.

Hingga kini, A-keng yang keluar rumah mencari berita sambil membelikan rangsum bagi mereka, mengapa belum juga kembali?

Ketika A-keng pulang, Suma Cau-kun turut datang pula.

Setiap orang dapat melihat A-keng pulang dengan membawa seseorang, seorang asing yang tinggi besar, rambutnya kusut, pakaiannya compang-camping dan membawa luka di badan, namun sama sekali tidak membawa senjata.

Tapi, biar bagaimanapun juga, di dalam keadaan seperti ini tidak seharusnya A-keng pulang dengan membawa seorang asing seperti ini.

Karena si manusia asing ini meski nampak seperti binatang buas yang sudah terjepit oleh kejaran pemburu, bagaimanapun juga masih tetap merupakan binatang buas, ia masih berbahaya dan mampu melukai orang.

Walaupun orang ini tidak membawa senjata, namun membawa hawa yang lebih tajam daripada sembilu.

Tangan setiap orang segera menggenggam golok besar yang telah mereka tekadkan untuk tak berpisah dari sisi tubuhnya hingga mati.

Setiap golok sudah bersiap sedia diloloskan dari sarungnya.

Hanya Cu Bong seorang yang masih tetap duduk tak berkutik di sana, bahkan menurunkan perintah yang sama sekali tidak dipahami oleh bawahannya.

Mendadak ia menurunkan perintah: “Pasang lentera, sulut semua benda yang bisa dipergunakan sebagai alat penerangan.”

Tiada orang yang memahami maksud Cu Bong, tapi Suma Cau-kun mengerti.

Ia belum pernah berjumpa dengan Cu Bong.

Tapi begitu dia melangkah masuk ke dalam rumah kecil yang lembab dan bobrok itu, begitu melihat Cu Bong yang duduk di atas pembaringan batu, ia segera tahu kalau orang itu adalah orang yang selama hidup ingin dijumpainya.

Sebenarnya di dalam rumah hanya terdapat setitik cahaya lentera.

Cahaya lentera hanya menandakan kegembiraan, dalam suasana duka begini, cahaya lentera sudah tiada berguna lagi.

Tapi Cu Bong tetap memerintah.

“Pasang seluruh lentera yang ada, biar kusaksikan tamu agung kita ini.”

Semua lentera segera dipasang.

Apa yang diucapkan Cu Bong biasanya sudah merupakan perintah yang sangat manjur.

Tiga buah lentera, tujuh batang lilin dan lima batang obor sudah cukup untuk merubah suasana dalam ruangan itu menjadi terang benderang.

Dan cukup pula membuat setiap kerutan di wajah orang-orang itu terlihat jelas.

Itulah kerutan dahi karena penderitaan dan amarah, kerutan yang lebih dalam daripada sayatan golok.

Akhirnya Cu Bong bangkit pelan-pelan, membalikkan tubuhnya dan saling berhadapan muka dengan Suma Cau-kun.

Mereka berdua saling berhadapan tanpa berbicara, saling berpandangan dengan mulut membungkam, seakan-akan dalam jagad tinggal suara percikan api.

Seakan-akan pula di dalam dunia saat ini tinggal mereka berdua saja.

Dua orang manusia yang penuh luka dan penderitaan, dua manusia yang menderita kegagalan.

“Kau adalah Suma Cau-kun?” akhirnya Cu Bong menegur.

“Coba tengoklah. Benarkah ini aku?”

“Aku rasa kau tidak mirip, Suma Cau-kun yang tak terkalahkan di dunia ini tidak seharusnya bertampang seperti kau, tapi aku tahu, kau adalah Suma Cau-kun, kau sudah pasti dia.”

“Mengapa?”

“Sebab kecuali Suma Cau-kun, di kolong langit sudah tiada orang kedua yang mirip dirimu itu. Tampangmu itu mirip sekali dengan orang yang baru saja menjumpai delapan ratus delapan puluh delapan sosok setan gentayangan.”

Ternyata Suma Cau-kun sangat setuju dengan ucapan tersebut.

“Memang tidak banyak orang yang dapat sekaligus menyaksikan delapan ratus delapan puluh delapan sukma gentayangan, tapi juga bukan hanya satu orang.”

“Kecuali kau, masih ada siapa lagi?” tanya Cu Bong, “apakah masih ada seorang manusia yang bernama Cu Bong?”

“Agaknya memang begitu.”

Cu Bong tertawa terbahak-bahak.

Ia benar-benar tertawa tergelak-gelak, setiap kali mendengar perkataan semacam ini, dia pasti tertawa, ada kalanya suara tertawanya itu bisa terdengar sampai jarak sejauh sepuluh li.

Sekarang dia sedang tertawa, hanya paras mukanya tidak memperlihatkan tertawa, suara tertawanya pun tidak kedengaran oleh siapapun termasuk orang yang berada di sisinya.

Sebab pada hakekatnya dia memang tidak memperdengarkan sedikitpun suara tertawanya.

Tiada suara tertawa, tiada pula suara isak tangis, bukan saja orang lain tak dapat tertawa, mau menangispun tak dapat.

Namun air mata nampak jatuh bercucuran membasahi kelopak mata mereka semua.

Mereka bukan Cu Bong, juga bukan Suma Cau-kun, oleh sebab itu mereka boleh bercucuran air mata.

Cu Bong memandang sekejap kawanan lelaki sejati yang hingga matipun enggan meninggalkan dirinya, sementara sepasang matanya yang besar dan merah membara seolah-olah hendak memuntahkan darah segar.

“Kali ini kami kalah total,” serunya parau, “tapi kami kalah dengan tak puas, sampai matipun tak akan puas.”

“Aku tahu!” jawab Suma Cau-kun sedih, “semua persoalan kalian telah kuketahui.”

“Tapi ketika kami datang kemari, kau tidak berada di Tiang-an?”

“Ya, waktu itu aku memang tak ada,” Suma Cau-kun menghela napas panjang, “aku tidak tahu kau bisa datang sedemikian cepat.”

“Maka kau seorang diri pergi ke Lok-yang?”

“Sebenarnya aku ingin pergi seorang diri, menjumpaimu dan menyelesaikan perselisihan di antara kita sampai tuntas, kita berdualah yang membereskan sendiri persoalan ini.”

“Benarkah kau berpikir demikian?”

“Benar!”

Tiba-tiba Cu Bong menghela napas panjang pula.

“Aku tidak salah menilaimu, aku tahu seandainya waktu itu kau berada di Tiang-an, paling tidak kau akan memberi sebuah kesempatan kepada kami untuk berduel secara sungguh-sungguh dan jujur.”

Suara Cu Bong penuh mengandung nada sedih dan gusar, terusnya: “Kami memang datang menghantar kematian, tapi kami tak puas diharuskan mati dalam siasat busuk yang rendah dan munafik seperti ini.”

“Aku tahu!”

“Akupun tidak menyalahkanmu, seandainya kau berada di Tiang-an waktu itu, tak nanti akan kau lakukan perbuatan biadab yang memalukan seperti ini.”

“Kau keliru!” kata Suma Cau-kun serius, “terlepas aku hadir atau tidak, perbuatan tersebut adalah perbuatanku.”

“Mengapa?”

“Sebab ketika itu aku masih terhitung Cong-piau-pacu dari Toa Piau-kiok, jadi setiap perbuatan yang dilakukan orang-orang Toa Piau-kiok masih merupakan tanggung jawabku. Setiap dendam ada pemiliknya, kau sudah sepantasnya menuntut balas kepadaku.”

“Jadi kedatanganmu hari ini untuk membayar hutang?”

“Benar!”

“Mampukah kau lunasi hutang tersebut?” tanya Cu Bong keras-keras, “dengan cara apa kau hendak melunasi semua hutang tersebut?”

“Biar tak bisa dilunasipun harus kubayar,” ucap Suma Cau-kun, “bagaimana harus kubayar, dengan cara itu pula akan kubayar. Kalau tidak buat apa aku kemari?”

Cu Bong menatapnya lekat-lekat, diapun balas menatap Cu Bong, hanya anehnya dibalik sorot mata mereka berdua sama sekali tiada sorot mata dendam ataupun sakit hati, malah yang nampak adalah sinar mata penuh kekaguman dan hormat.

“Kau mengatakan waktu itu kau masih menjabat Cong-piau-pacu dari Toa Piau-kiok, dan sekarang?” tiba-tiba Cu Bong bertanya lagi.

“Entah apa jabatanku sekarang, yang jelas hal mana tiada sangkut pautnya dengan persoalan ini.”

“Mengapa?”

“Sebab kau masih tetap bernama Cu Bong dan akupun masih bernama Suma Cau-kun.”

Dari balik sorot mata yang dalam pandangan orang lain sudah merupakan seseorang yang gagal total, tiba-tiba memancar kembali sinar kewibawaan yang cukup menggetarkan perasaan orang.

“Hari ini aku datang untuk membayar hutang, hal ini disebabkan kau masih bernama Cu Bong dan aku bernama Suma Cau-kun. Dalam soal ini, tak mungkin akan terjadi perubahan apapun dalam situasi dan kondisi apapun.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya: “Sekalipun kepala sudah kutung, darah sudah mengalir, rumah tangga sudah hancur dan orang telah binasa, dalam soal ini tak mungkin akan terjadi perubahan, biar sedikitpun.”

Ya, memang begitulah keadaan yang sebenarnya.

Kepala boleh kutung, darah boleh mengalir, tapi semangat tak akan pernah tunduk, selamanya tak pernah akan punah.

Memang demikianlah semangat sejati seorang anggota persilatan, semangat jantan seorang lelaki kesatria.

Cu Bong menatap Suma Cau-kun lekat-lekat, dari wajahnya memancar pula sinar kewibawaan yang menggetarkan perasaan siapa saja.

“Kau adalah satu-satunya musuh besarku selama hidup, dendam kesumat di antara kita sudah terikat amat dalam. Entah berapa banyak manusia yang tewas akibat persoalan kita ini, “kata Cu Bong, “demi arwah-arwah penasaran tersebut, tak mungkin kita bisa hidup berdampingan lagi.”

“Aku mengerti!”

“Walaupun aku Cu Bong menghabiskan seluruh masa hidupku dalam dunia persilatan, banyak orang telah kubunuh dan banyak dendam sakit hati kubuat, namun belum pernah kupandang sebelah matapun terhadap orang lain,” kata Cu Bong lebih jauh, “hanya kau, kau Suma Cau-kun, seorang yang selalu kupandang tinggi.”

Nada suaranya menjadi gemetar karena dorongan emosi.

“Hari ini, terimalah sebuah hormat dari aku Cu Bong, untuk orang yang kupandang tinggi.”

Cu Bong benar-benar jatuhkan diri berlutut sambil menyembah, lelaki jantan yang tak pernah bertekuk lutut kepada siapapun ini betul-betul berlutut dan menyembah kepada Suma Cau-kun.

Dengan cepat Suma Cau-kun menjatuhkan diri pula berlutut sambil menyembah.

“Aku memberi hormat kepadamu, sebab kau benar-benar seorang enghiong sejati, seorang lelaki jantan yang betul-betul tulen,” Cu Bong melanjutkan dengan suara parau, “setelah penyembahanku ini, mungkin kita akan berpisah untuk selamanya.”

Sepatah demi sepatah kata dia menambahkan.

“Sebab aku masih tetap akan membunuhmu, aku sudah tidak mempunyai pilihan lain.”

“Ya, memang beginilah kehidupan seseorang dalam dunia persilatan,” kata Suma Cau-kun serius, “di antara kita berdua memang sudah tiada pilihan lain.”

“Asal kau mengerti, ini lebih baik,” suara Cu Bong semakin parau, “asal kau mengerti, ini memang lebih baik.”

Cu Bong beranjak berdiri. Sekali lagi ia mengamati anak buahnya satu persatu dengan pandangan tajam.

“Orang inilah yang bernama Suma Cau-kun, orang yang telah menghancurkan Hiong-say-tong kita,” perkataan Cu Bong rendah lagi melamban, “untuk mewujudkan ambisi dan cita-cita yang diidamkan orang ini, entah berapa sudah saudara-saudara kita yang tewas di tengah jalan, sehingga jenasah mereka tak dapat disemayamkan dengan sewajarnya. Entah berapa banyak pula kakak adik kita yang menjadi janda, bahkan banyak di antara mereka yang terpaksa jadi lonte demi mencari sesuap nasi.”

Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, di antara lelehan air mata terselip cairan darah, sementara otot-otot hijau menonjol keluar pada kepalan masing-masing.

“Dalam hati kecil kita semua pernah bersumpah berat, sebelum memenggal batok kepalanya, kita tak pernah akan pulang ke kampung halaman, sekalipun kita tewas semua dalam medan pertempuran, kita tetap akan menjadi setan untuk merenggut nyawanya.”

Kemudian setelah menuding ke arah Suma Cau-kun, dia melanjutkan kata-katanya: “Sekarang dia telah datang, apa yang dia ucapkan tentu sudah kalian dengar semua dengan jelas……. Ia datang untuk membayar hutang. Hutang darah harus dibayar pula dengan darah.”

Sorot mata Cu Bong yang tajam bagaikan sembilu menyapu sekejap wajah anak buahnya, kemudian meneruskan: “Dia cuma seorang diri, diapun seperti kita semua, telah dikhianati anak buahnya dan dijauhi keluarganya, rumah tangganya telah hancur lebur, anggota keluarganya telah punah, tapi paling tidak kita masih mempunyai saudara, maka bila kita hendak membalas dendam, sekaranglah kesempatan yang paling baik. Dia seorang diri tak mungkin bisa menandingi kerubutan kita orang banyak.”

Setelah berhenti sejenak, Cu Bong melanjutkan dengan suara keras dan lantang.

“Di tangan kalian semua telah menggenggam golok, sekarang kalian boleh meloloskan golok dan mencincangnya di sini.”

Suasana tetap hening, tak seorangpun yang meloloskan goloknya.

Semua orang hanya mendengarkan dengan mulut membungkam, bahkan memandang ke arah Suma Cau-kun barang sekejappun tidak.

“Mengapa kalian belum juga turun tangan?” bentak Cu Bong keras-keras, “apakah tangan kalian sudah melunak? Apakah kalian sudah lupa bagaimana caranya membunuh orang?”

Tiba-tiba A-keng menyerbu ke depan, lalu menyembah di hadapan Suma Cau-kun dan Cu Bong dengan sepenuh hati.

“Lo-cong, aku tahu kesertaanmu bersama kami ke sini adalah untuk bersiap-siap mencari mati,” ucap A-keng terharu, “Lo-cong, kau menghendaki kebajikan, matipun tak menyesal, setelah kematianmu nanti, A-keng pasti akan selesaikan persoalanmu lebih dulu sebelum menyusul kau.”

Suma Cau-kun tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba serunya: “Bagus, saudara yang amat setia. Haaahhh…. haaahhhh…. haaahhh…. menghendaki kebajikan memperoleh kebajikan, matipun tak menyesal… sungguh merupakan ucapan yang amat tepat.”

“Traang…!” Mendadak sebilah golok terjatuh ke tanah dari genggaman seseorang.

Terhadap orang itu, Cu Bong segera membentak: “Mang-gou, selama ini kau adalah seorang lelaki sejati, membunuh orang tak pernah berhati lemah. Sekarang, mengapa memegang golokpun kau tak mampu?”

Mang-gou menundukkan kepalanya rendah-rendah, air mata darah turut bercucuran keluar.

“Tong-cu, sesungguhnya dalam mimpipun aku ingin sekali memenggal batok kepala orang ini, tapi sekarang…….”

“Bagaimana sekarang?” suara Cu Bong semakin keras, “apakah kau tak ingin membunuhnya sekarang?”

“Aku masih ingin, tapi kalau aku disuruh membunuhnya dengan cara begini, aku benar-benar tak mampu untuk melaksanakannya?”

“Mengapa?”

“Akupun tak tahu karena apa?”

Mang-gou menjauhkan diri berlutut, kemudian menempeleng wajah sendiri dengan sepenuh tenaga, mukanya menjadi babak belur, memar penuh berlepotan darah. Setelah itu terusnya: “Aku memang pantas mati, aku memang orang bodoh yang pantas mati, meskipun dihati aku mengerti, tapi bila Tongcu menyuruhku mengatakannya ke luar, aku tak mampu untuk mengucapkannya.”

“Kau goblok! Bila kau tak mampu, biar aku yang berbicara,” Cu Bong berteriak keras, “kau tak mampu membunuhnya, karena sekarang kau telah mengetahui, orang yang saban hari ingin kita bunuh ternyata juga seorang lelaki sejati, dia bernyali menghadapi kita seorang diri, sudah seharusnya kitapun menghadapinya secara jantan, bila kita harus membunuhnya dengan cara begini, sekalipun dendam sakit hati dapat terlampiaskan, namun kita tak akan punya muka untuk bertemu lagi dengan jago-jago di kolong langit…..”

Kepada Mang-gou kembali dia bertanya: “Sekarang katakan, bukankah kau berpikir demikian dalam hati kecilmu?”

Mang-gou tidak menjawab, dia hanya membenturkan kepalanya ke atas tanah, wajahnya telah basah oleh air mata bercampur darah.

Sekali lagi Cu Bong mengalihkan sorot matanya yang lebih tajam dari sembilu itu ke wajah anak buahnya.

“Bagaimana dengan kalian?” ia bertanya kepada anak buahnya yang mati hidup bersamanya dan kini tinggal selembar nyawa yang masih dimiliki itu, “bagaimana jalan pemikiran kalian?”

Tak seorang manusiapun yang menjawab.

Tapi tangan mereka yang menggenggam golok kini sudah terluka, luka yang besar.

Walaupun mereka telah kehilangan segala sesuatunya, namun tidak pernah kehilangan semangat jantan, kebesaran jiwa serta kemurnian jiwa mereka.

Cu Bong memandang mereka, menatapnya satu-persatu, sepasang mata yang bulat besar dan lelah, tiba-tiba saja bersinar kembali.

Mendadak dia mengangkat kepalanya dan berkata: “Bagus, hanya beginilah baru terhitung saudaraku yang baik, hanya manusia macam begini yang pantas menjadi saudaranya Cu Bong. Aku Cu Bong bisa bersahabat dengan kalian, biar matipun tak bakal menyesal.”

Ia berpaling kembali ke arah Suma Cau-kun, lalu suaranya: “Sudah kau saksikan semuanya ini? Saudara macam apakah yang dimiliki oleh Cu Bong? Adakah di antara mereka yang terhitung anak jadah….?”

Sepasang mata Suma Cau-kun telah memerah, memerah semenjak tadi, namun ia tak melelehkan air mata.

Dia masih berdiri tegak, setegak tembok di situ sampai lama sekali. Sepatah demi sepatah ia baru berkata: “Cu Bong, aku tak mampu melebihi dirimu, untuk membersihkan pantatmu pun tak pantas, sebab aku tidak memiliki saudara-saudara sebaik saudara-saudaramu itu.”

Perkataan itu bukan diucapkan orang lain, perkataan tersebut diucapkan sendiri oleh Suma Cau-kun.

Suma Cau-kun, si jagoan yang tiada keduanya di kolong langit.

Tiada sinar kebanggaan di balik sorot mata Cu Bong, malah sebaliknya yang nampak hanya kepedihan, dia seolah-olah sedang bertanya kepada diri sendiri.

‘Mengapa kita bukan teman, tapi harus berhadapan sebagai musuh bebuyutan?’

Tentu saja perkataan semacam ini tak pernah akan diutarakan Cu Bong, ia hanya berkata begini: “Entah bagaimanapun juga, kau bersikap baik kepada kami, kami pun tak akan melakukan hal-hal jahat kepadamu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan: “Cuma sayang, ada hal yang tak mungkin dapat berubah untuk selamanya……”

Ia mengepal tinjunya kencang-kencang: “Aku masih tetap bernama Cu Bong dan kau tetap bernama Suma Cau-kun, oleh karena itu aku masih tetap akan membunuhmu.”

Hal inipun terhitung suatu semangat dan tekad, seperti cinta kasih yang sejati, biar laut mengering, biar batu melapuk, semangat dan tekad tersebut tak pernah akan luntur.

Justru karena mereka memiliki semangat dan tekad seperti ini, maka mereka masih selalu dapat hidup di hati kaum lelaki berjiwa kesatria, kendatipun mereka sendiri hakekatnya cuma orang-orang persilatan yang tak berakar.

Kembali Cu Bong berkata: “Barusan kaupun pernah berkata, persoalan ini sebenarnya merupakan urusan pribadi kita berdua, sudah sepantasnya bila kita juga yang menyelesaikannya.”

Kepada Suma Cau-kun ia bertanya: “Sekarang, apakah sudah tiba pada saatnya?”

“Benar!”

Sekali lagi Cu Bong mengawasi wajahnya sampai lama sekali, tiba-tiba dia berkata: “Beri sebilah golok untuk Suma Tayhiap.”

Mang-gou segera memungut goloknya dan dipersembahkan dengan sepasang tangannya. Golok itu merupakan sebilah golok besar yang terbuat dari baja murni, sekalipun di sana-sini sudah muncul beberapa buah gumpilan.

“Golok itu bukan golok bagus,” demikian Cu Bong berkata lagi, “namun dalam genggaman Suma Cau-kun, golok macam apapun bisa dipakai semua untuk membunuh orang.”

“Benar!” Suma Cau-kun membelai mata golok yang gumpil, “golok ini memang sebilah golok pembunuh manusia.”

“Itulah sebabnya aku hanya berharap kau bersedia menyanggupi sebuah permintaanku.”

“Soal apa?”

“Bila kau mampu membunuhku, harap jangan berbelas kasihan dengan ayunan golokmu,” nada suara Cu Bong berubah makin keras, “kalau tidak, sekalipun aku dapat membunuhmu, pasti akan kubawa rasa sesal ini sampai dalam liang kubur.”

Kepada Suma Cau-kun segera tegurnya nyaring: “Inginkah kau saksikan aku, Cu Bong menderita karena harus memikul rasa sesal sampai di liang kubur?”

Jawaban Suma Cau-kun ternyata lebih tegas lagi.

“Bila aku dapat membunuhmu dalam satu ayunan golok, kau pasti tak akan melihat ayunan golokku yang kedua.”

“Bagus, bagus sekali!”

—–

Cahaya golok berkilauan. Cu Bong telah meloloskan goloknya.

Semua orang yang berada dalam ruang kecil telah menyingkir. Orang-orang itu semuanya adalah saudara sehidup semati Cu Bong.

Tapi sekarang, mereka telah menyingkir ke samping.

Siapakah manusia di dunia ini yang bisa lolos dari kematian? Ya, apa sih yang menakutkan dengan suatu kematian?

Tapi harga diri, martabat serta kesetiaan kawan seorang lelaki sejati tak mungkin boleh dilukai atau dicacati oleh siapapun juga.

Setelah melintangkan goloknya di depan dada, Cu Bong berkata pula: “Bila aku tewas di ujung golokmu, saudara-saudaraku tak akan pergi mencarimu lagi.”

Kemudian ia menambahkan: “Bila Cu Bong bisa tewas di ujung golok Suma Cau-kun, matipun tak akan menyesal.”

Tapi dia toh tak urung berpaling serta memandang sekejap lagi ke arah Tiap-wu, pandangan itu mungkin sekali merupakan pandangannya yang terakhir.

“Seandainya aku tewas di ujung golokmu, aku hanya berharap kau bisa mewakiliku untuk merawatnya.”

Perkataan seperti inipun tentu saja tak diutarakan ke luar dari mulutnya.

Cu Bong hanya berkata begini: “Bila kau tewas di ujung golokku, aku pasti akan baik-baik merawat anak binimu.”

“Anak biniku?” Suma Cau-kun tertawa pedih, “mungkin anak biniku sedang menanti ayunan golokmu untuk mengirim aku menjumpai mereka dan memelihara mereka di sana.”

Cu Bong segera merasakan hatinya menjadi tenggelam.

Sekarang dia baru merasa, mungkin kepedihan serta penderitaan yang dialami Suma Cau-kun masih beberapa kali lipat lebih berat dan dalam daripadanya.

Tapi dia telah mencabut goloknya, golok itu sudah disilangkan di depan dada.

Hatinya juga sudah tekad dan nekad.

Soal mati dan hidup sudah perkara kejadian sedetik, mungkin tiada kekuatan lain di dunia ini yang sanggup melerai atau membatalkan duel mati hidup di antara mereka lagi.

Tapi pada saat itulah……pada detik yang terakhir itulah……

“Cu Bong……”

Mendadak Cu Bong mendengar suara orang memanggil, suara tersebut seolah-olah datang dari tempat yang sangat jauh, begitu jauh……..

Tapi orang yang memanggil namanya justru berada di sisinya. Seseorang yang setiap saat dapat menyuruh dia mati demi dirinya.

Seseorang yang selama dalam alam impianpun tak akan pernah bisa dilupakan.

—–

Cu Bong tidak berpaling.

Kini goloknya sudah berada dalam genggaman, musuh bebuyutannya sudah berada di depan mata goloknya. Semua saudara-saudaranya sedang memandang ke arahnya. Ia tak boleh berpaling, dia harus mengutamakan soal kesetiaan kawan daripada perasaan pribadi.

“Cu Bong…….” panggilan itu kembali bergema, “Cu Bong…….”

Suara panggilan yang terasa begitu jauh, seakan-akan pula begitu dekat.

Panggilan dari tempat yang dekat, tapi seolah-olah begitu jauh, sejauh dalam gelombang impian.

Tapi gelombang impian itu justru melekat dalam-dalam di hati kecilnya yang penuh luka.

Akhirnya Cu Bong berpaling.

“Traaaang” sekali lagi bergema suara dentingan nyaring.

Akhirnya Cu Bong berpaling, sewaktu berpaling goloknya sudah terkulai ke bawah, sewaktu berpaling Tiap-wu sedang memandang wajahnya.

Yang dia lihat hanya dirinya seorang dan apa yang dirinya lihat sekarangpun hanya dirinya seorang.

Dalam detik yang singkat itu, semua orang seolah-olah lenyap, semua masalah seolah-olah tersapu hilang.

Semua dendam kesumat, semua rasa benci, marah, duka dan pedih seolah-olah berubah menjadi kupu-kupu.

Kupu-kupu yang terbang pergi ke mana-mana.

Kupu-kupu terbang pergi, lalu terbang kembali, tapi siapa yang pergi?

Siapa yang kembali? Manusiakah? Atau kupu-kupu?

“Cu Bong, Cu Bong, kau berada di mana?”

“Aku di sini, aku di sini, aku selalu berada di sini.”

Dia memang berada di situ. Tapi goloknya tidak berada di situ. Hiong-say-tong tidak di situ. Nama besar yang dipupuk dan dibina selama inipun tidak lagi berada di situ. Namun orangnya berada di situ. Selama di situ ada Tiap-wu, di situ pula Cu Bong hadir.

“Ooohhh…. Cu Bong aku salah, kaupun salah.”

“Ya, memang aku salah.”

“Cu Bong mengapa aku tak pernah mengerti bagaimanakah sebenarnya perasaanmu terhadapku? Mengapa kau tak pernah membiarkan aku tahu?” Tiap-wu berbisik, “mengapa kau tak pernah memberi kesempatan kepadaku untuk mengetahui, betapa besarnya rasa cintamu kepadaku? Mengapa akupun tak pernah memberi kesempatan kepadamu untuk mengetahui, berapa besarnya kebutuhanku atas kau yang begitu mencintaiku?”

Tiada jawaban, suasana tetap hening dan sepi.

Memang, ada sementara pertanyaan memang tak perlu jawaban, sebab pada hakekatnya memang tak pernah ada jawabannya.

“Cu Bong, aku akan mati, kau tak boleh mati,” Tiap-wu kembali berbisik, “aku boleh mati, tapi kau tak boleh mati.”

Suaranya bagaikan alunan angin di tengah kabut yang tipis.

“Aku tak mungkin bisa menari bagimu lagi, tapi aku masih bisa bernyanyi untukmu, aku menyanyi, kau mendengarkan. Aku harus menyanyi untukmu dan kau harus mendengarkan nyanyianku.”

“Baik, nyanyilah dan aku akan mendengarkan.”

Semuanya telah tiada.

Tiada manusia, tiada keresahan, tiada dendam kesumat, kecuali suara nyanyian yang ingin dia nyanyikan, tiada sesuatu apa-apa.

Maka dia pun menyanyi.

Iramanya suaranya makin lama semakin jauh, semakin berhenti-henti. Dia menyanyi…. Dia pun akhirnya menyanyi……

Kemudian, dia pun berhenti.

Semua kehidupan yang ada di dunia ini seluruhnya terhenti, paling tidak terhenti semuanya pada detik itu.

Tiada tarian lagi di dunia ini, juga tiada nyanyian. Di dunia ini seakan-akan tiada sesuatu apapun, bahkan air matapun tiada……..

Yang kini ada tinggal darah.

Cu Bong berdiri termangu-mangu di situ, memandang wajah Tiap-wu dengan tertegun……

Tiba-tiba wajahnya berubah, berubah menjadi amat pucat bagaikan mayat, sepasang matanya mendelong besar, sayu, tak bersinar…… segala sesuatunya seolah-olah menjadi gelap gulita, lebih gelap dari malam yang tak berbintang….

Ia merasa segalanya punah, lenyap dan hilang tak tahu kemana perginya.

Lalu dia memuntahkan darah segar.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: