Kumpulan Cerita Silat

23/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 13

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:10 am

Pedang Tetesan Air Mata – 13
Siapa Yang Jadi Domba?
Oleh Gu Long

Suma Cau-kun melarikan kudanya kencang-kencang menelusuri jalan raya yang menghubungkan Lok-yang dengan Tiang-an.

Kudanya dilarikan kencang-kencang dan binatang tersebut dapat berlari dengan penuh tenaga, sebab sepanjang jalan dia sudah empat kali berganti kuda.

Semua kuda yang dipergunakan rata-rata adalah kuda jempolan, kuda yang berlari kencang, sebab dia mengerti tentang kuda, diapun bersedia membeli dengan harga yang tinggi.

Sekarang dia harus buru-buru kembali ke Tiang-an.

Empat kali berganti kuda, setiap kali kuda yang diganti pasti roboh dan berbuih dari mulutnya.

Keadaan Suma Cau-kun sendiripun tak jauh berbeda, ia sudah lelah dan kehabisan tenaga, setiap saat tubuhnya dapat roboh ke tanah.

Sebab dia harus secepatnya sampai kembali di Tiang-an.

Dalam hati kecilnya telah muncul suatu firasat jelek, dia seperti merasakan seseorang yang amat dekat hubungannya dengannya akan dibunuh seperti domba atau kerbau.

Kota Tiang-an semakin dekat.

Perasaan Suma Cau-kun bertambah gundah dan kalut, firasat jelek yang menghampirinya makin lama semakin bertambah kuat.

Dia seolah-olah telah melihat ada seseorang yang amat dekat dengannya telah tergeletak di tengah genangan darah dan sedang berteriak sambil di tengah genangan darah dan sedang berteriak sambil meronta-ronta.

Tapi dia tak dapat melihat siapa gerangan orang itu.

Kali ini yang pasti mati di Tiang-an adalah Ko Cian-hui dan Cu Bong, sudah dapat diperhitungkan mereka tak akan bisa lolos dalam keadaan hidup.

Tapi ia tidak menaruh perhatian terhadap mati hidupnya kedua orang ini, mereka bukan sanaknya juga bukan keluarganya.

Bagaimana dengan Go Wan? Mungkinkah Go Wan?

Hal ini mustahil rasanya.

Go Wan adalah seorang wanita, belum pernah mencelakai orang lain, lagi pula selama ini hidupnya terpencil, bagaimana mungkin dia bisa menemui bencana yang begini menakutkan?

Atau jangan-jangan Cho Tang-lay?

Hal inipun jelas tak mungkin terjadi, dengan kecerdasan dan ilmu silat yang dimiliki Cho Tang-lay, entah dalam keadaan yang bagaimanapun gawatnya, sudah pasti ia dapat melindungi diri sendiri.

Sekalipun dalam peristiwa kali ini pihak Toa Piaukiok menderita kekalahan total, sudah pasti dia dapat meloloskan diri dan mundur dengan selamat.

Kecuali beberapa orang ini, hampir boleh dikatakan tiada sanak keluarga yang dimilikinya lagi di dunia ini, lantas firasat yang jelek ini seharusnya terjatuh pada siapa?

Suma Cau-kun tidak habis mengerti.

Tentu saja diapun tak pernah akan menyangka kalau pada saat yang bersamaan Cho Tang-lay sedang berada dalam keadaan yang kritis, dia sedang menjadi domba yang akan dijagal orang.

Cho Tang-lay memang seharusnya mati.

Cho Tang-lay pun tahu belum pernah Siau Lay-hiat gagal di dalam usahanya.

Tapi Cho Tang-lay tidak mati.

—–

‘Bluuuuk…..!’

Bersamaan dengan terbukanya peti itu, jari-jemari Siau Lay-hiat yang lincah dan bertenaga sudah mulai melakukan sesuatu gerakan.

Asalkan dia mulai melakukan gerakan, maka dalam waktu singkat beberapa macam lempengan baja yang berada dalam petinya akan berubah menjadi semacam alat senjata yang mematikan, sebuah senjata yang sanggup menaklukkan Cho Tang-lay.

Tapi pada detik-detik yang terakhir itulah, mendadak jari tangannya menjadi kaku.

Sekujur badannya seolah-olah ikut menjadi kaku.

Lewat lama, lama kemudian, ia baru mendongakkan kepalanya memandang wajah Cho Tang-lay, walaupun paras mukanya tidak menunjukkan sesuatu emosi, namun sorot matanya memancarkan perasaan gusar dan sedih bagaikan binatang buas yang hampir mati di tangan pemburu.

Cho Tang-lay pun sedang balas menatapnya.

Mereka berdua saling berdiri berhadapan muka, tiada yang berbicara, pun tiada yang bergerak.

Entah berapa saat lagi lewat, tiba-tiba dari jalan sempit di luar kebun sana bergema suara langkah kaki manusia, ternyata Cho Kim muncul pula di situ.

Di belakangnya mengikuti empat orang membawa peralatan arak, seorang membawa kopiah dan pakaian, sedang dua orang menggotong kursi kayu cendana yang dilapisi kulit binatang.

Cho Tang-lay segera mengenakan celana, memakai sepatu dan topi kulit, kemudian duduk di kursi berlapis kulit binatang dan meneguk secawan arak anggur.

Setelah itu dia baru berkata sambil menghela napas panjang: “Begini baru rasanya nyaman dan segar.”

Siau Lay-hiat tidak mendengar, juga tidak melihat, segala sesuatu yang berada di sekitar sana seakan-akan tidak terlihat dan terdengar lagi olehnya.

Bila ada orang yang melihat keadaannya, sudah pasti mereka akan beranggapan apa yang dilihat tak lebih hanya suatu khayalan belaka.

Kejadian seperti ini pada hakekatnya tak mungkin akan terjadi. Berhadapan muka dengan musuh yang paling menakutkan, soal mati dan hidup hanya selisih senapasan belaka, namun dia masih bisa bersikap santai, masih dapat menyuruh orang membawakan kursi, mengambilkan arak dan berganti pakaian.

Bila seseorang yang masih waras otaknya, tak mungkin dia akan melakukan pekerjaan seperti ini.

Tapi Cho Tang-lay telah melakukannya.

—–

Peti sudah dibuka, Siau Lay-hiat juga tidak melakukan sesuatu tindakan lagi.

Manusia yang misterius, tapi menakutkan itu seolah-olah datang dari neraka, dan sekarang seakan-akan sukmanya sudah dipanggil kembali ke neraka, sehingga dia telah berubah menjadi mayat kaku yang telah membatu.

Cho Tang-lay menuang kembali secawan arak dan dihirup setegukan, kemudian ia baru berpaling dan bertanya kepada Cho Kim.

“Tahukah kau apa yang sesungguhnya telah terjadi?”

“Tidak!”

“Tahukah kau manusia macam apakah Siau sianseng ini?”

Sebelum Cho Kim menjawab, Cho Tang-lay telah menerangkan lebih jauh.

“Dia adalah seorang manusia yang luar biasa selama dua tiga puluh tahun terakhir ini, paling tidak ada empat lima puluh orang jago yang paling hebat di dunia ini telah tewas di tangannya.”

Cho Kim tidak berbicara, dia hanya mendengarkan dengan seksama.

“Konon, peti yang berada di dalam cekalannya sekarang adalah senjata yang paling menakutkan di kolong langit,” Cho Tang-lay berkata lebih jauh, “aku selama ini tak pernah merendahkan kemampuan sendiri, tapi akupun percaya bila dia turun tangan, aku akan berubah menjadi sesosok mayat.”

Dia memandang peti yang berada di tangan Siau Lay-hiat sekejap, kemudian melanjutkan.

“Sekarang dia telah membuka peti itu, karena dia sebetulnya mau membunuhku, tapi hingga sekarang belum juga turun tangan, ternyata ia telah berubah menjadi orang bodoh yang berdiri melulu di sana sambil melihat aku minum arak, seolah-olah dia sudah lupa mau membunuhku.”

Siau Lay-hiat tidak mendengar, biar apapun yang dikatakan Cho Tang-lay, dia seolah-olah tidak mendengar.

Tiba-tiba Cho Tang-lay tertawa, kembali ia berkata: “Tentu saja dia bukannya tak berani membunuhku, manusia seperti aku, mungkin dalam pandangan Siau sianseng tak lebih hanya seekor anjing budukan.”

Ia berpaling ke arah Cho Kim dan bertanya lagi: “Tahukah kau, mengapa dia tidak membunuhku?”

“Tidak!”

“Dia tidak membunuhku karena dia sudah tak mampu membunuhku lagi, satu-satunya yang bisa dilakukan olehnya sekarang, adalah berdiri di sana, menunggu aku yang pergi membunuhnya, membunuhnya seperti anjing, mungkin malahan lebih mudah daripada membunuh anjing.”

Sebenarnya kejadian seperti ini pun mustahil bisa terjadi…….

Tiada orang yang berani menghina dan mencemooh Siau Lay-hiat dihadapannya, seperti juga dahulu tiada orang yang berani menghina dan mencemooh dirinya.

“Cho Kim, aku ingin bertanya kepadamu, tahukah kau apa sebabnya Siau-sianseng yang tiada keduanya di kolong langit mendadak bisa berubah menjadi seekor anjing?”

“Tidak!”

“Kau seharusnya dapat mengetahui akan hal ini, paling tidak pasti dapat mengetahui sedikit diantaranya,” kata Cho Tang-lay dengan suara dingin, “bila persoalan semacam inipun tak bisa kau ketahui, mungkin untuk hidup sampai berumur dua puluh tahun pun sudah bukan hal yang mudah.”

“Benar, paling tidak aku seharusnya dapat melihat sedikit tentang hal ini.”

“Apa yang telah kau lihat?”

“Mungkin Siau-sianseng telah dikuasai seseorang dengan mempergunakan semacam cara yang istimewa, mungkin seluruh tenaga dalam yang dimilikinya sudah tak bisa dikerahkan lagi.”

“Betul!”

“Sesungguhnya Siau-sianseng adalah naga di antara manusia, bukan anjing, cuma Siau-sianseng pun tahu, bila si naga mati, biarpun seekor naga saktipun tak akan melebihi seekor anjing.”

Semua perkataan diutarakan dengan suara yang tenang, karena dia sedang membicarakan suatu kenyataan.

“Tapi anjingpun bisa mati!”

“Tentu saja dapat mati, cepat atau lambat, dia bakal mati, tapi paling tidak dia masih hidup hingga sekarang, entah naga atau manusia atau anjing, bisa hidup beberapa saat lagi toh jauh lebih baik daripada mati seketika. Bila dia masih hidup berarti dia masih punya harapan, asal masih terdapat setitik harapan, maka kesempatan tersebut tak akan dilepaskan dengan begitu saja.”

“Sayang sekali aku sudah tidak melihat dia mempunyai sesuatu harapan lagi, “kata Cho Tang-lay lebih jauh, “entah siapa saja yang terkena racun dupa Kun-cu-hiang, mungkin dia tak akan mempunyai harapan apa-apa lagi.”

“Dupa Kun-cu-hiang?”

“Persahabatan seorang Kun-cu selalu dilakukan dengan lembut dan halus, sama sekali tiada cacat dan tanda-tanda yang kurang sedap, begitu pula dengan Kun-cu-hiang.”

“Sama?”

“Lembut dan bening seperti air, tidak berbau, tidak berwarna, seindah dan selembut pualam,” suara Cho Tang-lay kedengaran sama lembutnya, “hanya ada satu perbedaan, Kun-cu-hiang si lelaki sejati ini sesungguhnya hanya manusia munafik, dia amat beracun.”

Setelah tersenyum, terusnya: “Bila persahabatan Kun-cu lembut seperti angin mamiri, maka racun dari si manusia munafik pun selembut angin mamiri, tanpa disadari orang akan mabuk, satu kali mabuk, maka sukma serasa melayang meninggalkan raganya.”

“Bagaimana mungkin Siau-sianseng bisa terkena racun itu?”

“Karena di dalam pandangan Siau-sianseng, aku tak lebih hanya seekor anjing, lebih penurut daripada seekor anjing, di hadapan Siau-sianseng ada sementara persoalan yang untuk dipikirkan saja tak berani kupikirkan, karena bila hal tersebut melintas di dalam benakku, tak urung paras mukaku pasti akan berubah dan sudah dapat dipastikan Siau-sianseng akan dapat melihatnya.”

Cho Tang-lay memenuhi cawan araknya lagi.

“Sudah barang tentu Siau-sianseng juga tak pernah menyangka kalau aku telah menyebarkan Kun-cu-hiang di dalam saku sesosok mayat, bila Siau-sianseng menghampiri mayat itu dan menggerakkan pakaiannya, Kun-cu-hiang segera akan menghembus ke atas wajahnya.”

Selesai menghela napas dia meneruskan: “Tentunya Siau-sianseng tak akan menyangka bukan, seekor anjing bisa melakukan perbuatan seperti ini.”

“Benar!” Cho Kim mengangguk, “lain kali dan selamanya aku tak akan menganggap seseorang sebagai seekor anjing.”

—–

Si kakek telah mati, rahasia yang paling ingin diketahui Siau Lay-hiat juga turut mati bersama kematiannya.

Ketika dia melihat kematian si kakek itu, tentu dia akan memeriksa apakah orang itu benar-benar telah mati? Dan apakah sebabnya dia mati?

Untuk memeriksa sebab dari kematian seseorang, tak bisa disangkal lagi, dia tentu akan menggerakkan pakaiannya.

Co Tang-lay pasti sudah mengetahui dan memperhitungkan dengan tepat, asal Siau Lay-hiat masih hidup, dia tentu akan datang, maka dia telah mempersiapkan Kun-cu-hiang jauh sebelumnya.

Sesungguhnya persoalan semacam ini merupakan suatu persoalan yang amat sederhana, sederhana sekali.

Sedemikian sederhananya, sehingga menakutkan.

Sekali lagi Cho Tang-lay berkata sambil menghela napas: “Semasa masih hidupnya dulu, si kakek ini bukan seorang lelaki sejati, siapa pula yang bisa menduga, setelah matinya, dia masih memiliki harumnya dupa Kun-cu-hiang?”

Kemudian setelah menggelengkan kepalanya berulang kali, dia menambahkan: “Ada kalanya seorang Kun-cu pun menakutkan sekali!”

Apa yang dia ucapkan bukan kata-kata nasehat, lebih-lebih bukan falsafah hidup yang berguna bagi manusia.

Apa yang dia katakan sekarang tak lebih hanya kata-kata yang sejujurnya.

—–

Senja itu Suma Cau-kun telah sampai di kota Tiang-an.

Kota ini merupakan tempat yang paling lama ia berdiam, sebagian besar jalanan di kota itu sangat dikenal olehnya, tapi sekarang kota itu kelihatan seperti telah berubah.

Tiang-an yang kuno tak akan berubah, yang berubah sebenarnya adalah dia sendiri.

Tapi dia sendiripun tak dapat mengatakan dimanakah letak perubahan tersebut, diapun tak tahu sejak kapan telah berubah.

Di saat dia melangkahkan kakinya menyelusuri jalan raya di kota Lok-yang yang penuh dengan noda darah? Ataukah semenjak ia mendengar kisah pertarungan berdarah si Sepatu Paku dari si Kulit Kerbau?

Bila seseorang baru bisa merangkak naik setelah melangkahi jenasah orang lain, sekalipun bisa merangkak sampai ke puncak pun, bukan suatu pekerjaan yang menggembirakan.

Kini orang maupun kudanya sama-sama sudah lelah.

Ketika kudanya dijalankan menyelusuri jalan yang terpencil di tepi kota, mendadak ia menangkap bayangan punggung seseorang yang sangat dikenalnya.

Orang itu sudah berbalik memasuki bawah kota, lalu lenyap di balik kegelapan, selama ini orang itu berjalan tanpa berpaling.

Tapi Suma Cau-kun yakin seyakinnya, bahwa orang itu adalah Ko Cian-hui.

Sebelum dia mabuk oleh pengaruh arak, daya ingatan maupun ketajaman matanya jauh melebihi siapapun.

Mengapa Ko Cian-hui belum mati? Mengapa Cho Tang-lay melepaskan dirinya?

Apakah pihak Toa Piau-kiok dan Hiong-say-tong sudah terjadi bentrokan secara langsung?

Suma Cau-kun ingin sekali menyusul ke depan dan bertanya kepada Ko Cian-hui, tapi dia lebih terburu-buru ingin pulang, melihat apakah firasat jeleknya memang benar.

Saat ini langit sudah menjadi gelap, tapi perasaannya sangat gundah dan gelisah.

Berada dalam keadaan begini, siapa saja bisa jadi akan membuat kesalahan.

Yang dia lihat mungkin saja bukan Ko Cian-hui.

Kalau toh Siau Lay-hiat tidak tewas oleh pedang tetesan air mata, ini berarti Ko Cian-hui pasti sudah mati.

Asalkan sudah menerima surat perjanjian untuk membunuh orang, belum pernah Siau Lay-hiat melepaskan korbannya dengan alasan apapun.

Tentu saja diapun tak akan membuat pengecualian bagi Siau-ko. Siau-ko tak lebih hanya seorang gelandangan yang sama sekali tiada hubungan apa-apa dengan dirinya.

—–

Siau-ko sendiripun tak mengerti apa sebabnya Siau Lay-hiat tidak membunuhnya, bahkan dia sudah membantu Siau Lay-hiat mencarikan berbagai alasan bagi dia sendiri itu.

Dia benar-benar tak dapat menemukan sesuatu alasanpun yang bisa menjelaskan apa sebabnya Siau Lay-hiat melepaskan dia pergi.

Hingga kini ternyata dia masih bisa hidup, kejadian tersebut benar-benar suatu keajaiban.

Suma Cau-kun pun tidak salah melihat, orang yang baru saja dijumpainya adalah Ko Cian-hui.

Siau-ko sendiri juga melihat kalau Suma Cau-kun sedang melarikan kudanya kencang-kencang.

Tapi dia memang sengaja menghindar, karena selain Cu Bong, untuk sementara ini dia tak ingin bertemu dengan siapa saja.

Dia datang mencari Cu Bong, mencari di seluruh sudut-sudut yang gelap di dalam kota Tiang-an.

Sekarang adalah saat yang paling gawat bagi Cu Bong, saat dia paling membutuhkan teman, entah Cu Bong masih menganggapnya sebagai teman tau tidak, bagaimanapun juga dia tak dapat meninggalkan Cu Bong dengan begitu saja.

Seandainya Cu Bong masih menemani Tiap-wu, bagaimana sikapnya setelah bersua dengannya nanti?

Siau-ko telah membayangkan pula situasi yang amat pelik itu, namun dia telah mengambil keputusan untuk menghadapi keadaan tersebut dengan berani.

—–

Langit semakin gelap.

Bayangan kota Tiang-an yang gelap mulai menyelimuti Siau-ko, perasaannya semakin gundah dan berat.

Cu Bong adalah seorang lelaki sejati, berjiwa besar dan lebih mengutamakan kesetiaan kawan.

Cu Bong sudah seharusnya memahami kesulitannya, seharusnya dapat memaafkannya.

Tapi bagaimana dengan Tiap-wu.

Sambil mengepalkan tinjunya, Siau-ko maju ke muka dengan langkah lebar.

Mendadak cahaya golok berkelebat lewat, sebilah golok yang amat besar dan bersinar tajam telah membacok tiba dari kegelapan.

Ketika golok itu diayunkan ke bawah, tak disangkal lagi, dia memang berniat untuk membacok batok kepala tersebut, sehingga terbelah menjadi dua bagian.

Tapi entah siapa saja yang bermaksud hendak membacok Siau-ko hingga terbelah menjadi dua, jelas hal tersebut bukan suatu pekerjaan yang mudah.

Apa lagi dalam genggamannya masih membawa pedang.

Bacokan golok itu tidak terlalu cepat, ilmu golok yang dipergunakan juga bukan ilmu golok yang mengejutkan.

Sebetulnya secara mudah ia dapat meloloskan pedang untuk melancarkan serangan balasan dan menghabisi nyawa orang yang bersembunyi di balik kegelapan.

Namun dia tidak meloloskan pedangnya.

Sebab pada saat yang terakhir dia telah menyaksikan ikatan kain putih di atas kepalanya dan melihat pula paras mukanya.

Orang ini bernama Ban Gou, termasuk seorang Ho-han dalam perkumpulan Hiong-say-tong, termasuk juga salah satu dari ke delapan puluh enam ksatria berani mati yang datang ke Tiang-an kali ini.

Sesungguhnya orang-orang itu tidak kenal dengannya, tapi sekarang semuanya adalah saudaranya, saudara yang sehidup semati dengan dirinya.

Itu berarti bacokan tersebut sudah pasti telah salah membacok.

“Aku adalah Siau-ko, Ko Cian-hui.”

Begitu tubuhnya mengegos ke samping, bacokan tersebut segera mengenai sasaran yang kosong, mata golok yang membentur tanah dengan cepat memercikkan bunga api.

Dari balik kegelapan, tampak ada sepasang mata yang merah memburu sedang melotot, melotot ke arahnya.

“Kau adalah Siau-ko, aku memang tahu kau, aku memang tahu kau adalah Siau-ko,” tiba-tiba Ban Gou berteriak keras, “nenek busukmu!”

Di tengah teriakan yang keras goloknya melepaskan bacokan lagi.

Selain golok Ban Gou, masih terdapat beberapa bacokan lain.

Beberapa bilah golok itu semuanya bukan golok mestika, si pemegang golok itupun bukan jagoan yang hebat, namun setiap bacokannya justru mengandung rasa benci dan dendam yang membara, setiap orang seolah-olah berusaha untuk beradu jiwa.

Siau-ko bukan seorang manusia yang takut mati.

Tapi Siau-ko pun tak dapat mempergunakan pedangnya yang bisa menggorok leher orang-orang itu dalam sekejap mata, untuk menghadapi saudara-saudaranya, tapi diapun tak ingin mati dalam bacokan golok orang lain.

Walaupun pedang mestika belum diloloskan, namun dalam ayunan sarung pedangnya itu, golok pada berjatuhan ke tanah, sementara tangan yang memegang golok pun tak mampu di angkat kembali.

Biarpun goloknya sudah dipukul, tangan menjadi kesakitan, namun orang-orang itu tidak malah mundur, sorot mata mereka tetap memancarkan kemarahan, perasaan benci dan dendam yang luar biasa.

“Bagus sekali orang she Ko, anggap saja kau memang mempunyai kepandaian,” teriak Ban Gou keras-keras, “bila kau punya nyali, ayo habisi kami semua, bila masih ada yang tersisa, kau adalah anak jadah yang dipelihara anjing.”

“Aku tidak mengerti, apa artinya kesemuanya ini?” Siau-ko dibuat gusar pula, sedemikian gusarnya, sampai gemetar keras seluruh badannya, “aku betul-betul tidak mengerti.”

“Kau tidak mengerti? Kakek moyangmu! Kalau kau tidak mengerti, siapa pula yang akan mengerti?” teriak Ban Gou keras-keras, “kami semua menganggap dirimu sebagai manusia, siapa tahu kau justru seekor binatang, lo-cu sekalian mati-matian beradu jiwa, sebaliknya kau si binatang kabur kemana? Apakah hendak mencuri bini orang lain lagi……?”

“Oooh, sekarang aku baru memahami maksud kalian, tapi kalian tak bakal mengerti,” ujarnya sedih, “ada sementara persoalan yang tak mungkin bisa kalian pahami untuk selamanya.”

“Lantas apa yang kau inginkan?”

“Aku hanya berharap kalian membawaku untuk berjumpa dengan Cu Bong.”

“Kau betul-betul bajingan yang tak tahu malu! Baru kau kembali meloncat-loncat kegusaran, kau masih mempunyai muka untuk bertemu dengannya?”

“Aku harus pergi menjumpainya!” kata Siau-ko sambil menahan diri, “kalian harus membawaku ke sana.”

“Baik, lo-cu akan membawamu ke situ!”

Tiba-tiba seorang lelaki kekar melompat ke depan dan menumbukkan kepalanya di atas dinding kota. Seketika itu juga batok kepalanya yang besar hancur berantakan, darah dan isi benak pun berhamburan di mana-mana.

Memandang darah segar yang bercucuran, hati Siau-ko menjadi dingin, sebaliknya Ban Gou berteriak keras: “Kau masih ingin bertemu dengannya? Apakah ingin membuatnya mati karena gusar? Baik, aku akan membawamu ke situ.”

Dia pun menumbukkan batok kepalanya ke atas dinding kota.

Tapi Siau-ko sudah mempunyai pengalaman sekarang, dia segera menarik tangannya dan membantingnya ke tanah, kemudian tanpa berpaling dia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Dia tidak mengucurkan air mata.

Air matanya kini sudah melebur ke dalam darahnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: