Kumpulan Cerita Silat

22/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 12

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:06 am

Pedang Tetesan Air Mata – 12
Tempat Pembantaian
Oleh Gu Long

Fajar baru menyingsing di kota Tiang-an.

Langit masih diliputi kegelapan, jauh lebih gelap dari hari yang manapun.

Siau-ko duduk seorang diri dalam kegelapan udara yang begitu dingin, hampir membuat darahnya membeku.

“Aku tidak bersalah!”, tiada hentinya ia memberitahukan kepada diri sendiri, “tak pernah bersalah kepada Cu Bong, akupun tak pernah bersalah kepadanya, aku sama sekali tak bersalah.”

Cinta itu sendiri memang tidak bersalah. Bila seseorang mencintai seseorang yang lain, dia memang tak pernah akan bersalah.

Sewaktu ia mencintai Tiap-wu, pada hakekatnya dia pun tak tahu kalau Tiap-wu sebenarnya adalah kekasih Cu Bong, bahkan membayangkan pun tak pernah.

Tapi, setiap kali ia teringat bagaimanakah mimik wajah Cu Bong sewaktu bertemu Tiap-wu, hatinya selalu terasa menyesal dan sakit, bagaikan diiris-iris dengan pisau.

Itulah sebabnya, akhirnya dia mengambil keputusan untuk angkat kaki dari situ.

Sebenarnya diapun ingin menubruk ke muka memeluk Tiap-wu yang tergeletak di tengah genangan darah, dia ingin menyingkirkan semua masalah dan ingin memeluk perempuan yang pernah melintas dalam hidupnya selama ini.

Dia ingin merawatnya, melindunginya, mencintainya selama hidup, biarpun kaki Tiap-wu sudah buntung, namun dia tetap mencintainya, cinta dengan sepenuh hati.

Tapi Cu Bong telah mendahuluinya menubruk ke depan, dan memeluk tubuh Tiap-wu, itulah sebabnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dia pergi berlalu dari sana.

Dia memang hanya bisa pergi dari tempat yang penuh kedukaan itu.

Tapi, seberapa jauh dia dapat pergi?

Kemana ia dapat pergi?

Berapa jauhkah dia harus menyingkir untuk melupakan semua kejadian tersebut?

Siapa pula yang dapat membantunya untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut?

Saat mendekati fajar sudah makin mendekat, namun seluruh jagad masih diliputi kegelapan yang luar biasa.

Siau-ko pun berbaring, membaringkan diri di atas permukaan salju yang dingin sambil mendongakkan kepalanya memandang langit yang gelap.

Kemudian diapun memejamkan matanya rapat-rapat.

Bukankah dengan mata terbukapun hanya kegelapan yang bisa terlihat?

Apa pula bedanya dengan memejamkan mata?

“Kalau keadaan begini dibiarkan berlangsung terus, akhirnya kau pasti akan mampus!”

Baru saja Siau-ko memejamkan matanya, seseorang telah berkata dingin: “Dalam musim dingin tahun ini, paling tidak ada empat lima orang yang mati kaku di dalam kota Tiang-an, membeku bagaikan batu hingga anjing liarpun segan untuk mengendusnya.”

Siau-ko tetap membungkam, dia tak menggubris sama sekali terhadap perkataan itu.

Bukankah hidup amat susah dan penuh dengan penderitaan?

Apa salahnya kalau lebih baik mati saja?

Tapi orang itu justru tidak membiarkan dia mati.

Mendadak dagu Siau-ko dicengkeram orang, kemudian mulutnya dipentangkan, tiba-tiba saja dia merasa ada segulungan cairan yang panas menyerbu ke dalam tenggorokannya dan mengalir ke dalam lambungnya.

Dalam waktu singkat segumpal udara panas yang menyengat muncul dalam lambungnya dan membuat seluruh badannya terasa hangat kembali.

Ketika dia membuka matanya, tampak seseorang telah berdiri dihadapannya bagaikan patung, di tangannya memegang sebuah peti.

Seorang manusia yang sederhana dengan membawa sebuah peti yang sederhana pula.

Apabila orang ini mengharapkan seorang untuk hidup terus, siapapun tak akan bisa mencari mati, tapi bila orang ini menginginkan kematian seseorang, maka siapapun tak akan bisa hidup lebih jauh.

Siau-ko cukup memahami akan hal ini.

“Arak bagus!” sambil melompat bangun ia berusaha untuk menunjukkan sikap acuh tak acuh, “bukankah arak yang kau berikan kepadaku tadi adalah Tay-mie-ciu dari Lu-ciu?”

“Agaknya memang begitu.”

“Dalam masalah ini, jangan harap kau dapat mengelabui diriku, di saat orang lain masih minum susu, aku sudah mulai minum arak,” Siau-ko tertawa tergelak, seakan-akan suara tertawanya amat riang, “ada orang yang sejak lahir sudah berbakat menjadi enghiong, ada pula yang berbakat menjadi jago pedang, tapi ada pula sementara orang yang pada dasarnya berbakat menjadi setan arak.”

“Kau bukan setan arak,” orang itu memandang Siau-ko dingin, “kau adalah seorang telur busuk.”

Gelak tertawa Siau-ko makin menjadi-jadi.

“Haaahhh…. haaahhh……haahhh….. mau telur busuk pun boleh juga, apa bedanya seorang telur busuk dengan setan arak?”

“Ada sedikit perbedaan.”

“Dalam hal mana?”

“Bila sudah kau lihat, tentu akan tahu sendiri.”

“Lihat apa? Kemana kita harus melihatnya?”

Mendadak orang itu mencengkeram ketiak Siau-ko dan membawanya melejit ke udara. Setelah melewati beberapa puluh wuwungan rumah, orang itu baru berhenti.

“Di sini!” katanya, “di sinilah kau boleh melihatnya!”

Tempat ini merupakan sebuah bangunan loteng yang megah, bangunan itu berada di tengah kebun yang luas.

Inilah bangunan loteng rumah makan Tiang-an-kit.

Fajar telah menyingsing, langitpun sudah terang, di tengah lamat-lamatnya suasana pagi yang penuh berkabut, tampak aneka bunga mekar dengan segarnya, hanya yang aneh, di atas permukaan salju pun penuh bertaburan bunga berwarna merah.

“Bila kau mengira itu adalah bunga, maka anggapanmu keliru besar,” kata si pembawa peti itu, “itu bukan bunga, tapi darah!”

Siau-ko segera merasakan hatinya seolah-olah tenggelam ke dasar samudra yang paling dalam.

Ia tahu darimana datangnya darah tersebut, diapun mengetahui darah siapa sajakah itu.

Sewaktu Cu Bong datang ke sana, ia telah mempersiapkan semua anak buahnya di sekeliling tempat itu, dia memang telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan suatu pertarungan mati-matian melawan Cho Tang-lay.

“Tapi kaupun seharusnya dapat berpikir, Cho Tang-lay tak mungkin akan datang tanpa persiapan,” kata si pembawa peti itu, “tempat ini tiada orangnya, hal ini disebabkan orang-orangnya berada di luar semua, dia sudah tahu kalau kalian menempatkan orang-orang di sini, oleh sebab itu dia melakukan pengepungan dari luar.”

Dalam operasinya kali ini, Cho Tang-lay telah menggerakkan tiga ratus dua puluh orang, itulah jumlah jago-jago tangguh yang bisa dikumpulkan olehnya selama dua hari terakhir ini.

“Walaupun jumlah anggota mereka hampir beberapa kali lipat lebih banyak daripada kekuatanmu, namun Cho Tang-lay masih belum berani bertindak secara gegabah.”

“Ya, tentu saja mereka tak berani bertindak secara gegabah, sebab dia tahu orang-orang yang datang kali ini adalah kawanan manusia dari Hiong-say-tong yang tidak takut mati, mereka datang memang untuk beradu jiwa.”

“Beradu jiwa?” pembawa peti itu tertawa dingin, “kau kira setelah berani beradu jiwa lantas berguna?”

Sambil menatap tajam wajah Siau-ko, dia melanjutkan: “Bila kau ingin beradu jiwa denganku, bergunakah itu? Dapatkah aku dibikin ketakutan sehingga tak berani turun tangan?”

Pertanyaan ini tajam, mengarah dan tidak berperasaan, pada hakekatnya membuat orang tak mampu menjawab, dia sendiri memang tidak mengharapkan jawaban dari Siau-ko.

“Ada kalanya beradu jiwa cuma mengantar kematian belaka,” katanya lagi, “Cho Tang-lay tak akan jeri terhadap manusia-manusia seperti itu.”

“Lantas siapa yang dia takuti?”

“Kau!”

Siau-ko segera tertawa getir.

“Apakah kau sudah lupa dengan pertarunganku melawan Suma Cau-kun di bawah pagoda Tay-eng-tha tempo hari?”

“Tapi Suma Cau-kun tidak berada di Tiang-an.”

“Dia berada dimana?”

“Di Lok-yang, dia bukan manusia seperti Cho Tang-lay, diapun memiliki kegagahan seperti Cu Bong, hanya saja dia sudah kelewat lama dikendalikan orang.”

“Oya?”

“Untuk menjadi seorang enghiong yang tak pernah terkalahkan, memang bukan suatu pekerjaan mudah, kehidupan Suma Cau-kun selama inipun bukan dilewatkan dalam hari-hari yang bahagia.”

Si manusia pembawa peti itu menghela napas bagi Suma Cau-kun, karena dalam hatinya sendiripun mempunyai perasaan yang sama.

“Suma Cau-kun tidak berada di Tiang-an, dengan kekuatan Cho Tang-lay seorang, bagaimana mungkin dia bisa menghadapi kau dan Cu Bong? Bila dia turun tangan lebih dahulu, apakah kalian akan melepaskan dirinya dengan begitu saja?”

Siau-ko memandang sekejap noda-noda darah yang menghiasi permukaan salju, tiba-tiba saja dia merasa punggungnya telah basah oleh keringat dingin.

Seandainya bukan dikarenakan Tiap-wu, waktu itu dia dan Cu Bong memang mempunyai kesempatan yang baik sekali untuk membunuh Cho Tang-lay di meja perjamuan.

“Sesungguhnya saat itu merupakan satu-satunya kesempatan yang terbaik untuk kalian, namun kalian telah melepaskannya dengan begitu saja, karena kau telah pergi,” kembali manusia pembawa peti itu berkata, “tentu saja kau memang harus angkat kaki, karena kau adalah seorang lelaki sejati, sudah barang tentu kau tak akan bentrok sendiri dengan Cu Bong lantaran seorang wanita.”

Tiba-tiba nada suaranya menjadi dingin, tajam dan amat tak sedap didengar.

“Tapi pernahkah kau pikirkan, ketika kau pergi justru merupakan saat Cu Bong amat membutuhkan kehadiranmu, kau serahkan seorang perempuan yang buntung kakinya untuk Cu Bong, lantas kau anggap tindakanmu itu sudah cukup setia, sudah cukup bersahabat, tapi aku justru menganggap kau lebih bersetia kawan kepada Cho Tang-lay, karena kau telah serahkan Cu Bong beserta delapan puluh enam saudaranya untuk dia.”

Siau-ko tak sanggup berbicara lagi, biar sepatah katapun sudah tak mampu diutarakan lagi, kini seluruh pakaian yang dikenakan telah basah kuyup oleh keringat dingin.

“Oleh sebab itu merekapun hanya bisa beradu jiwa dengan orang-orangnya Cho Tiang-lay, sayang sekali beradu jiwapun belum tentu ada gunanya, begitu kau pergi, tempat inipun berubah menjadi tempat pembantaian.”

Berbicara sampai di sini, dia menatap tajam wajah Siau-ko, lalu bertanya dengan hambar: “Kau tahu, macam apakah tempat pembantaian tersebut?”

Pelan-pelan Siau-ko mendongakkan kepalanya, menatap tajam-tajam lalu menjawab dengan suara yang sedih lagi parau: “Aku tidak tahu, kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu, sebab waktu itu aku pun berada di sini.”

“Kau hanya duduk di sini, menyaksikan orang-orang itu dibantai orang seperti babi, seperti kambing?”

“Aku bukan hanya melihat, bahkan menyaksikan setiap adegan demi adegan dengan jelas, setiap ayunan golok dapat kulihat semua sejelas-jelasnya.”

“Apakah kau merasa amat gembira?”

“Tidak terlalu gembira, pun tidak terlalu susah,” kata manusia pembawa peti itu hambar, “sebab hal ini memang urusanmu sendiri, persoalan yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan aku.”

Siau-ko selalu berusaha untuk mengendalikan amarahnya dan akhirnya amarah yang semakin memuncak ini mencapai pada puncaknya untuk meledak.

“Sebetulnya kau ini manusia atau bukan?”

“Aku manusia.”

“Kalau toh manusia, mengapa kau bisa duduk berpeluk tangan membiarkan orang dibantai seperti anjing dan babi?” teriak Siau-ko kepada manusia yang selalu tak tergerak oleh gejolak perasaan, “mengapa kau tidak berusaha untuk menolong mereka?”

Orang itu tertawa, dengan senyum yang dingin membekukan, dia balik bertanya kepada Siau-ko: “Mengapa kau sendiri tidak tetap tinggal di sini untuk menolong mereka? Mengapa kau malah membaringkan diri di atas permukaan salju untuk menanti kematian?”

Siau-ko segera terbungkam dalam seribu bahasa.

“Seandainya kau benar-benar ingin mati, kau tak usah mencari kematian sendiri, sebab Cho Tang-lay telah mempersiapkan segala sesuatunya bagimu,” ujar orang itu hambar, “aku tahu dia telah membantu mencarikan seseorang yang setiap saat dapat mengirim kau ke neraka.”

“Untuk mengirimku ke neraka pun bukan suatu pekerjaan yang mudah,” Siau-ko tertawa dingin, “siapa yang dia cari?”

“Orang yang dapat mengirimmu ke neraka memang tidak banyak, tapi orang yang dia cari adalah seorang pembunuh yang tak pernah gagal di dalam pekerjaannya.”

“Oya?”

“Tentu kau harus tahu, ada sementara orang dalam dunia persilatan yang hidup untuk membunuh, semakin tinggi harganya semakin jarang kegagalan yang diperoleh.”

“Apakah orang yang dia cari merupakan orang dengan bayaran paling tinggi?”

“Benar!”

“Kaupun mengetahui siapakah orang itu?”

“Aku tahu!” sahut manusia pembawa peti itu, “dia she Siau, bernama Lay-hiat.”

“Dan kau adalah Siau Lay-hiat.”

“Benar!”

—–

Kini Siau-ko sudah berhasil menenangkan kembali hatinya, hanya rangsangan yang tajam dan dingin seperti ini dapat membuatnya menjadi tenang kembali dari kekalutan dan kepedihan.

Kabut fajar baru muncul. Dengan tenang Siau-ko awasi manusia yang lebih misterius daripada kabut itu, kemudian menghela napas panjang.

“Peristiwa ini memang benar-benar merupakan suatu kejadian yang patut disesalkan, aku benar-benar tidak menyangka kalau kau masih bersedia membunuh orang lantaran uang.”

“Akupun tidak menyangka, sudah lama aku tak pernah membunuh orang karena uang,” sahut Siau Lay-hiat, “kejadian seperti ini bukan sesuatu yang menarik.”

“Kali ini mengapa kau harus melanggar kebiasaanmu?”

Siau Lay-hiat tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, di balik sorot matanya yang kelabu terpercik suatu mimik muka yang misterius bagaikan kabut.

“Dalam tubuh setiap orang tentu mempunyai seutas tali yang tak berwujud, dalam sebagian besar hidupnya, diapun selalu terbelenggu erat-erat oleh tali itu,” kata Siau Lay-hiat, “ada sementara orang yang talinya berwujud anak dan istri, ada pula orang yang talinya berwujud harta kekayaan.”

Ia menatap wajah Siau-ko tajam-tajam, kemudian meneruskan: “Biarpun manusia seperti kau dan Cu Bong tak akan terikat oleh tali seperti ini, namun kalianpun mempunyai tali yang sesungguhnya kalian ciptakan sendiri.”

Ia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya: “Apakah tali yang kalian ciptakan sendiri itu, yakni perasaan kalian, kelewat berperasaan dan perasaan yang berlebihan itulah justru merupakan tali yang membelenggu kalian.”

“Bagaimana dengan kau sendiri?” tanya Siau-ko, “talimu berwujud apa? Tali macam apa yang dapat membelenggumu?”

“Selembar surat perjanjian!”

“Surat perjanjian?” Siau-ko tidak habis mengerti, “surat perjanjian apakah itu?”

“Surat perjanjian untuk membunuh orang.”

Suara dari Siau Lay-hiat seolah-olah datang dari tempat yang amat jauh di sana.

“Sekarang walaupun aku sudah menjadi seorang manusia yang memiliki kekayaan melebihi sebuah negeri, namun dua puluh tahun berselang, aku tak lebih hanya seorang pengembara yang tak bernama dan tak beruang, seperti keadaanmu sekarang, tiada teman, tiada sanak, tiada keluarga, tiada akar, kecuali peti ini, apapun tidak kumiliki…..”

“Apakah disebabkan peti itu merupakan semacam alat senjata untuk membunuh orang, maka kaupun mulai membunuh orang untuk menghidupi dirimu?”

“Semua orang yang kubunuh merupakan orang yang pantas dibunuh, sekalipun aku tidak membunuh mereka, mereka toh akan terbunuh juga di tangan orang lain,” kata Siau Lay-hiat, “betul, balas jasa yang kuminta amat tinggi, namun kepercayaan orang terhadapku sangat baik, cukup membuat sebuah kontrak surat perjanjian, tugas tersebut tentu akan kuselesaikan secara baik.”

Nada suaranya penuh dengan sindiran, sindiran terhadap dirinya sendiri.

“Justru karena alasan ini, maka saban malam aku selalu dapat tertidur dengan nyenyak.”

“Cuma kemudian kau toh cuci tangan juga karena uang yang berhasil kau raih sudah kelewat banyak,” kata Siau-ko dingin.

“Ya, akhirnya aku toh cuci tangan juga, bukan lantaran uang yang kuperoleh terlalu banyak, melainkan karena suatu malam setelah kubunuh seseorang, tiba-tiba saja berubah menjadi tak dapat tidur…..”

Sambil memegang petinya erat-erat, Siau Lay-hiat berkata lebih jauh: “Buat seseorang yang memang mengerjakan pekerjaan seperti ini, peristiwa semacam ini baru merupakan persoalan yang paling menakutkan…..”

“Bagaimana kisahnya sehingga tali itu tertinggal untukmu?”

“Surat perjanjian itu sudah lama dipesan, dalam surat mana, pun telah dijelaskan, setiap saat setiap waktu, dia dapat menyuruh membunuh seseorang, entah kapanpun, aku harus membunuh orang itu, aku tak boleh menampiknya.”

“Jadi selama ini surat perjanjian itu belum pernah terlaksana.”

“Ya, belum! Bukan disebabkan aku tak ingin mewujudkannya, melainkan orang itu belum pernah meminta kepadaku untuk melaksanakan tugas tersebut.”

“Oleh karena itu, hingga sekarang surat perjanjian itu masih tetap berlaku?”

“Ya, begitulah!”

“Mengapa kau harus menerima kontrak surat perjanjian semacam ini?” kata Siau-ko sambil menghela napas, “apakah dia sanggup membayar dengan nilai yang sangat tinggi?”

“Benar!”

“Berapa yang telah dia bayar untukmu?”

“Dia memberi selembar nyawa kepadaku.”

“Nyawa siapa?”

“Nyawaku.”

Setelah berhenti sejenak, Siau Lay-hiat berkata lebih jauh: “Di saat aku menanda-tangani kontrak perjanjian tersebut, dia telah berkata, setiap waktu, setiap saat dia boleh menyuruhku untuk membunuh diriku sendiri.”

“Bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menghabisi nyawamu, siapakah orang itu?”

Siau Lay-hiat menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut, hanya ucapnya: “Aku hanya bisa memberitahukan kepadamu, sekarang surat perjanjian itu sudah dikirim kembali kepadaku dan diatasnya pun telah dicantumkan nama seseorang.”

“Seseorang yang harus kau habisi nyawanya?”

“Benar!”

“Dan nama orang itu adalah Ko Cian-hui?”

“Benar”

Siau Lay-hiat mengawasi wajah Siau-ko dengan tenang, sedangkan Siau-ko juga memandang ke arahnya dengan tenang. Kedua orang itu sama-sama tenang dan hambar, seolah-olah masalah membunuh dan dibunuh merupakan suatu persoalan yang sangat biasa.

Lewat lama, lama kemudian, Siau-ko bertanya kepada Siau Lay-hiat: “Tahukan kau jenazah Cu Bong berada dimana? Aku ingin berziarah di hadapan lelayonnya.”

“Cu Bong belum menjadi mayat, untuk sementara ini dia belum akan mampus.”

Siau-ko segera merasakan napasnya seolah-olah menjadi terhenti, lama kemudian ia baru berkata lagi: “Kali ini apakah diapun berhasil menembusi kepungan?”

“Bukan dia yang berhasil menembusi kepungan, Cho Tang-lay lah yang melepaskan dia pergi,” ucap Siau Lay-hiat, “sesungguhnya dia sendiri sudah tak memiliki kesempatan untuk itu.”

“Mengapa Cho Tang-lay melepaskannya pergi?”

“Sebab Cho Tang-lay akan menahannya untuk dipakai menghadapi Suma Cau-kun, kematian Cu Bong pasti akan menjadi berita besar yang akan menggemparkan seluruh dunia persilatan, biasanya perbuatan seperti ini selalu Cho Tang-lay sisihkan agar dilakukan sendiri oleh Suma Cau-kun.”

Setelah berhenti sejenak, pelan-pelan ia melanjutkan: “Untuk menciptakan seorang enghiong, sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang amat mudah.”

“Betul, memang bukan pekerjaan yang mudah.”

Selesai mengucapkan perkataan tersebut, mereka berdua sama-sama menutup mulut, sebab dari kejauhan sana telah muncul segumpal asap tipis berwarna merah, dalam suasana kelabu yang remang-remang begini, warna merah tersebut kelihatan seperti gumpalan darah segar di atas permukaan salju.

Dengan amat cepatnya asap itu membuyar, lalu Siau Lay-hiat dengan mempergunakan suara yang aneh berkata kepada Siau-ko: “Aku hendak pergi ke suatu tempat yang sangat istimewa, mari kaupun turut aku.”

Darimana munculnya gumpalan asap tipis berwarna merah itu?

Apakah sebagai perlambang dari suatu maksud yang istimewa?

Sebagai suatu tanda rahasia? Ataukah semacam peringatan?

Tempat apakah yang istimewa itu?

Mengapa Siau Lay-hiat mengajak Siau-ko menuju ke sana?

Biasanya ada sementara orang yang suka membunuh dengan memilih suatu tempat yang istimewa.

Apakah tempat itupun sebuah tempat penjagalan?

Tempat itu bukan sebuah tempat pembantaian, tampaknya malah tiada sesuatu keistimewaan.

Tempat tersebut tak lebih hanya sebuah kuil yang sangat kecil, sebuah kuil kecil yang didirikan di tengah sebuah sudut lorong yang sempit dan terpencil.

Patung Toh-tee-kong yang dipuja dalam kuil tersebut sudah lama dilupakan orang, apalagi di tengah fajar bulan ke dua yang begitu dingin, sudah barang tentu tak ada jamaah yang hadir di situ.

Siau-ko berdiri membungkam di belakang Siau Lay-hiat, memandang sepasang matanya yang redup tanpa berbicara, menyaksikan keadaan di sekitar sana, tiba-tiba saja hatinya merasa begitu kesepian, hingga tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tiap-wu, mengapa kau harus Tiap-wu?

Mengapa kau bukan seorang perempuan yang lain?

Sampai detik ini, dia masih belum juga menanyakan tentang nasib perempuan itu.

Ya, dia tak dapat bertanya, sebab perempuan itu bukan miliknya, dia hanya bisa berharap menjadikan saat-saat di kala mereka masih berdua menjadi suatu kenangan yang paling indah di dalam hidupnya.

Apa keistimewaan dari tempat ini?

Mengapa Siau Lay-hiat membawanya kemari?

Mau apa?

Siau-ko tidak bertanya walau hanya sekecap pun.

Sebaliknya Siau Lay-hiat justru berkata: “Mereka semua tahu, semua perbuatan yang kulakukan pada waktu itu telah mereka ketahui semua.”

“Mereka? Siapakah mereka?”

“Mereka adalah mereka.” Siau Lay-hiat berkata sambil menatap tajam patung di meja altar, “yaitu Toh-tee-kong dan Toh-tee-po.”

Siau-ko tidak mengerti

Siau Lay-hiat pun tahu bahwa dia tidak mengerti.

“Dua puluh tahun berselang orang-orang yang cukup berhak untuk meminta kepadaku membunuhkan seseorang, pasti tahu tentang tempat ini, mereka pun pernah berkunjung kemari, meninggalkan sebuah alamat dan nama seseorang,” Siau Lay-hiat menerangkan, “alamat untuk mengambil uang dan nama dari orang yang harus kubunuh.”

Dalam sebuah kuil yang terpencil, di suatu sudut ruangan yang rahasia, dimana terdapat sebuah bau bata yang bisa digerakkan, segulung kertas yang berisi catan, sejumlah harta yang menggiurkan dan selembar nyawa melayang.

Begitu sederhana atau begitu pelik? Tiada seorangpun yang pernah menduganya.

“Bila ku anggap orang itu pantas untuk dibunuh, maka aku akan mendatangi alamat yang mereka tinggalkan, di sana ada sejumlah uang yang menantikan kehadiranku,” Siau Lay-hiat menerangkan, “cukup uangnya saja tak perlu orangnya, selama ini si langganan dan aku tak pernah saling bersua muka.”

“Bagaimana dengan mereka yang tewas di tanganmu?”

“Orang yang diinginkan kematiannya oleh pihak lain dengan pembayaran yang tinggi, biasanya tentu mempunyai alasan yang cukup kuat bagi mereka untuk di bunuh, itulah sebabnya kuil yang kecil ini bisa jadi merupakan tempat terjadinya transaksi yang terbesar di kota Tiang-an.”

Nada suaranya kembali kedengaran penuh sindiran dan ejekan.

“Pekerjaan yang kami laksanakan ini merupakan salah satu pekerjaan yang paling tua dari umat manusia, bahkan boleh dibilang merupakan pekerjaan kaum pria yang tertua di dunia ini.”

Tentu saja Siau-ko cukup memahami maksud dari perkataannya itu.

Kaum wanita pun mempunyai semacam pekerjaan yang jauh lebih tua dari pada pekerjaan apapun, sebab mereka pun memiliki modal dasar yang paling kuno.

“Enam belas tahun, enam belas tahun lebih tiga bulan, betapa panjangnya hari-hari itu,” Siau Lay-hiat menghela napas panjang, “selama waktu-waktu itu, ada yang dilahirkan, ada yang menjadi tua, ada pula yang sudah mati, tapi tempat ini sedikit pun tiada perubahan apapun…….”

“Selama enam belas tahun ini, kau belum pernah datang kemari?”

“Hingga dua hari berselang, aku baru datang kemari.”

“Selewatnya enam belas tahun mengapa kau berkunjung lagi secara tiba-tiba kemari?” tanya Siau-ko.

“Karena aku telah menyaksikan kembali tanda ‘api darah’ yang pernah dikenal umat persilatan pada enam belas tahun berselang.”

“Yaitu asap berwarna merah yang baru saja kita saksikan tadi.”

“Benar!”

Siau Lay-hiat berkata lebih jauh: “Bila api darah muncul, dalam dunia persilatan pasti terdapat seorang manusia penting yang tiba-tiba tewas, oleh sebab itu ada pula yang menyebutnya ‘lencana kematian’, lencana kematian untuk menggaet nyawa orang.”

Setelah menarik napas panjang, ia menjelaskan kembali: “Setiap orang yang datang kemari mencariku, dia tentu akan pergi keluar kota untuk melepaskan asap berwarna merah itu. Pagi ini sudah tiga kali asap tersebut dilepaskan orang. Yang kau saksikan tadi merupakan ketiga kalinya.”

“Maka dua hari berselang kau sudah datang kemari dan telah menerima order dari kontrak surat perjanjian yang belum kau selesaikan itu….?”

“Benar!”

“Cho Tang-lay kah yang telah mempergunakan selembar nyawamu untuk ditukar dengan kontrak surat perjanjian tersebut?”

“Bukan dia, ia masih belum pantas.” Siau Lay-hiat tertawa dingin.

“Tapi kau toh sudah tahu bahwa hal ini merupakan keinginan dari Cho tang-lay?”

“Aku tahu, tentu saja aku tahu,” suara Siau Lay-hiat kedengaran aneh, “semenjak orang itu melenyapkan diri secara tiba-tiba dari keramaian dunia, aku selalu tidak habis mengerti kemanakah dia telah menyembunyikan diri, hingga sekarang aku baru paham.”

Yang dia maksudkan sebagai ‘dia’ tak salah lagi adalah orang yang telah mengadakan kontak surat perjanjian dengannya.

Tapi siapakah orang itu?

Apakah dia mempunyai hubungan yang amat rahasia dengan Cho Tang-lay?

Siau-ko tak ingin menanyakan tentang persoalan-persoalan itu, sesungguhnya dia sudah lelah, sedemikian lelahnya sampai seluruh badannya seolah-olah akan terlepas, tapi kini semangatnya justru berkobar kembali secara tiba-tiba.

“Aku tahu, pada saat ini aku masih bukan tandinganmu, bila dapat mati di tanganmu, aku pun bisa mati tanpa menyesal, sebab paling tidak hal ini jauh lebih baik daripada mati di tangan orang lain, namun kau pun tidak akan semudah itu untuk membunuhku.”

Ia menatap peti yang berada dalam genggaman Siau Lay-hiat lekat-lekat, kemudian meneruskan: “Bila kau hendak membunuhku, paling tidak kau harus membuka petimu dulu, sebelum ku loloskan pedang ini, peti tersebut sudah harus kau buka.”

Kini pedangnya sudah diloloskan di tangan, tidak terbungkus dalam kain hijau lagi, sejak memasuki Tiang-an, ia memang sudah bersiap sedia meloloskan pedangnya setiap saat.

Pelan-pelan Siau Lay-hiat membalikkan badannya, lalu menatap pedang di tangan Siau-ko lekat-lekat, mendadak sorot matanya memancarkan suatu perubahan yang sangat aneh.

Jari-jemarinya yang memegang peti mendadak berubah menjadi pucat, otot hijau yang berada di punggung tangannya ikut menonjol keluar dengan tegangnya.

Bila pedang diloloskan, setan dan dewa pun akan ketakutan.

Tetesan air mata siapakah yang membekas di atas pedang itu?

Tetesan air mata Siau Taysu.

Pedang mestika itu toh sudah seleai ditempa, mengapa dia harus melelehkan air mata?

Karena dia telah meramalkan suatu tragedi, ia sudah melihat dari hawa pedang tersebut bahwa putra tunggalnya akan tewas di ujung pedang tersebut.

Apakah putra tunggalnya bernama Siau Lay-hiat?

Benar!.

—–

Hawa panas menggumpal di ruang mandi.

Cho Tang-lay sedang membersihkan badan, seolah-olah dia ingin mencuci bersih semua noda darah yang baru diperbuatnya semalam.

Kamar mandinya terletak di sisi kamar tidurnya, bentuk maupun letaknya seperti kamar rahasia, dibangun begitu kokoh, rapat dan amat rahasia.

Hal ini disebabkan karena selama dia sedang membersihkan badan, tak seorangpun boleh sampai memasuki ruangan tersebut.

Setiap orang yang sedang mandi, baik dia seorang lelaki maupun wanita, tentu berada dalam keadaan telanjang bulat, tidak terkecuali Cho Tang-lay sendiri.

Kecuali semasa masih bayi dulu, ketika berada di hadapan ibunya, selama hidup Cho Tang-lay tak pernah memperlihatkan tubuhnya yang bugil di hadapan siapapun.

Cho Tang-lay adalah seorang cacad, seorang cacad yang tidak sempurna dalam pertumbuhan badannya.

Bentuk kaki kirinya jauh lebih pendek daripada kaki kanannya, ia tak sempurna dalam perkembangan karena semasa masih berada dalam rahim ibunya, ia mengalami tindihan dari seseorang yang lain.

Orang itu adalah adiknya.

Cho Tang-lay adalah anak kembar. Sebenarnya dia mempunyai seorang adik, yang berada dalam rahim ibunya bersama-sama.

Ia dilahirkan lebih dulu, sedang adiknya mati di dalam rahim ibunya, akibatnya ibunya turut mati setelah melahirkan.

“Aku adalah seorang pembunuh, seorang yang dilahirkan sebagai pembunuh,” dalam igauannya, seringkali Cho Tang-lay berteriak, “sejak dilahirkan aku telah membunuh ibuku dan adikku sendiri.”

Selama ini dia selalu menganggap cacad tubuhnya sebagai hukuman yang dilimpahkan Thian kepadanya, tapi dia tak pernah mau puas.

Dengan segala daya upaya serta kemauan yang kuat, dia berusaha untuk menyingkirkan semua rintangan. Semenjak menanjak dewasa, tak pernah ada orang yang mengetahui kepincangannya, pun tiada orang yang pernah menduga, dulu ia sering mengeluh kesakitan, menderita kesengsaraan yang hebat hanya untuk berlatih berjalan seperti orang biasa.

Sayang sekali masih ada satu hal yang selamanya tak pernah bisa ia lakukan, walaupun ia bersedia mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya.

Selama hidup, ia tak pernah bisa tumbuh menjadi seorang lelaki sejati. Salah satu bagian dari tubuhnya selalu mengecil seperti kepunyaan bocah cilik.

Otot-otot hijau di punggung tangan Cho Tang-lay sudah pada menonjol keluar, menonjol karena air panas, dia paling suka merendamkan diri dalam air panas.

Peralatan kamar mandinya ini khusus dia pesan dari negeri Hu-siang (kini Jepang) yang dibuat berbentuk antik dan mewah.

Setiap kali sedang berendam diri dalam air panas, dia selalu akan merasa seolah-olah berada di sisi adiknya lagi, merasakan tekanan dan sengatan dari hawa panas yang nyaman.

Ataukah dia sedang menyiksa diri?

Atau sedang menghukum diri sendiri?

Apakah diapun seringkali menyiksa dan menghukum orang sebagai pemuas nafsu sendiri?

Yang dipikirkan Cho Tang-lay saat ini bukanlah persoalan-persoalan tersebut, yang sedang dipikirkan olehnya adalah suatu kejadian yang menarik, dia teringat akan Siau-ko dan Siau Lay-hiat.

Yang satu adalah jagoan lihay yang tiada keduanya di kolong langit, bahkan memiliki sejenis senjata yang paling menakutkan di dunia ini.

Tapi nasibnya sudah ditentukan, dia ditakdirkan untuk tewas oleh pedang mestika hasil penempaan ayahnya sendiri.

Yang lain adalah seseorang yang semestinya, pada hakekatnya tiada kesempatan baginya untuk menghindari dari kenyataan.

Tapi pedang mestika itu justru berada di tangannya.

Siapakah di antara kedua orang ini yang bakal tewas?

Cho Tang-lay merasa pertanyaan ini sangat menarik, betul-betul menarik sekali.

Dia tak tahan ingin tertawa.

Tapi dia tak sempat tertawa, senyumnya seolah-olah telah membeku di atas kulit wajahnya.

Menyusul kemudian kelopak matanya turut menyusut kencang.

Hanya orang yang sedang merasa tegang dan ngeri saja kelopak matanya baru akan berkerut kencang. Sekarang dia telah merasakan sesuatu yang gawat.

Dia telah merasa ada seseorang dengan mempergunakan suatu cara yang hingga kini belum dipahami olehnya, telah membuka pintu kamar rahasianya dan seperti sukma gentayangan berdiri di belakang tubuhnya.

Kejadian ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Cho Tang-lay tidak percaya kalau dalam dunia ini benar-benar terdapat seseorang yang memiliki daya kemampuan sedemikian hebatnya.

Tapi sekarang, mau tak mau dia harus percaya.

Dengan cepat dia sudah teringat akan seseorang, hanya orang ini yang mungkin bisa berbuat demikian.

“Siau Lay-hiat, aku tahu sudah pasti kau!” ucapnya kemudian.

“Betul, memang aku,” suara yang parau dan rendah menyahut.

Tiba-tiba Cho Tang-lay menghela napas panjang.

“Setan dan dewa akan ketakutan, perkataan seperti ini sudah tak bisa dipercaya lagi,” dia berkata, “kalau tidak, mustahil kau bisa datang kemari?”

“Mengapa?”

“Sebab kau seharusnya sudah menjadi mayat sekarang, mampus di ujung pedang tetesan air mata milik Ko Cian-hui,” ucap Cho Tang-lay, “bukankah takdir telah menentukan nasibmu?”

Kemudian setelah menghela napas panjang, dia berkata lebih jauh: “Sekarang aku baru tahu, perkataan semacam ini sesungguhnya goblok dan menggelikan.”

“Bagaimana dahulu? Dahulu kaupun percaya?” tanya Siau Lay-hiat.

“Belum tentu percaya seratus persen, belum tentu pula tidak mempercayainya.”

“Maka kaupun berusaha dengan segala daya upaya untuk memaksaku membunuh Ko Cian-hui?” tanya Siau Lay-hiat lagi, “apakah kau ingin mengetahui sesungguhnya di antara kami berdua, siapa yang akan mampus di tangan siapa?”

“Benar!”

“Perduli siapapun yang akan menjadi korban, mungkin kau tidak akan merasa sedih, bukan?”

“Ya, aku memang tak akan bersedih hati, perduli siapa yang mati, semuanya sama-sama menguntungkan bagiku, bila kalian berdua bisa mati bersama, hal ini jauh lebih baik lagi, aku pasti akan membereskan jenasah kalian dengan sebaik-baiknya.”

Semua perkataan yang diutarakan boleh dibilang sejujurnya, karena Cho Tang-lay memang selalu berbicara jujur.

Dalam keadaan demikian, dia memang tidak perlu berbicara bohong….

Apalagi berada di hadapan kebanyakan orang, pada hakekatnya dia tidak ada kepentingan untuk berbohong, apalagi berbohong kepada sementara orang, hal tersebut sama sekali tak ada gunanya.

Dalam hal tersebut, agaknya Siau Lay-hiat sudah dapat memahaminya secara jelas.

Dia paling suka mengadakan hubungan dengan manusia semacam ini, karena dia bisa menghindari banyak kesulitan yang sesungguhnya tidak perlu ada.

Bisa berselisih dengan manusia sebangsa ini, rasanya jauh lebih menggembirakan dari pada menjadi sahabat mereka.

“Akupun selalu berbicara sejujurnya,” demikian Siau Lay-hiat berkata, “setiap patah kata yang kuucapkan, lebih baik kaupun mempercayainya.”

“Aku tentu akan percaya.”

“Aku tahu, sebelum kau berjumpa denganku, kau pasti ingin sekali melihat manusia macam apakah diriku ini.”

“Ya, aku memang inginnya setengah mati.”

“Tapi bila kau berpaling dan memandang sekejap ke arahku, maka selama hidup jangan harap kau bisa melihat hal-hal yang lain.”

“Aku tak akan berpaling,” seru Cho Tang-lay, “untuk sementara waktu ini, aku masih belum ingin mati.”

“Berbicara sejujurnya memang merupakan suatu kebiasaan yang sangat baik, aku harap kau bisa mempertahankan kebiasaan ini seterusnya…..”, nada suara Siau Lay-hiat kedengaran datar dan sangat hambar, “asal kau berbicara sepatah saja kata bohong, maka aku akan menyuruhmu mati di dalam bak mandimu itu.”

“Sudah kukatakan tadi untuk sementara waktu ini, aku belum ingin mati,” suara Cho Tang-lay pun kedengaran amat tenang, “tentu saja akupun tak ingin mati bugil dalam bak mandi seperti ini, kau harus percaya, perbuatan seperti ini tak mungkin bisa kulakukan.”

“Bagus sekali!”

Agaknya Siau Lay-hiat sudah merasa sangat puas dengan keadaan seperti ini, oleh sebab itu diapun segera menanyakan suatu persoalan yang sangat ingin diketahui olehnya.

“Dua puluh tahun berselang, aku pernah membuat kontrak surat perjanjian untuk membunuh seseorang dengan seseorang, apakah kau mengetahui tentang kejadian ini?”

“Ya, aku tahu!”

“Yang paling penting dari surat perjanjian itu adalah di atasnya selalu kosong, selalu kekurangan sederajat nama manusia.”

“Dalam hal ini pun aku mengetahui jelas.”

“Sekarang sudah ada orang mengirim kembali surat perjanjian tersebut kepadaku, bahkan diatasnya telah dicantumkan pula nama seseorang. Tahukah kau nama siapakah yang dicantumkan di atas surat perjanjian tersebut?”

“Aku tahu!,” Cho Tang-lay tertawa lebar, “akulah yang mencantumkan nama tersebut di atas surat perjanjian tersebut, bagaimana mungkin aku tidak tahu?”

“Apakah surat perjanjian itu dibuat antara kau dan aku?”

“Bukan! Aku masih belum pantas.”

“Apakah kau yang menghantar ke sana?”

“Benar! Seseoranglah yang menyuruhku menghantar ke sana, mengirim surat perjanjian itu ke dalam kuil Toh-tee-kong itu lebih dulu, kemudian menyulut api darah di luar kota, agar memastikan kau telah menyaksikannya, maka saban hari harus di sulut satu kali dan beruntun di sulut selama tiga hari.”

“Seseorang yang menyuruh kau mengirim kesana?” tiba-tiba nada suara Siau Lay-hiat berubah menjadi lebih parau, “tahukah kau siapakah orang itu?”

“Aku tahu! Orang-orang yang mengetahui tentang dia pada menyangka dia sudah lama mati, masih banyak orang pula yang sama sekali tidak mengetahui namanya, tapi aku tahu, kecuali aku, tiada orang yang mengetahui tentang dia begitu banyak.”

“Kau tahu kalau dia masih belum mati?”

“Benar!”

“Kaupun mengetahui dimanakah orang itu berada?”

“Ya!”

“Bagus sekali,” suara Siau Lay-hiat seolah-olah hendak menggetarkan sukma, “sekarang kau boleh bangkit berdiri.”

“Mengapa harus bangkit berdiri?”

“Sebab kau akan membawaku untuk pergi menjumpainya.”

“Dapatkah aku menolak keinginanmu itu?”

“Tidak dapat.”

Cho Tang-lay segera bangkit berdiri.

Menghadapi masalah yang tak mungkin bisa diperdebatkan lagi ini, dia memang tak pernah berusaha untuk memperdebatkannya lagi.

“Kau boleh mengenakan mantelmu dan memakai sepatumu, tapi lebih baik kau jangan melakukan pekerjaan yang lain lagi.”

Cho Tang-lay melangkah keluar dari bak mandinya dan mengenakan mantelnya, semua gerakan dilakukan sangat lamban, setiap gerakan dilakukan amat seksama dan berhati-hati.

Sebab dia sudah menangkap di balik suara Siau Lay-hiat penuh mengandung nada dendam, benci dan hawa nafsu membunuh yang meluap-luap……

Siau Lay-hiat tak akan membunuhnya, pun tak akan memotong kakinya, tapi asal gerakan tubuhnya mendatangkan kecurigaan bagi Siau Lay-hiat, bisa jadi salah satu bagian dari tubuhnya akan terlepas dari badannya.

Sudah barang tentu dia tak akan memberi kesempatan seperti ini kepada siapapun.

Tak bisa disangkal lagi Siau Lay-hiat sedang mengawasi gerak-geriknya sekarang, terhadap setiap gerak-geriknya diamati dan diamati dengan seksama.

“Aku tahu, selama ini kau adalah seorang yang sangat tinggi hati, reaksi dan kecepatan gerakmu cukup mengagumkan, tenaga dalampun sudah terlatih cukup baik. Dalam kolong langit dewasa ini sudah jarang sekali ada orang yang sanggup mengalahkan dirimu. Akupun percaya Suma Cau-kun sudah bukan tandinganmu lagi, karena dia tak bisa menangkan ketenangan serta kesabaranmu. Belum juga kujumpai seseorang yang lain, yang jauh lebih tenang seperti kau.”

“Ada kalanya akupun berpikir demikian,” kembali Cho Tang-lay tertawa, “setiap orang memang tak terlepas pernah merasa bangga akan kelebihan sendiri, terutama sekali di tengah malam yang sepi, rasa bangga tersebut akan terasa menggebu-gebu.”

“Kau belum pernah bertemu dengan diriku, juga belum pernah menyaksikan aku turun tangan, darimana kau bisa tahu kalau aku jauh lebih tangguh daripada dirimu?” tanya Siau Lay-hiat hambar, “pernahkah kau membayangkan mungkin sekali serangan yang kau lepaskan bisa membinasakan aku?”

“Aku tak pernah berpikir ke situ, persoalan seperti ini pada hakekatnya tidak pernah kubayangkan ataupun kupikirkan.”

“Mengapa?”

“Sebab aku melarang diriku sendiri untuk berpikir sampai di situ…..” suara tertawa Cho Tang-lay kelihatan sedikit agak menyedihkan hati, “bila seseorang masih ingin hidup terus di dunia ini, buat apa dia mesti memikirkan persoalan-persoalan seperti itu?”

Siau Lay-hiat segera tertawa dingin.

“Oleh karena itu kau lebih suka menjadi seekor anjing penurut daripada mencoba-coba untuk turun tangan?”

“Benar!” sahut Cho Tang-lay, “banyak persoalan di dunia ini memang begitulah bentuknya.”

—–

Pintu sempit di balik halaman yang kecil masih tertutup rapat-rapat.

Cho Tang-lay berjalan menghampiri dan mengetuk pintu tiga ketukan keras disambung dengan sebuah ketukan pelan.

Cara mengetuk seperti ini sudah pasti merupakan kode rahasia yang telah dijanjikan dengan si kakek dalam halaman, namun tiada jawaban.

“Dia sedang pergi?”

“Tidak! Dia ada di rumah, dia pasti berada di sini.” jawab Cho Tang-lay menegaskan.

“Apakah kau hendak memberitahukan kepadanya bahwa orang yang tak ingin dijumpainya telah datang, dan sekarang menyuruhnya cepat-cepat pergi?”

“Kau seharusnya tahu, dia tak akan pergi selama hidup, dia tak pernah berusaha untuk melarikan diri,” ucap Cho Tang-lay lagi, “apa lagi diapun sudah tahu bahwa kau pasti akan datang mencarinya.”

Namun suasana dalam halaman kecil itu tetap sepi, tidak kedengaran suara jawaban.

Untuk kesekian kalinya Cho Tang-lay mengetuk pintu, kali ini dia mengetuk pintu dengan suara yang jauh lebih keras.

Tiba-tiba pintu itu terbuka, namun tiada orang yang munculkan diri untuk membuka pintu.

Sedangkan si kakek itupun belum pergi dari sana.

—–

Halaman kecil itu amat hening, aneka bunga memancarkan baunya yang harum.

Si kakek masih duduk dalam gardu kecil, mukanya menghadap ke arah permukaan salju di depan gardu, seolah-olah dia sedang menikmati tarian dari Tiap-wu.

Tapi Tiap-wu tak akan menari lagi.

Si kakek pun tak akan menjadi tua lagi.

Hanya pikiran dan perasaan yang bisa membuat seseorang menjadi tua.

Bila seseorang tak bisa berpikir lagi, dan bila dia tak mempunyai perasaan lagi, maka orang itu tak pernah akan menjadi tua.

Sekarang si kakek itu tak bisa berpikir lagi, dia tak dapat mempertimbangkan berbagai rencana maupun menganalisa berbagai masalah dunia.

Kakek itupun tak pernah akan berperasaan lagi, tiada perasaan sedih, susah, senang atau menderita yang akan mengganggu pikirannya dan perasaannya.

Hanya orang mati baru tak punya pikiran dan perasaan, hanya orang mati yang tak pernah akan menjadi tua.

Kenyataannya, si kakek itu memang sudah mati.

Biarpun sudah mati, dia masih seperti hidup saja, dengan membawa sikap yang begitu santai dan leluasa, duduk dalam gardu. Namun kenyataannya dia sudah tak bernyawa lagi.

Sepasang matanya yang nakal bercampur cerdas tak akan bisa menyaksikan cahaya matahari lagi, tiada kesempatan untuk menikmati lembutnya matahari dan halusnya angin.

Sepasang matanya telah berubah menjadi kelabu, persis seperti warna langit senja di musim dingin saat ini.

Menyaksikan sepasang matanya itu, Cho Tang-lay tak sanggup untuk maju lebih ke depan lagi, biarpun selangkah saja, dia sudah tak ingin maju lebih ke depan.

Sekujur badannya seakan-akan sudah turut membeku, membeku dan kaku bagaikan tubuh si kakek yang telah menjadi mayat.

Kemudian dia pun melihat Siau Lay-hiat.

Kelihatannya Siau Lay-hiat tidak begitu tinggi, namun dalam kenyataannya dia jauh lebih tinggi daripada kebanyakan orang, lagi pula sangat kurus.

Rambutnya hitam berkilat dan tak nampak sebuahpun yang telah beruban, rambut itu digulung menjadi satu menggunakan tusuk konde yang dikombinasikan dengan ikatan kain berwarna kelabu.

Pakaian yang dikenakan juga berwarna kelabu, biarpun tidak sesuai dengan potongan tubuhnya, namun amat indah dan rapi.

Di tangannya ia membawa sebuah peti, sebuah peti antik tapi sederhana.

Hanya sekian yang berhasil dilihat Cho Tang-lay, karena yang terlihat olehnya tak lebih hanya punggung Siau Lay-hiat.

Bagaikan segulung angin yang berhembus lewat melalui sisi tubuhnya, orang yang selama ini menempel terus di belakang tubuhnya seperti bayangan ini tahu-tahu sudah beralih ke hadapannya.

Sesungguhnya bagaimanakah tampang muka dari manusia yang paling misterius dan paling menakutkan dalam dunia persilatan ini?

Hingga sekarang Cho ang-lay masih belum sempat untuk melihatnya.

Biarpun dia adalah seorang manusia yang jarang sekali menunjukkan perubahan perasaan, kadangkala tanpa disadaripun perasaan hatinya mengalir keluar juga.

Punggung Siau Lay-hiat mulai bergetar, setiap bagian otot badannya seakan-akan ikut bergetar, kemudian bergemetar dengan keras, seolah-olah punggung itu sedang dicambuk orang sekeras-kerasnya……

Kematian dari kakek tersebut ibarat cambuk yang menghajar punggungnya.

Siapapun dapat mengetahui dari nada pembicaraannya tadi, bahwa dia bukanlah sahabat dari kakek tersebut.

Tak bisa disangkal lagi, di antara mereka sesungguhnya terjalin suatu dendam kesumat yang tak mungkin bisa dipunahkan dengan begitu saja.

Ia memaksa Cho Tang-lay membawanya kemari, bisa jadi dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencuci bersih rasa dendam dan bencinya dengan menggunakan darah dari kakek itu.

Sekarang si kakek telah mati, mengapa dia malah memperlihatkan perasaan sedih, emosi dan pedih yang luar biasa?

Yang lebih hebat dan di luar dugaan lagi adalah Cho Tang-lay.

Dia bukan seorang manusia yang berjiwa besar dan berlapang dada, ia tak akan memperkenankan siapapun mengusik martabat serta kehormatannya.

Belum pernah ada manusia di dunia ini yang pernah menghina dan mencemoohnya seperti apa yang dilakukan Siau Lay-hiat kepadanya saat ini, hinaan dan cemoohan demikian hanya bisa dibersihkan dengan cucuran darah.

Andaikata dia membunuh Siau Lay-hiat, tiada orang yang akan keberatan, pun tiada orang yang akan merasa menyesal.

Sekalipun dia menghirup habis darah yang mengalir keluar dari tubuh Siau Lay-hiat seperti meneguk arakpun, tiada orang yang akan bersedih hati.

Siau Lay-hiat bukan seorang manusia yang patut dikasihani, semestinya Cho Tang-lay wajib menghabisi nyawanya. Setiap ada kesempatan yang amat baik, tidak seharusnya dia lepaskan peluang tersebut dengan begitu saja.

Dan sekarang, inilah kesempatan yang terbaik bagi Cho Tang-lay untuk turun tangan.

Kini punggung Siau Lay-hiat persis seperti sebidang tanah subur yang luas dan tanpa pertahanan yang siap menerima serbuan siapa saja.

Ketika itu perasaan Siau Lay-hiat sedang dipengaruhi emosi dan merupakan saat-saat yang mudah baginya untuk menciptakan keteledoran dan kesalahan.

Tapi anehnya Cho Tang-lay justru tidak melakukan sesuatu tindakan apapun jua.

Padahal kesempatan yang baik ini bagaikan awan di tengah udara, sebentar saja akan melayang lewat dan selamanya tak pernah akan balik kembali.

Mendadak napas Cho Tang-lay seakan-akan terhenti, kelopak matanya sekali lagi berkerut kencang.

Akhirnya dia telah menyaksikan paras muka orang itu, manusia yang paling misterius dan paling menakutkan di dunia ini.

Siau Lay-hiat telah membalikkan tubuhnya berhadapan muka dengan Cho Tang-lay.

Dia mempunyai selembar wajah yang amat bersahaja, namun memiliki sepasang mata yang jauh lebih tajam daripada sebilah pedang mestika yang diloloskan dari sarungnya.

“Bila ada orang yang hendak membunuhku, barusan adalah kesempatan yang paling baik,” ujar Siau Lay-hiat, “kesempatan baik seperti itu tak pernah akan terulang kembali.”

“Aku dapat melihatnya.”

“Barusan, mengapa kau tidak berusaha untuk turun tangan?”

“Karena aku sama sekali tidak berhasrat untuk membunuhmu,” jawab Cho Tang-lay bersungguh-sungguh, “perbuatan seperti ini belum pernah melintas di dalam benakku.”

“Kau seharusnya dapat berpikir, kau semestinya tahu aku pasti akan membunuhmu.”

“Kau pasti akan membunuhku?” sorot mata Cho Tang-lay tak pernah beralih dari paras muka orang tersebut, “kau sepertinya tak pernah membunuh orang tanpa menerima bayaran?”

“Tapi kali ini merupakan suatu pengecualian.”

“Mengapa?”

“Sebab kau telah membunuhnya!”

Sorot mata Cho Tang-lay akhirnya dialihkan ke wajah si kakek yang berada dalam gardu, setelah itu kembali dia berkata: “Kau mengatakan aku telah membunuhnya? Kau anggap dia telah tewas di tanganku?”

“Sebenarnya kau tak mungkin bisa mengusiknya, biar seujung rambutpun, kau tak bakal bisa mengusiknya,” kata Siau Lay-hiat, “biarpun ilmu silat yang kau miliki cukup tangguh, namun dalam sekali gerakan tangan saja, dia sudah mampu untuk membinasakan dirimu.”

“Jangan lagi menggunakan telapak tangan, mungkin cukup dengan sebuah jari tangannya pun sudah mampu untuk menghabisi nyawaku.”

“Tapi keadaannya sekarang jauh berbeda, sebelum dia menemui ajalnya, ia sudah berupa seorang cacad.”

“Kau dapat melihat kalau tenaga dalamnya sudah lama dipunahkan orang?”

“Ya, aku dapat melihatnya.”

“Apakah sejak kedatanganmu tadi kau sudah dapat melihatnya?”

“Selama ini dia malang melintang di kolong langit, gerak-geriknya tak pernah diketahui orang, seandainya tenaga dalamnya tidak penuh, bagaimana mungkin dia bersedia menyembunyikan diri di situ dan hidup di bawah lindungan seseorang yang selamanya tak pernah dipandang sebelah matapun olehnya?”

“Tentu saja dia tak akan memandang sebelah matapun terhadap seorang macam aku, tapi dia justru datang ke tempat kediamanku ini,” kata Cho Tang-lay lagi, “sebab dia tahu, manusia seperti aku ini paling tidak masih mempunyai sedikit kebaikan.”

“Kebaikan apa?”

“Aku dapat dipercaya, sangat dapat dipercaya, bukan saja orangnya bisa dipercaya, mulutku juga dapat dipercaya.”

“Oya?”

“Tiada seorang manusiapun dalam dunia saat ini yang tahu kalau tenaga dalamnya telah punah, juga tak pernah ada orang yang tahu dia hidup mengasingkan diri di sini, sebab selama ini aku selalu menutup mulutku rapat-rapat.”

Dalam hal ini Siau Lay-hiat memang tak bisa membantah, dia harus mengakui akan kebenarannya.

“Tidak sedikit umat manusia dalam dunia persilatan yang menginginkan selembar nyawanya, seandainya aku ingin mengkhianatinya, dia sudah lama tewas di tangan orang lain. Sekalipun aku hendak membunuhnya sendiri, buat apa mesti kutunggu hingga sekarang?”

Tak bisa disangkal lagi, apa yang dia katakan memang merupakan suatu kenyataan.

“Bukan begitu saja, malah diapun pernah menyelamatkan selembar jiwaku, itulah sebabnya di saat yang paling berbahaya, dia datang mencariku. Coba bayangkan saja dapatkah ku celakai jiwa seorang tua penolongku?”

“Kau dapat?”

“Ya, sesungguhnya aku sudah lama tahu, sudah semenjak banyak tahun tahu dengan jelas,” kembali Cho Tang-lay berkata.

“Oya?”

“Tatkala dia datang kemari, tenaga dalamnya telah dipunahkan orang, itulah sebabnya dia mengasingkan diri di sini, dalam hal ini kau seharusnya dapat menduganya, bukan?”

Siau Lay-hiat tidak menjawab, tapi dia tidak menyangkal.

Dua puluh tahun berselang, kakek itu belum tua, pada waktu itu tidak banyak jagoan dalam dunia persilatan yang sanggup menandingi kepandaian silatnya.

“Orang lain memang tidak bisa, tapi kau pasti bisa!” suara Siau Lay-hiat kedengaran dingin dan menyeramkan.

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh: “Biarpun tenaga dalamnya sudah punah, namun otaknya masih tetap dimiliki, otaknya justru merupakan harta karun yang tak pernah habis digali orang, didalamnya terkandung pikiran, kecerdasan dan segala macam rahasia besar yang jauh lebih berharga daripada harta karun yang manapun.”

Lalu setelah memandang Cho Tang-lay dengan pandangan dingin, dia menambahkan: “Selama ini kau tak pernah membunuhnya, hal ini disebabkan dia masih sangat berguna bagimu.”

Cho Tang-lay segera termenung dan bungkam dalam seribu bahasa, lama kemudian dia baru menghela napas panjang.

“Ya, benar!” akhirnya Cho Tang-lay mengaku, “memang aku yang telah membunuhnya.”

Tangan Siau Lay-hiat yang memegang peti segera mengepal kencang, seolah-olah setiap saat dia dapat menggerakkan petinya untuk melakukan pembunuhan.

“Sesungguhnya hingga saat inipun, dia masih berguna sekali bagiku,” Cho Tang-lay menghela napas panjang, “sayang sekali saat ini sudah tiba saatnya untuk menghabisi nyawanya.”

Ia memandang sekejap ke arah peti yang berada dalam genggaman Siau Lay-hiat, kemudian katanya pula: “Sekarang apakah kaupun sudah bersiap sedia untuk turun tangan menghabisi nyawaku?”

“Ya, benar!”

“Sebelum kau turun tangan, dapatkah memberitahukan suatu hal lebih dahulu kepadaku?”

“Soal apa?”

“Benarkah kau hendak membunuhku untuk membalaskan dendam bagi kematiannya?”

Sebelum Siau Lay-hiat menjawab pertanyaan itu, Cho Tang-lay telah menyangkalkan masalah tersebut lebih dulu.

Kata Cho Tang-lay: “Sudah pasti bukan, dia berkata, kau tak akan membalaskan dendam bagi kematiannya, sebab dapat kulihat bahwa kau amat membencinya, jauh lebih benci daripada rasa bencimu terhadap siapapun, seandainya dia masih hidup, kaupun akan menghabisi nyawanya.”

“Benar!” ternyata Siau Lay-hiat segera mengaku, “andaikata dia belum mati, akupun akan menghabisi nyawanya.”

Suaranya menjadi amat parau karena penderitaan.

“Namun sebelum aku turun tangan, pasti akan kutanyakan pula suatu hal kepadanya, suatu hal yang cuma dia saja yang bisa memberitahukan kepadaku, suatu hal yang cuma dia yang bisa memecahkan rahasia tersebut.

“Rahasia apa?”

“Kau tak akan mengetahui apa yang hendak kutanyakan.”

“Seandainya aku tahu, lantas bagaimana? Apakah kaupun bersedia melepaskan aku?” Cho Tang-lay balas bertanya.

Siau Lay-hiat memandang ke arahnya dengan pandangan dingin dan ia tak berbicara apa-apa lagi, hanya helaan napas panjang bergema memecahkan keheningan.

“Sayang sekali, aku tidak mau, benar-benar tidak mau.”

“Kalau begitu, sungguh pantas disayangkan.”

Persoalan apa yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Siau Lay-hiat?

Entah persoalan apapun itu, yang jelas saat ini sudah tidak penting lagi.

Sekarang si kakek sudah mati, dalam dunia saat ini sudah tiada orang lagi yang dapat menjawab rahasia tersebut.

Cho Tang-lay sudah pasti akan mati, siapapun seharusnya dapat melihat bahwa dia pasti akan mati.

Siau Lay-hiat sudah mulai membuka peti senjatanya.

Senjata apakah yang paling menakutkan di dunia ini?

Sebuah peti.

Peti itu menakutkan, tapi orang yang membawa peti tersebut lebih menakutkan lagi.

Kelopak mata Cho Tang-lay mulai berkerut kencang.

Sepasang matanya sedang mengawasi orang itu, sementara peluh dingin bercucuran membasahi wajahnya, seluruh tubuhnya sudah mulai gemetar keras.

“Bluuuuk……!” akhirnya peti itu terbuka, terbuka sebuah celah yang kecil.

Sekecil lirikan mata seorang gadis yang cantik.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: