Kumpulan Cerita Silat

21/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 11

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 1:00 am

Pedang Tetesan Air Mata – 11
Tarian Maut
Oleh Gu Long

Kota Lok-yang masih terasa dingin membeku, bunga salju masih berguguran amat deras.

Suma Cau-kun dengan mengenakan mantel tebal, bertopi lebar dan menunggang seekor kuda, menembusi badai salju yang lebat meninggalkan Lok-yang menuju ke Tiang-an.

Dia tahu, bisa jadi Cu Bong sudah berada di Tiang-an sekarang.

Walaupun kekuatan Toa Piau-kiok masih tangguh, namun kekuatannya terlalu menyebar. Jago-jago nomor wahid dari Toa Piau-kiok sebagian besar adalah tokoh-tokoh kenamaan suatu daerah, mereka jarang meninggalkan daerah masing-masing untuk berkumpul di kota Tiang-an, padahal jago-jago yang dibawa Cu Bong menuju ke Tiang-an kali ini hampir semuanya merupakan jago-jago berani mati yang memang sudah bertekad tak akan kembali lagi ke Lok-yang dalam keadaan hidup.

Cho Tang-lay sudah pasti dapat melihat pula akan hal ini, tak mungkin dia akan mengajak Cu Bong untuk berduel keras lawan keras.

Tapi dia pasti mempunyai cara yang baik untuk menghadapi Cu Bong dan cara tersebut tentu sangat manjur.

Kelicikan, kesadisan dan kemunafikan merupakan cara-cara yang selalu mendatangkan kemujuran.

Tiada orang yang lebih memahami Cho Tang-lay daripada Suma Cau-kun sendiri.

Dan sekarang dia hanya berharap bisa pulang tepat pada saatnya dan mencegah Cho Tang-lay melakukan suatu perbuatan yang sudah pasti akan membuatnya menyesal sepanjang jaman.

Ia sudah cukup tinggi mendaki pada puncak kedudukannya, dan sekarang ia sudah mulai lelah.

Dia benar-benar tak ingin menginjak tubuh Cu Bong untuk mendaki ke tingkatan yang jauh lebih tinggi lagi.

Dengan akal muslihat apakah Cho Tang-lay akan menghadapi Cu Bong dan Ko Cian-hui?

Suma Cau-kun belum sempat memikirkannya, diapun tak berkesempatan untuk memikirkan secara bersungguh-sungguh.

Bunga salju beterbangan di angkasa seperti seekor kupu-kupu yang sedang menari di tengah udara.

Mendadak hati Suma Cau-kun tenggelam, sebab dia sudah mengetahui cara apakah yang akan dipergunakan Cho Tang-lay.

—–

Rumah makan Tiang-an-kit yang luas kini sepi dari pengunjung, sebab seluruh ruangan telah disewa oleh Cho Tang-lay.

“Sungguh tak kusangka kalian berdua telah datang lebih awal dari kedatanganku.”

Ketika Cho Tang-lay naik ke loteng, Cu Bong dan Siau-ko sudah duduk di sana, seguci arakpun kini tinggal setengah guci.

“Menjulurkan kepala juga satu bacokan, menarik kepala juga satu bacokan, kalau toh harus datang, mengapa tidak datang lebih awal? Apalagi mendapat kesempatan untuk minum arak bagus sepuasnya.” sahut Cu Bong dingin.

“Benar! Ucapan Cu Tongcu memang benar, memang seharusnya datang lebih awal,” Cho Tang-lay tersenyum, “makin awal datang kemari, memang semakin banyak yang bisa dilihat.”

Dia mendekati jendela dan membuka seluruh daun jendela yang berada di situ, kemudian menambahkan: “Kecuali bunga Bwe yang memenuhi kebun, apa lagi yang berhasil Cu Tongcu lihat?”

“Aku masih melihat setumpuk tahi anjing,” Cu Bong berkaok, “entah anjing liar darimana yang menyusup kemari dan melepaskan hajatnya di sini.”

Air muka Cho Tang-lay sama sekali tidak berubah, diapun tidak marah walaupun sudah mendengar ucapan tersebut.

“Dalam hal ini aku sendiripun kurang jelas,” katanya, “tapi aku dapat menjamin, anjing liar tersebut sudah pasti bukan orang-orang yang ku tanam di situ, juga bukan berasal dari Toa Piau-kiok.”

“Darimana kau bisa tahu kalau anjing-anjing liar itu bukan berasal dari Toa Piau-kiok?” Cu Bong tertawa dingin, “kau telah bertanya kepada mereka? Berbicara dengan mereka?”

Senyuman masih tetap menghiasi wajah Cho Tang-lay.

“Ada sementara persoalan yang sebetulnya tak usah ditanyakan, seperti misalnya Cu Tongcu melihat seonggokan tahi anjing, sudah diketahui pasti ada anjing yang membuang hajatnya di sana, akupun tak usah menyelidiki lagi, apakah tahi itu betul-betul dilepaskan si anjing, sebab anjing maupun tahi anjing toh sama-sama tak dapat di ajak bicara.”

Cu Bong tertawa terbahak-bahak.

“Haahhh….. haahh…… haaahhh…. bagus, bagus sekali, aku memang tak dapat menandingi dirimu.”

Lalu sambil mengangkat cawan tambahnya: “Terpaksa aku hanya bisa mengajakmu meneguk arak!”

“Biar meneguk arakpun pasti akan kulayani.”

Sekali teguk Cho Tang-lay menghabiskan isinya kemudian meneruskan: “Cuma saja, ada suatu persoalan yang tentunya baik kau maupun aku pasti memahaminya.”

“Soal apa?”

“Kesudian Cu Tongcu berkunjung kemari tentu bukan dikarenakan bersedia minum beberapa cawan arak, bukan?”

“Oya?”

“Cu Tongcu datang kemari tak lebih hanya ingin tahu permainan apakah yang sebenarnya sedang dipersiapkan oleh diriku, Cho Tang-lay, bukankah demikian?”

Sekali lagi Cu Bong tertawa terbahak-bahak: “Lagi-lagi kau berbicara dengan sangat tepat, perkataanmu memang tepat sekali.”

Tiba-tiba dia menghentikan gelak tertawanya, kemudian sambil melototkan sepasang matanya yang merah membara dan bersinar tajam, dia menegur lagi kepada Cho Tang-lay dengan nada keras.

“Sesungguhnya permainan apa yang hendak kau perlihatkan kepadaku?”

“Padahal aku sendiripun tiada permainan apa-apa yang hendak kusuguhkan, kalau toh ada, yang bermain jelas bukan aku.”

“Kalau bukan kau, lantas siapa?”

Cho Tang-lay menuang arak untuk cawannya sendiri dan meneguknya sedikit, kemudian dengan nadanya yang khas, sepatah demi sepatah dia berkata: “Malam ini, aku sengaja mengundang Cu Tongcu datang kemari karena ada orang yang akan menarikan suatu tarian bagi si dianya.”

Dengan cepat paras muka Cu Bong berubah hebat.

Entah bagaimanakah perasaan hatinya di saat tersebut?

Tiada orang yang memahami, juga tiada orang yang dapat melukiskan seperti misalnya tersayat pisau, tersengat api atau tertusuk jarum, siapakah yang dapat melukiskan perasaannya ketika itu?

Cho Tang-lay mengangkat cawan araknya ke arah Siau-ko, kemudian pelan-pelan berkata: “Tarian dari Tiap-wu tiada keduanya di dunia ini, tariannya pun tak mungkin bisa disaksikan setiap orang, hari ini, rejeki kita boleh dibilang sungguh bagus.”

Siau-ko terbungkam, dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Sambil tertawa Cho Tang-lay berkata lebih lanjut: “Cuma saja, yang ingin kuharap saudara Ko saksikan pada malam ini, bukanlah tariannya.”

“Lantas apa yang harus kulihat?”

“Melihat seseorang,” Cho Tang-lay berkata sepatah demi sepatah, “seseorang yang mungkin sangat ingin dijumpai saudara Ko.”

Paras muka Siau-ko turut berubah hebat.

Seorang gadis yang sama sekali tak diketahui namanya, suatu perasaan cinta yang tak pernah terlupakan untuk selamanya…..

Ingatan tersebut dengan cepat melintas lewat dan memenuhi seluruh benaknya.

Setelah tertawa, pelan-pelan Cho Tang-lay berkata lagi: “Sekarang, tentunya saudara Ko sudah dapat menebak bukan, siapakah yang kumaksudkan?”

“Praaang!”

Cawan arak yang berada dalam genggaman Siau-ko hancur berkeping-keping, hancuran cawan tersebut segera menusuk ke dalam telapak tangannya.

Tiba-tiba Cu Bong meraung keras, sambil menjulurkan tangannya yang besar dan berotot besar, ia cengkeram baju Cho Tang-lay, kemudian serunya: “Dia berada dimana? Orang yang kau maksudkan itu berada dimana….?”

Cho Tang-lay sama sekali tak berkutik, memandang tangan Cu Bong dengan pandangan dingin, sampai tangan yang mencengkeram bajunya itu mulai mengendor, dia baru berkata: “Orang yang kumaksudkan dengan cepat akan tiba di sini.”

Perkataan tersebut seakan-akan ditujukan kepada Cu Bong, akan tetapi sepasang matanya justru menengok ke arah Siau-ko.

—–

Sebuah kereta kuda berwarna hitam telah berhenti di depan pintu gerbang rumah makan Tiang-an-kit.

Dari balik kebun yang luas, lamat-lamat kedengaran suara musik yang bergema sayup-sayup sampai, dibalik nada lagu yang dibawakan terkandung suatu kepedihan hati yang tebal.

Tiap-wu duduk termangu dalam ruang keretanya sambil mendengarkan irama lagu tersebut.

Ketika angin kencang berhembus lewat, entah berapa banyak daun kering yang berguguran ke atas permukaan salju bagaikan kupu-kupu yang sedang beterbangan.

Ia membuka pintu kereta dan memungut daun kering itu, lalu memandangnya dengan termangu, entah sampai berapa lamanya.

Titik-titik airpun mengalir jatuh ke bawah menimpa daun-daun yang kering itu, entah air mata, entah air hujan, persis seperti embun di atas dedaunan di musim semi.

Angin kencang berhembus pula ke dalam ruang loteng rumah makan Tiang-an-kit, namun Cu Bong membuka pakaiannya lebar-lebar, seakan-akan dia berharap angin dingin yang tajam bagaikan sembilu itu justru menusuk ke dalam hatinya.

Dia dan Siau-ko tidak bersuara.

Ingatan serta kenangan yang manis, kecut, getir serta pelbagai perasaan lain serasa menyumbat kerongkongan mereka.

Seorang kakek buta yang berambut uban dengan membawa sebuah tongkat bambu pelan-pelan berjalan naik ke atas loteng.

Seorang nona cilik berkuncir besar mengikuti di belakangnya dengan kepala tertunduk.

Si kakek membawa seruling, sedang si nona membawa harpa, jelas mereka adalah pemusik yang akan mengiringi tarian dari Tiap-wu nanti.

Walaupun di atas wajah si kakek yang penuh dengan kerutan tidak menampilkan perubahan apapun, namun setiap kerutan di atas wajahnya bagaikan sebuah kuburan, kuburan yang telah memendam beribu-ribu penderitaan dan kepedihan.

Pelbagai tragedi yang berada di dunia ini sudah terlalu banyak yang dilihat olehnya.

Sedangkan si nona cilik itu tak pernah melihat apa-apa, sebab diapun seorang yang buta, sudah buta sejak dilahirkan, pada hakekatnya tak pernah melihat cahaya matahari, tak pernah mengetahui bagaimanakah bentuk kegembiraan hidup di masa remaja.

Dua manusia seperti ini, bagaimana mungkin bisa mengecap kebahagiaan dan kegembiraan?

Dengan mulut membungkam kakek itu berjalan ke atas loteng, lalu berjalan menuju ke sudut yang sudah amat dikenalnya dan duduk.

Bukan baru pertama kali ini dia berkunjung kemari, saban kali selalu membawakan lagu-lagu kesedihan.

Menyanyikan lagu-lagu sedih bagi sementara orang yang banyak tertawa, untuk mengusik rahasia dan penderitaan mereka yang selama ini terpendam di dalam hati.

Anehnya, orang-orang itupun selalu senang membiarkan dia berbuat begini.

Ya, manusia memang makhluk yang sangat aneh, ada kalanya mereka justru mempergunakan kesedihan dan penderitaan sebagai suatu kenikmatan.

Dari bawah loteng kembali bergema suara langkah kaki manusia, langkah itu amat lirih, sedemikian lirihnya sehingga sama sekali tidak menimbulkan getaran.

Mendengar langkah kaki ini Siau-ko segera melompati meja menyusup ke mulut tangga da menyerbu ke bawah.

Sebaliknya Cu Bong tetap tak berkutik di tempat.

Seluruh badannya seolah-olah telah menjadi kaku, berubah menjadi sesosok mayat yang membatu, fosil yang mengeras bagaikan karang.

Seorang wanita yang sama sekali tak diketahui siapa namanya, suatu perasaan cinta yang tak pernah akan terlupakan lagi.

Sebetulnya Siau-ko mengira dia sudah tak akan berjumpa lagi dengannya, tapi sekarang ia justru telah muncul dihadapannya.

Mimpikah ini?

Diapun telah memandang ke arah Siau-ko.

Ia memandang pemuda itu dengan wajah termangu. Entah terkejut, entah gembira, seperti ingin menyongsong, tapi seperti juga hendak menghindar.

Siau-ko tidak membiarkan perempuan itu menentukan pilihan sendiri.

Dengan cepat dia menyerbu ke atas dan menariknya, menarik sepasang tangannya yang lembut.

Kesemuanya ini bukan dalam impian, bukan pula dalam alam khayalan.

Siau-ko dapat merasakan betapa hangat dan lembutnya tangan tersebut, dalam hatinyapun dapat merasakan kehangatan dan kemesraan yang meluap-luap.

“Waktu itu mengapa kau harus pergi? Kau kemana? Mengapa bisa muncul lagi di sini?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak sebuahpun yang diajukan oleh Siau-ko.

Asal mereka dapat bersua kembali, persoalan lain sudah bukan menjadi masalah penting lagi.

“Kau telah datang, kau benar-benar telah datang. Kali ini aku tak akan membiarkan kau pergi lagi dari sisiku.”

Sambil menarik tangannya yang lembut, selangkah demi selangkah Siau-ko mundur ke belakang dan menaiki anak tangga, sorot matanya seakan-akan merasa berat untuk beralih lagi dari paras mukanya.

Mendadak……….. paras muka perempuan itu menunjukkan berbagai macam perubahan yang tak dapat dimengerti oleh siapapun.

Kelopak matanya tiba-tiba mengerut kencang karena ngeri dan takut, tapi kemudian meluas dan menyambar, seluruh tubuhnya seakan-akan telah runtuh dan siap untuk roboh ke tanah.

Sebenarnya apa yang telah ia saksikan?

Siau-ko memandang ke arahnya dengan terkejut, sebenarnya dia ingin segera berpaling untuk melihat apa gerakan yang telah disaksikan oleh perempuan itu.

Tapi secara tiba-tiba paras muka sendiri mengalami pula suatu perubahan yang menakutkan sekali, dia seolah-olah teringat akan suatu kejadian yang menakutkan.

Lama, lama kemudian dia baru berani berpaling. Begitu memalingkan kepalanya, dia lantas melihat Cu Bong.

Mimik wajah Cu Bong ketika itu persis seperti seekor binatang buas, seekor binatang buas yang terjebak dalam perangkap yang dipasang pemburu, begitu sedih, gusar dan putus asa.

Sorot matanya tertuju ke depan mengawasi wajah si perempuan yang sedang ditarik Siau-ko naik ke loteng.

Tiap-wu……!

Di dalam waktu singkat, Siau-ko telah memahami semua duduknya persoalan, dia telah mengerti apa gerangan yang sebenarnya terjadi.

Tiap-wu……!

Rupanya perempuan yang dicintai dan selama ini selalu diimpi-impikan tak lain tak bukan adalah Tiap-wu, perempuan yang tak pernah dilupakan oleh Cu Bong dan hampir membuatnya sinting.

Ooh nasib, mengapa kau begitu kejam?

Jelas peristiwa ini bukan kemauan takdir, bukan suatu kebetulan, sudah pasti bukan.

Cho Tang-lay sedang memandang ke arah mereka, sorot matanya penuh senyuman yang terpancar dari balik matanya, seakan-akan merupakan ejekan dari seorang dukun sesat yang mentertawakan kawanan orang bodoh yang sedang mempersembahkan sesajian kepadanya.

Tangan menjadi dingin.

Setiap orang yang berada di situ meraskan tangannya menjadi dingin, kaku dan membeku.

Dengan cepat Siau-ko melepaskan tangan Tiap-wu yang dingin dan kaku, lalu mulai mundur, mundur terus ke suatu sudut ruangan.

Kini, sepasang mata Cu Bong telah menatap wajahnya tajam-tajam, sepasang mata yang membelalak besar dengan warna merah membara, persis sebilah tombak.

Tentu saja sebilah tombak tajam yang berlumuran darah.

Siau-ko merasa mampus seketika.

Walaupun orangnya belum mampus, namun hatinya sudah mampus tertusuk oleh tombak tajam yang berlumuran darah.

Tapi sayang, biarpun mampus juga belum dapat melepaskan diri dari keadaan.

Apa yang bakal dilakukan Cu Bong terhadapnya?

Apa pula yang harus dia lakukan terhadap Cu Bong?

Siau-ko tak berani berpikir lebih jauh, diapun tak ingin memikirkannya. Pada hakekatnya semua pikiran dan perasaannya terasa bagaikan tersumbat.

Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang adalah angkat kaki.

Siapa tahu, baru saja dia bersiap sedia untuk angkat kaki dari situ mendadak terdengar seseorang berseru keras: “Tunggu dulu.”

Siau-ko amat terkejut, dengan cepat ia jumpai Tiap-wu telah berhasil memulihkan kembali ketenangannya, ternyata dia tak takut menghadapinya.

“Aku tahu kau akan pergi, akupun tahu kau pasti akan pergi dari sini,” ucap Tiap-wu, “tapi kau harus tunggu sebentar sebelum pergi dari sini.”

Sikapnya begitu tenang dan tegas, sepasang matanya seolah-olah mempunyai sesuatu kekuatan yang mampu membuat siapa saja tak mampu lagi untuk menampik permintaannya.

Hanya seseorang yang berada dalam keadaan tak takut dan tak gentar terhadap segala masalah, baru dapat menampilkan kekuasaan semacam ini.

Tiap-wu membalikkan kembali tubuhnya menghadap ke arah Cu Bong, lalu pelan-pelan berkata: “Aku masih ingat, kau pernah bilang, di saat aku hendak kemari, siapapun tak boleh pergi dari sini.”

Cu Bong mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, seolah-olah dia hendak menghancur-lumatkan seluruh dunia ini, memusnahkan semua yang dijumpainya.

Cho Tang-lay yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba tertawa, tertawa amat licik, kemudian tanyanya kepada Tiap-wu: “Kau masih bisa menari?”

“Pernahkah kau saksikan ulat sutera yang menyemburkan ludahnya?” kata Tiap-wu, “asal dia belum mati, seratnya tak akan pernah berhenti.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: “Demikian pula dengan aku, asal aku masih hidup, akupun dapat menari.”

“Waaah….., kalau begitu bagus sekali.” seru Cho Tang-lay sambil bertepuk tangan.

Mantel bulu rase terlepas, pakaianpun beterbangan mengikuti gerakan menari.

Si kakek pemusik yang selama ini duduk membungkam di sudut ruangan, mendadak bangkit berdiri, wajahnya yang lesu dan malas kelihatan mirip selembar kertas kuning yang sudah kusut.

“Aku adalah seorang yang buta, sudah tua buta lagi, dalam hati kecilku sudah lama tak pernah ada masalah yang bisa membuat hatiku jadi gembira, memikirkan oleh sebab itu, aku selalu membawakan lagu-lagu sedih bagi toa-ya sekalian.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh: “Tapi hari ini, aku ingin melanggar kebiasaanku itu.”

“Melanggar kebiasaan dengan membawakan sebuah lagu yang berirama gembira?” tanya Cho Tang-lay.

“Benar!”

“Hari ini, apakah kau sudah dapat memikirkan masalah yang bisa meriangkan hatimu?”

“Belum!”

“Kalau toh belum, mengapa kau harus melanggar kebiasaan?”

Dengan mempergunakan sepasang matanya yang buta dan sama sekali tak dapat melihat apa-apa, si pemusik berambut putih itu memandang ke tempat kejauhan yang gelap, lalu dengan suara parau dan sedih katanya: “Walaupun aku adalah seorang buta, mana tua buta lagi, namun aku masih dapat merasakan bahwa kejadian memedihkan yang bakal terjadi di sini hari ini, banyak sekali.”

—–

Irama riang telah bergema memenuhi seluruh ruangan.

Tiap-wu pun sudah membawakan tariannya.

Tarian yang dibawakan olehnya merupakan tarian yang riang dan gembira, seakan-akan dia telah melupakan seluruh kesedihan dan kesengsaraan yang telah dialaminya sepanjang hidup.

Mendadak si kakek pemetik harpa itu mulai mengucurkan air matanya…..

Biarpun irama lagu yang dibawakan adalah irama lagu yang riang gembira, namun matanya yang buta justru mengucurkan air mata.

Ia tak dapat melihat orang-orang yang hadir di dalam ruangan tersebut, namun ia dapat merasakannya.

Begitu memedihkan, begitu gelap mencekam setiap orang yang hadir di sana.

Irama gembira yang dibawakan olehnya hanya akan menambah kesedihan terasa bertambah sedih, irama gembira yang dipetik olehnya seakan-akan sudah berubah menjadi irama kematian.

“Criiiiing…..! diiringi dentingan nyaring, tali senar harpa putus jadi dua.

Tarianpun segera terhenti di tengah jalan.

Tiap-wu bagaikan selembar daun kering terjatuh di kaki Cho Tang-lay.

Mendadak ia meloloskan sebilah pisau dari balik laras sepatu Cho Tang-lay.

Pisau itu adalah sebilah pisau belati yang berbatu zamrud pada ujung gagangnya.

Ia mendongakkan kepalanya memandang sekejap ke arah Cu Bong, lalu berpaling dan memandang sekejap pula ke arah Siau-ko.

Kini pisau pendeknya sudah terjatuh ke lantai, persis jatuh di atas lututnya.

Darah segar berhamburan ke mana-mana dan membasahi seluruh permukaan lantai.

Sepasang kaki itupun berubah menjadi dua batang kayu yang terpapas kutung jadi dua.

Habis sudah riwayat seorang penari terkenal, dalam dunia ini tak mungkin akan dijumpai seorang penari dengan kaki yang kutung.

Paha dan kaki yang begitu indah, tarian yang begitu luwes, tak mungkin akan dijumpai lagi di kolong langit.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: