Kumpulan Cerita Silat

21/05/2008

Duke of Mount Deer (33)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:09 pm

Duke of Mount Deer (33)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada hy_edl048 dan Pipit)

Para siwi yang lainnya juga terkejut. Apalagi secara tiba-tiba, mereka merasa kepala mereka pusing sekali.

“Ah, celaka!” seru mereka. “Arak ini tidak beres!”

“Tang kongkong!” kata Siau Po dengan suara lantang. “Apakah kau sedang menjalakan perintah thayhou untuk meracuni kami semua? Benarkan? “Kenapa kau mencampurkan racun ke dalam arak?”

Tang Kim kwe terkejut setengah mati. Tuduhan Siau Po merupakan fitnah yang keji sekali!

“Ma …na… mana mungkin?” teriaknya gugup.

“Ah! Kau tentu ingin membalas sakit hati keempat thaykam yang mati kemarin, bukan?” desak Siau Po. “Betul. Dan sekarang kau memasukkan racun dalam arak kami! Ayo, para siwi! Bekuk mereka!”

Para siwi itu menjadi bingung. Sementara itu, mereka merasakan kepala mereka semakin pusing.

Dua orang thaykam tidak dapat mempertahankan diri lagi. Mereka segera terkulai di atas tanah. Disusul dengan robohnya Tang Kim-hwe, kemudian Tio Kong-lian. Thaykam yang terakhir semakin takut. Dia roboh bertepatan dengan para siwi lainnya. Situasi dalam ruangan itu jadi berantakan. Meja dan kursi terbalik di sana-sini karena tertimpa tubuh para siwi.

Menyaksikan keadaan itu, Siau Po segera menghambur ke depan Tang Kim hwe kemudian mendupat pantat thaykam itu keras-keras, tapi Tang Kim-hwe tidak berkutik sama sekali. Matanya juga terpejam.

Siau Po senang sekali melihat kenyataan ini. Dia berani dan gesit. Sama sekali tidak takut, meskipun dia sudah mencelakai keempat thaykamnya Ibu suri. Cepat-cepat dia lari ke pintu dan menutupnya. Setelah itu dia menghunus pisau belatinya dan menikam Tang Kim-hwe serta ketiga thaykam lainnya masing-masing satu kali.

Gouw Lip Sin dan yang lainnya heran menyaksikan perbuatannya. Bahkan Lau It-cou sampai mengeluarkan seruan tertahan. Mereka merasa perbuatan thaykam cilik ini sungguh luar biasa.

Siau Po bekerja dengan cekatan. Dia membawa pisau belatinya yang tajam kemudian ditebasnya urat kerbau yang mengikat tangan Gouw Lip-sin bertiga. Dengan demikian mereka jadi bebas.

“Kongkong,” kata Lau It-cou. “Bagaimana caranya kami menyingkir dari sini?”

“Gouw loya cu, Go suheng,” kata Siau Po kepada kedua orang itu. “Cepat kalian pilih pakaian seragam siwi yang cocok dengan bentuk tubuh kalian. Dan kau, Lau suheng, kau tidak mempunyai kumis, sebaiknya kau menyamar menjadi thaykam saja. Pakailah seragamnya Tang kongkong itu!”

“Biar aku menyamar jadi siwi saja!” sahut Lau It-cou.

“Tidak bisa,” kata Siau Po. “Kau harus menjadi thaykam!”

Terpaksa It Cou menurut. Dia menganggukkan kepalanya.

Segera ketiga orang itu bekerja. Dalam waktu yang singkat mereka sudah menyamar menjadi siwi dan thaykam.

“Mari kalian ikut aku!” kata Siau Po. “Kalau kita bertemu dengan siapa pun dan ada yang menegur kalian, jangan memberikan jawaban, kalian harus pura-pura bisu!”

Selesai berkata, Siau Po mengeluarkan obat mukjijatnya. Dia mengguyurnya di atas luka Tang Kim-hwe dan menambahkan beberapa tikaman lagi agar daging dan tulang di tubuh thaykam itu semakin cepat lumernya.

“Mari!” ajaknya kepada Gouw Lip-sin bertiga.

Sekeluarnya dari kamar tahanan, Siau Po mendorong ketiga orang itu menuju dapur kemudian pintunya ditutup kembali. Jarak antara siwi pong dengan Siang-sian tong berdekatan. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah sampai di tempat di mana Cian laopan dan beberapa kawannya sudah menunggu. Mereka membawa dua ekor babi yang sudah disembelih dan dibersihkan. Sikap mereka tampak menghormati sekali.

“Hai, Lao Cian, kau berani main gila!” bentak Siau Po tiba-tiba. “Aku memesan babi yang besar, gemuk dan masih muda, sekarang kau membawakan babi yang kurus dan tua pula! Kau…. Apakah kau masih mau makan nasi?”

Cian laopan tampak ketakutan. Tubuhnya membungkuk dalam-dalam.

“I… ya… iya…” sahutnya gugup.

Beberapa thaykam di Siang-sian tong melihat kedua ekor babi itu besar dan gemuk, tapi merupakan kebiasaan bagi mereka bila tidak ada uang pelicin, apapun dicela. Melihat pemimpin mereka membentak dengan suara keras, mereka pun segera meniru.

“Lekas bawa pergi!” bentak mereka.

Siau Po tampak semakin gusar. Dia menoleh kepada Gouw Lip-sin bertiga dan memerintahkan.

“Kedua siwi toako dan kau juga kongkong, kalian gusur orang itu dari tempat ini! Lain kali jangan biarkan dia masuk ke dalam istana lagi!”

Cian laopan mengerutkan sepasang alisnya.

“Kongkong, maaf. maaf…” katanya. “Baiklah! Hamba akan tukar babi ini dengan yang lebih gemuk dan besar. Aku akan membawakan yang lainnya lagi. Ha…rap… kongkong su…ka memaafkan aku kali ini.”

“Kalau aku membutuhkan babi, nanti aku akan suruh orangmu membawakannya! Sekarang cepat kau pergi dari sini!”

Cian laopan segera menjura dalam-dalam.

“Iya, iya…” sahutnya kemudian sambil memutar tubuhnya untuk pergi.

Lip sin bertiga mengikuti. Tubuh Cian laopan didorongnya berkali-kali. Siau Po juga ikut. Setibanya di lorong, di mana tidak ada seorang pun di sana. Siau Po berkata dengan suara perlahan.

“Cian toako, ketiga tuan-tuan ini adalah jago-jago dari Bhok onghu. Yang menjadi pemimpin adalah saudara Gouw Lip-sin ini yang berjuluk Yaou Tau Sayeu!”

Cian Lao pan langsung mengeluarkan seruan heran.

“Oh! Sudah lama aku mendengar nama besar itu! Tuan-tuan, maaf kalau aku yang rendah tidak segera menyapa!”

Pertama-tama Lip Sin juga bingung. Namun kemudian dia merasa gembira setelah mengetahui bahwa orang ini ternyata sahabatnya si thaykam cilik.

“Tidak apa,” sahutnya. “Kita berada di tempat yang berbahaya, sudah seharusnya kita bersikap demikian!”

“Cian toako,” kata Siau Po pada Laopan. “Nanti kau tolong sampaikan pada Wi hiocu dari perkumpulanmu yang merupakan sahabat baikku, katakan bahwa Lay Lie-tau Siau samcu sudah menyelesaikan tugasnya. Sedangkan ketiga tuan ini, harap kau antarkan pada Bhok Siau ongya dan Liu loyacu. Seberlalunya kalian, tentu akan muncul para siwi yang mencari penjahat yang telah membunuh. Oleh karena itu, kau sendiri, sebaiknya jangan datang kemari lagi!”

“Ya, ya!” sahut Cian laopan dengan sikap menghormat.

“Kami semua berterima kasih atas budi kongkong!”

Lip Sin menoleh kepada Cian laopan.

“Tuan, rupanya kau dari pihak Tian-te hwe?”

“Betul, Gouw loyacu,” sahut Cian laopan. “Nah, mari kita pergi sekarang!”

Mereka kembali berjalan lagi, Siau Po masih mengikuti. Sebentar saja mereka sudah sampai di Sin-bu mui. Di sana ada beberapa siwi yang menjaga. Begitu melihat Siau Po. mereka langsung menyambut dengan hormat.

“Oh, Kui kongkong. Semoga baik-baik saja!” sapa mereka ramah.

Siau Po tertawa. “Terima kasih!” sahutnya. “Semoga kalian pun demikian!”

Para siwi itu memperhatikan Lip Sin bertiga. Mereka merasa tidak kenal. Tetapi karena Siau Po menggapit lengan Gouw Lip-sin, mereka tidak berani mencegah ataupun menanyakan apa-apa. Karena itu, Siau Po berlima pun jalan terus.

Sekeluarnya dari pintu Sin-bu mui, mereka sudah berada di luar batas pekarangan istana. Siau Po masih mengiringi mereka berjalan beberapa puluh tindak jauhnya, kemudian baru dia berkata:

“Sekarang aku harus pulang. Sampai jumpa lagi! Kalian tidak usah banyak peradatan pula!”

Tapi Gouw Lip-sin tetap menjura dan berkata: “Untuk budi pertolongan ini, kami yakin kongkong tentulah tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Karena itu, kelak di kemudian hari, apabila pihak Tian-te hwe memerlukan tenaga kami, aku dan muridku ini tidak akan menoleh meskipun harus terjun ke dalam lautan api!”

“Terima kasih! Tidak berani aku menerima penghormatan demikian tinggi!” kata Siau Po. “Silahkan berangkat!”

It Cou tidak mengatakan apa-apa. Dia memang berjalan mendahului yang lainnya. Berulang kali dia menolehkan kepalanya melihat ke arah Siau Po. Dia merasa heran mengapa Gouw Lip-sin masih belum menyusulnya juga. Dia merasa tidak tenang. Soalnya mereka belum jauh dari istana. Sesaat kemudian setelah rekannya berpisahan dengan si thaykam, hatinya baru lega.

Siau Po kembali ke Sin-bu mui. Terhadap para siwi yang sedang menjaga dia tertawa dan berkata. “Kongkong tadi adalah orang kepercayaannya Thayhou. Menurutnya mereka bertiga sedang menjalankan titah, aku dimintanya mengantarkan sampai ke depan. Tapi aku tidak tahu tugas apa yang sedang mereka laksanakan!”

“Biarpun seorang Cin eng atau Pwe lek juga tidak pantas menyuruh Kongkong yang mengantar!” kata seorang siwi dengan perasaan tidak puas.

“Betul! Sungguh bertingkah kongkong itu. Seenaknya saja meminta Kui kongkong mengantarkan!” sahut seorang siwi lainnya yang juga merasa kurang senang.

“Aih, sudahlah!” kata Siau Po dengan menggelengkan kepalanya. “Itu toh titahnya Hong thayhou. Apa yang bisa kita lakukan? Mereka membawa firman yang ditulis thayhou sendiri. Meskipun kita curiga, kita harus tutup mulut! Benar tidak?”

“Ya, ya. kita memang tidak bisa berbuat apa-apa!” sahut siwi lainnya.

Bergegas Siau Po kembali ke tempat tahanan. Di sana para siwi masih tidak sadarkan diri. Cepat-cepat dia mengambil seember air yang kemudian diguyurkan ke kepala Tio Kong-lian. Siwi itu perlahan-lahan tersadar. Begitu ingatannya kembali, dia tersenyum dan berkata.

“Aih, kongkong. Bagaimana aku bisa jadi lupa daratan…” dia terus bangkit untuk duduk, tapi tiba-tiba dia menjadi terkejut sekali ketika melihat keadaan dalam ruangan itu. Para siwi masih terbaring semaput dan di sana juga ada mayat beberapa thaykam.

“Ba…gaimana… dengan para penyerbu itu?” tanyanya gugup. “Apakah… mereka sudah kabur?”

Siau Po memperlihatkan sikap tidak kalah penasarannya.

“Thayhou telah menyuruh thaykam she Tang itu membius kita, lalu melarikan ketiga penjahat itu!” katanya geram.

Tio Kong-lian merasa bingung. Bong hoan-yok toh ada di tangannya si thaykam cilik ini. Namun karena baru sadar, pikirannya masih lemah. Ia tidak dapat mengingat dengan baik. Dia jadi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Siau Po berkata kembali. “Tio toako, bukankah To congkoan secara diam-diam menyuruh kau membebaskan para tawanan itu?”

Kong Lian menganggukkan kepalanya. “Ya, To congkoan mengatakan bahwa itulah perintah rahasia dari Sri Baginda untuk membebaskan para penyerbu itu ,” sahutnya.

“Maksudnya agar pihak kita dapat menguntitnya secara diam-diam dan dengan demikian kita bisa tahu siapa pemimpin mereka yang sebenarnya!”

“Ya, memang benar,” kata Siau Po sembari tertawa. “Tapi sekarang aku ingin bertanya lagi, kalau orang tawanan kabur dari penjagaan, orang yang menjaga itu bersalah atau tidak?”

Kong Lian merasa tercekat hatinya. Untuk sesaat dia jadi tertegun.

“Tentu saja bersalah!” katanya kemudian. “Tapi… ini kan perintah To congkoan, kami… yang menjadi bawahan hanya men…jalankan perintah saja!”

“Apakah To congkoan memperlihatkan surat perintah?”

Kong Lian bertambah terkejut.

“Tidak… tidak!” sahutnya bingung. “kata To congkoan, tidak perlu membawa surat perintah, karena ini merupakan perintah lisan dari Sri Baginda….”

“Kalau begitu, mestinya To congkoan juga memperlihatkan suatu barang sebagai tanda bukti Sri Baginda?” tanya Siau Po kembali.

“Ti… dak,” sahut Kong Lian semakin gugup. “Tapi, mungkinkah To congkoan akan berdusta?” Tubuhnya bergetar dan suaranya menjadi kurang jelas.

“Palsu sih tidak,” sahut Siau Po. “Aku hanya khawatir kalau nanti dia akan menyangkal hal ini apabila keadaan membahayakan. Siapa tahu ia akan menimpakan kesalahan pada dirimu? Bukankah ini akan menjadi bencana bagimu? Tio toako, tahukah kau mengapa Sri Baginda membiarkan para tawanan itu bebas?”

“Menurut To congkoan, agar kita bisa menguntitnya dan dapat mengetahui siapa pemimpinnya?” sahut Kong Lian.

“Memang persoalannya demikian, tapi… bukankah hal ini agak aneh?” kata Siau Po kembali. “Bagaimana mungkin para penjahat dibiarkan lolos dan urusan pun tidak diperpanjang lagi? Sekalipun si penjahat sendiri, bila mendengar urusan ini, pasti tidak akan mempercayainya. Lagipula tidak mudah menemukan pemimpin para penjahat itu. Mungkin bisa terjadi nantinya Sri Baginda akan menghukum mati dulu beberapa orang dan apabila berita ini sudah tersiar, para penjahat itu baru tidak curiga lagi….”

Kata-kata Siau Po ini bukan berarti menuduh Raja akan berbuat demikian. Kenyataannya Sri Baginda memang menyuruh dia membunuh satu dua orang siwi agar penyerbu itu tidak menjadi curiga.

Sementara itu, wajah Tio Kong-lian semakin pucat. Memang ada kemungkinan dia akan dihukum mati. Saking takutnya, dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Siau Po.

“Kongkong, tolonglah aku… !” dia memohon sambil menyembah berkali-kali,

“Jangan memakai terlalu banyak peradatan, Tio toako,” katanya. Dia mengulurkan tangannya untuk membangunkan siwi itu. Bibirnya menyunggingkan senyuman ramah. “Jangan khawatir. Sekarang ada cara untuk menghindarkan dirimu dari hukuman mati. Lihat, di sana ada beberapa thaykam, mereka dapat menggantikanmu. Kita timpakan saja kesalahan pada diri mereka. Kita bilang mereka membawa obat bius untuk membuat kita tidak sadarkan diri, setelah itu mereka membebaskan para tahanan. Dengan demikian, bukankah namamu menjadi bersih? Apabila Sri Baginda mendengar keempat orang thaykam itu adalah orang Ibu suri, tentu urusan ini tidak akan diperpanjang, Raja juga tidak akan menghukum mati dirimu apabila ada alasan yang masuk akal, Mungkin kau malah akan mendapat hadiah!”

Mendengar ucapan Siau Po, hati Kong Lian jadi lega. Dari khawatir, dia malah jadi girang sekali. “Bagus, bagus!” serunya. “Kongkong, terima kasih banyak atas pertolongan kongkong ini!”

Peruntungan Kong Lian memang sedang mujur. Kalau saja tadi Siau Po jadi membunuhnya, tentu dia tidak bisa memerankan sandiwara ini!

“Sekarang cepat kita sadarkan para siwi lainnya,” kata Siau Po. “Mereka harus dijelaskan dulu urusan ini, supaya mereka serempak mengaku bahwa telah dibius oleh keempat thaykam ini!”

“Ya, ya,” sahut Kong Lian. Dia segera mencari air dingin. Biar bagaimana, hatinya masih kurang tenang karena belum tahu bagaimana reaksi Sri Baginda.

‘Dalam waktu yang singkat, para siwi itu sudah siuman kembali. Kepada mereka dijelaskan bahwa semua orang telah dibuat tidak sadar dengan Bong hoan-yok oleh Tang Kim-hwe berempat, kemudian Tang Kim-hwe membinasakan ketiga orang rekannya dan lalu dia kabur bersama para tahanan.

“Hah! Kurang ajar benar orang itu!” caci para siwi itu. Walaupun dalam hati mereka terdapat keraguan. ‘mengapa thayhou harus membebaskan ketiga tawanan itu? Mungkinkah mereka justru orang-orang suruhan thayhou?’ pikir mereka dalam hati.
Tapi karena urusan ini menyangkut diri ibu suri, meskipun curiga, mereka memilih menutup mulut rapat-rapat.

Siau Po sendiri langsung kembali ke kamarnya. Begitu masuk, dia segera disambut oleh Kiam Peng.

“Kui toako, apa kabarnya?” tanya nona cilik itu.

“Kui toako tidak mempunyai kabar apa-apa,” goda Siau Po. “Ada juga suami yang membawa berita….”

Kiam Peng tersenyum. “Aku tidak takut soal beritanya. Yang dikhawatirkan, ada orang lain lagi yang menyebutmu kakak yang baik….”

Wajah Pui Ie merah padam. Dia tahu Siau Kuncu sedang menggodanya. Tapi dia harus bicara, dia memang ingin tahu berita apa yang dibawa Siau Po.

“Saudara yang baik…” katanya. “Kau lebih muda daripadaku. Bagaimana kalau aku panggil kau saudara yang baik saja? Kau tidak keberatan, bukan?”

Siau Po menarik nafas panjang.

“Aih!” katanya. “Dari suami yang baik tiba-tiba saja berubah menjadi saudara yang baik, bukankah ini sama dengan induk ayam yang mendadak berubah menjadi bebek…? Tapi, sudahlah! Yang penting dia sudah berhasil ditolong!”

Tiba-tiba Pui Ie bangkit dan duduk. Ketika dia berbicara, suaranya terdengar bergetar….

“Apa kau bermaksud mengatakan bahwa Lau suko sudah berhasil meloloskan diri?” tanyanya penuh minat.

“Sekali seorang laki-laki mengeluarkan kata-katanya, entah empat ekor kuda apa pun tidak dapat mengejarnya!” sahut Siau Po serius. “Aku sudah menerima baik permintaanmu, bagaimana pun aku harus menolongnya!”

Ucapan Siau Po dari dulu masih belum berubah. Dia tidak tahu bunyi pepatah yang dikatakannya, karenanya dia selalu mengucapkan ‘Entah empat ekor kuda apa pun tidak dapat mengejarnya.’

“Ba…gaimana caramu menolongnya?” tanya Pui Ie kembali. Dia penasaran sekali. .

Siau Po tertawa. “Dalam hal ini, aku si orang gunung tentu mempunyai muslihat!” sahutnya. “Tunggu saja setelah kau bertemu dengan Lau sukomu, dia pasti akan menceritakannya!”

“Ah!” Si nona menghela nafas lega. Kemudian dia mendongakkan kepalanya sambil mengucap: “Terima kasih kepada langit dan bumi, dia benar-benar dilindungi sang Pousat!”

Melihat kegembiraan dan rasa bersyukurnya si nona manis itu, hati Siau Po otomatis jadi kurang enak. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya terdengar suara dehemannya yang lirih.

“Eh, eh, Suci,” tegur Kiam Peng. “Kau mengucapkan terima kasih kepada Langit dan Bumi, kenapa kau malah tidak mengatakan apa-apa kepada saudara yang baik ini?”

Pui Ie menolehkan kepalanya. “Budi besar dari Saudara yang baik ini tidak dapat dibalas hanya dengan ucapan terima kasih saja!” sahutnya.

Mendengar ucapan si nona, hati Siau Po jadi gembira. Bibirnya tersenyum.

“Tidak perlu kau membalasnya,” sahutnya.

“Saudara yang baik, apa yang dikatakan Lau suko?” tanya Pui Ie.

“Dia tidak mengatakan apa-apa,” sahut Siau Po. “Dia hanya minta aku menolongnya!”

“Ah…!” seru Pui Ie kecewa. “Apakah dia menanyakan tentang kami?”

Siau Po berpikir sejenak, kemudian baru menjawab.

“Tidak. Aku yang mengatakan bahwa kau berada di tempat yang aman, karena itu dia tidak perlu mengkhawatirkanmu. Dan tidak lama lagi aku akan mengantarkanmu agar dapat bertemu dengannya!”

Pui Ie menganggukkan kepalanya.

“Perbuatanmu benar,” sahutnya. “Tapi tiba-tiba saja air matanya, mengalir dengan deras.

“Eh, suci!” seru Kiam Peng terkejut. “Ada apa? Mengapa kau menangis?”

“A. ..ku gembira sekali!” sahut nona yang sedang menangis itu.

Sementara itu, Siau Po berpikir dalam hati.

‘Sri Baginda menitahkan aku menguntit ketiga tawanan itu, agar dapat mencari tahu siapa pemimpinnya. Karena itu, aku harus keluar melewatkan waktu supaya tidak dicurigai. Setelah satu dua jam, aku baru kembali lagi memberikan laporan…. ‘

Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po segera berpesan kepada kedua nona itu agar berdiam di dalam kamarnya seperti biasa. Dia segera menuju ke Tiankio. Hari itu, bagian kiri jalan terdapat banyak pedagang kelontong. Malah ada juga yang membuka panggung pertunjukan. Tiankio memang terkenal sebagai tempat berkumpulnya berbagai kalangan. Terutama orang-orang dunia kangouw. Ke sanalah tujuan cilik kita.

Ketika mendekat, perhatian Siau Po tiba-tiba jadi tertarik. Dia melihat kurang lebih dua puluh orang polisi sedang menggiring lima pedagang kecil yang pakaiannya compang-camping. Dia berdiri di sisi jalan dan memperhatikan rombongan itu.

“Benar-benar keterlaluan!” gerutu seorang tua. “Sekarang ini berjualan saja sulit!”

Siau Po baru saja berniat menanyakan sesuatu kepada orang tua itu, tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk di dekatnya. Ketika dia menolehkan kepalanya, dia melihat seseorang yang rambutnya sudah penuh uban dan tubuhnya bungkuk. Setelah diperhatikan dengan seksama, dia mengenali orang itu sebagai Pat-Pi Wan Kau Ci Tian-coan. Orang itu melirik ke arahnya kemudian mengedipkan matanya dan berjalan melaluinya.

Siau Po mengerti isyarat yang ditunjukkan orang tua itu. Dia berjalan perlahan mengikuti sehingga sampai di tempat yang sepi.

“Wi hiocu,” sapanya. “Ada kabar gembira!”

Siau Po tersenyum. Diam-diam dia berpikir.

‘Aku telah menolong Gouw Lip-sin bertiga, rupanya dia sudah mendengar berita gembira itu!’ karena itu dia menyahut: “Itu tidak berarti apa-apa!”

“Tidak berarti apa-apa?” tanya Ci Tian-coan dengan pandangan heran. “Kau sudah tahu tentang kedatangan Cong tocu?”

Kali ini giliran Siau Po yang tertegun.

“Gu…ruku datang?” tanyanya seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Hal ini memang di luar dugaannya.

“Benar!” sahut Ci Tian-coan. “Aku dititahkan segera memberi kabar kepadamu. Wi hiocu, kau diminta segera menemui beliau!”

“Baik, baik!” sahut Siau Po. Otaknya bekerja keras. Padahal saat ini, orang yang paling tidak ingin ditemuinya justru gurunya itu. Apa sebabnya? Karena sejak berpisah tempo hari, dia merasa belum memperoleh hasil apa-apa dari kitab yang diberikan gurunya, Tan Kin-lam. Celaka kalau gurunya sampai menanyakan kemajuan yang telah diperolehnya selama ini. Urusan ini memang sudah cukup lama terbengkalai, karena banyak yang harus diselesaikannya.

“Cong tocu memberitahukan kepadaku,” kata Ci Tian-coan pula. “Waktunya di kotaraja ini tidak banyak, karena itu, biar bagaimana aku harap sudilah Wi hiocu pergi menemuinya!”

Melihat keadaannya yang begitu terdesak, Siau Po merasa apa boleh buat.

“Baiklah,” katanya. Dia langsung mengikuti Ci Tian-coan. Sepanjang jalan dia terus memikirkan apa yang harus ia katakan kepada gurunya itu. Dia menyesal tidak mengeram saja dalam istana. Kalau dia berada dalam istana, tentu gurunya tidak bisa menyeretnya keluar.

Belum lagi masuk ke dalam lorong, Siau Po sudah melihat sejumlah anggota Tian-te hwe yang berpencaran di sana sini. Tentunya mereka sedang memasang mata untuk melindungi ketua mereka dari serangan gelap. Di dalam rumah juga terdapat beberapa penjaga.

Setibanya di ruangan belakang, Siau Po segera dapat melihat gurunya duduk di tengah-tengah dan dikelilingi oleh Hong Kong, Hian Ceng tojin dan Hong Cin-tiong serta yang lainnya. Mereka sedang berbincang-bincang. Cepat-cepat dia maju menghampiri kemudian menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata.

“Oh, suhu! Ternyata suhu benar-benar datang. Muridmu ini sudah rindu sekali!” katanya.

Tan Kin Lam tertawa. “Bagus, bagus! Anak baik!” katanya. “Di sini para saudara kita banyak yang memujimu!”

Siau Po langsung bangkit kembali. Hatinya menjadi lega melihat sikap gurunya yang demikian ramah.

“Apakah suhu baik-baik selama ini?” tanyanya.

Kin Lam tersenyum. “Baik!” sahutnya. “Bagaimana dengan pelajaranmu? Apakah ada yang kurang kau pahami?”

“Banyak sekali yang murid tidak mengerti, suhu,” sahutnya. Jawaban ini sudah ia pikirkan matang-matang. Dia tahu gurunya bermata tajam dan cerdas sekali. Tidak mungkin bisa dikelabui olehnya. “Karena itulah aku mengharap-harap kedatangan suhu agar murid dapat meminta petunjuk!”

Pada saat itu, tampaknya hati Kin Lam memang sedang gembira. Mendengar ucapan muridnya, kembali dia tersenyum. “Baiklah!” sahutnya. “Aku akan menggunakan waktu beberapa hari ini khusus untukmu!”

Baru Tan Kin Lam berkata demikian, salah seorang anggota perkumpulan itu tampak mendatangi dengan cepat. Dia langsung memberi hormat seraya menyampaikan laporannya.

“Cong tocu, ada beberapa tamu yang berkunjung. Menurut penuturan salah satunya, mereka adalah Bhok Kiam-seng dari Bhok onghu serta Liu Taykong.” .

Senang hati Kin Lam mendengar laporan itu. Dia segera bangkit dari kursinya. “Mari kita sambut mereka!” ajaknya.

“Aku belum mengganti pakaian,” kata Siau Po. “Aku tidak bisa ikut!”

“Baik,” kata Kin Lam. “Kau tunggu saja di belakang!”

Begitu guru dan anggota Tian-te hwe yang lainnya berlalu, Siau Po segera menyelinap ke belakang dinding ruangan itu. Di sana dia menggeser sebuah kursi kemudian duduk. Tanpa perlu menunggu lama-lama, segera terdengar suara tawa Liu Tay-hong yang nyaring. Siau Po segera mengenalinya.

“Keinginanku yang paling utama selama hidupku adalah perjumpaan dengan Tan Cong tocu yang namanya sudah terkenal di seantero dunia! Hari ini beruntung sekali dapat bertemu. Sungguh, mati pun aku yang tua sudah merasa puas!”

“Ah, Lo enghiong hanya memuji saja!” terdengar suara Tan Kin-lam. “Aku yang rendah merasa malu dan tidak berani menerima pujian yang begitu tinggi!”

Sembari bercakap-cakap, mereka berjalan menuju ruangan dalam. Kemudian kedua belah pihak mengambil tempat duduknya masing-masing.

“Di dalam partai Cong tocu ada seorang yang bernama Wi hiocu, entah beliau ada di sini atau tidak?” tanya Bhok Kiam-seng. “Aku yang rendah ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan terima kasih at as budi pertolongannya yang besar. Kami dari Bhok onghu semua bersyukur sekali terhadap apa yang dilakukannya!”

Kin Lam bingung sekali. Dia memang tidak tahu gerak-gerik Siau Po yang telah menolong orang-orang dari Bhok onghu.

“Wi Siau Po hanya seorang bocah cilik, apa jasanya terhadap Bhok onghu? Mengapa Siau ongya begitu merendahkan diri memujinya demikian tinggi, sedangkan dia hanya seorang bocah cilik?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: