Kumpulan Cerita Silat

20/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 10

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 12:58 am

Pedang Tetesan Air Mata – 10
Delapan Puluh Delapan Pahlawan
Oleh Gu Long

Fajar telah menyingsing di kota Tiang-an.

Namun langit masih berwarna kelabu, seluruh jagad bagaikan mati, sepi dan mati.

Pintu gerbang yang kokoh dan angker dari kota Tiang-an pun masih tertutup rapat-rapat.

Prajurit tua penjaga pintu gerbang kota, Lo-huang dan A-kim, baru saja memotong anjing liar semalam dan membeli dua kati arak, dua kati kueh.

Bila orang sudah kekenyangan, tak heran kalau paginya tak bisa segera bangun.

Bagi mereka yang melalaikan tugas untuk membuka pintu kota, hukumannya adalah hukuman penggal kepala.

Tak heran kalau Lo-huang yang bangun terlambat segera bermandikan peluh dingin karena ketakutan, tak sempat mengenakan pakaian lagi, dia buru-buru lari ke pintu gerbang kota.

“Udara begini dingin, mungkin tak akan ada orang yang masuk ke kota sedini ini,” demikian ia mencoba menghibur diri.

Siapa tahu, begitu pintu kota terbuka, dia langsung menjadi terperanjat.

Di luar kota sana bukan cuma ada orang yang telah menunggu pintu di buka, bahkan paling tidak mencapai tujuh-delapan puluh orang.

Ke tujuh-delapan puluh orang itu hampir semuanya mengenakan pakaian ringkas dengan sebilah golok besar terselip di punggungnya, mereka memakai ikat kepala terdiri dari secarik kain putih dengan sepotong kain kumal berwarna merah darah terjahit di bagian tengahnya.

Paras muka orang-orang itu persis seperti udara pada hari ini, dingin, kaku dan menyeramkan, mendatangkan perasaan seram yang mendirikan bulu roma.

Begitu pintu kota terbuka, orang-orang itupun terbagi menjadi dua rombongan dan masuk ke dalam kota dengan mulut membungkam, golok yang tersoren di punggung memercikkan pantulan cahaya tajam, sedang ikat kepalanya yang putih mendatangkan suasana yang lebih angker. Semua golok yang terselip di punggung merupakan golok telanjang, karena tak sebilahpun yang memakai sarung.

Siapakah kawanan manusia yang penuh diliputi hawa nafsu membunuh itu?

Mau apa mereka datang ke Tiang-an?

Sebetulnya Lo-huang si petugas kota ingin menghadang dan menegur mereka, tapi entah mengapa lidahnya terasa seperti kaku secara mendadak sehingga tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan.

Rupanya pada saat itulah seorang lelaki kekar berkulit beruang, persis sedang lewat dihadapannya dengan sepasang matanya yang besar dan merah membara, dia melotot ke arahnya.

Biarpun orang itu sudah kurus sehingga tinggal kulit membungkus tulang, namun tulangnya yang besar dan matanya yang tajam masih mendatangkan kewibawaan yang luar biasa, persis seperti binatang buas yang baru muncul dari tengah hutan.

Rambutnya yang kusut dan kalut diikat dengan secarik kain putih, di atasnya terjahit pula secarik kain berwarna merah darah.

Satu-satunya orang yang berdandan berbeda sekali dengan rombongan itu adalah seorang pemuda yang kurus tapi tampan, dia membawa sebuah bungkusan berwarna hijau yang panjang dan mengikuti di belakangnya.

Lo-huang menjadi lemas dan keder, dia tahu, manusia-manusia semacam itu adalah pembunuh-pembunuh yang bisa menghabisi nyawa orang tanpa berkedip.

“Apakah kau ingin bertanya kepada kami datang dari mana dan mau apa?”

Biarpun suara orang itu parau dan tak sedap di dengar, namun di balik nada suaranya itu terkandung kewibawaan yang mengerikan.

“Dengarkanlah, dengarkan baik-baik, aku adalah Cu Bong, Cu Bong dari Lok-yang,” serunya lantang, “kami datang ke Tiang-an untuk mencari mati.”

—–

Pada dasarnya paras muka Cho Tang-lay memang tiada perubahan apapun, tapi sekarang wajah tersebut nampaknya semakin kaku, bahkan setiap kulit mukanyapun turut menjadi kaku.

Seandainya kau pernah menyaksikan wajah sesosok mayat yang mati beku di tengah salju, pasti kau dapat membayangkan bagaimanakah mimik muka dan perubahan wajah Cho Tang-lay sekarang.

Seorang pemuda berusia belum sampai dua puluh tahunan berdiri tegak di hadapannya, mimik wajah orang ini kelihatannya tak jauh berbeda dengan wajah Cho Tang-lay.

Pemuda ini bernama Cho Kim.

Sebenarnya dia bukan she Cho, dia she Kwik, dia adalah adik kandung Kwik Ceng yang tewas di kota Ang-hoa-ki.

Tapi semenjak Cho Tang-lay menerimanya sebagai anak angkat, dengan cepat dia telah melupakan nama aslinya.

“Cu Bong telah masuk kota.”

Dialah yang melaporkan berita tersebut kepada Cho Tang-lay, dia juga yang berhasil menyelidiki kalau dari selokan air, tiap hari mengalir lewat cairan obat.

Belakangan ini, pekerjaan yang dia lakukan bagi Cho Tang-lay jauh lebih banyak daripada pekerjaan yang dilakukan orang kepercayaan Cho Tang-lay manapun.

“Berapa orang yang telah datang?”

“Termasuk Ko Cian-hui, semuanya berjumlah delapan puluh delapan orang…..”

“Dia sendiri yang memberitahukan kepada Lo-huang si penjaga kota bahwa dia adalah Cu Bong?”

“Benar!”

“Apalagi yang dia katakan?”

“Dia bilang mereka datang ke Tiang-an untuk mencari mati.”

Tiba-tiba saja kelopak mata Cho Tang-lay berkerut kencang, sehingga tampaknya seperti dua biji gundu.

“Mereka bukan datang ke Tiang-an untuk membunuh orang, melainkan datang untuk mati?”

“Benar!”

“Bagus, bagus sekali,” tiba-tiba biji mata Cho Tang-lay mulai melompat-lompat, “sungguh amat bagus.”

Orang yang cukup memahami Cho Tang-lay pasti mengerti, hanya di saat menghadapi masalah yang paling gawat dan kritis, sepasang biji matanya baru akan melompat.

Sekarang biji matanya mulai melompat, karena dia sudah melihat bahwa musuh yang datang bukan hanya delapan puluh delapan orang, melainkan delapan ratus delapan puluh orang.

Orang yang datang membunuh sesungguhnya tidak menakutkan, justru orang yang datang untuk mati baru menakutkan, karena manusia ini seorang saja, bisa dibandingkan dengan sepuluh orang.

“Coba kau ulangi sekali lagi dandanan mereka,”

“Setiap orang mengenakan pakaian ringkas, ikat kepala putih dan di atas ikat kepala tersebut terjahit secuwil kain berwarna merah tua…..”

Cho Tang-lay segera tertawa dingin.

“Bagus, bagus sekali!”

Kepada Cho Kim tanyanya kemudian: “Tahukah kau, darimana mereka dapatkan cuwilan kain berwarna merah tua itu?”

Cho Kim menggeleng.

“Sudah pasti cuwilan kain itu berasal dari pakaian darah yang dikenakan si Sepatu Paku,” ujar Cho Tang-lay, “ketika sepatu paku menemui ajalnya, pakaian yang dikenakan tentu penuh berlepotan darah kental.”

Dari kota Lok-yang yang telah datang orang yang melaporkan seluruh kejadian peristiwa berdarah tersebut kepada Cho Tang-lay.

“Sebenarnya Hiong-say-tong sudah berubah menjadi sebaskom pasir, tapi kematian dari si Sepatu Paku telah menggumpalkan kembali pasir tersebut menjadi lumpur,” suara Cho Tang-lay kedengaran rada emosi, “Sepatu Paku, wahai Sepatu Paku, kematianmu memang sangat hebat!”

“Benar!,” kata Cho Kim pula, “sepatu paku tidak bagus bentuknya, sepatu paku pun murah harganya, biarpun di hari-hari biasa sepatu paku tak akan bisa mengenakan sepatu biasa, namun di saat salju sudah turun dan jalanan menjadi licin, hanya sepatu paku-lah yang paling berguna…..”

Ucapan tersebut diutarakan sangat datar dan hambar, karena dia tak lebih hanya mengutarakan sebuah kenyataan.

Cho Kim memang tidak termasuk seorang manusia yang gampang terpengaruh oleh keadaan.

Cho Tang-lay mengawasi wajahnya, mengamati sampai lama, lama sekali kemudian dia bangkit berdiri dan melakukan sesuatu gerakan yang tak mungkin bisa diduga oleh siapapun.

Mendadak dia bangkit berdiri dan memeluk tubuh Cho Kim, biarpun hanya merangkulnya, namun sudah merupakan suatu perbuatan yang belum pernah dilakukannya selama ini.

Kecuali terhadap Suma Cau-kun, baru kali ini dia bersikap mesra terhadap lelaki lain.

Cho Kim masih berdiri tegak di tempat semula, namun air matanya sudah bercucuran membasahi pipinya.

Namun Cho Tang-lay seakan-akan tidak memperhatikan reaksinya, tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya lagi: “Cu Bong tahu bahwa aku berada di sini, namun untuk sementara waktu dia tak akan kemari untuk mencariku.”

“Benar!”

“Kalau toh mereka datang untuk mencari mati, tentu saja aku harus memenuhi keinginan mereka, tentu saja akulah yang akan pergi mencarinya.”

“Benar!”

“Ke delapan puluh delapan orang ini datang dengan tekad untuk mencari mati, delapan puluh delapan orang hanya satu kematian, delapan puluh delapan orang mempunyai sebuah semangat, semangat tersebut jelas sudah mencapai pada puncaknya, bila sampai meledak, maka tiada kekuatan yang dapat membendungnya.”

“Benar!”

“Oleh sebab itu aku tak akan pergi mencari mereka sekarang.”

“Benar!”

Dari balik wajah Cho Tang-lay yang kaku dan menyeramkan, tiba-tiba tersungging sekulum senyuman yang licik dan sinis, dia bertanya kemudian kepada Cho Kim.

“Tahukah kau dengan cara apa aku hendak menghadapi mereka?”

“Tidak!”

Dengan menggunakan nada suaranya yang khas, sepatah demi sepatah Cho Tang-lay berkata: “Aku akan mengundang mereka bersantap malam ini, aku akan mengadakan pesta di loteng Tiang-an-kit untuk menjamu mereka.”

“Ya!”

“Dan kau harus mewakiliku untuk mengundang mereka.”

“Baik!”

“Mungkin Cu Bong tak akan setuju, mungkin dia akan menganggap perjamuan ini sebagai perangkap,” kata Cho Tang-lay lagi dengan suara hambar, “tapi aku percaya kau tentu mempunyai akal untuk membuat mereka datang, bukan hanya Cu Bong, Ko Cian-hui pun harus turut datang.”

“Baik!” sahut Cho Kim, “mereka pasti datang, sudah pasti akan datang menghadiri.”

“Akupun berharap kau bisa pulang dalam keadaan hidup.”

“Aku pasti dapat.” jawab Cho Kim singkat.

—–

Ketika Cho Tang-lay kembali ke dalam kamar tidur Tiap-wu yang hangat dan lembut, Tiap-wu sedang menyisir rambut.

Rambutnya telah disisir sekali demi sekali, karena selain menyisir rambut, agaknya tiada pekerjaan lain yang bisa dan ingin dilakukannya.

Cho Tang-lay berdiri dengan tenang menyaksikan dia menyisir rambut, menyisir sekali dan sekali…..

Begitulah, yang satu menyisir rambut, yang lain memandang.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak……’ Taaaaak’ sisir kayu itu patah menjadi tiga bagian.

Padahal sisir itu merupakan hasil karya Giok-jin-hong dari kota Liu-ciu yang amat termashur, biarpun dipatahkan dengan dua belah tangan pun sukar untuk mematahkannya.

Apalagi sisir itu dipergunakan seorang wanita, sedang wanita yang menyisir rambut sendiri biasanya akan menyisir dengan lembut tak mungkin akan mempergunakan tenaga yang kelewat besar.

Tapi sekarang sisir itu sudah patah.

Sepasang tangan Tiap-wu segera gemetar keras, sedemikian kerasnya dia gemetar sampai sebagian sisirnya yang masih terpegangpun ikut jatuh ke lantai.

Cho Tang-lay sama sekali tidak menanggapi kejadian itu, sikapnya seakan-akan sama sekali tidak melihat peristiwa itu.

“Malam nanti aku hendak mengundang orang untuk bersantap,” ia berkata dengan suara lembut, “mengundang dua orang tamu agung untuk bersantap malam.”

Tiap-wu tidak langsung menjawab, dia masih mengawasi sisirnya yang patah itu dengan termangu, dia seakan-akan terpesona oleh peristiwa tersebut.

“Malam ini akupun akan mengundang orang bersantap,” ia berkata seperti orang dungu, “mengundang aku sendiri bersantap.”

Kemudian setelah tertawa bodoh, dia melanjutkan: “Saban hari aku selalu mengundang diriku sendiri untuk bersantap, bahkan manusia seperti akupun harus bersantap semangkuk habis tambah semangkuk lagi, aku selalu bersantap dengan riang gembira.”

“Malam ini akupun berharap bisa membuat tamuku bersantap dengan riang gembira,” ucap Cho Tang-lay, “maka dari itu aku harap kau suka melakukan sesuatu bagiku.”

“Terserah apapun yang ingin kau suruh lakukan,” Tiap-wu tertawa bergelak tiada hentinya, “sekalipun kau suruh aku jangan makan nasi tapi makan tahi, aku akan tetap menurut untuk melahapnya.”

“Bagus, bagus sekali!” Cho Tang-lay tertawa bergelak, bahkan suara tertawanya nampak begitu riang gembira.

“Padahal kaupun harus mengerti aku hanya berharap kau suka melakukan sesuatu bagiku,” sepatah demi sepatah dia berkata, “aku hanya berharap kau sudi menari bagiku.”

Pedang mestika tak berperasaan, hidup tanpa impian.

Menari untuk si dia, biar jadi kupu-kupu pun rela.

—–

Rumah makan Tiang-an-kit berada di kota sebelah barat, bangunannya indah dan megah, hidangannya lezat lagi murah, di tambah pula dengan pelayanan yang ramah serta dijunjung prinsip ‘tamu adalah raja’, tidak heran kalau sejak pagi hari seluruh ruangan sudah penuh dengan tamu, tamu dari pelbagai ragam masyarakat.

Selain dapat menikmati hidangan yang lezat dengan harga yang murah, orang yang bersantap di sinipun dapat menikmati kejadian yang lebih menarik.

Seperti misalnya dapat menyaksikan berbagai manusia yang aneh dan hebat, dapat berjumpa dengan kawan-kawan yang sudah banyak tahun tak bersua.

Bisa jadi ketika kau bersantap dengan keluargamu, di sudut sana kau jumpai bekas kekasihmu yang sedang melirik ke arahmu….

Maka dari itu bila ada orang yang tak ingin ditemukan orang lain, tidak seharusnya berkunjung ke tempat ini.

Tak heran kalau Cu Bong berkunjung ke situ.

Ia tak takut ditemukan orang, justru dia senang menanti datangnya orang-orang dari Toa Piau-kiok yang mencari gara-gara dengannya.

Tiada orang yang berani bertanya kepada Cu Bong: “Mengapa kau harus menunggu di sini? Mengapa tidak sekaligus menyerbu ke Toa Piau-kiok?”

Tentu saja Cu Bong mempunyai alasannya sendiri.

Tiang-an adalah basis kekuatan dari Toa Piau-kiok, jago-jago lihay dalam Toa Piau-kiok inipun sangat banyak, terutama sekali kepandaian silat dari Suma Cau-kun serta Cho Tang-lay benar-benar menakutkan sekali.

Sekarang masa jaya mereka sedang mencapai pada puncaknya, mereka telah menempati posisi yang paling menguntungkan.

“Kami datang untuk beradu jiwa bukan untuk menghantar kematian, sekalipun harus mati, kami ingin mati dengan nilai yang tinggi.”

Untuk memerangi musuh yang tangguh, bukan cuma semangat dan keberanian saja merupakan modal pokok.

“Kami harus bersabar, harus mempunyai hati yang teguh, tambah dan harus dapat mengendalikan perasaan dihina dan dicemooh.”

‘Tiap-wu, mungkinkah kau akan menari bagi orang lain?’

Cu Bong berusaha keras untuk tidak memikirkan dia.

Walaupun tarian Tiap-wu cukup membuat hatinya terperana dan tak mungkin bisa melupakan untuk selamanya, tapi sekarang darah segar dari si Sepatu Paku belum lagi mengering.

Dia bersumpah, darah yang mengalir dari tubuh si Sepatu Paku bukan untuk mengalir dengan sia-sia.

Tiada orang minum arak.

Semua orang merasakan hatinya terpengaruh emosi, semangat terasa berkobar-kobar dan tak perlu dirangsang lagi dengan arak.

Mereka telah menempati tiga belas meja dalam rumah makan yang terdiri dari seratusan buah meja, tempat yang semula diisi penuh oleh tamu, sejak kemunculan mereka, separuh bagian di antaranya sudah pada menyingkir.

Memandang pakaian dan golok mereka yang dikenakan, menyaksikan ikat kepala mereka yang putih, memandang hawa nafsu membunuh yang menyelimuti wajah mereka, setiap orang dapat melihat bahwa kehadiran tamu-tamu asing dari luar daerah ini bukan untuk minum teh.

Yang ingin mereka hirup adalah darah.

Darah dari musuh besar mereka.

—–

Cho Kim datang sendirian.

Ketika dia berjalan masuk ke dalam rumah makan, tak seorangpun yang menaruh perhatian kepadanya, sebab mereka hakekatnya tak ada yang tahu siapakah orang ini.

Hanya Siau-ko seorang yang tahu.

Pemuda ini sudah pernah meninggalkan kesan yang terlalu mendalam baginya. Cho Kim sebaliknya seperti sudah tidak mengenalnya lagi, begitu masuk ke dalam ruangan, dia langsung menuju ke hadapan Cu Bong.

“Apakah kau adalah Cu Tongcu yang datang dari Hiong-say-tong di Lok-yang?”

Cu Bong segera mendongakkan kepalanya dan mengawasinya dengan sepasang mata yang merah membara.

“Akulah Cu Bong, siapakah kau?”

“Boan-pwee she Cho.”

“Kau she Cho?” Siau-ko sangat terkejut bercampur keheranan, “aku masih ingat, agaknya kau seperti bukan she Cho.”

“Oya?”

“Kau sebenarnya she Kwik, aku masih dapat mengingatnya dengan jelas.”

“Tapi aku sudah tidak teringat lagi,” ujar Cho Kim hambar, “kejadian yang sudah lewat, aku selalu dapat melupakannya dengan cepat pula, kejadian yang sudah seharusnya dilupakan, aku lebih-lebih tak ingin memikirkannya kembali.”

Dipandangnya Siau-ko dengan tenang, paras mukanya masih tetap kaku tanpa emosi.

“Ada kalanya kau pun harus menirukan caraku ini, maka hidupmu mungkin saja akan jauh lebih riang dan gembira lagi.”

Dalam suatu saat yang tidak sesuai, kadangkala manusia akan teringat sesuatu masalah yang seharusnya tak patut dipikirkan. Kejadian seperti ini sesungguhnya memang merupakan salah satu penderitaan yang terbesar bagi umat manusia.

Sekarang, apakah Siau-ko pun sedang teringat kembali perempuan yang tidak seharusnya diingat kembali itu?

Tiba-tiba Siau-ko ingin minum arak.

Ketika dia sedang mulai akan minum arak, mendadak Cu Bong tertawa tergelak, lalu mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Bagus, bagus sekali.” dia berseru dengan lantang, “siapkan arak, aku hendak minum tiga cawan besar dengan manusia yang pandai berbicara ini.”

“Sekarang boanpwe tak ingin minum arak,” tampik Cho Kim, “oleh sebab itu, boanpwe tak dapat menemani.”

Gelak tertawa Cu Bong segera terhenti, lalu melotot ke arahnya seperti binatang buas.

“Kau tak ingin minum arak, kau pun tak ingin menemani aku minum……?”

“Benar, boanpwe tak ingin minum, biar setetespun tak ingin,” sepasang mata Cho Kim sama sekali tak berkedip, “boanpwe tak perlu menggunakan arak bila ingin melupakan sesuatu persoalan.”

Mendadak Cu Bong bangkit berdiri dan……. ‘Praaaang’ cawan arak itu sudah hancur berkeping-keping.

“Kau benar-benar tak mau minum?”

Paras muka Cho Kim masih tetap tenang, sama sekali tidak berubah.

“Bila Cu Tongcu ingin membunuh sekarang, tentu saja dapat kau lakukan semudah membalikkan telapak tangan sendiri, tapi bila ingin menyuruhku minum arak, mungkin akan jauh lebih sukar daripada naik ke langit.”

Cu Bong mendongakkan kepalanya dan kembali tertawa terbahak-bahak dengan nyaring.

“Bocah keparat, kau memang bernyali,” lalu tanyanya lagi, “kau mengaku she Cho, apakah Cho dari marga yang sama dengan Cho Tang-lay?”

“Benar!”

“Apakah Cho Tang-lay yang menyuruh kau datang kemari?”

“Benar!”

“Datang kemari mau apa?”

“Boanpwe bertugas untuk mengundang Cu Tongcu dan Ko Tayhiap untuk hadir di rumah makan nomor satu di kota Tiang-an, Tiang-an-kit malam nanti, sebab Cho sianseng telah mempersiapkan perjamuan untuk menyambut kedatangan kalian.”

“Apakah dia tahu berapa banyak orang yang kami bawa?”

“Kecuali Ko Tayhiap, orang yang dibawa Cu Tongcu kali ini adalah delapan puluh enam orang.”

“Masa dia hanya mengundang dua orang? Apakah Cho Tang-lay tidak merasa terlalu pelit?” seru Cu Bong sambil tertawa dingin.

“Mungkin bukan masalah pelit, tapi demi sopan santun.”

“Sopan santun?”

“Justru demi sopan-santun, maka Cho sianseng hanya mengundang Cu Tongcu dan Ko Tayhiap berdua.”

“Kenapa?”

“Enghiong berdua adalah tokoh-tokoh yang hebat dari dunia persilatan, sekalipun sarang naga gua harimau, kalian toh bisa pergi dan datang semaunya sendiri.”

Kemudian setelah tertawa hambar, Cho Kim meneruskan: “Apa yang bisa kalian berdua lakukan, mungkin belum tentu bisa dilakukan orang lain.”

Mendengar ucapan mana, Cu Bong segera tertawa tergelak.

“Haahhh…… haahhh….. haahhh…. bagus, bagus sekali. Sekalipun Tiang-an-kit merupakan sebuah loteng yang betul-betul merupakan sarang naga gua harimau, Cu Bong dan Siau-ko pasti akan menghadirinya juga. Tapi kau tidak seharusnya datang ke sini…..”

“Mengapa?”

“Terhadap manusia yang sangat berbakat seperti kau, setelah datang kemari, masa kami akan membiarkan kau pergi dengan begitu saja………?”

Kemudian setelah tertawa main keras, bagaikan guntur yang menggelegar di tengah udara, Cu Bong berkata lebih jauh: “Apabila aku melepaskan kau pergi, bukankah segenap sahabat di kolong langit akan mentertawakan aku Cu Bong sebagai manusia bermata tapi tak berbiji yang tidak mengenal enghiong?”

Cho Kim tertawa lebar.

“Nyo Kian bisa berpihak pada Toa Piau-kiok, Piau-kiok terbesar dalam dunia persilatan, mengapa aku tidak bisa berpihak pada Hiong-say-tong? Cuma sekarang, hal ini belum mungkin.”

“Harus di tunggu sampai kapan?”

“Harus ditunggu sampai kekuatan dari Hiong-say-tong sudah mampu untuk mengalahkan Toa Piau-kiok, piau-kiok terbesar di dunia,” Cho Kim berkata tanpa emosi, “boanpwe bukan seorang manusia yang setia kepada seseorang, namun aku selalu mengetahui gelagat dan situasi.”

Siau-ko memandang ke arah orang itu dengan terkejut, dia benar-benar tidak menyangka pemuda seperti dia bisa mengucapkan perkataan seperti ini.

Cho Kim dengan cepat dapat menemukan perubahan pada mimik wajahnya itu, dengan cepat dia berkata lagi: “Aku berbicara dengan sejujurnya, kata-kata yang jujur seringkali memang kurang sedap untuk didengarkan.”

Cu Bong tidak tertawa lagi, dengan suara keras dia segera menegur nyaring: “Apakah aku harus melepaskanmu kembali guna membantu Cho Tang-lay menghadapi diriku?”

“Boanpwe sudah pernah berkata, bila Cu Tongcu ingin membunuhku, hal tersebut bisa kau lakukan semudah membalikkan telapak tangan sendiri, namun seandainya Cu Tongcu benar-benar telah membunuhku, untuk menjumpai orang tersebut akan mengalami kesulitan lebih dari untuk mendaki ke langit.”

Paras muka Cu Bong segera berubah hebat.

Tentu saja dia mengerti siapakah yang dimaksudkan Cho Kim. Perkataan itu terasa bagaikan sebuah ayunan cambuk yang menghajar tubuhnya, membuat dia menjadi tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat itulah Cho Kim sudah membungkukkan badan memberi hormat seraya berkata: “Boanpwe mohon diri lebih dulu.”

Selesai berkata, dia betul-betul membalikkan badan dan beranjak pergi, bahkan sama sekali tidak kuatir ada orang yang akan membacok batok kepalanya dari belakang, malah dia tidak memandang lagi ke arah Cu Bong, walau hanya sekejappun.

Otot-otot hijau di atas jidat Cu Bong sudah pada menonjol keluar semua, mungkin karena harus menahan amarah dan emosi yang meluap-luap.

Ia tak dapat melupakan Cho Kim dengan begitu saja, tak dapat membiarkan anak buahnya melihat dia melepaskan seorang musuh besar mereka hanya disebabkan seorang perempuan.

Tapi diapun tak bisa membiarkan Tiap-wu menemui ajalnya karena tindakannya ini.

Tiba-tiba Siau-ko berkata sambil menghela napas: “Sungguh tak nyana dia bisa menilai dengan tepat, menebak secara jitu bahwa Cu Bong si Singa Jantan tak pernah akan membunuh seorang manusia yang datang kemari sebagai utusan dan tanpa bekal secuwil senjatapun.”

Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian melanjutkan: “Hanya seorang lelaki sejati yang bisa berbuat demikian, apalagi Cu Bong memang lelaki tulen.”

Seorang lelaki berikat kepala putih segera bangkit berdiri sambil berseru keras: “Perkataan Ko toako memang benar, kita sama-sama harus menghormati Tongcu dengan secawan arak.”

Delapan puluh enam orang lelaki kekar serentak mengiakan bersama dengan suara sekeras guntur.

Siau-ko segera membuka kancing bajunya, kemudian berseru: “Bagus sekali, ambil arak!”

—–

“Aku mengerti, Cu Bong masih belum dapat melepaskan Tiap-wu,” dengan nada dingin Cho Tang-lay berkata, “tapi aku tidak menyangka kalau dia akan melepaskan kau dengan begitu saja.”

Di balik sorot matanya terbawa suatu perubahan yang sukar dipahami, lanjutnya: “Demi seorang wanita sudah melepaskan musuh besarnya dengan begitu saja, apakah Cu Bong tidak kuatir saudara-saudaranya memandang hina kepadanya karena kejadian ini? Apakah dia tidak takut akan mengurangi semangat mereka?”

Setelah tertawa dingin dia menambahkan: “Benarkah Tiap-wu si perempuan ini memiliki daya tarik yang begitu besar?”

“Semangat mereka tidak menjadi pudar karena peristiwa tersebut,” kata Cho Kim, “mengapa?”

“Sebab Ko Cian-hui cukup memahami perasaan Cu Bong waktu itu serta membantunya lolos dari kesulitan pada saat yang tepat, agar semua anggotanya mengira dia tidak membunuh dirimu bukan lantaran perempuan, melainkan demi kebenaran.”

Setelah menarik napas panjang Cho Tang-lay menambahkan: “Dua negeri yang sedang berperang, tidak akan menghukum mati sang utusan, Cu Bong adalah seorang manusia yang berjiwa besar, mana mungkin dia akan membunuh seorang manusia yang tidak membekal senjata……?”

“Ya, benar! Ko Cian-hui memang berkata demikian,” seru Cho Kim sambil menampilkan perasaan kagum.

Cho Tang-lay segera tertawa dingin tiada hentinya.

“Orang itu memang benar-benar sahabat sejati dari Cu Bong, sedangkan anak buah Cu Bong justru adalah babi-babi yang goblok.”

“Padahal orang-orang itu bukannya tidak memahami maksud Ko Cian-hui…..,” ucap Cho Kim, “tapi merekapun tidak memandang hina Cu Bong lantaran peristiwa itu.”

“Oya?”

“Sebab merekapun tidak berharap Cu Bong benar-benar menjadi seorang manusia yang dingin, kejam dan tak berperasaan, sebab seorang Enghiong yang tulen bukannya sama sekali tak berperasaan.”

“Hanya manusia mana yang benar-benar tak berperasaan?”

“Pentolan bajingan, Enghiong tiada berair mata, pentolan bajingan tiada berperasaan.”

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Cho Tang-lay, lama sekali dia menatap wajah Cho Kim, kemudian baru berkata dengan suara dingin: “Seandainya Ko Cian-hui tidak berkata demikian, apakah Cu Bong bakal membunuhmu?”

“Diapun tak akan berbuat demikian?”

“Mengapa?”

Suara Cho Kim berubah semakin dingin dan tenang: “Sebab dalam pandangannya, nyawa Tiap-wu jauh lebih berharga ketimbang nyawaku.”

—–

Suasana dalam ruangan kamar telah lama menjadi gelap, tapi Tiap-wu membiarkan kamarnya tetap gelap gulita, sebab dia memang tak senang memasang lampu.

Apakah dia kuatir dirinya menjadi kunang-kunang yang akan menubruk ke api?

Di tengah tungku pemanas tampak percikan cahaya api, Tiap-wu berdiri di tepi tungku pemanas itu dan pelan-pelan melepaskan pakaian yang dikenakannya.

Tubuhnya yang bugil tampak berwarna putih bersih, putih dan halus bagaikan batu pualam.

Tiba-tiba pintu didorong orang.

Tiap-wu tahu ada orang memasuki kamarnya, tapi ia tidak berpaling, sebab selain Cho Tang-lay, tiada orang yang berani memasuki kamar ini.

Ia membungkukkan badan, lalu mulai membelai kaki sendiri yang indah.

Bukan orang lain saja, bahkan dia sendiripun dapat merasakan daya rangsang yang begitu kuat terpancar keluar dari atas kakinya itu.

Tiada orang yang bisa melawan daya rangsang yang amat hebat itu, selamanya tak pernah ada.

Itulah sebabnya dia keheranan, dia heran Cho Tang-lay hanya berdiri saja sambil memandangnya, berdiri semenjak tadi tanpa menunjukkan sesuatu reaksipun.

Pakaiannya yang tipis kini sudah terlepas semua dari tubuhnya, kini dia berada dalam keadaan bugil, tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya.

Di bawah sinar rembulan yang memancar ke dalam ruangan, tubuhnya nampak lebih indah dan merangsang nafsu berahi.

Tapi Cho Tang-lay masih tetap berdiri tegak di belakangnya, tanpa melakukan sesuatu reaksi.

Akhirnya Tiap-wu tidak tahan lagi, dengan cepat dia berpaling, namun sekuntum bunga yang baru dipegangnya segera terjatuh ke atas tanah karena kaget.

Ternyata yang masuk ke dalam kamarnya bukan Cho Tang-lay seperti apa yang ia duga semula.

Sewaktu berpaling, dia segera menyaksikan seorang pemuda berwajah pucat telah berdiri di hadapannya sambil memandang tak berkedip ke arahnya.

Dengan cepat Tiap-wu dapat menguasai keadaan, dia bisa memulihkan kembali ketenangannya.

Benar-benar tak pernah disangka olehnya selain Cho Tang-lay masih ada orang lain yang berani memasuki ruangan ini, tapi dia memang sudah terbiasa dilihat orang.

Satu-satunya yang membuat dia merasa tidak terbiasa adalah sorot mata pemuda itu, dia merasa sorot matanya jauh berbeda dengan kebanyakan orang.

Di kala orang lain menyaksikan tubuhnya yang bugil dan kakinya yang indah, sorot matanya seolah-olah memancarkan cahaya api yang berkobar-kobar.

Tapi sorot mata pemuda ini justru dingin, sedingin salju dan setajam sembilu.

Cara Cho Kim memandang Tiap-wu bagaikan dia memandang segumpal es atau sebilah mata golok.

Tiap-wu balas memandang ke arahnya, memandang sampai lama, lama sekali, namun ia masih belum menemukan setitik perubahan pun pada wajah si anak muda tersebut.

“Siapakah kau?” tak tahan Tiap-wu bertanya, “dapatkah kau memberitahukan kepadaku, siapakah kau?”

“Cho Kim, aku bernama Cho Kim.”

“Manusiakah kau? Benarkah kau manusia yang terdiri dari darah dan daging?”

“Ya, benar! Aku adalah manusia yang punya darah dan daging…..”

“Kau bukan orang buta?”

“Bukan!”

“Kau dapat melihatku?”

“Tentu saja, setiap bagian tubuhmu yang paling rahasiapun sudah kulihat dengan amat jelas.”

Suaranya dingin dan kaku, namun cukup sopan, bahkan tidak terpengaruh emosi, tiada kedengaran nada suara yang terpengaruh oleh nafsu birahi atau nada lain.

Apa yang dia ucapkan, seakan-akan hanya menuturkan suatu kenyataan belaka.

Tiap-wu segera tertawa, dibalik suara tertawanya terkandung helaan napas, tanyanya kemudian keheranan: “Apakah kau tak pernah berbohong?”

“Ada kalanya aku bisa berbohong, ada kalanya tidak. Bilamana tidak diharuskan untuk berbohong, aku selalu berbicara sejujurnya.”

“Sekarang, apakah kau merasa perlu untuk berbohong?”

“Sama sekali tidak.”

Sekali lagi Tiap-wu menghela napas panjang.

“Tadi kau bilang setiap bagian tubuhku yang paling rahasiapun sudah kau saksikan dengan jelas, apakah kau tidak kuatir lo-cho akan mengorek keluar sepasang biji matamu?”

Cho Kim memandang ke arahnya dengan tenang, lewat lama kemudian sepatah demi sepatah dia baru berkata: “Sekarang, dia sudah tak akan berbuat demikian lagi.”

Tiap-wu seperti tidak memberikan reaksi apapun, padahal dia sudah memahami arti dari perkataannya itu.

“Sekarang dia tidak akan berbuat demikian lagi, apakah hal ini dikarenakan dia telah menyerahkan diriku untukmu?” tanyanya kepada Cho Kim.

Cho Kim segera menggeleng.

“Bukan kau? Tapi orang lain?” desak Tiap-wu lebih jauh.

Cho Kim segera terbungkam.

“Dia memang benar-benar sosial,” suara Tiap-wu kedengarannya penuh ajakan yang sinis, “setiap lelaki yang pernah tidur denganku, tak seorangpun bisa melepaskan aku pergi dengan begitu saja.”

Lalu setelah menghela napas, terusnya: “Kejadian ini benar-benar pantas disayangkan.”

“Disayangkan?”

“Aku merasa sayang bagimu,” ucap Tiap-wu sambil menatap pemuda tersebut lekat-lekat, “kau masih muda, kaupun seorang lelaki yang tampan, aku selalu menyukai lelaki tampan seperti kau, kalian seperti tak pernah akan menjadi lelah.”

Biji matanya yang jeli makin meredup dan sayu, bibirnya makin lama semakin basah dan dia pelan-pelan berjalan mendekat, lalu menempelkan tubuhnya yang bugil dan hangat itu di atas badan Cho Kim.

Menyusul kemudian pinggangnya meliuk-liuk seperti seekor ular, rintihan lirih yang merangsang bergema dari bibirnya.

Menghadapi rangsangan seperti ini, ternyata Cho Kim tidak memberikan reaksi apapun.

Tiap-wu mulai terengah-engah, tangannya mulai meraba kian ke bawah seperti lagi mencari sesuatu, tapi sebelum ‘benda’ tersebut teraba, sebuah tangan yang kuat telah mencengkeram tangannya, lalu tubuhnyapun terasa dilemparkan ke udara.

Bagaikan melempar sebuah bola saja, Cho Kim melemparkan tubuh Tiap-wu ke atas pembaringan, lalu dengan suara dingin dia berkata: “Kau boleh saja mempergunakan berbagai cara untuk menyiksa diri, memperolok diri sendiri, terserah cara apapun yang hendak kau pergunakan, tapi tak akan kulakukan untuk diriku sendiri.”

“Kau tak bisa melakukannya?” Tiap-wu tertawa lagi, tertawa keras seperti orang kalap, “kau bukan lelaki rupanya?”

“Percuma saja bila kau ingin memanasi hatiku dengan cara begitu, tak nanti aku akan menyentuhmu.”

“Mengapa?”

“Sebab akupun seorang lelaki, aku tak ingin setiap malam terbayang kembali gerakan erotikmu ketika tertindih di bawah untuk menyiksa diri sendiri.”

“Asalkan kau bersedia, setiap malam kau boleh memelukku dan mengajakku tidur bersama.”

Cho Kim segera tersenyum, senyumannya bagaikan terukir dari batu karang yang paling keras.

‘Akupun pernah berpikir demikian, sayang sekali akupun tahu bagaimanakah akibat dari lelaki-lelaki yang setiap hari memelukmu dan mengajakmu tidur bersama.”

Tiap-wu tak bisa tertawa lagi setelah mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba saja sorot matanya menampilkan perasaan sedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

“Ucapanmu memang benar,” dia berkata sedih, “orang-orang yang setiap malam ingin memelukku dan mengajakku tidur bersama itu kalau belum terhitung mati, mereka pasti akan merasakan siksaan hidup yang paling berat.”

Makin berbicara suaranya kedengaran makin menderita dan parau: “Untung saja orang-orang itu kalau bukan telur busuk tentu orang tolol, terlepas mereka mau menderita secara bagaimanapun bukan urusanku.”

“Bagaimana dengan Cu Bong?” tiba-tiba Cho Kim bertanya, “Cu Bong termasuk telur busuk ataukah tolol?”

Tiap-wu segera bangkit berdiri memandang kerdipan api di tengah tungku pemanas, dia termangu, lama, lama kemudian tiba-tiba saja dia tertawa dingin.

“Kau anggap Cu Bong masih teringat diriku? Kau anggap Cu Bong akan bersedih hati karena aku?”

“Apakah dia tak akan berbuat demikian?”

“Pada hakekatnya dia bukan manusia,” suara Tiap-wu penuh dengan perasaan dendam, “dia tak jauh berbeda dengan Cho Tang-lay.”

“Apakah dia sama sekali tak acuh kepadamu?”

“Apa yang dia acuhkan?” teriak Tiap-wu, “dia hanya mengacuhkan nama besarnya, kedudukannya, kekuasaannya. Biarpun aku mampus di hadapan mukanya, tak nanti dia akan melelehkan air mata.”

“Sungguh?”

“Di dalam anggapannya aku bukan manusia, aku tak lebih hanya sebuah alat pemuas nafsunya. Seperti boneka milik si upik, bila sedang senang diapun mempermainkan aku, bila sudah jemu, akupun dicampakkan ke samping, ada kalanya sampai berhari-hari lamanya dia tidak mengajakku berbicara, walau hanya sepatah katapun.”

“Justru dia bersikap demikian kepadamu, maka kau baru memanfaatkan kesempatan di saat kami menyerbu Hiong-say-tong untuk melarikan diri?”

“Akupun manusia, adakah manusia yang rela dianggap sebagai alat pemuas nafsu oleh orang lain?” tanya Tiap-wu, “pasti tidak ada!”

“Tapi pernahkah kau bayangkan, mungkin kau telah salah menilai dirinya?” ucap Cho Kim hambar.

“Dalam hal mana aku salah menilai?”

“Bagi seorang lelaki seperti dia, biarpun dalam hati kecilnya amat menyukai seseorang, belum tentu perasaan tersebut diutarakan keluar, aku tahu ada banyak orang yang enggan mengutarakan perasaan sendiri, terutama terhadap perempuan yang disukainya.”

“Mengapa?”

“Mungkin hal ini disebabkan mereka beranggapan, jikalau menunjukkan sikap romantis seperti ini di hadapan kaum wanita, perbuatan itu akan mengurangi kejantanannya sebagai seorang lelaki sejati, mungkin juga hal ini dikarenakan mereka pada hakekatnya tidak mengerti untuk apa berbuat demikian.”

“Cu Bong bukan manusia macam begini,” Tiap-wu berkata dengan suara tandas, “siapapun tak ada yang menangkan dia, di dalam hal begini dia lebih mengerti daripada orang lain, lebih pandai melakukannya daripada orang lain.”

“Oya?”

“Bila dia suka terhadap seseorang, perbuatan yang dia lakukan akan jauh lebih bagus ketimbang siapapun, kadangkala aku sendiripun sampai dibikin jemu oleh cara kerjanya bagi orang lain.”

“Tapi kau bukan orang lain, kau berbeda sekali dengan orang-orang lain.”

“Mengapa berbeda?”

“Sebab kau adalah perempuannya, mungkin dia beranggapan kau seharusnya mengerti bahwa sikapnya terhadap dirimu jauh berbeda dengan orang lain.”

“Aku tidak mengerti, bila seorang lelaki benar-benar menyukai seorang wanita, semestinya ia tunjukkan perasaan tersebut kepadanya.”

“Mungkin hal ini dikarenakan kau belum dapat memahami dirinya.”

“Aku belum memahaminya?”, sekali lagi Tiap-wu tertawa dingin, “aku sudah dipeluk dan ditiduri selama tiga empat tahun olehnya, masa aku belum memahaminya?”

Sekali lagi sekulum senyuman kaku menghiasi wajah Cho Kim.

“Tentu saja kau sangat memahaminya, lagi pula pasti jauh lebih memahami daripada kami semua.”

Malam telah menjelang tiba, suasana dalam kamar diliputi keheningan.

Lama kemudian Tiap-wu baru menghela napas panjang.

“Apa yang kuucapkan hari ini, apakah sudah terlalu banyak?”

“Benar!” sahut Cho Kim, “maka sekarang kita harus berangkat, aku memang bermaksud membawamu pergi.”

“Kau hendak membawaku kemana?”

“Apakah kau lupa?” sepatah demi sepatah Cho Kim berkata, “kau toh sudah menyanggupi permintaan Cho sianseng untuk menari baginya malam ini.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: