Kumpulan Cerita Silat

20/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (33 – Tamat)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna — ceritasilat @ 12:55 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (33 – Tamat)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-khong maksudmu? ….” seru Ban-lo-hu-jin kaget, “kalau demikian, keberangkatan Pui-Po-giok ke Pek-cui-kiong berarti akan mempertemukan tiga generasi mereka dari kakek anak dan cucu.”

Oh-Put-jiu menghela napas, “Sayang sekali meski mereka bertemu, satu dengan yang lain justru tidak boleh saling kenal, Po-ji belum tahu siapa orang yang dilihat dan dihadapinya….”

Mendadak kawanan bajak yang ada di luar berteriak-teriak ribut, “He, apa itu?…Itu?…”

Maka Cui-Thian-ki memapah Oh-Put-jiu yang masih lemah keluar, tampak di tengah laut terapung sebuah bungkusan besar, bungkusan pancawarna, itulah buntalan berisi Bu-kang-pit-kip warisan Ci-ih hou yang dia bungkus dengan layar pancawarna. Seseorang tampak memeluk erat buntalan besar itu, mukanya tampak membengkak dan mulai rusak, tapi dari bentuk dan perawakannya masih dapat dikenal adalah Ka-sing Tai-su.

Oh-Put-jiu menghela napas panjang, “Akhirnya ia memperoleh juga apa yang diharapkannya.”

“Ya, tapi dia sudah mati. Memperoleh apa yang diharapkan setelah mati.”

“Seorang kaku bisa memperoleh sesuatu yang diharapkan pada waktu hidupnya, meski hanya sekejap saja, walau harus segera mati, berarti dia sudah memperolehnya dengan abadi, mati pun tidak perlu menyesal.”

*****

Po-giok terus menyelusuri lorong panjang yang berliku-liku, akhirnya ia tiba juga di kediaman Cui-nio-nio. Betapa megah dan indah istana di air ini, sungguh sukar dilukiskan.

Seorang tampak duduk di tengah aula yang besar badannya seperti dibalut kain sari yang halus dan lembut, wajahnya juga tertutup cadar dari sutera.

Walau di sini tiada angin namun kain sari tampak melambai-lambai, padahal orang itu bercokol di tempatnya tanpa bergerak, namun selintas pandang orang seperti melihat bidadari yang melayang naik surga. Tampaknya perempuan ini memang mirip sukma di tengah kabut, dewi. Tapi dalam halimun.

Meski orang ini tidak bergerak, Po-giok juga tidak melihat wajahnya, namun secara langsung ia sudah merasakan betapa agung dan suci, betapa elok dan ayunya.

Tanpa terasa Po-giok berdiri terpesona, berdiri linglung seperti tersedot sukmanya, mulut pun tak kuasa bicara.

“Bagus sekali, akhirnya kau datang,” itulah suara lembut, merdu dan nyaring, namun bernada dingin yang diucapkan dari balik cadar.

Po-giok meluruskan kedua tangan, menunduk dan membungkuk badan, “Pui-Po-giok menyampaikan salam hormat kepada Cui-Kiong-cu.”

“Kau berani menempuh bahaya, jerih payah bergelut dengan marabahaya, tujuannya sudah tentu ingin berduel denganku untuk menentukan kalah menang, sebagai lawan atau musuh, kenapa kau bilang menyampaikan salam hormat padaku?”

Po-giok melengak, “Ini karena …” Karena apa, Po-giok tidak bisa menjelaskan.

“Setelah kau masuk ke istanaku,” demikian kata Pek-cui-kiong-cu, “Sudah kau hadapi tiga ujian berat yang hampir merengut nyawamu, apa kamu tidak membenciku?”

Kembali Po-giok melengak, jawabnya gelagapan, “Ini …aku ….”

Tertawa tawar berkumandang dari balik cadar sutera, “Lalu apa maksud tujuanmu menerobos ke dalam istanaku ini?”

Berat nada suara Po-giok, “Untuk memenuhi janji maka kudatang ke sini, harap Kiong-cu ….”

“Baiklah tidak perlu kau jelaskan,” tukas Pek-cui-Kiong-cu, “anggaplah kamu sudah menunaikan tugas dengan baik, dan aku meluluskan permintaanmu.”

Po-giok melengong, sungguh ia tidak habis pikir bahwa urusan dapat diselesaikan semudah ini, segera ia bersoja, “Terima kasih Kiong-cu.”

“Apa tiada urusan lain lagi?” tanya Pek-cui-Kiong-cu.

“Masih ada sedikit persoalan, kumohon penjelasan, apa yang kualami tadi ….”

“Hubungan antara manusia dengan manusia memang amat sensitif, kalau tidak tahu, kenapa kau tanya persoalan itu?”

Sesaat Po-giok tepekur, “Kalau Kiong-cu tidak mau menjelaskan, Cai-he juga tidak ingin mendesak, hanya saja …akan datang suatu hari, Pasti aku kembali lagi ke Pek-cui-kiong untuk membongkar rahasia ini.”

“Kenapa tidak sekarang saja?” tanya Pek-cui-Kiong-cu.

“Sekarang Cai-he masih mengemban tugas berat, tidak berani mempertaruhkan mati hidupku sekarang.”

“Bagus, kau dapat membedakan mana yang penting dan mana yang sepele, sebagai ksatria muda, memang kamu harus tegas membedakan antara yang baik dan yang buruk.”

“Bahwasanya Cai-he sudah menunaikan tugas dengan baik, kalau Kiong-cu mengizinkan, Cai-he ingin mohon diri sekarang juga.”

“Kamu berjuang sekuatnya untuk masuk ke sini, tentu dengan mudah pula dapat keluar, tapi setelah bertemu denganku, kenapa ….kau hanya tanya persoalan yang menyangkut kehidupan manusia dan tidak tanya tentang kungfu?”

Terkesiap darah Po-giok, serunya.”Apa aku boleh tanya tentang kungfu?”

“Kenapa tidak boleh, tapi …tapi kalau kau ingin tanya padaku, aku anjurkan lebih baik kau tanya pada dirimu sendiri.”

“Tanya pada diriku sendiri?” Po-giok menegas dengan bingung.

“Sekarang kau adalah orang pertama dalam Bu-lim, semua persoalan yang kau curigai dan mengganjel dalam sanubarimu, hanya kau sendiri saja yang dapat menjawabnya, kalau kau dapat membersihkan hati menenangkan pikiran serta tanya pada dirimu sendiri, maka tidak sedikit manfaat yang akan kau peroleh.”

Lama Po-giok termenung, lalu membungkuk badan, “Mendengar petuah Kiong-cu, Po-giok seperti botol kosong yang diisi penuh air, semua persoalan segera aku sadari dan aku maklumi. Dari pada tanya orang lebih baik tanya diri sendiri, walau pengertian ini amat sederhana, tapi sebelum ini belum pernah Po-giok memikirkannya.

“Nah, sekarang boleh kau mulai tanya pada dirimu sendiri, dalam sehari ini sejak kau masuk istana ini, apakah kungfumu memperoleh kemajuan?”

Po-giok termenung pula beberapa saat, lalu menjawab dengan serius, “Ya, memang ada kemajuan.”

“Lebih lanjut boleh kau tanya kenapa kungfumu memperoleh kemajuan?”

Setelah berpikir sejenak Po-giok menjawab, “Karena sejak Po-giok masuk istana, beruntun tiga kali menghadapi musuh jago pedang memiliki taraf kepandaian luar biasa, tiga jurus ilmu pedang itu telah mengoyak-koyak bayangan gelap dalam benak Po-giok yang menyesatkan ….”

“Dari situ dapat kau bertanya lebih lanjut, dari tiga jurus ilmu pedang yang mematikan itu, di mana letak persamaannya?”

Kepala Po-giok tertunduk rendah, sepenuh hati ia merenungkan pertanyaan ini.

Kali ini hampir tiga jam Po-giok memeras otak, semula ia berdiri, kini bersimpuh di lantai, semula keadaan sekelilingnya kosong, entah kapan kini di depannya menggeletak piring mangkok dan sumpit serta cangkir dan poci, bersama hidangan yang selama ini belum pernah dirasakan. Po-giok seperti tidak sadar sejak kapan ia sudah menghabiskan hidangan sebanyak itu, padahal hidangan itu jarang ada dan mahal meski di restoran kelas satu di kota raja namun sukar Po-giok membedakan rasanya.

Pek-cui-Kiong-cu tetap bercokol di tempatnya, diam dan tenang tanpa bersuara, menunggu dan mengawasinya.

Mendadak Po-giok lompat berdiri dan berkata keras, “Jurus pertama dan jurus kedua dilancarkan secara terbalik, yang satu maju yang lain berbalik mundur, maju adalah mundur dan mundur juga maju, kedua jurus ini merupakan tipu serangan yang terampuh di dunia ini, namun letak kekuatan yang paling hebat dari kedua jurus ini justru terletak pada titik terlemah dari jurus ketiga, kedua jurus itu dilancarkan secara tajam dan ganas, sekali tusuk dapat menamatkan jiwa lawan, tapi bila jurus ketiga dilancarkan justru menempatkan diri sendiri pada posisi yang mematikan. Soalnya kedua jurus yang terdahulu terlampau kuat, sekali serang dan berhasil, maka urusan tiada kelanjutannya, merupakan titik tolak dari hidup menuju ke kematian. Tapi jurus ketiga adalah merupakan tipu yang paling lemah dan paling fatal yang pernah ada di dunia ini, entah jurus serangan apa saja sudah cukup membuat beres persoalan, maka kelanjutannya justru bisa berkepanjangan, jadi dari sudut kematian harus berjuang untuk mempertahankan hidup.”

Sepanjang itu Po-giok berbicara penuh gairah matanya memancarkan sinar terang, wajahnya juga kelihatan cerah, lalu ia menambahkan dengan nada yang lebih lunak, “Dari sini dapat disimpulkan bahwa kuat adalah lemah, dan lemah juga kuat, ada kelebihan tapi tidak mencukupi, cukup tapi tidak berlebihan, kelihatannya satu dengan yang lain berbeda dan tidak sama padahal satu dengan yang lain mempunyai ikatan yang erat ikatan yang tidak boleh dipisahkan.”

Terdengar kikik tawa dari balik cadar sutera, perlahan Pek-cui-Kiong-cu berkata, “Betul, itulah teori paling tinggi dari ilmu silat yang tiada taranya, di seluruh kolong langit, kecuali dirimu, memangnya siapa lagi yang dapat menjelaskan persoalan rumit ini.”

“Memang Po-giok yang menjawab pertanyaan rumit dalam teori tinggi ini, namun kalau Kiong-cu tidak memberi tuntunan, memberi spirit dan memetik hikmahnya, mana mampu aku pecahkan persoalan ini.”

“Jangan kau berterima kasih padaku. Coba kau tanya lagi pada dirimu sendiri, bahwa tiga jurus ilmu pedang itu memiliki kaitan yang mendalam, ikatan antara sebab dan musabab, ada hubungan yang kesinambungan, kalau ketiganya itu kau gabung dan dimanunggalkan, bagaimana pula hasilnya?”

“Kalau tiga unsur silat yang tiada taranya itu dapat dimanunggalkan menjadi satu, pasti tiada tandingannya di seluruh jagat.”

“Nah, coba kutanya apakah ketiga jurus silat itu dapat manunggal?”

Tanpa pikir Po-giok menjawab tegas, “Tentu dapat”

Maka coba kau tanya pada dirimu, cara bagaimana untuk membuat ketiga unsur silat itu manunggal?”

Habis bicara mendadak Pek-cui-Kiong-cu melayang pergi. Tinggal Po-giok melamun sendiri di tempatnya. Pek-cui-Kiong-cu telah meninggalkan persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan oleh Po-giok.

Kali ini lebih lama lagi Po-giok mengasah otak.

Entah kapan Pek-cui-Kiong-cu sudah kembali duduk di singgasananya, duduk diam tanpa bersuara, mengawasi Po-giok dengan penuh perhatian.

Akhirnya Po-giok angkat kepala dan membusungkan dada, katanya dengan nada lesu, “Aku salah.”

“Bagaimana kamu bisa salah?”

“Jurus pertama dan jurus kedua walau dapat digabung menjadi satu, tapi ketiga jurus tak mungkin manunggal kecuali begitu bergebrak dapat melancarkan jurus pertama dan kedua dari sudut mematikan dalam jurus ketiga itu …”

“Apakah kau mau bilang pada saat bergebrak jurus pertama dan kedua dilancarkan dari sudut mematikan dan tidak perlu menggunakan titik kelemahan dari jurus ketiga, maka lawan takkan memperoleh kesempatan untuk merebut kemenangan.”

“Betul,” kata Po-giok, “karena pada waktu jurus pertama dan kedua dilancarkan, dalam sekejap itu, siapa saja takkan mungkin bisa balas menyerang, padahal kalau kedua jurus itu dapat dilancarkan dari sudut yang mematikan itu, siapa pun, meski dia seorang tokoh silat yang memiliki kepandaian setinggi langit juga takkan mampu melawan atau menangkisnya. Kalau lawan tidak mampu berkelit atau melawan, bukankah dia akan kalah?”

“Ah, kalau demikian, bukankah ketiga jurus itu dapat manunggal?”

“Tidak bisa! Karena jurus pertama dan kedua bagaimana pun tak mungkin dilancarkan dari sudut yang mematikan itu.”

Apa yang diuraikan Po-giok memang masuk akal, memangnya manusia mana di dunia ini yang mampu melancarkan serangan dari depan kaki lawannya.

Tapi Pek-cui-Kiong-cu justru berkata, “Tiada sesuatu persoalan yang mutlak tidak bisa di dunia ini. Bila kau mau berpikir dan berpikir lagi, kau pasti dapat menemukan jalan keluarnya. Kalau tidak dapat menemukan jawabannya, maka aku anjurkan kamu jangan keluar dari sini.”

Bergetar badan Po-giok, teriaknya, “Kenapa?”

Dingin suara Pek-cui-Kiong-cu, “Karena kalau kamu tidak mampu menjawab, untuk selamanya kamu tidak akan mampu keluar dari sini.”

“Kiong-cu!” pekik Po-giok lantang, “kau …”

Belum habis ucapannya, bayangan Pek-cui-Kiong-cu mendadak berkelebat dan tak kelihatan lagi ke mana ia pergi.

Kali ini Po-giok harus berpikir selama dua hari dua malam.

Waktu pertama kali Pek-cui-Kiong-cu muncul kembali ke tempat duduknya ia bertanya, “Sudah dapat jawabannya?”

Po-giok menjawab, “Kejadian itu tidak mungkin ….”

“Baiklah silakan istirahat ….”

Waktu Pek-cui-Kiong-cu kembali lagi untuk kedua kalinya, tanya jawab mereka tidak berbeda dengan yang pertama kali.

Tatkala ketiga kalinya Pek-cui-Kiong-cu duduk kembali di singgasananya, Po-giok masih tidur di atas kasur yang digelar di lantai, meski ia tidur telentang di lantai, tapi kedua matanya terbelalak lebar.

“Dengan langkah lembut seperti melayang Pek-cui-Kiong-cu mendekati, “Belum berhasil kau dapatkan jawabnya?”

Po-giok mengawasi kaki orang, katanya setelah menghela napas, “Aku belum …”

Mendadak ia berjingkrak sembari bersorak gembira, “Aha, kini sudah aku temukan jawabnya …sudah aku temukan jawabnya …”

Seperti orang putus lotre ia lari berputar satu lingkaran lalu memburu ke depan Pek-cui-Kiong-cu katanya dengan napas tersengal-sengal, “kau benar, jurus pertama dan kedua memang dapat dilancarkan dari sudut yang mematikan itu, asal gaya dan gerakanmu serasi dan tepat, dari sudut dan arah mana pun dapat melontarkan serangan mematikan.”

“Apa betul?” ganti Pek-cui-Kiong-cu yang memekik tertahan.

“Urusan ini amat penting dan besar artinya, masa aku omong kosong.”

Pek-cui-Kiong-cu termenung sebentar, lalu mengangguk dan mendesis perlahan “Bagus sekali …bagus sekali …bagus sekali …”

Beruntun ia mengucap ‘bagus’ tujuh-delapan kali, mendadak ia berkata lantang, “Dengan berhasil menyatu padukan ketiga jurus ini, berarti kamu sudah tiada tandingan di kolong langit. Bahwa kamu sudah menjadi jago tanpa tandingan, maka tiada orang dapat menahanmu, lalu untuk apa masih berada di sini?”

Po-giok mengiakan, begitu berputar badan lantas melangkah pergi.

Pek-cui-Kiong-cu memang tidak merintanginya, namun seperti menghela napas perlahan.

Tak nyana hanya beberapa langkah Po-giok beranjak, mendadak ia putar balik dan berkata keras, “Aku belum boleh pergi.”

“Kamu masih ada urusan? Kan sudah kukatakan pertanyaan yang kau ajukan sekarang belum bisa kuberi jawabannya. Mungkin kelak bila kau datang lagi ke sini, aku bisa dan akan …”

“Bukan soal itu,” tukas Po-giok tegas

“Aku …bukan seorang diri kudatang ke sini, maka tidak boleh seorang diri pula aku pergi.”

Bergetar cadar sutera di muka Pek-cui-Kiong-cu, entah karena menghela napas atau karena tertawa, namun suaranya berubah lembut, “Maksudmu kau ingin menunggu Siau-kong-cu?”

“Ya, aku mencarinya,”

“Dia tidak akan keluar, kalau kau ingin menunggunya, mungkin harus lama menunggu.”

“Umpama harus menunggu seumur hidup juga akan kulakukan.”

“Apa benar kau dapat menunggunya seumur hidup?”

Po-giok melengong perlahan ia menunduk, katanya rawan, “Betul, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan di luar sana. Duel dengan Pek-ih jin adalah tugas utama, aku tidak boleh lari dari kenyataan, aku …tidak boleh membuat kecewa orang banyak yang memberi harapan padaku.”

Mendadak ia menegakkan kepala dan membusungkan dada, serunya pula “Tapi kalau tanpa dia, adakah harapanku bisa menang?” suaranya menjadi serak dan tersendat.

“Kenapa kamu tak bisa menang?” tanya Pek-cui-Kiong-cu.

“Hidupku ini aku pertahankan untuk dua orang, pertama adalah Pek-ih-jin, aku harus hidup dan mengalahkan dia. Seorang lagi adalah Siau-kong-cu, kalau selama hidup ini aku memperoleh anugrah, mendapat nama dan sukses, semua adalah demi dirinya, kalau dia tidak berada di sampingku, aku …”

Mendadak air matanya bercucuran, meski serak namun suaranya tetap lantang, “Kalau tidak ada Pek-ih-jin, kungfuku sekarang takkan mencapai taraf yang aku capai sekarang, tapi kalau tiada Siau-kong-cu, aku …mungkin aku takkan bisa hidup sampai sekarang.”

Beberapa kejap Pek-cui-Kiong-cu membungkam, lalu berkata perlahan, “Ternyata Pui-Po-giok juga begini romantis, siapa pun takkan menduganya, namun …kenapa tidak langsung kau bicara saja terhadapnya?”

Po-giok menunduk, “Dia anak perempuan yang berhati keras, kukuh dan tegas, dia mengira aku belajar dan meyakinkan kungfu hanya untuk mengalahkan dia, di luar tahunya bahwa aku berjuang dan menggembleng diri hanya untuk menghadapi Pek-ih-jin, tak pernah terbetik dalam pikiranku untuk mengalahkan dia, membuatnya malu, aku …sebetulnya aku rela dikalahkan dia, dalam segala persoalan mengalah dan dikalahkan olehnya …apakah bisa aku menjelaskan isi hatiku ini kepadanya?”

“Kalau aku menjadi dia …” demikian ucap Pek-cui-Kiong-cu menghela napas, “aku akan percaya kalau aku menjadi dia, menghadapi cinta sejati, maksud yang tulus dan iklas seperti ini pasti tidak aku abaikan, aku justru lebih menyayangi dan mencintainya, cuma sayang dia …”

Dari balik gordin sutera di sebelah sana mendadak seorang berteriak, “Aku juga mempercayainya sekarang aku mempercayainya ….”

Seorang mendadak menerobos keluar, seperti terbang menubruk ke dalam pelukan Po-giok, rambutnya yang panjang terurai agak kacau, wajahnya yang jelita kelihatan agak kuyu, dia bukan lain adalah Siau-kong-cu.

Dengan erat Po-giok memeluknya, seperti memeluk jiwa raga sendiri, entah berapa lama kemudian, perlahan Po-giok mengangkat dagunya, ribuan patah kata ingin dia ucapkan, namun mulutnya hanya berkata lirih, “kau jadi kurus.”

Siau-kong-cu tersenyum sendu, mata terpejam dan kepala tertunduk, katanya malu-malu, “Karena merindukan engkau .”

Meski hanya beberapa patah kata mereka bicara, namun jauh lebih jelas dan gamblang dibanding rangkaian ribuan kata.

Dari balik gordin sutera sana kembali terdengar dua kali helaan napas berat ….

Di tengah helaan napas sudah tentu juga tercampur tertawa lega dan gembira, sayang Po-giok tidak mendengar, mereka tenggelam dalam buaian asmara.

Tapi Pek-cui-Kiong-cu mendengar jelas, sekilas ia menoleh ke arah sana, lalu berkata lembut, “Semoga Tuhan mengabulkan perjodohan mereka yang dimabuk cinta …”

******

Pesisir laut itu tidak banyak beda dengan keadaan tujuh tahun yang lalu, waktu Ci-ih-hou berduel dengan Pek-ih-jin di tempat itu, air laut tetap berwarna biru sinar surya juga tetap cemerlang.

Pek-ih-jin yang tegak di pesisir juga mirip keadaannya tujuh tahun yang lalu. Dia tetap mengenakan pakaian serba putih. Pakaian putihnya itu di bawah terik matahari kelihatan terang dan menyolok mata, rambut panjangnya yang awut-awutan juga kelihatan legam dan mengkilap. Tubuhnya yang tegak laksana tonggak masih memancarkan hawa yang memancarkan nyali orang. Kalau dia kelihatan berubah tidak lain hanyalah sorot matanya yang bertambah tajam dan mencorong wajahnya kelihatan lebih tabah dan mantap, demikian pula pedangnya …pedang panjang yang merengut sukma orang itu, dalam pandangan orang banyak juga lebih menyilaukan, lebih besar daya sedotnya. Darah yang menetes pada ujung pedang juga bertambah banyak dan deras.

Tiga hari, telah tiga hari berlangsung pertarungan berdarah.

Orang-orang gagah, para ksatria di seluruh jagat berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru dunia, seolah-olah mereka sengaja datang untuk menyaksikan betapa hebat satu jurus tusukan pedang yang dapat mencabut nyawa itu. Entah berapa banyak manusia yang terbunuh oleh pedang itu cahaya cemerlang yang menyilaukan pada batang pedang itu lantaran selalu dicuci dengan darah manusia yang segar.

Pek-ih-jin berdiri di sana sambil memegang pedang panjang ia berdiri membelakangi lautan teduh nan luas tak kelihatan ujung pangkalnya, menghadapi orang seluruh dunia yang hari itu tumplek di pesisir laut timur itu.

Di tengah alunan ombak laut nan besar dan luas, kehadirannya di sana seperti amat terpencil kesepian dan sebatang kara. Sorot matanya menyapu pandang orang-orang di sekelilingnya lalu berkata dingin, “Tujuh tahun …kungfu kaum Bu-lim di Tiong-toh selama tujuh tahun ini, kenapa selain tiada kemajuan, justru lebih mundur malah. Setelah Ci-ih-hou mati, memangnya tiada generasi baru yang meneruskan kedudukannya?”

Perkataannya yang dingin tapi kaku dan ketus berkumandang di sepanjang pesisir yang dipagari manusia orang-orang gagah yang memadati pesisir lautan timur, namun tiada satu pun yang berani memberi jawaban.

Walau darah dalam rongga dada mereka sudah mendidih, banyak yang ingin nekat menantang duel padanya. Tapi selama tiga hari ini, mayat demi mayat yang mati menjadi korban keganasan pedang orang berbaju putih ini sudah membuat ciut nyali mereka yang berdarah panas. Mereka yang berani tampil ke tengah gelanggang ternyata tiada satu pun memperoleh ampun, semua mati dan gugur, pantas juga kalau nyali orang banyak menjadi pecah, tiada jago yang berani menampilkan diri lagi.

Dari tengah orang banyak mendadak seorang berteriak lantang, “Kong-sun Put-ti, di mana kamu bersembunyi? Pui-Po-giok jelas belum kunjung tiba … atau mungkin dia tidak berani datang? Nah, lekas kau tampil menggantikan dia. Memangnya murid didik perguruan Jing-ping semuanya setan pengecut yang bernyali kecil?”

Suara ini melengking tajam, kedengarannya mirip suara orang perempuan.

Maka terjadi keributan di tengah kerumunan orang banyak, yang pasti teriakan lantang ini memperoleh reaksi yang gegap, “Betul, Pui-Po-giok tidak berani datang, maka pantas kalau Kong-sun Put-ti menggantikan dia. Memangnya kalian tega melihat orang lain gugur satu persatu demi ….”

Teriakan demi teriakan semakin keras dan banyak.

Mendadak tampak seorang memburu keluar dari tengah orang banyak, sambil berlari mulutnya menggembor keras, “Kong-sun Put-ti dan Bok Put-kut sedang pergi mencari Pui-Po-giok, kalau kalian memaksa mereka menyerahkan jiwa, biar aku Kim Co-liu mewakili mereka mempertaruhkan jiwaku ini!”

Sambil menenteng tombaknya, seperti kesetanan saja Kim Co-lim menerjang ke arah Pek-ih-jin.

Pek-ih-jin berdiri kaku, mengawasinya dengan dingin, membiarkan orang menerjang dekat di depannya tubuhnya mendadak berkelebat, tanpa kuasa Kim Co-lin tersungkur ke sana dan langsung terjerumus ke laut.

Pek-ih-jin menyeringai dingin, “Aku datang demi menegakkan kebesaran ilmu silat, bukan untuk menyempurnakan arwah orang-orang yang gegabah dan bodoh, siapa pula di antara kalian yang ingin mampus, boleh silakan cari cara lain untuk menyerahkan nyawa, kalian tidak setimpal untuk kubunuh.”

Kim Co-lin berdiri seperti patung di dalam air, nyalinya pecah dan tak berani main terjang lagi.

Hadirin saling pandang, mereka juga takut dan menunduk tanpa berani banyak omong lagi.

Perlahan Pek-ih-jin mendongak lalu menghela napas panjang, “Mayapada seluas ini, ternyata memang tidak ada lawan tangguh yang setimpal bergebrak dengan aku … Umpama aku dapat mengubah air laut menjadi merah dengan darah orang-orang itu, apa manfaatnya bagiku?”

Perlahan pula ia menurunkan pedang panjang di tangannya, lalu melambaikan tangan “Pergilah, pergilah semua … kuampuni jiwa kalian …”

Betapa sedih dan malu orang banyak mendengar ocehan Pek-ih-jin rasa malu ini lebih terasa daripada jiwa mereka melayang karena terbunuh di medan laga.

Air mata membasahi wajah Kim Co lin mendadak ia berlutut di dalam air laut, sambil mendongak ia meratap pilu, “O Tuhan! Kecuali Pui-Po-giok apa benar tiada manusia lain di dunia ini setimpal melawannya? Apakah Pui-Po-giok saja manusia dan kita semua ini binatang? Kalau Pui-Po-giok tidak datang, memangnya kita harus mandeh dihina dan dicercah orang ini? …”

Ratapannya yang memilukan, laksana cemeti menghunjam sanubari hadirin.

Dari ribuan penonton yang berjejal di pesisir hanya sedikit yang mukanya masih kering, saat-saat menyedihkan seperti ini merupakan detik yang paling memalukan, penghinaan yang terbesar selama hidup, sayang sekali, terpaksa mereka hanya bisa menghela napas menyesal dan menahan sabar.

Akhirnya ada juga orang yang penasaran, tidak kuat menahan sabar, tidak mau di hina.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, mendadak berkumandang tertawa dingin seorang, “Pui-Po-giok apa? Pui-Po-giok terhitung barang apa? Kalau berhadapan dengan aku, sepuluh Pui-Po-giok juga akan tamat di tanganku. Jika sejak tadi aku hanya berpeluk tangan, tidak mau turun gelanggang, itu karena aku ingin melihat manusia-manusia goblok berotak udang seperti kalian ini masih berapa banyak yang berani mati, bila sudah jatuh banyak korban dan tinggal sedikit saja baru aku orang tua akan turun gelanggang dan mengganyangnya.”

Suara yang melengking tajam, ini jelas adalah suara orang perempuan yang bicara tadi.

Hadirin gempar, tapi tiada orang tahu siapa gerangan perempuan yang bicara besar ini.

Terdengar suara itu berkata pula, “He, kenapa melamun saja? Hayo lekas beri jalan dan menyingkir yang jauh, biar aku orang tua menyaksikan orang macam apa sebetulnya bocah berpakaian putih itu, apa benar memiliki permainan yang mengejutkan.”

Berubah juga air muka Pek-ih-jin, bola matanya lantas memancarkan cahaya yang gemerdep. Hadirin menjadi ribut, beramai-ramai mereka menyingkir memberi jalan. Maka tertampaklah empat gadis yang cantik rupawan dengan dandanan yang merangsang muncul sambil memikul sebuah tandu kecil.

Di atas tandu terbuka itu duduk setengah tiduran seorang perempuan setengah baya, walau wajahnya mulai berkeriput, namun sepasang matanya masih melirik-lirik memiliki daya tarik yang dapat menjatuhkan iman laki-laki mata keranjang. Perempuan ini menyanggul rambutnya dengan dandanan mirip keluarga keraton, berbagai macam perhiasan dengan aneka ragam warna melekat di kepala dan dadanya, pakaiannya terbuat dari sutera kualitas paling bagus sepasang kakinya ditutup dengan selembar kain sutera pula yang bersulam naga dan burung hong (phoenix).

Lebih menyolok lagi adalah pada tubuhnya menyelip delapan bilah pedang panjang yang berjajar, kedelapan pedang telanjang tanpa sarung yang sudah siap pakai, sinar yang terpantul dari batang pedang menyilaukan mata, seolah-olah tubuh orang perempuan ini yang memancarkan cahaya saja.

Agaknya tidak sedikit hadirin yang kenal siapa perempuan setengah baya ini, maka di sana-sini terdengar teriakan kaget orang.”He, bukankah perempuan ini yang dijuluki Li-mo-than Ong-toa-nio yang belakangan ini menggemparkan dunia kang-ouw?”

“Benar, memang Ong-toa-nio. Konon Kong-sun Ang si jago pentung yang lihai itu juga dikalahkan olehnya. Mungkin hanya dia seorang yang mampu menghadapi Pek-ih-jin.”

Ucapan terakhir ini kembali membangkitkan semangat hadirin. Siapa saja, tanpa pandang bulu, orang jahat atau pendekar, kawan atau lawan, bila dia dapat menandingi Pek-ih-jin, maka dia patut didukung, dibela dan dipuji, orang ini adalah ksatria di mata umum.

Bisik-bisik terdengar di sana-sini menjadikan paduan suara yang menggemparkan. Dengan kabar Ong-toa-nio menyapukan pandangannya ke empat penjuru, senyum bangga terkulum di ujung mulutnya.

Pek-ih-jin hanya mengawasinya dingin dengan mata setengah terpicing, “Ternyata seorang perempuan,” ucapnya.

Ong-toa-nio menyeringai dingin, “Memangnya kenapa kalau perempuan? Biar perempuan aku mampu mencabut nyawamu.”

“Lebih baik kau pergi dan pulang saja, selama ini belum pernah aku bergebrak dengan kaum hawa”

“Terserah kau mau turun tangan atau tidak, yang penting terimalah seranganku.” perlahan tangan Ong-toa-nio bergerak, dua jalur sinar terang melesat lurus ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Serangan dua pedang ini hanya untuk memancing reaksi lawan, bila Pek-ih-jin bergerak, Ong-toa-nio akan menyusuli dengan serangan Cu-bo-tui-hun-toh-jiu-kiam.

Tubuh Pek-ih-jin justru tidak bergerak, hanya pedang di tangannya yang diobat-abitkan, di mana sinar pedangnya berkelebat, terdengar suara merantang yang memekak telinga, kedua batang pedang yang meluncur laksana samberan kilat itu seketika patah menjadi empat potong dan mencelat jatuh ke pasir.

Tapi dalam kejap yang sama, dua batang pedang lain tahu-tahu meluncur tiba pula.

Pedang di tengah Pek-ih-jin sedang bergerak keluar, terpaksa tubuhnya harus mendoyong sedikit. Tapi pedang kelima ternyata sudah menutup gerak tubuhnya.

Melotot mata Pek-ih-jin, di tengah gelak tawa yang panjang ia berkata, “Bagus, seranganmu memang lumayan.”

Belum lenyap gelak tawanya, tubuhnya mendadak menyusut mundur, tapi pedang keenam yang ditimpukkan Ong-toa-nio tahu-tahu sudah meluncur tiba tanpa mengeluarkan suara, setelah dekat dan tinggal beberapa belas senti di depan mukanya mendadak bergerak terlebih cepat.

Hadirin melihat sinar pedang berkilauan, bagi pandangan mereka Pek-ih-jin sudah tidak ada jalan mundur untuk menyelamatkan diri, berkelit juga susah, maka pecahlah sorak-sorai orang banyak.”

Di luar dugaan, gerak tubuh Pek-ih-jin yang kelihatan tak mungkin selamat oleh samberan pedang panjang itu, mendadak mencelat ke udara. Berubah hebat air muka Ong-toa-nio, tapi masih ada dua batang pedang ditangannya.

“Sambutlah yang terakhir ini, di tengah gemas suaranya mendadak tubuhnya juga meloncat dan pikulan tandu dan menyongsong ke arah Pek-ih-jin.

Tampak sinar pedang gemerdep mirip dua ekor naga yang saling gubat, berkelebat di udara yang cerah, kelihatan amat menyolok. Sementara pakaian putih Pek-ih-jin berkibar tertiup angin, gayanya mirip dewa yang turun dari kahyangan.

Tahu-tahu tubuh Ong-toa-nio melorot jatuh lurus di atas pasir jatuh telentang dengan suara keras. Pedang yang tersisa dua itu masih kencang terpegang di tangannya, sebuah luka tusukan tepat menghias di tengah kedua alisnya. Selama hidup Ong-toa-nio tidak sedikit kejahatan yang dilakukannya, namun hari ini dia gugur di medan laga demi membela kaum persilatan di Tiong-toh, tatkala hidup sepak terjangnya dicela dan dimaki orang, namun kematiannya hari ini memperoleh pujian orang banyak Ong-toa-nio dapat mati dengan tentram.

Hiruk-pikuk seketika sirap, hadirin menunduk kepala merasa malu dan gegetun, menghela napas dengan perasaan tak keruan.

Pek-ih-jin mengawasi noda darah di ujung pedangnya, katanya dengan bergumam, “Perempuan …Sungguh tak nyana di antara kaum hawa juga ada tokoh selihai ini…”

Seperti orang kerasukan setan mendadak Kim Co-lin berjingkrak-jingkrak dalam air, sambil menuding ke sana ia berkaok gembira, “He, kalian lihat, apa itu … apa itu …”

Cepat Pek-ih-jin menoleh, air mukanya berubah untuk kedua kalinya.

Agak jauh di tengah laut, meski masih samar-samar, tapi sudah tampak sebuah layar kapal, berkembang. Itulah layar pancawarna yang gilang gemilang dahulu.

Sorak-sorai kembali bergema gegap gempita suaranya yang gemuruh bagai gugur gunung memekak telinga membumbung ke angkasa.

Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu yang masih jauh di atas kapal juga mendengar suara gemuruh yang menggetar bumi dan menggoncang langit itu.

Memandang lepas dari jendela, pesisir laut luas sepanjang itu berjubel banyak orang, dipandang dari kejauhan mereka seperti puluhan ribu ikan dan udang berlompatan di dalam laut.

Dalam keadaan seperti ini mereka seperti lupa bahwa Ci-ih-hou sudah lama mati, mereka sudah melupakan segalanya, dalam pandangan mereka hanya tampak pancaran layar pancawarna yang berkembang cemerlang, demikian pula dalam sanubari mereka hanya teringat layar pancawarna yang melambangkan kebenaran. Mengawasi orang-orang yang menyambut kedatangannya, air mata Oh-Put-jiu berlinang.

Sebaliknya dalam pandangan Cui-Thian-ki saat itu tetap hanya ada Oh-Put-jiu seorang.

Cui-Thian-ki mengawasi wajah Oh-Put-jiu, katanya dengan suara kuatir, “Kalau mereka tidak melihat Ci-ih-hou, entah bagaimana perasaan mereka? Mungkin kecewa?”

“Tidak,” tegas jawaban Oh-Put-jiu, “Mereka tidak akan kecewa.”

Mendadak ia menoleh menghadapi Cui-Thian-ki, selebar mukanya berubah menjadi merah legam laksana baja, dengan tandas ia berkata, “Aku tidak akan membuat mereka kecewa.”

Cui-Thian-ki menunduk pedih suaranya rawan, “Jadi … kau sudah berkeputusan menghadapinya?”

“Ya, aku tidak punya pilihan lain,” tegas suara Oh-Put-jiu.

Cui-Thian-ki masih menunduk, diam sampai sekian lamanya. Sorak-sorai orang banyak yang menyambut kedatangan kapal layar pancawarna terasa makin keras, tambah gempita dan makin dekat. Suara gemuruh itu kecuali terasa amat senang tapi juga penuh harapan.

Entah berapa lama kemudian, akhirnya Cui-Thian-ki berkata perlahan, “Betul, memang pilihan lain … pergilah … aku merelakanmu …”

Dengan erat Oh-Put-jiu pegang tangannya, air mata menetes di punggung tangannya, begitu dingin dan meresap air mata itu.

Katanya dengan mengertak gigi? “Engkau harus menjaga dirimu sendiri, aku …aku mungkin takkan melihatmu lagi.”

Cui-Thian-ki angkat kepalanya dengan kaget tanyanya gemetar, “Apa ….apa kamu?”

Oh-Put-jiu memejamkan mata sekejap, “Sudah lama kupikir, setiap jurus, setiap tipu pertarungan Ci-ih-hou melawan Pek-ih-jin tujuh tahun yang lalu telah aku cerna dengan teliti dan seksama, setelah kupikir pikir lagi akhirnya kudapatkan bahwa dengan bekal yang sudah aku miliki sekarang, aku masih bukan tandingan Pek ih jin. Umpama selama tujuh tahun ini, taraf kepandaian Pek-ih-jin mandek dan tidak memperoleh kemajuan, rasanya aku juga takkan bisa mengalahkan dia.”

Bercucuran air mata Cui-Thian-ki, katanya dengan terisak, “Lalu kenapa engkau justru ingin menghadapinya ….Kenapa?”

Pedih tawa Oh-Put-jiu, “Walau aku tidak punya bekal silat untuk mengalahkan dia, tapi aku memiliki tipu mematikan untuk gugur bersama dia. Walau aku harus mati namun aku yakin dan punya pegangan dapat membuatnya luka parah …yang pasti aku tidak akan membuat orang-orang gagah di kolong langit ini kecewa.”

Lalu Oh-Put-jiu membusungkan dada, katanya lantang, “Kalau aku sudah pasti akan mati, biarlah mati dengan imbalan setimpal, gugur demi membela kepentingan orang banyak, tidak perlu kecewa bila aku mati.”

Bergetar tubuh Cui-Thian-ki, mendadak ia mendorongnya, “Betul! Nah, pergilah lekas.”

Waktu Oh-Put-jiu melangkah keluar dari kabin. Cui-Thian-ki tergerung-gerung mendekam di geladak kapal.

Orang banyak memang tidak kecewa, melihat yang muncul di atas kapal meski bukan Ci-ih-hou, tapi sikap gaya dan wibawa orang ini jelas tidak lebih asor dibandingkan Ci-ih-hou dulu.

Mendadak sorak-sorai yang gempita itu sirap serentak. Suasana gembira berganti rasa tegang mencekam.

Oh-Put-jiu sudah berhadapan dengan Pek-ih-jin.

Wajah Pek-ih-jin semula putih pucat, kini berubah merah seperti bara menyala, matanya memancarkan cahaya berkilauan mengawasi Oh-Put-jiu, perlahan ia berseru, “Bagus sekali bahwa Ci-ih-hou mempunyai seorang pewaris, akhirnya aku menghadapi lawan setimpal.”

Oh-Put-jiu diam saja, ia tidak mau bicara, tiada yang perlu dia bicarakan, karena dalam keadaan dan waktu begini banyak bicara tidak berguna lagi.

perlahan Oh-Put-jiu mengangkat pedang dan mengucap sepatah kata, “Silakan!”

Beberapa saat lagi Pek ih-jin berdiri diam, setelah rona merah di wajahnya mulai pudar, baru perlahan ia mengangkat pedang panjang, “Silakan!”

Sinar surya seperti mendadak menjadi guram kehilangan pamornya karena perpaduan pantulan sinar kedua pedang yang siap tempur ini.

Cui-Thian-ki yang berada di atas kapal diam-diam sudah menyiapkan sebilah badik yang ditujukan ke hulu hatinya. Pada saat Oh-Put jiu gugur di medan laga, pada detik itu pula ia akan menyusulnya ke alam baka.

Pedang panjang sudah mulai bergerak di bawah cahaya matahari, kaki juga mulai menggeser di permukaan pasir. Beberapa kejap lagi pasir laut yang semu kuning ini akan dikotori darah yang masih segar.

Sekonyong-konyong dari kejauhan seorang berteriak lantang, “Pek-ih jin adalah lawanku! Siapa pun dilarang bergebrak dengan dia ….Siapa pun dilarang bergebrak dengan dia ….”

Penonton yang berada di garis belakang mendadak berjingkrak dan bersorak gembira.

“Pui-Po-giok! …Pui-Po-giok datang!”

Pedang panjang yang sedang bergerak mendadak berhenti di udara.

Sesosok bayangan orang mendadak meluncur tiba bagai seekor burung raksasa melayang lewat atas kepala orang banyak dan meluncur turun dari udara.

“Pui-Po-giok …itu dia Pui-Po-giok,”

Kecuali ketiga huruf nama itu, seolah-olah tiada suara lain di mayapada ini.

Badik di tangan Cui-Thian-ki yang siap menusuk dada sendiri jatuh di geladak. Pedang panjang di tangan Oh-Put-jiu yang siap berduel di pesisir juga jatuh di atas pasir, mereka hanya mendengar suara gemuruh, “Pui-Po-giok …Pui-Po-giok…”

Mau-tidak-mau mulut mereka ikut bersorak gembira, “Po-giok, akhirnya kau pun datang.”

Mendadak Pek-ih-jin membalik badan, menghadapi pemuda yang baru datang itu, pemuda ini juga berpakaian serba putih, sekujur badan pemuda ini seperti memancarkan cahaya, orang tidak kuat mengawasinya lebih lama, sukar melihat wajahnya.

Dengan kalem pemuda ini melangkah maju, menjemput pedang Oh-Put jiu yang jatuh di pasir dengan enteng dia genggam sekejap tangan Oh-Put-jiu. Oh-Put-jiu manggut-manggut mereka tidak bicara.

Tenggorokan mereka serasa tersumbat, lidah juga kelu, tak mampu bicara sama sekali.

Maka pedang panjang yang akan menentukan nasib kaum persilatan di Tiong-goan kini berganti tuan, tanpa basa-basi secara langsung beralih dari tangan Oh-Put-jiu ke tangan Pui-Po-giok.

Oh-Put-jiu mendongak ke langit, mulutnya komat-kamit, entah senang atau sedih, susah melukiskan perasaan hatinya saat itu.

Pada saat itu ia merasakan tangan seorang telah menggenggam tangannya dari belakang, tangan yang gemetar tapi juga hangat, umpama beberapa saat ini ia pernah kehilangan sesuatu, tapi yang dia peroleh sebagai gantinya sekarang sudah melebihi batas.

Dari pucat dingin wajah Pek-ih-jin berubah merah membara pula, mulutnya bertanya dengan mendesis, “Pui-Po-giok …jadi kamu ini Pui-Po-giok?”

“Betul, akulah Pui-Po-giok aku pasti dapat mengalahkan engkau .”

“Apa kau mampu? Semoga kau mampu mengalahkan aku …”

Tertawa yang kaku seperti membayangkan perasaan yang bosan dan kesal. Seolah-olah sudah terlalu sering dan banyak mendengar perkataan yang sama, juga seolah-olah karena terlalu banyak menang, tidak pernah kalah. Apa benar tidak pernah kalah juga merupakan penderitaan?

Po-giok tidak memikirkan soal ini, orang lain juga tidak diberi kesempatan untuk mencerna perkataan ini. Dia hanya mengucapkan “Silakan” dengan nada rendah.

Belum lenyap gema sepatah katanya, pedang panjang di tangannya pun bergerak.

Kejap yang menggetar sukma orang, kejap yang bakal menggemparkan orang banyak, kejap yang mungkin menggetar bumi menggoncang langit. Seperti udara yang semula mendung guram mendadak mega tersingkap dan muncul cahaya benderang.

Sinar pedang mirip dua ekor naga yang saling gubat dan berkelahi saling cakar dengan seru, dua bayangan putih berlompatan di tengah lingkaran cahaya pedang, sukar dibedakan mana Pui-Po-giok dan siapa Pek-ih-jin.

Tapi setelah terjadi benturan keras yang menimbulkan dencing suara yang ramai dari beradunya kedua pedang, sinar pedang yang menggugur gunung itu pun mendadak sirna, pedang di tangan mereka masih teracung di udara, ujung pedang beradu dan saling tindih.

Pek-ih-jin berhadapan dengan Pui-Po-giok, tapi mereka bukan lagi manusia melainkan lebih mirip dua bongkah batu es yang dingin! Tapi juga mirip dua gumpal bara yang menyala.

Mata mereka saling tatap, satu sama melotot pada yang lain, mata itu juga tidak mirip mata manusia, tapi lebih mirip mata binatang, mata serigala atau mata elang.

Dada hadirin seperti mendadak tersumbat, napas menjadi sesak, perasaan mereka tertekan dan rasanya hendak meledak.

Entah berapa lama kemudian, kaki Po-giok mendadak bergerak, mundur dan mundur terus, sebaliknya Pek-ih-jin mendesak maju dan terus maju, jarak mereka tetap ketat, pedang di tangan Po-giok sudah tertekan turun ke bawah.

Banyak lutut para hadirin mulai goyang, telapak tangan berkeringat, badan pun basah dan gemetar.

Mendadak secepat kilat Po-giok menyurut mundur empat langkah, mendadak pula tubuhnya ambruk ke depan dengan kaku, ambruk mencium pasir tepat di depan kaki Pek-ih-jin.

Kalau pedang Pek-ih-jin diturunkan, maka kepala Pui-Po-giok akan terpenggal putus dari badannya. Tapi perbuatan Po-giok seperti di luar dugaannya, sedetik pedang panjangnya merandek di udara. Karena dengan cara demikian, betapapun ia tidak mungkin menusuk mati Po-giok tepat di tengah kedua alisnya, karena bumi nan luas telah melindungi muka Po-giok.

Perasaan hadirin menjadi beku, hati mereka hancur luluh, tidak sedikit yang menjerit serak.

Tapi baru saja jeritan penonton keluar dari mulut, sebelum pedang Pek-ih-jin bergerak lebih lanjut.

Selarik sinar pedang mendadak berkelebat dari depan kaki Pek-ih-jin, disusul darah segar menyembur deras serempak dengan sinar pedang yang mencuat ke angkasa.

Tubuh Pek-ih-jin terhuyung beberapa langkah, lalu berdiri limbung, mendadak ia mendongak dan bergelak tawa. “Jurus pedang yang bagus …sungguh menakjubkan dan tiada taranya di dunia.”

Di tengah gelak tawanya ia roboh terjengkang ke belakang.

Suara mendadak sirap, deru angin laut dan gelombang ombak juga seperti mendadak berhenti, alam semesta menjadi sunyi senyap.

Entah apa yang terjadi, yang terang orang banyak menyaksikan Pek-ih-jin yang mereka pandang sebagai momok menakutkan itu akhirnya roboh dan takkan bangun lagi. Tapi tidak ada sorak-sorai, perasaan mereka seperti mendadak berubah berat dan prihatin.

Apa pun yang telah terjadi, walau Pek-ih-jin dipandang momok terbesar selama ini, namun orang banyak sama mengakui, momok ini adalah tokoh silat yang maha sakti boleh dianggap malaikat dalam kalangan persilatan. Seakan-akan orang ini hanya hidup dan dilahirkan sebagai insan persilatan, kini dia pun gugur karena membela dan menegakkan persilatan. Lalu baik atau jahatkah perbuatannya selama ini? Siapa bisa menjawab? Siapa berani menjawab?

Po-giok berjongkok mengawasinya, daripada dibilang hatinya gembira, lebih tepat kalau dikatakan hatinya kagum, sedih juga menyanjungnya. Orang yang kini menggeletak di depannya adalah orang yang menjadi tumpuan antara cita-cita dan tujuan hidupnya, orang yang menyebabkan dirinya “jadi manusia” sekarang. Dalam dunia seluas ini, memangnya berapa orang yang bisa mensukseskan harapan hidup dan cita-citanya secara menyeluruh?

Pek-ih-jin rebah tenang di atas pasir, dadanya turun naik, napasnya berat. Mendadak ia membuka mata, mengawasi Po-giok, ujung mulutnya mengulum senyum, ia bergumam lirih “Aku berterima kasih padamu …”

Po-giok melengong, kepalanya menunduk lebih dalam, “Kenapa engkau berterima kasih padaku malah? Akulah yang membunuhmu.”

Pek-ih-jin mengawasi gumpalan mega di angkasa raya katanya dengan nada memilukan, “Selamanya engkau takkan bisa menyelami perasaanku orang macam diriku hidup di dunia ini merasakan betapa sunyi …”

TAMAT

Advertisements

3 Comments »

  1. endingnya ngatung,po giok blm dapat penjelasan ttg ortunya,blm ketemu ma embahnya,trus yg punya dendam itu belum ketahuan kenapa dia dendam

    Comment by kurotagusu — 02/02/2010 @ 8:38 am

  2. @kurotagusu : plot dan gaya cerita khu lung (gu long) ya memang begitu,disitulah seru dan asiknya…jadi enjoy n nikmati aja, he he he….

    Comment by ivan gindink — 17/05/2010 @ 1:52 am

  3. Selamanya engkau takkan bisa menyelami perasaanku orang macam diriku hidup di dunia ini merasakan betapa sunyi …

    Comment by Maxgrosir — 14/02/2014 @ 4:04 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: