Kumpulan Cerita Silat

20/05/2008

Duke of Mount Deer (32)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:07 pm

Duke of Mount Deer (32)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Hy_edl048 dan Pipit)

Selesai berkata, Pui Ie langsung menangis. Air matanya mengucur deras.

“Jangan mudah bersedih. Jangan asal mengalirkan air mata saja!” kata Siau Po. “Kau begitu cantik dan manis. Begitu indahnya sehingga mirip batu kumala dan bunga bermekaran. Melihat air matamu mengalir, hatiku pun ikut hancur luluh… Nona Pui, demi engkau, aku akan melakukan apa saja. Aku akan menolong kakak seperguruanmu. Dan aku pasti akan berhasil! Nona Pui, mari kita mengadakan perjanjian. Kalau aku gagal menolong Lau-sukomu itu, biarlah seumur hidupku aku menjadi budakmu. Sebaliknya, andaikata aku berhasil menolong Lau sukomu keluar dengan selamat dari istana ini, maka untuk seumur hidup, kau harus menjadi istriku. Seorang laki-Iaki sejati, asal kata-katanya sudah tercetus keluar, entah empat kuda apa pun sukar mengejarnya! Nah, demikianlah janji kita!”

Pui Ie memandangi Siau Po dengan pandangan tertegun. Wajahnya sebentar merah sebentar pucat. Kemudian dengan perlahan dia berkata.

“Kui toako, demi…keselamatan Lau suko, aku akan melakukan apa saja. Seandainya kau berhasil membebas…kannya, apabila kau ingin aku melayanimu, se…umur hidup, sebetul…nya bukan tidak bi… sa, tapi….”

Tiba-tiba Pui Ie menghentikan kata, karena di saat itu juga terdengar suara dari luar kamar.

“Kui kongkong, barang hidangan sudah siap!”

“Bagus!” sahut Siau Po yang langsung membuka pintu kamarnya dan merapatkannya kembali. Dia membiarkan empat orang thaykam mengantarkan barang hidangan ke dalam ruang tamu, semuanya diatur dengan rapi di atas meja.

“Sekarang pergilah kalian, kalian tidak perlu melayani aku,” kata Siau Po kemudian.

“Baiklah, kongkong!” sahut salah satu thaykam. “Apakah masih ada yang kurang?”

“Sudah cukup” kata Siau Po. Dia melihat barang hidangan itu cukup untuk delapan orang. “Ingat! Kalau aku tidak panggil, jangan ada yang datang kemari!”

Dia memberi persen kepada mereka itu masing-masing lima tail perak. Tentu saja para thaykam itu kegirangan menerimanya.

Begitu para thaykam itu berlalu, Siau Po mengunci pintu kembali. Setelah itu dia menggeser meja yang penuh hidangan itu ke dalam kamar. Dia mengisi tiga mangkok nasi dan juga menuangkan tiga cawan arak.

“Nona Pui,” panggilnya seraya tertawa. Hidangan semua sudah tersedia dan tinggal menyantapnya saja. Tadi nona mengatakan tapi… apa maksudnya?”

Saat itu Pui Ie sedang dibantu bangun oleh Kiam Peng. Mendengar pertanyaan Siau Po, wajahnya jadi merah jengah sehingga cepat-cepat dia menundukkan kepalanya. Untuk sekian lama dia berdiam diri.

“Sebetulnya, aku ingin mengatakan,” akhirnya dia menyahut juga. “Kau bekerja sebagai thaykam di istana, mana… mungkin kau bi…sa mempunyai istri? Tapi, tak perduli bagaimana caranya, asal kau bisa menolong Lau suko meloloskan diri dari tempat tahanan, untuk seumur hidup , aku akan melayanimu….”

Sinar lilin menerangi wajah si nona, kecantikannya semakin kentara ketika tersipu-sipu, Siau Po masih anak bau kencur, tapi dia juga merasa tertarik dengan kecantikan gadis itu.

“Oh, rupanya karena kau mengetahui aku seorang thaykam?” kata si bocah sembari tertawa. “Karena aku orang kebiri, jadi aku tidak bisa mempunyai istri! Ah… itu urusanku sendiri, tidak perlu kau khawatirkan. Sekarang aku tanya dulu, bersediakah kau menjadi istriku?”

Sepasang alis Pui Ie mengernyit. Wajahnya merah kembali. Namun sekarang emosinya meluap. Dia merasa gusar, tapi beberapa saat kemudian, pikirannya jernih kembali.

“Jangan kata hanya menjadi istrimu, meskipun kau jual aku ke rumah pelesiran menjadi perempuan penghibur atau pun perempuan jalang, aku rela!”

Ucapan itu hebat sekali. Apabila orang lain yang mendengarnya, pasti akan marah karena tersinggung. Tidak demikian halnya dengan Siau Po. Sejak kecil dia dibesarkan dalam rumah pelesiran. Baginya kata-kata itu biasa-biasa saja.

“Baiklah!” sahutnya. “Dengan demikian kita sudah mengadakan perjanjian. Nah, istri dan adikku yang manis, mari kita keringkan cawan kita!”

Sejak melihat gerak-geriknya Siau Po dua hari ini, Pui Ie tidak menganggapnya sebagai thaykam lagi. Dalam pandangannya, Siau Po sangat cekatan dan cerdik. Dengan mudah dia berhasil membunuh Sui Tong dan membuat tubuhnya lumer tinggal cairan. Dia juga mendapat kenyataan bahwa para thaykam lainnya di istana ini sangat menghormati si bocah. Dia masih sangat muda, dan mulai timbul kesan baik dalam hatinya. Diam-diam Pui Ie juga mengaguminya.

Di lain pihak, Pui Ie juga ingat akan Lau It-cau, kakak seperguruan yang dikenalnya sejak kecil. Mereka berlatih silat bersama-sama. Hubungan mereka sudah erat sekali. Meskipun keduanya tidak pernah mengatakan apa-apa, namun jauh di dasar lubuk hati, mereka telah sepakat untuk menikah kelak. Malam itu mereka bekerja sama menyerbu istana kerajaan Ceng ini. Bahkan dia menyaksikan Lau It-cou tertawan. Dia ingin memberikan bantuan, tetapi kondisinya tidak memungkinkan, sebab dia sendiri sudah terluka. Dia menduga, karena tertawan oleh pihak musuh, nyawa Lau It-cou tidak mungkin dipertahankan lagi.

Di luar dugaannya, si thaykam cilik ini mengatakan kekasih hatinya belum mati. Bahkan Siau Po juga berjanji untuk menolongnya meloloskan diri. Karena itu pula, benaknya segera berputar.

‘Biarlah Lau suko bebas dan selamat,’ demikian pikirnya dalam hati. ‘Tidak apa-apa kalau hidupku selanjutnya akan menderita. Malah aku bersyukur kepada Thian yang maha kuasa. Apakah thaykam cilik ini mempunyai maksud tertentu? Ah! Mungkin dia hanya mengoceh sembarangan. Mustahil seorang thaykam bisa beristri! Ya, dia tentu bicara seenaknya untuk menggoda aku! Biarlah, aku menerima baik saja permintaannya…!’

Demikianlah dia mengambil keputusannya. Karena itu dia langsung mengembangkan seulas senyuman. Dia mengangkat cawan araknya dan dibawa ke bibirnya.

“Sekarang aku minum arak bersamamu, tapi kau harus ingat baik-baik. Kalau kau tidak mampu menolongi Lau suko, maka kau tidak akan lolos dari golokku!”

Siau Po tersenyum. Senang hatinya melihat wajah si nona berseri-seri. Wajahnya tampak semakin manis kalau tersenyum. Dia mengangkat cawannya dan berkata:

“Janji kita merupakan kepastian yang tidak dapat diingkari lagi. Karena itu aku juga ingin bertanya, seandainya aku sudah berhasil menolong Lausukomu, lalu kau merasa menyesal, bagaimana? Mungkin saja kau mengingkari kata-katamu sendiri dan tetap ingin menikah dengannya. Kalau kalian bekerja sama mengepung aku seorang diri, lalu dia menbacok aku satu kali dan kau pun menebas aku satu kali, bukankah tubuh aku, si Kui kongkong akan terbelah menjadi dua bagian? Nah, inilah yang harus aku jaga!”

Pui Ie memperlihatkan tampang serius.

“Raja langit di atas. Ratu bumi di bawah, seandainya Kui kongkong benar-benar berhasil menolong Lau suko meloloskan diri dengan selamat, maka Siauli (sebutan untuk diri sendiri bagi anak pcrempuan) Pui Ie bersedia menikah dengan Kui kongkong dan menjadi istrinya serta melayaninya seumur hidup, Siauli akan setia dan tidak nanti berhati dua. Apabila Siauli mengingkarinya, biarlah siauli tersiksa di alam baka nanti dan tidak akan menjelma lagi untuk selama-Iamanya!” Selesai berkata dia menunjuk kepada Siau kuncu. “Nah, Siau kuncu menjadi saksinya!”

Bukan main senangnya hati Siau Po mendengar nona itu bersumpah berat. Dia segera menoleh kepada Kiam Peng dan bertanya.

“Adikku yang baik, apakah kau mempunyai kekasih hati yang harus kutolong?”

“Tidak!”sahut nona Bhok.

“Sayang! Sayang!” kata Siau Po. “Kalau kau juga mempunyai kekasih hati, aku akan menolongnya sekalian. Dengan demikian, kau juga akan bersumpah menikah denganku, bukan?”

“Fui!” Kiam Peng pura-pura meludah. “Sudah mendapatkan seorang istri, masih belum merasa puas! Rupanya dikasih hati, kau malah minta ampela!”

Siau Po tertawa, “Jangan heran!” katanya. “Bukankah ada pepatah yang mengatakan ‘si katak buduk berkhayal ingin makan daging angsa khayangan! Eh, iya, istriku… bersama-sama dengan Lau sukomu itu, ada tertawan dua orang lainnya. Yang satunya berewokan, siapakah dia?”

“Itu Gouw susiok!” sahut Kiam Peng. Susiok artinya paman guru.

“Siapakah yang lainnya?” tanya Siau Po kembali. “Di dadanya ada tato harimau yang buas.”

“Dia berjuluk Chi Mo houw (Si harimau hijau) Go piu,” sahut Bhok Kiam-peng kembali.

“Dia murid Gouw susiok!”

“Siapa nama lengkap Gouw susiok itu?” tanya Siau Po.

“Nama lengkap Gouw susiok ialah Gouw Lip sin,” sahut Kiam Peng. “Julukannya Yau Tau Saycu (Singa menggoyangkan kepala).”

Siau Po tertawa. “Julukannya bagus sekali,” kata Siau Po. “Apa pun yang dikatakan orang, dia pasti selalu menggelengkan kepalanya.”

“Kui toako,” kata Bhok Kiam-peng sambil tcrsenyum. Dia merasa thaykam cilik ini jenaka sekali. “Kau toh ingin menolong Lau suko, sekalian saja kau tolong Gouw susiok dan Go Piu meloloskan diri dari tempat tahanan!”

“Gouw susiok dan Go Piu itu apakah mempunyai puteri atau kenalan gadis-gadis cantik?” tanya Siau Po.

“Aku tidak tahu,” sahut Kiam Peng. “Untuk apa kau menanyakan hal itu?”

“Aku ingin menanyakan dulu tentang kenalan gadis mereka yang manis-manis itu. Ingin kutegaskan, apabila aku menolong Gouw susiok dan Go Piu, apakah mereka juga bersedia menjadi istriku. Coba bayangkan saja, aku akan menghadapi bahaya besar untuk menolong orang, masa aku harus bekerja bakti tanpa pamrih apa-apa?”

Selesai Siau Po berbicara, sebuah benda dengan bayangan kehitaman melayang ke arah kepalanya. Siau Po sempat melihat dan berusaha menghindarkan diri, tapi dia kalah cepat. Begitu dia menundukkan kepalanya, benda itu dengan telak menghajar dahinya.

“Aduh!” jerit Siau Po. Disusul dengan sebuah cawan yang jatuh di atas tanah dan hancur dengan menerbitkan suara nyaring. Sedangkan dahinya mengucurkan darah yang terus mengalir sampai matanya dan membuat pandangannya menjadi samar.

“Pergi kau, bunuh saja Lau It-cou!” Terdengar suara teriakan Pui Ie. “Nonamu juga tidak mau memikirkannya lagi. Tidak nanti aku sudi dihina sedemikian rupa selamanya olehmu!”

Ternyata Pui Ie yang menyambit cawan arak ke kepala Siau Po. Dia kehilangan sabarnya mendengar ocehan si bocah, hatinya panas sekali. Untung saja luka Pui Ie belum sembuh sehingga tenaganya jauh berkurang dibandingkan biasanya. Kalau tidak, serangannya itu pasti luar biasa dan Siau Po bisa celaka karenanya.

Mula-mula Kiam Peng juga ikut terkejut, namun akhirnya perasaannya lebih tenang setelah tahu apa yang terjadi.

“Kui toako!” katanya. “Ke sini! Aku periksa lukamu. Jangan sampai ada pecahan beling yang menancap di dalam dagingmu!”

“Aku tidak mau mendekatimu!” teriak Siau Po.

“Istriku saja sudah berusaha membunuh suaminya sendiri!”

“Siapa suruh kau mengoceh yang bukan-bukan?” kata Kiam Peng. “Kenapa kau ingin mengganggu anak istri orang? Aku sendiri merasa panas mendengar kata-katamu tadi!”

Siau Po tertawa. “Oh, aku mengerti sekarang!” katanya. “Rupanya kalian cemburu dan iri. Iya, baru mendengar aku akan mencari perempuan lain saja, istriku yang tua dan istri yang muda sudah lantas cemburu!”

Kiam Peng menyambar lagi sebuah cawan arak.

“Kau panggil aku apa?” bentaknya dengan nada keras. “Awas kalau kuhajar sekali lagi kau dengan cangkir ini!”

Siau Po mengusap darah yang mengalir di matanya. Dia dapat melihat wajah si nona yang sedang marah. Wajahnya semakin manis dan cantik. Karena itu dia malah tersenyum. Setelah itu, dia melirik ke arah Pui Ie. Nona itu tampak menyesal. Siau Po merasa lukanya perih, tapi dia toh merasa senang.

“Istri tuaku telah menimpuk aku dengan cawan arak, karena itu, kalau istriku yang muda tidak diijinkan menyambit juga, namanya tidak adil.” Dia pun berjalan mendekati Kiam Peng kemudian melanjutkan kembali. “Nah, istri mudaku, kau juga boleh menyambit aku sekarang!”

“Baik!” seru Kiam Peng. Ia segera menyiram arak di cawannya yang masih sisa setengah ke arah Siau Po!

Si bocah berusaha mengelak, tapi wajahnya basah juga tersembur air arak yang disiramkan itu. Namun dasar bocah nakal, dia malah mengulurkan lidahnya mencicipi arak yang manis itu.

“Sedap! Sedap!” katanya berulang kali. “Istri tua menghajar aku sehingga dahiku mengucurkan darah. Sekarang istri mudaku malah menyiram arak ke wajahku. Darah dan arak bercampur menjadi satu, aih! Lama-lama aku bisa mati juga!”

Mendengar kata-katanya lucu, Kiam Peng dan Pui Ie jadi tertawa juga.

“Dasar manusia tidak punya guna!” maki Pui Ie sembari mengeluarkan sapu tangan yang kemudian diangsurkan kepada Kiam Peng. “Kau bersihkan darahnya!”

Kiam Peng tertawa. “Kau yang menghajarnya sehingga terluka, mengapa aku yang harus membersihkan darahnya?” tanyanya.

Pui Ie membekap mulut Kiam Peng. “Kau toh istri mudanya?” katanya menggoda.
Sekali lagi Kiam Peng tertawa. “Cis! Barusan kaulah yang menerima baik syarat yang diajukannya. Bukan aku!”

“Siapa bilang kau tidak menerima?” kata Pui Ie tidak mau kalah. “Bukankah dia menantang istri mudanya menyambit juga? Dan kau telah menyiram wajahnya dengan arak! Hal ini kan berarti kau bersedia menjadi istri mudanya?”

Sekarang giliran Siau Po yang tertawa.

“Tepat! Tepat!” katanya lantang. “Istri tuaku sungguh cinta dan sayang sekali kepadaku. Baiklah! Kalian berdua boleh menenteramkan hati. Tidak mungkin aku main gila dengan perempuan lain!”

Diam-diam Pui Ie berpikir dalam hatinya.

‘Dia seorang thaykam, tidak mungkin bisa menjadi suami yang sebenarnya. Tentunya dia hanya bergurau. Lidahnya memang tajam!’

Pui Ie sudah mempunyai kesan baik terhadap Siau Po. Mengenai ucapannya tentang istri tua dan istri muda, tentunya dia hanya iseng. Bukankah thaykam cilik itu jenaka sekali?
Demikianlah mereka bertiga terus bersenda gurau, sampai akhirnya Pui Ie berkata:

“Kemari kau!” dia memeriksa luka di dahi Siau Po. Dia khawatir masih ada sisa beling yang menancap di dalam dagingnya. Sementara itu dia juga membersihkan darahnya dan ditaburi obat agar darahnya tidak mengalir terus.

Ketiga-tiganya tidak suka minum arak. Karena itu sampai selesai makan, arak yang disajikan masih utuh. Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya.

Habis bersantap, Siau Po menguap. “Bagaimana malam ini? Apakah aku tidur dengan istri tuaku atau istri mudaku?” tanyanya.

Pui Ie memperlihatkan mimik serius.

“Kalau bergurau, kau harus tahu batasnya!” katanya garang. “Apabila kau naik lagi ke atas tempat tidur, awas! Aku akan membunuhmu dengan bacokan golok ini! ”

Siau Po tertawa. Dia meleletkan lidahnya. “Hebat!” serunya. “Pada suatu hari nanti, mungkin nyawaku bisa melayang di tanganmu!”

Kedua gadis itu jadi tertawa lagi mendengar perkataannya. Siau Po segera menelan sebutir pil yang dihadiahkan Ibu suri. Setelah itu dia membuka pintu kamarnya untuk mengeluarkan meja hidangan. Selesai bekerja dia menggelar tikar di atas lantai lalu tanpa mengganti pakaiannya lagi, dia berbaring di sana. Rupanya dia sudah letih sekali. Dalam sekejap mata dia sudah tertidur dcngan pulas.

Ketika keesokan paginya dia terbangun dari tidur. Dia merasa tubuhnya hangat. Di saat dia membuka matanya, ternyata tubuhnya telah ditutupi sehelai selimut. Kepalanya juga beralas bantal. Kemudian dia bangkit duduk dan mengawasi tempat tidurnya.

Di balik kelambu yang tipis, tampak secara samar-samar Pui Ie dan Kiam Peng tidur berdampingan. Siau Po berdiri, dengan mcngendap-endap dia mcnghampiri tempat tidur itu. Dengan perlahan dan hati-hati dia menyingkapkan kelambunya kemudian melongok ke dalamnya.

Tampak olehnya Pui Ie dan Kiam Peng sama-sama ayu dan anggun. Kedua gadis cantik itu tidur dengan hampir berdempetan. Sungguh mempesona pemandangan yang ada di hadapannya. Tanpa sadar dia mendekati wajahnya untuk mencium kedua nona itu, tapi tiba-tiba saja timbul perasaan khawatir mereka akan terjaga karenanya.

‘Oh!’ serunya dalam hati. ‘Seandainya kedua gadis cantik ini bisa menjadi istriku, tentu hidupku akan menyenangkan sekali. Di rumah pelesiran seperti Li Cun-wan, mana ada gadis-gadis yang secantik dan seayu mereka?’

Perlahan-Iahan Siau Po berjalan mendekati pintu, tapi baru saja dia membukanya, suara gerakan pintu itu ternyata membangunkan Pui Ie. Gadis itu langsung membuka matanya dan memperhatikan Siau Po. Bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Kui… Kui… Oh, kau sudah bangun?” sapanya dengan suara halus.

“Kui… Kui apa?” sahut Siau Po sembari tertawa. “Apa kau keberatan memanggilku suami yang baik?”

“Ingat!” sahut Pui Ie. “Kau toh belum menolong orang yang kau janjikan itu!”

“Jangan khawatir!” kata Siau Po. “Sekarang juga aku akan membebaskan mereka!”

Tepat pada saat itu terdengar suara bersin Kiam Peng. “Hei, pagi-pagi begini apa yang kalian bicarakan?” tanyanya.

“Kami berdua tidak tidur sepanjang malam,” sahut Siau Po. “Banyak sekali yang kami bicarakan.” Kemudian dia menguap dan menambahkan: “Oh, aku mengantuk sekali… aku ingin tidur…!”

Wajah Pui Ie jadi merah padam.

“Orang memang tidak bisa bicara baik-baik denganmu,” katanya. “kenapa kau mengatakan kita tidak tidur sepanjang malam?”

Siau Po tidak memberikan komentar, dia hanya tertawa.

“Nah, istriku yang baik,” katanya kemudian. “Sekarang mari kita bicara serius. Kau tulislah sepucuk surat, nanti aku bawa kepada Lau sukomu itu agar dia percaya kepadaku dan bersedia mengikut aku keluar dari istana ini. Tanpa surat darimu, aku khawatir dia akan curiga dan takut dirinya ditipu. Kemungkinan dia berkeras mengatakan bahwa dirinya adalah orangnya Go Sam-kui!”

“Kau benar,” kata Pui Ie. “Tapi, apa yang harus kutulis?”

“Kau boleh tulis apa saja!” sahut Siau Po. “Umpamanya kau bisa mengatakan bahwa aku adalah suamimu, suami yang paling baik di kolong langit ini! Ada baiknya kau juga menyebut kebaikanku, karena menikahi dirimu, aku bersedia menolongnya membebaskan diri dari tempat tahanan!”

Sembari berbicara, Siau Po mengambil alat tulis milik Hay kongkong. Semuanya dipindahkan ke depan tempat tidur, kemudian dia juga menggosok bak tintanya agar menjadi kental. Tidak kepalang tanggung, dia juga mengambil sehelai kertas lalu dibeberkannya di atas meja, dan pitnya disediakan.

Pui Ie bergerak bangun untuk duduk, Ketika menerima pit dari tangan Siau Po, tiba-tiba dia menangis terisak-isak. Air matanya mengucur dengan deras.

“Apa yang harus kutulis?” tanyanya dengan tersengguk-sengguk.

“Apa pun boleh,” kata Siau Po. Dia merasa kasihan juga melihat kesedihan gadis itu.

“Aku toh buta huruf, apa pun yang kau tulis, aku tidak bisa membacanya. Karena itu kau tidak perlu khawatir. Tapi sebaiknya jangan kau katakan bahwa kau telah menikah denganku, nanti Lau sukomu mcnjadi gusar dan tidak sudi ditolong olehku!”

“Kau buta huruf?” tanya Pui Ie menegaskan. “Kau tidak membohongi aku?”

“Kalau aku mengerti membaca, biarlah aku menjadi si anak kura-kura!” sahut Siau Po.

“Aku bukan suamimu. akulah anakmu, akulah cucumu!”

Pui Ie dapat melihat kesungguhan Siau Po dan dia mempercayainya. Sembari mengangkat pit, dia terus bcrpikir. Tapi sampai sekian lama dia masih tidak tahu apa yang harus ditulisnya.

“Sudah, sudah!” seru Siau Po yang mulai kehabisan sabar. “Baik, nanti kalau aku sudah berhasil membebaskan Lau It-cou, kau boleh menikah dengannya. Aku tidak akan merebutmu! Lagipula, kau tidak bersungguh hati ingin menikah denganku, dengan demikian kelak di kemudian hari aku juga tidak perlu merasakan dikhianati. Lebih baik sejak sekarang aku mengalah. Biar kau senang dapat menikah dengan Lau It-cou! Apa pun yang ingin kau tulis, tulislah! Jangan khawatir, aku tidak takut!”

Pui Ie memperhatikan Siau Po lekat-Iekat. Air matanya masih mengambang, kemudian dia menundukkan kepalanya. Kali ini tampaknya dia bersyukur dan senang, dia juga langsung menggerakkan pitnya. Beberapa kali dia menambahkan air di bak tintanya, akhirnya selesai juga pekerjaannya.

“Nah, ini!” katanya. Dia menyodorkan surat itu kepada Siau Po. “Tolong kau sampaikan kepadanya!”

‘Hm! Kau…!” maki Siau Po dalam hati. ‘Mengapa kau tidak memanggil aku toako, tapi membahasakan kau saja?’

Hatinya memang mendongkol juga, tapi dia ingin bersikap sebagai seorang laki-Iaki sejati. Karenanya dia menahan kekesalan hatinya dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut surat yang disodorkan si nona kemudian ia masukkan ke dalarn sakunya, namun dalam hatinya dia masih berkata juga. ‘Istri yang cantik dan baik malah diserahkan kepada orang lain… !’

Setelah menutup pintu kamarnya, Siau Po berjalan menuju tempat para siwi. Kali ini yang mendapat bagian meronda adalah Tio Kong-lian. Dia sudah mendapat kisikan dari To Lung, atasannya, untuk membantu Kui kongkong membebaskan ketiga orang tahanan, namun dia juga mendapat pesan untuk berhati-hati agar ketiga tawanan itu tidak menjadi curiga atau mempunyai dugaan bahwa mereka dilepaskan dengan sengaja.

Begitu melihat Siau Po, Kong Lian segera menghampiri untuk menyambutnya. Sembari tertawa dia mengedipkan matanya, setelah itu dia mengajak thaykam cilik itu ke samping gunung buatan.

Siau Po mengikuti.

“Kui kongkong, dengan cara bagaimana kongkong akan menolong mereka?” tanya Kong Lian.

Siau Po jadi berpikir setelah melihat keramahan siwi ini.

‘Sri Baginda berpesan agar aku membunuh satu dua orang siwi yang menjaga, agar aku dapat membebaskan para tahanan’ pikirnya. ‘Tapi orang she Tio ini begini baik, tegakah aku membunuhnya?’

“Nanti aku periksa lagi ketiga tahanan itu,” katanya setelah berpikir sejenak. “Aku akan bekerja dengan melihat situasinya.”

“Terima kasih, kongkong.” sahut Kong Lian.

“Untuk apa kau mengucapkan terima kasih kepadaku?” tanya Siau Po heran.

“Hamba ingin bekerja dengan Kui kongkong,” sahut Kong Lian. “Hamba harap untuk selanjutnya hamba akan mendapat bantuan dari kongkong agar dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi!”

Siau Po tersenyum mendengar ucapan siwi itu.

“Kau bekerja dengan setia kepada Sri Baginda, hanya satu hal yang aku khawatirkan….”

Kong Lian terkejut mendengar kata-kata Siau Po.

“Apa itu, kongkong?” tanyanya khawatir.

“Aku takut kalau kau terus memperoleh kemajuan, gudang uangmu tidak akan muat lagi karena hartamu sudah berlebihan….” sahut Siau Po.

Pertama-tama Kong Lian bingung, namun akhirnya dia tertawa. Kemudian, setelah tawanya berhenti, dia berkata dengan suara perlahan.

“Kongkong, hamba sudah berunding dengan para siwi lainnya yang berjaga di sini bahwa kami semua akan bekerja dengan segenap kemampuan untuk membantu kongkong. Kami yakin kelak kongkong akan menjadi kepala atau pemimpin para thaykam di sini!”

“Bagus!” kata Siau Po. “Hal itu mungkin harus menunggu beberapa tahun lagi kalau usiaku sudah agak dewasa.”

Siau Po segera berjalan ke dalam tempat tahanan. Baru satu malam saja tampak jelas Lou It-cou bertiga sudah jauh lebih lesu. Memang mereka tidak disiksa lagi, tapi karena perasaannya yang sumpek dan rasa nyeri masih nyut-nyutan, mereka tidak ada selera mengisi perut. Sudah dua hari dua malam mereka tidak makan apa-apa, Di dalam kamar tahanan, terdapat delapan siwi yang menjaga. Melihat kedatangan Siau Po, mereka segera memberi hormat dengan menjura.

Siau Po sudah mempertimbangkan apa yang harus diperbuatnya. Dia segera berkata dengan suara lantang.

“Sri Baginda sudah mengeluarkan firman! Ketiga pemberontak ini besar sekali dosanya. Mereka harus segera dihukum mati di hadapan khalayak ramai. Karena itu lekas kalian siapkan hidangan biar mereka bisa makan sampai kenyang. Dengan demikian, setelah mati mereka tidak akan menjadi setan kelaparan!”

Serentak para siwi itu menyahut.

“Baik!”

Gouw Lip-sin, tahanan yang bertubuh besar serta berewokan langsung berteriak:

“Kami mati demi Peng Si-ong, nama kami akan harum untuk selamanya. Kami lebih hebat berlaksa kali lipat daripada kalian segala anjing budukan yang menjadi budak bangsa Tatcu!”

“Kurang ajar!” damprat salah seorang siwi yang menjadi gusar, ia menyabet satu kali dengan cambuknya. “Gouw Sam-kui adalah si pemberontak. Dia juga akan dihukum mati berikut seluruh anggota keluarganya!”

Sebaliknya, Lau It-cou tidak mengatakan apa-apa. Dia mendongakkan kepalanya ke atas seakan sedang memikirkan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, tapi tidak jelas apa yang dikatakannya, sedangkan kawannya yang satu lagi juga membungkam saja.
Dengan cepat barang hidangan sudah dibawa datang, jumlahnya cukup untuk tiga orang lengkap dengan araknya pula.

“Ketiga pemberontak ini mendengar kepala mereka akan dipenggal sebentar lagi, mungkin karena terkejut setengah mati sehingga tubuh mereka gemetar. Aku khawatir mereka tidak berselera untuk makan. Oleh karena itu, saudara sekalian, sukalah kiranya kalian melelahkan diri untuk menyuapi mereka dan bantu mereka minum arak barang dua tiga cawan. Tapi ingat, jangan lolohi terlalu banyak. Kalau mereka sampai mabuk, tentu mereka tidak akan merasa enaknya kepala dipenggal. Mereka tidak akan merasa sakit dan ini pasti terlalu enak bagi mereka yang dosanya demikian besar. Lagipula, sesampainya di alam baka, Giam lo-ong akan berhadapan dengan tiga setan pemabukan dan Giam Lo-ong akan marah lalu mencambuki mereka dengan rotan sebanyak tiga kali. Bukankah hal ini menambah penderitaan mereka?”

Para siwi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Siau Po. Mereka merasa thaykam cilik ini lucu sekali. Mereka menghampiri ketiga tawanan itu untuk menyuapi mereka.
Gouw Lip-sin tidak sungkan-sungkan lagi. Dia segera meneguk arak yang disodorkan dan menikmati hidangan yang disuapkan.

Go Piu juga makan, tapi setiap kali disuapi, dia selalu memaki. “Budak anjing!”

Lau It-cou tampak pucat sekali wajahnya. Baru makan satu sendok, dia tidak sanggup lagi membuka mulutnya. Kepalanya digeleng-gelengkan.

“Baiklah!” kata Siau Po yang memperhatikan ketiga tahanan itu diberi makan. “Sekarang kalian semua boleh keluar dulu. Aku ingin memeriksa mereka lagi! Masih ada beberapa hal yang ingin diketahui oleh Sri Baginda. Setelah diperiksa, baru mereka dibawa untuk menjalani hukuman mati!”

Tio Kong-lian segera mengiakan. Dia segera mengajak rekan-rekannya meninggalkan kamar tahanan itu. Setelah keluar mereka pun merapatkan pintunya.
Siau Po menunggu sampai para siwi itu sudah keluar semua. Dia segera menghampiri Gouw Lip sin bertiga. Dia memperhatikan mereka dengan senyumnya yang aneh.

“Thaykam anjing, apa yang lucu sehingga kau tersenyum-senyum?” bentak Gouw Lip-sin.

Siau Po tertawa.

“Aku tersenyum sendiri!” sahutnya tenang. “Apa hubungannya denganmu?”

Tepat pada saat itulah, Lau It-cou berkata. “Kongkong, a…ku… akulah Lau It-cou”
Siau Po heran sehingga dia tertegun. Dia tidak menyangka Lau It-cou akan mengaku. Belum lagi dia sempat memberikan jawaban. Gouw Lip-sin dan Go Piu sudah membentak kawannya.

“Apa yang kau ocehkan?”

“Kongkong…” kata Lau It-cou tanpa memperdulikan kedua rekannya. “Kau… tolonglah a…ku, tolonglah ka…mi!”

“Hei, manusia pengecut!” bentak Gouw Lip-sin “Kau tamak kehidupan, kau takut mampus, apakah itu perbuatan seorang enghiong? Mengapa kau mementang bacot memohon pertolongan orang?”

“Tapi…” kata It Cou gugup. “Dia bilang bahwa Siau ongya dan guruku… yang meminta dia menolongi kita….”

“Apakah kau percaya ocehannya yang hanya kebohongan belaka?” tanya Lip Sin garang.

Siau Po tersenyum melihat orang yang adatnya keras kepala itu.

“Yau Tau Saycu Gouw loyacu,” panggilnya. “Dengan memandang mukaku ini, bolehkah kau kurangi gelengan kepalamu itu?”

Gouw Lip-sin terkejut setengah mati.

“Kau… kau…?” matanya menatap Siau Po dengan pandangan keheranan.

Siau Po kembali tertawa. “Aku kenal baik dengan kalian bertiga,” sahutnya. “Saudara ini bernama Go Piu dan julukannya Chi Mo houw. Go toako ini adalah murid kesayanganmu. Seorang guru yang tersohor pasti mempunyai murid yang lihay, aku merasa kagum sekali!”

Gouw Lip-sin terdiam. Matanya menatap thaykam cilik itu lekat-lekat, Dia merasa terkejut dan heran. Bagaimana bocah ini bisa mengetahui namanya dan julukannya? Dengan demikian, bukankah rahasia mereka sudah terbongkar? Hal ini pula yang membuatnya jadi sangsi. .

Ketika orang itu sedang berdiam diri, Siau Po merogoh ke dalam sakunya. Dia mengeluarkan surat Pui Ie, kemudian membukanya dan merentangkannya di hadapan pemuda She Lau.

“Kau lihat surat ini, siapa yang menulisnya?” tanyanya.

It Cou memperhatikan tulisan dalam surat dan membacanya, tiba-tiba dia memperlihatkan kegirangan yang luar biasa.

“Ini tulisan Pui sumoay!” serunya, suaranya terdengar gemetar. “Gouw susiok, adik seperguruanku mengatakan bahwa Kui kongkong ini datang untuk menolong kita. Kita diharapkan menuruti apa pun katanya!”

Gouw Lip-sin merasa heran. “Mari aku lihat!” katanya.

Tanpa mengatakan apa-apa, Siau Po membawa surat itu kepada si bewok. Dia harus memberikan bantuannya karena kedua tangan It Cou terikat sehingga tidak dapat menyodorkannya sendiri. Bahkan untuk membaca pun, harus Siau Po yang memegangi surat itu. Diam-diam si bocah berpikir dalam hati. ‘Entah apa yang ditulis nona Pui dalam suratnya? Mungkinkah urusan asmara. Kalau benar, sungguh istriku itu tidak tahu malu!’

Ketika itu Gouw Lip-sin sudah membaca surat Pui Ie. Isinya sebagai berikut:
‘Lau suko, Kui kongkong ini adalah orang sendiri. Dia baik hati. Ditempuhnya bahaya untuk menolongi kalian. Kau harus dengar apa yang dikatakan oleh Kui kongkong agar kalian semua bisa terbebas dari bahaya!’ Adikmu, Pui Ie.

“Ah!” seru Lip Sin. Dia merasa heran sekali. “Surat ini memakai kode rahasia Bhok onghu kita. Jadi surat ini tentu bukan surat palsu!”

Siau Po senang mendengar bunyi surat itu. Ternyata tidak ada kata-kata mesra yang ditulis Pui Ie.

“Tentu saja. Mana ada surat yang palsu?” katanya. “Kongkong,” kata It Cou. “Dimana sumoayku sekarang?”

‘Dia ada di atas tempat tidurku,’ kata Siau Po, tentu saja hanya dalam hati.

“Dia sekarang sedang bersembunyi di tempat yang aman,” sahutnya. “Setelah berhasil menolongi kalian, baru aku menolongnya. Dengan demikian kalian bisa berkumpul bersama lagi!”

It cou merasa terharu mendengar kata-kata Siau Po. Air matanya sampai mengucur.

“Kongkong, budi besarmu ini, entah kapan dan bagaimana baru aku dapat membalasnya….”

Sebenarnya It Cou gagah berani, tapi barusan ketika Siau Po mengatakan mereka akan dihukum penggal kepala setelah mereka selesai bersantap, tiba-tiba saja hatinya menjadi goyah karena terguncang. Tanpa berpikir panjang lagi dia mengaku dirinya sebagai Lau It-cou. Karena hal itu pula dia dibentak oleh Gouw Lip-sin. Sekarang bukan main girang perasaannya, sebab Pui Ie sudah mengatakan dalam surat bahwa thaykam di hadapannya ini akan menolongi mereka.

Gouw Lip sin tetap berani dan tenang. Kecurigaannya tidak langsung terhapus.

“Tuan, aku mohon tanya she dan namamu yang mulia?” tanyanya kepada Siau Po.

“Mengapa tuan mau menolong kami?”

“Baiklah! Aku akan berkata terus-terang!” sahut Siau Po. “Di mata sahabat-sahabatku, aku bernama Lay Lie-tau Siau samcu. Kalian tidak usah heran. Dulu kepalaku memang kurapan, tetapi sekarang tidak lagi. Aku mempunyai seorang sahabat. Dia seorang hiocu bagian Ceng-bok tong dari perkumpulan Tian-te hwe. Namanya Wi Siau-po. Dia mengatakan bahwa dalam perkumpulan Tian-te hwe terjadi kesalahpahaman karena salah seorang anggotanya membunuh Pek Han-siong dari Bhok onghu kalian. Hal ini membuat Bhok siau ongya tidak mau mengerti. Bukankah sulit sekali, karena orang yang mati kan tidak bisa hidup kembali? Apa yang harus dilakukan? Itulah sebabnya Wi Siau-po datang kepadaku dan meminta tolong agar aku membebaskan kalian bertiga. Dengan demikian, pihak Tian-te hwe tidak berhutang nyawa kepada kalian dan hubungan antara Bhok onghu dan Tian-te hwe pun dapat berlangsung terus!”

Gouw Lip-sin tahu benar urusan kematian Pek Han-siong, Sekarang ia percaya penuh terhadap Siau Po. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata.

“Aku tahu urusan itu! Dan aku minta maaf atas kelakuan kasarku barusan!”

Siau Po tertawa. “Tidak apa, tidak apa!” katanya. “Sekarang urusan kita. Bagaimana cara yang baik agar kalian dapat membebaskan diri dari tempat ini?”

“Tentunya Kongkong sudah mendapatkan cara yang bagus!” kata Lau It-cou. “Kami hanya menurut saja. Silahkan kongkong katakan apa yang harus kami lakukan!”

“Aku belum mendapat akal apa-apa,” sahut Siau Po. “Bagaimana dengan kau, Gouw loyacu?” tanyanya kepada Lip Sin kemudian.

“Di dalam istana ada banyak siwi anjing Tatcu!” kata si bewok. “Oleh karena itu, rasanya kita tidak dapat meloloskan diri di siang hari. Menurutku, lebih baik kita tunggu sampai hari sudah gelap saja!”

Siau Po menganggukkan kepalanya.

“Nanti tolong kongkong lepaskan ikatan kami. Dengan demikian kita bisa menerobos keluar!” kata Lip Sin selanjutnya.

Sekali Siau Po menganggukkan kepalanya.

“Cara ini cukup baik,” sahutnya. “Tapi belum seratus persen aman dan selamat!”

Siau Po berjalan mondar-mandir dengan kepala ditundukkan.

“Iya, lebih baik kita menerobos keluar saja!” kata Go Piu ikut memberikan pendapatnya.

“Syukurlah kalau kita berhasil, kalau sampai gagal, paling-paling mati!”

“Go suko,” tegur Lau It-cou. “Jangan kau mengganggu kongkong yang sedang mencari akal!”

Go Piu menoleh. Dia menatap rekannya dengan pandangan sinis. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

Sementara itu, otak Siau Po juga sedang berputar.

‘Paling bagus kalau aku mempunyai obat bius, dengan demikian aku bisa membuat para siwi tidak sadarkan diri dan tidak perlu jatuh korban!’

Dengan membawa pikiran demikian, dia segera keluar dari tempat tahanan untuk mencari Kong Lian.

“Tio toako, aku memerlukan obat Bong hoanyok. Dapatkah kau mencarinya segera?”

“Bisa, bisa!” sahut Tio Kong-lian. “Saudaramu ini selalu menyediakan obat itu. Nanti aku akan mengambilnya!”

“Tio toako mempunyai obat bius itu?” tanyanya scperti orang yang keheranan. “Buat apa kau selalu menyediakannya?”

“Sebenarnya begini,” sahut Tio Kong-lian. “Kemarin ini Sui hu congkoan menyuruh kami menawan dua orang yang berkepandaian tinggi. Kalau kami menggunakan kekerasan, pasti ada korban jatuh. Dan lagipula kita tidak bisa menawan orang yang hendak ditangkap itu hidup-hidup. Karena itu saudara Cio segera mencari obat itu untuk kami gunakan!”

Mendengar penjelasan itu, diam-diam Siau Po bcrpikir dalam hati.

“Apanya yang jatuh korban dan tidak dapat menawan orang-orang itu hidup-hidup? Yang jelas pasti kalian tidak sanggup melawan mereka!’ Lalu dia bertanya: “Bagaimana kesudahannya?”

Tio Kong-lian tertawa. “Kami berhasil. Orang-orang itu telah tertawan!” katanya.
Nada suaranya menunjukkan kebanggaan dan kegembiraan. Karena hal itu menyangkut Sui Tong, maka Siau Po bertanya lagi.

“Siapa orang-orang yang ditangkap itu? Dan apa kesalahan mereka?”

“Mereka adalah dua orang Tong-nia dari Cong jinhu. Katanya mereka bersalah terhadap thayhou. Setelah mereka ditawan, Sui hu congkoan memaksa mereka mengeluarkan satu perangkat kitab. Kemudian hidung dan mulut mereka ditempel dengan kertas perekat agar mereka tidak dapat bernafas sama sekali kemudian akhirnya mati konyol….”

Disebut tentang seperangkat kitab, suatu ingatan segera melintas di benak Siau Po.

‘Oh, rupanya si nenek sihir itu berusaha mendapatkan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng yang lain. Tapi mengapa setelah mendapatkannya, Sui Tong tidak segera menyerahkannya kepada Ibu suri? Kenapa kitab itu disimpan dalam tubuhnya? Mungkinkah dia ingin mengangkanginya sendiri?’

Kemudian dia bertanya lagi: “kitab apakah itu? Mengapa kitab itu demikian penting?”

“Aku tidak tahu kitab apa,” sahut Kong Lian. “Baiklah, sekarang juga aku akan mengambilkan obat bius itu.”

“Oh ya, sekalian saja kau minta orang di Siangsian tong menyediakan hidangan untuk dua meja,” kata Siau Po menitahkan. “Aku ingin menjamu para siwi!”

“Oh. Lagi-lagi kongkong akan menjamu kami!” sahut Kong Lian dengan nada riang. Pendek kata, asal mengikuti Kui kongkong, kami tidak akan kekurangan makan dan minum!”

Tidak lama setelah berlalunya, Tio Kong-lian sudah kembali lagi dengan membawa satu bungkus besar obat bius Bong hoan-yok, beratnya mungkin ada satu kati. Dia menyerahkannya kepada Siau Po sembari tersenyum dan berkata dengan perlahan.
“Obat ini cukup untuk merobohkan seribu orang. Kalau sasarannya hanya satu orang, cukup seujung kuku saja dimasukkan ke dalam teh atau arak!”

Selesai berkata, Kong Lian menemui rekan-rekannya untuk meminta mereka menyiapkan meja dan kursi untuk bersantap seraya memberitahukan. “Kui kongkong akan menjamu kita semua!” Para siwi itu senang sekali. Mereka segera bekerja dengan perasaan gembira.

“Meja harus diatur dalam kamar tahanan,” kata Siau Po. “kita berpesta pora, biar para tahanan itu melihatnya sehingga mata mereka menjadi merah dan air liur mereka bercucuran!”

Dalam waktu yang singkat, meja telah diatur rapi. Menyusul datangnya barang-barang hidangan yang langsung disajikan di atas meja oleh beberapa thaykam yang bertugas di dapur. Cara kerja mereka cekatan sekali.

“Lihat!” kata Siau Po kepada Gouw Lip-sin bertiga. “Kalian adalah para pemberontak yang bekerja dengan Go Sam-kui. Sampai detik menjelang kematian, kalian masih besar kepala. Sekarang kalian boleh menyaksikan bagaimana kami akan berpesta pora. Andaikata kalian tidak dapat menahan keinginan kalian, kalian boleh menggonggong seperti anjing, nanti kami akan melemparkan sepotong tulang untuk kalian!”

Para siwi mendengar ucapan si thaykam yang jenaka. Gouw Lip-sin segera mendamprat.

“Siwi anjing! Thaykam bau! kalian semua waspadalah! Akan datang harinya Peng Sin-ong membalaskan sakit hati kami. Kelak dia akan bergerak dari Inlam untuk menyerang kota Peking ini dan meringkus kalian semua. Waktu itu kalian akan diceburkan ke dalam sungai dan dijadikan umpan ikan dan buaya!”

Ketika Gouw Lip-sin memaki-maki dan para siwi memperhatikannya, secara diam-diam Siau Po sudah mengeluarkan obat biusnya. Kemudian sembari membawa poci arak di tangan kiri, dia menghampirkan tawanan yang bengis itu.

“Eh, Pemberontak! Apakah kau ingin mimum arak?” tanyanya sembari mengangkat poci arak tinggi, dia tertawa terbahak-bahak, Lagaknya seakan sedang mengejek.

Gouw Lip-sin tidak tahu apa maksud Siau Po. Sahutannya semakin keras:

“Minum atau tidak, sama saja! Kalau angkatan perang Peng Si-ong sampai di sini, kau si thaykam cilik yang pertama-tama akan menerima kematian!”

“Ah! Belum tahu!” sahut Siau Po sambil tertawa. Pocinya yang diangkat tinggi lalu ditunggingkan sedikit sehingga araknya mengucur turun ke dalam mulutnya yang menganga.

“Sedap!” pujinya seakan ingin membuat para tahanan itu ngiler.

Sembari berkata, dia menurunkan pocinya ke bagian dada, tangannya yang sebelah diangkat ke atas untuk menyingkapkan tutup poci lalu jari tangannya yang lain memasukkan obat bius yang telah disediakan sebelumnya. Setelah itu dia mengangkat pocinya lagi dan digoyang-goyangkannya agar obat bius itu larut. Kemudian sambil tertawa dia berkata.

“Pemberontak, kematianmu sudah dekat, kau masih berani mengoceh yang tidak-tidak!”

Ketika dia memasukkan Bong hoan-yok ke dalam poci, tidak ada orang lain yang melihatnya kecuali Gouw Lip-sin. Laki-laki brewokan itu segera sadar. Diam-diam dia merasa senang, tetapi dengan berpura-pura dia membentak.

“Seorang laki-laki kalau harus mati, ya mati! Apa kami harus meratap memohon pengampunan? Orang yang demikian tidak patut disebut orang gagah! Mari arakmu, biar aku minum!”

Siau Po tertawa.

“Kau mau minum arak?” ejek Siau Po. “Oh, tidak nanti kuberikan kepadamu! Ha…. ha… ha… ha…”

Thaykam cilik ini lalu memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke meja. Kemudian dia sendiri yang menuangkan arak ke dalam cawan para siwi.

Kong Lian bangkit berdiri. Demikian pula siwi-siwi lainnya.

“Terima kasih!” katanya. “Mana berani kami menerima penghormatan seperti ini? Kenapa harus kongkong sendiri yang menuangkan arak bagi kami?”

“Jangan sungkan!” kata Siau Po tertawa. “Tidak ada halangannya. Kita semua sudah seperti saudara antara satu dengan yang lainnya!” kemudian dia mengangkat cawannya sendiri. “Silahkan! Mari kita minum!”

Tepat di saat para siwi mengangkat cawannya masing-masing, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara lantang.

“Firman Hong thayhou memanggil Siau Kui cu! Apakah Siau Kui cu berada di sini?”
Siau Po terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.

“Ya, di sini!” sahutnya cepat. Dia meletakkan cawannya sambil berpikir. ‘Mau apa si nenek sihir itu mencariku?’ Terus dia berjalan ke depan untuk menyambut utusan Ibu suri itu. Semuanya terdiri dari empat orang thaykam. Sedangkan yang satunya, yakni yang menjadi pemimpin scgera maju sambil membusungkan dadanya.

Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut seraya berkata. “Hamba Siau Kui cu menerima firman thayhou!”

Thaykam yang menjadi utusan Ibu suri segera menyahut. “Hong thayhou mempunyai urusan yang penting sekali. Kau diperintahkan datang secepatnya ke keraton Cu-Leng kiong!”

“Ya, ya!” sahut Siau Po yang terus berdiri. Dalam hatinya diam-diam dia berkata. ‘Boan Hoan yok sudah dicampur ke dalam arak, kalau aku berlalu dari sini, tentu para siwi akan meminumnya …. Benar-benar sial! Rencanaku bisa berantakan!’

Pikirannya bekerja dengan cepat. Dia langsung tertawa dan berkata.

“Kongkong, apakah she kalian yang mulia? Kenapa dulu-dulunya kita belum pernah bertemu?”

“Hm!” suara thaykam itu tawar sekali. “Aku Tang Kim-kwe! Mari kita jalan. Thayhou sudah menunggu! Kau tahu, sudah setengah harian ini aku berputaran mencarimu!”
Siau Po tidak menjawab. Dia justru menarik tangan thaykam itu. “Tang kongkong, mari aku ajak kau melihat sesuatu yang menarik!”

Tang Kim-kwe berjalan mengikuti Siau Po yang menariknya. Dia ingin tahu apa yang akan ditunjukkan bocah tanggung itu. Di dalam ruangan, dia segera melihat dua meja penuh hidangan. Langsung saja dia berseru.

“Bagus! Oh, Siau Kui cu , kau sungguh beruntung! Thayhou menugaskan kau mengurus Siangsian tong. Siapa tahu, di balik maksud baikmu, kau malah menghamburkan uang negara untuk berfoya-foya!”

Siau Po tertawa. “Para saudara siwi ini sudah berjasa mengusir dan meringkus pemberontak yang menyerbu istana,” katanya. “Karena itu Sri Baginda menyuruh aku menjamu mereka. Mari Tang kongkong! Mari kau juga minum bersama. Juga ketiga kongkong itu!”

“Aku tidak bisa minum!” sahut Tang Kim-kwe sembari menggelengkan kepalanya.

“Thayhou memanggilmu, mari kita pergi!”

Siau Po tidak segera pergi, dia tertawa lagi. “Semua siwi tayjin adalah sahabat-sahabat kami!” katanya pula. “Kalau satu cawan arak saja kau tidak sudi minum, berarti kau benar-benar tidak memandang muka para saudara ini!”

“Aku tidak bisa minum!” kata Kim Kwe dengan suara keras.

Siau Po mengedipkan matanya kepada Tio Konglian. “Nah, Tio toako, kau lihat! Kongkong ini terIalu angkuh, dia tidak mau minum bersama kita!”

Kong Lian mengerti maksud Siau Po. Dia segera mengangkat cawannya dan mengambil sebuah cawan lagi untuk disodorkan kepada Tang Kimkwe, utusan Ibu suri itu. Sembari tertawa ramah dia berkata: “Kongkong, mari kita minum! Untuk kebahagiaan kalian juga kita semua!”

Kim Kwe didesak sedemikian rupa sehingga tidak enak hati. Terpaksa dia menerima cawan berisi arak yang disodorkan kemudian diteguknya sekaligus sampai kering.

“Nah, ini baru namanya sahabat!” puji Siau Po. “Nah, ketiga kongkong, kalian juga harus ikut minum!”

Ketiga thaykam yang lainnya disodori tiga cawan arak oleh para siwi, mereka segera menyambutnya dan meneguknya sampai kering.

“Bagus!” seru Siau Po. “Ayo, semua minum!”

Cepat-cepat dia mengisi lagi keempat cawan yang sudah kosong. Para siwi juga ikut minum. Siau Po juga. Tapi dia memang cerdik. Dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi. Dengan demikian wajahnya jadi terhalang dan dengan mudah dia menuangkan araknya ke dalam lengan baju.

“Mari kita minum lagi!” katanya menawarkan.

Dia khawatir satu cawan arak masih belum cukup untuk membius para thaykam dan para siwi itu. Seorang siwi segera mendahului Siau Po mengangkat cawan arak.

“Kongkong, biar aku yang mengisinya!”

Tang kongkong mengerutkan sepasang alisnya.

“Kui kongkong, aturan dalam istana sangat ketat. Sekali thayhou memanggil, orang harus langsung menghadap. Malah kalau bisa lari secepatnya. Tapi kau, sekarang kau malah merepotkan diri dengan minum arak. Perbuatanmu sungguh tidak menghormati thayhou!”

Siau Po tertawa.

“Sebetulnya hal ini ada sebabnya…” katanya sengaja mengulur waktu. “Mari! Mari kita minum satu cawan lagi, nanti aku akan menjelaskannya kepada kalian!” Dia langsung mengangkat cawannya.

Tio Kong-lian juga ikut mengangkat cawannya. “Tang kongkong, mari kita minum lagi!” ajaknya.

“Aih! Aku tidak boleh minum lagi!” sahutnya sambil memutar tubuh untuk berlalu. Tapi tiba-tiba saja gerakannya jadi limbung. Siau Po tahu thaykam itu sudah jadi korban obat biusnya, tiba-tiba saja ia meringkukkan tubuhnya dan pura-pura memcgangi perutnya.

“Aduh! Oh… Aduh! Perutku sakit!” serunya berulang-ulang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: