Kumpulan Cerita Silat

19/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 09

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata — ceritasilat @ 12:56 am

Pedang Tetesan Air Mata – 09
Belum Terlambat
Oleh Gu Long

Fajar baru menyingsing.

Dari ujung jalan sana tampak seekor kuda dilarikan cepat-cepat menembusi badai salju menuju ke kota Lok-yang.

Penunggangnya mengenakan pakaian berwarna hijau dengan topi yang amat lebar, dia memakai topinya rendah-rendah sehingga separuh bagian wajahnya hampir tertutup.

Kepandaian orang ini dalam menunggang kuda amat hebat, tapi begitu memasuki wilayah kota Lok-yang, dia segera melompat turun dari kudanya, seakan-akan bukan saja enggan diketahui wajah aslinya oleh orang lain, diapun tak ingin orang lain mengetahui gerakan tubuhnya yang lincah.

Padahal baru pertama kali ini dia datang ke Lok-yang, orang-orang Lok-yang belum ada yang pernah bertemu dengannya.

—–

Fajar bulan kedua di kota Tiang-an, sama dinginnya dengan keadaan di Lok-yang, kebanyakan orang masih bersembunyi di balik selimut masing-masing, tapi Cho Tang-lay sudah bangun dari tidurnya.

Biarpun semangat dan kesegarannya amat baik, sayang paras mukanya justru kelihatan amat berat dan serius.

Suma Cau-kun sudah beberapa hari jatuh sakit, kondisinya sama sekali belum ada perubahan, tidak heran kalau perasaannya kurang begitu cerah.

Beberapa hari terakhir ini dia belum sempat bertemu dengan Suma Cau-kun, saban kali dia hendak pergi menengoknya, selalu dihadang oleh Go Wan.

Suasana di ruang dalam penuh dengan bau harumnya obat-obatan, wajah Go Wan nampak lesu dan murung, tapi sikapnya telah kukuh dan tegas, kecuali dia dan tabib yang memeriksa penyakit, semua orang dilarang masuk ke dalam, termasuk Cho Tang-lay sendiri.

Padahal baru pertama kali ini dia bersikap kurang sopan terhadap Cho Tang-lay.

Menghadapi sikap demikian ini, Cho Tang-lay sama sekali acuh tak acuh, malah dia berkata begini kepada orang lain: “Demi keselamatan suaminya, entah perbuatan apapun yang dilakukan seorang wanita, semua perbuatannya itu pantas untuk dimaafkan.”

—–

Saat ini fajar baru menyingsing, tapi di dalam kebun sudah ada dua orang tamu yang menunggu Cho Sianseng.

Kedua orang tersebut yang satu she Kian yang lain she Sie, mereka adalah tabib kenamaan dari kota Tiang-an.

Bila dihari-hari biasa, mereka pasti masih bersembunyi di balik selimut dekat tungku pemanas untuk menghangatkan diri.

Tapi pagi ini belum lagi fajar menyingsing, mereka telah diundang datang oleh orang yang diutus Cho Tang-lay, bahkan tidak mempersilahkan mereka masuk ke ruangan yang hangat, melainkan disuruh menanti di luar gardu.

Bila bulan ke enam, di luar gardu tentu banyak aneka bunga indah, angin yang semilir tentu akan membuat suasana terasa bertambah segar dan nyaman.

Tapi sekarang, angin dingin masih berhembus kencang bagaikan sayatan pisau, biarpun kedua orang tabib itu sudah mengenakan pakaian tebal walaupun tangannya sudah digarang di atas tungku pemanas, toh wajahnya menghijau karena kedinginan, kalau bisa mereka ingin sekali membuka dua resep obat cuci perut untuk Cho Tang-lay.

Sudah barang tentu ingatan demikian hanya bisa tersimpan dalam hati dan tak berani diutarakan keluar, apa akibatnya bila melukai Cho sianseng, mungkin setiap keluarga di kota Tiang-an sudah mengetahuinya dengan jelas.

Maka dari itu sewaktu Cho Tang-lay muncul di ujung jalan sana, mereka berdua segera mengunjukkan wajah riang dan menjura sambil menyampaikan salam.

Sikap Cho Tang-lay terhadap merekapun cukup sungkan.

“Dalam suasana yang begini dingin dan membeku, aku tidak mengundang kalian berdua duduk dalam ruang penghangat, melainkan mempersilahkan kalian berada di sini, tentunya kamu berdua merasa sangat keheranan, bukan?”

Dalam hati mereka memang keheranan, namun di mulut tak berani mengutarakannya keluar.

“Saat salju hampir berakhir, bunga Bwe justru mencapai saat untuk mekar,” ujar Sie Tay-hu cepat, “sudah pasti tuan seorang seniman, jangan-jangan kami sengaja di undang untuk menikmati bunga salju.”

“Aku memang berniat mengundang kalian berdua untuk melihat semacam benda, tetapi benda tersebut bukan pula salju.”

Kalau bukan salju lantas apa?

“Kulit badan Soat-hujin di pesanggrahan luar kota milik Sie Tayhu lebih putih dari salju, sedangkan nona Hoa yang diajak tidur Kian Tayhu semalam jauh lebih indah daripada bunga Bwe di sini…..” kata Cho Tang-lay sambil tersenyum, “kalau maksudku hanya mengundang kalian guna menikmati salju atau bunga Bwe, buat apa mesti mengundang kalian kemari?”

Kedua orang tabib kenamaan itu segera merasakan peluh dingin mulai jatuh bercucuran. Istri mereka sendiripun tidak mengetahui akan rahasia ini, darimana Cho Tang-lay dapat mengutarakannya sejelas itu?

Bila kau sudah berada di hadapan seseorang yang dapat mengutarakan semua rahasia pribadimu secara gamblang, apalagi yang berani kau katakan?

“Harap kalian berdua mengikuti aku.”

Walaupun senyum Cho Tang-lay tampaknya mengandung maksud-maksud tak beres, terpaksa Sie Tayhu dan Kian Tayhu harus mengikuti juga di belakangnya.

Ketika tiba di depan sebuah selokan yang terbuat dari batu putih, Cho Tang-lay segera memrintahkan orang untuk membuka lapisan batu di atasnya, kemudian baru berpaling sambil katanya kepada mereka berdua: “Harap kalian berdua melihat sendiri, benda apakah ini?”

Jelas tempat itu adalah selokan dan siapa saja akan mengetahuinya sebagai selokan.

Selokan inikah yang akan ditunjukkan Cho Tang-lay kepada mereka dengan mengundang kehadiran mereka sepagi buta ini?

Apa indahnya dengan selokan tersebut?

Tanpa terasa Sie Tayhu maupun Kian Tayhu menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Cho Tang-lay berdiri terus di situ sambil mengawasi selokan tersebut dengan termangu seakan-akan tiada benda lain yang lebih indah di dunia ini ketimbang selokan tersebut.

Kian Tayhu nampak jauh lebih gelisah dan tak sabaran, tiba-tiba ia menegur: “Tampaknya tempat tersebut tak lebih hanya sebuah selokan.”

“Tepat sekali! Tampaknya memang tak lebih Cuma sebuah selokan,” kata Cho Tang-lay hambar, “karena memang selokan lah yang kulihat, bagaimana mungkin bisa mirip yang lain?”

Sekali lagi Sie Tayhu dan Kian Tayhu terbungkam dalam seribu bahasa.

Pelan-pelan Cho Tang-lay berkata lebih jauh: “Selokan ini terbuat dari batu putih yang kuat dan kokoh, halus dan rata dan tak pernah tersumbat, dari kamar tinggal Suma Cau-kun suami isteri, langsung tembus ke luar ke kebun bunga, langsung dan tiada hambatan lain.”

Walaupun kedua orang tabib ini menguasai ilmu pertabiban, namun kali ini mereka benar-benar tak dapat menebak obat apa yang dijual dalam cupu-cupu orang.

Apalagi jika ada angin berhembus lewat, mereka serta merta mengendus bau obat yang semerbak.

Sejak tadi sebenarnya seluruh permukaan batu telah dibersihkan dari salju yang menggenangi selokan dan tak ada kotoran lain yang harus dibersihkan.

Ketika mereka mengendus bau obat-obatan inilah, dalam selokan tampak mengalir segumpal air kotor berwarna coklat, mengalir lewat di atas permukaan selokan tersebut.

Cho Tang-lay segera menggapai seorang pembantunya yang segera menggunakan sebuah mangkuk kecil untuk mengambil air kotor tadi lalu dipersembahkan kehadapan kedua orang tabib kenamaan itu.

“Coba kalian periksa, cairan apakah itu?”

Tanpa dilihatpun kedua tabib itu tahu cairan apakah yang berada dalam mangkuk. Tentu saja cairan tersebut bukan air pecomberan, tak mungkin air pecomberan mengandung obat.

Dengan pandangan sedingin salju, Cho Tang-lay mengamati wajah mereka, kemudian katanya: “Aku pikir kalian berdua tentu sudah tahu bukan, cairan apakah itu…?”

Kian Tayhu ingin berbicara, namun bibirnya seakan-akan terjahit rapat, tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan keluar.

Apalagi Sie Tayhu, malahan mulutnya terkatup kencang dan tak mungkin dibuka kembali.

“Inilah obat yang kalian resepkan untuk Lo-cong kemarin, dimasak semenjak malam kemarin hingga sekarang dan baru mendidih. Menurut apa yang kuketahui, setiap kali resep, obat tersebut paling tidak bernilai lima puluh tahil.”

Paras muka kedua orang tabib itu mulai berubah.

Sebelum mereka mengucapkan sesuatu, Cho Tang-lay telah berkata lebih lanjut: “Semangkuk obat tersebut semestinya harus mengalir masuk ke dalam perut Suma Cau-kun, bagaimana mungkin bisa mengalir ke dalam selokan? Aku benar-benar tak mengerti.”

Setelah berhenti sejenak, dengan sepasang mata yang mencorongkan sinar tajam, dia melanjutkan: “Untung saja aku tahu, pasti ada orang yang memahami kejadian ini.”

“Siapa?” tanya Sie Tayhu tergagap, “siapa yang memahami kejadian ini?”

“Kau!”

Bagaikan dicambuk dengan pecut yang berpisau, Sie Tayhu bergetar keras dan hampir saja tak sanggup berdiri tegak.

“Bila kaupun tidak paham, sudah pasti hal ini disebabkan tempat ini kelewat panas,” nada suara Cho Tang-lay tiba-tiba berubah kembali menjadi lembut, “bila seseorang lagi kepanasan, memang seringkali banyak masalah yang tak bisa diingat lagi olehnya.”

Kepada pembantunya dia lantas menitahkan: “Ayo cepat kalian bantu Sie Tayhu untuk melepaskan mantelnya.”

Buru-buru Sie Tayhu memegang mantel kulitnya kencang-kencang, lalu serunya tergagap: “Tak perlu sungkan-sungkan, tak usah sungkan-sungkan, mantel ini tak boleh dilepaskan…..”

Memakai mantel kulit yang tebal saja masih kedinginan setengah mati, apa lagi kalau dilepas, bisa mati kedinginan.

Dua orang lelaki kekar itu tetap berdiri di kedua belah sisi Sie Tayhu, seakan-akan setiap saat sudah siap membantunya untuk melepaskan mantel kulit itu.

Sedangkan Cho Tang-lay kembali telah bertanya dengan suara yang amat lembut: “Kau benar-benar tidak kepanasan?”

Sie Tayhu menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kalau begitu kau pasti sudah teringat bukan, obat yang seharusnya ditelan ke dalam perut, mengapa bisa mengalir dalam selokan?” Cho Tang-lay bertanya lebih jauh, “apakah hal ini dikarenakan di penderita tersebut memang pada hakekatnya tidak sakit?”

“Aku tidak tahu!”

Cho Tang-lay segera tertawa dingin, sementara dua orang lelaki kekar yang berdiri di kedua belah sisinya telah mencengkeram bahu Sie Tayhu kencang-kencang.

Akhirnya tak tahan lagi Sie Tayhu berteriak keras: “Aku benar-benar tak tahu, pada hakekatnya aku belum pernah berjumpa dengannya.”

Kelopak mata Cho Tang-lay tiba-tiba saja berkerut kencang.

“Kau tak pernah berjumpa dengannya? Kau tak bertemu dengan Suma Cau-kun?” serunya.

“Ya, aku tak bertemu dengannya, aku benar-benar tidak bertemu dengannya.”

“Bukankah istrinya mengundang kau untuk memeriksa penyakitnya? Bagaimana mungkin kau malah tak bertemu dengannya?”

“Jangan lagi orangnya, bayangannya pun belum pernah kujumpai,” teriak Sie Tayhu makin gelisah, “dalam rumah itu hakekatnya tiada bayangan tubuhnya.”

Cho Tang-lay segera berdiri membungkam di situ, memandang ke langit nan kelabu, dia berdiri tenang sampai lama. Lama kemudian ia baru pelan-pelan berpaling menatap ke wajah Kian Tayhu dan sepatah demi sepatah kata bertanya: “Bagaimana dengan kau? Apakah kaupun tidak bertemu dengannya?”

“Akupun tidak bertemu,” jawab Kian Tayhu jauh lebih tenang, “sesungguhnya Suma Tayhiap tak ada di rumah, Suma Hujin mengundang kami tak lebih hanya memeriksakan penyakit dari sebuah ruangan yang kosong…….”

Baru selesai perkataan itu diutarakan, mereka sudah mendengar suara dari Go Wan, istri Suma Cau-kun menambahkan: “Bila ada orang bersedia membayar lima ratus tahil emas murni, masih banyak tabib yang bersedia memeriksa penyakit yang diderita rumah kosong, lain kali bila aku hendak mencari lagi, pasti akan kucari mereka yang rada tidak takut dingin.”

—–

Kalau di bilang tempat tersebut terdapat orang sakit, maka orang itu sudah pasti adalah Go Wan.

Paras mukanya sekarang kuning kepucat-pucatan dan lesu, sorot matanya yang semula jeli, kini berubah menjadi merah darah.

Dengan sorot mata yang menakutkan, ia mengawasi tabib-tabib yang takut kedinginan itu, lalu berkata: “Aku tidak lebih hanya seorang perempuan, tentu saja aku tidak memiliki kepandaian sebesar apa yang Cho sianseng miliki, akupun tak akan meminta kepada kalian berdua untuk membuka mantel, “suaranya lebih dingin dari salju, “tapi kuanjurkan kepada kalian berdua agar periksa dulu pintu dan jendela sebelum berangkat tidur, jangan sampai bila mendusin di tengah malam, tiba-tiba menjumpai dirimu sudah berbaring di atas permukaan salju.”

Hijau membesi selembar wajah ke dua orang tabib tersebut sesudah mendengar ucapan tersebut.

Seandainya sorot mata seseorang dapat digunakan untuk membunuh orang, bisa jadi mereka sudah menggeletak mati di atas permukaan salju.

“Sekarang apakah kalian berdua sudah dapat dipersilahkan untuk enyah dari sini?” kata Go Wan lagi, “silahkan enyah!”

Betapa kasarnya seseorang, bila pada dasarnya dia memang seorang yang berhati lembut, halus dan berbudi, maka dalam mengucapkan perkataan apapun, seringkali dia mendahului kata-katanya dengan kata ‘silahkan’.

“Cho sianseng,” Go Wan kembali berkata setelah kedua orang tabib tadi angkat kaki, “aku ingin sekali lagi mohon petunjuk akan sesuatu hal darimu.”

“Soal apa?”

“Harap kau dan mereka semua enyah dari hadapanku.”

Cho Tang-lay tidak memberikan reaksinya, bahkan sedikit reaksipun tak ada malah tiada perubahan apapun di atas mimik mukanya.

“Sayang sekali, akupun tahu bahwa kau tak akan enyah dari sini,” Go Wan menghela napas panjang, “kau adalah sahabat karib Suma Cau-kun, saudaranya, tiada orang kedua yang bisa lebih akrab daripada kalian berdua……”

Di balik nada suaranya itu penuh mengandung nada sindiran dan ejekan, seperti Tiap-wu ketika berbicara dengan Cho Tang-lay.

“Apalagi semua keberhasilan Suma Cau-kun tergantung pada usahamu, dia tak lebih hanya sebuah boneka dengan empat anggota badan serta otak yang sederhana, tanpa kau, tak mungkin dia bisa peroleh kesuksesan seperti hari ini.”

Lalu dengan tertawa dingin Go Wan melanjutkan: “Paling tidak, kau tentu berpendapat demikian dalam hati kecilmu, bukankah demikian?”

Cho Tang-lay masih belum memberikan reaksinya, dia bersikap seakan-akan sedang menyaksikan suatu adegan dalam sebuah sandiwara yang menarik.

“Sudah barang tentu kau adalah seorang manusia yang luar biasa, sahabat yang hebat, karena kau telah mengorbankan segala-galanya demi dia, kehidupanmu dalam dunia inipun hanya karena dia, demi kesuksesannya, demi keberhasilannya menggetarkan dunia persilatan, menjadi Cong-piau-thau dari Piau-kiok terbesar, menjadi Toa-enghiong yang paling disegani di kolong langit.”

Tiba-tiba suara tertawa dingin dari Go Wan berubah bagaikan orang kalap: “Tapi, tahukah kau bagaimanakah kehidupan dari seorang Toa-enghiong yang kau tunjang itu?”

Di balik suara tertawanya penuh mengandung nada sinis dan menghina.

“Dia punya anak, punya bini, juga punya rumah, tapi sikapnya justru seakan-akan bukan anggota dari keluarga ini, pada hakekatnya dia belum pernah melewati hidupnya menurut cara dan keinginan sendiri, sebab dalam setiap tindakan, setiap masalah, kaulah yang mengaturkan segala sesuatu baginya, apa yang kau inginkan, dia harus melakukannya, bahkan untuk minum sedikit arakpun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi…..”

“Cukup!” tiba-tiba Cho Tang-lay menukas, “perkataanmu sudah lebih dari cukup.”

“Betul, aku memang sudah bicara cukup,” Go Wan menundukkan kepalanya, sementara air mata jatuh berlinang, “apakah kaupun ada perkataan yang hendak disampaikan?”

“Hanya ada beberapa patah kata yang hendak kutanyakan kepadamu…..”

“Akan kujawab, aku tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk bersikap macam kau menghadapi orang lain.”

Walaupun ucapannya masih kedengaran ketus, sesungguhnya hatinya sudah lembek.

Ya, siapakah umat persilatan yang tidak mengenal Cho Tang-lay? Cho Tang-lay mempunyai seratus macam cara untuk memaksa seseorang berbicara dengan sejujurnya.

“Lebih baik lagi bila kaupun cukup memahami akan hal tersebut,” Cho Tang-lay berkata dingin, “apakah Suma Cau-kun telah meninggalkan Tiang-an?”

“Benar!”

“Mengapa kau masih berusaha mengelabuhi ku?”

“Sebab aku menyuruh dia melakukan perbuatan yang ingin dia lakukan sendiri,” kata Go Wan, “aku adalah isterinya, aku percaya setiap orang yang menjadi bini seseorang pasti berharap suaminya dapat menjadi seorang lelaki sejati yang hidup bebas dan merdeka, serta dapat menentukan nasib sendiri.”

“Sejak kapan dia telah pergi?”

“Malam tanggal tujuh belas, kalau dihitung sekarang, mungkin dia sudah sampai di Lok-yang.”

“Lok-yang?”

Dibalik sorot mata serigala Cho Tang-lay yang berwarna kelabu, tiba-tiba tersirap cahaya merah darah.

“Kau membiarkan dia pergi ke Lok-yang seorang diri? Apakah kau berharap dia pergi menghantar kematian?”

“Kami adalah suami isteri, mengapa aku harus membiarkan dia pergi menghantar kematiannya?”

Cho Tang-lay menatapnya lekat-lekat, lewat lama kemudian dengan nada suara yang jauh lebih tajam daripada sembilu dan jauh lebih beracun daripada sengatan kala beracun, sepatah demi sepatah dia berseru: “Karena Kwik Ceng!”

Saban kali Cho Tang-lay berbicara dengan mempergunakan nada suara tersebut, paling tidak di dunia ini akan terdapat seseorang yang kena terhajar secara telak dan mematikan.

“Karena Kwik Ceng!”

Walaupun bagi pendengaran orang lain kata-kata tersebut tidak mengandung arti apa-apa, namun bagi pendengaran Go Wan justru seperti terpagut ular berbisa, bagaikan jatuh dari atas tebing yang beratus-ratus kaki tingginya.

Ia tak mampu berdiri tegak lagi, wajahnya yang pucat dan kusut mengalami suatu perubahan yang sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tentu saja Cho Tang-lay tidak akan melepaskan kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja.

“Selama beberapa tahun ini, Suma Cau-kun selalu tertidur terpisah kamar denganmu, menyentuhmupun tidak,” suara Cho Tang-lay kedengaran lebih dingin dan kejam, “padahal usiamu menjelang saat-saat bergairahnya bermain cinta, kebetulan juga di sampingmu terdapat Kwik Ceng si pemuda tampan yang kuat dan berotot, apalagi pandai sekali merayu dan membujuk. Sayang sekali dia telah tewas di Ang-hoa-ki, tewas di ujung golok Cu Bong, hingga batok kepalanya pun……….”

“Cukup!” tiba-tiba Go Wan menjerit keras, “ucapanmu sudah lebih dari cukup.”

“Sebenarnya aku tak ingin mengungkap kejadian ini, sebab aku tak ingin menyedihkan hati Suma Cau-kun,” kata Cho tang-lay lagi, “tapi sekarang terpaksa ku utarakan, maksudku agar kau mengerti, tiada perbuatanmu yang bisa mengelabuhi aku, itulah sebabnya bila kau ingin melakukan sesuatu perbuatan lagi di kemudian hari, haruslah bertindak kelewat berhati-hati.”

Sekujur badan Go Wan mulai gemetar keras.

“Sekarang aku baru mengerti,” teriaknya dengan sorot mata penuh rasa benci dan dendam, “kau sengaja mengirim Kwik Ceng ke Ang-hoa-ki, karena kau menginginkan dia pergi menghantar kematiannya, karena kau sudah lama mengetahui akan rahasia hubunganku dengannya.”

Mendadak ia menerkam ke depan, mencengkeram pakaian Cho Tang-lay sambil menjerit: “Ayo jawab, benar tidak? Benarkah begitu?”

Cho Tang-lay hanya memandang dingin ke arahnya, lalu menggunakan jari tangannya untuk menghajar urat nadi pada sepasang tangan Go Wan.

Cengkeraman Go Wan segera terlepas dan tubuhnya roboh ke tanah, tapi ia masih juga bertanya: “Benar tidak? Benar tidak? Benarkah begitu?”

Selama hidup dia tak akan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, karena Cho tang-lay telah pergi, pergi tanpa berpaling lagi, memandang sekejappun tidak, seakan-akan dia dianggap kutu yang ditepiskan dari ujung bajunya, tak sudi untuk dipandang sekejap lagi.

—–

Seutas tali yang kuat dan panjang sudah di pasang di atas tiang pintu dalam sebuah ruangan.

Go Wan berdiri di bawah tali itu sambil memandang keluar jendela…..

Segulung angin berhembus lewat, terasa dingin dan menggigilkan tubuh.

“Hari apakah ini? Aku rasa tentu hari yang baik,” gumam perempuan itu seperti orang bodoh.

Pelan-pelan ia membuat simpul di ujung tali itu.

Sebuah simpul mati untuk tali penggantungan sendiri.

—–

Suasana dalam kota Lok-yang sangat ramai, terutama di jalan protokolnya, penuh dengan warung, toko, rumah makan dan pasar.

Tapi kini, suasana jalan tersebut menjadi sepi, sangat lengang, seolah-olah menjadi kota mati.

Bagaikan seorang manusia kuat dan sehat yang mati secara tiba-tiba, jalan itu menjadi mati, menjadi kota sepi.

Pintu gerbang rumah makan sudah beberapa hari tak dibuka, meja penjagal babi di pasar pun tinggal bekas-bekas cincangan, di jalanan malah begitu sepi hingga tak nampak seorang manusiapun.

Siapapun tak ingin melewati jalanan itu lagi, peristiwa tragis yang berlangsung di jalanan tersebut sungguh kelewat banyak dan menggidikkan hati.

Hanya seekor anjing liar yang menggapai-gapaikan ekornya sedang menjilati bekas darah yang tak sempat di cuci bersih pada sela-sela lapisan batu cadas.

Anjing liar memang tak pernah akan tahu darah di situ sebenarnya darah siapa.

Kalau anjing liar tak tahu, si Kulit Kerbau tahu dengan pasti.

—–

Di sebuah jalan kecil yang lain, di dalam sebuah warung kecil milik Lo-thio, si Kulit Kerbau sedang membual.

‘Kulit Kerbau’ adalah julukan seseorang, sebab pemuda yang gemar minum arak ini bukan cuma pandai membual, kulit mukanyapun sangat tebal, lebih tebal dari kulit kerbau sesungguhnya.

Sekarang dia sedang membual di hadapan seorang asing yang datang dari jauh, karena orang asing itu sudah mengundangnya meneguk bercawan-cawan arak.

Yang dia bualkan sekarang adalah tragedi berdarah yang telah berlangsung di luar jalan Tong-tou-keng tempo hari.

“Bocah keparat itu benar-benar seorang bocah maknya yang hebat, aku si Kulit kerbau betul-betul kagum kepadanya,” kata si Kulit Kerbau berkaok-kaok. “maknya betul, memang bocah itu punya nyali, dia benar-benar tidak takut mati.”

Si orang asing itu hanya mendengarkan dengan membungkam, kemudian membantunya memenuhi cawan araknya.

“Di kemudian hari aku baru tahu kalau bocah itu she Ko, dia adalah sahabat karibnya si singa tua,” si Kulit Kerbau membual lebih lanjut, “Naga memang pantas berteman Naga, burung Hong wajib berteman dengan burung Hong, kalau tikus mah pantas berteman dengan tukang gangsir lubang. Perkataan ini aku baru merasa tepat sekali, hanya si singa tua baru memiliki teman yang hebat seperti dia.”

Dari balik mata si orang asing itu memercik sekilas cahaya tajam, namun dia menundukkan kepalanya dengan cepat.

“Apakah kau juga hadir di sana waktu itu?”

“Siapa bilang aku tidak berada di sana? Peristiwa macam ini tak akan kulewatkan dengan begitu saja,” si Kulit Kerbau tampak gembira, “waktu itu kebetulan aku sedang sarapan di warung tehnya Oh tua, kulihat bocah itu muncul dengan langkah lebar, biarpun di bulan dua yang berhawa dingin, dia hanya memakai baju pendek yang amat ringkas, sedang jubah panjangnya di bawa di dalam cekalan, kemudian baru kuketahui rupanya pedangnya disembunyikan di bawah jubah tersebut.”

Tiba-tiba si Kulit Kerbau bangkit berdiri dan melakukan gerakan dengan sumpitnya.

“Dengan gerakan beginilah, tahu-tahu pedangnya sudah menembusi ulu hati Coa lotoa sedemikian cepatnya, sampai orang lain tak sempat melihat dengan jelas.”

Dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas, terusnya: “Siapapun tak menyangka kalau bocah tersebut betul-betul punya kehebatan yang luar biasa, sampai-sampai aku si Kulit Kerbau pun turut dibikin ketakutan.”

“Lalu?”

“Semua orang beranggapan si bocah itu tentu akan dicincang menjadi berkeping-keping, siapa tahu dari tengah langit tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia, seperti…… seperti panglima perang yang turun dari kahyangan saja……”

Sengaja si Kulit Kerbau berhenti sebentar untuk meneguk araknya, kemudian sambil menatap si orang asing itu, dia berkata lagi: “Coba kau tebak, siapakah yang melayang turun dari atas langit itu?”

“Apakah si singa tua?”

Si Kulit Kerbau segera bertepuk tangan sambil bersorak: “Tepat sekali, memang dia yang datang.”

Main bercerita dia semakin bertambah semangat, terusnya: “Bagaimanapun juga, singa tua tetap singa tua, walaupun nasibnya belakangan ini kurang baik, orangnya juga bertambah kurus, tapi begitu berdiri tegak, gayanya masih tetap sekeren singa jantan……”

Sambil membusungkan dada dan menirukan gayanya Cu Bong, si Kulit Kerbau berkata lagi: “Dia adalah sahabatku, bunuhlah aku terlebih dulu.”

“Kemudian?” tanya si orang asing itu dingin, “apakah saudara-saudara dari Coa lotoa tak ada yang berani mengusiknya?”

“Siapa yang berani berkutik? Begitu si singa tua pasang gaya, tak ada yang berani berkutik lagi.”

Tiba-tiba si Kulit Kerbau menghela napas panjang: “Aaaai……sebenarnya benar-benar tak ada orang yang berani mengusiknya, siapa tahu ternyata di situ hadir pula sejumlah anjing keparat dari luar daerah yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, mereka begitu berani mengusik si singa tua.”

“Orang dari luar daerah?”

Si Kulit Kerbau manggut-manggut: ‘Di kemudian hari aku baru tahu, rupanya kawanan bajingan telur busuk itu adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang sengaja diundang oleh Coa lotoa.”

“Tapi Coa lotoa toh sudah mati, sekalipun mereka berhasil membunuh si singa tua, belum tentu ada orang yang membayar kepada mereka,” kata si orang asing, “mengapa mereka masih bersedia menjual nyawa buat orang lain?”

“Tentu saja mereka mempunyai perhitungan mereka sendiri,” ujar si Kulit Kerbau dengan riang, “biarpun loko tak mengerti, aku mah dapat memahami jalan pemikiran mereka.”

“Oya?”

“Engkoh tua mungkin tidak mengetahui manusia macam apakah si singa tua tersebut, tapi aku tahu, kawanan bedebah itupun pasti tahu………”

“Tahu soal apa?”

“Tahu kalau si singa tua tak akan melepaskan mereka dengan begitu saja.”

“Mengapa?”

“Kawanan bedebah itu tahunya membunuh orang asal ada uang, sepasang tangan mereka sudah penuh berlepotan darah, apalagi bukan anggota Hiong-say-tong, andaikata si singa tua berhasil merebut kedudukannya kembali, apakah kau kira dia akan membiarkan batok kepala mereka tetap utuh di atas tengkuknya?”

“Ehmmm, sangat masuk di akal,” orang asing itu manggut-manggut membenarkan, “ucapanmu memang sangat masuk di akal.”

“Tapi bila mereka berhasil membinasakan si singa tua, paling tidak dari tangan anggota Coa lotoa akan diperoleh sedikit upah untuk jerih payah mereka, itulah sebabnya merekapun turun tangan secara nekad.”

Dalam menghadapi persoalan yang begitu pelik dan rumit, kenyataannya si Kulit Kerbau dapat menerangkan satu persatu dengan sedemikian jelasnya, bagaimanapun manusia tersebut memang patut dikagumi akan kejelian dan kecerdasan otaknya.

Maka setelah meneguk semangkuk besar arak, dia menambahkan: “Inilah yang dinamakan ‘Siapa turun tangan lebih dulu akan tangguh, siapa turun tangan belakangan akan runtuh’.”

“Tapi siapa yang runtuh?”

“Sebenarnya akupun tak dapat melihat dengan jelas,” kata si Kulit Kerbau, “pertarungan yang kemudian berlangsung sungguh amat dahsyat dan menggetarkan sukma, dari sepuluh orang yang berada di tengah jalanan ada delapan orang di antaranya yang terkencing-kencing saking ngerinya.”

Dari balik sorot mata si Kulit Kerbau segera melintas kembali sinar negeri dan seram yang amat tebal, seolah-olah dia menyaksikan kembali daging manusia yang terpotong-potong dan berserakan di mana-mana.

“Sesungguhnya aku si Kulit Kerbau bukan termasuk gentong nasi,” dia melanjutkan, “tapi sehabis menonton jalannya pertarungan yang amat sangat sengit itu, paling tidak ada dua tiga hari aku tak tega makan dan tak nyenyak tidur.”

Suara pembicaraannya sudah kian bertambah serak, agaknya dia sudah tak ingin berbicara lebih jauh, tapi si orang asing tersebut segera memenuhi kembali cawannya dengan semangkuk arak.

Semangkuk arak itu dengan cepatnya pula membangkitkan kembali kegembiraannya.

“Sejak pertarungan dimulai, sebenarnya si singa tua dan bocah she Ko itu berhasil menduduki posisi di atas angin, tapi lambat-laun keadaannya makin payah.”

“Mengapa?”

“Pepatah kuno bilang ‘Sepasang tangan tak akan mampu menandingi empat tangan’, lelaki sejati tak akan tahan bila dikerubuti, biarpun si singa tua gagah perkasa, bagaimanapun juga mereka toh hanya berdua, biarpun orang lain memberikan tengkuknya untuk di penggalpun, lama kelamaan akan pegal juga sepasang tangan mereka.”

Setelah menghembuskan napas panjang, si Kulit Kerbau berkata lebih jauh: “Menyaksikan keadaan ini, kawanan anggota Hiong-say-tong yang semula telah dibuat keder oleh kewibawaan si singa tua dan tampaknya tidak bernafsu lagi untuk mengusiknya, segera memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk berusaha menghabisi nyawa si singa tua tersebut.”

Orang asing itu segera manggut-manggut.

Diapun berpendapat demikian dan sudah menduga, perkembangan selanjutnya dalam peristiwa itu pasti begitu.

“Asal orang-orang itu bersedia turun-tangan, niscaya si singa tua dan orang she Ko tersebut akan tercincang menjadi berkeping-keping……..” katanya.

Si Kulit Kerbau segera menghela napas panjang, katanya kemudian: “Pada waktu itu, aku sudah berharap agar mereka pergi secepatnya dari situ, lagi pula mereka bukannya tidak berkesempatan untuk melarikan diri, coba berganti aku si Kulit Kerbau, entah sudah kabur ke mana waktu itu.”

“Jadi si singa tua tidak kabur?”

“Tentu saja tidak!” sekali lagi si Kulit Kerbau membusungkan dadanya, “si singa tua itu manusia macam apa? Diapun bukan seorang perajurit tak bernama seperti aku ini, dengan kedudukan serta wataknya, biar dibunuhpun dia tak bakal mengambil langkah seribu.”

“Maka diapun tidak kabur?”

“Tidak!”

“Tapi akupun tahu kalau dia belum mati.”

“Tentu saja dia tidak mati, mana mungkin si singa tua itu bisa mati,” setelah menghela napas panjang si Kulit Kerbau menambahkan, “tapi si Sepatu Paku telah mati.”

“Sepatu Paku?” tanya orang asing itu, “siapakah si Sepatu Paku?”

“Seorang kesatria, seorang lelaki sejati yang luar biasa,” wajah si Kulit Kerbau bercahaya merah karena bersemangat kembali, “selama hidup belum pernah kujumpai lelaki lain yang berjiwa kesatria seperti dia, coba kalau dia tidak mati, aku si Kulit Kerbau bersedia mencucikan kakinya setiap hari.”

Kemudian setelah berhenti sejenak dia menambahkan: “Bukan hanya aku saja yang kagum, setiap orang yang mengetahui tentang dia hampir rata-rata mengaguminya.”

“Kenapa?” kembali si orang asing itu bertanya.

“Sebenarnya dia tak lebih hanya seorang pembantu si singa tua, tidak berbeda jauh dengan kaum begundal yang lain, orangnya selalu dijadikan bulan-bulanan,” cerita si Kulit Kerbau dengan wajah merah, “tapi sekarang aku baru tahu, justru mereka yang di hari-hari biasa bersikap sok gagah, sok Enghiong-lah, yang merupakan cucu kura-kura yang sebenarnya, dialah yang sebenarnya seorang cecunguk sesungguhnya.”

Ketika berbicara sampai di sini, si Kulit Kerbau merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya seolah-olah mendidih.

Sambil membuka mantel kulitnya yang tebal, dia berkata lebih jauh dengan suara yang lantang: “Waktu itu, dengan amat jelas kusaksikan bagaimana tubuhnya terkena sembilan belas buah bacokan maut hingga hidungnya kena terbacok separuh dan kulit mukanya dan hidungnya ikut tersayat pula……”

“Lalu apa yang dia lakukan?”

“Dia merobek kulit muka serta hidungnya yang tersayat itu kemudian dimasukkan ke dalam mulut dan ditelan, setelah itu goloknya diayunkan lagi menghabisi nyawa lawannya.”

Mendengar sampai di situ, si orang asing yang selalu menampilkan wajah dingin dan hambar itu segera meneguk habis secawan arak, lalu memuji dengan suara keras: “Lelaki sejati, betul-betul seorang lelaki sejati.”

Si Kulit Kerbau menggebrak mejanya keras-keras, kemudian melanjutkan: “Sayang sekali lelaki sejati seperti ini akhirnya harus tewas karena kehabisan tenaga, hingga sepasang lengan dan sebuah kakinya kena terbacok kutung, ia baru roboh ke tanah, bahkan ketika robohpun mulutnya masih sempat menggigit segumpal daging badan orang lain hingga robek.”

“Bagaimana kemudian?”

“Menyaksikan gugurnya seorang pahlawan yang begitu tangguh dan gagah perkasa, kami semua yang turut menyaksikan jadi amat terharu, hingga tak tahan lagi air mata jatuh bercucuran, bahkan para anggota Hiong-say-tong yang ingin membuat kekacauanpun turut melelehkan air mata karena terharu.”

Setelah menarik napas panjang, si Kulit Kerbau meneruskan: “Hanya si singa tua tidak melelehkan air mata, sebab yang mengucur keluar adalah darah segar, kelopak matanya sampai pada pecah dan robek, sementara darah bercucuran tiada hentinya seperti air mata. Walaupun dia sendiripun sudah hampir tak tahan, namun dengan menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya, dia menyerbu ke depan untuk mendekati si Sepatu Paku, lalu memeluk sahabatnya yang amat akrab ini kencang-kencang.”

Si Kulit Kerbau menyeka air matanya yang membasahi wajahnya, lalu menambahkan: “Waktu itu si Sepatu Paku belum mati, tapi napasnya tinggal satu-satunya…..”

—–

Darah telah membasahi seluruh jalan raya.

Siau-ko masih terlibat dalam pertempuran yang amat sengit.

Cu Bong berhasil memeluk tubuh si Sepatu Paku erat-erat, dia ingin berbicara namun tak sepatah katapun yang sanggup di utarakan keluar, hanya tetesan darah masih bercucuran dari kelopak matanya.

Mendadak si Sepatu Paku membuka matanya yang telah basah oleh darah dan mengucapkan kata-katanya yang terakhir menjelang saat ajalnya tiba.

“Lapor Tongcu, hamba tak dapat melayani Tongcu lagi, hamba akan segera berangkat ke alam baka.”

—–

Angin dingin masih saja berhembus kencang, menerbangkan bunga salju dari atas atap rumah.

Air mata si Kulit Kerbau masih saja jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Si orang asing itu tidak mengucurkan air mata, diapun tidak berbicara, namun sepasang tangannya mengepal kencang-kencang, seolah-olah sedang berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, seperti kuatir kalau air matanya ikut bercucuran.

Lewat lama, lama kemudian, si Kulit Kerbau baru berbicara lagi.

“Sehabis mengucapkan perkataan itu, si Sepatu Paku putus nyawa, tapi di jalanan itu tiba-tiba saja berkumandang suara auman yang keras bagaikan suara geledek, bukan Cuma anggota Hiong-say-tong saja yang tidak tahan, bahkan aku sendiripun turut tak tahan.”

Kemudian dengan suara yang lebih diperkeras, si Kulit Kerbau bercerita lebih jauh.

“Tiba-tiba saja semua orang menyerbu ke depan dan membacok kawanan pembunuh bayaran yang penuh berlepotan darah itu dengan bacokan maut, bahkan akupun turut membacok tubuh mereka dengan beberapa kali bacokan.”

“Bagus! Bacokan bagus,” seru si orang asing itu sambil menggebrak meja keras-keras lalu setelah memenuhi mangkuknya dengan arak, dia melanjutkan, “aku Suma Cau-kun harus menghormati pula secawan arak untukmu.”

“Traaaang…..!” Cawan arak yang berada di tangan si Kulit Kerbau terjatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.

“Apa?” dia memandang si orang asing itu dengan terkejut, “kau…..apa kau bilang?”

“Aku hendak menghormati secawan arak untukmu.”

“Siapakah kau? Tadi kau bilang siapa yang hendak menghormati secawan arak untukku?”

“Seorang manusia yang bernama Suma Cau-kun”

“Jadi kau adalah Suma Cau-kun?”

“Ya, akulah orangnya.”

Tiba-tiba saja si Kulit Kerbau merasakan sekujur badannya menjadi lemas, seolah-olah dia akan tergeletak lemas di atas lantai saja.

Serunya lagi dengan tergagap: “Hamba sama sekali tidak tahu kalau Toaya adalah manusia paling gagah nomor wahid di kolong langit, Suma Toaya adanya, hamba tidak berani menerima penghormatan arak dari Toaya.”

“Tidak! Aku harus menghormati secawan arak untukmu, harus menghormatimu, karena kaupun seorang Ho-han yang berjiwa ksatria.” seru Suma Cau-kun keras, “padahal secawan arak masih kurang untuk menghormatimu, aku harus menghormati seguci arak untukmu.”

Ia benar-benar mengambil seguci arak dari meja, kemudian meneguk isinya lahap.

Setelah itu dia baru mendongakkan kepalanya menghela napas panjang seraya berkata: “Setiap orang yang berada di kolong langit menyebutku sebagai seorang Eng-hiong, seorang jagoan yang tiada keduanya di dunia ini, padahal aku tak bisa melebihi seorang Sepatu Paku, apalagi dengan Cu Bong.”

—–

Angin yang berhembus di luar terasa amat dingin kencang, terasa pula dingin sekali, serasa membekukan seluruh anggota badan.

Walaupun bulan ke dua telah menjelang tiba, namun jaraknya dengan musim semi seolah-olah masih terlampau jauh.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: