Kumpulan Cerita Silat

19/05/2008

Duke of Mount Deer (31)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 11:03 pm

Duke of Mount Deer (31)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Siau Po sudah biasa memaki Ibu suri sebagai nenek sihir atau perempuan jalang, tapi baru kini dia mengatakannya di depan umum. Hal justru membuat hatinya menjadi senang.

Sedangkan para hadirin yang lain justru merasa heran mendengar Siau Po menyebut Ibu suri sebagai si nenek sihir. Baru kali ini mereka medengar ada orang yang menyebut kata-kata itu terhadap Ibu suri. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, Hoan Kong dan anggota Tian-te hwee lainnya jadi tertawa geli.

Terdengar Liu Tay-hong berkata.

“Orang-orang sebawahannya Siau ongya bisa bekerja dengan teliti. Tidak mungkin mereka nyasar masuk ke dalam kota Terlarang. Menurut kabar yang kami dapatkan, Go Sam-kui mengutus puteranya datang ke kotaraja, bisa jadi ia memerintah orang-orangnya membuat kekacauan. Kemunginan seperti ini ada saja bukan?”

Siau Po menganggukkan kepalanya.

“Apa yang Liu loyacu katakan memang tidak alah. Aku mempunyai seorang teman berjudi yang menjadi pengawal dalam istana. Dia mengatakan tadi malam terjadi penyerbuan di istana oleh sekelompok penjahat.”

Dia menghentikan kata-kataya sejenak. “Kemudian mereka mengenali orang-orang itu sebagai bawahan Bhok siau ongya….”

Bhok Kiam-seng mengeluarkan seruan tertahan. Terang dia terkejut sekali.

“Apa?” tangan kanannya bergetar, sehingga cawan araknya terlepas dan jatuh pecah di atas lantai.

“Tadinya aku juga tidak percaya, tapi aku berpikir lagi. Keluarga Bhok terdiri dari para patriot pecinta bangsa. Mereka mengirim orang untuk membunuh raja Tatcu, hal itu perlu dikagumi. Sekarang mendengar ucapan Liu loyacu, ternyata mereka adalah orang-orang kiriman Go Sam-kui. Kalau begitu, orang-orang itu tidak boleh diampuni. Nanti aku harus mengatakan kepaada temanku agar para penyerbu itu diberi hukuman berat. Bayangkan saja, orang-orang Go Sam-kui pasti bukan terdiri dari manusia baik-baik! Karena itu mereka harus disiksa biar kapok!”

“Saudara kecil,” tanya Liu Tay-hong. “Siapakah yang dimaksud sahabatmu itu? Apa pangkatnya dalam istana?”

Siau Po menggelengkan kepalanya.

“Dia hanya seorang siwi yang pangkatnya rendah sekali. Malah dia merupakan orang baru dan belum diberikan kepercayaan penuh. Tugasnya kebanyakan melayani para siwi yang sudah senior. Dia tidak mempunyai she atau pun nama. Kami biasa memanggilnya Lay Li-tau siau Samcu atau si Kepala Kurapan! Menurutnya, para tawanan itu dibelenggu. Tadinya aku berpikir untuk menyuruh Siau Samcu memberi makan kepada mereka. Tapi sekarang Liu loenghiong mengatakan bahwa mereka adalah kaki tangan bangsa pengkhianat. Nanti aku minta sahabatku itu membacok kaki mereka agar tidak dapat melarikan diri!”

“Aku cuma menerka,” kata Liu Tay-hong cepat “Tidak berani aku memastikannya. Karena mereka itu berani menyerbu istana, boleh dibilang mereka juga terdiri dari orang-orang yang bernyali besar. Karena itu, Wi hiocu, ada baiknya kau minta sahabatmu itu memperlakukan mereka secara baikbaik saja.”

“Sahabatku itu baik sekali kepadaku,” kata Siau Po. “Sering dia mengajak aku bermain Judi. Kalau kehabisan uang, aku suka meminjamkan barang delapan atau sepuluh tail. Dan aku tidak pernah memintanya kembali. Karena itu, apa pun permintaanku, dia tidak pernah menolaknya!”

“Baguslah kalau begitu,” sahut Liu Tay-hong “Sebenarnya berapa jumlah orang yang ditawan dan siapa saja nama mereka itu? Mereka bernyali besar sehingga kami merasa kagum. Bagaimana perlakuan yang mereka terima sekarang ini? Baik atau buruk? Wi hiocu, kami bersyukur sekali andaikata kau dapat menolong kami mencari keterangan tersebut!”

Siau Po menepuk dadanya.

“Gampang! Tidak ada urusan yang lebih gampang lagi daripada itu!” kata Siau Po mengagungkan diri. “Sayang mereka bukan orang-orangnya Siau ongya. Kalau tidak, aku pasti mencari jalan memebaskan mereka. Dengan demikian kita bisa menukar satu jiwa dengan satu jiwa pula. Dan urusan Ci samko pun bisa diselesaikan.”

Liu Tay-hong menoleh kepada Bhok Kiam_seng. Sembari menatap, dia menganggukkan kepalanya sedikit.

“Iya. Kami tidak tahu siapa para penyerbu itu,” kata si pangeran muda. “Tetapi karena mereka berusaha membunuh raja bangsa Tatcu, pasti mereka juga terdiri dari orang-orang gagah pecinta negara. Mereka bisa dihitung sebagai rekan kami yang ingin menjatuhkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng. Karena itu, Wi hiocu, kalau bisa mencari jalan untuk membebaskan mereka, tidak perduli berhasil atau tidak. Untuk itu Bhok Kiam-seng merasa bersyukur dan masalah Ci samya tidak akan diperpanjang lagi….”

Siau Po menoleh ke arah Pek Han hong, namun mulutnya menjawab ucapan sang pangeran.

“Kalau tidak mendengar Siau ongya mengatakannya sendiri, kemungkinan Pek jihiap tidak mau mengerti,” katanya. “Apabila lain kali Pek jihiap mencekal tanganku kembali dan meremasnya keras-keras, aku bisa menangis berkaok-kaok saking sakitnya. Hebat sekali penderitaan itu, mungkin aku tidak sanggup menahannya….”

Mendengar ucapan tamunya itu, Pek Han-hong berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan nada serius:

“Andaikata Wi hiocu dapat menolong orang kami, eh, menolong orang-orang gagah yang tertawan bangsa Tatcu itu, aku si orang she Pek, tanganku yang telah bersalah ini, bersedia dikuntungkan sebagai pernyataan maafku!”

“Tidak perlu, tidak perlu!” kata Siau Po. “Meskipun kau mengutungkan sebelah tanganmu untukku, tapi apa gunanya bagiku? Lagipula, apakah sahabatku itu bisa menolong mereka atau tida sekarang masih sulit dipastikan. Kawanan penyerbu itu ingin membunuh raja. Dosa mereka tidak kepalang tanggung beratnya. Sedangkan mereka kemungkinan dibelenggu dengan beberapa rantai yang tebal dan dijaga ketat oleh banyak pengawal. Kalau aku tadi bicara soal menolong orang, sebetulnya aku hanya membual saja untuk membanggakan diriku sendiri….”

“Menolong orang yang tertawan di dalam istana memang merupakan hal yang sulit sekali,” kata Bhok Kiam-seng. “Kami juga tidak berani yakin akan hasilnya. Meskipun dengan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, berhasil atau tidak, kami tetap berterima kasih kepadamu.”

Dia menghentikan kata-katanya sejenak, seakan ada sesuatu yang dipertimbangkannya. Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya kembali:

“Ada satu persoalan lagi. Aku mempunyai seorang adik perempuan yang ikut berangkat ke kotaraja, tetapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja dia menghilang. Kami tahu pergaulan hiocu dan anggota Tian-te hwe yang lainnya sangat luas di kotaraja ini. Kami harap saudara sekalian bersedia menolong kami mencari keterangan tentang adikku itu.”

“Oh, urusan itu mudah sekali. Kami akan membantu sekuat tenaga. Baiklah, sekarang kami sudah cukup makan dan minum. Sekarang juga aku akan menemui sahabatku Siau Samcu untuk merundingkan hal ini. Neneknya! Paling tidak aku harus mengajaknya berjudi dan membuatnya kalah habis-habisan!”

Selesai berkata, Siau Po segera bangkit untuk memohon diri. “Terima kasih sekali lagi atas jamuan ini. Sekarang aku ingin mengajak Ci samko pulang bersama kami, bolehkah?”

Bhok Kiam-seng tidak melarang. Dia sendiri mengantarkan Siau Po dan rombongan anggota Tian-te hwe sampai depan pintu gerbang. “Wi hiocu, jangan sungkan-sungkan. Terima atas kedatangan Wi hiocu dan para saudara Tian-te hwe yang lainnya,” katanya.

Mereka kembali ke tempat semula. Hoan kong yang tidak sabaran langsung bertanya.

“Hiocu, apakah benar tadi malam istana didatangi penyerbu? Kalau dilihat dari gerak-gerik Bhok siau ongya tadi, kemungkinan para penyerbu memang orang-orang mereka!”

“Memang benar ada kawanan pemberontak yang menyerbu istana tadi malam, tapi ursan ini dirahasiakan. Tidak boleh ada yang menyiarkan karena itu tidak ada orang yang tahu kecuali yang bersangkutan dan petugas dalam istana. menilik dari sikap mereka tadi, sudah terang kawanan penyerbu itu memang orang-orang Bhok onghu!”

“Mereka berani menyerbu istana untuk bunuh Raja, nyali mereka memang besar sekali!” kata Hian Ceng tojin ikut memberikan pendapatnya. “Mereka harus dihormati dan dikagumi. Lalu apakah mereka bisa ditolong? Bukankah sebenarnya urusan ini sukar sekali dilaksanakan?”

Sebenarnya ketika perjamuan sedang berlangsung di tempat Bhok Kiam-seng, Siau Po sangat menyadari bahwa tentunya sulit menolong penyerbu itu. Akan tetapi dia ingat bahwa di dalam kamarnya tersembunyi dua orang nona keluarga Bhok. Nona Bhok sebetulnya adalah tawanan dari Tian-te hwe yang diselundupkan ke dalam istana dimana mereka anggap sebagai tempat penyekapan yang aman. Tidak demikian halnya dengan Pui Ie. Ia termasuk salah seorang penyerbu dan tidak begitu sulit meloloskannya dari istana. Itulah sebabnya dia tertawa mendengar pertanyaan Hian Ceng tojin.

“Menolong orang banyak tentu saja sulit. Tapi kalau seorang saja bisa lolos, itu kan sudah cukup? Bukankah Ci samko hanya membunuh seorang Pek Han Siong? Tidak ada salahnya kalau kita juga membebaskan satu orang saja. Bukankah satu ditukar dengan satu jiwa? Dengan demikian, sama-sama tidak rugi. Sebaliknya, modal kita balik. Bahkan kita juga bisa mengembalikan si nona yang dibawa Cian laopan sekalian. Apa yang akan mereka katakan setelah mendapatkan Siau kuncu kembali? Nah, Cian laopan, besok pagi kau harus mengantar seekor babi, tidak… dua ekor babi ke dalam kamarku. Di dapur nanti aku akan marah-marah padamu dengan mengatakan babi yang kau bawa itu jelek sekali dan kau terpaksa membawanya pulang lagi!”

Cian Laopan tertawa sambil tertepuk tangan.

“Bagus! Akal Wi hiocu memang selalu jitu. Babi untuk memasukkan si nona cilik sudah ada. Tinggal cari lagi seekor babi yang ukurannya besar.”

Wi Siau-po menghibur Ci Tian-coan beberapa kata.

“Ci samko, jangan banyak pikiran. Semuanya pasti beres. Mengenai Yo It-hong yang telah nyusahkan Ci samko, aku akan meminta Go Eng him mematahkan kakinya biar Ci samko senang.”

“Iya, iya. Terima kasih atas perhatian Wi hiocu.” sahut Ci Tian-coan, tapi dalam hatinya dia berpikir ‘Bocah ini pembual juga! Go Eng-him adalah putera Peng Si-ong, mana mungkin dia mendengar kata-katamu?’ Wi Siau-po berjanji akan menyelesaikan salah terbunuhnya Pek Han siong tanpa sengaja di tangannya. Meskipun hatinya merasa berterima sih, tapi Ci Tian-goan tidak percaya sepenuh bahwa bocah cilik tersebut mempunyai kepanddemikian lihay.

Baru saja Siau Po sampai di dalam istana, orang thaykam segera menyambutnya.

“Kui kongkong, cepat! Sri Baginda mencari!” kata mereka.

“Apakah ada urusan yang penting?” tanya Siau Po.

“Entahlah! Tapi Sri Baginda telah memanggilmu beberapa kali. Kemungkinan memang ada persoalan yang penting. Sekarang Sri Baginda ada di kamar tulisnya,” sahut salah seorang thaykam itu.

Siau Po mengiakan. Dia langsung pergi ke Gisi pong. Di dalam kamar tulisnya, tampak Sri Baginda sedang berjalan mondar-mandir dengan kepala ditundukkanya. Begitu melihat Siau Po, dia tampak senang.. Dia langsung menegur dengan cepat.

“Aih, celaka! Kau pergi kemana saja?”

Siau Po merasa kaisar Kong Hi berbicara dengan gayanya sendiri seperti biasa bila berduaan dengannya. Hatinya menjadi lega.

“Sri Baginda, hamba baru saja kembali dari luar. Hamba memikirkan urusan penyerbuan tadi malam. Kawanan penyerbu itu benar-benar bernyali besar. Kalau tidak ditumpas, mereka bisa menjadi ancaman bahaya! Terutama kita harus mencari biang keladinya! Karena itulah hamba mengganti pakaian seperti orang biasa lalu keluar mengadakan penyelidikan. Hamba putar-putar dalam kota, setiap gang dan jalan besar hamba masuki. Hamba ingin tahu siapa pemimpin para pemberontak itu dan apakah mereka masih ada di kota raja….”

“Bagus!” puji kaisar Kong Hi. Dia merasa puas sekali. “Lalu, bagaimana hasilnya?”

Siau Po berpikir dengan cepat. ‘Kalau aku bilang berhasil, rasanya terlalu cepat. Karena itu dia menjawab:

“Hamba belum berhasil, Sri Baginda, karena itu besok pagi hamba melakukan penyelidikan kembali!”

“Kalau kau menyelidiki dengan caramu itu, belum tentu akan ada hasilnya,” kata kaisar Kong Hi. Kau seperti mengukur jalanan saja. Nah, aku punyai sebuah akal!”

Siau Po menunjukkan mimik kegirangan.

“Apa itu, Sri Baginda?” tanyanya. “Tentunya ini adalah akal yang bagus, bukan?”

Kaisar Kong Hi tertawa.

“Barusan To Lung datang memberikan laporan,” katanya. “Menurutnya, para tawanan itu menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka tidak mempan bujukan maupun siksaan. Satu-satunya keterangan yang mereka berikan hanya menyatakan bahwa mereka adalah orang-orangnya Go Sam-kui. , karena itu, aku rasa, percuma saja mereka dijerat hukuman mati. Sekarang aku justru menganggap ada baiknya, mereka dibebaskan saja….”

“Dibebaskan saja?” tanya Siau Po seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
“Bukankah terlalu enak bagi mereka?”

Kaisar Kong Hi tersenyum.

“Kita melepaskan anak srigala,” katanya. .”Karena anak srigala pasti pulang mencari induknya!”

Mendengar keterangan itu, Siau Po senang sekali. Dia bersorak sambil bertepuk tangan.
“Bagus! Bagus sekali!” serunya. “Itu artinya melepas para penyerbu itu secara diam-diam lalu mengikuti mereka. Bukankah dengan demikian akan bertemu dengan pemimpinnya? Sri Baginda, akal Sri Baginda ini bagus sekali. Kecerdasan Baginda masih menang tiga kali lipat dari Cukat Liang!”

Raja tertawa.

“Apanya yang menang tiga kali lipat dari Cukat Liang? Oh, kau sedang menepuk punggungku, tapi sayangnya kelebihan. Kau tahu, masih ada kesulitan lainnya? Setelah kita membebaskan para penyerbu itu, kita-masih harus berusaha mengikuti mereka tanpa disadari orang-orang itu. Siau Kui cu, aku ingin memberikan sebuah tugas kepadamu.
Pergilah kau ke penjara dan pura-pura jadi orang-orang yang berniat menolong mereka dan membebaskan mereka. Setelah itu, kau pasti dianggap sebagai dewa penolong dan kemungkinan kau akan diajak ke sarang mereka….”

Siau Po pura-pura bimbang.

“Ini… ini…” katanya gugup.

“Memang siasat ini berbahaya sekali dijalankan” kata Sri Baginda. Dia mengira Siau Po mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri. “Asal mereka tahu siapa dirimu, pasti jiwamu akan melayang. Sayang aku adalah seorang raja, kalau tidak, aku pasti akan melakukannya sendiri. Aku yakin tugas seperti ini pasti menarik sekali….”

“Sri Baginda,” kata Siau Po. “Kalau Sri Baginda menitahkan, hamba pasti menjalankannya. Tugas yang jauh lebih berbahaya pun akan hamba laksanakan.”

Senang sekali hati raja mendengar kata-kata Siau Po. Dia menepuk-nepuk pundak bocah itu. Memang aku tahu kau cerdas dan bernyali besar” katanya. “Aku juga tahu kau akan melakukan apa pun untukku. Kau seorang bocah, para penyerbu itu pasti tidak akan mencurigaimu. Tadinya aku berpikir untuk mengirim dua orang pahlawan yang lihay, tapi aku khawatir rahasia mereka akan terbongkar sebab para penyerbu itu pasti bukan orag-orang tolol yang bisa menaruh kepereayaan begitu saja. Mereka pasti curiga. Sekali gagal, siasat tidak terpakai lagi. Siau Kui cu, kau saja yang melakukan tugas ini, anggaplah kau sebagai pengganti diriku!”

Semenjak belajar ilmu silat, Kaisar Kong Hi ingin sekali menjajal kepandaiannya sendiri. Sayangnya kedudukannya terlalu tinggi. Dia tidak bisa melakukan keinginan hatinya seenaknya. Apalagi melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya. Karena itu pula, sekarang terpaksa dia menyerahkan tugas ini kepada thaykam eilik kepercayaannya.
“Kau harus pandai-pandai membawa diri,” kata sang raja itu kepada hambanya, “sikapmu harus sewajar mungkin. Ada baiknya kalau di depan mereka kau membunuh satu dua orang siwi. Dengan demikian mereka tidak akan sangsi kepadamu.
Akan kupesan To Lung agar memperlunak penjagaan sehingga kau dapat mengajak mereka melolos diri!”

“Baiklah!” sahut Siau Po. “Tapi para siwi jauh lebih gagah daripada hamba. Hamba khawatir untuk melawan mereka saja tidak ada kesanggupan, apalagi hendak membunuh satu dua orang di antaranya!”

“Tentang itu tidak perlu kau cemaskan,”kata kaisar Kong Hi.,”Kau harus bekerja dengan meliha situasinya, terutama kau harus berhati-hati. Jangan sampai kau yang terbunuh duluan di tangan para siwi

Siau Po menjulurkan lidahnya.

“Kalau hamba sampai terbunuh lebih dulu, sungguh hamba akan mati keeewa!” katanya. “Pasti hamba akan dituduh sebagai antek-anteknya para penyerbu itu!”

Kaisar Kong hi mengibaskan tangannya dengan maksud mencegah Siau Po berkata lebih jauh. “Siau Kui cu, seandainya kau bisa melakukan tugas itu dengan baik. Hadiah apakah yang kau inginkan dariku?” Nada suara raja menunjukkan hatinya sedang gembira.

“Kalau tugas itu dapat hamba selesaikan dengan baik, pastilah Sri Baginda akan senang,” sahutnya. Asal Sri Baginda senang, hal itu jauh lebih besar artinya dari apa pun di dunia ini. Kegembiraan Sri Baginda tidak dapat dibandingkan dengan hadiah apapun. Sri Baginda, kalau nanti ada tugas lain yang lebih menarik dan penuh bahaya, harap Sri Baginda menugaskan hamba yang menyelesaikannya. Itulah hadiah yang hamba minta pada Sri Bagindal”

Hati kaisar Kong Hi semakin senang mendengar ucapan Siau Po.

“Pasti! Pasti!” katanya berulang-ulang. “Siau Kui cu, sayang kau seorang thaykam, kalau tidak aku akan memberi pangkat kepadamu!”

Hati Sia Po tercekat, ada sesuatu yang melintas dalam benaknya.

“Banyak-banyak terima kasih, Sri Baginda.”

Tapi dalam hatinya dia justru berpikir: ‘Suatu hari nanti kau pasti tahu aku seorang thaykam gadungan, mungkin waktu itu kau akan marah sekali terhadapku!’ Karena itu, dia menambahkan: “Sri Baginda, hamba ada sedikit permohonan!”

Raja tertawa.

“Kau ingin mendapat pangkat?” tanyanya.

“Bukan!” sahut Siau Po. “Hamba sudah lama bekerja pada Sri Baginda. Selama ini hamba selalu senang dan bersedia melakukan tugas apa saja. Karena itu hamba mohon, bila kelak hamba melakukan sesuatu yang menimbulkan bencana. Hamba mohon, sudilah kiranya Sri Baginda mengampuni jiwa hamba supaya hamba jangan sampai mendapat hukuman penggal kepala.”

“Asal kau tetap setia padaku, asal kau bekerja dengan kesungguhan hati, maka kepalamu akan tetap kokoh di atas batang lehermu!” kat a Kaisar Kong Hi sambil tertawa terbahak-bahak.

“Terima kasih, Sri Baginda!” kata Siau Po kembali. Setelah itu dia memberi hormat dan memohon diri dari hadapan raja.

Sekeluarnya dari Gi-Si pong, dia melangkah dengan perlahan, otaknya bekerja.

‘Aku bermaksud menolong Pui Ie dan Siau Kuncu keluar dari istana ini, siapa sangka sekarang aku justru mendapat perintah untuk membebaskan para penyerbu itu. Kalau demikian, aku tidak perlu terburu-buru melepaskan kedua nona itu. Lebih baik aku menunaikan dulu tugasku ini. Aneh bukan? Barusan aku berkumpul dan berpesta dengan Pemimpin para penyerbu itu. Hm! Apakah aku harus melaporkan pada Sri Baginda perihal si kura-kura cilik Bhok Kiam-seng dan si kura-kura tua Liy Tay-hong? Tapi, kalau aku melakukan hal itu, pasti sesudahannya suhu tidak akan mengampuni aku. Sebetulnya aku masih ingin menjadi hiocu Tian-te Hwe atau tidak?’

Siau Po sadar kedudukannya dalam istana. Semua orang sangat menghormatinya. Bahkan Sri Baginda pun sangat menyayanginya. Malah pernah dia berpikir untuk menjadi thaykam saja untuk selamanya. Alangkah senangnya hidup seperti ini! Tapi sekarang, ada satu hal yang merisaukannya. mengenai masalah thayhou. Setiap kali dia ingat si nenek sihir itu, hatinya langsung terguncang!

‘Perempuan tua jalang itu sangat membenciku. Setiap saat ada kemungkinan dia ingin merenggut nyawaku,’ pikirnya kemudian. ‘Karena itulah aku tidak bisa berdiam lama-lama dalam istana!’

Demikianlah sambil berjalan otak Siau Po terus berputar. Ketika dia tiba di depan siwi pong, yaitu kamar para siwi yang letaknya di sebelah barat keraton Kian-ceng kiong, seorang siwi langsung menghambur ke depannya untuk menyambut. Orang itu memamerkan tertawa yang ramah.

“Oh, Kui kongkong! Angin apa yang membawa kongkong berkunjung kemari?”

Siau Po segera mengenali siwi itu sebagai pemimpin di tempat itu. Dia tidak lain dan tidak bukan dari Tio Ci-hian yang mendapat uang dari Siau Po dan mendapat persenan dari To Lung. Dia tahu semua ini karena Kui kongkong sudah mengata hal yang baik-baik tentang mereka di depan Baginda.

Setelah berhadapan dengan siwi itu, Siau Po segera tertawa lebar.

“Aku datang untuk melihat beberapa penyerang tertawan itu,” sahutnya. “Mereka adalah pemberontak yang bernyali besar.”

Setelah berkata demikian dia segera berbisik kepada orang itu:

“Sri Baginda menitahkan aku untuk memeriksa mereka. Aku harus mendapatkan pengakuan mereka tentang orang yang mendalangi perbuatan mereka.”

Si Tio Ci Hian menganggukkan kepalanya.

“Baiklah,” sahutnya sebagai tanda mengerti. Dia menjawab dengan nada berbisik juga. “Memang ketiga pemberontak itu benar-benar tertutup rapat. Mereka telah dihajar dengan empat batang rotan yang menjadi patah, tapi mereka tetap tidak bersedia memberikan keterangan apa-apa. Mereka akhirnya mengaku sebagai orang-orang yang dikirim G0 Sam-kui!”

Siau Po mengangguk.

“Biarlah aku coba menanyakan lagi para tawanan itu,” katanya.

Tia Ci-hian mengantarkan Siau Po ke tempat para tahanan. Letak ruangannya di sebelah barat. Di dalamnya ada tiga orang yang terpancang pada tiang kayu. Tubuh bagian atas mereka telanjang dan penuh dengan bekas pecutan rotan sehingga menimbulkan noda yang mengerikan. Kulit dan daging mereka terkelupas dan darah pun memenuhi seluruh tubuh. Yang seorang bertubuh besar serta berewokan. Dua orang lainnya adalah pemuda-pemuda berusia kurang lebih dua puluhan tahun. Pemuda yang satu berkulit putih bersih, wajahnya tampan. Sedangkan seorang lainnya lagi lebih angker tampangnya. Dadanya ditato dengan gambar seekor harimau yang tampak ganas.

‘Di antara kedua pemuda ini, entah mana yang namanya Lau It-cou?’ tanya Siau Po dalam hati. Dia memperhatikan mereka lekat-lekat. Dia tidak langsung menanyakan apa-apa kepada para tawanan itu, Dia malah menoleh kepada Tio Ci-hian sambil berkata.

“Tio toako, mungkin kau keliru menawan orang. Harap toako mundur sebentar!”

Ci Hian segera mengiakan. Dia segera mengundurkan diri dan menutup pintu tempat tahanan rapat-rapat.

Siau Po langsung menghampiri ketiga tawanan itu.

“Tuan-tuan sekalian, siapakah nama dan tuan bertiga yang mulia?” tanyanya dengan ramah.

Orang yang bertubuh besar dan berewok langsung mendelikkan matanya lebar-lebar.

“Thaykam anjing!” dampratnya. “Kau kira dengan derajatmu ini, kau pantas menanyakan nama dan she-ku yang mulia?”

Kata-katanya itu merupakan penghinaan. Hal ini membuat Siau Po menjadi kurang senang, tapi dia mengerti bahwa hal ini terjadi karena orang gagah itu telah disiksa sedemikian rupa merasakan penderitaan sehingga menjadi gusar.

“Kedatanganku ini atas permintaan seseorang,” katanya. “Aku datang untuk menolong seorang sahabat yang bernama Lau It-cou!”

Begitu kata-katanya diucapkan, ketiga orang itu langsung tampak terkejut saking herannya. ….. Untuk sesaat mereka saling mengawasi lalu ketiganya meno1eh kepada si thaykam cilik.

“Kau menerima permintaan dari siapa?” Tanya si berewok.

“Apakah di antara kalian ada yang bernama Lau It-cou?”

Siau Po malah menanya lagi tanpa hiraukan si bewok. “Kalau ada, aku ingin berbicara dengannya. Kalau tidak ada, ya sudah!”

Kembali ketiga orang itu saling melirik. Mereka ragu-ragu karena curiga. Tampaknya mereka tidak ingin tertipu oleh siasat lawan.

“Siapa kau?” kembali si berewok yang bertanya.

Siau Po tidak menjawab pertanyaan itu, dia kembali berkata.

“Orang-orang yang meminta pertolonganku itu, adalah she Bhok, sedangkan yang satunya lagi she Liu. Kenalkah kalian pada orang yang berjuluk Tiat-Pwe cong Liong?”

Si Bewok menjawab dengan suara lantang, “Tiat-Pwe cong Liong Liu Tay-hong terkenal di propinsi Inlam, Kui Cui dan Sucoan. Siapa yang tidak tahu atau mendengar namanya? Dan orang Bhok itu pasti Bhok Kiam-seng, putera Bhok po yang namanya sudah tersohor. Namun saat Bhok Kiam-seng sedang merantau di dunia Kangouw, entah sudah mati atau masih hidup….”

Kembali Siau Po mengangguk.

“Kalau tuan-tuan bertiga tidak kenal Siau ongya, keluarga Bhok serta Liu loyacu maka terbukti bukan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian juga tidak mengenal dua jurus ilmu ini….”

Tanpa menunggu sahutan dari ketiga orang itu, Siau Po langsung menjalankan kedua jurus Heng-Sau Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui. Kedua jurus itu adalah ilmu keluarga Bhok. Di sa at dia masih mempertunjukkan kedua jurus tersebut, si pemuda bertato harimau di dadanya mengeluarkan suara tertahan.

“Aih…!”

Mendengar suara itu, Siau Po menghentikan gerakannya.

“Eh, kenapa?” tanyanya.

“Ah… tidak apa-apa,” sahut orang itu jengah.

“Siapa yang mengajarkan kedua jurus itu?” tanya si berewok.

Siau Po tertawa.

“Istriku!” sahut Siau Po.

“Cis!” si bewok meludah. “Bagaimana mungkin seorang thaykam bisa punya istri?”

Hampir dia mengejek Siau Po dengan kata-kata ‘thaykam anjing’ lagi. Sedangkan Siau Po hanya tersenyum.

“Memangnya kenapa thaykam tidak boleh punya istri?” tanyanya. “Kalau orang suka menikah denganku, kenapa kau yang usil? Istriku itu she Pui dengan nama tunggal Ie!”

Belum berhenti gema suara si thaykam cilik pemuda yang berkulit putih langsung membentak, “Ngaco kau!”

Siau Po menatap pemuda itu, urat-urat di dadanya menonjol sehingga tampak berwarna biru kehijauan dan matanya mendelik dengan cahaya merah membara. Hal ini membuktikan bahwa dia gusar sekali mendengar ucapan Siau Po. Dengan demikian Siau Po segera bisa menduga bahwa dia yang bernama Lau It-cou. Dia melihat pemuda tampan dan gagah. Di saat marah, tampangnya tampak berwibawa dan garang.

“Ngaco apanya?” Dia balik bertanya. Dia tidak merasa takut sama sekali meskipun orang itu tampak angker. “Kau tahu, istriku itu adalah keturunan dari salah satu ke-ciang keluarga Bhok yang tersohor, yakni salah satu dari keluarga Pek, Pui, Sou dan Lau! Ketika kami menikah, salah satu saksinya adalah seseorang yang bernama Sou Kong, dia berjuluk Sin Jiu kisu. Ada seorang lagi yang bernama Pek Han-hong, yakni saudara Pek Han-siong yang belum lama ini mati dihajar orang. Kalian tahu, Pek Han-hong ini miskin sekali, sehingga untuk memakamkan saudaranya dia terpaksa merijadi comblang demi mendapatkan sedikit uang!”

Mendengar ucapannya, si anak muda itu semakin gusar.

“Kau… kau!” saking kesalnya dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.

“Saudara, bersabarlah,” kata si bewok menenangkan rekannya. Kemudian dia menoleh kepada Siau Po. “Sahabat, tampaknya kau banyak tahu tentang keluarga Bhok?”

“Aku toh termasuk menantu dari keluarga Bhok,” kata Siau Po. “Sebagai seorang menantu, mana mungkin aku tidak tahu segala sesuatu yang menyangkut keluarga mertuaku? Nona Pui Ie itu tadi tidak sudi menikah denganku. Katanya dia telah berjanji akan menikah dengan kakak seperguruannya, Lau It cou. Sekarang pikirannya berubah karena dia mendengar kekasihnya itu manusia yang tidak berguna sebab dia datang ke Go Sam-kui si pengkhianat bangsa itu dan sudi menjadi bawahannya, bahkan mau saja disuruh menyerbu istana untuk membunuh kaisar Kong Hi. Nah, coba kau pikir, setiap bangsa Han toh benci sekali kepada Go Sam-kui yang telah menjual negaranya sendiri….”

Bicara sampai di situ, Siau Po merendahkan suaranya. Kemudian dia melanjutkan kembali: “Go Sam-kui sudah berpihak pada orang Tatcu, bangsa yang menjadi musuh negara kita. Dia takluk dan bersedia bekerja bagi musuh kita itu. Go Sam-kui berpihak pada Tatcu dengan mempersembahka negara kita yang indah dan permai. Siapa saja orang Han, membenci Go Sam-kui sehingga ingin sekali membeset kulitnya dan makan dagingnya. Sedangkan It Cou, si bocah busuk itu, dia boleh menghamba pada siapa saja, tapi mengapa dia justru memilih Go Sam-kui sebagai tuannya? Tentu saja karena hal ini, nona Pui marah sekali, di mana dia harus menaruh mukanya bila bertemu dengan orang-orang gagah se tanah air? Itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk tidak menikah dengan kakak seperguruannya itu!”

Mendengar sampai di sini, tiba-tiba anak muda itu berteriak.

“Aku… aku… aku…!” tapi lagi-lagi dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena emosinya yang berlebihan.

“Sabar!” seru si bewok. Dia menatap Siau Po lekat-lekat lalu berkata: “Tuan, setiap orang mempunyai cita-cita tersendiri! Kau telah menjadi thayam dalam istana Ceng, bukankah itu suatu pekerjaan yang merendahkan dirimu sendiri?”

“Tepat! Tepat!” sahut Siau Po tanpa merasa malu sedikit pun. “Memang pekerjaan ini membuat pamorku jatuh. Tapi sekarang, mari kita bicarakan saja urusan ini. Istriku teringat akan bekas kekasihya, dia meminta aku mencari tahu tentangnya. Dia ingin mendapat kepastian apakah kekasihnya itu sudah mati atau belum. Dia berkata begini, ‘kalau benar Lau It-cou itu sudah mati, maka dia dapat menikah denganku tanpa merasakan susah. Nah, sahabat bertiga, benarkah di antara kalian tidak ada yang bernama Lau It-cou? Kalau benar, aku akan pergi sekarang. Nanti malam kami akan mengadaan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada langit dan bumi!”

Begitu selesai berkata, Siau Po segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu.

“Aku…lah…!” kata si anak muda berkulit bersih dengan penuh semangat.

“Sabar!” lagi-lagi si bewok mencegah rekannya berbicara lebih jauh. “Jangan sampai kena terpedaya!”

Si anak muda itu meronta-ronta.

“Dia.! dia…!” serunya tersendat-sendat, kemudian dia meludahi Siau Po.

Si bocah cilik sempat melihat hal itu, dia segera mengelakkan diri. Dia juga melihat para tawanan itu diikat dengan tali yang terbuat dari kulit kerbau. Meskipun meronta dengan sekuat tenaga, ia tidak mungkin mereka sanggup meloloskan diri. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

‘Sudah pasti dialah Lau It-cou. Dia sudah mau mengaku, tapi sayangnya selalu dicegah oleh temannya, si bewok. Bagaimana baiknya sekarang?’

Setelah berpikir sejenak, bocah yang cerdik itu segera menemukan akal yang bagus.

“Kalian di sini dulu untuk sementara, aku aku pulang dan meminta keterangan dari istriku!”

Memang luar biasa watak bocah yang satu itu. Dia menyebut Pui Ie sebagai istri. Dia juga mengatakan akan mengadakan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada langit dan bumi. Kali ini dia benar-benar meninggalkan tempat para tahanan itu. Sesampainya di pelataran depan, ia berbisik kepada Ci Hian yang sedang menunggunya

“Aku telah mendapat suatu keterangan. Mulai sekarang, jangan kau siksa lagi mereka. Sebentar aku akan kembali lagi!”

Tio Ci-hian mengangguk dan Siau Po pun segera melangkah pergi.

Ketika Siau Po kembali ke kamarnya, hari sudah gelap. Dia ingat kedua nona yang tersekap dalam kamarnya. Pasti mereka sudah lapar. Karena itu dia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya tapi berjalan menuju Siang-sian tong untuk memesan barang hidangan. Dia mengatakan ingin menjamu para siwi yang malam sebelumnya telah berjasa meringkus para penyerbu. Dia juga berpesan bahwa perjamuannya nanti tidak perlu dilayani para thaykam, karena sembari bersantap, dia ingin membicarakan urusan rahasia.

Ketika kembali ke kamarnya, Siau Po disambut oleh Kiam Peng.

“Kenapa kau baru pulang?”

“Kau tentunya kebingungan setengah mati menantikan aku, bukan?” sahut Siau Po sambil tertawa. “Kau tahu,aku telah menyelidiki dan aku memperoleh kabar gembira!”

Pui Ie yang berbaring di atas tempat tidur segera mengangkat kepalanya.
“Kabar apa?” tanyanya cepat.

Siau Po menyalakan lilin agar kamar menjadi terang dan dia dapat melihat wajah si nona yang bersemu dadu, matanya membengkak sebagai tanda bahwa dia baru saja menangis. Pasti hatinya sedih sekali memikirkan kekasihnya, Lau It-cou. Siau Po menarik nafas panjang.

“Kabar yang aku bawa itu pasti membuat hatimu gembira namun sayangnya merupakan malapetaka untukku!” sahutnya. “Karena istri yang baru aku dapatkan akan melayang lagi! Benar, budak Lau It-Cou itu memang belum mati!”

“Ah!” Pui Ie mengeluarkan seruan tertahan. Untuk sesaat dia tidak dapat menahan keguncangan hatinya yang gembira sekali mendengar berita dari Siau Po.

Kiam Peng juga senang sekali.

“Oh!” serunya. “Jadi, Lau suko tidak kurang apa pun?”

“Mati sih belum,” sahut Siau Po. “Tapi untuk hidup terus, sukarnya bukan main. Dia sudah tertawan oleh para siwi dan sekarang sedang diperiksa. Dia kukuh mengaku sebagai orangnya Go Sam kui dan mengatakan bahwa ia mendapat perintah untuk membunuh kaisar Kong Hi. Begitulah, dia masih hidup sekarang, tapi sedang menantikan hukum kematiannya! Kalau perbuatannya ini tersiar di luaran, pasti namanya akan busuk dan dicela oleh para orang gagah karena dikenal sebagai anjing pengkhianat Go Sam-kui. Apalagi setelah dia mejalankan hukuman mati. Namanya akan semakin bau!”

Pui Ie berusaha bergerak bangun. Saat ini dia sudah dapat mengendalikan perasaanya.

“Sebelum datang menyerbu ke istana ini, kami sudah mempertimbangkan bahwa kami bisa ditahan dan dihukum mati. Kami tidak mempersoalkan hal itu, asal dapat merobohkan Go Sam-kui, pengkhianat bangsa! Cita-cita kami hanya membalaskan sakit hati raja kami!”

Siau Po mengacungkan jempolnya.

“Bagus! Penuh semangat!” katanya memuji. “Aku, Kui kongkong merasa kagum sekali! Sekarang nona Pui, ada satu urusan penting yang harus kita rundingkan. Mari aku tanya dulu. Seandainya aku bisa membebaskan kakak seperguruanmu itu, apa yang akan kau lakukan? Bagaimana dengan engkau sendiri?”

Mata Pui Ie menyorotkan sinar berkilauan. Wajahnya merah padam.

“Apakah kau benar-benar sanggup menolong kakak seperguruanku itu?” tanyanya menegaskan.

“Kalau benar, bi…arlah a…ku menjadi budakmu seumur hidup! Dengan kata lain, pekerjaan apa pun dan sesulit apa pun, asal kau perintahkan, aku, Pui Ie, akan melakukannya tanpa mengerutkan sepasang alisku!”

“Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?” tanya Siau Po. “Bisa? Dalam hal ini, biar Siau kuncu menjadi saksinya! Kalau aku berhasil menolong Lau-sukomu itu, akan kuserahkan dia kepada Siau ongya Bhok Kiam seng dan Tiat Pwe-cong Liong Liu Loyacu….”

“Eh, kau tahu tentang kokoku dan Liu suhu?” tanya Kiam Peng keheranan.

“Siau ongya dari Bhok onghu serta Tiat Pwe-cong Liong Liu Tay-hong merupakan orang-orang yang sudah terkenal sekali. Siapa yang tidak pernah mendengar nama mereka?”

“Kau memang orang baik. Setelah kau berhasil membebaskan Lau suko, kami semua pasti berterima kasih dan bersyukur atas jasa-jasamu itu!” kata Kiam Peng.

Siau Po menggelengkan kepalanya.

“Aku bukan orang baik.” Sahutnya, “Sekarang aku sedang mengadakan transaksi jual-beli dengan kalian. Lau It-cau merupakan orang yang luar biasa. Dia telah melanggar undang-undang Negara sehingga dosanya berat sekali. Kalau aku hendak menolongnya, aku juga harus berani mengorbankan diri. Aku bisa menghadapi bencana besar. Kalau perbuatanku itu sampai ketahuan, seluruh keluargaku, termasuk nenek, kakek, paman muda, bibi tua, bibi muda, kakak adikku bisa terancam hukuman penggal kepala. Setelah itu, rumahku, harta bendaku berupa emas, perak, tembaga, uang, barang-barang antik semuanya akan disita oleh Negara. Nah, coba kau bayangkan beratnya tanggung jawab yang harus kupikul!”

Setiap kali Siau po berkata sampai pada bagian tertentu, Kiam Peng selalu menganggukkan kepalanya. Ucapan Siau Po memang berlebihan, tapi bukan berarti tidak mengandung kebenaran. Perbuatannya mengandung resiko yang besar. Kata-katanya memang harus dibenarkan, meskipun Siau Po sampai membawa nama kakek dan neneknya.

Pui Ie juga membenarkan kata-kata Siau po.

“Memang benar! Perbuatan in memerlukan tanggung jawab yang tidak kepalang besarnya. Baiklah, aku tidak jadi meminta bantuanmu! Bagiku, kalau Lau suko diancam hukuman mati. Terpaksa kita menyerah pada suratan takdir saja….”

Advertisements

1 Comment »

  1. Belum ada sambungannya ya …..

    Comment by Krisnohadi — 17/08/2008 @ 3:12 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: