Kumpulan Cerita Silat

18/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 08

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:49 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 08
Tiap-wu
Oleh Gu Long

Empat ekor burung merpati pos terbang dari Lok-yang menuju ke langit nan biru.

Dalam waktu singkat, bayangan tersebut sudah lenyap di balik awan yang tebal.

Tapi sayang, dari ke empat ekor burung merpati tersebut, seekor lenyap karena tersesat, seekor lagi mati terhembus angin dingin dan tinggal dua ekor yang berhasil tiba di Tiang-an dengan selamat.

Kejadian ini berlangsung tanggal delapan bulan dua.

“Coa Tiong telah tewas,” dengan nada tenang Cho Tang-lay memberitahukan kepada Suma Cau-kun, “Nyo Kian mampus di sini, dua orang yang lain tewas dalam sergapan yang ku atur tempo hari dan kini giliran Coa Tiong. Ini berarti dari ke empat Toa-kim-kong dari Cu Bong sudah tak seorangpun yang tersisa.”

Suma Cau-kun sedang menikmati daging sapi panggangnya, hidangan dengan menu tersebut seolah-olah sudah menjadi sumber kehidupannya setiap hari, biasanya saat seperti inipun merupakan saat yang terbaik dari semangatnya dan saat yang paling jernih pikirannya.

“Kapan Coa Tiong mampus?” ia bertanya kemudian.

“Kemarin pagi, satu jam berselang baru kuterima berita kematiannya.”

Di antara anak buahnya memang terdapat seorang ahli dalam memelihara burung merpati pos, maka di antara mereka yang ditugaskan mencari kabar ke Lok-yang, biasanya dibekali pula dengan satu dua ekor burung merpati.

Dalam jaman seperti itu, memang tak ada cara menyampaikan berita yang jauh lebih cepat daripada cara tersebut.

“Aku seperti mendengar orang berkata bahwa Coa Tiong telah berhasil menguasai Hiong-say-tong, mengapa dia bisa mati secara mendadak……? Suma Cau-kun berkata hambar, “manusia seperti dia, semestinya tak bakal mati sedemikian cepat.”

“Andaikata ada sebilah pedang yang tiba-tiba menembusi ulu hatinya, bagaimanapun ampuhnya seseorang toh dia bakal mampus juga dengan cepat.”

“Tapi untuk menembusi ulu hatinya dengan sebilah pedangpun bukan suatu pekerjaan yang gampang, pedang itu milik siapa?”

“Milik Siau-ko, Ko Cian-hui”

“Aaaah, lagi-lagi dia!” dengan gemas Suma Cau-kun mengiris sepotong daging, “jadi dia sudah sampai di Lok-yang?”

“Mungkin dia baru sampai dua hari berselang.”

Pelan-pelan Suma Cau-kun mengunyah hingga daging sapi yang harum itu benar-benar sudah masuk ke dalam perutnya.

Ia baru berkata lagi: “Berbicara dari kecepatan pedang Ko Cian-hui, tentu saja Coa Tiong bukan tandingannya, tapi kalau toh Coa Tiong berhasil menguasai Hiong-say-tong, paling tidak lima puluh kaki di sekelilingnya harus terdapat jago-jago lihay yang melindunginya.”

“Konon, peristiwa tersebut berlangsung di sebuah jalan raya,” kata Cho Tang-lay, “bukan saja seluruh jalan raya dipenuhi bekas anak buah Hiong-say-tong, bahkan terdapat pula sepuluh orang pembunuh bayaran yang diundang dengan bayaran tinggi. Bila musuhnya berani melalui jalanan tersebut, pada hakekatnya ibarat seekor domba yang memasuki gerombolan serigala, bayangkan saja bagaimana gawatnya suasana di situ…..”

“Tapi Siau-ko telah menuju ke sana.”

“Benar! Siau-ko memang ke situ, pergi ke situ seorang diri, seorang dengan sebilah pedang, persis seperti si nenek yang membawa keranjang untuk membeli sayur, wajar dan leluasa.”

“Kemudian?”

“Kemudian diapun menusuk ulu hati Coa-tiong dengan pedang itu, masuk dari dada dan tembus ke punggung.”

“Mengapa Coa Tiong memperkenankan musuhnya mendekati dia? Mengapa dia tidak menitahkan anak buahnya untuk menyerang lebih dulu?”

“Dalam hal ini aku sendiripun kurang jelas,” sahut Cho Tang-lay, “aku pikir alasan yang terpenting adalah Coa Tiong bukan saja ingin memperalat Siau-ko untuk membunuh Cu Bong, lagi pula diapun tidak memandang tinggi akan dirinya, dia pasti beranggapan bahwa dia tak akan berani turun tangan dalam keadaan seperti itu.”

“Kalau begitu kematian Coa Tiong sedikit banyak tak perlu disesalkan,” ucap Suma Cau-kun dingin, “barang siapa berani menilai rendah musuh yang dihadapinya, dia memang pantas untuk mampus.”

Coa tiong bukan hanya memandang rendah kecepatan gerak serta kepandaian silat dari Siau-ko, diapun memandang rendah keberanian serta sikap lawan.

Tiba-tiba Suma Cau-kun menghela napas kembali.

“Tapi Siau-ko pun pasti mampus pula. Ketika pergi ke sana, dia pasti membawa tekad untuk mati. Cu Bong memang sangat mujur bisa memperoleh sahabat seperti dia.”

“Manusia semacam ini memang tak banyak lagi jumlahnya sekarang, mati seorang berakhir seorang makin berkurang, tapi kini masih belum berkurang.”

“Jadi Siau-ko belum mati?”

“Belum!” jawab Cho Tang-lay hambar, “sekarang mungkin saja dia hidup jauh lebih gembira daripada kebanyakan orang yang berada di dunia ini.”

“Mengapa?” Suma Cau-kun kelihatan sangat terkejut bercampur keheranan.

“Sebab dia memang tak salah mencari teman, Cu Bong tidak membiarkan dia pergi beradu jiwa seorang diri.”

“Apakah Cu Bong pun turut menyusul ke situ?” Suma Cau-kun makin terperanjat, “bukankah dia sendiri telah menyembunyikan diri macam anjing budukan setelah melihat Coa Tiong membawa pergi sebagian besar anak buahnya? Dalam keadaan seperti itu, masa dia bernyali untuk datang kesana?”

“Sebetulnya aku mengira riwayatnya sudah habis, keadaannya sudah menyerupai sebiji buah kelapa yang kulit luarnya sudah kita hancurkan, hingga tinggal isinya yang lunak…..”

“Apakah kulit luarnya yang keras kini mulai tumbuh kembali…..?”

“Agaknya seperti begitu.”

“Bagaimana tumbuhnya?”

Cho Tang-lay termenung beberapa saat, lama kemudian pelan-pelan ia baru berkata: “Ada sementara pepohonan yang nampaknya sudah layu dan mati di kala musim dingin tiba, tapi bila musim semi telah datang dan memperoleh cahaya matahari yang hangat serta hembusan angin yang lembut di musim semi, tiba-tiba saja pohon itu memperoleh kembali kehidupannya dan tumbuh lagi beberapa lembar daun hijau.”

Suaranya seolah-olah datang dari tempat yang amat jauh, terusnya lebih jauh: “Ada sementara teman yang daya pengaruhnya persis seperti sengatan matahari dan hembusan angin lembut di musim semi. Bagi Cu Bong, Ko Cian-hui lah sahabatnya dari jenis begini.”

Suma Cau-kun menghela napas panjang.

“Ya, dia memang manusia begitu, entah terhadap siapapun tetap sama saja.”

Tiba-tiba Cho Tang-lay termenung, sepasang mata serigalanya tersembunyi di balik kelopak matanya yang kelabu, tiba-tiba saja dia menunjukkan suatu perubahan mimik wajah yang sukar dipahami oleh setiap orang. Cahaya tajam dibalik matanya pun lambat laun semakin memudar.

Suma Cau-kun seperti tidak terlalu memperhatikan akan hal ini, kembali dia melanjutkan: “Orang-orang yang diatur Coa Tiong di sepanjang jalan raya itu sebagian adalah orang-orang bekas anak buah Cu Bong, melihat Cu Bong bisa memperoleh kembali keangkeran dan keperkasaannya seperti dahulu, sudah pasti mereka dibikin keder oleh wibawanya, apalagi Coa Tiong pun sudah tewas di ujung pedang Siau-ko. Maka dari itu kesimpulannya adalah begini, setelah Cu Bong munculkan diri, kebanyakan orang-orang tersebut tak berani turun tangan lagi, karena Cu Bong masih mempunyai sebuah semangat.”

Cho Tang-lay masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Terdengar Suma Cau-kun berkata lebih jauh: “Orang-orang yang diundang Coa Tiong dengan bayaran tinggipun lebih-lebih tak akan berani turun tangan lagi.”

“Mengapa?”

“Sebab mereka adalah orang-orang yang punya harganya, Coa Tiong dapat membayar mereka, Cu Bong pun pasti dapat membayar pula harga mereka.”

Dibalik nada suaranya itu terdengar penuh dengan nada ejekan, lanjutnya: “Bila seseorang sudah mempunyai harganya, maka mereka tak akan berharga lagi, sepeserpun tak laku.”

Sekali lagi Cho Tang-lay menutup mulutnya rapat-rapat.

“Justru karena Coa Tiong melupakan kedua hal tersebut, maka Cu Bong dan Siau-ko baru bisa hidup terus hingga sekarang.”

Berbicara sampai di sini, Suma Cau-kun menghembuskan napas lega, seolah-olah dia merasa puas sekali dengan kesimpulan tersebut.

Cho Tang-lay belum memberikan reaksinya, juga dia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa.

Suma Cau-kun yang menyaksikan kejadian tersebut tak tahan lagi segera menegur: “Apakah kau sama sekali tak punya pendapat apa-apa?”

Cho Tang-lay menggeleng.

“Ketika Cu Bong muncul di situ, apakah di sana telah terjadi kembali suatu peristiwa?” kembali Suma Cau-kun bertanya dengan kening berkerut.

“Tidak tahu!”

“Tidak tahu?” hampir saja Suma Cau-kun berteriak keras, “mengapa kau bisa tak tahu?”

Setelah termenung beberapa saat lagi, Cho Tang-lay baru menjawab dengan dingin: “Sebab berita tersebut bukan dibawa manusia, melainkan burung merpati. Sayang sekali si burung merpati tak pandai berbicara, mereka hanya mampu membawa surat saja.”

Setelah berhenti sebentar, kembali Cho Tang-lay menambahkan: “Burung merpatipun bukan burung elang, perjalanan dari Lok-yang ke Tiang-an juga tidak dekat, untuk membawa surat pada kaki burung merpati, surat tersebut tak mungkin bisa terlalu panjang.”

Nada suara Cho Tang-lay sama sekali tanpa luapan emosi.

“Untuk menjelaskan peristiwa semacam itu, pasti dibutuhkan sepucuk surat yang amat panjang, maka mereka hanya bisa membagi surat tersebut menjadi empat bagian, empat pucuk surat yang dibawa oleh empat ekor burung merpati.”

“Berapa ekor burung merpati yang telah kau terima?”

“Dua ekor,” sahut Cho Tang-lay, “dua ekor burung merpati dengan dua bagian surat.”

“Dua bagian yang mana?”

“Bagian yang pertama dan bagian yang terakhir.”

“Apa yang kau ceritakan tadi tentunya termasuk bagian yang pertama, bukan? Bagaimana dengan bagian yang terakhir?”

“Bagian yang terakhir itu sudah merupakan bagian penutup saja, hanya terdiri dari beberapa huruf, mari kubacakan saja isi selengkapnya.”

Dengan cepat Cho Tang-lay membacakan isi surat tersebut selengkapnya.

“Dalam pertarungan ini, ada dua puluh tiga orang yang tewas, luka parah sembilan belas orang, luka ringan sebelas orang, boleh dibilang sangat mengerikan keadaannya, lama setelah pertarungan itu berakhir, darah masih mengalir di mana-mana membasahi seluruh permukaan jalan raya, hanya Cu Bong dan Ko Cian-hui yang tetap sehat wal’afiat.”

Lama setelah Cho Tang-lay menyelesaikan kata-katanya, Suma Cau-kun baru menghela napas panjang.

“Orang yang tewas lebih banyak daripada yang terluka parah, sedang orang yang terluka parahpun lebih banyak daripada yang terluka ringan, bisa dibayangkan betapa sengitnya pertempuran yang telah berlangsung di sana.”

“Ya, dari sini dapat disimpulkan bahwa bukannya tiada orang yang turun tangan waktu itu.” Kata Cho Tang-lay hambar.

“Keadaan di jalan raya waktu itu ibarat sebuah bungkusan obat peledak yang sumbunya belum terbakar, asal ada satu orang saja mulai dengan aksinya, maka orang tersebut akan menjadi penyulut dari sumbu tersebut, bahkan sumbu itu segera akan tersulut,” kata Suma Cau-kun lebih jauh, “itulah sebabnya asalkan ada orang berani turun tangan waktu itu, bungkusan besar obat peledak tersebut akan segera meledak dan menghancur-lumatkan tubuh Cu Bong maupun Siau-ko.”

“Betul, keadaan pada waktu itu memang demikianlah.”

“Tapi Cu Bong dan Siau-ko masih bisa hidup segar bugar hingga sekarang.”

“Benar, mereka berdua memang belum mati.”

“Dengan kekuatan mereka berdua, bagaimana mungkin bisa melawan serangan dari begitu banyak orang?”

“Mereka bukan hanya berdua, tapi bertiga.”

“Siapakah orang yang ketiga?”

“Si Sepatu Paku!”

“Sepatu Paku?”

“Sepatu Paku bukan sepatu paku sungguhan, Sepatu Paku adalah nama dari seorang manusia.”

“Bagaimana dengan ilmu silatnya?”

“Tidak seberapa hebat.”

“Tapi kau seperti menaruh hormat kepadanya.”

“Ya, benar!” Cho Tang-lay segera mengaku, “terhadap orang yang berguna, aku memang selalu menaruh hormat.”

“Diapun berguna?”

“Berguna sekali. Mungkin dia jauh lebih berguna daripada segenap anggota Cu Bong lainnya yang digabungkan menjadi satu.”

“Apakah hal ini disebabkan dia dapat menyebabkan kematian Cu Bong setiap saat?”

“Mati bukan suatu kejadian yang sulit, diapun tak akan menyuruh Cu Bong mati setiap saat,” ujar Cho Tang-lay, “asalkan Cu Bong masih hidup, dia pasti akan berpkir untuk mencari daya upaya agar bisa hidup lebih jauh, sebab dialah yang melayani kebutuhan Cu Bong, keadaannya terhadap Cu Bong ibarat seekor anjing tua terhadap majikannya.”

“Bila setiap saat dia hanya berniat untuk mengorbankan jiwa demi Cu Bong, maka manusia semacam ini tak ada harganya untuk dipandang kelewat tinggi,” sambung Cho Tang-lay lebih jauh dengan suara sedingin es.

Mendadak Suma Cau-kun tertawa terbahak-bahak.

“Haaaahhh……. haaaahhhh……. haaaaaahhhh…. aku memahami maksudmu, aku sangat memahami maksudmu.”

Cho Tang-lay memandang sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin, dibalik sorot mata yang dingin tiba-tiba terpancar pula serentetan cahaya kegusaran yang tajam bagaikan sembilu dan amat menakutkan, mendadak dia membalikkan badan lalu berlalu dari sana dengan langkah lebar.

—–

Langit kembali sudah gelap, bunga salju masih melayang jatuh menimpa atap rumah, hanya orang yang sedang kesepian baru akan mendengar suara semacam ini.

Gelak tertawa Suma Cau-kun telah berhenti sejak tadi, kini bukan saja dibalik sorot matanya tiada cahaya senyuman, bahkan sebaliknya penuh dengan pancaran sinar kesedihan.

Dia hanya mendengar suara bunga salju yang berguguran, ia tidak mendengar suara langkah kaki istrinya yang melangkah masuk.

Sebab sewaktu Go Wan masuk ke dalam ruangan, dia sudah mulai meneguk arak.

Pelan-pelan Go Wan menghampirinya dan duduk disampingnya.

Ia tak pernah membujuk suaminya agar berhenti minum arak, karena dia adalah seorang perempuan yang pintar, termasuk pula seorang istri yang bijaksana, dia tahu ada sementara persoalan yang tak mungkin dapat dicegah oleh siapapun.

Tapi keadaan hari ini sedikit agak berbeda dengan keadaan di hari-hari biasa, ternyata hari ini diapun turut minum arak, bahkan meneguk dengan cepat.

Sampai dia menghabiskan cawan arak yang ke tiga, Suma Cau-kun baru berpaling dan memandang ke arahnya.

“Agaknya masih pagi sekarang,” dia berkata.

“Ya, agaknya memang demikian.”

“Agaknya kau sudah mulai minum arak?”

“Ya, agaknya memang begitu,” kembali Go Wan menjawab dengan suara yang lembut.

Dia memang seorang istri yang lembut, sangat-sangat lembut, selalu menuruti perkataan suaminya, biarpun sedang sedih atau lagi gusar, nada suaranya selalu halus dan lembut, belum pernah menunjukkan sikap mengambek ataupun marah.

Tapi Suma Cau-kun tahu dengan jelas.

“Kau hanya akan minum arak semenjak pagi baru bila sedang berada dalam keadaan marah, apa yang menyebabkan kau menjadi marah hari ini?”

Go Wan tidak menjawab, diapun tidak membuka suara.

Go Wan hanya minum arak dengan membungkam, lalu memenuhi cawan suaminya dengan arak pula.

“Aku tahu apa yang menyebabkan kau menjadi marah, di sebabkan kedatangan Cho Tang-lay bukan? Kau tidak senang menyaksikan cara berbicaranya terhadap diriku?”

Go Wan tetap membungkam, namun dia mengakui atas kebenaran dari ucapan tersebut.

“Tapi kaupun harus tahu, di hari-hari biasa, sikapnya tidak demikian, hari ini diapun sedang marah,” Suma Cau-kun meneruskan, “sebab hari ini aku selalu memuji-muji Siau-ko dihadapannya.”

Mendadak dari balik matanya tersungging suatu sinar ejekan yang amat sinis.

“Selama ini, dia paling benci kalau mendengar aku memuji orang lain sebagai teman yang baik dihadapannya.”

“Apakah dia sedang cemburu?” tiba-tiba Go Wan berbicara sambil mempertinggi suaranya, bahkan penuh dengan nada ejekan, “bahkan aku sendiripun tak pernah cemburu, atas dasar apa dia merasa cemburu?”

Biasanya Go Wan adalah seorang perempuan yang lembut, sangat lembut, tapi sekarang dia telah menghabiskan lima cawan arak.

Arak yang diminumnya barusan adalah arak yang biasanya paling digemari Suma Cau-kun, padahal arak kegemaran Suma Cau-kun adalah arak keras, arak yang paling keras.

Bila seorang perempuan yang di hari-hari biasa jarang minum arak, tiba-tiba saja menghabiskan lima cawan arak keras, maka apapun yang dia katakan waktu itu patut untuk dimaafkan.

Jangan lagi perempuan, seorang lelaki yang jarang minum arak, bila tiba-tiba dia menghabiskan lima cawan arak keras dan mengoceh tidak keruan, diapun pantas untuk dimaafkan.

Maka Suma Cau-kun tertawa bergelak.

“Kau memang sedang cemburu, kau selalu merasa cemburu terhadap Cho Tang-lay, seolah-olah mengira aku dapat menganggap dia sebagai perempuan saja.”

“Aku tahu, kau tak bakal menganggapnya sebagai perempuan, diapun tidak menganggap kau sebagai perempuan,” Go Wan menghabiskan secawan lagi, “dia selalu menganggap kau bagaikan putranya, bila tiada dia, pada hakekatnya kau tiada kedudukan seperti hari ini.”

Nada suaranya tiba-tiba menjadi parau, tanyanya lagi kepada suaminya: “Mengapa kau tak melakukan sedikit pekerjaan atas prakarsa sendiri, agar ia tahu bahwa kaupun bisa hidup tanpa dia sekalipun? Mengapa kau tak pernah membuktikan kepadanya?”

Suma Cau-kun tidak menjawab, diapun tidak membuka suara.

Seperti juga istrinya, dia minum arak dengan mulut membungkam, lalu memenuhi cawan istrinya dengan arak.

Tapi Go Wan tidak minum lagi, dia segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan suaminya dan menangis tersedu-sedu.

Suma Cau-kun tidak menangis, bahkan dalam kelopak matanya pun tiada cahaya air mata.

Dia seakan-akan sudah tak berair mata lagi.

—–

Di dalam bangunan gedung yang megah, di balik kebun yang luas dan indah, terdapat sebuah sudut bangunan yang sepi, di sudut bangunan tersebut terdapat sebuah pintu yang amat sempit.

Dari balik pintu itu bergema suara petikan harpa yang merdu merayu, tapi siapapun tidak tahu tempat apakah di balik pintu tersebut dan tiada orang yang pernah tahu siapakah pemetik harpa itu.

Sebab daerah tersebut telah ditetapkan oleh Cho Tang-lay sebagai daerah terlarang, bila ada orang berani melangkah masuk ke dalam daerah terlarang itu, bila kaki kirinya yang melangkah masuk lebih dulu, kaki kirinya akan dipotong, bila kaki kanannya dulu, maka kaki kanannya dulu yang akan dipotong.

Peraturan tersebut nampak amat sederhana, tapi dibalik kesederhanaan tersebut justru mendatangkan hasil yang manjur.

Entah datang dari tempat kediaman Suma Cau-kun ataukah dari ruang kecil kediaman Cho Tang-lay, untuk sampai ke situ maka orang mesti melewati sebuah jalanan yang amat panjang.

Dengan membawa sebuah payung dan menerobos salju, Cho Tang-lay berjalan menelusuri jalanan yang kecil itu menuju daerah terlarang.

Meskipun ia tidak mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya, bekas kaki yang tertinggal di atas permukaan salju pun amat tipis.

Di sudut sana, terdapat pintu sempit yang selalu dalam keadaan tertutup rapat.

Cho Tang-lay mendekati pintu itu, mula-mula mengetuk tiga kali, kemudian mengetuk satu kali lagi, kemudian setelah menunggu amat lama baru pintu itu terbuka sedikit.

Yang membukakan pintu adalah seorang gadis yang cantik, dengan mengenakan pakaian berwarna putih salju, paras mukanya amat cantik dan menawan hati.

Dengan suara yang rendah dan penuh hormat, Cho Tang-lay segera bertanya: “Apakah Lo sianseng telah bangun?”

“Telah bangun sejak tadi, orang yang berusia lanjut memang bangunnya kelewat pagi, mungkin mereka tahu sisa hidupnya sudah tak lama, maka setiap saat dan kesempatan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.”

Di balik pintu adalah sebuah halaman kecil yang sepi, di tengah hembusan angin dingin, terendus bau harum bunga Bwe yang semerbak.

Di bawah sebatang pohon Siong yang besar, berdiri sebuah gardu kecil bersegi enam, seorang kakek sedang duduk dalam gardu sambil menikmati bunga salju yang beterbangan di angkasa, dia seolah-olah terpesona oleh pemandangannya.

Tiada orang yang tahu usia serta namanya, bahkan dia sendiripun sudah melupakan hal tersebut.

Perawakan tubuhnya kurus lagi kecil, dari kejauhan dia nampak seperti seorang bocah berusia delapan sembilan tahunan, kepalanya yang botak persis seperti kulit kepala yang keras, sedangkan wajahnya penuh dengan kerutan-kerutan yang meninggalkan bekas penderitaan serta pengalaman yang cukup luas.

Usia yang tak berperasaan telah membuat tubuhnya sama sekali menjadi kusut, namun sepasang matanya justru masih sering memancarkan sinar berkilauan yang mengartikan kecerdasan dan kesegaran bagaikan seorang anak kecil.

Berada dalam keadaan demikian, sepasang matanya nampak seperti lautan biru yang berada di bawah cahaya matahari.

Dengan sikap yang sangat menghormat, Cho Tang-lay berdiri di luar gardu kecil, kemudian setelah memberi hormat, katanya pelan: “Aku lihat air muka Lo sianseng jauh lebih cerah ketimbang sewaktu aku datang tempo hari, seperti menjadi muda dua puluh tahun secara tiba-tiba.”

Sebenarnya kakek itu tidak memandang ke arahnya, juga tidak berniat menggubrisnya, tapi sekarang ia berpaling secara tiba-tiba dan berkedip berulang kali.

“Kau benar-benar melihat aku seperti lebih muda dua puluh tahun?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu kau adalah seorang buta, seorang buta yang tolol dan goblok,”

Walaupun kakek itu sedang memaki orang, suaranya kedengaran amat riang.

“Apakah tidak kau lihat usiaku sekarang seolah-olah empat puluh tahun lebih muda?”

Cho Tang-lay segera tertawa.

Gadis berbaju serba putih itu berjalan ke sisi kakek tersebut, si kakek segera menarik tangannya dan menggenggamnya erat-erat.

“Kesemuanya ini tak lain berkat jasanya,” kakek itu berkata lagi sambil tertawa, “hanya gadis muda yang cantik seperti dia baru dapat membuat seorang kakek menjadi muda kembali.”

“Kesemuanya inipun berkat jasaku, “sambung Cho Tang-lay cepat, “akulah yang mengirim dia kemari.”

“Tapi aku tak merasa berterima kasih kepadamu, walau hanya sedikitpun,” kakek itu mengerdipkan lagi matanya secara licik dan nakal, “aku tahu kau sedang menjilat pantatku, ingin mengorek sesuatu lagi dari dalam benakku.”

Ternyata Cho Tang-lay tidak mencoba menyangkal.

Maka kakek itu bertanya lagi: “Apa yang ingin kau korek dari benakku kali ini?”

“Tentang seseorang.”

“Siapa?”

“Siau Lay-hiat”

Senyuman yang semula menghiasi wajah kakek itu mendadak lenyap tak berbekas, bahkan sepasang matanya yang berkilatpun kini berubah menjadi keabu-abuan.

“Siau Lay-hiat, Siau Lay-hiat…….” Kakek itu bergumam tiada hentinya, “dia masih hidup? Dia belum mati?”

“Belum!”

Kembali kakek itu menghela napas panjang.

“Sekarang aku baru mengerti, manusia macam apakah dirimu itu.”

Dengan jari tangannya yang kurus kering, dia menuding ke hidung Cho Tang-lay, kemudian melanjutkan: “Kau adalah telur busuk yang paling luar biasa, manusia yang paling tolol, paling goblok dan paling dungu, maka hanya kau yang berani mengusiknya.”

Cho Tang-lay tetap membungkam, dia tidak menjadi gusar karenanya.

Bagaimanapun kakek tersebut akan bersikap kepadanya, dia seakan-akan tak akan menjadi gusar, sebab hanya kakek ini yang bisa memberitahukan segala persoalan yang ingin diketahui olehnya.

“Aku tidak berniat mengusiknya,” kata Cho Tang-lay, “aku hanya ingin mengetahui dua hal yang menyangkut dirinya.”

“Dua hal yang mana?”

“Kepandaian silatnya serta senjata andalannya.”

Mendadak kakek itu nampak seperti amat tegang, padahal seorang kakek seperti dia tidak seharusnya bersikap begini tegang.

“Kau pernah melihat senjata apakah yang dia pergunakan?” tanyanya kepada Cho Tang-lay.

“Belum pernah!”

“Tentu saja kau belum pernah melihatnya,” kakek itu menjadi lega kembali, “sebab hanya sukma-sukma gentayangan dalam neraka yang pernah melihat.”

“Belum pernah ada orang yang melihat senjatanya?”

“Sama sekali tak pernah, seperti diapun tak pernah akan melihat bekas air mata saja.”

“Bekas air mata? Bekas air mata siapa?”

“Bekas air mata Siau Taysu.”

“Siapakah Siau Taysu?”

“Siau Taysu adalah ayahnya Siau Lay-long.”

Selama ini Cho Tang-lay selalu menganggap dirinya sebagai orang yang amat cerdik, tapi sekarang ia sendiripun dibikin kebingungan.

Ia tak habis mengerti terhadap perkataan dari kakek itu, kembali dia bertanya: “Mengapa dia tak dapat melihat bekas air mata ayahnya?”

“Sebab, bila dia melihat bekas air mata tersebut, dia akan mati oleh bekas air mata.”

“Bekas air mata pun bisa membunuh orang?” Cho Tang-lay semakin tidak mengerti.

Kakek itu memandang ke tempat kejauhan, dibalik sorot matanya seolah-olah penuh dengan perasaan sedih dan ngeri, seakan-akan seseorang yang menyaksikan suatu peristiwa yang tak bisa dipahami maupun di mengerti.

Entah berapa lama kemudian, dia baru pelan-pelan menggerakkan tangannya yang kusut dan mengambil sebuah harpa dari hadapannya.

“Criiiing…..criiiing….” bunyi senar harpa bergema memecahkan keheningan.

“Tiap-wu, menarilah untukku.”

Mantel perak terlepas dari atas bahu, si gadis berbaju perak itu masih tetap berpakaian perak.

Baju berwarna perak dikombinasikan dengan gaun panjang berwarna perak pula.

Mengikuti liak-liuknya tubuh yang ramping, gaun panjang beterbangan ke sana kemari hingga tampak sepasang kakinya yang indah dan penuh daya tarik.

Tiada orang yang bisa melukiskan tariannya, juga tiada orang yang dapat melukiskan keindahan sepasang kakinya.

Bahkan Ti Siau-hou dan Ti Cing-leng yang paling mengerti menikmati perempuanpun hanya bisa berkata demikian: “Pada hakekatnya aku tidak percaya kalau di tubuh seorang manusia bisa tumbuh sepasang kaki yang begitu indah.”

Irama harpa tiba-tiba berubah menjadi amat murung, sedih dan pedih, sedang sang penaripun membawakan tariannya bagaikan daun kering yang berguguran terhembus angin, indah sekali, indah yang menggetarkan perasaan.

Mendadak cahaya air mata mulai memenuhi kelopak mata si kakek tersebut.

“Criiiing…..”

Tahu-tahu senar harpa putus jadi dua dan irama yang memedihkan pun segera terhenti.

Sang penari yang membawakan tarian jatuh melingkar di tanah, bagaikan burung Angsa yang tenggelam di balik awan.

Kemudian suasana berubah menjadi tenang dan hening, begitu tenang, begitu indah.

Sementara titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah kakek itu, setetes demi setetes jatuh bercucuran.

“Beginilah macam bekas air mata,” kakek itu bergumam, “beginilah bekas air mata.”

“Bagaimana sih bentuknya?”

“Tiada keduanya di dunia ini, sempurna sama sekali tanpa cacad sedikitpun,” kata kakek itu, “tiada senjata tajam di dunia ini yang bisa lebih tajam daripada pedang tersebut.” Lalu lanjutnya: “Ya, sebilah pedang, sebilah pedang yang sempurna tanpa cacad, seperti juga tarian dari Tiap-wu.”

“Mengapa pedang tersebut dinamakan bekas tetesan air mata?”

“Sebab di atas pedang tersebut terdapat bekas tetesan air mata. Ketika pedang tersebut sedang ditempa, bila ada air mata yang menetes ke atas pedang makan akan timbullah bekas tetesan air mata yang tak pernah dapat terhapus untuk selamanya.”

“Bekas tetesan air mata siapa?”

“Air mata Siau Taysu, Siau Taysu yang tiada keduanya di dunia ini.”

“Pedang mestika bila muncul, dewa dan setan akan ketakutan, prinsip ini cukup kupahami, tapi aku tak habis mengerti mengapa Siau Taysu harus meneteskan air mata karena pedang itu?”

“Sebab dia bukan hanya pandai membuat pedang, iapun menguasai ilmu perbintangan,” nada suara kakek tersebut penuh nada kepedihan, “tatkala pedang itu keluar dari tempaan, dari atas senjata tersebut dia telah menangkap suatu hawa sesat yang luar biasa.”

“Bagaimana maksudmu?”

Kakek itu menghela napas panjang.

“Aaaai…..tadi kau toh sudah bilang bila pedang mestika muncul, dewa dan setanpun akan ketakutan. Begitu pedang tersebut muncul, segera terasalah bahwa sesat yang menyertai senjata tersebut, bukan saja pedang itu akan mencari korban setiap muncul dari sarungnya, bahkan diapun membutuhkan pula korban sajian dari seseorang yang paling dekat dengan Siau Taysu sendiri.”

“Bukankah orang yang berada paling dekat dengan Siau Taysu adalah Siau Lay-hiat?”

“Benar!” kakek itu sedih, “sejak pedang itu selesai dibuat, Siau Taysu sudah mengetahui kalau putra tunggalnya bakal tewas di ujung pedang tersebut.”

“Mengapa ia tidak musnahkan saja pedang itu?”

“Sebab dia tak tega, juga tak berani. Pedang tersebut merupakan hasil karyanya yang paling berhasil, sudah barang tentu dia tak tega untuk menghancurkannya.”

Tentang persoalan ini Cho Tang-lay cukup mengerti.

“Tapi aku tak habis mengerti, apa sebabnya ia tak berani memusnahkannya?”

“Bila takdir sudah mengatur demikian, siapakah yang berani melawannya? Apalagi sesuatu yang telah dijadikan takdir, tiada kekuatan manusia yang bisa melawannya.”

Dari sorot mata si kakek tersebut kembali memancar keluar sinar ngeri dan seram, lanjutnya: “Bila Siau Taysu menghancurkan pedang itu, siapa tahu akan timbul bencana yang lebih mengerikan lagi yang akan menimpa putra tunggalnya itu.”

“Kemudian dengan cara apa Siau Taysu mengatur pedang tersebut?” berkilat sepasang mata Cho Tang-lay.

“Siau Taysu mempunyai tiga orang murid, muridnya yang pertama memperoleh ilmu perbintangannya….”

“Ya, akupun mendengar orang bilang kalau dalam dunia persilatan terdapat seorang kakek pengasah pedang yang pandai meramal, mungkin orang inilah murid pertama dari Siau Taysu?” ucap Cho Tang-lay.

Kakek itu manggut-manggut.

“Murid kedua dari Siau Taysu yakni Siau Khong-cu mendapat ilmu membuat pedang darinya, diapun menjadi seorang Kiam-su (empu ahli pedang) yang termasyhur di kemudian hari.”

“Siau Khong-cu?” tergerak hati Cho Tang-lay, “apakah Siau Taysu yang kemudian menciptakan senjata kaitan Lee-piat-kou itu?”

“Ya, dialah orangnya!”

“Kedua orang itu hampir semuanya merupakan manusia-manusia luar biasa, tapi Siau Taysu telah mewariskan ilmu pedangnya yang paling membanggakan itu untuk muridnya yang ketiga, bahkan mewariskan pula bekas tetesan air matanya kepada orang itu.”

“Mengapa harus diwariskan kepadanya?”

“Karena orang ini bukan saja berjiwa besar, berhati besar, berhati bajik, suka mengasingkan diri, pun tak punya ambisi untuk mencari nama ataupun pahala, diapun tak pernah membunuh orang.”

“Setelah mewarisi segenap ilmu pedang dari Siau Taysu, tentu saja tiada orang yang bisa merampas pedang tetesan air mata itu dari tangannya,” kata Cho Tang-lay, “sudah barang tentu manusia bijaksana seperti ini tak bakal mencelakai pula putra tunggal gurunya.”

“Ya, bahkan saat dia berusia tiga puluh tahunan, orang itu sudah mengasingkan diri di tengah gunung dan bersumpah tak melangkah lagi ke dalam dunia keramaian, setelah matipun dia ingin dikubur bersama pedang tetesan air mata di atas bukit itu.”

“Di bukit mana?”

“Entahlah! Tiada orang yang tahu.”

Cho Tang-lay segera menghela napas panjang, katanya: “Justru karena kejadian inilah maka di dalam dunia persilatan telah kekurangan seseorang ahli pedang, juga kekurangan sebilah senjata mestika. Suatu keuntungan bagi umat manusia, ataukah ketidak beruntungan?”

“Tapi Siau Lay-hiat toh masih dapat hidup terus karena kejadian ini.”

“Benar!” kata Cho Tang-lay pula, “bagaimanapun juga Siau Lay-hiat belum sampai mati oleh pedang tetesan air mata, paling tidak ia masih hidup hingga sekarang.”

Walaupun suaranya penuh nada sedih, tapi sepasang matanya justru memancarkan cahaya berkilauan, seperti lelaki hidung belang, hidung bangor yang melihat seorang gadis bugil berdiri di depan pembaringannya.

Menanti dia mendongakkan kepalanya lagi, kakek yang berada dalam gardu itu sudah tertidur pula.

—–

Salju masih turun rintik-rintik, pintu kecilpun setengah terbuka.

Saat itu Cho Tang-lay sudah keluar sedang Tiap-wu siap untuk menutup pintu.

Asal pintu ini sudah tertutup, maka tempat tersebut seolah-olah terpisah sama sekali dengan dunia luar.

Tiap-wu hanya berharap tak pernah ada lagi orang yang mengetuk pintu, agar dia dan kakek itu hidup bebas di sana, karena dia sudah tiada menaruh harapan lagi terhadap dunia luar, sama sekali tiada kesan apa-apa.

Sebab perasaannya sekarang sudah mati, yang tertinggal tak lebih hanya sebuah tubuh yang kaku dan sepasang kaki.

Sepasang kakinya ini bagaikan gading gajah, tanduk menjangan, bagian yang paling berharga dalam kehidupannya, dan di sini juga letak dari sumber ketidak-beruntungannya.

Andaikata ia tidak memiliki sepasang kaki itu, mungkin dia hidup sebagai manusia lain, bisa jadi kehidupannya jauh akan lebih berbahagia.

Tiap-wu berdiri di balik pintu kecil dengan kepala tertunduk, dia hanya berharap Cho Tang-lay berlalu dari situ secepatnya.

Apa mau dibilang, Cho Tang-lay justru telah membalikkan badan, menatapnya dengan sutau pandangan yang aneh, lama sekali mengawasinya tanpa berkedip.

“Selama beberapa hari ini, apakah kehidupanmu bisa dilewatkan dengan baik?”

“Ya, sangat baik.”

Nada suara Tiap-wu sama sekali tak berperasaan, hampir sedingin dan sekaku suara Cho Tang-lay.

“Asal kau bersedia, kau dapat berdiam untuk selamanya di sini,” kata Cho Tang-lay lagi, “akupun jamin tak akan ada orang yang berani mengganggumu.”

“Terima kasih.”

“Tapi akupun dapat mengirim kau ke suatu tempat yang lain, “ujar Cho Tang-lay lebih jauh, “asal aku senang, setiap saat aku dapat mengantarmu ke tempat lain, aku tahu ada sementara orang yang berharap aku dapat berbuat demikian.”

Tiba-tiba Tiap-wu membungkukkan badan seperti anak domba yang terkejut, lalu mundur ke sudut di belakang pintu dan menggumpal diri menjadi satu.

Melihat hal itu Cho Tang-lay tertawa senang.

“Sudah barang tentu aku tak akan berbuat demikian.”

Di balik sinar matanya terkandung cahaya kekejian.

“Aku tak lebih hanya menginginkan kau tahu, kau mesti berbaik kepadaku sebab kau telah berhutang budi kepadaku.”

Tiap-wu segera mendongakkan kepalanya dan menatapnya tajam-tajam…..

“Dengan cara apa aku mesti berbaik kepadamu? Apakah aku harus menemani kau naik ranjang?” tiba-tiba perempuan itu berseru.

Jangan dilihat sikapnya yang begitu anggun seperti perempuan tingkat tinggi, nyatanya cara perempuan ini berbicara jauh lebih busuk daripada ucapan seorang lonte.

“Tentunya kau sudah pernah mendengar, ilmuku bermain di ranjang sangat hebat dan tiada tandingannya di dunia ini, setiap lelaki yang pernah tidur denganku, mereka tak akan melupakan untuk selamanya. Apalagi bila sepasang kakiku sudah ikut bergerak, ooooh….jangan ditanya bagaimana nikmatnya kaum pria merasakannya, mungkin mimpipun kau tak pernah membayangkan.”

Ia mulai tertawa, makin lama tertawanya semakin kalap dan memekikkan telinga.

“Tapi aku tahu, kau tak bakal menyukai aku, sebab yang kau sukai bukan aku, kau hanya menyukai seseorang, hidupmu sepanjang masa hanya untuknya…….”

Ia belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika……

“Plooookk!”

Tahu-tahu Cho Tang-lay telah mengayunkan tangannya dan menampar wajahnya keras-keras.

Dengan cepat di atas pipinya yang putih dan cantik itu telah membekas lima buah jalur merah yang membengkak, namun rasa ngeri dan takut yang memancar di wajahnya malah hilang lenyap tak berbekas, sebagai gantinya terselip sikap sinis dan penuh hinaan.

Cho Tang-lay segera menelikung tangannya kuat-kuat ke belakang punggung, membuat gadis itu kesakitan dan mengucurkan air mata, kemudian sepatah demi sepatah ia baru berkata: “Kau keliru besar.”

Dengan pancaran sinar mata penuh rasa penderitaan dan emosi, dia meneruskan: “Sekarang juga aku akan membuat kau mengerti, kesalahanmu itu terlalu besar.”

—–

Tengah malam sudah lewat.

Suasana dalam sebuah gedung kecil itu gelap gulita, tanpa setitik cahaya pun.

Tiap-wu berbaring di atas pembaringannya dalam keadaan bugil, di bawah cahaya lentera, sepasang kakinya nampak lebih indah dan merangsang napsu, membuat siapapun akan rela masuk neraka asal dapat menikmati sepasang kakinya itu.

Kini, air matanya sudah tidak bercucuran lagi.

Bila teringat kembali penghinaan, penderitaan dan kesengsaraan yang pernah dialaminya barusan, maka penghinaan, penderitaan dan kesengsaraan yang pernah dialaminya di masa lampau hanya berupa permainan kanak-kanak belaka.

Pada hakekatnya, dia tak bisa membayangkan kalau dalam dunia saat ini masih terdapat seorang manusia yang lebih buas dan kejam daripada seekor binatang.

Pintu penghubung di luar halaman telah tertutup rapat, Cho Tang-lay sudah pergi sejak tadi, dan sekarang Tiap-wu lamat-lamat mendengar ada suara pemuda sedang berbincang-bincang.

Suara itu amat lirih, tapi lamat-lamat Tiap-wu masih mendengar kalau dia sedang memberitahukan kepada Cho Tang-lay bahwa Suma Cau-kun jatuh sakit secara tiba-tiba, bahkan sakitnya amat parah, sudah beberapa orang tabib diundang datang, tapi hasilnya selalu nihil.

Atas nasehat dari para tabib, akhirnya diputuskan Suma Cau-kun perlu untuk beristirahat beberapa saat guna memulihkan kembali kesehatannya sehingga untuk sementara waktu tidak menerima tamu.

Cho Tang-lay segera membungkam dalam seribu bahasa setelah mendengar laporan tersebut, sampai lama, lama sekali, dia baru bertanya kepada pemuda itu: “Maksudmu, ia tak dapat menerima tamu? Ataukah semua orang tak dapat dijumpai?”

“Agaknya siapa saja tak akan ditemui.”

“Termasuk aku?”

“Mungkin begitu.”

“Maka hujin sengaja menitahkan kepadamu untuk menyampaikan kabar tersebut untukku, agar aku tidak mengganggu ketenangannya lagi?”

“Hujin cuma bilang, harap segala urusan yang hendak dibicarakan Cho Sianseng ditunda pelaksanaannya, biar Lo-cong Piau-tau sembuh lebih dulu.”

“Kau telah bertemu dengan tabib-tabib yang diundang hujin?”

“Ketiga-tiganya telah kujumpai semua.”

Kemudian pemuda tersebut menyebutkan ketiga nama tabib itu.

Tak salah lagi, mereka adalah tabib-tabib kenamaan dari Tiang-an.

“Apa yang mereka katakan?” kembali Cho Tang-lay bertanya, “apakah mereka semua mengatakan Lo-cong sakit parah dan bila keadaan dibiarkan berlarut, maka keselamatan jiwanya sangat berbahaya?”

Kemudian setelah termenung lama sekali, dia baru menghela napas sambil melanjutkan: “Padahal beberapa hari ini dia tidak seharusnya jatuh sakit, sakitnya sungguh tidak kebetulan.”

“Mengapa?”

Tampaknya pemuda itupun merupakan orang kepercayaan Cho Tang-lay, itulah sebabnya dia berani mengajukan pertanyaan tersebut.

Tiap-wu yang berada dalam ruangan mendadak merasakan tubuhnya mengejang keras, karena dia mendengar Cho Tang-lay kembali mempergunakan cara yang paling keji dan paling buas untuk mengutarakan ucapannya sepatah demi sepatah: “Sebab dua hari kemudian Cu Bong pasti akan datang kemari.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: