Kumpulan Cerita Silat

18/05/2008

Duke of Mount Deer (30)

Filed under: +Darah Ksatria — ceritasilat @ 2:10 pm

Duke of Mount Deer (30)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Bhok Kiam-seng sudah tahu bahwa hiocu Ceng-bok tong dari Tian-te Hwe yang berkedudukan di kota Peking usianya masih muda, dan dari Pek Han hong, dia juga mendengar kepandaian bocah ini masih rendah sekali. Namun mulutnya si hiocu lihay sekali. Dia pandai memojokkan orang dengan kata-katanya. Tampangnya seperti orang kasar dan kemungkinan dia diangkat sebagai hiocu hanya memandang muka gurunya yang menjadi ketua pusat Tian-te hwe.

Sekarang, melihat ketenangan dan kewibawaan Siau Po, dia menjadi heran. Diam-diam dia berpikir.

’Mngkin bocah ini mempunyai keistimewaan tersendiri.’

Da segera mengundang tamu-tamunya masuk ke dalam mana setiap kursi diberi alas merah yang tebal.

Para tamu itu pun mengambil tempat duduk dan begitu pun tuan rumahnya. Di sampingnya berdiri Sinjiu kisu Sou Kong. Pek Han-hong dan belasan orang lainnya. Mereka berdiri tegak dengan tangan diluruskan kebawah.

Setelah semuanya duduk. Kedua belah saling berkenalan. Sampai di situ, diam-diam Hoan Kong berpikir dalam hati.

’Pangeran Bhok itu sikapnya tidak dibuat-buat dan tidak angkuh. Dia mengenal sekali aturan dunia kangouw!’

Para pelayan pun menyuguhkan teh. Pemain musik memperdengarkan lagu sebagai penyambutan atas tamu-tamunya. Kemudian barang hidangan pun disajikan. Bhok Kiam-seng memberikan isyarat dengan tangan sebagai tanda perjamuan dimulai. Dia juga mengajak para tamunya menuju meja makan.

“Silahkan Wi hiocu mengambil tempat duduk”, katanya mempersilahkan. Nadanya ramah sekali.

Siau Po menerima undangan itu dengan sikap hormat. Dia pun mengucapkan terima kasih. Setelah dia duduk, Bhok Kiam Seng memilih tempat di sebelahnya.

“Undang suhu!” kata tuan rumah setelah semua orang duduk.

Sou kong dan Pek Han-hong pergi ke dalam. Tidak lama kemudian mereka keluar lagi dengan mengiringi seorang tua. Kiam Seng segera menyambutnya sambil berkata.

“Suhu, hari ini hiocu Ceng-bok tong, Wi hiocu dari Tian-te hwe telah sudi berkunjung ke tempat kita. Dengan demikian beliau telah membeei muka terang kepada kami”

Kemudian dia berpaling kepada Siau Po dan berkata kembali. “Wi hiocu inilah Liu suhu, guru aku yang rendah!”

Siau Po segera memberi hormat seraya memuji orang itu yang menurutnya sudah lama dia mendengar nama besarnya.

Orang tua itu bertubuh tinggi besar, wajahnya kemerah-merahaan, kumis dan janggutnya sudah memutih. Sedangkan kepalanya botak. Usianya kira-kira tujuh puluh tahun namun tampaknya masih sehat dan sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam.

Justru dia sedang menatap tamunya yang masih muda lekat-lekat. Kemudian sambil tertawa dia berkata.

“Belakangan ini nama Tian-te hwe semakin terkenal saja!” Suara si orang tua juga lebih keras dari orang kebanyakan. Setelah itu dia menambahkan. “Usia Wi hiocu masih muda sekali. Benar-benar orang yang sulit ditemukan keduanya dalam dunia persilatan!”

Siau Po tertawa dan menyahut.

“Aku bukan orang pandai, justru tolol sekali. Baru-baru ini tanganku telah tetcekal oleh Pek suhu sehingga tidak dapat berkutik. Hampir saja aku berkaok-kaok kesakitan. Ilmu silatku benar-benar rendah sekali!”

Selesai berkata, si hiocu muda malah tertawa terbahak-bahak. Dia tidak merasa malu atau jengah sedikit pun sehingga semua orang menatapnya dengan heran. Malah Pek Han-hong sendiri yang merasa malu.

Si orang tua sebaliknya ikut tertawa lebar.

“Wi hiocu orangnya benar-benar polos!” katanya memuji. “Nah, demikianlah sikap seorang laki-laki sejati. Hiocu, lohu kagum tiga bagian terhadapmu!”

Kembali Siau Po tertawa.

“Kagum tiga bagian, itu sudah terlalu banyak. Syukur aku yang rendah tidak dipandang sebag pengemis cilik yang tidak punya kebisaan apa-apa.”

Mendengar kata-katanya, orang tua itu tertawa lagi.

“Oh, hiocu sungguh pandai bergurau!” katanya.

Sampai di situ, Hian Ceng tojin turut bicara.

“Locianpwe, apakah locianpwe ini Tiat Pwe cong liong, Si naga berpunggung besi Liu loeng-hiong yang namanya sudah sangat terkenal di dalam dunia kangouw, khususnya wilayah selatan?”

“Tidak salah!” sahut si orang tua. Bibirnya menyunggingkan senyuman. “Syukur Hian Ceng tojin masih mengingat nama hina aku si orang tua.”

Di dalam hatinya Hian Ceng tojin terkejut sekali.

’Belum lagi aku memperkenalkan diri, dia sudah tahu siapa aku. Dari sini dapat dibuktikan bahwa persiapan Bhok Kiam-seng ini sempurna sekali. Dengan hadirnya orang tua ini, pangeran muda ini tidak perlu menggunakan racun. Dengmengandalkan ilmu silatnya saja, mungkin kami bukan tandingannya!”

Meskipun dia berpikir demikian, tapi imam itu tetap mcnjura dan berkata.

“Liu loenghiong, ketika tempo dulu Liu Loeng-hiong menghajar tiga penjahat di sungai Nou kang serta melabrak ten’tara Boan, nama besar Loeng-hiong langsung menggetarkan dunia kangouw, Setiap orang muda dari dunia persilatan memuji tinggi dan sangat menghormati Liu Loenghiong!”

“Itu kan urusan lama, untuk apa diungkit kembali?” kata Lio Loenghiong sambil tertawa, tapi dari suaranya menandakan dia senang mendengar pujian itu.

Jago tua itu bernama Liu Tay-hong. Namanya sudah terkenal sekali. Dan dulunya dia sangat dihargai oleh keluarga Bhok, yakni semasa Bhok Tian-po masih hidup, Ketika pasukan Boanciu menggempur wilayah Inlam, dialah yang berjasa menyelamatkan keluarga Bhok. Sedangkan Bhok Kiam-seng diangkatnya sebagai murid. Karena itu, i dalam keluarga tersebut, kecuali, sang pangeran, dialah orang yang paling dihormati.

“Suhu,” kata Bhok Kiam-seng. “Tolong Suhu temani Wi hiocu!”

“Baik!” sahut Tay Hong yang terus duduk di sisi Wi Siau-po, hiocu dari Ceng-bok tong itu.

Meja itu berbentuk astakona atau segi delapan, ada juga yang menyebutnya Patkua, Di kursi pertama duduk Siau Po dan Liu Tay-hong. Di sisinya duduk Sou Kong dan Hong Ci-tiong, sedangkan di sebelah kanan, duduk Bhok Kiam-seng. Di situ masih ada sebuah kursi yang kosong.

Sejak semula pihak Tian-te hwe sudah melihat kursi yang kosong itu. Mereka pun menerka-nerka dalam hati.

’Entah tokoh lihay mana lagi yang diundang oleh pihak keluarga Bhok ini?’ Sebab di meja , seharusnya ditempati orang-orang yang terhormat.

Mereka tidak perlu menanti terlalu lama, karena segera terdengar suara tuan rumah yang memerintahkan.

“Harap bimbing Ci suhu keluar untuk duduk bersama-sama di sini!” demikianlah kata si tuan rumah. “Biar para tetamu kita menemuinya dan semoga hati mereka menjadi tenang karenanya!”

“Ya!” sahut Sou Kong yang terus pergi ke dalam. Sejenak kemudian dia muncul kembali sambil membimbing seseorang yang disebut sebagai Ci suhu itu.

Melihat orang yang dibawa keluar oleh Sou Kong, Hoan Kong dan yang lainnya menjadi terkejut dan girang bukan main.

“Ci toako!” tanpa dapat menahan diri mereka semuanya berseru.

“Orang she Ci itu tubuhnya bungkuk, bukan lain dari Patjiu Wan kau Ci Tian-coan yang belum lama ini diculik orang. Wajahnya kuning dan pucat, menandakan kesehatannya belum pulih sekali. Yang penting dia sudah bebas dari ancaman maut. Semua orang Tian-te hwe langsung mengerumuninya untuk memberi hormat dan menanyakan keadaannya.

“Ci suhu, mari duduk sini!” ajak Kiam Seng sambil menunjuk kursi yang masih kosong tadi.

Ci Tian-coan menghampiri Wi Siau-po dan menjura dalam-dalam kepadanya.

“Apakah Wi hiocu baik-baik saja?”

Siau Po membalas hormat.

“Ci samko, semoga kau juga baik-baik saja!” katanya. “Bagaimana dengan usaha obat koyomu? Apakah banyak kemajuan?”

Cii Tian-coan menarik nafas panjang.

“Aku tidak berdagang lagi,” sahutnya gundah. “Bawahanmu ini telah diculik oleh begundalnya Go Sam-kui. Hampir saja nyawa ini melayang. Untung ada Bhok Siau ongya dan Liu Loenghiong yang datang memberikan pertolongah….”

Mendengar keterangannya, orang-orang Tian-te hwee langsung tertegun.

Oh, Ci samko, rupanya hari itu kau diserbu orangnya pengkhianat bangsa Go Sam-kui itu…” seru Hoan Kong.

“Benar! Rombongan pengkhianat itu menyerbu toko obatku dan menawan aku,” kata Tian Coan memberikan keterangan lebih jauh. “Yo It-hong si anjing buduk itu mencaci maki aku dengan serabutan dan mulutku juga ditempel dengan koyo, katanya biar aku si kunyuk tua mati kelaparan!”

Mendengar disebutnya nama Yo It-kong, Hoan Kong dan yang lainnya tidak sangsi lagi bahwa perbuatan itu dilakukan oleh begundalnya Go Sam-kui. Mereka langsung menghadap Sou Kong dan Pek Han-hong untuk menyatakan maaf.

“Kami mohon maaf atas kelancangan kami yang sembarang menuduh kemarin ini! Kenyataannya kalian demikian baik hati. Kami pihak Tian-te hwe sangat bersyukur karenanya!”

“Tidak apa-apa,” sahut Sou Kong. “Kami tidak berani menerima pernyataan maaf kalian. Kami hanya bekerja atas perintah Siau ongya dan kami tidak berani menyebut diri kami telah berjasa dalam hal ini.”

Suara Han Hong terdengar tawar. Hal ini membuktikan dia sendiri tidak puas menolong Ci Tian coan. Rupanya dia masih ingat kematian saudaranya, Pek Han-siong.

’Siau ongya cerdas sekali,’ pikir Siau Po dalam hatinya. Dia sudah mengerti duduknya persoalan Ci Tian-coan yang menyebabkan kesalah pahaman dengan pihak Bhok ongya. ’Aku telah menahan adik perempuannya. Sekarang dia menolong Ci samko. Apakah dia mempunyai maksud tertentu agar aku melepaskan adiknya? Sementara ini, biarlah aku pura-pilra tidak tahu, biar aku lihat dulu perkembangannya…!’

Karena itu, dia hanya berdiam diri. Ketika itu para pelayan, mulai menyuguhkan arak dan hidangan. Kiam Seng mempersilahkan para tamu untuk mulai bersantap. Pihak Tian-te hwe menerima baik serta mengucapkan terima kasih.

Mereka langsung minum dan bersantap tanpa ragu-ragu lagi. Apalagi di sana ada Tian Coan dan Tay-hong, tidak.mungkin mereka berniat buruk.

Setelah minum tiga cawan, Liu Tay-hong mengelus kumis dan janggutnya. Kemudian terdengar dia bertanya.

“Para laote sekalian, siapakah yang menjadi pemimpin kalian di kotaraja ini?”

“Di kotaraja ini,” sahut Hoan Kong. “Orang kami yang paling tinggi kedudukannya ialah Wi Hiocu!”

“Bagus!” kat a Liu Tay-hong. Dia meneguk arak kembali. “Sekarang aku ingin tahu, apakah Wi Hiocu dapat bertanggung jawab dalam urusan perselisihan yang terjadi antara pihak Tian-te hwe dengan kami?”

Siau Po belum paham apa maksud pihak Bhok ongya, karena itu dia segera mendahului menjawab.

“Lopek, kalau kau hendak membicarakan sesuatu, utarakanlah langsung! Aku, Wi Siau-po, bahkan masih kecil, kalau urusan kecil aku bisa bertanggung jawab, tapi kalau urusan besar, aku tidak sanggup memikulnya!”

Mendengar kata-kata Siau Po, kedua pihak sama-sama terkejut. Mereka mengerutkan alisnya sambil berpikir.

’Cara omong bocah ini benar-benar serampangan, sudah tentu dia ingin mengingkari kebaikan orang. Ucapannya tidak seperti orang gagah!’

Terdengar Liu Tay-hong berkata lagi.

“Kalau kau tidak bisa bertanggung jawab, urusan ini tidak dapat diselesaikan. Oleh karena itu laote, harap kau sampaikan kata-kataku kepada gurumu, Tan cong-tocu. Supaya gurumu itu yang datang sendiri untuk membereskannya!”

“Untuk urusan apakah Lopek ingin bicara dengan guruku?” tanya Siau Po. “Tapi, baiklah. Lope tulis saja sepucuk surat, nanti kami menyuruh orang menyampaikannya.”

Orang tua she Liu itu tertawa datar.

“Kau ingin tahu apa urusannya?” tanyanya menegaskan. “Urusan kematian saudara Pek Ha siong di tangan Ci samya! Bagaimana urusan ini harus diselesaikan? Dalam hal ini, kami ingin meminta pendapat Tan congtocu. Itulah maksud kami mengundangnya!”

Mendengar sampai disini, Ci Tian Coan langsung berdiri.

“Bhok siau ongya dan Liu Loenghiong,” katanya dengan suara gagah. “Kalian telah menolong aku dari tangannya si pengkhianat bangsa. Dengan demikian aku terbebas dari siksaan. Bagiku, hal ini membuat aku bersyukur dan berterima kasih sebanyak-banyaknya. Mengenai urusannya Pek tayhiap, dia terbinasa di tanganku. Dalam hal ini, aku bersedia mengganti satu jiwa dengan satu jiwa pula. Aku bersedia menyerahkan jiwa tuaku ini. Oleh karena itu, aku minta Siau ongya dan Liu Loeng-hiong jangan menyulitkan Wi hiocu dan Tan congtocu kami. Saudara Hoan, pinjamkanlah golokmu padaku!”

Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut golok Hong Kong. Rupanya Ci Tian-coan ingin membunuh diri untuk menyelesaikan urusan ini.

“Tahan!” cegah Wi Siau-po. “Ci samko, sabarlah. Kau duduklah dulu! Jangan samko emosi. Kau sudah berusia lanjut, mengapa pikiranmu begitu pendek? Aku menjadi hiocu Ceng-bok tong dari perkumpulan Tian-te hwe, bukan? Kalau kau tidak mendengar kata-kataku, berarti kau melanggai perintah dan kau tidak menghormati aku sebagai ketuamu!”

Orang-orang Tian-te hwe paling takut mendengar kata ’tidak mendengar perintah!’. Tidak terkecuali Ci Tian-coan yang sudah berusia lanjut itu. Bergegas dia menjura kepada Siau Po dan berkata.

“Ci Tian-coan sadar atas dosanya. Sekarang Tian Coan akan mendengar perintah hiocu!”

Siau Po merasa puas. Terdengar dia berkata.

“Pek tayhiap sudah menutup mata, seandainya Ci samko mengganti dengan selembar jiwanya, Pek Tayhiap tetap tidak akan hidup kembali. Karena itu kalau kita bicara soal ganti mengganti, urusan ini saja tidak dapat diselesaikan!”

Pandangan semua orang segera beralih kepada Siau Po. Kata-katanya sungguh luar biasa. Mereka ingin tahu apa lagi yang akan dikatakannya.

’Mungkinkah nanti dia mengoceh tidak karuan?’ Tentu saja pihak Tian-te hwe yang paling mengkhawatirkan hal ini. Malah ada seseorang yang berkata dengan suara lirih:

’Nama Tian-te hwee dalam dunia kangouw sudah terkenal sekali. Tidak sepantasnya hancur di tangan hiocu cilik yang belum tahu apa-apa ini. Kalau dia mengoceh sebarangan, kelak di kemudian hari, kita tentu tidak mempunyai muka lagi untuk bertemu dengan orang lain!”

Siau Po seakan tidak memperdulikan sikap para hadirin ataupun rekan-rekannya yang menatap padanya dengan pandangan cemas. Dia melanjutkan kata-katanya, kali ini kepada Bhok Kiam Seng.

“Siau ongya,” demikian katanya. “Kali ini Siau ongya datang ke kotaraja dari lnlam yang jauh, berapa orangkah yang Siau ongya bawa? Apa semuanya sudah hadir di sini? Bukankah masih kurang beberapa orang?”

Kiam Seng merasa heran mendengar kata-kata si bocah.

“Hm!” Dia mendengus dingin. “Wi hiocu, apa maksud kata-katamu barusan?”

“Tidak banyak artinya, Siau ong-ya,” sahut si bocah cilik seenaknya. “Jiwa Siau ongya sangatlah berharga, lain dengan jiwaku, Wi Siau-po yang tidak ada artinya ini. Karena jiwa Siau ongya sangat berharga, berbahaya sekali kalau Siau ongya membawa orang yang terlalu sedikit untuk melindungimu. Bagaimana kalau kurang waspada, Siau ongya ditawan oleh penjahat bangsa Tatcu? Bukankah hal akan menjadi kerugian besar dan sama sekali tidak boleh terjadi?”

Bhok Kiam-Seng menatap bocah di depannya dengan pandangan tajam. Alisnya menjungkit ke atas.

“Kawanan anjing bangsa Tatcu hendak menawan aku?” tanyanya dengan nada sinis. “Tidak semudah apa yang kau katakan, Wi hiocu!”

Siau Po tertawa.

“Memang ilmu silat Siau ongya tinggi sekali,” katanya. “Di seluruh negeri ini, mungkin sulit lagi mencari tandingannya. Jarang sekali ada orang yang sanggup melawan Siau ongya. Mungkin bangsa tatcu tidak sanggup menawan Siau ongya, tapi bagaimana dengan orang lainnya? Anggota lain dari Bhok onghu maupun sahabat-sahabat Siau ongya, belum tentu selihay Siau ongya sendiri. Bagaimana kalau di antara mereka ada yang jatuh ke tangan bangsa Tatcu? Bukankah kejadian itu akan membawa kesusahan dalam hati ong-ya?”

Wajah si pangeran muda itu langsung berubah hebat. Dia pasti tidak merasa puas.

“Wi hiocu!” bentaknya dengan suara keras “Apakah hiocu sedang menyindir aku?”

“Tidak, Siau ongya. Sekali-sekali tidak!” sahut Siau Po tenang. “Bukan begitu maksudku, seumurku ini, aku sudah sering dihina orang, tetapi aku sendiri tidak pernah menghina siapa pun. Orang telah mencekal lenganku. Nah, lihatlah sendiri buktinya. Ketika itu aku benar-benar kesakitan sehingga seperti mengalami kematian lalu hidup kembali. ltulah akibat perbuatan Pek jihiap yang tenaga dalamnya tidak ada tandingann. Lebih-lebih dua jurus Heng-sau Ciang kun dan Kao-san Liu Sui yang hebat luar biasa! Kalau kedua jurus ini dipakai untuk menolong sahabat kalian, tentu sangat tepat dan akan berhasil dengan baik. Apalagi kalau dipakai untuk menyambar sesuatu, misalnya kambing atau kerbau, tentu akan lebih berhasil lagi!”

Wajah Pek Han-hong menjadi merah padam. Dia merasa malu sekaligus mendongkol. Hampir saja dia mengumbar hawa amarahnya, tetapi untunglah dia masih bisa mengendalikan diri.

Bhok Kiam-seng segera menolehkan kepala dan melirik sekilas kepada Liu Tay-hong. Dia merasa ucapan hiocu dari Tian-te hwe ini mengandung makna yang dalam.

“Saudara kecil,” Liu Tay-hong segera berkata, “Perkataanmu itu mempunyai maksud yang dalam sekali sehingga sukar bagi kami untuk menjajakiya. Saudara kecil, maafkan kami yang masih kurang mengerti!”

Sebaliknya, Wi Siau-po tetap tertawa.

“Liu loyacu terlalu sungkan!” sahutnya. “Tidak sanggup aku menerima penghargaan yang terlalu tinggi. Sebetulnya ucapanku dangkal sekali dan tidak berarti apa-apa!”

“Saudara kecil,” kata Liu Tay-ong kembali. “Kalau tidak salah, kau bermaksud mengatakan bahwa ada orang kami yang telah ditawan oleh bangsa Tatcu, bukankah begitu? Atau, kau mempunyai maksud yang lain?”

“Tidak ada maksud lainnya sama sekali,” sahut Siau Po. “Bhok siau ongya, Liu loenghiong, anggap saja aku sudah minum arak terlalu banyak sehingga mabuk dan ucapanku jadi ngelantur yang bukan-bukan!”

“Hm!” terdengar lagi Bhok Kiam-seng mendengus dingin. “Wi hiocu, kedatanganmu kemari ternyata hanya untuk bergurau dan menyakiti orang? Atau kau sedang mencari hiburan?”

“Oh, Siau ongya,” sahut Siau Po. “Rupanya Siau ongya hendak mencari hiburan? Apakah di kotaraja Siau ongya belum pernah berpelesiran kemana-mana?”

Kiam Seng semakin heran.

“Bagaimana? Apa yang kau maksudkan?” tanyanya.

“Kotaraja ini luas sekali,” kata Siau Po. “Ibukota Kun Beng di Propinsi Inlam kalian tidak_seluas kotaraja ini, bukan?”

Hati pangeran muda ini semakin panas.

“Memangnya kenapa?” tanyanya dengan jengkel.

Hoan Kong juga bingung mendengar kata-kata ketuanya yang tidak karuan. Karena itu dia membuka suara.

“Memang kota Peking ini merupakan kota yang besar dan indah sekali. Sayangnya diduduki oleh bangsa Tatcu! Kita adalah orang-orang yang berdarah panas, tidak ada seorang di antara kita yang tidak menjadi marah karenanya!”

“Siau ongya telah mengundang kami menghadir perjamuan ini, kebaikan ini tidak dapat kami membalasnya. Karena itu, kami ingin melakukan sesuatu. Kapankah kiranya Siau ongya mempunyai waktu luang? Aku ingin mengajakmu berpelisir. Kalau ada orang yang kenal baik wilayah ini, tentu Siau ongya tidak akan kesasar. Sebaliknya kalau Siau ongya pergi sendiri berjalan-jalan, lalu tanpa sengaja salah masuk ke dalam istana raja Boan, walaupun Siau ongya berkepandaian tinggi, urusannya bisa gawat sekali….”

“Saudara kecil, di dalam kata-katamu tentu tersembunyi maksud lainnya!” tukas Liu Tay-hong. “Saudara kecil, kita adalah orang-orang sendiri. Ada apa-apa, silahkan kau katakan terus-terang saja!”

Orang tua yang lihay ini menerka ada sesuatu yang penting, karena itu dia bersikap sabar.

“Tidak ada yang lebih jelas lagi dari kata-kataku ini !” sahut Siau Po. “Para sahabat dari Bhok Siau ongya sangat lihay kepandaiannya, terlebih-lebih kedua jurus Heng-Sau Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui. Tidak ada yang sanggup menandinginya. Tapi, di kotaraja, kalau orang pergi berpesiar tapi tidak tahu jalan, mungkin dia bisa keliru masuk Ci-kim Sia, kota terlarang itu!”

Liu Tay-hong dan Bhok Kiam-seng saling memandang sekilas. Mereka mengganggap tamunya ini aneh.

“Lalu bagaimana baiknya?” tanya Tay Hong.

“Menurut apa yang kudengar,” sahut Siau Po. “Kota terlarang mempunyai banyak pintu. Satu persatu seperti seperti jumlah pendopo-pendopo di dalamnya. Siapa yang jalan di dalam Kota Terlarang, apabila tanpa Raja atau permaisuri yang menunjukkan jalan, mudah sekali orang tersesat. Bahkan ada kemungkinan kesasar dan tidak bisa keluar lagi untuk seumur hidup! Aku adalah seorang bocah yang tidak berpengalaman, karena itu aku juga tidak tahu, ada atau tidak kemungkinan Raja ataupun permaisuri menjadi penunjuk jalan di malam gelap gulita. …. Bisa jadi, dengan nama besar Bhok siau ong-ya, si raja cilik atau si nenek sihir menjadi ketakutan dan bersedia menjadi petunjuk jalan. Hal ini sukar dikatakan!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: