Kumpulan Cerita Silat

17/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 07

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:44 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 07
Kesetiaan Kawan
Oleh Gu Long

Coa Tiong duduk di atas sebuah bangku yang terbuat dari empat batang kayu dengan selembar kain terpal, memandang orang-orang yang berlalu-lalang di tengah jalan, wajahnya tampak suram dan selalu murung, setiap orang dapat melihat bahwa sikapnya hari ini kurang begitu baik.

Sebenarnya Siau-ko sudah menjadi katak dalam tempurung, ikan di dalam jala, siapa sangka di saat yang paling akhir mangsanya berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya.

Hal ini mungkin dikarenakan kesuksesan yang selalu dicapai dalam setiap operasinya, keberhasilan yang selalu diperoleh dengan cepat, maka barulah tercipta keteledoran seperti ini.

Padahal selama beberapa hari ini dia tak pernah sedetikpun melupakan Cu Bong.

Dia tahu Cu Bong belum meninggalkan Lok-yang hingga sekarang, bila dia berniat untuk mencarinya, sudah pasti dapat ditemukan dengan cepat.

Hingga kini dia tidak pergi mencarinya, hal tersebut bukan dikarenakan dia sungkan dengan sahabat lamanya, melainkan dia tak berani berbuat demikian.

Sekarang, walaupun ia telah menggantikan kedudukan Cu Bong, namun dalam dasar hatinya dia masih tetap menaruh semacam perasaan takut dan ngerinya terhadap Cu Bong yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Di bawah bimbingan dan pimpinan Cu Bong selama banyak tahun, perasaan jeri dan takut itu sudah lama mengakar di dalam hati kecilnya.

Hingga kini setiap kali teringat akan Cu Bong, seluruh badannya akan menjadi dingin, peluh dingin akan membasahi seluruh badannya.

Kadangkala di tengah malam pun dia akan terbangun dari impian buruk dan menjumpai seluruh badannya telah basah kuyup oleh peluh dingin yang bercucuran.

Dia hanya berharap Cu Bong datang mencarinya.

Di sepanjang jalanan dia sudah mempersiapkan perangkap dan jebakan yang mematikan, asal perintah diturunkan, segenap orang-orangnya akan bermunculan dan menyerang dengan cermat.

Dalam keadaan demikian, biarpun Cu Bong berada pada kondisi badan yang paling top pun, dia tak akan berhasil untuk meloloskan diri.

Itulah sebabnya saban hari dia pasti duduk di situ untuk menjual kueh, karena dia mempergunakan diri sebagai umpan untuk memancing Cu Bong si ikan besar.

Betul tindakan tersebut agak berbahaya, tapi asal Cu Bong masih hidup, maka jangan harap dia bisa melewati sisa hidupnya dengan aman dan tenteram.

—–

Tempat tersebut merupakan sebuah jalan raya yang ramai, di situ terdapat rumah makan, terdapat toko, terdapat pula pasar, maka sejak pagi hari jalanan tersebut sudah penuh dengan manusia yang berlalu-lalang. Suasana pada dua hari terakhir ini sedikit agak berbeda, sebab paling tidak setengah dari orang-orang yang berada di jalanan tersebut adalah orang-orang pihaknya.

Diantara mereka bukan saja banyak terdiri dari anggota lama Hiong-say-tong, juga terdapat pembunuh-pembunuh bayaran yang khusus di undang dari jauh.

Mereka adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang berdarah dingin, bersedia membunuh siapapun saja dengan imbalan uang.

Cu Bong belum pernah bertemu dengan orang-orang tersebut, sedangkan merekapun tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Cu Bong.

Sekalipun orang-orang bekas anggota Hiong-say-tong seperti juga dirinya, masih menaruh perasaan jeri terhadap Cu Bong, tentu saja di saat turun tanganpun menaruh perasaan jeri, tapi berbeda dengan pembunuh-pembunuh bayaran tersebut, mereka tak akan mengenal siapa saja termasuk terhadap sanak keluarganya sendiri.

Teringat akan hal ini, perasaan Coa Tiong baru terasa agak legaan, tapi pada saat itulah dia melihat ada seseorang berjalan masuk ke dalam jalan raya itu.

“Siau-ko, Ko Cian-hui”

Hampir saja Coa Tiong tidak percaya dengan pandangan mata sendiri.

Orang yang kemarin baru lolos dari kematian, ternyata saat ini khusus datang lagi untuk menghantar kematian sendiri.

Siau-ko hanya mengenakan selembar celana pendek yang tipis dengan membawa jubah panjangnya di atas bahu.

Wajahnya berubah merah karena kedinginan, matanyapun nampak merah darah, agaknya sudah cukup lama ia tak bisa tidur dengan nyenyak.

Namun semangatnya justru kelihatan segar, gerak-geriknya pun amat mantap, tak jauh berbeda seperti orang-orang lain yang keluar rumah untuk mencari sarapan.

Orang-orang yang sudah mengenalnya sama-sama membelalakkan mata dan memandang ke arahnya dengan terkejut, hawa napsu membunuh telah menyelimuti sorot mata mereka.

Menghadapi situasi demikian ini, Siau-ko sama sekali tidak menggubris, bereaksi pun tidak.

Orang-orang yang berada di tepi jalan sudah mulai bersiap sedia melancarkan serangan, tapi anehnya ternyata Coa Tiong belum menurunkan komandonya, dia seperti membiarkan Siau-ko berjalan menghampiri ke hadapannya.

Akhirnya Siau-ko menghentikan langkahnya di depan meja kecil yang dipakai Coa Tiong menjual kueh. Di atas meja sudah tersedia beberapa potong kueh yang ditutup dengan kain.

Siau-ko melemparkan dua benggol uang tembaga ke meja, lalu menatap wajah Coa Tiong lekat-lekat.

“Aku akan membeli kuehmu dua benggol, tolong beri kueh yang ada buahnya.”

Coa Tiong balas menatap Siau-ko, lama sekali, tiba-tiba ia baru berkata sambil tertawa: “Kau benar-benar datang untuk membeli kueh.”

“Apa sih yang diherankan? Apa pula yang menggelikan?”

“Ya, memang tidak menggelikan, sedikitpun tidak menggelikan,” sahut Coa Tiong, “kenyataan semacam ini sepantasnya bila disambut dengan isak tangis yang paling memedihkan hati.”

“Lantas mengapa kau belum menangis?”

“Karena yang seharusnya menangis bukan aku, tapi kau!”

“Oya?”

“Tahukah kau, begitu perintah kuturunkan, bisa jadi kau akan menjadi landak dengan cepat, paling tidak di atas tubuhmu akan muncul tujuh delapan belas buah lubang yang mengucurkan darah seperti kantong air yang berlubang.”

“Oya?”

“Tapi sekarang kau masih hidup, tahukah kau mengapa kau dapat hidup hingga kini?” tanya Coa Tiong.

“Aku tidak tahu.”

“Sebab aku ingin sekali bertanya kepadamu, sesungguhnya mau apa kau datang kemari? Menjadi perantaraannya Cu Bong untuk membicarakan syarat-syarat denganku? Ataukah mohonkan ampun bagi keselamatan jiwanya?”

Siau-ko menatap wajahnya lekat-lekat, memandang sampai setengah harian lamanya, mendadak ia menghela napas panjang.

“Aaaai……. apakah rahasia hati orang lain tak pernah bisa mengelabui dirimu?”

Coa Tiong kembali tertawa.

“Padahal Cu Bong boleh datang sendiri kemari, bagaimanapun juga kita toh pernah bersaudara,” ucapnya dengan sungguh-sungguh, “asalkan syaratnya tidak kelewatan, apa saja yang dia inginkan, aku tetap akan mengabulkannya.”

“Sungguh?”

“Tentu saja sungguh, sesungguhnya aku sendiripun tak ingin beradu syaraf terus dengannya, bagaimanapun juga kita toh tetap saudara sendiri, bila sesama saudara saling gontok-gontokan terus, akhirnya kedua belah pihak sama-sama terluka dan orang lainlah yang mendapat untung, apa manfaatnya buat kita?”

“Ya, betul! Memang sama sekali tak ada manfaatnya.”

“Itulah sebabnya kau boleh kembali dan sampaikan maksudku ini kepadanya, aku yakin kau pasti dapat merasakan juga kesungguhan hatiku ini.”

“Tentu saja aku dapat merasakannya,” ucap Siau-ko, “hanya saja aku tetap merasa sedikit agak keheranan.”

“Apanya yang mengherankan?”

“Apakah kau tak pernah membayangkan bahwa aku datang mewakili Cu Bong untuk membunuhmu?”

Coa Tiong segera tertawa, bahkan di balik sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu pun mengandung senyuman.

“Kau adalah orang pintar, mana mungkin kau akan berbuat demikian?” serunya, “semua orang yang berada di jalanan adalah orang-orangku, asal kau turun tangan, mungkin saja aku dapat terbunuh, tapi akibatnya kau sendiripun akan mampus.”

“Aku percaya, dalam hal ini akupun dapat melihatnya sendiri,” kata Siau-ko.

“Kau masih muda, masa depanmu masih panjang, lagi pula kaupun tidak mempunyai hubungan persahabatan yang kelewat mendalam dengan Cu Bong, buat apa mesti menjual nyawa baginya?”

Coa Tiong menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa, kemudian terusnya: “Tentu saja kau tak bakal melakukan perbuatan seperti ini.”

Siau-ko turut tertawa.

“Perkataanmu memang tepat sekali, hanya manusia paling tolol di dunia ini yang akan melakukan perbuatan seperti ini.”

Coa Tiong tertawa makin tergelak, tertawa semakin gembira.

Di saat dia sedang tertawa paling riang itulah, mendadak tampak sekilas cahaya hijau yang tipis berkelebat lewat, tahu-tahu sebilah pedang yang tajam telah menembusi ulu hatinya.

Senyuman yang semula menghiasi wajahnya mendadak berubah kaku, seperti ada selembar topeng kulit manusia yang ditempelkan di atas wajahnya.

Dalam detik yang amat singkat itu, segenap suara dan kegiatan seolah-olah turut menjadi beku dan kaku. Tapi sesaat kemudian menjadi kegaduhan yang luar biasa, membuat suasana sepanjang jalan raya itu berubah menjadi kalut bagaikan mie kuah di kuali.

Satu-satunya orang yang masih bisa mempertahankan ketenangannya hanya Siau-ko seorang.

Dia memang khusus datang ke situ untuk berbuat demikian, sebab dia beranggapan persoalan ini wajib dilakukan olehnya, berhasil atau gagal, mati atau hidup, sudah tak pernah dipikirkan lagi olehnya.

Kini tugasnya kewajibannya telah ditunaikan dengan baik, diapun telah menyaksikan akhir dari seorang pengkhianat, maka masalah yang lain tidak terpikirkan lagi olehnya.

Biarpun dia tak ambil perduli, tapi ada orang yang justru memperhatikan persoalan itu dengan serius.

—–

Di tengah kekalutan dan kegaduhan yang menyelimuti seluruh jalan raya, di saat orang-orang yang berkumpul disekitar tempat itu belum sempat turun tangan melakukan terjangan, mendadak……..

Sesosok bayangan manusia tiba-tiba saja melayang turun dari tengah udara dengan kecepatan tinggi.

Bagaikan burung Rajawali yang menyambar mangsanya, bayangan manusia itu melayang turun di sisi Siau-ko dan menyambar tangan si anak muda itu.

“Dia adalah sahabatku,” dengan suara yang lantang bagaikan pekikan singa jantan, Cu Bong berseru, “bila kalian hendak mengusiknya, bunuhlah aku lebih dulu!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: