Kumpulan Cerita Silat

17/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (32)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:40 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (32)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Tapi arah yang dituju oleh tapak kaki itu justru menjurus ke sebelah kanan.

Kalau sekarang Po-giok harus mampir ke pondok bintang kecil, lalu bertolak balik menuju ke jalan sebelah kanan, sukarnya mungkin seperti memanjat ke langit, apalagi Ciang-Jio-bin sudah mati di tangannya, siapa tahu kalau di balik surat peninggalan ini ada rencana jahat, perangkap yang akan membahayakan jiwanya? Siapa berani menjamin bahwa di Pondok Bintang Kecil tiada perangkap?

Kondisi badannya sudah payah, umpama ia masih mampu berjalan setelah mampir ke Pondok Bintang Kecil, sisa tenaga yang masih ada jelas tambah lemah lagi, lalu dapatkah dirinya menghadapi ujian dua jurus serangan yang mematikan itu?

Po-giok bimbang, tidak tahu ke arah mana dirinya harus meneruskan perjalanan, ke kiri dulu atau langsung ke arah kanan?

Kalau ke arah kiri dulu, apakah dirinya mampu bertolak balik ke arah kanan, hal ini masih merupakan teka-teki, mungkin sekali tiada kesempatan lagi. Tapi kalau langsung ke arah kanan, kesempatan mempertahankan hidup juga sudah mendesak di depan mata, itu berarti tugas untuk menyerahkan surat peninggalan Ciang-Jio-bin kepada penghuni pondok bintang kecil terpaksa harus diabaikan, mengingkari janjinya terhadap Ciang-Jio bin.

Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, gumamnya, “Pui-Po-giok, wahai Pui-Po-giok, Ciang-Jio-bin berani mati karena percaya kamu akan menunaikan pesannya, lalu kenapa kau takut mati dan tidak berani mempertaruhkan jiwa ragamu untuk menepati janjimu?

Sambil mengertak gigi akhirnya Po-giok melangkah ke arah Pondok Bintang Kecil.

Tempat macam apakah sebetulnya Pondok Bintang Kecil.

Kalau Pondok Bintang Kecil berada dalam Pek-cui-kiong, apakah pondok ini juga termasuk di bawah kekuasaan Pek-cui-kiong? Demikian pula penghuni atau pemilik Pondok kecil ini juga Pek-cui-kiong?

Malas Po-giok memikirkan hal ini, karena ia tahu umpama dipikir juga percuma, tidak akan memperoleh jawaban.

Namun ia sudah menyadari dan mendapatkan bahwa jalan di dalam gua raksasa ini, semuanya serba megah, warna-warni dan semarak, gua ini berarti sengaja diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk tempat para dewa dan dewi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil, ternyata tidak jauh berbeda dengan jalanan umum yang dapat ditemukan di mana-mana, jalan yang gelap lagi lapang dan biasa.

Po-giok merasakan begitu berjalan di jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil seolah-olah dirinya kembali lagi ke jalan yang menuju surga.

Walau Pondok Bintang Kecil berada dalam gua misterius di Pek cui-kiong, tapi seolah olah berada di suatu dunia yang tersendiri, dalam suasana yang berbeda, di suatu tempat yang lepas dari ruang lingkup kemisteriusan Pek-cui-kiong.

Mungkin maju ke depan, makin dekat dengan Pondok Bintang Kecil itu, lebih nyata lagi Po-giok merasakan bahwa dugaannya benar.

Sekarang Po-giok sudah melihat jelas, Pondok Bintang Kecil di depannya ini adalah sebuah rumah gubuk yang tidak banyak bedanya dengan rumah petak yang terdapat di kampung halamannya, kampung di mana dirinya dibesarkan. Keadaan gubuk mungil yang satu ini jelas jauh berbeda, berbeda secara menyolok dengan segala kemegahan, keajaiban gua yang semarak dan serba misteri ini.

Pondok kecil mungil itu didirikan di tempat tinggi, ada tangga batu yang menjurus naik ke atas tepat ke arah pintu.

Pintu gubuk mungil itu tertutup rapat, ada cahaya lampu dari dalam yang menyorot keluar dari celah-celah pintu.

Selangkah demi selangkah Po-giok beranjak ke atas, setiap kali melangkah ke atas selalu bertambah satu tanda tanya dalam hatinya.

Kalau Pondok Bintang Kecil ini lepas dari kekuasaan Pek-cui-kiong, lalu siapa pemilik dan penghuninya? Mungkinkah Pek-cui-kiong memberi izin untuk orang luar bertempat tinggal di sini?

Setelah menenangkan hati, akhirnya Po-giok tarik suara, “Adakah penghuni Pondok Bintang Kecil di rumah?”

Tiada suara sahutan, tapi di dalam pondok terdengar suara ramai mirip ombak yang mendampar bertubi-tubi.

Po-giok maju belasan langkah lebih dekat, kembali ia berteriak, “Aku mendapat titipan untuk menyampaikan surat dan harus diserahkan langsung kepada penghuni Pondok Bintang Kecil.”

Mendadak ada suara orang dari dalam Pondok mungil itu.

Setelah menghela napas rawan, seorang berkata dengan suara pedih, “Penghuni Pondok Bintang Kecil ini sudah mati.”

Jelas itu suara perempuan.

Suara merdu enak didengar namun nadanya mengandung rasa sedih dan dingin.

Nada yang dingin tapi suaranya merdu, keruan Po-giok melengong.

“Sudah mati?” teriaknya kaget.

Suara merdu itu tidak menjawab. Po-giok memang tidak mengharap jawabannya, perlahan ia menarik napas panjang, ia menunggu gejolak perasaannya tentram, rasa kecewanya pun lenyap.

Agaknya kedatangannya menjadi sia-sia, padahal betapa berat tadi ia mengambil keputusan, kenyataan pengorbanannya tak berguna sama sekali.

perlahan ia membalik dan menuruti anak tangga, karena surat titipan itu harus langsung diserahkan kepada penghuni Pondok Bintang Kecil, kini penghuni pondok itu sudah mati, terpaksa ia harus meninggalkan tempat ini dengan perasaan kecewa.

Tapi setelah turun beberapa langkah, Po-giok menolak serta bertanya, “Lalu … nona, engkau …siapa?”

Kalem suara itu menjawab, “Aku adalah penghuni pondok mungil ini.”

Hampir saja Po-giok berjingkrak, teriaknya kurang tenang “Kenapa engkau menggodaku?”

“Menggodamu?” jengeknya itu dingin, “orang yang sudah mati mana bisa menggoda orang?”

Kaget lagi gusar Po-giok, “kau … kau …”

“Aku sudah mati!” tawar suara itu, “Kini aku hanya sukma …”

Tanpa pikir Po-giok menerjang ke sana.

Gubuk itu memang kecil saja, dibangun dengan dinding batu hijau, meja dan kursi juga dari batu hijau, keadaan serba sederhana, tiada sesuatu yang istimewa, tapi dalam rumah justru dipenuhi hawa dingin yang menyeramkan orang.

Gubuk mungil ini ternyata diliputi hawa kematian yang mencekam perasaan.

Begitu berada dalam rumah ini, tanpa terlihat Po-giok bergidik, kaki pun berhenti dengan segera.

Tampak di depan ada sebuah jendela kecil yang terbuka, hembusan angin lembab berbau amis dan asin meniup masuk dari luar jendela, demikian pula gemuruh damparan ombak terdengar di bawah sana.

Melongok keluar dari jendela kecil orang akan melihat langit nan biru, bergumpal-gumpal mega putih terapung di angkasa, halimun juga terhembus angin masuk ke dalam rumah, seorang gadis tengah berdiri terlongong mengawasi mega.

Gadis ini berdiri membelakangi pintu, berpakaian sari warna hitam, rambutnya yang hitam gelap melambai dihembus angin, demikian pula kain sari yang membungkus tubuhnya juga menari-nari dimainkan angin.

Tapi gadis ini berdiri tegak seperti patung, seolah-olah sejak jaman dulu ia sudah berdiri di situ, hawa kematian yang serba misteri dalam rumah ini justru teruar dari badannya.

Mengawasi bayangan gadis baju hitam, Po-giok juga berdiri diam tanpa bergerak. Memang, kalau benar ada sukma gentayangan di dunia ini, maka gadis bersari hitam yang berdiri di depannya inilah adanya.

Secara gaib gadis ini seperti terbungkus oleh suasana serba hitam gelap, hanya pelipisnya saja yang sewaktu-waktu kelihatan putih bila rambutnya yang panjang tersingkap karena hembusan angin, kulit tubuhnya yang putih halus, begitu indah laksana batu jade.

Walau Po-giok susah melihat wajahnya, tapi secara langsung ia merasakan adanya daya menarik dan misteri secara kuat menyedot keinginannya untuk mendekatinya.

Tanpa bergerak dan tidak menoleh gadis itu berkata pula tawar, Pondok Bintang Kecil adalah tempat kediaman sukma gentayangan, kenapa kau datang kemari?”

“Kedatanganku untuk menyampaikan sepucuk surat,” sahut Po-giok.

“Surat? Untuk siapa?” tanya gadis baju hitam.

“Engkau …penghuni Pondok Bintang Kecil ini.”

Dingin suara gadis baju hitam, “Mana ada manusia di dunia ini yang mau kirim surat kepada arwah?”

“Tapi …orang itu tidak tahu …”

“Siapa yang kau maksud?”

“Ciang-Jio-bin”

Mendadak gadis baju hitam menunduk diam, sayang Po-giok tidak bisa melihat perubahan air mukanya, sukar diketahui apakah roman mukanya berubah.

Sesaat kemudian, Po-giok bertanya pula “kau kenal Ciang-Jio-bin?”

“Sudah tentu kenal,” kalem dan perlahan suara gadis baju hitam, “hanya saja …dia sudah mati.”

“Jadi kau tahu kalau dia sudah mati?” tanya Po-giok dengan terbeliak.

“Kenapa aku tidak tahu?” gadis itu balas bertanya.

“kau … dari mana kau tahu?”

“Kalau dia belum mati, bukankah dia sendiri yang akan datang.”

“Lho, kenapa dia harus datang?”

“Dia ada janji denganku, sudah tentu pasti datang.”

“Tapi …mungkin lantaran ada persoalan lain sehingga dia tertunda datang, lalu bagaimana kau berani memastikan dia sudah mati.”

“Kecuali sudah mati, menghadapi persoalan apa pun dia pasti datang, karena … orang yang punya janji dengan dia adalah aku, bukan orang lain.”

Sampai di sini mendadak ia membalik badan. Wajah nan pucat penuh misteri, wajah yang cantik jelita kini berhadapan dengan Po-giok.

Bola matanya dengan kerlingannya yang tajam, cukup membuat setiap laki-laki normal berdegup jantungnya bila diliriknya, kini mata jeli dan bening itu tengah mengawasi Po-giok.

Sepatah demi sepatah ia berkata, “Kalau kamu ada janji dengan aku, kecuali mati, persoalan apa yang dapat merintangi kedatanganmu?…Adakah persoalan lain?”

Po-giok mengawasi kerlingan matanya yang bening dan tenang, di bawah tatapan mata yang indah ini, seolah-olah tiada mata gadis di dunia ini yang dapat membandinginya.

Bukan hanya cantik, tapi kerlingan matanya juga mengandung kecerdikan yang luar biasa, ketabahan dan keuletan yang tiada bandingan.

Sepasang bola mata ini seakan-akan serba tahu, mencakup segala persoalan yang ada di dunia ini tentang kehidupan manusia, lahir, dewasa, tua dan sakit lalu mati, tentang suka duka, puas, sedih dan gembira, di bawah tatapan matanya, semua itu akan berubah menjadi sepele dan pandir.

Di sinilah letak yang tak mungkin disamai oleh gadis lain. Siau-kong-cu sendiri yang menjadi pujaannya juga bukan apa-apa, kalau Siau-kong-cu dijajarkan dengan gadis lain, nona binal itu ibarat bocah cilik yang jenaka dan masih bodoh dan sebelum mengenyam pahit getirnya kehidupan.

Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, katanya dengan menunduk, “Betul, Ciang-Jio-bin memang sudah mati.”

“Dia sudah mati, maka aku pun sudah mati,” kalem dan tawar suara gadis baju hitam.

Suaranya tawar lagi datar, namun mengandung kepedihan dan duka cita yang tak terperikan.

Mendadak Po-giok angkat kepalanya, sekarang baru ia dapat melihat jelas kepedihan orang, mendadak terasakan pula oleh Po-giok, kecerdikan dan keceriaannya ternyata tergembleng dari kepedihan dan duka citanya itu.

Ciang-Jio-bin dianggap “bu-ceng”, tidak kenal kasihan, agaknya gadis ini lebih “bu-ceng” lagi, memangnya siapa yang tahu betapa mendalam perasaan mereka, begitu mendalamnya sehingga tak mungkin dijajaki lagi.

Kerlingan tajam gadis baju hitam tetap menatap Po-giok, lambat laun timbul perasaan heran dalam benak Po-giok. Padahal baru pertama kali ini ia melihat dan berhadapan dengan gadis asing ini tapi lama kelamaan dia merasakan dirinya seperti sudah kenal dan dekat dengannya.

Padahal gadis ini bak suatu benda suci yang berada di tempat paling atas, di tempat yang tidak mungkin diraih oleh tangan manusia, namun Po-giok merasakan gadis ini berada di sampingnya, begitu dekat seolah-olah dapat memeluknya, menghibur dan membujuknya supaya tidak sedih.

Tapi Po-giok hanya meraba-raba sampul surat dalam bajunya, sampul surat itu sudah basah dan menjadi kering, basah lagi dan kering, hingga menjadi kumal.

Po-giok berkata, “Apa pun yang terjadi, adalah pantas kalau aku menyerahkan surat ini kepadamu”

“Milikku atau milikmu, apa pula perbedaannya sekarang?”

“Apa …apa engkau tidak ingin membaca surat ini?”

“Kubaca boleh, tidak kubaca juga tidak menjadi soal, apa bedanya!”

“Tapi …surat ini sudah kubawa kemari kau ….”

“kalau begitu, tolong bacakan, cukup aku mendengar saja.”

“Hei, mana boleh begitu?”

“Kenapa tidak boleh?”

“Ini kan menyangkut rahasia pribadi kalian.”

“Rahasia pribadi apa, orang yang sudah mati masih ada rahasia pribadi apa.”

Sesaat lamanya Po-giok terlongong, setelah menghela napas ia rogoh keluar sampul surat serta membukanya. Diam-diam ia kuatir keringatnya membuat surat yang basah kering ini menjadi buram tulisannya dan tidak terbaca lagi, ia ingin mempertahankan dan menyimpan sampul surat ini dengan baik.

Karena sampul surat ini melambangkan sehidup semati, cinta murni yang abadi.

Tak pernah terpikir dan terbayangkan oleh Po-giok, bahwa sampul surat itu hanya berisi selembar surat putih kosong tanpa satu huruf pun di atasnya.

Secara prihatin dan penuh keiklasan Ciang-Jio-bin menyerahkan sampul surat itu kepadanya, surat ini ternyata hanya kertas kosong belaka.

Memegangi kertas surat putih kosong itu. Po-giok berdiri melongo.

Sikap gadis baju hitam tetap dingin kaku tanpa berubah, badan kasarnya memang belum mati, namun sanubarinya sudah lama mati, maka hanya berkata tawar, “Bagus sekali, akhirnya aku melihat suratnya itu.”

“Tapi …tapi surat ini …” Po -giok bingung.

“Makna surat ini kan cukup gamblang, aku juga sudah mengerti, sudah jelas seluruhnya.”

Terbelalak mata Po-giok, “Engkau , mengerti surat ini tidak tertulis satu huruf pun.”

“Tanpa membaca isi surat itu, aku sudah maklum dan mengerti maksudnya.”

“Apa maksudnya?” tanya Po-giok.

“Dia menyuruhmu menyerahkan surat ini padaku, tujuannya supaya aku dapat melihatmu.”

Tawar dan datar gadis ini bicara, tapi kaget Po-giok seperti disengat kalajengking, surat di tangannya hampir tak kuat dipegangnya lagi, “Melihatku?” pekiknya heran, “Kenapa harus melihatku?”

“Dalam hal ini, sudah tentu ada sebab musababnya.”

“Sebab apa, coba jelaskan?”

“Apa sebabnya, kelak akan kau tahu sendiri.”

“Kenapa tidak kau jelaskan sekarang?” desak Po-giok dengan lantang, “seperti juga dua orang yang terdahulu tadi, seolah-olah kau pun menyembunyikan sesuatu rahasia terhadapku. Persoalan apa yang kalian rahasiakan terhadapku?”

Gadis bersari hitam itu tidak menghiraukan pertanyaannya, tidak memedulikan kehadirannya lagi perlahan ia menggerakan kaki, bergerak lembut seperti sukma melayang ke luar, tinggal Po-giok berdiri terlongong di tempatnya.

Hati Po-giok amat ruwet, pikiran gundah.

Kenapa Ciang-Jio-bin berbuat demikian?

Apa dia menghendaki supaya aku menggantikan kedudukannya dalam sanubari gadis ini?

Tidak mungkin! Jelas tidak mungkin!

Jangankan gadis ayu ini mencintainya setengah mati, rela sehidup semati, siapa pun tak mungkin menggantikan dia, umpama aku …aku merasakan ada sesuatu yang ganjil antara aku dengan dia, sesuatu yang ganjil ini jelas bukan cinta asmara ….

Tahu-tahu gadis bersari hitam itu masuk kembali.

Membawa nampan yang berisi satu poci air dingin, juga berisi makanan, nampan itu ia taruh di depan Po-giok, “Silakan makan!”

Nada perkataannya seperti perintah, po-giok seperti tidak kuasa menolak perintahnya.

Apalagi keadaan Po-giok sekarang memang membutuhkan makanan yang disediakan ini.

Waktu makan dan minum, sedapat mungkin Po-giok melupakan segalanya.

Gadis bersari hitam itu juga membawa sebaskom air dingin dan satu potong handuk yang bersih dan masih baru.

Tanpa minta persetujuan Po-giok, gadis itu mulai menanggalkan pakaian padahal dalam menghadapi ujian berat tadi, mati pun Po-giok tidak membuka pakaian, anak muda itu, kini entah kenapa, sedikit pun Po-giok tidak membantah atau melawan, dia mandeh saja ditelenjangi.

Dengan handuk yang dibasahi air dingin, perlahan tapi meyakinkan gadis bersari hitam, membersihkan luka-luka di tubuh Po-giok yang melepuh terbakar, wajahnya dingin dan kaku, tapi gerak-geriknya tampak lembut dan hangat.

Air dingin itu mungkin sudah dicampur obat, terasa oleh Po-giok ketika handuk basah itu menyentuh kulitnya, terasa dingin nyaman, segar lagi enak menyentuh sanubarinya.

Betapapun dingin dan segar air dalam baskom itu, tetap tidak bisa membersihkan rasa sangsi Po-giok.

Hatinya tidak habis mengerti, gadis dingin yang gerak-geriknya seperti arwah gentayangan ini kenapa mau meladeni dirinya dengan sikap yang hangat, lembut lagi telaten?

Akhirnya tak terkendali rasa ingin tahu Po-giok, “kenapa ini kau lakukan? Apa karena datang mengantar surat itu?”

“Memangnya ada faedah apa surat itu terhadapku?”

“Ya, surat itu hanya kertas kosong ….” Po-giok menunduk.

“Ini kulakukan, karena aku bertemu denganmu.”

Terangkat kepala Po-giok, “Karena bertemu denganku? Tapi kenapa? … Kenapa?”

“Karena aku ingin bertemu denganmu.”

“Tapi kenapa kau ingin bertemu denganku?” desak Po-giok, “kau …engkau tidak kenal aku! Tidak kenal siapa aku.”

“kau kan Pui-Po-giok!”

Bergetar tubuh Po-giok, teriaknya kaget, “Engkau mengenalku! Dari … dari mana kau kenal aku?”

“Sudah tentu ada sebabnya.”

“Sebab apa?”

Gadis bersari hitam menaruh handuk basah, lalu berdiri, suaranya rawan memelas, “Sekarang, sebab apa pun tiada persoalan, sekarang tidak ada sebabnya lagi. Sekarang antara dirimu dan aku sudah tiada hubungan apa pun.”

Lalu perlahan ia membalik tubuh, suaranya berubah dingin, “Orang yang sudah mati, tidak mungkin punya hubungan dengan siapa pun.”

“Apa …apakah sebenarnya engkau ada hubungan sesuatu denganku?”

“Peduli apa pun hubungannya, apa yang ingin kulakukan untukmu sekarang sudah kulakukan semua, lebih baik kau ….”

“Aku tidak mengerti,” pekik Po-giok, “makin banyak ucapanmu, aku makin bingung ….”

“Hakikat dari persoalan ini tidak perlu kau ketahui, antara kau dan aku sudah tiada sangkut-paut, dan selanjutnya, kuharap engkau tidak akan memikirkan diriku, aku pun tidak akan memedulikan dirimu, karena ….”.

Dia menarik kain hitam di atas kepalanya untuk menutup wajahnya. “Karena orang mati takkan mengingat atau memikirkan seseorang lagi.”

Po-giok melompat bangun dan memburu ke sana, tapi mendadak ia berhenti lalu mundur dan duduk kembali di tempatnya dengan lesu.

Gadis sari hitam berkata, “Waktu Ciang-Jio-bin masuk ke istana tempo hari, dari tempatku ini ia melarikan diri, dari jendela ini, hanya jendela ini satu-satunya tempat yang dapat untuk meloloskan diri dalam istana ini, dia …setelah merawat luka-lukanya hingga sembuh, dia lompat ke bawah melalui jendela ini di luar jendela ada air laut ….air laut yang lembut …yang tidak akan mencelakai jiwa manusia …”

Po-giok menghela napas, “Sejak mula sudah aku duga tentu engkau yang menolongnya … Selama hayat kau hidup dalam kesepian, maka begitu bertemu dengan dia, kau pasrah dan menyerahkan jiwa ragamu kepadanya.”

“Dia memang laki-laki yang patut dihargai setiap gadis boleh menyerahkan diri kepadanya.”

“Betul, dia … dia memang laki-laki baik, seorang ksatria, tapi … tapi” mendadak Po-giok menggenggam tinju, suaranya keras, “Tapi engkau masih muda, kenapa tidak kau pertahankan hidupmu, ke … kenapa tidak berusaha?”

“Karena hatiku, semangat dan sukmaku sudah dibawanya pergi.”

“Lama Po-giok tepekur, “Jadi engkau sudah bertekad…”

“Ya, tekadku sudah bulat, tentang dirimu … aku anjurkan melompatlah dari jendela ini. Pek-cui-kiong bukan suatu tempat yang patut kau datangi, di sini hanya ada duka, lara, sengsara dan kesepian …”

Po-giok bergumam, “Sekarang aku bertambah tahu sedikit, Ciang-Jio bin memberikan suratnya supaya aku menyerahkan padamu, kecuali agar kau dapat melihat dan bertemu denganku, dia juga memperhitungkan bahwa aku juga akan terkurung di sini seperti dia, maka ia memberi petunjuk cara bagaimana aku harus melarikan diri betul tidak?”

“Mungkin demikian, tapi juga mungkin bukan.”

“Benar atau tidak, aku tidak akan pergi dari sini. Kecuali aku harus bertemu dengan Kiong-cu aku dapatkan juga Pek-cui-kiong seperti menyembunyikan suatu rahasia yang ada sangkut pautnya denganku …Sungguh aku tidak habis mengerti, bagaimana mungkin Pek-cui-kiong ada rahasia yang menyangkut diriku. Aku akan menyelidiki dan membongkar rahasia ini.”

“Sudah kau putuskan?”

Po-giok mengertak gigi, “Ya, sudah aku putuskan sekarang.”

“Kamu tidak menyesal?”

“Kenapa aku harus menyesal?”

“Karena kenyataan itu kejam, kenyataan sering melukai hati orang, tapi kalau kamu sudah bertekad bulat, boleh silakan saja, di sini ada sebuah jalan, jalan yang langsung menembus ke istana tempat tinggal Pek Cui-nio.”

Jalan yang ditunjukkan bukan berada di luar rumah tapi di dalam rumah, bentuknya seperti almari.

Gadis sari hitam berdiri di depan mulut jalan, “Dari sini kamu akan dapat bertemu dengan Pek-Cui-nio”.

Sejak tadi Po-giok memperhatikan wajahnya, memperhatikan setiap perubahan air mukanya. Sekarang ia menemukan sesuatu perubahan pada wajah yang dingin, wajah yang tidak kelihatan sedih atau riang, wajah yang tawar ini kelihatan sedikit berubah tatkala mulutnya menyebut nama Pek Cui-nio.”

Setiap kali mulutnya mengucap satu kata nama orang, bayangan gelap seperti berkelebat pada wajahnya, bayangan gelap yang penuh kebencian, padahal perasaannya sudah beku, sudah mati, namun hanya kebencian itu masih bersemayam dalam lubuk hatinya.

Betapa mendalam kebencian itu. Betapa keras dan mendesaknya.

Tapi gadis ini berada dalam Pek-cui-kiong, dapat dipastikan bahwa gadis ini pasti punya hubungan erat dengan Pek-cui-kiong, kalau hubungannya cukup erat dengan Pek Cui-nio, kenapa ia begitu membenci Pek Cui-nio?

Lalu ada hubungan atau sangkut-paut apa antara gadis ini dengan Pek Cui nio? Hubungan itulah yang membuat Po-giok tiada habis mengerti, namun saat ini Po-giok tidak sempat dan tiada waktu memikirkannya, apalagi memecahkan masalah ini.

Tiada persoalan yang sempat dia pikir lagi maka ia menjura dan berkata, “Terima kasih atas penyambutanmu, pendek kata segalanya aku ucapkan terima kasih, sekarang aku mohon diri.”

Mendadak gadis itu berkata, “Jangan berterima kasih padaku, ada sesuatu permintaanku padamu.”

Po-giok melengong gadis yang bergerak bagai arwah, gadis yang ayu bak bidadari ini ternyata memohon sesuatu padanya, sungguh mimpi pun tak pernah terbayang oleh Po-giok.

“Kalau kamu merasa keberatan juga tidak menjadi soal,” demikian ucap gadis itu kaku.

“Untuk urusan apa saja, boleh kau jelaskan padaku,” cepat Po-giok menjawab.

“Dalam hati ada persoalan yang ingin kutanya, hanya engkau yang bisa memberi jawaban.”

“Persoalan yang tidak dapat kau pecahkan sendiri, mungkin aku tak bisa menjawabnya.”

“Untuk persoalanku ini, kau pasti dapat menjawabnya.”

“Oo, persoalan apa?”

“Tentang kungfu.”

“Tentang kungfu engkau berminat bicara soal kungfu?”

“Sejak aku tahu urusan, sudah mulai aku pikirkan di antara kungfu yang ada di dunia ini entah ada tidak jurus ilmu silat yang tidak dapat ditangkis atau dilawan oleh setiap insan persilatan.”

“Wah persoalan ini … mungkin tiada orang bisa menjawabnya.”

“Betul, persoalanku ini memang sukar dijawab, apalagi sepanjang tahun aku hidup terpencil di pondok kecil ini. Umpama benar ada jurus yang aku maksud di dunia ini juga tidak mungkin kuketahui.”

“Aliran silat yang ada di dunia ini beraneka ragam dan tidak bisa dihitung jumlahnya, di antara sekian banyak ilmu silat itu, tidak sedikit merupakan jurus atau tipu serangan yang mematikan, umpama jurus lihai mematikan itu dapat merajalela beberapa waktu lamanya, namun belum pernah ada yang dapat menyapu dunia, andai kata bisa menyapu dunia juga belum terbukti bahwa kepandaian yang dimiliki itu mutlak tidak bisa dilawan oleh pesilat mana pun. kau maklum akan pengertian ini?”

“Aku mengerti, memang tidak ada orang bisa membuktikan makna ‘mutlak tidak ada’ pada kungfu itu.

“Ya, memang demikian.”

“Oleh karena itu, siang-malam aku berpikir, banyak aku ciptakan berbagai jurus ilmu silat, seluruh hasil yang aku capai itu, tanpa aku tanyakan orang lain pun aku sendiri yakin masih dapat melawannya.”

“Lalu?”

“Aku bertemu dengan Ciang-Jio-bin. Pada waktu merawat luka-lukanya, aku minta dia memberi tahu seluruh jurus ilmu silat yang pernah dia pelajari padaku.”

Orang itu memang cerdik pandai, keturunan keluarga persilatan. Memang tidak sedikit berbagai aliran ilmu silat di dunia ini yang dipelajari dan diselaminya.” ujar Po-giok.

“Jurus-jurus silat yang dia jelaskan padaku ada sebagian kira-kira setanding dengan jurus tipu ciptaanku sendiri, namun sebagian besar berbeda jauh. Setelah dia pergi, aku coba-coba mengkombinasikan jurus-jurus itu, aku ingin menemukan suatu rumus atau intisari dari berbagai ilmu silat itu dan menciptakan satu jurus khas yang tak ada taranya.”

“kau …kepintaranmu, mungkin tiada orang lain yang bisa menandingi.”

Selama setahun aku tekun berpikir siang malam, akhirnya berhasil aku ciptakan satu jurus aku yakin jurus ciptaanku ini tidak terdapat dalam semua aliran kungfu yang pernah ada di dunia ini.”

“kau dapat membuktikan keyakinanmu?”

“Ya, sebab kalau benar ada jurus yang aku maksudkan, maka jurus itu tentu sudah menggetarkan dunia. Ciang-Jio-bin juga pasti sudah tahu, karena dari sekian banyak jurus lihai mematikan yang dia yakinkan dengan mudah, dapat kulawan dan aku patahkan. Tapi jurus ciptaanku yang satu ini, aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkannya meski sudah aku pikirkan setengah tahun lamanya.”

Nada suaranya tetap tenang dan datar, namun mengandung keyakinan dan keteguhan yang tidak mungkin dibikin goyah oleh siapa pun, dan keyakinannya itu membuat orang lain harus percaya bahwa apa yang dia katakan memang benar.

Terpancar sinar gairah di mata Po-giok, “Jurus ciptaanmu itu tentu hebat luar biasa.”

“Walau aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkan jurus ini, tapi belum bisa membuktikan bahwa orang lain juga pasti tidak mampu melawannya, maka aku menunggu dan menunggu kedatanganmu. Karena aku maklum kalau ada orang dapat membuktikan keyakinanku itu orang itu adalah dirimu.”

“Kenapa diriku?”

“Karena aku sudah dengar engkau lah jago silat nomor satu yang hampir menguasai dunia, jika kau pun tidak mampu mematahkan jurus ini, maka tentu lebih jarang lagi orang yang mampu melawannya.”

Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia berkata keras, “Engkau tidak pernah memperhatikan persoalan lain yang ada di dunia ini, kenapa justru ingin benar membuktikan jurus ciptaanmu itu. Mungkin maksudmu hendak menggunakan jurus ciptaanmu ini untuk menghadapi seseorang?”

“Mungkin benar, mungkin juga tidak.”

“Untuk menghadapi siapa jurus itu kau ciptakan?”

“Itu urusan pribadiku … lebih baik jangan turut campur.”

“Apakah Pek Cui-nio? Karena engkau membencinya? Kenapa engkau membencinya?”

Tenang gadis itu mengawasi Pui-Po-giok, “Kamu sudah menerima permintaanku, kenapa bertanya dan ingin tahu persoalan lain?”

Po-giok tepekur lama, akhirnya menghela napas, “Mana pedangku?”

Sinar pedang berkelebat, pedang panjang pun menyerang.

Pedang gadis bersari hitam menusuk tempat kosong antara tiga dim di depan ujung kaki Po-giok.

Po-giok melengong, teriaknya, “Terhitung jurus apa ini?”

“Ya, tapi inilah jurus ciptaanku.”

“Jurus seranganmu ini takkan bisa melukaiku ….Siapa pun takkan kau lukai dengan jurus ciptaanmu ini.”

“Nah, justru di situlah kunci keberhasilan jurus ciptaanku, karena jurus ini meletakkan kita pada posisi yang tidak mungkin menang, maka orang lain tak mungkin melawan, karena siapa pun pesilat di dunia ini belum pernah melihat jurus serangan ciptaanku ini.”

Po-giok termenung pula sekian lamanya, akhirnya ia tertawa getir, “Tapi jurus seranganmu ini memang tidak perlu melawan …”

“Siapa bilang tidak perlu dilawan?”

“Lha ….apa perlu dijelaskan.”

“Baiklah, coba perhatikan.”

perlahan ia menarik pedang, lalu mengulang tusukan tadi dengan enteng, yang ditusuk tetap tiga dim di depan kaki Po-giok. Tusukan macam ini memang tidak mungkin melukai Po-giok meski cuma seujung rambut saja.

Tapi begitu tusukan itu diulang, mendadak sinar mata Po-giok seperti mencorong tajam, tubuhnya juga mendadak bersalto mundur dua kali di udara, lalu meluncur turun dua tombak ke belakang, wajahnya tampak kaget dan bingung.

Dingin suara gadis sari hitam, “Apa benar jurus seranganku ini tidak perlu dilawan? Kenapa engkau berkelit dan menyingkir?”

“Hebat, sungguh hebat,” puji Po-giok dengan jantung berdebar, “Kini baru kutahu kelihaian jurus ciptaanmu ini.”

“Apa benar sudah melihat jelas?”

“Kalau aku bersikap tak acuh dan tidak memedulikan jurus serangan ini, maka jurus ini akan menusuk terbalik dari posisi di depan kakiku, jurus serangan pedang yang dilancarkan dari posisi ini, betul-betul aku tidak tahu cara bagaimana harus melawannya?”

“Apa kau tahu sebab apa tidak bisa melawan?”

“Aku … belum bisa kupikir, tapi ….” mendadak ia keplok sambil berteriak, “Aha, sudah aku temukan jawabnya, karena posisi itu merupakan sudut kematian manusia.”

Gadis itu mengawasinya lekat, suaranya tetap kalem, “Betul, telapak kaki siapa pun merupakan sudut kematiannya. Jurus serangan yang dilancarkan dari sudut mematikan ini, jelas belum pernah dan tidak ada dalam ilmu silat aliran yang ada di dunia, oleh karena itu jurus ini juga tidak bisa dilawan oleh siapa pun. Makna murni dan jurus ini adalah menempatkan dirinya pada sudut mematikan lebih dulu ….”

“Pada sudut kematian berjuang untuk hidup, itulah siasat perang yang paling utama,” demikian teriak Po-giok, “Kini aku baru tahu, kungfu berbeda dengan siasat perang, namun satu dengan lain bisa manunggal …”

“Ya, memang demikian, akhirnya kamu mengerti,”

“Jurus ciptaanmu ini memang tidak ada dalam semua aliran silat di dunia ini, karena tidak ada orang pernah berpikir cara bagaimana melancarkan serangan lihai dari sudut kematiannya sendiri,” setelah menghela napas Po-giok berkata pula “Tapi kalau bukan seorang jenius luar biasa, siapa pula yang mampu dan dapat menciptakan jurus silat yang luar biasa ini.”

Tawar dan dingin suara gadis baju hitam, “Kalau demikian penilaianmu, berarti jurus ciptaanku itu memang tidak dapat dilawan.”

“Kukira belum tentu.”

“O, kenapa?”

“Karena ada beberapa hal kau lupakan.”

“Coba jelaskan.”

“Satu hal yang terpenting adalah, pada saat yang sama waktu melancarkan jurus mematikan itu, lawanmu juga akan melancarkan serangan padamu. Karena dalam waktu sedetik kau lancarkan serangan itu, kau sendiri tidak punya tenaga untuk mempertahankan diri. Kecuali selagi latihan atau bertanding dengan seseorang, kalau menghadapi musuh tangguh, memangnya lawanmu mau memberi kesempatan padamu untuk membunuhnya?”

Mendadak gadis bersari hitam menunduk diam.

“Tatkala kau lancarkan tusukanmu, kalau kau pun berpikir cara bagaimana aku harus siaga melindungi awak sendiri, umpama jurus ini belum mencapai jurus lihai yang tidak bisa dilawan, paling sedikit cukup untuk bekal malang melintang di dunia persilatan.”

Pandangan gadis sari hitam menatap ke arah jauh melamun, dan mengigau, “Ya, aku tidak bisa.”

“Engkau memang tidak bisa, karena dalam detik itu juga, kau tempatkan dirimu pada posisi yang mematikan …di situlah letak intisari jurus ciptaanmu, tapi juga merupakan titik kelemahan jurus ciptaanmu itu.”

Setelah menghela napas Po-giok menambahkan, oleh karena itu meski jurus ini dapat menyapu dunia, tapi tak berguna sama sekali.”

Lama sekali gadis sari hitam ini tepekur, setelah menarik napas panjang, akhirnya ia menyingkir ke pinggir katanya, “Pergilah kau !”

Gadis sari hitam melangkah pergi, dia tidak memberi kesempatan pada Po-giok untuk bicara lagi.

Tapi Po-giok tetap berdiri di tempatnya, tidak pergi seperti yang dianjurkan orang.

Po-giok sedang memeras otak.

Dalam jangka setengah hari ini, dia bertemu dengan tiga orang yang serba aneh. Orang pertama menyergapnya dengan serangan lihai, namun menaruh belas kasihan.

Orang kedua juga melancarkan serangan mematikan, namun juga tidak sungguh-sungguh dan yang lebih mengherankan lagi, jurus mematikan yang dilancarkan orang ini ternyata mirip dengan jurus kepandaian Pek-ih~jin dari Tang-hai itu.

“Orang ketiga adalah satu-satunya orang yang dia bisa bertatap muka, walau perempuan yang satu ini bersikap kaku dingin, tapi secara lahir batin Po-giok merasakan adanya suatu ikatan entah dalam hubungan apa antara dirinya dengan gadis itu.

Di luar tahunya, orang ketiga ini juga melancarkan serangan dengan jurus lihai, bukan saja tidak bermaksud jahat, pada hakikatnya dia tidak melancarkan serangan terhadap dirinya.

Kenapa ketiga orang ini sama-sama melancarkan serangan mematikan padanya, namun ketiganya tidak bermaksud merengut nyawanya walau lihai dan mematikan serangan mereka.

Padahal tiga jurus serangan lihai yang dilancarkan pada dirinya itu merupakan tiga jurus paling sakti, tiga jurus paling ganas yang pernah ada di dunia ini. Jika mereka tidak bermaksud merengut jiwa Po-giok, kenapa harus melancarkan jurus selihai dan seaneh itu?

Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia teringat sesuatu.

“Apakah tujuan mereka hendak memberi petunjuk permainan silat tingkat tinggi padaku?”

“Mungkinkah mereka mempunyai ikatan batin atau hubungan luar biasa dengan aku?”

“Tapi orang-orang dari Pek-cui-kiong ini mana mungkin ada hubungan dengan diriku? Sungguh sukar dicerna dengan akal sehat bahwa ada tiga orang misterius yang punya sangkut-paut dengan dirinya.”

Persoalan itu satu dengan lain saling berkaitan, namun satu dengan yang lain juga bertentangan. Sampai pening po-giok memikirkan persoalan ini, ingin memecahkan teka-teki ini, namun sukar memperoleh jawaban yang memuaskan.

Akhirnya ia berkeputusan untuk tidak memusingkan persoalan ini.

perlahan Po-giok melangkah ke dalam sana.

Po-giok yakin Pek-cui-Kiong-cu akhirnya pasti akan memberikan jawaban yang dia inginkan …”

******

Begitu jari Ban-lo-hu-jin menyentuh hiat-to sendiri, tangan Cui-Thian-ki juga sudah meraih paha ayam, waktu Ban-lo-hu-jin jatuh tersungkur, Cui-Thian-ki pun sudah memapah Oh-Put-jiu.

perlahan Cui-Thian-ki menyobek paha ayam dan menyuapi Oh-Put-jiu sedikit demi sedikit.

Ban-lo-hu-jin berkata, “Rahasia itu menyangkut hubungan Cui-Nio-nio dengan Pui-Po-giok.”

Bergetar badan Cui-Thian-kl, hampir saja paha ayam yang dipegangnya jatuh, teriaknya kaget, “Ada rahasia apa antara ibuku dengan Pui-Po-giok?”

“Ah, masa engkau tidak tahu?” tanya Ban-lo-hu-jin.

Cui-Thian-ki gusar, “Memangnya perlu aku berdusta padamu!”

“Nona meninggalkan Pek-cui-kiong memang sudah ada tujuh delapan tahun, tapi kejadian tujuh tahun yang lalu; kukira nona masih mengingatnya.”

“Selamanya aku tidak berani tanya urusan ibu, beliau juga melarang aku bertanya. Sejak kecil jarang aku masuk ke kamar tidur beliau.”

Walau Cui-Thian-ki berusaha bicara dengan nada wajar, namun mimik wajahnya menampakkan rasa rawan dan sedih, bagi anak yang punya ibu kandung demikian, biarpun ia bisa memperoleh barang yang tidak bisa dimiliki orang lain, tapi barang yang setiap anak perempuan lain bisa mendapatkan dia justru tidak pernah mengenyamnya, dan itu merupakan suatu hal yang paling berharga dan paling mahal di dunia.

Cui-Thian-ki tidak pernah memperoleh kasih sayang ibunya.

Ban-lo-hu-jin menghela napas, “Urusan yang menyangkut Cui-nio-nio sudah tentu siapa pun tidak bisa mencampurinya, tapi tak pernah terbayang olehku bahwa putri kandungnya sendiri juga tidak terkecuali. Hanya saja … enam belas tahun yang lalu … ah tidak, peristiwa yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu di Pek-cui-kiong, apa pun kukira engkau dapat mengingatkan.”

Bertaut alis Cui-Thian-ki, “Tujuh belas tahun yang, lalu …” mulutnya mendesis ragu, “Apa yang pernah terjadi dalam Pek-Cui-kiong pada tujuh belas tahun yang lalu?”

“Tujuh belas tahun yang lalu, ada dua orang laki laki perempuan meluruk ke Pek-cui-kiong. Selama empat puluh tahun hanya kedua orang ini yang dapat menerobos ke tempat kediaman Cui-Nio-nio, mereka pula yang menimbulkan kegemparan dan kepanikan pihak Pek-cui-kiong.”

“Betul,” seru Cui-Thian-ki, “kini aku ingat kedua orang itu, mereka adalah suami istri, kungfu mereka memang amat tinggi, cerdik pandai lagi tapi akhirnya mereka terkalahkan juga oleh ibuku”

“Tapi Cui-nio-nio tidak membunuh mereka” demikian tutur Ban-lo-hu-jin lebih lanjut, “Mereka adalah dua orang yang pernah selamat setelah meluruk ke Pek-cui-kiong … Bukan saja mereka tidak mati, mereka malah diam dan menetap di sana.”

Cui-Thian-ki bergumam, “Sebelum bertarung dengan ibuku, mereka sudah bertaruh, kalau mereka menang, ibuku harus menyerahkan Pek-cui-kiong sebagai tempat peristirahatan mereka, kalau mereka kalah, selama hidup mereka tidak akan meninggalkan Pek-cui-kiong.”

Sambil bicara, tangannya tetap menyuapi Oh-Put-jiu.

Oh-Put-jiu asyik mendengarkan, diam-diam ia membatin, “Kedua suami istri itu memiliki kungfu sehebat itu, gigih perwira dan ksatria entah tokoh macam apa mereka?”

Didengarnya Ban-lo-hu-jin berkata pula “Padahal Cui-Nio-nio tidak pernah memberi ampun pada orang-orang yang membuat kegaduhan di istananya, kenapa dia justru bertaruh dengan mereka, nona apakah engkau tahu seluk-beluk persoalan ini?”

“Waktu itu walau usiaku masih kecil, dalam hati aku pun merasa heran, pernah kutanya pada ibu bila ibu sudah mengalahkan mereka, kenapa tidak membunuh mereka, dan kenapa harus bertaruh segala?”

“Apakah Cui-nio-nio memberi penjelasan?” tanya Ban-lo-hu-jin.

“Apa pun aku ini adalah anak kandungnya”

“Jadi beliau menjelaskan padamu?”

Cui-Thian-ki termenung sejenak, “Mungkinkah kejadian itu ada sangkut-pautnya dengan rahasia itu?”

“Bukan saja ada hubungan, sangkut-paut justru amat besar … Nona, kalau tidak kau jelaskan apa yang kau ketahui, susah aku menyambung ceritaku”

Cui-Thian-ki termenung beberapa saat lagi lalu mendadak mengulap tangan, “Kalian enyah semua. Urusan ini tiada sangkut-paut dengan kalian.”

Sebetulnya kawanan bajak itu juga ingin mendengar kisah rahasia orang-orang persilatan, tapi Cui-Thian-ki memerintahkan mereka menyingkir, siapa lagi berani membandel di hadapannya?

Setelah kawanan bajak itu pergi semua baru Cui-Thian-ki melanjutkan dengan perlahan, “Sebetulnya ibuku tidak mau bicara, kalau waktu itu aku sudah dewasa, mungkin dia tidak mau bicara, tapi waktu itu aku masih terlalu kecil, ibu juga ingin melimpahkan perasaan hatinya terhadap seseorang.”

Ia menghela napas, lalu melanjutkan, “Maka beliau menepuk-nepuk kepalaku dan memberi tahu padaku, katanya kecuali ayah kandungku yang sudah meninggal itu, laki-laki itu adalah orang yang paling dia senangi, laki-laki idaman hatiku selama hidup ini. Maka apa pun yang terjadi ibu tidak dapat membiarkan dia mati.”

“Ya, memang demikian,” ujar Ban-lo-hu-jin sambil menghela napas.

“Karena mendapat hati, aku bertanya pula bila ibu menyukainya, kenapa istrinya tidak dibunuh saja? Ibu menjelaskan, bila ibu membunuh perempuan itu, laki-laki itu tentu takkan mengampuninya, tidak akan memaafkannya, maka itu berarti selama hidup ia tidak akan memperoleh cinta kasihnya. Untuk menarik simpati laki-laki itu ibu terpaksa membiarkan mereka hidup, entah kapan akan datang saatnya cita-citanya akan terkabul. “Ai, sejak waktu itu, aku lantas tahu betapa murni, betapa agung apa yang dinamakan cinta itu.”

Waktu mengakhiri kata katanya, pandangan Cui-Thian-ki melekat tajam pada wajah Oh-Put-ju.

Oh-Put-jiu juga mengawasinya, “Lalu bagaimana?” tanyanya perlahan.

Mendengar suara orang sudah bertenaga, lega hati Cui-Thian-ki, katanya dengan tertawa, “Lalu ibu memberikan sebidang tanah dalam istana untuk tempat tinggal mereka, siapa pun kecuali mendapat izinnya dilarang masuk ke daerah itu dan mengganggu mereka suami istri.”

Oh-Put-jiu menghela napas, “Ternyata ibumu juga seorang romantis.”

Cui-Thian-ki tertawa manis, “Aku masih ingat daerah tempat tinggal mereka itu dinamakan Pondok Bintang Kecil. Dari kejauhan aku sering melihat tapi tidak berani mendekat apalagi masuk ke sana. Hingga pada suatu hari … waktu yang perempuan meninggal dunia.”

Kenapa istrinya meninggal? Apakah karena ….” Oh-Put-jiu menjerit kuatir.

“Jangan salah duga,” tukas Cui-Thian-ki, Ibu pernah berjanji tidak akan membunuhnya maka dia hidup berkecukupan kecuali jatuh sakit yang parah dan tak tertolong lagi jiwanya. Ibuku memang bukan orang baik, tapi setiap ucapannya dapat dipercaya.”

“Ya, akulah yang salah … tadi perempuan itu …”

“Ketika tinggal di Pondok Bintang Kecil, perempuan itu sudah bunting sebelum datang, enam bulan sejak mereka tinggal di Pek-cui-kiong, perempuan itu melahirkan seorang anak perempuan yang mungil, dan karena kelahiran anaknya itu akhirnya ia meninggal.”

Oh-Put jiu menghela napas, “Kini anak perempuan itu tentu sudah besar?”

“Untuk merawat dan mengasuhnya sampai besar, ibu terpaksa keluar dari istana dan mengundang seorang ibu inang untuknya. Waktu aku meninggalkan istana, anak perempuan itu sudah berusia tujuh atau delapan tahun, meski masih kecil namun sudah tampak rupawan, hanya sayang sejak kecil ia berwatak pendiam, nyentrik dan kaku, segala permainan anak-anak tidak ada yang disukai. Dari pagi hingga petang kerjanya duduk melamun entah apa saja yang dipikir olehnya?”

“Lalu, bagaimana ayahnya ….”

“Ayahnya memang seorang laki-laki sejati, apa yang pernah diucapkan tidak pernah diingkari, selama beberapa tahun tidak pernah ia bicara tentang pulang atau keluar dari istana. Setiap hari ibu menemaninya main catur, membaca, memetik kecapi dan hiburan lainnya, setelah berkumpul sekian lamanya, lama-kelamaan timbul juga asmara diantara mereka. Tapi berani aku memastikan, sampai aku meninggalkan istana, hubungan mereka masih sopan dan tidak melanggar tata susila.”

Oh-Put-jiu menghela napas panjang, “laki-laki itu memang ksatria sejati, laki-laki baja yang patut dipuji. Demikian pula ibumu juga seorang perempuan cendekia yang tiada bandingannya, tapi … ah, sebetulnya dalam keadaan seperti itu, andaikan laki perempuan yang memiliki serba keanehan itu menikah dan menjadi suami istri juga jamak dan masuk akal.”

Cui-Thian-ki tertawa lebar, “Sungguh tak terduga bahwa jiwamu lapang dan pikiranmu juga terbuka.”

Oh-Put-jiu tersenyum karena pujian itu, “Umpama aku masih kolot, urusan itu tentu juga tidak salah atau keliru. Hanya saja kalau pasangan suami istri ini termasuk orang aneh, setelah mereka lenyap dari kalangan kang-ouw, kenapa tidak pernah terdengar berita kegemparan mereka di Bu-lim?”

Ban-lo-hu-jin menimbrung, “Karena suami istri itu adalah pendekar kelana, hidup mereka melanglang buana, memangnya jarang kaum persilatan yang tahu jejak mereka, demikian pula ayah mereka juga tidak tahu ke mana dan di mana mereka berada.”

“Suami istri yang masih muda, dengan masa depan yang cemerlang berkelana bersama ke mana mereka senang tinggal, ke mana mereka mau pergi, tiada orang dapat mengendalikannya, empat lautan adalah rumah mereka. Betapa bebas dan leluasa mereka berkelana, yang pasti banyak orang merasa iri dan juga memuji mereka.”

“Sebetulnya orang lain pun dapat meniru mereka …”

“Tapi apa kau tahu siapa mereka?” tanya Ban-lo-hu-jin.

Cui-Thian-ki melengong, “Ya, aku tidak tahu nama mereka, belum pernah timbul pikiranku untuk tanya siapa mereka, ibuku juga tidak menerangkan … Dalam Pek-cui-kiong, kecuali ibuku, mungkin tiada orang kedua yang tahu asal-usul mereka.”

“Nah, di situlah letak rahasianya, rahasia besar, dan aku tahu rahasia ini,” ucap Ban-lo-hu-jin penuh keyakinan.

“Siapa mereka?” tanya Cui-Thian-ki.

perlahan tapi tegas dan tandas perkataan Ban-lo-hu-jin, “Mereka adalah ayah dan ibu Pui-Po-giok.”

Tanpa terkendali Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu menjerit kaget.

“Cui-Nio-nio tahu bila mana berita ini bocor, Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-kong pasti akan mengerahkan seluruh kaum persilatan meluruk ke Pek-cui-kiong untuk menuntut anak dan menantunya dibebaskan. Oleh karena itu beliau merahasiakan asal usul dan nama mereka.”

Jadi …Pui-toa-ko ku itu …apakah sampai sekarang masih tinggal di Pek-cui-kiong?”

“Ya, sampai sekarang dia masih tinggal di sana.”

“Kalau demikian, anak perempuan yang tinggal di Pondok Bintang Kecil itu adalah adik kandung Pui-Po-giok.”

“Ya, memang betul adik kandungnya, gadis jelita itu bernama Pui-Lin-giok.”

“Po-ji berangkat ke Pek-cui-kiong, apakah lantaran dia tahu rahasia ini?” tanya Oh-Put-jiu.

“Sedikit pun dia tidak tahu tentang rahasia ini,” tegas jawaban Ban-lo-hu-jin.

“Lalu …untuk apa dia ke sana?” tanya Oh-Put jiu heran.

“Bagian depan cerita ini tadi sudah dikisahkan oleh nona Cui, maka sambungan ceritanya biar aku nenek tua ini yang melanjutkan. Untuk itu perlu aku memberitahukan dua hal pada kalian.”

“Cekak aos saja, jangan bertele-tele,” sela Oh-Put-jiu.

“Pertama, sekarang Pui-Lin-giok sudah tumbuh dewasa, namun wataknya semakin nyentrik, dalam dua-tiga hari terkadang tidak bicara sepatah kata pun, kerjanya hanya duduk dan tepekur.”

Cui-Thian-ki menghela napas, “Hal ini sudah aku bayangkan, aku mengerti. Hal kedua?”

“Sembilan tahun setelah istrinya meninggal akhirnya Pui-tai-hiap menikah dengan Cui-Nio-nio.” tutur Ban-lo-hu-jin.

“Hah, dia …dia benar-benar …” Oh-Put-jiu gelagapan.

Ban-lo-hu-jin berkata, “Tadi kau bilang kejadian ini kan masuk akal.”

“Betul, bukan aku menyalahkan dia …siapa pun tak boleh menyalahkan dia.”

“Memang dia tidak salah, Cui-Nio-nio adalah istri yang paling setia, telaten, lembut dan prihatin, kalau Pui-tai-hiap mau bicara, apa pun keinginannya pasti dituruti. Tapi sering kali Pui-tai-hiap justru bermuram durja, untuk menyenangkan hatinya, tidak jarang Cui-Nio-nio menganjurkan dia keluar istana menghibur diri.”

“O? Lalu dia … ”

“Tapi dia tidak mau mengingkari janji dan melanggar sumpah, kalau dia sudah bilang selama hidup tidak akan keluar istana, umpama mati juga tidak mau keluar meski hanya selangkah pun.”

Oh-Put-jiu menarik napas, “Pui-toa-ko memang laki-laki sejati.”

“Cui-Nio-nio bukan hanya baik dan cinta terhadap suaminya terhadap Pui-Lin-giok dia pun melimpahkan kasih sayangnya seperti terhadap anak kandung sendiri, untuk menghibur dan menyenangkan hatinya, pernah sengaja beliau membiarkan seorang pemuda menerobos ke dalam istana, lari ke daerah Pondok Bintang Kecil, beliau pura-pura tidak tahu dan tidak mengusut perkara ini. Karena ia tahu pemuda itu adalah laki-laki tampan, ksatria muda yang punya masa depan.”

“Lalu … bagaimana mereka?” tanya Cui-Thian-ki.

Ban-lo-hu-jin menghela napas, “Akhirnya nona Pui melepas pemuda itu pergi seorang diri.”

Cui-Thian-ki diam sejenak lalu berkata sendu, “Ayah kandungnya terpaksa harus menyekap diri selama hidup di-Pek-cui-kiong, sudah tentu nona itu tidak ingin mengalami nasib sejelek ayahnya … ai, lahirnya dia kelihatan kaku dingin, padahal hatinya lemah dan panas membara.”

“Belakangan diketahui oleh Cui Nio-nio sebab musabab kemuraman dan kemurungan ayah dan anak itu, yaitu lantaran Pui-tai-hiap merindukan putranya, ingin melihat bagaimana rupa putranya setelah tumbuh dewasa. Nona Pui juga ingin sekali melihat dan bertemu dengan kakak kandungnya yang belum pernah dilihatnya sejak lahir.”

“Setelah menghela napas Ban-lo-hu-jin meneruskan, “Mereka ingin melihat dan bertemu dengan Pui-Po-giok.”

“Bila mereka menyampaikan rahasia ini kepada Pui-Po-giok, umpama Po-giok terlibat urusan besar dan penting sekali pun tentu juga akan menyingkirkan kepentingan lain untuk memburu ke Pek-cui-kiong,” demikian komentar Oh-Put-jiu.

“Betul, sudah tujuh belas tahun rahasia ini tertutup rapat, mereka tidak ingin dan segan membicarakannya,” Ban-lo-hu-jin menghela napas.

“Jadi terhadap Po-ji juga tidak dijelasksn?” tanya Oh-Put-jiu terbeliak.

“Terhadap orang lain mungkin boleh, tapi terhadap Pui-Po-giok mutlak tidak boleh,” sahut Ban-lo-hu-jin.

“Ken …kenapa?” tanya Oh-Put-jiu bingung.

“Masa tidak dapat kau pikir”

Cui-Thian-ki yang bicara, “Meski kematian ibu kandung Po-ji tidak langsung oleh tangan ibuku, tapi kalau mereka tidak terkurung dalam istana air, mungkin dia tidak akan mati karena kesulitan melahirkan. Mau tidak mau hal ini pasti menimbulkan rasa dendam Po-ji terhadap ibuku.”

Oh-Put-jiu mengangguk, “Tapi ibumu sekarang sudah menjadi ibunya juga …ibumu sudah menjadi bini ayahnya, memangnya apa yang akan dia lakukan setelah tahu rahasia ini? Apakah Pui-toa-ko tega melukai hati putranya?”

“Apalagi Po-ji tengah memikul beban yang amat berat, nasib seluruh kaum persilatan terletak pada pundaknya, mana boleh sanubarinya memikul beban yang berat pula? Kalau selama hidup ia tidak tahu tentang rahasia ini, bukankah dia akan hidup tentram dan bahagia?” demikian komentar Cui-Thian-ki.

“Tapi Pui-toa-ko melihat putra kandung yang dirindukan sudah berada di depan mata, namun tidak bisa mengakuinya sebagai anak, bukankah berat dan menyedihkan penderitaannya,” Oh-Put-jiu bicara dengan nada iba.

“Sebagai seorang ayah,” demikian ucap Cui-Thian-ki, “Lebih senang diri sendiri menderita daripada membuat anaknya sedih …Setiap orang tua di dunia ini pasti akan berbuat demikian, rela berkorban demi anaknya,” dengan tertawa pedih lalu ia melanjutkan, “Cinta kasih yang murni adalah pengorbanan dan bukan monopoli … demi cinta perlu mengorbankan diri sendiri, demi kekasihnya, meski dia kehilangan tapi hatinya akan tentram, akan bahagia.”

Oh-Put-jiu mengawasinya lekat, cukup lama ia tidak bisa bicara.

perlahan Cui-Thian-ki mengalihkan pandangannya, menoleh ke arah Ban-lo-hu-jin, “Apa benar tujuan mereka hanya ingin melihat Po-giok saja?”

“Ya itulah sebab utama, namun bukan sebab keseluruhannya.”

“Jadi masih ada sebab lain?”

“Selama tujuh belas tahun ini, otak mereka yang brilyan berhasil menciptakan banyak jurus-jurus ilmu silat yang lihai tiada taranya, mereka tidak punya ambisi untuk berkuasa dan merebut nama di Bu-lim, hanya satu harapan mereka, yaitu semoga hasil ciptaan mereka yang telah banyak keringat itu dapat diwaris pada generasi mendatang.”

“Betul,” Cui-Thian-ki menyokong, “ahli waris yang mereka pilih sudah tentu adalah Pui-Po-giok.”

“Ya,” ucap Ban-lo-hu-jin, “setelah memperoleh warisan kungfu ciptaan kedua orang tuanya, akan menambah bekalnya untuk berduel dengan Pek-ih-jin, keyakinan dan keteguhan hatinya dalam menghadapi duel itu akan memberi dorongan semangat yang kuat demi mencapai kemenangan. Oleh karena itu, menjelang duel dimulai mereka harus menggembleng Po-giok sewaktu mereka bertemu di Pek-Cui-kiong, itulah salah satu kenapa Po-giok harus pergi ke Pek-cui-kiong, itulah jerih payah orang tuanya.”

“Tapi waktu yang dijanjikan untuk duel dengan Pek-ih-jin sudah di ambang mata, umpama Po-giok memiliki otak jenius juga tak mungkin dapat mempelajari ilmu silat tinggi yang ruwet dalam waktu yang singkat” nada Cui-Thian-ki amat kuatir.

“Untuk menghadapi masalah yang luar biasa, sudah tentu harus dikerjakan dengan cara yang luar biasa pula. Mereka pasti akan membuat Po-giok mengalami penderitaan, mungkin juga harus mengalami bahaya yang mengancam jiwanya, dengan cara itu baru akan memaksa dia menggunakan otaknya yang brilyan untuk mengatasi dan menghadapi semua hambatan, siapa saja dalam keadaan seperti itu tentu akan lebih cepat menyerap pelajaran itu lebih cepat.” demikian komentar Ban-lo-hu-jin.

“Betul,” ucap Cui-Thian-ki. “Tiga tahun berlatih setiap hari, belum tentu lebih matang dibanding perkelahian yang mempertaruhkan jiwa raga dalam waktu sekejap, sesuatu yang kita peroleh di kala menghadapi mara bahaya, tiada persoalan atau benda apa pun yang bisa menyamainya.”

“Ya, memang demikian,” kata Oh-Put-jiu, “kalau mereka ingin menggembleng Po-ji dan memaksa untuk menyerap pelajaran intisari ilmu pedang, mereka pasti akan menyudutkan Po-ji pada posisi yang paling sulit, dalam duel yang mempertaruhkan jiwa umpamanya, mereka akan memaksa Po-ji menyelami secara dekat dan mendalam makna dari jurus pedang yang dilihatnya. Satu hal yang lebih penting adalah, ilmu yang dia pelajari dalam keadaan seperti itu akan lebih merasuk dalam sanubarinya, selama hidup takkan bisa dilupakan.”

“Ya memang demikian.” ucap Ban-lo-hu-jin.

“Tapi ada juga yang tidak kau ketahui.” kata Cui-Thian-ki.

Ban-lo-hu-jin tersenyum, “Apa benar ada sesuatu yang tidak diketahui oleh nenek tua seperti aku?”

“Tahukah kau bahwa kakek luar Pui-Po-giok sekarang sudah meluruk ke Pek-cui-kiong?” tanya Cui-Thian-ki.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: