Kumpulan Cerita Silat

17/05/2008

Duke of Mount Deer (29)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 10:57 pm

Duke of Mount Deer (29)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Siau Po tertawa. Juga Kiam Peng dan Pui Ie, tapi mereka tidak berani tertawa keras-keras.

“Sekarang mari kita bicara yang serius,” kata Pui Ie. “Kami harus menyingkir dari sini. Bagaimana caranya? Kau harus memikirkan jalannya bagi kami,” tanyanya.

Di dalam istana, Siau Po selalu dihormati oleh semua thaykam dan para siwi. Berhadapan dengan merekaa, dia juga merasa gembira. Tapi begitu kembali ke kamarnya, dia akan merasa sepi. Sejak adanya kedua nona dari keluarga Bhok, dia tidak lagi kesepian. Memang dia khawatir mereka bisa kepergok, namun dia tetap tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan kedua nona itu. Mendengar ucapan Pui Ie, dia jadi berpikir, “Kita harus pikirkan dengan seksama. Kalian sekarang terluka. Apabila kalian keluar dari kamar ada kemungkinan kalian akan kepergok dan tertawan kembali. Bukankah hal itu membahayakan sekali?” katanya.

Pui Ie dan Kiam Peng terdiam. Kata-kata Siau memang benar.

“Coba kau beritahukan kepadaku,” kata Pui Ie. “di antara kawan-kawanku yang datang menyerbu semalam, ada berapa yang mati dan berapa pula yang tertawan? Apakah kau mengetahui nama-nama mereka?”

Siau Po menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu,” sahutnya. “Kalau kau ingin mencari keterangan itu, nanti aku akan menanyakannya.”

“Terima kasih,” kata Pui Ie.

Siau Po merasa senang dan juga heran. Baru kali ini dia mendengar suara si gadis yang demikian lembut, bahkan gadis itu pun mengucapkan terirn kasih.

“Yang paling penting kau selidiki, apakah di antara orang yang tertawan itu ada seorang she Lau atau tidak?” kata Kiam Peng ikut bicara.

“Seorang she Lau?” tanya Siau Po menegaskan “Siapa nama belakangnya?”

“Dia adalah kakak seperguruan kami,” sahu Bhok Kiam-peng. “Namanya It Cou… dan dia… juga kekasih… hati kakak Pui….” Tiba-tiba Kiam Peng berhenti bicara dan tertawa, karena Pui Ie menggelitiknya sehingga dia kegelian.

“Oh, Lau It-cou!” seru Siau Po tertahan. “Dia….

“Dia apa?” tanya Pui Ie panik. “Ada apa dengan dia?” “Bukankah dia bertubuh tinggi, berwajah putih dan tampan? Usianya sekitar dua puluh lebih?’ tanya Siau Po. “Bukankah ilmu silatnya cukup tinggi?”

Sebenarnya Siau Po tidak tahu siapa Lau It-cou. Dia juga belum pernah melihatnya, tetapi karena pemuda itu adalah kekasih Pui Ie, dia dapat menerka bahwa pemuda itu pasti tampan. Padahal dia hanya asal menebak dan sebagai kakak seperguru Pui Ie, pasti ilmu silatnya juga cukup tinggi. Di luar perkiraannya, dugaan Siau Po tepat.

“Tidak salah lagi! Memang dia orangnya! Kenapa dia?” tanya Kiam Peng.

Siau Po tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang terlebih dahulu. “Aih… rupanya Lau suhu itu kekasih nona Pui,” katanya kemudian.

Tepat pada saat itu dari luar kamar terdengar suara panggilan.

“Kui kongkong, ada hadiah dari thayhou!”

Mendengar itu, Siau Po menjadi senang. Dia berkata dalam hati. ’Oh, dasar perempuan lacur! Dia toh tidak sudi menemui aku, untuk apa aku menemuinya? Sekarang lohu tidak takut mati, dia justru yang merasa khawatir!’ Walaupun berpikir demikian, dia tetap menjawab:

“Terima kasih atas hadiah itu!” Dan dia buka pintu lalu menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk kepada orang yang membawakan hadiah itu, seorang thaykam. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada thaykam tersebut.
Hadiah itu berupa sebuah kotak kayu yang kelihatan indah. Ketika Siau Po membuka tutupnya, dia melihat isinya adalah sebotol obat. Dia segera mengeluarkan selembar uang kertas bernilai dua puluh tail dan diberikan kepada si thaykam sebagai persenan. Thaykam itu senang sekali, dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah sebesar itu, dia mengucapkan terima kasih berulang kali.

Setelah kembali ke dalam kamarnya, tanpa ragu-ragu lagi Siau Po menelan sebutir obat itu.

“Kui toako!” panggil Pui Ie. “Bagaimana denga Lau su… ko?”

‘Oh, dasar perempuan bau!’ maki Siau Po dalam hati. ‘Biasanya kau tidak pernah bersikap ramah kepadaku, sekarang kau melakukamiya sebab ingin menanyakan keadaan sukomu. Malah kau memanggil aku Kui toako, sebaliknya aku gertak dulu dia!

Thaykam gadungan inipun segera menggelengkan kepalanya sambi! menarik nafas panjang.

“Sayang… sayang sekali…” katanya.

Pui Ie terkejut setengah mati.

“Bagaimana?” tanyanya gugup. “Apakah dia terluka atau sudah mati? Cepat katakan!”

Tiba-tiba si bocah nakal itu tertawa lebar-lebar

“Oh, orang yang bernama Lau It-cou itu…” katanya memperlihatkan tampang cengengesan, “Aku tidak kenaI dengannya dan aku tidak pernah melihatnya. Tapi kalau kau menanyakan tentang dia, baiklah! Sekarang kau panggil dulu aku kongkong yang baik sebanyak tiga kali. Nanti aku pasti sudi melelahkan diri mencari tahu soal orang itu.

Pertama-tama Pui Ie memang terkejut sekali, namun setelah mendengar nada suara Siau Po, hatinya jadi agak lega. Tapi dia tidak mau mmanggil kongkong yang baik, dia hanya berkata.

“Kau selalu bicara tidak karuan! Sebaiknya kau katakan terus terang saja! Katakanlah yang benarnya!”

Siau Po tidak menjawab kata-katanya. Dia malah mengelantur. “Hm! Kalau Lau It-cou itu jatuh ke tanganku, mula-mula aku akan meringkusnya kemudian aku bakar habis-habisan. Aku akan menanyakan kepadanya dengan rayuan manis apa dia dapat menipu serta mencuri jantung hatiku! Setelah itu aku akan mengangkat golokku tinggi-tinggi dan aku bacokkan kepadanya. Suaranya begini: Creppp!”

Kiam Peng merasa tercekat hatinya.

“Apa?” tanyanya. “Apakah kau hendak membunuhnya?”

“Bukan, bukan!” sahut Siau Po. “Aku hanya membacok kantong telurnya, dengan demikiakan, dia menjadi orang kebiri!”

Nona Bhok masih terlalu kecil, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Siau Po, tapi Pui Ie merah padam wajahnya. Dia merasa jengkel mendengar kata-kata seperti itu.

“Kau mengoceh sembarangan!” katanya.

“Jadi sukomu itu kemungkinan sudah tertawan,” Siau Po sambil tertawa. “Aku, Kui kongkong memang tukang bicara, tapi banyak orang yang suka mendengarkan perkataanku. Nah, nona Pui, sekakarang kau katakan, apakah kau ingin memohon sesuatu dariku?”

Kembali wajah gadis itu merah padam. ’Thaykam ini benar-benar jahil’, pikirnya.

“Kui toako,” kata Kiam Peng turut memberi saran, “Kalau kau memang sudi memberikan bantuan, tidak perlu menunggu orang memintanya. Bantuan yang tulus barulah tindakan seorang yang gagah!”

Siau Po mengibaskan tangannya.

“Tidak! Kata-katamu salah!” sahutnya. “Ah justru paling senang mendengar permohonan orang Kalau orang memanggilku suamiku yang baik, apalagi dengan nada yang mesra, semakin suka aku membantunya!”

Pui Ie menatap Siau Po lekat-Iekat. Dia benar-benar kewalahan menghadapi orang yang satu ini. “Kui- toako…” akhirnya dia memanggil. “Toako yang baik, aku memohon bantuanmu!”

Kembali timbul rasa iseng dalam hati Siau P Dia menggoda lagi. “Kau harus memanggil suami padaku!” katanya sambil tersenyum.

“Bicaramu keliru, Kui toako!” kata Kiam Peng “Suciku ini akan menikah dengan Lau suko. Karena itu Lau suko yang akan menjadi suaminya. Mana boleh suci memanggil suami kepadamu?”

“Tidak bisa!” kata Siau Po. “Kalau dia menikah dengan Lau It-cou, lohu cemburu! Iya, aku merasa tidak puas, aku iri!”

“Kau tidak tahu, Kui toako,” kata nona Bhok kembali. Nadanya setengah membujuk. “Lao suko itu orangnya baik sekali….”

“Tidak!” bentak si bocah cilik. “Justru karena dia baik, aku semakin iri! Aku cemburu sekali!”

Berkata begitu, Siau Po tetap tertawa. Sembari meraih bungkusannya di atas meja, dia berjalan keluar, pintu kamarnya dikunci. Dengan mengajak empat orang thaykam sebagai pengiring, dia menggang kuda menuju jalan Tiang An di barat, istana yang dihadiahkan Raja untuk Peng Si ong.

Ketika Go Eng-him mengetahui kedatangan utusan raja, dia segera keluar dan menjatuhkan dirinya berlutut.

“Sri Baginda menitahkan aku membawa beberapa barang untuk diperlihatkan kepadamu!” kata Siau Po langsung. “Siau ongya, nyalimu besar atau tidak?”

“Nyali Pi cit (hamba yang berpangkat rendah) kecil sekali. Pi cit tidak boleh terkejut sedikit pun,” kata Go Eng-him.

Siau Po menunjukkan mimik heran. “Nyalimu kecil sekali sehingga tidak boleh terkejut sedikit pun?” tanyanya. “Tapi, apa yang kau lakukan justru begitu besar dan mengejutkan!”

“Kongkong, Pi cit tidak mengerti apa yang kongkong maksudkan,” sahut Go Eng-him. “Tolong kongkong jelaskan!”

Ketika bertemu dengan Siau Po di istana Kong cin Ong, Go Eng-him tidak membahasakan dirinya dengan Pi cit atau aku yang berpangkat rendah. Kalau sekarag dia menyebut dirinya demikian, karena Siau Po datang sebagai utusan raja. Lagipula dia dapat merasakan suasana yang kurang menguntungkan dirinya.

Siau Po tidak memberikan penjelasan. Dia berkata lagi dengan tampang serius.

“Tadi malam kau telah mengirim beberapa perusuh untuk menyerbu istana! Sekarang Sri Bagind menitahkan aku menanyakan persoalan ini!”

Sejak pagi harinya Go Eng-him sudah mendengar kabar tentang serbuan tadi malam. Sekarang mendengar kata-kata Siau Po, otomatis dia terkejut setengah mati. Dari berlutut, tanpa sadar dia berdiri, kemudian berlutut kembali sambil menyembah berulang kali menghadap arah istana kerajaan.

“Sri Baginda! Sri Baginda telah menurunkan budi yang besar kepada kami ayah dan anak. Meskipun menjadi kerbau atau kuda, rasanya membalas budi yang demikian besar itu. Sri Baginda, budak Go Sam-kui dan Go Eng-him bersedia mengorbankan jiwa dan raga untuk bekerja demi Sri Baginda. Tidak nanti hati kami berani bercabang dua!”

Siau Po tertawa menyaksikan sikap orang itu.

“Bangun! Bangunlah!” katanya ramah. “Perlahan-lahan saja kau menyembah, semuanya masih belum terlambat. Siau ongya, mari! Kau lihat dulu barang-barang yang aku bawa ini!”

Sembari berkata, Siau Po membuka bungkusanya. Go Eng-him lantas bangkit untuk melihat bungkusan yang terdiri dari senjata dan pakaian pakaian dalam. Otomatis dia jadi menggigil dan gemetar.

“Ini… ini…” suaranya bergetar dan ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika membaca surat pengakuan para busu. Dia memaksakan dirinya membaca sampai habis. Isinya ternyata pengakuan ketiga orang yang tertawan, bahwa kedatangan memenyerbu istana adalah atas perintah Go Sam kui. Dengan demikian kelak Go Sam-kui akan mendapat dukungan untuk menggantikan kaisar Kong Hi yang harus dibunuh. Meskipun otaknya cerdas, Go Eng-him tetap terkejut dan ketakutan. Kedua kakinya jadi lemas, sekali lagi dia jatuh berlutut.

“Kui…. Kui… kongkong…” panggilnya dengan bergetar. “Ini tidak benar! Pastilah orang-orang itu sudah dihasut supaya memfitnah kami bapak dan anak! Kongkong, aku harap kau sudi menghadap Sri Baginda dan menuturkan urusan yang sebenarnya. Sri Baginda cerdas dan bijaksana. Pasti kata kongkong akan didengarnya…..”

“Urusan ini sudah tersiar luas,” kata Siau Po. yjin dan To tayjin telah menghadap Sri Baginda dan melaporkan pengakuan para penyerbu “Kau tahu sendiri, ini namanya pemberontakan, terhadap junjungannya! Siapakah yang sedemikian besar membicarakan urusan ke Sri Baginda? Kau minta aku menghadap Sri baginda, sebetulnya bukan tidak bisa, tapi untuk harus memikirkan cara yang sempurna.

.KAKI TIGA MANJANGAN . – Jllfd 7 85

Alasan apa yang bisa kukemukakan untuk membelamu. Sulit bukan?” Mendengar suara bimbang, Go Eng-him seperti mendapat sedikit harapan. Hatinya senang sekali.

“Biar bagaimana, Pi cit mengharapkan bantu kongkong,” katanya. “Ya, Pi cit hanya mengandalkan kongkong seorang!”

“Kau bangunlah!” kata Siau Po. “Mari kita cara sembari berdiri!”

Eng Him menurut, dia bangkit.

“Benarkah para penyerbu itu bukan orang-orang suruhanmu?”

“Pasti bukan!” sahut Go Eng-him tegas. “Mana berani Pi cit melakukan perbuatan durhaka dengan memberontak seperti itu? Bukankah itu merupakan dosa tidak terampunkan?”

“Baik,” kata Siau Po. “Aku senang bersahabat denganmu. Aku percaya padamu. Tapi ingat, kal ternyata memang orang-orangmu, selain menjerumuskan dirimu sendiri, kau juga menyeret aku!”

“Aku tahu, kongkong. Mereka pasti bukan orang-orangku!” kembali Eng Him memberikan kepastiannya.

“Siapa kira-kira orang yang ingin memfitnah kalian ayah dan anak?” tanya Siau Po.

“Sulit bagiku untuk menunjuknya. Kami mempunyai banyak musuh!” sahut Go Eng-him bingung

“Untuk memberikan penjelasan kepada Sri Baginda, kau harus menyebut nama salah seorang musuhmu,” kata si kongkong. “Dengan begitu Sri Baginda baru bisa menaruh kepercayaan atas apa yang kukatakan.”

“Iya, kongkong memang benar. Ayah Pi cit telah bekerja banyak demi kerajaan Ceng, tidak sedikit lawan yang telah ia robohkan. Karena itu bisa dimengerti kalau sisa-sisa lawannya masih membencinya sampai sekarang. Tentu saja mereka juga berhak mengadakan pembalasan. Umpamanya sisa orang-orangnya Lie Cong, pangeran Tong Ong, Kui, juga keluarga Bhok dari Inlam. Mereka-mereka itu pasti bisa melakukan hal apa saja.”

Siau Po menganggukkan kepalanya. “Sekarang coba kau terangkan kepadaku tentang sisa-sisanya Lie Cong dan keluarga Bhok itu. Bagaimana tentang ilmu silat mereka? Dapatkah memperlihatkan beberapa jurus di antaranya yang aku dapat tuturkan di depan Sri Baginda nanti?”
“Aku akan mengatakan kepada Sri Baginda bahwa ilmu silat para penyerbu yang kau lihat tadi. Dengan demikian kata-kataku disertai bukti,”

Go Eng-Him senang sekali mendengar ucapan Siau po. Ia yakin cara itu memang bagus sekali.

“Pemikiran kongkong ini baik sekali!” pujinya.

“Mengenai ilmu silat, kepandaian aku yang rendah sangat terbatas. Karena itu, biarlah Pi cit tanyakan kepada orang-orangku. Silahkan kongkong menunggu, sebentar Pi cit akan kembali lagi”

Go Eng-him memberi hormat kemudian masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, dia sudah masuk kembali bersama salah satu orangnya, yakni Ek-ci, orang yang kemarin dibantu Siau Po unt memenangkan perjudian sebanyak seribu enam ratus tail.

Ek Ci mengenali thaykam cilik ini. Cepat-cepat dia memberi hormat. Wajahnya tampak kelam. Mungkin Eng Him sudah memberitahukan maks kedatangan si thaykam cilik sebagai utusan raja’.

Siau Po tertawa dan berkata.

“Yo toako, jangan khawatir! Tadi malam kau berjudi di istana Kong Cin ong, tidak sedikit orang yang melihatmu. Tidak mungkin kau disangka sebagai penyerbu gelap di istana!”

“Itu memang benar! Tapi aku takut ada orang jahat yang ingin memfitnahku,” kata Ek Ci.

Ia adalah kepala pengawal Go Eng-him, karenanya juga bertanggung jawab atas para bawahannya. Dia khawatir ada orang yang mengatur cerita buruk bahwa sengaja Go sicu mengajak aku ke istana Kong Cin ong, tetapi di belakangnya aku justru telah mengatur penyerbuan ke istana raja….”

“Iya…. Kekhawatiranmu memang beralasan” kata Siau Po.

“Kongkong, kaulah yang dapat menolong kami.” kata Ek ci kemudian. “Menurut Go sicu, kongkong sudah memberi penjelasan kepada Sri Baginda tentang bebasnya kami dari sangkaan. Kami benar-benar berterima kasih atas kebaikan kongkong. Musuh Peng Si ong banyak sekali. Pihak-pihak itu juga mempunyai aneka ragam ilmu silat yang beran, namun ilmu keluarga Bhok istimewa serta mudah dikenali….”

“Aih! Sayang sekali!” kata Siau Po yang cerdik. “Sayang di sini tidak ada orang keluarga Bhok. Kalau tidak, kita dapat memintanya menjalankan beberapa jurus ilmu keluarga itu!”

“Ilmu tangan kosong dan ilmu pedang keluarga Bhok sangat terkenal dan sudah tersiar luas di wilayah Inlam,” kata Ek Ci. “Karena itu, hamba teringat beberapa jurus di antaranya. Kalau kongkong mau, hamba akan berusaha menjalankannya. Kawanan penyerbu itu datang membawa golok serta pedang. Bagaimana kalau hamba tunjukkan beberapa jurus ilmu pedang Keng Hong kiam?”

Siau Po memperlihatkan mimik gembira. “Bagus sekali kalau Yo toako mengenal ilmu keluarga Bhok. Aku tidak mengerti ilmu pedang dan untuk mempelajarinya juga memerlukan waktu yang cukup lama, sebaiknya kau mainkan ilmu tangan kosong saja, nanti aku akan mencobanya.”

Kongkong telah berhasil membekuk Go Pay, nama kongkong terkenal di empat penjuru dunia!” kata Ek Ci. “Aku yakin ilmu silat kongkong pasti bagus sekali. Kongkong, mana yang aku tidak paham, harap Kongkong sudi memberikan petunjuk!”

Yo Ek-ci segera menuju tengah ruangan da mulai bersilat dengan perlahan. Maksudnya agar thaykam cilik dapat melihat dengan jelas. Ilmu silat keluarga Bhok memang terkenal sejak dua ratus tahun yang lalu. ltulah sebabnya meskipun belum lancar sekali, tapi Yo Ek-ci mengenalnya dan dapat menjalankannya dengan baik. Pada dasarnya dia memang lihay. Banyak sudah dia mendengar dan mengalami sendiri, pengetahuannya pun luas sekali.

“Sungguh bagus!” kata Siau Po memuji ketika melihat Ek Ci menjalankan jurus ‘Heng-sau cia kun’ Begitu pun ketika orang itu menjalankan ju Kao-san Liu Sui.

“Bagus sekali!” pujinya sekali lagi ketika Ek berhenti menunjukkan permainannya. “Dalam waktu yang sesingkat ini, aku tidak dapat mempelajari semuanya sekaligus. Karena itu, di depan Sri Baginda nanti, aku akan menunjukkan dua jurus itu saja. Dengan demikian Sri Baginda bisa menanyakan kepada para siwi, apakah mereka mengenali jurus tersebut. Coba kau katakan, apakah kau tahu asal-usul kedua jurus tadi?”

Selesai berkata, Siau Po pun segera menjalankan kembali kedua jurus Heng-sau Ciang kun.

Kao-san Liu Sui tersebut.

“Bagus! Kongkong bagus sekali!” seru Ek ci memuji. “Kongkong dapat menjalankan kedua jurus itu dengan baik sekali! Setiap ahli silat tentu akan mengenalnya. Kongkong memang cerdas sekali. Dengan sekali lihat saja kongkong dapat mengikutinya. Kongkong, dengan demikian keluarga Go pasti luput dari ancaman bahaya!”

Go Eng-him berulang kali menjura kepada Siau seraya berkata.

“Kongkong, keluarga Go yang terdiri dari seratus jiwa lebih semuanya mengandalkan pertolongan Kongkong untuk menyelamatkannya!”

Mendengar ucapan Go Eng-him, Siau Po berkata dalam hati. ‘Keluarga Go ibarat mempunyai gunung emas bukit permata. Dengannya aku tidak perlu membicarakan harga!’ Dia pun menganggukkan kepalanya dan berkata.

“Bukankah kita adalah saudara sejati? Siau ongya, jangan bicara soal budi pertolongan. Dengan berkata demikian, kau menganggap aku seperti orang luar saja. Lagipula, aku memang berusaha menolongmu, tapi, berhasil atau tidaknya toh masih belurn ketahuan!”

“Baiklah, kongkong. Aku mengerti…” kata Eng him.

Siau Po berdiri, dia mengambil bungkusaan senjata dan pakaian dalam tadi. Diam-diam ia berpikir.

’Barang-barang ini untuk sementara tidak boleh diserahkan kepadanya.’ Kemudian dia pun berkata

“Sri Baginda, juga berpesan agar aku bertanya kepadamu, bukankah dari sekian pembesar d Inlam ada seorang yang bernama yo It-kong?”

Go Eng-him tertegun saking herannya.

‘Yo It-kong adalah seorang pembesar yang pangkatnya masih rendah,’ pikirnya dalam hati. Dia memang datang ke kotaraja, tapi belum sempat menghadap Sri Baginda, mengapa Sri Baginda bisa mengetahui tentang dirinya?’

Tapi secepatnya di menjawab: “Yo It-kong adalah seorang camat yang baru diangkat untuk kecamatan Kiokceng di Inlam. Sekarang dia memang ada di kotaraja menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Sri Baginda.”

“Sri Baginda menyuruh aku menanyakan Sia ongya tentang orang itu,” kata Siau Po. “Beberapa hari yang lalu Yo It-kong telah berbuat sewenang-wenang dalam sebuah rumah makan di kotaraja dan dia membiarkan para pengikutnya menghajar orang. Sri Baginda ingin tahu apakah tabiatnya sekara sudah berubah atau belum?”

Mendengar pertanyaan itu, Go Eng-him tekejut setengah mati. Yo It-kong mendapat pangkat camat karena menyogok uang sebanyak empat laksa tail kepada Go Sam-kui. Dari jumlah itu, Go En him sendiri menarik sebanyak tiga ribu tail. Ini yang membuatnya terperanjat. Cepat-cepat dia menjawab.

“Nanti Pi cit memberikan pelajaran kepadanya!” kemudian dia menoleh kepada Yo Ek-ci berkata. “Kau segera perintahkan orang memanggil Yo It-kong. Pertama-tama, hajar dia dengan rotan sebanyak lima puluh kali!”

Setelah itu dia berkata lagi kepada Siau Po. “Kongkong, tolong laporkan kepada Sri Baginda bahwa Go Sam-kui kurang teliti dalam memilih pejabat. Karena itu Go Sam-kui meminta maaf dan bersedia diturunkan pangkatnya! Tentang Yo It-kong, dia akan segera dipecat dan untuk selama-lamanya tidak akan terpilih kembali. Sebagai penggantinya akan diminta Lie Pou tayjin memilih orang yang cakap!”

Siau Po tertawa.

“Ah, dia tidak perlu dihukum demikian berat!”

“Tapi Yo It-kong sungguh lancang dan nyalinya besar sekali. Perbuatannya ini sampai diketahui Sri Baginda,” kata Go Eng-him. “Sebenarnya hukuman itu terlalu ringan, seharusnya dia mendapatkan hukuman kematian. Nah, Yo Ek-ci, hajarlah dia dengan keras!”

“Baik, Siau ongya!” sahut Yo Ek-ci.

Siau Po tertawa. ’Aku rasa jiwa orang she Yo itu bisa tidak tertolong,’ pikirnya dalam hati. Kemudian dia berkata kepada Go Eng-him: “Baiklah, Siau ongya, sekarang juga aku hendak kembali ke istana untuk memberikan laporan kepada Sri Baginda. Terutama harus melatih dulu kedua jurus Heng-sau ciang dan Kao-san Liu Sui itu!”

Selesai berkata, thaykam cilik itu memberi hormat kemudian membalikkan tubuhnya untuk berjalan pergi.

Go Eng-him mengiakan dan membalas penghormatannya. Kemudian dengan sigap dia mengeluarkan sebuah bungkusan besar dari balik pakaiannya dan dengan kedua tangannya dia angsurkan kepada Siau Po seraya berkata.

“Kui kongkong, budimu yang besar sulit Pi cit balas. Begitu pula kebaikan congkoan, So tayjin beserta beberapa siwi tayjin. Karena itu, Pi cit harapkan kongkong sudi membantu bicara dengan mereka dan sekalian tolong sampaikan bingkisan Pi cit yang tidak berharga ini. Kalau nanti Sri Baginda menanyakan apa-apa kepada kongkong, harap mereka sudi membantu kongkong bicara sehingga dapat mencuci rasa penasaran ayah Pi cit!”

Siau Po menyambut bungkusan itu yang berupa uang. Sembari tertawa dia berkata.
“Siau ongya hendak meminta bantuanku, boleh saja!”

Sudah satu tahun lebih Siau Po berdiam dalam istana. Meskipun usianya masih muda, tapi dia sudah mengerti banyak cara bicaranya seorang thaykam dan dia dapat bersikap baik dalam hal itu. Go Eng Him beserta Yo Ek Ci mengantarkan Siau Po keluar. Sikap mereka menghormat sekali.

Ketika Siau Po sudah berada di dalam joli, dia mengeluarkan bungkusan yang diberikan Go Eng him. Ketika dia membukanya, ternyata isinya uang kertas senilai sepuluh laksa tail.

‘Hm!’ pikirnya dalam hati. ‘Dari jumlah ini, lohu justru mengambil setengahnya!’ Benar saja. Dia segera menyisihkan lima laksa tail dan disusupkannya ke dalam saku pakaian. Sedangkan isinya yang lima laksa tail lagi disusun rapi kemudian dibungkus kembali.

Setibanya di istana, mula-mula dia menemui Sri Baginda di kamar tulis Gi Si pong. Dia memberi laporan tentang Go Eng-him yang menurutnya sangat menghormati dan memuji kebijaksanaan junjungannya dan pangeran itu merasa bersyukur sekali.

Kaisar Kong Hi tertawa.

“Hal ini pasti membuatnya terkejut sekali!”

“Ya, dia memang kaget dan ketakutan!” sahut Siau Po ikut tertawa. “Setelah itu hamba bicara tentang para penyerbu yang ilmu silatnya telah Sri Baginda ketahui berasal dari keluarga Bhok. Mendengar saran itu, Go Eng-him heran sekaligus gembira.”

Raja tertawa lagi. Siau Po segera mengeluarkan bungkusan berisi uangnya sambil berkata.

“Ya, Go Eng-him sangat bersyukur. Dia membawakan sejumlah uang kertas yang. katanya satu laksa tahil buat hamba sendiri, sedangkan sisanya untuk dihadiahkan kepada para siwi yang telah berjasa menghadang dan menumpas para penyerbu. Nah, Baginda. Dengan demikian, bukankah kami memperoleh untung besar?”

Siau Po memperlihatkan uang kertas itu. Semuanya berjumlah seratus lembar dan nilai masing-masingnya lima ratus tail.

Kaisar Kong Hi tertawa dan berkata:

“Kau masih sangat muda, selaksa tail pasti tidak habis kau pakai seumur hidup. Sisanya boleh kau bagi rata kepada para siwi itu!”

Senang hati Siau Po mendengar keputusan jujungannya itu, tapi dia masih berpikir: ‘Sri Baginda memang cerdas sekali, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau aku Wi Siau-po telah mempunyai uang sebanyak berpuluh laksa tail.’ Kemudian ia berkata kepada Raja:

“Sri Baginda, perkenankankan hamba mengatakan sesuatu. Bagi hamba, apa yang tidak tersedia? Asal hamba setia kepada Sri baginda dan melayani dengan baik, Sri Baginda dapat memberi kehidupan mewah kepada hamba. Karena itu, biarlah uang sebanyak lima laksa tail ini semuanya dibagikan saja kepada para siwi dan kepada mereka nanti hamba akan mengatakan bahwa semua ini adalah persenan dari Sri Baginda sendiri. Mengapa kita harus memberi muka kepada orang seperti Go Eng-him?”

Sebenarnya tidak ada niat raja menghapus jasa orang. Dalam hal ini yang dimaksudkan ada kebaikan Go Eng-him. Tapi setelah mendengar kata-kata Siau Po yang mengatakan ‘memberi muka’ kepada Go Eng-him,’ hatinya tercekat. Memang benar, bila dikatakan uang sebanyak itu adalah hadiah dari Go Eng-him, para siwi pasti senantiasa, mengingat kebaikan pembesar dari Inlam itu.

Melihat Raja diam saja, Siau Po dapat menebak isi hatinya. Tanpa menanti rajanya berbicara, Siau Po segera berkata tagi.

“Sri Baginda, ketika Go Sam-kui menyuruh putranya datang ke kotaraja ini, dia pasti membekali uang dalam jumlah yang banyak sekali. Dan setiap bertemu orang, putranya itu pasti memberikan persenan. Karena itu, bukan tidak mungkin dia sengaja menanam kebaikan untuk mengambil hati. Bukanlah dalam satu negara, meskipun seseorang itu uangnya banyak sekali, tetapi sebetulnya mepakan milik Sri Baginda? Maka itu, hamba pikir Go Sam-kui itu rada aneh. Dia seperti menganggap Inlam sebagai miliknya sendiri….”

Kaisar Kong hi mengangguk mendengar kata-kata Siau Po.

“Baiklah!” katanya kemudian. “Kau boleh katakan bahwa uang itu merupakan persenan dariku!”

Siau Po merasa puas. Dia memohon diri terus keluar dari kamar tulis raja dan menuju tempat para siwi di mana di sana dia juga bertemu dengan To Congkoan.

“To Congkoan, Sri Baginda menitahkan agar para siwi yang tadi malam telah berjasa dibagikan uang sebanyak lima laksa tail ini!” katanya sambil menyerahkan uang itu.

To Lung senang sekali. Dia menerima uang itu dengan berlutut dan mengucapkan terima kasih.

Siau Po tertawa.

“Sekarang Sri Baginda sedang gembira hatinya. Karena itu, sebaiknya kau menghadap sendiri dan mengucapkan terima kasih seeara langsung!”

To Lung menurut. Bersama Siau Po, dia menuju kamar tulis raja. la berlutut di hadapan kaisar Kong Hi sambil berkata.

“Sri Baginda telah menghadiahkan uang, karenanya hamba beserta para siwi menghaturkan banyak terima kasih!”

Kong Hi menganggukkan kepalanya sembari tertawa. Siau Po segera mewakili rajanya bicara.

“To congkoan, Sri Baginda menitahkan supaya semua uang yang jumlahnya lima laksa tail harap kau bagikan kepada para siwi yang telah berjasa tadi malam. Bahkan siwi yang terluka karena tugasnya diberi lebih banyak dari yang lainnya!”

“Baik! Hamba menurut perintah!” sahut To Lung.

Melihat sikap Siau Po yang demikian cerdas, kaisar Kong Hi berpikir dalam hatinya.

‘Siau Kui cu sangat setia dan pandai bekerja. Otaknya cerdas sekali. Dia juga tidak tamak oleh harta. Diberikannya semua uang yang berjumla lima laksa tail itu kepada para siwi, sedangkan dirinya tidak memungut satu tahil pun!” Sementara itu, Siau Po dan To Lung segera mengundurkan diri.

To congkoan menyisihkan uang sejumlah selaksa tail dan diserahkannya kepada Siau Po sambil berkata.

“Kui kongkong, sudilah kiranya kongkong menerima uang ini untuk dihadiahkan kepada para kongkong sebagai tanda bukti kami para siwi terhadap kongkong!”

Siau Po tertawa.

“Oh, To Congkoan, kata-katamu menandakan kurang bersahabat. Aku , Siau Kui cu, seumur hidup paling menghormati sahabat-sahabat yang berkepandaian tinggi. Kalau saja uang yang lima laksa tail tersebut dihadiahkan Sri Baginda kepada para pembesar sipil, biar bagaimana aku pasti akan harus mengambil barang satu atau dua laksa tail. Tapi uang itu diberikan kepadamu, To congkoan, karena biar kau memberikan setengahnya pun kepadaku, aku tidak akan menerimanya!”

To Lung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa.

“Para siwi mengatakan di antara para kongkong hanya Kui kongkong yang paling muda juga paling bersahabat. Ternyata kata-kata mereka bukan bualan belaka!”

Siau Po tersenyum.

“To congkoan,” katanya seperti tiba-tiba tersadar akan suatu hal. “Dapatkah kau memberitahu kepadaku, apakah di antara para penyerbu yang tertawan itu ada seseorang yang bernama Lau It atau tidak? Kalau ada, kita dapat mengorek keterangan darinya!”

“Aku belum tahu, kongkong,” sahut To Lung. “Baiklah nanti aku akan menyelidikinya.”

“Baiklah!” kata Siau Po yang terus mengundurkan diri.

Baru saja dia sampai di depan pintu kamarnya seorang thaykam datang memberikan laporan kepadanya.

“Kui kongkong, orang she Cian datang lagi membawa seekor babi yang diberi nama Te Hong jinsom ti. Katanya sebagai hadiah untuk kongkong. Sekarang dia ada di dapur menunggu kedatangan kongkong.”

Siau Po mengernyitkan alisnya, pikirnya diam-diam:

‘Babi yang dulu, hoa tiau hokleng ti saja masih belum selesai urusannya, sekarang dia mengantarkan seekor lagi. Huh! Apa kau kira istana ini tempa penyimpanan babi-babi? Tapi dia toh sudah datang bagaimana aku harus menolaknya?’

Sembari berpikir demikian, SiauPo segera pergi ke dapur. Di sana ia melihat wajah orang she Cian yang ramai dengan senyuman itu. Malah ketika melihat Siau Po, dia langsung berkata:

“Kui kongkong, babi hoa tiau hokleng ti it itu benar-benar daging babi yang berkhasiat. Lihatlah setelah kongkong makan daging babi itu, wajah kongkong jadi bercahaya menandakan kesehatannya yang baik. Kongkong, aku bersyukur kongkong sudi membeli daging babi dariku. Karena itu sekarang aku membawakan lagi seekor babi yang bernama Te hong jinsom ti. lni dia babinya!” katanya sambil menunjuk ke samping.

“Kali ini babi hidup yang dibawanya. Bulunya mulus dan bersih sekali di dalam kurungan, babi itu jalan berputar-putar. Siau Po menganggukkan kepalanya. Dia tahu orang itu sedang memberikan kisikan kepadanya ’kedatangan she Cian ini tidak mungkin tanpa maksud apa-apa.’

Orang she Cian itu segera menghampiri Siau Po lalu mencekal tangannya. Sembari tertawa dia berkata:

“Benar hebat pengaruh daging babi yang hamba berikan tempo hari. Lihat, tenaga kongkong jadi kuat dan nadinya berdenyut kencang!”

Begitu kedua tangan mereka saling menyentuh, Siau Po dapat merasakan ada kertas yang dipindahkan ke tangannya. Dia segera menyambuti kertas, merasa ada maknanya itu, namundia masih buta mengira-kira persoalannya. Sedangkan di mukanya, dia juga tidak ingin menanyakan apa-apa.

Babi Te hong Jinsom ini lain lagi cara merawatnya,” kata Si Cian “Tolong kongkong pesankan kepada perawat babi agar binatang itu diberi 20 ampas arak selama sepuluh hari berturut-turut. Sampai waktunya aku akan datang lagi untuk menyembelih dan memasaknya buat kongkong!”

Siau Po menjungkitkan sepasang alisnya.

“Babi hoa tiau hokleng saja sudah membuat seluruh tubuhku panas tidak karuan,” sahutnya “Bagaimana lagi dengan jinsom ti ini? Nanti bawakan aku lagi Yan Oh ti! Saudara Cian, biar kau sendiri saja yang memakannya, aku tidak mau!” Orang she Cian itu tertawa.
“Oh, kongkong. Inilah tanda buktiku terhadap kongkong,” katanya. “Lain kali aku tidak berani memusingkan kongkong lagi!” Dia lantas memberi hormat kemudian membalikkan tubuhnya untuk pergi.

Siau Po membiarkan orang itu berlalu. Kemudian ia berpikir keras.

‘Pasti kertas ini ada tulisannya. Tapi, sekalipun hurufnya sebesar semangka, aku juga tidak ngenalnya. Bagaimana baiknya sekarang?’ Siau Po tidak putus asa. Setelah memesan bawahannya untuk memelihara babi itu baik-baik, ia kembali ke kamarnya. Dia berkata lagi dalam hati ‘Si Cian ini sangat cerdik. Pertama kali dia mengantar babi, di dalam babi itu dia menyembunyi Siau kuncu. Sekarang dia membawa babi hidup. Hanya saja suratnya ini…. Mau tidak mau aku harus minta bantuan Siau kuncu. Dasar orang she Cian itu? Memangnya dia tidak bisa bicara langsung? Mengapa harus tulis surat segala?’

Setelah membuka pintu, Siau Po masuk dalam kamarnya.

“Kui toako,” kata Kiam Peng begitu melihat si Thaykam cilik. “Tadi ada orang membawakan barang hidangan. Tapi rupanya dia melihat pintu kamar terkunci jadi ia pergi lagi tanpa mengetuk pintu.”

” Mengapa kau bisa tahu kalau dia datang mengantarkan barang hidangan?” tanya Siau Po sembari tertawa. “Ah! Tentu hidungmu mencium bau makanan yang lezat bukan? Sekarang tentunya kau sudah lapar? Kenapa kau tidak makan kue saja?”

Bhok Kiam Peng tertawa.

“Aku tidak malu-malu!” sahutnya. “Tadi aku sudah makan kue itu!”

Siau Po tersenyum.

“Kui… Kui toako…” panggil Pui Ie. “Apakah….?” Tiba-tiba si nona mengbentikan kata-katanya. Mukanya menjadi jengah.

“Tentang Lau sukomu itu, aku belum berhasil peroleh keterangan apa pun,” sahut Siau Po mengerti arah pertanyaan si nona..”Kata para orang dalam istana, mereka tidak menangkap orang she Lau”

“Terima kasih!” kata Pui Ie. “Syukurlab kalau memang tidak sampai tertawan!”

“Meskipun demikian, ada baiknya bagi kalian,” sahut Siau Po. “Dia ada di luar istana walaupun dia memikirkan dirimu. Sebaliknya, kau merindukan dia, tapi kau ada di dalam istana. Sepasang kekasih untuk selamanya tidak dapat bertemu, bukankah hal itu mengecewakan sekali?”

Wajah nona Pui jadi merah padam.

“Aku toh tidak mungkin berada dalam istana seumur hidup?” katanya.

“Seorang nona, begitu dia masuk ke dalam istana, mana ada kesempatan untuk keluar lagi.” sahut Siau Po. Dia memang iseng dan suka me goda. “Apalagi nona secantik dan semanis diri ini. Aku Siau kui cu, begitu melihat kau saja, hati sudah kepincut. Timbul keinginan dalam hati untuk mengambil kau sebagai istri. Demikian pula Sri Baginda. Kalau beliau melihatmu, pasti dia akan memilihmu menjadi ratu! Karena itu, nona Pui, aku ingin memberi nasehat kepadamu. Ada baiknya kau menjadi ratu saja!”

Hati si nona merasa mendongkol dan tidak puas.
“Tidak sudi aku bicara panjang lebar denganmu!” katanya. “Setiap ucapanmu hanya membuat aku jengkel dan membuat habis kesabaranku!”

Siau Po tidak menggubrisnya, dia hanya tertawa. Kemudian dia serahkan kertas di tangan kepada si nona cilik.

“Siau kuncu, tolong kau bacakan surat itu.” katanya.

Kiam Peng menyambut kertas itu kemudian membacanya.

“Di kedai kopi Kho Seng ada nyanyian cerita dengan judul Eng Liat-toan.”

Eh, apa artinya ini?” tanya si nona bingung.

Mendengar bunyi surat itu, Siau Po lantas mengerti.’ Pihak Tian-te hwe ada urusan ingin bertemu denganku.

“Aku diundang ke kedai kopi untuk mendengar cerita tentang kisah kaisar Beng thaycou nya. Kecewa kau menjadi keluarga Bhok kalau kisah Eng Liat-toan saja kau tidak tahu.”

“Sudah tentu aku tahu kisah Eng Liat-toan itu,” kata Bhok Kiam-peng. “Itu kan cerita bagaimana awal mulanya kaisar Beng thayou membangun kerajaan Beng!”

“Bagus!” kata: Siau Po. “Sekarang aku akan menanyakan kepadamu, tahukah kau kisah Bhok dengan tiga kali memanah mengukuhkan kedudukannya di Inlam serta Kui kongkong dengan sepasang tangannya memeluk si nona cantik?”

“Fui!” ejek si nona dengan keras. “Ketika kakek mengukuhkan kedudukannya di Inlam, tentu dalam kisah Eng Liat-toan ada disebut juga. Tapi tentang Kui kongkong dengan sepasang… tangannya… tangannya……”

Siau Po memperhatikan si nona cilik lekat-lekat. Lalu dia berkata dengan serius.

“Coba kau katakan! Ada tidak kisah tentang Kongkong yang dengan sepasang tangannya memeluk sepasang nona cantik?”

“udah tentu tidak ada!” sahut Kiam Peng. “!tu hanya karanganmu sendiri!”

“Bagaimana kalau kita bertaruh?” tanya Siau Po. “Bagaimana kalau ada? Dan bagaimana kalau tidak ada?”

“Kisah Eng Liat toan itu,aku sudah hapal di luar kepala!” sahut Kiam Peng. “Aku juga sudah mendengar cerita itu berulang kali. Bertaruh apa pun, aku berani! Cici Pui, bukankah tidak ada cerita tentang Kui kongkong seperti yang dikatakannya?”

Belum sempat Pui Ie memberikan jawaban Siau Po sudah melompat naik ke atas tempat tidur. Tanpa membuka sepatu lagi, dia menyusup ke dalam selimut dan berbaring di tengah-tengah kedua nona itu. Sepasang tangannya merangkul nona Pui dan nona Bhok!
Saking kagetnya, kedua nona itu sampai menjerit tertahan, namun tidak sempat menyingkirkan diri. Hanya Kiam Peng yang masih berusaha memberontak.
Siau Po menggunakan kesempatan itu untu memiringkan tubuhnya ke arah Pui Ie. Dengan demikian bibirnya segera menyentuh pipi si gadis yang halus. Dia juga menciumnya satu kali.

“Sungguh harum…” kata si bocah ceriwis. Nona Pui terkejut setengah mati. Dia ingin meronta, namun dia hanya mengeluarkan jeritan tertahan saking nyerinya. Lukanya memang masih belum sembuh dan tidak boleh sembarangan begerak. Meskipun demikian, tangan kirinya masih melayang juga ke pipi si bocah.

“Plok!” Terdengar suara gaplokan yang keras.

“Ah! Kau hendak membunuh suamimu? Kau tidak takut menjadi janda?” goda Siau Po sambil membalikkan tubuhnya dan terus mencium pipi Kiam Peng yang putih dan halus.

“Hm! Sama harumnya!”

Setelah itu si thaykam cilik melompat turun dari tempat tidur. Terus dia berlari keluar dari kamarnya kemudian mengunci pintunya dari luar.

Kamar Siau Po terletak disisi ruang makan Raja, di sebelah selatan gudang. Karena itu dia berjalan menuju utara untuk mengitari pendopo Yang Sim-tian, kemudian belok ke kiri melintasi tiga ruangan kemudian melewati pintu Yang Hoa – mui. Pintu Sin An mui dan maju terus melalui keraton Siu an kiong yang terletak di sisi pendopo Eng Hoa tian. Lantas memutar lagi lewat pintu Si Tiat mui dan akhirnya keluar dari Sin Bu mui di sebelah utara. Pintu adanya di bagian belakang Ci kiam sia, kota terlarang. Sekeluarnya dari istana dia langsung menuju kedai Kho Seng.

Begitu Siau Po duduk, seorang pelayan segera menghampirinya dan menyuguhkan teh hangat. Setelah itu, Kho Gan-tiau berjalan perlahan menantinya dan melewatinya. Namun ketika lewat dia mengedipkan matanya. Siau Po mengangguk. Dibiarkannya orang itu berlalu.

‘Kau pasti menunggu aku,’ pikirnya dalam hati. Dia meneguk tehnya beberapa kali, terus dilemparnya uang di atas meja sembari berkata.

“Hari ini tidak ada tukang cerita…” Ia pun bangkit dan berjalan dengan tenang seperti Kho Gan-tiau tadi.

Di jalan raya, di sebelah ujungnya tampak Kho Gan-tiau berdiri menunggu.

Siau Po berjalan terus menghampiri. Di sampingnya ada dua buah joli.

“Silahkan naik!” kata Go Tiau kepada Siau Po. Kemudian dia naik ke atas joli lainnya. Dia berbuat demikian setelah menoleh ke sekitarnya dan yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Gerakan kaki si tukang gotong joli cepat sekali. Mereka seperti dibawa terbang. Dalam sekejep mata mereka sudah sampai di tempat tujuan. Siau Po melihat tempat itu merupakan halaman sebuah rumah. Disini Gan Tiau masuk terlebih dahulu, dan dia pun rnengikuti dari belakang. Begitu melintasi dinding berbentuk rembulan, di sana
tampak berkumpul sejumlah anggota perkumpul Tian-te hwe. Semuanya segera memberi hormat dengan menjura. Di antaranya terdapat, Hoan Kong, Hong Ci-tiong, Hian Ceng tojin serta orang she Cian yang mengantarkan babi ke istana.

“Eh, Cian laopan!” sapa Siau Po sambil tertawa “Sebenarnya siapakah she dan nama besarmu?”

Orang ditanya ikut tertawa.

“Sesungguhnya sebawahanmu ini memang she Cian, sedangkan nama belakangnya Lao Pun (uang pokok).”

Siau Po tertawa tergelak.

“Kenyataannya kau memang cerdas dan pandai bekerja,” puji Siau Po. “Kalau berdagang, kau pasti untung terus!”

“Ah…. Wi hiocu hanya memuji saja…” katanya tersenyum. Para anggota yang lainnya segera mengundang Siau Po masuk ke ruang tengah dan semuanya langsung duduk berkumpul.

“Wi hiocu, silahkan lihat!” kata Hoan Kong yang tidak sabaran. Dia segera memperlihatkan sehelai kartu nama berwarna merah yang lebar.

“Tulisan itu…” Siau Po berkata terus terang, sikapnya memang jenaka. “Mereka semua bisa kenal aku, tapi aku tidak mengenal mereka sama sekali. Bahkan inilah pertemuan kita yang pertama!”

“Hiocu, kartu itu merupakan sehelai surat undangan” kata Cian laopan menjelaskan. “Kita diundang untuk menghadiri sebuah pesta perjamuan”

“Bagus!” sahut Siau Po. “Pihak mana yang memberi muka terang kepada Tian-te hwe dengan undangannya itu?”

“Menurut huruf-huruf yang tertera di atas surat undangan ini, orang yang mengundang kami adalah Bhok Kiam-seng!” kata Cian Lao Pun ini memberikan keterangan.

Siau Po langsung tertegun.

“Bhok Kiam-seng?” dia mengulangi nama itu sekali lagi.

“Iya,” sahut si Ciano “Dia adalah Siau ongya atau pangeran muda dari Bhok onghu.”

Sekarang Siau Po baru menganggukkan kepalanya.

“Oh, jadi dia itu kakaknya si babi hoa tiau hokleng itu?”

“Benar!” kata si Cian.

“Dia mengundang kita semua?” tanya Siau Po kembali.

“Dalam surat undangan dia menulis dengan sungkan. Dia mengundang hiocu dari Ceng bok tong dan sekalian orang-orang gagah dari Tian Te Hwe untuk menghadiri perjamuannya. Waktunya malam ini, sedangkan tempatnya di lorong Si Kang cu ho tong.”

“Coba kau katakan, apa maksud undangan ini?” tanya Siau Po kepada si Cian. “Mungkinkah mencampurkan obat bius dalam barang hidangannya nanti?”

“Menurut tata krama, tidak mungkin dia lakukan perbuatan serendah itu,” kata si Cian, “Nama Bhok onghu dalam dunia kangouw sangat terkenal. Sedangkan Bhok Kiam-seng juga seorang pangeran muda. Boleh bilang derajatnya sama dengan Tan Cong tocu kita. Meskipun demikian, pepatah yang mengatakan, rapat tiada yang sempuma, pesta tidak ada yang baik akhimya. Karena itu, hiocu, apa yang hiocu khawatirkan, mau tidak mau kita harus menjaganya!”

“Jadi kita pergi ke sana tanpa menyentuh makanannya sama sekali?” tanya Siau Po. “Di sana toh ada masakan yang terkenal di Inlam dan kita harus mencicipinya!”

Para hadirin saling menatap sekilas. Siau Po jadi heran. Tidak ada seorang pun yang membuka suara sampai sekian lama.

“Kami semua mohon petunjuk dari Wi hiocu,” kata Hian Ceng tojin akhirnya.

Siau Po tertawa.

“Ada arak yang harus, ada hidang yang lezat. Malam ini kita harus mencicipinya. Untuk berjaga-jaga sebaiknya kalian mengangkat aku sebagai ketua. Setelah kenyang bersantap, kita bisa berjudi berpelesiran dengan nona-nona manis! Aku yang menanggung seluruh biayanya! Tapi, kalau ingin membantu aku berhemat, mari kita semua penuhi undangan keluarga Bhok itu!”

Lucu sekali cara bicara Siau Po, tapi dengan demikian ucapannya jadi tidak jelas. Dia tidak memberikan keputusan apakah mereka harus menghadiri undangan keluarga Bhok atau tidak.

“Hiocu,” kata Hoan Kong. “Menggembirakan sekali hiocu bersedia mengajak kami menghadiri pesta perjamuan. Undangan keluarga Bhok ini memang harus kita terima baik. Sebab kalau kita menolak, pasti akan mempengaruhi nama baik baik Tian-te hwe. Bisa timbul anggapan kita ini pengecut dan nama baik perkumpulan kita akan runtuh….

“Jadi kau setuju kita pergi?” tanya Siau Po menegaskan. Kemudian dia menoleh kepada Hian Ceng tojin, Hong Ci-tiong, si Cian dan Kho Gan-tiau.

Semua rekannya itu menganggukkan kepalanya…

“Kalau semua sudah menyatakan persetujuanya, nah… marilah kita makan barang hidangan dan meneguk arak yang mereka sajikan nanti!” kata Siau Po akhirnya. “Ini yang dinamakan, musuh datang kita hadang, air datang kita bendung, teh datang kita teguk! Dan nasi datang, kita lahap semuanya. Kalau racun yang datang, ya terpaksa kita telan juga! Kita adalah orang-orang gagah yang tidak takut mati. Siapa takut mati, tidak pantas disebut seorang laki-laki sejati!” .

“Yang penting kita semua meningkatkan kewaspadaan,” kata Hian Ceng tojin kemudian. “Kita akan tahu bagaimana kenyataannya nanti. Di antara kita, ada yang minum teh, ada pula yang tidak. Juga tidak semuanya minum arak. Ada juga di antara kita yang tidak makan daging maupun ikan. Dengan demikian, biarpun mereka menaruh racun, toh tidak mungkin pada semua makanan dan minuman. Kita juga tidak akan mati semua! Kalau kita datang tapi menolak makan dan minum, kita pasti jadi bahan tertawaan….”

Dengan demikian, keputusan sudah diambil. Untuk menghadiri perjamuan Bhok Kiam-seng. Siau Po melepaskan seragam thaykamnya. Dia berdandan sebagai seorang pemuda gagah. Untuknya, Kho Gan-tiau telah menyediakan seperangkat pakaian lengkap dengan kopiahnya. Dia juga pergi dengan naik joli, anggota Tian-te hwe yang lainnya berjalan kaki.

Demikianlah mereka menuju lorong Si kongcu ho tong.

Di tengah jalan Siau Po berpikir. ‘Di dalam istana, siang dan malam aku selalu khawatir memikirkan si nenek sihir yang jahat itu. Aku takut dia akan mencari kesempatan untuk membunuhku. Tapi sekarang, keadaannya berbeda sekali. Di dalam istana, mana mungkin aku sebebas dan sesenang ini? Namun aku harus ingat pesan Suhu. Aku berdiam dalam istana untuk menyelidiki situasi kerajaan. Kalau aku lancang mengundurkan diri, bukan saja aku tidak berhasil mendapatkan informasi apa mungkin nyawaku sendiri tidak terjamin. Biar sebaiknya aku lihat dulu perkembangannya.

Lorong Si kongcu jaraknya dua li lebih. Setibanya rombongan, Siau Po langsung keluar dari Joli. Mereka segera mendengar suara tetabuhan yang riuh rendah.

“Apakah ada pesta pernikahan sehingga suasananya demikian meriah?” tanya Siau Po dalam hati.

Di depan mereka tampak sebuah rumah besar dengan halaman yang luas. Di situ terlihat belasan orang, dandanan mereka rapi, mereka maju untuk melakukan penyambutan di depan pintu gerbang. Yang berdiri paling depan adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun. Tubuhnya kurus tinggi, tampangnya tampan dan gagah. Ia segera memperkenalkan diri.

“Aku yang rendah bernama Bhok Kiam-seng. Dengan segala kehormatan menyambut kedatang Wi hiocu yang terhormat beserta rombongannya. Pergaulan Siau Po dengan para pembesar negeri sudah luas sekali. Karena itu dia menganggap penyambutan yang dilakukan tuan rumah wajar saja. Dengan mudah dia dapat membawa diri. Kalau perlu dia dapat menunjukkan tampang angkuh. Bhok Kiam-seng ini memang pangeran muda, tapi kalau dibandingkan dengan Kong Cin ong, dia masih kalah satu tingkat, bahkan raja sendiri sangat akrab dengannya. Meskip demikian, dengan sopan dia membalas penghormatan orang itu sambil berkata.

“Siau ongya terlalu banyak peradatan, tak sanggup aku menerimanya!”

Sementara itu, secara diam-diam Siau Po memperhatikan pangeran muda ini. Dan dia melihat kenyataan bahwa wajahnya memang mirip deng Kiam Peng. Tidak salah lagi mereka memang kakak beradik.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: