Kumpulan Cerita Silat

17/05/2008

Duke of Mount Deer (29)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 10:57 pm

Duke of Mount Deer (29)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

Siau Po tertawa. Juga Kiam Peng dan Pui Ie, tapi mereka tidak berani tertawa keras-keras.

“Sekarang mari kita bicara yang serius,” kata Pui Ie. “Kami harus menyingkir dari sini. Bagaimana caranya? Kau harus memikirkan jalannya bagi kami,” tanyanya.
(more…)

Hina Kelana: Bab 119. Suami Istri yang Tidak Bahagia

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 10:46 pm

Hina Kelana
Bab 119. Suami Istri yang Tidak Bahagia
Oleh Jin Yong

Orang-orang Jing-sia-pay sampai terkesima sehingga tiada seorang pun yang mengejar musuh, ketika mereka mengawasi kedua kawannya yang lain, kiranya kedua orang itu pun terkena oleh senjata kawan sendiri yang menebas dari kanan kiri tadi, cuma mereka masih berdiri tegak, tapi sebenarnya sudah mati.

Cara Peng-ci menjulur tangan dan menyampuk sambil mendorong tadi telah dilihat dengan jelas oleh Lenghou Tiong, ia terkejut dan kagum pula, diam-diam ia mengakui kehebatan ilmu silat Lim Peng-ci, jelas itu adalah ilmu pedang dan bukan ilmu silat biasa.
(more…)

Pedang Tetesan Air Mata – 07

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:44 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 07
Kesetiaan Kawan
Oleh Gu Long

Coa Tiong duduk di atas sebuah bangku yang terbuat dari empat batang kayu dengan selembar kain terpal, memandang orang-orang yang berlalu-lalang di tengah jalan, wajahnya tampak suram dan selalu murung, setiap orang dapat melihat bahwa sikapnya hari ini kurang begitu baik.

Sebenarnya Siau-ko sudah menjadi katak dalam tempurung, ikan di dalam jala, siapa sangka di saat yang paling akhir mangsanya berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya.
(more…)

Misteri Kapal Layar Pancawarna (32)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:40 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (32)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Tapi arah yang dituju oleh tapak kaki itu justru menjurus ke sebelah kanan.

Kalau sekarang Po-giok harus mampir ke pondok bintang kecil, lalu bertolak balik menuju ke jalan sebelah kanan, sukarnya mungkin seperti memanjat ke langit, apalagi Ciang-Jio-bin sudah mati di tangannya, siapa tahu kalau di balik surat peninggalan ini ada rencana jahat, perangkap yang akan membahayakan jiwanya? Siapa berani menjamin bahwa di Pondok Bintang Kecil tiada perangkap?
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.