Kumpulan Cerita Silat

16/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 06

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:43 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 06
Ruang Singa Jantan
Oleh Gu Long

Lok-yang adalah sebuah kota indah yang penuh dengan peninggalan-peninggalan kuno serta panorama yang indah yang cocok untuk dikunjungi.

Namun Siau-ko tidak tertarik dengan kesemuanya itu.

Ia datang ke kota antik ini bukan berniat untuk menikmati panorama indah maupun peninggalan-peninggalan kuno.

Dia datang kemari hanya ingin mencari suatu tempat, dan seorang sahabat.

Yang dicari adalah Ruang Singa Jantan (Hiong-say-tong), Ruang Singa Jantan dari Cu Bong.

Akhirnya ia berhasil menemukannya.

Markas besar Ruang Singa Jantan terletak di lorong Unta Tembaga, menurut cerita orang, luas gedung itu hampir menempati seluas sebuah lorong.

Dengan cepat Siau-ko berhasil menemukannya.

Dalam anggapannya semula, Ruang Singa Jantan pastilah sebuah bangunan besar yang kokoh dan antik, biarpun tidak terlalu megah dan mentereng, namun pasti luas dan lebar, berwibawa seperti pemiliknya Cu Bong.

Apa yang diduganya memang tak salah, sebetulnya Ruang Singa Jantan memang berbentuk demikian, hanya ada satu hal yang tak pernah diduga olehnya, bangunan yang kokoh dan megah itu sekarang sudah terbakar habis sehingga tinggal puing-puing berserakan.

Kecuali beberapa ruangan rumah di belakang sana, Ruang Singa Jantan yang mentereng itu sudah musnah tertelan api.

Siau-ko merasakan hatinya bagaikan tenggelam.

Angin dingin berhembus lewat bagaikan sayatan golok, puing-puing yang berserakan itu masih beterbangan ketika terhembus angin, entah berapa banyak kayu yang hangus terbakar, entah berapa banyak tulang manusia yang berubah menjadi abu.

Anak murid Ruang Singa Jantan yang dahulu banyak tak terhitung jumlahnya, kini tak nampak sesosokpun.

Bangunan yang dulunya amat megah dan mentereng, sekarang tinggal keadaan yang suram menyedihkan hati.

Apakah yang terjadi di sini? Bagaimanakah terjadinya?

Hawa dingin yang mencekam seolah-olah merubah tempat itu menjadi neraka.

Kemanakah perginya Cu Bong? Kemana pula perginya jago-jago tangguh andalan Cu Bong?

Mendadak Siau-ko teringat akan Cho Tang-lay, teringat cara kerjanya, teringat kekejaman, kelicikan dan kebusukan hatinya. Semua peristiwa yang berlangsung di Ang-hoa-ki tempo hari, kini satu demi satu melintas lewat di dalam benak Siau-ko.

Mendadak ia menjadi paham, apa sebabnya Cho Tang-lay membiarkan Cu Bong lolos dengan selamat.

Dengan kehadiran Cu Bong di kota Ang-hoa-ki, berarti kekuatan penjagaan di kota Lok-yang menjadi lemah sekali, bila mengirim orang untuk melakukan sergapan tiba-tiba, tak disangkal lagi inilah kesempatan yang paling baik.

Kesempatan yang demikian baiknya ini sudah pasti telah ditunggu-tunggu cukup lama oleh Cho Tang-lay.

Mungkin di saat dia mengangkat cawan untuk menghormati kemenangan Cu Bong tempo hari, pasukan penyergapnya sedang berada di tengah perjalanan.

Sudah pasti apa yang terlihat sekarang merupakan hasil serangan yang dilakukan waktu itu.

Cu Bong sendiri merasa dirinya berhasil meraih kemenangan, padahal dia telah dikalahkan.

Kali ini, dia benar-benar dikalahkan secara tragis.

Sepasang tangan dan kaki Siau-ko telah menjadi dingin dan kaku.

Ia tak bisa membayangkan bagaimana hebatnya pukulan batin yang diderita Cu Bong ketika itu, namun ia percaya Cu Bong tak akan runtuh akibat pukulan tersebut.

Asal Cu Bong masih hidup, dia pasti tak akan dapat dirobohkan oleh siapapun.

Satu-satunya persoalan yang dipikirkan olehnya sekarang adalah bila Cu Bong terburu-buru hendak membalas dendam, sebab Cho Tang-lay tentu sudah mempersiapkan perangkap di kota Tiang-an untuk menantikan kedatangannya.

Jika Cu Bong menuju Tiang-an sekarang, maka kesempatannya untuk kembali dalam keadaan hidup pasti kecil sekali.

Entah siapapun yang menderita pukulan batin sebesar ini, jalan pemikiran maupun gerak-geriknya tak urung akan terpengaruh oleh emosi, amarah dan keteledoran.

Asal ada sedikit saja keteledoran, bisa jadi hal tersebut akan berubah menjadi suatu kesalahan yang bisa menciptakan kematian baginya.

Rencana yang diatur Cho Tang-lay selama ini tak pernah ada titik kelemahan barang sedikitpun.

Teringat akan kesemuanya ini, Siau-ko merasakan hatinya pun ikut menjadi dingin.

Di dalam waktu sekejap inilah dia telah mengambil suatu keputusan.

Dia harus berangkat kembali ke Tiang-an, entah saat ini Cu Bong masih hidup atau sudah mati, dia harus berangkat kembali.

Andaikata Cu Bong belum mati, mungkin saja dia masih dapat menyumbangkan tenaganya bagi teman.

Dia masih mempunyai sepasang tangan, sebilah pedang dan selembar nyawa.

Andaikata Cu Bong sudah tewas di tangan Cho Tang-lay, diapun akan memburu ke situ untuk membereskan layon dari sahabatnya dan membalaskan dendam bagi kematian sahabatnya itu.

Pokoknya bagaimanapun juga, hingga sekarang dia hanya menganggap Cu Bong seorang sebagai sahabatnya.

Sedang Cu Bong merupakan satu-satunya orang yang menganggap dia sebagai sahabatnya.

Biarpun hingga sekarang dia masih belum dapat memahami secara keseluruhan kata ‘sahabat’ tersebut, karena sebelumnya ia tak pernah mempunyai sahabat.

Tapi dia mempunyai semacam semangat.

Semacam semangat kependekaran, semangat berjiwa besar dan semangat kesetiaan kawan.

Justru dikarenakan dalam dunia ini masih terdapat sementara orang yang memiliki jiwa serta semangat seperti ini, maka kebenaran dan keadilan selalu berhasil mengalahkan kejahatan, makhluk yang bernama manusia pun bisa hidup langgeng di dunia ini.

Sayang sekali, dengan kemampuan Siau-ko berpikir, dia selalu menjumpai kesulitan.

Lorong sempit yang semula hening tak bermanusia, mendadak dipecahkan oleh munculnya seseorang.

Orang itu berbaju coklat dan mempunyai perawakan tubuh setinggi empat depa, diapun memiliki selembar wajah kuda yang tak sedap dipandang, sepasang alis matanya yang tebal bagaikan dua buah sapu yang saling bertautan, bahkan mempergunakan seutas tali yang tebal untuk mengikatnya di tengah kening.

Usianya tidak terlalu besar, tapi ia justru nampak agak ketuaan, di bawah alis matanya tajam, begitu ketemu Siau-ko, sepasang matanya bagaikan sebatang paku yang menancap di tubuh Siau-ko saja, tak pernah dapat dipisahkan kembali.

Siau-ko pernah bertemu dengan orang ini.

Manusia dengan bentuk wajah yang begini istimewa, memang seringkali mendatangkan kesan yang amat mendalam bagi siapapun yang pernah bertemu dengannya.

Siau-ko masih ingat, sebenarnya orang itu berada di jalan raya di luar gang yang sempit itu menjual kueh, mempergunakan sebilah pisau tipis yang panjang, lagi sempat mengirisi kueh manis yang terbuat dari buah apel.

Tapi sekarang pisau tersebut sudah terselip di atas ikat pinggangnya.

Rasanya memang bukan suatu pekerjaan yang mudah bila ingin memotong-motong tubuh seseorang dengan pisau seperti ini.

Begitu orang tadi keluar dari halaman, suasana di lorong tersebut menjadi ramai secara tiba-tiba.

Orang-orang yang sebetulnya berada di jalan raya, tiba-tiba saja meluruk masuk ke dalam lorong itu bersama-sama, semua orang yang ada di situ seakan-akan telah berkumpul semua di situ, bagaikan datangnya air pasang dalam waktu singkat menenggelamkan Siau-ko.

Siau-ko hanya merasakan dirinya seakan-akan terjerumus ke dalam suasana pasar malam yang ramai, empat arah delapan penjuru penuh dengan manusia, manusia yang beraneka ragam sehingga suasana menjadi sesak dan tak gampang dilalui, membuatnya sama sekali tak mampu berkutik lagi.

Ia tak tahu bagaimana mesti menghadapi situasi seperti ini, karena dia memang belum pernah menjumpai kejadian seperti apa yang dihadapinya sekarang.

Si penjual kueh tadi seperti sudah terdesak ke hadapannya, tapi sekarang justru tak nampak lagi.

Perawakan orang itu memang terlalu pendek, sudah barang tentu bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk menemukan manusia semacam ini di antara kerumunan orang banyak, tapi bila dia hendak mempergunakan pisau pemotong kuehnya untuk menusuk pinggang seseorang, mungkin hal ini dapat dilakukan olehnya jauh lebih gampang daripada memotong kueh.

Tentu saja Siau-ko tak ingin termakan oleh tusukan pisaunya.

Oleh sebab itu dia perlu mencari orang itu lebih dahulu, dia tahu orang itu bisa jadi adalah pemimpin dari rombongan tersebut.

“Aku ingin membeli kueh!” tiba-tiba Siau-ko berteriak keras, “kemana perginya si penjual kueh?”

“Aku tidak pergi kemana-mana,” seseorang dengan suara yang berat dan parau menjawab, “aku berada di sini.”

Suara tersebut berkumandang dari belakang punggung Siau-ko, dengan cepat Siau-ko berpaling, namun tak terlihat olehnya akan orang tersebut.

Walaupun tidak nampak orangnya, namun suaranya masih kedengaran, itulah sebabnya dengan cepat dia paham, orang itu tak terlihat selama ini tak lain karena dia tidak melihat sambil menundukkan kepalanya.

Orang itu memang sangat cebol, apalagi kalau berada di tengah kerumunan orang banyak.

Andaikata kau tidak memandang sambil menundukkan kepala, sudah jelas tak akan tertampak.

“Kau tidak melihatku, akupun tidak melihatmu. Bagaimana mungkin transaksi bisa dilangsungkan?” dia bertanya kepada Siau-ko.

“Persoalan itu mah, mudah penyelesaiannya.”

Tiba-tiba Siau-ko berjongkok di antara kerumunan orang banyak, walaupun wajah orang tak nampak, tapi selembar muka kuda yang panjang dan lebar telah muncul di hadapan matanya.

“Sekarang, apakah boleh membicarakan soal transaksinya?” ia bertanya.

Orang itu tertawa lebar, sedemikian lebarnya sampai-sampai mulutnya terbelah hingga ke ujung telinga.

“Masa kau benar-benar ingin membeli kueh?”

“Selain membeli kueh apakah kita masih ada transaksi atau jual beli lain yang mungkin dapat dibicarakan?”

“Sayang sudah tak ada.”

“Kalau begitu biar aku membeli kueh saja.”

“Berapa yang mau kau beli?”

“Berapa pula yang hendak kau jual kepadaku?”

“Asal kau mampu membayar mahal, berapapun sanggup kujualkan kepadamu.”

“Berapa sih harga kuehmu itu?”

“Itu mah mesti dilihat-lihat dulu.”

“Melihat apanya?”

“Melihat orangnya.”

“Melihat orangnya?”, Siau-ko tak mengerti, “masa untuk menjual kuehpun mesti menilai orangnya dulu?”

“Tentu saja harus dilihat orangnya dulu, manusia macam apa yang hendak membeli kueh, harga itu pula yang akan ku tawarkan.”

Melihat orangnya baru menentukan harga, prinsip tersebut memang termasuk salah satu taktik untuk berdagang.

“Ada sementara orang hanya cukup membayar dua rence uang tembaga untuk memperoleh kuehku, tapi ada pula yang berani membayar lima ratus tahil emas murni tanpa kulayani permintaannya,” kata orang itu pelan, “sebab aku tidak cocok dengan orangnya.”

“Bagaimana dengan aku?” tanya Siau-ko, “apakah kau merasa cocok dengan aku?”

Beberapa saat lamanya orang itu mengamati Siau-ko dari atas hingga ke bawah. Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya yang sempit, setelah itu tanyanya secara tiba-tiba: “Apakah kau datang dari Tiang-an?”

“Benar!”

“Dalam bungkusan yang kau bawa itu bukankah sebilah pedang?”

“Benar!”

“Apakah kau datang dari Tiang-an kemari karena hendak mencari Cu Toaya dari ruang Hiong-say-tong?”

“Benar!”

Tiba-tiba orang itu tertawa lebar sehingga nampak sebaris giginya yang putih bersih.

“Kalau begitu transaksi kita tak mungkin bisa dilanjutkan lagi…..”

“Mengapa?”

“Sebab orang mati tak mungkin bisa makan kueh, kuehku juga tak akan dijual untuk orang mati.”

Telapak tangan Siau-ko mulai berkeringat, tentu saja keringatnya keringat dingin.

Andaikata badai manusia yang datang dari empat penjuru mendesak dan menghimpitnya terus, akhirnya dia pasti akan mati terhimpit, siapa yang tahan menghadapi pria tersebut?

Diapun sempat mendengar dengusan napas orang-orang itu mulai memburu keras lantaran gembira seakan-akan mereka gembira karena bakal berhasil membunuh seseorang.

Kini kerumunan orang banyak sudah mulai menghimpitnya, tangan kanan si penjual kuehpun sudah mulai menggenggam pisau pemotong kuehnya yang terselip di pinggang.

Mendadak Siau-ko menemukan suatu hal…..

Yang paling menakutkan di dunia ini sesungguhnya adalah manusia, apabila kekuatan manusia dihimpun menjadi satu, maka kekuatan tersebut jauh lebih menakutkan daripada kekuatan apapun yang ada di dunia ini.

Tapi Siau-ko masih dapat menahan diri, sebab diapun mengetahui bahwa orang-orang tersebut adalah anggota Hiong-say-tong, seperti juga dia, berdiri di pihak Cu Bong.

Maka dari itu diapun berkata: “Aku datang dari Tiang-an, dalam bungkusan ini memang berisikan sebilah pedang tajam pembunuh, hanya saja orang yang hendak kubunuh bukan Cu Bong.”

“Siapa yang hendak kau bunuh?”

“Orang yang hendak kubunuh adalah orang yang hendak kau bunuh juga,” Sahut Siau-ko, “sebab akupun seperti juga kalian, akupun sahabat Cu Bong.”

“Oooh……”

“Aku she Ko bernama Cian-hui.”

“Apakah Ko Cian-hui yang berarti makin lama semakin terbang tinggi?”

“Betul, tanyakan sendiri pada Cu Bong, betulkah dia mempunyai seorang sahabat semacam diriku?”

“Tak perlu ditanyakan lagi.”

“Kenapa?”

Dari balik matanya yang sempit tiba-tiba terpancar cahaya licik, mendadak saja dia tertawa tergelak ke arah Siau-ko.

“Kau anggap aku tidak tahu kalau kau adalah sahabat Cu Bong?”

“Jadi kau tahu?”

“Justru karena aku tahu, maka aku hendak membunuhmu.”

Tiba-tiba Siau-ko merasakan punggungnya menjadi basah, basah oleh keringat dingin yang bercucuran.

Walaupun lautan manusia masih menghimpitnya semakin rapat, walaupun pisau pemotong kueh dari penjual kueh itu tampak tajam, namun dalam keadaan yang sangat kritis itu, dia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan tangan yang menggenggam pisau tersebut, menghancurkan tulang hidung dari si muka kuda dan mengorek keluar sepasang biji matanya yang memancarkan kelicikan dan kekejaman itu.

Tapi dia tak dapat bertindak secara sembarangan, dia tak ingin berbuat ceroboh.

Bisa saja dia menghabisi nyawa orang ini tapi lautan manusia yang datang menghimpitnya dari empat penjuru tak mungkin bisa dibunuh olehnya, lagipula dibunuhpun tak akan ada habisnya.

Bila dia manfaatkan kesempatan yang amat singkat itu untuk membunuh orang tersebut, bisa jadi dia sendiri bakal dicincang hingga hancur berkeping-keping oleh orang lain.

Si penjual kueh kembali tertawa, katanya sambil tertawa seram: “Kau toh belum mampus, mengapa tidak segera turun tangan?”

Belum habis perkataan itu diutarakan, Siau-ko yang sebenarnya berjongkok di hadapannya itu tiba-tiba saja bangkit berdiri, begitu bangkit tubuhnya lantas melejit ke tengah udara, seperti dari atas muncul sebuah tangan besar yang tak berwujud yang menarik bajunya hingga melambung ke udara.

Ilmu meringankan tubuh seperti ini jarang dijumpai dalam dunia persilatan, ini pula termasuk kepandaian mencari hidup yang luar biasa ampuhnya.

Sayang sekali dia bukan seekor burung, tentu saja diapun tak bersayap.

Tubuhnya hanya sempat melambung di udara untuk sementara waktu, ketika hawa murninya memudar, maka tubuhnya akan merosot kembali setiap saat, sudah barang tentu diapun akan terjatuh kembali ke tengah kerumunan orang banyak.

Dalam hal ini dia sendiri mengerti jelas.

Dia tahu orang-orang yang berada di bawah sana tentu sudah meloloskan senjata masing-masing sambil menyiapkan serangan mematikan, begitu dia turun, serangan yang mematikan pasti dilepaskan.

Waktu itu biarpun dia masih bisa mencabut pedang untuk membunuh orang, dia sendiripun pasti akan tewas pula di tangan orang lain dan terjungkal di tengah tumpukan mayat.

Dia tak ingin melakukan perbuatan semacam itu, tentu saja diapun tak ingin menyaksikan adegan seram yang menggidikkan hati.

Tapi…… dia sendiripun tak ingin mati.

Di saat yang sangat kritis inilah, mendadak dia menyaksikan seutas tali dilontarkan ke arahnya dari tempat kejauhan.

Dalam keadaan begini, dia tak sempat melihat jelas dari manakah datangnya tali tersebut, diapun tak sempat mengetahui siapa yang telah melemparkan tali tersebut ke arahnya.

Yang beruntung saja dia sempat menyambut tali itu dan persis dapat menangkapnya secara tepat.

Tali itu ditarik oleh seseorang dengan sepenuh tenaga, memanfaatkan kesempatan mana, dia pun melayang ke depan mengikuti gaya tarik dari tali tadi.

Keadaannya seperti sebuah layang-layang yang dinaikkan ke udara, semakin ditarik dia melambung semakin tinggi.

Orang yang menarik tali itupun seperti sedang menarik layang-layang, melaju ke depan dengan cepat.

Siau-ko masih sempat melihat bentuk tubuh orang itu, namun sangat mengenal suara yang ditimbulkan olehnya.

Suara sepatu paku yang sedang berlarian di atas permukaan salju.

Dengan cepat timbul perasaan hangat di dalam hati kecil Siau-ko.

Dia seakan-akan melihat seseorang yang memakai sepatu paku sedang menarik ekor seekor kuda dan berlarian kencang ke arah depan sana.

Diapun seakan-akan melihat orang yang duduk di atas punggung kuda itu, melihat juga kegagahan serta keperkasaannya.

Memang dari dulu dia sudah tahu, Cu Bong tak mungkin bisa dirobohkan secara mudah oleh siapapun.

“Ko Siau-hiap, tak nyana kau benar-benar datang!” begitu menghentikan larinya, si Sepatu Paku jatuh berlutut di atas permukaan salju, “Tongcu memang sudah bilang, Ko Siau-hiap tentu akan datang menengoknya, tak disangka Ko Siau-hiap benar-benar datang menjenguknya.”

Siau-ko harus mempergunakan tenaga yang paling besar untuk menarik sahabatnya yang paling setia ini dari atas permukaan salju.

“Yang seharusnya berlutut adalah aku,” dia berkata kepada si Sepatu Paku, “karena engkaulah yang telah menyelamatkan selembar jiwaku.”

Si Sepatu Paku menyeka air matanya yang nyaris meleleh keluar, paras mukanya kembali berubah menjadi gagah dan perkasa.

“Hamba memang sudah tahu, Coa Tiong tak akan melepaskan setiap sahabat dari Tongcu,” ucap si Sepatu Paku lebih jauh, “segenap sahabat Tongcu boleh dibilang telah tewas semua di tangannya, bahkan yang datang dari kejauhan pun tak ada yang dilepaskan.”

“Coa Tiong adalah si makhluk penjual kueh itu?”

“Ya, dialah orangnya.”

“Tentunya dia bukan seorang penjual kueh sungguhan bukan? Sebenarnya siapakah dia?”

“Dia sama seperti keparat she Nyo tersebut, sebetulnya dia adalah orang kepercayaan dari Tongcu.”

“Apakah diapun mengikuti jejak Nyo Kian mengkhianati Tongcu kalian?”

“Dia lebih jahat ketimbang Nyo Kian,” si Sepatu Paku berkata dengan penuh kebencian, “sewaktu dia mengkhianati Tongcu, persis di saat hati Tongcu sedang sedih, di saat Tongcu sedang umat membutuhkan orang untuk mendukungnya.”

Tanpa keterangan lebih jauh pun Siau-ko memahami maksud batinnya.

“Oooh, rupanya sewaktu kalian pulang dari Tiang-an, selain markas besar Hiong-say-tong telah dihancurkan, Coa Tiong pun telah berkhianat……” Siau-ko menghela napas panjang, “aaaai…. kehidupan kalian selama waktu-waktu tersebut pasti tak baik.”

“Benar! Kehidupan kami waktu itu memang amat tidak baik.”

“Tapi, biarpun kehidupan yang amat tak baik pun toh akhirnya dapat dilalui bukan?”

“Ya, kehidupan yang bagaimanapun payahnya toh akhirnya bisa dilalui,” ulang si Sepatu Paku bagaikan sebuah boneka saja, menirukan kembali kata-kata dari Siau-ko.

Dari balik sorot matanya tiba-tiba terpancar suatu perasaan sedih dan duka yang tak terlukiskan dengan kata-kata, seakan-akan sorot mata seseorang menyaksikan tubuh sendiri semakin tenggelam ke air….. tiada harapan lagi untuk melanjutkan hidupnya sendiri.

Tiba-tiba perasaan Siau-ko juga turut tenggelam.

Coa Tiong telah mengkhianati Cu Bong di saat dia menghadapi kesulitan, tapi hingga sekarang Cu Bong masih memberi kesempatan kepada pengkhianat tersebut hidup dengan riang gembira di dalam dunia ini.

Jelas tindak tanduk seperti ini bukanlah sepak terjang dari watak Cu Bong di hari-hari biasa.

Siau-ko segera menatap wajah si Sepatu Paku lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah kata dia bertanya: “Apakah kau tak berani memberitahukan kepadaku hal yang sesungguhnya?”

“Persoalan apa yang tak berani kukatakan kepadamu?” Sepatu Paku turut menjadi tegang.

Sambil menggenggam bahunya kencang-kencang, Siau-ko berseru lebih jauh: “Bukankah Tongcu kalian telah celaka di tangan orang?”

“Tidak!”

“Sungguh tidak?”

“Sungguh tidak!” si Sepatu Paku seperti ingin berusaha menunjukkan sikap yang lebih riang dan gembira, “sekarang juga hamba akan mengajak Ko Siauhiap untuk pergi menjumpainya.”

—–

Hutan yang lebat kini berubah menjadi pepohonan yang gundul karena tertimbun salju, batu-batu karang yang hitam berkilat justru mencuat di sana-sini.

Seonggokan api unggun berkobar di depan batu karang, dan seseorang berdiri di atas batu karang itu.

Orang itu bertubuh kurus kering hingga tinggal kulit pembungkus tulang, seperti seekor burung pemakan bangkai yang sudah lama tidak menikmati daging bangkai.

Kobaran api unggun berkilauan memancarkan cahayanya dan menyinari raut wajahnya yang kurus.

Itulah selembar wajah lebar yang putus asa dan penuh diliputi kesedihan, alis matanya yang tebal berkerut kencang, sepasang matanya yang lebar dan lesu tak bercahaya tersembunyi di balik kelopak matanya yang cekung.

Tanpa bergerak dia mengamati cahaya api dihadapannya, seolah-olah sedang menantikan munculnya suatu keajaiban dari balik kobaran api itu.

Orang itu tentunya bukan Cu Bong.

Cu Bong si Singa Jantan tak mungkin akan berubah menjadi begini rupa.

Selama ini si Singa Jantan Cu Bong adalah seorang lelaki sejati, seorang lelaki sejati yang tak akan bisa dirobohkan oleh siapa saja.

Tapi si Sepatu Paku justru menyembah di hadapan orang itu sambil berseru: “Lapor Tongcu, orang yang ingin Tongcu jumpai telah datang.”

Siau-ko tidak mengucurkan air mata.

Biarpun air matanya sudah berkumpul dalam kelopak matanya dalam jumlah yang banyak serta setiap saat hendak mengalir keluar, namun ia tidak membiarkan air mata tersebut jatuh bercucuran.

Ia sudah banyak tahun tak pernah mengucurkan air mata.

Kini, Cu Bong telah mendongakkan kepalanya dan memandang wajahnya dengan pandangan kosong, seolah-olah dia sudah tidak mengenal lagi orang yang kini berdiri dihadapannya.

Pelan-pelan Siau-ko menundukkan kepala.

Baru sekarang dia mengerti, apa sebabnya dari balik sorot mata si Sepatu Paku bisa terpancar sinar putus asa dan kepedihan yang luar biasa, tapi diapun tidak habis mengerti, lelaki sejati yang pernah membunuh orang tanpa berkedip sewaktu di luar kota Ang-hoa-ki tempo hari, mengapa bisa dirobohkan orang dengan begitu mudah?

“Siau-ko, Ko Cian-hui?”

Tiba-tiba Cu Bong berteriak keras dan melompat turun dari atas batu karang, berlarian untuk memeluk tubuh Siau-ko.

Dalam sekejap mata itulah, dia seakan-akan sudah memperoleh kembali semangat untuk hidup.

“Aku sudah tahu kau pasti akan kemari, ternyata kau benar-benar telah datang kemari.”

Ia memeluk Siau-ko sekencang-kencangnya, menempelkan wajah sendiri ke wajah Siau-ko.

Kemudian dia tertawa sekeras-kerasnya persis seperti gelak tertawanya setelah berhasil memenggal batok kepala manusia di luar kota Ang-hoa-ki tempo hari.

Tapi Siau-ko segera merasakan wajah sendiri menjadi basah, basah oleh air mata.

Entah air mata siapakah itu? Mungkin dia, mungkin ia sendiri?

Si Sepatu Paku sedang memanasi arak di atas api unggun dengan mempergunakan sebatang tombak besi, angin dingin berhembus amat kencang membuat pohon cemara bergoyang kian kemari, arak tersebut belum juga mendidih.

Tapi darah yang mengalir di dalam tubuh Siau-ko kini sudah mulai mendidih.

“Cho Tang-lay, si bajingan keparat anak jadah ini memang seorang tokoh yang hebat,” Cu Bong mulai berbicara, “biarpun dia telah mengobrak-abrik sarangku, mau tak mau aku harus merasa kagum kepadanya.”

Setelah arak masuk perut, semangat dan kejantanannya makin lama semakin tumbuh kembali, terusnya: “Tapi kagum tinggal kagum, cepat atau lambat suatu hari Locu pasti akan memenggal batok kepalanya untuk kujadikan poci arak.”

Siau-ko menatap ke arahnya, memandang wajahnya hingga lama sekali, tiba-tiba dia bertanya: “Mengapa kau belum pergi juga?”

Tiba-tiba Cu Bong bangkit berdiri, tapi pelan-pelan duduk kembali, perasaan sedih, kecewa dan putus asa sekali lagi muncul di atas wajahnya.

“Sekarang aku belum boleh pergi,” kata Cu Bong lirih, “bila aku pergi saat ini, dia sudah pasti akan mati.”

“Siapakah dia? Apakah seorang wanita?”

Cu Bong menggelengkan kepalanya dengan mulut tetap membungkam, arakpun cawan demi cawan diteguk ke dalam perutnya.

“Kau belum juga pergi membunuh Coa Tiong, apakah juga dikarenakan dia?” kembali Siau-ko bertanya.

Sekali lagi Cu Bong menggeleng, lewat lama kemudian dengan menggunakan semacam suara yang parau seperti mangkuk pecah, dia balik bertanya kepada Siau-ko: “Tahukah kau si anak jadah peliharaan lonte busuk itu, telah membawa pergi berapa banyak orangku?”

“Berapa banyak yang telah dia bawa pergi?”

“Semuanya!”

“Semuanya?” Siau-ko amat terkejut, “apakah segenap anggota Hiong-say-tong telah pergi mengikutinya?”

“Selain si Sepatu Paku seorang, hampir semuanya telah berpihak kepadanya,” ucap Cu Bong, “selama beberapa tahun ini, Coa Tiong selalu membantuku dalam kepengurusan keuangan, segenap harta dan pemasukan maupun pengeluaran dari Hiong-say-tong dipegang olehnya. Belum pernah aku turut campur dalam soal keuangan tersebut.”

“Maka kau lantas berpendapat tak ada gunanya pergi mencarinya, sebab orangnya jauh lebih banyak daripada orangmu?”

Kali ini Cu Bong mengakui, semangat dan kejantanannya yang mulai tumbuh setelah terpengaruh arak panas tadi tiba-tiba saja hilang lenyap dengan begitu saja.

Dengan mempergunakan sebuah tangannya yang besar tapi kurus untuk memegang cawan arak, secawan demi secawan arak panas diteguk ke dalam perut, seakan-akan kecuali arak panas, sudah tiada persoalan lain lagi di dunia ini yang diperhatikan olehnya.

Siau-ko mulai merasakan hatinya menjadi sakit, sakit sekali bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum.

Sekarang dia telah menyaksikan sendiri bukan hanya bentuk badan Cu Bong saja yang mengalami perubahan, bagian dalamnya pun sudah mulai berubah menjadi busuk.

Dahulu, Cu Bong bukanlah seorang manusia seperti ini. Dahulu, bila dia tahu orang yang berkhianat kepadanya masih berada di jalan raya sambil menanti kesempatan untuk membunuh sahabatnya, biarpun ada beribu-ribu orang perajurit yang melindungi orang tersebutpun dia akan tetap menyerbu masuk ke dalam kepungan untuk menghabisi nyawa orang itu.

Mungkin di sinilah letak sebab utama mengapa anak buahnya pada berkhianat semua.

Siapakah yang bersedia mengikuti seorang pemimpin yang telah patah semangat dan putus asa untuk hidup terus dalam dunia persilatan seperti ini?

Hingga sekarang Siau-ko masih belum juga mengerti mengapa seorang lelaki sejati yang bersemangat baja, tiba-tiba bisa berubah menjadi begini rupa? Persoalan apakah yang menyebabkan perubahan secepat itu?

Persoalan ini tidak dia tanyakan kepada Cu Bong, saat itu Cu Bong sudah mabuk, mabuk jauh lebih cepat daripada di saat-saat lampau.

Tulang belulangnya yang besar, kini hanya dilapisi selapis kulit dan daging yang tipis, itu persis seperti seonggokan tulang belulang singa jantan yang sekarat.

Siau-ko sungguh merasa tak tega untuk memandangnya lebih jauh.

Cahaya api unggun masih berkilauan.

Sepatu Paku masih juga memasak arak, diapun tidak memandang sekejappun ke arahnya, namun di balik pancaran sinar matanya justru terpercik sinar putus asa, sedih dan murung.

Siau-ko bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya, lalu menyodorkan secawan arak kepadanya.

Sepatu Paku agak ragu sejenak, akhirnya dia meneguk habis isi cawan tersebut.

Siau-ko memenuhi kembali cawannya dengan arak, kemudian sambil menghela napas ia berkata: “Ternyata aku memang tak salah menilaimu, kau memang benar-benar sahabat karibnya.”

“Hamba bukan sahabat Tongcu, hamba tidak pantas,” sahut Sepatu Paku dengan sikap serius.

“Kau keliru, mungkin hanya kau seorang di dunia ini yang benar-benar merupakan sahabat karibnya, dan hanya kau seorang yang pantas menjadi kawan sejatinya.”

“Hamba tidak pantas,” Sepatu Paku tetap merendah, “dan lagi hambapun tak berani berpandangan demikian.”

“Tapi dalam kenyataannya, hanya kau seorang yang mendampinginya sekarang.”

“Hal ini tak lebih karena selembar nyawa hamba adalah pemberian dari Tongcu, sudah sewajibnya mengikutinya terus sepanjang hidup.”

“Tapi sekarang dia telah berubah menjadi begini rupa.”

“Terlepas Tongcu telah berubah menjadi bentuk apapun, dia masih tetap merupakan Tongcu-ku.” Sepatu Paku menandaskan, “dalam hal ini aku tak bakal berubah pandangan untuk selamanya.”

“Tidakkah kau bersedih hatimu setelah menyaksikan perubahannya yang begitu besar?”

Sepatu Paku segera terbungkam, dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Siau-ko kembali menuang arak, lalu sambil meneguknya pelan-pelan dia amati wajah orang itu lekat-lekat.

Lama kemudian ia baru berkata lagi sambil menghela napas panjang: “Aku tahu, perasaanmu pasti amat bersedih hati seperti juga perasaanku sekarang, kaupun tentu berharap ia bisa bangkit serta bersemangat jantan kembali.”

Sepatu Paku membungkam dalam seribu bahasa.

Sambil mengamatinya lekat-lekat, Siau-ko berkata lebih jauh: “Sayang sekali aku tak berhasil menemukan cara yang terbaik untuk membangkitkan kembali semangatnya.”

Sepatu Paku meneguk pula secawan arak, kali ini dia menuang sendiri arak tersebut untuk dirinya.

Siau-ko turut meneguk secawan, lalu teriaknya keras: “Bila kau tak bisa menemukan cara tersebut, justru aku dapat menemukannya.”

Sepatu Paku segera mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Siau-ko tanpa berkedip.

“Namun, sebelum itu kau harus bercerita dulu kepadaku, apa sebabnya ia dapat berubah menjadi begini rupa?” Siau-ko menatap pula wajah si Sepatu Paku lekat-lekat, “apakah disebabkan seorang wanita?”

“Ko Siau-hiap,” suara si Sepatu Paku bagaikan orang sedang menangis tersedu-sedu, “mengapa kau mengharuskan aku untuk menjawab pertanyaan ini?”

“Tentu saja kau harus menjawab, sebab untuk menyembuhkan suatu penyakit, kita harus mengetahui lebih dahulu sumber dari penyakit tersebut.”

Sebenarnya Sepatu Paku telah bersiap sedia untuk menerangkan, tapi tiba-tiba ia menggelengkan kembali kepalanya.

“Hamba tak bisa menjawab, hambapun tak berani menjawab.”

“Mengapa?”

Sepatu Paku segera duduk kembali dan memeluk kepala sendiri dengan sepasang tangannya, tidak menggubris Siau-ko lagi.

Sesungguhnya persoalan apakah yang menyebabkan perubahan atas diri Cu Bong?

Benarkah dikarenakan seorang wanita?

Lalu siapakah wanita itu?

Kemanakah dia telah pergi?

Mengapa Sepatu Paku tak berani mengatakannya?

—–

Malam semakin kelam, udara semakin dingin, sementara api unggun mulai melemah dan mendekati saat padam.

Sepatu Paku meronta untuk bangkit berdiri kemudian gumamnya pelan: “Hamba akan mencari tambahan ranting kayu untuk api unggun kita.”

Ia belum beranjak terlalu jauh ketika secara tiba-tiba Cu Bong memperdengarkan teriakannya yang sangat keras.

“Tiap-wu, kau jangan pergi!” pekiknya parau, “kau adalah milikku, tak seorangpun boleh membawa kau pergi dari sisiku.”

Teriakan tersebut ibarat sebuah cambukan keras yang menghajar di atas tubuh Sepatu Paku, ia tertegun dan berdiri kaku.

Menyusul kemudian sekujur badannya mulai gemetar keras.

Dalam pada itu Cu Bong sudah membalikkan tubuhnya dan tertidur kembali.

Siau-ko segera melompat ke muka dan menghadang jalan pergi Sepatu Paku, dia menggenggam bahunya erat-erat.

“Pasti Tiap-wu, pasti orang itu adalah Tiap-wu!” pekik Siau-ko keras-keras, “Cu Bong pasti berubah lantaran perempuan yang bernama Tiap-wu.”

Sepatu Paku menundukkan kepalanya rendah-rendah, dia mengakui kebenaran tersebut.

“Apakah dia masih berada di Lok-yang sekarang?” kembali Siau-ko bertanya.

“Tidak ada” jawab Sepatu Paku, “semalam sebelum hamba dan Tongcu sampai di rumah setelah pergi ke Ang-hoa-ki, ada orang telah menyerbu markas Hiong-say-tong kami, waktu itu kebetulan giliran Coa Tiong yang jaga malam, ternyata dalam keadaan tanpa persiapan sama sekali, markas kami dihancurkan total, bukan hanya gedung Hiong-say-tong terbakar habis, merekapun menghabisi nyawa empat puluhan jago-jago kami sebelum berlalu dari situ.”

“Aku percaya penyerbu-penyerbu itu dikirim oleh Cho Tang-lay.”

“Sudah pasti, bukan saja para pendatang terdiri dari jago-jago pilihan, lagi pula mereka mengetahui sekali tentang seluk beluk kami.”

“Itu berarti dalam tubuh Hiong-say-tong sudah tersusup mata-mata dari Coa Tiong.”

“Itulah sebabnya ada orang menaruh curiga Coa Tiong telah mempunyai niat mengkhianati Tongcu sedari dulu, ada pula yang beranggapan lantaran dia tahu ia telah melalaikan tugas sehingga takut Tongcu menjatuhi hukuman yang setimpal, maka iapun memberontak.”

“Apakah Tiap-wu turut memberontak bersama-samanya?”

Sepatu Paku menggeleng.

“Selama ini nona Tiap-wu tak pernah memandang sebelah matapun terhadap lelaki busuk itu, mana mungkin dia akan kabur bersama-samanya?”

“Jangan-jangan ia sudah diculik oleh orang-orang Cho Tang-lay, yang kemudian dijadikan sandera guna memeras Cu Bong?”

Sepatu Paku menghela napas panjang.

“Justru karena itulah maka Tongcu tidak berangkat ke Tiang-an untuk membuat perhitungan dengan Suma Cau-kun.”

“Sekalipun Coa Tiong tidak berkhianat, apakah diapun tak akan pergi kesana?”

“Mungkin saja tidak!”, Sepatu Paku menjawab sedih, “bila Tongcu datang ke Tiang-an, bisa jadi para keparat dari Toa Piau-kiok tersebut akan menyembelih nona Tiap.”

Suara pembicaraannya kini kedengaran seperti mau menangis, sangat memilukan hati.

“Tongcu pernah memberitahukan kepada Siaujin, asal nona Tiap bisa hidup dalam keadaan segar bugar, biarpun Tongcu lebih menderitapun tidak menjadi soal.”

“Justru karena masalah nona Tiap ini, maka Tongcu kalian baru berubah menjadi pemurung dan tak bersemangat, masalah apapun tak ingin dilakukan dan itulah sebabnya sampai sekarang Coa Tiong masih bisa malang melintang di tengah jalan raya dengan sekehendak hatinya sendiri.”

“Ya, hamba sendiripun tidak menyangka kalau Tongcu bisa patah semangat karena seorang perempuan, bahkan mimpipun hamba belum pernah menduganya.”

Sebetulnya dia mengira Siau-ko pasti akan merasa kejadian ini amat menggelikan hati, patut dikasihani dan lucu.

Tapi dugaannya tersebut ternyata keliru besar.

Tiba-tiba saja dia menjumpai sorot mata Siau-ko pun turut berubah menjadi sedih, dia sedang memandang ke tempat kegelapan di kejauhan sana dengan termangu.

Siau-ko sedang teringat akan seorang perempuan yang sama sekali tak diketahui namanya, tapi membuahkan bibit cinta yang tak pernah terlupakan untuk selamanya.

Tentu saja Sepatu Paku tak akan mengetahui persoalan tersebut, sampai lewat lama kemudian ia baru mendengar kembali nada suara pembicaraan dari Siau-ko dengan suara yang lembut tapi penuh kesedihan.

“Tongcu kalian sama sekali tidak berubah, dia masih tetap seorang lelaki sejati,” ucap Siau-ko, “hanya seorang lelaki sejati baru akan memikirkan nasib orang lain, bila dia tidak memperhatikan mati hidup orang lain, mungkin kaupun tak akan mengikutinya.”

“Ya, benar.” Sepatu Paku menyahut agak tergagap.

Lewat lama kemudian, dia baru memberanikan diri untuk berkata kembali: “Ko Siauhiap, hamba ingin mengatakan sesuatu, bolehkah ku utarakan keluar?”

“Katakanlah.”

“Setiap orang sudah sewajibnya memperhatikan orang lain, tapi keliru besar bila kita harus menyiksa diri sendiri demi orang lain, sebab keadaan demikian justru malahan akan membuat sedih dan kecewanya orang yang diperhatikan olehnya.”

Siau-ko tertawa paksa, lalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

“Aku lihat tempat di sana ada batu cadas yang bisa dipakai untuk berteduh, aku hendak tidur dulu, dan kaupun harus pergi tidur……”

Suasana kembali dicekam keheningan yang luar biasa, yang terdengar tinggal suara api yang melalap ranting-ranting kayu kering.

Sepatu Paku mengambil sebuah selimut tebal dilapiskan di atas batu, lalu membopong Cu Bong dan membaringkan tubuhnya di atas selimut tebal tadi, setelah itu menutupi badan Cu Bong dengan dua buah selimut bulu.

Sementara dia sendiri tidur di sisinya, berbaring di atas batu cadas yang dingin dan tidur melingkar seperti seekor udang.

—–

Sebelum fajar menyingsing, Sepatu Paku terbangun dari tidurnya karena kedinginan, diapun melihat Siau-ko telah mendusin.

Di bawah pancaran sinar fajar, dia melihat Siau-ko sedang cuci muka dengan bunga salju, bahkan seperti sedang membuka bungkusan kainnya.

Sepatu Paku tidak melihat jelas apakah isi buntalan tersebut adalah sebilah pedang, diapun tak sempat melihat bagaimanakah bentuk pedang tersebut.

Sepatu Paku memang tak berani memperhatikan dengan seksama, sebab dia memang berlagak seolah-olah tak melihat.

Namun jantungnya berdebar keras, kian lama kian keras debaran hatinya.

Ketika Cu Bong mendusin, hari sudah terang tanah. Sepatu Paku sudah mendusin sedari tadi, kini dia sedang memasak air.

Namun Siau-ko tidak nampak batang hidungnya lagi di situ.

Cu Bong segera melompat bangun, lalu dengan sepasang matanya yang besar dan merah berdarah memandang ke sekeliling tempat itu untuk menemukan jejak rekannya.

Sementara dari tenggorokannya memperdengarkan suara auman binatang buas yang amat menusuk pendengaran.

“Diapun telah pergi?” Cu Bong bertanya kepada Sepatu Paku, “sejak kapan dia telah pergi? Ia kemana? Apakah tak akan kembali lagi ke sini?”

“Lapor Tongcu, sewaktu Ko Siau-hiap pergi, ia tidak berpesan apa-apa, hambapun tak tahu kemanakah dia telah pergi, tapi Tongcu semestinya dapat menduga sendiri, karena Ko Siau-hiap adalah sahabat Tongcu.”

Cu Bong sebenarnya sudah berubah menjadi layu dan lemah karena kesedihan dan kekecewaannya, namun setelah mendengar ucapan dari Sepatu Paku, tiba-tiba saja semangatnya bangkit kembali, dari balik matanya yang merah membarapun mencorong sinar tajam, dia melompat bangun secara mendadak.

“Benar, seharusnya kuketahui kemanakah dia telah pergi!” teriak Cu Bong keras-keras, “Sepatu Paku, mari kita berangkat.”

“Baik!” semangat Sepatu Paku pun seolah-olah turut berkobar pula, air mata sempat membasahi kelopak matanya, “semenjak pagi tadi hamba telah mempersiapkan segala sesuatunya, hamba memang harus mempersiapkan diri selalu, karena hamba selalu menantikan tibanya saat seperti hari ini.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: