Kumpulan Cerita Silat

16/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (31)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:40 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (31)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

“Kalian memang sekawanan binatang liar yang bodoh, memangnya kalian tidak melihat sikap nenek itu amat takut dan segan terhadap nona ini? Kalau nona ini tidak kelaparan dan lemas lunglai, memangnya nenek siluman itu tidak berlutut minta ampun padanya.”

Sekilas kawanan perampok itu adu pandang pula, lalu pecah gelak tawa mereka.

“Betul,” seru mereka berkeplok dan berjingkrak, “memang demikian …Liong-lo-toa memang lebih pintar dari kita.”

“Kalian sudah tahu akalku amat bagus, kenapa tidak lekas serahkan kuah hangat itu.”

perlahan Cui-Thian-ki minum kuah yang diangsurkan ke depan mulutnya, selain menghabiskan satu bakpao dan sekerat daging, matanya juga sudah terbuka lebar, hanya beberapa kejap kemudian, bola matanya kembali bercahaya, bening lagi jeli.

Kini Cui-Thian-ki sudah dapat duduk, tawanya masih manis, “Terima kasih, kalian …!”

Mendengar Cui-Thian-ki tertawa, kawanan perompak itu sama terpesona dan melongo, tertegun seperti orang pikun mimpi pun mereka tidak pernah membayangkan ada gadis ayu dan menggiurkan seperti Cui-Thian-ki.

Melihat keadaan orang-orang itu, senyum Cui-Thian-ki tambah manis, lirikan matanya juga lebih tajam, katanya lirih, “Sebetulnya aku sudah menerima kematian, tapi kalian menolong aku malah, juga menolongnya, aku …aku tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih pada kalian.”

perlahan ia berdiri dengan gemulai ia maju dan satu per satu mencipuk pipi orang-orang itu.

Memangnya kawanan perampok itu sudah linglung, setelah dicipuk mereka menjadi kaku mirip tonggak kayu. Umpama ada orang membacok mereka dengan golok juga tidak akan dirasakan sakit.

Tok-gan-liong juga gelagapan, “Nona, kau ….”

Tadi betapa girang dan gagah laki-iaki ini di hadapan anak buahnya, namun menghadapi Cui-Thian-ki, dia berubah mirip anak kecil, bicara juga gelagapan.

“Jangan kuatir.” ucap Cui-Thian-ki tertawa, “serahkan urusan ini padaku, tanggung beres.”

“Tapi nenek siluman itu ….”

“Kali ini dia tidak akan bisa lari.”

Melihat senyum manis Cui-Thian-ki, suaranya yang lembut, akhirnya timbul keberanian Tok-gan-liong, “Tapi …orang seperti nona, apa dapat membunuh orang? Apakah nona pernah membunuh orang?”

Tadi dia amat yakin dan penuh kepercayaan namun setelah melihat keadaan Cui-Thian ki, bicara lembut, gerak gerik sendiri.

“Satu pun aku tidak pernah membunuh,” ujar Cui-Thian-ki tertawa.

“Wah, kalau begitu ….” Tok-gan-liong menghela napas.

“Aku tidak membunuh satu orang,” demikian tukas Cui-Thian-ki, “aku hanya membunuh lima ribu lebih.”

Tok-gan-liong tercengang, matanya terbeliak, demikian pula anak buahnya, semua berdiri linglung.

Sambil menggeliat dan meluruskan kaki tangan nya, perlahan Cui-Thian-ki malah merebahkan diri.

Angin laut meniup buyar rambutnya, meniup pakaiannya yang sudah tidak keruan, pahanya yang jenjang mulus terpampang di depan orang banyak.

Selama beberapa hari ini, keadaannya tidak terurus, badannya kotor, demikian pula pahanya berlepotan hangus, jadi tidak seputih dan semulus biasanya, namun potongan tubuhnya dengan lekuk-lekuknya yang nyata, laki-laki mana yang tidak terangsang melihatnya.

Cui-Thian-ki tidak peduli. Dia berbaring seenaknya, seolah-olah orang-orang itu tidak dianggap manusia.

Sudah tentu orang-orang itu sama serba salah, biji leher mereka turun naik dan menelan air liur, banyak yang melengos ke arah lain, namun tidak jarang mereka menoleh dan melirik.

Akhirnya Tok-gan-liong tidak sabar lagi, “No …nona, tidak sekarang engkau bertindak?”

“Sebelum tenagaku pulih, kalau sampai berkelahi bagaimana?” demikian jawab Cui-Thian-ki ia kuatir kalau Ban-lo-hu-jin nekat dan melabraknya, urusan bisa runyam.

“O, ya ….” Tok-gan-liong menunduk. Tapi beberapa kejap kemudian ia tak tahan lagi, “Laki-laki yang berada di atas kapal dengan nona itu….”

“Dia bernama Oh-Put-jiu, dia …” Cui-Thian-ki tertawa lebar, “Bagaimana tentang dia?”

Tawa yang genit dan malu-malu secara tidak langsung menjelaskan tentang hubungannya dengan Oh-Put-jiu.

“Baik, bagus sekali, hanya saja …mungkin …agak lemah sedikit.”

“Dia lemah? …Ah, kalau bukan lantaran kelaparan belasan hari, terhadap orang-orang seperti kalian, seorang diri pun dia mampu melawan empat atau lima puluh orang.”

“O, ya ….ya, tapi sekarang, keadaannya justru amat berbahaya.”

“Berbahaya?” tanya Cui-Thian-ki, “kalau benar dia menghadapi bahaya, memangnya aku enak-enak tidur di sini? Kalau benar dia mengalami bahaya, jangankan aku sudah bisa berdiri dan berjalan merangkak pun akan kususul ke sana.”

“Tapi …tapi nenek siluman itu …””

“Jangan kuatir, nenek siluman itu takkan membunuhnya, umpama ditempeleng dan diludahi mukanya, nenek itu juga tidak akan marah, tidak berani mengusiknya.”

“Oo, kenapa demikian?” tanya Tok-gan liong bingung.

“Karena nenek siluman itu ingin memperoleh sesuatu dari dia.”

Terbelalak heran Tok-gan-liong, “Maksudmu nenek itu memohon sesuatu padanya?”

“Ehm, kamu tidak percaya?”

“Padahal nona tidak melihat mereka dari mana tahu?”

“Tanpa melihat mereka pun aku dapat menebaknya, dia …”

Belum habis Cui-Thian-ki bicara, mendadak berkumandang lengking jeritan yang menyayat hati.

Jeritan itu ternyata suara Ban-lo-hu-jin.

“Hah, nenek siluman itu …wah …apa yang terjadi.”

Kejut-kejut girang Cui-Thian-ki dibuatnya, “Lekas papah aku berdiri.”

Bergegas Tok-gan-liong memapah Cui-Thian-ki, waktu jari tangannya menyentuh kulit badannya, mendadak ia gemetar dan merinding, hampir saja napasnya menjadi sesak.

“Papah aku ke sana.” pinta Cui-Thian-ki.

Tok-gan-liong menarik napas, “Ya, tapi … tapi …..”

“Tapi apa lagi, lekas!”

“Untuk berjalan saja nona tidak bertenaga, mana bisa …”

“Siapa bilang aku tidak bertenaga, untuk jalan, aku hanya ingin menghemat tenaga, tenaga yang sudah pulih sebagian ini akan kugunakan untuk menghadapi nenek itu, tahu tidak?”

“O, ya …ya,” Tok-gan-liong menghela napas panjang.

Dengan kekuatannya, menjinjing tubuh orang seberat Cui-Thian-ki, sepuluh orang juga dapat diangkatnya bersama. Tapi entah kenapa, tubuh Cui-Thian-ki yang halus, selembut sutera, harum lagi hangat, begitu menggelendot di badannya, seketika ia merasa berat sekali boleh dikatakan tenaga untuk menarik napas pun terasa berat, malah hampir tidak kuat menggerakkan kaki.

Untung Tok-gan-liong masih mampu membawa Cui-thian-ki ke depan pintu kabin.

Keadaan dalam kabin sudah tenang dan sepi, namun daun pintu masih tertutup rapat.

“Terjang pintu itu,” Cui-Thian-ki memberi aba-aba.

Kepandaian untuk berkelahi kawanan perampok itu memang terlalu rendah, tapi tenaga untuk menjebol pintu cukup berlebihan, tiga orang beradu pundak lalu menerjang serempak, “blang” daun pintu pecah dan jebol berhamburan.

Tampak tangan kiri Ban-lo-hu-jin mendekap muka sebelah kanan, mukanya berlepotan darah. Sementara Oh-Put-jiu duduk lemas di atas kursi mulutnya juga berlepotan darah.

Jari-jari tangan kanan Ban-lo-hu-jin sedang mencekik leher Oh-Put-jiu, begitu daun pintu jebol diterjang dari luar, segera dia lepas tangan sambil mundur tiga langkah. “Siapa …”

Belum habis bicara, ia lihat Cui-Thian-ki berdiri diambang pintu. Kini sikapnya mirip dicekik lehernya, bibirnya bergetar, sepatah kata pun tak mampu bicara.

Begitu daun pintu jebol, Cui-Thian-ki lantas berdiri sendiri, berdiri tegak dan pasang aksi lagi.

Wajahnya dihias senyum cerah yang menggiurkan, wajah nan jelita tampak bersemu merah dan bercahaya, siapa pun takkan percaya bahwa barusan nona ini masih empas-empis dan lemas kelaparan.

Dengan mengulum senyum ia menyapa, “Hai, Ban-lo-hu-jin, baik-baik saja engkau ?”

Ban-lo-hu-jin berdiri kaku seperti kayu, tapi kulit daging wajahnya kelihatan kedutan, walau mulut terpentang lebar, tapi suaranya serak dan tenggelam dalam tenggorokan.

Setelah menelan ludah beberapa kali, akhirnya ia tergagap, “kau …bagaimana bisa ….”

“Mengherankan bukan? Sebetulnya aku sendiri agak heran, tapi sekarang aku sudah tahu, lapar memang penyakit yang menakutkan, namun penyakit ini pun cepat sembuh.”

Sambil tersenyum ia melangkah maju, sebaliknya setapak demi setapak Ban-lo-hu-jin menyurut mundur.

Ketika Cui-Thian-ki tiba di samping Oh-Put-jiu, Ban-lo-hu-jin sudah mundur mepet dinding.

“Ban-lo-hu-jin, apa yang kau takuti?” ucap Cui-Thian-ki lembut, “paling banter aku hanya membunuhmu sekali, atau mengiris dan menyayat kulit dagingmu saja, bila aku malas dan cari gampangnya, mungkin kamu aku dorong ke dalam laut untuk umpan ikan, lalu apa yang harus kau takuti?”

“Nona …nona Cui, aku …aku tidak …tidak bersalah terhadap kalian, coba periksa, telingaku sudah protol digigit Oh-siau-hiap.”

Sembari bicara ia turunkan tangannya, telinga kanannya memang tidak kelihatan, pipinya berlepotan darah.

Cui-Thian-ki cekikikan “Lho, apa yang terjadi? …O, ya, aku tahu sekarang. Mungkin Oh-siau-hiap bicara terlalu lirih, maka kamu mendekatkan kupingmu ke depan mulutnya, siapa tahu tahu Oh-Put-jiu kelaparan, saking tak tahan telingamu digigit dan ditelannya, ai … seleranya ternyata cukup besar.”

Kawanan perompak itu geli dan ingin tertawa di samping kaget mereka pun heran, “Siapa menduga laki-laki yang sekarat karena kelaparan itu masih dapat menipu dan menggigit telinga nenek keparat itu.”

Ban-lo-hu-jin memang tertipu oleh Oh-Put-jiu dengan muka cemberut ia berkata, “Ucapan nona Cui memang benar, seperti menyaksikaa sendiri saja.”

“Terima kasih atas pujianmu,” ucap Cui-Thian-ki tertawa, “Tapi soal apa yang dibicarakan Oh-Put-jiu terhadapmu? Ban-lo-hu-jin ternyata begitu besar hasratnya untuk mendengarkan bisikannya?”

“Dia …ini ….”

“Ah, tahulah aku sekarang. Yang akan dia bisikan tentu rahasia kungfu warisan Ci-ih-hou, betul tidak?”

Ban-lo-hu-jin menunduk lesu, “Persoalan apa pun agaknya tidak bisa mengelabui dirimu.”

“Setelah mendengar rahasia kungfu peninggalan Ci-ih-hou tentu kungfumu memperoleh kemajuan pesat, mungkin … aku bukan tandinganmu lagi.”

“Ah, mana … mana bisa begitu cepat?”

“Ya, untung tidak secepat itu, kalau tidak memangnya aku bisa hidup sampai sekarang?”

“Ya …bukan …ya!”

Kalau aku ingin bertahan hidup, maka jangan kau pertahankan diri.”

“Nona Cui….” pekik Ban-lo-hu-jin setengah meratap, “kumohon ampun padamu.”

Makin lembut suara Cui-Thian-ki, “Kalau aku turun tangan, mungkin kamu bisa mati dengan cara yang paling enak, sebaliknya …aih.”

Ban-lo-hu-jin menjatuhkan diri dan menyembah, ratapnya, “Ampun nona Cui, pandanglah muka anakku, ampunilah jiwaku.”

“Putramu? Siapa putramu? Ada sangkut paut apa dia dengan aku?”

“Nona Cui, bila engkau mengampuniku, akan aku beberkan sebuah rahasia, rahasia besar dan penting.”

Berputar bola mata Cui-Thian-ki, “Nah, sekarang tutuk dulu hiat-to Jian-kin dan Khi-hiat, pada urat nadi kedua sendi tulang kanan kiri lututmu mungkin akan kuberi kelonggaran untuk mendengar omonganmu.

“Ya, ya, Ban-lo-hu-jin mengiakan sambil angkat tangan, dengan keras ia menutuk keempat hiat-to yang ditusuk Cui-Thian-ki, tutukannya memang keras tanpa kenal kasihan, Maklum, di hadapan Cui-Thian-ki tak berani ia main licik, sedikit pura-pura tentu diketahui olehnya.

“Aneh bin heran,” ujar Cui-Thian-ki dengan tertawa geli, “kenapa kamu tidak berani melabrakku? Padahal tenagaku belum pulih, kalau kamu melabrakku, jelas aku bukan tandinganmu.”

Tubuh Ban-Lo-hu-jin berjingkat seperti dicambuk seketika ia melengong di tempatnya, wajahnya merah padam, lalu berubah pucat dan hijau, desisnya perlahan, “Aku … kau …”

“Sering aku dengar kaum persilatan mengatakan Ban-lo-hu-jin rela berlutut dan menyembah daripada bertempur kalau tidak yakin bisa menang, maka sampai sekarang dia masih bertahan hidup. Tapi kalau ini kamu tertipu olehku.”

Pucat seperti kapur wajah Ban-lo-hu-jin, “Aku sudah kalah …sudah kalah, nona Cui memang lihai, aku nenek tua mengaku kalah lahir batin kalah dengan patuh dan tunduk.”

“Baiklah, sekarang boleh kau bicara tentang rahasia itu.”

Walau belum bergebrak secara nyata, namun ia sudah menang satu babak, betapa sengit tegang dan mendebarkan adu urat yang dilakukan barusan, jauh lebih seru dibanding bertempur secara kasar.

Walau Cui-Thian-ki masih tersenyum, namun keringat bertetes-tetes di jidatnya. Padahal keadaannya belum pulih, tenaga untuk berkelahi jelas tidak mungkin dikerahkan, tenaga yang dimiliki hanya cukup untuk berdiri saja, bila berdiri kurang tegak atau terhuyung dan menggeliat, tentu Ban-lo-hu-jin akan menyergapnya dengan serangan kilat.

Cui-Thian-ki maklum dirinya ibarat berdiri di pinggir jurang kematian.

Ban-lo-hu-jin mengawasinya dengan mendelong sesaat kemudian baru berkata, “Baiklah, akan aku ceritakan, rahasia itu mengenai hubungan Cui-nio-nio dengan Pui-Po-giok … ”

******

Air danau itu dingin tapi bening.

Dengan gaya Jian-kin-tui Pui-Po-giok memberatkan tubuhnya sehingga dia terus melorot turun ke dasar air.

Dia berpendapat danau yang satu ini pasti berbeda dengan danau kebanyakan yang ada di dunia ini, dia yakin dan percaya, bahwa analisanya tentu tidak salah.

Kali ini Po-giok mempertaruhkan jiwa raganya untuk membuktikan keyakinannya.

Analisanya memang tidak keliru.

Danau ini memang besar dan luas, tapi airnya tidak dalam, lebih tepat dikatakan dangkal, dan kedangkalan air danau ini sangat di luar dugaannya. Begitu terjun ke dalam air, tidak lama kemudian kakinya sudah menyentuh dasar danau.

Sudah tentu tekanan air juga terasa tidak begitu besar, sambil menahan napas Po-giok bergerak maju ke depan.

Ketika dia membuka lebar matanya, air sangat jernih dan bening.

Pemandangan dalam air segera menarik perhatiannya, sesaat ia berdiri tertegun.

Begitu membuka mata, pandangan pertama yang dilihat Pui-Po-giok bukan lain adalah ….seorang perempuan.

Seperti ikan duyung saja gadis ini sedang berenang dalam air, berenang di hadapannya, potongan tubuhnya yang indah, boleh dikata hampir telanjang bulat.

Rambutnya yang hitam panjang mirip rumput laut yang berkembang, sepasang bola matanya gemerdep mirip mutiara.

Sambil mengulum senyum gadis ini mendekatinya, lalu berenang ke dalam pelukan Po-giok, dadanya yang kenyal dan padat, pahanya yang jenjang dan mulus meliuk gemulai mirip belut melingkar di tubuh Po-giok.

Po-giok berdiri diam tak bergerak, juga tidak menyingkir.

Gadis jelita di dasar danau ini mengangkat sebelah tangan Po-giok serta mengangguk kepadanya. Maksudnya mari ikut padaku.

Tanpa sangsi sedikit pun Po-giok bergerak mengikuti orang.

Tak lama kemudian ia lihat sebuah pintu gerbang yang besar, mirip pintu gerbang istana naga laut, batu-batu laut dengan bentuknya yang beraneka ragam dengan warnanya yang berbeda-beda berkilauan begitu indah dan mempesona.

Semua benda yang ada di sini, dapat membuat pandangan orang kabur membuat orang yang melihatnya silau. Apalagi di antara sekian banyak batu-batu gunung dengan pemandangan yang indah itu, terdapat seorang gadis jelita yang bertubuh hampir telanjang berada di sampingnya.

Kalau tidak menyaksikan sendiri, mana Po-giok mau percaya bahwa pengalamannya adalah kenyataan?

Gadis telanjang itu menariknya masuk ke sebuah lubang yang terletak di celah-celah himpitan batu karang.

Air dalam lorong gua ini terasa lebih dingin lebih bening tapi tenang.

Maju lagi ke depan, Po-giok melihat beberapa huruf yang dirangkai dengan butir-butir mutiara yang gemerlapan, huruf itu berbunyi “Pintu Istana Air”.

Begitu Po-giok melihat dan memperhatikan huruf-huruf itu, gadis telanjang itu segera menariknya ke atas.

Dengan cepat kepalanya sudah menonjol keluar permukaan air. Sesaat ia terpesona pula oleh pemandangan semarak dan megah, lalu didengarnya pula suara merdu disertai suara tawa nyaring, “Apakah Pui-siau-hiap sudah datang? Sudah lama Nio-nio menunggu kedatangannya.”

Sekilas Po-giok celingukan, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah empang yang tidak begitu besar empang ini terbuat dari batu kemala dengan segala macam ukirannya yang indah.

Air empang ini mengalir keluar ke danau yang ada di bagian luar, permukaan air empang sejajar dengan permukaan air danau, maka empang buatan ini merupakan satu-satunya pintu keluar masuk istana air yang tembus ke danau di luar itu.

Betapa aneh bentuk bangunannya, betapa pintar orang memanfaatkan denahnya, apalagi betapa indah, molek dan aneh bentuk dan keadaan istana bawah air ini, sungguh membuat orang kagum pesona dan tidak habis heran.

Empang itu ternyata terletak di tengah gua besar, berbagai bentuk stalakmit dengan corak dan aneka warnanya yang aneh-aneh, jarang terlihat di dunia ramai, pemandangan di sini berbentuk suatu gambaran yang membuat orang tenggelam dalam dunia khayal.

Entah dari mana datangnya penerangan dalam gua besar ini, jelas bukan dari cahaya matahari, tapi pemandangan setiap pelosok gua besar ini dapat terlihat jelas.

Di tepi empang berdiri seorang gadis semampai dengan rambutnya yang panjang terurai, perawakan yang tinggi dengan tubuh yang ramping, hanya rambut panjang itu yang menutup dadanya, keelokannya cukup membuat laki-laki terangsang berahinya.

Meski berdiri polos di depan laki-laki, sikap gadis ini sedikit pun tidak kikuk, tidak merasa malu atau jengah, ia berdiri wajar tenang dengan mengulum senyum manis.

Berdiri lurus seperti sengaja memamerkan keelokan tubuhnya yang ramping padat kepada Pui-Po-giok, sedikit pun tidak merasa malu, malah sikapnya itu kelihatan bangga dan angkuh.

Perawakan dan potongannya yang elok memang patut dibuat bangga, namun Po-giok tidak kuat menahan gejolak hati, meski sudah keluar dari air, namun matanya tidak berani melihat ke atas.

Didengarnya gadis itu cekikikan, “Apakah tubuhku jelek?”

Po-giok melengong, “Ah, tidak …” sahutnya dengan menyengir.

“Kalau tubuhku tidak jelek, kenapa Pui-siau-hiap tidak berani mengawasiku?”

Po-giok tertegun, “Wah, ini …”

“Apa karena aku tidak berpakaian, maka Pui-siau-hiap tidak berani melihatku?”

Tanpa menunggu jawaban Po-giok, dengan tertawa geli ia menyambung, “Tapi apakah Pui-siau-hiap tahu, kenapa manusia harus berpakaian?”

Po-giok melengak, “Karena …manusia memang harus berpakaian.”

“Tapi apa sebabnya harus berpakaian?”

“Karena …untuk menahan dingin.”

“Di sini tidak dingin.”

“Kalau begitu, karena manusia tahu malu.”

“Kenapa harus malu? Setiap orang dilahirkan suci bersih, keluar dari rahim ibunya dalam keadaan polos, kenapa setelah besar tidak boleh diperlihatkan pada orang? …Itu karena manusia sebetulnya berdosa, hanya orang yang berdosa merasa malu, betul tidak?”

Po-giok batuk-batuk.

“Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa orang berpakaian hanya untuk menutupi dosa benar tidak?”

Po-giok batuk-batuk lagi, “Tolong nona, membawaku menemui Kiong-cu saja.”

“Tidak, aku ingin tanya padamu, betul tidak omonganku tadi?”

Po-giok menyengir getir, “Kedengarannya memang demikian.”

“Kalau benar, aku persilakan Pui-siau-hiap menanggalkan pakaian.”

Po-giok adalah pemuda yang tidak tahu artinya takut, namun perkataan gadis belia ini benar-benar membuatnya kaget, tanpa sadar ia mundur dua langkah dan “byuurr”, kembali ia jatuh ke dalam air.

Bila Po-giok dapat berdiri lagi dan angkat kepalanya, entah sejak kapan, di pinggir empang sudah berjajar belasan pasang kaki orang, setiap paha yang jenjang mulus lagi putih itu semua tampak sehat, segar dan kuat.

Sudah tentu Po-giok tidak berani angkat kepala.

Didengarnya gadis tadi cekikikan, “Apakah badan Pui-siau-hiap ada sesuatu yang memalukan bila dilihat orang? Kalau tidak kenapa hanya mencopot pakaian saja tampaknya ketakutan?”

Para gadis itu tertawa bingar, paduan tawa yang merdu dan mengasyikan.

Sebelum masuk ke istana air, Po-giok sudah mempersiapkan diri, mempertebal mental dan kepercayaan, sudah berpikir matang dan meneguhkan iman, bahaya apa pun yang akan dihadapinya, dia yakin punya cara dan keberanian untuk menghadapi dan mengatasinya.

Tapi pengalaman yang dihadapi sekarang, sungguh mimpi pun tidak pernah terbayang sebelumnya, bukan mara bahaya yang dihadapi, tapi malahan belasan gadis cantik jelita yang semuanya telanjang bulat.

Keberanian, akal sehat dan kungfunya tidak berguna untuk menghadapi masalah di depan mata ini.

Pada saat Po-giok tertegun, didengarnya suara “byaar-byuur”, di tengah gelak tawa gadis-gadis itu terjun ke dalam air, sambil menghamburkan air dengan telapak tangan mereka dari berbagai arah, gadis-gadis ini merubung ke arah Po-giok.

Saking gugup Po-giok membentak, “Berani kalian mendekat segera aku kembali ke arah datangku tadi.”

Gertakan Po-giok ini hanya spontan saja karena kehabisan akal ia tahu belum tentu gertakannya akan berhasil. Setiap orang dalam keadaan kepepet dan gugup sering kali mengucapkan gertakan seperti yang dilakukan Po-giok, dan lawannya jarang yang berhasil digertak mundur.

Di luar dugaan, gertakan yang biasa tidak manjur, kali ini justru amat berguna. Walau gadis-gadis itu tidak tergertak mundur, tapi mereka tidak berani mendesak maju lagi.

Berputar biji mata Po-giok dengan tertawa ia berkata, “Aku tahu bukan hanya aku ingin lekas bertemu dengan Kiong-cu kalian, Kiong-cu kalian juga berhasrat bertemu denganku. Kalau aku kembali ke arah datang tadi kalian tentu akan memikul akibatnya, betul tidak?”

Sembari bicara Po-giok mundur beberapa langkah lalu berenang ke tengah.

Ternyata gadis-gadis itu sama memberi jalan dengan cemas mengawasinya naik ke atas, setelah membetulkan pakaian lalu maju ke sana.

Baru beberapa langkah Po-giok berjalan, gadis berambut panjang itu mendadak membentak, “Berhenti! Masih ada yang harus kutanya padamu.”

Walau tidak menoleh, tapi Po-giok berhenti, “Tanya soal apa?”

“Apa kau tahu di mana Kiong-cu sekarang?”

“Setelah berada di Cui-kiong (istana air), memangnya aku kuatir tidak dapat bertemu dengan Kiong-cu kalian?”

“Istana air besar lagi luas, jalannya berliku dan menyesatkan, di mana-mana dipasang alat perangkap yang mematikan. Entah berapa banyak orang yang orang yang sudah masuk ke istana air dan tidak dapat bertemu dengan Cui-Nio-nio, kebanyakan terkurung dalam alat perangkap yang mematikan, masih banyak lagi yang …hm, untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio, memangnya semudah yang kau bayangkan?”

“Ya, engkau memang agak berbeda dengan orang-orang itu, tapi belum tentu …”

“Biar belum tentu, aku akan mencobanya. Mendadak gadis itu cekikikan, “Asal kau mau membuka pakaian, aku akan membawamu langsung ke hadapan Cui-Nio-nio, kalau tidak ..hm bukan saja engkau akan mengalami banyak penderitaan, mungkin selama hidup takkan bisa menemukannya.”

“Tidak jadi soal,” ucap Po-giok tertawa, tanpa menoleh ia meneruskan ke depan.

Gadis itu menggigit bibir, mengentak “kau …jangan menyesal!”

“Sebetulnya tidak jadi soal mencopot pakaian tapi melihat sikapmu yang gugup, dengan berbagai cara sengaja memancingku untuk menanggalkan pakaian, aku menjadi curiga, dalam persoalan ini tentu ada udang di balik batu, oleh karena itu ….” sampai di sini ia tertawa lebar, “Oleh karena itu, lebih baik aku menyesal daripada mencopot pakaian,”

Gadis-sadis itu mengawasinya dengan melongo, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak dapat bersuara, juga tidak bisa tertawa lagi ….

Setelah beberapa jauh Po-giok berjalan ke dalam, Po-giok membuktikan keajaiban alam yang aneh megah dan semarak, bentuk dan besarnya memang mirip istana, pemandangan yang menakjubkan sukar dibayangkan kalau tidak menyaksikan sendiri.

Ribuan stalakmit menghiasi langit-langit gua, satu dengan lain tidak ada yang sama bentuknya, satu dengan yang lain berbeda warnanya, tidak pernah ada pemandangan segaib ini di dunia ramai.

Lebih mempesona lagi karena stalakmit itu dihiasi lagi mutiara-mutiara yang gemerlapan, ditata dan dihias sedemikian rupa, ada yang berbentuk huruf, ada pula yang tercipta menjadi lukisan.

Po-giok tidak peduli dan tidak memperhatikan tulisan dan gambar yang dibentuk dari butir-butir mutiara itu.

Bukan tidak ingin melihat, tapi tidak berani melihat, karena ia kuatir sekali melihat tulisan atau lukisan itu, pendiriannya bisa goyah, imannya bisa runtuh, pikiran kacau dan ruwet.

Kakinya beranjak di tengah pancaran tujuh macam sinar kemilau, seolah-olah tubuhnya juga berhias tata warna yang indah, hingga Po-giok sendiri merasakan dirinya seolah-olah bukan berada dalam gua besar, lebih tepat berada dalam istana dewa yang terletak di dasar air.

Setelah satu lingkar ia bergerak, didapati oleh Po-giok, istana besar ini ternyata tidak berpintu.

Waktu ia menoleh, bayangan gadis-gadis telanjang itu sudah tidak kelihatan. Dalam gua yang besar itu cuma dia dan stalakmit-stalakmit itu seperti menyambut kedatangannya, seperti juga menggoda dan mengedip mata padanya.

Tanpa terasa Po-giok menarik suara lalu membentak, “Pek-cui Kiong-cu, di mana engkau ? Pui-Po-giok mohon bertemu!”

Gema suaranya memantul balik dari dinding gua, suaranya mirip gemuruh ombak samudra laksana guntur menggelegar, begitu kerasnya sehingga telinga Po-giok sendiri terasa pekak. Kecuali pantulan gema suara sendiri. Po-giok tidak mendengar suara orang lain.

Dalam gua besar ini tentu ada pintu rahasia yang tersembunyi, tapi di mana letak rahasianya? Cahaya yang kemilau dengan paduan warna yang menyolok, menyilaukan mata dan memusingkan kepala, tidak mudah orang menemukan tombol atau kunci rahasianya?

Po-giok menenangkan pikiran, menahan gejolak hati perlahan ia berjalan lagi satu lingkar.

Kali ini po-giok memeriksa lebih teliti, setiap jengkal dinding dan lantai diperiksa dengan seksama. Jerih payah Po-giok ternyata tidak sia-sia di antara sekian banyak stalakmit yang beraneka ragam coraknya itu, dia menemukan satu di antaranya berbeda dengan keadaan yang lain, bukan saja lebih mengkilap dan halus, bentuknya juga lebih aneh lebih menyolok.

Tanpa sangsi Po-giok menghampiri dan memeriksa dari dekat, kalau stalakmit yang ada dalam gua besar itu berlumut dan berdebu, stalakmit yang satu ini justru mengkilap dan bening seperti kaca, itu pertanda bahwa stalakmit yang satu ini sering dipegang oleh manusia.

perlahan Po-giok ulur tangan memegang ujung-stalakmit ini, ternyata bisa bergerak dan bisa diputar, setelah po-giok memutar dua kali, maka terdengarlah suara gemuruh, dinding gua pun bergerak dan muncul sebuah lubang, dari balik lubang sana terdengar suara orang tertawa.

“Pui-Po-giok, kamu memang luar biasa, pandai juga kau temukan pintu rahasia ini, tapi apa kau berani masuk kemari? Ketahuilah, bila sudah masuk pintu ini, tiada harapan bisa keluar lagi dengan hidup.”

Semula suara itu dekat di balik pintu, namun lama kelamaan makin jauh dan lirih, kalau tidak puluhan tombak, mungkin ada ratusan tombak jauhnya jelas di balik sana merupakan lubang yang dalam sekali.

Tapi dengan tersenyum Po-giok melangkah tegap.

Baru saja Po-giok melangkah masuk, celah-celah dinding itu segera menutup kembali. Pancaran cahaya warna-warni, pemandangan semarak yang menyilaukan itu semuanya lenyap, kini Po-giok berada di tempat yang gelap gulita, lima jari sendiri saja tidak kelihatan.

Perubahan ini sedemikian, drastis, Po-giok merasakan dirinya seperti jatuh ke neraka dari surga.

Tapi dirinya sudah telanjur masuk ke sini maju ka depan adalah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, tidak mungkin mundur lagi.

Sambil meraba-raba dinding di kanan-kirinya Po-giok menggeremet maju, makin ke depan terasa olehnya dinding gunung yang semula basah, lembab dan dingin semakin kering dan panas, puluhan langkah kemudian dinding yang di jamah tangan Po-giok panasnya seperti besi dibakar.

Sebagai manusia biasa sudah tentu Po-giok tidak berani memegang dinding panas itu. Tapi Po-giok keras kepala, dia nekat maju lagi beberapa langkah “Co”, waktu Po-giok berdiri agak mepet dinding, pakaiannya yang basah terbakar hangus waktu menyentuh dinding.

Umpama Po-giok memiliki kepandaian setinggi langit juga tidak berani beranjak maju lagi.

Hawa dalam gua itu mulai panas, sebetulnya Po-giok kuat bertahan dan melawan, ia yakin dengan kekuatan lwe-kang dan ketenangannya, biarpun dirinya berpakaian tebal juga tidak akan berkeringat dan kegerahan.

Tapi lama kelamaan hawa dalam gua ini memang panas sekali, sepanas dalam tungku, Po-giok seperti di panggang, namun keringat yang bercucuran juga cepat menguap, beberapa kejap lagi Po-giok merasakan tubuhnya seperti mau hangus.

Entah mengapa gua ini seperti berubah menjadi tungku raksasa. Dalam keadaan seperti yang dialami Po-giok, manusia mana pun takkan tahan lebih lama.

Kepala Po-giok mulai pusing, pandangan juga berkunang-kunang.

Sekonyong-konyong didengarnya seorang berkata dengan tawa cekikik. “Hawa sepanas ini? Kenapa tidak lekas copot pakaianmu?”

Dalam kegelapan yang pekat itu, entah dari mana datangnya suara itu.

Po-giok mengertak gigi, bertahan dan bungkam.

Suara itu berkumandang lagi, “Tempat ini begini gelap, umpama kau copot pakaianmu juga tidak ada orang melihat keadaanmu, lalu apa lagi yang membuatmu malu? …Eh, kenapa belum juga buka pakaian?”

“Kenapa kau paksa aku copot pakaian?” teriak Po-giok.

Diam sesaat, akhirnya suara itu berkata dengan tertawa, “Karena kamu tidak mau mencopot pakaian, maka aku paksa supaya kau copot pakaian.”

“Tahukah kenapa aku tidak mau buka pakaian?” tanya Po-giok kalem.

“Ya, ingin aku dengar alasanmu, kenapa kamu keras kepala.”

“Seorang laki-laki, apalagi laki-laki muda normal dan berdarah panas, kalau dia harus telanjang di tengah kerumunan gadis-gadis cantik, yang juga telanjang, meski ia punya ketenangan dan iman yang teguh juga akhirnya akan tekuk lutut di depan kawanan cewek itu, peduli harga diri atau keyakinan segala, dalam sekejap itu tentu tak terpikir lagi olehnya. Dalam keadaan seperti itu, apa pula yang bisa ia lakukan selain memuaskan rangsangan nafsu. Kuyakin kau pun tahu akibat dari semua itu, betul tidak?”

Keadaan tetap gelap pekat tiada suara sahutan.

“Oleh karena itu.” kata Po-giok lebih lanjut, “dengan siasat inilah kalian memerangi jiwa dan iman manusia, entah betapa banyak laki-laki yang jatuh dalam perangkap kalian. Tapi mereka bukan aku, Pui-Po-giok adalah ….”

Belum habis ia bicara, tertawa bingar berkumandang di tengah kegelapan, “Bagus, Pui-Po-giok, anggaplah kamu memang pintar ….”

Tawa bingar semerdu kelintingan itu makin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.

Mendadak Po-giok menanggalkan pakaiannya malah, dengan baju luarnya ia membalut tangannya, dengan tangan yang terbalut ini ia meraba-raba dinding terus merambat ke arah datangnya suara, di sana pula suara itu akhirnya lenyap.

Walau telapak tangannya sudah dibalut tebal, tapi masih terasa oleh Po-giok betapa panas tangannya.

Sambil mengertak gigi Po-giok terus maju ke depan, dengan tekadnya yang besar, ia berhasil mengatasi penderitaan, memusatkan semangat dan mengkonsentrasikan pikiran, selangkah demi selangkah menggeremet maju.

Sudah tentu perjalanan kali ini ditempuh dengan cara yang jauh lebih sukar, lebih menyiksa. Kecuali Pui-Po-giok, mungkin tidak ada orang yang kuat melangkah belasan tindak. Tapi Po-giok sudah melangkah ratusan tindak, seribu langkah dan terus maju ke depan, Badannya hampir kering, mirip daging yang dipanggang. Keadaannya sudah hampir lumpuh dan hangus terbakar.

Pada detik-detik yang menentukan ini, tawa bingar yang merdu tadi berkumandang lagi, “Bagus sekali, kamu mampu menempuh perjalanan sejauh ini, memang tidak malu Pui-Po-giok diagulkan sebagai ksatria sejati tapi …Pui-Po-giok, tahukah di mana sekarang kamu berada?”

“Aku sudah berada di depanmu!” tegas suara Po-giok, tapi serak dan kering.

Suara itu masih tertawa, “Baiklah, boleh kau lihat….”

Di tengah suara tawa merdu orang, setitik sinar melayang jatuh di tanah, namun hanya sekejap lantas padam.

Nyala api yang sekejap itu cukup bagi Po-giok untuk melihat keadaan sekitarnya. Jelas terlihat oleh Po-giok dirinya kini berada di tempat semula, di mana pertama kali dirinya masuk dari celah-celah dinding tadi. Sebelum celah dinding tertutup tadi, sempat ia perhatikan keadaan sekelilingnya.

Dengan ketahanan yang luar biasa Po-giok menempuh perjalanan, betapa susah dan menderita, ternyata perjalanan yang sia-sia, akhirnya putar kayun dan kembali ke tempat semula. Luluh semangat dan tenaga Po-giok, hampir saja ia ambruk dan pingsan.

Suara itu berkumandang pula, “Sejak mula sudah aku peringatkan, lorong gua di sini amat ruwet dan menyesatkan, banyak perangkap dan perubahannya. Nah, apakah kamu masih anggap dirimu pintar? Lekaslah copot pakaianmu.”

“Tidak!” desis Po-giok geram.

Berubah lembut dan prihatin suara itu, “Begitu kau copot pakaian, segera kau dapat bertemu dengan Nio-nio, kamu dapat berendam di air yang hangat dan segar, berapa lama ingin berendam dalam air boleh terserah padamu, berapa poci kau ingin minum teh atau arak boleh sesuka hatimu. Kenapa masih kukuh pendapat, keras kepala bukan cara yang paling baik, kalau masih juga bandel, bila kamu mampus kekeringan, siapa akan memujimu.”

“Jangan kuatir, penderitaan begini belum akan membuatku mampus.”

Diam sesaat lamanya, suara itu akhirnya tertawa dingin, “Baiklah, berapa lama kamu akan bertahan lagi.”

Tokoh besar mana pun setelah mengalami siksa derita seberat itu, pasti roboh dan tak kuat bangkit lagi. Tapi Po-giok hanya memejamkan mata “menggeremet maju ke depan, sembilan di antara sepuluh orang pasti menggunakan tangan kiri, karena tangan kanan harus selalu siaga bila di tengah kegelapan dirinya disergap atau diserang secara mendadak.

Demikian pula yang dilakukan oleh Pui-Po-giok.

Tadi dia menggeremet maju dengan tangan kiri meraba dinding sebelah kiri, kenyataan dia kembali ke tempat semula.

Kini ia menanggalkan pakaiannya yang sudah hangus untuk membalut tangan kiri tadi, menyobeknya beberapa potong lalu menyambungnya lebih panjang untuk membalut tangan kanan.

Kini ia menggeremet maju lagi ke depan dengan meraba dinding sebelah kanan.

Jalan yang ditempuhnya kali ini sudah tentu lebih sukar, lebih menyiksa, seluruh tenaga dan semangat seperti menguap oleh suhu panas yang luar biasa.

Kedua kakinya seperti mendadak berubah berat ribuan kati, pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kesadarannya juga mulai pudar ….Air, air jernih lagi dingin!

Saking tak tahan ingin rasanya dia memekik dan berteriak, menerima segala syarat yang mereka ajukan, cukup dengan imbalan air untuk dia minum, air yang dingin lagi segar.

Tapi Po-giok hanya mendengus, mengertak gigi dan meneruskan ke depan Mendadak tubuhnya menjadi lemas dan kehilangan keseimbangan, lalu robohlah dia.

Di tengah pingsannya, seolah-olah Po-giok kembali pada masa kecilnya dulu. Di pekarangan belakang, di bawah rumput bunga yang rimbun, dia tengah duduk tegak belajar membaca.

Cuaca amat panas, gerah sekali hingga sesak bernapas, pakaian luar ia tanggalkan, dalam hati ia mengharap turun hujan, dan hujan ternyata benar turun, air hujan bertetesan dari dahan pohon.

Tetesan air hujan nan dingin menyejukkan, sungguh nyaman dan segar. Mendadak seorang berteriak-teriak di pekarangan depan, “Po-giok … Po-giok … ”

Siapa itu? Ah, kiranya paman berkepala besar? Begitu Po-giok membuka mata, mimpi pun sirna. Kenyataan adalah kejam, namun mukanya masih basah oleh air. Apa benar air hujan?

Terdengar seorang menghela napas di atas, “Pui-Po-giok, akhirnya kau sadar”

Waktu Po-giok- angkat kepala, tampak olehnya di ujung dinding gua yang gelap dan keras itu, di tengah himpitan dua dinding terjal, entah sejak kapan terbuka sebuah lubang.

Gadis berambut panjang itu tengah melongok di atas lubang dengan tawa genit ia berkata, “Pui-Po-giok, kini kamu sudah sadar bukan bahwa kamu ini manusia biasa, bukan robot, datang juga saatnya ambruk dan tak mampu berjalan lagi. Nah sekarang, kau mau menyerah?”

Po-giok merintih, “Air …air …”

Gadis ayu itu mengangkat tangan, tangannya memegang sebuah cangkir emas suaranya lembut menarik, “Dalam cangkir ini berisi air embun kembang mawar, tadi aku meneteskan tiga tetes di mukamu, hanya tiga tetes, kau sadar dari pingsan sudah kau rasakannya. Nah asal mau menyerah, air lembut bunga mawar ini boleh kau minum sampai habis.”

“Air embun? … Bunga mawar … ” Po-giok bergumam. Seolah-olah mengigau dalam pingsannya, tampak betapa lemah kondisinya, keadaannya yang payah sudah tidak bisa dilukiskan lagi.

Gadis ayu itu cekikikan, “Tetesan air yang dingin segar, biar kau rasakan sekali lagi … ”

Dia angkat cangkir emas itu lalu dimiringkan sedikit hingga airnya menetes satu tetes, tepat menetes di wajah Po-giok.

Mendadak Po-giok memekik sambil meronta “Tidak … tidak mau menyerah …”

Gadis itu geleng kepala katanya setelah menghela napas gegetun, “Dasar bandel seperti kerbau. Baiklah, kau sendiri ingin menderita, jangan salahkan aku.”

Air dalam cangkir emas di tangannya itu mendadak ia buang ke dinding gua.

“Cess,” begitu air menyentuh dinding gua, asap pun mengepul, air itu seketika kering dan menguap menjadi asap tipis.

Wajah gadis jelita itu pun lenyap di tengah mengepulnya asap, suasana kembali menjadi gelap dan hening.

Mendadak Po-giok melompat bangun. Bukan karena beberapa tetes air bunga mawar tadi yang memulihkan kekuatannya, yang benar tadi Po-giok hanya pura-pura semaput, pura-pura payah dan ambruk tak sadarkan diri.

Sekali lompat dengan enteng ia mencapai puncak dinding, sekilas pandang ketika lubang tadi masih terbuka, dapatlah Po-giok meneliti keadaan sekitarnya, maka dengan cepat ia merayap ke atas.

Jari jari tangannya terbungkus kain, kakinya juga terbungkus sepatu, tapi kaki tangannya panas terbakar, bila tidak kuat bertahan, tubuhnya akan terjungkal dan segala usahanya akan gagal total.

Dinding karang yang puluhan tombak tingginya itu, bagi keadaan Po-giok sekarang rasanya menjadi ratusan tombak, namun ia kertak gigi, mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya.

Syukur akhirnya dia berhasil mencapai puncak dinding.

Waktu ia angkat tangan, hatinya seperti bergantung di udara. Demikian pula jiwanya seperti terapung di awang-awang.

Kalau batu gunung di sebelah atas dapat bergerak, itu berarti segala penderitaannya ini akan memperoleh imbalan setimpal, kalau tidak …kalau tidak bagaimana? Po-giok tidak berani membayangkan.

Terima kasih pada bumi dan langit! Batu yang menutup lubang di sebelah atas ternyata dapat bergerak.

Rasa girang Po-giok seperti mendapat rejeki nomplok, perlahan ia mendorongnya ke samping lalu melompat keluar dan menggelinding ke samping.

Batu gunung di luar lubang ternyata dingin segar, sedingin air danau.

Mendekam di tanah Pui-Po-giok terengah-engah, sekelilingnya sepi lengang. Segala penderitaan mara-bahaya seolah-olah sudah berlalu.

Telapak tangannya menempel batu gunung yang dingin, demikian pula pipinya juga melekat di batu gunung, setebal napas teratur dan tenaga pulih, perlahan baru ia angkat kepala dan memandang ke depan.

Mendadak ia lihat sepasang kaki. Sepasang kaki orang laki-laki.

Sepasang kaki ini berada di depan matanya.

Kaki orang laki-laki ini mengenakan sepatu yang indah dan mewah, sepatu mahal yang dibuat dari sutera dengan sulaman benang emas, mahalnya sepatu sekaligus menandakan kedudukan pemakainya yang agung. Tapi bila sepasang kaki ini sedikit saja diangkat, menendang dengan ringan …..Maka Pui-Po-giok akan menggelinding jatuh ke dalam lubang pula.

Begitu melihat kaki di depan matanya, napas Po-giok seperti berhenti darah juga seperti beku. Bila sepasang kaki ini menendang, jelas dia tidak mampu melawan atau menyingkir.

Tapi sepasang kaki ini tetap berdiri diam, tidak menendang juga tidak bergerak.

Po-giok merapatkan badan ke tanah, tidak berani bergeming, mengangkat kepala menengok muka orang pun tidak berani, padahal besar hasratnya ingin mengetahui siapa orang yang berdiri di depannya ini.

Dia hanya tahu orang ini berpakaian. Orang pertama yang ia lihat berpakaian sejak dirinya berada dalam istana air ini, juga orang laki-laki yang ia lihat pertama kali di sini. Bukankah asal-usul dan kedudukan orang ini membuatnya tertarik heran.

Didengarnya suatu suara rendah berat berkata perlahan. “Ternyata kau mampu datang ke tempat ini, jerih payahmu sungguh harus dipuji. Tapi perlu kau tahu, tempat ini sudah dekat dengan pusat istana, perjalanan yang masih harus kau lalui justru lebih sukar, lebih berat, kau harus lebih waspada menghadapi ujian ini.”

Po-giok melengak keheranan, karena dari nada bicara orang ini, bukan saja tidak mengandung maksud jahat malah prihatin dan penuh kasih sayang, seperti nasihat seorang tua terhadap anak atau muridnya.

Kenapa hal ini terjadi? Siapa pula orang ini?

Ingin Po-giok bertanya, tapi suaranya tidak keluar, bukan tidak berani bertanya, ia maklum umpama dirinya bertanya juga takkan memperoleh jawaban, orang ini tidak akan memberi penjelasan.

Lebih lanjut orang itu berkata pula, “Usiamu masih muda tapi tekadmu yang besar dan teguh sungguh harus dihargai. Asal imanmu tetap teguh tekadmu tetap besar penderitaanmu tidak akan sia-sia.”

Bukan saja merupakan nasihat juga merupakan anjuran, memberi dorongan.

Makin tebal rasa kaget dan curiga Po-giok, namun mulutnya hanya bisa mengucap, “Terima kasih.”

Setelah diam sejenak suara itu berkata pula, “Sekarang kamu masih mampu berdiri?

“Bisa,” sahut Po-giok pendek.

“Kalau bisa berdiri, kenapa masih rebah di tanah?”

Po-giok mengiakan. Kini ia yakin orang tidak bermaksud jahat terhadapnya, segera ia membalik tubuh terus melompat berdiri. Tertampak orang sudah berputar membelakangi dirinya serta berjalan lambat ke sana.

Langkah orang lambat tapi mantap kian berat kedua tangannya seperti bersidekap di dada.

Saking tak tahan Po-giok bertanya, “Kenapa tuan tidak memberi kesempatan agar aku lihat wajahmu?”

“Tidak perlu kau lihat wajahku, lebih penting kau lihat pedangku.”

Di saat mengucap “ku”, kata yang terakhir, pundaknya mendadak bergerak sedikit.

Gerakan yang sedikit ini tidak mungkin diikuti oleh pandangan mata, siapa pun takkan mengambil perhatian gerakan pundak seseorang. Tapi begitu melihat pundak orang bergerak Po-giok justru berjingkat kaget.

“Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam!”

Begitu pundak bergerak, sinar pedang pun meluncur seperti seutas rantai perak. Itulah serangan mematikan yang pernah dilancarkan Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin dari Lam-hai-pai Cu-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam.

Serangan kali ini jauh lebih cepat dibanding serangan Ciang-Jio-bin dulu, sasarannya lebih telak dan ganas, posisinya juga lebih kuat dan mantap dibanding serangan yang dilakukan Ciang-Jio-bin dulu.

Kalau dahulu Po-giok belum pernah mengalami serangan jurus pedang yang mematikan ini, bila sebelumnya tidak waspada waktu melihat pundak orang bergerak, umpama jiwanya tidak melayang di bawah tusukan pedang orang, selanjutnya jangan harap dapat meneruskan usahanya untuk bertemu dengan Cui-Nio-nio.

Baru saja sinar pedang menyambar keluar dari bawah ketiak orang ini, tubuh Po-giok sudah melompat mundur. Po-giok sudah menggunakan setaker tenaganya, juga sudah dia perhitungkan, tusukan pedang ini paling banter hanya bisa mencapai pakaiannya, dan pasti takkan mampu melukai tubuhnya. Di luar tahunya pedang itu mendadak berhenti beberapa kaki di depan dadanya.

Walau serangan pedang ini lebih cepat dari tusukan pedang Ciang-Jio-bin, lebih ganas, lebih telak, tapi tusukan orang ini ternyata tidak sungguh-sungguh dilancarkan, jelas orang ini menaruh belas kasihan, ini dirasakan secara langsung oleh Pui-Po-giok.

Setelah menarik napas panjang, Po-giok berkata haru, “Terima kasih!”

Pedang orang itu perlahan melorot turun, suaranya kalem, “Apakah kau pernah melihat jurus serangan ini?”

“Ya,” pendek jawaban Po-giok.

Berubah dingin suara orang itu, “Kalau belum pernah melihat jurus pedang ini, saat ini mungkin kamu sudah terluka oleh tusukan pedangku. Dengan jurus pedang yang ganas aku hendak merengut nyawamu, kenapa kamu berbalik berterima kasih padaku?”

“Bahwa pedangmu tadi menaruh belas kasihan, memangnya Po-giok tidak merasakan?”

“Umpama benar menaruh belas kasihan, tapi tusukanku tadi bisa menamatkan jiwamu.”

Po-giok tertawa malah, “Tapi kenyataan sekarang aku masih hidup, masih segar bugar.”

Diam sejenak akhirnya orang itu berkata, “Betul sekarang kamu masih hidup, sudah dua kali kau saksikan jurus serangan pedang ini, ternyata kamu masih segar bugar, maka ilmu pedang yang bisa melukaimu mungkin tidak banyak lagi di dunia ini.”

“Tidak banyak?” Po-giok melengong, “kukira juga tidak sedikit?”

Mendadak orang itu menghentikan gelak tawanya, “Em, memang tidak sedikit, paling sedikit masih ada tiga macam.”

“Kenapa tidak memberi kesempatan padaku untuk belajar kenal?”

“Buat apa terburu-buru?”

Mendadak pedang dibuang ke belakang, tanpa terasa Po-giok ulur tangan menangkapnya. Begitu sinar pedang berkelebat, waktu Po-giok memandang ke depan, bayangan orang itu pun sudah lenyap.

Di depan masih merupakan lorong gua yang gelap panjang ini rasanya berada di perut gunung, kalau ada hanya cahaya lampu tidak pernah ada sinar matahari.

Tidak pernah terpikir oleh Po-giok meski dalam mimpi, bahwa ada orang di dunia ini dapat membangun istana dalam perut gunung dengan sebesar, seluas dan semegah itu. Istana yang penuh misteri dan gaib.

Setelah berdiri mematung sekian saat, po-giok bergumam sendiri, “Apa kedudukan orang ini dalam Pek-cui-kiong? Tutur katanya begitu prihatin dan menaruh belas kasihan terhadapku, namun kenapa dia melancarkan serangan mematikan padaku? Kalau serangan mematikan itu dilancarkan, kenapa pula dia menaruh belas kasihan? Kalau rela memberi pengampunan dan menaruh belas kasihan, kenapa harus menyiapkan tiga macam serangan mematikan, kenapa pedang ini diberikan padaku? ….”

Pedang di tangannya itu lencir panjang tajam, lagi sempit tipis, begitu sempurna bentuk pedang ini, dari ujung sampai ke gagangnya, seperti diciptakan oleh seorang ahli.

Begitu menggenggam gagang pedang panjang ini, timbul perasaan hangat, nyaman dan penuh keyakinan dalam benak Po-giok rasa lapar dan dahaga sudah terlupakan sama sekali, badan tidak merasa letih lagi.

Cukup lama Po-giok berdiri diam di tempatnya, memusatkan pikiran dan semangat sehingga lama kelamaan, antara jiwa dan hawa pedang di tangannya jadi manunggal. Segala kerisauan sudah terbenam dalam relung hatinya, demikian pula siksa derita yang dialami selama ini sudah terbuang dari ujung pedang.

Setelah jiwa raga manunggal dengan pedang baru Po-giok berani maju ke depan.

Segala keajaiban pemandangan dalam gua itu sudah tidak menarik perhatiannya.

Dalam pandangannya kini hanya ada ujung pedang. Dalam hatinya hanya ada pedang.

Mendadak alam sekitarnya berubah sepi dan tengang seperti kuburan yang gelap.

Tapi langkah Po-giok tidak pernah berhenti, mantap lagi tegap, tangannya juga tidak perlu meraba-raba. Karena mata hatinya sudah terpanoar di ujung pedangnya dan menimbulkan perasaan yang peka pada dirinya.

Kini pedang di tangannya dapat menggantikan mata.

Keheningan yang mencekam, kegelapan yang menegangkan.

Sekonyong-konyong dalam kegelapan itu terasa berkembangnya hawa membunuh.

Tiba-tiba Po-giok merinding, bulu romanya berdiri.

Padahal dirinya berada di tempat gelap dan hening, rasanya tiada sesuatu perubahan, tapi hawa membunuh ini melanda datang seperti ombak pasang yang menerpa secara bergelombang.

Hawa membunuh itu tidak berbentuk dan tiada wujudnya, tapi secara nyata dan benar Po-giok merasakan adanya tekanan mendadak dari hawa membunuh di tempat gelap itu. Lama kelamaan hawa membunuh itu membuatnya sesak napas.

perlahan pedang terangkat, langkahnya juga menjadi lamban, lalu hampir berhenti.

Di tengah kegelapan, benar-benar berkelebat sinar pedang yang kemilau, tapi hanya sekali berkelebat lalu berhenti.

Kelima jari sendiri tidak terlihat, sudah tentu siapa pemegang pedang itu juga tidak terlihat oleh Po-giok, dia hanya melihat sebatang pedang, seperti ditenung saja pedang itu berhenti dan terapung di udara, terapung lurus ke depan menghadang jalannya.

Pedang ini tidak menakutkan, yang menakutkan adalah hawa membunuh dari pedang itu. Sudah jelas dan tidak perlu dipermasalahkan lagi, bahwa pedang yang satu ini akan memainkan satu jurus ilmu pedang yang hebat lagi dahsyat, sejurus ilmu pedang yang dapat mengejutkan langit dan menggetar bumi.

Jurus pedang yang satu ini sudah tentu merupakan salah satu dari tiga jurus yang akan melukai Pui-Po-giok.

Pedang di tangan Po-giok juga terhenti di udara. Gelap gulita, tiada sesuatu benda yang terlihat kecuali pedang yang gemerdep tiada suara dengus napas juga amat perlahan, yang ada hanya dua pedang yang berhadapan, dua pedang yang siap berduel.

Dua pedang yang sama-sama memiliki hawa membunuh.

Belum pernah Po-giok menghadapi hawa membunuh setebal pedang yang satu ini. Tapi terasa olehnya adanya sesuatu yang ganjil karena orang yang memegang pedang di depannya ini, tubuhnya ternyata terlepas di luar lingkup hawa membunuh dari pedang yang dipegangnya.

Kejadian ini sungguh luar biasa dan belum pernah ada dalam dunia persilatan. Orang yang memegang pedang ternyata terbagi menjadi dua bentuk yang berbeda dengan hawa membunuh dari pedang itu, kenyataan yang ganjil dan keadaan yang luar biasa ini sebetulnya tidak mungkin terjadi.

Hanya ada satu kemungkinan, dalam keadaan tertentu keadaan luar biasa ini bisa terjadi. Yaitu meski tebal hawa membunuh dari pedang itu namun pemegang pedang itu pada dasarnya tidak ada hasrat melukai atau membunuh musuh yang akan dilawannya.

Oleh karena itu, meski ganas dan keras hawa membunuh dari pedang itu, tapi pemegang pedangnya merupakan unsur pelaksana yang lemah, dan hawa manusia yang lemah ini jelas tidak mungkin manunggal dengan hawa membunuh itu, dan sekaligus menjadikan hawa membunuh yang ganas dan berkobar itu menjadi tawar dan akan sirna kalau bertahan cukup lama.

Dengan tajam Po-giok mengawasi pedang itu mendadak ia teringat akan golok milik Thi-kim-to itu.

Hawa membunuh pedang ini kira-kira setanding dan golok Thi-kim-to tempo hari. Tapi hawa membunuh pedang ini jelas tidak seganas dan sepanas hawa membunuh golok Thi-kim-to waktu berhadapan dengan dirinya.

Ini dapat disimpulkan bahwa hawa membunuh dari pedang di depannya ini mengandung makna “kebaikan”, hawa membunuh pedang ini mengandung cinta kasih.

Kenapa pula hal ini bisa terjadi?

Hening lelap, seorang-olah tiada kehidupan dalam mayapada ini. Tapi di tengah keheningan itu seolah-olah Po-giok mendengar sebuah irama yang fiktif, sejenis alunan musik yang mengasyikan.

Mendadak pedang itu bergerak msnggaris sebuah lingkaran.

Gerak lingkar yang membundar itu juga kelihatan indah dan gaib, bergerak mengikuti alunan musik yang gaib pula, hingga menimbulkan gerak tarian yang paling indah dari segala tarian yang pernah ada dalam ilmu pedang.

Po-giok terbeliak kaget. Gerak pedang yang melingkar bundar ini, bukankah mirip gerak golok yang pernah dilancarkan Pek-ih-jin itu.

Begitu pedang bergerak melingkar, cahayanya berubah menjadi tabir kemilau, laksana kilat menyerang ke arah Pui-Po-giok.

Deru angin pedang yang melingkar itu, laksana pekik binatang buas.

Di tengah kegelapan hanya tampak sinar pedang berkelebat sekali pedang di tangan Po-giok dan pedang itu saling berpindah tempat dengan posisi yang berbeda. Tapi, dua orang yang saling gebrak ini tidak ada yang roboh.

Kalau keadaan tadi hening lelap, sepi dan lengang. Kini di tengah gelap mulai terdengar dengus napas yang agak berat.

Waktu sekejap itu meski pendek, namun dalam sekejap itu mereka sudah melewati garis pemisah antara mati dan hidup. Kejadian itu merupakan suatu kejutan luar biasa yang sukar dibayangkan, siapa pun di dunia ini setelah mengalami kejutan yang luar biasa dan menegangkan ini, dengus napas siapa yang tidak akan memburu?

Kedua orang berdiri tegak tak bergerak.

Entah berapa lama kemudian mendadak berkumandang suara serak seorang tua, “Jurus ini pernah kau saksikan?”

Pertanyaannya mengandung nada kaget dan heran, tapi bukan kaget atau heran karena Po-giok berhasil menyelamatkan diri dari serangan pedangnya, tapi kaget dan heran karena Po-giok pernah menyaksikan jurus pedang yang baru saja dia lancarkan.

“Ya,” Po-giok menjawab pendek.

“Siapa yang melancarkan jurus serangan pedang ini padamu?” tanya suara itu.

“Thi-kim-to.” sahut Po-giok lantang.

“Thi-kim-to?” teriak suara itu nadanya kaget “Dia …”

“Jurus itu dilancarkan Thi-kim-to, namun tidak berarti dia,” demikian tukas Po-giok.

“Kenapa tidak berarti dia?”

“Karena Thi-Kim-to hanya pelaksana, dia mendapat perintah orang lain.”

“Pek-ih-jin maksudmu?”

“Benar …”

Suara itu diam sebentar, lalu berkata kalem “Apakah jurus yang dilancarkan Thi-kim-to persis dengan yang aku lancarkan barusan?”

“Sembilan puluh persen sama tapi perbedaan yang sepuluh persen justru amat besar.”

“Coba jelaskan?”

“Titik paling tebal dari hawa membunuh jurus serangan yang dilancarkan Thi-kim-to juga adalah titik kelemahannya. Suhu badannya merembes lewat titik kelemahannya, maka aku menyerempet bahaya menyerang titik kelemahannya itu ternyata berhasil.”

Lebih lama suara itu diam setelah menghela napas, akhirnya memuji, “Bagus!”

“Berbeda dengan caramu turun tangan, sebelumnya tidak menghimpun tenaga, hati juga tidak tegang, oleh karena itu suhu badanmu normal, dari sini dapat disimpulkan, meski pedangmu mengandung hawa membunuh, tapi hatimu sedikit pun tiada nafsu membunuh ….hawa membunuh pada pedangmu berkembang karena jurus ilmu pedang itu sendiri.”

“O, demikian?” pendek suara itu.

“Karena tuan tidak bernafsu membunuh, maka waktu melancarkan jurus serangan itu, hati dan pedang tidak manunggal, dengan sendirinya hasrat membunuh yang tertuang dalam hawa membunuh yang tuan lancarkan itu tidak sederas seganas hawa membunuh yang dilancarkan Thi-kim-to.”

“Oo, kenapa demikian?” tanya suara itu.

“Sekali jurus pedang itu dilancarkan, harus dicuci dengan darah, maka aku dipaksa untuk merengut jiwanya. Maklum dalam keadaan segenting itu, tiada waktu untuk memilih atau mempertimbangkannya. Sebaliknya jurus pedang yang tuan lancarkan tadi, pada hakikatnya aku dipaksa untuk membela diri dan tak mampu melancarkan serangan mematikan.”

“Betul,” puji suara itu dengan menghela napas, “kalau pedang itu tiada maksud melukai musuh, maka jurus pedang itu takkan mungkin membangkitkan hawa membunuh. Dan itulah pengertian paling sempurna dari ajaran ilmu pedang tingkat tinggi.”

“Tapi … tuan tidak bermaksud melukai aku, kenapa melancarkan jurus ganas dan mematikan untuk menghadapiku? Bukankah kejadian ini amat bertentangan? sungguh aku tidak habis mengerti.”

“Tidak mengerti ya sudah, lebih baik tidak mengerti,” ucap suara itu.

“Masih ada pertanyaanku. Jurus itu adalah ciptaan Pek-ih-jin yang tidak diturunkan kepada siapa pun, di kolong langit ini tiada orang tahu intisari dan rahasia jurus pedang itu. Lalu dari mana tuan mempelajarinya? Hal ini pun membuatku bingung.”

“Tidak lama lagi kamu akan tahu,” suara itu berbicara kalem.

“Tidak lama lagi?” Po-giok menegas.

“Ya: tidak lama lagi ….” Hanya empat kata diucapkan, namun pada kata terakhir, suaranya sudah jauh dan lirih, sedikitnya ada belasan tombak jauhnya.

Kini tinggal dua jurus lagi ilmu pedang yang ada di dunia ini dapat mengalahkan atau melukai Po-giok.

Berbagai persoalan justru bertumpuk dan menyelimuti sanubari Po-giok.

Dalam waktu beberapa kejap tadi, sudah dua kali ia menghadapi serangan mematikan. Tapi orang yang dua kali melancarkan serangan mematikan terhadapnya itu tidak bermusuhan, tidak menaruh dendam, tidak bermaksud jahat terhadapnya.

Inilah persoalan pertama yang mengherankan.

Kedua, kedua jurus serangan mematikan itu sebelum ini pernah dia alami, pernah menghadapi serangan yang ganas itu. Tapi sukar Po-giok menemukan jawabannya, apa hubungan atau sangkut paut kedua orang yang dahulu menyerang dia dengan kedua orang yang hari ini menyerangnya ini.

Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin masih mungkin punya hubungan dengan Pek-cui-kiong, adalah logis kalau jurus ilmu pedang warisan Lam-hai-pai yang dirahasiakan itu juga dipelajari orang-orang Pek-cui-kiong.

Tapi dari mana orang-orang Pek-cui-kiong memperoleh dan mampu melancarkan jurus khas ciptaan Pek-ih-jin dari Tang-ing? Jika Pek-cui-kiong jelas tiada sangkut paut dengan Pek-ih-jin, umpama air sumur dengan air laut, berbeda satu dengan yang lain, mana mungkin ada hubungan?

Makin dipikir, makin bingung, makin dipikir makin sukar dipecahkan. Pusing kepala Po-giok.

Masih ada dua jurus serangan mematikan akan dia hadapi. Dua jurus yang telah dihadapinya tadi sudah begitu mengejutkan, lalu betapa hebat dan dahsyat kedua jurus yang akan dihadapinya nanti?” Mau tidak mau Po-giok merasa was-was, kuatir.

Apalagi Po-giok merasakan sendiri tenaganya sudah banyak terkuras, apakah dirinya mampu melayani kedua jurus serangan mematikan lagi! Po-giok tidak berani membayangkannya.

Pikir punya pikir, tanpa disadari keadaan sekelilingnya ternyata sudah terang benderang, cahaya mutiara yang kemilau membuat keadaan sekelilingnya terlihat cukup jelas oleh Po-giok. Mutiara-mutiara yang memancarkan cahaya itu tersembunyi di antara celah-celah dinding batu di pojok sana, sehingga bayangan tubuh Po-giok samar-samar memanjang rebah di tanah menjorok ke depan.

Mengawasi bayangan tubuh sendiri, mendadak Po-giok melihat di tanah terdapat belas tapak kaki manusia.

Tapak kaki orang yang berbaris memanjang setiap tapak kaki itu melesak ke dalam tanah, datang dari arah gua yang dalam sana, lurus datang dan berhenti di depannya.

Mungkinkah tapak kaki ini peninggalan orang yang barusan menjajal dirinya?

Mungkinkah dia datang dari sentral istana air yang serba misteri ini? Orang sengaja meninggalkan tapak kakinya, bukankah bermaksud memberi petunjuk pada Po-giok untuk menempuh perjalanan ke depan menuruti tapak kakinya?

Setelah berpikir sebentar, Po-giok ambil keputusan, dia beranjak ke depan mengikuti barisan tapak kaki itu.

Langkah Po-giok perlahan, sambil jalan ia berusaha menghimpun semangat dan memulihkan tenaga. Matanya tidak ingin melihat sesuatu meski yang paling menyolok sekali pun, tapi akhirnya pandangannya bentrok dengan sebaris huruf yang aneh.

Huruf-huruf yang diukir di dinding batu, huruf-huruf itu sudah berlumut, mungkin karena sudah lama terukir di sana. Tapi huruf-huruf itu diukir dengan gaya yang mantap dan puitis.

“Jin Hong San Ceng, Sing Sing Siau Lau.”

Po-giok terperanjat melihat delapan huruf itu, Jin-hong-san-ceng, Sing-sing-siau-lau. Bukankah itu alamat yang tertera pada sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin?

Surat peninggalan Ciang-Jio-bin itu ditujukan dan harus diserahkan kepada orang yang tinggal di Sing-sing-siau-lau itu.

Bahwa Ciang-Jio-bin meninggalkan suratnya untuk orang yang tinggal di Pondok Bintang Kecil dalam Perkampungan Selendang Merah, ini menandakan bahwa Ciang-Jio-bin ada hubungan tertentu dengan Pek-cui-kiong.

Tidak heran dalam surat peninggalan Ciang-Jio-bin tidak dijelaskan di mana letak Pondok Bintang Kecil itu. Sebab ia tahu tanpa dijelaskan pun Po-giok akan dapat menemukannya di Pek-cui-kiong.

Po-giok meraba sampul surat peninggalan Ciang-Jio-bin yang ia simpan dalam saku bajunya. Ciang-Jio-bin berkorban, mati untuk memenuhi janjinya, mana boleh ia melupakan dan mengabaikan janji dan pengorbanannya?

Namun untuk menunaikan janji, melaksanakan tugas itu, hampir saja Po-giok harus mempertaruhkan jiwa raga sendiri.

Jalan yang menembus ke arah Pondok Bintang Kecil berada di sebelah kiri.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: