Kumpulan Cerita Silat

16/05/2008

Duke of Mount Deer -28-

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 10:57 pm

Duke of Mount Deer -28-
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Pipit)

“Benar! Benar!” Tiba-tiba Siau Po berseru. “Memang benar gunung Ngo Tay san! Oh, thayhou, kau seperti dewa yang bisa tahu segala hal!” .

“Apa lagi yang dikatakannya?” tanya thayhou tanpa memperdulikan pujian orang. Dia juga tidak sadar bahwa bocah itu sedang mempermainkannya.

“Dia tidak mengatakan apa-apa lagi,” sahut Siau Po, “Hanya… hanya….”

“Hanya apa?” tanya thayhou cepat.

“Dia hanya mengatakan bahwa dia mengerti perasaanku dan biar bagaimana dia akan melakukan sekuat kemampuan agar berhasil. Walaupun akan dihukum mati, dia akan melakukannya!”

“Apa yang kau pinta dia lakukan untukmu?” tanya thayhou.

“Ah! Tidak apa-apa. Sui congkoan berkata padaku bahwa baginya, tidak memangku jabatan bukanlah persoalan dan dia juga dapat melakukan perjalanan tanpa uang sepeser pun. Toh, kepergiannya ini bukan untuk setengah atau satu tahun. Karena itu, aku telah memberikan uang kertas kepadanya sebesar dua puluh ribu tail .. ”

“Banyak sekali uangmu!” sindir thayhou. “Dari¬ mana kau mendapatkannya?”

“Semua uang itu aku peroleh dari orang lain! sahut Siau Po. “Aku mendapatkannya dari Kong Cin ong, So Ngo-tu tayjin. Di dalam Siangsian tong juga banyak orang yang sering menghadiahkan uang kepadaku!”

Thayhou tahu jawabannya itu bukan bualan belaka.

“Kau begitu baik. Tanganmu terbuka lebar Wajar kalau Sui Tong ingin membalas kebaika hatimu. Sebenarnya, apa yang kau suruh dia laku¬kan? Apa yang kau pesankan padanya?” tany¬a thayhou kembali.

“Hambamu tidak berani mengatakannya!” sahu Siau Po.

“Kau katakan atau tidak?” bentak Thayhou garang.

Siau Po menarik nafas panjang. Dia masih membawa lagaknya seperti orang yang dipaksa keadaan.

“Sui Tong telah berjanji kepadaku,” sahutnya kemudian. “Seandainya hambamu ini mati dicelakai orang dalam istana, dia akan menghadap Sri Baginda untuk membeberkan duduk persoalan yang sebenarnya. Dia mengatakan bahwa dia akan meulis laporan dan akan dibawanya ke mana-mana. Dia juga berjanji setiap dua bulan akan mengadakan pertemuan denganku agar.. .. ”

“Agar apa?” bentak thayhou dengan suara sinis, tapi nadanya bergetar.

“Agar setiap dua bulan sekali, aku harus menemuinya …”

“Bagaimana cara pertemuan itu?” tanya thayhou. “Setiap dua bulan, aku harus pergi ke Tian Kio” kata Siau Po. “Di sana aku harus menemui seorang … pria penjual buli-buli gula batu. Aku harus bertanya kepadanya apakah dia menjual buli-buli batu akik? Mendengar pertanyaanku, orang itu akan mengatakan bahwa harga serencengnya seratus tail. Aku harus bertanya mengapa harga itu sedemikian tinggi. Orang itu bukannya menjawab tapi malah bertanya kepadaku, apakah aku sudah pernah pulang ke langit? Aku harus mengatakan padanya agar segera pulang ke rumah orang tuanya! Dengan demikian dia akan menyampaikan kabarku kepada Sui-tongkoan.”

Dalam waktu yang singkat, Siau Po tidak menemukan jawaban atas pertanyaan Thayhou tadi. Karena itu dia mengubah sedikit ajaran yang diajarkan oleh Tan Kin-lam untuk bertemu dengan Ci Tian -coan.

Hati thayhou tercekat. Dia tahu cara itu sering digunakan orang-orang kangouw untuk berhubungan dengan rekannya. Dia jadi percaya thaykam cilik ini bukan hanya mengada-ada. Semakin dipikirkan hatinya semakin ciut. Dia tidak menyangka bocah cilik ini bisa membuat Sui Tong melarikan diri. Tidak heran kalau Sui Tong menjadi ketakutan dan melarikan diri, juga tidak aneh kalau tujuannya Ngo Tay san, yakni tempat di mana bekas kaisar kerajaan Ceng menyucikan diri.

Dalam waktu yang singkat, banyak sekali yang terlintas dalam benak thayhou. Otaknya semakin ruwet. Setelah lewat sejenak lagi, baru dia berkata lagi.

“Bagaimana kalau dalam waktu dua bulan seperti yang dijanjikan lalu kau tidak datang mencari penjual buli-buli gula batu itu?” tanya thayhou kemudian.

“Sui congkoan mengatakan kepadaku bahwa dia akan menunggu sampai sepuluh hari lamanya. Andaikata aku tetap tidak kelihatan, dia akan mempunyai dugaan bahwa aku sedang terancam bahaya atau kemungkinan sudah mati, maka itu dia akan … memikirkan jalan bagaimana caranya agar dapat menghadap Sri Baginda untuk menyampaikan laporannya. Sampai waktu itu, hambamu memang sudah mati. Tidak ada urusan apa-apa lagi. Namun aku tetap setia kepada junjunganku. Aku sudah menyadarkan Sri Baginda agar penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan dibalas dengan permusuhan. Sri Baginda tidak boleh sekali-kali diperdaya oleh orang jahat. Dengan demikian hamba beserta Sui congkoan sudah membuktikan kesetiannya!”

Terdengar suara perlahan dari mulut thayhou seperti orang gerutuan.

Penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan dibalas dengan permusuhan …. Ya, itu memang bagus sekali!”

Siau Po tidak menghiraukan wanita itu. Terdengar dia seakan menggumam seorang diri.

“Selama beberapa hari belakangan ini, hamba tetap melayani Sri Baginda sebagaimana biasa. Hamba tidak akan membocorkan rahasia apa-apa, asal hamba tetap hidup dan bisa merawat Sri Baginda, urusan ini tidak nanti hamba bongkar sampai kapan pun juga!”

Mendengar kata-katanya, thayhou agak lega, tapi dia tetap berkata “Kalau benar demikian, kau memang baik hati!”

“Sri Baginda memperlakukan aku dengan baik,” kata Siau Po kembali. “Dan thayhou juga tidak berlaku buruk terhadapku. Karena itu, terhadap beliau. hamba juga akan bersetia. Siapa tahu, nanti thayhou sedang senang, hamba akan mendapat hadiah yang berharga. Seandainya demikian, bukankah kita sama-sama merasa senang?”

Thayhou tertawa dingin.

“Apakah kau masih mengharap aku akan memberikan hadiah kepadamu? Kulit mukamu benar­benar tebal!”

Biar bagaimana, Ibu suri merasa puas juga.

Bukankah Siau Kui cu mengatakan dia tidak akan membuka rahasia seumur hidupnya? Karena itu, dia merasa tidak ada halangan untuk memikirkan urusan itu perlahan-lahan.

Siau Po juga merasa puas. Kata-katanya thayhou menyatakan bahwa pikirannya sudah berubah.

*

* *

“Hamba tidak mengharapkan apa-apa,” kata Siau Po kemudian. “Asal thayhou dan Sri Baginda senantiasa dalam keadaan sehat walafiat dan bergembira, sebagai seorang hamba, aku juga ikut merasa senang! Harap thayhou tidak perlu khawatir. Besok hamba akan pergi ke Tian Kiou untuk mencari penghubung itu dan meminta dia menyampaikan kepada Sui congkoan supaya dia menutup mulut rapat-rapat. Aku juga akan menitipkan uang sebanyak tiga ribu tail, dengan mengatakan bahwa itulah persen dari thayhou untuknya.”

“Hm!” thayhou mendengus dingin. “Orang semacamnya yang bekerja tidak sungguh-sungguh. Karena rasa takut, dia melarikan diri. Sudah bagus batang lehernya tidak kukutungkan, mana mungkin aku memberinya persen? Ngaco!”

“Iya, iya, Thayhou benar juga!” kata Siau Po. “Lagipula uang itu toh milikku, memang thayhou tidak sepatutnya memberi persen kepada orang itu.”

Baru sekarang thayhou melepaskan cekalannya pada bahu Siau Po. Ia melepaskannya dengan perlahan-lahan.

“Siau ku cu,” katanya kemudian, “Apakah kau benar-benar setia kepadaku?”

Siau Po segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan wanita itu. Dia tidak takut akan dihajar oleh thayhou lagi. Dia juga menyembah berkali-kali.

“Iya. Hamba akan setia kepada thayhou!” demikian katanya. “Dalam hal ini, hamba berjanji, kalau hamba sampai tidak setia, biarlah Siau Kui cu rela kepalanya dikutungkan. Walaupun hamba orang bodoh, tapi hamba masih tahu bagaimana harus menyayangkan batok kepala ini.”

Ibu suri menganggukkan kepalanya.

“Bagus, bagus sekali!” katanya, tapi tangannya tidak henti menepuk bahu bocah itu. Jumlah keseluruhannya tiga kali. Siau Po merasa tercekat hatinya. Tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing dan perutnya mual. Pandangan matanya berkunang-kunang. Kerongkongannya mengeluarkan suara yang aneh, sebab dia ingin muntah tapi tidak dapat.

Terdengar thayhou berkata kembali.

“Siau Kui cu, kau ingat, kan belum lama ini ketika Hay tayku, si bangsat tua mengatakan ada sejenis ilmu yang namanya Hoa Kut-bian ciang. Ilmu itu bila dipelajari sampai meneapai taraf kesempurnaan, maka siapa yang terserang akan remuk seluruh tulang belulangnya. Ilmu itu sulit sekali dipelajari, aku juga tidak bisa memahaminya. Walaupun demikian, otakmu sangat eerdas. Hatimu baik, lagipula penurut. Aku hanya menepuk bahumu tiga kali dengan maksud bergurau. Hal ini menyenangkan sekali …. ”

Siau Po tidak sanggup mengatakan apa-apa. Dia merasa dada dan isi perutnya bergolak dan darahnya seakan mengalir dua kali lebih cepat daripada biasanya. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia memuntahkan darah yang bercampur dengan air.

‘Terbukti perempuan hina ini tidak pereaya kepadaku,’ pikirnya dalam hati. ‘Sekarang dia telah menurunkan tangan jahatnya terhadapku!’

Lalu terdengar Ibu suri berkata.

“Siau Kui cu, jangan takut. Aku tidak akan memukulmu sampai mati. Sebab kalau kau sampai mati, siapa nanti yang akan pergi ke Tian Kio untuk mencari si penjual buli-buli gula batu? Besok pagi­ pagi, pertama-tama kau harus ke keraton Cu Leng kiong, di sana aku akan memberikan tiga butir pil kepadamu. Setiap hari kau harus menelan satu butir. Setelah tiga puluh hari kemudian, jiwamu tidak akan terancam bahaya lagi. Kalau kau telah habiskan tiga puluh butir, nanti aku akan mengantarkan tiga puluh butir lagi untukmu!”

“Terima kasih untuk kebaikan thayhou,” kata Siau Po. Kemudian perlahan-lahan dia menggerakkan tubuhnya untuk berdiri. Namun kepalanya pusiang sekali sehingga dia terhuyung-huyung lalu roboh kembali. Lalu dia muntah darah beberapa kali, Tetapi dia masih bisa berkata: “Thayhou, setiap hari aku akan memuja Pou Sat yang maha suci agar Thayhou dilindungi dan panjang umur. Sebab, seandainya thayhou batuk-batuk atau masuk angin saja tentu hamba tidak akan mendapatkan obat dan bukankah hamba akan menjadi setan berumur pendek? Ya, hamba akan menjadi si kura-kura yang pendek usianya.”

Thayhou tertawa terbahak-bahak.

“Bagus kalau kau menyadari hal itu!” katanya keras. Setelah itu tubuhnya berkelebat dan menghilang di balik gerombolan bunga-bung•a yang 1ebat.

Dengan susah payah Siau Po bangkit untuk berdiri tegak. Saat itu dia sudah berhasil menenangkan hatinya. Perlahan dia mengambil jalan memutar sampai di jendela belakang kamarnya, tapi dia tidak sanggup melompat; bahkan untuk sesaat dia harus mendekam di bawah jendela untuk mengatur pernafasannya. Setelah beristirahat sejenak, ia merayap naik untuk masuk lewat jendela.

“Kui toakokah itu?” terdengar Kiam Peng bertanya.

“Kalau bukan aku, siapa lagi?” sahut Siau Po dengan nada bentakan. Hal ini membuktikan hatinya sedang tidak senang. .

“Kuncu menanya kau secara baik-baik, mengapa kau menjawabnya dengan begitu kasar?” tanya Pui Ie yang merasa tidak puas mendengar nada suara Siau Po.

“Iya … ” sahut Siau Po, tapi baru sepatah kata saja, tubuhnya sudah terguling ke dalam kamar. Dia tidak sanggup memegang kusen jendela untuk mempertahankan diri. Tenaganya sudah habis, nafasnya pun memburu. Dia terkulai di atas lantai tanpa sanggup bergerak, bahkan duduk pun tidak bisa.

Bhok Kiam Peng terkejut setengah mati melihat keadaannya.

“Oh!” serunya gugup. “Kenapa kau?”

“Apakah kau terluka?” Pui Ie juga ikut khawatir.

Kedua nona itu merasa tercekat hatinya. Siau Po telah terkena pukulan Hoa Kut-bian ciang milik Hong thayhou. Walaupun untuk sementara, dia tidak akan langsung mati, tapi keadaannya cukup parah, tapi dia tidak takut. Dasar bocah nakal mendengar pertanyaan kedua non a itu, dia malah tertawa lebar.

“Ah! Adikku yang manis dan istriku yang cantik. Kalian berdua toh dalam keadaan terluka. Kalau aku tidak ikut terluka, mana tepat dikatakan susah dan senang dicicipi bersama-sama?”

“Oh, kau terluka, Kui toako?” tanya Kiam Peng. “Bagian manakah yang terluka? Apakah kau merasa sakit sekali?”

“Oh, adikku … hatimu baik sekali. Aku memang sedang kesakitan tadinya. Mendengar pertanyaanmu yang mengandung kecemasan hatimu itu, rasa sakit itu jadi langsung hilang. N ah, coba kau bilang, anehh bukan?”

Bhok Kiam Peng tertawa.

Ah, kau paling pandai membohongi orang!” sahutnya.

Siau Po berpegangan pada kaki meja. Dia berusaha berdiri. Dalam hati dia berkata.

‘Aku masih bisa hidup sampai sekarang, semua ini berkat nama Sui congkoan. Coba seandainya Thayhou mengetahui pengawalnya itu sudah mati. Tentu nyawaku akan amblas juga malam ini!”

Perlahan-Iahan Siau Po mendekati kotak obatnya. Dia buka kotak itu dan mencari obat yang dibutuhkannya. Di dalamnya terdapat banyak botol obat, tetapi dia mengambil sebuah yang bentuknya segi tiga dan warna dasarnya hijau keputihan. Di antara sekian banyaknya obat milik Hay kongkong, hanya obat itu yang dikenalinya. Itulah bubuk Hoa Si-hun. obat untuk mencairkan mayat. Obat itu pernah dia gunakan untuk menghancurkan mayat Siau Kui cu, thaykam cilik yang namanya dia pakai sekarang. Setelah mendapatkan obat itu, Siau Po berusaha menarik keluar mayat Sui Tong dari kolong tempat tidur. Lalu dia mengeluarkan uang kertas serta benda-benda berharga yang tadi dia masukka ke dalam pakaian orang itu.

“Ketika kau pergi, mayat ini terus ada di kolong tempat tidur. Kami takut sekali,” kata Kiam Peng.

Siau Po tertawa.

“Kalau kalian berdua sampai mati, bukankah mayat ini malah akan mendapatkan kawan?”

“Cis!” bentak Pui Ie. “Kuncu, jangan bicara dengannya! ”

Siau Po tidak memperdulikan nona itu.

“Aku akan bermain sulap, apakah kalian mau melihatnya?”

“Tidak!” sahut nona Pui singkat.

“Siapa yang tidak suka melihat, boleh memejamkan matanya!” kata Siau Po kembali.

Pui Ie menurut. Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat. Kiam Peng juga ikut memejamkan matanya, tapi hanya sebentar. Kemudian dia melihat Siau Po mengeluarkan sebotol kecil dan kemudian menuangkan isinya ke dalam sendok, lalu ditaburkan di atas luka Sui tong.

“Kalian lihat!” katanya.

Tidak lama kemudian, tampak asap mengepul dari bekas luka yang ditaburkan bubuk obat itu, lalu tercium bau tidak sedap yang disusul dengan keluarnya cairan berwarna kuning dari luka yang menguak semakin besar itu.

Ah!” seru Kiam Peng keheranan.

Pui Ie penasaran melihat seruan adik seperguruannya. Dia segera membuka matanya. Ketika melihat apa yang disaksikan Kiam Peng, sepasang mata gadis itu sampai membelalak lebar­lebar dan tidak dipejamkan lagi. Seperti Siau kuncu, dia juga keheranan.

Asal terkena cairan berwarna kuning tersebut, luka di tubuh mayat itu semakin meluas. Dagingnya meleleh menjadi cairan kuning pula. Menyaksikan keadaaan itu, kedua nona itu sampai tertegun sekian lama.

“Kalian berdua, awas! Siapa yang tidak mau menuruti kata-kataku, wajahnya akan kutaburi dengan obat ini, sehingga jelek seperti mayat ini!” gertak Siau Po.

“Kau … kau jangan menakut-nakuti orang!” bentak Kiam Peng.

Sebaliknya Pui Ie menatap Siau Po dengan tajam dan sorot matanya menunjukkan kemarahan. hatinya juga tercekat dan khawatir.

Senang hati Siau Po melihat kedua nona itu ketakutan. Dengan hati-hati dia menyimpan obatnya kembali. Kemudian dia mengambil sebuah kursi dan mendorong mayat Sui Tong yang terbagi menjadi dua bagian karena gerakan cairan yang tidak merata. Akhirnya seluruh mayat itu lumer menjadi cairan kuning dan menyebarkan bau yang tidak enak.

Melihat keadaan itu, lega rasanya hati Siau Po, ‘Biar si nenek sihir itu mengirim lima laksa pengawalnya ke Ngo Tay san, tetap saja dia tidak berhasil menemukan Sui Tong!’ Setelah itu Siau Po mengambil air dari dalam gentong untuk mencuci bersih cairan kuning tersebut. Setelah membersihkan lantai, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia merasa lelah sekali, matanya langsung dipejamkan. Sekejap kemudian dia sudah tertidur pulas.

Sampai fajar tiba, baru Siau Po mendusin dari tidurnya. Dia langsung merasakan nyeri di dadanya Bahkan dia juga merasa perutnya mual dan ingin muntah, tapi sampai sekian lama dia mencoba, tetap saja tidak ada sebutir nasi pun yang dimuntahkannya.

Kiam Peng dan Pui Ie merasa heran melihatnya “Kui toako, apa yang kau rasakan?” tanyanya prihatin.

Siau Po bangun dan duduk di atas tempat tidur. Dia melihat kedua nona itu dan tidur di antara keduanya. Kedua nona itu tidak membuka pakaian luarnya. Ketika dia melihat waktu sudah tidak pagi, cepat-cepat dia bangun dan turun dari tempat tidur

“Kalian berbaring saja. Jangan bergerak!” katanya kepada kedua nona itu. “Aku ingin menemui Sri Baginda secepatnya!”

Tadinya Siau Po berniat keluar dari kamarnya jendela, tapi tenaganya masih lemah. Akhirnya terpaksa dia keluar dari pintu depan kemudian menguncinya dari luar.

Belum berapa lama Siau Po berada di kamar Kaisar Kong Hi, junjungannya itu sudah mengundurkan diri dari ruang sidang seperti biasanya. Begitu melihat Siau Po, kaisar Kong Hi tertawa lebar dan berkata pada thaykam cilik kesayangannya itu.

“Siau Kui cu, lagi-lagi kau membunuh orang tadi malam!”

Siau Po cepat-cepat memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi pada junjungannya itu.

“Kau sungguh beruntung!” kata Kaisar Kong Hi kembali. “Kembali kau dapat menempur para pemberontak itu. Aku sendiri, melihat wajah penyerbu itu tidak! Bagaimana kepandaian para pemberontak itu? Dengan jurus apa kau merobohkannya?”

Siau Po berpikir dengan cepat. Kaisar Kong Hi paham ilmu silat. Tidak mungkin dia memberikan keterangan secara sembarangan. Sebenarnya, dia tidak bertempur melawan seorang pun di antara penyerbu tadi malam. Tapi dia teringat pertempuran yang berlangsung di rumah keluarga Pek ong Ci-tong melawan Pek Han-tiong.

“Pertempuran itu terjadi di saat gelap,” sahutnya. “Tiba-tiba hambamu melihat kaki kiri orang itu menyapu ke kanan dan tangan kanannya menyambar ke kiri. Kemudian … ” dia pun menjelaskan tipu silat lawannya .

“Bagus!” seru kaisar Kong Hi seraya bertepuk tangan. “Tepat sekali tipu yang kau gunakan itu!”

Thaykam gadungan itu tertegun.

“Oh, Sri Baginda, apakah kautahu jurus silat yang digunakan para pemberontak itu?”

”’Iya,” sahut kaisar Kong Hi. Bibirnya menyunggingkan senyuman. “Tahukah kau apa nama jurus itu?”

Siau Po tahu jurus silat yang diperlihatkannya bernama Heng-Sau ciangkun, tapi dia pura-pura tidak tahu.

“Hamba tidak tahu …. ”

Raja tertawa.

“Kalau kau tidak tahu, biar aku beritahukan,” katanya. “Jurus itu bernama Heng-sau ciang kun!”

“Bagus sekali nama itu!” puji Siau Po pura-pura terkesima.

“Dia menggunakan jurus itu, lalu bagaimana kau menghadapinya?”

“Untuk sesaat hamba sempat kebingungan,” sahut Siau Po. “Lalu tiba-tiba saja hamba ingat tipu silat yang pernah digunakan Sri Baginda ketika dulu kita berlatih bersama. Ketika itu hamba kena dibuat terpental sehingga melewati kepala Sri Baginda. Kalau tidak salah itu adalah, itu adalah tipu ilmu Hui-In-jiu dari Butong paimu …. ”

Senang sekali hati kaisar Kong Hi mendengar jawaban Siau Po.

“Jadi kau menggunakan tipu silatku untuk memusnahkan jurus Heng-sau ciang kun itu?”

“Benar, Sri Baginda,” sahut Siau Po. “Sebenarnya kepandaian hamba belum berarti apa-apa, tetapi untungnya Sri Baginda sering mengajak hamba berlatih bersama sehingga ada sebagian besar ilmu silat Sri Baginda yang masih hamba ingat dan hamba manfaatkan begitu menghadapi musuh …. ”

Kaisar Kong Hi tambah senang hatinya.

“Bagus! Bagus sekali kau masih mengingatnya!”

Siau Po juga gembira melihat kaisar Kong Hi berseri-seri wajahnya.

’Untung saja ocehanku tepat!’ pikirnya. Tidak sia-sia dia mengangkat rajanya itu tinggi-tinggi. Kemudian dia menambahkan kembali. “Hanya ada satu yang patut disayangkan, yakni tenaga dalam hamba masih cetek sekali. Akhirnya penjahat itu berhasil juga meloloskan diri.”

“Ya, sayang! Sayang!” kata raja. “Sebenarnya kau harus langsung menotok jalan darah hwe Cong dan Gwe Kuan penjahat itu. Kalau kau melakukan hal itu, tentu penyerbu tersebut tidak dapat meloloskan diri lagi!”

Sembari berkata, kaisar Kong Hi segera mencekal tangan Siau Po dan menunjukkan cara bagaimana menekan lawannya.

Siau Po berusaha meronta, tapi dia tidak berhasil membebaskan dirinya.

“Ah!” serunya penuh penyesalan. “Coba kalau dari siang-siang Sri Baginda mengajarkan tipu ini, tentu hamba tidak perlu melalui saat-saat yang membahayakan jiwa.”

Kaisar Kong Hi tertawa.

“Lalu, bagaimana kelanjutannya?”

“Begitu berhasil membebaskan diri, orang itu lari ke belakang hamba dan berhasil menghajar punggung hambamu dengan kedua telapak tangannya!”

“Itulah jurus Kao-san Liu Sui!” seru Sri Baginda memberikan keterangan mengenai jurus yang digunakan pihak lawan.

“Oh, itukah jurus Kao-san Liu Sui?” tanya Siau Po pura-pura terkejut. “Sayang aku tidak tahu …. ”

“Benar-benar manusia tidak berguna!” maki kaisar Kong Hi, tapi sembari tertawa. “Mengapa waktu bertempur kau tidak menggunakan ilmu yang diajarkan gurumu? Mengapa kau selalu meniru gerakan ilmu silatku?”

“Entahlah, Sri Baginda!” sahut Siau Po. “Setiap jurus silat yang guru hamba ajarkan, dapat hamba gerakkan dengan baik di saat berlatih, namun apabila menghadapi pertempuran seperti tadi malam tiba-tiba semuanya jadi menguap dan tidak ada satupun yang teringat dalam benak hambamu ini Sebaliknya semua gerak tipu silat Sri Baginda justru terbayang jelas di pelupuk mata sehingga tanpa berpikir panjang lagi hamba menirukannya. Begitu juga ketika punggung hamba terhajar. Tiba-tiba saja hamba mengelit ke samping kanan.”

“Itulah jurus Keng Hong-pou,” kata Sri Baginda yang menjelaskan tipu silat miliknya yang berarti memperagakan angin puyuh.’

Benar!” sahut Siau Po. “Setelah berkelit, hamba segera mencabut pisau belati dan membalas menyerang musuh sambil hamba berteriak dengan ‘Hai, Siau Kui cu, menyerah tidak?’

Raja tertawa terbahak-bahak.

Aih! Kau ini benar-benar aneh!” katanya. “Mengapa kau justru memanggil namamu sendiri?”

Saat itu hamba tidak sempat berpikir dan menyebut nama hamba seeara tanpa sadar. Hamba ketika baru-baru ini Sri Baginda mengadakan latihan dengan hamba. Bukankah Sri Baginda selalu menyerukan kata-kata itu?”

“Bagus, bagus!” kata kaisar Kong Hi memuji. ternyata kau masih ingat semuanya!”

Kaisar Kong Hi merasa puas sekali.

“Kalau demikian, para pemberontak itu mempunyai nyali yang besar tapi kepandaiannya tidak seberapa lihay!” tambahnya kemudian.

“Sebetulnya, Sri Baginda,” kata Siau Po. “Ada beberapa di antara para pemberontak itu yang kepandaiannya eukup tinggi. Buktinya ada beberapa siwi yang tewas dan terluka. Dasar hamba berpanjang umur, hamba telah mendapat pelajaran dari Sri Baginda sehingga hamba sanggup menjaga diri. Kalau tidak, terpaksa Sri Baginda hari in mengeluarkan firman agar semua orang membaca doa untuk menghibur arwahnya Siau Kui cu yang sudah berpulang ke alam baka serta menghadiahkan uang sebanyak seribu tail .. ”

Raja tertawa.

“Seribu tail tidak sebanding dengan jasamu. Seharusnya selaksa!”

Siau Po juga tertawa. Senang dia dapat bergurau dengan junjungannya itu.

“Eh, Siau Kui cu … apakah kau dapat menduga asal-usul para pemberontak itu?” tanya kaisar Kong Hi kembali.

“Memalukan sekali! Hamba tidak tahu!” sahut Siau Po. “Sri Baginda, kalau ditilik dari tipu silat yang mereka gunakan, dapatkah Sri Baginda menerka asal-usul mereka?”

“Mula-mula aku masih bimbang, tetapi keteranganmu telah memperkuat dugaanku!” sahut sang raja. Kemudian dia bertepuk tangan dan menurunkan perintah kepada salah seorang pelayanna, “Pergi kau panggil So Ngo-tu dan To Lung untuk datang kemari!”

Kedua pelayan itu menunggu Sri Baginda di luar kamar tulisnya. Mendengar perintah junjungannya itu, mereka segera berlalu untuk melaksanakan tugas tersebut.

To Lung adalah orang Boanciu asli. Pangkatnya Tou Tong atau gubernur militer, dia termasuk golongan Bendera bersulam biru. Ketika angkatan perang Boan menyerbu ke selatan. Dia telah membangun jasa yang tidak kecil. Kepandaiannya juga cukup tinggi, namun karena terdesak oleh Go Pay, dia tidak mendapat kedudukan yang setimpal di kota raja. Setelah Go Pay jatuh, oleh raja dia dinaikkan pangkatnya menjadi Gi Cian siwi Tou congkoan atau kepala barisan pengawal raja. Namun apa mau dikata, belum lama dia menjabat kedudukan itu, telah terjadi penuerbuan oleh para penjahat. Dengan demikian dia jadi tdak enak hati. Sepanjang malam dia tidak dapat tidur. Dia khawatir Ibu Suri atau Sri Baginda akan menegurnya dan atau menghukumnya.

Ketika Tou congkoan itu muncul, tampak matanya merah sekali.

“Apakah para penjahat yang tertawan itu sudah dimintakan keterangannya?” tanya Sri Baginda.

“Harap Sri Baginda ketahui,” sahut kepala siwi itu. “Penjahat yang tertawan jumlahnya ada tiga orang. Hamba telah memeriksanya. Dan hamba melakukannya dengan cara terpisah-pisah untuk mencocokkan ucapan mereka nantinya. Pertama-tama mereka tidak mau mengaku. Belakangan karena tidak tahan menghadapi siksaan, barulah mereka mengaku. Benar saja… Mereka adalah orang-orangnya … Peng Si Ong…”

Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya. “Begitu?” tanyanya agak heran.

“Semua senjata para penjahat itu ada ukir yang merupakan tanda dari Peng Si Onghu,” kata To Lung menjelaskan. “Sedangkan di dalam baju mereka juga terdapat tanda dari Peng Si ong juga. Dengan demikian terbukti bahwa pemberontak-pemberontak itu adalah orang-orangnya Go Sam kui. Seandainya bukan sekalipun, Go Sam-kui pasti tidak terlepas dari keterlibatan.”

Kaisar Kong Hi kembali menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menoleh kepada So Ngo-tu, “Apakah kau juga telah melakukan pemeriksaan?”

“Hamba telah memeriksa semua senjata dan pakaian para penjahat. Memang coeok dengan a yang dikatakan To eongkoan!” sahut To Lung.

“Coba bawa kemari senjata-senjata dan pakai para pemberontak itu!” perintah kaisar Kong Hi.

To Lung segera mengiakan. Dia langsung ke luar untuk mengambil barang-barang yang diperintahkan kaisar Kong Hi. Dia tahu rajanya itu masih muda sekali, tetapi otaknya cerdas dan juga sikapnya nya teliti. Dia memang sudah menduga raja akan memeriksa sendiri semua senjata dan pakaian itu. Karenanya, sebelum mendapat panggilan dia sudah mempersiapkan semuanya.

Tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi. Segera dibukanya bungkusan yang ia bawa dan membeberkan isinya di atas meja. Setelah itu dia mengundurkan diri beberapa tindak.

Kaisar-kaisar Boanciu terdiri dari orang-orang gagah dan tidak pantang menghadapi senjata. Tetapi dalam sebuah kamar tulis di istana, semua pembesar dilarang membawa senjata menghadap Sri Baginda. Untuk menghindarkan diri dari kecurigaan, To Lung segera mengundurkan diri agak jauh.

Raja mengangkat sebatang golok dan memeriksanya. Memang benar dia melihat ukiran huruf-huruf ‘Tay Beng sanhay kwan coanpeng hu’ Kaisar kong Hi langsung tersenyum dan berkata.

“Urusan ini agak mencurigakan! Kalau ada rencana terselubung, seharusnya semua bukti-bukti ini dihilangkan terlebih dahulu, tapi ini malah sebaliknya!”

Kaisar Kong Hi menoleh kepada So Ngo-tu. “Kalau Go Sam-kui mengutus orang ke istana untuk melakukan pembunuhan, seharusnya dia sudah merencanakannya matang-matang. Senjata apa yang boleh digunakannya? Mengapa dia justru memakai senjata yang ada tanda jati dirinya? Mengapa datang ribuan li dari propinsi Inlam, masa di tengah jalan tidak pernah terpikir bahwa ada kemungkinan senjata mereka bisa tertinggal di dalam istana di saat melakukan penyerbuan?”

“Ya, ya! Sri Baginda benar sekali!” puji So Ngo-tu. Sri Baginda cerdik dan dapat memandang urusan sampai jauh, hamba benar-benar takluk!”

Raja menoleh kepada thaykamnya yang masih muda.

“Siau ku cu,” panggilnya. “Ilmu silat apakah yang digunakan penjahat yang berhasil kau bunuh itu?”

“Ilmu Heng-sau ciangkun dan Kao-san liu sui!” sahut si bocah cilik yang ditanyai.

“Nah, ilmu dari manakah itu?” tanya kaisar Kong hi kepada To Lung.

Walaupun kepala pengawal ini asli orang Boan, tapi To Luung kenal berbagai macam ilmu silat. Karena itu pula, tidak heran kalau dia mengenal kedua macam ilmu silat yang disebut Siau Po.

“Mirip dengan ilmu silat keluarga Bhok di Inlam!” sahutnya.

Raja menepuk tangan keras-keras.

“Tidak salah! Memang tidak salah!” puji kaisar Kong Hi. “To Lung, pandanganmu luas sekali!”

Puas rasanya hati To Lung mendengar pujian junjungannya. Dia segera menjatuhkan diri berlutut untuk memberi hormat dan mengucapkan kata-kata merendah serta mengucapkan terima kasih.

“Coba kalian pikir,” kata kaisar Kong hi kembali. “Kalau benar Go Sam Kui menitahkan orang-orangnya ke kota raja untuk menyerbu istana, tidak mungkin ia memilih saat yang sama mengutus putranya datang ke kota Peking ini! Para penyerbunya toh bisa datang setiap waktu, kenapa dia memilih waktu ketika puteranya ada di sini? lnilah hal pertama yang menimbulkan kecurigaan. Go Sam-kui pandai mengatur tentara, orangnya teliti dalam mengambil setiap tindakan. Mengapa dia bisa mengirim orang-orang semacam ini untuk melakukan tugas yang dititahkannya? Bukankah jumlahnya terlalu kecil dan kepandaian mereka tidak seberapa tinggi? Tapi mengapa dia mengirimkannya juga? Hal inilah yang disebut kecurigaan kedua. Ada lagi yang ketiga. Taruh kata, benar dia megirim orang untuk membunuh raja. Apa manfaat bagi dirinya? Mungkinkah dia ingin memberontak dengan menimbulkan huru­hara? Kalau dia benar in gin memberontak, mengapa dia mengirim puteranya ke kota raja? Bukankah itu berarti dia mengantarkan puteranya menuju ambang pintu kematian?”

Tatkala Siau Po mendengar dad Pui le, perihal alat yang mereka gunakan untuk memfitnah Go Sam-kui, dia merasa siasat itu bagus sekali. Sekarang, setelah mendengar keterangan Sri Baginda baru dia merasa siasat itu terlalu banyak kelemahannya. Diam-diam dia merasa kagum terhadap Raja muda yang cerdik itu.

So Ngo-tu juga memuji sang raja yang dikatakan cerdas sekali.

“Nah, mad kita pikirkan lebih jauh!” kata kaisar Kong Hi. “Seandainya para penyerbu itu bukan orang-orang Go Sam-kui, tetapi mereka menggunakan senjata dan pakaian yang bertanda Peng Si onghu itu, apakah maksudnya? Apakah hal ini mempunyai arti tersendiri? Terang ada orang yang ingin memfitnah Go Sam-kui. Peng Si ong telah
membantu kita merampas seluruh tanah Tionggoan. Sudah tentu tidak sedikit orang yang membencinya. Nah, penjahat itulah yang harus kita cari! Siapa kira-kira orang itu? Atau dari pihak manakah? Hal inilah yang harus kita pikirkan dengan seksama!”

“Sri Baginda benar!” sahut So Ngo-tu dan To Lung serentak. “Kalau seandainya Sri Baginda tida berpandangan demikian jauh, mungkin kami sekalian sudah kena dikelabui. Bukankah itu berart kami mencelakai orang baik-baik dan memfitnah tidak karuan?” kata To Lung menambahkan.

“Memfitnah orang baik-baik! Hm!” kata Raja. Setelah itu kaisar Kong Hi berdiam diri. Karena itu So Ngo-tu dan To Lung pun segera memohon diri.

Raja membiarkan kedua orang itu pergi. Di justru memandangi Siau Kui cu lekat-lekat kemudian berkata.

“Siau Kui cu, coba kau terka, bagaimana aku bisa mengetahui kedua jurus Heng-sau ciang kudan Kao-san Liu Sui?”

“Hambamu justru sejak tadi dilanda keheranan,” sahut Siau Po. “Apa sebabnya Sri Baginda bisa tahu?” “Tadi pagi-pagi sekali, aku telah memanggil beberapa orang siwi untuk menghadap. Lalu aku menanyakan soal penyerbuan tadi malam, terutama tentang ilmu silat yang mereka gunakan. Ternyata ada beberapa jurus ilmu silat yang merupakan ciri as keluarga Bhok. Kau tahu, keluarga ini turun-temurun menguasai wilayah Inlam. Hanya setelah masuknya kerajaan Ceng kita, propinsi itu langsung serahkan kepada Go Sam-kui. Tentu saja karena keluarga Bhok menjadi gusar dan sakit hati.Selain itu, Bhok Tian-po pangeran terakhir Bhok onghu justru tewas di tangan bawahan Go Sam-kui.
Hal ini menambah kebeneian di hati mereka. Aku juga menyuruh beberapa orang siwi itu menjalankan silat keluarga Bhok, ternyata di antaranya memang ada Heng-sau ciang kun dan Kao-san Liu Sui!”

“Sungguh Sri Baginda pandai berpikir dan menerka!” puji Siau Po.

Di dalam hati dia justru merasa sudah dan khawatir sekali. Dia berpikir: ‘Di dalam kamarku tersembunyi dua orang nona dari keluarga Bhok. Entah Sri Baginda mengetahuinya atau tidak?’

Ketika Siau Po masih bingung, kaisar Kong Hi tersenyum dan berkata kepadanya.

“Eh, Siau Kui cu, apakah ada pikiranmu untuk mendapatkan rejeki besar?” tanyanya.

Siau Po menoleh kepada Raja dan menatap dengan pandangan tidak mengerti.

“Kalau Sri Baginda tidak memberikan, mana boleh hamba memintanya,” sahut bocah itu. Dia kurang mengerti apa yang dimaksudkan oleh junjungannya, karena itulah dia hanya dapat menduga-duga saja. “Sebaliknya, apabila Sri Baginda bersedia memberikannya, hamba pun tidak berani menerimanya!”

Raja tertawa.

“Bagus!” katanya. “Aku akan memberikan rejeki besar untukmu! Sekarang kau. kumpulkan semua senjata dan pakaian dalam ini. Juga surat-surat pengakuan para penyerbu yang kena ditawan lalu bawa semuanya kepada seseorang. Aku yakin kau akan memperoleh harta karun!”

Siau Po tertegun, tapi sejenak kemudian di tersadar.

“Oh, dia pasti Go Eng-him!” serunya.

“Kau memang cerdas sekali!” kata Raja. “Nanti kau bawalah semua barang-barang ini kepadanya!”

“Sungguh besar rejeki Go Eng-him!” kata Siau Po. “Ha… ha… ha…! Sekarang jiwa dia beserta ke1uarganya, semua ada di tangan Sri Bagind bahkan seluruhnya juga merupakan hadiah dari Sri Baginda!”

“Bagaimana nanti kau berbicara dengannya?” tanya Sri Baginda.

“Akan hamba katakan begini kepadanya: ‘Eh, orang she Go, junjungan kita sangat cerdas dan berpandangan jauh. Sri Baginda dapat mengetahui apa saja yang kalian ayah dan anak lakukan di Inlam. Tidak ada satu hal pun yang tidak beliau ketahui. Kalau kalian hendak memberontak, Sri Baginda sudah dapat menduganya dari jauh hari. Oleh karena itu, kalian harus baik-baik dan menuruti perkataanku!”

Kaisar Kong Hi tertawa.

“Kau cerdas sekali!” katanya. “Meskipun kau tidak bersekolah, kau buta huruf dan kata-katamu kasar, tetapi alasannya selalu tepat. Memang mereka, ayah dan anak harus tunduk sepenuhnya kepadaku!”

Senang Siau Po mendengar nada junjungannya. Ia segera membungkus seluruh senjata dan pakaiannya. Jam yang berserakan di atas meja. Juga surat pengakuan para siwi. Kemudian dia memberi hormat kepada Raja untuk memohon diri. Setelah itu dia memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar Raja itu. Namun tepat pada saat itu juga, dia merasa punggungnya nyeri sekali.

“Celaka!’ gerutunya dalam hati. Mendadak saja kepalanya terasa pusing dan perutnya mual. Dia merasa ingin muntah. ‘Ah, aku harus menemui nenek sihir itu secepatnya agar diberikan obat!’

Di samping Siau Po ada seorang thaykam, sembari mengasongkan bungkusannya yang akan menjadi harta karun, dia berkata.

“Kau pegang dulu barang ini. Aku akan ke Cu Leng hiong untuk mengucapkan selamat kepada thayhou!”

Thaykam itu mengangguk. Dia menyambut bungkusan itu. Siau Po bergegas pergi ke kerat Cu Leng hiong, kamarnya Ibu suri. Sesampainya sana dia meminta seorang thaykam mengabarkan kedatangannya.

Tidak lama kemudian muncullah Lui Cu, si dayang cilik. Melihat Siau Po, dia berkata dengan suara lirih.

“Kui kongkong, thayhou sedang marah. Katanya beliau tidak ada waktu menemuimu. Kalau kau ada urusan apa-apa, besok saja kau datang lagi.”

Siau Po jadi tertegun. ‘Besok baru datang lagi?’ pikirnya dalam hati ‘Entah besok aku masih hidup atau tidak? Terang-terangan kemarin thayhou sendiri yang mengatakan
agar aku datang hari ini untuk mengambil obat. Sekarang dia sengaja mempermainkan aku. Aku benar-benar tidak menyangka!’

“Adik kecil,” katanya kemudian kepada Lui Cu. “Tolong kau kembali lagi kepada thayhou dan katakan bahwa kemungkinan besok aku tidak bisa hidup lagi. Tapi, Siau Kui cu menganggap jiwanya kecil, karena itu aku tidak perlu minum obat lagi!”

Lui cu bingung. Untuk sesaat dia menatap Siau Po dengan tatapan heran.
“Eh, apa yang kau katakan?” tanyanya. “Bagaimana aku bisa menyampaikan kata-katamu kepada thayhou, sedangkan ucapanmu itu begitu tidak sopan?”

“Hm!” Siau Po mengeluarkan suara yang tawar, “Karena aku akan mati, perduli apa kata-kataku ini sopan atau tidak!”

Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan pulang ke kamarnya sendiri. Dia langsung memalang pintu kamarnya itu setelah sebelumnya mengambil dulu bungkusan yang dititipkannya. Dia duduk di atas kursi dengan nafas tersengal-sengal. Biar bagaimana, pikirannya bingung dan juga mendongkol.

“Apa kau kurang sehat?” tanya Kiam Peng.

“Melihat wajahmu yang cantik, kesehatanku pulih kembali,” sahut Siau Po. “Kau begitu cantik membuat bunga dan rembulan pun merasa iri memandangmu!”

Kiam Peng tertawa.

“Suciku baru termasuk gadis cantik yang bisa membuat bunga-bunga malu dan rembulan menutup diri. Di wajahku ada kura-kura kecil sehingga buruk sekali…. ”

Mendengar gurauan si nona cilik, hati Siau Po merasa lega juga.

“Eh, kenapa di wajahmu ada kura-kura?” tanyanya sambi! tertawa. “Oh, aku tahu sekarang. Adikku yang baik, wajahmu begitu bersih dan mulus sehingga bila kau berkaca, kau akan melihat bayangan seekor kura-kura cilik.”

Kiam Peng heran. Dia menatap Siau Po tajam.

“Apa katamu? Mengapa kau berkata demikian?

“Kau lihat, dengan siapa kau tidur?” kata Siau Po. “Wajahmu berpotongan telur mirip sebuah cermin. Dan di sana terbayang wajahnya seseorang yang tampak mirip seekor kura-kura kecil!”

“Cis!” Pui Ie yang sejak tadi diam saja jadi sengit karena merasa disindir oleh Siau Po.

“Nih, kau lihat sendiri wajahku!”

Siau Po tertawa.

“Kalau aku melihatnya dari dekat, maka di wajah adikku yang manis pasti terpantul tampang seorang tuan besar yang tampan dan gagah!”

Kiam Peng tertawa. Pui Ie juga ikut tertawa. Mereka merasa thaykam cilik ini memang lucu sekali.
“Kalau seekor kura-kura kecil bisa jadi tuan besar, lalu tuan besar yang bagaimana itu?” sindir Pui Ie.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: