Kumpulan Cerita Silat

15/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 05

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:40 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 05
Badai Pembunuhan
Oleh Gu Long

Fajar telah menyingsing.

Salju yang mulai turun semenjak semalam hingga kini belum juga berhenti, seluruh permukaan kuil yang baru dibersihkan kembali dilapisi dengan bunga salju yang berwarna putih keperak-perakan.

Bunyi lonceng bergema memecahkan keheningan, kemudian di tengah hembusan angin dingin, lamat-lamat terdengar suara pembacaan doa yang bergema dari dalam ruang kuil sebelah kanan.

Suma Cau-kun duduk tenang di pembaringannya sambil mendengarkan pembacaan doa itu, dengan tenang menikmati arak dingin yang dibawanya semalam.

Arak itu dingin seperti salju, namun setelah diteguk terasa panas seperti terbakar.

Cho Tang-lay telah berjalan masuk, dia hanya mengawasi gerak-geriknya dengan pandangan dingin.

Namun Suma Cau-kun berlagak seolah-olah tidak tahu.

Akhirnya Cho Tang-lay buka suara berkata: “Kalau sekarang sudah mulai minum arak, apakah hal ini tidak kelewat awal? Sekalipun kau ingin minum arak hari ini, mengapa tidak menunggu sampai datangnya malam nanti?”

“Mengapa?”

“Karena kau akan segera menghadapi seorang lawan yang amat tangguh, besar kemungkinannya jauh lebih tangguh daripada apa yang kita bayangkan sekarang.”

“Oya?”

“Oleh sebab itu bila kau bersikeras ingin minum arak, paling tidak haruslah menunggu sampai pertarungan kalian telah berlangsung.”

Tiba-tiba Suma Cau-kun tertawa.

“Mengapa aku harus menunggu sampai waktu itu? Apakah kau lupa bahwa aku adalah Suma Cau-kun yang selamanya tak pernah akan terkalahkan?”

Di balik senyumannya itu terselip nada menyindir yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

“Bagaimanapun juga aku toh tak bakal kalah, biarpun minum sampai mabuk juga tak akan kalah, sebab kau pasti sudah mengatur segala sesuatunya dengan baik, semua persoalan telah dipersiapkan dengan jitu.”

Kemudian setelah tertawa terbahak-bahak, terusnya: “Bocah keparat yang bernama Ko Cian-hui itu pasti akan kalah, pasti akan mampus.”

Cho Tang-lay tidak tertawa, tidak mengaku, pun tidak menyangkal, mimik wajahnya tetap hambar tanpa perubahan.

Suma Cau-kun memandang sekejap ke arahnya, kemudian ujarnya lebih jauh: “Kali ini, dapatkah kau memberitahukan kepadaku, sebetulnya persiapan apakah yang telah kau atur?”

Cho Tang-lay termenung lagi beberapa waktu, kemudian baru ujarnya hambar: “Ada sementara persoalan yang sebenarnya bisa terjadi setiap saat, tanpa persiapan darikupun sama saja.”

“Kau hanya cukup secara tanpa sengaja memperlihatkan satu dua hal saja kepada Ko Cian-hui.”

“Setiap orang tak urung akan berjumpa secara kebetulan akan sementara kejadian, entah siapapun yang dijumpai, sama saja tak ada gunanya.”

Mendadak dia maju ke depan, mengambil sebotol arak putih dari atas meja kecil dan menuang setitik air bersih ke dalamnya.

Arak dan air segera bercampur menjadi satu.

“Bukankah kejadian semacam ini sangat lumrah?” Cho Tang-lay bertanya pelan.

“Benar!”

“Ada sementara orangpun demikian juga, setelah saling bertemu, mereka akan berbaur menjadi satu seperti arak dan air.”

“Tapi bila arak dan air telah bercampur, araknya akan berubah menjadi tawar, airpun berubah bobotnya.”

“Demikian pula dengan manusia, keadaannya sama sekali tak jauh berbeda.”

“Oooooh…..,” Suma Cau-kun berseru tertahan.

Kembali Cho Tang-lay berkata: “Ada sementara orang bila sudah saling bertemu, mereka akan berubah, dan kadang kala pula mereka akan berubah menjadi lemah.”

“Seperti air yang bercampur dengan arak?”

“Betul!”

“Maka kaupun mengatur suatu pertemuan antara Ko Cian-hui dengan seseorang yang seperti air ini?”

“Benar!,” Cho Tang-lay mengangguk, “pertemuan yang tak terduga, berpisah tanpa duga, siapapun tak dapat berbuat apa-apa.”

Kemudian dengan suara yang lebih dingin dan tawar dia menambahkan: “Sesungguhnya di dunia ini memang banyak terdapat kejadian seperti ini.”

Suma Cau-kun segera tertawa terbahak-bahak.

“Mengapa sih kau begitu baik kepadaku?” ia bertanya, “mengapa kau selalu mengatur segala sesuatunya demi kepentinganku secara baik dan sempurna?”

“Karena kau adalah Suma Cau-kun.”

Jawaban Cho Tang-lay amat sederhana.

“Suma Cau-kun tak pernah akan terkalahkan untuk selamanya.”

—–

Sekarang, Siau-ko telah berdiri di bawah pagoda Tay-eng-tha.

Di bawah pagoda tiada bayangan, sebab hari ini tiada matahari, tanpa cahaya matahari, tentu saja tak ada bayangan.

Perasaan Siau-ko pun tanpa bayangan. Perasaannya kini kosong melompong, tiada sesuatu apapun.

Namun dalam genggamannya masih terdapat sebilah pedang, sebilah pedang yang terbungkus dengan kain kasar, sebilah pedang yang jarang dilihat orang.

Hanya ada pedang, tanpa peti.

Peti itu tidak dibawa oleh si nona berkaki indah, diapun tidak seharusnya pergi tanpa pamit, tapi dia telah pergi, dia seharusnya pergi dengan membawa peti tersebut, namun dia tidak membawanya pergi.

Peti tersebut masih tetap tersimpan di dalam kamar tidur Siau-ko.

Yang harus tetap tertinggal ternyata tak mau tinggal, yang tidak seharusnya tetap tinggal, mengapa harus tetap tinggal terus di sana?

Dia sendiripun tak tahu sudah berapa lama dia ke situ, tak tahu sejak kapan sampai di sana.

Dia hanya tahu dirinya sudah datang, karena dia telah melihat Cho Tang-lay dan Suma Cau-kun.

—–

Baju yang dipakai berwarna putih dan hitam, sepasang matanya juga putih dan hitam, yang putih seperti salju yang hitam seperti tinta bak.

Dimanapun Suma Cau-kun munculkan diri, dia selalu memberi kesan demikian kepada setiap orang.

Suatu perpaduan yang menyolok, jelas dan terang, antara hitam dan putih.

Di dalam waktu sedetik tersebut, di tengah dunia yang berwarna putih keperak-perakan ini semua cahaya dan kementerengan seakan-akan hanya menjadi miliknya seorang sedangkan Cho Tang-lay tak lebih hanya salah satu bayangan dari pantulan cahayanya tersebut.

Cho Tang-lay sendiripun seperti amat memahami persoalan ini, maka dia selalu hanya berdiri di samping, selalu tak akan menghalangi pancaran cahayanya.

Pandangan pertama yang terlihat oleh Siau-ko adalah sepasang mata Suma Cau-kun yang jeli dan biji matanya yang hitam.

Seandainya ia berjalan lebih dekat lagi, bila memperhatikan dengan lebih seksama, mungkin dia akan menjumpai titik merah di balik matanya itu, titik merah seperti kobaran api yang membara.

Sayang sekali dia tidak melihatnya.

Selain Cho Tang-lay, tiada orang yang bisa mendekati Suma Cau-kun.

“Kau adalah Ko Cian-hui?” Suma Cau-kun menegur.

“Benar!”

Suma Cau-kun sedang memperhatikan pula wajah Siau-ko, mengawasi sorot matanya, wajahnya dan gerak-geriknya.

Walaupun di bawah pagoda Tay-eng-tha tiada bayangan, namun seluruh tubuhnya justru seakan-akan terselubung bayangan hitam.

Dengan tenang sekali Suma Cau-kun memperhatikannya setengah harian, mendadak ia membalikkan badan dan tanpa berpaling berlalu dari situ.

Cho Tang-lay tidak menghalanginya, ia tetap berdiri kaku di tempat, bahkan sepasang matanya berkedip pun tidak.

Justru Siau-ko yang telah menerkam ke depan dan menghalangi jalan perginya.

“Mengapa kau pergi?” dia menegur.

“Sebab aku tak ingin membunuhmu”, sahut Suma Cau-kun, “bagi mereka yang kalah di ujung pedangku hanya kematian yang diterimanya.”

Begitu tenang sikapnya seakan-akan tak pernah meneguk setetes arakpun.

“Padahal kau seharusnya sudah mengetahui sendiri, kini kau sudah menderita kekalahan, karena kau sudah menjadi seorang manusia yang kosong seperti karung beras yang kini sudah tiada sebutir beraspun….”

Seorang manusia yang berperasaan hampa ataupun sebuah karung goni yang kosong memang tak jauh berbeda, kedua-duanya tak mampu berdiri sendiri.

Jika untuk berdiri saja sudah tak sanggup, apalagi ingin meraih kemenangan?

Semestinya teori semacam ini dipahami setiap orang.

Hanya Siau-ko seorang yang tidak mengerti.

Karena dia sekarang sudah berperasaan hampa, bila pikirannya hampa, bagaimana mungkin bisa memahami teori seperti itu?

Maka dia mulai melepaskan bungkusan sendiri, bungkusan tersebut tidak kosong.

Di dalam bungkusan itu terdapat pedang, pedang yang dalam waktu singkat dapat merenggut nyawa seseorang, tapi dapat pula memberi alasan yang cukup bagi orang lain untuk merenggut jiwanya pula di dalam waktu singkat.

Walaupun langkah kaki Suma Cau-kun telah berhenti sekarang, namun sorot matanya justru ditujukan ke tempat kejauhan sana.

Ia tidak memperhatikan Siau-ko lagi sebab dia tahu di saat pemuda ini akan mencabut pedangnya, tak seorangpun dapat merintanginya.

Diapun tak memperhatikan Cho Tang-lay lagi, sebab dia tahu Cho Tang-lay tak pernah memberikan reaksi apapun terhadap kejadian seperti itu.

Namun di balik sorot matanya justru terlintas setitik kedukaan yang amat tawar.

Selembar nyawa yang begitu di sayang, bila sudah tiba suatu saat dan keadaan, mengapa akan berubah menjadi begitu rendah dan tak ada harganya?

Tangannya telah menggenggam pula gagang pedangnya, sebab dalam keadaan demikian tiada pilihan lagi baginya.

“Blaaaam!” Pedang itu sudah melentik ke depan, namun pedang Suma Cau-kun belum juga diloloskan.

Karena pada saat itulah dari atas pagoda Tay-eng-tha mendadak meluncur turun sesosok bayangan manusia.

Tentu saja yang melayang turun dari atas pagoda bukan bayangan saja melainkan seorang manusia sungguhan, namun gerakan tubuh orang itu sedemikian cepatnya sehingga Suma Cau-kun sendiripun tak sempat melihat dengan jelas manusia macam apakah dia, dia hanya melihat sesosok bayangan abu-abu melayang ke bawah dan menyambar tubuh Siau-ko.

Maka Siau-ko pun turut meluncur pergi, bukan meluncur ke depan, tapi melayang seperti burung yang terbang.

Dalam waktu singkat, bayangan tubuh mereka sudah berada di tingkat ke tiga pagoda Tay-eng-tha tersebut.

Kemudian dalam sekejap mata kemudian, kedua sosok bayangan manusia itu sudah mencapai tingkat ke tujuh dari pagoda itu.

Lalu bayangan mereka hilang lenyap dengan begitu saja.

Sebenarnya Suma Cau-kun berniat mengejar, namun Cho Tang-lay segera mencegah dengan suara hambar: “Kau toh tak berniat membunuhnya, buat apa mesti dikejar?”

—–

Salju telah berhenti, pendeta tua muncul menuangkan air teh kemudian mengundurkan diri lagi.

Ada kalanya datang, ada kalanya pergi, ada kalanya rontok ada kalanya berhenti, salju yang turun tanpa terasapun memang selalu demikian.

Bagaimana dengan manusianya?

Bukankah manusiapun demikian juga?

Suma Cau-kun masih duduk dengan tenang di atas pembaringan, meneguk arak dinginnya yang belum habis.

Lewat lama kemudian tiba-tiba ia bertanya kepada Cho Tang-lay: “Siapakah orang itu?”

“Orang yang mana?”

“Kau seharusnya tahu siapa yang kumaksudkan, kau melarangku untuk mengejarnya, apakah disebabkan kau takut kepadanya?” jengek Suma Cau-kun sambil tertawa dingin.

Cho Tang-lay bangkit berdiri, berjalan ke tepi jendela, membukanya tapi kemudian menutupnya kembali, setelah itu dia baru membalikkan badan menghadap Suma Cau-kun.

“Setiap tokoh dalam persilatan memiliki kepandaian yang berbeda-beda, bila jago lihay sedang bertarung, seringkali perbedaan antara menang dan kalah hanya tergantung pada situasi dan keadaan pada saat itu,” Cho Tang-lay menerangkan, “semenjak Siau-li si Pisau Terbang mengasingkan diri, hampir boleh dibilang tiada jago yang benar-benar tanpa tandingan di kolong langit.”

“Hampir-hampir tak ada? Ataukah sama sekali tak ada?”

“Aku sendiripun tak dapat memastikan secara tepat,” suara Cho Tang-lay kedengaran agak parau, “cuma ada orang yang pernah memberitahukan kepadaku, di dunia ini, di suatu tempat yang tak kuketahui namanya, benar-benar hidup seorang manusia seperti ini.”

“Siapa?” paras muka Suma Cau-kun agak berubah, “siapakah orang yang kau maksudkan?”

“Dia she Siau, bernama Lay-hiat.”

—–

Siau-ko merasa seolah-olah tertidur lagi, di saat dia hendak melepaskan kain dan mencabut pedangnya, mendadak dia tertidur, bahkan dalam tidurnya dia merasa seolah-olah dibawa terbang tinggi ke angkasa.

Sesungguhnya dia sendiripun tak bisa membedakan mana yang impian dan mana pula yang kenyataan.

Bila seseorang tertotok jalan darah tidurnya oleh suatu gerak serangan yang ringan dan sempurna, seringkali dia akan merasakan keadaan seperti ini.

Tatkala ia mendusin kembali, terdengar ada orang sedang bersenandung lirih, dibalik nyanyiannya lamat-lamat terbawa pula hawa pedang yang menyeramkan serta suasana serius yang menggidikkan hati.

“Pengembara tiga kali menyanyi

Hanya menyanyikan pahlawan

Pengembaran tanpa tempat tinggal

Pahlawan tanpa air mata…….”

Ketika suara nyanyian itu berhenti, si penyanyi pelan-pelan membalikkan tubuhnya, tampak selembar wajah yang kuning pucat, sepasang mata yang lesu tak bersinar dan mengenakan pakaian abu-abu yang amat sederhana.

Dia hanya seorang manusia yang sederhana, membawa sebuah peti yang sederhana pula.

—–

“Siau Lay-hiat?”

Denyut nadi Suma Cau-kun yang membara terasa berkobar dengan kencang, tapi hatinya justru tidak menjadi panas karena hal itu.

“Manusia macam apakah dia? Sudahkah kau berjumpa dengannya?”

“Belum pernah! Tak seorangpun yang pernah bertemu dengannya,” jawab Cho Tang-lay, “sekalipun orang itu pernah bertemu dengannya, belum tentu mereka tahu siapakah dia.”

—–

Angin berhembus amat kencang, dingin dan menggidikkan hati.

Oleh karena mereka berada di tempat yang amat tinggi, puncak tertinggi dari pagoda tingkat tujuh.

“Oooh, kau! Lagi-lagi kau” seru Siau-ko sambil celingukan kian kemari, “sesungguhnya siapakah kau? Mengapa secara tiba-tiba membawaku ke tempat seperti sarang setan begini?”

“Kau takkan bertemu setan di sini, tapi jika tidak kubawa dirimu kemari, aku benar-benar akan melihat setan gentayangan.”

Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan: “Ya, sesosok setan baru mampus!”

“Apakah setan yang baru mampus itu adalah diriku?”

“Mungkin saja demikian.”

“Darimana kau bisa tahu kalau aku pasti akan mati?”

“Sebab pedangmu.”

Dari balik matanya yang lesu tak bercahaya seakan-akan muncul setitik cahaya bintang secara tiba-tiba, bagaikan bintang fajar yang terang benderang tapi begitu jauh, begitu misterius dan penuh teka-teki.

“Pedang-pedang kenamaan di masa lalu sudah banyak yang terkubur dan musnah, tapi pedangmu masih terhitung pedang tajam yang tiada keduanya di dunia ini, dalam lima ratus tahun mendatang, tiada sebilah pedangpun yang mampu menandinginya.”

“Oya?”

“Orang yang menempa pedang ini adalah seorang Taysu keturunan Ouw Cu-ki, diapun seorang jago pedang pada jamannya, tapi sepanjang hidupnya dia tak pernah menggunakan pedang ini, bahkan tak pernah mencabutnya untuk diperlihatkan kepada orang lain.”

“Mengapa?”

“Sebab pedang ini kelewat ganas, asal dicabut keluar dari sarungnya pasti akan menghirup darah manusia.”

Mimik wajahnya tetap kaku tanpa perasaan sebab wajahnya selalu dilapisi oleh bahan obat-obatan penyaruan yang kuning kepucat-pucatan, namun sorot matanya justru memancarkan sinar kedukaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

“Sewaktu pedang ini keluar dari tempaan, Taysu tersebut sudah melihat cahaya keganasan dari ujung pedang itu, semacam cahaya buas yang mendatangkan firasat buruk, oleh sebab itu tanpa terasa dia melelehkan air matanya yang membasahi pedang tersebut dan berubahlah pedang itu dengan tetesan air matanya.”

“Jadi tetesan air mata tersebut terbentuk karena kejadian demikian ini?”

“Benar!”

“Kalau toh Taysu ini dapat melihat adanya firasat yang kurang baik pada senjata tersebut, mengapa dia tidak memusnahkannya dengan begitu saja?”

“Sebab hasil tempaan tersebut menghasilkan pedangnya yang kelewat indah dan sempurna, siapakah yang tega untuk turun tangan memusnahkan hasil karya dan jerih payahnya sendiri selama sepanjang hidupnya?”

Kemudian ujarnya lagi: “Lagi pula setelah pedang itu keluar dari tempaan, maka jadilah sebilah senjata mustika, biarpun bisa memusnahkan wujudnya, tak mungkin memusnahkan kesaktiannya, cepat atau lambat firasat tersebut akan tetap terwujud juga.”

Tampaknya Siau-ko dapat memahami maksudnya itu dan berkata: “Ya, di dunia ini memang terdapat sementara benda yang selamanya tak mungkin dapat dimusnahkan.”

“Oleh sebab itu, bila kau meloloskan pedang tersebut hari ini, maka ada satu orang yang akan tewas di ujung pedang itu, dan orang tersebut adalah kau sendiri, karena hari ini kau bukanlah tandingan dari Suma Cau-kun.”

Ditatapnya Siau-ko lekat-lekat, kemudian terusnya: “Sekarang kau tentu sudah mengerti bukan walaupun pertarungan ini nampaknya adil, namun sesungguhnya sama sekali tidak adil.”

“Oooh?”

“Bila seseorang sudah mencapai suatu tingkat kemajuan, sudah memperoleh suatu daya pengaruh, ia dapat menciptakan pula berbagai kejadian yang bertujuan untuk melemahkan kekuatan lawan, agar kemenangan dapat diraih oleh pihaknya, dan kejadian tersebut seringkali akan membuat orang merasa amat menderita.”

Hal ini memang suatu kenyataan, kenyataan yang amat keji.

Sekarang Siau-ko tak dapat menyangkal lagi, karena sekarang dia telah memahami hal tersebut, sudah memperoleh pelajaran yang cukup tragis.

“Oleh sebab itu apabila kau benar-benar ingin menghadapi Suma Cau-kun, satu-satunya cara adalah turun tangan secara tiba-tiba dan membunuhnya di ujung pedangmu, sebab pada hakekatnya kau tidak memiliki kesempatan untuk melangsungkan pertarungan yang adil dengan dirinya.”

Siau-ko mengepal kencang sepasang tinjunya kencang-kencang.

“Mengapa kau harus memberitahukan segala sesuatunya ini kepadaku?” ia bertanya kepada orang itu, “mengapa kau harus menyelamatkan diriku?”

“Sebab aku tidak membunuhmu, maka akupun tak akan membiarkan kau mati di tangan orang lain.”

“Tentunya kaupun tak ingin agar pedang tersebut jatuh ke tangan orang lain, bukan?”

“Betul!”

Jawaban orang ini ternyata tepat dan jelas.

Kembali Siau-ko bertanya kepadanya: “Kalau toh kau sudah mempunyai sebuah senjata yang tiada tandingannya di dunia ini, apakah kau masih mengharapkan pedangku ini?”

“Aku tidak mengharapkan,” jawab orang itu hambar, “bila aku menginginkannya, sudah menjadi milikku sedari dulu.”

Tentang hal ini Siau-ko memang tak dapat menyangkal.

“Lantas mengapa kau menguatirkan tentang benda tersebut? Apakah pedang ini mempunyai suatu hubungan yang luar biasa dengan dirimu sendiri?”

Mendadak orang itu turun tangan, mencengkeram pergelangan tangan Siau-ko.

Peluh dingin segera jatuh bercucuran membasahi tubuh Siau-ko, saking sakitnya peluh dingin telah membasahi seluruh badannya.”

Tapi dia tahu, dia pasti telah menyentuh luka hati orang ini, suatu luka hati yang tak ingin disentuh oleh siapapun.

Seseorang yang berhati keras dan dingin seperti ini, mengapa justru memiliki perasaan yang begitu lemah?

“Petimu maupun pedangku berasal dari orang yang sama, bukankah antara kau dan aku pun terjalin suatu hubungan yang istimewa pula?” Siau-ko berkata lagi, “mengapa kau tidak bersedia memberitahukan semua kejadian tersebut kepadaku?”

Persoalan-persoalan seperti ini harus ditanyakan oleh Siau-ko, biarpun akan berakibat hancurnya pergelangan tangannya, dia tetap harus menanyakannya sampai jelas.

Sayangnya dia tidak memperoleh jawaban.

Orang itu sudah melepaskan cengkeramannya, lalu melayang keluar dari pagoda itu.

Di luar pagoda terbentang selapis cahaya putih keperak-perakan, orang itu bersama petinya telah lenyap di balik bunga salju yang memutih itu.

Hari sudah bertambah kelam, Siau-ko sudah cukup lama berpikir di situ, tapi masih banyak persoalan yang tidak dimengerti olehnya.

Sebab dia pada hakekatnya tak mampu untuk menghimpun semua pikirannya.

Walaupun dia telah berpikir pulang-pergi, namun hanya bayangan si nona berkaki indah yang memenuhi benaknya.

“Siapakah dia sebenarnya? Datang darimana? Hendak kemana?”

“Siapa pula orang-orang yang berniat membunuhnya? Apakah pertemuanku dengannya merupakan bagian yang sengaja diatur oleh Suma Cau-kun?”

“Kini dia telah pergi secara tiba-tiba, apakah Suma Cau-kun juga yang menyuruhnya pergi? Agar dia bersedih hati dan putus asa karenanya?”

Entah apapun yang terjadi, Siau-ko bertekad akan mencarinya sampai ketemu dan menanyakan persoalan ini sampai jelas.

Tapi ia tak berhasil menemukannya.

Pada hakekatnya dia tak tahu kemanakah dia mesti pergi untuk mulai dalam usaha pencariannya.

Bagi seorang pemuda yang baru terjun ke dunia persilatan, tanpa pengalaman, tanpa teman, tanpa orang yang bersedia membantunya, apa pula yang bisa dia lakukan?

Kecuali menggunakan pedangnya untuk membunuh orang, apalagi yang bisa dia lakukan?

Siapa pula yang harus dibunuhnya?

Siapa pula yang sepantasnya dibunuh?

Siapakah yang dapat memberitahukan semua jawaban tersebut kepadanya?

—–

Hari semakin gelap, angin yang berhembuspun semakin bertambah kencang.

Suara lonceng bergema bertalu-talu, membelah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad.

Dari arah dapur di halaman belakang, terhembus lewat bau harum bubur yang membuat perut terasa lapar, beberapa orang pendeta yang pulang kemalaman sedang menikmati santapan malam mereka dengan lahap.

Ketika mendengar suara sepatu berpaku yang menembusi salju, tiba-tiba Siau-ko teringat akan diri Cu Bong.

Cu Bong berada di Lok-yang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: