Kumpulan Cerita Silat

14/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 04

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:39 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 04
Perjumpaan Aneh
Oleh Gu Long

Ko Cian-hui tidak mampus.

Apa yang dia duga memang sangat tepat, nyalinya juga terhitung cukup besar, itupun sebabnya dia tak sampai menemui ajalnya.

Satu-satunya masalah yang membuat hatinya menyesal adalah dia sama sekali tidak tahu dengan cara apakah dia keluar dari tempat itu dan tidak tahu di manakah letak gua yang amat misterius dan rahasia tersebut.

Sehabis meneguk arak tersebut, ia segera roboh tak sadarkan diri, kemudian ketika ia bisa sadar kembali, dijumpai dirinya sudah kembali ke rumah penginapan kecil semula, berbaring di atas pembaringan kayu dalam kamar sendiri.

Bagaimana caranya ia kembali ke situ?

Sejak kapan dia kembali ke sana?

Tak setitikpun keterangan yang diperoleh.

Tentu saja orang lainpun tak akan mengetahuinya.

Tiada orang yang tahu kemanakah perginya selama dua hari ini, juga tiada orang yang memperhatikan kemana dia telah pergi.

Untung saja ada suatu benda yang membuktikan bahwa pengalamannya selama dua hari terakhir ini bukan hanya impian belaka.

Benda itu tak lain adalah sebuah peti. Sebuah peti kulit kerbau berwarna coklat gelap.

Begitu sadar dari pingsannya, Siau-ko segera menjumpai peti tersebut.

Peti itu tergeletak di sisi pembaringan, warna maupun bentuknya tak berbeda dengan peti yang pernah diintipnya tempo hari. Bahkan alat rahasia serta kunci dari peti itupun tak berbeda.

Seandainya isi peti ini benar-benar adalah senjata ampuh yang tiada duanya di dunia ini, mengapa ia meninggalkan benda tersebut untuk dirinya?

Biarpun Siau-ko tidak percaya, tak urung tergerak juga hatinya sehingga tak tahan dia ingin membuka dan mengintip isinya.

Untung dia belum melupakan pelajaran yang diterimanya tempo hari.

Bila setiap kali membuka sebuah peti, seseorang harus jatuh pingsan satu kali, jelas hal tersebut bukan suatu kali, jelas hal tersebut bukan suatu kejadian yang boleh dianggap main-main.

Maka begitu peti itu di buka, Siau-ko sudah melejit keluar jendela.

Angin dingin yang tajam bagaikan sayatan pisau menghembus masuk dari balik jendela, menggulung ke dalam ruang kamar, betapapun hebatnya asap pemabok, dalam keadaan demikian tentu akan tersapu bersih.

Beberapa saat kemudian Siau-ko baru berputar masuk kamar dan melangkah ke dalam ruangannya.

Tapi setelah menyaksikan benda dalam peti itu, dengan cepat ia merasa sangat kecewa.

Isi peti itu bukan sebangsa alat senjata yang tangguh, melainkan hanya sejumlah intan permata dan setumpuk daun emas yang berbentuk besar.

Jumlah harta yang diperoleh dari peti tersebut cukup baginya untuk memborong sebidang tanah yang luas dalam kota, dapat pula menyuruh penduduk sekota untuk saling bunuh membunuh untuk memperolehnya.

Tapi ia sama sekali tak tertarik.

—–

Peristiwa itu sudah berlangsung tiga hari yang lalu.

Selama tiga hari itu, walaupun setiap kali keluar rumah, dia selalu membawa serta peti tersebut, namun cara hidupnya tak berubah barang sedikitpun.

Ia masih tetap berdiam di dalam rumah penginapan kecil yang murah itu, makan mie kuah yang paling murah.

Dia seolah-olah tidak mengetahui kalau isi peti tersebut bisa digunakan untuk melakukan persoalan apapun, juga tidak tahu kalau dirinya telah berubah menjadi seorang hartawan yang kaya raya.

Sebab dia pernah berpikir sampai di situ, pada hakekatnya tak ingin tahu.

Diapun tak mempunyai perhitungan terhadap nilai dari harta karun tersebut. Dia juga tak ingin cara hidupnya berubah gara-gara suatu perubahan.

Tapi pada tanggal dua puluh lima bulan pertama ini, kehidupannya toh tetap mengalami perubahan, perubahan yang sangat aneh.

—–

Hari ini udara cerah. Sehabis sarapan mie di warung langganannya, sebenarnya Siau-ko ingin kembali ke rumah penginapannya dan tidur lagi sepuas-puasnya.

Hingga saat ini dari pihak Suma Cau-kun dan Cho Tang-lay sama sekali tiada kabar berita, diapun tak tahu sampai kapankah tantangan duelnya dilayani.

Walaupun begitu, ia sedikitpun tidak gelisah.

Manusia berbaju hitam yang misterius dan tanpa sebab musabab menghadiahkan sejumlah harta kepadanya pun sama sekali tiada kabar beritanya.

Setiap waktu setiap saat dia bersiap-siap untuk mengembalikan peti tersebut kepadanya, karena itulah setiap saat ia selalu membawa serta peti itu kemanapun dia pergi.

Tapi mulai saat itu, bisa jadi mereka tak pernah akan bersua kembali dan peti itu bisa jadi akan berubah menjadi suatu beban bagi dirinya.

Tapi Siau-ko tidak mengeluh ataupun kesal lantaran hal tersebut.

Agaknya tiada persoalan apapun di dunia ini yang bisa mempengaruhi perasaannya lagi.

Bila orang lain menyuruh dia menanti dua hari, diapun akan menanti selama dua hari, bila menyuruhnya menanti selama dua bulan, diapun akan menanti selama dua bulan, pokoknya cepat atau lambat, suatu saat tentu ada berita yang diperolehnya.

Kalau sudah begini, apalagi yang mesti dirisaukan?

Sekarang dia telah mengambil keputusan, sebelum pertarungannya berlangsung, dia tak akan melakukan pekerjaan apapun.

Dia harus tetap memelihara kondisi badannya pada keadaan yang paling prima, bahkan harus mempertahankan pula perasaannya dalam ketenangan serta ketentraman.

—–

Tengah hari ini, sewaktu Siau-ko menelusuri permukaan salju yang melapisi jalan raya untuk kembali ke rumah penginapannya, ditemukan ada orang sedang menguntitnya dari belakang.

Tak usah berpalingpun Siau-ko sudah dapat menduga siapakah orang ini.

Sejak semalam ketika ia sedang bersantap, ia sudah mengetahui kalau orang ini selalu mengawasi gerak-geriknya, macam seekor kucing yang mengintai tikus.

Orang ini mengenakan pakaian yang compang-camping, mengenakan topi bulu. Biarpun perawakannya bukan termasuk tinggi besar, namun wajahnya penuh berkumis, langkah kakinya sangat ringan, jelas pernah belajar ilmu silat selama banyak tahun.

Siau-ko belum pernah berjumpa dengan orang ini, pun tidak mengerti apa sebabnya dia mengintai dirinya.

Padahal ia merasa kalau dirinya tidak memiliki suatu daya tarik yang bisa menimbulkan perhatian orang lain untuk mengintainya.

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mendadak suara langkah kaki di belakang sana tak kedengaran lagi. Baru saja Siau-ko menghembuskan napas lega, tiba-tiba meluncur datang seutas tali dari lorong samping langsung mengancam lehernya.

Tali itu amat besar dan kasar, pada ujungnya di buat tali simpul hidup yang dengan cepat menjirat leher Siau-ko, menjirat secara tepat.

Apabila leher seseorang sampai terjirat oleh tali sebesar ini, niscaya sepasang biji matanya akan menonjol keluar, nyawanya tentu saja setiap saat bakal putus.

Dalam hal ini Siau-ko cukup mengerti.

Maka begitu tali ditarik, tubuhnya segera melejit ke udara dan melayang-layang seperti sebuah layang-layang.

Ternyata orang yang menjirat tengkuknya dengan tali laso tersebut adalah si berewok tadi.

Si Berewok masih menarik talinya sekuat tenaga, sayang tali itu mendadak putus dan orang yang dijiratnya tadi telah menerkam ke arahnya secara ganas.

Si Berewok segera putar badan dan melarikan diri, tapi tak seberapa jauh kemudian ia menjadi keheranan, rupanya Siau-ko sama sekali tidak berniat untuk mengejarnya.

Setelah berlarian beberapa tombak lagi, mendadak si Berewok itu menghentikan langkahnya, Siau-ko masih belum juga mengejarnya.

Lama kelamaan habis sudah kesabarannya, sambil membalikkan badan ia memandang ke arah Siau-ko dengan pandangan terkejut, kemudian menegur: “Mengapa kau tidak mengejarku?”

Suatu pertanyaan yang aneh dan luar biasa untuk di dengar, tapi jawaban dari Siau-ko ternyata lebih hebat lagi.

“Mengapa aku harus mengejarmu?”

“Apakah kau tidak tahu bahwa baru saja kujirat lehermu dengan tali laso tersebut?” tanya si berewok tertegun.

“Aku tahu.”

“Kalau toh sudah tahu, mengapa kau lepaskan diriku dengan begitu saja?”

“Sebab aku toh tak sampai terjirat mati olehmu.”

“Tapi paling tidak kau harus bertanya kepadaku, sebenarnya siapakah aku dan apa sebabnya menjirat mati dirimu?”

“Aku tak ingin bertanya.”

“Mengapa?”

“Sebab sesungguhnya aku memang tak ingin tahu.”

Selesai menjawab pertanyaan tersebut, Siau-ko membalikkan badan dan berlalu dari situ, berpalingpun tidak.

Sekali lagi si Berewok berdiri tertegun.

Selama hidupnya belum pernah ia jumpa manusia seperti Siau-ko ini.

Tapi manusia semacam diapun belum pernah dijumpai Siau-ko selama ini, Siau-ko tidak mengejarnya, dia malah mengejar Siau-ko, bahkan dari dalam sakunya, ia mengeluarkan seutas tali lagi, dengan cepat membuat sebuah simpul hidup dan menjirat leher Siau-ko lagi.

Jeratannya memang amat jitu, sekali lagi leher Siau-ko terjerat olehnya.

Hanya sayangnya, biarpun sudah terjerat, namun sedikitpun tiada gunanya.

Bagaimanapun ia sudah menarik dengan sekuat tenaga, Siau-ko masih tetap berdiri tenang di situ, bukan saja tengkuknya tak sampai terjerat putus, bahkan bergerakpun tidak.

Si Berewok segera bertanya lagi: “Hei, bagaimana sih engkau ini? Mengapa aku tak pernah berhasil menjerat mati dirimu?”

“Sebab selain mempunyai tengkuk, aku masih mempunyai tangan berikut jari tangannya secara lengkap.”

Ketika tali laso tersebut menjerat tengkuk Siau-ko tadi, ia memang mengaitnya dengan jari tangan, persis mengait tali tersebut di depan tenggorokannya.

Ketika jari tangan tersebut membetotnya kuat-kuat, si Berewok segera tertarik ke depan, baru saja membalikkan badan si Berewok sudah menumbuk di atas dadanya.

“Permainan talimu tidak bagus,” seru Siau-ko, “selain bermain tali, permainan apa lagi yang kau kuasai?”

“Akupun pandai bermain golok,” sahut si Berewok cepat.

Belum lagi tubuhnya berdiri tegak, sebilah golok pendek telah dicabut keluar, golok tersebut langsung ditusukkan ke atas iga Siau-ko.

Sayang sekali permainan goloknya kurang cepat, Siau-ko hanya mengetuk pergelangan tangannya dengan sebuah jari tangan, tahu-tahu golok tersebut sudah mencelat dari cekalannya.

“Aku lihat lebih baik kau lepaskan diri saja,” sambil menghela napas Siau-ko menggelengkan kepalanya berulang kali, “permainan apapun yang kau pergunakan terhadapku, tak ada gunanya.”

Sebenarnya tubuh si berewok itu sudah hampir mencium tanah, mendadak dengan jurus ikan Leihi melentik, tubuhnya melejit secara tiba-tiba, sepasang kakinya seperti kapas saling menggunting di tengah udara dan menyambar batang kepala Siau-ko.

Pada hakekatnya tindakan seperti ini tak pernah diduga sebelumnya oleh Siau-ko.

Bukan saja sepasang kaki si Berewok lincah dan cekatan, lagi pula sangat kuat dan bertenaga, hampir saja Siau-ko tak mampu menghembuskan napas panjang, apalagi bau yang teruar keluar dari celana bobrok yang dikenakan itu baunya luar biasa.

Siau-ko benar-benar tak tahan, mendadak tubuhnya berputar dan melejit dengan suatu gerakan yang sangat aneh dan luar biasa, tahu-tahu tubuh si Berewok sudah terlempar keluar, begitu tubuhnya mencium tanah, celananya turut robek dan terlihatlah sepasang kakinya.

Celana itu memang sudah rapuh dan hampir robek, tak heran kalau begitu terobek, langsung robek sampai ke atas, hampir saja kedua belah kaki tersebut terlihat jelas.

Kali ini Siau-ko yang gantian tertegun. Dia seakan-akan menyaksikan tumbuhnya sekuntum bunga segar dari balik tumpukan tahi kerbau.

Setiap manusia mempunyai kaki, sesungguhnya tiada sesuatu yang aneh atau luar biasa dengan kaki orang itu, namun belum pernah Siau-ko saksikan sepasang kaki yang begitu indahnya seperti kaki orang tersebut.

Bukan cuma Siau-ko saja yang belum pernah melihatnya, mungkin sebagian besar orang yang berada di dunia inipun belum pernah melihatnya.

Mungkin tidak berapa orang di dunia saat ini yang bisa melihat sepasang kaki seperti ini.

Kaki itu amat mulus, putih dan segar, lekukannya indah dan penuh dengan daging yang kenyal, kulitnya segar seperti susu, seputih susu yang baru diperas dari tetek lembu betina.

Mimpipun Siau-ko tak pernah membayangkan kalau si Berewok yang kotor lagi bau itu ternyata memiliki sepasang kaki yang sangat indah. Yang lebih tak disangka olehnya adalah si Berewok yang gagal menjerat mati dirinya, gagal menusuk mati dirinya itu malah menangis tersedu-sedu, duduk di tanah sambil menutupi wajahnya dengan ke dua belah tangan dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil, isak tangisnya amat menyedihkan hati.

Waktu itu Siau-ko sudah bersiap-siap meninggalkan tempat itu, pergi seperti tadi, tanpa berpaling sedikitpun jua, sayang dia justru tak tahan untuk bertanya juga.

“Apa sih yang kau tangisi?”

“Aku senang menangis, aku suka menangis dan aku ingin menangis, kau tak usah mencampurinya.”

Seorang lelaki berewok yang bertampang ‘seram’ ternyata berbicara dengan lagak seorang gadis cilik bahkan sama tak tahu aturannya dengan seorang gadis binal, betul-betul suatu kejanggalan yang luar biasa.

Siau-ko segera mengambil keputusan untuk tidak menggubrisnya, dia bertekad untuk pergi dari situ.

“Hei, berhenti kau!” mendadak si Berewok itu membentak lagi.

“Mengapa aku harus berhenti?”

“Kau ingin pergi dengan begitu saja? Kau anggap ada kejadian yang begitu enaknya di dunia ini?”

“Mengapa aku tak boleh pergi? Kau hendak menjerat mati aku, hendak mencincang aku dan sekarang aku akan berlalu dengan begitu saja, hal ini sudah cukup luar biasa bagimu, apalagi yang kau inginkan?”

“Aku hanya ingin kau mencungkil keluar sepasang biji matamu,” seru si Berewok keras, “mengorek keluar biji matamu yang jahat tersebut dan serahkan kepadaku.”

Siau-ko ingin tertawa, namun tak mampu untuk tertawa, akhirnya dia berkata: “Aku toh belum edan, mengapa aku harus mengorek keluar biji mataku sendiri?”

“Karena kau telah melihat kakiku, sepasang kakiku ini tak boleh dilihat oleh setiap orang dengan seenaknya saja.”

Siau-ko harus mengakui kalau sepasang kakinya memang berbentuk istimewa dan indahnya luar biasa.

Tapi dia sendiripun bukan sengaja akan melihatnya, apalagi kalau hanya sepasang kaki yang terlihat orang lain, kejadian semacam inipun tak terhitung suatu kejadian yang luar biasa.

Maka dengan perasaan mendongkol Siau-ko lantas berkata: “Bila kau merasa kurang terima, akupun bersedia memperlihatkan sepasang kakiku untukmu, setiap saat kau boleh melihatnya, berapapun tidak menjadi masalah.”

“Kentut anjingmu!”

“Aku bukan anjing, lagi pula aku tidak mengentut.”

“Tentu saja kau bukan anjing, sebab kau lebih goblok daripada seekor anjing. Anjing-anjing di dunia ini masih jauh lebih cerdik daripadamu, entah anjing besar atau anjing kecil, anjing jantan atau anjing betina, semuanya masih seratus kali lebih cerdik daripadamu, karena kau adalah seekor babi!”

Makin berbicara si berewok ini semakin bertambah sewot. Tiba-tiba saja dia berseru sambil melompat-lompat: “Kau adalah seekor babi dungu, apakah tidak kau ketahui, aku adalah seorang perempuan?”

“Bagaimana mungkin kau seorang perempuan? Aku tidak percaya,” seru Siau-ko termangu-mangu, “perempuan mana yang penuh berewok?”

Tampaknya kemarahan si Berewok sudah mendekati hampir gila, mendadak ia comot berewok di wajah sendiri dan merobeknya semua, kemudian dilemparkan ke wajah Siau-ko dengan gemas.

Menyusul kemudian tubuhnya ikut meluncur ke depan, pinggulnya berputar dan sepasang kakinya sekali lagi menggunting kepala Siau-ko secara ganas.

Sepasang kaki yang telanjang dan mulus, tak secuwil benangpun yang melekat di sana.

Kali ini Siau-ko benar-benar tak berani berkutik, dia hanya memandang ke arahnya sambil tertawa getir.

“Dengan kau, aku tak merasa punya dendam, tak merasa punya sakit hati, mengapa kau berbuat demikian kepadaku?”

“Karena aku sudah tertarik kepadamu.”

Sekali lagi Siau-ko merasa terperanjat sampai termangu-mangu untuk beberapa saat, untung saja si Berewok yang kini sudah tidak berewok lagi itu berkata lebih jauh: “Kau tak usah keburu merasa mabok, aku bukan tertarik atas dirimu atau tampangmu itu.”

“Lantas apa yang membuatmu tertarik kepadaku?”

“Peti dalam genggamanmu itu!”, si nona yang sudah tak berewok ini berteriak, “asal kau berikan peti itu kepadaku, aku tak akan mencari gara-gara lagi denganmu, kaupun selama hidup tak pernah akan melihat tampangku lagi.”

“Tahukah kau apa isi petiku ini?”

“Tentu saja tahu isi dari petimu itu paling tidak bernilai delapan puluh laksa tahil emas murni dan intan permata.”

“Darimana kau bisa tahu?”

Tentu saja Siau-ko merasa keheranan, sebab belum pernah ia buka peti tersebut di hadapan orang lain.

Nona itu tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya lagi: “Tahukah kau siapakah ayahku?”

“Aku tak tahu!”

“Dia adalah seorang pencuri sakti, seorang pencuri ulung yang sudah tersohor di seantero jagad, belum pernah operasinya mengalami kegagalan biar satu kalipun.”

“Bagus, kepandaian yang amat bagus.”

“Tapi kalau dibandingkan dengan kakekku, dia masih kalah jauh sekali,” ujar si nona lebih jauh, “tahukah kau siapakah kakekku itu?”

“Tidak!”

“Dia orang tua adalah seorang perampok ulung, bertemu orang merampok orang, bertemu setan merampok setan.”

Siau-ko segera menghela napas panjang.

“Aaaaai, rupanya tiga generasi dari keluargamu semuanya melakukan profesi seperti ini.”

“Oooooh, kau baru mengerti sekarang? Bagi seseorang yang tiga generasinya sudah melakukan pekerjaan semacam ini, bagaimana mungkin dia tidak tahu benda apakah yang berada di dalam petimu itu?”

“Aku memang pernah mendengar, orang yang melakukan pekerjaan seperti ini, kebanyakan memiliki kepandaian tersebut, dari gaya seseorang sewaktu berjalanpun dia dapat menilai apakah orang tersebut membawa barang yang berharga atau tidak.”

“Tepat sekali ucapanmu itu, tapi aku tidak dapat melihat manusia macam apakah dirimu ini.”

“Oya?”

“Kau membawa satu peti penuh intan permata dan emas murni, tapi saban hari hanya mendahar semangkuk mie kuah yang berharga tiga sen, sebetulnya kau ini si kikir ataukah si manusia yang berwatak aneh?”

“Biarpun isi petiku penuh dengan emas murni dan intan permata, sayang sekali semua benda tersebut bukan milikku, maka biarpun aku ingin menghadiahkan kepadamu pun tak mungkin bisa.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, Siau-ko berkata lebih jauh: “Akupun dapat menjamin sekalipun kepandaianmu sepuluh kali lipat lebih hebatpun jangan harap peti tersebut dapat kau rampas dari tanganku.”

Tiba-tiba si nona itu menghela napas panjang.

“Aaaai, akupun tahu kalau tak mampu merampasnya dari tanganmu,” ia berkata, “tapi bagaimanapun juga aku harus mencobanya terus, biar selembar nyawa menjadi taruhanpun aku tetap akan mencoba terus sampai berhasil.”

“Mengapa?”

“Sebab kalau di dalam tiga hari mendatang aku tak bisa menyiapkan uang sebesar lima laksa tahil perak, toh nyawaku tetap akan melayang.”

Sepasang biji matanya tiba-tiba berputar dan air matapun jatuh bercucuran dengan derasnya, ia berkata lebih jauh: “Coba bayangkan sendiri, selain berusaha untuk mendapatkannya dari tanganmu, kemanakah aku harus mencari uang sebesar lima laksa tahil perak itu?”

Air matanya seperti hujan gerimis berlinang tiada hentinya.

“Aku tahu kalau kau adalah seorang yang berhati baik, kau tentu dapat menolongku, dan aku pasti akan berterima kasih kepadamu sepanjang masa.”

Perasaan Siau-ko sudah mulai melembek.

“Mengapa kau harus menyiapkan uang sebesar lima laksa tahil perak dalam tiga hari?”

“Sebab piau-kiok milik Suma Cau-kun hanya bersedia menghantarku pulang ke rumah bila aku sanggup membayar lima laksa tahil perak, padahal aku tinggal di wilayah Kwang-tong, jika tiada perlindungan dari mereka, setiap saat nyawaku bisa lenyap di pinggir jalan, bahkan orang yang mengurusi mayatkupun belum tentu ada.”

Siau-ko segera tertawa dingin.

“Hmmmm, untuk menghantar seseorang ke wilayah Kwang-tong saja sudah minta bayaran lima laksa tahil, hati mereka benar-benar kelewat hitam….”

“Sekalipun demikian, aku tak akan menyalahkan mereka, sebab menghantarku pulang memang bukan suatu pekerjaan yang terlalu mudah,” kata si nona cepat-cepat, “bila aku adalah Suma Cau-kun, pasti harga yang kuminta lebih tinggi lagi.”

“Mengapa?”

“Karena orang-orang yang hendak membunuhku memang manusia-manusia yang kelewat menakutkan, siapapun tak ingin bermusuhan dengan mereka. Aku percaya kaupun selama hidup tak akan pernah menduga kalau di dunia ini benar-benar terdapat manusia buas dan kejam seperti mereka.”

Sekujur badannya mulai gemetar keras, wajahnya seolah-olah dilapisi oleh selapis kabut tipis, saat inipun dapat terlihat dengan jelas bahwa wajahnya sedang mengejang keras karena perasaan takut dan ngeri yang kelewat batas.

Ia benar-benar ketakutan setengah mati.

Melihat keadaan tersebut, tak tahan Siau-ko segera bertanya: “Siapa sih mereka itu?”

Si nona seperti sudah tidak mendengar lagi apa yang ditanyakan oleh pemuda tersebut.

Dengan air mata bercucuran dia berkata kembali: “Aku tahu, sudah pasti mereka tak akan melepaskan diriku, aku tahu, setiap saat mereka bisa mengejarku dan membinasakan diriku.”

Ia seakan-akan sudah mendapat firasat jelek, semacam perasaan menghadapi ancaman yang datang dari serombongan binatang buas……..seperti seekor binatang yang merasa bakal ada pemburu yang bakal menghabisi nyawanya.

Walau perasaan seperti ini sukar untuk dijelaskan, tapi kadangkala memang cukup tepat.

Pada sat itulah, dari atas dinding pagar di kedua belah sisi lorong memancar keluar sejumlah senjata rahasia, yang dari sebelah kiri adalah segumpal hujan perak, sedang dari sebelah kanan muncul beberapa titik bintang.

Reaksi dari Siau-ko selalu amat cepat.

Dengan peti di tangan kanan dan buntalan di tangan kiri, dia bendung datangnya ancaman senjata rahasia tersebut.

Kemudian ia sambar si nona yang sedang melilit lehernya dengan sepasang kakinya itu untuk berkelit ke sebelah kanan.

Tapi dia segera mendengar suara rintihan dan helaan napas dari nona tersebut, kemudian terasa jepitan sepasang kakinya yang semula kuat dan bertenaga, tiba-tiba saja berubah menjadi lemas, kemudian rontok dari tengah udara.

Siau-ko tidak ikut terseret ke bawah, malah sebaliknya melejit kembali ke tengah udara dengan kaki kanan menopang di kaki kiri, lalu mempraktekkan teknik pinjam tenaga, menggunakan tenaga itu dia melejit lagi beberapa kaki di tengah udara.

Dengan cepat dijumpainya dua bayangan manusia di balik dinding tembok yang sedang menyembunyikan diri ke balik tempat kegelapan, gerakan tubuh mereka semuanya enteng dan lincah, jelas ilmu meringankan tubuhnya terhitung tidak lemah.

Ketika mereka melarikan diri ke atas atap rumah beberapa kaki jauhnya dari posisi semula, Siau-ko telah melayang turun di atas dinding tersebut.

Mendadak ke dua orang itu membalikkan badan dan memelototi ke arahnya, wajah mereka tertutup semua oleh selembar topeng berwajah bengis, sedang matanya memancarkan sinar kebuasan yang sungguh menggidikkan hati.

Salah seorang di antaranya tiba-tiba berkata dengan suara yang dingin dan parau: “Sahabat, kepandaian silatmu lumayan juga, untuk berlatih ilmu meringankan tubuh semacam Te-im-cong bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, bila kau mesti mati dalam usia muda, rasanya hal ini pantas untuk di sayangkan.”

Siau-ko segera tersenyum.
“Untung saja sementara waktu ini aku masih belum kepingin mati, lagi pula tak bakalan mati.”

“Kalau begitu, ada baiknya kau menuruti nasehatku saja, kau tak bakal bisa mengurusi hal ini.”

“Mengapa tak bisa?”

“Bila kau sudah diincar oleh manusia seperti kami ini, ibaratnya kau sudah kemasukan setan iblis,” kata orang itu, “baik kau sedang bersantap, maupun sedang tidur, bahkan entah pekerjaan apa saja yang sedang kau lakukan, setiap saat setiap detik kemungkinan besar ada senjata rahasia ataupun senjata tajam yang akan menyambar tenggorokan ataupun alis matamu, bila kau sedang mendusin dari tidurmu, bisa jadi kaupun akan menyaksikan ada orang sedang mengiris daging tubuhmu secara pelan-pelan.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan suara yang lebih mengerikan, dia meneruskan: “Manusia siapapun bila sudah berjumpa dengan kejadian seperti ini, perasaan mereka pasti tak bakal gembira.”

Siau-ko menghela napas panjang.

“Ya, peristiwa semacam ini memang tidak menggembirakan, tapi sayangnya aku justru memiliki tabiat aneh seperti ini.”

“Oya?”

“Semakin orang lain melarangku untuk mengurusinya, aku semakin berkeinginan untuk mencampurinya.”

“Kalau begitu silahkan saja kau pulang untuk menunggu saat kematianmu,” tiba-tiba seorang yang lain berseru sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Dengan suatu gerakan yang bersama-sama, kedua orang itu membalikkan badannya sambil melejit dan kabur ke arah belakang.

Walaupun gerakan tubuh mereka terhitung cukup cepat, paling tidak Siau-ko masih mampu menyusul salah seorang di antara mereka. Sayangnya di atas tanah justru masih terbaring sesosok tubuh, begitu terjengkang ke tanah, orang itu tidak bergerak lagi, sementara kakinya yang mulus dan indah tersebut sudah berubah menjadi merah padam bagaikan buah masak.

Padahal orang ini tiada hubungan sama sekali dengan Siau-ko, namun kalau suruh Siau-ko membiarkan si nona tersebut tergeletak mampus di tepi lorong tanpa menggubrisnya, jelas perbuatan seperti ini tak mungkin bisa dilakukan olehnya.

Luka yang dideritanya itu terletak di belakang pahanya, mulut luka yang kecil, kecil sekali, namun sekarang sudah mulai membengkak, bahkan panas sekali rasanya.

Ini berarti senjata rahasia tersebut ada racunnya, sejenis racun yang cukup ganas.

Untung saja nasibnya terhitung baik, karena dia telah berjumpa dengan Siau-ko, seorang manusia yang memang berasal dari suatu daerah pegunungan yang penuh dengan ular beracun, semut beracun serta aneka ragam serangga beracun.

Di dalam saku orang seperti ini sudah barang tentu obat pemunah racun selalu tersedia lengkap.

Tak heran kalau nona tersebut tak sampai mati, bahkan dengan cepatnya telah mendusin kembali.

Sewaktu gadis itu sadar kembali, tubuhnya sudah berbaring di atas pembaringan kayu dalam rumah penginapan, mulut lukanya telah dibalut dengan secarik kain kasar.

Ia memandang ke arah Siau-ko, memandang setengah harian lamanya, kemudian bertanya secara tiba-tiba: “Aku sudah mampus?”

“Agaknya belum!” jawab Siau-ko pelan.

“Kalau begitu apakah akupun belum mampus?”

“Tampaknya memang demikian.”

“Mengapa aku belum mampus?” ia seperti tercengang dengan kejadian tersebut, “mereka telah mengejarku, mengapa aku belum mati?”

“Sebab nasibmu masih terhitung bagus, kau telah bertemu dengan aku……”

Tiba-tiba si nona yang tidak berewok lagi itu menjadi marah, serunya keras-keras: “Aku sudah didesak orang sehingga tak punya jalan lagi, saban hari mesti lari kian kemari seperti seekor anjing gila, bersembunyi ke sana mengumpat ke mari, terkena senjata rahasia beracun dari musuh lagi, mengapa kau masih mengatakan nasibku mujur?”

Kemudian sambil mendelik ke arah pemuda tersebut, dia berkata lebih jauh: “Aku ingin mendengarkan penjelasanmu, nasib yang bagaimanakah baru terhitung nasib jelek?”

Siau-ko tertawa getir, ya dia memang cuma bisa tertawa getir belaka.

Nona tersebut melototi dirinya setengah harian lagi sebelum menghela napas secara tiba-tiba.

“Aku tahu, kau pasti tak akan memberikan peti itu kepadaku, maka kuanjurkan kepadamu, lebih baik jangan mencampuri urusanku lagi.”

“Mengapa?”

“Kau tak bakal bisa mengurusi persoalan seperti ini, toh mati hidupku sama sekali tak ada sangkut pautnya denganmu, dan akupun memang tak mempunyai hubungan apa-apa dengan kau.”

“Sebetulnya kita memang tak mempunyai hubungan apa-apa, tapi sekarang agaknya saja seperti ada hubungan.”

“Kentut busuk anjingmu,” tiba-tiba nona itu berteriak, “ayo katakan, hubungan apakah yang terjalin di antara kita? Ayo cepat katakan kepadaku!”

Siau-ko terbungkam dalam seribu bahasa.

Selama hidup belum pernah ia jumpai manusia seperti ini, dahulu tidak, di kemudian haripun tidak. Tapi sekarang dia justru telah bertemu dengan seorang manusia seperti ini.

“Dimanakah tempat ini?” lagi-lagi si nona bertanya, “mengapa kau membawa aku memasuki sarang anjing sejelek ini?”

“Karena tempat ini bukan sarang anjing, tempat ini adalah kamar kediamanku.”

Mendadak si nona membelalakkan lagi sepasang matanya.

“Kau memang babi, kau betul-betul seekor babi,” teriaknya kemudian semakin nyaring, “semua orang tahu kalau kau berdiam di sini, tapi kau telah membawa aku kemari, apakah baru merasa senang apabila mereka sudah berhasil membunuhku? Apakah kau baru gembira bila mereka sudah berhasil mencincang tubuhku sehingga hancur berkeping-keping?”

Mendengar perkataan tersebut Siau-ko segera tertawa.

Manusia tak tahu aturan seperti ini memang tidak sering dapat dijumpai.

Nona itu semakin gusar.

“Hei, kau masih bisa tertawa? Apa yang menggelikan?”

“Apa yang kau inginkan dariku? Suruh aku menangis?”

“Kau adalah babi, mana ada babi bisa menangis? Kapan kau pernah melihat ada babi bisa menangis?”

“Ucapanmu memang betul, “seakan-akan menemukan suatu teori secara tiba-tiba, Siau-ko berseru keras, “agaknya babi memang tak bisa menangis, tapi aku pikir babipun agaknya tak bisa tertawa.”

Tampaknya nona itu sudah hampir menjadi gila saking kheki dan mendongkolnya, setelah menghela napas, dia berseru: “Perkataanmu memang betul, kau bukan babi, kau manusia, orang yang sangat baik, aku Cuma harap kau sudi mengantarku pulang ke rumah, lebih cepat lebih baik.”

“Aku harus mengantarmu kemana?”

“Mengantar aku ke rumah kediamanku, tempat itu tak mungkin bisa mereka temukan.”

“Bila merekapun tak bisa menemukan, apa lagi aku”

“Pernahkah kau berpikir, di sini pasti ada seseorang yang dapat menemukannya?”

“Siapakah orang itu?”

“Tentu saja aku,” jerit si nona lagi.

—–

Sebuah bangunan rumah yang tidak terlalu besar, ternyata dihuni oleh enam belas keluarga.

Tentu saja ke enam belas keluarga tersebut tidak termasuk orang-orang yang berakal, asal mereka punya sedikit akal saja tak mungkin akan berdiam di tempat semacam itu.

Bila kau tak bisa membayangkan bagaimanakah cara hidup enam belas keluarga yang berdesak-desakan dalam sebuah rumah kecil seperti sarang burung merpati itu, maka kau seharusnya berkunjung sendiri ke rumah itu dan menyaksikan sendiri bagaimanakah manusia-manusia tersebut melewati kehidupan mereka.

Belakangan ini, dalam rumah acak-acakan tersebut bukan dihuni oleh enam belas keluarga lagi, tapi telah berubah menjadi tujuh belas keluarga, sebab pemilik rumah tersebut telah membagi dua kamar kayu yang terbuat dari papan di halaman belakang sana dan disewakan kepada seseorang dari luar desa.

Orang itu adalah seorang manusia berewok yang mengenakan topi berbulu.

Melihat rumah tinggal diri si nona yang sudah tak berewok lagi itu, Siau-ko segera tertawa.

“Kelihatannya rumah mewah yang kau tempati ini seperti tidak lebih bagus daripada sarang anjing yang kutempati.”

Sekarang, ia telah mengantarnya sampai di rumah.

Kalau di siang hari, tempat seperti ini akan dipenuhi oleh suara gaduhnya anjing menggonggong, ayam berkokok, cekcok suami isteri, jeritan anak-anak yang berlarian dan aneka ragam suara gaduh lainnya. Dalam suasana begini, biarpun ada seekor lalat yang terbang masukpun pasti akan segera ketahuan.

Untung saja hari sudah malam sekarang dan lagi mereka melompat masuk melalui tembok pekarangan sebelah belakang.

Jika seseorang ingin menyembunyikan diri rasanya memang sulit untuk menemukan tempat lain yang jauh lebih bagus daripada tempat ini.

Bagaimana mungkin si nona dapat menemukan tempat seperti ini? Mau tak mau Siau-ko harus turut merasa kagum.

Yang membuatnya tidak sangka adalah kesadaran otaknya seperti tetap jernih tadi, agaknya racun yang mengeram dalam tubuhnya telah dibersihkan semua dari tubuhnya, tapi sekarang dia jatuh pingsan lagi, bahkan pingsannya ini jauh lebih lama.

Sebetulnya Siau-ko selalu beranggapan bahwa obat penawar racunnya sangat manjur, tapi kini dia mulai sedikit curiga.

Lantaran racun yang mengeram dalam tubuhnya kelewat dalam sehingga merasuk ke dalam tulang dan nadi darahnya? Ataukah daya kerja obat penawarnya yang kurang manjur?

Tapi entah bagaimanapun jua, Siau-ko tak mungkin bisa berlalu dengan begitu saja.

Apalagi keadaan si nona saat ini tidak begitu mantap, ada kalanya jatuh pingsan, ada kalanya sadar kembali, sewaktu tak sadar banyak keringat dingin akan bercucuran dan mengigau yang bukan-bukan, tapi bila sedang mendusin dengan sepasang matanya yang sayu dan lemah dia awasi terus wajah Siau-ko, seakan-akan takut kalau Siau-ko akan meninggalkan dirinya secara tiba-tiba.

Terpaksa Siau-ko harus mendampinginya, bahkan kebiasaannya makan mie kuah setiap haripun harus diurungkan. Bila sedang lapar, dia akan keluar melalui pintu belakang untuk membeli beberapa biji bakpao, bila lelah diapun bersandar di kursi untuk tidur.

Dia sendiripun tidak mengerti apa sebabnya dia dapat berbuat demikian, gara-gara seorang gadis asing yang baru dikenalnya, dia telah mengubah sama sekali kebiasaan hidup sehari-harinya.

Tapi tak dapat disangkal lagi, dia adalah seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Tatkala Siau-ko membersihkan debu dan keringat dingin dari wajah si nona dengan kain basah, segera ditemukan kalau gadis tersebut selain memiliki sepasang kaki indah, paras mukanya juga cantik sekali.

Tapi kalau ada orang mengatakan Siau-ko telah mencintainya sehingga ia bersedia tetap tinggal di sini, sampai matipun Siau-ko tak mau mengaku.

Di dalam hati kecilnya tak pernah terbentik bayangan perempuan, dia selalu menganggap kedudukan seorang perempuan dalam hatinya tak lebih hanya sebutir nasi dalam sekuali nasi putih.

Lantas dikarenakan apakah dia sampai berbuat demikian?

Apakah disebabkan keadaannya yang mengenaskan? Ataukah karena sorot matanya yang penuh rasa terima kasih dan permohonan itu?

Perasaan antara manusia dengan manusia memang selamanya tak mungkin bisa dipahami secara jelas oleh pihak ke tiga.

—–

Rasanya dua atau tiga hari sudah lewat, walaupun Siau-ko merasa tubuhnya dekil, lagi lelah, namun ia tak menyesal barang sedikitpun jua……

Bila peristiwa yang sama sekali lagi berlangsung, dia akan tetap berbuat yang sama.

Selama dua hari ini, biarpun si nona tak pernah berbicara sepatah katapun dengannya, namun menyaksikan sorot matanya itu dapat terasa pula bahwa dia telah menganggapnya sebagai orang yang paling dekat dengannya, menjadi satu-satunya tumpuan harapan baginya.

Perasaan semacam ini sesungguhnya perasaan yang bagaimana?

Siau-ko sendiri tak dapat membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya sekarang, dalam sepanjang hidupnya belum pernah ada orang yang menjadikan dirinya sebagai tumpuan harapan.

Suatu hari ketika ia bangun dari tidurnya, dijumpai nona tersebut sedang memandangi wajahnya dengan membungkam, setelah mengawasi lama sekali tiba-tiba ia berbisik: “Kau sudah lelah, kau sudah seharusnya berbaring dan tidur sebentar.”

Suaranya begitu lembut dan halus, penuh daya tarik yang memikat hati.

Tanpa berpikir panjang Siau-ko segera membaringkan diri, berbaring di atas separuh pembaringan yang sengaja disisihkan nona tersebut untuk dirinya.

Kedua orang itu sama-sama melakukan semuanya tadi sebagai suatu kejadian yang lumrah, selumrah daun kering yang rontok bila terhembus angin.

Begitu membaringkan diri, Siau-ko segera tertidur nyenyak.

Dia memang terlalu lelah, tak heran kalau tidurnya kali ini sangat nyenyak. Entah berapa lama sudah lewat, ketika mendusin kembali, hari sudah mendekati senja.

Orang yang berbaring di sisinya telah bangun dan membersihkan badan, kini dia sedang menyisir rambutnya yang panjang dan masih basah oleh air, ia duduk di ujung pembaringan sana dan memandang ke arahnya dengan mulut membungkam.

Lambat-laun hari di luar jendela menjadi gelap, deruan angin dingin yang kencang lambat laun sudah mulai mereda.

Suasana menjadi tenang, hening, hangat dan nyaman.

Tiba-tiba nona itu bertanya: “Tahukah kau, siapa namaku?”

“Tidak!”

“Namaku saja tidak kau ketahui, mengapa kau begitu baik kepadaku?”

“Entahlah!”

Berbicara sebenarnya Siau-ko memang benar-benar tidak tahu.

Dia hanya tahu bahwa dirinya telah berjumpa dengan seorang perempuan seperti ini dan telah melakukan suatu perbuatan.

Yang lainnya, dia sama sekali tak tahu.

Tiba-tiba nona itu menghela napas dan berkata lagi: “Padahal aku sendiripun tak tahu manusia macam apakah dirimu itu, akupun tidak tahu siapa namamu.”

Sambil membelai pipi si anak muda dengan lembut, dia meneruskan: “Tapi aku tahu dengan pasti, kaupun akan memberikan sebagian tempat bagiku untuk berbaring bukan?”

Dengan cepat Siau-ko memberi sebagian tempat baginya dan nona itupun membaringkan diri, berbaring di sisinya, berbaring di dalam pelukannya.

Segala sesuatunya berlangsung dengan begitu lumrah, seperti air hujan yang turun dari langit, seperti matahari yang pasti terbit dari ufuk timur.

Begitu lumrahnya, begitu indahnya sampai memabukkan hati siapapun juga.

—–

Malam amat sepi, suasana di jalan raya begitu lengang, sepi dan senyap.

Mereka bergandeng tangan menyelusuri jalannya yang dilapisi salju, mencari penjual makanan di tepi jalan dan menikmati semangkuk bakso yang panas, harum dan segar.

Mereka tidak minum arak.

Merekapun tidak membutuhkan arak untuk membangkitkan kobaran cinta di dalam hatinya.

Kemudian mereka bergandengan tangan lagi, kembali ke rumah penginapan dimana Siau-ko berdiam, sebab Siau-ko masih mempunyai beberapa macam barang yang tertinggal di sana.

Baru saja membelok sebuah tikungan, mereka segera menjumpai suatu peristiwa yang sangat aneh.

Telapak tangan si nona yang semula hangat dan lembut, secara tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti es.

Pintu gerbang rumah penginapan yang telah tutup, namun di luar penginapan, di bawah cahaya lentera gantung, berdiri sesosok bayangan manusia. Orang itu berdiri seperti patung, bergerak sedikitpun tidak, selembar wajahnya telah kaku karena udara yang dingin, namun sikapnya masih tetap tenang.

Siau-ko menggenggam tangan si nona yang dingin kencang-kencang, lalu berkata dengan lembut: “Kau tak usah kuatir, orang itu bukan datang mencarimu.”

“Darimana kau bisa tahu?”

“Dia adalah orangnya piau-kiok, bulan satu tanggal lima belas berselang, aku telah berjumpa dengannya.”

“Apakah setiap orang yang kau jumpai tak akan kau lupakan?”

“Rasanya begitulah.”

Belum lagi mereka berjalan ke depan, ternyata orang itu sudah membungkukkan badan dan memberi hormat kepada Siau-ko.

“Siau-jin Sun Tat menjumpai Ko Tayhiap.”

“Darimana kau bisa tahu akan diriku?”

“Bulan satu tanggal lima belas berselang, siau-jin pernah berjumpa dengan Ko Tayhiap,” ujar Sun Tat dengan mantap, “persis di luar kamar rahasia di mana Nyo Kian terbunuh.”

“Apakah orang yang telah kau jumpai tak akan kau lupakan?”

“Tidak!”

Setelah tersenyum, Siau-ko berkata lagi: “Akupun masih ingat dengan kau, kau merupakan satu-satunya orang yang tidak kurobohkan waktu itu.”

“Kesemuanya itu tak lain berkat belas kasihan dari Ko Tayhiap.”

“Mau apa kau berdiri mematung di situ? Apakah sedang menanti aku?”

“Benar! Hamba sudah menunggu dua hari semalam di sini.”

“Berdiri terus dalam posisi demikian?”

“Selama dua hari belakangan ii jejak Ko Tayhiap sukar diketahui, siau-jin pun kuatir kehilangan kesempatan, maka selama ini tak berani meninggalkan tempat ini.”

“Andaikata aku tidak kembali?”

“Maka siau-jin pun akan menunggu terus di sini.”

“Bila tiga hari tiga malam kemudian baru kembali, apakah kau akan menunggu di sini sampai tiga hari tiga malam?”

“Sekalipun Ko Tayhiap akan kembali tiga bulan mendatang, hamba tetap akan berdiri menanti di sini.”

Jawaban dari Sun Tat tersebut amat tenang dan lembut.

“Siapa yang suruh kau berbuat demikian?” tanya Siau-ko, “apakah Cho Tang-lay?”

“Benar!”

“Apakah semua perintah yang diberikan olehnya tentu akan kau laksanakan?”

“Perintah Cho Sianseng selalu tegas, hingga kini belum ada orang yang berani membangkang perintahnya.”

“Mengapa kalian begitu menuruti perkataannya?”

“Hamba tidak tahu, hamba hanya tahu menjalankan perintah dan belum pernah terpikir mengapa demikian.”

Siau-ko menghela napas panjang.

“Aaaaai, orang tersebut benar-benar seorang manusia yang luar biasa, bukan saja mempunyai keberanian dan pengetahuan, ketajaman matanya juga mengagumkan, dia memiliki bakat yang luar biasa.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya: ‘Oleh sebab itu aku selalu merasa tidak habis mengerti, apa sebabnya Liong-tau Toako piau-kiok bukan dia?”

Paras muka Sun Tat sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, seakan-akan ia tidak mendengar perkataan itu. Selembar kartu undangan dikeluarkan dari sakunya dan dipersembahkan dengan hormat.

“Surat undangan inilah yang khusus disampaikan Cho Sianseng untuk Ko Tayhiap.”

“Kau sudah menunggu dua hari semalam di sini, apakah tujuannya hanya menyerahkan surat undangan tersebut kepadaku?”

“Benar!”

“Pernahkah kau pikirkan, bila kau tinggalkan kartu undangan tadi di meja kasir, akupun sama saja akan melihatnya?”

“Hamba tak pernah berpikir ke situ,” ujar Sun Tat, “hambapun tak berani memikirkan persoalan-persoalan yang lain, sebab banyak berpikir bukan suatu perbuatan baik.”

Sekali lagi Siau-ko tertawa.

“Betul, ucapanmu memang betul!”, setelah menerima kartu undangan tersebut, lanjutnya, “di kemudian hari akupun harus banyak belajar darimu.”

Siau-ko tidak perlu membuka kartu undangan tersebut, sebab dia tahu kartu itu bukan undangan pesta, melainkan sebuah kartu undangan untuk bertarung.

Ketika dibuka, maka terbaca isinya yang amat ringkas:

Bulan dua tanggal satu, pagi buta.

Perhimpunan keluarga Li, kuil Cu-ini-si, pagoda Tay-eng-tha.

Tertanda: Suma Cau-kun.

“Bulan dua tanggal satu?” tanya Siau-ko, “hari ini tanggal berapa?”

“Hari ini tanggal tiga puluh bulan satu.”

“Berarti tanggal yang ditetapkan adalah besok?”

“Benar!”, sekali lagi Sun Tat menjura dengan hormat, lalu serunya: “Hamba ini mohon diri lebih dahulu.”

Dia membalikkan badan dan menempuh perjalanan beberapa tombak, ketika secara tiba-tiba Siau-ko memanggilnya lagi.

“Kau bernama Sun Tat?” ia bertanya kepada pemuda yang ulet dan berjiwa baja ini, “apakah kau saudaranya Sun Thong?”

“Benar!”, Sun Tat menghentikan langkahnya, namun tak berpaling, “hamba adalah saudaranya Sun Thong.”

Malam semakin larut, udara semakin dingin.

Memandang bayangan tubuh Sun Tat yang kian menjauh di balik kegelapan sana, tiba-tiba Siau-ko berpaling dan berkata kepada si nona yang selama ini berdiri bersandar di sisi tubuhnya: “Sudahkah kau perhatikan sesuatu?”

“Persoalan apa?”

“Kau adalah seorang gadis yang cantik rupawan, sejak dilahirkan mata lelaki memang ditujukan untuk menyaksikan perempuan macam kau, tapi Sun Tat tak pernah memandang sekejap matapun kepadamu.”

“Mengapa aku harus memperhatikannya? Mengapa kau menyuruh dia melihatku?” si nona seperti rada gusar, “apakah kau baru gembira jika mata laki-laki itu mengawasi terus diriku? Apa sih maksudmu yang sebenarnya?”

Siau-ko tidak membiarkan ia marah terus.

Bila seorang gadis sudah dipeluk erat-erat oleh kekasihnya, betapapun marahnya dia pasti akan mereda dengan sendirinya.

“Padahal aku sudah mengetahui maksudmu,” ujar nona itu lembut, “kau hanya ingin memberitahukan kepadaku, Sun Tat bukan seorang manusia biasa.”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara yang lebih lembut dan halus ia berkata lebih jauh, “tapi aku tak ingin kau memberitahukan persoalan seperti ini kepadaku, akupun tak ingin tahu tentang persoalan-persoalan seperti ini.”

“Lantas apa yang ingin kau ketahui?”

“Aku hanya ingin tahu, apa sebabnya Suma Cau-kun mengajakmu untuk bertemu di pagoda Tay-eng-tha?”

“Sesungguhnya bukan dia yang mengundangku, tapi akulah yang mengajaknya bertemu, aku mengundangnya sejak bulan satu tanggal lima belas berselang.”

“Mengapa kau mengajaknya bertemu?”

“Sebab akupun ingin mengetahui suatu hal, aku selalu ingin tahu, Suma Cau-kun yang selalu tak pernah terkalahkan ini, apakah benar-benar tak akan terkalahkan untuk selamanya?”

Sebelum Siau-ko menyelesaikan perkataan tersebut, ia telah merasakan tangan si nona berubah menjadi dingin secara tiba-tiba.

Sebetulnya dia mengira nona itu akan memohon kepadanya, mohon kepadanya agar besok jangan pergi, daripada membuat dia merasa gelisah dan kuatir.

Siapa tahu nona itu justru memberitahukan kepadanya: “Besok tentu saja kau akan ke sana, bahkan pasti akan berhasil untuk mengalahkan dia, tapi kaupun harus menyanggupi pula satu hal kepadaku.”

“Soal apa?”

“Malam ini kau jangan menyentuhku, mulai saat ini kau tak boleh menyentuh aku lagi.”

Sambil mendorong Siau-ko ke belakang, dia melanjutkan: “Aku minta kau ikut aku pulang sekarang juga dan tidur dengan sebaik-baiknya.”

—–

Siau-ko tak bisa tidur nyenyak, bukan dikarenakan di sisinya berbaring si nona yang berkaki indah, melainkan karena gelisah dan tegang menghadapi pertarungan esok pagi.

Sebenarnya dia sudah tertidur.

Dia menaruh kepercayaannya penuh atas dirinya, diapun menaruh perasaan percaya terhadap orang yang berada di sisinya.

“Aku tahu, kau pasti akan menunggu sampai aku kembali,” ujar Siau-ko kepadanya, “mungkin sebelum aku mendusin esok, aku telah kembali kemari.”

“Mengapa aku harus menunggu sampai kau kembali? Mengapa aku tak boleh mengikuti dirimu?” tanya si nona.

“Sebab kau adalah seorang gadis, gadis biasanya lebih mudah merasa tegang, pertarunganku melawan Suma Cau-kun amat penting artinya, menang atau kalahpun hanya selisih waktu sedikit, bila kau turut menyaksikannya, hatimu pasti akan merasa tegang.”

“Bila kau tegang, akupun akan turut tegang, bila aku tegang, akupun bisa mati,” tambahnya.

“Dapatkah kau mencari seseorang yang tidak gampang merasa tegang untuk menemanimu, agar bisa mengawasimu dari sisi arena?”

“Tidak dapat!”

“Mengapa?”

“Sebab aku tak akan menemukannya.”

“Apakah kau tak punya teman?”

“Sebenarnya tak ada seorang manusiapun tapi sekarang untung saja ada seorang, sayang sekali dia tidak berada di sini, dia berada di kota Lok-yang.”

“Lok-yang?”

“Bila kau pergi ke Lok-yang, pasti akan kau dengar namanya, dia she Cu bernama Bong.”

Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi, sepatah katapun tidak berbicara lagi.

Siau-ko juga tidak memperhatikan perubahan mimik wajahnya tersebut.

—–

Siau-ko mulai melatih kembali gerakan-gerakannya yang aneh dan rahasia tersebut. Latihan tersebut bukan saja akan membuat ototnya mengendor dan segar penuh tenaga, pikirannya dapat pula dibuat jernih sehingga perasaannya dapat terkendalikan.

Maka dari itulah dengan cepat dia telah tertidur, tidurnya nyenyak sekali, biasanya tidur seperti ini akan berakhir sampai esok pagi.

Tapi malam ini dia hanya tertidur sampai tengah malam, terbangun secara tiba-tiba, ia terbangun oleh suatu perasaan yang sangat aneh.

Saat ini semestinya adalah saat yang paling tenang sepanjang tahun, bahkan suara bunga salju yang menimpa atap rumah pun tak terdengar sama sekali.

Suara semacam ini tak mungkin akan membangunkan siapapun.

Sebenarnya Siau-ko masih keheranan, dia tak habis mengerti mengapa secara tiba-tiba bisa mendusin.

Tapi dengan cepat dia telah memahami akan satu hal.

Dalam ruangan tersebut hanya tinggal dia seorang, sedang orang yang berbaring di sisinya entah sudah pergi kemana.

Bagaimana perasaan seseorang sewaktu tiba-tiba terjatuh dari loteng bertingkat sepuluh?

Demikian pula perasaan yang dialami Siau-ko saat ini.

Dia merasakan kepalanya secara tiba-tiba menjadi pening, seluruh tubuhnya menjadi lemas, kemudian ia tak tahan untuk membungkukkan badan dan mulai muntah-muntah.

Sebab saat-saat itulah dia sudah merasa bahwa kepergian si nona tersebut merupakan kepergian yang kekal, selama hidupnya tak nanti akan balik lagi ke sisinya.

Mengapa dia pergi tanpa pamit?

Mengapa dia pergi tanpa meninggalkan pesan barang sepatah katapun?

Mengapa dia pergi dengan begitu saja?

Siau-ko tidak mengerti, dia benar-benar tidak habis mengerti, sebab pada hakekatnya dia tak mampu untuk berpikir sampai ke situ.

Di tengah kegelapan malam yang sepi, di saat udara yang amat dingin, dia hanya sempat memikirkan satu hal.

Siapakah namanya? Hingga kini diapun tak tahu.

Advertisements

1 Comment »

  1. Siapa dia,.?
    Kian pnasaran,.lanjut ah..!

    Comment by Bambang { pnemu snso} — 02/11/2012 @ 1:06 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: