Kumpulan Cerita Silat

14/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (29)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:39 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (29)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

“Oo? Kenapa?” tanya Ban-lo-hu-jin ingin tahu.

“Karena kabin yang terbuat dari papan besi itu adalah gudang koleksi buku masa hidup Ci-ih-hou.”

“Tempat koleksi bukunya ….” desis Ban-lo-hu-jin, mendadak ia berteriak dengan haru, “Apakah di antara koleksinya itu terdapat Bu-kong-pit-kip Ci-ih-hou?”

“Intisari kungfu Ci-ih-hou, seluruhnya tersimpan dalam kabin itu.”

Dalam beberapa kejap itu, sukar melukiskan rona muka Ban-lo-hu-jin yang berubah-ubah. Setiap insan persilatan di dunia ini, bila mendengar berita itu, pasti akan tergetar seperti yang dialami oleh Ban-lo-hu-jin.

Beberapa kejap kemudian baru Ban-lo-hu-jin berkata perlahan,.”Kalau begitu, sudah tujuh tahun Oh-Put-jiu membaca dan mempelajari intisari kungfu Ci-ih-hou, tentu dia sudah menguasai seluruhnya, yang kurang paling hanya lwe-kang nya yang belum memadai. Dalam keadaan seperti ini, kalau dia keluar, jangankan Ka-sing Tai-su tidak akan memberi kelonggaran padanya, umpama orang kang-ouw lain juga ….”

“Setiap insan persilatan di dunia asal yakin dapat membunuhnya tentu takkan membuang kesempatan. Oleh karena itu, umpama dulu aku diberi kesempatan pulang juga tidak akan dibiarkan pulang.”

“Betul, yang ingin mencabut nyawanya saat ini kukira bukan hanya Ka-sing Tai-su saja, kalau dia pulang ke Tiong-toh, kaum Bu-lim yang ingin merengut jiwanya tentu lebih banyak lagi.”

Mata Cui-Thian-ki mendadak memancarkan cahaya gemerdep yang aneh, ia mengawasi layar pancawarna yang cemerlang, katanya perlahan, “Tapi bila kita harus menunggu setelah ia memahami dan menjiwai kungfu Ci-ih-hou, tatkala itu di seluruh kolong langit tiada orang lagi yang mampu mencabut nyawanya.”

Ban-lo-hu-jin tersenyum, “Tatkala itu dia akan menjadi ahli waris Ci-ih-hou, supaya kapal layar pancawarna kembali berkembang dan berlayar di lautan atau lebih tepat berkembang menguasai dunia.”

“Ya, semoga demikian,” ucap Cui-Thian-ki dengan memejamkan mata.

“Oleh karena itu, kau mau menunggu, rela menderita dan kesepian, hidup sengsara serba kekurangan, semua itu kau terima dan kau resapi dengan hati lapang, karena dalam hati kecilmu sudah membayangkan harapan yang kelak akan kau dapatkan dengan penuh keindahan.”

“Sebetulnya semua ini tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, aku hanya ….”

“Kenapa tiada sangkut pautnya denganmu? Kelak bila kapal layar pancawarna berkembang mengarungi lautan, di atas kapal itu jelas dihuni juga seorang perempuan sebagai pendamping pemiliknya yang baru.”

“Tapi aku …aku juga …”

“Kecuali engkau , siapa lagi yang bisa menjadi majikan perempuan kapal layar pancawarna.”

Merah jengah selebar muka Cui-Thian-ki, perlahan ia menunduk malu.

Jelalatan bola mata Ban-lo-hu-jin, sesaat kemudian mendadak ia berkata, “Tapi ada beberapa hal aku masih belum mengerti.”

“Masih ada apa lagi?” tanya Cui-Thian-ki.

“Ka-sing Tai-su kuatir orang lain berlomba dengan dia merebut Bu-kang-pit-kip peninggalan Ci-ih-hou, maka dia rela dan terima hidup menderita di pulau kosong ini, jelas ia takkan mau pulang ke Tiong-toh ….”

“Ya, memang demikian pikirannya,” sahut Cui-Thian-ki.

“Tapi cara bagaimana dia mau patuh dan mendengar omonganmu? Hal ini susah dimengerti, padahal untuk menundukkan orang seperti dia, kurasa bukan pekerjaan yang mudah.”

Cui-Thian-ki tertawa lebar, “Memang tidak mudah, tapi aku punya akal.”

Laki dengan suara kalem ia menjelaskan, “Ka-sing Tai-su jelas adalah jago kosen yang susah dicari tandingannya, tapi sekarang dalam hatinya sudah dirasuk keinginan, nafsu dan tamak, sesuatu benda yang ingin dia dapatkan meski harus mengadu jiwa, namun sukar diperoleh, itu berarti titik kelemahannya tergenggam di tangan lawan.”

“Maksudmu Bu-kang-pit-kip itu?” tanya Ban-lo-hu-jin.

“Betul! Kalau dia tidak tunduk padaku, dapat kusuruh Oh-Put-jiu menghancurkan Bu-kang-pit-kip peninggalan Ci-ih-hou. Sebelum dia berhasil melihat Bu-kang-pit-kip itu, bagaimana pun takkan membiarkan barang yang diimpikan itu dirusak orang. Oleh karena itu, meski ia dongkol, marah dan penasaran sampai hidup sengsara, terpaksa dia harus menerima nasib, menekan emosi dan meniadakan perasaan.”

“Tapi dengan cara menunggu begini, bila Oh-put-jiu berhasil dengan latihannya, bukan saja ia takkan memperoleh Bu-kang-pit-kip, mungkin jiwa sendiri juga harus dipertaruhkan, apa tidak konyol?”

“Walau demikian, biarpun dia tahu akibatnya, apa boleh buat,” demikian ujar Cui-Thian-ki dengan tertawa, “Tapi selama Bu-kang-pit-kip itu masih utuh, berarti dia masih punya harapan, meski hanya setitik harapan, itu jauh lebih baik daripada tiada sama sekali!”

Ban-lo-hu-jin menghela napas, “Engkau benar, manusia kalau sudah dikejar keinginan, berarti dia punya kelemahan, berarti pula memberi kesempatan pada orang lain untuk memanfaatkan kelemahannya itu. Oleh karena itu tokoh sekosen Ka-sing Tai-su pun tunduk dan dapat kau kuasai.”

“Ya, itulah titik kelemahan watak manusia,” ujar Cui-Thian-ki.

Ban-lo-hu-jin tepekur sesaat lamanya, “Apakah setiap orang punya kelemahan seperti itu?”

“Setiap manusia yang punya rasa perikemanusiaan tentu punya kelemahan.”

Bercahaya mata Ban-lo-hu-jin, suaranya perlahan, “Sungguh tak nyana filsafat hidupmu ternyata lebih matang daripada nenek.”

Sesaat kemudian mendadak Cui-Thian-ki bertanya, “kau datang dari Tiong-toh, entah kaum Bu-lim di Tiong-toh ada perubahan apa?”

Ban-lo-hu-jin tertawa, “Maksudmu tentang suami cilikmu itu?”

Merah pula muka Cui-Thian-ki, “Ya, bagaimana dia?”

“Sudah tentu sekarang dia sudah tumbuh dewasa.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Bukan saja gagah dan tampan, selama puluhan tahun belakangan ini, nenek jarang melihat pemuda secakap dia, malahan ….”

“Malahan kungfunya juga luar biasa, begitu?”

“Bukan cuma luar biasa. Nona harus tahu, di Tiong-toh, di kalangan Bu-lim sekarang dia terhitung jago kosen nomor satu yang tak teralihkan.”

Senyum lega dan riang terpancar pada wajah Cui-Thian-ki yang putih halus, “Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku sudah merasakan bocah itu luar biasa.”

“Makanya waktu itu kau ingin kawin dengannya.”

“Teringat guyon tempo dulu, rasanya memang lucu dan menyenangkan, hanya saja …sekarang dia tentu sudah melupakan nenek seperti aku ini …”, setelah menghela napas perlahan ia berdiri, tiba-tiba ia berkata pula, “Di mana dia sekarang?”

Jelalatan mata Ban-lo-hu-jin, “Dia jago kosen, tokoh terkenal, mana mungkin bergaul dengan nenek seperti aku, bagaimana sepak terjangnya terakhir ini, mana nenek reyot seperti aku bisa tahu.”

“Semoga dia masih hidup segar,” demikian ucap Cui-Thian-ki sambil mengawasi fajar di luar jendela.

******

Pui-Po-giok melangkah lurus ke atas, beberapa kejap kemudian mendadak ia sadar tiada derap langkah mengikut di belakangnya, sudah tentu segera ia berhenti dan menoleh tertampak Siau-kong-cu tertinggal belasan langkah di bawah.

Padahal ia berjalan tidak cepat, kenapa Siau-kong-cu ketinggalan sejauh ini?

Pada saat ia keheranan, bergegas Siau-kong-cu menyusulnya dengan langkah lebar, dadanya naik turun, napasnya ternyata tersengal-sengal, pipinya yang semu merah kini kelihatan pucat dan menakutkan.

“Kenapa?” tanya Po-giok kuatir.

“Kenapa?” jengek Siau-kong-cu dengan napas ngos-ngosan, “Tidak kenapa-napa!”

“kau sakit?” tanya Po-giok pula.

“kau ingin aku sakit, begitu?”

“Aku justru memperhatikanmu.”

“Terima kasih, aku hidup atau mati tidak usah kau urus diriku.”

Po-giok tertawa getir, setelah menghela napas ia balik ke depan dan naik lagi.

Meski tangga langit itu panjang, akhirnya juga ada ujungnya. Akhirnya Po-giok mencapai ujung tangga yang paling tinggi.

Tapi selepas mata memandang, seketika dia berdiri melongo.

Dalam bayangannya setibanya di atas tentu dirinya akan berada di sebuah istana yang menyesatkan seperti yang didengungkan dalam dongeng, umpama tidak dibangun dengan mutu manikam juga tentu amat megah dan semarak.

Tapi setelah berada di puncak, yang dia hadapi hanyalah kabut tebal yang bergulung-gulung, di tengah kabut tampak permukaan air sebuah danau, kabut putih yang remang-remang, menjadikan permukaan danau seperti bertumpuk kapas.

Di tempat ini mana ada istana? Bayangan tanah atau bentuk kelenteng juga tidak ada, tidak kelihatan.

Cukup lama Po-giok berdiri terlongong di tepi telaga, akhirnya ia tarik suara lantang, “Di manakah Pek-cui-kiong-cu berada, Pui-Po-giok mohon bertemu!”

Suara lantang mengalun di tengah kabut tebal seperti menyibak tumpukan kapas di permukaan danau itu.

“Pui-Po-giok mohon bertemu …Po-Giok mohon bertemu …mohon bertemu ….”

Gema suaranya berkumandang dari berbagai penjuru, mendengung di puncak gunung itu.

Tapi setelah gema suara itu sirna, kabut masih tebal, tidak kelihatan ada reaksi apa pun.

Mendadak Siau-kong-cu menjengek, “Berteriak sampai tenggorokanmu pecah juga takkan ada orang menghiraukan dirimu.”

“Kenapa?” tanya Po-giok heran.

“Karena dari sinilah mulai diajukan persoalan pelik pertama untukmu.”

“O, tapi …” mendadak Po-giok tertawa, “siapa bilang tidak ada orang menghiraukan aku? Coba lihat, bukankah ada yang datang.”

Dari tengah danau yang terbungkus kabut memang muncul bayangan sebuah perahu. Perahu ini seperti bergerak ditiup angin, tapi tiada kelihatan ada orang di dalamnya.

Sebelum perahu itu menepi Po-giok segera melompat naik lebih dulu. Ada orang dalam perahu ini, tapi rebah tiarap di dasar perahu.

Kaget dan heran Po-giok dibuatnya, bergegas ia menghampiri sambil membalik tubuh orang, segera ia lihat bentuk wajah orang yang pucat, mata terpejam ini, hampir tidak bernapas lagi.

Raut muka yang dihadapinya ini sudah Po-giok kenal betul.

“Thi-jan To-tiang …” teriaknya kaget.

Orang yang semaput dan lemas ini memang benar Thi-jan To-tiang adanya.

Siau-kong-cu juga sudah melompat ke atas perahu, katanya dingin, “Akhirnya tamat juga dia.”

Po-giok tidak menghiraukan ocehannya, perlahan ia memeriksa lalu membalik tubuh Thi-jan To-tiang, tapi tidak menemukan luka sedikit pun betapa Po-giok memijat dan mengurut, To-jin ini tetap semaput dan tidak mau sadar.

Perahu itu bergerak dan makin jauh dari daratan.

Po-giok gugup dan gelisah, Thi-jan To-tiang perlu pertolongan, namun selepas mata memandang permukaan danau sepi lengang, bukan saja tiada bayangan orang, bayangan kapal juga tiada, dengan ketajaman matanya ia coba menjelajahkan pandangannya, bayangan rumah atau istana juga tidak terlihat.

Di manakah letak Pek-cui-kiong? Di mana pula pemilik Pek~cui-kiong itu bertempat tinggal?

Saking gelisah Po-giok bergumam sendiri “Kalau dia ada di sini, tentu urusan tidak segawat ini.”

Mengerling tajam mata Siau-kong-cu, “kau teringat bini tuamu?”

Po-giok menghela napas, “Kalau Cui-Thian-ki ada di sini, dia pasti takkan … ”

“Dia pasti takkan membiarkan kamu terkurung di sini, begitu?” jengek Siau-kong-cu.

“Sedikitnya dia …” Po-giok hanya menyengir.

“Dan aku hanya menonton saja dengan berpeluk tangan,” tukas Siau-kong-cu dengan tertawa dingin.

“Bukan begitu maksudku, aku hanya ….”

“Begitulah maksudmu, kalau hatimu merindukan dia, kenapa aku harus di sini menemanimu, kau …kau …” mendadak Siau-kong-cu terjun ke dalam danau.

Saking kaget Po-giok berusaha menariknya, tapi sudah tidak keburu lagi.

“Byuurr” air muncrat menimbulkan gelombang bila gelombang itu makin melebar dan akhirnya sirna, bayangan Siau-kong-cu pun tidak kelihatan muncul lagi di permukaan air.

Kabut makin tebal di permukaan danau. Hanya Po-giok seorang yang menunggui Thi-jan To-tiang yang semaput di atas perahu yang terbungkus kabut.

******

Menghadapi pancaran sinar mentari, Cui-Thian-ki seperti termenung sejenak, mendadak ia membalik sambil tertawa, “Saatnya untuk makan hampir tiba, hari ini banyak sayur-mayur yang harus segera kukerjakan. Agaknya rejekimu tidak jelek …kau tunggu di sini atau ….”

“Aku ingin jalan-jalan di luar,” ucap Ban-lo-hu-jin.

“Boleh saja, tapi jangan sampai tersesat,” kata Cui-Thian-ki tertawa.

“Sejak usia delapan belas nenek sudah berkelana di kang-ouw, selatan dan utara belasan provinsi pernah aku jelajahi, belum pernah aku tersesat dalam perjalanan, apa mungkin aku tersesat di pulau kosong ini?”

“Lekaslah pergi, tapi juga harus lekas kembali kalau hidangan termakan habis, aku tidak bertanggung jawab terhadapmu,” demikian ucap Cui-Thian-ki, kelihatan dia amat senang, wajahnya mengulum senyum cerah.

Sambil menggendong tangan Ban-lo-hu-jin berlenggang ke arah sana, setelah yakin dirinya tidak terpandang lagi oleh Cui-Thian-ki, langkahnya mendadak dipercepat, langsung lari ke dalam hutan.

Wajahnya mengulum senyum licik, sementara mulutnya bergumam. “Setiap orang punya kelemahan, Cui-Thian-ki, kau pun punya ….”

Di mana mata memandang mendadak perkataannya terhenti, mata terbelalak lidah pun terasa kelu.

Mendadak dia melihat suatu kejadian yang mengejutkan, peristiwa menakutkan yang sukar dipercaya oleh siapa pun.

Cahaya mentari terang benderang, pesisir laut itu sudah tentu juga benderang.

Di pesisir lain dengan pasirnya yang menguning laksana butiran emas itu, menongol sebuah batok kepala manusia, batok kepala manusia ini ternyata bisa bergerak dan celingukan.

Tempat berdiri Ban-lo-hu-jin sebetulnya membelakangi batok kepala orang itu, kini batok kepala itu sedang menoleh ke arahnya. Badan Ban-lo-hu-jin menggigil, lutut juga goyah, sungguh ia tak percaya pada penglihatannya, di tengah hari bolong, di tempat terbuka ini dia melihat kejadian seaneh ini.

Bukan saja kepala itu bisa bergerak, didengarnya juga dapat bicara, “Siapa itu? Kemari!”

Darah dalam tubuh Ban-lo-hu-jin rasanya juga berhenti, mana mampu ia menggerakan kaki. Kalau dia mampu bergerak tentu sudah lari sipat kuping.

Kini kepala itu menghadap ke arahnya, sepasang bola matanya yang aneh memancar sinar yang aneh pula, bola mata yang beringas ini sedang melotot padanya.

Setelah hati agak tenang, baru Ban-lo-hu-jin melihat jelas, batok kepala orang ini tak lain tak bukan adalah Ka-sing Tai-su.

Kenapa Ka-sing Tai-su terbenam dalam pasir dan hanya kepalanya saja yang kelihatan? Mungkinkah dia dicelakai orang dan dipendam hidup-hidup?

Akan tetapi Ban-lo-hu-jin sudah pecah nyalinya, kaget dan ketakutan.

Setelah mengalami beberapa kali peristiwa yang berbahaya dan mengancam jiwa, di pulau kosong yang penuh mengandung misteri ini, kecerdasan otaknya boleh dikatakan sudah sirna otaknya yang biasanya tajam kini merasa tumpul dan beku.

Tak pernah terpikir oleh Ban-lo-hu-jin bahwa yang dihadapinya sekarang adalah tanah berpasir yang empuk dan mudah digali. Ka-sing Tai-su sedang merendam dirinya di dalam pasir dan hanya kelihatan batok kepalanya saja.

Apa yang dilakukan Ka-sing Tai-su, sepintas pandang memang di luar dugaan dan membingungkan.

Mendadak Ka-sing Tai-su menyeringai, giginya yang putih rapi tampak mengiriskan, “He, agaknya kau takut?”

“Aku …aku …” Ban-lo-hu-jin tergegap “Majulah sini dan lihat biar jelas!” demikian seru Ka-sing Tai-su.

Tanpa terasa Ban~lo-hu-jin maju dalam beberapa langkah lebih dekat, tapi langkahnya seperti diganduli benda berat, setiap langkahnya menghasilkan cucuran keringat dijidatnya.

“Sudah kau lihat jelas bukan? Masih takut juga?” tanya Ka-sing Tai-su.

“kau …kau ….” mendadak Ban-lo-hu-jin berjingkrak dan membentak. “Sudah aku lihat jelas.”

Di bawah cahaya matahari, pasir memantulkan sinar yang menyilaukan. Gelombang ombak menciptakan buih putih laksana kapas. Cuaca cerah, seluas angkasa tiada segumpal mega, betapa indah pemandangan di pesisir saat itu.

Tapi di pesisir itu, di bawah pancuran cahaya matahari yang hangat, seorang nenek beruban sedang tertawa licik berbicara dengan kepala orang yang berada di permukaan pasir.

Betapa lucu, aneh dan menggelikan pemandangan yang istimewa ini.

Dengan tertawa Ban-lo-hu-jin bertanya, Kiranya Tai-su sedang latihan, nenek memang kurang pengalaman dan pengetahuan, entah kungfu apa yang Tai-su latih, sudilah menjelaskan.”

“Latihan kungfu? Siapa bilang aku sedang latihan?” Ka-sing Tai-su tertawa.

Berkedip-kedip Ban-lo-hu-jin, “Kalau Tai-su tidak sedang latihan kungfu, apakah ….apakah berkelakar dan sengaja menggoda nenek, sengaja mengejutkan dan menakuti aku?”

“Berkelakar? Hm, kapan aku ada minat berkelakar denganmu.”

“Lalu …apa yang Tai-su lakukan di sini?”

“Biarlah aku jelaskan. Seorang kalau kelaparan dan tidak tahan lagi, kalau badan dibenamkan dalam pasir, rasanya sungguh nikmat luar biasa.”

Ban-lo-hu-jin melengong, “O, kiranya begitu,” tak urung ia tertawa geli.

“Aku ogah bicara denganmu, menghabiskan tenaga saja, lekaslah menyingkir, habis bicara Ka-sing memejamkan mata dan tidak menghiraukannya lagi.

Ban-lo-hu-jin berdiri diam-diam mengawasi batok kepala orang, mengawasi rambut orang yang awut-awutan dihembus angin.

Matanya mendadak memancarkan cahaya, sementara mulut mengiakan.

perlahan ia maju dua langkah, mendadak Ban-lo-hu-jin membalik tubuh, sebelah kakinya secepat kilat menendang Ing-hiang-hiat di hidung Ka-sing Tai-su.

Kaki tangan Ka-sing Tai-su terpendam dalam pasir, bukan saja tidak mungkin berkelit, juga tak dapat menangkis, jelas tendangan Ban-lo-hu-jin bakal berhasil.

Siapa tahu pada detik yang menentukan itu, mendadak Ka-sing Tai-su bergelak tawa, pasir mendadak beterbangan, sementara badannya mendadak mencelat keluar dari dalam pasir.

Terasa oleh Ban-lo-hu-jin pasir yang bertebaran sederas hujan meluncur ke arah dirinya, sebelum sempat menyingkir, jari-jari Ka-sing Tai-su yang mirip cakar sudah mengancam tenggorokannya.

Pecah nyali Ban-lo-hu-jin, pekiknya ketakutan, “Tai …tai …”

Karena leher tercekik, bernapas pun susah, mana dapat bicara.

Ka-sing Tai-su menyeringai sadis “Dengan kemampuan nenek busuk seperti dirimu, berani menyerang aku.”

Lidah Ban-lo-hu-jin sudah menjulur keluar seluruhnya, “Am …ampun …”

“Mengampunimu? Hehe!” Ka-sing Tai-su menyeringai, “kau mau membunuhku, sekarang akulah yang akan membunuhmu.”

Terasa oleh Ban-lo-hu-jin batok kepalanya hampir pecah, bola matanya juga hampir mencolot keluar, sekuat tenaga ia meronta untuk bersuara, namun yang keluar dari tenggorokannya hanya dengus berat mirip lembu melenguh.

Cengkeraman jari Ka-sing Tai-su makin kencang.

Pandangan Ban-lo-hu-jin sudah mulai gelap kaki tangan tidak mampu bergerak lagi.

Pada detik yang menentukan itu, jari tangan Ka-sing Tai-su mendadak mengendur dan melepaskan cengkeramannya.

Dengan lemas Ban-lo-hu-jin roboh melesot tanah pasir.

Ka-sing Tai-su bergelak tawa, “Terlalu enak kalau aku membunuhmu dengan cara ini, akan … akan aku pendam batok kepalamu dalam pasir, supaya kau ….”

Bergegas Ban-lo-hu-jin merangkak, lalu berlutut dan menyembah, ratapnya dengan suara serak, “Tai-su, kau salah paham, nenek tua ini sungguh tiada niat mencelakaimu. Yang benar aku ingin berunding suatu hal penting dengan Tai-su.”

“kau kira aku percaya obrolanmu?” jengek Ka-sing Tai-su.

“Tapi aku bicara sebenarnya, bukan membual.”

“Hm …” mendadak Ka-sing menggeram sambil menarik Ban-lo-hu-jin dan menjungkir balik tubuhnya, jadi kepala di bawah dan kaki di atas tubuhnya hendak dibanting ke dalam lubang pasir, puluhan kati badan Ban-lo-hu-jin di tangannya seperti menjinjing ayam saja.

“Tai-su,” pekik Ban-lo-hu-jin, “lepaskan …lepaskan! Terus terang ada akal supaya Tai-su lekas mendapatkan Bu-kang-pit-kip warisan Ci-ih-hou itu.”

Ocehnya ini ternyata mempunyai daya iblis yang besar pengaruhnya. Ka-sing Tai-su segera melepaskan pegangannya.

Meringkuk dalam lubang pasir, Ban-lo-hu-jin menentramkan napasnya yang tersengal-sengal.

Ka-sing Tai-su tolak pinggang dan melotot, “Apa ucapmu boleh dipercaya?”

“Dalam keadaan begini memangnya aku berani menipumu?”

“Lekas katakan …kau …ada akal apa?”

“Akalnya mudah sekali.”

Nenek ini memang seekor rase yang licik dan licin, melihat Ka-sing Tai-su terperangkap oleh pancingannya, sikapnya cepat sekali menjadi tenang, perlahan ia merangkak lalu duduk bersimpuh, senyum licik menghias ujung bibirnya.

“Mudah, kau bilang mudah! “omel Ka-sing Tai-su, “Selama beberapa tahun ini, entah berapa banyak akal yang pernah aku pikirkan, tapi tiada gunanya. Budak Cui-Thian-ki itu memang susah dilayani.”

“Betapapun lihainya, kungfunya jelas bukan tandinganmu, asal kau mau ulur tangan, dengan mudah dapat membekuknya …”

“Memangnya hal sepele ini perlu aku belajar darimu, tapi kalau aku membekuk dia, Oh-Put-Jiu keparat itu akan segera menyobek dan merusak kitab, mana boleh aku …”

“Kalau mereka bisa mengancam dirimu, kenapa kamu tidak bisa berbuat hal sama terhadap mereka, aku yakin Oh-Put-jiu tidak akan berani menyobek selembar pun Bu-kang-pit-kip itu”

Aku tidak punya akal untuk mengancam mereka.

“Ada saja akalnya,” ujar Ban-lo-hu-jin tegas.

Bercahaya mata Ka-sing Tai-su, teriaknya girang, “Akal apa?”

“Akalku …aduh, dasar sudah tua, ingatan nenek jadi gampang lupa, kenapa dalam waktu sepenting ini mendadak lupa.”

Ka-sing Tai-su berjingkrak gusar, teriaknya sambil membanting kaki, “Sudah lupa? Urusan sepenting ini mana boleh lupa.”

“Ai, orang kalau sudah tua, mudah melupakan sesuatu …Tapi kalau Tai-su mau melulusi sebuah permintaanku, bila hati nenek senang, mungkin dapat Aku ingat lagi.”

“Soal apa? Lekas katakan.”

“Setelah Tai-su membunuh Oh-Put-jiu dan Cui-Thian-ki, dengan mudah dapat mengambil. Bu-kang-pit-kip itu, hal ini jelas menguntungkan engkau seorang, celakalah kalau jiwaku juga kau habisi.”

“Baiklah, aku bersumpah tidak membunuhmu.”

“kau boleh bersumpah seratus kali, tapi benarkah jiwa nenek terlindung?”

“Setiap patah kataku merupakan jaminan untuk melindungi jiwamu.”

“Ai, sayang sekali, nenek seperti aku ini sudah kenyang hidup menderita, rasa curigaku selalu menghantui sanubari ini, kalau selalu percaya omongan orang, aku takkan hidup setua ini. Maka terhadap siapa saja, omongannya tidak boleh aku percaya seratus persen, penyakit ini sudah puluhan tahun menyertaiku berkelana di kang-ouw, kenyataan sampai sekarang aku masih hidup segar, resepnya yaitu tidak boleh percaya kepada siapa pun.”

“Baiklah, lalu jaminan apa yang kau minta?”

“Asal Tai-su mau saja, selanjutnya kau angkat nenek ini menjadi ibu angkatmu, aku …”

“Kentut busuk!” Ka-sing Tai-su mengumpat dengan murka.

Ban-lo-hu-jin menghela napas, “Kalau Tai-su tidak sudi menjadi anak angkatku, yah, apa boleh buat, batal saja.”

Ka-sing Tai-su mencak-mencak seperti kebakaran jenggot, ia bersungut-sungut sekian lamanya, mendadak ia mencengkeram Ban-lo-hu-jin, tapi segera sikapnya berubah, di tengah gelak tawanya ia lepas dan turunkan Ban-lo-hu-jin, katanya “Kenyataan usiamu memang sudah tua, sebagai orang beribadah yang sudah bebas dari keluarga, sebetulnya boleh aku angkat setiap orang sebagai sanak kandungku, memangnya apa salahnya kalau aku mengangkatmu sebagai ibu angkat.”

“Nah, kan begitu,” ucap Ban-lo-hu-jin dengan girang.

Ka-sing Tai-su benar-benar berlutut dan menyembah, “Ibu, terimalah sembah hormat anak!”

Tujuh tahun ia tunggu kesempatan untuk merebut dan memperoleh Bu-kang-pit-kip itu, selama penantian itu boleh dikatakan dia hampir gila.

Di pulau kosong ini tiada orang lain, menyembah dan berlutut juga bukan perbuatan tercela dan memalukan, yang penting Bu-kang-pit-kip itu dapat direbutkan, umpama harus menyembah seribu kali kepada Ban-lo-hu-jin juga akan dilakukannya.

“Anak bagus … anak baik …” berseri air muka Ban-lo-hu-jin. Sembari bicara tangannya sibuk merogoh kantung, yang satu merogoh kantung yang lain, akhirnya ia mengeluarkan sebiji manisan pala. “Aku tidak bawa barang apa-apa, nah, terimalah ini sebagai tanda peresmian mengangkatmu sebagai anak angkat.”

Ka-sing Tai-su juga tidak rewel, begitu manisan pala itu diterima langsung dilempar masuk ke mulut dan ditelannya bulat-bulat.

“Haya,” mendadak Ban-lo-hu-jin menjerit kaget, “sudah kau makan?”

Ka-sing bergelak tawa, “Hadiah ibunda meski tidak bernilai juga merupakan penghargaan yang besar artinya, sudah tentu aku makan.”

“Wah, celaka …celaka …” Ban-lo-hu-jin berseru gugup sambil membanting kaki.

“Apanya yang celaka?” tanya Ka-sing Tai-su gugup, air muka pun berubah.

“Manisan tadi hanya untuk contoh, bukan untuk dimakan,” kata Ban-lo-hu-jin.

“Hah, kenapa tidak boleh dimakan?”

“Karena terburu nafsu, aku lupa memberitahukan padamu, manisan pala tadi ada….ada racunnya.”

Ka-sing Tai-su meraung gusar, sekali raih ia jambret baju dada Ban-lo-hu-jin seraya menghardik “Apa katamu?”

“Celakanya kecuali aku tiada orang lain yang bisa menawarkan racun itu,” demikian tambah Ban-lo-hu-jin.

“kau …nenek siluman, akan …kubunuh kamu.”

Mendadak Ban-lo-hu-jin terkekeh-kekeh “Kalau aku kau bunuh, kau pun takkan bisa hidup.”

Gemetar suara Ka-sing Tai-su saking menahan geram, “Le … lekas keluarkan obat penawarnya …”

“Ingin kuberi obat penawar padamu, sayang obatnya tidak kubawa, setelah kita pulang ke Tiong-toh baru dapat aku carikan ramuannya dan aku buatkan obatnya. Tapi …anak baik, tidak perlu gugup, walau kadar racun itu cukup lihai, tapi bekerjanya lambat, masih cukup lama baru akan kumat, bila selama ini kamu berbakti terhadapku, dalam jangka tiga atau lima bulan pasti racunnya tidak akan bekerja.”

Cukup lama Ka-sing Tai-su melotot padanya, akhirnya menghela napas panjang dan melepaskan cengkeramannya, “Baiklah, aku tunduk padamu.”

Ban-lo-hu-jin terloroh-loroh, “Kalau nenek tidak menggunakan akal, bila kau dapatkan Pit-kip itu, memangnya sudi kau anggap aku sebagai ibu angkat? …Hahaha, sekarang nenek baru lega untuk membantumu memperoleh Pit-kip itu.”

Sikap Ka-sing Tai-su berubah riang pula “Cara bagaimana akalmu akan diatur?”

“Taraf kepandaian Cui-Thian-ki paling hanya sepersepuluh kemampuanmu, tapi dia dapat membuatmu tunduk dan patuh lahir batin padanya, kalau dia menyuruhmu ke timur, maka kamu tak berani ke barat, kenapa demikian?”

Ka-sing mendesis penuh kebencian, “Karena siluman itu sudah memperhitungkan, aku takkan rela bila pit-kip itu dihancurkan, sebelum aku lihat dan membaca meski cuma selintas pandang saja pit-kip itu, sampai mati pun aku akan penasaran.”

“Betul, sampai mati pun ingin kau lihat pit-kip itu dan inilah kelemahanmu, setelah menggenggam kelemahanmu, dia tidak perlu takut terhadapmu, dan kamu akan selalu tunduk padanya.”

“Siluman keparat …” Ka-sing Tai-su mendesis geram.

Ban-lo-hu-jin tertawa lebar, “Tapi siluman keparat itu juga punya kelemahan, kalau kau dapat merengut kelemahannya di tanganmu, justru dapat kau paksa dia tunduk padamu.”

Terbeliak mata Ka-sing Tai-su, “Dia …dia punya kelemahan apa?” tanyanya gugup.

Dengan santai Ban-lo-hu-jin duduk di pasir, “Saat ini dia sedang menanak nasi dan memasak sayur boleh kau pergi ke sana dan membekuknya ….”

Ka-sing Tai-su gusar, “Akal bagus apa, lebih busuk dari pada kentut anjing. Kalau aku membunuhnya, Oh-Put-jiu akan segera menyobek dan merusak kitab itu …Umpama aku dapat membunuhnya tanpa menimbulkan suara, bila dalam waktu tertentu keparat Oh-Put-jiu itu tidak melihat bayangannya, dia juga akan menyobek dan merusak kitab …Yang aku tuntut bukan jiwa mereka, tapi kitab pelajaran kungfu itu. Kalau pit-kip nya dirusak dan hancur, umpama aku makan daging mereka juga tiada gunanya lagi?”

Ban-lo-hu-jin meleroknya sekali, lalu mengomel “Siapa suruh kau bunuh dia?”

“Buk …bukankah tadi kau bilang ….”

“Aku hanya menyuruhmu membekuknya!” teriak Ban-lo-hu-jin, “Kalau kau bunuh dia, Oh-Put-jiu memang bisa menghancurkan pit-kip, ini kan sama bila Oh-Put-jiu menghancurkan kitab dan segera kau bunuh Cui-Thian-ki.”

Lalu dengan senyum penuh arti ia menyambung, “Tapi kalau kau bekuk dia dan memberi tahu Oh-Put-jiu, bila dia berani merobek selembar buku itu, segera kau bunuh Cui-Thian-ki. Coba kau pikir apa dia berani menyobek?”

Ka-sing Tai-su keplok sekali, “Ya, dia pasti tidak berani, hal ini kan sama seperti aku tidak membunuh Cui-Thian-ki ….Aku takkan membiarkan pit-kip itu dihancurkan, dia juga takkan membiarkan aku membunuh Cui-Thian-ki.”

“Betul, akhirnya kau paham juga. Pit-kip itu adalah titik kelemahanmu, Cui-Thian-ki adalah titik kelemahan Oh-Put-jiu. Kini kalian sama-sama memegang kartu kelemahan masing-masing, kenapa masih takut terhadap mereka?”

“Satu hal masih harus dipertimbangkan, apakah perhatian Oh-Put-jiu terhadap Cui-Thian-ki sebesar perhatianku terhadap pit-kip itu, kalau tidak bukankah ….”

“Perhatian Oh-Put-jiu terhadap Cui-Thian-ki pasti tidak kalah dibandingkan perhatianmu atas pit-kip itu.”

“Berdasar apa kamu berani memastikan?”

“Hati muda mudi yang sedang menjalin cinta, sudah tentu tak dapat diselami oleh orang yang menjadi hwesio sepertimu. Nenek ini sudah ahli dalam bidang asmara, hubungan mereka yang intim mana dapat mengelabui sepasang mata tuaku.”

Apa yang diucapkan Ban-lo-hu-jin ibarat tusukan sembilu yang tepat kena sasaran. Maklum, sejak kecil Ka-sing menjadi hwesio, tentang seluk-beluk hubungan cinta muda-mudi tentu saja amat asing baginya dan tidak tahu sama sekali.

Kalau Hwesio ini tahu betapa hangat hubungan cinta muda-mudi dan rela berkorban demi segalanya, Taraf pengorbanannya tidak kalah dibandingkan kegilaannya untuk memperoleh Bu-kang-pit-kip itu, tentu Ka-sing Tai-su tidak akan menunggu selama tujuh tahun lamanya.

“Maksudmu …antara Oh-Put-jiu dengan Cui-Thian-ki yang keparat itu sudah menjalin hubungan cinta? ….Padahal mereka tidak pernah bertemu …”

“kau tahu apa? Makin tidak bertemu, hubungan cinta mereka makin panas, makin terangsang. Sebaliknya kalau setiap hari beradu pandang, adu hidung, malah tidak menarik.”

“Aku tidak mengerti, aku tidak paham ….”

“Kalau hwesio juga paham tentang cinta, maka hwesio itu tentu hwesio sontoloyo.”

Ka-sing Tai-su bergelak tawa, “Sekarang aku sudah paham …sesuatu benda yang susah didapatkan tentu lebih berharga nilainya, demikian besar harapanku terhadap pit-kip itu, demikian pula hubungan cinta antara laki-perempuan.”

“Kamu memang murid yang pandai, sekali diterangkan lantas paham.”

Mendadak Ka-sing berhenti tertawa, lalu berkata dengan berkerut kening, “Tapi meski dapat aku bekuk Cui-Thian-ki, sementara pit-kip tergenggam di tangan Oh-Put-jiu, walau aku tahu dia tidak berani menghancurkan pit-kip, dia juga tahu aku tidak berani membunuh Cui-Thian-ki, bila aku tidak melepaskan Cui-Thian-ki, jelas ia pun takkan menyerahkan pit-kip itu, bukankah urusan tetap akan berkepanjangan?”

“Betul, tapi jangan lupa, Oh-Put-jiu sekarang terkurung dan tak mungkin beraksi, sebaliknya kau dapat berbuat sesuka hatimu …”

“Memangnya aku dapat berbuat apa terhadapnya?”

“Asal dia tidak menghancurkan buku itu, apa tidak bisa kau paksa dia keluar dengan membakarnya? Bila dia berada di luar, apa tidak mampu kau kalahkan dia?”

“Betul … betul!” teriak Ka-sing Tai-su kegirangan, “urusan semudah ini, sejak dulu seharusnya sudah aku pikirkan,”

“Persoalan apa saja, bila duduk persoalannya menjadi jelas, sudah tentu urusan menjadi mudah ….Di jaman Sam Kok terjadi Cu-kat-Liang membakar kapal musuh dengan perahu berumput yang menyala, bukankah caranya mudah dan gampang dilakukan, tapi sebelum dia melakukan akalnya itu, siapa pernah melakukannya? Soalnya, untuk melakukan sesuatu memang mudah, untuk menyelami makna yang murni dari persoalan itulah memerlukan pengetahuan yang luas.”

“Betul, betul ….” Ka-sing Tai-su manggut-manggut.

“Setelah tugas ini kau selesaikan dengan baik, cukup kita perbaiki ala kadarnya, kapal yang aku naiki itu akan dapat membawa kita anak dan ibu pulang ke Tiong-toh.”

Senang Ka-sing Tai-su bukan main, “Ya, pada waktu itu, seluruh kaum Bu-lim di Tiong-toh, siapa yang mampu menandingi aku?”

“Kukira ada seorang,” ujar Ban-lo-hu-jin.

“Siapa lagi?” Ka-sing Berjingkrak gusar.

“Pui-Po-giok ….semoga saat ini dia sudah mampus,” demikian desis Ban-lo-hu-jin.

******

Pusaran air mulai hilang dan permukaan air danau kembali tenang dan bening bagai kaca, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi Siau-kong-cu tidak pernah muncul dan tidak kelihatan lagi.

Mengawasi permukaan danau yang tenang bak kaca, Pui-Po-giok termangu kaku seperti beku. Entah berapa lama kemudian, wajah Po-giok baru memperlihatkan perubahan perasaan, tapi kelihatannya begitu ruwet, sukar orang menebak soal apa yang sedang dipikirkannya.

Di tengah kebeningan yang mencekam itu.

“Byuuurrr!” mendadak Po-giok juga terjun ke dalam air.

Air danau bergelombang. Lama kelamaan gelombang itu pun sirna, air danau kembali tenang bagai kaca, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, tapi Pui-Po-giok juga tidak kelihatan, lenyap tanpa bekas.

******

Sinar surya yang cemerlang menerangi layar pancawarna, menyinari gubuk kecil yang mungil dan artistik itu.

Dari dalam gubuk berkumandang nyanyian merdu, nyanyian yang riang gembira, memuja sang surya dengan cahayanya yang cemerlang, memuja kehidupan ini yang indah dan kebahagiaan yang didambakan.

Cui-Thian~ki bekerja dengan riang, hari ini merupakan lembaran baru dalam hidupnya selama tujuh tahun tinggal di pulau kosong ini. Dalam sehari ini, tumbuh makna yang baru, harapan baru pula.

Sekerat dendeng ia iris menjadi empat potong, lalu dipanggang di atas tungku. Potongan dendeng itu tidak merata, yang paling besar akan dia berikan kepada Oh-Put-jiu, yang paling kecil untuk dirinya sendiri.

Matahari belum setinggi genter, cahayanya menyorot miring ke dalam rumah, menyinari rambutnya yang panjang terurai, potongan tubuhnya yang ramping montok bergerak secara lincah, matanya tampak bercahaya, demikian pula pahanya yang mulus tampak lebih putih dan halus.

Dalam suasana bahagia, manusia selain tampak lebih cantik, lebih elok dari keadaan biasanya.

Mendadak didengarnya di belakang ada suara orang, tanpa berpaling Cui-Thian-ki bertanya, “Apakah Ka-sing Tai-su?”

“Ya,” sahut Ka-sing Tai-su.

“Belum tiba saatnya makan, kenapa datang terburu-buru?”

Belum habis ia bicara, tiba-tiba dilihatnya sebuah tangan bagai cakar burung menjulur tiba empat kerat dendeng yang baru saja dipanggang disambernya.

Cui-Thian-ki gusar, “Kurang ajar, kau berani melanggar peraturan?”

Dengan lahap Ka-sing Tai-su makan dendeng rampasan itu, hanya beberapa kali kunyah, dendeng itu sudah tertelan ke dalam perut.

Cui-Thian-ki membanting kaki, “He, sudah gila kau ? Jangan lupa apa yang pernah kau janjikan padaku?”

Ka-sing Tai-su tidak hiraukan peringatannya, dendeng kedua mulai dijejalkan ke mulut.

Ketika dendeng kedua ini juga ditelannya, sikap Cui-Thian-ki ternyata menjadi tenang malah, wajahnya juga tersenyum manis.

Dengan mulut tersumbat makanan Ka-sing Tai-su bergumam dengan suara kurang jelas, “Rasanya enak ….”

Cui-Thian-ki tertawa lebar, “Kalau benar enak rasanya, tuh masih ada, boleh aku panggang lagi untukmu.”

Terbeliak mata Ka-sing Tai-su, katanya heran “Hah, kau berubah?”

“Melihat caramu makan, aku jadi kasihan apa salahnya kuberi lagi.”

Ka-sing Tai-su lupa mengunyah, berhenti makan, matanya terbeliak, “Apa benar?”

“Daging ini terlalu asin, aku ambilkan air dulu untuk mencucinya.”

Dengan kalem ia mengambil segayung air, lalu dengan kerlingan tajam ia menghampiri Ka-sing Tai-su.

Mendadak suara Ban-lo-hu-jin berkumandang di luar pintu, “Awas jangan tertipu oleh budak itu.”

Pada saat itulah mendadak Cui-Thian-ki menerjang keluar seraya menyambitkan segulung cahaya perak langsung menyerang Ka-sing Tai-su. Secepat kilat Ka-sing Tai-su juga menubruk maju dan mengejar.

Belum setombak tubuh Cui-Thian-ki meluncur terasa angin dingin menerjang tiba di belakang kepalanya, tanpa menoleh tangannya terayun ke belakang.

Jurus Pa-ong-sik-ka merupakan gerakan yang membuka lebar pertahanan sendiri, gayanya kaku keras tapi dahsyat, walau gerakannya lucu, tapi serangan itu sendiri amat lihai dan aneh.

Kini jurus kaku ini dilancarkan oleh gadis ayu gemulai, nilainya berubah sama sekali. Maklum kalau perempuan cantik mencopot pakaian, siapa yang tidak akan terpengaruh hatinya, terutama gerak perubahan serangan ini cukup licik dan sukar diraba sebelumnya.

Menyaksikan dari kejauhan, diam-diam tergetar hati Ban-lo-hu-jin, “Kungfu budak ini ternyata maju sepesat ini.”

Belum habis pikir, kedua tangan Cui-Thian-ki tahu-tahu sudah terpegang oleh Ka-sing Tai-su. Betapa aneh, lihai dan dahsyat serangannya, bagi Ka-sing Tai-su ternyata dilayani dengan sepele saja.

Sekali puntir dan lempar, Cui-Thian-ki kontan terbanting jatuh di tanah.

Bukan merengek kesakitan Cui-Thian-ki justru tersenyum genit, “Tega benar engkau ini, begitu baik aku terhadapmu, engkau tega membantingku sedemikian rupa.”

Ka-sing Tai-su bergelak tawa, “Untung Lo-heng sudah lanjut usia, kalau masih muda tentu kepincut dan akan berlutut di bawah lututmu.”

“Kukira kamu keblinger, setelah menunggu sekian tahun, sebentar lagi pit-kip itu akan bisa kudapatkan, tapi sekarang …ai, harapanmu akan sirna.”

“Kenapa sirna seluruhnya?” Ka-sing Tai-su menegas.

“Kalau tanganku tidak kau lepaskan, akan kusuruh Oh-Put-jiu ….”

“Boleh kamu berteriak padanya,” jengek Ka-sing Tai-su.

Melirik sekejap mendadak Cui-Thian-ki berteriak keras, “Oh-Put-jiu …Oh-Put-jiu, kau dengar suaraku?”

Segera berkumandang sahutan Oh-Put-jiu dari dalam kabin, “Dengar, ada apa?”

Suaranya tidak keras, nadanya tidak tinggi namun jelas dan terang, sepatah demi sepatah berkumandang sampai jauh, jelas orang yang bicara memiliki lwe-kang yang tangguh.

“Mulailah sobek buku itu …”

Berubah kaget dan prihatin suara Oh-put-jiu “Apa …apa kau ….”

“Benar, hwesio tua ini mulai beraksi.”

Cui-Thian-ki yang cerdik segera memotong perkataan Oh-Put-jiu karena ia tidak ingin suara orang yang gugup dan gemetar itu diketahui Ka-sing Tai-su.

Betapapun Oh-Put-jiu adalah manusia biasa, menghadapi kejadian di luar dugaan, tentu saja suaranya akan berubah maka ia pun berkata dengan ketus dan dingin, “Baik, isi buku ini aku sudah apal di luar kepala, dihancurkan juga tidak menjadi soal.”

Cui-Thian-ki tertawa, “Sudah kau dengar Ka-sing Tai-su?”

“Oh-Put-jiu!” mendadak Ka-sing berteriak, “Selembar saja berani kau robek buku itu Cui-Thian-ki segera kubunuh di sini. kau dengar tidak?”

Suasana mendadak menjadi hening, tiada suara apa-apa dari dalam kabin, mungkin Oh-Put-jiu tertegun kaget.

Seri tawa yang menghias wajah Cui-Thian-ki juga seketika lenyap, perlahan ia menoleh ke arah Ban-lo-hu-jin, “Bagus ya kau ! Bagus sekali.”

Ban-lo-hu-jin terkekeh-kekeh, “Kejadian ini tiada sangkut-paut dengan aku.”

“Kalau Ka-sing Tai-su bisa menggunakan akal busuk ini, masa baru hari ini dia praktekkan?”

“kau memang pandai,” Ban-lo-hu-jin memuji.

“Dan kau amat senang bukan? Asal ada untung, anak kandung sendiri juga rela kau jual, benar tidak? Sungguh sukar aku bayangkan kematian cara apa yang akan menimpamu kelak?”

“Mati adalah mati, peduli amat, enak atau mati sengsara, kan sama-sama mati.”

Cui-Thian-ki menatapnya lekat, lama kelamaan wajahnya menampilkan senyum manis juga, “Terlalu pagi kalau sekarang kamu merasa senang.”

“kau kira Oh-Put-jiu tidak berani menghancurkan kitab dan Ka-sing Tai-su juga tak berani mengusikmu?”

“Memangnya hwesio ini berani berbuat apa terhadapku?”

“Kurasa tidak demikian, umpama Ka-sing Tai-su tidak mengusikmu, masih banyak cara dapat memaksa bocah kepala besar itu keluar. Otakmu juga cerdik, kukira kau pun sudah tahu cara apa yang harus digunakan.”

“Dengan api …dengan api memanggang si kepala besar ….Hahaha!” Ka-sing Tai-su bergelak keras.

Bahwa Ka-sing Tai-su tertawa senang, di luar dugaan Oh-Put-jiu yang berada dalam kabin mendadak juga tertawa besar.

“Ken …tertawa? Dalam keadaan seperti ini, kamu masih dapat bicara, sungguh aku kagum padamu.”

“Kalau kau bakar kapal ini, terpaksa aku harus keluar dan dengan kedua tangan aku persembahkan pit-kip kepadamu ….Hahaha, itulah rencana kalian yang muluk bukan?”

“Memangnya apa yang bisa kau lakukan?” jengek Ka-sing Tai-su.

Bengis suara Oh-Put-jiu, “Berani kau bakar kapal ini, maka selama hidupmu jangan harap dapat memperoleh pit-kip ini meski hanya selembar saja.”

“kau …berani?” Ka-sing Tai-su bingung dan kuatir, “Memangnya tidak kau pikirkan jiwa Cui-Thian-ki?”

“Betul, aku tidak tega melihat nona Cui mati di tanganmu, perhitunganmu dalam hal ini memang tepat. Tapi kalau aku menyerahkan Pit-kip, bukan saja jiwa nona Cui tidak dapat diselamatkan, jiwaku sendiri juga pasti takkan bisa dipertahankan, hal ini sudah aku perhitungkan juga. Sama-sama gugur kan lebih baik gugur bersama hancurnya semua Pit-kip di sini.”

Berubah air muka Ka-sing, dasar berotak tumpul, sekian lama ia berdiri diam tanpa bicara. Oh-Put-jiu sudah membaca dan apal di luar kepala semua Pit-kip yang tersimpan di kapal itu, jelas orang ini tidak boleh dibiarkan hidup, dalam hal ini sedikitpun ia tidak mampu berdebat.

Cui-Thian-ki cekikik geli, katanya menyindir “Nah, sekarang kalian tahu cerdik tidak si kepala besar itu? Ketahuilah, selama aku hidup dan berkecimpung di kang-ouw, hanya dia laki-laki paling pintar yang pernah aku temukan, jangan harap kalian bisa menjebaknya.”

Ban-lo-hu-jin menghela napas, “Anak bodoh, akal masih dapat dipikirkan, waktu juga masih cukup panjang, kenapa gelisah tak keruan.”

Satu demi satu jari jemari Ka-sing Tai-su yang mencengkeram Cui-Thian-ki terlepas, “Tapi …sekarang dia ….”

“Sekarang boleh kau tiru cara aku orang tua bekerja,” ujar Ban-lo-hu-jin dengan kalem.

perlahan ia menghampiri Cui-Thian-ki. Mendadak tangannya terulur, sekali jambret jubah anyaman bulu burung itu ditariknya robek separo, maka dada yang putih montok tampak bergetar ditiup angin.

Ternyata Cui-Thian-ki tetap berdiri tegak, bergerak pun tidak, juga tidak berusaha menutup dadanya yang terbuka. Gadis ini sudah sejalan pikirannya dengan Oh-Put-jiu, tidak mau melakukan sesuatu yang tidak berguna.

“Oh-Put-jiu!” teriak Ban-lo-hu-jin, “sudah kau saksikan bukan …Nih, lihat betapa montok payudara nona Cui, halus lagi kenyal, begitu indah dan mempesona di bawah sinar matahari, sebening kaca dan tembus cahaya. Sukar aku percaya tiada laki-laki di dunia ini yang tidak tertarik dan ingin menjamahnya …Ai, sayang sekali kamu tidak dapat menikmatinya.”

Tiada suara dari dalam kabin, suara sedikit pun tak terdengar.

Dengan tertawa sinis Ban-lo-hu-jin melanjutkan “Oh-Put-jiu, kalau aku menjadi dirimu hatiku tidak rela gadis secantik ini jatuh dalam pelukan laki-laki lain, boleh kau pejamkan mata dan membayangkan, kalau tangan laki-laki lain menjamah tubuhnya, kalau laki-laki lain menindih tubuhnya ….bagaimana perasaanmu?”

Mendadak Cui-Thian-ki tertawa, serunya mengejek, “Sayang sekali di sini tiada lelaki.”

“Oo? …tidak ada laki-laki lain? …Ka-sing Tai-su, kamu laki-laki atau perempuan?”

“Yang benar dia seorang hwesio …” tukas Cui-Thian-ki.

Mendadak Ka-sing Tai-su bergelak, “Memangnya hwesio bukan laki-laki?”

“Anak bagus,” sorak Ban-lo-hu-jin, “Tepat sekali jawabanmu.”

“Walau usiaku sudah lanjut, kondisiku tanggung tidak kalah dibanding anak muda, kalau tidak percaya marilah dicoba. Terutama gaya dan permainan negeri Thian-tiok tanggung tidak kalah dan jauh berbeda dengan negeri lain.”

Lebih keras Ban-lo-hu-jin berkeplok dan bersorak, “Bagus, bagus, makin bicara kamu makin pintar.”

Ka-sing Tai-su berkata pula, “Selama hidup belum pernah aku terpengaruh oleh perempuan, tapi hari ini melihat tubuh semulus dan semontok ini, wah ….”

Sikap Cui-Thian-ki tidak berubah, “Kamu hanya membual saja, memangnya kau mampu?”

“Hah? Dia tidak mampu?” teriak Ban-lo-hu-jin, “Hei, kau mampu tidak?”

Ka-sing Tai-su terloroh-loroh, “Kenapa aku tidak mampu? Demi pit-kip itu, apa pun dapat kulakukan.”

“Mungkin kamu belum berpengalaman, tapi aku bisa memberi petunjuk, setua ini usiaku pengalamanku takkan habis aku jelaskan padamu untuk dipraktekkan di sini….Nah, sekarang mulai pertama ulur tanganmu dan pegang dadanya.”

“Baik …” seru Ka-sing Tai-su dengan tertawa iblis.

Melihat telapak tangan orang yang kurus kering lagi hitam mirip cakar burung itu bergerak mendekat ke dadanya, Cui-Thian-ki menjerit kuatir, betapapun tabah dan berani, betapapun dia seorang gadis suci.

“Oh-Put-jiu,” teriak Ban-lo-hu-jin tertawa “sudah kau saksikan bukan? Sekarang tubuh nona Cui mulai gemetar …setiap jengkal dagingnya mulai mengkeret, wah, begini indah dan menarik ..Ai, sayang aku bukan laki-laki, terpaksa aku hanya menonton dan memberi petunjuk dari samping saja ….”

“Blang,” mendadak berkumandang suara keras, pintu besi kabin kapal itu terbuka.

Cui-Thian-ki menjerit kaget, “Oh-Put-jiu, lekas masuk kembali!”

Tapi Oh-Put-jiu sudah melangkah keluar.

Cahaya matahari menyinari tubuh Oh-Put-jiu.

Pakaiannya sudah membusuk, begitu kena sinar matahari dan ditiup angin, lantas beterbangan seperti kupu-kupu.

Dahulu badannya hitam lagi kekar berotot, kini berubah menjadi putih lagi kurus, ditambah rambut yang panjang awut-awutan sehingga kepalanya yang gede tampak lebih besar, sebaliknya tubuhnya kelihatan tambah kecil.

Tapi keadaan dan bentuk tubuhnya sedikitpun tidak menjadi lucu dan menggelikan, sikap dan wibawanya masih kelihatan juga bahwa dia seorang laki-laki.

Terutama wajahnya yang merah, sikapnya yang mantap tenang, sinar matanya setajam gunting. Siapa bentrok dengan pandangannya meski ingin tertawa geli juga akan menyengir kikuk.

Tujuh tahun, genap tujuh tahun dia hidup dalam kabin yang tidak pernah kena sinar matahari, kini mendadak tertimpa cahaya matahari, kedua matanya tentu merasa sakit seperti tertusuk jarum.

Tapi matanya ternyata tidak berkedip, lurus menatap ke arah Ka-sing Tai-su dan Ban-lo-hu-jin.

Ban-lo-hu-jin ingin tertawa riang, tapi ditatap sorot mata setajam itu, tanpa sadar ia menyurut mundur beberapa langkah.

Oh-Put-jiu yang dahulu supel dan pandai bergaul, kini berubah menjadi orang yang kelihatan garang, sifat garangnya ini membawa wibawa yang luar biasa, sehingga orang merasakan kegarangannya itu menciutkan nyali dan semangatnya.

Tangan Ka-sing Tai-su yang meraba dada Cui-Thian-ki juga terhenti setengah jalan, senyum iblisnya menjadi beku di wajahnya, sikapnya sungguh lucu, tapi juga menakutkan.

Demikian juga Cui-Thian-ki pun melengong. Selangkah demi selangkah Oh-Put-jiu menghampiri, meski lambat tapi pasti dan mantap, tanpa berhenti.

“Bagus,” desis Ka-sing Tai-su sepatah demi sepatah, “menunggu tujuh tahun, akhirnya kau keluar juga.”

“kau senang ya?,” jengek Oh-Put-jiu.”Aku …aku ….” mendadak Ka-sing Tai-su mendongak sambil cekakakan. Baru sekarang ia bisa tertawa lepas.

“Selama tujuh tahun ini, nona Cui, engkau …” sekilas Oh-Put-jiu melirik ke arah Cui-Thian-ki, lalu menunduk.

Meski hanya lirikan sekilas yang tidak sengaja, tak terduga Cui-Thian-ki yang biasanya tidak takut langit ambruk dan bumi ambles ternyata merah jengah mukanya, tanpa sadar ia angkat tangan dan menutup dadanya.

Dengan menunduk ia pun berkata rawan, “Ken …kenapa kau keluar?”

“Kalau memang harus keluar, apa bedanya keluar sekarang atau besok?”

Bergetar tubuh Cui-Thian-ki, walau sudah menduga akan jawaban Oh-Put-jiu, namun tak pernah terpikir olehnya bahwa Oh-Put-jiu bakal menjawab secara gamblang dan tegas.

Dengan kepala tetap menunduk ia berkata pula, “Kenapa sekarang juga kau katakan, bila kau jelaskan nanti, bukankah lebih menguntungkan”

“Akhirnya toh harus kukatakan, dikatakan lebih dulu juga tidak menjadi soal,” jawab Oh-put-jiu tetap tegas.

“Betul juga,” ucap Cui-Thian-ki mengangguk, “Kalau terlambat sedikit mungkin tiada kesempatan lagi untuk bicara.”

Mendadak Ban-lo-hu-jin tertawa besar, “Kematian sudah diambang mata, kalau mau bicara sudah tentu harus lekas dibicarakan. Boleh kalian bicara, tidak perlu terburu-buru …Sudah tujuh tahun Ka-sing menunggu, menunggu beberapa kejap lagi juga tidak menjadi soal.”

“Tapi aku sudah tidak sabar lagi menunggu,” sela Ka-sing Tai-su uring-uringan.

“Aku pun tiada yang perlu dibicarakan lagi,” Oh-Put-jiu menegaskan.

Cahaya mentari masih benderang, hangat lagi semarak, namun alam semesta ini seperti diliputi hawa dingin. Karena Oh-Put-jiu dan Ka-sing Tai-su kini sudah berdiri berhadapan.

Hawa dingin seperti merembes keluar dari badan kedua orang yang berhadapan ini.

Kalau kejadian berlangsung tujuh tahun yang lalu jangankan berhadapan melawan Ka-sing Tai-su, untuk berdiri sejajar dengan Ka-sing Tai-su saja tidak setimpal. Tapi sekarang pemuda ini berhadapan dengan Ka-sing Tai-su, baik wibawa, keberanian, sikap dan kegagahannya jelas tidak kalah dibanding padri asing yang terkenal di kang-ouw, padri agung yang menjadi calon ketua agama suatu aliran yang disegani ini.

Wajah Ka-sing Tai-su yang tadi tersenyum puas dan tamak kini sudah tidak kelihatan lagi.

Dengan pengalaman puluhan tahun lamat-lamat Ka-sing Tai-su meresapi adanya hawa tajam yang timbul dari tubuh pemuda di hadapannya ini, setelah berhadapan baru dia sadar dan merasakan langsung adanya ancaman serius dari pemuda kepala gede ini.”

Oh-Put-jiu yang baru keluar dari dalam kamar gelap sejak tujuh tahun yang lalu, mirip sebatang pedang yang mendadak dilolos dari sarungnya. Meski cahaya kemilaunya tidak menyilaukan mata, namun hawa pedangnya terasakan menyentuh kulit.

Menghadapi pemuda ini, entah kenapa Ka-sing Tai-su tidak berani turun tangan.

Cui-Thian-ki mengawasi dengan cemas, walau senyum tidak menghias bibirnya, namun kini hatinya merasa lega dan terhibur. Tidak sia-sia ia menunggu tujuh tahun.

Orang yang didambakan, perjaka yang dirindukan akhirnya keluar dengan segar-bugar, lulus dengan hasil yang memuaskan.

Siapa pun yang akan kalah atau menang dalam duel ini, yang pasti Oh-Put-jiu berjuang demi mempertahankan kesucian dirinya.

Ban-lo-hu-jin juga tepekur, mulutnya bergumam, “Sungguh tak nyana untuk berduel juga memerlukan waktu selama ini, mungkin setelah mentari terbenam belum juga ada ketentuan siapa bakal menang dan kalah.”

Kungfu Ban-lo-hu-jin memang belum dapat dikategorikan kelas wahid, namun betapa luas pengalamannya, duel antara tokoh-tokoh silat yang pernah ia saksikan tentu lebih banyak dibandingkan orang lain.

Kini ia lihat adanya titik kelemahan kenapa Ka-sing Tai-su sejauh ini belum juga berani turun tangan. Yaitu kegarangan dan wibawa pemuda yang menjadi lawannya menjadikan padri ini merasa jeri dan bimbang.

Dalam benaknya hanya terpikir, cara bagaimana dirinya harus mengalahkan pemuda ini hanya dalam satu gebrak saja.

Bahwa Ka-sing Tai-su tidak berani segera turun tangan, memang merupakan siasatnya yang tepat.

Ban-lo-hu-jin manggut-manggut setelah memahami siasat Ka-sing Tai-su, mulut pun bergumam, “Ka-sing memang seorang jago lihai. Oh-Put-jiu, cepat atau lambat akhirnya kamu akan tamat ….”

Paling sedikit dalam satu gebrak itu, dirinya harus memperoleh kesempatan dan menempati posisi yang unggul, tujuannya untuk mematahkan wibawa dan kegarangan pemuda ini, memaksa pemuda ini mengembangkan dan mengerahkan seluruh kekuatannya yang terpendam.

Kalau hal ini gagal maka duel hari ini akan merupakan pertandingan sengit yang berkepanjangan.

Ternyata nenek ini juga memperhitungkan bila Ka-sing Tai-su tidak turun tangan, Oh-Put-jiu tentu juga tidak akan turun tangan lebih dulu.

Ternyata perhitungan Ban-lo-hu-jin kali ini keliru, salah sama sekali.

Tampak sorot mata Oh-Put-jiu mendadak mencorong, berbareng kedua tangannya bergerak secepat kilat.

Kelihatannya jurus ini dilancarkan secara sederhana, tidak aneh juga biasa saja, tapi makna dan gerak tangannya ternyata amat luas dan mendalam, seolah-olah segala keanehan, keajaiban yang ada di dunia ini terkandung dalam gerakan kedua telapak tangannya itu.

Ka-sing Tai-su tidak menduga bahwa Oh-Put-jiu berani turun tangan, berani menyerang, apalagi dengan jurus yang begitu sederhana. Hatinya hanya memperhitungkan cara bagaimana harus menyerang lawan, tapi tidak pernah berpikir bagaimana harus bertahan atau membela diri.

“Bagus!” Cui-Thian-ki berteriak memuji.

Berhasil atau tidak serangannya itu, orang memang patut memberi pujian.

Akan tetapi Ka-sing Tai-su memang tidak malu sebagai cikal-bakal suatu aliran kungfu di negerinya, betapa cepat reaksinya sungguh sukar dibayangkan.

Dalam kecepatan hanya sekejap itu ia mampu mengerahkan seluruh tenaga murninya ke telapak tangan untuk menyambut pukulan keras Oh-Put-jiu.

Ada pukulan yang bakal menentukan kalah dan menang! Duel yang akan menentukan mati dan hidup!

Sekuat-kuat Oh-Put-jiu usianya baru dua puluhan, mana mungkin menandingi lwe-kang Ka-sing Tai-su yang sudah diyakinkan sejak enam puluh tahun yang lalu?

Ada berapa banyak tokoh silat di dunia ini yang mampu melawan lwe-kang Ka-sing Tai-su?

Hanya satu harapan Cui-Thian ki, dengan bekal kungfu yang berhasil dipelajari Oh-Put-jiu dan pit-kip peninggalan Ci-ih-hou, cepat ia ganti posisi dan gerakan tangannya, dengan cara begitu kemungkinan masih ada harapan dapat mengalahkan Ka-sing Tai-su.

Di luar dugaan, Oh-Put-jiu tetap mendorong kedua telapak tangannya lurus ke depan.

“Blang!” telapak tangan mereka beradu. Cui-Thian-ki memejamkan mata, hatinya mengeluh sedih, “Salah …tamatlah sudah …”

Tapi yang salah justru bukan Oh-Put-jiu. Dalam usia dua puluhan tahun, lwe-kang Oh-Put-jiu memang belum setangguh lawannya, tapi selama berada dalam kabin kapal betapa gerah, pepat, gugup, menderita dan kesepian ….

Selama tujuh tahun kekuatannya sama sekali tidak pernah terlampias, tidak pernah dicoba, kesabarannya sudah mencapai batas-batas tertentu, batas yang tidak bisa dibatasi lagi. Kini segala penderitaan, siksa lahir dan batin selama di dalam kabin, seluruhnya dilimpahkan ke dua telapak tangannya.

Tujuh tahun, umpama tetesan air juga akan berubah menjadi aliran sungai.

Kekuatan yang terbenam selama tujuh tahun bila meledak dahsyat dan hebatnya.

Kekuatan pukulannya susah dibayangkan oleh siapa pun.

“Blang,” begitu telapak tangan beradu.

Duel ini bukan merupakan adu tenaga dalam atau lwe-kang. Tapi kekuatan lahir batin seorang pemuda yang sedang tumbuh dan mekar, melawan kekuatan terpendam orang tua yang terpupuk secara mendasar.

Begitu telapak tangan berada, tubuh Ka-sing Tai-su ternyata terpental.

Ban-lo-hu-jin menjerit kaget dan ngeri.

Cui-Thian-ki bersorak kegirangan.

Oh-Put-jiu masih berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak. Cahaya sang surya menyinari tubuhnya yang agak pendek, dalam pandangan Ban-lo-hu-jin tubuh kecil dengan kepala besar ini mendadak berubah menjadi raksasa.

Pakaian compang-camping yang melekat di tubuh si pemuda kelihatan mirip pakaian perang seorang jendral yang mengkilat, rambut yang awut-awutan itu berubah menjadi mahkota kebesaran seorang raja yang disanjung puji rakyatnya.

Ka-sing Tai-su meronta bangun, tapi jatuh lagi.

Darah merembes di ujung bibirnya, walau badan tak kuat merangkak berdiri, mendadak ia bergelak tawa, “Bagus, bagus, tidak sia-sia aku tunggu selama ini …Bu-kang-Pit-kip peninggalan Ci-ih-hou memang tiada tandingan di dunia, bocah ingusan yang masih bau pupuk juga mampu mengalahkan, diriku …”

“Hanya sayang kamu takkan bisa melihat Pit-kip itu,” demikian tukas Oh-Put-jiu dingin.

Ka-sing Tai-su bergelak tawa, “Yang pasti kungfu yang tiada taranya itu sudah memperoleh ahli warisnya. Lalu apa ruginya biarpun aku tidak bisa melihatnya?”

Mengawasi padri asing yang bergelak tawa seperti orang kesurupan setan, timbul rasa kagum dalam benak Oh-Put-jiu.

Kini hanya ada satu cita-cita hidupnya, yaitu melangkah maju untuk mencapai puncak tertinggi ajaran silat yang paling top di dunia.

Peduli berhasil tidak cita-citanya, yang terang dia sudah berjerih payah, berusaha dengan segala kemampuan.

Mendadak Oh-Put-jiu menarik napas panjang bergegas ia memburu maju dan memapah Ka-sing Tai-su yang meronta-ronta hendak berdiri.

Mendadak Cui-Thian-ki berteriak, “He, siluman tua, mau lari ke mana!”

Waktu Oh-Put-jiu menoleh, dilihatnya Cui-Thian~ki sudah mencengkeram dan menjinjing Ban-lo-hu-jin.

Begitu Ka-sing Tai-su terpukul roboh, diam-diam Ban-lo-hu-jin hendak ngacir, tapi baru tiga langkah, Cui-Thian-ki sudah membekuknya, saking takut badannya menjadi lemas, katanya dengan muka pucat, “Nona Cui buat …buat apa bikin susah orang tua seperti aku.”

Cui-Thian-ki tertawa. “Bikin susah apa sebetulnya begitu melihatmu langsung kubunuhmu saja.”

Gemetar suara Ban-lo-hu-jin, “Selama ini nenek tidak pernah berdosa terhadap nona Cui …”

“Tidak pernah berdosa terhadapku? ….” Cui-Thian-ki cekikikan, “Begitu datang kuanggap kamu sebagai sahabat karib, aku limpahkan isi hatiku padamu, tapi dengan tipu daya hendak kau celakai jiwaku, apa perbuatanmu ini tidak terhitung dosa?”

“Ya, meski aku berdosa, tapi aku …aku pernah berjasa juga.”

Makin manis tawa Cui-Thian-ki, makin ciut nyali Ban-lo-hu-jin, saking takut rasanya lidahnya mengkeret lebih pendek. Ban-lo-hu-jin, tahu watak nona ini, kalau Cui-Thian-ki membunuh orang, wajahnya selalu dihias senyum manis, senyum yang menggiurkan.

Senyum Cui-Thian-ki memang mempesona, suaranya juga lembut. “kau pun berjasa? …Oo, kau punya jasa apa, coba jelaskan.”

“Kalau bukan karena ulah nenek bangkotan ini, Oh-Put ….Oh-tai-hiap kini tentu masih berada dalam kabin, mungkin tidak akan keluar, dan bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan Ka-sing Tai-su!”

Cui-Thian-ki cekikikan, “Mulutmu memang pandai bicara, orang mati juga bisa kau hidupkan lagi. Tapi aku tidak akan tertipu lagi olehmu, apa pun yang kau katakan, aku tetap akan ….”

“Ampunilah dia,” mendadak Oh-put-jiu berkata.

Cui-Thian-ki berpaling, katanya dengan tertawa “Kenapa harus diampuni? Apa belum cukup siluman tua ini berbuat dosa terhadap sesama manusia?”

Oh-Put-jiu menghela napas, “Tapi apa yang diucapkan juga benar, kalau bukan desakannya, entah sampai kapan aku harus menyekap diri dalam kabin itu, entah kapan baru aku akan keluar. Dalam kabin itu, aku sudah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri ….”

Lalu dengan tertawa hambar Oh-Put-jiu melanjutkan, “Kalau bukan karena desakannya, mungkin aku takkan berani keluar dari kabin itu.”

Cui-Thian-ki menatapnya nanar, sampai sekian lama kemudian mendadak ia tertawa manis pula, katanya halus, “Baiklah, kau bilang mengampuninya, maka aku akan mengampuninya.”

Kalau nona secantik dia bertindak kejam terhadap seseorang, maka kekejamannya tentu melebihi orang lain. Tapi kalau dia bersikap lembut dan welas asih, maka perbuatannya pasti lebih baik, lebih bijaksana dibanding orang lain.

“Terima kasih,” Oh-Put-jiu tertawa lega.

Tujuh tahun hidup dalam kegelapan, menderita dan kesepian, telah mengubah senyum lebar yang dahulu selalu terkulum di ujung bibirnya menjadi kaku dan tawar, namun dalam pandangan seorang mana yang dirundung kasmaran justru kelihatan menarik, punya daya tarik yang merangsang.

Cui-Thian-ki menatapnya pula sekian lama suaranya perlahan, “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.”

Mendadak ia melompat maju dan mencium sekali di pipi Oh-Put-jiu, lalu selincah burung walet ia lari ke dalam gubuknya.

Bila Cui-Thian-ki keluar lagi dari gubuknya yang mungil itu, Oh-Put-jiu sudah mencuci bersih badannya yang kotor, membersihkan dekil yang melekat ditubuhnya sejak tujuh tahun yang lalu. Kalau seorang tidak punya tekad, kemantapan hati, dekil yang melekat di badan selama tujuh tahun, siapa pun takkan kuat menahannya.

Bila layar pancawarna diturunkan, tangan Cui-Thian-ki sudah menjinjing sebuah buntalan.

Kini sudah tiba saatnya mereka meninggalkan pulau ini.

Oh-Put-jiu berkata, “Kapal yang dibawa Ban-lo-hu-jin itu entah masih bisa digunakan berlayar?”

“Masih bisa digunakan,” lekas Ban-lo-hu-jin menjawab.

Cui-Thian-ki tertawa, “Asal kapal itu tidak tenggelam, aku punya akal untuk mempergunakan berlayar kembali.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: