Kumpulan Cerita Silat

13/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 03

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:30 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 03
Penyergapan
Oleh Gu Long

Fajar baru menyingsing, udara terasa dingin sekali hingga serasa menusuk tulang.

Ketika Cho Tang-lay baru mendusin, Suma Cau-kun sudah menanti di ruang depan, duduk di kursi beralaskan kulit binatang dan meneguk arak anggur buatan Persia-nya.

Hanya Suma Cau-kun seorang yang boleh berbuat demikian, sebab dahulu pernah terjadi suatu peristiwa.

Suatu hari seorang gadis yang mengira Cho Tang-lay tak mungkin bisa meninggalkan dirinya, baru akan duduk di kursi tersebut. Akibatnya dalam keadaan telanjang bulat dia dilempar keluar dari pintu.

Semua yang dimiliki Cho Tang-lay hanya milik dia seorang, tak nanti dia akan mengijinkan orang lain untuk turut menikmatinya kecuali Suma Cau-kun seorang.

Tapi Cho Tang-lay toh membiarkan boss-nya menunggu cukup lama di luar sebelum dia keluar dari kamar tidurnya dengan mengenakan jubah longgar dan bertelanjang kaki.

Ucapan pertama darinya adalah bertanya kepada Suma Cau-kun: “Begini pagi sudah sampai di sini, apakah kau ingin buru-buru mengetahui mengapa kulepaskan Cu Bong kemarin?”

“Benar!” sahut Suma Cau-kun, “aku tahu kau pasti mempunyai banyak alasan, sayang tak satupun yang berhasil kudapatkan.”

Cho Tang-lay juga duduk di atas sebuah kursi beralas kulit binatang, padahal di hari-hari biasa ia selalu berpakaian rapi di depan Suma Cau-kun, sikapnya hormat dan belum pernah duduk sejajar dengan Suma Cau-kun.

Karena dia ingin orang lain merasa bahwa Suma Cau-kun selalu berada di atas.

Tapi sekarang dalam ruangan itu hanya mereka berdua.

“Aku tak dapat membunuh Cu Bong,” ujar Cho Tang-lay, “pertama karena aku tidak ingin membunuhnya, kedua akupun tak punya keyakinan untuk berhasil.”

“Mengapa kau tak ingin membunuhnya?”

“Seorang diri ia memasuki daerah pusat kekuasaan kita, dengan babatan goloknya menghabisi nyawa panglima kita, setelah tu sebenarnya dia bisa pergi dari sana, tapi lantaran ia harus menemani seorang sahabat untuk minum arak, maka ia tetap tinggal di situ.”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi dengan suara hambar: “Bila kubunuh dia dalam keadaan begitu, di kemudian hari orang persilatan pasti akan mengatakan bahwa si Singa jantan Cu Bong memang tak malu disebut seorang lelaki sejati, cukup setia kawan, cukup punya nyali.”

Kemudian setelah tertawa dingin, lanjutnya: “Bila kubinasakan dirinya, bukankah hal ini sama artinya dengan menyempurnakan ketenarannya.”

Suma Cau-kun memperhatikan arak dalam cawan kristalnya, sampai lama kemudian dia baru berkata lagi dingin: “Aku tahu kau pasti mempunyai alasan, tapi aku tidak habis mengerti, mengapa kau katakan tak yakin bisa menang? Bukankah jumlah anak buah yang kau bawa sangat banyak? Masa kekuatan sedemikian besarnya tak sanggup menghadapi mereka bertiga?”

“Bukan tiga, melainkan empat orang.”

“Siapakah orang yang ke empat itu?”

“Aku tidak melihat dengan jelas, tapi aku dapat merasakan dia berdiri di luar jendela di belakangku, walaupun dia berdiri agak jauh di luar jendela, namun dalam perasaanku dia seakan-akan berada begitu dekat dengan punggungku.”

“Mengapa?”

“Sebab dia mempunyai hawa napsu membunuh. Belum pernah kujumpai hawa pembunuhan yang sedemikian menakutkannya.”

“Kau tidak berpaling untuk melihatnya dengan jelas?”

“Tidak! Sebab aku tahu dia mengawasiku terus menerus, seakan-akan memberi peringatan secara khusus kepadaku, asal aku berani melakukan suatu gerakan, entah gerakan apapun, ia dapat turun tangan secara tiba-tiba.”

Setelah berhenti sejenak, terdengar Cho Tang-lay berkata lebih jauh: “Biarpun aku tidak melihat wajahnya, namun Ko Cian-hui tentu melihat tampangnya dengan jelas.”

“Darimana kau tahu?”

“Waktu itu Ko Cian-hui duduk tepat di hadapanku, persis menghadap ke arah jendela, ketika kurasakan hawa napsu membunuh tersebut, paras muka Ko Cian-hui turut berubah pula, seakan-akan ia melihat sukma gentayangan secara tiba-tiba. Ko Cian-hui boleh di bilang seorang jago pedang nomor wahid di kolong langit dewasa ini, bila tanpa suatu sebab tertentu, mengapa dia menaruh perasaan jeri dan ngeri terhadap seseorang yang masih terasa asing baginya?”

Mendadak Suma Cau-kun mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Maka kaupun merasa takut?” dengan nada mengejek Suma Cau-kun berkata, “benar-benar tak kusangka Cho Tang-lay pun bisa menjadi takut, takut kepada seseorang yang sama sekali tak sempat dilihatnya dengan jelas.”

Cho Tang-lay memandang wajahnya dengan pandangan dingin, menanti gelak tertawanya sudah selesai, dia baru berkata dengan suara yang tenang: “Biarpun aku tidak menyaksikan wajahnya, namun aku tahu siapakah dia.”

“Siapakah dia?” Suma Cau-kun segera menghentikan gelak tertawanya, “apakah kau menganggap dia adalah orang yang telah membinasakan Nyo Kian?”

“Benar, sudah pasti benar!”

Setelah berhenti sejenak Cho Tang-lay berkata lebih jauh: “Orang ini pasti sangat jarang melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, pasti mempunyai suatu hubungan yang sangat istimewa dengan Cu Bong, tapi bukan berarti menjadi anak buahnya Cu Bong….. dan akupun yakin senjata yang dipergunakan orang ini sudah pasti terhitung senjata yang paling menakutkan dan belum pernah dijumpai manusia selama ini, senjata yang pada saat bersamaan dapat menggunakan banyak jenis senjata untuk menunjukkan kehebatannya…….”

“Masih ada?” Suma Cau-kun bertanya.

“Sudah tidak ada lagi.”

“Hanya itu saja yang berhasil kau ketahui?”

“Sampai detik ini hanya itu saja yang kuketahui, bahkan bagaimanakah bentuk dari senjata tersebut pun belum bisa kubayangkan sekarang, tapi aku yakin apa yang keketahui sekarang masih jauh lebih banyak daripada apa yang diketahui orang lain.”

Suma Cau-kun ingin tertawa, namun ia tak mampu memperdengarkan gelak tertawanya.

Cho Tang-lay adalah sahabatnya, sahabat karib yang pernah hidup mati gembira sengsara bersamanya, Cho Tang-lay terhitung pembantunya yang paling diandalkan pula.

Tapi siapapun tak mengerti, apa sebabnya bila mereka berdua sedang berada berdua, ia selalu berusaha memojokkan Cho Tang-lay seakan-akan ingin melukai hatinya.

Selama ini Cho Tang-lay tak pernah memberikan perlawanan, bahkan reaksi sedikitpun tak ada.

Selesai meneguk habis secawan arak anggur, mendadak Suma Cau-kun bertanya kepada Cho Tang-lay: “Sekarang Sun Thong sudah mati, bagaimana dengan Kwik Chung?”

“Kwik Cung pun tak ada!”

“Kemarin pagi aku masih melihat dia, mengapa pagi ini sudah tak nampak?”

“Sebab kemarin pagi aku sudah menyuruh dia berangkat ke Lok-yang. Begitu mendengar Cu Bong sudah sampai di Ang-hoa-ki, aku lantas menitahkan kepadanya untuk pergi.”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya: “Aku suruh dia setiap lima ratus li ganti kuda sekali, siang malam menempuh perjalanan tiada hentinya, dia mesti sampai dulu ke kota Lok-yang sebelum Cu Bong pulang.”

Berkilat sepasang mata Suma Cau-kun, mendadak ia bertanya: “Apakah dia pasti dapat menyusul ke sana?”

“Pasti dapat!”

“Seandainya ia gagal?”

“Aku suruh dia mampus di kota Lok-yang dan tak usah pulang lagi.” sahut Cho Tang-lay hambar.

Suma Cau-kun sama sekali tidak bertanya lagi kepada Cho Tang-lay, apa sebabnya dia menyuruh Kwik Chung pergi ke Lok-yang dan mengerjakan apa di sana.

Masalah seperti ini tak perlu ditanyakan lagi.

Cho Tang-lay adalah pembantunya yang terutama, boleh dibilang semua rencana dan gerak-geriknya cukup dia pahami.

Sekarang Cu Bong sedang menempuh perjalanan jauh, biarpun jago-jago andalannya tidak turut datang, sudah pasti mereka telah mempersiapkan diri di sepanjang jalan.

Ini berarti sebelum Cu Bong pulang kembali, penjagaan di dalam markas besar Hiong-say-tong pasti lemah sekali, inilah kesempatan yang terbaik untuk melancarkan penyergapan.

Asal kesempatan yang terbaik ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, penyergapan kali ini pasti akan jauh lebih bermanfaat daripada sepuluh kali pertarungan sengit.

Siasat perang semacam ini sesungguhnya merupakan siasat yang sering digunakan Cho Tang-lay.

Rencananya kali ini benar-benar keji, dahsyat dan berani, juga merupakan taruhan terbesar yang dilakukan Cho Tang-lay selama ini.

Terpaksa Suma Cau-kun bertanya kepada Cho Tang-lay: “Kau hanya mengutus Kwik Chung?”

“Di kota Lok-yang pun kita mempunyai anak-buah, jadi Kwik Chung bukan pergi ke sana seorang diri.”

“Masih ada siapa lagi?”

“Masih ada Bok Ki si Ayam Kayu!”

“Hah…si Ayam Kayu?” tergetar wajah Suma Cau-kun, “kau tidak membunuhnya?”

“Dia adalah seorang manusia yang sangat berguna, berguna pula untuk diri kita, mengapa aku harus membunuhnya?”

“Dia toh di utus Cu Bong untuk membunuh Nyo Kian. Apakah kau tidak kuatir dia akan mengkhianati kita?”

“Yang akan dibunuh olehnya sekarang sudah bukan Nyo Kian, melainkan Cu Bong.”

“Mengapa?”

“Karena dia sudah tahu kalau Cu Bong hanya ingin memperalat dirinya sebagai tameng belaka, bahkan memang berniat menghantarkan kematiannya kemari, sebab Cu Bong sudah menghitung dengan tepat kalau dia tak akan berhasil. Dia tidak takut diperalat orang, tapi tak akan tahan menghadapi penghinaan seperti ini.”

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan: “Apalagi aku telah membayar sejumlah uang yang jauh lebih besar daripada apa yang dibayar Cu Bong kepadanya.”

Suma Cau-kun menatap ke arahnya, sorot mata itu penuh memancarkan sinar ejeken yang sinis.

“Sekarang aku baru tahu mengapa kau tidak membunuh Cu Bong,” kata Suma Cau-kun, “kau mengharapkan dia pulang dalam keadaan hidup, kau ingin dia merasakan dulu pelajaran yang akan kau berikan kepadanya, kau menginginkan agar dia mengetahui kelihayanmu.”

Sambil memandang Cho Tang-lay dan tersenyum ia melanjutkan: “Kau memang selalu demikian, selalu menginginkan agar orang lain membencimu juga takut kepadamu.”

“Benar! Aku memang berharap Cu Bong menjadi takut, agar dia takut sehingga melakukan kesalahan dan kebodohan yang tak terampuni lagi. Cuma yang benar aku bukan berniat membuatnya takut kepadaku, melainkan takut kepadamu.”

Suaranya lembut sekali, seakan-akan dia memang berbicara dengan suara hati yang sebenarnya: “Kecuali kita sendiri, tiada orang yang tahu siapakah yang sebenarnya mengatur gerakan kali ini.”

Suma Cau-kun melompat bangun, otot-otot hijau pada keningnya pada menonjol semua.

“Tapi aku tahu dengan pasti,” teriaknya keras-keras, “untuk melakukan pekerjaan sedemikian besarnya, mengapa kau tidak bertanya dulu kepadaku? Mengapa kau harus melakukannya lebih dulu baru kemudian melaporkan segala sesuatunya kepadaku?”

Sikap Cho Tang-lay masih tetap tenang dan kalem, dengan suatu pandangan yang lembut ditatapnya wajah Suma Cau-kun.

“Karena yang kuinginkan darimu bukan pekerjaan semacam ini, aku ingin kau melakukan suatu pekerjaan besar, agar kau menjadi seorang Enghiong yang tiada keduanya di dunia ini serta menyelesaikan suatu karya besar yang tak pernah ada keduanya di kolong langit……”

Suma Cau-kun mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang dan melotot ke arahnya sampai lama sekali, mendadak dia menghela napas dan mengendorkan kembali kepalannya. Pelan-pelan dia bangkit berdiri kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun berjalan menuju keluar.

Tiba-tiba Cho Tang-lay bertanya kembali: “Ko Cian-hui masih berada di sekitar Tiang-an, menunggu jawaban darimu, kapan kau berniat untuk bertarung dengannya?”

Suma Cau-kun tidak berpaling, ia masih melanjutkan langkahnya ke depan.

“Terserah kepadamu,” tiba-tiba suaranya berubah sedingin salju, “dalam masalah seperti ini, aku percaya kau tentu sudah mempersiapkannya dengan baik, bagaimanapun juga bertarung dalam keadaan dan saat apapun sama saja hasilnya bagi dia, ia tak mempunyai setitik kesempatanpun, karena aku tak akan memberikan kesempatan seperti apapun kepadanya…………..”

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya: “Maka di dalam masalah seperti ini, kau tak usah bertanya lagi kepadaku di kemudian hari.”

—–

Ketika Ko Cian-hui mendusin, tangan dan kakinya hampir menjadi kaku karena kedinginan.

Sebenarnya di dalam bilik sederhana dalam rumah penginapan murahan ini terdapat sebuah tungku pemanas kecil namun sekarang arang untuk tungku pemanas tersebut sudah hampir ludas terbakar.

Ia melompat bangun dan melakukan enam tujuh puluhan macam gaya yang aneh-aneh, tubuhnyapun seperti karet lemas dapat berputar dan membentuk gerakan apapun yang dikehendaki.

Baru setelah mencapai gerakan ke sebelas, seluruh badannya mulai terasa hangat kembali, tatkala semua gerakan sudah selesai dilakukan, ia merasa semangatnya menjadi segar kembali, wajahnya bercahaya dan hatinya amat riang.

Ia percaya, hari ini pasti dapat bertemu dengan orang yang membawa peti tersebut.

Sejak meninggalkan warung teh kemarin, dia telah berjumpa tiga kali lagi dengan orang ini, pertama kali bertemu di tepi sebuah sungai kecil yang telah membeku, sekali berjumpa di kaki bukit dan sekali lagi di sebuah lorong sempit dalam kota Tiang-an.

Ia dapat melihat kesemuanya itu dengan jelas.

Biarpun sampai sekarang dia belum dapat melihat jelas paras muka orang itu, namun jubah kapasnya yang abu-abu dan kotak kulit kerbaunya yang coklat tak mungkin akan salah lihat lagi.

Sayangnya setiap kali dia menyusul ke depan, orang itu seakan-akan menguap ke udara saja, tahu-tahu hilang lenyap tak berbekas.

Namun ia tak putus asa, dalam hati kecilnya dia telah memutuskan untuk melanjutkan pengejaran, dan dia harus pulang ke rumah untuk beristirahat lebih dulu sebelum melanjutkan cita-citanya.

Beberapa kali pemunculannya membuat dia menarik kesimpulan kalau orang itu bukannya tidak bermaksud untuk bertemu dengannya, kalau tidak, mustahil dia akan sengaja menampakkan diri di hadapannya sebanyak tiga kali.

Bisa jadi orang itu sedang menyelidiki tentang dia, menyelidiki ilmu silatnya, menyelidiki apakah dia menaruh niat jahat kepada dirinya.

Siau-ko percaya bila ia tidak pergi mencarinya lagi, cepat atau lambat orang itu tentu akan menampakkan diri.

Biarpun salju sudah berhenti sekarang, udara terasa lebih dingin, maka Siau-ko memutuskan untuk bersantap semangkuk mie kuah panas lebih dulu.

Baru tiba di rumah makan, penjual mie langganannya, Siau-ko telah melihat lagi orang itu bersama petinya.

Sekarang, belum tiba saat untuk bersantap siang, tidak banyak tamu yang bersantap di warung penjual bakmi itu.

Orang itu duduk di sudut ruang yang merupakan tempat Siau-ko biasa duduk, ia sedang makan semangkuk mie, semangkuk mie kuah sawi putih seperti kegemaran Siau-ko.

Petinya terletak di sisi tangannya. Sebuah peti berbentuk pipih dengan lebar satu depa dan panjang dua depa.

Benda apakah yang terdapat dalam peti itu? Benarkah peti yang begini sederhananya adalah senjata yang paling menakutkan di dunia saat ini?

Siau-ko ingin sekali menerjang ke depan, merampas peti tersebut dan membukanya.

Tapi ia berusaha untuk mengendalikan gejolak emosi tersebut.

Entah bagaimanapun juga, kali ini dia dapat melihat raut wajah orang itu dengan jelas.

Selembar wajah kuning kepucat-pucatan dengan sepasang mata yang sayu tak bercahaya, gerak-geriknya lemah seperti orang tak bertenaga, persis seperti pasien yang terserang sakit parah selama tujuh delapan belas tahun, orang yang hampir sekarat.

Biarpun dalam warung itu penuh dengan tempat kosong, namun Siau-ko bersikeras menghampiri orang itu dan duduk dihadapannya.

Ia memesan dulu semangkuk mie, kemudian baru ujarnya kepada orang tersebut: “Aku she Ko, Ko dalam arti kata tinggi, nama lengkapku Ko Cian-hui yang artinya kian lama kian terbang tinggi.”

Orang itu sama sekali tidak memberi reaksi, seolah-olah dia tidak melihat kalau dihadapannya sudah seseorang yang duduk di situ.

Kotak kulit kerbau berwarna coklat itu berada di tepi meja, bila Siau-ko menghendaki, sekali raih saja benda tersebut akan berhasil direbutnya.

Bila dia merebut kotak itu, lantas melarikan diri, apa akibatnya yang bakal terjadi?

Siau-ko tidak berani mencobanya.

Di hari-hari biasa, nyalinya memang besar, agaknya tiada beberapa persoalan yang tak berani dia lakukan.

Tapi manusia yang nampaknya sudah sakit parah dan hampir sekarat ini justru memiliki semacam tenaga misterius yang tak bisa dijelaskan, suatu daya pengaruh yang membuat siapapun tak berani memusuhinya secara sembarangan.

Kembali Siau-ko memperhatikannya beberapa saat, mendadak sambil merendahkan suaranya sehingga suara tersebut hanya dia seorang yang mendengar ia berbisik: “Aku tahu, kaulah orangnya, aku tahu kaulah yang telah membunuh Nyo Kian.”

Akhirnya orang itu mendongakkan juga kepalanya dan memandang sekejap ke arahnya, dari balik sorot matanya yang pudar, tak bersinar, mendadak terlintas cahaya berkilat, seakan-akan munculnya sekilas halilintar di tengah langit yang kelabu.

Namun setelah halilintar itu lewat, sama sekali tak kedengaran suara guntur.

Dengan cepat orang itu pulih kembali menjadi lemah tak bertenaga, ia merogoh ke dalam sakunya mengeluarkan uang dan diletakkan di meja, kemudian dengan mulut tetap membungkam, mengangkat kotaknya dan berlalu dari situ.

Dengan cepat Siau-ko menyusul kemudian.

Kali ini, ternyata orang itu tidak seperti tiga kali berselang, hilang lenyap dengan begitu saja di tengah udara.

Ia selalu berjalan di muka, bahkan berjalan amat lambat, seakan-akan kuatir kalau Siau-ko tak sanggup menyusulnya.

Setelah berjalan setengah harian, tiba-tiba Siau-ko menyaksikan dia berjalan kembali ke lorong sempit di mana kemarin pernah di jumpai……

Lorong jelek ini sepi dan hening, sebuah lorong buntu yang jarang dilewati manusia.

Berdebar keras detak jantung Siau-ko setelah menyaksikan kesemuanya itu.

Mungkinkah dia sengaja mengajaknya kemari karena dia sudah mengetahui rahasianya? Dan sekarang dia bermaksud hendak menghilangkan saksi dengan mengandalkan peti rahasianya?

Pada hakekatnya Siau-ko tidak tahu senjata macam apakah peti tersebut, diapun tak tahu apakah serangan tersebut dapat dibendung dengan mempergunakan jurus pedang yang dimilikinya?

Justru karena dia tidak tahu, maka hatinya tiba-tiba merasa takut dan ngeri yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

Tapi orang ini tampaknya tidak mirip seorang pembunuh, juga tidak model seorang manusia yang pandai membunuh.

Sekarang dia telah membalikkan badan, menghadap ke arah Siau-ko, lewat lama kemudian dia baru bertanya kepada Siau-ko dengan suara yang datar namun agak parau: “Tahukah kau siapakah aku?”

“Tidak tahu.”

“Sebelum bulan satu tanggal lima belas, pernahkah kau berjumpa denganku?”

“Tidak pernah.”

“Apakah tampangku adalah tampang dari seorang manusia yang pandai membunuh sesamanya?”

“Bukan!”

“Pernahkah kau saksikan aku membunuh orang?”

“Tidak pernah!”

“Mengapa kau mengatakan aku telah membunuh Nyo Kian?”

“Karena petimu itu.” sahut Siau-ko, “aku tahu di dalam peti ini terdapat sejenis senjata yang amat misterius, bahkan sangat menakutkan…….”

Orang itu mengamati Siau-ko, mengamati sampai lama sekali.

Sorot matanya, sikapnya, gayanya sewaktu berdiri, napasnya, bahan pakaiannya dan bungkusan di dalam genggamannya, hampir setiap bagian telah diperhatikan olehnya dengan seksama.

Tampaknya dia memperhatikan jauh lebih teliti ketimbang Cho Tang-lay, sepasang matanya yang sayu dan berwarna kelabu seakan-akan tersimpan semacam bentuk senjata rahasia yang bisa dipakai untuk menyelidiki orang lain.

Kemudian dengan mempergunakan suara yang sama datarnya dia bertanya lagi kepada Siau-ko: “Kau bilang namamu Ko Cian-hui?”

“Benar!”

“Kau datang dari mana?”

“Dari atas gunung”

“Apakah sebuah gunung yang tinggi sekali? Apakah tempat kediamanmu terdapat sebuah mata air dan sebatang pohon Siong?”

“Benar”

“Apakah pakaian yang kau kenakan dipintal dari kapas yang dihasilkan sendiri di belakang bukit itu?”

“Benar”

Siau-ko mulai terkejut bercampur keheranan, tampaknya apa yang dia ketahui tentang dirinya jauh lebih banyak daripada orang lain.

“Apakah di atas gunung itu terdapat seorang kakek yang suka minum teh? Apakah dia sering duduk di bawah pohon Siong itu untuk memasak air dengan mata air di sisinya?”

“Benar, tentang petimu itu aku bisa mengetahui darinya.”

“Apakah dia menceritakan juga tentang diriku ini?”

“Tidak!”

Orang itu menatap wajah Siau-ko tajam-tajam, dari balik matanya yang sayu terlintas setitik cahaya tajam.

“Apakah diapun tak pernah menyinggung tentang diriku? Sedikit masalahpun yang berhubungan denganku juga tak pernah ia singgung?”

“Sama sekali tidak, dia orang tua hanya memberitahukan kepadaku, senjata yang paling menakutkan di dunia ini adalah sebuah peti.”

“Pernahkah kau memberitahukan hal ini kepada orang lain?”

“Tidak pernah.”

“Adakah orang lain yang mengetahui asal usulmu?”

“Tidak ada,” Siau-ko kembali menggeleng, “Cho Tang-lay pernah memeriksa bahan pakaianku, rupanya dia ingin meraba asal usulku dari bahan pakaian yang kukenakan, sayang sekali dia tak berhasil menemukan apa-apa.”

Kapasnya mereka tanam sendiri, kainnya mereka pintal sendiri, pakaiannya mereka jahit sendiri, bukit itupun sebuah bukit tinggi tanpa nama, kecuali mereka tak pernah ada orang awam lain yang pernah menginjakkan kakinya di sana.

Sambil tersenyum Siau-ko berkata: “Biarpun Cho Tang-lay mempunyai kepandaian yang luar biasa di dunia ini, jangan harap dia bisa menyelidiki asal usulku.”

“Bagaimana dengan pedangmu? Apakah ada orang yang pernah melihat pedangmu itu?” kembali orang itu bertanya.

“Ada beberapa orang.”

“Siapa saja mereka itu?”

“Beberapa orang yang telah mampus, setiap orang yang melihat pedangku ini telah tewas semua di ujung pedang tersebut.”

“Apakah pedangmu itu mempunyai sesuatu keistimewaan?”

“Benar!”

“Apa sih keistimewaannya?”

“Pada punggung pedang ini terdapat sebuah bekas yang aneh sekali, bekas tersebut seperti bekas tetesan air mata seseorang………”

Tiba-tiba saja dari mata manusia pembawa peti itu menampilkan suatu perubahan yang sukar dimengerti oleh siapapun, seakan-akan merasa sangat sedih, seolah-olah juga merasa amat gembira.

“Tetesan air mata, wahai tetesan air mata, rupanya di dunia ini betul-betul terdapat pedang seperti ini,” ia bergumam, “mengapa di atas pedang pembunuh terdapat noda tetesan air mata? Mengapa di dunia ini harus ada pedang semacam ini?”

Siau-ko tak mampu menjawab.

Persoalan semacam ini memang suatu masalah yang pelik, masalah yang mungkin tak terjawabkan oleh siapapun.

Akhirnya Siau-ko tak tahan untuk bertanya lagi kepadanya: “Sekarang apakah kau sudah dapat memberitahukan kepadaku, siapakah kau sebenarnya? Mengapa bisa mengetahui begitu banyak tentang urusanku?”

Orang itu tetap membungkam, tak berbicara sepatah katapun, mendadak ia tempelkan ibu jari di ujung jari tengah dan memetikkan suara nyaring.

Dalam waktu singkat Siau-ko mendengar suara berputarnya roda kereta dan derap kaki kuda yang ramai berjalan mendekat.

Menanti ia berpaling, sebuah kereta berkain hitam sudah terparkir di depan lorong jelek itu.

Manusia berpeti itu sudah mengangkat petinya beranjak pergi, membuka pintu keretanya dan duduk ke dalam, setelah itu baru bertanya kepada Siau-ko: “Apakah kau bersedia naik?”

Dari mana datangnya kereta itu?

Siau-ko tidak tahu.

Hendak kemanakah kereta itu?

Siau-ko juga tidak tahu.

Namun toh dia naik juga, biarpun dia jelas mengetahui kereta itu akan membawanya ke neraka, ia akan tetap mengikutinya.

Ruang kereta itu luas, mewah lagi nyaman, keretapun berjalan cepat tapi mantap, agaknya ke empat ekor kuda, penghela maupun kusirnya telah menerima pendidikan yang ketat dan keras.

Tak bisa disangkal pula kereta maupun roda kereta dirancang secara khusus dan istimewa, sebab sekalipun seorang raja muda, belum tentu dia memiliki kereta kuda sebaik ini.

Tapi, seorang manusia sederhana yang berpakaian sederhana dengan hidangan yang sederhana, mengapa bisa memiliki kereta kuda yang begitu megah dan mewah?

Banyak persoalan yang ingin ditanyakan Siau-ko, tapi setelah naik ke dalam kereta, orang itu pejamkan matanya, begitu pejamkan mata, lantas tertidur.

Peti yang amat misterius itu terpampang di hadapannya, persis di depan tempat duduknya.

Sekali lagi Siau-ko merasakan hatinya tergerak.

‘Kalau ku curi lihat peti ini, apa yang akan dia lakukan?’ demikian dia berpikir, ‘aaahhh, aku toh cuma ingin tahu, biarpun ketahuan, rasanya toh tak menjadi soal…….’

Ya, daya rangsang tersebut memang terlalu besar, sedemikian besarnya sampai sukar dilawan.

Akhirnya Siau-ko tak kuasa menahan diri lagi, dia mengulurkan tangannya ke depan.

Tangannya bisa bergerak cekatan berkat pengalamannya selama banyak tahun, apalagi pernah memperoleh pendidikan yang sangat ketat, menyusul percobaan yang pertama secara beruntun dia melepaskan pula tiga puluhan kunci yang dibuat oleh sebelas ahli kunci kenamaan di bagian-bagian yang berbeda.

Bagi orang lain, biarpun ada anak kunci yang tersediapun mungkin kesulitan untuk membukanya, tapi alat yang dia gunakan saat ini tak lebih hanya seutas kawat.

Alat rahasia di atas peti tersebut dengan cepat berhasil dia temukan, lalu ‘kraaakk!’ alat rahasianya berhasil di sentuh.

Pemilik peti itu masih juga tertidur nyenyak.

Benda apakah yang terdapat dalam peti itu?

Mengapa orang bilang peti ini merupakan senjata yang paling menakutkan di dunia ini?

Akhirnya rahasia dibalik peti itu akan terungkap.

Siau-ko merasakan detak jantungnya berdebar lebih keras lagi.

Dengan suatu cara yang pelan dan lembut, pelan-pelan dia membuka penutup peti itu.

Isi peti tersebut agaknya cuma sejumlah pipa besi dan lempengan besi yang jumlahnya kira-kira tiga empat belas macam, setiap jenisnya memiliki bentuk maupun ukuran yang berbeda-beda.

Sayang sekali Siau-ko tak sempat melihat jelas.

Begitu penutup peti itu dibuka, tiba-tiba saja dia mengendus bau harum bunga yang semerbak memancar ke luar dari balik peti itu.

Menyusul kemudian, iapun roboh tak sadarkan diri.

Mengapa sebuah lempengan besi yang tak beraturan bentuknya bisa dianggap sebagai senjata yang paling menakutkan di dunia ini?

Siau-ko belum sadar seluruhnya, tapi pertanyaan tersebut bagaikan seekor ular berbisa yang selalu menggelitik di dalam hatinya.

Sampai dia betul-betul sadar, Siau-ko baru dibuat tertegun saking terperanjatnya oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya saat ini.

Secara tiba-tiba ia menemukan bahwa dirinya telah sampai di suatu tempat yang baru mungkin terjadi bila ia sedang mendapat suatu impian yang paling hebat.

Tempat tersebut menyerupai sebuah gua di lambung bukit, dan Siau-ko yakin barang siapapun yang sampai di situ pasti akan mempunyai perasaan yang sama dengannya, terpesona oleh suasana gua itu.

Belum pernah ia saksikan pula benda-benda luar biasa yang hebat dan mengejutkan seperti ini di tempat manapun di dunia ini.

Dimulai dari lentera kristal buatan Persia yang digantungkan di antara batu-batu kristal beraneka ragam, permadani berlukisan indah menutupi permukaan tanah sampai berbagai ragam senjata tajam berbentuk aneh yang di atur dalam empat rak besar, pokoknya hampir semua benda yang berada di situ belum pernah dilihat bahkan didengar oleh Siau-ko sebelumnya.

Selain daripada itu terdapat pula San-hu (lukisan) dalam ketinggian beberapa kaki, gading gajah sepanjang beberapa depa, kuda putih yang terbuat dari batu pualam, Manau (intan permata) merah dan Zamrud hijau yang indah berkilau.

Di sisi lain, terdapat sebuah meja besar yang dipenuhi dengan berpuluh-puluh ragam botol kristal yang berisikan arak wangi dari manca negara.

Empat lima orang gadis cantik berpakaian rawan berdiri di sisi pembaringan dan sedang memandang ke arah Siau-ko dengan senyum manis dikulum.

Salah seorang di antaranya berambut pirang, bermata hijau dan berkulit putih seperti salju, ia tertawa paling polos dan menarik.

Di samping itu terdapat pula gadis berkulit coklat, tubuhnya halus lembut dan seakan-akan berminyak sehingga kelihatan agak berkilauan.

Siau-ko benar-benar terpesona dibuatnya.

Senjata-senjata tersebut, intan permata itu, gadis-gadis cantik tersebut, hampir semuanya merupakan benda-benda langka yang jarang dapat dijumpai setiap orang.

Mungkinkah tempat tersebut bukan di alam semesta lagi?

Kalau tempat semacam inilah yang dinamakan neraka, pasti ada berjuta-juta manusia yang lebih suka memilih masuk neraka daripada hidup di alam dunia.

—–

“Siapakah kalian? Dimanakah tempat ini?”

Pertanyaan tersebut telah diajukan berulang kali, namun gadis-gadis tersebut cuma tertawa, tertawa melulu tanpa berbicara.

Siau-ko ingin bangkit berdiri, namun bahunya segera ditekan oleh tangan lembut seorang gadis cantik yang berdiri di sisinya.

Siau-ko segera duduk kembali, ia tak berani meronta, apalagi menyentuh gadis tersebut.

Walaupun dia tahu bahwa dirinya termasuk seorang lelaki yang tidak gampang terangsang atau terpikat oleh bujuk rayu gadis-gadis cantik.

Tapi yang membuatnya paling tak tahan adalah gadis berambut pirang bermata hijau tersebut, terutama belaian tangannya yang begitu lembut di atas wajahnya, menghembuskan napas lembut di sisi telinganya.

Siau-ko mengerti, salah satu ‘bagian’ dari rongga tubuhnya mulai menunjukkan perubahan yang sangat cepat, suatu perubahan yang kurang sedap dibicarakan.

Tiba-tiba saja tubuhnya melengkung ke depan, melengkung ke suatu arah yang tak mungkin di duga oleh siapapun dan menuju ke arah yang tak mungkin disangka oleh siapapun.

Dua orang gadis yang menekan bahunya dan membelai pipinya itu hanya merasakan tangannya menjadi licin, tahu-tahu orang yang mereka tekan, mereka belai itu sudah hilang lenyap tak berbekas.

Ketika mereka berpaling lagi, barulah dijumpai pemuda itu sudah menyembunyikan diri di balik patung Buddha emas yang jauh letaknya di situ.

“Harap kalian jangan kemari,” Siau-ko berteriak keras, “aku bukanlah orang baik, bila kalian berani kemari lagi, aku akan benar-benar tak sungkan terhadap kalian.”

Berbicara sesungguhnya dia memang sedikit takut dengan gadis-gadis tersebut, tapi bila mereka benar-benar menghampirinya, diapun tidak akan merasa terlalu sedih, juga tak akan mati ketakutan.

Sayangnya mereka tidak menghampirinya, seorangpun tidak, karena pada saat itulah si tuan rumah telah munculkan diri.

Dia adalah seorang lelaki yang kurus, tinggi dan tampan, pakaiannya hanya sebuah jubah panjang berwarna hitam yang berkilauan, rambutnya dibiarkan terurai di belakang bahu.

Sekalipun pakaiannya sangat sederhana, akan tetapi orang ini kelihatan seperti seorang Kaisar.

Terutama sekali raut wajahnya.

Garis-garis mukanya tertera jelas, setiap lekukan dan tonjolan terbentuk secara sempurna.

Paras mukanya pucat pias, sama sekali tiada setitikpun warna darah, seakan-akan terukir dari batu Tay-li yang putih bersih, suatu profil yang anggun tapi mengandung watak dingin dan kaku yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Menyaksikan kemunculan orang ini, serentak kawanan gadis tersebut menjatuhkan diri menyembah.

“Aku tahu, kau pastilah tuan rumah tempat ini,” Siau-ko segera berseru keras.

“Memang itulah diriku!”

“Aku tidak kenal denganmu, kaupun tidak kenal denganku, mau apa kau membawaku kemari?”

“Aku sendiripun tak tahu.”

“Kau sendiripun tak tahu?” Siau-ko berteriak semakin keras, “bagaimana mungkin kau tak tahu?”

“Sebab aku memang tidak menyuruh kau kemari, adalah kau sendiri yang turut aku kemari.”

Jawaban tersebut kontan membuat Siau-ko tertegun, sedemikian tertegunnya sampai setengah harian lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

“Aku sendiri yang turut kau kemari? Jadi kau…… kau adalah si manusia pembawa peti itu?”

“Betul!”

Siau-ko segera memegangi kepala sendiri kencang-kencang seakan-akan segera akan roboh tak sadarkan diri.

Seorang manusia berpakaian kasar, berdandan sederhana, tiba-tiba saja berubah menjadi seorang kaisar.

Kejadian semacam ini biasanya hanya akan terjadi di dalam cerita dongeng, tapi Siau-ko justru telah menjumpainya secara tak disangka-sangka.

“Sesungguhnya manusia macam apakah kau?” Siau-ko berjalan keluar dari balik patung Buddha, “seorang pembunuh gelap yang berkelana dalam dunia persilatan sambil membawa peti? Ataukah seorang pertapa kaya raya yang hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia?”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan: “Kedua macam manusia ini sama sekali berbeda, sesungguhnya manusia macam apakah yang merupakan raut wajah aslimu?”

“Dan kau sendiri? Sebetulnya kau termasuk manusia macam apa?” ia balik bertanya kepada Siau-ko, “seorang pemuda berdarah panas yang merasa ingin tahu terhadap setiap masalah yang ada di dunia ini? Ataukah seorang jago pedang tak berperasaan yang membunuh orang bagaikan membabat rumput?”

“Aku adalah seorang manusia yang belajar pedang, bila seseorang ingin belajar pedang, dia harus mempersembahkan tubuhnya untuk pedang, biar matipun tak menyesal.”

Kemudian Siau-ko bertanya pula kepadanya: “Bagaimana dengan kau? Mengapa kau membunuh orang? Karena harta? Ataukah karena kau merasa amat gembira sewaktu membunuh orang?”

Lalu setelah mengamatinya lekat-lekat, ia menambahkan: “Tatkala seseorang mengetahui bahwa dirinya mampu memutuskan mati hidup seseorang, apakah diapun akan merasa gembira sekali?”

Tiba-tiba manusia berjubah hitam itu membalikkan badannya, berjalan ke depan meja, menuang arak dari botol kristal, kemudian pelan-pelan meneguknya.

Setelah itu dia baru berkata dengan suara hambar: “Bagiku, hal tersebut sudah bukan terhitung suatu hal yang menggembirakan hati, sayang sekali akupun termasuk manusia seperti kebanyakan orang, akupun dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya tak ingin kulakukan.”

“Kali ini apa sebabnya kau membunuh Nyo Kian?”

“Demi Cu Bong, sebab aku telah berhutang selembar nyawa kepadanya.”

“Nyawa siapa?”

“Nyawaku sendiri.”

“Cu Bong pernah menolongmu?”

“Setiap orang pasti akan mengalami suatu saat yang sial di mana keselamatan jiwanya terancam, tidak terkecuali pula dengan diriku,” manusia berbaju hitam itu berkata hambar, “di lain waktu kau pun bisa mengalami saat-saat seperti ini, tapi kau tak akan pernah bisa menduga siapakah yang bakal menolongmu waktu itu, seperti juga sekarang kau pun tak tahu siapa-siapa saja di kemudian hari yang akan mati di tanganmu.”

“Bukan mati di tanganku, tapi di ujung pedangku, “Siau-ko menerangkan, “orang yang mati di ujung pedangku semuanya telah persembahkan tubuh mereka untuk pedang seperti juga diriku, bila aku sampai tewas di ujung pedang mereka, akupun tak akan menyesal.”

Mendadak manusia berbaju hitam itu mengambil sebilah pedang antik dari atas dinding, lalu ujarnya sambil memandang dingin diri Siau-ko: “Seandainya sekarang juga kubunuh kau dengan mempergunakan pedang ini?”

“Maka aku akan merasa menyesal sekali sebab sampai sekarang aku belum tahu siapakah dirimu.”

“Yang kau ketahui sudah amat banyak, sudah sedemikian banyaknya, hingga pantas bila kubunuh dirimu.”

“Oya?”

“Kau telah mengetahui kalau akan membunuh Nyo Kian, telah mencuri lihat petiku itu.”

“Tapi aku tak berhasil melihat apapun, aku masih belum habis mengerti, mengapa peti tersebut disebut senjata paling menakutkan di dunia ini.”

“Kau ingin tahu?”

“Ya, sangat ingin!”

Mendadak manusia berbaju hitam itu meloloskan pedangnya, hawa pedang yang menggidikkan hati segera memancar keluar dari balik senjata tersebut, cahaya pedang yang berkilauan berwarna hijau muda.

“Pedangku ini bernama Lik-liu, benda warisan Ku Tojin dari bukit Pa-san,” manusia berbaju hitam itu membelai ujung pedangnya dengan lembut, “dulu, Ku Tojin pernah malang melintang di kolong langit dengan mengandalkan empat puluh sembilan jurus Hui-hong-wu-lin-kiam nya, tidak sedikit jumlah jago-jago pedang kenamaan yang tewas di ujung pedangnya.”

Dia melepaskan pedangnya, lalu mengambil sebilah kampak besar dari atas rak.

“Kampak ini adalah kampak yang pernah dipergunakan pendekar sakti dari Hong-san, Bu Leng-ciau. Berat bersih tujuh puluh tiga kati,” ia menerangkan, “walaupun jurus serangannya hanya terdiri dari sebelas jurus, namun setiap jurus memiliki daya membunuh yang mengerikan. Konon belum pernah ada jago persilatan yang mampu bertahan tujuh jurus di tangannya.”

Di sisi kampak Swan-hoa-hu tersebut merupakan sebilah senjata yang mirip tombak tapi bukan tombak, sebab ujung tombak tersebut bukan berbentuk runcing, melainkan sebilah golok, golok yang digantungkan dengan seutas rantai.

“Thi-lian-hui-lian (Golok terbang rantai besi) membunuh orang bagaikan membabat rumput kering, konon senjata ini berasal dari Tang-ing (Jepang), jurus serangannya sangat hebat dan belum pernah dijumpai di daratan Tiong-goan.”

Menyusul kemudian dia menunjuk ke arah sepasang Poan-koan-pit, sepasang garpu Go-bi-ci, sebilah Oh-hau-lan, sebilah pedang berkait, sebilah tombak berkait, sebuah tabung jarum Jit-seng-ciam, sebilah golok lengkung Persia dan sebuah tongkat besar berwarna putih kumala, kemudian menerangkan: “Senjata-senjata tersebut semuanya milik jago-jago lihay masa lampau, setiap senjata memiliki jurus serangan yang khas dan setiap senjata tersebut pernah meraih entah berapa banyak nyawa jago-jago persilatan.”

“Yang kutanyakan adalah petimu itu, bukan senjata-senjata lainnya ini,” tak tahan Siau-ko berseru.

“Tapi petiku itu justru merupakan intisari daripada senjata-senjata tersebut,” kata manusia berbaju hitam itu hambar.

“Aku tidak mengerti,” seru Siau-ko, “mengapa di dalam sebuah peti bisa terdapat tiga belas intisari dari senjata-senjata tersebut? Aku lihat isi petimu itu paling-paling hanya pipa besi dan lempengan besi rongsokan belaka.”

“Tentu saja rahasia dari peti itu tak akan kau pahami, tapi kaupun harus mengerti, semua persenjataan yang ada di dunia ini sesungguhnya memang terdiri dari rongsokan besi-besi belaka, namun jika semua lempengan besi itu digabungkan menjadi satu, akan terciptalah sebuah senjata hebat.”

Ia menjelaskan lebih lanjut: “Sekalipun sebilah golok, harus ada tubuh golok, gagang golok, gelang golok, sarung golok dan lain sebagainya yang tergabung menjadi satu sebelum tercipta menjadi sebilah golok.”

Siau-ko seperti agak memahami keterangan tersebut.

“Jadi maksudmu, kau bisa menggabungkan semua lempengan besi yang berada di dalam petimu itu untuk menciptakan sejenis senjata?”

“Bukan sejenis saja, melainkan tiga belas macam senjata, tiga belas macam senjata yang berbeda-beda.”

Siau-ko menjadi tertegun.

“Menggunakan tiga belas macam cara yang berbeda untuk menciptakan tiga belas jenis senjata yang berlainan pula, tapi setiap jenis yang terbentuk tidak sama dengan senjata biasa yang sering dilihat, karena setiap macam bentuk senjata paling tidak memiliki kegunaan dari dua-tiga macam senjata,” manusia berbaju hitam itu menerangkan lebih jauh, “senjata-senjata tersebut berikut intisari perubahan jurus serangan dari segenap senjata tersebut terdapat di dalam petiku ini.”

Ia berpaling dan mengawasi Siau-ko, kemudian menambahkan: “Sekarang, apakah kau sudah mengerti?”

Siau-ko sudah dibuat sama sekali tertegun.

Sekarang ia sudah mengerti, tak heran kalau Nyo Kian dan Im-boan-thian sekalian bertujuh nampaknya seperti tewas di ujung tiga-empat macam senjata yang berbeda, padahal yang turun tangan hanya seorang.

Meskipun dalam hal ini Siau-ko pernah membayangkan, namun ia tak mau mempercayainya seratus persen.

Bila tidak melihat dengan mata kepala sendiri, siapapun tidak akan percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat semacam senjata yang terbentuk dari aneka ragam senjata yang rumit.

Tapi sekarang, mau tak mau Siau-ko harus percaya.

Maka tak tahan lagi dia menghela napas panjang: “Manusia yang sanggup menciptakan senjata semacam ini sudah pasti seorang yang memiliki bakat alam yang luar biasa.”

“Benar.”

Mendadak di atas wajah manusia berbaju hitam yang dingin dan kaku itu terlintas suatu perubahan mimik wajah yang sangat aneh, seperti seorang penganut sekte agama yang fanatik tiba-tiba membicarakan dewa yang dipujanya.

“Tiada orang yang mampu menandinginya,” manusia berbaju hitam itu menerangkan lebih jauh, “ilmu pedangnya, kecerdasan otaknya, jalan pikirannya, kebajikan hatinya serta caranya membuat pedang, boleh dibilang tiada taranya di dunia ini.”

“Siapakah dia?”

“Dialah orang yang menciptakan pedang tetesan air mata milikmu itu……”

Sekali lagi Siau-ko menjadi tertegun.

Tiba-tiba saja ia mempunyai suatu perasaan yang sangat aneh , dia merasa di antara dia dan manusia berbaju hitam yang misterius ini seakan-akan memiliki suatu hubungan yang luar biasa.

Perasaan ini segera membuat hatinya terkejut, heran, gembira juga ngeri.

Dia masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang peti itu, pedang itu serta manusia dan hal ikhwal dari manusia yang luar biasa itu, dia ingin mengetahui kesemuanya itu lebih banyak lagi.

Tapi manusia berbaju hitam itu seperti tak ingin memberitahukan lebih banyak lagi tentang hal tersebut kepadanya, ia telah mengalihkan pokok pembicaraannya ke masalah lain.

“Peti tersebut memang merupakan hasil karya senjata yang belum pernah ada duanya di dunia ini namun bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk mempergunakannya, bila seseorang tidak memiliki daya kemampuan yang luar biasa untuk mempergunakannya, benda tersebut pun tak akan memperlihatkan daya pengaruhnya.”

Sikapnya sewaktu berbicara sama sekali bukan seperti lagi membanggakan diri, tiada pula maksud untuk menonjolkan kemampuannya, dia seperti sedang menuturkan suatu kenyataan belaka.

“Bukan saja orang ini harus menguasai penuh semua perubahan jurus dari ketiga belas macam senjata tersebut, diapun harus memahami bentuk dan cara kerja setiap macam senjata itu, lagi pula dia harus memiliki sepasang mata yang cekatan, dengan begitu dia baru dapat menyusun semua lempengan besi yang berada di dalam peti tersebut dalam waktu singkat.

Setelah berhenti sebentar, manusia berbaju hitam itu berkata lebih jauh: “Selain daripada itu, dia juga harus mempunyai pengalaman yang luas, reaksi yang cekatan dan keputusan yang tepat.”

“Mengapa?”

“Sebab musuh yang berbeda akan menyebabkan senjata dan jurus serangan yang digunakanpun berbeda, maka di dalam waktu yang paling singkat, kau harus dapat memutuskan bentuk senjata apakah yang bisa menandingi dan menguasai lawanmu itu,” kata manusia berbaju hitam tersebut, “dan sebelum lawan mulai turun tangan, kaupun harus memperhitungkan secara tepat, dengan berapa jenis benda-kah kau mesti membentuk senjata yang kau harapkan itu? Bahkan senjata itu harus sudah selesai dirakit sebelum pihak lawan mulai menyerang, asal kau terlambat untuk bertindak di sana, maka nyawamu akan hilang di ujung tangan lawan.”

Siau-ko tertawa getir.

“Kelihatannya kejadian semacam ini sudah bukan termasuk pekerjaan yang mudah lagi, untuk mencari manusia semacam ini di kolong langit, mungkin tak akan dijumpai beberapa orang.”

Dengan pandangan yang amat tenang, manusia berbaju hitam itu mengawasi lawannya, lewat lama kemudian ia baru berkata dingin: “Untuk membuka petiku itupun sudah bukan suatu pekerjaan mudah, tapi kau berhasil membukanya dengan cepat, tanganmu sudah cukup trampil.”

“Ya, agaknya memang begitu.”

“Ilmu silatmu sudah mempunyai dasar yang cukup kuat, bahkan ilmu yang kau latih seperti pelajaran rahasia dari negeri Thian-tok (India), seperti ilmu Yoga dari puncak Himalaya.”

“Agaknya memang begitu.”

“Si kakek yang mewariskan pedang tetesan air mata kepadamu, sesungguhnya memang mempunyai sedikit hubungan dengan petiku ini,” manusia berbaju hitam itu berkata hambar, “oleh sebab itu hingga kini kau belum mati.”

“Apakah sebetulnya kau hendak membunuhku?” tanya Siau-ko, “mengapa kau tidak turun tangan?”

“Sebab aku hendak menahanmu di sini, aku ingin kau mewarisi ilmu silatku, mewarisi petiku ini dan mewarisi segenap yang ada di tempat ini.”

Apa yang diucapkan barusan sesungguhnya merupakan suatu keberuntungan yang mimpipun tak pernah di sangka oleh orang lain.

Harta karun yang tiada taranya.

Ilmu silat yang maha dahsyat.

Senjata yang paling menakutkan di kolong langit.

Seorang pemuda yang tidak memiliki segala-galanya, tiba-tiba saja akan memperoleh segala sesuatunya, kehidupannya bakal berubah di dalam waktu sekejap mata.

Bagaimana perasaan si anak muda ini?

Siau-ko sama sekali tidak memberikan sedikit reaksipun, seakan-akan sedang mendengarkan suatu kisah cerita yang sama sekali tiada hubungan dengan dirinya.

Kembali manusia berbaju hitam itu berkata: “Satu-satunya pra-syarat yang kuinginkan adalah sebelum kau berhasil mempelajari seluruh ilmu silat yang kumiliki, dilarang untuk meninggalkan tempat ini barang selangkahpun.”

Syarat semacam ini tak terhitung muluk, lagi pula memang amat beralasan.

“Sayang sekali kau lupa menanyakan satu hal kepadaku,” ujar Siau-ko mendadak, “kau lupa bertanya kepadaku, apakah aku bersedia tinggal di sini atau tidak?”

Padahal persoalan seperti ini tak perlu ditanyakan, hanya orang tolol atau orang gila saja yang akan menampik syarat seperti ini.

Siau-ko bukan orang gila, diapun bukan orang tolol.

Oleh sebab itu si manusia berbaju hitam itu bertanya sekali lagi: “Kau bersedia tidak?”

“Aku tidak bersedia!” jawab Siau-ko tanpa berpikir panjang, “akupun tak tertarik.”

Mendadak kelopak mata manusia berbaju hitam itu mengerut kencang. Drai kelopak mata seorang manusia biasa berubah menjadi tajam bagaikan ujung jarum, seperti mata sebilah pedang, antup seekor lebah yang langsung menembusi sepasang mata Siau-ko.

Sepasang mata Siau-ko sama sekali tidak berkedip.

Lewat beberapa saat kemudian manusia berbaju hitam itu baru bertanya: “Mengapa kau tidak bersedia?”

“Sesungguhnya bukan disebabkan apa-apa,” kata Siau-ko, “mungkin disebabkan tempat ini kelewat sesak, sedangkan aku sudah terbiasa melewati kehidupan di alam bebas.”

Ditatapnya manusia yang misterius dan menakutkan itu lekat-lekat, kemudian terusnya lagi dengan suara hambar: “Mungkin hal ini disebabkan aku tak ingin menjadi seorang manusia seperti kau.”

“Kau tahu, manusia macam apakah diriku ini?”

“Aku tidak tahu, tapi aku tetap merasa bahwa kau seperti selalu hidup di balik bayangan hitam, entah kau muncul dengan bentuk wajah macam apapun, kau selalu seolah-olah muncul dari balik bayangan hitam.”

Setelah menghela napas, terusnya: “Walau kau memiliki harta kekayaan yang melebihi satu negeri, ilmu silat yang tiada taranya di dunia ini, tapi ada kalanya aku merasa bahwa kehidupanmu seperti tidak segembira diriku, bahkan ada kalanya aku merasa simpatik dan kasihan kepadamu.”

Manusia berbaju hitam itu memandang ke arahnya, cahaya tajam yang mencorong keluar dari balik matanya tiba-tiba saja membuyar, membuyar hingga tinggal segumpal bayangan cahaya belaka, membuyar jadi kosong dan tak ada apa-apa.

“Setiap orang berhak untuk memilih serta menentukan gaya hidupnya sendiri, begitu pula dengan aku, memiliki hak untuk menetapkan gaya hidupku,” kata Siau-ko lantang, “aku ingin hidup bebas di bawah timpaan cahaya matahari, sekalipun aku ingin membunuh orang, akupun akan menantangnya secara terang-terangan, mengajaknya melangsungkan suatu pertarungan yang seadil-adilnya.”

Mendadak manusia berbaju hitam itu tertawa dingin.

“Kau anggap Suma Cau-kun benar-benar akan melangsungkan duel satu lawan satu yang adil denganmu?”

“Ku tantang dia secara terang-terangan dan terbuka, kita bertarung satu lawan satu, siapa bilang hal ini tidak adil?”

“Sekarang, tentu saja kau tak akan mengerti,” sekali lagi manusia berbaju hitam itu menghela napas panjang, “bila kau sudah memahaminya nanti, mungkin keadaan sudah terlambat.”

“Entah bagaimanapun juga, aku tetap akan menghadirinya,” kata Siau-ko tegas-tegas, “sekarang perutku laparnya setengah mati, aku hanya berharap kau suka mengundangku makan sampai kenyang, kemudian mengijinkan aku pergi.”

Dengan wajah gembira, dia berkata lebih jauh: “Aku dapat melihat bahwa kau bukan seorang yang kecil hati, permintaanku ini tentunya belum terhitung keterlaluan bukan?”

“Memang tidak terhitung keterlaluan,” ujar manusia berbaju hitam itu dingin, “cuma sayang kaupun lupa menyakan satu hal kepadaku”

“Soal apa?”

“Orang yang sudah sampai di sini, selamanya tak ada yang bisa keluar lagi dalam keadaan hidup.”

“Aku percaya dengan perkataanmu itu,” kata Siau-ko sambil tertawa, “untung saja dalam setiap masalah, tentu ada pengecualiannya, bukan?”

Kemudian sambil tertawa lebih riang dia meneruskan: “Aku percaya kau pasti akan memberikan pengecualian bagiku untuk kali ini saja.”

“Mengapa aku harus memberi pengecualian kepadamu?”

“Karena kita bersahabat, bukan bermusuhan, akupun belum pernah menyalahi dirimu.”

“Kau keliru, kau bukan sahabatku, kau masih belum pantas untuk menjadi sahabatku.”

Tiba-tiba dari balik sinar matanya memancar keluar bayangan cahaya yang sangat aneh.

“Seandainya aku bersedia memberi pengecualian kepadamu, hal ini hanya disebabkan satu alasan saja.”

“Apa alasanmu?”

“Karena aku simpatik dan kasihan kepadamu.”

Bayangan cahaya yang memancar ke luar dari balik matanya seolah-olah berubah kembali menjadi suatu ejekan yang sinis, dingin dan tak sedap dipandang.

“Di dalam dunia ini hanya ada orang membenciku, takut kepadaku, belum pernah ada orang menaruh rasa kasihan kepadaku, justru karena hal ini, tak ada salahnya kalau kau kuberi satu kesempatan bagimu.”

“Kesempatan yang bagaimana?”

Manusia berbaju hitam itu bangkit berdiri dan mengambil dua botol kristal dari meja, kemudian menyuruh Siau-ko untuk memilih sebotol di antaranya.

“Mengapa aku harus memilih?” tanya Siau-ko, “kedua botol arak ini seperti sama bentuknya, bahkan bentuk dan coraknyapun tidak berbeda.”

“Hanya ada satu hal yang berbeda.”

“Soal apa?”

“Dari kedua botol arak ini ada sebuah diantaranya merupakan arak beracun, arak beracun yang bisa menembusi usus dan merenggut nyawa.”

Sesungguhnya dari antara kedua botol arak tersebut masih ada satu hal yang berbeda, salah satu botol itu berisi jauh lebih sedikit daripada botol arak yang lain.

Karena isi arak di dalam botol itu sudah dituang sedikit oleh manusia berbaju hitam itu, bahkan sudah diteguknya.

Buktinya hingga sekarang dia masih hidup.

Dalam hal ini Siau-ko seharusnya dapat mengetahui dengan jelas, tapi dalam kenyataan, dia justru memilih botol yang lain.

Dengan pandangan dingin, manusia berbaju hitam itu memandang ke arahnya, kemudian menegur dingin: “Pilihanmu sudah benar?”

“Sudah! Bahkan pilihan tak bakal berubah lagi.”

“Sudahkah kau lihat arak dari botol manakah yang telah kuteguk tadi?”

“Aku dapat melihat dengan jelas.”

“Tahukah kau arak dari botol yang manakah telah kueguk?”

“Aku tahu.”

“Mengapa kau tidak memilih botol arak yang telah kuminum tadi?”

“Karena aku masih belum ingin mampus.”

Siau-ko tertawa, tertawa dengan lebih riang, lanjutnya: “Kau tahu, aku toh bukan orang buta, juga tidak terhitung kelewat bodoh, tentu saja aku dapat melihat botol arak yang manakah telah kau teguk tadi, namun dalam kenyataannya, kau tetap menyuruh aku memilih, sebab sebagian besar orang, apalagi di dalam keadaan seperti ini, tentu akan memilih botol arak yang telah kau teguk isinya tadi.”

Apa yang dikatakan memang merupakan suatu kenyataan.

“Untung saja aku tidak termasuk kebanyakan orang itu, kaupun tak bakal menganggap aku seperti manusia-manusia tersebut,” ujar Siau-ko lebih jauh, “bila arak yang kau teguk tadi benar-benar tak ada racunnya, mustahil kau akan mempergunakan cara ini untuk mencoba diriku.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: “Bila kau ingin menghadapiku, gunakanlah cara yang lebih sukar dan pelik.”

“Padahal memilih dalam keadaan seperti ini bukanlah suatu pekerjaan yang sangat mudah.”

Ada sementara orang, meski cerdik dan bisa berpikir kalau arak beracun yang dimaksudkan bisa jadi adalah arak yang berasal dari botol arak yang telah diteguk manusia berbaju hitam tadi, belum tentu dia memiliki keberanian untuk memilih botol arak yang lain.

“Arak beracun itu milikmu, tentu saja kau memiliki obat penawarnya, sekalipun kau habiskan delapan sampai sepuluh botolpun tak akan menjadi masalah, tapi bagiku……. setetespun sudah berabe, apalagi sebotol?”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia meneruskan: “Itulah sebabnya aku terpaksa memilih botol yang ini saja.”

Dengan mempergunakan sorot mata yang aneh, manusia berbaju hitam itu mengawasi wajah Siau-ko, kemudian dengan suara yang aneh pula, dia bertanya: “Bila kau salah memilih?”

“Maka biarkan saja aku mampus.”

Seusai mengucapkan perkataan tersebut, Siau-ko segera meneguk habis isi arak dalam botol yang dipilihnya itu.

Kemudian diapun roboh ke atas tanah.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: