Kumpulan Cerita Silat

12/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 02

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:28 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 02
Sebuah Batok Kepala Manusia
Oleh Gu Long

Angin berhembus amat kencang, bunga salju berhamburan melapisi permukaan tanah.

Dari kejauhan sana tampak seekor kuda dilarikan kencang-kencang menembusi badai salju dan menerobos masuk ke kota Ang-hoa-ki, seratus enam puluh li di bagian barat daya kota Tiang-an.

Malam Goan-siau telah lewat, hari libur yang penuh kegembiraan pun sudah berakhir.

Sebuah lentera warna-warni bergulingan di atas lapisan salju, dimainkan angin yang kencang, lalu diseret ke balik selokan yang telah membeku menjadi salju. Meski masih nampak indah dan cerah, namun tiada orang yang memperhatikannya lagi, seperti seorang perempuan yang telah ditiduri semalam, lalu dicampakkan keesokan harinya.

Penunggang kuda itu menghentikan perjalanannya di luar kota, mengikat kudanya pada sebatang pohon dan melepaskan pakaiannya yang indah dan mahal harganya untuk ditukar dengan seperangkat pakaian berwarna biru.

Dari atas pelana, dia menurunkan sebuah karung goni, mengeluarkan sebuah payung dan sepasang sepatu berpaku.

Ia kenakan sepatu berpaku itu, mengembangkan payungnya dan menjinjing buntalan karung goni itu, dandanannya sekarang tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang dusun yang lain.

Kemudian ia baru beranjak dan menelusuri permukaan salju menuju kota Ang-hoa-ki.

Di balik karung goninya itu tersimpan suatu rahasia besar yang akan menggetarkan seluruh kolong langit, sedang di hati kecilnya tersembunyi suatu rahasia besar yang akan menggetarkan jagat, di kolong langit hanya dia seorang yang mengetahui rahasia tersebut.

Ia datang ke situ, karena dia harus menyerahkan barang yang berada di dalam karung goni itu kepada seseorang di rumah pelacuran kota Ang-hoa-ki.

Tapi apakah isi karung goni itu? Benda tersebut harus diserahkan kepada siapa?

Seandainya ada orang yang mengetahui rahasia ini, tidak sampai beberapa saat, orang tersebut sudah akan dicincang hancur hingga berkeping-keping. Orang tua, anak istri serta sanak keluarganya tak sampai hari ketiga pun akan dibantai pula sampai ludas.

Untung saja rahasia semacam ini tak akan pernah bocor untuk selamanya, karena selama dia sendiri tidak membocorkannya, tak mungkin orang lain akan tahu.

Sebab siapapun tidak mengira kalau si Singa Jantan Cu Bong akan meninggalkan markas besarnya yang berpenjagaan ketat di Lok-yang pada saat seperti ini dan seorang diri memasuki wilayah kekuasaan Suma Cau-kun.

Bahkan Cho Tang-lay yang berotak cerdas dan berakal banyak pun tak pernah mengira kalau ia berani datang menyerempet bahaya.

—–

Kota Ang-hoa-ki terhitung sebuah kota kecil yang tidak begitu ramai.

Dalam kota tersebut hanya terdapat sebuah rumah pelacuran yang buruk sekali keadaannya.

Cu Bong sambil bertelanjang dada duduk di atas kursi, ia meneguk arak dengan cawan besar dan didampingi tujuh delapan orang perempuan penghibur.

Setiap kali ada yang meneguk secawan arak, ia segera mengiringi pula dengan secawan arak.

Takaran minum orang ini memang hebat, meski empat puluh tiga cawan besar arak sudah berpindah ke dalam perutnya, paras mukanya sama sekali tidak berubah.

Tentu saja keadaan seperti ini akan mengejutkan semua orang yang melihatnya.

Lelaki kekar bercambang lebat ini seakan-akan terdiri dari baja saja, sehingga usus dan lambungnya pun seolah-olah terbuat dari besi baja.

“Kali ini giliran siapa?” terdengar Cu Bong berseru sambil memenuhi cawannya dengan arak, “siapa yang akan beradu denganku?”

Tentu saja tak seorangpun yang berani melayani tantangannya, bahkan si pelacur yang termasyhur sebagai Toa-hay-kang atau Gentong Samudra pun tak berani banyak berbicara lagi.

Biasanya, tamu yang sudah mabuk akan bersikap lebih royal, sedang meloloh tamu dengan arak justru merupakan kepandaian andalan dari pelacur-pelacur tersebut.

“Tapi orang ini………..” Si Gentong Samudra bercerita kemudian kepada orang lain, “pada hakekatnya dia bukan manusia, dia adalah gentong arak, gentong arak tanpa alas.”

Cu Bong tertawa terbahak-bahak, sekaligus dia meneguk habis tiga cawan arak, kemudian tiba-tiba saja ia membanting mangkuknya ke atas tanah hingga hancur berantakan.

Kemudian dengan sepasang matanya yang bulat besar dan memancarkan cahaya setajam sembilu, dia awasi si pelayan yang baru masuk ke dalam ruangan dan berlutut dengan ketakutan itu.

“Apakah dari luar sana ada yang datang?” ia menegur.

“Benar!”

“Apakah datang mencariku?”

“Benar!” suara sang pelayan kedengaran makin gemetar, “dia adalah seorang manusia dengan nama yang sangat aneh.”

“Siapa namanya?”

“Ia bernama si Sepatu Paku.”

Cu Bong segera bertepuk tangan keras-keras.

“Bocah keparat, akhirnya kau datang juga. Ayo cepat suruh dia menggelinding masuk.”

—–

Si Sepatu Paku melepaskan dulu sepatu berpaku yang dikenakan olehnya, lalu dia baru menjinjing bungkusan karung goni itu dan memasuki ruangan yang dihangatkan dengan membakar tahi kuda.

Baru saja dia melangkah masuk, tahu-tahu karung goni di tangannya sudah direbut orang dan dituang isinya.

Sebuah benda segera menggelinding keluar dari karung tersebut dan menggelinding ke sisi pembaringan. Ternyata benda tersebut tak lain adalah sebutir batok kepala manusia.

Suasana segera menjadi gempar, para nona ketakutan setengah mati, sementara sang pelayan sampai terkencing-kencing di celana.

Sebaliknya Cu Bong malah tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaaahhhh…….. haaaaahhhh……. haaaaaahhhhhhh….. rupanya aku memang tidak salah menilai dirimu, kau masih mampu melakukan tugas bagiku, sekembalinya dari sini nanti, ku tanggung kuhadiahkan dua istri muda untukmu.”

Tiba-tiba gelak tertawanya terhenti, sambil menatap tajam wajah si Sepatu Paku, tanyanya dengan suara dalam: “Apakah ia tidak berpesan apa-apa kepadamu?”

“Tidak!” sahut si Sepatu Paku, “aku hanya melihat tangannya seperti menjinjing sebuah peti, bagaimanakah bentuk wajahnya boleh dibilang sama sekali tak kulihat.”

Mendadak dari balik mata Cu Bong yang tajam memancar keluar sinar yang sangat aneh, kemudian ia menghela napas panjang, gumamnya: “Sekarang kau sudah tidak berhutang apapun lagi kepadaku, aku hanya berharap lain kali kau masih teringat untuk menengokku dan menemaniku meneguk beberapa cawan arak.”

Tentu saja perkataan semacam ini bukan ditujukan kepada si Sepatu Paku, helaan napaspun bukan termasuk suatu kebiasaannya.

Maka dia tertawa terbahak-bahak kembali, serunya lebih jauh: “Cho Tang-lay, wahai Cho Tang-lay, orang lain mengatakan kau adalah Cukat Liang, tapi siapa yang menduga kalau aku dapat bercokol dalam sarang anjingmu semalaman suntuk tanpa kau ketahui.”

“Cara kerja Tongcu memang selamanya hebat dan tak bisa di duga orang, bagaimana mungkin orang she Cho itu dapat menduganya?” Si Sepatu Paku menundukkan kepalanya rendah-rendah, “tapi ia pasti telah menduga kalau batok kepala Nyo Kian tentu akan dikirim ke kota Lok-yang, maka diapun pasti sudah memasang mata-matanya di sekitar tempat ini……”

“Kentut busuk!” Cu Bong melotot besar, “jika ia tak pernah menyangka kalau aku berada di sini, mungkinkah dia akan mengalihkan kekuatannya kemari?”

“Tidak mungkin!”

“Mungkinkah dia akan datang bersama Suma Cau-kun?”

“Tidak mungkin!”

“Oleh sebab itu, orang yang dikirimnya paling-paling adalah manusia yang jenggotpun belum tumbuh, sudah pasti kaum anak iblis yang baru lahir,” Cu Bong menegaskan, “sudah kuduga yang dikirim kemari kalau bukan si Kwik Cung, sudah pasti Sun Thong.”

“Benar! Memang begitulah kira-kira.”

Sepatu Paku menundukkan kepalanya, sebab ia tak boleh memperlihatkan rasa takut yang sudah memancar keluar dari balik matanya itu kepada Cu Bong.

Mendadak ia menemukan bahwa si manusia yang kasar dan penuh dengan jenggot ini, bukan saja jauh lebih pandai daripada orang lain, bahkan lebih menakutkan daripada siapapun.

Mendadak Cu Bong melompat bangun, ia berdiri tegak bagaikan raksasa di situ, kemudian serunya keras-keras kepada para nona dan pelayan yang masih terkencing-kencing di tempat :” Sekarang, apakah kalian sudah tahu siapakah aku?”

Tak seorangpun menjawab, tak seorang manusiapun berani menjawab pertanyaan itu.

“Aku Cu Toa-ya!” Cu Bong menunjuk ke ujung hidung sendiri, “akulah musuh bebuyutan dari Suma Cau-kun.”

Mendadak dia melompat keluar, menyambar sebuah mangkuk bak dan sebatang pit, kemudian dengan tinta yang tebal dia mencoretkan pit-nya di atas dinding ruangan yang putih bersih dengan beberapa buah tulisan.

‘Lok-yang Tayhiap Cu Bong pernah berpesiar kemari’

Selesai menuliskan huruf-huruf segede gajah itu, Cu Bong mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Aku telah berkunjung kemari dan sekarang harus pulang,” kemudian sambil menepuk bahu si Sepatu Paku, terusnya, “mari kita pulang bersama-sama, coba kita saksikan siapa yang mampu menghalangi perjalanan pulang kita.”

—–

Sun Thong sebenarnya tidak seharusnya bernama Sun Thong.

Ia lebih pantas kalau di sebut Sun Tang.

Sebab Cho Tang-lay pernah memujinya di hadapan orang banyak: “Walau usia Sun Thong tidak besar, namun entah siapapun yang datang, ia pasti dapat menahannya, entah kejadian apapun yang berkobar, dia dapat menahannya, bahkan kalau sudah menahannya, ia pasti dapat menahan untuk selamanya.”

Di tepi jalan raya di luar kota Ang-hoa-ki terdapat rumah penjual teh.

Bila kau duduk di dekat pintu, maka setiap orang yang berlalu lalang di jalan raya tersebut dapat terlihat dengan sangat jelas.

Sun Thong pun duduk di tempat yang strategis tersebut.

Di kedua sisi emperan rumah, asal tempat tersebut dapat digunakan untuk berteduh dari angin dan salju, pasti berdiri seorang dua orang manusia berbaju hijau.

Usia dari orang-orang itu jauh lebih tua daripada usia Sun Thong sendiri.

Tugasnya di dalam piau-kiok pun jauh lebih berat daripadanya, namun mereka semua adalah anak buahnya.

Meskipun orang-orang itu merupakan jago-jago pilihan, ketajaman matanya luar biasa dan pengalaman maupun pengetahuannya sangat luas, akan tetapi dalam bidang apapun Sun Thong masih jauh lebih bagus ketimbang mereka.

Tentang hal ini, mereka semuapun mengakui dengan tulus dan benar-benar merasa takluk.

Mereka diutus kemari karena Sun Thong ingin mempergunakan ketajaman mata serta pengalaman mereka untuk memeriksa setiap orang yang berlalu lalang di dalam kota Ang-hoa-ki.

Setiap orang, entah siapapun, asal dia patut dicurigai dan dalam genggamannya membawa bungkusan yang dapat berisikan batok kepala, atau tandu serta kereta yang bisa dipergunakan untuk menyembunyikan batok kepala, semuanya mendapat pemeriksaan dan penggeledahan yang teliti dari mereka.

Kendatipun pemeriksaan dan penggeledahan itu kadangkala menimbulkan kesulitan bagi orang lain, namun tak ada yang berani memprotes atau membangkang, sebab setiap orang tahu, lebih baik menuruti perkataan dari orang-orang yang datang dari ‘Toa Piau-kiok (Biro Ekspedisi Besar)’ daripada mencari gara-gara dengan mereka.

Apalagi Sun Thong memang tidak takut menghadapi siapapun yang mencoba untuk mencari gara-gara.

Ia telah memperoleh perintah dari Cho Tang-lay, entah berada dalam keadaan bagaimanapun, batok kepala Nyo Kian tak boleh sampai diselundupkan ke luar dari wilayah kota Tiang-an.

Biasanya perintah yang diberikan kepadanya selalu dapat dilaksanakan hingga tuntas.

Ketika Siau-ko keluar dari kota Ang-hoa-ki, Sun Thong tidak menaruh perhatian khusus kepadanya.

Sebab seluruh badan Siau-ko, dari atas sampai ke bawah, memang tiada bagian yang perlu dicurigai sebagai tempat untuk menyembunyikan sebuah batok kepala.

Namun Siau-ko justru menghampiri ke hadapannya, bahkan duduk di depan kursinya, malah sambil tertawa menegurnya: “Siapa namamu?”

Sun Thong tidak tertawa, namun tidak pula menampik untuk menjawab: “Aku She Sun, bernama Thong.”

“Baik-baikkah kau?”

“Biarpun tidak terlalu baik, juga tidak terlalu jelek,” sahut Sun Thong hambar, “paling tidak batok kepalaku masih berada di atas tengkuk.”

Siau-ko segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaaahhhh…… haaaaaahhh….. haaaahhhh…… bisa mengetahui batok kepala sendiri masih berada di atas tengkuk, hal ini memang terhitung suatu kejadian yang sangat menggembirakan, apalagi bila mengetahui dimanakah batok kepala Nyo Kian disembunyikan, kejadian tersebut pasti lebih menyenangkan lagi.”

“Kau mengetahui?”

“Aku hanya tahu, Cho sian-seng tentu tidak senang bila batok kepala Nyo Kian sampai terjatuh kembali ke tangan Cu Bong dan memberi kesempatan kepadanya untuk memperlihatkan batok kepala itu di hadapan sahabat-sahabat dunia persilatan dan menambah pamornya, itulah sebabnya kalian diutus kemari.”

“Ehmm, tampaknya tidak sedikit yang kau ketahui!”

“Sayang aku masih tak habis mengerti, orang yang hendak menuju ke kota Lok-yang tidak selalu melalui jalan raya, bahkan aku si manusia dari dusun lainpun mengetahui, kalau di sini paling tidak masih ada dua tiga jalan kecil lagi.”

“Bagiku hanya mengurusi jalan raya, tak akan mencampuri urusan di jalan kecil.”

“Mengapa?”

“Orang yang melalui jalan kecil, nyalinya pasti tidak terlalu besar, jadi tak perlu kuhadapi sendiri.”

“Bagus, bagus sekali perkataanmu.”

Siau-ko menuang secawan air teh dari poci Sun Thong, kemudian setelah merendahkan suaranya, dia bertanya lagi: “Sudah kau temukan orang yang mencurigakan?”

“Hanya kutemukan seorang.”

“Siapa?”

“Kau!”

Sekali lagi Siau-ko tertawa terbahak-bahak.

“Haaaahhh….. haaahhh….. haaahh, seandainya benar aku, tentu peristiwa ini menyenangkan sekali.”

“Siapa yang senang?”

“Kau!”

Siau-ko memandang Sun Thong tanpa berkedip, kemudian melanjutkan lebih jauh.

“Seandainya aku suka membawa batok kepala Nyo Kian untuk melewati tempat ini, maka bisa jadi kau akan merasa secara tiba-tiba saja batok kepalamu itu sudah tidak berada di tempatnya lagi.”

Bahkan kemudian dia menjelaskan lebih jauh.

“Kau yang kumaksud adalah dirimu sendiri.”

Sun Thong tidak marah, paras mukanyapun tidak pula berubah, bahkan sepasang matanya tidak pula berkedip.

“Akupun dapat melihat kalau kau tidak membawa batok kepala Nyo Kian,” Sun Thong menerangkan, “tapi aku dapat melihat kalau kau membawa sebilah pedang.”

“Ya, pandanganmu memang tidak keliru.”

“Mengapa kau tidak mencabut keluar pedangmu untuk mencoba?”

“Mencoba apa?”

“Mencoba untuk dibuktikan, batok kepala siapakah yang bakal rontok dari tengkuknya.”

Siau-ko membelai lembut bungkusan kain yang belum pernah dilepaskan dari genggamannya itu, kemudian sambil tersenyum menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Aku tak boleh mencobanya, tak boleh sekali-kali untuk mencobanya.”

“Jadi kau tidak berani?”

“Bukannya tidak berani, namun tak bisa.”

“Mengapa?”

“Sebab, pedangku ini bukan dipersiapkan untuk menghadapi kau,” kemudian dengan nada yang amat sungkan, Siau-ko melanjutkan, “sebab kau belum pantas untuk menghadapinya.”

Paras muka Sun Thong belum juga berubah, namun matanya tiba-tiba saja diliputi oleh selapis cahaya merah.

Banyak sekali manusia yang menunjukkan gejala demikian bila mereka telah bersiap untuk membunuh orang.

Tangannya sudah diluruskan ke bawah, menggenggam gagang pedangnya yang diletakkan di atas kursi.

Siau-ko sendiri malah sudah bangkit berdiri, membalikkan badan dan siap berlalu dari situ.

Bila dia ingin turun tangan, tiada orang yang bisa menghalangi niatnya, namun apabila dia tidak ingin turun tangan, tiada orang pula yang bisa memaksanya.

Tapi sebelum ia berjalan ke luar dari tempat tersebut, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang sangat ramai.

Di balik suara derap kaki kuda itu terselip pula suara langkah kaki manusia yang sangat aneh, hanya manusia yang berjalan di atas salju dengan mengenakan sepatu paku saja yang bisa menimbulkan suara langkah kaki seperti ini.

Belum lagi ke dua jenis suara yang berbeda itu bisa didengar dengan jelas, terlihat seekor kuda dipacu kencang-kencang melewati jalan raya di depan warung.

Penunggangnya adalah seorang manusia bercambang dan mengenakan baju dari kulit kambing yang kencang, bagian dadanya dibiarkan terbuka.

Walaupun angin salju menerpa dadanya yang telanjang bagaikan tusukan pedang dan sayatan golok, namun ia sama sekali tidak menggubris.

Di belakangnya mengikuti seseorang yang mengenakan sepatu paku, tangannya yang satu menarik ekor kuda, sedang tangan yang lain membawa sebatang bambu, di ujung bambu tergantung sebuah bungkusan kain besar.

Sambil berlarian mengikuti di belakang kuda tersebut, ia berteriak tiada hentinya: “Batok kepala Nyo Kian berada di sini, inilah akhir dari seorang pengkhianat….”

Sementara teriakan bergema, orang yang berada di atas kudapun tertawa terbahak-bahak tiada hentinya, gelak tertawanya seperti auman singa, membuat salju yang berlapis di atas emper rumah berguguran ke atas tanah.

Tentu saja Siau-ko mengurungkan niatnya untuk berlalu dari tempat itu.

Biarpun dia belum pernah bersua dengan Cu Bong, namun sekilas pandangan saja ia sudah tahu kalau orang ini adalah Cu Bong.

Selain si Singa Jantan Cu Bong, siapa lagi yang berani bergaya seperti ini?

Diapun tidak menyangka kalau Cu Bong akan munculkan diri secara tiba-tiba di situ, namun diapun berharap Sun Thong bisa membiarkan mereka lewat.

Sebab ia sudah melihat kalau Cu Bong membawa sebilah golok raksasa berpunggung emas dalam genggamannya.

Golok raksasa itu panjangnya empat depa sembilan inci, punggung goloknya sangat tebal, tapi mata golok lebih tipis dari pada selembar kertas.

Sun Thong masih terlampau muda.

Siau-ko benar-benar tak ingin membiarkan seorang pemuda semacam dia tewas tercincang di depan derapan kaki kuda.

Sayang sekali Sun Thong telah melompat ke luar, dia melejit keluar sambil membawa serentetan cahaya pedang yang berkilauan.

Dari belakang meja, dia langsung melayang keluar seperti seekor burung, cahaya pedangnya yang membias seperti bianglala, langsung menusuk ke tenggorokan Cu Bong di atas kuda.

Serangan ini ibaratnya taruhan terakhir bagi seorang penjudi, karena selembar nyawa sendiripun turut dijadikan taruhan.

Karenanya serangan tersebut harus mematikan, harus menimbulkan korban, kalau bukan nyawa lawan, tentulah nyawa sendiri.

Cu Bong tertawa seram.

“Haaahhh….. heeehh…. haaahh….. bocah muda, kau memang bernyali!”

Di tengah gelak tertawanya yang keras, golok raksasa sepanjang empat depa sembilan incipun diangkat tinggi-tinggi ke udara, cahaya emas dari punggung golok serta cahaya dingin dari mata golok membiaskan sinar tajam di balik lapisan salju seperti tusukan jarum yang mata tajam.

Siau-ko hanya sempat menyaksikan berkelebatnya cahaya golok, tahu-tahu saja segala sesuatunya berubah menjadi merah.

Percikan bunga darah yang segar, seperti percikan bunga api dari balik cahaya golok, segera menyebar ke empat penjuru dan bergumul dengan warna putih keperak-perakan dari salju yang segera menimbulkan suatu pemandangan yang indah.

Tiada orang yang bisa melukiskan keindahan tersebut, karena indahnya indah yang keji, indah yang mengenaskan dan memilukan hati.

Detik itu, seluruh kejadian dan kegiatan di kolong langit seolah-olah turut terhenti oleh keindahan yang menggidikkan hati itu.

Siau-ko merasakan detak jantung serta napas sendiripun seolah-olah terhenti.

Walaupun kejadian tersebut hanya berlangsung sebentar saja, namun detik yang amat singkat itu seolah-olah merupakan sesuatu yang kekal.

Karena memang ‘mati’ saja yang bersifat kekal.

—–

Kuda itu masih berlari kencang, si Sepatu Paku masih mengikuti pula di belakangnya.

Baru setelah mencapai jarak sejauh dua puluhan kaki lebih, jenasah Sun Thong baru roboh ke atas tanah, roboh di hadapan anak buah serta kudanya, roboh terkapar di atas permukaan salju yang dingin dan tak berperasaan.

Kemudian bunga-bunga darah baru meleleh keluar dan menghiasi permukaan salju yang putih.

Bunga darah yang merah segar dengan lapisan salju yang putih bersih.

Mendadak terdengar ringkikan kuda bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian kuda yang sedang berlari kencang itupun berhenti berlari.

Walaupun kawanan manusia berbaju hijau yang berdiri di kedua sisi jalan telah meloloskan golok mereka, biarpun mata golok mereka sama tajamnya dengan mata golok Cu Bong, namun paras muka serta sorot mata mereka telah berubah menjadi ke abu-abuan.

Sekali lagi Cu Bong tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…… haaahhh…… haahh….. kalian sudah melihat jelas, akulah Cu Bong,” ia tergelak, “sekarang aku akan membiarkan batok kepala kalian tetap di tempat masing-masing, karena aku hendak mempergunakan mata kalian untuk melihat diriku dengan jelas, kemudian dengan mulut kalian untuk memberitahu kepada Suma Cau-kun serta Cho Tang-lay bahwa aku telah berkunjung kemari, dan sekarang aku hendak pergi lagi. Biarpun di sini terhitung sarang naga gua harimau, bila aku ingin mendatangi, aku bisa datang, bila ingin pergi, aku bisa segera pergi.”

Kemudian bentaknya lagi keras-keras: “Mengapa kalian tidak segera enyah dari sini?”

Kawanan manusia berbaju hijau itu memang sudah mundur terus tiada hentinya, begitu bentakan bergema, serentak mereka membalikkan badan dan lari terbirit-birit, jauh lebih cepat daripada kuda mereka sendiri.

Sebenarnya Cu Bong ingin tertawa lagi, namun ia tak sempat untuk tertawa lagi, karena tiba-tiba terdengar seseorang berkata sambil menghela napas: “Sekarang aku baru tahu, rupanya orang yang tidak takut mati seperti Sun Thong memang tidak banyak jumlahnya di dunia ini.”

—–

Siau-ko sudah duduk, duduk di bangku yang baru saja ditinggalkan Sun Thong, bahkan dia memungutkan pula sarung pedang Sun Thong yang terjatuh ke lantai tadi ke atas meja dan diletakkan sejajar dengan bungkusan kain sendiri.

Ia tidak memandang ke arah Cu Bong dengan pandangan lurus, namun dia tahu paras muka Cu Bong telah berubah.

Kemudian diapun merasakan Cu Bong telah berada di hadapannya, duduk di kudanya sambil mengawasi wajahnya dengan sepasang mata yang melotot besar.

Tapi Siau-ko seolah-olah tidak mengetahui kedatangannya, ia masih meneguk air tehnya dengan tenang.

Air teh dalam cawan sudah dingin, maka ia membuangnya lalu memenuhi lagi dari poci, tapi kembali air itu dibuang karena air dalam poci sudah dingin, biarpun demikian ia menuang pula cawannya dengan air teh.

Cu Bong mengawasi terus gerak-geriknya dengan mata melotot, tiba-tiba teriaknya keras: “Hei, apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku ingin minum teh, aku haus, ingin minum teh.”

“Tapi kau tidak meminumnya.”

“Karena air tehnya sudah dingin, aku tak pernah suka minum air teh dingin.”

Kemudian setelah menghela napas, katanya lagi: “Kalau minum arak aku tak ambil perduli, arak macam apapun kuminum, tapi kalau soal minum teh, maka hal tersebut kuperhatikan benar-benar, air teh dingin tak boleh diteguk, aku lebih suka minum arak beracun daripada harus minum air teh dingin.”

“Apakah kau masih berharap bisa muncul air teh panas dari dalam poci tersebut?” tanya Cu Bong.

“Sebenarnya aku memang berharap demikian.”

“Tahukah kau semua air teh yang berada dalam poci itu sudah dingin….?”

“Aku tahu, tentu saja aku tahu.”

Cu Bong memandangnya tanpa berkedip seperti lagi mengawasi sesosok makhluk aneh saja.

“Kalau toh kau sudah tahu air teh dalam poci sudah dingin, bagaimana mungkin bisa muncul air teh panas dari dalam poci tersebut?”

“Bukan Cuma hangat bahkan harus panas sekali, air teh yang panas dan mendidih baru sedap diteguk.”

Tiba-tiba Cu Bong tertawa lagi, sambil berpaling kepada si Sepatu Paku, ia berkata: “Sebenarnya aku ingin memenggal batok kepala dari bocah ini, tetapi sekarang aku tak akan memenggalnya, bocah ini sudah edan, aku tak pernah memenggal batok kepala dari seseorang yang sudah edan…..”

Si Sepatu Paku tidak tertawa, sebab dia telah menyaksikan suatu peristiwa aneh.

Ia melihat air teh yang mengalir keluar dari poci berisi air teh dingin, di tangan Siau-ko itu sekarang mengalir keluar air teh yang panas, bukan cuma panas bahkan baru saja mendidih dan mengeluarkan asap tebal.

Gelak tertawa Cu Bong dengan cepatnya turut terhenti, sebab diapun telah menyaksikan kejadian tersebut.

Memang tidak banyak manusia yang masih bisa tertawa setelah menyaksikan kejadian seperti ini, sebab orang yang bisa mempergunakan hawa murni yang dialirkan melalui telapak tangan untuk merubah sepoci air dingin menjadi air panas memang tidak banyak jumlahnya.

Mendadak Cu Bong berpaling ke arah si Sepatu Paku, kemudian tanyanya lagi: “Apakah bocah ini sudah edan?”

“Tampaknya tidak!”

“Apakah bocah ini seperti mempunyai sedikit kepandaian silat yang tulen?”

“Tampaknya memang begitu.”

“Benar-benar tidak kusangka, kalau bocah ini adalah bocah yang hebat, hampir saja aku terkelabuhi.”

Selesai mengucapkan perkataan itu, diapun melakukan suatu perbuatan yang tak pernah disangka oleh siapapun.

Tiba-tiba ia melompat turun dari kudanya dan menancapkan golok raksasanya ke lantai, kemudian setibanya di hadapan Siau-ko, ujarnya bersungguh-sungguh sambil menjura: “Kau bukan orang edan, kau adalah seorang Ho-han, asal kau bersedia menjadi saudaraku, bersedia menemani aku pulang untuk minum arak sampai puas, sekarang juga aku akan berlutut dan menyembahmu tiga kali.”

Dalam Hiong-say-tong boleh dibilang jago lihay tak terhitung jumlahnya, si Singa Jantan Cu Bong sendiri mempunyai kedudukan serta nama besar yang menggetarkan seantero jagat, tapi mengapa ia bersedia melakukan hal tersebut terhadap seorang pemuda rudin?

Namun kalau dilihat dari tampangnya, dia seperti bukan cuma berbicara di bibir belaka.

Siau-ko seperti tertegun dibuatnya, beberapa saat kemudian baru menghela napas dan berkata sambil tertawa getir: “Sekarang aku baru percaya kalau apa yang dikatakan orang-orang persilatan tidak salah, Si Singa Jantan Cu Bong memang seorang manusia yang luar biasa, tak heran kalau begitu banyak orang takluk kepadamu dan bersedia menjual nyawa untukmu.”

“Bagaimana dengan kau?” Cu Bong segera bertanya, “apakah kaupun bersedia untuk berteman denganku?”

Mendadak Siau-ko menggebrak meja keras-keras kemudian teriaknya lantang: “Neneknya, berteman ya berteman, apa sih hebatnya dengan suatu persahabatan?”

Suaranya jauh lebih keras dari Cu Bong, bahkan terusnya dengan suara menggeledek: “Aku Ko Cian-hui sudah beberapa bulan luntang-lantung dalam dunia persilatan, namun belum pernah kujumpai seorang manusia yang begitu memandang tinggi diriku, mengapa kita tak boleh bersahabat?”

Cu Bong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak: “Haaahh….. haaaahhh……. haaahhh….. bagus, bagus sekali!”

“Cuma kau harus urungkan niatmu untuk menyembah di hadapanku, bila kau berlutut akupun tak dapat berdiri, jika ke dua-duanya sama berlutut dan sama-sama menyembah, kau kepadaku dan kau menyembah kepadamu, bukankah kedua-duanya akan menjadi sepasang manusia dungu?”

Lalu teriaknya lagi keras-keras: “Aku tak akan melakukan pekerjaan dungu seperti ini!”

Cu Bong segera menyatakan persetujuannya.

“Baik, kalau toh aku mengatakan tak akan melakukan, kita tak usah melakukannya.”

“Akupun tak dapat menemani kau pulang untuk minum arak, sebab di Tiang-an aku masih ada suatu janji mati hidup.”

“Kalau begitu kita boleh minum di sini, minum sepuas-puasnya.”

“Minum di sini?” Siau-ko berkerut kening, “kau tidak kuatir Suma Cau-kun menyusul kemari?”

Mendadak Cu Bong menggebrak meja keras-keras.

“Neneknya, sekalipun ia datang kemari, apa sih hebatnya? Paling banter aku pertaruhkan nyawaku untuk di adu nyawanya, memangnya ia bisa mengapakan diriku? Cuma kita harus melangsungkan juga perjamuan ini, sebab kalau tidak akan lebih menderita daripada mati………..”

“Baik, minum ya minum! Asal kau tidak takut, memangnya aku mesti takut?”

Dalam warung itu bukan cuma tak ada tamu, para pelayanpun sudah kabur menyelamatkan diri.

Untung saja guci arak tak akan turut melarikan diri.

Cu Bong dan Siau-ko minum arak, si Sepatu Paku yang menuangkan, ia menuang dengan cepat sedang yang meneguk lebih cepat lagi.

Tapi seguci arak belum habis diteguk, dari kejauhan sana sudah kedengaran suara derap kaki kuda.

Derap kaki kuda itu amat kencang dan keras, paling tidak ada enam tujuh puluh ekor yang datang bersama.

Ang-hoa-ki memang termasuk wilayah kekuasaan dari Suma Cau-kun, bila ada orang mengatakan ini perintah dari Suma Cau-kun, maka dalam waktu singkat sebuah bukit kecilpun akan rata menjadi tanah lapang.

Namun Cu Bong sama sekali tidak mengerdipkan matanya, dia tetap memegang cawan besar yang penuh dengan arak, setetespun tak ada yang mengalir keluar.

“Aku akan menghormati tiga cawan lagi untukmu,” katanya kepada Siau-ko, “semoga kau banyak rejeki, panjang umur dan selalu sehat wal’afiat.”

“Baik, akan ku teguk”

Biar ia meneguk dengan cepat, suara derap kaki kuda itu lebih cepat lagi, tiga mangkuk arak baru habis diteguk, suara derap kaki kuda sudah menggebu-gebu.

Tangan si Sepatu Paku yang memegang guci arak sudah mulai melemas, tapi paras muka Cu Bong sama sekali tidak berubah.

“Kali ini giliranku yang menghormatimu,” ia berkata lagi, “maka paling tidak kaupun harus menghormati tiga mangkuk arak pula untukku.”

Tiba-tiba si Sepatu Paku menimbrung: “Lapor Tongcu, ke tiga mangkuk arak tersebut mungkin tak dapat diminum lagi.”

“Mengapa? Mengapa tak dapat diteguk?” seru Cu Bong gusar.

“Lapor Tongcu, bila diteguk maka nyawa Ko siauya mungkin akan menemani Tongcu sama-sama melayang.”

Tiba-tiba saja hawa gusar Cu Bong hilang lenyap, setelah menghela napas panjang ujarnya: “Apa yang dia ucapkan memang masuk di akal, bila nyawaku yang hilang masih mendingan, mengapa aku mesti menyeret pula keselamatan jiwamu?”

Baru saja dia hendak melompat bangun, Siau-ko telah menekan bahunya sambil berkata seenaknya: “Nyawaku tidak lebih berharga daripada nyawamu, kau saja berani adu jiwa, mengapa aku tak berani? Apalagi kita toh belum tentu tak mampu melawan mereka?”

Cu Bong segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan tersebut, serunya: “Betul! Ucapanmu memang tepat sekali.”

“Oleh sebab itu akupun hendak menghormati tiga mangkuk arak untukmu, semoga kaupun banyak rejeki, panjang umur dan selalu sehat wal’afiat.”

Mereka berdua bersama-sama tertawa tergelak.

Belum berhenti gelak tertawanya, derap kaki kuda yang menggebu sudah mengurung warung tersebut rapat-rapat.

Menyusul kemudian derap kaki kuda berhenti, setelah beberapa ringkikan kuda, tiada suara lagi yang kedengaran.

Tiba-tiba saja suasana disekitar tempat itu menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun, warung itu seolah-olah berubah seperti berada di kuburan.

Tiba-tiba si Sepatu Paku turut duduk, lalu katanya sambil tertawa getir: “Lapor Tongcu, sekarang akupun ingin minum sedikit arak.”

Golok tanpa suara, pedang tanpa suara, manusia tanpa suara, kudapun tak bersuara.

Sebab setiap orang, setiap ekor kuda telah mendapat pendidikan yang amat berdisiplin selama banyak tahun, bila berada dalam keadaan yang tak bersuara, mereka dapat berdiam diri tanpa menimbulkan sedikitpun suara, biar kepala dipenggalpun tak nanti akan kedengaran suara.

Di tengah keheningan yang luar biasa, tampak seorang berkopiah kemala, bermantel bulu binatang dan bergendong tangan, pelan-pelan memasuki ruangan warung teh itu.

Cho Tang-lay telah muncul di situ.

Sikapnya amat tenang dan mantap, hanya seseorang yang tahu bahwa posisi dan kedudukannya jauh lebih menguntungkan daripada kedudukan lawan yang bisa menunjukkan sikap tenang dan mantap seperti ini.

Sebab dia yakin, tiga manusia dengan tiga lembar jiwa yang berada dalam warung teh itu sudah berada di dalam genggamannya.

Namun Siau-ko maupun Cu Bong tak memandang sekejap matapun terhadap kehadirannya, seakan-akan mereka tidak mengetahui akan kehadirannya saja.

“Aku ingin menghormati tiga mangkuk arak lagi untukmu,” demikian Siau-ko berkata, “ketiga mangkuk arak ini ku tunjuk untukmu semoga kau panjang umur, kaya sentausa, banyak anak banyak cucu.”

Belum lagi arak dituang, Cho Tang-lay telah berada di hadapan mereka dan menyela dengan hambar: “Ketiga mangkuk arak ini seharusnya akulah yang menghormati kepada kalian.”

“Mengapa?”

“Cu Tongcu datang dari tempat jauh, kami belum sempat menjadi seorang tuan rumah yang baik, maka sudah sepantasnya bila akulah yang menghormati ke tiga mangkuk arak ini untuknya.”

Cu Bong tidak mengucapkan sepatah katapun, dengan cepat dia meneguk habis tiga mangkuk arak.

Cho Tang-lay tidak ketinggalan, ternyata diapun meneguk habis tiga mangkuk arak tak kalah cepatnya daripada lawan.

“Akupun hendak menghormati lagi Cu Tongcu dengan tiga mangkuk arak……”, kembali Cho Tang-lay berkata, “ketiga mangkuk arak inipun harus kuminum juga.”

“Mengapa?”

“Sebab sehabis meneguk ketiga mangkuk arak tersebut, aku hendak menanyakan suatu persoalan kepada Cu Tongcu.”

“Urusan apa?”

Cho Tang-lay meneguk dulu tiga mangkuk arak, lalu baru berkata: “Cu Tongcu tak menentu gerak-geriknya, kau bisa pergi datang sekehendak hati sendiri, seolah-olah menganggap tempat ini sebagai tempat yang tak berpenghuni……”

Kemudian setelah menghela napas panjang, terusnya: “Bila Cu Tongcu hendak pergi semenjak tadi kami tentu tak mampu untuk berbuat apa-apa.”

Kemudian sambil mendongakkan kepalanya dan memandang wajah Cu Bong dengan sorot mata dingin, terusnya: “Tadi, mengapa Cu Tongcu tidak segera pergi?”

“Kau tidak menyangka bukan?”

“Ya, aku benar-benar tidak menyangka.”

“Padahal aku sendiripun tidak menyangka sebab waktu itu aku belum bersahabat dengan teman seperti ini,” Cu Bong menepuk-nepuk bahu Siau-ko, “sekarang setelah aku mempunyai seorang sahabat seperti ini, tentu saja aku harus menemaninya untuk meneguk beberapa cawan arak, apalagi diapun tak bisa turut aku pulang, terpaksa akulah yang tetap tinggal di sini untuk menemaninya.”

Setelah berhenti sejenak dan tertawa terbahak-bahak, Cu Bong berkata lebih jauh: “Sesungguhnya alasanku amat sederhana, cuma sayang manusia seperti kalian tak nanti akan mengerti.”

Mendadak Cho Tang-lay tidak berbicara lagi, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menghela napas panjang, tidak minum arak, pun tidak berbicara.

Dalam beberapa waktu ini, dia seolah-olah berubah menjadi manusia kayu, bahkan sorot matanya pun tidak menunjukkan sedikit perubahanpun.

Dari luar sana pun tidak nampak sesuatu gerakan, sebelum ada perintah dari Cho Tang-lay, siapapun tak berani melakukan tindakan atau gerakan apapun.

Waktu-waktu semacam ini ternyata tidak berlangsung pendek.

Dalam beberapa saat tersebut, apa yang telah dilakukan Siau-ko serta Cu Bong, ternyata Cho Tang-lay tidak tahu, diapun tidak ambil perduli.

Selama keheningan berlangsung, hanya mimik wajah Siau-ko seorang yang kelihatan sangat aneh.

Dilihat dari mimik wajahnya itu, dia seolah-olah seperti melihat dengan jelas ada tujuh delapan ekor kalajengking, belasan kutu busuk yang menerobos masuk ke dalam bajunya, namun justru ia merasa tak tega untuk mengusiknya.

Dia memang menyaksikan sesuatu yang orang lain tak akan melihatnya, sebab arah tempat duduknya persis menghadap ke arah sebuah jendela di sebelah kiri dan kebetulan jendela tersebut berada dalam keadaan terbuka.

Di luar jendela tentu saja terdapat orang-orang yang dibawa Cho Tang-lay, namun sudut yang ditempati Siau-ko sekarang justru persis mengarah ke sebuah pohon di antara celah-celah kawanan manusia.

Pohon itu sebuah pohon Pek yang besar dan sudah mengering, di bawah pohon Pek tersebut berdirilah seseorang.

Seorang manusia yang sederhana, tenang dan membawa sebuah peti kayu kuno.

Siau-ko ingin menerjang keluar, beberapa kali sudah siap menggerakkan tubuhnya, namun ia tak pernah bergerak.

Karena dia tahu, saat ini sudah mencapai saat yang paling memuncak mati hidup semua orang akan ditentukan oleh keputusan yang diambil waktu itu, setiap gerakan atau setiap perbuatan yang dilakukan olehnya kemungkinan besar dapat mencelakakan keselamatan sahabatnya. Itulah sebabnya ia tak boleh bergerak.

Dalam keadaan demikian dia hanya bisa berharap orang yang berdiri di bawah pohon sambil membawa peti itu jangan beranjak pula dari posisinya.

Entah berapa saat kemudian, mendadak ia menyaksikan lagi suatu peristiwa yang sangat aneh.

Tiba-tiba saja dia melihat Cho Tang-lay tertawa.

Sampai detik itulah dia baru menemukan bahwa senyuman Cho Tang-lay sebenarnya amat memukau hati.

Ia menyaksikan Cho Tang-lay bangkit berdiri sambil tersenyum, lalu dengan mempergunakan sikap yang amat indah dia memberi hormat kepada Cu Bong.

“Cu Tongcu, aku tak ingin menghormatimu secawan arak lagi,” kata Cho Tang-lay, “perjalanan dari sini menuju ke Lok-yang sangat jauh, minum arak kelewat banyak kurang baik bagi kesehatan badanmu.”

Siau-ko tertegun, demikian pula dengan Cu Bong.

“Kau mempersilahkan dia untuk pergi?” tanya Siau-ko, “kau benar-benar rela membiarkan dia pergi?”

Cho Tang-lay tertawa hambar.

“Ia dapat bersahabat denganmu, mengapa tidak pula denganku? Ia dapat duduk di sini menemanimu minum arak sambil menyerempet bahaya, mengapa aku tak boleh membiarkan dia pergi meninggalkan tempat ini?”

Ternyata ia menuntunkan sendiri kuda milik Cu Bong, sambil katanya lagi: “Cu Tongcu, setelah perpisahan hari ini mungkin kita masih akan bersua lagi di kemudian hari. Maaf kalau aku tak dapat menghantarmu lebih jauh.”

Debu menggulung-gulung setinggi langit-langit, seekor kuda dengan membawa Cu Bong dan Sepatu Paku telah berlalu dari situ dengan kecepatan tinggi.

Memandang bayangan tubuh mereka hingga lenyap dari pandangan mata, Siau-ko baru berpaling ke arah Cho Tang-lay sambil menghela napas panjang.

“Aaaai, sekarang aku baru percaya akan perkataan dari orang-orang persilatan, Cho Tang-lay memang seorang manusia yang luar biasa.”

Cho Tang-lay menghela napas pula.

“Aaaaai, sayang aku tahu kalau kau tak akan berteman dengan manusia seperti aku ini, sebab kau hanya ingin menjadi tenar, ingin membunuh Suma Cau-kun di ujung pedangmu.”

Siau-ko termenung, termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya: “Yang mati mungkin bukan dia, melainkan aku.”

“Ya, benar!. Kemungkinan besar kaulah yang akan mati,” kata Cho Tang-lay hambar, “bila ada orang bertaruh denganmu, aku berani bertaruh sepuluh lawan satu dengan memegang kau yang mati.”

Ia memandang sekejap ke arah Siau-ko, kemudian melanjutkan: “Jika kau bersedia untuk bertaruh denganku, akupun bersedia.”

“Aku tidak bersedia.”

“Mengapa?”

“Sebab kalau kalah, aku tak mampu membayar.”

Selesai mengucapkan perkataan itu, Siau-ko menerjang keluar, sebab tiba-tiba ia menemukan orang yang semula berdiri di bawah pohon Pek kini sudah hilang secara tiba-tiba.

Kali ini Siau-ko sudah bertekad akan menyusulnya sampai ketemu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: