Kumpulan Cerita Silat

11/05/2008

Pedang Tetesan Air Mata – 01

Filed under: +Pedang Tetesan Air Mata, Gu Long — ceritasilat @ 10:13 pm

Pedang Tetesan Air Mata – 01
Oleh Gu Long

Dia gagah, perkasa, ganteng, kekar dan berwajah cerah, dengan senyuman manis selalu menghiasi bibirnya, bahkan musuhpun harus mengakui bahwa dia memang seorang lelaki gagah, seorang lelaki yang tak akan kekurangan wanita.

Tapi ia selalu setia, baik terhadap istrinya, putra-putrinya maupun terhadap sahabatnya, belum pernah ia percikkan setitik nama jelekpun kepada mereka.

Kesemuanya ini masih belum terhitung hal-hal yang patut dia banggakan.

Yang paling membanggakan dirinya sepanjang hidupnya kini adalah suatu perbuatannya pada dua tahun berselang.

Dengan ilmu silat, kecerdasan serta kepandaiannya bergaul, ia berhasil membujuk tiga puluh sembilan jagoan kaum rimba hijau yang selalu beroperasi di sekitar daerah dua tepi sungai besar hingga wilayah Kwang-tong untuk melepaskan jalan sesat dan kembali ke jalan yang benar.

Bahkan ia berhasil pula mengorganisir mereka untuk membentuk sebuah piau-kiok (perusahaan ekspedisi) yang terbesar dalam dunia persilatan dewasa ini dan menerima pengawalan barang maupun jiwa para pedagang dengan biaya terendah.

Di bawah perlindungan panji perusahaan mereka yang berhuruf “Toa” belum pernah terjadi suatu kesalahan atau musibah yang menimpa barang kawalan mereka.

Hasil semacam ini boleh dibilang merupakan hasil karya terbesar yang belum pernah terjadi selama ini dalam dunia persilatan, karena hasil tersebut hanya bisa diperoleh dengan semangat yang membaja dan cucuran air keringat serta darah.

Kini, Suma Cau-kun baru berusia tiga puluh enam tahun, tapi lambat laun ia sudah berubah menjadi perlambang bagi umat persilatan, lambang seorang pendekar yang tak pernah terkalahkan.

Hanya dia pribadi dan Cho Tang-lay yang mengerti, dengan cara apakah kedudukan tersebut berhasil mereka ciptakan.

—–

Ketika secawan arak habis diteguk, Cho Tang-lay telah merenungkan sekali lagi semua rencananya yang matang tentang upacara besar yang akan berlangsung malam nanti.

Arak ini diteguknya amat lambat, tapi jalan pemikirannya berputar dengan cepat.

Hari ini adalah hari pertama Suma Cau-kun membuka pintu menerima murid, ditinjau dari segi manapun peristiwa tersebut boleh dibilang merupakan suatu peristiwa besar yang amat menggemparkan dunia persilatan.

Yang paling mengejutkan adalah murid yang akan diterima Suma Cau-kun kali ini ternyata orang itu bukan lain adalah Nyo Kian yang belum sebulan berselang mengkhianati Hiong-say-tong di Tong-ciu.

Hiong-say-tong merupakan satu-satunya organisasi di antara empat puluh aliran di utara yang tidak bergabung dengan Suma Cau-kun, tapi justru merupakan organisasi dengan pengaruh yang terbesar dan kemampuan yang terhebat.

Sebetulnya Nyo Kian termasuk salah satu di antara empat panglima utama yang paling di sayang oleh Cu tongcu dari Hiong-say-tong.

Siapapun tak pernah menyangka kalau Nyo Kian bakal mengkhianati Hiong-say-tong, tapi setiap orang tahu, keesokan harinya sepeninggal Nyo Kian, pihak Hiong-say-tong yang dipimpin ketuanya Cu Bong telah menyebar Bu-lim-tiap (Surat undangan persilatan) sambil menyatakan sikap:

‘Barang siapa berani menampung Nyo Kian, entah dia perguruan atau partai manapun, maka ia akan dianggap sebagai musuh besar Hiong-say-tong, serta akan menerima pembalasan yang paling keji dari pihak Hiong-say-tong’

Sekarang bukan saja Suma Cau-kun telah menampung Nyo Kian, bahkan secara terang-terangan menerimanya sebagai murid kepala.

—–

Pihak Hiong-say-tong memang tidak menggabungkan diri ke dalam kelompok biro ekspedisi yang dipimpin Suma Cau-kun, akan tetapi mereka pun tak pernah bermusuhan secara langsung atau mengganggu barang kawalan mereka.

Si singa jantan Cu Bong termasuk seorang manusia yang licik berakal bulus, keji, tak berperasaan dan sukar dihadapi, lagi pula yang diucapkan selalu dilaksanakan.

Bila ia pernah berkata akan menghadapi seseorang dengan cara apapun, maka siasat busuk atau perangkap keji yang berbentuk apapun dapat dipergunakan olehnya.

Untuk mencapai tujuannya itu, biar dia mesti menukarnya dengan tiga ribu delapan ratus butir kepala anggota Hiong-say-tong pun ia tak segan-segan untuk melakukannya.

Perempuan yang paling disayang dan paling dihormati sepanjang hidupnya bersama adalah Hoa Wu.

Hoa Wu selain cantik, tariannya pun sangat indah.

Ti Kim-ling, seorang tokoh silat yang mengerti menikmati perempuan di dunia saat itu tak mampu berkata sepatah katapun setelah menyaksikan tarian dari Hoa Wu, jauh sebelum dia tewas di ujung senjata kaitan Li-piat-koan.

Ketika orang lain bertanya bagaimana perasaannya, lewat lama…… lama kemudian ia baru menghela napas seraya menjawab: “Aku tak bisa memberi komentar apa-apa, belum pernah kuduga kalau dari tubuh manusia biasa bisa kujumpai sepasang kaki yang begitu indah, aku sendiripun belum pernah melihatnya.”

—–

Setiap umat persilatan yakin dan percaya dalam keadaan dan situasi seperti apapun, Cu Bong tak akan melepaskan Nyo Kian dengan begitu saja.

Walaupun untuk sementara ini ia belum berani mengusik Suma Cau-kun, tapi yang pasti Nyo Kian pasti akan berusaha dilenyapkannya lebih dulu.

Namun berbeda sekali dengan jalan pemikiran Cho Tang-lay.

Ia percaya dan yakin, dalam keadaan dan situasi apapun, kali ini jangan harap Cu Bong bisa mengusik Nyo Kian barang seujung rambutpun.

Ia yakin akan hal ini.

—–

Upacara kebesaran yang diselenggarakan kali ini terbuka untuk umum, setiap orang yang menerima surat undangan dipersilahkan langsung masuk ke ruang dalam serta menjadi tamu agungnya Suma Cau-kun.

Sebaliknya bagi mereka yang tidak menerima surat undangan, merekapun boleh memasuki halaman dan menonton keramaian dari luar ruang utama.

Di antara anggota-anggota Hiong-say-tong, banyak terdapat juga jago-jago tangguh yang sudah berpengalaman luas dalam berbagai pertempuran.

Pembunuh-pembunuh bayaran yang bisa membunuh orang di bawah pengawasan yang ketatpun tak sedikit jumlahnya. Orang-orang semacam ini bisa jadi akan berdatangan pula ke sana malam itu, membaurkan diri di antara orang banyak dan menunggu datangnya kesempatan baik untuk membunuh Nyoo Kian.

Dalam pelaksanaan upacara kebesaran tersebut tentu saja kesempatan semacam ini tak akan banyak.

Tapi Cho Tang-lay percaya, upacara masih dapat diselenggarakan dengan lancar dan sukses. Nyo Kian tetap tidak akan menderita cedera barang sedikitpun.

Karena ia telah memperhatikan setiap situasi yang mungkin bisa dihadapi, iapun sudah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal diambil pihak lawan termasuk orang-orang yang mungkin dikirim untuk membunuh Nyo Kian.

Orang-orang yang dicurigai hampir boleh dibilang sudah berada di bawah pengawasannya yang ketat.

Gara-gara persoalan ini, dia sudah menggerakkan seratus delapan puluh enam orang jago kelas satu dari tiga puluh sembilan piau-kiok (perusahaan ekspedisi) pimpinannya.

Setiap jago yang diturunkan dalam peristiwa ini berkemampuan untuk menghadapi dua puluh delapan orang jago lawan.

Cho Tang-lay membagi mereka menjadi delapan kelompok, setiap kelompok mampu untuk menghadapi satu arah.

Tapi di antaranya terdapat satu kelompok yang dibentuk secara khusus dengan orang-orang pilihan hanya untuk dipersiapkan menghadapi tiga orang saja.

—–

“Siapakah ketiga orang itu?”

Pagi tadi Suma Cau-kun telah mengajukan pertanyaan ini kepada Cho Tang-lay.

“Mengapa kau persiapkan satu kelompok manusia untuk menghadapi mereka?”

Cho Tang-lay cukup menyebutkan nama dari dua orang untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Sebab di antara ke tiga ini terdapat Han Ciang dan Bok Ki (Ayam Kayu)!”

Waktu itu Suma Cau-kun sedang sarapan.

Dia adalah seorang lelaki yang bertubuh kekar, hanya hidangan yang kaya akan gizi dapat menunjang kekuatan tubuhnya.

Menu sarapannya hari ini adalah sepotong daging sapi yang tidak berbobot tiga kati di tambah sepuluh butir telur dan sejumlah besar sari buah.

Daging sapi itu dipanggang dengan arang, di atasnya dibubuhi kecap dan bumbu secukupnya. Daging panggang yang amat lezat.

Menu seperti ini termasuk salah satu menu kegemarannya, namun setelah mendengar kedua nama yang disebut Cho Tang-lay barusan, ia segera meletakkan kembali pisau lengkung buatan Persia yang sedang dipakai untuk memotong daging itu dan mengawasi wajah Cho Tang-lay dengan sorot mata setajam sembilu.

“Han Ciang dan Bok Ki pun telah datang?”

“Benar!”

“Dahulu kau pernah bersua dengan kedua orang ini?”

“Belum!” sahut Cho Tang-lay hambar, “aku yakin belum pernah ada orang yang pernah bersua dengan mereka.”

Nama besar mereka hampir diketahui sebagian besar orang persilatan, tapi amat jarang yang pernah bersua dengan kedua orang itu.

Han Ciang seperti juga Nyo Kian, termasuk panglima-panglima kesayangan pihak Cu Bong si Singa Jantan, ia merupakan orang yang paling dipercaya, tapi terhitung pula manusia yang paling berbahaya.

Cu Bong jarang sekali membiarkan mereka meninggalkan sisi tubuhnya.

Bok Ki (Si Ayam Kayu) jauh lebih berbahaya ketimbang Han Ciang.

Ia tak punya rumah, tak punya rumah kediaman yang pasti, juga tidak mempunyai cara hidup yang tetap, oleh sebab itu siapapun tak dapat menemukan dirinya.

Tapi seandainya ada orang membutuhkannya dan iapun beranggapan dirinya membutuhkan orang ini, maka dia akan muncul secara tiba-tiba di hadapan orang itu.

Yang ia butuhkan biasanya adalah intan permata dan emas murni dalam jumlah besar dari orang lain.

Sebaliknya yang dibutuhkan orang lain dari dirinya biasanya adalah pisau terbang berantai emas serta dua bilah goloknya yang tak pernah berpisah dari tangannya.

Sebilah golok panjang dan sebilah golok pendek.

Bila dia sedang menggorok leher orang dengan goloknya, maka ini akan dilakukan sama hapalnya dengan seorang petani sedang mengarit rumput atau ilalang.

Bila dia sedang menjerat leher orang dengan tali, maka hal tersebut akan dilakukan seluwes seorang lelaki romantis yang sedang menghadiahkan kalung mata rantai ke atas leher kekasihnya.

Tentu saja semua perbuatannya itu membutuhkan imbalan jasa, bila imbalan yang kau tawarkan tidak dapat memuaskan hatinya, biar kau berlutut sambil memohon kepadanya, tak nanti dia akan membunuh seekor semutpun bagimu.

Barang siapa menghendaki jasanya, maka dia harus membayar dulu sejumlah balas jasa yang dapat memuaskan hatinya.

Kecuali satu orang karena sepanjang hidupnya Bok Ki pernah berhutang budi kepadanya. Orang inilah yang tak lain adalah Cu Bong si Singa Jantan.

—–

Pisau lengkung bertatahkan batu pualam sudah diletakkan kembali ke baki kayu, mata pisau masih ternoda oleh minyak daging yang tebal.

Suma Cau-kun menyeka mata pisau tersebut dengan secarik handuk hingga bersih dan berkilat, lalu dia baru bertanya kepada Cho Tang-lay.

“Kau belum pernah bertemu dengan mereka, darimana kau bisa tahu bahwa mereka telah datang?”

“Aku tahu,” sahut Cho Tang-lay hambar, “karena aku tahu, oleh sebab itu aku tahu.”

Jawaban apa ini? Pada hakekatnya jawaban semacam ini tak bisa dianggap sebuah jawaban, siapapun tak akan merasa puas oleh jawaban semacam itu.

Tapi justru Suma Cau-kun merasa puas sekali.

Sebab jawaban itu diutarakan sendiri oleh Cho Tang-lay, ia percaya dengan daya kemampuan Cho Tang-lay di dalam menganalisa sesuatu, seperti ia percaya kalau pisau di atas baki kayu itu dapat dipakai untuk mengiris daging.

Tapi sorot matanya tiba-tiba memancarkan suatu perubahan yang sangat aneh, tiba-tiba mengucapkan perkataan yang sangat aneh.

“Keliru”, dia berkata, “kali ini Cu Bong keliru.”

“Mengapa?”

“Sekarang apakah Han Ciang dan Bok Ki sudah sampai di tempat ini?”, kembali Suma Cau-kun bertanya.

“Benar!”

“Dapatkah mereka tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup?”

“Tidak dapat!”

“Bukankah mereka amat berguna bagi Cu Bong?”

“Benar!”

“Mungkinkah kau lakukan suatu perbuatan yang membiarkan dua manusia yang amat berguna untuk menghantar kematian?”, tanya Suma Cau-kun lebih jauh, “mungkinkah kau lakukan hal seperti itu?”

“Tidak mungkin!”

Suma Cau-kun segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaaahhhh…….. haaahhhhhhh…… haaaahhhhh….. oleh sebab itu Cu Bong keliru, ia jarang melakukan kekeliruan, tapi kali ini ia keliru besar.”

Cho Tang-lay tidak tertawa, menanti hingga Suma Cau-kun selesai tertawa, pelan-pelan ia baru berkata:

“Cu Bong tidak keliru”

“Oya?”

“Ia menyuruh mereka datang kemari bukanlah suruh mereka menghantar kematian.”, kata Cho Tang-lay.

“Lantas apa yang harus mereka lakukan di sini?”

“Sebagai kedok,” sahut Cho Tang-lay, “Han Ciang dan Bok Ki tak lebih hanya sebagai kedok.”

“Mengapa?”

“Karena orang yang benar-benar akan membunuh Nyo Kian bukan mereka, melainkan orang lain, seandainya kita hanya berjaga-jaga terhadap mereka, maka orang ke tiga akan lebih gampang menunaikan tugasnya……”

“Siapakah orang ini?”

“Seorang pemuda yang memakai baju kasar dengan membawa sebilah pedang, ia berdiam di rumah penginapan kecil yang murahan, setiap kali bersantap hanya memesan semangkuk mie di masak kuah kol hijau.” Cho Tang-lay menerangkan, “ia sudah tiga hari sampai di sini, tapi kecuali keluar rumah untuk makan mie, hampir boleh dibilang tak pernah melangkah keluar dari pintu kamarnya.”

“Apa yang dia lakukan dengan mengurung diri di dalam rumah kecil yang kecuali kutu busuk, apapun tiada itu?

“Siapa tahu?”

“Darimana dia datang?”

“Entahlah!”

“Ilmu pedang apa yang dipelajari? Hebatkah kepandaian ilmu silatnya….?”

“Entahlah!”

Tiba-tiba saja kelopak mata Suma Cau-kun berkerut kencang.

Perkenalannya dengan Cho Tang-lay sudah berlangsung dua puluhan tahun, sejak dari lumpur kesulitan dan kemiskinan hingga merangkak ke kedudukan hari ini. Tiada orang yang lebih memahami watak Cho Tang-lay daripada dirinya, juga tiada orang yang lebih memahami tentang dirinya daripada Cho Tang-lay.

Ia tak menyangka kalau ucapan ‘entahlah’ bisa muncul pula dari mulut Cho Tang-lay.

Bila Cho Tang-lay hendak menyelidiki seseorang, paling banter dia hanya membutuhkan waktu selama tiga sampai lima jam untuk mengetahui asal usul orang itu, latar belakang kehidupannya, kebiasaannya serta aliran ilmu silat yang dimilikinya. Bahkan iapun akan melengkapi pula dengan keterangan darimana ia berasal dan hendak kemana dia akan pergi.

Dalam melakukan pekerjaan seperti ini, bukan saja dia sangat berpengalaman, bahkan iapun mempunyai akal, mempunyai banyak cara untuk melaksanakannya, setiap cara yang dimilikinya semuanya manjur.

Cara-cara tersebut diketahui pula oleh Suma Cau-kun.

“Ia berdiam di rumah penginapan murahan, mengenakan pakaian dari bahan yang kasar dan makan mie kuah sayur yang murah,” kata Suma Cau-kun kemudian, “ditinjau dari beberapa hal ini, paling tidak kau harus dapat melihat bahwa dia bukan seorang manusia yang terlalu berhasil, asal-usulnyapun tentu tidak terlalu baik.”

“Seharusnya memang demikian, tapi pemuda ini teristimewa.”

“Mengapa?”

“Sebab kewibawaannya,” Cho Tang-lay menerangkan, “ketika kujumpai dia, meski ia sedang makan semangkuk mie kuah di rumah makan murahan yang berdesakan dengan para kuli dan pendorong kereta, namun gaya maupun gerak-geriknya justru menyerupai seorang mahasiswa yang lulus ujian dan sedang menghadiri perjamuan mewah yang diselenggarakan oleh Sri Baginda Kaisar. Meski hanya mengenakan pakaian dari bahan kasar, namun seolah-olah mengenakan bulu musang yang tak ternilai harganya.”

“Mungkin ia memang sengaja berlagak demikian?”

“Sikap seperti ini tak mungkin bisa diperlihatkan orang biasa, hanya seorang manusia yang terlalu percaya dengan kemampuan sendiri baru akan bersikap begini, belum pernah kusaksikan manusia yang begitu percaya pada diri sendiri macam ini.”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Suma Cau-kun, lambat-laun ia mulai ketarik dengan pemuda tersebut.

Belum pernah ia saksikan Cho Tang-lay menilai amat tinggi seseorang seperti apa yang dilakukannya sekarang.

“Nama yang digunakan olehnya dalam rumah penginapan itu adalah Li Hui-seng, tapi aku yakin nama tersebut pasti palsu,” Cho Tang-lay kembali berkata.

“Darimana kau tahu kalau palsu?”

“Sebab aku melihat sendiri ia menulis namanya di meja kasir, tulisannya sih bagus, Cuma gaya tulisannya kaku. Bagi seseorang yang pandai menulis, mustahil dia akan menulis namanya dengan gaya tulisan yang kaku.”

“Dengan dialek darimana ia berbicara?”

“Aku belum pernah berbicara dengannya, tapi sudah kutanyakan hal ini kepada pemilik rumah penginapan itu.”

“Apa dia bilang?”

“Dahulu ia pernah menjadi seorang Siang-cu-jiu dari suatu piau-kiok (biro ekspedisi), banyak tempat yang telah ia kunjungi dan ia menguasai tujuh delapan macam dialek, tapi ia tak dapat mendengar darimanakah asal dari tamu she Li ini.”

“Mengapa?”

“Sebab Li sianseng inipun pandai menggunakan tujuh delapan macam dialek, bahkan setiap macam dialek yang dikuasainya tidak lebih jelek darinya.”

“Bagaimana dengan pakaian yang dikenakannya?”

Seringkali dari pakaian yang dikenakan seseorang pun dapat dilihat banyak keterangan.

Bahan yang dipakai untuk membuat pakaian berbeda, meski sama kain belacu, jenisnya pun sangat banyak, pemintalan setiap daerah berbeda-beda, hasil kapas tiap daerah pun tak sama.

Untuk membedakan dalam hal ini, Cho Tang-lay pun terhitung seorang ahli.

“Aku percaya kau pasti sudah melihat pakaiannya, apa yang berhasil kau lihat?” tanya Suma Cau-kun.

“Apapun tak berhasil kulihat,” kata Cho Tang-lay, “belum pernah kulihat kain belacu jenis tersebut, bahkan dengan benang apakah pakaiannya dijahitpun sama sekali tidak kuketahui.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:

“Aku percaya kain itu pasti hasil pemintalannya sendiri, pakaian itupun jahitannya sendiri, bahkan kapas yang dipakai sebagai bahanpun ditanam di suatu tempat yang istimewa, mungkin kita berdua belum pernah berkunjung ke tempat tersebut.”

Mereka turun ke arena dunia persilatan bersama-sama, menjelajahi kolong langit bersama-sama, tempat yang pernah dikunjungi Cho Tang-lay tentu pernah dikunjungi pula oleh Suma Cau-kun.

Sambil tertawa getir Suma Cau-kun berkata:

“Kalau kita saja tak pernah berkunjung ke situ, mungkin orang yang pernah berkunjung ke situ tak akan terlalu banyak.”

“Akupun tidak melihat pedangnya,” Cho Tang-lay kembali berkata, “pedangnya selalu terbungkus dibalik kain tebal, bungkusan itu selalu dibawa kemanapun dia pergi.”

“Samakah bahan kain yang dipakai untuk membungkus pedangnya itu dengan bahan pakaiannya?”

“Sama seratus persen”

Tiba-tiba Suma Cau-kun tertawa.

“Tampaknya Li sianseng memang seorang manusia aneh, seandainya ia berniat membunuhku, suasana pada malam nanti pasti akan bertambah meriah.”

—–

Senja baru saja menjelang tiba.

Ruangan sebuah warung makan kecil penuh diliputi bau harum minyak babi cah sawi, bau busuk keringat para penghela kereta serta bau pedas arak, selada dan cabe yang bercampur aduk menjadi satu menciptakan semacam bau yang aneh.

Siau-ko menyukai bau semacam ini.

Ia menyukai bau harum pohon dan dedaunan di puncak bukit yang terhembus angin dingin, namun diapun menggemari bau-bauan semacam ini……

Ia suka kelembutan dan keagungan para sastrawan, seniman dan orang-orang kenamaan, tapi diapun menyukai bau busuk para pekerja kasar yang berpenghasilan kecil, bau lagi kasar ini.

Pokoknya ia menyukai makhluk yang bernama Manusia.

Karena sudah lama ia hidup menyendiri selain gunung, awan, air terjun dan cemara, ia jarang bertemu manusia.

Hingga tiga bulan berselang, ia baru kembali ke dunia ramai, dalam tiga bulan yang singkat ia telah membunuh empat orang.

Ke empat orang ini rata-rata merupakan pemimpin suatu wilayah tertentu yang ternama dan berkedudukan luar biasa, empat orang yang meski pantas dibunuh namun tak mungkin bakal mampus.

Ia suka manusia, tapi ia harus membunuh mereka.

Ia tidak senang membunuh manusia, tapi ia harus membunuh orang-orang itu.

Banyak persoalan di dunia ini memang selalu demikian, membuat kau tiada pilihan lain.

—–

Tiang-an adalah sebuah kota kuno yang megah, ramai dan penuh dengan aneka cerita dan catatan sejarah yang luar biasa.

Tapi Siau-ko bukan datang lantaran persoalan ini.

Siau-ko datang dikarenakan seseorang……. Suma Cau-kun, si pahlawan yang tak pernah terkalahkan.

Ia datang membawa pedangnya dan pedang tersebut kini berada di sisi tangannya selalu dan selamanya berada di sisi tangannya.

Pedang tersebut merupakan pedang yang dibungkus dengan kain kasar.

Jarang sekali ada yang dapat melihat pedang ini. Sejak pedang tersebut ditempa, sedikit sekali yang dapat melihatnya.

Pedang itu memang bukan barang tontonan.

Siau-ko tahu sudah ada orang yang mulai menaruh perhatian kepadanya.

Hari kedua setibanya dia di sini, segera diketahui olehnya kalau ada orang sedang memperhatikan gerak-geriknya, seorang lelaki bertubuh kurus, kecil, memakai pakaian perlente dan mempunyai sepasang mata yang kelabu, sepasang mata yang dingin, kaku dan seakan-akan tak pernah menampilkan perasaan apapun.

Ia pernah menyaksikan sepasang mata semacam ini.

Ketika ia masih berusia sebelas tahun, nyaris jiwanya melayang di ujung cakar seekor macan tutul. Nah, sepasang mata orang itu mirip sekali dengan mata macan tutul tersebut.

Tatkala orang itu menampakkan diri, semua orang yang berada di dalam warung seolah-olah berhenti bernapas.

Akhirnya ia mendapat tahu kalau orang ini adalah seorang pembantu utama dari Suma Cau-kun, pemimpin dari tiga puluh sembilan piau-kiok (biro ekspedisi) wilayah utara, Cho Tang-lay adanya.

Siau-ko pelan-pelan menyuapi hidangannya ke mulut, dia merasa amat riang.

Sebab dia tahu Cho Tang-lay dan Suma Cau-kun tentu menaruh curiga kepadanya, membicarakan dirinya dan coba menduga manusia macam apakah dirinya.

Dia yakin mereka tak akan mengetahui siapakah dirinya.

Karena dia seperti juga dengan pedangnya, hingga kini jarang sekali ada yang pernah melihatnya.

—–

Lambat laun hari menjadi gelap, walaupun dalam ruangan tiada lentera, cahaya api di luar sana kian lama kian bertambah benderang.

Ketika angin dingin berhembus lewat melewati celah jendela, lambat-lambat terdengar suara pembicaraan manusia dan gelak tertawa yang bergema datang dari halaman depan sana.

Suma Cau-kun tahu, tamu-tamu agung yang khusus diundang olehnya serta orang-orang yang tidak diundang telah berdatangan semua.

Diapun tahu, setiap orang sedang menunggu penampilannya, menunggu untuk melihat dia.

Tapi ia justru duduk di kusir tanpa berkutik sama sekali, bahkan tatkala istrinya masuk ke dalampun ia belum beranjak dari posisi semula.

Ia begitu masgul dan kesal.

Terhadap persoalan seperti membuka upacara menerima tamu, memimpin perjamuan dan menyambut tamu agung, semuanya baginya terasa mengesalkan dan membikin hati terasa masgul.

Sekarang dia hanya ingin duduk tenang di situ sambil meneguk secawan arak.

—–

Go Wan cukup memahami jalan pemikirannya.

Tiada orang yang lebih memahami Suma Cau-kun daripada Go Wan sendiri.

Mereka sudah menikah sebelas tahun, telah dikaruniai seorang anak berumur sembilan tahun.

Ia memang bermaksud mendesaknya agar cepat-cepat keluar.

Tapi dia masuk secara diam-diam lalu keluar lagi secara diam-diam, sama sekali tidak mengusiknya.

Sewaktu meninggalkan ruangan, tiba-tiba saja air matanya jatuh bercucuran.

—–

Suma Cau-kun kembali memenuhi cawannya dengan arak.

Arak ini bukan cawan yang pertama lagi, melainkan cawan yang ke dua puluh tujuh.

Arak yang diteguk bukan arak anggur Persia seperti yang diteguk Cho Tang-lay, yang diteguk adalah arak putih, meski tidak berwarna atau berbau, namun setelah masuk ke dalam perut akan menimbulkan hawa panas seperti dibakar dengan api.

Ia tidak menghabiskan isi cawannya ini.

Pintu kembali di buka pelan-pelan, kali ini yang masuk bukan Go Wan melainkan Cho Tang-lay.

Suma Cau-kun menurunkan tangannya dan meletakkan kembali cawan araknya ke atas meja lalu memandang bayangan Cho Tang-lay yang berdiri di depan pintu.

“Apakah aku harus keluar sekarang?”

“Benar!”

—–

Ruang tengah terang benderang bermandikan cahaya, suasana amat gaduh dengan suara manusia.

Siau-ko berdiri di tengah kerumunan orang, sebab dia tidak termasuk tamu kehormatan yang diundang Suma Cau-kun, maka tentu saja iapun tak boleh memasuki ruang tengah yang gemerlapan oleh cahaya lentera itu.

Tak sedikit manusia yang hadir dalam ruang tengah, tentu saja mereka adalah orang-orang kenamaan, manusia-manusia yang punya kedudukan, punya nama besar serta mempunyai kekuasaan.

Kecuali manusia-manusia tenar itu, terdapat pula sekelompok lelaki kekar berbaju hijau yang bertindak sebagai penerima tamu, mereka semua memiliki gerak-gerik yang amat cekatan dan gesit, sorot mata mereka semua tajam dan jeli, tak nanti mereka lakukan kesalahan yang bagaimanapun kecilnya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening.

Pemimpin tiga puluh sembilan piau-kiok wilayah utara, manusia paling tangguh dari dunia persilatan dewasa ini, Suma Cau-kun yang selamanya tak pernah terkalahkan, akhirnya munculkan diri.

Suma Cau-kun muncul dengan mengenakan satu stel pakaian hitam putih yang dirancang serta dibuat secara khusus, membuat perawakan tubuhnya nampak lebih tinggi, lebih kekar dan perkasa, bahkan membuat usianya nampak jauh lebih muda daripada usianya yang sesungguhnya.

Dengan sikap yang tulus dan ramah, ia menyapa tamu-tamu undangannya, bahkan secara khusus keluar dari ruangan untuk menyapa kawanan manusia yang berkerumun di luar halaman.

Di tengah sorak-sorai yang memekikkan telinga, Siau-ko tidak memperhatikan Suma Cau-kun, melainkan dua orang yang lain.

Dandanan maupun potongan wajah ke dua orang ini sangat sederhana, namun sepasang mata mereka justru memancarkan semacam hawa pembunuhan yang sadis dan menakutkan.

Mereka tidak berdiri berjajar, tidak pernah saling berpandangan mata, namun di seputar mereka justru berdiri delapan sembilan orang yang secara diam-diam mengamati gerak-gerik mereka, selalu mengikuti kemanapun mereka pergi dengan menjaga suatu jarak tertentu.

Siau-ko yang menyaksikan kesemuanya itu segera tersenyum.

Ia mengerti, dua orang itu datang lantaran masalah Nyo Kian, mereka adalah pembunuh-pembunuh kelas satu yang dikirim Cu Bong.

Ia pun mengerti, Suma Cau-kun dan Cho Tang-lay tentu menganggapnya sealiran dengan kedua orang ini, sebab ia menyaksikan di sekelilingnya pun ada orang yang sedang mengamatinya, bahkan orang yang mengamati gerak-geriknya kian lama kian bertambah banyak.

Tak disangkal lagi Cho Tang-lay pasti menganggap dia sebagai manusia yang paling berbahaya.

“Tapi kali ini Cho Tang-lay salah menduga,” demikian Siau-ko berpikir sambil tersenyum, “percuma saja ia mengutus orang untuk menguntitku, sebab cara seperti ini hanya membuang tenaga dengan percuma.”

—–

Dua batang lilin raksasa yang berada di atas meja besar di tengah ruangan telah disulut.

Suma Cau-kun telah duduk pula di kursi kebesarannya yang berlapiskan kulit harimau.

Di depan kursi terlihat permadani merah, di atas permadani tampak pula bantal untuk berlutut.

Upacara besar segera akan dimulai.

Dua manusia bermata hawa pembunuhan telah makin maju ke depan, tentu saja orang-orang yang menguntit merekapun ikut menggeserkan langkah masing-masing, tangan mereka telah merogoh ke dalam saku bersiap sedia.

Benda yang disembunyikan dalam saku mereka tentu saja senjata-senjata pembunuh.

Asal kedua orang itu menunjukkan sesuatu gerakan, maka dalam waktu singkat orang-orang itu pasti akan mengeluarkan senjata pembunuh mereka dan melancarkan serangan yang mematikan.

Tapi Siau-ko yakin, kedua orang ini tak akan berhasil.

‘Pasti ada orang ketiga di sekitar sana, dan orang itulah pembunuh yang sebenarnya dipersiapkan untuk menghabisi nyawa Nyo Kian’

Ternyata jalan pemikiran Siau-ko sejalan dengan jalan pemikiran Cho Tang-lay, hanya bedanya adalah Siau-ko tahu kalau orang tersebut bukan dirinya.

Lalu siapakah orang itu?

Mendadak kelopak mata Siau-ko mengerut kencang.

Mendadak ia melihat seseorang yang tak mungkin akan menarik perhatian orang lain menyelinap di antara kerumunan orang banyak.

Siau-ko menaruh perhatian kepada orang ini, karena orang ini membawa sebuah peti yang aneh.

Sebuah kotak yang sederhana, biasa dan tak mungkin akan memancing perhatian orang lain.

Dia ingin memandang wajah orang itu, namun orang itu tak pernah berpaling ke arahnya.

Dia ingin menyelinap ke sana namun gerombolan manusia mendesak pula ke depan, sebab tokoh dari upacara kali ini sudah berjalan masuk ke dalam ruangan.

Paras muka Nyo Kian nampak pucat dan lemah, namun sekulum senyuman masih menghiasi wajahnya.

Dia masuk ke dalam ruangan dikelilingi enam orang manusia.

Siau-ko tidak kenal siapakah ke enam orang itu, tapi bagi mereka yang sering berkelana dalam dunia persilatan, sedikit sekali yang tidak kenal mereka, sebab di antaranya bukan saja merupakan jagoan lihay yang sudah lama termasyhur di bidang piau-kiok, bahkan perampok ulung yang pernah malang melintang di jalan raya Kwan-lok, Im-boan-thian (Awan memenuhi angkasa) pun terdapat di antara mereka.

Di bawah perlindungan enam jago lihay semacam ini, siapakah yang mampu melukai Nyo Thian?

—–

Nyo Kian telah berada di atas permadani, berjalan ke depan kasur yang khusus disediakan sebagai tempat untuk menghormati bakal gurunya.

Pada saat itulah dari arah halaman mulai terjadi kegaduhan. Di dalam waktu singkat ada dua puluh orang yang roboh terjungkal, mengucurkan darah dan roboh binasa ke atas tanah.

Jeritan kaget, bentakan nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan.

Orang-orang yang roboh binasa bukan anak buah Cho Tang-lay, sebagian besar malahan orang-orang yang tidak berdosa.

Rencana ini memang sudah dirundingkan Han Ciang dan Bok Ki secara cermat.

Tentu saja merekapun tahu ada orang sedang mengawasi mereka, maka sebelum turun tangan, mereka harus menerbitkan kekalutan lebih dulu, kekalutan yang diciptakan dengan cucuran darah orang-orang yang tak bersalah.

Di tengah kekalutan tersebut, tubuh mereka bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya menerjang ke arah Nyo Kian.

Siau-ko sama sekali tidak memandang ke arah mereka, melirikpun tidak.

Ia percaya, biar menggunakan taktik macam apapun tak nanti ke dua orang itu akan berhasil, yang diperhatikan olehnya hanya si manusia pembawa peti itu.

Tapi orang tersebut sudah lenyap tak berbekas.

Suma Cau-kun masih tetap duduk di kursi kebesarannya, sama sekali tak berkutik, paras mukapun tak berubah.

Para pembunuh sudah tertahan di bagian luar ruang tengah.

Di bawah lindungan enam jago lihay, Nyo Kian telah berjalan menuju ke ruang belakang melalui pintu darurat.

Sejak tadi Siau-ko sudah memperhatikan arah pintu tersebut dengan seksama.

Ia selalu mengamati orang-orang itu, begitu perhatian mereka membuyar, tiba-tiba saja Siau-ko menyusup ke dalam ruang tengah, lalu dengan mempergunakan gerakan tubuh yang istimewa dan tak terlukiskan dengan kata-kata, dia menyusup melalui dinding samping dan menerobos ke dalam jendela.

Tentu saja jendela dan arah pintu itu searah.

Halaman belakang penuh ditumbuhi pohon Bwee dan pohon Cemara, bau harum semerbak memancar kemana-mana.

Tapi sepanjang beranda tersebut, suasana terasa menyeramkan karena sederet pengawal berbaju hijau dengan golok terhunus berjaga-jaga di situ.

Di ujung beranda terdapat pula sebuah pintu.

Tatkala Siau-ko menyelinap keluar melalui jendela, kebetulan ia saksikan Im-boan-thian sekalian dengan mengiring Nyo Kian menyelinap masuk ke dalam pintu tersebut.

Pintu segera tertutup rapat.

Sementara itu golok panjang telah diloloskan dari pinggang kawanan pengawal berbaju hijau itu, di antara kilauan cahaya golok, ada dua belas orang di antaranya telah menerkam ke arah Siau-ko.

Mereka tidak bertanya siapakah Siau-ko, juga tidak bertanya mau apa dia datang ke situ.

Mereka hanya tahu melaksanakan perintah, barang siapa berani memasuki halaman tersebut, segera bunuh tanpa ampun.

Siau-ko pun tidak menerangkan mengapa dia datang ke situ, situasi saat ini sudah mencapai saat dimana orang tak dapat menjelaskan masalahnya dengan perkataan.

Yang harus dilakukan olehnya sekarang adalah merobohkan orang-orang itu. Mempergunakan cara yang tercepat untuk merobohkan orang-orang tersebut.

Ia harus secepatnya menerjang masuk ke ruangan di ujung beranda tersebut.

Ketika cahaya golok menyambar datang menyilaukan mata, pedang Siau-ko masih berada dalam bungkusan kainnya.

Ia tak perlu meloloskan pedangnya, dengan bungkusan itulah dia menghajar tiga bilah golok sampai mencelat dan merobohkan empat musuhnya.

Di saat ia menyerbu ke dalam beranda itulah kembali ada tujuh delapan orang yang dirobohkan. Di saat orang-orang itu roboh, ia telah menyerbu ke luar pintu.

Tapi saat itulah Cho Tang-lay sudah muncul di pintu depan.

Dia memang seorang manusia yang selalu bersembunyi di belakang layar, tapi bila terjadi perubahan yang luar biasa, segera munculkan diri tepat pada saatnya.

Siau-ko memandang ke arahnya, kemudian menghela napas panjang:

“Sebetulnya mungkin masih sempat, sayang, sekarang sudah tak sempat lagi.”

Cahaya golok dari belakang kembali membacok tiba, Siau-ko tidak berpaling, sebaliknya Cho Tang-lay segera mengulapkan tangannya, cahaya golok yang berkilauan di tengah udara segera terhenti.

“Mau apa kau kemari?” Cho Tang-lay menegur dingin, “apa yang hendak kau lakukan?”

“Aku hanya ingin melihat seseorang.”

“Melihat siapa?”

“Manusia yang membunuh manusia.”

Cho Tang-lay segera tertawa dingin.

“Tiada orang yang dapat membunuh manusia di sini.” serunya.

“Ada, ada seorang.”

Tiba-tiba paras muka Cho Tang-lay berubah, sebab ia telah mengendus bau amis darah yang tipis.

Bau amisnya darah itu berasal dari bilik pintu ruangan yang tertutup rapat itu.

Cho Tang-lay membalikkan badan sambil menjebol pintu tersebut, tapi apa yang kemudian terbentang di depan mata membuat tubuhnya seolah-olah terjerumus ke dalam neraka.

Di balik pintu sebenarnya terbentang sebuah ruangan yang sangat indah dan mewah, namun sekarang ruangan tersebut telah berubah menjadi neraka.

Tiada manusia hidup yang dapat berdiam di neraka, demikian pula dalam ruangan tersebut.

Tujuh orang yang tadi masuk dalam keadaan segar bugar, kini tak pernah dapat keluar lagi dari ruangan tersebut dalam keadaan hidup, ada yang lehernya digorok orang, ada yang jantungnya ditembusi pedang, ada pula yang dadanya tertusuk tombak sehingga tembus belakang punggungnya.

Keadaan paling parah dialami oleh Nyo Kian.

Batok kepala Nyo Kian telah hilang, sementara di sisinya tertinggal secarik kertas yang bertuliskan:

‘BEGINILAH NASIB SEORANG PENGKHIANAT’

Di dalam ruangan terdapat empat buah jendela, semua jendela tersebut berada dalam keadaan tertutup.

Kemana perginya si pembunuh tersebut?

Jendela segera dibuka, bintang dan rembulan bersinar cerah di angkasa, dari kejauhan sana terdengar suara gembrengan dan tambur yang dibunyikan, hari ini memang hari Goan-siau.

Angin malam berhembus lewat mendatangkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Lama sekali Cho Tang-lay berdiri termenung, ia tidak mengutus orang untuk menelusuri jejak sang pembunuh tersebut, tapi pelan-pelan membalikkan badan dan menatap wajah Siau-ko.

“Engkau tahu, kalau ada orang bakal kemari membunuh orang?” ia bertanya.

“Bukan cuma aku yang tahu, seharusnya kaupun tahu,” Siau-ko menghela napas panjang, “aku memang berharap dapat menjumpai raut wajah orang itu.”

“Tapi orang yang melakukan pembunuhan ini, jelas bukan satu orang……”

Untuk memotong leher dan membacok kepala dipakai sebilah golok tipis yang tajam, sedang untuk menembusi jantung dan ulu hati orang digunakan sebilah tombak yang tajam. Sebaliknya batok kepala Nyo Kian agaknya dipenggal dengan sebilah kampak.

Sikap Cho Tang-lay pelan-pelan menjadi tenang kembali. Tenang dan dingin.

“Tentu kau dapat melihat, paling tidak ada tiga orang yang hadir di tempat kejadian,” ujarnya, “tiada orang dapat mempergunakan tiga macam senjata yang berbeda dan jurus serangan yang berbeda pula untuk membunuh orang dalam waktu yang bersamaan.”

“Ada” jawab Siau-ko penuh keyakinan, “ada seseorang!”

“Kau anggap di dunia ini benar-benar terdapat manusia semacam ini? Dapat membunuh tujuh orang jago lihay pada saat yang bersamaan dengan mempergunakan tiga macam senjata?”

“Benar!” jawaban Siau-ko sangat meyakinkan, “mungkin tiada orang ke dua di dunia ini yang bisa berbuat demikian, tapi yang jelas tentu ada satu orang.”

“Siapakah orang itu?”

“Aku tidak tahu!”

Sekali lagi Siau-ko menghela napas panjang.

“Tadi, seandainya kau tidak merintangi aku, mungkin aku dapat melihat wajahnya.”

Cho Tang-lay menatapnya lekat-lekat. Ia sudah merasakan betapa telapak tangannya mulai berkeringat dingin.

“Tapi aku tidak mengetahui bila ia telah tiba di kota Tiang-an,” kata Siau-ko lebih jauh, “akupun tidak menyangka kalau dia akan membantu Cu Bong untuk membunuh orang.”

Sekali lagi Cho Tang-lay mengamati wajahnya sampai lama sekali, memperhatikan sorot matanya, memperhatikan sikapnya, memperhatikan caranya berdiri dan memperhatikan pedangnya yang terbungkus oleh secarik kain kasar.

Tiba-tiba ia berkata: “Aku percaya kepadamu, seandainya kau ingin pergi, sekarang juga kau boleh pergi.”

Orang yang sempat mendengar pembicaraan ini tentu terkejut, tentu tercengang, sebab sikap semacam ini bukan sikap Cho Tang-lay yang sesungguhnya, belum pernah ia lepaskan seseorang dengan begitu saja.

Hanya Cho Tang-lay seorang yang tahu mengapa dia berbuat demikian. Ia sudah merasakan Siau-ko adalah seorang manusia yang berbahaya sekali. Berada dalam keadaan begini, dia tidak ingin mencari gara-gara lagi bagi dirinya sendiri.

Siau-ko segera tertawa.

“Akupun tahu bila aku ingin pergi, setiap saat aku dapat pergi,” katanya, “sayang aku masih belum ingin pergi.”

“Mengapa?”

“Sebab aku belum memberitahukan sesuatu hal kepadamu.”

“Soal apa?”

“Aku tidak she Li, juga tidak bernama Li Hui-seng,” kata Siau-ko, “akupun bukan datang kemari lantaran Nyo Kian.”

“Aku tahu,” kata Cho Tiang-lay, “justru karena aku tahu, maka aku ijinkan dirimu untuk pergi.”

“Sayang masih banyak persoalan yang belum kau ketahui,” Siau-ko tersenyum, “justru karena kau belum mengetahui, maka aku belum dapat pergi dari sini.”

Cho Tang-lay mengepal tangannya kencang-kencang.

Mendadak ia merasakan suatu ambisi yang aneh dan sukar dirasakan orang lain pada diri pemuda ini, seperti seekor binatang buas yang baru turun dari gunung, terhadap masalah dan manusia macam apapun tak pernah merasa takut.

“Aku she Ko, aku datang karena seseorang.”

“Karena siapa?”

“Karena Suma Cau-kun, Suma Cau-kun yang tak pernah terkalahkan.”

Tangan Cho Tang-lay yang mengepal kencang, tiba-tiba terasa basah oleh keringat dingin.

“Kau adalah Ko Cian-hui?” ia bertanya kepada Siau-ko, “jago pedang muda Ko Cian-hui yang telah membunuh empat jago lihay dari Kun-lun-pay, Hoa-san-pay dan Khong-tong-pay pada tiga bulan berselang?”

“Benar, itulah aku!”

Malam semakin kelam, angin berhembus makin kencang.

“Aku tak pernah membunuh orang di kegelapan,” ujar Siau-ko, “maka aku minta kalian yang memilih suatu tempat dan memilih waktu tepat, agar aku dapat melihat, benarkah Suma Cau-kun tak pernah kalah untuk selamanya.”

Mendadak Cho Tang-lay tertawa.

“Kujamin dia pasti akan memberitahukan kepadamu, cuma kuanjurkan lebih baik kau jangan mengetahui hal ini untuk selamanya.”

—–

Jalan raya yang panjang gemerlapan oleh aneka cahaya lentera. Berbagai macam manusia, bercorak ragam lentera, bertebaran di mana-mana, namun Siau-ko seolah-olah tidak melihatnya.

Cho Tang-lay telah berjanji kepadanya, dalam sebulan mendatang pasti akan memberi jawaban kepadanya, bahkan menjamin akan mengadakan suatu pertarungan yang adil baginya dengan Suma Cau-kun.

Sebenarnya ia datang karena persoalan itu, tapi sekarang dia seperti tidak terlalu memperhatikan akan hal ini.

Yang dipikirkan olehnya sekarang hanya seorang, seorang manusia dengan sebuah peti.

Manusia macam apakah orang ini? Berapa banyak senjata menakutkan yang terdapat di balik peti itu?

Waktu itu memang terdapat seseorang yang membawa sebuah peti, sedang berjalan ke luar dari kota Tiang-an, menelusuri jalan yang sepi dan menentang angin malam yang dingin.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: