Kumpulan Cerita Silat

07/05/2008

Bahagia Pendekar Binal (07)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:11 pm

Bahagia Pendekar Binal (07)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Belum lagi Li Toa-jui bersuara, tiba-tiba di atas ada orang berseru, “Sam-ci, Sam-ci, di mana kalian?”

Sambil mengernyitkan kening Buyung San mengomel, “Dia Thio Cing, mengapa setan cilik ini baru menyusul kemari sekarang?”

Maka ia lantas berseru menjawabnya, di tengah seruan itu tertampaklah Siau-sian-li Thio Cing berlari masuk, mukanya kelihatan merah penuh semangat, begitu berhadapan dengan Buyung San segera ia pegang tangannya, katanya dengan napas terengah-engah, “Aku melihat…melihat seorang…aku melihat seorang…”

“Hanya melihat seorang saja kenapa mesti geger-geger begini?” omel Buyung San geli. “Setiap hari ada puluhan bahkan ratusan orang yang kulihat.”

“Tapi…tapi orang ini…” Mendadak Siau-sian-li tersenyum penuh rahasia, ia mengerling lalu bertanya malah, “Coba kau terka siapa orang ini, selamanya takkan dapat kau terka.”

“Memangnya siapa?” mau-tak-mau Buyung San jadi tertarik. Tiba-tiba tergerak hatinya, ia menjadi tegang dan menambahkan, “He, apakah kau lihat Siau-hi-ji.”

Pertanyaan ini mengakibatkan semua orang ikut tegang, semuanya terbelalak memandang Siau-sian-li dan menantikan jawabannya.

Dengan tertawa Siau-sian-li menjawab perlahan, “Ya, memang betul Siau-hi-ji. Kalian mencarinya ke sini, siapa tahu dia malah mendatangi kapal kita.”

“He, apa betul?!” seketika Han-wan Sam-kong melonjak girang dan kejut.

Siau-sian-li melototinya sekejap lalu berkata pula, “Meja perjamuan di sana belum lagi dibersihkan, sebab hendak menunggu kembalinya kalian untuk melanjutkan pestanya. Siapa menduga sampai lohor belum lagi nampak kalian kembali, tahu-tahu dari dalam sungai melompat keluar beberapa orang, begitu melompat ke atas kapal, tanpa tanya dan tanpa bicara mereka terus makan minum dengan lahapnya seperti setan kelaparan. Seorang di antaranya bahkan tidak pakai sumpit lagi, langsung kedua tangannya mengambil makanan yang tersedia. Dan dia itulah Siau-hi-ji.

“Buset, bisa jadi dia hampir gila saking kelaparan,” seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

“Selain dia, masih ada siapa lagi?” segera Bu-koat ikut bertanya.

“Dengan sendirinya ada pula Ih-hoa-kiongcu,” jawab Siau-sian-li dengan tertawa. “Sungguh tak kusangka mereka masih kelihatan begitu muda. Bahkan baju mereka pun sangat aneh, meski baru melompat keluar dari air, ternyata tiada yang basah. Siau-hi-ji kelihatan tak keruan macamnya, tapi kedua Kiongcu itu tetap kelihatan anggun, tiada ubahnya seperti Sian-li (dewi kayangan).”

“Jika demikian, julukanmu seharusnya diberikan kepada mereka saja,” dengan tertawa Buyung San berseloroh.

Siau-sian-li berkedip-kedip, lalu bertutur pula, “Yang ikut datang bersama mereka masih ada lagi seorang anak perempuan, kepalanya tampak besar, sedikit pun tidak cantik, tapi mesra sekali dengan Siau-hi-ji.”

Keterangan ini membuat semua orang merasa heran pula, tanpa terasa semua orang memandang ke arah Thi Sim-lan. Nona itu kelihatan menggigit bibir dan sama sekali tidak berani mengangkat kepala.

Thi Cian menjadi gusar, teriaknya, “Bocah itu berani bermesraan dengan perempuan lain, memangnya anak perempuanku tak dapat menandingi perempuan buruk kepala besar itu?”

Dengan tertawa Siau-sian-li bercerita pula, “Diam-diam aku pun geli mengapa Siau-hi-ji yang suka mencemoohkan orang itu bisa penujui seorang nona macam begitu. Tapi kemudian makin dilihat makin kurasakan anak perempuan itu memang sangat menarik, setiap gerak-geriknya, setiap senyum tawanya, hampir boleh dikatakan tiada cacatnya sehingga membuat siapa pun pasti akan merasa kesengsem, sampai-sampai aku sendiri pun tergiur.”

Semakin gusar Thi Cian mendengar komentar Siau-sian-li itu, dia berteriak-teriak murka.

Buyung San juga heran, ia pandang Siau-sian-li lekat-lekat.

Hanya perempuan saja yang memahami isi hati perempuan. Sudah barang tentu bagaimana perasaan Siau-sian-li terhadap Siau-hi-ji cukup dipahami oleh Buyung San. Ia mengira bila Siau-sian-li melihat Siau-hi-ji bermesraan dengan perempuan lain, tentu hatinya akan tidak senang dan pasti akan memaki perempuan itu. Maka Buyung San sangat heran mengapa pikiran Siau-sian-li bisa berubah sejauh ini?

Ia tidak tahu bahwa hati Siau-sian-li kini sudah mempunyai sandaran, sudah terisi, baginya kini adalah saatnya yang paling manis, paling bahagia, maka terhadap sesamanya juga penuh rasa kasih sayang, ia tidak merasa benci lagi terhadap siapa pun.

Begitulah Buyung-toaci lantas berkata kepada sang suami, “Jika kapal kita kedatangan tamu, mari kita lekas pulang ke sana saja.” Dalam segala hal dia pasti minta dulu persetujuan sang suami, sebab ia pun tahu sang suami pasti akan setuju.

Segera Thi Cian pun berjingkrak dan berseru, “Betul, marilah kita berangkat sekarang juga, ingin kulihat betapa besar nyali bocah itu.”

“Ya, konon Ih-hoa-kiongcu sangat pintar berdandan dan merawat diri, aku pun ingin melihatnya,” kata si nenek Siau.

“Aku justru tidak percaya bahwa Kungfu mereka tiada tandingannya di dunia ini,” kata Ni Cap-pek.

Dengan tertawa Han-wan Sam-kong juga bergumam, “Sudah sekian lama tidak bertemu, entah bagaimana keadaan Siau-hi-ji sekarang, tentu sudah jauh lebih cakap.”

Ternyata ada yang ingin tahu bagaimana bentuk Ih-hoa-kiongcu yang termasyhur itu, ada juga yang ingin tahu bagaimana si cantik berkepala besar yang menjadi pacar Siau-hi-ji itu. Walaupun berbeda-beda alasan mereka, tapi sama-sama satu tujuan, yaitu ingin lekas-lekas kembali ke kapal sana.

Hanya Hoa Bu-koat saja, meski dia jauh lebih bernafsu daripada siapa pun agar bisa lekas-lekas bertemu dengan Ih-hoa-kiongcu dan Siau-hi-ji, tapi mengingat setelah bertemu dengan Siau-hi-ji mungkin mereka diharuskan duel lagi, maka ia pun berharap semoga tidak lagi bertemu dengan Siau-hi-ji untuk selamanya.

Mendadak terdengar Siau-sian-li berseru. “He, ceritaku belum lagi habis, kalian jangan buru-buru berangkat dulu!”

“Baiklah, lekas kau ceritakan, janganlah kau jual mahal,” omel Buyung San dengan tertawa.

Sinar mata Siau-sian-li tampak gemerdep, katanya kemudian, “Selain Ih-hoa-kiongcu, di atas kapal kita ada seorang tamu agung lagi.”

“Oo, Siapa dia?” tanya Buyung San.

Kembali Siau-sian-li memperlihatkan senyuman misterius, jawabnya, “Nama besar tamu agung ini pasti tidak di bawah Ih-hoa-kiongcu, apakah kalian tahu siapa dia?”

Belum habis ucapannya, semua orang sudah dapat menerka siapa gerangan yang dia maksudkan. Sebab di kolong langit ini hanya ada seorang saja yang namanya dapat disejajarkan dengan Ih-hoa-kiongcu.

Karena itulah tanpa terasa semua orang sama berseru, “Yan Lam-thian! Yan Lam-thian!”

Mendengar nama “Yan Lam-thian”, seketika To Kiau-kiau, Li Toa-jui dan lain-lain sama pucat, kalau bisa mereka ingin mendadak tumbuh sayap dan terbang sejauh-jauhnya untuk menghindari pendekar besar ini.

Kakak beradik Buyung juga terkesiap. Sedangkan Ni Cap-pek saling pandang sekejap dengan Ji Cu-geh, katanya, “Sungguh tak tersangka Ih-hoa-kiongcu dan Yan Lam-thian juga berada di sana.”

“Ini benar-benar dicari sampai kepala pecah tidak bertemu, di dapatkan tanpa buang tenaga apa pun,” tukas Ji Cu-geh.

“Tapi entah apa yang dilakukan mereka ketika Ih-hoa-kiongcu dan Yan Lam-thian saling bertemu, kukira pemandangan waktu itu pasti sangat menarik,” ujar Kui-tong-cu.

Membayangkan bagaimana ketika kedua tokoh top dunia persilatan itu saling berhadapan, mau tak mau semua orang menjadi sangat tertarik dan menyesal tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

“Apakah Ih-hoa-kiongcu kakak beradik kenal Yan Lam-thian?” tiba-tiba si nenek Siau bertanya.

“Mereka seperti tidak kenal Yan-tayhiap, tapi begitu Yan-tayhiap muncul di atas kapal, agaknya semua orang sudah tahu siapa dia, sebab sikap dan gayanya itu tidak mungkin ditirukan oleh siapa pun,” tutur Siau-sian-li.

“Hm, orang lain pun belum tentu mau meniru dia,” jengek Kui-tong-cu.

Siau-sian-li tertawa, tuturnya pula, “Yang aneh ialah Siau-hi-ji, dia seperti tidak pernah melihat Yan Lam-thian, tapi begitu berada di atas kapal tanpa berkedip Yan-tayhiap lantas memandangi anak muda itu.”

“Dan bagaimana dengan Siau-hi-ji sendiri?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Siau-hi-ji juga menatapnya lekat-lekat dan tanpa terasa berbangkit. Selangkah demi selangkah Yan-tayhiap mendekatinya sambil bergumam, “Bagus, bagus…”

“Satu kali bagus saja sudah cukup, kenapa kau berucap sebanyak itu?” ujar Buyung San dengan tertawa.

“Tapi sekaligus Yan Lam-thian telah berucap belasan kali,” kata Siau-sian-li. “Air matanya lantas berlinang-linang, hanya air matanya tidak sampai menetes. Siau-hi-ji tidak berucap apa-apa, dia terus berlutut dan menyembah. Yan Lam-thian lantas menariknya bangun dan berkata, ‘Apa yang telah kau lakukan hampir seluruhnya sudah kuketahui, kau tidak memalukan nama baik ayahmu’.”

Bercerita sampai di sini tanpa sadar air mata Siau-sian-li juga bercucuran. Nyata apa yang disaksikan waktu itu pasti sangat mengharukan hatinya.

Siau-sian-li telah menjadi pusat perhatian orang banyak, semua orang ikut dia keluar, karena asyiknya mereka mendengarkan ceritanya sehingga tanpa terasa mereka pun sudah sampai di luar gua.

Terdengar Siau-sian-li sedang menyambung pula. “Ih-hoa-kiongcu hanya memandangi mereka dengan sikap dingin. Sejenak kemudian barulah Kiongcu besar itu mendengus, ‘Bagus sekali, akhirnya kita bertemu juga’.”

“Dan Yan-tayhiap menggubrisnya tidak?” tanya Buyung San.

“Cukup lama barulah Yan-tayhiap berpaling ke arahnya dan berkata. ‘Dua puluh tahun yang lalu seharusnya kita sudah bertemu’. Kiongcu itu mendengus, ‘Apakah kau anggap sudah terlambat?’ Yan-tayhiap tidak menjawab, ia cuma menengadah dan menghela napas panjang.” Sampai di sini, tanpa terasa Siau-sian-li sendiri pun menghela napas.

“Lalu apa yang dikatakan Yan-tayhiap?” tanya Buyung San.

“Dia seakan-akan hendak melampiaskan duka derita selama dua puluh tahun dengan embusan napasnya itu, kemudian ia berkata, ‘Selama orang she Yan belum mati, maka tiada sesuatu yang terlambat’.”

“Lalu bagaimana?” Han-wan Sam-kong dan beberapa orang lagi tanya berbareng.

“Waktu itu mereka saling melotot dan setiap saat bisa saling labrak, cuma kedudukan mereka memang lain daripada yang lain, tidak dapat bergebrak begitu saja seperti orang biasa. Aku menjadi gelisah, entah bagaimana jadinya bilamana dua tokoh top persilatan saling gebrak, Jin-giok lantas menarikku ke pinggir dan menyuruhku lekas kemari untuk memberi kabar kepada kalian agar kalian lekas pulang ke sana.”

Menyinggung Koh Jin-giok, tanpa terasa sorot mata Siau-sian-li menampilkan rasa bahagia. Segera ia menyambung lagi, “Kata Jin-giok, kalian pasti akan menyesal selama hidup bilamana kesempatan menyaksikan pertarungan kelas tinggi ini tersia-sia oleh kalian.”

“Memang betul, malahan tidak cuma menyesal saja, bisa jadi seterusnya aku tidak dapat tidur nyenyak lagi,” seru Kui-tong-cu.

“Dan mereka sudah mulai bergebrak belum?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Entah, aku pun tidak tahu,” jawab Siau-sian-li.

“Semoga mereka tidak bergebrak dengan sungguh-sungguh,” ujar Han-wan Sam-kong.

“Sebab apa?” tanya Siau-sian-li.

“Kau tahu, dua ekor harimau berkelahi tentu salah satu akan mati atau terluka, bisa jadi malahan dua-duanya akan sama celaka. Maka akibat dari pertarungan mereka sungguh sukar kubayangkan. Akan lebih baik jika tidak menyaksikan pertarungan maut mereka.”

Dengan rasa terima kasih Bu-koat memandang Han-wan Sam-kong sekejap. Ia tahu bila pertarungan antara Yan Lam-thian dan Ih-hoa-kiongcu jadi berlangsung, maka salah satu pihak pasti akan mati. Jika demikian jadinya, tak peduli pihak mana yang menang atau kalah, yang pasti permusuhannya dengan Siau-hi-ji juga akan semakin mendalam, mungkin akibatnya juga harus mati salah satu dan selamanya tidak dapat dilerai lagi.

Seketika mereka menjadi bungkam, suasana menjadi sunyi.

Selang sejenak, Ji Cu-geh menghela napas gegetun dan berkata, “Sungguh harus disayangkan apabila mereka sama-sama terluka atau gugur bersama.”

“Apakah kau berharap mereka akan menunggu kedatangan kita untuk bertanding denganmu, begitu bukan?” kata si nenek Siau dengan tertawa.

“Memangnya kau tidak ingin mencoba jurus baru ‘Hwe-hong-cap-pek-pian’ (delapan belas jurus pukulan permaisuri) hasil pemikiranmu itu?” tanya Ji Cu-geh.

“Sudah tentu aku ingin mencobanya,” ujar si nenek Siau dengan gegetun. “Tapi kalau menuruti pembicaraan mereka itu, agaknya permusuhan mereka sudah teramat mendalam. Kalau Yan Lam-thian sudah menunggu selama dua puluh tahun, setelah bertemu sekarang mana bisa diselesaikan dengan begitu saja?”

Ji Cu-geh juga menghela napas gegetun, katanya, “Jika kedua orang itu sudah mulai bergebrak, mungkin di dunia ini tiada seorang pun yang dapat memisahkan mereka.”

*****

Begitulah ketika mereka sudah berada kembali di tepi sungai sana, ternyata meja kursi di bangsal panjang itu sudah disingkirkan, hanya tersisa kertas hiasan serta “tui-lian” yang berkibar-kibar tertiup angin. Tapi di tanah lapang di depan bangsal panjang itu kini berjubel orang banyak entah apa yang sedang menjadi tontonan mereka, jangan-jangan di situlah Yan Lam-thian dan Ih-hoa-kiongcu sedang bertanding.

Segera Han-wan Sam-kong mendahului menerjang ke sana, maksudnya hendak mendesak maju, tapi sebelum dia bertindak apa-apa, orang-orang itu segera menyingkir sendiri demi melihat datangnya rombongan mereka.

Ternyata Ih-hoa-kiongcu tidak berada di situ, malahan bayangan Yan Lam-thian dan Siau-hi-ji juga tidak kelihatan.

Lantas ke manakah mereka? Apakah Siau-sian-li sengaja bercanda dan menggoda mereka?

Namun Siau-sian-li lantas mendahului berteriak, “He, di manakah mereka? Eh, Siau Man, ke mana mereka? Mana Koh-kongcu?”

Siau Man adalah pelayan pribadi Buyung San, setelah Siau-sian-li tinggal di tempat Buyung San, Siau Man lantas disuruh melayani dia. Genduk ini memang pintar dan cerdik, dalam hal omong juga dapat diandalkan.

Namun pertanyaan Siau-sian-li sesungguhnya terlalu cepat, juga terlalu banyak, maka Siau Man menjadi gelagapan. Setelah menenangkan diri barulah ia menjawab, “Seperginya nona, Yan…Yan-tayhiap itu lantas duduk bersama tuan muda Siau-hi-ji, mereka minum arak bersama secawan demi secawan tanpa berhenti, bicara mereka pun tidak pernah berhenti. Kulihat mereka pasang omong hingga lama sekali, mendadak mereka bergelak tawa, habis itu lantas keduanya sama-sama menghela napas. Nona she So itu melayani mereka dengan menuangkan arak, tapi ketika nona So berpaling, kulihat air matanya lantas menetes.”

Siau-sian-li tahu yang dibicarakan Yan Lam-thian dan Siau-hi-ji pastilah suka-duka masing-masing selama berpisah, namun ia pun bertanya, “Apa yang mereka bicarakan?”

“Suara bicara mereka tidak keras, ada yang sama sekali tak kudengar, ada sebagian kudengar, tapi hamba tidak paham artinya,” tutur Siau Man.

“Ai, dasar kau memang bodoh,” omel Siau-sian-li dengan tertawa.

Siau Man menunduk, katanya, “Meski hamba tidak dengar apa yang mereka bicarakan, tapi melihat sikap mereka, entah mengapa, hati hamba menjadi pilu dan ingin mencucurkan air mata.”

Teringat kepada nasib Siau-hi-ji dan Yan Lam-thian yang malang itu, seketika Han-wan Sam-kong juga merasa pedih dan terharu, teriaknya mendadak, “Benar, meski aku tidak dengar apa yang mereka bicarakan, tapi sekarang rasanya aku pun ingin meneteskan air mata.”

Siau-sian-li melototinya sekejap, lalu bertanya pula kepada Siau Man, “Waktu mereka bicara, bagaimana dengan Ih-hoa-kiongcu?”

“Ih-hoa-kiongcu duduk di sebelah sana, dia tidak memandang mereka, juga tidak gelisah, dia seperti sudah tahu bila Yan-tayhiap selesai bicara tentu akan mencari mereka.”

Semua orang saling pandang sekejap, dalam hati masing-masing sama gegetun, sebab mereka tahu Yan Lam-thian pasti akan perang tanding dengan Ih-hoa-kiongcu, sebab itulah dia perlu memberi pesan terakhir kepada Siau-hi-ji.

“Bicara mereka seperti tidak habis-habis, lebih-lebih tuan muda Siau-hi-ji itu seolah-olah tidak pernah berhenti bicara, selama hidupku tidak pernah melihat seorang lelaki yang suka bicara seperti dia, sungguh mirip seorang nenek yang bawel,” demikian Siau Man menyambung.

“Ai, akulah paham perasaannya,” ujar Han-wan Sam-kong dengan menyesal. “Justru lantaran Siau-hi-ji dapat memahami jalan pikiran Yan-tayhiap, maka dia sengaja banyak bicara untuk mengulur waktu…”

“Jika begitu tentunya Yan-tayhiap juga dapat mengetahui maksudnya,” kata Siau Man.

“O, apa begitu?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Ya, sebab mendadak Yan-tayhiap lantas berdiri, ia tepuk-tepuk pundak Siau-hi-ji, katanya dengan tertawa, ‘Jangan khawatir, Yan-toasiokmu ini selamanya seratus kali bertempur seratus kali menang, lihat saja nanti’.”

“Hm, seratus kali tempur seratus kali menang, besar amat suaranya,” jengek Ji Cu-geh.

Han-wan Sam-kong juga mendengus, katanya, “Jika orang lain yang bilang begitu tentu Locu menganggapnya membual, tapi Yan Lam-thian yang omong, kukira siapa pun pasti percaya.”

Ji Cu-geh tidak menanggapi lagi, dia cuma menjengek saja.

“Tuan muda Siau-hi-ji memandang Yan-tayhiap, seperti mau omong apa-apa lagi. Tapi waktu itu juga Ih-hoa-kiongcu sudah berbangkit dan melangkah keluar,” demikian Siau Man menyambung ceritanya. “Segera Yan-tayhiap ikut keluar. Meski satu patah kata saja mereka tidak bicara, tapi entah mengapa, jantungku berdebar dan tegang luar biasa.”

Dasar Siau Man memang pintar bicara, kini dia sengaja bercerita lebih menarik sehingga pendengarnya ikut tegang seakan-akan menyaksikan sendiri kedua tokoh top dunia persilatan sedang berhadapan dan siap untuk duel.

Saat itu juga angin sungai meniup silir-semilir sehingga suasana bumi raya ini seolah-olah diliputi hawa pertempuran yang tidak kenal ampun.

Siau Man merinding, ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Tapi sesudah keluar, mereka tetap tidak lantas bergebrak, mereka hanya berdiri berhadapan dalam jarak cukup jauh dan saling pandang melulu.”

“Yan Lam-thian tidak memakai senjata?” tanya Ji Cu-geh.

“Tidak, keduanya sama-sama tidak memakai senjata,” tutur Siau Man.

Ji Cu-geh berkerut kening, gumamnya, “Sudah lama kudengar ilmu pedang Yan Lam-thian tiada bandingannya, mengapa dia meninggalkan keunggulannya dan memilih cara yang bukan menjadi keahliannya. Memangnya selama ini dia telah berhasil meyakinkan sesuatu ilmu pukulan yang dia sendiri yakin dapat menandingi Ih-hoa-kiongcu?”

Hendaknya diketahui bahwa ilmu pukulan telapak tangan dan tenaga dalam Ih-hoa-kiongcu selama ini menjagoi dunia Kangouw dan hampir tiada ilmu pukulan lain yang mampu melawannya. Maka seharusnya Yan Lam-thian menghadapi Ih-hoa-kiongcu dengan ilmu pedang yang juga terkenal tiada tandingannya itu.

“Meski mereka bertangan kosong, tapi tampaknya mereka jauh lebih ganas daripada memakai senjata,” tutur Siau Man pula. “Tampaknya cukup dengan satu kali gebrak saja sudah dapat menentukan kalah-menang atau mati dan hidup. Karena tegangnya hamba telah memohon Koh-kongcu agar membujuk mereka supaya tidak jadi bertempur. Tapi Koh-kongcu tidak berani, katanya, ‘Meski kedua orang belum saling gebrak, tapi saat itu tenaga keduanya sudah terhimpun, jangankan orang lain hendak melerai mereka, asalkan mendekat saja mungkin bisa tergetar roboh oleh tenaga dalam mereka’.”

“Tampaknya Koh-kongcu itu cukup tajam juga penilaiannya,” kata si nenek Siau sambil melirik Siau-sian-li sekejap.

Siau Man lantas melanjutkan, “Waktu Koh-kongcu bisik-bisik bicara denganku, entah cara bagaimana mungkin tuan muda Siau-hi-ji itu pun dapat mendengarnya, tiba-tiba ia mendekati Koh-kongcu dan berkata padanya. ‘Apakah kau kira tiada seorang pun mampu melerai mereka?’”

“Setan cilik itu hendak main gila apalagi?” ujar Siau-sian-li.

“Koh-kongcu kelihatan ragu-ragu menghadapi tuan Siau-hi-ji itu, berulang-ulang Koh-kongcu cuma mengangguk saja, lalu tuan muda Siau-hi-ji berkata pula, ‘Apakah kau berani bertaruh denganku?’”

Siau-sian-li menjadi khawatir, katanya, “Setan cilik itu sangat licin. Sedangkan Koh-kongcu adalah orang jujur, mana boleh bertaruh dengan dia.”

“Mestinya Koh-kongcu juga tidak ingin bertaruh dengan dia,” tutur Siau Man pula. “Tapi tuan Siau-hi-ji itu lantas berkata…”

“Berkata apa?” tukas Siau-sian-li.

Siau Man menunduk, jawabnya kemudian, “Kata…katanya, ‘Memang sudah kuduga Koh-siaumoay pasti tidak berani bertaruh denganku. Ya, sudahlah’”

“Hahahaha!” mendadak Han-wan Sam-kong bergelak tertawa. “Sungguh tak nyana sedikit kepandaianku cara memancing orang bertaruh kini telah diwarisi seluruhnya oleh Siau-hi-ji. Dengan kata-kata pancingannya itu, mustahil Koh-siaumoay takkan bertaruh dengan dia.”

Siau-sian-li melototi Han-wan Sam-kong lagi, sementara itu Siau Man telah berkata, “Ya, memang betul, Koh-kongcu menjadi tidak tahan dan mau bertaruh dengan dia.”

Tentu saja Siau-sian-li tambah khawatir, cepat ia tanya, “Mengapa dia tidak sabar lagi seperti biasanya, lalu apa yang terjadi atas taruhan mereka?”

“Tuan Siau-hi-ji itu bilang, ‘Cukup aku berucap satu kalimat saja akan dapat membikin Ih-hoa-kiongcu batal bertempur, maka Yan-toasiok tentu juga tidak dapat bergebrak lagi sendirian.’ Sudah tentu Koh-kongcu tidak percaya.”

“Jangankan Koh-kongcu tidak percaya, malahan aku pun tidak percaya, andaikan aku yang ditantang bertaruh tentu juga akan kuterima,” sela si nenek Siau.

“Jika demikian, jelas engkau juga akan kalah,” ujar Siau Man gegetun, sampai di sini ia sengaja berhenti bercerita.

Sudah tentu orang banyak sangat ingin tahu sesungguhnya apa yang diucapkan Siau-hi-ji sehingga dapat membatalkan niat Ih-hoa-kiongcu berduel dengan Yan Lam-thian, sedangkan Siau-sian-li juga buru-buru ingin tahu apa yang telah mengalahkan Koh Jin-giok dalam taruhan itu.

Seketika pandangan semua orang tertuju pada Siau Man, semuanya menantikan lanjutan ceritanya.

Bahwa Siau Man bisa menjadi pelayan pribadi Siocia (anak putri) keluarga ternama, dengan sendirinya lantaran dia memang pintar dan cekatan, sejak kecil ia sudah belajar cara bagaimana menyelami isi hati dan kehendak sang majikan serta cara bagaimana menyanjungnya. Maka dia tidak bicara lain, tapi bercerita lebih dulu, “Tuan Siau-hi-ji menyatakan, bilamana dia kalah, maka terserahlah kepada Koh-kongcu hendak diapakan dia, sebaliknya jika Koh-kongcu yang kalah, maka tuan Siau-hi-ji boleh menyuruh Koh-kongcu berbuat sesuatu baginya.”

“Berbuat…berbuat sesuatu urusan apa?” tanya Siau-sian-li.

“Tatkala itu dia tidak bilang, kemudian waktu dia katakan kepada Koh-kongcu juga tidak kudengar,” jawab Siau Man.

“Ai, dasar kau ini memang tidak becus, segala apa tidak tahu melulu,” omel Siau-sian-li.

“Padahal cukup banyak juga yang diketahuinya,” ujar si nenek Siau dengan tertawa.

“Betul,” sela Han-wan Sam-kong. “Lekas kau jelaskan sesungguhnya satu kalimat apa yang diucapkan Siau-hi-ji sehingga Ih-hoa-kiongcu benar-benar batal bergebrak dengan Yan Lam-thian.”

“Tuan muda Siau-hi-ji itu tidak langsung bicara kepada Ih-hoa-kiongcu yang siap bergebrak dengan Yan-tayhiap, tapi dia bergurau kepada Ih-hoa-kiongcu satunya yang lebih muda, katanya, ‘Sungguh sayang seribu sayang, apabila nanti aku bergebrak dengan Hoa Bu-koat, mungkin kalian kakak beradik tidak dapat menyaksikannya lagi.’.”

“Setelah mengucapkan kata-kata itu, apakah benar-benar Ih-hoa-kiongcu tidak jadi bergebrak dengan Yan Lam-thian?” tanya si nenek Siau.

“Ya, seketika mereka batal bertanding,” jawab Siau Man “Aku pun sangat heran, entah bagaimana bisa jadi begitu?”

Si nenek Siau menjadi heran juga, ucapnya, “Aneh, mengapa Ih-hoa-kiongcu berkeras ingin menyaksikan pertarungan Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat? Memangnya pertarungan ini akan jauh lebih menarik daripada pertarungannya melawan Yan Lam-thian?”

Ji Cu-geh kelihatan termenung, katanya kemudian, “Entah Kungfu lihai apa yang telah berhasil diyakinkan Yan Lam-thian sehingga dapat membatalkan niat Ih-hoa-kiongcu bertanding dengan dia?”

“Bukan Yan-tayhiap yang membuatnya batal bertanding, tapi kata-kata tuan Siau-hi-ji tadi,” tukas Siau Man.

“Budak bodoh, jangan banyak omong,” omel Buyung San, sudah tentu ia tahu apa artinya ucapan Ji Cu-geh.

Dengan tersenyum si nenek Siau lantas berkata pula, “Memang, kalau Ih-hoa-kiongcu ada harapan untuk menang, habis bertanding kan masih dapat menyaksikan pertarungan antara Hoa Bu-koat dan Siau-hi-ji, jika demikian halnya tentu dia tidak perlu batal bertanding dengan Yan Lam-thian, betul tidak?”

Siau Man berpikir sejenak, segera ia berkata dengan tersipu-sipu, “Ya, ya betul, sungguh bodoh aku ini.”

Maklumlah, bahwa mendadak Ih-hoa-kiongcu mau membatalkan niatnya bergebrak dengan Yan Lam-thian setelah mendengar ucapan Siau-hi-ji itu, jelas disebabkan ketika, berhadapan dengan Yan Lam-thian telah diketahui bahwa pendekar besar itu memiliki Kungfu yang sukar diukur, kemenangan baginya jelas sangat tipis.

Yang senantiasa dipikir Han-wan Sam-kong hanya Siau-hi-ji saja, urusan lain pada hakikatnya tak dipusingkannya. Segera ia tanya dengan suara keras, “Dan sekarang ke mana perginya tuan muda Siau-hi-ji?”

“Yan-tayhiap sudah berjanji dengan Ih-hoa-kiongcu untuk bertemu setiap pagi di atas puncak pada waktu sang surya belum terbit, pertemuan ini akan terus berlangsung hingga Ih-hoa-kiongcu menemukan Hoa-siauya itu, dan kemudian Yan-tayhiap akan pergi dengan membawa tuan muda Siau-hi-ji,” demikian tutur Siau Man.

“Lalu ke mana Ih-hoa-kiongcu?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Dengan sendirinya pergi mencari Hoa-siauya, bisa jadi mereka akan segera pulang ke sini,” jawab Siau Man, “Sebab Koh-siauya telah memberitahukan pada mereka bahwa Hoa-siauya pergi bersama dengan tuan-tuan dan nyonya-nyonya.”

Yang dipikirkan Siau-sian-li kini hanya Koh Jin-giok saja, segera ia pun bertanya, “Dan ke mana perginya Koh-siauya!”

“Koh-siauya kalah bertaruh dan kini sedang melakukan pekerjaan yang diberikan oleh tuan Siau-hi-ji,” tutur Siau Man.

“Sialan, masa si pengacau itu bisa menyuruhnya berbuat sesuatu yang baik? Mengapa dia mau menurut dan pergi begitu saja?” omel Siau-sian-li, ia menjadi cemas dan hampir-hampir saja menangis.

Sejak tadi Buyung San memandangi tingkah laku Siau-sian-li, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Adikku yang baik, selamat ya padamu.”

“Orang gelisah setengah mati, kau memberi selamat urusan apa?” gerutu Siau-sian-li.

“Koh-siaumoay kan bukan sanak keluargamu, mengapa kau cemas baginya?” ujar Buyung San dengan tertawa.

Kembali Siau-sian-li mengomel, “Dia kan punya nama, mengapa kalian suka memanggil dia Koh-siaumoay?”

Buyung San mengikik tertawa, jawabnya, “Sebutan Koh-siaumoay kan kau sendiri yang memberinya, sekarang malah kau larang orang lain memanggilnya demikian, sungguh aku menjadi heran apa sebabnya? Aha, baru satu hari tidak bertemu agaknya hubungan kalian sudah lain daripada biasanya.”

Siau-sian-li menunduk, mukanya merah jengah, katanya, “Kami…kami…”

Buyung San mencolek pipi Siau-sian-li sambil mengomel, “Masa kau hendak mengelabui kami, budak setan. Arak bahagiamu ini harus kau sediakan.”

Mendadak Buyung Siang menyela, “He, kan tiada perkelahian lagi, untuk apa kalian berkerumun di sini? Memangnya di sini mendadak tumbuh setangkai bunga?”

“Kalau tanah tumbuh bunga kan biasa, jika tumbuh bakpau, inilah yang aneh,” ujar Siau Man dengan tertawa.

“Bakpau apa katamu?” Buyung Siang melengak juga. Waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya di tanah datar sana ternyata ada segundukan tanah sehingga dipandang dari jauh seperti sepotong bakpau tanah.

“Budak bodoh, memangnya apanya yang menarik dan membuatmu heran?” ujar Buyung Siang dengan tertawa.

“Nyonya tidak tahu, apa yang terjadi di situ justru sangat aneh, benar aneh,” tutur Siau Man. Mendadak ia lari ke atas gundukan tanah itu, lalu berkata pula, “Di sinilah tadi Ih-hoa-kiongcu berdiri. Waktu dia berdiri di sini, tempat ini sebenarnya datar seperti tempat lain. Akan tetapi belum seberapa lama dia berdiri di sini, lambat-laun tanah tempat dia berinjak ini lantas mulai menyembul, seperti bekerjanya ragi pada tepung gandum yang mulai melar.”

Semua orang merasa geli dan juga terheran-heran oleh cerita Siau Man ini. Malahan Ji Cu-geh, Ni Cap-pek dan lain-lain segera memburu ke sana untuk memeriksa bakpau tanah yang menyembul itu, bahkan cara memeriksa mereka sedemikian teliti dan diulangi berkali-kali seakan-akan di atas gundukan tanah itu benar-benar tumbuh bunga yang indah.

Ji Cu-geh dan lain-lain tampak terkesiap, ucap mereka beramai-ramai. “He, memang betul…Wah mana mungkin ini?…. Sungguh tak tersangka benar-benar ada orang berhasil meyakinkannya.”

Serentak orang banyak lantas berkerumun ke sana, kini baru diketahui di atas gundukan tanah itu ada bekas sepasang kaki, cuma bekas tapak kaki ini tidak mendekuk ke bawah, sebaliknya menjembul ke atas.

Jika ada pertarungan dua tokoh silat kelas tinggi yang mengerahkan segenap tenaga dalamnya, sering memang kakinya akan meninggalkan bekas tapak kaki yang dalam, ini tidak perlu diherankan. Tapi bekas tapak sekarang ini muncul ke atas, inilah kejadian aneh yang jarang terlihat.

Gemerdep sinar mata Buyung San, katanya kemudian, “Jangan-jangan Ih-hoa-kiongcu telah berhasil meyakinkan semacam ilmu mahasakti?”

“Betul,” ujar Ji Cu-geh dengan gegetun, “Meski ilmu sakti yang berhasil diyakinkannya ini belum dapat dikatakan tiada bandingnya sejak dulu hingga kini, tapi paling sedikit boleh dikatakan dapat menjagoi dunia persilatan jaman ini.”

“O,” Buyung San melongo heran.

“Apakah kalian melihat kedua tapak kaki ini?” tanya Ji Cu-geh. Ia tahu semua orang tentu sudah melihatnya, maka tanpa menunggu jawaban ia sendiri lantas menyambung pula, “timbulnya bekas tapak kaki ini disebabkan waktu dia mengerahkan tenaga dalamnya bukan dipancarkan keluar, sebaliknya malah ditarik ke dalam, benda apa pun bila tersentuh olehnya akan tersedot seperti terisap oleh besi sembrani.”

“Jika demikian, jadi tenaganya takkan pernah terkuras habis, sebaliknya akan terus bertambah, makin banyak digunakan makin besar pula kekuatannya,” tukas Buyung San.

“Memang betul begitu,” kata Ji Cu-geh. “Waktu bertanding dengan orang, tenaga yang digunakannya akan semakin besar, sebaliknya pihak lawan pasti akan semakin berkurang. Sebab itulah seumpama seorang yang sama kuatnya bertanding dengan dia, pada akhirnya juga pasti akan kalah.”

“Wah, Kungfu macam apakah namanya itu?” tanya Buyung San dengan terkesiap.

“Beng-giok-kang,” sela si nenek Siau. “Hanya Beng-giok-kang yang sudah mencapai tingkatan kesembilan barulah ada gejala aneh ini, sebab pada tingkatan ini seluruh hawa murni dalam tubuhnya telah terbentuk menjadi semacam pusaran, benda apa pun kalau menyentuhnya pasti akan digulung oleh tenaga pusaran itu, sama halnya seperti seorang yang berenang mendadak bertemu dengan air pusaran.”

“Seorang yang menyentuh dia, apakah hawa murni sendiri juga akan terisap oleh pusaran tenaga murninya itu?” tanya Buyung San.

“Jika tenaga perlawanan tidak cukup kuat, tentu saja sukar menghindari hal begitu,” tutur si nenek Siau.

“Kalau begitu asalkan sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti ini, tiada tandingannya lagi di kolong langit ini?” kata Buyung San.

Seketika si nenek Siau saling pandang dengan Ni Cap-pek dan lain-lain, semuanya tampak lesu.

“Memang betul, sesungguhnya tiada tandingannya lagi dia, kedatangan kami ini jadi sia-sia belaka,” ujar Ji Cu-geh dengan menyesal.

“Bila betul dia sudah tiada tandingannya, dengan sendirinya Yan Lam-thian juga bukan tandingannya,” kata Buyung San. “Lalu apalagi yang dia khawatirkan atas lawan itu? Memangnya Yan Lam-thian juga sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti yang sama?”

“Tidak mungkin,” kata si nenek Siau. “Sebab orang yang sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti ini, hawa murni dalam tubuhnya akan terbentuk hawa pusaran dan akan punya daya serap yang keras, dua orang yang memiliki ilmu sakti yang sama ini tidak mungkin berakhir begini saja dalam pertarungan mereka.”

“Habis mengapa mereka mendadak urung bertanding?” kata Buyung San pula.

“Ini hanya ada suatu penjelasan,” ujar si nenek Siau dengan prihatin, “Yakni, karena Yan Lam-thian juga telah berhasil meyakinkan semacam ilmu sakti yang dapat menandingi Beng-giok-kang.”

“Masa di dunia ini masih ada ilmu sakti yang dapat melawan Beng-giok-kang?” tanya Buyung San.

“Ada,” jawab si nenek Siau.

“Ilmu sakti apa itu?” tanya Buyung San.

“Keh-ih-sin-kang (ilmu sakti pindah baju)?” Buyung San menegas. “Sungguh aneh nama ini.”

“Ya, sebab kalau ilmu sakti ini sudah berhasil diyakinkan dengan baik, maka hawa murni dalam tubuh akan berkobar seperti bara, bukan saja dirinya sendiri tidak dapat menggunakannya, sebaliknya siang dan malam akan tersiksa, penderitaannya sungguh sukar untuk ditahan, jalan satu-satunya agar terhindar dari siksa derita bergolaknya hawa murni yang membara itu ialah menyalurkan tenaga dalam itu kepada orang lain,” si nenek Siau menghela napas gegetun, lalu menyambung pula, “Tapi untuk bisa berhasil meyakinkan Keh-ih-sin-kang ini sedikitnya diperlukan ketekunan berlatih selama dua puluh tahun, lalu siapakah yang rela memberikan hasil jerih payah itu kepada orang lain dengan begitu saja?”

“Sebab itulah pernah ada cerita di dunia Kangouw jaman dulu, bahwa bila kau ingin membuat susah orang lain, ajarkanlah ilmu Keh-ih-sin-kang itu padanya agar dia menderita selama hidup,” demikian Jin Cu-geh menyambung.

“Jika demikian, memang benar Yan-tayhiap telah berhasil meyakinkan Keh-ih-sin-kang, bukankah sebelum dia berhadapan dengan Ih-hoa-kiongcu, lebih dulu dia sudah mati tersiksa oleh ilmu sakti yang diyakinkannya itu?” ujar Buyung San.

“Tapi bila Keh-ih-sin-kang itu disalurkan kepada orang kedua, orang pertama akan tamat seperti kehabisan minyak, sebaliknya orang kedua akan menerima manfaat sepenuhnya dari ilmu sakti itu,” ujar Ji Cu-geh.

“O, maksud Cianpwe, ada orang berhasil meyakinkan Keh-ih-sin-kang, lalu menyalurkan kepada Yan-tayhiap, begitu?” tanya Buyung San.

“Tidak, sebab setelah mengalami penyaluran begitu, daya sakti Keh-ih-sin-kang juga akan banyak berkurang dan tak dapat disejajarkan lagi dengan Beng-giok-kang,” kata Ji Cu-geh.

Buyung San menjadi bingung. Ia pandang sekejap semua orang, tapi orang lain justru menunggu pertanyaannya lagi, sebab dia memang pintar bicara, cepat dan tepat pula pokok pertanyaannya, maka orang lain pun membiarkan dia bicara.

Syukurlah Ji Cu-geh lantas menyambung lagi, “Maklumlah, hanya orang yang memiliki kecerdasan yang luar biasa barulah dapat menciptakan Kungfu yang bergaya khas tersendiri. Orang yang menciptakan Keh-ih-sin-kang ini lebih-lebih harus dipuji, jika ilmu sakti ini benar-benar cuma untuk dipindahkan kepada orang lain, lalu untuk apa diciptakannya dengan susah payah?”

Semua orang merasa di balik ucapannya ini pasti ada arti lain, maka mereka hanya mendengarkan saja agar si kakek menyambung pula.

Sejenak kemudian baru Ji Bu-geh melanjutkan, “Pada umumnya orang hanya tahu Keh-ih-sin-kang tidak boleh dipelajarinya, mereka tidak tahu bahwa ilmu sakti ini tentu saja boleh dipelajari oleh siapa pun juga, hanya saja ada kuncinya bila ingin meyakinkan ilmu sakti ini dengan baik.”

Buyung San merasa ada kesempatan untuk buka suara, cepat ia bertanya, “Apa kuncinya?”

Ji Cu-geh lantas menguraikan cara meyakinkan Keh-ih-sin-kang itu, katanya “Karena ilmu ini terlalu keras sifatnya, maka bila latihan sudah mencapai enam-tujuh bagian, seluruh kekuatan latihan itu perlu dimusnahkan, habis itu mulai lagi melatihnya dari awal.”

“Cara ini seperti halnya seorang yang makan buah persik, karena ketidaktahuan, persik dimakan bulat-bulat bersama kulitnya yang keras, akibatnya mati keselek, maka orang lantas bilang buah persik tidak boleh dimakan. Orang tidak tahu bahwa persik justru sangat enak dimakan, soalnya cuma cara makannya yang salah, harus dikuliti dahulu dan baru dimakan bijinya,” kata si nenek Siau dengan tertawa.

“Sesudah mengalami gemblengan begitu,” sambung Ji Cu-geh, “bila dilatih lagi, maka ketajaman hawa murni ilmu itu akan banyak berkurang, namun tidak mengurangi daya saktinya, apalagi sudah dua kali melatihnya, dengan sendirinya orang akan lebih kenal sifat ilmu sakti yang keras ini dan dapat menggunakan dengan sepenuhnya serta sesuka hatinya.”

“Akan tetapi, untuk bisa mencapai enam-tujuh bagian ilmu sakti Keh-ih-sin-kang itu juga diperlukan ketekunan latihan lebih lama, lalu siapa yang rela membuang hasil jerih payah yang telah dikumpulkannya itu?” kata Cu-geh pula.

“Makanya kalau tidak mempunyai tekad yang bulat dan kesabaran yang penuh, tiada mungkin orang dapat meyakinkan Kungfu mahatinggi ini,” tukas si nenek Siau.

Sampai di sini barulah Kui-tong-cu menimbrung dengan menghela napas gegetun. “Semua ini membuktikan bahwa Yan Lam-thian memang benar-benar seorang yang berbakat luar biasa dan tiada bandingnya, untung kita belum sempat mencari dia untuk bertanding, kalau tidak tentu kita bisa mati konyol.”

Secara teori memang benar seperti apa yang diuraikan Ji Cu-geh tadi, mereka tidak tahu bahwa praktiknya ternyata tidak terjadi sebagaimana dugaan mereka. Sebab waktu Yan Lam-thian meyakinkan Keh-ih-sin-kang, sama sekali tiada maksud hendak memusnahkannya untuk kemudian mengulangi latihan lagi. Watak Yan Lam-thian memang keras, kepala batu. Ia menganggap apa yang tak dapat diperbuat orang lain pasti dapat dilakukannya.

Sebab itulah dia bertekad akan menguasai Keh-ih-sin-kang dengan segenap kekuatannya, siapa tahu, belum lagi Kungfunya terlatih sempurna, lebih dulu dia sudah mengalami nasib malang di Ok-jin-kok, seluruh tenaga dalamnya telah musnah.

Tapi masih mujur juga baginya, waktu itu sebenarnya To Kiau-kiau, Li Toa-jui dan lain-lain bermaksud membunuhnya, tak terduga peristiwa itu malah membantunya. Sebab setelah mereka mengeroyok dan menghajarnya, ketajaman tenaga murni Keh-ih-sin-kang yang sudah mencapai enam-tujuh bagian sempurna itu telah menjadi punah, padahal ilmu sakti itu memang harus dilatih secara berulang, dimusnahkan untuk kemudian dilatih lagi, dengan demikian barulah dapat mencapai tingkatan paling sempurna tanpa menyiksa diri orang yang melatihnya.

Jadi seperti sebatang pohon, mereka telah memotongnya sampai bongkotnya, tapi tidak tahu bahwa di bawah tanah masih tersisa akarnya.

Kalau bukan begitu, sekalipun Yan Lam-thian tidak binasa, tentu juga tiada ubahnya seperti orang cacat, mana bisa lagi pulih tenaga dalamnya. Bahkan lebih lihai daripada sebelumnya.

Begitulah Buyung San melenggong gegetun hingga sekian lamanya, kemudian ia tanya pula, “Tapi dari manakah kalian mengetahui Yan-tayhiap sudah berhasil meyakinkan Keh-ih-sin-kang?”

“Jika kau bertempur dengan orang, asalkan seluruh tenagamu terhimpun, mungkin di tempat kau berpijak juga akan meninggalkan bekas kakimu,” kata Ji Cu-geh.

“Betul, bila berdiri di tanah seperti ini pasti akan meninggalkan bekas tapak kaki, cuma saja takkan terlalu mendekuk,” jawab Buyung San setelah berpikir.

“Tapi tempat berdiri Yan Lam-thian ternyata tidak meninggalkan bekas setitik pun, apakah ini berarti kekuatannya tidak dapat dibandingkan kau?” tanya Ji Cu-geh.

Buyung San tertawa, jawabnya, “Jika kekuatan Yan-tayhiap lebih rendah daripadaku tentu sudah dulu-dulu Ih-hoa-kiongcu membinasakan dia.”

“Memang begitulah, justru lantaran Yan Lam-thian sudah dapat menguasai tenaga dalamnya dengan sesuka hatinya, bila tidak terpakai, setitik pun takkan tersalur keluar, maka tempat berdirinya tiada meninggalkan bekas apa pun jua,” kata Ji Cu-geh.

“Dan lantaran tenaga dan badannya sudah terlebur menjadi satu, segala tenaga dari luar tidak dapat menggoyahkannya sedikit pun, maka biarpun Ih-hoa-kiongcu sudah berhasil meyakinkan Beng-giok-kang hingga puncaknya juga tak berdaya terhadap Yan Lam-thian,” sambung si nenek Siau.

Buyung San menghela napas, ucapnya, “Setelah mengikuti uraian para Cianpwe ini, baru sekarang pikiran kami benar-benar terbuka.”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Siau Man berseru di sana, “Koh-siauya, lekas engkau masuk kemari, ada orang sedang mengkhawatirkan engkau.”

Waktu mereka berpaling, benar saja Koh Jin-giok telah melangkah masuk.

Siau-sian-li melototi Siau Man, tapi ia lantas tertawa geli sendiri. Jika orang lain bisa jadi malu, tapi dia tidak pedulikan soal-soal begitu, segera ia menyongsong ke sana sambil mengomel, “He, ke manakah kau, mengapa tidak meninggalkan sesuatu pesan.”

Muka Koh Jin-giok tampak merah lagi, jawabnya dengan tergagap, “Aku…aku harus melakukan sesuatu bagi Siau-hi-ji.”

“Masa ada urusan baik yang dia berikan padamu, mungkin kau tertipu lagi olehnya,” ujar Siau-sian-li.

“Tidak,” kata Koh Jin-giok dengan gegetun. “Baru sekarang kutahu dulu kita telah salah paham padanya, sesungguhnya dia bukan orang jahat.”

Siau-sian-li berkedip-kedip heran, katanya, “Wah, hebat juga kepandaian setan cilik itu, entah dengan cara bagaimana dia berhasil mengubah pandanganmu padanya.”

“Kau tahu apa yang telah terjadi?” tanya Koh Jin-giok. “Kang Piat-ho dan anaknya telah bersekongkol hendak menjebak Yan-tayhiap. Mereka pura-pura tidak saling kenal, dengan demikian Kang Giok-long akan mencari kesempatan untuk menolong ayahnya, bila ada kesempatan mereka pun dapat turun tangan keji terhadap Yan-tayhiap.”

“Memang sudah sejak dulu kutahu kedua ayah beranak itu bukan manusia baik-baik,” kata Siau-sian-li dengan gemas.

“Tapi sejak pengalamannya di Ok-jin-kok, Yan-tayhiap sekarang sudah berbeda jauh daripada dulu,” tutur Koh Jin-giok pula. “Dengan cepat Yan-tayhiap telah memusnahkan ilmu silat kedua jahanam itu, lalu mengurung mereka di suatu gua agar nanti Siau-hi-ji dapat menuntut balas dengan tangan sendiri bagi ayah bundanya.”

Siau-sian-li bertepuk gembira, katanya, “Haha, tak tersangka kedua jahanam itu akan berakhir dengan nasib begini, sungguh sangat menyenangkan.”

“Tapi kalau tiada Siau-hi-ji, siapa pula yang tahu bahwa Kang Piat-ho dan Kang Giok-long adalah manusia yang begitu licik, keji dan jahat,” ujar Koh Jin-giok.

“Betul, selama hidupnya baru sekali ini dia telah berbuat sesuatu yang baik,” kata Siau-sian-li. “Tapi apa yang kau kerjakan baginya?”

“Dia suruh aku melepaskan Kang Piat-ho berdua,” jawab Koh Jin-giok.

“Apa? Lepaskan mereka?” seru Siau-sian-li terkejut.

“Ya, bukan cuma disuruh aku melepaskan mereka, bahkan aku diharuskan mengatur suatu tempat bagi kehidupan mereka selanjutnya, sebab mereka sudah cacat selama hidup, tiada tenaga buat cari makan lagi,” setelah menghela napas, lalu Koh Jin-giok menyambung pula, “Apalagi orang yang biasa berkecimpung di dunia Kangouw tentu banyak musuhnya, jika orang tahu ilmu silat mereka sudah punah, tentu musuh-musuhnya akan mencari dan menuntut balas pada mereka. Karena itulah jelas mereka tidak dapat pulang ke rumah, untuk inilah Siau-hi-ji minta aku mengatur suatu jalan hidup bagi mereka dengan menerima mereka sebagai tukang kebun di rumahku. Dengan demikian hidup mereka tidak sampai merana dan takkan mati kedinginan atau kelaparan, juga tidak perlu khawatir musuh-musuhnya akan mencari dan menuntut balas pada mereka.”

Siau-sian-li jadi melengak, tanyanya kemudian, “Kang Piat-ho telah mengkhianati ayah bundanya, dia sendiri tidak membalas dendam, sebaliknya malah khawatir orang lain menuntut balas pada Kang Piat-ho. Sesungguhnya bagaimana jalan pikiran setan cilik yang tidak genah itu?”

“Meski Kang Piat-ho berbuat salah terhadap ayah-bundanya, tapi Siau-hi-ji menganggap hukuman ini sudah cukup baginya. Ia anggap pendapat ‘dendam harus dibalas, utang darah harus dibayar darah’ bukan lagi jalan pikiran yang sehat. Banyak orang Kangouw telah dikuasai oleh jalan pikiran demikian sehingga banyak perbuatan bodoh telah terjadi, maka Siau-hi-ji bertekad takkan berbuat seperti itu lagi.”

“Sakit hati orang tua setinggi langit, tapi dia tidak menuntut balas, apakah tindakannya ini dapat dipuji?” ujar Siau-sian-li.

“Dia anggap menuntut balas tidak perlu dibalas dengan membunuh musuhnya,” tutur Koh Jin-giok. “Apalagi ia pun tidak ingin membunuh orang yang cacat, bisa jadi orang akan menganggap jalan pikirannya ini keliru, tapi ia merasa pendiriannya itulah yang benar, asalkan hati sendiri benar, apa komentar orang lain terhadapnya pada hakikatnya tidak menjadi soal baginya.”

“Dan kau juga anggap…”

Belum lanjut ucapan Siau-sian-li, dengan sungguh-sungguh Koh Jin-giok berkata, “Aku pun anggap benar pendiriannya. Entah sudah berapa banyak korban akibat ‘dendam’, setiap hari entah berapa orang yang mati konyol saling membunuh karena dendam permusuhan. Jika jalan pikiran semua orang bisa sama seperti jalan pikiran Siau-hi-ji, kupercaya umat manusia di dunia ini pasti akan hidup damai dan bahagia.”

Dia pandang lekat-lekat pada Siau-sian-li, lalu berkata pula dengan suara lembut, “Tuhan menciptakan manusia kan bukan menghendaki mereka saling bermusuhan dan saling membunuh, betul tidak?”

“Jika begitu mengapa bukan dia sendiri yang melepaskan mereka?” tanya Siau-sian-li.

“Dia khawatir Yan-tayhiap tidak menyetujui jalan pikirannya, maka sementara tidak ingin diketahui oleh Yan-tayhiap,” tutur Koh Jin-giok.

“Nah, rupanya dia tetap main licik dan tetap membohongi orang,” kata Siau-sian-li.

“Betul, dia memang sering berbuat licik dan menipu orang, tapi pada dasarnya dia bermaksud baik, kuyakin setiap orang yang bisa berpikir secara bijaksana tentu takkan merasakan tindakannya itu salah.”

Untuk sejenak Siau-sian-li termangu-mangu, katanya kemudian sambil menyengir, “Dia memang orang yang sangat aneh, sungguh sukar dibedakan sebenarnya dia orang baik atau orang jahat.”

Mendadak Ji Cu-geh berkata dengan tertawa, “Meski aku tidak kenal dia, juga tidak tahu sebenarnya dia orang baik atau jahat, tapi kutahu bila orang Kangouw semuanya serupa dia, maka kami pasti tidak perlu menyingkir jauh ke pulau terpencil di luar lautan sana.”

Han-wan Sam-kong bertepuk, katanya, “Buset, memang betul. Jika orang jahat seperti Siau-hi-ji bertambah banyak, aku rela seterusnya tidak pegang kartu lagi.”

“Wah, mana boleh jadi, lalu selanjutnya dengan siapa kami harus bertaruh?” kata Buyung San dengan tertawa.

“Aku kan bilang tidak pegang kartu dan tidak bilang tidak main dadu,” ujar Han-wan Sam-kong.

Maka bergelak tertawalah semua orang.

Setelah mengalami ketegangan selama dua hari dua malam, baru sekarang semua orang merasa lega. Hanya Hoa Bu-koat saja, tampaknya bertambah berat perasaannya.

Betapa pun Bu-koat tidak tega mencelakai Siau-hi-ji, bahkan ia lebih suka dirinya sendiri yang terbunuh oleh Siau-hi-ji. Sudah tentu ia tidak tahu, meski dia tidak sayang mengorbankan jiwanya sendiri, namun hidup Siau-hi-ji pasti akan bertambah merana.

Tiada seorang pun yang dapat hidup tenteram setelah membunuh saudara kandung sendiri. Mereka sudah ditakdirkan akan berakhir dengan suatu tragedi dan tampaknya tragedi ini tak dapat diubah oleh siapa pun juga.

Di tengah suasana ramai-ramai tadi, siapa pun tidak memperhatikan Li Toa-jui, To Kiau-kiau, Pek Khay-sim dan lain-lain diam-diam bolos di tengah jalan.

Setelah mengetahui kemunculan kembali Yan Lam-thian, sekalipun kuduk mereka diancam dengan golok juga mereka tidak berani lagi ikut kembali ke sana.

Pek-hujin yang bukan anggota Cap-toa-ok-jin kini juga selalu berada di sisi Pek Khay-sim.

Setelah digampar oleh Toh Sat tadi, kini sebelah muka Pek Khay-sim menjadi merah bengkak sampai-sampai mulutnya juga setengah merot, darah masih merembes keluar dari ujung mulutnya.

Sambil berjalan Li Toa-jui bergumam sendiri, “Sebenarnya kita juga perlu menonton pertarungan antara Yan Lam-thian dan Ih-hoa-kiongcu, tontonan menarik ini kuyakin sukar dicari lagi, jika kita sia-siakan kesempatan baik ini, sungguh mirip siluman kerbau gagal menikmati daging Tong Sam-cong.”

Pek Khay-sim terkekeh sambil memegang mukanya yang bengap itu, katanya, “Betul, sungguh terlalu sayang, lekas kau pergi melihatnya, kukira masih keburu.”

Karena bicara, seketika rasa sakit mukanya tambah hebat sehingga keringat dingin bercucuran. Tapi dasar orang bermulut bejat, biarpun sakit setengah mati tetap dia ingin bicara. Rasanya hidupnya akan terasa tak berarti jika dia tidak omong seberapa patah kata yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri.

Li Toa-jui malas mengubris ocehan Pek Khay-sim itu, kembali ia bergumam, “Menurut pendapatku, Yan Lam-thian pasti bukan tandingan Ih-hoa-kiongcu. Ilmu saktinya sudah telantar sekian tahun, betapa pun takkan lebih lihai daripada dulu. Apalagi dua kepalan juga sukar melawan empat tangan. Ih-hoa-kiongcu ada dua, Yan Lam-thian cuma sendirian, sedikit banyak tentu kurang menguntungkan dia.”

“Dua lawan satu maksudmu?” jengek Pek Khay-sim. “Hehe, kau kira orang lain pun tidak kenal malu seperti kau? Kaum ksatria Kangouw justru mengutamakan peraturan, harus satu lawan satu, tidak nanti main kerubut.”

Mendadak Li Toa-jui melonjak murka sambil meraung, “Keparat, jika kau berani omong satu kata lagi, segera kuhantam kau supaya mukamu yang sebelah juga bengap. Kau percaya tidak?”

“Memang seharusnya tadi kugampar kedua sisi mukanya,” tukas Toh Sat.

Karena Toh Sat ikut buka suara, seketika Pek Khay-sim tak berani omong lagi.

Tiba-tiba Pek-hujin membisiki Pek Khay-sim, “Apakah kau tahu sebabnya kau selalu dihina orang?”

“Sebab aku ketemu bintang kemungkus (lambang sial) seperti dirimu ini,” jawab Pek Khay-sim dengan mendongkol.

Pek-hujin tak marah, sebaliknya malah tertawa, katanya, “Sebabnya karena mereka berkawan, sebaliknya kau cuma sendirian. Katamu sendiri dua kepalan sukar melawan empat tangan. Kalau kau tahu teori ini, mengapa kau tidak mencari bala bantuan.”

Seketika mencorong sinar mata Pek Khay-sim, segera ia menarik Pek-hujin ke samping. Sementara itu mereka sudah berada di lereng bukit yang penuh batu padas berserakan. Pek Khay-sim menarik Pek-hujin ke balik sepotong batu besar, lalu berkata dengan suara tertahan, “Satu kata menyadarkan orang dalam mimpi, ucapanmu tadi telah mengingatkan padaku akan seorang pembantu yang baik.”

“Dan sekarang masih kau anggap aku ini bintang kemungkus lagi?” tanya Pek-hujin dengan tertawa genit.

“O, tidak, tidak, melihat hidungmu yang mancung, kutahu kau pasti membawa keberuntungan bagi sang suami,” jawab Pek Khay-sim.

“Sialan,” omel Pek-hujin dengan tertawa. “Tidak perlu mengumpak. Cobalah katakan dulu siapa pembantu yang baik itu?”

“Kau tahu, di antara mereka ini, sudah lama Li Toa-jui memusuhi aku,” demikian tutur Pek Khay-sim. “Sekarang tampaknya Toh-lotoa sudah serong ke sana, Kungfu mereka berdua cukup hebat, lebih-lebih Toh-lotoa, dia bukan lawan yang empuk.”

“Ya, aku pun tahu,” kata Pek-hujin.

“Sebenarnya dapat kucari bantuan Ha-ha-ji agar melayani mereka,” kata Pek Khay-sim pula.

“Tapi si gemuk ini lebih licin daripada belut, jika kucari dia bukan mustahil aku akan dijualnya.”

“Bagaimana dengan To Kiau-kiau?” tanya Pek-hujin.

“Si banci ini pun tidak dapat dipercaya,” ujar Pek Khay-sim. “Lahirnya saja dia cukup baik padaku, tapi selamanya dia sangat takut pada Toh-lotoa, jika disuruh memusuhi Toh-lotoa, mati pun dia tidak mau.”

“Bisa jadi diam-diam dia ada main dengan Toh-lotoa,” kata Pek-hujin dengan tertawa keras.

“Sialan, memang betul juga,” omel Pek Khay-sim dengan tertawa. “Makanya setelah kupikir agaknya cuma Im Kiu-yu saja yang dapat kubujuk untuk bersekutu, ditambah dirimu, kita bertiga sudah cukup untuk menghadapi mereka.”

“Kau yakin dapat membujuknya?” tanya Pek-hujin sambil berkedip-kedip.

“Tadinya aku pun sangsi, tapi sekarang aku sudah punya akal.”

“O, ya? Jika begitu, mengapa tidak sekarang saja kau cari dia?”

“Tidak perlu kucari dia, dia yang akan mencari diriku.”

“Ooo?” tercengang juga Pek-hujin.

“Kau tahu orang she Im ini selama hidupnya paling suka mengintip rahasia orang lain, lebih-lebih mengintip pasangan suami istri yang lagi ‘main’. Soalnya dia sendiri tidak mampu, terpaksa mencari kepuasan dengan jalan mengintip.” Sampai di sini, tak tertahan lagi tangannya lantas menggerayangi dada Pek-hujin bahkan terus menarik gaunnya.

Pek-hujin mengerling genit, omelnya dengan tertawa, “Memangnya kau hendak ‘main’ denganku di sini juga?”

Pek Khay-sim terus merangkulnya dan menciumnya satu kali, katanya dengan tertawa, “Keparat, cocok lagi ucapanmu. Dan bila kita sudah bergulat, tidak seberapa lama orang she Im itu pasti akan datang.”

“Tapi…tapi kalau diintip orang aku…aku tidak mau,” kata Pek-hujin dengan terkikik-kikik.

“Sialan, memangnya kau kira aku tidak paham?” omel Pek Khay-sim dengan tertawa. “Justru kalau diintip orang barulah kau bisa main lebih bersemangat.”

Mendadak Pek Khay-sim meremas paha Pek-hujin dengan keras, lalu berseru. “Ayolah, goyang!”

Terdengar Pek-hujin mengeluh perlahan. Perempuan yang histeris dan suka diperlakukan sadis ini lantas membisiki Pek Khay-sim dengan napas yang mulai terengah-engah, “O, keras sedikit sayang…Keraslah sedikit…makin keras makin baik!”

Selang sejenak, mendadak Pek Khay-sim berkata dengan tertawa, “Im-lokiu, jika ingin melihat, mengapa tidak keluar saja, untuk apa mengintip segala?”

Benar juga, segera terdengar suara Im Kiu-yu menjawab dengan terkekeh-kekeh, “Keparat, kau sungguh pintar mencari bini, permainannya sungguh merangsang, nikmat!”

“Eh, apakah kau ingin mencoba?” tanya Pek-hujin dengan tersengal-sengal.

“O, tidak, tidak, cukup kutonton dari samping saja dan sudah puas bagiku, ” kata Im Kiu-yu.

“Betul juga, kau harus lebih banyak bergembira mumpung masih ada waktu,” kata Pek Khay-sim. “Jika Yan Lam-thian sampai menemukanmu, maka terlambatlah segalanya.”

Menyinggung nama Yan Lam-thian, seketika air muka Im Kiu-yu berubah, jengeknya, “O, maka sekarang kalian bergembira sepuas-puasnya, begitu?”

“Kami sih tidak menjadi soal,” ujar Pek Khay-sim. “Aku kan tidak pernah ikut menyerang Yan Lam-thian, makanya aku tidak perlu takut padanya. Tapi kau…Hehe…” Sampai di sini, ia sengaja tidak melanjutkan ucapannya.

Dengan muka kehijau-hijauan Im Kiu-yu melenggong sejenak, tiba-tiba ia pun tertawa dan berkata, “Haha, apakah kau kira aku takut? Saat ini mungkin Yan Lam-thian sudah mati di tangan Ih-hoa-kiongcu, apa yang perlu kutakuti?”

“Hahaha, betul, betul,” Pek Khay-sim bergelak tertawa. “Sesungguhnya kau memang tidak perlu takut. Ilmu silat Yan Lam-thian pada hakikatnya tidak berharga seperser pun, sekali bergebrak dengan Ih-hoa-kiongcu, kepalanya pasti akan pamit dengan tuannya.”

Im Kiu-yu menyeringai, katanya, “Meski ilmu silat Yan Lam-thian cukup hebat, tapi Ih-hoa-kiongcu…”

“Kalian cuma tahu ilmu silat Yan Lam-thian sudah telantar sekian tahun, tapi kau lupa bahwa mungkin sekali selama ini dia telah berhasil meyakinkan semacam Kungfu lain yang mahalihai,” sela Pek Khay-sim, “Kalau tidak masakan dia berani mencari Ih-hoa-kiongcu dan menantangnya bertanding? Memangnya dia sudah bosan hidup?”

Im Kiu-yu melengak, air mukanya tambah pucat.

“Apalagi,” demikian Pek Khay-sim menyambung pula, “Sudah beberapa hari Ih-hoa-kiongcu kelaparan terkurung di dalam gua sana, betapa pun lihainya juga takkan tahan oleh siksaan fisik ini. Seumpama sekarang dia sudah makan sesuatu, tapi ilmu silatnya akan terpengaruh banyak, jika mereka berani bergebrak dengan Yan Lam-thian pada saat demikian…” Dia menggoyang kepala dan menghela napas gegetun, lalu menyambung, “Hm, kukira dia lebih banyak celaka daripada selamatnya.”

Setelah tercengang sejenak, kemudian Im Kiu-yu berkata, “Apa alangannya seumpama Yan Lam-thian tidak mati? Aku memang bukan tandingannya, tapi apakah aku tak dapat bersembunyi?”

“Bila Yan Lam-thian hendak mencari perkara kepada seorang, belum pernah kudengar sasarannya bisa kabur,” ujar Pek Khay-sim. “Apalagi, orang yang sudah berumur lebih setengah abad, jika hidupnya senantiasa kebat-kebit dan main sembunyi ke sana-sini, lalu apa artinya hidup ini baginya? Kan kasihan?”

Lama-lama Im Kiu-yu jadi gegetun, dampratnya dengan mendongkol, “Apa maksudmu sebenarnya bicara hal-hal ini padaku?”

“Aku pun tiada maksud apa-apa, aku cuma ingin membantumu agar Yan Lam-thian tidak lagi mencari kau,” kata Pek Khay-sim dengan tenang.

“Kau ingin membantuku? Kau punya akal?” tanya Im Kiu-yu, jadi tertarik.

“Jika aku tidak punya akal tentu takkan kucari kau,” jawab Pek Khay-sim.

Serentak Im Kiu-yu menarik bangun Pek Khay-sim yang masih berpelukan dengan Pek-hujin itu dan berseru, “Keparat, lekas katakan apa akalmu?”

Pek Kay-sim tidak lantas menjawab, ia sengaja memejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga, sejenak kemudian barulah ia berkata, “Setahuku, yang menyerang Yan Lam-thian di Ok-jin-kok dahulu bukanlah kau.”

“Betul,” cepat Im Kiu-yu berseru. “Li Toa-jui yang mengatur perangkap. To Kiau-kiau yang menyamar sebagai orang mati…”

“Itu dia,” Pek Khay-sim bertepuk gembira. “Hanya mereka berdua itulah biang keladinya, asalkan Yan Lam-thian melihat mereka berdua sudah mampus, rasa dendamnya akan lenyap sebagian besar dan tentu takkan ngotot menuntut balas lagi pada orang lain.”

Gemerdep sinar mata Im Kiu-yu, katanya, “Jadi maksudmu agar aku membinasakan mereka berdua?”

“Kau sendiri tentu kurang kuat, jika ditambah kami suami-istri, lalu pakai lagi sedikit akal, mustahil kepala mereka takkan terpenggal dengan mudah?”

Im Kiu-yu berpikir sejenak, jengeknya kemudian, “Kukira kalian hanya ingin melampiaskan dendam kalian sendiri.”

“Memang betul,” jawab Pek Khay-sim. “Jika bukan untuk melampiaskan dendam sendiri, untuk apa mesti kusuruh kau membantuku? Aku kan bukan bapakmu?”

Im Kiu-yu tidak marah, sebaliknya malah tertawa, katanya, “Kulihat mereka memang sudah hidup cukup lama, bila lebih cepat bikin tamat riwayat mereka, rasanya juga tiada jeleknya.”

“Kau keparat, akhirnya kau paham juga maksudku, tampaknya aku memang tidak keliru mencari sekutu,” kata Pek Khay-sim dengan girang.

“Kau dirodok, tampaknya matamu memang tidak buta,” Im Kiu-yu balas mengumpat dengan tertawa.

Tapi mendadak Pek Khay-sim menarik muka pula, katanya sambil menghela napas, “Cuma, bila sekarang kita turun tangan, walaupun Ha-ha-ji mungkin tidak ikut campur, tapi Toh-lotoa pasti tidak berkenan di hati, bila dia ikut campur, maka urusan ini bisa sulit.”

Sinar mata Im-Kiu-yu gemerdep, katanya, “Memangnya kau dirodok, kau pun hendak mengerjai Toh-lotoa sekalian?”

“Hehehe, ini namanya kalau sudah mau berbuat janganlah kepalang tanggung,” kata Pek Khay-sim dengan terkekeh-kekeh.

“Tapi kalau cuma tenaga kita bertiga harus melawan mereka bertiga, rasanya akan seperti daging disodorkan ke mulut harimau, pasti akan dimakan mereka,” jengek Im Kiu-yu.

“Ai, kau keparat ini sungguh bodoh, sama sekali tidak paham ilmu siasat,” kata Pek Khay-sim.

Im Kiu-yu termenung sejenak, segera matanya terbeliak pula, ucapnya, “Apakah maksudmu…”

“Pada waktu musuh tidak siap siaga, serang titik kelemahannya, habis itu baru tumpas satu per satu,” kata Im Kiu-yu.

“Tapi…tapi mana ada titik kelemahan Toh-lotoa?” ujar Im Kiu-yu

“Kelemahannya terletak pada kecongkakannya,” kata Pek Khay-sim. “Dia sok gagah, anggap dirinya paling top, maka jalan paling baik adalah menghadapi dia dengan perempuan, sebab dia selalu menganggap perempuan adalah kaum lemah.”

Mendadak Pek-hujin tertawa, katanya, “Hihi, lelaki yang menganggap perempuan adalah kaum lemah, dia sendiri pasti akan konyol.”

*****

Dalam pada itu, Ha-ha-ji, To Kiau-kiau, Toh Sat dan Li Toa-jui telah berhenti di depan sana, mereka merasa lereng gunung ini sangat sunyi dan sejuk, boleh dibuat tempat istirahat.

Mereka tahu, selanjutnya mereka akan mulai buron lagi tanpa ada habis-habisnya, mereka pun tahu untuk buron jangka panjang diperlukan perencanaan yang matang.

Akan tetapi sekarang mereka sama sekali tidak mempunyai sesuatu gagasan apa pun.

Tiba-tiba To Kiau-kiau berkata, “Apakah kalian kira Yan Lam-thian akan mati di tangan Ih-hoa-kiongcu?”

“Kukira dia memang lebih banyak celaka daripada selamatnya,” ujar Li Toa-jui.

“Kukira belum tentu,” tukas Toh Sat. “Ilmu silat Yan Lam-thian cukup jelas bagiku,” ia pandang tangannya yang buntung, sorot matanya menampilkan rasa rawan dan pedih.

“Kalau Yan Lam-thian tidak mati, tentu dia takkan melepaskan kita,” kata Kiau-kiau pula. “Lalu ke manakah kita akan lari? Memangnya kita akan kembali lagi ke Ok-jin-kok?”

Mereka sama tahu Ok-jin-kok memang suatu tempat sembunyi yang baik, tapi hanya bagi orang lain, bagi Yan Lam-thian, Ok-jin-kok sudah tiada artinya lagi. Tapi selain Ok-jin-kok memangnya mau ke mana lagi mereka?

Seketika anggota Cap-toa-ok-jin yang biasanya suka omong menjadi bungkam semua.

Entah sudah berapa lama, Li Toa-jui berkerut kening dan mengomel, “Keparat, bocah she Pek yang suka merugikan orang lain itu entah kabur ke mana? Jangan-jangan sedang merancang akal busuk untuk membuat susah orang lain?”

“Kukira dia tidak berani,” kata Toh Sat.

Selagi Kiau-kiau hendak bicara, tiba-tiba tertampak Pek-hujin berlari datang dengan langkah terhuyung, air mata tampak meleleh di kedua pipinya, ia memandang sekeliling dengan cemas, habis itu dia mendekati Toh Sat dan berlutut sambil meratap “O, Toh-toako, tol…tolong, sudilah engkau…menolong diriku.”

“Menolong engkau?” tanya Toh Sat. “Ada urusan apa?”

Dengan menangis Pek-hujin menjawab, “Kami baru kawin satu hari, tapi dia sudah…sudah tidak menghendaki diriku lagi, bahkan aku akan dibunuhnya. O, Toh-toako, diriku sudah sebatang kara, tidak punya sanak, tidak punya kadang, hanya Toh-toako saja yang dapat kumintai bantuan, sudilah engkau menolong diriku. Kutahu selamanya Toh-toako suka membela keadilan.”

Toh Sat benar-benar menjadi gusar, serunya, “Keparat, kalau dia sudah kawin denganmu mana boleh bertindak kasar padamu.”

Segera Li Toa-jui menyambung, “Benar, seumpama dia tidak suka lagi padamu, kan dapat menceraikan dirimu, mana boleh main bunuh segala. Memang sudah sejak dulu kutahu bocah she Pek itu tidak punya Liangsim (hati nurani yang baik).”

Sekonyong-konyong Toh Sat berdiri, serunya dengan bengis, “Di mana keparat itu? Coba bawaku ke sana, akan kulihat apakah dia berani mengganggu seujung jarimu atau tidak?”

Sambil mengusap air mata dan ingusnya, Pek-hujin berkata, “Kutahu hanya Toh-toako saja seorang ksatria sejati dan tidak nanti membiarkan seorang perempuan lemah dibuat susah orang.”

Habis berkata, ia meronta-ronta bangun, berdiri saja tampaknya hampir tidak kuat.

“Apakah dia telah melukaimu?” tanya Toh Sat.

Pek-hujin menghela napas, jawabnya dengan sedih, “Dia telah menghajarku hingga babak belur, coba Toh-toako melihat sendiri.” Mendadak ia membuka baju sehingga kelihatan tubuhnya yang montok, lalu menyambung pula, “Kutahu hanya Toh-toako saja yang adil, pasti takkan…”

“Sudahlah, lekas benarkan bajumu, akan kubantu…” Belum habis ucapan Toh Sat, sekonyong-konyong sebilah belati menancap di dadanya.

Keruan kejut Toh Sat tak terkatakan, ia meraung keras, tangannya yang buntung dan berkait tajam itu terus terayun ke depan.

Tapi sekali berhasil menikam sasarannya, segera pula Pek-hujin melompat mundur, ia merasa kaitan baja Toh Sat menyerempet lewat buah dadanya dan hampir saja terkait, ia terkesiap hingga muka pucat.

Kejadian ini berlangsung mendadak dan terlalu cepat, sama sekali Ha-ha-ji, Li Toa-jui dan To Kiau-kiau tidak menduga perempuan histeris ini bernyali sebesar ini dan berani turun tangan keji terhadap Toh Sat.

Tertampaklah Toh Sat telah mencabut belati yang menancap di dadanya itu, seketika darah segar menyembur seperti pancuran air. Ia bermaksud menubruk maju, akan tetapi tenaga sudah ikut terembes keluar bersama pancuran darah itu. Kedua tangannya yang pernah membunuh orang dalam jumlah sukar dihitung itu kini telah berlepotan darah pula. Tapi sekali ini darah itu adalah darahnya sendiri.

Li Toa-jui dan To Kiau-kiau memburu maju hendak menolongnya, namun Toh Sat telah mengebaskan tangannya, ucapnya dengan menyesal sambil menengadah, “Selama hidup orang she Toh gagah perkasa, tak tersangka sekarang harus mati di tangan perempuan hina dina yang tidak tahu malu ini.”

“Jangan khawatir, Toh-lotoa,” seru To Kiau-kiau dengan gemas. “Dia pun takkan hidup!”

“Ba…bagus…” kata Toh Sat dengan terputus-putus, mendadak ia tersenyum pedih dan menyambung pula, “jika tahu akan jadi begini, lebih baik kita mati di tangan Yan Lam-thian saja, betapa pun dia kan seorang ksatria sejati…” Sampai di sini, ia tidak kuat lagi, ‘brek’, orang yang menganggap dirinya gagah perkasa ini telah ambruk dan tidak bangun lagi untuk selamanya.

Pek-hujin seperti ketakutan dan baru sekarang ingat akan lari, ia menjatuhkan diri terus menggelinding ke sana, lalu melompat bangun dan hendak kabur.

“Mau kabur ke mana?” bentak Li Toa-jui dengan bengis.

“Dia takkan dapat kabur!” terdengar seorang menanggapi dengan suara seram.

Seperti arwah gentayangan saja mendadak Im Kiu-yu muncul dari balik batu sana mengadang di depan Pek-hujin. Tanpa bicara, segera Pek-hujin menyerang beberapa kali. Tapi cuma sekali gebrak saja, sekali meraih dapatlah Im Kiu-yu memegang pergelangan tangan Pek-hujin.

“Hehehe, kalau hari ini kau dapat kabur begitu saja, lalu ke mana lagi nama Cap-toa-ok-jin kami akan ditaruh?” kata Im Kiu-yu dengan terkekeh-kekeh.

Pek-hujin menggereget, katanya, “Aku sudah kenyang disiksa oleh kawanan Ok-jin kalian ini, kau bunuh saja diriku, betapa pun dendamku sudah terlampias sebagian.”

“Bunuh kau?” tukas Im Kiu-yu, “hehe, masa begitu mudah?” Lalu dia berpaling dan berkata kepada Li Toa-jui. “Konon daging manusia yang lezat harus langsung dikupas dari tubuh orang hidup, biarlah kuhadiahkan masakan ini untukmu.”

Li Toa-jui menyeringai, ucapnya, “Aku bukan orang she Li jika tidak kusayat seribu tiga ratus lima puluh kali dagingnya, lalu kubinasakan dia.”

Mendadak Pek-hujin bergelak tertawa histeris, teriaknya, “Hahaha, kukira kau hendak menuntut balas bagi Toh-lotoa, tak tahunya kau cuma ingin makan dagingku saja. Baiklah, majulah kemari, anak yang baik, silakan menetek saja susu biangmu ini, jika biangmu mengernyitkan kening, anggaplah aku yang melahirkan kau.”

“Hm, mustahil perempuan bejat ini mempunyai nyali sebesar ini untuk turun tangan keji pada Toh-lotoa, pasti Pek Khay-sim yang mendalangi dia,” jengek Kiau-kiau mendadak.

“Hehe, masakan ibumu ini perlu didalangi orang?” jengek Pek-hujin dengan tertawa. “Terus terang kukatakan, si bangsat keparat Pek Khay-sim itu pun sudah mampus di atas tubuhku, mayatnya sedang menantikan kalian untuk menguburnya.”

Sinar mata To Kiau-kiau gemerdap, ucapnya tiba-tiba, “Sementara jangan kalian bunuh dia, akan kujenguk dulu ke sana.”

“Jangan khawatir, kujamin dalam tiga hari tiga malam dia tidak akan mampus,” ujar Li Toa-jui sambil menyeringai seram. Dia jemput belati yang berlepotan darah Toh Sat itu dan selangkah demi selangkah mendekati Pek-hujin yang terpegang oleh Im Kiu-yu itu.

Ha-ha-ji memandang Li Toa-jui sekejap, lalu memandang pula To Kiau-kiau yang sudah berada jauh di sana, ia tertawa lalu berkata, “Entah bagaimana jadinya wajah Pek Khay-sim yang sudah mampus itu, biarlah aku pun menjenguk dia.”

Habis berkata ia terus mendekati Pek-hujin. Tapi belum lagi sampai di depannya, mendadak Pek-hujin berteriak, “Im Kiu-yu, setan alas kau! Jika kau masih berbau manusia, boleh kau bunuh diriku saja, jangan sampai aku disiksa oleh binatang pemakan manusia ini, nanti jadi setan pun aku akan berterima kasih padamu.”

“Aku setan alas? Manusia? Hehehe, hakikatnya aku cuma setengah setan setengah manusia!” Demikian Im Kiu-yu terkekeh-kekeh.

Li Toa-jui bergelak tertawa, katanya, “Kiranya kau pun kenal takut. Baiklah mengingat Pek Khay-sim juga kau bunuh, maka akan kukurangi seratus kali sayatan dan tidak boleh ditawar lagi, satu kali pun tidak boleh kurang.”

Dengan suara parau Pek-hujin berteriak, “Kau… kau binatang, kau…”

Mendadak Li Toa-jui melompat maju, jengeknya dengan menyeringai, “Hm, tadinya aku bingung sayatan pertama harus kumulai dari bagian mana, baru sekarang kutahu harus kupotong dulu lidahmu agar perempuan judes seperti dirimu ini tak bisa omong lagi.” Sembari bicara, segera pula ia angkat belatinya hendak memotong lidah Pek-hujin.

Siapa tahu, pada saat itu juga, sekonyong-konyong Im Kiu-yu melepaskan Pek-hujin, dari kanan-kiri kedua orang itu terus mengerubutnya.

Belum lagi Li Toa-jui menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu rusuk kiri sudah kena dihantam sekali oleh Pek-hujin, berbareng rusuk kanan juga kena di tonjok Im Kiu-yu, kontan darah segar tersembur dari mulutnya dan jatuh tersungkur.

“Hihihi, kan sudah kukatakan pasti tiada kesulitan apa-apa, coba lihat sekarang kan lebih mudah daripada makan kacang goreng?” ujar Pek-hujin dengan tertawa nyekikik.

“Hehe, semula kukira hatiku paling berbisa daripada hati siapa pun, baru sekarang kutahu hati yang paling berbisa adalah tetap hati perempuan,” kata Im Kiu-yu sambil tertawa ngekek.

“Semua ini kan berkat perhitunganmu yang cermat,” kata Pek-hujin dengan senyum genit. “Menurut pendapatku, biarlah mereka semua ini bergabung menjadi satu juga tidak dapat membandingkan satu jarimu.”

“Hehe, apakah kau hendak memikat diriku? Kukira kau telah salah sasaran, selamanya tuan Im tidak suka hal-hal begini,” kata Im Kiu-yu dengan terkekeh. “Ayolah, lekas angkat serigala mulut besar ini dan ikutlah pergi bersamaku.”

“O, apa dayaku kalau kasih hanya bertepuk sebelah tangan, tak tersangka hati kakanda sekeras baja, terpaksa kusesali nasibku sendiri,” ucap Pek-hujin dengan rawan.

Dia bicara seperti sedang main sandiwara di atas panggung, tapi Im Kiu-yu menjadi senang. Maklum, selama hidupnya memang tidak ada seorang perempuan yang pernah menunjuk cinta padanya. Jika seorang lelaki pada hakikatnya tidak tahu bagaimana rasanya berhubungan antara lelaki dan perempuan, maka kata-kata perempuan yang semakin genit akan semakin menyenangkan dia.

Begitulah dengan menggigit bibir dan lesu Pek-hujin mendekati Li Toa-jui.

Li Toa-jui ternyata belum mati, dia sedang merintih dan berkata, “Akan…akan kau bawa ke mana diriku? Meng…mengapa tidak…tidak kau bunuh saja aku?”

“Kau bilang akan sayat tubuhku ini seribu tiga ratus lima puluh kali, mana aku tega membunuhmu sekarang juga?” ucap Pek-hujin dengan suara halus.

Lalu dia setengah berjongkok, bibirnya tampak bergerak-gerak entah apa yang diucapkannya di telinga Li Toa-jui. Yang jelas mendadak mata Li Toa-jui mencorong terang.

Saat itu Im Kiu-yu sedang mondar-mandir dengan bertolak pinggang, tiba-tiba ia merasa dirinya telah bertambah ganteng, sungguh ia ingin mencari sebuah cermin untuk melihat wajah sendiri apakah memang sudah bertambah cakap.

Tak terduga, mendadak Pek-hujin mengangkat tubuh Li Toa-jui terus ditolak ke depan, seketika tubuh Li Toa-jui melayang ke atas terus menubruk ke arah Im Kiu-yu, kontan rambut Im Kiu-yu terjambak sehingga keduanya jatuh terguling.

Mimpi pun Im Kiu-yu tidak menyangka Li Toa-jui masih bisa bertindak demikian, keruan ia terkejut, segera ia bermaksud memukul untuk membuat Li Toa-jui terpental, tapi sudah terlambat, tahu-tahu Kiat-hay-hiat di pinggangnya tertusuk jarum perak Pek-hujin, seketika tubuhnya kaku kesemutan dan bisa bergerak lagi.

Dengan menyeringai Li Toa-jui berucap dengan terengah-engah, “Jika kau tahu hati perempuan paling berbisa, mengapa kau masih percaya kepada kata-kata perempuan? Kau mencelakai diriku, memangnya apa manfaatnya bagimu?”

Terdengar suara ‘krak-kruk’ di tenggorokan Im Kiu-yu, satu kata pun tak dapat diucapkannya. Maklumlah, tulang lehernya telah diremas patah oleh Li Toa-jui. Maka kini dia telah menjadi setan seluruhnya dan tidak setengah-setengah lagi.

Memandangi kedua tangan sendiri yang berlepotan darah itu, Li Toa-jui bergelak tertawa seperti orang gila.

“Li-toaya, sudah kubantu membalas sakit hatimu, sekarang cara bagaimana kau harus berterima kasih padaku?” kata Pek-hujin dengan tersenyum kenes.

Suara tertawa Li Toa-jui berhenti perlahan-lahan, dengan napas tersengal ia menjawab, “Sesungguhnya apa kehendakmu?”

“Sudahlah, apakah kau berterima kasih atau tidak padaku, yang pasti aku tetap akan membantumu,” kata Pek-hujin pula dengan suara lembut.

“O, jangan, kumohon jangan, jangan lagi engkau membantuku, aku tidak sanggup menerima lagi,” kata Li Toa-jui.

“Tapi bantuan ini mau tak mau harus kuberikan,” ujar Pek-hujin dengan tertawa, “Kalian Cap-toa-ok-jin sedemikian baik padaku, mana boleh aku tidak membalas kebaikan kalian ini secara setimpal?”

Dia bicara dengan tersenyum, mendadak sebelah kakinya melayang, kontan Li Toa-jui ditendangnya hingga jatuh kelengar.

Di sebelah sana Pek Khay-sim memang benar sudah mati, mati tergantung di atas pohon.

Waktu hidupnya tampaknya memang tidak terbilang cakap, sesudah mati tentu saja tambah jelek, matanya mendelik persis tikus yang dijemur.

To Kiau-kiau menghela napas menyesal, gumamnya, “Memang sudah kuduga orang ini pasti tidak bakal mati dengan baik-baik, tapi tak tersangka dia akan mati secara begini mengenaskan. Kita telah membantu merebut bini si harimau she Pek itu, jadinya malah telah membantu si harimau itu.”

Sembari menggerutu, tahu-tahu ia pun sudah sampai di bawah pohon tempat Pek Khay-sim digantung dengan terjungkir itu.

Mendadak didengarnya Ha-ha-ji berseru di belakangnya, “Awas, hati-hati, bukan mustahil jahanam itu cuma pura-pura mati saja.”

Mendingan kalau dia tidak bersuara, lantaran seruannya itu, dengan sendirinya To Kiau-kiau lantas menoleh. Karena sedikit meleng inilah, tahu-tahu kedua tangan Pek Khay-sim telah mencekik lehernya.

Ha-ha-ji terkesiap dan melenggong seperti patung di tempatnya, rasanya selangkah saja tidak sanggup berjalan lagi.

Terdengar Pek Khay-sim sedang menjengek, “Hm, To Kiau-kiau, sebenarnya aku pun tidak dendam apa-apa padamu, juga tiada niatku hendak membunuhmu, semua ini adalah gagasan Im-lokiu. Bila kau telah menjadi setan, sebaiknya kau menagih jiwa padanya dan janganlah mencari diriku.”

To Kiau-kiau tampak melotot karena lehernya tercekik, sama sekali ia tak dapat bersuara, bahkan mendengar saja tidak bisa lagi.

Pek Khay-sim lantas melompat turun, katanya dengan tertawa sambil memandang Ha-ha-ji, “Coba, caraku menyamar sebagai orang mati kan tidak kalah dibandingkan To Kiau-kiau, bukan? Selama hidup si banci paling mahir pura-pura mati untuk menjebak orang, tak tersangka akhirnya ia sendiri pun mampus di tangan orang yang pura-pura mati.”

Ha-ha-ji menghela napas gegetun, gumamnya, “Dunia berputar terus, segala sesuatu balas membalas, pada penitisanku yang akan datang, tak berani lagi aku berbuat jahat.”

Pek Khay-sim bergelak tertawa, katanya, “Apakah kau hendak kembali ke jalan yang baik, Ha-ha-ji? Padahal Cap-toa-ok-jin sekarang tinggal tersisa beberapa orang lagi dan memerlukan tenagamu untuk perkembangan selanjutnya, sebab bobotmu seorang cukup menandingi tiga orang lain.”

Ha-ha-ji seperti kegirangan, cepat ia tanya dengan suara agak gemetar, “Jadi…jadi engkau sudi mengampuni diriku?”

“Bisa jadi,” jawab Pek Khay-sim sambil mendongak angkuh. “Cuma aku perlu mengingat, menimbang untuk kemudian baru memutuskan.”

“Sudahlah, kumohon dengan sangat, janganlah pakai menimbang lagi,” pinta Ha-ha-ji dengan wajah memelas. “Asalkan engkau sudi mengampuni diriku, maka engkau adalah ayah bundaku, selanjutnya akan kuturut segala perintahmu, engkau memerintahkan aku ke timur pasti aku takkan ke barat, engkau suruh aku merangkak, pasti aku tidak berani berdiri.”

“Hihi, bagus, jika begitu. Coba sekarang kau merangkak satu putaran dulu,” kata Pek Khay-sim dengan tertawa.

Tanpa bicara lagi Ha-ha-ji terus menjatuhkan diri ke bawah dan mulai merangkak kian kemari.

“Hahaha,” Pek Khay-sim bertepuk tertawa senang. “Marilah kemari, lihatlah ada tontonan menarik, di sini ada seekor kura-kura lagi merangkak.”

Sambil merangkak malahan Ha-ha-ji sembari cengar-cengir dan berseru, “Kura-kura gemuk, suka merangkak, Tuan Pek tertawa hahaha, nyonya Pek memburu tiba juga tertawa…”

Benar juga, Pek-hujin telah menyusul tiba dengan menyeret Li Toa-jui, ia pun tertawa gembira.

Pek Khay-sim memicingkan mata kepada perempuan itu, katanya, “Apakah semuanya sudah beres?”

“Tentu saja sudah,” jawab Pek-hujin dengan genit. “Betapa pun liciknya mereka juga takkan lolos dari tanganku.”

“Dan mana Im-lokiu?” tanya Pek Khay-sim.

“Untuk apa menyisakan dia, sudah kubereskan sekalian,” jawab Pek-hujin. “Bila dia dibiarkan hidup, jangan-jangan nanti kalau kita lagi ‘main’, lalu dia ingin menonton di samping, kan bikin runyam saja.”

“Kau keparat, memang betul juga ucapanmu,” seru Pek Khay-sim dengan tertawa. “Kalau kelinci sudah mati semua, untuk apa piara anjing?”

Pek-hujin lantas lemparkan Li Toa-jui, katanya, “Hanya sisa serigala ini, kutahu kau merasa berat bila dia mati begitu saja.”

Pek Khay-sim terus melompat maju, Pek-hujin dirangkulnya dengan mesra, ucapnya, “O, jantung hatiku, mestikaku, kau memang seperti cacing pita dalam perutku, segala isi hatiku dapat kau ketahui seluruhnya.”

Pek-hujin tertawa nyekikik, katanya, “Dan bagaimana dengan kura-kura gemuk ini?”

“Kukira setiap saat jiwanya dapat kita habiskan bilamana kita mau, maka sekarang tidak perlu terburu-buru membunuhnya,” kata Pek Khay-sim. “Biarkan saja, kalau hatiku lagi kesal, akan kupermainkan dia seperti kura-kura sebagai pelipur lara.”

“Lalu bagaimana dengan serigala mulut besar ini? Akan kau bereskan dengan cara bagaimana?” tanya Pek-hujin pula.

Pek Khay-sim berkedip-kedip, katanya, “Ah, jangan-jangan kau ada gagasan baru lagi?”

“Kau tahu,” jawab Pek-hujin dengan tertawa, “Segala macam daging sudah pernah dimakannya, sampai-sampai daging istrinya juga dimakannya. Hanya ada semacam daging manusia yang belum pernah dia makan, kalau dia mati begini saja kan bisa menyesal di neraka? Maka aku harus membantu dia memenuhi seleranya yang terakhir ini.”

“O, daging manusia macam apa yang belum pernah dia makan?” tanya Pek Khay-sim.

“Daging orang yang suka makan orang,” jawab Pek-hujin.

Terbeliak mata Pek Khay-sim, “O, maksudmu menyuruh dia makan dagingnya sendiri?”

“Coba katakan, gagasan ini bagus tidak?” tanya Pek-hujin sambil terkikik-kikik.

Kembali Pek Khay-sim merangkulnya dengan mesra, serunya sambil bergelak tertawa, “O, jantung hatiku, mestikaku tercinta, betapa bahagianya kau menjadi istriku.”

Di tengah gelak tertawanya itu, mendadak terdengar suara “krek”, sekonyong-konyong Pek-hujin menjerit ngeri, tubuhnya lantas roboh terkulai seperti tak bertulang lagi. Kepalanya juga terkulai ke bawah. Bergelantung ke depan dada, tapi matanya tampak melotot sebesar gundu, dengan sorot mata penuh rasa kejut dan takut ia berkata, “Kau…kau…”

Namun leher yang sudah patah mana bisa bersuara lagi, biarpun banyak kata-kata caci-maki yang paling keji hendak dilontarkannya, namun yang keluar dari mulutnya hanya suara mendesis-desis saja, keadaannya sungguh mengerikan.

Rupanya sampai mati pun Pek-hujin tidak percaya bahwa yang membunuhnya ialah Pek Khay-sim, sama halnya sampai ajalnya Toh Sat dan Im Kiu-yu juga tidak percaya dia akan membunuh mereka.

Dengan tertawa terkekeh-kekeh Pek Khay-sim lantas berkata, “Tidaklah perlu kau bersikap beringas begini. Sebenarnya kau tahu sejak mula, jika kelinci sudah mati semua, untuk apa pula memelihara anjing betina macam kau ini?”

Pek-hujin menatapnya dengan mata melotot, biji matanya seakan-akan meloncat keluar, barang siapa yang melihat cara melotot Pek-hujin ini, malamnya pasti akan selalu terbayang-bayang dan tak dapat tidur nyenyak.

Namun Pek Khay-sim sama sekali tidak memusingkannya, dengan tenang ia berkata pula, “Apalagi, jika tidak kubunuh engkau, lambat atau cepat pastilah aku yang akan kau bunuh. Kutahu dalam hatimu sudah teramat benci kepada Cap-toa-ok-jin kami ini, makanya kau sengaja memperalat diriku untuk membunuh mereka, habis itu kau akan berdaya upaya lagi untuk membunuhku. Jika sekarang aku tidak turun tangan lebih dulu, kelak akulah yang akan mati konyol.”

Otot hijau pada leher Pek-hujin berkerut-kerut, lalu ia mengembuskan napasnya yang terakhir.

Mendadak Li Toa-jui berseru dengan gegetun, “Wahai Pek Khay-sim, tadinya kukira kau ini orang paling goblok, siapa tahu kau jauh lebih pintar daripada dugaanku.”

“Hah, kau belum lagi mati? Apakah kau memang sedang menunggu untuk makan dagingmu sendiri?” tanya Pek Khay-sim dengan menyeringai.

“Ya, betul,” jawab Li Toa-jui, sedapatnya ia bersikap tenang. “Memang sudah lama ingin kucicipi bagaimana rasanya dagingku sendiri. Cuma sayang, selama ini belum ada kesempatan. Sekarang kesempatan baik tersedia, mana boleh kulewatkan begini saja.”

Pek Khay-sim jadi melengak malah, tanyanya, “Apakah betul?”

“Mengapa tidak?” jawab Li Toa-jui, “Orang yang dekat ajalnya bicaranya pasti juga bijak, untuk apa kudusta dalam keadaan begini?”

Pek Khay-sim berkedip-kedip, mendadak ia bergelak tertawa pula, katanya, “Hahaha, memangnya kau kira aku akan percaya pada ucapanmu, lalu tidak memenuhi keinginanmu.”

“Syukur jika kau tidak percaya,” kata Li Toa-jui. “Nah, lekas ambilkan pisau, tapi jangan potong daging bagian lenganku, daging di bagian ini paling kasar seratnya.”

Pek Khay-sim menatapnya sejenak, tiba-tiba ia berpaling kepada Ha-ha-ji dan bertanya, “Kau percaya ucapannya tidak?”

Sejak tadi Ha-ha-ji masih terus merangkak dengan munduk-munduk, sekarang lekas ia menjawab dengan mengiring tawa, “Sampai mati pun anjing tetap makan najis, kalau serigala mulut besar ini tidak makan daging orang lain, daging sendiri pasti juga dimakannya. Tapi untuk apa Pek-lotoa memenuhi seleranya, biarkan saja dia mati dengan mengeluarkan air liur.”

“Betul, betul, harus kubuat dia mati mengiler,” seru Pek Khay-sim sambil bertepuk. “Meski daging tumbuh di tubuhnya, akan kubuat dia hanya dapat memandang tapi tak dapat memakannya.”

Dengan napas memburu Li Toa-jui berkata, “Kutahu sebabnya Im-lokiu membunuh kami adalah karena dia ingin mengelabui Yan Lam-thian agar menyangka kami sudah mati semua sehingga takkan mengusik lebih jauh sakit hatinya. Tapi kau juga membunuh kami, memangnya apa manfaatnya bagimu?”

Pek Khay-sim tertawa lebar, katanya, “Apa nama julukanku, masa kau sudah lupa?”

Li Toa-jui melenggong sejenak, gumamnya kemudian sambil menyengir, “Merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri…” tiba-tiba napasnya semakin memburu, akhirnya ia memejamkan mata dan tidak bicara lagi.

Tiba-tiba Ha-ha-ji bertanya dengan tertawa, “Pek-lotoa, apakah engkau masih ingin melihat kura-kura gemuk merangkak?”

Pek Khay-sim memberi tanda, katanya, “Sudahlah cukup, berdirilah.”

“Engkau…engkau benar-benar telah mengampuni diriku?” tanya Ha-ha-ji.

“Jangan khawatir,” ujar Pek Khay-sim. “Asalkan kau tunduk kepada segala perintahku, pasti takkan kubuat susah kau. Persaudaraan kita kini tinggal kita berdua, mana kutega membunuhmu lagi, jika kau pun mati, lalu siapa di dunia ini yang mau berkawan denganku?”

“Terima kasih, terima kasih, Pek-lotoa,” kata Ha-ha-ji sambil menjura berulang-ulang.

Pek Khay-sim tertawa terbahak-bahak, betapa senangnya seperti mendadak telah menjadi raja.

Tapi dia benar-benar cuma menjadi raja sekejap, sesuai namanya, “Pek Khay-sim ” atau gembira percuma, akhirnya kegembiraan itu memang cuma sia-sia belaka.

Ketika Ha-ha-ji hampir selesai menjuranya sekonyong-konyong dari punggungnya menyambar keluar tiga batang anak panah berwarna hitam gilap, “cret” kontan bersarang di hulu hati Pek Khay-sim.

Keruan Pek Khay-sim menjerit kaget, seketika ia terjungkal dan menatap Ha-ha-ji dengan melotot. Sikapnya ini persis seperti Pek-hujin menatapnya tadi.

Ha-ha-ji bergelak tertawa, serunya, “Wahai Pek Khay-sim, makanya jangan sok pintar, nyatanya kau pun goblok, masa kau tidak curiga mengapa aku menjadi sedemikian tunduk padamu? Memangnya kau kira aku benar-benar takut padamu?”

Sambil memegangi anak panah yang menancap di hulu hatinya. Pek Khay-sim berkata dengan suara serak, “Jika…jika kutahu tentu aku takkan terjebak oleh kura-kura gemuk macam kau ini.”

“Dan berdasarkan apa kau kira aku takut padamu?” tanya Ha-ha-ji pula.

“Kukira orang gemuk pada umumnya takut mati dan tidak mungkin berani turun tangan padaku, aku pun mengira orang gemuk pasti tidak becus, seumpama kau menyerangku juga tidak perlu kutakut, tapi aku lupa…lupa…” Tiba-tiba air muka Pek Khay-sim berubah pucat, bibir pun biru dan mata mulai berkunang-kunang.

“Haha, jadi kau lupa akan julukanku, menikam sambil tertawa, begitu? Haha, masa kau tidak tahu bahwa tidak sedikit orang Kangouw yang telah binasa oleh kepandaianku yang khas ini?”

“Tapi…tapi mengapa kau bunuh diriku?” tanya Pek Khay-sim dengan terengah-engah. “Jika kita bergabung menjadi satu kan jauh lebih baik daripada berdiri sendiri?”

Ha-ha-ji tidak memandangnya lagi, mendekati To Kiau-kiau dan bertanya dengan suara lembut, “Kiau-kiau, kau lihat tidak? Sakit hatimu sudah kubalaskan.”

“He, kiranya kau bunuh diriku untuk membalas sakit hatinya?” seru Pek Khay-sim. “Jadi kau … kau dan dia….”

Kulit muka Ha-ha-ji tampak berkerut-kerut, agaknya merasa sedih, maka tidak perlu tanya lagi Pek Khay-sim juga tahu ada hubungan istimewa antara Ha-ha-ji dan To Kiau-kiau.

Terdengar Ha-ha-ji berkata dengan rawan, “Selama ini, betapa pun kau cukup baik padaku, sekarang kau akan mati, hatiku merasa sedih…”

Pek Khay-sim meringis menahan rasa sakitnya, serunya tiba-tiba, “Selama dua puluh tahun mengeram di Ok-jin-kok, memang sudah kuduga si banci itu pasti tidak tahan rasa gatalnya, sering kukatakan dia pasti punya ‘gacoan’, tapi yang selalu kucurigai adalah Toh-lotoa.” mendadak ia bergelak tertawa, lalu menyambung, “Padahal seharusnya sudah kuduga bahwa gendaknya pastilah dirimu, sebab siapa yang sudi pada banci yang sudah tua bangka seperti dia kecuali kura-kura gemuk macam kau ini.”

Sambil meraung Ha-ha-ji ayun kakinya, Pek Khay-sim ditendangnya hingga mencelat dan untuk seterusnya tidak dapat lagi berucap dan berbuat sesuatu yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri.

Untuk sejenak Ha-ha-ji istirahat, setelah tenang kembali, mendadak dilihatnya To Kiau-kiau masih dapat membuka matanya sedikit. Kejut dan bergirang Ha-ha-ji, cepat ia berjongkok pula dan bertanya, “Kiau-kiau, apakah kau masih bisa bicara?”

To Kiau-kiau mengangguk, bibirnya tampak bergerak-gerak seperti ingin berkata sesuatu. Tapi keadaannya sudah terlampau lemah sehingga Ha-ha-ji tidak mendengar apa pun. Terpaksa dia mendekatkan telinganya ke mulut Kiau-kiau, katanya dengan lembut, “Kiau-kiau, ada isi hati apa yang ingin kau katakan, bicaralah, pasti akan kulakukan bagimu.”

Kiau-kiau mengeluh perlahan, katanya dengan lemah, “Kita…kita sepasang merpati yang senasib bukan?”

Berulang-ulang Ha-ha-ji mengangguk, katanya, “Betul, memang betul kita ini sepasang merpati yang senasib, suami istri yang penuh kasih sayang.”

Tersembul senyuman terakhir pada ujung mulut To Kiau-kiau, katanya pula lirih, “Makanya kalau aku mati, betapa pun kau tidak boleh hidup sendirian.”

Sungguh kejut Ha-ha-ji tak terkirakan, segera ia ingin melompat mundur, tapi sayang, sudah terlambat. Tahu-tahu kedua tangan To Kiau-kiau seperti ular telah membelit lehernya, berbareng mulut terus menggigit tenggorokannya.

Sekuatnya Ha-ha-ji meronta, tapi akhirnya tak dapat bergerak lagi. Lambat-laun air mukanya berubah pucat, darahnya mengucur bagai air ledeng mengalir masuk ke perut To Kiau-kiau. Mendadak ia meronta sekeras-kerasnya dan menindih di atas tubuh To Kiau-kiau.

Maka terdengarlah serentetan suara “krek-krek”, tulang sekujur badan To Kiau-kiau tertindih patah.

Ha-ha-ji merangkak bangun dengan sisa tenaganya, ia terbahak-bahak beberapa kali sambil menengadah, dan “bluk”, akhirnya ia jatuh tersungkur dan tak bangun lagi untuk selamanya.

Li Toa-jui memandangi semua kejadian itu dengan melenggong. Gumamnya kemudian sambil menghela napas panjang, “Bagus, bagus sekali! Akhirnya Cap-toa-ok-jin mati semua. Sudah semenjak dulu, tiga puluh tahun yang lalu, sudah kuduga bahwa di antara Ok-jin ini pasti akan terjadi saling membunuh. Thian mengumpulkan kami bersepuluh, memangnya hendak membuat kami jahat memukul jahat, racun melawan racun, supaya saling membunuh. Kalau tidak, satu-dua Ok-jin saja sudah cukup ramai, untuk apa mesti berkumpul sampai sepuluh orang?”

Sekuatnya ia meronta bangun, tapi lantas jatuh lagi, akhirnya ia berusaha merangkak ke atas bukit, agaknya ingin jauh meninggalkan mayat-mayat menjijikkan ini.

Angin pegunungan meniup silir-semilir, dari kejauhan seperti ada suara raungan binatang buas.

Li Toa-jui menyengir, gumamnya, “Apakah Toapekong penjaga tanah di sini tidak sudi menerima mayat orang-orang ini, makanya menyuruh kawanan serigala atau harimau melalap habis mayat mereka ini agar segalanya menjadi lenyap dan bersih.”

Lalu ia goyang-goyang kepala dan bergumam pula, “Cuma sayang, orang-orang ini bukan saja hati berbisa, sampai daging mereka pun bau busuk, sekalipun anjing kelaparan juga tidak sudi mengendusnya.”

Di balik tanjakan bukit ini, di balik semak-semak pepohonan sana seperti ada sebuah gua yang sangat dalam, batu padas tampak berserakan di sekitar gua ini seperti raksasa yang mengangakan mulutnya.

Sekuatnya Li Toa-jui merangkak ke sana, dengan menyengir ia bergumam pula, “Mulut gua ini jauh lebih besar daripada mulutku. Jika Li si mulut besar bisa mati di dalam gua yang mahabesar ini, maka matinya boleh dikatakan cocok dengan tempatnya. Diharap saja mulut raksasa ini tidak seperti diriku, setelah telan tubuhku bulat-bulat, lalu kepalaku ditumpahkan.”

Seram juga rasanya di dalam gua sebesar ini, karena lembap, tercium bau yang memualkan.

Akan tetapi Li Toa-jui berlagak seakan-akan selama hidup belum pernah menikmati tempat istirahat sebagus ini, ia menghela napas panjang-panjang, lalu merebahkan diri di situ.

Padahal tanah gua ini sangat lembap dan penuh batu kerikil, namun Li Toa-jui seperti berbaring di atas ranjang anak perawan yang berkasur empuk dan berbau harum. Ia bergumam pula, “Wahai Li Toa-jui, bahwa Thian telah memberikan suatu tempat begini padamu agar kau dapat menantikan ajalmu dengan aman dan tenang, sungguh hal ini sudah suatu karunia yang sukar dicari, lalu apalagi yang kau sesalkan?”

Akan tetapi Thian ternyata tidak membiarkan dia menanti ajal dengan aman dan tenang.

Entah berselang berapa lama, tiba-tiba terdengar suara langkah orang di luar gua.

Segera Li Toa-jui bermaksud melompat bangun, tapi apa daya, tenaga untuk merangkak saja tidak ada. Dalam keadaan demikian, mau tak mau ia hanya menyerah saja kepada takdir. Maka dia lantas berbaring lagi, pikirnya, “Selama hidupku ini aku suka makan daging manusia, jika Thian menghendaki mayatku harus menjadi makanan anjing kan juga adil.”

Untunglah Thian tiada maksud menjadikan ia sebagai makanan anjing sebab yang datang ini adalah manusia.

Terdengar suara seorang berkata, “Di sinilah tempatnya, pasti tidak salah lagi, masih kuingat dengan baik batu di depan gua itu.”

Meski kata-kata orang ini sangat umum, tapi suaranya keras dan berat, walaupun tidak kenal suara siapa, tapi entah mengapa, jantung Li Toa-jui lantas berdebar.

Selang sejenak terdengar seorang lagi berkata, “Paman, aku telah berbuat sesuatu di luar tahumu, apakah engkau sudi memaafkan diriku?”

Mendengar suara ini barulah Li Toa-jui benar-benar terkejut.

Orang ini ternyata Siau-hi-ji adanya. Jika demikian, yang seorang lagi tentu Yan Lam-thian. Sungguh tak terpikir oleh Li Toa-jui bahwa akhirnya ia pun sia-sia belaka bersembunyi ke sana ke sini. Karena takutnya hingga bernapas saja tidak berani keras-keras.

Padahal dia sudah dekat ajalnya, apa yang mesti ditakuti pula? Itulah buktinya bilamana seorang pernah berbuat dosa, maka pasti akan timbul rasa takutnya dalam keadaan bagaimana pun juga.

Terdengar Yan Lam-thian lagi berkata, “Kau berbuat apa di luar tahuku?”

“Di…di luar tahu paman, diam-diam telah…telah kusuruh orang melepaskan Kang Piat-ho dan anaknya,” jawab Siau-hi-ji.

Agaknya Yan Lam-thian melenggong sejenak, katanya kemudian dengan suara bengis. “Mengapa kau bertindak demikian? Masa kau lupa akan sakit hatimu yang sedalam lautan itu?”

“Anak tidak pernah lupa,” jawab Siau-hi-ji, “Cuma kurasa, untuk menuntut balas tidak perlu harus membunuh mereka, bahwa orang lain telah membunuh orang tuaku, ini adalah perbuatan mereka yang kotor dan kejam, jika aku pun membunuh mereka, bukankah aku pun berubah serupa mereka? Sebab itulah aku sengaja membiarkan mereka hidup agar mereka dapat menyesali dosanya sendiri, kupikir dengan cara demikian akan jauh lebih berarti daripada aku membunuh mereka.”

Anak muda itu bicara dengan lancar dan tegas, sedikit pun tiada tanda takut-takut.

Yan Lam-thian termenung agak lama, ia menghela napas gegetun, lalu berkata dengan rawan, “Anak yang baik, Kang Hong mempunyai anak seperti kau, di alam baka dapatlah dia istirahat dengan tenteram. Percumalah paman Yan hidup selama berpuluh tahun, nyatanya tidak dapat berpikir bijaksana seperti dirimu.”

“Jika demikian, lalu pertarungan dengan Hoa Bu-koat apakah juga boleh dibatalkan?” tanya Siau-hi-ji.

“Ini sama sekali tidak boleh,” kata Yan Lam-thian, suaranya menjadi bengis lagi.

“Mengapa tidak boleh?” tanya Siau-hi-ji. “Antara Hoa Bu-koat dan diriku kan tiada permusuhan apa-apa, untuk apa aku harus mengadu jiwa dengan dia?”

“Pertarungan ini bukan untuk menuntut balas, tapi demi nama, demi kehormatan,” seru Yan Lam-thian dengan kereng. “Seorang lelaki, kepala boleh dipenggal, darah boleh mengalir, tapi tidak boleh berbuat sesuatu yang memalukan. Urusan sudah sejauh ini, bila kau hendak lari sebelum maju di medan laga, dapatkah kau bertanggung jawab terhadap ayah bundamu, dapat pulakah bertanggung jawab padaku?”

Siau-hi-ji menghela napas, satu kata saja dia tidak sanggup menjawab.

Yan Lam-thian menyambung pula, “Jadi sekarang, apa pun juga kau harus bertarung dengan Hoa Bu-koat, aku pun harus bertempur dengan Ih-hoa-kiongcu, sebab orang yang berbuat salah harus menerima hukumannya. Seorang lelaki sejati ada yang tidak boleh diperbuatnya, tapi ada juga yang harus diperbuatnya. Biarpun kita tahu jelas akan gugur di medan tempur juga tidak boleh mengelakkan diri. Apakah kau sudah paham artinya?”

“Ya, paham,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Yan Lam-thian menghela napas panjang, lalu berkata pula dengan suara lembut, “Kutahu antara kau dan Hoa Bu-koat sudah terpupuk persahabatan yang erat, makanya kau tidak suka bertempur dan mengadu jiwa dengan dia. Tapi orang hidup di dunia ini terkadang memang harus berbuat sesuatu yang sebenarnya berlawanan dengan kehendaknya. Orang memang sering kali dipermainkan oleh nasib, betapa pun kepahlawanan seorang juga tak dapat menghindarinya.”

Siau-hi-ji menghela napas panjang, tiba-tiba ia berkata, “Yan-toasiok, aku cuma ingin memohon sesuatu padamu.”

“Tentang apa, katakan saja,” jawab Yan Lam-thian.

“Kumohon apabila bertemu dengan Toh Sat, Li Toa-jui dan lain-lain kuharap paman jangan membunuh mereka,” pinta Siau-hi-ji.

Yan Lam-thian menjadi gusar, jawabnya, “Apa, jangan membunuh mereka? Orang-orang itu sudah lama pantas dibinasakan, mengapa kau malah memintakan ampun bagi mereka?”

“Seorang yang berbuat kesalahan memang sepantasnya mendapatkan hukuman setimpal, tapi Toh Sat dan lain-lain itu sudah cukup menerima hukuman berat, mereka telah menderita selama dua puluh tahun di Ok-jin-kok, hidup mereka boleh dikatakan sangat merana, siang dan malam selalu kebat-kebit, lari ke sana dan sembunyi ke sini, mereka benar-benar seperti segerombolan anjing liar yang kehilangan majikan. Kalau sudah begitu, masakan selanjutnya mereka berani berbuat jahat dan membuat susah orang lain lagi?”

Mendengar sampai di sini, tanpa terasa Li Toa-jui menghela napas gegetun, pikirnya, “Makian yang baik, makian yang tepat, bahkan caci maki ini masih terlalu ringan, sebab kami pada hakikatnya lebih runyam daripada anjing liar.”

Dalam pada itu terdengar Yan Lam-thian sedang berkata, “Kekuasaan negara mudah berpindah, watak manusia sukar berubah. Dari mana kau tahu selanjutnya mereka tak berani lagi berbuat kejahatan dan membuat celaka orang lain?”

“Mungkin paman Yan tidak tahu bahwa sebelum mereka kabur ke Ok-jin-kok, mereka pernah menyembunyikan satu partai harta karun, justru lantaran partai harta karun inilah jiwa mereka hampir-hampir amblas,” tutur Siau-hi-ji, “Coba paman pikir, bilamana mereka masih mempunyai keberanian membuat celaka orang lain, bukankah dengan mudah mereka dapat merampok lagi harta yang lebih banyak, untuk apa mereka mesti berusaha menemukannya kembali harta karun yang mereka sembunyikan itu?”

Dia menghela napas, lalu menyambung pula, “Dari sini terbuktilah bahwa nyali mereka sekarang sudah berubah ciut, kini mereka tidak lebih hanya beberapa gelintir kakek-kakek yang kemaruk harta benda saja, mana ada wibawa sebagai ‘Cap-toa-ok-jin’ yang disegani seperti dahulu itu? Hidup mereka sekarang tiada ubahnya seperti sudah mati, lalu untuk apa paman Yan mengusut dan membunuh mereka lagi? Biarkanlah mereka hidup lebih lama dua-tiga tahun untuk menyambung napas mereka yang memang sudah kembang-kempis itu.”

Sampai di sini, tak tahan lagi air mata Li Toa-jui bercucuran, tanpa terasa ia menghela napas panjang dan berseru, “O, Siau-hi-ji, rupanya kami telah salah menilai dirimu. Bilamana kami dapat membayangkan kau akan membela kami dan memintakan ampun bagi kami, mungkin kami pun tidak perlu berakhir dengan nasib begini.”

Belum habis ucapannya, serentak Yan Lam-thian dan Siau-hi-ji melompat tiba.

“He, engkau Li-toasiok!” seru Siau-hi-ji. “Mengapa engkau berubah menjadi begini?”

Li Toa-jui tersenyum pedih, katanya, “Mungkin inilah yang dinamakan bajik dan jahat akhirnya pasti akan menerima ganjaran yang setimpal, banyak berbuat kebusukan akhirnya pasti akan binasa sendiri.”

“Di manakah kawan-kawan yang lain?” jawab Siau-hi-ji.

“Mati semua, sudah mati semua,” jawab Li Toa-jui menyesal.

“Siapa yang membunuh mereka?” tanya Siau-hi-ji pula dengan tercengang.

“Siapa lagi yang mampu membunuh mereka jika bukan mereka sendiri?” tutur Li Toa-jui dengan tersenyum getir. Ia menghela napas panjang, lalu berkata pula, “Yan-tayhiap, sungguh kami telah berdosa padamu, lekaslah kau bunuh diriku.”

Waktu melihatnya semula wajah Yan Lam-thian memang sangat gusar, tapi sekarang malah menampilkan rasa iba, rasa kasihan. Ia hanya menggeleng saja sambil menghela napas panjang.

“Kutahu orang macam diriku ini sudah tiada harganya untuk dituruntangani Yan-tayhiap,” kata Li Toa-jui pula sambil menyengir pedih. “Seorang kalau hidupnya sampai musuh sendiri pun merasa tidak berharga untuk membunuhnya, maka apalah artinya hidup ini baginya.”

Mendadak ia bergelak tertawa, sejenak kemudian baru ia melanjutkan, “Dan untunglah hidupku ini sudah tidak akan lama lagi, inilah kemujuranku, kalau tidak rasanya aku lebih suka mati tenggelam oleh air kencingnya sendiri.”

Yan Lam-thian hanya menghela napas dan tidak menanggapi, tiba-tiba ia berkata kepada Siau hi-ji, “Ayolah kita pergi.”

“Tidak, paman, sekarang aku tidak dapat pergi,” jawab Siau-hi-ji.

“Apa yang kau tunggu lagi?” tanya Yan Lam-thian dengan kurang senang.

Siau-hi-ji menunduk, katanya, “Waktu kecilku, paman Li tidaklah jelek terhadapku. Sekarang dia dalam keadaan begini mengenaskan, mana boleh kutinggalkan dia menantikan ajalnya sendiri di sini?”

Mendadak Li Toa-jui berteriak, “Siau-hi-ji, tidak perlu kasihan padaku, juga tidak perlu kau balas budi kebaikan. Hakikatnya aku tidak berbuat sesuatu kebaikan padamu. Bahwa kami membesarkanmu di Ok-jin-kok, maksud tujuan kami juga tiada lain daripada mengharapkan setelah kau dewasa akan melakukan kejahatan dan membuat celaka orang lain seperti halnya perbuatan kami.”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Aku tidak peduli apa maksud tujuan kalian, yang jelas aku memang telah dibesarkan oleh kalian. Sekarang hidupku terasa sangat menyenangkan, maka tidak bolehlah kulupakan budi kebaikan kalian.”

Li Toa-jui menghela napas panjang-panjang, gumamnya, “Budi kebaikan…O budi kebaikan. Anak yang dibesarkan Cap-toa-ok-jin ternyata tidak pernah melupakan budi kebaikan, tampaknya sejak dulu-dulu seharusnya Cap-toa-ok-jin mesti ganti profesi untuk menjadi juru rawat saja.”

“Betul, kelak bila kami mempunyai anak, tentu kami akan mengundang engkau untuk menjadi juru rawat anak kami,” tiba-tiba seorang menanggapi dengan tertawa.

Kiranya So Ing juga telah menyusul tiba, cuma sejak tadi dia tidak bersuara.

Li Toa-jui terbelalak, tanyanya, “Kalian akan punya anak? Anakmu dengan siapa?”

So Ing melirik Siau-hi-ji sekejap, ia menunduk, lalu berkata dengan menahan tawa, “Sekarang memang belum punya anak, tapi kelak kami pasti punya.”

“Haha, luar biasa, tak tersangka ikan kecil ini akhirnya terkail juga,” seru Li Toa-jui dengan tertawa. “Wah, tampaknya kepandaianmu memancing ikan memang sangat lihai.”

Tapi Siau-hi-ji lantas menjengek, “Hm, kepandaiannya memuaskan diri sendiri memang hebat.”

“Baik, anggaplah aku memang suka memuaskan diri sendiri, apa pun yang kau lakukan pasti akan kuturut seluruhnya,” kata So Ing dengan tersenyum, “Pokoknya, bilamana aku melahirkan anak, maka kaulah ayahnya.”

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya dengan muram, “Ai, sungguh sialan, menghadapi orang begini memang benar-benar bisa mati konyol.”

Li Toa-jui bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, tak tersangka akhirnya Siau-hi-ji ketemu batunya. Haha, nona yang baik, sungguh aku kagum padamu, nyata kau jauh lebih hebat daripada gabungan Cap-toa-ok-jin kami dalam hal menjinakkan ikan kecil ini.”

Setelah bergelak tertawa, mendadak air muka Li Toa-jui menampilkan rasa menderita lagi, jelas lukanya menjadi kesakitan pula.

Mendadak Yan Lam-thian berkata, “Menerima budi harus membalas, inilah sifat sejati seorang lelaki, maka boleh kau tinggal saja di sini.”

“Dan ke mana paman akan pergi?” tanya Siau-hi-ji.

Yan Lam-thian berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Akan kutunggu kau di puncak bukit sana, mungkin mereka sudah berhasil menemukan Hoa Bu-koat, maka selekasnya kau pun pergi ke sana.”

“Ya, kalau aku sudah berjanji pada paman Yan, sekalipun dengan merangkak juga akan hadir ke sana,” ujar Siau-hi-ji dengan tersenyum getir.

“Baik sekali,” kata Yan Lam-thian, habis itu ia lantas bertindak pergi dengan langkah lebar.

Sambil memandangi bayangan pendekar besar yang kekar itu menghilang di kegelapan, Li Toa-jui menghela napas gegetun, katanya, “Orang ini memang sangat tegas dan bijaksana, sungguh tidak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati.”

“Kukira engkau sendiri pun tidak malu untuk disebut sebagai lelaki sejati,” tiba-tiba So Ing menukas dengan tertawa.

Li Toa-jui jadi melengak. “Aku?” ia menegas.

“Ya,” jawab So Ing. “Di antara Cap-toa-ok-jin hanya engkaulah yang dapat dianggap sebagai lelaki sejati. Cuma sayang seleramu berbeda dengan orang lain, kalau tidak mungkin engkau sudah menjadi sahabat karib Yan-tayhiap.”

“Hahaha, bagus, bagus!” seru Li Toa-jui dengan terbahak-bahak. “Ada seorang nona cantik memuji diriku sebagai lelaki sejati, sungguh mati pun tidak perlu penasaran lagi. Cuma sayang, aku tidak dapat menyaksikan Siau-hi-ji kecil yang akan kau lahirkan kelak.”

“Wah, tak kusangka paman Li juga tidak tahan disanjung puji orang, hanya sedikit diumpak saja, seketika membantu orang menjaring diriku,” kata Siau-hi-ji dengan menyengir.

“Menjaring engkau?” seru Li Toa-jui dengan melotot. “Ketahuilah, kau bisa memperoleh bini seperti dia adalah kemujuranmu yang mahabesar. Jika aku tidak sekarat begini, mustahil kalau aku tidak bersaing denganmu untuk memperebutkan dia.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Bukan mustahil kelak seleraku juga akan berubah seperti paman Li dan tengah malam akan kumakan dia bulat-bulat.”

Sorot mata Li Toa-jui menampilkan rasa derita lagi, agaknya dia tidak suka mendengar peristiwa yang menyakitkan hati tentang istrinya itu.

Siau-hi-ji sangat cerdik, melihat air muka Li Toa-jui itu segera ia tahu diri, cepat ia ganti haluan dan berkata pula, “So Ing, jika kau benar-benar menginginkan paman Li akan menjadi juru rawat anakmu kelak, maka lekaslah kau menyembuhkan luka paman Li ini.”

“Apa? Kau minta dia menyembuhkan lukaku?” tanya Li Toa-jui dengan melenggong.

“Masa paman Li belum tahu?” tanya Siau-hi-ji. “Budak ini selain mahir memuaskan dirinya sendiri, kepandaiannya mengobati orang juga lumayan.”

Mendadak Li Toa-jui bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, kukira kau ini orang pintar, tak tahunya kau adalah orang goblok.”

“Masa…masa paman Li tidak…tidak ingin di…”

“Coba jawab,” potong Toa-jui sebelum ucapan Siau-hi-ji berlanjut, “bilakah kau lihat aku berlagak pahlawan, berlagak gagah perwira?” Dia menggeleng-geleng, lalu menjawab pertanyaannya sendiri, “Tidak pernah, selamanya tidak pernah. Aku adalah orang yang paling takut mati, maka bila lukaku ini dapat disembuhkan, kan sejak tadi aku sudah berlutut memohon pertolongannya.”

“Tapi paling tidak keadaan lukamu kan harus kuperiksa dahulu,” kata So Ing.

“Periksa apa?” Li Toa-jui melotot. “Betapa parah lukaku masakah aku sendiri tidak tahu? Memangnya kau kira aku ini orang yang goblok?”

Siau-hi-ji saling pandang sekejap dengan So Ing, mereka tahu Li Toa-jui sudah bertekad tidak mau hidup lagi. Keduanya lantas saling mengedip, diam-diam mereka sudah mempunyai perhitungan.

Tiba-tiba Li Toa-jui berkata pula dengan tertawa “Jika kau benar-benar ingin membayar utang budimu padaku, kukira memang ada suatu cara yang baik.”

“Cara bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Aku merasa sangat kelaparan sehingga kepala pusing tujuh keliling,” ucap Li Toa-jui dengan tertawa. “Maka harus kau carikan akal agar aku dapat makan dengan sekenyang-kenyangnya. Konon jalan yang menuju ke akhirat sama sekali tiada rumah makan, jika aku harus menghadap Giam-lo-ong (raja akhirat) dalam keadaan lapar, kukira tidak enak rasanya.”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, katanya kemudian dengan menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum, “Wah, tidaklah mudah mencari daging manusia di tempat begini, rasanya terpaksa harus minta kelonggaran paman Li, seadanya bolehlah secuil daging pahaku sekadar mengisi perutmu.”

“Daging manusia lagi maksudmu? Siapa bilang aku minta makan daging manusia?” kata Li Toa-jui dengan melotot.

“Jadi…jadi paman Li tidak … tidak makan daging manusia?”

“Sekalipun daging manusia benar-benar paling lezat di dunia ini, kan sudah berpuluh tahun aku memakannya, rasanya tentu juga sudah bosan,” kata Li Toa-jui. Mendadak ia meludah, lalu menyambung pula, “Hm, bicara sejujurnya, bilamana sekarang aku ingat pada daging manusia, rasanya aku menjadi mual.”

Sekali ini Siau-hi-ji benar-benar melenggong.

Li Toa-jui tertawa dan berkata pula, “Apakah kau kira aku benar-benar sangat suka makan daging manusia? Hm, terus terang kuberitahukan, sebabnya aku suka makan daging manusia tiada lain hanya karena aku ingin menggertak orang saja.”

“Menggertak orang? Maksudmu menakuti-nakuti orang?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya,” jawab Li Toa-jui. “Apakah kau tahu apa sebabnya To Kiau-kiau, Ha-ha-ji dan lain-lain selalu jeri padaku? Nah, tiada sebab lain daripada karena aku suka makan manusia. Orang yang suka makan manusia tentu akan membuat takut orang.”

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala lagi, ia menjadi bingung.

Kembali Li Toa-jui menghela napas, katanya, “Manusia hidup di dunia ini demi untuk berbuat jahat atau untuk berbuat bajik? Perbedaan antara keduanya sebenarnya sangat sedikit. Sebabnya aku bisa menjadi Cap-toa-ok-jin sebenarnya juga cuma disebabkan kesalahan berpikir sekilas saja. Dia tertawa, lalu bertanya, “Apakah kalian dapat menerka cara bagaimana aku bisa menjadi anggota Cap-toa-ok-jin?”

Siau-hi-ji menggeleng, jawabnya, “Tidak, aku tidak tahu.”

Li Toa-jui menatap kegelapan di kejauhan sana, katanya kemudian dengan perlahan, “Sejak kecil aku memang punya hobi makan, segala makanan pasti kucoba, sampai-sampai barang yang tidak berani dimakan orang Kwitang (Kanton) yang terkenal ahli makan, semuanya pernah kucoba. Di atas semua makanan itu, hanya daging manusia saja yang belum pernah kumakan, maka kemudian aku lantas ingin mencicipi bagaimana rasanya daging manusia.”

Dia tertawa, lalu menyambung pula, “Masih mendingan bila aku tidak memikirkan urusan makan daging manusia, sekali memikirnya, maka rasa ingin tahu rasanya semakin menjadi-jadi. Suatu hari aku telah membunuh satu orang, aku menjadi tak tahan, akhirnya kupotong dagingnya dan kumasak untuk dimakan, ternyata rasanya cuma begini saja, tiada sesuatu yang luar biasa, meski lebih halus seratnya daripada daging kuda, tapi rasanya lebih masam, supaya bisa lebih lezat harus diberi bumbu masak seperlunya.”

“Jika rasa daging manusia ternyata tiada yang istimewa, lalu mengapa engkau masih memakannya?” tanya Siau-hi-ji.

“Di sinilah letak rahasianya, yaitu untuk menakut-nakuti orang seperti kukatakan tadi,” tutur Li Toa-jui. “Waktu untuk pertama kalinya aku makan daging manusia itulah, mendadak kepergok orang. Sebenarnya orang ini adalah musuhku yang paling tangguh, ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripadaku, tapi begitu dia melihat aku sedang makan daging manusia, seketika mukanya berubah pucat, ia ketakutan setengah mati terus lari terbirit-birit. Selanjutnya bila melihat diriku segera ia pun ngacir pula, seterusnya ia tidak berani menantang berkelahi lagi padaku.”

Ia tertawa, lalu menyambung lagi, “Karena itulah aku lantas menarik kesimpulan bahwa makan daging manusia juga bisa membuat takut orang. Setelah menemukan kenyataan ini, mendadak aku berubah menjadi gemar makan daging manusia.”

“O, jadi…jadi paman Li suka ditakuti orang?” tanya Siau-hi-ji.

“Sifat manusia di dunia ini macam-macam ragamnya, ada sementara orang yang sangat menyenangkan orang, tapi ada setengah orang yang sangat menjemukan. Aku sendiri tidak menyenangkan orang dan juga tidak ingin membuat jemu orang, maka aku sengaja mencari caraku sendiri, yaitu, membuat orang takut padaku,” setelah tertawa, lalu Li Toa-jui melanjutkan, “Kalau bisa membuat orang takut, cara ini kan boleh juga. Sebab itulah aku pun tidak pedulikan daging manusia masam atau tidak, terpaksa kumakan untuk menakuti orang lain.”

Siau-hi-ji melongo, ya heran, ya gegetun, sungguh tak terpikirkan olehnya bahwa untuk membuat takut orang ternyata ada orang yang sengaja makan daging manusia, benar-benar sukar dimengerti.

Sebenarnya Siau-hi-ji ingin tanya, “Dan mengapa daging anak istri sendiri juga kau makan?” Tapi pertanyaan ini tidak sudi dilontarkan, sebab ia tidak sampai hati membuat berduka Li Toa-jui lagi.

Li Toa-jui lantas berkata pula, “Selama bertahun-tahun terakhir ini, sudah tentu aku pun kepingin makan enak seperti orang lain, terpaksa secara sembunyi-sembunyi aku memasak daging babi sekadar memuaskan selera makanku, akan tetapi harus kujaga sedemikian rupa sehingga tidak dilihat orang lain, jadi seperti Hwesio mencuri makan daging, semakin main sembunyi-sembunyi semakin merasa enak makanan yang akan dimakannya.”

Ia bergelak tertawa, lalu menyambung pula, “Tapi sekarang aku tidak perlu mencuri makan lagi, tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Maka lekas kalian menjamu makan padaku, aku ingin makan Ang-sio-ti-te, pilihlah tite gemuk dan empuk…”

*****

Di kota kecil ini sudah tentu tidak terdapat makanan spesial, tapi untuk mencari tite atau kaki babi tentu tidak terlalu sukar.

Dua potong kaki babi (koki yang pandai tentu memilih kaki babi bagian depan) seberat tiga-empat kati telah dilalap habis sendiri oleh Li Toa-jui. Untung mereka membuka kamar di sebuah hotel dan makan di dalam kamar, kalau cara makannya dilihat orang tentu akan dikira dia ini penjelmaan setan kelaparan.

Selagi Li Toa-jui menyikat Ang-sio-ti-te, diam-diam Siau-hi-ji menarik So Ing keluar kamar, dengan suara tertahan ia tanya si nona, “Waktu kau memapahnya ke sini, apakah sudah kau periksa keadaan lukanya?”

“Sudah,” jawab So Ing. “Lukanya memang cukup parah, tulang iganya yang patah sedikitnya sepuluh biji, belum lagi luka-lukanya bagian lain. Bila tubuhnya tidak kekar dan kuat, mungkin sudah lama jiwanya melayang.”

“Aku cuma ingin tahu sekarang masih dapat kau tolong dia atau tidak?” tanya Siau-hi-ji pula.

“Jika dia mau menuruti segala perintahku dan dirawat dengan baik-baik, kujamin akan dapat menyelamatkan jiwanya. Cuma…” So Ing menghela napas, lalu menyambung pula, “Apabila dia sendiri tidak mau hidup lebih lama lagi, maka siapa pun tak mampu menolong dia.”

Siau-hi-ji menggigit bibir dan termenung, katanya kemudian, “Sungguh aku tidak paham, sebenarnya dia adalah seorang yang bisa berpikir dan berpandangan jauh, mengapa sekarang dia menjadi putus asa dan tiba-tiba ingin mati saja?”

Dengan rawan So Ing berkata, “Seorang kalau sudah mendekati ajalnya tentu akan terkenang kepada pengalaman yang diperbuatnya selama hidup ini, dalam keadaan demikian, orang yang bisa merasa tenang dan tidak malu pada dirinya sendiri selama hidup ini, kukira tidak banyak di dunia ini.”

“Ya, kukira dia pasti sangat menyesal terhadap apa yang telah diperbuatnya selama hidup ini, makanya dia ingin menebus semua dosanya itu dengan mati saja,” kata Siau-hi-ji dengan gegetun.

“Dalam keadaan demikian, bila seorang dapat memandang mati dan hidup sebagai hal yang wajar, maka patutlah orang ini dipuji, karena itu aku bilang paman Li ini tidak malu disebut sebagai lelaki sejati.”

“Dia memang seorang lelaki sejati, tidak perlu kau mengumpaknya lagi,” omel Siau-hi-ji dengan melotot.

So Ing tertawa, katanya, “Betul juga, memangnya aku harus selalu mengumpak dan menyanjung dirimu saja.”

Siau-hi-ji melotot pula, seperti mau marah, tapi urung.

Pada saat itulah, mendadak dilihatnya ada seorang lagi melongok mengintip mereka di ujung halaman sana, sekilas pandang saja Siau-hi-ji sudah dapat mengenali siapa orang itu. Segera ia berkata, “Paman Li cukup baik padaku, dia mengalami nasib malang begini, dengan sendirinya aku ikut sedih sehingga ingin melampiaskan rasa marahku kepada seseorang. Sekarang ternyata sudah kutemukan orang yang dapat kujadikan alat pelampias…” sembari bicara, sekonyong-konyong ia melayang ke sana.

Keruan orang yang sembunyi di pojok halaman sana terkejut, akan tetapi tampaknya dia tiada maksud melarikan diri, sebaliknya ia terus memberi hormat dan menyapa dengan cengar-cengir, “Hehe, memang sudah kuketahui Hi-heng adalah orang yang besar rezeki dan dengan sendirinya pula banyak hokhi, bencana apa pun yang menimpa Hi-heng akhirnya pasti akan berubah menjadi keberuntungan. Sekarang dapat kulihat kalian suami-istri bijaksana benar-benar telah lolos dengan selamat, sungguh aku ikut sangat gembira.”

“Eh, sejak kapan kau si kelinci ini berubah menjadi bajik dan mahir menyanjung puji?” tanya Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Kiranya orang ini adalah Oh Yok-su, si kelinci dari Cap-ji-she-shio.

Sebenarnya Siau-hi-ji hendak menggunakan Oh Yok-su untuk melampiaskan rasa gemasnya, tapi karena sanjung pujinya itu, hati Siau-hi-ji menjadi lembut. Oh Yok-su lantas berkata pula, “Sejak tempo hari kalian suami-istri bijaksana memberi hidup bagiku, semenjak itu pula senantiasa Cayhe ingin mencari kalian untuk menyampaikan rasa terima kasihku, syukurlah sekarang cita-citaku telah terkabul.”

“Jika begitu maksudmu, mengapa kau tidak mendatangi kami, sebaliknya malah main sembunyi-sembunyi di sini?” tanya Siau-hi-ji dengan bengis.

“O, soalnya kulihat kalian suami-istri sedang asyik bicara dengan mesra, mana Cayhe berani mengganggu?” ujar Oh Yok-su dengan mengiring tawa.

Dengan tertawa Siau-hi-ji mengomel, “Sialan, caramu menjilat ini benar-benar mengkili-kili hati So Ing. Kutanggung dia pasti akan kemari dan bantu bicara bagimu.”

Belum habis ucapnya, benar juga, So Ing tampak sudah mendekati mereka, katanya dengan tertawa, “Eh, orang ternyata tidak lupa pada kita, sungguh baik juga hatinya, mengapa kau tidak mengundangnya ke dalam rumah untuk minum dua cawan?”

“Lihatlah, betul tidak ucapanku,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Jika kau sebut lagi beberapa kali suami-istri bijaksana, andaikan kau minta dia menggadaikan baju untuk membeli arak bagimu, pasti akan dia lakukan dengan senang hati.” Mendadak ia berhenti tertawa seperti ingat sesuatu, lalu bertanya, “Eh, di manakah nona Thi Peng-koh itu?”

Oh Yok-su tampak melengak, jawabnya dengan tergagap, “O, aku tidak…tidak begitu jelas.”

Siau-hi-ji mengernyitkan kening, katanya, “Kalian kan lolos bersama dari sumur gua itu, jika kau tidak jelas, lalu siapa yang lebih jelas daripadamu?”

Oh Yok-su menunduk, dengan gelagapan ia berkata pula sambil tertawa, “Dia…dia seperti berada juga di…di sekitar sini, cuma…cuma ….”

Dengan mendongkol Siau-hi-ji cengkeram leher baju orang, dampratnya, “Kau main gila apalagi? Ayo lekas bicara terus terang! Hm, hanya orang macammu juga berani bertingkah di hadapanku? Huh, kan seperti menjual obat di depan tabib?”

Oh Yok-su menjadi pucat dan tambah gelagapan sehingga semakin tidak dapat bersuara.

“Ada urusan apa, bicaralah baik-baik, untuk apa kau mesti bersikap begini galak padanya?” bujuk So Ing dengan suara lembut.

“Masa kau malah menyalahkan aku bersikap galak?” teriak Siau-hi-ji. “Jika bocah ini tidak berbuat sesuatu kesalahan, masa dia ketakutan begini? Kukira bukan mustahil nona Thi itu telah dijual olehnya.”

“Dia takkan berbuat demikian,” kata So Ing.

“Tidak akan berbuat demikian katamu? Hm, kau kira bocah ini orang baik-baik? Hakikatnya dia ini manusia yang gila perempuan, masa dapat dipercaya?”

So Ing menghela napas, katanya kemudian, “Oh-siansing, kukira lebih baik kau bicara terus terang saja. Bilamana nanti amarahnya tambah berkobar, rasanya aku pun tidak sanggup membantumu lagi.”

Kedua sejoli ini benar-benar pasangan menurut kodrat. Mereka bicara seperti bertentangan, yang satu bilang begini, yang lain berdebat begitu, tapi tujuannya satu, yakni agar orang mau mengaku terus terang, kalau cara mereka ini masih juga tidak berhasil mendapatkan pengakuan orang, maka di dunia ini tiada lain lagi yang mampu mengorek keterangan apa pun.

Oh Yok-su kelihatan takut-takut, jawabnya kemudian, “Dia…dia menyuruhku agar…agar mengganggu kalian sebentar saja, entah untuk apa, Cayhe sendiri tidak tahu.”

Siau-hi-ji terbelalak, tanyanya, “O, jadi nona Thi yang menyuruhmu mengganggu kami agar tertahan di sini?”

“Ya, begitulah,” sahut Oh Yok-su.

“Omong kosong,” bentak Siau-hi-ji dengan gusar, “Mana mungkin kau mau menuruti kehendaknya?”

Muka Oh Yok-su tampak merah, dengan tergagap ia berkata pula, “Sungguh, memang…memang begitulah, aku…aku…”

“Aku pun percaya apa yang kau katakan pasti tak dusta,” ujar So Ing dengan tertawa. “Kebanyakan lelaki sebenarnya sangat penurut, suka menurut perkataan perempuan, bagiku hal ini tidak perlu diherankan, hanya dia saja yang selamanya takkan memahami hal ini.”

“Jika hal ini dapat kupahami, tentunya aku pun harus menuruti setiap perkataanmu, begitu bukan?” tanya Siau-hi-ji dengan mencibir.

“Sudah tentu aku pun berharap akan terjadi demikian, tapi aku pun tidak percaya dapat memaksa kambing naik pohon,” ucap So Ing dengan tertawa.

“Hm, asal kau tahu saja,” jengek Siau-hi-ji. “Coba jawab, keparat ini dan Thi Peng-koh kan tidak cocok satu sama lain, mengapa dia mau menuruti perkataannya?”

So Ing berkedip-kedip, jawabnya kemudian, “Dari mana kau tahu mereka tidak cocok satu sama lain? Bisa jadi mereka sekarang sudah…sudah ….”

“Sudah apa?” teriak Siau-hi-ji. “Memangnya kau kira Thi Peng-koh bisa penujui orang macam begini?”

“Mengapa tidak?” jawab So Ing. “Dalam hal apa Oh-heng ini kurang baik? Paling sedikit dia jauh lebih penurut daripadamu? Lelaki yang penurut biasanya paling disukai oleh kaum perempuan.”

“Kalau begitu jadi aku ini tidak disukai orang perempuan?” seru Siau-hi-ji dengan melotot.

“Kau? Sudah tentu kau harus dikecualikan,” ujar So Ing dengan tertawa menggiurkan, “Memangnya di dunia ini ada berapa orang Siau-hi-ji?”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, gumamnya kemudian, “Ya, masuk di akal juga, Thi Peng-koh memang harus mencari seorang lelaki yang mau menuruti perkataannya. Sudah kenyang dia dibikin susah oleh kaum lelaki. Adalah pantas jika sekarang ia pun mendapatkan seorang lelaki yang menuruti segala perintahnya, paling sedikit dapatlah dia melampiaskan dendamnya.”

Sejenak kemudian, mendadak ia berteriak pula, “Akan tetapi, mengapa Thi Peng-koh menyuruh dia menahan kita di sini? Apa yang akan dilakukannya di luar tahu kita?”

So Ing menggigit bibir sambil berpikir, katanya kemudian, “Menurut pendapatmu, mungkinkah dia ada sesuatu hubungan dengan paman Li?”

“Ada hubungan dengan paman Li?” tukas Siau-hi-ji sambil berkerut kening.

“Ya, bukankah istri paman Li dahulu konon juga she Thi?” kata So Ing.

Hati Siau-hi-ji tergetar, tiba-tiba teringat olehnya dahulu bila Thi Peng-koh mendengar orang menyebut Ok-jin-kok dan Li Toa-jui, seketika air muka nona itu berubah hebat.

Teringat pula olehnya dahulu Peng-koh juga pernah bertanya padanya jalan menuju Ok-jin-kok, tampaknya nona itu seperti ingin pergi ke sarang penjahat yang sangat ditakuti orang itu. Lalu apa maksud semua itu? Jangan-jangan tujuan Thi Peng-koh hendak pergi ke Ok-jin-kok itu adalah untuk mencari Li Toa-Jui?

Teringat pada hal-hal itu, Siau-hi-ji tidak bicara apa-apa lagi, segera ia lari kembali ke kamarnya. Belum lagi dia masuk ke kamar, baru sampai di ambang pintu, terdengarlah suara isak tangis orang di kamar mereka itu.

Begitu mendengar suaranya, segera Siau-hi-ji tahu memang betul itulah suara tangis Thi Peng-koh.

Segera ia menerjang ke dalam, dilihatnya Li Toa-jui sedang duduk mematung di atas kursi, wajahnya penuh rasa sedih dan menderita.

Yang lebih aneh adalah Thi Peng-koh yang tampak menangis sedih mendekap di samping Li Toa-jui, tangan si nona memegang belati, cuma pegangannya sekarang sudah kendur, belati hampir terlepas dari tangannya.

Siau-hi-ji tercengang, tanyanya heran, “He, apa-apaan ini? Nona Thi, apakah kau kenal paman Li?”

Thi Peng-koh terus menangis sehingga tidak dapat menjawab.

Dengan tersenyum pedih Li Toa-jui berkata, “Waktu dia kenal aku, tatkala mana engkau sendiri mungkin belum lagi lahir.”

Siau-hi-ji tambah bingung, tanyanya pula, “O, jadi…jadi dia ini…” Dia pandang Li Toa-jui lalu memandang Thi Peng-koh, ia tidak sanggup menyambung ucapannya lagi sebab kalau diucapkannya, mungkin dia sendiri pun tidak dapat mempercayainya.

Li Toa-jui menghela napas panjang, katanya dengan rawan, “Ya, dia memang anak perempuanku!”

Sekali ini Siau-hi-ji benar-benar melenggong.

Setahunya, di dunia Kangouw tersiar cerita bahwa Li Toa-jui telah menyembelih dan memakan anak istrinya. Sebenarnya ia hendak tanya kebenaran hal ini, tapi sekarang ia merasa bukan waktu dan bukan tempatnya bertanya mengenai hal ini.

Namun Li Toa-jui seperti dapat meraba jalan pikirannya, dengan menyesal ia berkata, “Selama ini setiap orang Kangouw mengira orang she Li ini benar-benar telah makan anak istrinya sendiri, selama dua puluh tahun ini aku pun tidak pernah menyangkal, sampai sekarang… Ai, rasanya sekarang mau tak mau harus kubeberkan duduk perkara yang sebenarnya, kalau tidak, menjadi setan pun penasaran bagiku.”

Nada ucapannya penuh rasa pedih dan penasaran, seperti orang yang mengalami fitnah dan penuh menahan duka nestapa.

Perlahan So Ing merapatkan pintu kamar dan menuang secangkir teh serta disodorkan kepada Li Toa-jui.

Dengan rasa terima kasih Li Toa-jui mengangguk kepada So Ing, lalu mulai bercerita, “Thi-loenghiong terkenal sangat sayang pada pemuda berbakat, dia telah menyerahkan anak perempuannya padaku, tujuannya agar seterusnya aku dapat memperbaiki kelakuanku, untuk itu aku pun sangat berterima kasih kepada maksud baik beliau, akan tetapi…akan tetapi…” Dia menggereget, lalu menyambung, “Akan tetapi anak perempuannya ternyata sangat benci padaku dan menganggap aku tidak setimpal memperistrikan dia, diam-diam ia telah mengadakan hubungan gelap dengan Sutenya (adik seperguruannya).”

Siau-hi-ji teringat kepada kematian Thi Bu-siang dahulu, antara lain juga karena ada anak muridnya yang berkhianat. Maka dengan gemas ia berkata, “Memang betul, Thi Bu-siang terkenal sayang pada orang yang berbakat, tapi caranya memilih orang sering-sering ngawur juga, di antara muridnya itu memang banyak pula anasir-anasir jahat, malah kematiannya juga disebabkan pengkhianatan seorang muridnya, hal ini kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri.”

“Setelah kuketahui perbuatan serong istriku, sudah tentu hatiku menjadi dendam dan menyesal pula,” tutur Li Toa-jui lebih lanjut. “Tapi mengingat budi kebaikan Thi-loenghiong padaku, masih kuharapkan kalau dia bisa menyadari perbuatannya yang tersesat itu, asalkan dia tidak melakukan lagi perbuatannya tidak senonoh itu, maka aku pun tidak ingin membeberkan persoalannya yang memalukan ini pada orang luar.”

Ujung mulut Li Toa-jui tampak bergetar, ia mengertak giginya kencang-kencang, lalu menyambung pula, “Siapa tahu, bukan saja tidak mau menerima nasihatku, sebaliknya dia malah mencaci maki diriku dengan segala macam kata-kata kotor dan keji dan menyuruh aku jangan mengurusi perbuatannya. Karena gusar aku menjadi kalap, aku membunuhnya dan kumakan dagingnya untuk melampiaskan rasa benciku.”

“Kalau urusan ini ternyata berliku-liku begini mengapa paman Li selama ini tidak pernah membeberkan duduk perkara yang sebenarnya?” tanya So Ing terharu.

“Pertama lantaran aku menghormati Thi-loenghiong dan tidak ingin membuat malu padanya, apalagi bila dia mengetahui anak perempuannya berbuat serendah itu, tentu beliau juga akan berduka. Selain itu, aku pun ingin menjaga kehormatan sendiri,” dia tersenyum pedih, lalu berkata pula, “Coba kalian pikir, bila orang mengetahui istri Li Toa-jui main gila dengan lelaki lain, cara bagaimana pula aku dapat berkecimpung di dunia Kangouw? Makanya aku lebih suka dibenci orang, disangka aku sampai hati makan daging anak-istriku sendiri, tapi sekali-kali diriku tidak boleh dihinakan ditertawakan orang Kangouw.”

So Ing menunduk dengan terharu, ia tidak dapat bersuara lagi, sebab ia dapat memahami perasaan lelaki semacam Li Toa-jui ini, ia pun bersimpatik atas nasib yang menimpanya itu.

“Sesudah kubunuh dia, kutahu di dunia Kangouw tiada lagi tempat berpijak bagiku, sebab Thi Bu-siang pasti sangat benci padaku dan bisa jadi akan menawan dan mencincang diriku, karena itulah terpaksa aku kabur ke Ok-jin-kok, akan tetapi…” Dia pandang Thi Peng-koh sekejap, lalu berkata pula dengan rawan, “Akan tetapi aku pun tidak ingin membesarkan anak perempuanku di sarang penjahat begitu, maka aku telah menyerahkan dia kepada orang lain, yang kuharapkan semoga dia dapat tumbuh besar dengan selamat tanpa alangan apa pun.”

“Kepada siapa kau serahkan anak perempuanmu?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan gemas Li Toa-jui menjawab, “Semula kukira orang itu adalah kawan baikku, siapa tahu… Ai, rupanya orang macam diriku ini selamanya takkan punya kawan baik.”

Mendadak Thi Peng-koh menyambung dengan menangis, “Kedua suami-istri yang menerima diriku itu sedikit pun tidak sayang padaku, sebaliknya aku disiksa siang dan malam, aku dikatakan anak Li Toa-jui, anak pemakan manusia, bibit jelek takkan mendatangkan buah baik. Sebab itulah sejak masih kecil aku lantas melarikan diri.”

“Akhirnya kau dapat masuk Ih-hoa-kiong, sungguh boleh dikatakan beruntung juga bagimu,” ujar Li Toa-jui dengan sedih.

Dengan menangis Thi Peng-koh berkata pula, “Kemudian aku pun mendengar cerita orang bahwa Li…Li…”

“Kau dengar cerita orang tentang Li-toasiok, maka kau lantas mengira ibu dan saudaramu telah dimakan seluruhnya oleh Li-toasiok, begitu bukan?” tukas So Ing dengan suara lembut. “Juga lantaran Li-toasiok telah meninggalkan dirimu sehingga kau mengalami macam-macam siksaan, maka selama itu timbul rasa bencimu kepada ayahmu sendiri, kau anggap dia telah membuat celaka ibumu dan juga membuat susah selama hidupmu.”

Tersedu-sedanlah tangis Thi Peng-koh sehingga tidak sanggup bicara lagi.

“Makanya, seumpama sekarang dia hendak membunuhku, aku pun tidak akan menyalahkan dia,” kata Li Toa-jui dengan rawan, “Sebab…sebab dia…” Sampai di sini air matanya pun bercucuran.

Mendadak Siau-hi-ji berseru, “Dan sekarang kalian ayah dan anak telah dapat berkumpul kembali, salah paham antara kalian pun sudah dijernihkan, seharusnya kalian mesti merayakannya dengan bergembira ria, mengapa kalian menangis seperti anak kecil saja?”

Li Toa-jui menggebrak meja, mendadak ia pun berseru, “Betul, ucapan Siau-hi-ji memang betul, hari ini kita harus bergembira ria, siapa pun tidak boleh mencucurkan air mata lagi.”

“Ya, barang siapa mencucurkan air mata, segera akan kupaksa dia menjadi biniku, setiap hari akan kusuruh dia mencuci kakiku,” sambung Siau-hi-ji.

Thi Peng-koh lantas menunduk, diam-diam ia mengusap air matanya.

Mendadak So Ing mendekap mukanya terus menangis terguguk-guguk, tampaknya sangat sedih tangisnya.

Tentu saja Siau-hi-ji melengak, tanyanya, “He, Siocia yang baik, apa pula yang kau tangiskan? Memangnya kau pun anak perempuan paman Li?”

“Aku telah menangis, mengapa aku tidak kau jadikan istrimu?” kata So Ing, belum habis ucapannya ia sendiri lantas mengikik tawa.

Akhirnya Thi Peng-koh juga ikut tertawa geli.

Oh Yok-su mendekati Peng-koh, agaknya bermaksud mengusapkan air matanya. Tapi si nona lantas menarik muka dan menyemprotnya, “Siapa suruh kau mendekat? Minggir sana!”

Muka Oh Yok-su menjadi merah, benar juga ia lantas menyingkir agak jauh.

Siau-hi-ji saling pandang dengan So Ing sambil tertawa.

“Tampaknya hari ini ada perayaan ganda, kita harus lebih bergembira ria,” seru So Ing.

Li Toa-jui memandang Oh Yok-su, lalu memandang anak perempuannya, katanya kemudian, “Tuan ini…”

“Wanpwe she Oh, bernama Yok-su,” kata Oh Yok-su dengan menunduk kikuk.

“Oh Yok-su,” Li Toa-jui mengulang nama itu. “Jangan-jangan si kelinci dari Cap-ji-she-shio itukah?”

“Betul, memang Wanpwe adanya,” jawab Yok-su dengan hormat.

“Sungguh tak tersangka ada anggota Cap-ji-she-shio yang akan menjadi anak menantuku. Haha, tampaknya tiada rugi kalau mempunyai anak perempuan yang cakap,” kata Li Toa-jui dengan terbahak-bahak.

Thi Peng-koh menunduk dengan muka merah, tapi tiada tanda-tanda marah atau kurang senang pada ucapan orang tua itu.

Sedangkan Oh Yok-su tetap berdiri di kejauhan sambil terkadang melirik si nona.

Diam-diam So Ing membisiki Oh Yok-su, “Jangan takut, tabah sedikit, segala urusan pasti akan kubantu.”

Siau-hi-ji bertepuk dan tertawa, katanya, “Hahaha, tampaknya beberapa kali ucapanmu ‘kalian suami istri bijaksana’ tadi tidaklah sia-sia, paling tidak kau mendapat dukungan suara yang memastikan. Tapi sekarang mengapa kepandaianmu menjilat telah kau lupakan seluruhnya? Ayolah lekas berlutut dan memanggil Gakhu (ayah mertua)!”

Dengan muka merah Oh Yok-su benar-benar hendak berlutut dan menyembah kepada Li Toa-jui, tapi ketika dilihatnya Thi Peng-koh menarik muka dengan mata melotot, seketika ia mengkeret dan menyurut lagi.

Siau-hi-ji jadi teringat kepada penderitaan Thi Peng-koh waktu yang lalu, teringat cara bagaimana Kang Giok-long telah menipunya untuk kemudian meninggalkan dia, maka diam-diam Siau-hi-ji bergirang bagi si nona yang sekarang telah bisa memperoleh perhatian seorang lelaki.

Meski usia Oh Yok-su memang jauh lebih tua, tapi ibarat sekuntum bunga yang telah kenyang merasakan damparan hujan badai, kini ia memerlukan seorang lelaki yang lebih tua untuk melindunginya.

Maklumlah, lelaki yang berusia lebih tua daripada usia istri yang muda pada umumnya akan lebih mengerti bagaimana harus mencintai istrinya, lebih-lebih perempuan yang pernah mengalami nasib malang seperti Thi Peng-koh, lelaki yang berpengalaman luas tentu takkan memandang hina padanya.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Tampaknya Thian mahaadil dan pengasih, perjodohan setiap orang pasti diaturnya dengan baik dan setimpal, pada hakikatnya orang tidak perlu dan susah memikirkannya.”

“Betul,” dengan tertawa So Ing menanggapinya, “Jika Thian telah mengatur pertemuan kita, maka jangan kau harap akan dapat lari dariku.”

Baru saja Siau-hi-ji mendelik, mendadak Li Toa-jui bergelak tertawa dan berkata, “Hari ini aku benar-benar teramat gembira, selama hidupku ini belum pernah merasa gembira dan bahagia seperti sekarang ini, jika aku dapat mati pada saat dan tempat begini, maka tidak sia-sialah hidupku ini ….”

Terdengar suaranya makin lama makin lemah dan lirih, akhirnya tak terdengar lagi. Ternyata napasnya sudah putus, Li Toa-jui benar-benar telah mangkat dengan mengulum senyum.

*****

Oh Yok-su dan Thi Peng-koh telah berangkat dengan mengawal jenazah Li Toa-jui.

Sebelum pergi, Thi Peng-koh seperti ingin bicara apa-apa kepada Siau-hi-ji, beberapa kali dia sudah mau bicara, tapi tidak jadi, akhirnya tiada satu pun patah-kata yang diucapkannya.

Siau-hi-ji tahu si nona pasti ingin tanya bagaimana dan di mana Kang Giok-long, tapi akhirnya tidak jadi ditanyakan, ini menandakan bahwa hati Thi Peng-koh terhadap Kang Giok-long kini sudah pupus, sudah tamat.

Sungguh hal ini merupakan kejadian yang paling menggembirakan Siau-hi-ji, hal ini yang paling membuat lega hati Siau-hi-ji selama beberapa bulan terakhir ini.

Pada sebelum berangkat, Oh Yok-su juga seperti mau omong apa-apa kepada Siau-hi-ji, tapi seperti juga Thi Peng-koh, ia pun urung bicara.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tahu yang hendak ditanyakan Oh Yok-su pastilah keadaan Pek-hujin sekarang, tapi toh tidak jadi ditanyakannya, ini pun bukti hati Oh Yok-su sekarang hanya tertumpah seluruhnya kepada Thi Peng-koh seorang.

Sudah tentu hal ini pun membuat Siau-hi-ji sangat gembira.

Orang yang berkasih sayang akhirnya terikat menjadi suami-istri, inilah peristiwa yang paling menyenangkan bagi kehidupan manusia.

Dengan mengulum senyum Siau-hi-ji bergumam, “Apa pun juga tetap tak kupahami mengapa kedua orang ini bisa saling jatuh cinta, sungguh peristiwa aneh.”

“Sedikit pun tidak aneh dan tidak perlu diherankan,” ucap So Ing dengan suara lembut. “Mereka kenal dalam keadaan sama-sama terancam bahaya. Perasaan manusia paling mudah tumbuh dalam keadaan sama menderita, apalagi mereka pun sama-sama mengalami hal yang mengecewakan, jadi boleh dikatakan senasib, dengan sendirinya lebih mudah pula menimbulkan cinta kasih di antara mereka.”

Dia tertawa lalu berkata pula sambil menunduk, “Antara engkau dan aku, bukankah kita pun berkenalan dan menjadi akrab dalam keadaan terancam bahaya?”

Siau-hi-ji mencibirnya, katanya, “Kau yang akrab padaku, sedangkan aku suka padamu atau tidak kan belum pasti?”

“Eh, jangan lupa, semua ini kan sudah diatur oleh Thian,” ujar So Ing dengan tertawa.

“Hm, jangan kau gembira dulu, jangan lupa sainganmu yang belum lagi muncul itu, apa jadi…” Maksud Siau-hi-ji hendak menggoda So Ing, tapi, begitu menyinggung Thi Sim-lan, mau tak mau ia jadi teringat pula kepada Hoa Bu-koat, seketika hatinya seperti ditusuk-tusuk sehingga malas untuk bicara lagi.

Air muka So Ing seketika juga berubah prihatin, katanya kemudian dengan gegetun, “Tampaknya pertarungan dengan Hoa Bu-koat sukar lagi dihindarkan.”

“Ehmm,” Siau-hi-ji mengangguk dengan menghela napas.

“Apakah kau ingin mencari akal untuk mengulur waktu pula?” tanya So Ing.

“Ehmm,” kembali Siau-hi-ji mengangguk. Mendadak ia melototi si nona dan bertanya, “Apa yang kupikirkan, mengapa kau tahu?”

“Entahlah, mungkin inilah yang disebut ada ikatan batin,” jawab So Ing dengan tersenyum manis.

Tapi senyuman manisnya itu hanya sekilas saja menghiasi wajahnya, segera ia mengernyitkan kening dan bertanya pula, “Apakah sudah kau dapatkan akalnya?”

Siau-hi-ji tidak lantas menjawab, dengan malas-malas ia duduk, lalu berkata, “Jangan khawatir, akhirnya aku pasti mendapatkan akalnya.”

“Ya, kutahu kau pasti punya akal,” ucap So Ing dengan lembut. “Akan tetapi, sekalipun kau bisa mendapatkan akal yang jauh lebih baik daripada caramu yang dulu itu, lalu apa gunanya?”

“Siapa bilang tiada gunanya?” jawab Siau-hi-ji dengan melotot.

So Ing menghela napas, katanya, “Sekali ini misalnya kau masih dapat mengulur waktu lagi, tapi cepat atau lambat, persoalan ini toh harus diselesaikan juga, betapa pun Ih-hoa-kiongcu pasti tidak akan melepaskan dirimu, lihat saja, ketika berada di liang tikusnya Gui Bu-geh itu, tampaknya mereka sudah mulai ramah padamu, akan tetapi begitu keluar dari gua itu, sikap mereka seketika berubah lagi.”

“Ya, seharusnya kutahu mereka pasti akan lupa pada pertolonganku bila sudah keluar dari sana, pada umumnya manusia memang suka lupa budi pertolongan orang, setelah menyeberang sungai segera merusak jembatannya,” ucap Siau-hi-ji.

“Sebab itulah cepat atau lambat pertarunganmu dengan Hoa Bu-koat toh tetap tak dapat dihindarkan,” kata So Ing pula, “Kecuali…”

“Kecuali apa?” tanya Siau-hi-ji.

So Ing menatap dengan penuh kasih sayang, katanya kemudian dengan lembut, “Kecuali kita pergi sekarang juga, pergilah ke tempat yang jauh, ke tempat yang indah permai dan sembunyi di sana, tidak perlu bertemu dengan siapa pun dan tidak perlu berurusan lagi segala tetek bengek di dunia ini.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, mendadak ia berseru, “Tidak, tidak bisa, tidak boleh kularikan diri, jika aku diharuskan bersembunyi dan tidak bertemu dengan siapa-siapa, lebih baik aku mati saja. Apalagi masih ada paman Yan…aku sudah berjanji padanya.”

Dengan suara rawan So Ing berkata, “Ya, aku pun tahu engkau pasti tidak mau bertindak demikian. Akan tetapi, bilamana pertarungan kalian berlangsung, akibatnya pasti akan terjadi malapetaka. Salah satu di antaranya pasti mati, begitu bukan?”

Sorot mata Siau-hi-ji memandang jauh ke depan dengan hambar, gumamnya, “Memang, sekali kami sudah bergebrak, maka salah satu pasti akan mati…” Mendadak ia tertawa kepada So Ing, katanya, “Dan kalau salah seorang di antara kami sudah mati, kan segala persoalan menjadi mudah diselesaikan pula, betul tidak?”

Sekonyong-konyong tubuh So Ing menjadi gemetar, katanya dengan suara terputus-putus, “Apakah…apakah kau tega membunuhnya?”

Siau-hi-ji memejamkan mata dan tidak menjawabnya lagi.

“Kutahu, kalah atau menang antara pertarungan kalian ini sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan tinggi rendahnya ilmu silat masing-masing,” kata So Ing pula dengan sedih. “Persoalannya hanya terletak pada hati nurani masing-masing, siapa yang tega turun tangan, dialah yang akan menang…” Mendadak ia genggam tangan Siau-hi-ji dengan erat-erat, lalu berkata pula dengan suara gemetar, “Aku hanya ingin memohon sesuatu padamu, maukah kau meluluskan?”

Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Apakah kau ingin minta aku mengawinimu?”

So Ing menggigit bibir, katanya kemudian, “Aku cuma mohon padamu agar mau berjanji, janganlah sampai engkau terbunuh oleh Hoa Bu-koat, betapa pun engkau tidak boleh mati.”

“Ooo?” Siau-hi-ji terbeliak. “Tapi kalau tiada jalan lain bagiku kecuali mati?”

Tubuh So Ing bergetar pula, katanya dengan gemetar, “Jika…jika demikian, maka…maka terpaksa aku pun akan mati bersamamu….” Mendadak menitik dua tetes air matanya, ia pandang Siau-hi-ji dengan termangu-mangu, lalu berkata pula, “Tapi kuyakin kau takkan mati, aku pun tidak ingin mati, aku ingin hidup bahagia denganmu, aku ingin hidup seratus tahun lagi bahkan seribu tahun lagi. Kuyakin kita pasti akan hidup bahagia dan sangat gembira.”

Dengan terkesima Siau-hi-ji memandang si nona, tanpa terasa sorot matanya menampilkan juga perasaan kasih sayang yang amat mesra.

“Asalkan engkau masih tetap hidup, apa pun juga yang harus kulakukan pasti akan kulaksanakan dengan baik tanpa syarat,” kata So Ing pula.

“Bila kau disuruh mati, kau mau?” tanya Siau-hi-ji.

“Jika kematianku akan dapat menyelamatkanmu, maka aku bersedia mati…” So Ing berkata dengan tegas dan penuh tekad, diucapkannya tanpa pikir.

Tapi sebelum habis ucapannya, segera Siau-hi-ji menariknya terus mendekapnya, katanya dengan suara lembut, “Jangan khawatir, kita pasti tidak akan mati, kita pasti akan hidup dengan baik…”

Ia pandang cuaca di luar jendela, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula, “Padahal paling sedikit kita masih dapat hidup gembira selama satu hari penuh, mengapa yang kita pikirkan hanya satu hari saja?”

Waktu satu hari memang singkat, tapi bagi dua orang yang sedang dibuai cinta, rasa bahagia, rasa manisnya sehari penuh itu sudah cukup membuat mereka melupakan segala siksa derita, melupakan duka nestapa…

*****

Hari sudah jauh malam, suasana sunyi senyap, setiap orang seakan-akan sudah hanyut di alam mimpi masing-masing.

Di dalam kelenteng yang dikelilingi oleh lereng bukit itu, orang terkadang dapat meresapi senangnya suasana sunyi.

Akan tetapi bagi Hoa Bu-koat sekarang, rasa sunyi ini sungguh tidak enak, bahkan terasa sangat menyiksa.

Hampir semua orang sudah datang ke sini. Thi Cian dan kawan-kawannya, para nona Buyung beserta suami masing-masing, dan sudah tentu juga kedua Ih-hoa-kiongcu.

Hoa Bu-koat merasa heran mengapa sama sekali tidak terdengar suara mereka?

Bisa jadi mereka tidak ingin mengganggu Hoa Bu-koat, mereka ingin anak muda ini dapat istirahat dengan sebaik-baiknya agar dapat menghadapi pertarungan esok harinya dalam kondisi yang fit. Akan tetapi mengapa mereka tidak bicara sama sekali?

Betapa pun Bu-koat ingin ada seorang yang mengajaknya bicara.

Tapi kepada siapakah dia akan mengajak bicara? Kepada siapa pula ia harus membeberkan isi hatinya?

Angin meniup mendesir-desir, angin pun seperti lagi menangis.

Bu-koat duduk termangu-mangu di tempatnya, apa yang sedang dipikirnya? Apakah dia memikirkan Thi Sim-lan? Apakah memikirkan Siau-hi-ji?

Tapi siapa pun yang dipikirnya, yang pasti, dia tetap berduka dan menderita.

Di dalam rumah tiada lampu, di atas meja ada satu poci arak yang belum habis terminum.

Ia menghela napas perlahan, selagi ia hendak memegang cawan arak, tiba-tiba daun pintu tertolak perlahan, sesosok bayangan yang ramping mendadak menyelinap masuk seperti badan halus.

Kiranya Thi Sim-lan!

Dalam kegelapan, wajah si nona kelihatan sedemikian pucat, tapi sorot matanya sebaliknya mencorong terang seakan-akan serangkum bara sedang membakar di dalam hatinya.

Tangan si nona juga kelihatan gemetar, tampaknya sangat tegang dan bingung.

Memangnya apa sebabnya?

Apakah dia sudah bertekad akan melakukan sesuatu yang menakutkan?

Dengan terkesiap Bu-koat memandang si nona, hingga lama sekali keduanya tidak bersuara.

Perlahan Thi Sim-lan merapatkan pintu pula, kemudian ia menatap Bu-koat lekat-lekat, tetap tanpa bicara apa-apa.

Begitu terang sorot matanya. Mengapa matanya mencorong seterang ini? Begitu terang sehingga boleh dikatakan sangat menakutkan.

Lama dan lama sekali barulah Hoa Bu-koat menghela napas panjang, katanya kemudian, “Ada…ada urusan apakah?”

Thi Sim-lan tidak menjawab, ia hanya menggeleng perlahan.

“Jika demikian, mestinya jangan…jangan kau kemari,” kata Bu-koat pula.

Thi Sim-lan mengangguk.

Bu-koat seakan-akan terpengaruh oleh sorot mata si nona yang membara itu, seketika ia pun tak tahu apa yang harus diucapkannya. Poci arak yang telah dipegangnya ditaruh kembali. Ia pegang cawan arak dan menenggaknya, tapi lupa bahwa cawan itu sudah kosong.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan membuka suara, “Sebenarnya aku berharap akan menganggapmu sebagai kakakku sendiri, tapi sekarang baru kuketahui bahwa anggapanku itu keliru, sebab perasaanku padamu ternyata bukan lagi perasaan antara kakak dan adik, kukira kita tidak perlu lagi menipu diri kita sendiri.”

Apa yang diucapkannya ini entah sudah berapa kali dia katakan kepada dirinya sendiri, tapi sebegitu jauh tidak berani diutarakan kepada Hoa Bu-koat.

Sekarang rupanya ia telah bertekad bulat untuk dikatakannya kepada pemuda itu, maka sekaligus dicetuskan seluruhnya tanpa ragu sedikit pun.

Tentu saja Bu-koat tercengang, cawan arak yang dipegangnya sampai terlepas.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa Thi Sim-lan dapat mengutarakan hal demikian padanya, meski betapa rasa cintanya kepada Thi Sim-lan, begitu pula sebaliknya betapa rasa cinta Thi Sim-lan kepadanya, kedua orang sesungguhnya sama jelasnya.

Akan tetapi mereka anggap perasaan cinta itu adalah rahasia lubuk hati masing-masing dan selamanya takkan diutarakan. Mereka menganggap sampai mati juga rahasia itu akan tetap terpendam di dalam lubuk hati mereka.

Thi Sim-lan menatapnya lekat-lekat, sampai lama sekali masih tetap menatapnya, katanya kemudian dengan rawan, “Kutahu bagaimana perasaanmu padaku, perasaanmu padaku juga pasti bukan perasaan antara kakak dan adik, betul tidak?”

Begitu terang sinar mata si nona sehingga seakan-akan hendak menembus ke lubuk hati Hoa Bu-koat yang paling dalam, ibarat hendak menghindar saja tak dapat lagi, terpaksa Bu-koat menunduk, jawabnya, “Namun aku…aku…”

“Kau tak punya anggapan begitu? Atau cuma tidak berani kau katakan saja?” tanya Thi Sim-lan.

Bu-koat menghela napas panjang, jawabnya dengan rawan, “Ya, mungkin karena aku tidak dapat mengutarakannya.”

“Mengapa tidak dapat?” tanya Sim-lan pula. “Jika cepat atau lambat toh harus kau katakan, mengapa tidak lekas-lekas kau katakan, agar kedua pihak tidak sama-sama menderita.”

Ia bicara dengan menggigit bibir sampai bibirnya pecah dan berdarah.

“Ada juga urusan yang tak terkatakan selamanya akan jauh lebih baik daripada diutarakannya,” kata Bu-koat.

Thi Sim-lan tersenyum pedih, katanya, “Betul juga perkataanmu, sebenarnya aku pun tidak ingin mengutarakan isi hatiku, akan tetapi sekarang mau tidak mau harus kukatakan, sebab kalau sekarang tidak kukatakan, maka seterusnya tiada waktu lagi.”

“Memang betul, kalau tidak diutarakan sekarang, mungkin selamanya tiada kesempatan lagi,” kata Bu-koat dengan menghela napas sedih.

“Jika…jika demikian, mengapa kau tidak berani mengutarakannya? Apakah kau anggap tindakan ini sangat memalukan?” tanya Sim-lan dengan air mata bercucuran.

Perasaan Bu-koat seperti disayat-sayat, seperti dipuntir-puntir, dengan pedih ia mencela dirinya sendiri kenapa tidak seberani Thi Sim-lan? Padahal persoalan ini seharusnya diucapkan oleh dia sendiri.

Dengan pedih Thi Sim-lan berkata pula, “Kutahu sebabnya engkau tidak mau bicara adalah karena Siau-hi-ji. Sebenarnya aku pun merasa tindakan kita ini berdosa padanya, akan tetapi sekarang persoalannya sudah cukup gamblang, urusan ini tidak dapat dipaksakan, apalagi pada hakikatnya aku pun tidak utang apa-apa padanya.”

Dengan rawan Bu-koat mengangguk, katanya “Ya, kau memang tidak bersalah…”

“Kau pun tidak bersalah,” kata Sim-lan. “Thian mahaadil, Thian kan tidak mengharuskan siapa harus menyukai siapa.”

Mendadak Hoa Bu-koat mengangkat kepala dan memandang si nona, ia merasakan sorot mata Thi Sim-lan itu jauh lebih dalam daripada lautan, tubuh Bu-koat sendiri pun mulai gemetar, ia pun tidak mampu menguasai diri lagi.

“Besok, tibalah saatnya kau harus duel dengan dia,” kata Thi Sim-lan pula. “Sudah lama sekali, ya, sudah lama sekali kupertimbangkan. Akhirnya kuputuskan harus kukatakan isi hatiku padamu, asalkan kau tahu perasaanku, maka urusan lain tidak menjadi soal lagi.”

Bu-koat tak tahan lagi, ia pegang tangan si nona, katanya dengan gemetar, “Aku…aku sangat berterima kasih padamu, sebenarnya kau tidak perlu sebaik ini padaku.”

Mendadak Thi Sim-lan tertawa, katanya, “Kan sudah sepantasnya aku bertindak dan berbuat baik padamu? Jangan lupa, kita sudah terikat menjadi suami istri, sekarang tiada perbedaan antara engkau dan aku lagi.”

Bu-koat memandangnya dengan termangu-mangu, tangan si nona perlahan bergeser ke muka Bu-koat dan perlahan membelai wajahnya yang makin hari makin kurus itu…

Setitik air mata akhirnya menetes di tangan Thi Sim-lan, titik air seputih mutiara.

Tapi kemudian mutiara air mata itu pun hancur luluh…

Advertisements

1 Comment »

  1. WAH TERNYATA OK TU JIN SUDAH MATI SEMUA,
    SISA setan judi dan singa gila

    Comment by Firman — 25/02/2013 @ 9:20 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: